Chapter 6
Akhir Musim Panas yang Ditenun Bersamamu
─Sensasi itu sangat mirip dengan lari jarak
jauh.
Kamu berlari, dan terus berlari, menuju
garis akhir yang telah ditentukan.
Kamu tidak bisa berhenti di tengah jalan.
Kamu tidak boleh terlalu cepat, atau
terlalu lambat.
Kamu mempertahankan kecepatan yang cocok
untuk dirimu, dengan tenang. Secara konsisten.
Kamu menumpuk "langkah-langkah"
kecil, dan sedikit demi sedikit, kamu menutup jarak yang tak berujung.
Sambil bertarung melawan diri sendiri,
yang terus tergerus di setiap langkah yang kamu ambil.
Kamu hanya melihat ke depan─
dan terus melangkah.
☂
“...!”
Begitu aku melintasi
garis finis, ketegangan yang selama ini menumpuk seketika runtuh, dan tubuhku
lemas bagaikan boneka marionette yang talinya dipotong. Perasaan pencapaian
sekaligus kelelahan mendera.
Aku merosot jatuh ke
kursi, melepaskan embusan napas yang terasa seolah jiwaku sedang meninggalkan
raga.
“S-Selesai... sudah...”
Jam di komputerku, di
pojok kanan bawah layar, menunjukkan pukul lima pagi. Aku terkejut menyadari
bahwa aku telah bekerja tanpa henti selama lebih dari enam jam.
“..................”
Aku duduk termangu untuk
beberapa saat, lalu berjalan ke arah jendela.
Saat aku membuka tirai,
sinar matahari pagi, berpadu dengan cahaya lampu ruangan, menyengat retinaku
dengan lembut.
Aku meregangkan tubuh,
menarik napas dalam-dalam menghirup udara segar.
Tulang-tulang di tubuhku
berkeriut.
Kicauan burung-burung.
Kota yang masih setengah terpejam itu terasa tenang, dan entah kenapa begitu
murni.
Kurasa hari ini akan
menjadi hari yang cerah dan indah.
“─Baiklah kalau begitu.”
Aku menutup kembali tirai
yang baru kubuka, lalu berbalik. Aku mematikan komputerku dan,
“Waktunya tidur.”
Saat aku hendak menyetel
alarm, aku menyalakan ponselku─
“...!? ”
Rasa kantuk, kelelahan,
dan segalanya langsung buyar seketika.
Oleh badai notifikasi di layar.
JUN: Shigure!
JUN: Aku nggak bisa tidur, jadi aku mau ngobrol!
JUN: ...Enggak mau?
JUN: Shigure? Halo?
JUN: Aku bakal nunggu sambil dengerin lagu "Anminzai"
dari yutori...
JUN: Shi──gu──re──!!
JUN: Kamu tidur ya...
JUN: Biasanya kamu masih melek jam segini. Jangan-jangan ada apa-apa... Aku khawatir...
JUN: Tengah malam. Shigure.........
JUN: Kamu nggak jawab? Terserah deh.
JUN: Kalau kamu tidur, aku bakal nemuin kamu di dalam mimpimu saja.
Itu
adalah pesan LINE yang masuk tepat setelah aku mematikan ponselku untuk
berkonsentrasi penuh semalam. Di akhir pesan terdapat stiker Geroppi yang
sedang tidur dengan sehelai daun di atas kepalanya.
Aku buru-buru mengirimkan balasan.
Shigure: Maaf. Ponselku mati.
Setelah mengirimkannya, aku baru ingat
kalau hari masih pagi buta.
Berpikir bahwa dia mungkin belum bangun,
aku tengah mengetik pesan tambahan, "Masih pagi, jadi kamu mungkin masih
tidur. Aku baru saja begadang semalaman, tapi nanti
kita ngobrol lagi kalau kamu sudah bangun!"
Begitu
pesan yang kukirim terbaca (read), sebuah panggilan telepon masuk. Aku langsung
mengangkatnya.
“...H-Halo?”
“Higurye
(Shigure).”
Dia
pasti baru saja tidur sampai tadi. Suara Junna
terdengar cadel dan mengantuk.
“Funyu... Selamat pagi...”
“Selamat pagi, si pemalas.”
“─Kenapa ponselmu mati?”
Tepat saat kupikir dia masih mengantuk, dia
tiba-tiba bertanya dengan nada tajam. Suaranya datar.
“Apa kamu... sedang melakukan sesuatu yang
tidak ingin kuketahui kalau aku menelepon?”
“Aku melakukannya, tapi,”
“..................”
“Bukan seperti yang ada di pikiranmu, oke?”
“...Hmm. Jadi bukan PR musim panas? Kalau
begitu─”
“Tunggu, itu yang kamu pikirkan!? PR... yah, mungkin mirip sih.”
“...Sesuatu yang mirip dengan PR? Apa itu?”
“Rahasia.”
“Ehhh... Aku penasaran.”
Sambil mengobrol, aku melirik kalender. Agustus. Tanpa terasa, liburan musim panas sudah memasuki paruh kedua.
“Junna. Kapan jadwal luangmu yang paling
cepat?”
“Hari ini.”
Jawabannya langsung seketika. Aku mengangguk.
“...Baiklah. Kalau begitu kita ketemuan nanti
siang. Soal tempatnya─”
“Rumahmu, Shigure.”
“.........!”
Aku tadinya nyaris menolak, namun perasaan
bersalah karena mengabaikan pesannya begitu lama serta fakta bahwa kami belum
pernah bertemu lagi sejak sesi rekaman membuat bibirku terkunci rapat.
─Aku memikirkannya. Orang tuaku sedang
bekerja, dan kakakku seharusnya punya pekerjaan paruh waktu di siang hari. Aku
akan sendirian di rumah. Kalau begitu,
“...Baiklah.”
“Eh?”
Junna tampak kebingungan. Padahal dia sendiri yang mengusulkan hal itu,
“A-Apa...
boleh...?” tanyanya ragu-ragu.
“Iya,”
jawabku.
“Aku
berpikir kalau kita mau ketemu, lebih baik di tempat yang tidak terlalu banyak
orang.”
“...!? ”
Junna terkesiap, tak bisa berkata-kata.
Aku melanjutkan. Suara dan tanganku yang
menggenggam ponsel terasa mantap.
“Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.”
☂
Aku tidak bisa tidur sama sekali
sampai waktu yang ditentukan tiba.
