Chapter 5
Melankoli yang Bergema Terang di Tengah Hujan
Minggu berikutnya, aku mendapati diriku
mengunjungi Nakameguro lagi.
Cuacanya sedang hujan. Sangat pas untuk
hari ini─pikirku, sambil menatap langit yang kelabu, kota yang basah kuyup
diguyur hujan, serta titik-titik air yang terbawa angin, semuanya terbentang di
luar jendela kereta.
Latar musik (BGM) yang diputar adalah lagu
YOHILA berjudul "Hydrangea & Ghost." Kontras antara petikan gitar
yang terdistorsi dan suara piano yang jernih, lirik yang kelam namun vokal yang
indah, selalu berhasil memukauku, tidak peduli sudah berapa kali aku
mendengarkannya.
Kereta tiba di peron, dan pintu pun terbuka.
Bau hujan, yang mengalahkan aroma musim panas,
menyambutku.
Malam itu adalah hari ketika aku mengunjungi
rumah Junna, saat dia mengundangku untuk datang dan menyaksikan sesi rekaman
YOHILA.
Meski di dalam hati aku merasa lega dengan
kemunculan Akagi, aku juga merasa bersalah dan kurang puas karena harus pergi
di tengah-tengah kencan, jadi aku menjawab dengan antusias, "Aku akan
datang."
Bahkan tanpa alasan itu, ini adalah rekaman
langsung dari band favorit mutlakku.
Tidak mungkin aku melewatkannya.
Dia mungkin merasakan hal yang sama─
“Maaf, sudah menunggu lama?”
Di bawah kolong jalur kereta layang yang
remang-remang, aku mengangkat tangan dan menyapa orang yang tiba lebih dulu
dariku.
Seorang gadis berpenampilan menyegarkan: gaun
kemeja motif garis-garis putih dan biru muda, sepatu bot hujan pendek berwarna
kayu oak, serta tas selempang transparan.
Kuncir kuda cokelat mudanya bergoyang-goyang.
“Oh, Kurimoto-kun. Halo,”
Payung lipatnya berwarna biru pastel. Seorang
gadis yang tampak cerah dan ceria bahkan di hari hujan sekalipun, mengingatkan
pada langit biru─Yamada melambaikan tangan dengan riang.
“Wah, kota ini keren banget. Toko bukunya saja
seperti ini...”
Dia menoleh ke belakang, menatap toko buku
berdinding kaca sambil menggaruk pipinya dengan tangan yang diikatkan gelang
persahabatan berwarna biru muda.
Di dalam tas transparannya yang bernuansa
musim panas, terdapat sebuah buku sampul tipis (kemungkinan novel ringan)
dengan sampul kotak-kotak gingham berwarna biru.
“Kamu sendiri malah menyatu sempurna dengan
kota yang stylish ini. Ini mah kamu sedang berkamuflase.”
“Kamuflase, ya? Yah, tidak salah sih.”
Setelah tersenyum kecut, Yamada mengamatiku
dari atas sampai bawah. Kaos polo biru laut, celana chinos meruncing krem, serta sepatu
kets tahan air berwarna hitam.
“Kamu juga kelihatan keren, Kurimoto-kun.
Sederhana, tapi elegan─”
“Yōjirō yang memadupadankan bajunya untukku.”
“─Maaf, sepertinya pujian itu agak keliru.
Kelihatan mencolok banget.”
“Perubahan pikiranmu cepat sekali!”
Hal itu sudah seperti reaksi alergi bagiku
saat ini. Namun pada kenyataannya, karena aku tidak punya ketertarikan atau
preferensi khusus dalam berpakaian, aku sering mengandalkan pendapat Yōjirō
yang lebih paham soal mode.
“...Yah. Mau berangkat sekarang?”
Tidak seperti tas Yamada, aku melepas kancing
pengait payung vinil transparan milikku—yang kupakai bukan karena modis,
melainkan karena harganya murah.
“Jalannya sekitar lima belas menit dari
stasiun.”
Aku melangkah keluar dari bawah jalur kereta
layang. Di bawah payungnya, Yamada tampak gelisah tak bisa diam.
“A-Aku gugup banget! Bisa menyaksikan sesi
rekaman JUN-sama dan YOHILA secara langsung! Aku merasa terhormat banget!”
“Suaramu terlalu keras.”
☂
Tempat yang kami tuju adalah
sebuah rumah tapak (detached house) bergaya modern dengan eksterior
hitam yang chic. Sekilas, tempat itu tampak seperti rumah pribadi biasa,
bukan studio musik, tapi ini sudah pasti lokasinya.
Halaman utama situs web mereka
menampilkan gambar sampul album dari para musisi yang tampaknya pernah
melakukan rekaman di sana. Di antaranya terdapat sebuah album yang sangat
kutinggikan.
Dengan ragu-ragu, kami menekan
bel pintu dan menunggu beberapa saat, keduanya menegang karena tegang.
“Maaf membuat kalian menunggu.”
Tepat saat kami bertanya-tanya
apakah perlu menekan belnya sekali lagi, pintu depan terbuka, dan seorang
wanita muda menyambut kami.
Kesan pertama jujurku
adalah─"orangnya kecil."
Tinggi badannya kurang
dari 150 sentimeter. Dia memiliki potongan rambut bob hitam panjang
dengan poni rata, dan matanya yang besar dan bulat menatap ke arah kami. Bahkan
riasan wajahnya yang sangat tipis dan natural tampak kontras dengan wajah
imutnya yang seperti bayi.
Di sebelahku, aku merasakan
Yamada menarik napas.
“Kalian teman-teman JUN-san, kan?
Silakan masuk.”
“Y-Ya...”
“B-B-B-Ba-Baik permisi!”
Yamada, kamu terlalu
terbata-bata. Saat kami melipat payung, melepas sepatu, dan mengenakan sandal
rumah, wanita itu berbicara kepada kami.
“Lantai pertama digunakan untuk
rekaman, dan seluruh lantai dua adalah lobi. JUN-san sedang rapat dengan engineer
saat ini... jadi bagaimana kalau kita naik ke atas dulu? Kita bisa menyapa di
sana.”
“...Baik.”
Sambil mengikuti wanita itu, aku
melirik sekilas ke arah bagian belakang.
Aku sudah memeriksa denah tata
letaknya sebelumnya. Di balik pintu kedap suara di sebelah kiri terdapat bilik
rekaman dan ruang kontrol.
Aku merasa tempat itu adalah area
suci yang orang biasa seperti kami tidak boleh injaki—bahkan suara sekecil apa
pun akan menjadi gangguan bising. Tanpa sadar aku menahan napas.
Aku juga meredam langkah kakiku
dan menaiki tangga senyap mungkin.
Lobi di lantai dua adalah ruang
seluas sekitar dua puluh tikar tatami yang dilengkapi beberapa meja, kursi, dan
sofa. Ruangan dengan wallpaper dan lantai bermotif kayu, serta tema warna kayu
natural dan putih, memiliki suasana yang lembut dan menenangkan.
“Kalian bisa melihat apa yang
terjadi di bilik lantai satu lewat TV dan speaker di sebelah sana. Tapi
sekarang sedang dimatikan, sih.”
“O-Oh...”
“Keren banget.”
Anehnya, tidak ada orang lain di
sana selain kami. Aku bertanya-tanya apakah mereka sedang berada di lantai
rekaman, ataukah Junna membatasi jumlah orang yang terlibat.
Wanita itu berbalik menghadap
kami saat kami mengedarkan pandangan mengitari ruangan.
“Kalau begitu, izinkan saya
memperkenalkan diri secara resmi.”
Menghadapnya, aku berpikir sekali
lagi, dia benar-benar sangat kecil─
Pakaiannya, berupa atasan katun
polos berwarna putih dan setelan formal hitam, memancarkan kesan wanita karier
yang cekatan dan profesional, tapi...
“Saya Kotegawa, perwakilan dari
agensi tempat JUN-san bernaung... dan saya juga merangkap sebagai manajer
JUN-san.”
Kartu nama yang dia serahkan
dengan sapaan sopan bertuliskan nama perusahaan "YALEVANA" dan
jabatan "Direktur Utama dan Perwakilan". Serta, tertulis nama
Kotegawa Yo di atasnya.
Yamada, yang menerima kartu nama
itu dengan kedua tangan, mulai gemetar ketakutan.
“I-I-I-Itu!
K-K-K-Kotegawa-san, jangan-jangan, anda ini─”
Dia menelan ludah dengan
susah payah lalu bertanya.
“B-Bukan kah anda YO-san
dari... ENDY? Sang gitaris.”
“Ya.” Kotegawa tersenyum
sambil meletakkan tangan di dadanya. Cincin perak melingkar bertumpuk di
jemarinya. Cincin yang agak tebal di jari tengahnya sepertinya buatan
Chrome Hearts.
Gigi taring ganda yang
tampak tajam dan berkesan karnivora mengintip dari balik bibirnya.
“Ada masa-masa seperti itu, ya.”
“Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!?”
teriak Yamada. Topeng gyaru-nya langsung luntur, memunculkan sosok otaku
aslinya.
“A-A-A-Aku fans berat! Aku
mendengarkan semua albummu! Maksudku, aku punya semuanya! DVD turnya, kaos dan wristband,
serta banyak merch lainnya... Ya ampun, ya ampun. Aku harus bagaimana!”
“Ahaha, terima kasih.” Kotegawa
merespons dengan senyuman, sama sekali tidak terganggu oleh transformasi Yamada
yang begitu antusias hingga tampak seperti akan pingsan, dengan tangan
bercincin terentang lebar,
“Mau bersalaman?”
“Eh, aku bisa mati. Tolong, bunuh
aku saja.”
“Fufu. Kalau begitu, aku akan
melakukannya dengan lembut supaya kamu tidak mati─ini.”
“...! Oh... ya ampun... ini
gila... aku mau pingsan.”
“Bagaimana denganmu? Kurimoto Shigure-san.”
Kotegawa mengalihkan pandangannya dari Yamada yang nyaris naik ke surga
akibat jabatan tangan itu, lalu menatapku.
“Eh... ya. Tolong, saya merasa
terhormat.”
Dia seharusnya belum tahu namaku.
Dan kenapa memanggil nama lengkapku? Aku merasa bingung, namun karena aku juga
penggemar beratnya, aku mengulurkan tangan tanpa ragu.
Tangannya yang kecil dan dipenuhi
cincin menggenggam tanganku─dan seketika itu pula, genggamannya mengeras
seperti cklek-an catok besi.
“Aduh-aduh-aduh-aduh-aduh! Sakit!
Sakit, tahu!?”
“Terima kasih sudah menjaga... JUN-san
dan Eimi ya. Fufu.”
─Sebuah senyuman. Matanya juga ikut tersenyum, namun cengkeramannya begitu
kuat hingga rasanya tulang-tulangku berderit. Dan cengkeramannya semakin
menguat.
“Aduh-aduh-aduh-aduh-aduh-aduh!”
“...Eimi?”
Yamada tampak kebingungan.
“Apakah itu─”
“Yo.”
Sebuah suara serak bernada
metalik memanggil nama Kotegawa.
Mungkin dia tadinya berada di
ruang istirahat, namun Akagi, yang sedang memegang cangkir kopi, berdiri di
pintu masuk sambil menatap kami.
“Jangan cemburu pada anak kecil
begitu.”
Akagi, di hari liburnya, tidak
mengenakan masker. Mengenakan crop tank top merah dipadukan dengan
celana kargo hitam, serta kemeja tipis tembus pandang putih yang dibiarkan
terbuka kancingnya. Sebuah anting jepit perak berkilauan di telinganya, dan
aksesoris bergaya Chrome Hearts menjuntai di dadanya.
Kotegawa melonggarkan
cengkeramannya, melepaskan tanganku, lalu memiringkan kepalanya.
“...Aku tidak cemburu, kok?
Bisakah kamu berhenti melontarkan tuduhan palsu?”
“Sama seperti riasan dan pakaian
dewasa, setelah bertahun-tahun lamanya, bahasa formal tetap saja sama sekali
tidak cocok untuk orang pendek sepertimu.”
“Pergilah ke neraka.”
“Ups.”