Menjelang siang, kami bertemu di
pintu keluar utara Stasiun Kichijoji, tempat yang sama saat pertama kalinya
kami jalan bersama.
Langit cerah. Junna, yang
memegang payung berwarna ungu hydrangea, mengenakan pakaian santai
berupa kaus raglan hitam, rok denim, dan sepatu kets putih. Dia membawa
ransel Vivienne Westwood miliknya.
Aku, yang tiba lebih dulu,
mengangkat tangan dan berkata,
“Yo,” lalu mengamati kaki Junna.
“...Kamu beli sepatu Chaosmith itu?”
“Stan Smith. Itu bukan lagu ONE OK ROCK.”
Kami saling membalas dengan peran yang biasanya terbalik, lalu Junna gantian
melirik kakiku.
“Aku ingin punya pakaian couple sama kamu, Shigure, makanya aku
membelinya... tapi,” gumamnya pelan.
“Kenapa malah pakai... sandal...”
“...Maaf. Karena tujuannya ke
rumahku sendiri, aku pakai yang santai saja.”
Kaus putih lengan pendek, celana
panjang longgar hitam, dan sandal sport biasa. Di mataku, yang berpenampilan
seolah-olah hanya mau pergi ke minimarket terdekat,
“Tapi tidak masalah sih.”
Junna tersenyum dan
berdiri di sampingku. Payung yang dibuka dalam sekejap itu menghalangi teriknya
matahari musim panas.
“Itu artinya pertahananmu sedang
longgar. Giliran aku untuk menyerang.”
“...! Junna, jangan berdua di
bawah satu payung begini─”
Saat aku mencoba menjauh karena
tidak tahan lagi, Junna dengan cepat melingkarkan lengannya di lenganku dan
menarikku lebih dekat. Sesuatu yang lembut menyentuh bisepku, membuatku menelan
ludah dan kata-kataku mentah-mentah.
Junna langsung memanfaatkan
keunggulannya.
“Aku sudah mandi sebelum
berangkat dari rumah... tahu?”
Suara dan aroma manis yang
menguar, mengingatkan pada es krim yang meleleh karena panas.
Mungkin ini adalah reaksi karena
kami tidak bertemu selama lebih dari dua minggu. Hari ini, Junna bertindak jauh
lebih agresif dalam jarak dekat daripada biasanya. Kalau aku lengah, aku bisa
tamat. Langsung kalah telak dalam sekejap.
“Aku senang banget...”
Junna menyandarkan kepalanya di
bahuku dan bergumam dengan penuh kebahagiaan.
“Menantikan hadiahmu, Shigure.”
☂
“..................Apa ini?”
Suara Junna terdengar dingin dan
datar. Tidak ada emosi di dalam matanya saat menatapku, dan ekspresinya kosong
tanpa ekspresi. Padahal baru beberapa saat lalu,
“Jadi ini rumah keluargamu, Shigure. Rumah
yang bagus.”
“Aku ingin tinggal di rumah seperti ini...
bukan sekarang sih, tapi di masa depan nanti.”
“Nama
anjingmu Saucy? Apakah itu diambil dari nama band Saucy Dog?”
“Ah!? T-Tidak... jangan biarkan dia keluar
dari kandangnya! A-Aku takut makhluk hidup!”
“Ayo kita ke lantai atas. Ke kamarmu, Shigure.
Kamu kan sudah pernah masuk ke kamarku, jadi ini impas.”
“Wah. Sederhana, tapi kamarnya nyaman. Ada poster YOHILA di dinding... dan poster ENDY. Kamu mendua, ya?”
“Aku akan memaafkanmu kalau kamu mengizinkanku
melompat ke atas kasurmu.”
“............Hah. tarik napas...
Funyuu............ Aku ingin terus seperti ini selamanya.”
seolah-olah antusiasmenya sebelumnya hanyalah
kebohongan belaka.
Di kamarku. Junna duduk di atas bantal duduk
(floor chair), menatap tajam ke arah benda yang ada di atas meja rendah. Gelas
berisi mugicha itu berembun.
Aku duduk bersila (seiza) di hadapannya dan
menjawab.
“Ini sebuah novel.”
Aku menegakkan punggungku dan menatap lurus ke
dalam mata Junna,
“Novel orisinal berukuran penuh pertama yang
pernah kutulis.”
─Aku mengumumkannya.
Manuskrip yang dicetak itu berjumlah total 154
halaman. Kira-kira setara dengan ketebalan sebuah
buku novel paperback.
Junna mengangkat tumpukan kertas tebal dan
berat yang disatukan oleh penjepit ganda (double clip) itu dengan kedua
tangannya lalu memiringkan kepalanya.
“...Apakah ini yang ingin kuberikan padamu,
Shigure?”
“Iya.”
Saat aku mengangguk, Junna melontarkan
pertanyaan lain.
“Kamu ingin aku membacanya?”
“...Iya.”
“..................Kenapa?”
Sambil memiringkan kepalanya dari kanan ke
kiri di setiap pertanyaannya, aku mengungkapkan apa yang ada di dalam benakku.
“Aku sudah lama merasa cemas. Tentang apakah
aku adalah tipe cowok yang pantas berada di sisimu, Junna... apakah aku orang
yang layak berdiri di sampingmu. Karena aku tidak punya keistimewaan apa pun.
Aku mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa pantas.”
“............”
Junna terdiam. Tanpa ekspresi, tanpa reaksi.
Namun dia menatapku tajam. Seolah menyuruhku
untuk melanjutkan.
Aku memejamkan mata dan mengembuskan napas.
“Aku terus mencari, mencari... dan apa yang
kutemukan di ujung pencarianku adalah sebuah 'novel'. Hobiku, selain bermusik.
Alasan mengapa aku bisa bertemu denganmu, Junna.”
Musiklah yang telah menghubungkan hati kami,
namun sebelum itu, sebuah novel yang terlupakanlah yang mempertemukan kami
berdua.
“Aku merasa jawabannya ada di sana. Jadi─”
─Aku memutuskan untuk mencoba menulisnya.
Aku mengepalkan kedua tanganku di atas
pangkuan dan menatap tumpukan kertas yang telah kuberikan kepada Junna.
“Genrenya berbeda, tapi aku pikir jika aku
juga menciptakan sesuatu, aku bisa lebih memahamimu, Junna... aku mungkin bisa
sedikit lebih dekat denganmu. Setelah itu, aku benar-benar putus asa. Dengan
keputusasaan itu, aku mencurahkan seluruh diriku untuk menulis.”