Akagi dengan anggun menghindari
kepalan tangan berhias cincin yang diarahkan ke sisi wajahnya.
Dia meneguk kopi yang nyaris
tumpah itu, “...Kalian anak-anak jangan sampai tumbuh menjadi orang dewasa
seperti ini. Orang dewasa barbar yang mudah tersulut emosi dan gemar melakukan
kekerasan.”
“Aku tidak marah, tahu. Ini cuma main-main.”
“Cara mainmu itu mirip binatang buas. Kalau bukan aku yang jadi lawannya,
mereka sudah mati.”
“Aku tidak punya niat bermain-main dengan siapa pun selain Eimi, jadi tidak
masalah.”
“Tapi buatku itu masalah besar.”
Akagi tampak kesal pada
Kotegawa yang memamerkan taring gandanya sambil menyeringai.
Kemudian dia menatapku dan,
“Oh, Kurimoto. Maaf soal minggu
lalu... karena sudah lancang masuk.”
“Tidak, bibi—maksudnya, anda
justru menyelamatkan saya.”
“Lalu─”
Dia menatap Yamada lalu
mengerutkan kening.
“Apakah itu teman sekolahnya? Aku
tidak tahu namanya, tapi wajahnya tampak familiar... Sial. Aku tidak menyangka
Amamori punya teman selain Kurimoto. Di luar dugaan.”
“U-Um! A...Akagi-sensei, kan?
Perawat sekolah...”
Yamada, yang terengah-engah
seperti ikan keluar air sejak Akagi muncul, gemetar baik suara maupun tubuhnya.
Akagi mengakuinya dengan nada pasrah.
“Ya.”
“D-Dan anda... EIMEE-san dari
ENDY, kan? Sang
vokalis.”
“...Ya.”
“............Aku mau
pingsan─”
Gemetar Yamada berhenti.
Matanya berputar ke atas, dan tubuhnya terhuyung.
Lalu, dia jatuh ke belakang. Dia
pingsan karena terlalu terkejut.
Aku buru-buru menopangnya.
“Y-Yamada-saaaaaaaaaaaaan!?”
“Aduh ampun...”
☂
“...Apa yang sedang kamu lakukan,
Haruka-san?”
Junna menatap ke bawah ke arah
Yamada yang terbaring di sofa dengan ekspresi jengkel. Rapat pra-rekamannya
sudah selesai, dan dia datang untuk menyapa.
Hoodie Geroppi berwarna biru keunguan. Mungkin dia ingin bersantai, karena dia mengenakan pakaian rumah yang
kasual.
“Sama seperti Shigure, kamu
terlalu berlebihan hebohnya gara-gara Sensei. Kamu tukang selingkuh.”
“...Ugh. T-Tapi...”
“Ada kesalahpahaman dan niat
buruk dalam cara bicaramu itu, kan?”
“Yo. Jangan meretakkan buku
jarimu.”
Wanita ini menyeramkan. Kotegawa,
yang ditegur oleh Akagi, mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak lalu,
“─Baiklah, sesuai rencana, mari
kita mulai rekaman pukul 10 tepat. Pertama, gitar. Lalu keyboard. Kalau
sudah selesai atau di titik jeda yang pas, kita akan istirahat makan siang,”
katanya, terdengar bagaikan manajer sungguhan.
“Ya,” Junna mengangguk.
Omong-omong, instrumen lainnya
seperti bas dan drum sudah direkam terlebih dahulu oleh para musisi studio di
bawah pengawasan jarak jauh dari Junna, jadi hari ini khusus untuk bagian
gitarnya saja.
Dia dijadwalkan merekam empat
lagu dalam dua hari, yaitu hari ini dan besok.
“Bukan perilisan single?”
“Awalnya memang begitu
rencananya, tapi ternyata materinya jadi lumayan banyak, jadi aku minta mereka
menjadikannya sebuah EP.”
Junna dan aku sedang
berbicara di dekat jendela di depan beranda, mengamati hujan lebat yang turun.
“Jadi kamu bisa dapat
ranking pertama di ujian sekaligus merilis lagu secara bersamaan... itu keren
banget.”
“Cuma pujian doang?”
Junna melepas tudung yang
dipakainya. Dia melemparkan
tatapan memohon ke atas ke arahku.
Meskipun sadar ada orang-orang di
sekitar kami, aku menepuk kepala Junna. "Mm..." mata Junna menyipit
puas.
“Pengisian daya selesai. Aku mau
pergi manggung dulu.”
“Ya. Aku akan menonton dari
sini.”
“............Sekarang aku jadi
gugup...”
☂
Yamada dan aku sedang menonton
sesi rekaman Junna lewat layar TV.
JUN telah melepas hoodie-nya dan mengenakan kaos lengan pendek serta celana
pendek lampion (dolphin shorts). Dia bertelanjang kaki.
Dia duduk di atas kursi tinggi, membungkuk ke depan seolah sedang memeluk
gitar elektrik surf green miliknya. Dia mengenakan headphone
monitor berwarna hitam.
Dari sudut pandang ini, aku tidak bisa melihat ekspresinya.
“...Beri tahu aku kalau kamu sudah siap,” suara berat khas pria, kemungkinan
besar sang engineer, terdengar melalui interkom.
JUN memetik senarnya beberapa kali seolah untuk mengecek, dan suara keluar
dari speaker di sebelah TV.
Ini bukanlah suara yang sebenarnya dihasilkan di bilik utama tempat JUN
berada, melainkan suara yang diambil dari bilik terpisah yang lebih kecil
tempat amplifier diletakkan.
Suara dari amp tersebut ditangkap oleh mikrofon dan dikembalikan
secara real-time ke headphone JUN, namun dunia tempat dia
membenamkan diri pastinya adalah keheningan yang pekat, bagaikan ketenangan
sebelum badai. Bahkan atmosfer itu seolah merembes keluar dari balik layar.
Setelah melepas headphone-nya lalu mengenakannya kembali sekali, JUN
mengacungkan tanda "OK" dengan jarinya.
“Baik, take pertama. Silakan.”
Selepas aba-aba tersebut, trek drum dan bas yang sudah direkam sebelumnya
mulai diputar. Itu adalah alunan suara yang kudengar untuk pertama kalinya.
Gitar JUN melapisinya di
atas trek tersebut. Itu adalah gitar yang sama persis yang didengar oleh Yamada
dan aku di ruang AV saat kuis tebak intro lagu lalu. Di sebelahku, Yamada
mengeluarkan suara kecil, “Fwaah...”
Mataku membelalak karena
terkejut.
Ini bukan sekadar penjumlahan.
Ini adalah perkalian.
Gitar JUN, yang tadinya sudah
luar biasa saat dimainkan sendiri, kini menunggangi alur bergelombang bagai
badai yang diciptakan oleh bagian ritme, drum, dan bas, hingga satu bagian
berubah menjadi sepuluh, seratus.
Aku benar-benar tertelan.
Terenyak.
“I-Itu keren banget...”
“...Itu keren banget.”
Begitu penampilan
tersebut usai, Yamada dan aku tertegun dalam kebisuan.
Kami saling bertukar
kesan dengan latar belakang perbincangan teknis antara JUN dan sang engineer
setelah take pertama selesai.
“Wah, itu tadi
benar-benar... luar biasa.”
“I-Itu luar biasa
banget...”
─Kosakata kataku
terbatas.
“Bagi telinga amatir
kita, kedengarannya kualitas itu sudah sangat bagus bahkan untuk ukuran satu
kali take saja, ya kan?”
“Take kedua.”
“Take ketiga.”
“Take keempat─”
“............Dia merekam banyak sekali take, ya?”
JUN, yang tampaknya belum puas, mengulang banyak sekali take. Sambil bertukar kata dan pendapat
dengan sang engineer,
“Dan dia teliti banget.”
Bukan hanya keseluruhan
lagu, melainkan per bagian, bukan hanya satu frasa, bahkan satu nada tunggal
pun diulang-ulang dalam beberapa take.
“Kenapa begitu ya?”
“Y-Yah...”
Saat kami kebingungan, Akagi,
yang duduk di meja agak jauh dari kami, bersuara.
“Nanti bagian-bagian itu akan disambung (splice) jadi satu.”
Kotegawa sudah tidak terlihat lagi. Dia berada di ruang kontrol di lantai
pertama untuk memberikan dukungan dan arahan.
Akagi melanjutkan, “Mereka akan memilih 'momen-momen terbaik' dari sekian
banyak take yang sudah direkam, memotongnya, lalu menyambungkannya untuk
dijadikan sebuah lagu. Setiap lagu yang kalian dengarkan setiap hari di album
musik─sebagian besar di antaranya adalah kristal dari berbagai momen, yang
terdiri dari ribuan momen yang digabungkan.”
“...Wah!”
Mata Yamada berbinar polos.
“Begitu ya! Aku sama sekali tidak
tahu... Aku tidak pernah menyadarinya.”
“Itu karena proses
penyambungannya sangat mulus. Kalian mungkin tidak akan bisa membedakannya
hanya dengan mendengarkannya secara biasa. Selain itu, volume, kualitas suara,
tekanan suara, dan posisi suara semuanya diatur secara detail oleh tangan sang engineer.
Kalau kalian menganggap data rekaman itu sebagai bahan masakan, maka proses mixing
yang menggabungkannya ibarat memasak─itu adalah proses yang sangat penting
hingga sering disandingkan dengan hal tersebut. Dan JUN bukanlah koki
sembarangan.”
Itulah sebabnya─kata Akagi.
“Dia meminta koki kelas atas
untuk meracik bahan-bahan terbaik yang disiapkan oleh JUN dengan cara sebaik
mungkin... Fasilitas studio, peralatannya, semuanya adalah kelas atas. Mampu
menggelontorkan uang untuk hal-hal seperti itu adalah kehebatan luar biasa dari
bernaung di label mayor.”
Seorang musisi kelas atas seperti
Akagi menyebut seseorang sebagai profesional kelas atas berarti mereka memang
benar-benar jagoan asli.
Dan JUN, yang mampu mengumpulkan
bahan-bahan yang membuat profesional kelas atas tersebut ingin menguji
kemampuan terbaik mereka, pastinya juga merupakan talenta sejati.
“...Tidak. Bukan begitu caranya.”
“Bagian itu punya caraku sendiri
yang khas... jadi...”
“─Mm. Oh, kalau itu niatmu... Aku mengerti. Akan kucoba.”
“............Dia hebat
banget. Sungguh.”
JUN, yang berargumen
bolak-balik dengan orang dewasa profesional tanpa mau mengalah sedikit pun
melalui mikrofon bicara (talk mic), tampak begitu luar biasa di mataku.
☂
JUN terus merekam dengan
tekun setelah itu, dan begitu dia merampungkan bagian gitar dan keyboard
untuk dua lagu, waktu sudah menunjukkan lewat pukul dua siang.
Kami berkumpul di lobi
dan menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh Akagi. Selama waktu itu,
“..................”
Junna terdiam seribu
bahasa. Dia mengenakan sepasang headphone hitam berkabel yang berbeda
dari biasanya dan sedang mendengarkan hasil rough mix. Jarak antara dia
dan aku, yang duduk di sebelahnya, juga terasa lebih jauh dari biasanya.
“Kupikir jadwalnya bakal ketat,
tapi ternyata sama sekali tidak ada masalah.”
“Benar kan? Sebagian alasannya
karena penampilan JUN-san memang sangat luar biasa, tapi Kuma-san juga sangat
bisa diandalkan. Meskipun baru pertama kali bertemu, dia sangat lihai
mengeluarkan potensi terbaik JUN-san.”
Kotegawa, yang duduk tepat di
seberangku, menoleh ke arah serong belakangnya sambil mengobrol dengan Akagi di
sampingnya.
Orang itu adalah sang engineer,
seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tegap bernama Okuma. Mengenakan kaos
kuning madu, celana jins hitam, dan rambut dreadlocks yang diikat dalam
satu kuncir kuda.
Penampilannya tampak
mengintimidasi, namun kepribadiannya sangat lembut, dan sama seperti Junna, dia
sedang menyantap onigiri isi daging buatan Akagi sambil bergumam sendiri
di sofa dengan headphone masih tergantung di lehernya.
“Masakan rumahan Eimi memang
paling enak.”