Aku menghadap komputernya—sama seperti yang
dilakukan Junna di kamarnya—dan mengetik dengan panik di papan tik laptopku.
Dan begitulah karya kreatif pertama dalam
hidupku dimulai, yang ternyata seratus kali lebih sulit dari yang kubayangkan.
Rasanya berat. Sangat menyiksa. Aku ingin
menyerah.
Namun alasan aku bisa terus bertahan adalah
karena keinginanku untuk menemukan "sesuatu yang spesial" di dalam
diriku, keinginanku untuk berdiri di samping Junna—dan, kurasa, karena percikan
api panas yang kudapatkan dari musik Junna, dari musik YOHILA.
Inspirasi yang diberikan oleh lagu-lagu dan
liriknya padaku. Menggunakan hal itu sebagai panduanku, aku merangkai sebuah
cerita.
Di hari-hari saat aku tidak ada kegiatan klub,
mulai dari pagi hingga malam. Mengorbankan waktu tidur, aku bekerja tanpa kenal
lelah.
“...Makanya akhir-akhir ini kamu jarang
memperhatikanku?”
“Ya, maaf... aku ingin menyelesaikannya
sebelum liburan musim panas berakhir, bagaimanapun caranya. Seperti PR. Rasanya
aku tidak bisa melangkah maju kalau tidak melakukannya... Itu adalah hal yang
mutlak harus kulakukan, untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku pantas
berdiri di sampingmu, Junna.”
“Hmm...”
Reaksi Junna singkat. Tapi aku merasa percaya
diri.
Yakin betul bahwa karya ini akan menyentuhnya.
Bahkan mimpiku sempat meluas hingga
memenangkan penghargaan pendatang baru, menjadi best-seller, dan diadaptasi
menjadi film. Kalau YOHILA yang mengisi lagu tema filmnya, itu akan jadi yang
terbaik. Dengan begitu, aku akan layak berada di sisinya. Makanya,
“─Bacalah.”
Aku mencondongkan tubuh ke depan. Aku begadang
semalaman, tapi aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Hatiku melambung tinggi
oleh kegembiraan karena telah merampungkan novel tersebut.
Aku menatap ke dalam mata Junna yang dingin
bagaikan danau beku dan melepaskan napas berapi-api.
“Karya perdana novelis Kurimoto Shigure,
'Kisah Mekarmu'─aku ingin kamu menjadi pembaca pertamanya, Junna!”
☂
“Shigure-sensei.”
Sekitar tiga jam setelah aku
mulai berkutat dengan tumpukan PR musim panas yang terbengkalai. Junna, yang
tadinya membaca novel itu dalam keheningan sambil berganti posisi di atas
tempat tidur,
“...Aku sudah selesai
membacanya,” kata Junna sambil duduk tegak dan memanggilku.
“O-Oh...”
Aku meletakkan penaku, menegakkan
punggung, dan menyiapkan mental.
Junna, yang duduk di tepi
ranjang, memasang ekspresi datar seperti biasa. Matanya tampak mengantuk, dan
aku bisa melihat sedikit kelelahan di sana. Di pangkuannya terdapat manuskrip
yang sudah selesai dibaca.
Aku menenangkan jantungku yang
berdegup kencang, menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya.
“Bagaimana?”
“............”
Junna tidak langsung menjawab.
Dia menunduk, dan setelah jeda
sejenak seolah sedang memilih kata-kata yang tepat,
“Luar biasa.”
“...!”
“Luar biasa...”
Dia menatap tepat ke mataku dan
mengatakannya.
“membosankan.”
“...!?”
Adegan impian yang
kubayangkan─aku dan Junna membuka novel paperback dengan baner
bertuliskan "Adaptasi Film Dikonfirmasi!", sementara dia membiarkanku
mendengarkan demo lagu baru─hancur berkeping-keping menjadi jutaan serpihan.
“................................Maaf.
Kamu baru saja bilang apa?”
“Membosankan. Luar biasa, luar
biasa membosankan.”
“............Hmm?”
Aneh. Sepertinya
pendengaranku terganggu. Jangan-jangan aku tuli karena terlalu sering
mendengarkan musik lewat headphone.
Saat aku membeku dengan
mata terbelalak, Junna melanjutkan tanpa ampun.
“Genrenya tipe
supernatural? Percintaan? Kisah tentang seorang anak laki-laki dan perempuan
yang memiliki 'bunga' di dalam hati mereka yang mekar dengan menyerap kenangan
dan emosi manusia... Ide dasarnya, yah, kurasa tidak buruk. Cara tiap kemampuan
mereka didasarkan pada karakteristik dan makna bunga itu sendiri cukup
menarik.”
“...! Y-Ya!? Menarik kan!”
“Tapi selebihnya adalah sampah.”
“..................”
Tepat saat pendengaranku pulih
sepenuhnya, hatiku langsung mati rasa.
Aku membeku sekali lagi.
“Maaf, aku lupa membungkusnya
dengan vibrato.”
Aku sudah tidak punya sisa
ketenangan untuk membalas bahwa dia seharusnya mengemasnya dengan "lapisan
oblaat¹."
“Ceritanya pasaran. Seleraku
hampir selalu sejalan denganmu dalam segala hal, Shigure... dan aku adalah tipe
cewek 'Shigure selalu benar', tapi bahkan untukku pun, mustahil memuji karya
ini sebagai sesuatu yang 'menarik'. Secara spesifiknya─”
Selama sekitar sepuluh menit
berikutnya, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa pun.
“─kurang lebih begitu.
...Shigure? Shigure, kamu mendengarkan?”
Pipiku sedang ditepuk-tepuk.
Junna, yang entah sejak kapan sudah turun dari tempat tidur, berdiri tepat di
hadapanku sambil mengintip ke dalam wajahku. Aku menatapnya dengan pandangan
kosong dan,
“Ya...”
“Kamu baik-baik saja? Mau minum
susu?”
“Ya...”
“Dia rusak.”
Sambil membalas dengan suara
hampa, Junna menghela napas lalu,
“...Shigure. Sini-sini.”
Dia mulai mengelus kepalaku.
“Sini, sini, Shigure. Maaf ya.
Aku ngomongnya keterlaluan ya?”
Hatiku, yang sempat mati akibat
racun perkataan Junna, hidup kembali, dan secercah cahaya kembali terpancar di
mataku.
“─Maaf. Aku sudah tidak apa-apa.”
“Mm.”