Kotegawa, yang juga memegang onigiri
terbungkus plastik satu persatu dengan kedua tangan lalu menikmatinya, bergumam
gembira. Jika Okuma adalah beruang, maka Kotegawa mirip seperti tupai.
“Yo. Ada sebutir nasi di
pipimu... Kamu ini anak kecil ya?”
Akagi mengambil sebutir nasi dari
pipi Kotegawa lalu menyodorkannya ke hadapannya. "Nih."
Kotegawa membuka mulutnya lalu
menggigit jari Akagi.
“KNYAM!”
“Gah!? J-Jangan digigit! Taring gandamu menusuk─Ugh!?
S-Stop dihisap!”
“Kalian berdua akur banget ya,”
kataku sambil memakan hidangan kinpira-ku.
Yamada, yang duduk di kursi
tengah (birthday seat) di antara aku dan Akagi, menunjukkan ekspresi
"guhehehe...", menikmati masakan rumahan Akagi sekaligus candaan
akrab mereka berdua.
“...Padahal kesan pertamaku
terhadapnya dulunya buruk banget, sih.”
Akagi menjilat jarinya yang
sedikit berdarah lalu merengut, wajah tampannya berkerut.
“Badannya pendek, tapi
tempramental dan suka main kekerasan, tipe orang yang paling enggan kuajak
berurusan.”
“Aku juga dari awal tidak
menyukaimu, tahu?”
Kotegawa langsung membalas.
Mereka rupanya pernah bersekolah di SMP yang sama.
“Kamu dulu menyendiri,
tidak bisa bergaul. Mentang-mentang anak pulangan dari luar negeri (returnee),
lagakmu selangit.”
“...Kamu cuma iri dan
dengki saja. Bukan aku yang tidak bisa bergaul, tapi kalian golongan anak-anak
payah itu yang memang merosot.”
“Begitulah caramu bicara,
Eimi-chan☆”
Kotegawa menimpali dengan
nada bicara yang terdengar seolah ada simbol bintang di ujung kalimatnya.
“Kamu berasal dari
Inggris, kan?”
Mendengar ucapanku,
“Ya. Ngomong-ngomong, ini
rahasia antar kita ya, tapi,” Kotegawa menyeringai.
“Nama tengah Eimi itu─”
“Kalau kamu berani
mengucapkannya, aku tidak akan pernah mau memasak untukmu lagi.”
“Saya memohon maaf yang
sebesar-besarnya. Mohon ampuni saya, Eimi-sama.”
Kotegawa menegakkan
posisi duduknya dan membungkuk dalam-dalam. Itu adalah contoh permohonan maaf paripurna ala
pekerja kantoran. Menyaksikan hubungan mereka, pipiku ikut mengendur seperti
halnya Yamada.
Selama waktu itu, Junna menutup
matanya, fokus mendengarkan alunan suara di telinganya.
Masa-masa hening berlanjut untuk
beberapa saat.
“...Musik itu hal yang
luar biasa, ya kan?”
Kotegawa-lah yang
bergumam seorang diri di tengah lirihnya suara hujan. Kata-katanya berbunyi,
“Tanpa musik, aku tidak akan bisa terhubung dengan Eimi dan semua orang begitu
dalam, begitu kuat. Musiklah yang menghubungkan kita.”
Ditujukan kepada orang di
sebelah, kepada sahabatnya yang telah berhenti bermusik.
“Makanya aku cinta banget sama
musik.”
─Rasanya sama saja, pikirku.
Musik jugalah yang telah
menghubungkan aku dan Junna. Namun, “Kamu juga sempat berpikir begitu, kan, Eimi?”
─Kalimat itu diucapkan dalam
bentuk lampau.
Kesedihan, kesepian, rasa
nostalgia, dan melankoli.
Seolah ingin meremukkan secercah
harapan samar yang tersimpan di dalamnya,
“...Yah.”
Akagi menjawab, “Sudah lama
sekali,” dengan suara datar. Tanpa ekspresi apa pun. Sosoknya bertumpang tindih
dengan gadis di sampingnya, dan aku merasakan nyeri menusuk tajam di lubuk
hatiku.
☂
“Tolong biarkan aku melakukannya
dalam satu kali take.”
Selepas makan siang. JUN, yang
telah kembali masuk ke bilik utama, langsung melontarkan permintaan itu. Tanpa
menunggu jawaban dari sang engineer, Okuma,
“Untuk kedua lagu itu, aku akan
mencurahkan segalanya ke dalam take pertama, menuangkan semuanya... Aku
tidak akan bisa melakukan take kedua,” umum Junna. Suaranya pelan, namun
nadanya tegas tanpa keraguan.
Tidak ada balasan
langsung dari Okuma. Sesaat kemudian, “............Baiklah,” Okuma merespons.
Suaranya dibalut oleh ketegangan, atau mungkin antusiasme, yang sedang berusaha
diredamnya.
“Beri tahu aku kalau kamu sudah
siap.”
Di dalam bilik, mereka
kemungkinan besar bisa saling melihat melalui dinding kaca transparan. JUN
mengangguk merespons perkataan Okuma lalu mulai melakukan peregangan dan
pemanasan.
Dia memutar lehernya,
menggerakkan bahu, serta melemaskan otot-otot di lengan dan punggungnya. Dia
bersenandung, membuat bibirnya bergetar, lalu mengeluarkan suara sambil menaruh
tangan di perutnya.
Bagaikan menyetel gitar,
dia sedang menyetel instrumen yang ada di dalam tenggorokannya sendiri.
Dia menenggak air minum
dari botol plastik, mengenakan headphone monitor hitam yang tadi
menggantung di lehernya, lalu berdiri di depan mikrofon kondensor besar sambil
menarik napas dalam-dalam.
Di lobi, kami mengamati
JUN dengan napas tertahan.
Yamada tampak gelisah tak
bisa diam.
Akagi berdiri dengan
tangan bersilang di dada.
Kotegawa sedang berada di lantai
pertama dan tidak ada di sini saat ini.
“..................”
─Dari suatu tempat, aku bisa
mendengar samar suara badai.
Suara terjangan taifun dari
beberapa waktu lalu.