Junna menarik tangannya kembali.
Aku melepaskan napas lega.
Jadi inilah yang dimaksud oleh
Akagi saat dia bilang, "karya yang disakiti itu setara dengan jiwa sang
penulisnya sendiri," atau semacam itulah. Nyaris saja jiwaku melayang dan
tidak bisa kembali, tahu!
“Kupikir... aku sudah
menemukannya.”
Suara yang keluar terdengar
begitu lemah, bahkan di telingaku sendiri.
“Ternyata itu bukan permata,
melainkan sekadar batu biasa, ya?”
Sekali lagi, aku teringat pada
perkataan Akagi di dalam mobil waktu itu, membuatku menundukkan kepala dalam
kekecewaan mendalam.
“............Shigure,”
kata Junna setelah keheningan
sesaat.
“Apa kamu ingin menjadi seorang
novelis?”
“...Entahlah.”
Aku menggelengkan kepala
lemas dan bergumam.
“Aku cuma... ingin
menemukan apa yang kupunya... apa yang 'spesial' dari diriku. Demi bisa berdiri
di sampingmu, Junna─”
“Demi berdiri di
sampingku?”
“Iya.”
“..................”
Keheningan panjang.
Keberadaan Junna, tiba-tiba, bergeser menjauh.
“Shigure.”
Aku mendongak mendengar
suaranya dan mendapati dia sudah duduk di tepi ranjang.
Dia menepuk-nepuk ruang
kosong di sampingnya.
“Sini. Duduk.”
“─Hm. O-Oh...”
Aku berdiri dari kursi
lantai dan duduk di sebelah ranjangnya.
Seketika itu juga, Junna menutup
jarak di antara kami dan,
“Kita sedang berdiri
berdampingan,”
katanya, saat bahu kami saling
bersentuhan.
“...Enggak,” gerutuku salah
tingkah.
“Bukan begitu maksudku...”
“Itu persis seperti yang
kumaksud.”
Suara dan perkataan Junna
terdengar begitu jernih.
Jernih, dan sangat tegas.
“Kalau kamu memutuskan ingin
menjadi seorang novelis atas kemauanmu sendiri, dengan dorongan kuat dari dalam
dirimu, maka aku tidak akan melarangnya. Kurasa kamu harus mengejarnya, tanpa
merasa berkecil hati oleh kritik atau penilaian orang lain... tapi,”
Junna mencondongkan tubuhnya
lebih dekat dan menatap lurus ke dalam mataku.
“kalau alasanmu hanyalah apa yang
baru saja kamu katakan tadi, maka kamu tidak perlu mengejar hal itu. Karena
meskipun kamu tidak menjadi seorang novelis, kamu sudah menjadi sosok yang
spesial, Shigure.”
“I-Itu tidak─”
“Kalau kamu bilang tidak punya, coba
dengarkan ini.”
Sambil berkata demikian, Junna memasukkan
earpiece ke telingaku. Yang menggunakan kabel.
Sebuah lagu mulai mengalir darinya.
“...! Ini adalah─”
“Rekaman master lagu 'Sorrow & Love'
yang kami rekam kemarin.”
Kami berdua, aku dan Junna,
mendengarkannya bersama, berbagi musik itu dengan satu telinga masing-masing.
“Bagaimana?”
“...Lagu yang bagus.”
Itulah kesan yang keluar dari lubuk
hatinya.
“Luar biasa...”
─Aku benar-benar terhanyut oleh musik ini.
Aku bertanya-tanya apakah orang sepertiku pantas berdampingan dengannya,
seseorang yang mampu menciptakan karya sehebat ini.
“Bukan begitu?”
Junna menyetujui. Dan kemudian,
“Inilah 'sesuatu yang spesial' milikmu,
Shigure.”
katanya sambil tersenyum. Kepada diriku
yang terpaku,
“Sudah kubilang, kan? Bahwa itu adalah suara yang kamu berikan padaku. Aku tidak menciptakannya
sendirian. Lagu ini, karya ini, lahir karena kamu ada di sana.”
dia mengatakan sesuatu yang kini terasa begitu
nyata dan jelas.
─Ya, itu adalah hal yang sangat jelas.
“Waktu kamu menanyakan alasanku...”
Junna melirik sekilas ke arah manuskrip yang
tergeletak di atas tempat tidur lalu melanjutkan.
“Kamu sempat bilang seperti, 'kalau aku juga
menciptakan sesuatu, aku bisa lebih memahamimu, Junna... aku mungkin bisa
sedikit lebih dekat denganmu.' Tapi, kamu sebenarnya sudah lama menciptakan
sesuatu, Shigure.”
Musik terus mengalun.
Hal itulah yang telah menghubungkan kami
berdua.
“Karena kita sedang menciptakan lagu YOHILA
yang baru bersama-sama.”
Sesuatu yang kami tenun dan ciptakan berdua.
“Junna...”
Saling berdekatan, bahu bersentuhan, aku
mengerti. Apa yang selama ini kucari dan kuperjuangkan dengan putus asa
ternyata sudah ada di sana sejak awal mula.
☂
“Ada satu hal yang kamu katakan
yang membuatku sangat bahagia, Junna.”
Suasana berubah dari kamarku ke
ruang tamu. Kami duduk berdampingan di meja makan, mengobrol sambil menyantap
kue buah (fruitcake) yang kami beli di perjalanan tadi.
Junna memilih buah persik,
sementara aku memilih buah campuran. Junna, yang tadinya menggigit garpunya
sambil menyipitkan mata penuh kebahagiaan, memiringkan kepalanya dengan tanda
tanya "?" dan menatapku.
“Tepat setelah kamu mulai masuk
sekolah seperti biasa, kamu datang kepadaku untuk meminta saran, kan? Soal tidak bisa punya teman, tidak
bisa mengobrol dengan anak-anak sekelasmu.”
“Iya. Itu setelah jam
sekolah tanggal 4 Juli, kan?”
“...O-Oh.”
Aku tidak ingat tanggal
persisnya. Tapi,
“Waktu itu, kamu bilang
kepadaku─'Tanpa kamu, Shigure, aku ini tidak berguna'.”
Kata-kata dari hari itu terpatri
jelas di dalam ingatanku.
“Waktu mendengar kata-kata itu,
aku berpikir, 'Aku harus ada di sisinya,' dan aku merasa senang karena kamu
sepertinya membutuhkanku... tapi,”
Junna dengan cepat berteman akrab
dengan Yamada hingga saling memanggil nama depan, dan dia bisa bergaul dengan
baik bersama Yōjirō bahkan tanpa harus ada aku dalam percakapan mereka. Dia
meraih peringkat pertama se-angkatan saat ujian, dan menjadi bintang di
turnamen olahraga—melalui semua itu, dia mempererat hubungannya dengan teman
sekelasnya.
Dan pada sesi rekaman, dia tidak
mau mengalah sedikit pun terhadap orang dewasa profesional serta mengutarakan
pendapatnya dengan penuh percaya diri. Di ranah di mana aku bahkan tidak bisa
masuk ke dalamnya.
Hal itu begitu menyilaukan,
sekaligus terasa begitu jauh.
“Bahkan tanpa aku pun, Junna sama
sekali tidak berguna, kan? Saat memikirkan hal itu, aku mendadak merasa cemas.”
Karena alasan mengapa aku bisa
dekat dengan Junna hanyalah karena kebetulan aku melupakan sesuatu di hari
hujan sepulang sekolah, kami kebetulan memiliki selera yang sama, dan aku
kebetulan sedang mendengarkan musiknya—musik YOHILA.
Semua itu hanyalah kebetulan
belaka. Makanya,
(Apakah hal-hal sepele yang
mempertemukan kami berarti hal-hal sepele juga yang bisa memisahkan kami...?)
Pikiran kelam itu tiba-tiba
muncul kembali, dan kurasa aku sedang berusaha setengah mati mencari sesuatu
untuk menimbunnya, agar hal semacam itu tidak terjadi.
Singkatnya, aku kurang
percaya diri. Kepercayaan diri untuk meyakini bahwa aku adalah satu-satunya
bagi dirinya.
“Tapi aku memang
benar-benar begini,” kata Junna sambil mengintip ke dalam wajahku yang sedang
menunduk.
“Tanpa kamu, Shigure, aku
benar-benar sama sekali tidak berguna... Karena,”
Dia menatapku lekat-lekat
dengan tatapan jernihnya lalu,
“tanpa kamu, Shigure, aku
mungkin masih akan sendirian, bolak-balik ke ruang UKS, dan mengurung diri di
dalam duniamu sendiri. Kamulah orang yang menggandeng tanganku dan membawaku
keluar. Jadi, aku tidak akan melepaskannya,”
gumamnya, lalu
menggenggam erat tanganku.
“...Ya.”
Aku balas menggenggamnya,
tak kalah erat.
“Aku sudah mengerti
sekarang.”
Musik yang dibiarkannya
kudengarkan—musik kita—membuatku merasakan ikatan yang pasti. Kecemasan
yang kelam dan bising itu sudah lama sirna.
“Shigure.”
Junna mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu berbisik.
Dengan embusan napas manis yang masih menyisakan aroma kue.
“Hancurkan aku lebih
banyak lagi.”
─katanya.
“Jadikan aku gadis tak
berguna yang tidak bisa hidup tanpamu.”
“...! Junna─”
“Dan sebagai gantinya,”
Dia meletakkan satu
tangannya di dadaku, seolah ingin memastikan degup jantungku yang kencang, lalu
tersenyum lembut,
“Aku akan membuatmu tidak bisa hidup tanpa
aku juga.”
Suaranya, ekspresinya, begitu memikat
hingga membuatku bergidik.
“...!? ”
Secara insting aku mencoba menarik diri,
namun tautan tangan kami yang erat tidak mengizinkannya. Senyuman Junna lenyap,
dan ekspresinya berubah serius.
“─Jadi,”
Wajah Junna semakin mendekat. Aku memejamkan mata rapat-rapat.
...........................
“Ayo kita berkencan setiap hari.”
Namun sensasi yang kuantisipasi tak kunjung
datang, melainkan kata-kata itulah yang menyapa indraku.
Aku membuka mata dan menatap Junna. Junna,
yang sudah menegakkan posisinya dan kembali duduk di kursinya, sedang menyantap
kue persiknya lalu,
“Setiap hari, sampai liburan musim panas
berakhir.”
“...S-Setiap hari?”
“Iya.”
Dia mengangguk dengan ekspresi datar. Namun
pipinya merona merah, dan telinganya yang putih ikut memerah muda.
“Ini adalah hukuman karena kamu berselingkuh
dengan sebuah novel. Sebagai bentuk tebusan.”
Liburan musim panas hanya tinggal menyisakan
sekitar dua minggu lagi. Memang benar aku terlalu sibuk menulis novel hingga
waktu kebersamaanku dengan Junna berkurang, jadi aku menurutinya dengan patuh.
“Baiklah.”
“...Dan,”
Saat aku bersiap menghadapi kejutan lain yang
mungkin akan dia keluarkan, Junna menjilat krim kocok di bibirnya lalu,
“Kue milikmu, Shigure. Beri aku satu suapan...
Katakan 'aah'?”
dia mengajukan permintaan yang sederhana, dan
sungguh menggemaskan.
Aku tersenyum kecut lalu menyuapkan kue yang
bertabur buah seperti kiwi, stroberi, dan jeruk mandarin itu ke mulut Junna.
Ekspresi datar Junna meleleh bagaikan kue
spons yang lembut.
“Mm. Enak... Minta seratus suapan lagi.”
“Mana ada sebanyak itu. Gadis serakah.”
☂
Setelah meninggalkan rumah
sebelum kakakku pulang dan mengantar Junna sampai ke stasiun.
Sejak keesokan harinya, seperti
yang dijanjikan, aku menghabiskan sebagian besar sisa liburan musim panas
bersama Junna.
Bahkan saat libur Obon, di
hari-hari saat ada latihan klub lari, kami langsung bertemu di Ikebukuro
sesudahnya.
“Maaf menunggu lama, Junna. Hari ini kita mau
ke mana?”
“Pertama, makan.”
“Baiklah. Lalu setelah itu?”
“Karaoke.”
“Oh, asyik. Percaya atau tidak, kita baru
sempat pergi sekali.”
“Aku
mau main game juga.”
“Ke
pusat arcade? Aku jago mesin UFO catcher. Kalau ada yang kamu inginkan, serahkan padaku.”
“Dan, aku mau nonton film.”
“Bioskop? Lagi tayang apa sekarang ya... Tapi, permintaanmu banyak juga ya.”
“Dan, pemandian air panas (sentou).”
“─Hah? Um... apa aku bau keringat? Padahal
kurasa aku sudah membersihkannya.”