Seolah hendak memegang
bilah pick gitar, JUN mengangkat tangan kanannya.
Itulah "isyarat" dimulainya.
Gitar, bas, drum, piano.
Suara-suara yang tidak kudengar pada hari itu, di waktu itu, kuartet YOHILA
mengalir meluap dari speaker, menggetarkan udara yang lembap. Memberi
sengatan listrik di udara.
Itu adalah karya musik yang mendebarkan jiwa.
Meskipun aku sempat mendengarkannya di sesi rekaman sebelumnya, aku tetap
tertegun hingga tak mampu bergerak. Raungan suara ansambel tersebut, yang telah
berlipat ganda lewat kekuatan multiplikasi, terus mengamuk.
“...!”
Saat kami menahan napas, JUN
menarik napas panjang.
─Dia bernyanyi.
Seketika itu juga, sebuah
hantaman kejut bagaikan sambaran petir menembus otakku, dan waktu ditarik
mundur ke masa lalu.
Atap sekolah di tengah badai
hujan deras.
Junna, melolong dengan suara
parau.
Perasaannya, tertanam
dalam senandung lagu dan lirik yang meratap.
Aku adalah─
(...Oh, begitu ya.)
bukan aku.
(Jadi begitulah yang dia
rasakan, saat dia bernyanyi...)
Aku melihatnya melalui
sudut pandang dirinya.
Perasaan kuat terhadap
sesuatu yang berharga, dan karena alasan itu pula, sebuah emosi kelam yang tak
terhindarkan membekas di ingatan. Ketakutan akan kehilangan, keputusasaan.
Kecemasan.
Semuanya beririsan,
bergema menyakitkan di dalam dadaku.
Lebih kuat dan lebih
beringas daripada tetesan air hujan, perasaan itu menghantamku bertubi-tubi.
Aku merasakan dorongan
luar biasa untuk berteriak sekencang-kencangnya.
(Aku ini─)
Pada akhirnya, suaranya
berhenti, musiknya pun berhenti, namun hujan tidak kunjung reda. Hatiku tetap
basah kuyup, berdiri selamanya di bawah langit yang tampak menangis.
☂
Hujan membasahi gugusan
gedung-gedung pencakar langit, dan ban mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan
raya utama memercikkan genangan air di atas aspal.
Kami sedang dalam
perjalanan pulang dari studio. Baik Yamada maupun aku sama-sama terdiam. Kami masih terhanyut dalam
sisa-sisa keindahan dan sisa panas dari alunan musik serta lagu yang dibawakan
oleh JUN—sebuah gema bagaikan denging di telinga selepas menonton konser
langsung.
“...Tadi itu waktu yang seperti
mimpi, ya kan?” gumam Yamada sambil memutar-mutar payung biru pastelnya.
“Momen di mana aku merasa tidak
percaya sedang berada di tempat itu, di ruang itu.”
─Aku merasakan hal yang sama.
Batas-batas dunia terasa kabur,
bagaikan momen saat kamu baru terbangun dari mimpi di pagi hari. Hatiku, yang
seolah masih terlepas dari raga, melayang-layang di antara kenyataan dan alam
mimpi.
Diputar secara berulang tanpa
henti di dalam kepalaku adalah dua lagu YOHILA yang baru saja dinyanyikan dan
dibawakan oleh JUN.
“Sorrow & Love”
Lagu utama dari EP yang akan
menjadi debut mayor mereka, lagu andalan baru yang tidak berlebihan jika
dikatakan merangkum seluruh daya tarik dari band YOHILA.
“Youth & Cyanide”
Sebuah lagu andalan mematikan
dengan aransemen musik yang langsung membayangkan langit musim panas yang biru
beracun sekaligus jernih, sebuah lagu yang luar biasa cerah untuk ukuran
YOHILA, namun diiringi lirik yang bercirikan khas kelam dan dibumbui racun khas
JUN.
Keduanya digarap dengan luar
biasa hebat, bahkan sebelum proses mixing dan mastering
profesional dilakukan, lagu-lagu itu sudah menjadi mahakarya yang ditakdirkan
bersinar sebagai lagu favorit YOHILA nomor satu dan dua bagiku.
Kira-kira seperti apa lagu untuk
dua sisanya yang akan direkam besok, ya. Aku sudah tidak sabar. Namun,
“Aku tahu serakah rasanya kalau
berpikir, 'Aku ingin ikut menonton hari besok juga'...”
kami hanya diizinkan mengamati
pada hari pertama, yaitu hari ini.
Menurut Kotegawa, akan sulit jika
datang di hari kedua karena beberapa petinggi dari pihak label dan bagian
promosi akan berkunjung.
─Sekali lagi, aku dibuat sadar.
Bahwa ada begitu banyak orang
yang terlibat di balik debut mayor YOHILA.
Bahwa daya tarik JUN, bakatnya,
mampu menggerakkan orang-orang dewasa tersebut.
Skala besar di balik
semua itu.
Namun ini semua baru permulaan. Belum masuk babak prolog bahkan.
Aku diyakinkan setelah
sesi rekaman hari ini bahwa YOHILA, bahwa JUN, akan menggerakkan lebih banyak
orang lagi mulai dari sekarang. Tak terhitung jumlah hati yang akan digugah.
Pada saat itu tiba, aku.
Apakah aku masih bisa tetap
berada di sisinya?
Apakah aku diizinkan untuk tetap
berada di sisinya?
Orang sepertiku─
“Yamada-san.”
Aku menghentikan
langkahku dan memanggilnya.
─Selesai merampungkan rekaman
vokal untuk kedua lagu dalam sekali take sesuai janjinya.
Rasanya ini adalah pertama
kalinya aku berbicara sejak berpisah dengan Junna, yang mengurung diri di dalam
bilik karena ingin memoles lagunya hingga detik-detik terakhir, lalu
meninggalkan studio bersama Yamada.
Yamada berbalik dengan
ekspresi "Hm?" Aku
menatap lurus ke dalam matanya lalu,
“...Apa kamu punya waktu luang
setelah ini?”
kataku. Langsung pada intinya.
“Aku butuh konsultasi masalah
percintaan.”
☂
“Begitu ya,” ujar Yamada setelah
mendengarkan ceritaku. Dia menyesap teh buah pear La France miliknya
sedotan demi sedotan, mengaduk bubur pear dengan sedotan sambil
merenung.
Sebuah kafe di Nakameguro. Di
atas meja, terdapat pula sepiring crepe yang diberi topping
mentega, taburan gula pasir melimpah, dan es krim vanila. Traktiranku, sebagai
bayaran jasa konsultasi untuk Yamada.
“Jadi, dengan kata lain,
Kurimoto-kun, kamu sedang berpikir,”
kata Yamada sambil memotong crepe-nya
secara anggun menggunakan pisau dan garpu, menampilkan ekspresi melankolis.
“─'Apakah aku benar-benar pantas
untuk Junna...?'”
“...Ya.”
Aku memutuskan untuk tidak
berkomentar bahwa kesan yang ditangkapnya sama sekali tidak mirip, dan bahwa
posisi pisau serta garpunya tertukar di tangan yang salah, kemungkinan besar
karena dia merasa gugup berada di tempat sekeren ini.
Aku membasahi tenggorokanku
dengan limun lalu, “Belakangan ini, aku merasakan firasat samar ini,”
aku menghela napas dingin.
Contohnya, ketika berita tentang
aku dan Junna menyebar ke seluruh sekolah dan menjadi topik hangat.
Contohnya, ketika aku
mendengarkan siswa-siswa lain (terutama para cowok) membicarakanku.
Contohnya, ketika Junna, yang
tadinya kukira berada di "bawah" posisiku, justru meraih peringkat
pertama se-angkatan saat ujian.
Dan saat aku melihat Junna, yang
datang kepadaku meminta saran karena tidak bisa bergaul dengan kelasnya, dipuji
oleh teman sekelasnya usai penampilannya di turnamen olahraga.
Dan saat aku mengawasi punggung
Junna saat dia berhadapan dengan komputernya, dengan musiknya, di dalam
kamarnya.
Setiap kali mendapati momen itu,
aku dihantam oleh perasaan bahwa jarak antara aku dan Junna semakin membentang
jauh.
Karena Junna terlalu cemerlang.
Sebuah bayangan hitam telah lahir
di lubuk hatiku.
“Aku mulai merasa cemas. Apakah
cowok biasa sepertiku bisa terus berada di sisinya selamanya... apakah dia bisa
terus merasakan hal yang sama padaku?”
Dan menyaksikan sesi rekaman JUN
membuatku semakin merasakan hal itu secara kuat.
“...'Biasa'?”
“Tidak punya kelebihan atau
kekurangan yang menonjol... Kurasa begitu. Buatku sendiri.”
Aku menjawab pertanyaan Yamada.
Biar aku ceritakan
sedikit tentang diriku.
Aku lahir dan dibesarkan di
keluarga kelas menengah.
Berkat kedua orang tuaku yang
sama-sama bekerja, keuangan kami berkecukupan secara wajar, namun di sisi lain,
interaksi antar anggota keluarga tergolong minim. Meski begitu, hubungan
keluarga kami bukan berarti buruk atau baik, hanya amat sangat biasa saja.
Kemampuan akademisku tergolong
tinggi, namun kemampuan olahragaku di bawah rata-rata, dan aku memilih klub
lari dengan alasan pasif bahwa berlari adalah satu-satunya hal yang bisa
kulakukan. Catatan waktu lari jarak jauh milikku adalah definisi pas-pasan yang
sesungguhnya.
Gaya hidupku tidak bisa dibilang
rajin tapi juga tidak urakan.
Aku kurang pandai bersosialisasi,
tapi bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali, dan aku tidak pernah
merasa kesepian atau tidak puas meski punya sedikit teman. Aku menjalani hidup
yang cukup menyenangkan, sekaligus cukup melankolis.
Kurasa aku memiliki kepribadian
sinis dan emosi negatif yang lebih kuat dibanding orang lain─namun tidak sampai
taraf mengalami gangguan mental. Ketahanan mentalku kuat. Hal ini pun,
lagi-lagi, berada di taraf setengah-setengah.
Kelebihan dan kekurangan, jika
ditotal hasilnya nol.
Tidak ada satu pun hal yang bisa
kukatakan tidak biasa—alias spesial.
Alasan aku menyukai hal-hal tidak
biasa seperti musik depression rock mungkin karena aku ingin menciptakan
sedikit perbedaan antara diriku dan orang lain.
Bisa jadi itu bukan
"kesukaan" yang murni.
“Karena aku cowok ngebosenin
begini─”
“Wachaah!?”
Yamada mengeluarkan pekikan aneh
dan menjatuhkan pisau serta garpunya. Pikiran gelap berkabut yang tadinya
mencengkeram benakku mendadak buyar seketika.
“............Permisi.”
Aku mengangkat tangan dan
memanggil pelayan kafe. Yamada
tampak salah tingkah.
“M-Maaf ya...”
“Tidak apa-apa. Kamu dominan
tangan kanan kan, Yamada-san? Pisau dan garpunya terbalik di tangan yang salah
dari tadi lho.”
“............Oh. Pantesan dari
tadi rasanya susah banget dipakai... Payah banget aku! Bodoh banget!”
Yamada, dengan wajah merah padam
hingga ke daun telinga, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Aku tidak kuasa menahan tawa. Aku
jadi berharap punya sisi ceroboh dan imut seperti itu juga.
“Jadi, eh... tadi aku ngomong
sampai mana ya?”
Yamada, yang kini memegang alat
makannya dengan benar, menenangkan diri lalu melanjutkan.
“Saking membosankannya, aku jadi
lupa.”
“Y-Yah, blak-blakan
banget... Kamu yakin tidak sedang melampiaskan racun yang biasanya kamu simpan
buat Yōjirō?”
“Cuma bercanda, kok.”
Sambil tertegun, Yamada
dengan santai menyantap crepe-nya lalu,
“Menurutku kamu bukan
orang yang 'biasa' atau 'membosankan', Kurimoto-kun, dan aku yakin Jun-chan
juga tidak berpikir begitu. Entah kalian cocok atau tidak.”