“Ada tempat di mana kita bisa melakukan
semuanya sekaligus.”
“...Tempat
apa itu?”
“Hotel
cinta (love hotel).”
“Ditolak.”
“...Hmph.”
Di
hari-hari tanpa jadwal latihan klub, kami biasanya berada di rumah salah satu
dari kami,
“Shigure. Hari ini, pokoknya─”
“PR, PR! Kalau begini terus, kita tidak akan selesai...”
“Itu kan karena kamu sibuk menulis novel.
Novel jelek yang membosankan.”
“...Tahu tidak. Bisakah kamu berhenti
mengorek luka yang belum sembuh total?”
“Kalau begitu, bantu aku belajar. Ada materi yang ingin kuajarkan padamu.”
“Kamu, murid peringkat pertama se-angkatan,
minta diajariku? Materi apa?”
“Pendidikan jasmani dan kesehatan─”
“Kita tidak punya PR untuk mata pelajaran
itu.”
“Hmph!”
dan kami berkutat dengan tumpukan PR
liburan musim panas yang menumpuk.
Selain itu, di hari-hari kami harus pergi ke
sekolah─
“Hei, Shigure.”
“Lama tak jumpa, Yōjirō. Kulitmu makin gelap
terbakar matahari ya?”
“Aku sedang menikmati musim panas, pergi ke
pantai bareng cewek-cewek, bakar-bakar daging, dan lain-lain. Aku sempat mikir
mau ngajak kamu juga, Shigure─”
“Kuzujirou-san, aku punya satu permintaan.
Bisakah kamu memutuskan persahabatanmu dengan Shigure?”
“Ya. Aku memutuskan untuk tidak melakukannya,
karena aku tahu Amamori-chan pasti akan ada di sana. Jadi kumohon, biarkan kami
terus berteman!”
“Junna... kenapa kamu sudah ada di kelas kami
pagi-pagi begini?”
“Untuk menemuimu, Shigure. Dan juga... apa
Haruka-san belum datang?”
“Haruka sepertinya absen hari ini.”
“─Absen? Yamada-san?”
“Katanya dia tidak enak badan pura-pura sakit
sih, kurasa... tahu sendiri kan pepatah bilang orang bodoh tidak bisa terkena
flu? Dia pasti belum mengerjakan PR liburan sama sekali.”
“Begitu ya... sayang sekali. Padahal aku mau
mengajaknya karaoke sepulang sekolah.”
“Wah, kedengarannya seru! Aku bakal semangat
pol buat menggantikan jatahnya Haruka!”
“Oh, maaf. Kalau Kuzujirou-san sendirian, aku
skip dulu.”
“Apa─... T-Tidak mungkin!”
“Nasibmu malang ya, Yōjirō.”
dan setelah percakapan itu, aku dan Junna
pergi ke karaoke berdua saja.
Omong-omong, saat dihubungi, Yamada
ternyata—seperti prediksi Yōjirō—memang sedang berpura-pura sakit, dan dia
sangat frustrasi karena tidak bisa ikut karaoke bersama Junna—namun seperti
tebakan Yōjirō juga, dia sedang dalam masalah besar gara-gara PR liburannya,
jadi kami memutuskan untuk pergi bersama lagi setelah liburan usai.
Dalam perjalanan pulang dari sana.
Teriknya matahari mulai mereda, dan langit
sebelah barat diwarnai gradasi warna biru keunguan hingga merah muda,
menyerupai bunga hydrangea, di senja musim panas.
“...Shigure.”
Di kota yang diselimuti temaram senja, Junna
tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Dua bayangan kami memanjang di atas aspal. Dia
menggenggam tanganku dan, sambil mendongak menatapku, berkata,
“Aku ingin melakukan sesuatu yang bernuansa
musim panas.”
☂
Ada banyak hal yang terlintas di
benakku ketika memikirkan "hal-hal bertema musim panas."
Berenang di laut, pergi ke kolam
renang, festival musim panas, barbekyu, berkemah, pukul semangka, nagashi-somen...
dan masih banyak lagi.
Di antara semuanya, jika aku
ditanya apa acara utamanya yang nomor satu, aku akan menjawab begini.
“Festival kembang api.”
─Maka dari itu, di penghujung bulan Agustus
saat liburan musim panas hampir berakhir, aku membuat janji dengan Junna untuk
pergi menonton festival kembang api.
Festival kembang api Edogawa.
Biasanya acara ini diadakan pada awal bulan
Agustus, namun tahun ini jadwalnya berbeda dan tampaknya diselenggarakan pada
hari Sabtu keempat di bulan Agustus—akhir pekan ini.
Rasanya seolah dunia sedang berpihak kepada
kami—apakah pemikiran itu terlalu optimis?
(...Sudah berapa tahun ya aku tidak pergi ke
festival kembang api?)
Aku terbuai dalam kereta, mengenakan yukata
yang terasa asing di tubuh, mengenang festival kembang api yang dikunjungi
keluargamu saat aku masih SD. Sebenarnya kami bisa saja memakai pakaian biasa,
namun karena ini adalah acara spesial... kami berdua meluangkan satu hari
khusus persiapan dan memutuskan untuk mengenakan yukata.
Meskipun begitu, aku adalah tipe orang yang
tidak punya preferensi khusus dalam urusan pakaian.
Karena jadwalku tidak cocok dengan sang penata
gaya, Yōjirō, aku akhirnya memilih yukata murah yang kutemukan secara online.
Yukatanya berdesain simpel dengan warna tinta terang, dan obi abu-abu peraknya
menggunakan tipe perekat velcro. Itu adalah paket hemat yang sudah termasuk
sandal geta, kantong kain kinchaku, dan kipas.
...Rasanya terlalu menyedihkan jika dibiarkan
begitu saja, jadi aku menukar kipas bawaannya dengan kipas kertas celup indigo
elegan dari toko khusus kipas, yang juga kuambil secara online.
Kupikir aku toh bisa menggunakan kipas itu di
hari-hari panas nantinya, jadi tidak masalah mengeluarkan sedikit uang lebih.
Di dalam kereta ber-AC, aku mengeluarkan kipas
mahalku agar dilihat orang-orang dan mengipasi diriku sendiri.
Karena udaranya dingin, aku buru-buru
melipatnya kembali.
(Terakhir kali aku pergi, aku cuma ingat rasa
lelah karena lautan manusianya...)
Festival kembang api di area metropolitan
Tokyo selalu dipadati pengunjung. Aku pernah dengar suasananya sepadat gerbong
kereta jam sibuk, bahkan sekadar membeli makanan di stan jajanan saja sudah
merepotkan.
Kupikir suasananya mungkin akan sedikit lebih
longgar jika kami datang lebih awal, namun semakin dekat kami dengan stasiun
tujuan, jumlah orang yang mengenakan yukata mulai meningkat─
Pukul 4 sore. Stasiun Ichikawa tempat kami
turun sudah sangat ramai. Kerumunan warna-warni yukata tampak bagaikan sebuah
taman bunga.
Saat mengecek LINE, ada pesan masuk dari
Junna.
JUN: Aku sudah sampai, tapi keramaiannya gila
banget.
JUN: Menyebarlah! Orang-orang penikmat
musim panas.
Shigure: Aku juga baru sampai, tapi kamu
beneran dengerin lagu Yabai T-Shirts Yasan pakai yukata?
Aku mengirimkan balasan, lalu bersiap
mencari keberadaan Junna─namun langkahku terhenti. Aku tidak perlu repot
mencarinya, karena mataku langsung tertuju padanya.
Di area pintu masuk tiket stasiun, tempat
banyak orang saling janjian bertemu. Di salah satu sudutnya, seakan ada
setangkai bunga hydrangea di luar musimnya yang tengah mekar.
“............”
Motif hydrangea di atas kain berwarna
ecru. Obinya berwarna ungu pucat, dan tali hias obi (obi-himo) dengan gantungan
berbentuk bunga tampak sangat mencolok. Sandal getanya terbuat dari kayu putih,
dengan tali penjepit (o-hobi) berwarna bunga wisteria. Kuku kakinya dipoles
kuteks (pedicure) berwarna biru keunguan.
Rambutnya ditata ke atas (updo), dan
highlight bagian dalam rambutnya yang berwarna ungu hydrangea tampak menonjol.
Dia tidak mengenakan headphone.
“Junna.”
“─Mm.”
Junna, yang tadinya menunduk, mengangkat
kepalanya dan menatapku. Seketika itu juga, matanya yang biasa mengantuk
membelalak lebar dan,
“Shigure, kamu pakai yukata...”
“Yah, kita kan sudah berjanji. Kan gawat kalau
aku malah datang pakai kaos oblong atau tank top setelah kita janji mau pakai
yukata?”
Di hadapannya yang mengerjap-ngerjap bingung,
aku menjentikkan pergelangan tangan dan membuka kipas dengan anggun, lalu
mengipasi diri sendiri.
“M-Ma─” Suara Junna tertahan di tenggorokan.
“Manis banget! Kamu, yang sengaja memamerkan
satu-satunya kipas mahal yang kamu punya dan jurus yang pasti sering kamu latih
di rumah itu, gemesin banget!”
“Ini bukan lagi malu-maluin, tapi sudah level
memalukan yang membunuh! Apa kamu mau membunuhku karena rasa malu?”
“Canda kok. Kamu kelihatan keren, Shigure.
Paling keren sedunia.”
“I-Iya sih, tapi pujian itu cukup mematikan
dengan cara yang berbeda... Aku bisa mati karena malu.”
Aku menyembunyikan senyum lebarku di balik
kipas dan mengamati yukata Junna sekali lagi. Dari kepala sampai ujung kaki,
dengan saksama. Tanpa suara. Perlahan-lahan, Junna menjadi gelisah dan mulai
tidak bisa diam.
“Sh-Shigure.
Ngomong sesuatu dong.”
“............”
“Hei.
Jangan cuma menatapku kayak gitu seolah mau menjilatku, berikan pendapatmu.”
“............”
“Ugh. Hei, kubilang jawab!”
“Manis.”
Ucapku, tepat saat ekspresi datar Junna
hampir runtuh dan kesabarannya mencapai batas.
“Paling manis se-alam semesta.”
“...Apa kamu mau membunuhku karena
kebahagiaan?”
Kepada Junna yang memelototiku dengan wajah
semerah tomat, aku tertawa dan berkata,
“Pembalasan.”
Lalu, aku melihat benda yang sedang
dipegang oleh Junna.
“Hei, kamu bawa payung?”
“Iya. Katanya malam nanti mungkin bakal
turun hujan... jadi untuk berjaga-jaga? Aku beli yang warnanya cocok sama
yukataku. Bisa dipakai buat payung biasa sekaligus payung teduh (parasol).”
Sambil berbicara, Junna membuka sebuah
payung bergaya Jepang (wagasa) berwarna biru keunguan.
Itu bukan payung kertas asli, melainkan
payung vinil bermotif payung Jepang, dan sangat serasi dengan yukata yang
dikenakannya.
Ramalan
cuaca menyebutkan cerah berawan.
Langit
saat ini sedang mendung, jadi sebenarnya tidak butuh payung. Namun,
“Biar
aku yang pegang.”
Aku
melipat kipasku dan menyelipkannya ke dalam obi, lalu mengambil alih payung
dari tangan Junna. Aku sempat sadar akan tatapan orang-orang di sekitar kami,
namun keinginanku untuk membuat Junna senang jauh lebih besar dari itu.
“...Mm.
Makasih, Shigure.”
Kami
mulai berjalan, berhimpit erat di bawah satu payung. Senandung Junna terbawa
angin, berpadu dengan keriuhan penuh antusias dari orang-orang serta suara
ketukan sandal geta yang berdenting ringan.
☂
Untuk beberapa saat, kami terbawa
arus lautan manusia yang bergerak lambat.
Meskipun waktu menuju kembang api
masih hampir tiga jam lagi, tepi sungai tempat kami tiba sudah dipadati oleh
jumlah orang yang luar biasa banyaknya. Spanduk warna-warni stan makanan
berderet di sepanjang embankmen, dan antrean panjang mengular di depan mereka.
“Aku sudah menduganya, tapi ini
gila banget...”
“...Kalau kita sampai terpisah,
aku bisa mati.”
Junna, yang mencengkeram lenganku
bagaikan pelampung penyelamat, bergidik ngeri.
Omong-omong, seberang sungai
adalah wilayah Edogawa di Tokyo, dan sisi ini adalah kota Ichikawa di Chiba,
dengan total pengunjung dari kedua sisi mencapai 1,4 juta orang. Bahkan
festival musik rock terbesar di Jepang saja jumlah pengunjung harian paling banyak
sekitar 50.000 orang, jadi skala acara ini benar-benar luar biasa besar.