Dia menjilat gula halus
di bibirnya lalu,
“Tapi yah, kalau itu yang
kamu rasakan, Kurimoto-kun... ya berarti kamu tinggal mencarinya, atau
menemukannya, kan? Sesuatu yang bisa menjadi sumber rasa percaya dirimu!”
katanya sambil tertawa.
Dengan pancaran cerah bagaikan matahari, sifat yang sulit dipercaya datang dari
seorang mantan otaku suram.
“Itulah caraku bisa
berubah.”
☂
“Sumber percaya diri...
ya.”
Malam harinya. Aku
berbaring di atas tempat tidur di kamarku, merenungkan perkataan Yamada.
Sesuatu yang bisa
membuatku menegakkan kepala dan berdiri dengan percaya diri di sisi Junna.
Kira-kira apa ya hal itu?
Pikirku.
Hal pertama yang terlintas di
benakku adalah perasaanku terhadap YOHILA, JUN, dan Junna, namun hal itu terasa
seperti fondasi yang rapuh.
Aku adalah penggemar berat
YOHILA, dan aku yakin perasaanku terhadap mereka tidak kalah dari siapapun,
namun hal itu saja sepertinya belum cukup.
─Bahwa aku pantas berada di
sisinya.
─Bahwa aku layak mendapatkannya.
Aku merasa harus menemukan
sesuatu yang kokoh yang bisa membuatku meyakini hal tersebut dengan kuat.
“..................”
Angin malam yang lembap berembus
masuk lewat jendela kamarku yang terbuka. Sebuah lonceng angin logam yang
digantung untuk menyambut musim panas bergemerincing pelan, suaranya berpadu
dengan deru hujan deras yang turun.
Belum ada dua bulan berlalu,
namun rasanya sudah begitu lama sejak awal mula hari itu kuingat kembali.
Suatu hari di bulan Juni,
di ruang AV sepulang sekolah pada hari hujan.
Di sudut dunia yang
memudar menjadi kelabu, dia sendirian, melankolis─
dengan tenang membalik
lembar demi lembar halaman buku.
☂
Terik matahari musim panas
membakar kulitku bagaikan besi panas. Saat aku mendongak menatap langit,
gradasi warna biru ultramarine yang indah membentang di hadapanku. Hari yang
sempurna untuk kegiatan atletik dan lapangan.
“Hei, hei, Kurimoto.”
Kegiatan klub saat liburan musim
panas. Saat aku sedang berlari mengitari jalur lintasan yang ditentukan di area
sekolah, seorang teman seangkatan yang bertemperamen usil mendekatiku dan mulai
mengajak ngobrol.
Nama belakangnya Nakano. Dia suka
karaoke dan sering mengajak semua orang pergi nongkrong selepas kegiatan klub.
“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”
“Bagaimana kabarku... Biasa saja. Selain klub, aku cuma meringkuk di kamar ber-AC.”
“Sama Amamori-san?”
“...Sendirian,”
kataku mengabaikannya, lalu
mempercepat laju lari. Namun Nakano dengan gigih menyejajarku dan,
“Kamu sama sekali tidak
melihatnya selama liburan musim panas?” tanya dia. Saat topik tentang Junna
pertama kali mencuat, aku dihujani pertanyaan seperti ini, namun kurasa dia
masih belum kehilangan rasa penasarannya.
Aku mengalah dan
memperlambat langkahku. Aku
memutuskan untuk meladeni obrolannya sejenak.
“...Aku melihatnya
beberapa kali. Tapi tidak baru-baru ini.”
Terakhir kali aku melihat Junna
adalah saat aku pergi menonton sesi rekamannya dua minggu lalu.
Sejak saat itu, frekuensi dan
durasi percakapan kami di LINE juga ikut berkurang.
Alasannya karena Junna sibuk
dengan pekerjaannya.
Dan─
“Hmm. Eh, mukamu pucat banget,
lho?”
Nakano mengamati wajahku yang
berlari dengan kepala tertunduk lesu lalu,
“Kamu kelihatan tidak sehat,
seperti tidak punya tenaga. Dan berat badanmu turun, ya?” ujarnya penuh
perhatian. Atau mungkin dia tidak sedang mengorek cerita tentang Junna,
melainkan menegurku karena khawatir melihatku tampak kurang sehat.
Jika memang begitu, kurasa dia
sebenarnya anak yang cukup baik.
“Jangan-jangan─kamu diputusin
ya!? Kamu diputusin sama Amamori-san, Kurimoto?” desaknya dengan cengiran lebar
di wajah. Aku hampir menjegalnya, tapi aku menahannya. Tarik ucapan tadi. Aku
menatap tajam ke arah Nakano dengan mata panda kelelahan milikku lalu,
“...Aku belum diputusin.”
“Belum? Berarti kamu memang
berencana mau diputusin!?”
Wajah Nakano langsung
berbinar girang saat mendengar jawabanku. Kenapa kamu malah kelihatan senang begini...
Sepertinya aku harus menjegalnya sungguhan saja.
“Kalau hal itu terjadi,”
Nakano mengacungkan
jempol ke arahku.
“Kita karaokean yuk! Mari kita
curahkan isi hati kita lewat lagu-lagu patah hati. Kayak lagu
'Pretender' dari HIGE DANdism, atau 'Happy End' dari back number.”
“Lagu 'Ame to Boku no Hanashi' dari back number bakal pas banget tuh─eh,
enggak! Hari seperti itu tidak akan pernah terjadi.”
Aku mendengus kesal, lalu mendadak mempercepat langkah lariku. Meninggalkan
Nakano di belakang.
Aku menyalip anggota lainnya juga dan berlari paling depan di barisan
terdepan.
Tak lama kemudian, napasku mulai
memburu, dan keringat bercucuran deras. Detak jantungku berpacu kencang,
berdegup keras di dalam telingaku.
Aku ingin berteriak sekuat
tenaga.
Sama seperti yang kulakukan dulu,
di tengah badai.
Namun─
“...hosh...hosh...”
langit tampak cerah, dan
satu-satunya hal yang keluar hanyalah napas terengah-engah yang terasa getir
berbau darah.
Tanpa kusadari, langkah kakiku
melambat, dan aku kembali disusul oleh Nakano serta anak-anak lain yang tadinya
berhasil kuenduskan di depan.


Post a Comment