“Stan makanannya, kamu mau makan
apa, Junna?”
Ada terlalu banyak orang untuk
sekadar mencicipi semua yang terlihat menarik, jadi kami memutuskan untuk
mempersempit pilihannya. "Hmm," gumam Junna, sementara aku membuka
aplikasi catatan di ponselku.
“Manisan apel (candy apple). Lagian aku suka Ringo-san.”
“Kamu sempat bilang itu pas
pertama kali kita ketemu... Mari kita nikmati 'festival singkat yang panjang'
ini. Ada lagi?”
“Pisang cokelat atau sosis frankfurter.
Atau lebih tepatnya, aku ingin kamu menyuapiku.”
“Jangan lakukan itu.”
“...Jahat banget.”
“Es serut (kakigori),
mungkin? Mau rasa apa?”
“Aku tidak suka melon atau
lemon.”
“Jangan ngomong gitu seolah itu nama unit band. Kurasa aku mau pesan rasa Blue Hawaii.”
“Boleh juga. Terdengar
seperti masa muda. Kalau
begitu, aku pesan rasa 'Mukade Ungu (Purple Mukade)'.”
“Itu kan judul lagu dari
Syrup16g... Ada lagi? Ada
yang mau kamu makan? Sesuatu yang mengenyangkan seperti makanan berat.”
“Makaroni keju dengan makaroni
berbentuk pensil, atau roti melon (melon pan) yang enaknya sampai bikin
gila.”
“Aku yakin seratus persen, tidak,
mutlak yakin tidak ada stan makanan yang punya nama menu seperti itu.”
─Begitulah kami mengobrol.
Setelah membeli semua barang yang
kami inginkan, kami menuju ke titik tempat kami akan menonton kembang api.
Itu adalah kursi
berpasangan yang dipesan dan berbayar.
Aku sempat terkejut kami
bisa mendapatkannya, mengingat kami baru memutuskan pergi di menit-menit
akhir... namun tampaknya Akagi yang telah memberikannya kepada kami.
“Katanya dia tadinya mau
pergi bareng Kotegawa-san, tapi jadwal mereka tidak cocok. Dia memberikannya
kepadaku saat mengajakku membeli yukata.”
Kata Junna, saat kami
duduk di atas lembaran plastik biru di kemiringan tanggul sungai.
Posisinya berada di
bagian paling pinggir, dan pemandangannya sangat bagus. Tempat ini lumayan
strategis, kan?
“...Kamu disayang banget
ya, sama mereka?”
“Hm?”
“Ah, bukan apa-apa.”
Alasan jadwal yang tidak cocok
itu sepertinya hanya kebohongan belaka. Aku mengucapkan terima kasih kepada
mereka berdua di dalam hati lalu duduk di samping Junna. Payungnya dilipat.
Masih ada sedikit waktu sebelum
kembang apinya mulai.
“Shigure. Ucapkan 'aah', oke? Itu
lho, katakan 'aah'...”
Aku terus didesak, dan
akhirnya aku─
“Baiklah, baiklah.”
Aku dengan lembut
menyuapkan sosis frankfurter yang berlumur saus tomat dan mustard ke
dalam mulut Junna yang terbuka lebar, persis seperti cara induk burung memberi
makan anaknya.
☂
“...Kira-kira bakal hujan
tidak ya?”
“Entahlah. Sekalipun hujan
gerimis, sepertinya tidak akan dibatalkan.”
Setelah menghabiskan jajanan stan
kami, kami bersantai menunggu kembang api dimulai di bawah satu payung yang
sama. Matahari telah terbenam di balik awan, dan senja mulai merayap turun
menutupi tepi sungai.
Kami tidak banyak bicara. Kami
hanya berhimpit berdampingan, menatap lampu-lampu kota di seberang sungai yang
menyerupai kuningan berpendar, diselimuti aroma rerumputan, tanah, dan air—bau
khas alam.
Junna memiringkan botol ramune
miliknya, membuat kelereng yang terperangkap di dalam bergemerincing
menciptakan suara musim panas.
Mungkin karena kami berada di
bawah payung—terlingkupi oleh bayangan kecil yang bulat, aku merasa seolah-olah
hanya ada kami berdua di dunia ini, terisolasi dari segala hal di luar sana.
Bahkan keriuhan meriah festival
itu pun terasa begitu jauh.
“─Oh. Sepertinya sudah mau mulai.”
“Mm...”
Junna menggenggam tanganku dan meremasnya. Aku, sambil memegang payung
dengan satu tangan, balas meremasnya. Mungkin karena sebelumnya dia memegang
botol ramune, tangannya terasa sejuk dan sedikit lembap.
Pengumuman hitung mundur berkumandang.
Junna dan aku turut serta, suara kami berpadu selaras dengan kerumunan orang
di arena layaknya paduan suara.
““Lima.””
Genggaman tangan kami semakin
mengerat.
““Empat.””
Aku balas meremasnya.
““Tiga.””
Saat aku menoleh ke arah Junna,
““Dua.””
mata kami saling bertatap karena
dia sedang menatapku.
““Satu.””
Kami berdua tersenyum bersamaan.
Seketika itu juga, kilatan cahaya merah
mendadak menerangi profil wajah kami.
Deretan suara ledakan bergemuruh, dan warna
merah itu berubah menjadi hamparan warna-warni cerah yang semarak.
Saat aku menoleh ke belakang, kembang api yang
mekar indah perlahan memudar fana.
“Wah. Ketinggalan...”
“Aku juga...”
Kami saling pandang dan kembali tersenyum
kecut.
“Kamu dari tadi terus menatapku sih, Shigure,
makanya aku jadi teralihkan.”
“Itu dialogku. Kamu duluan kan yang
menatapku dari tadi.”
“...Tuduhan palsu.”
“Enggak kok, bukan tuduhan palsu.”
“Tuduhan palsu!”
“Enggak kok.”
Pas kami sedang berdebat kecil, kembang api
berikutnya meletus, jadi kami mengatupkan mulut dan mendongak lagi.
Kembang api melesat naik bukan hanya dari
langit, melainkan juga dari daratan, dari tepi sungai, dan cahaya menyilaukan
beserta asap mewarnai malam musim panas. Itu adalah sebuah mahakarya.
“W-Wah...”
“Iya.”
“ Cahayanya luar biasa, tapi suaranya juga
dahsyat banget. Benar-benar bergemuruh di dada.”
“Iya. Rasanya mirip suara bass drum.”
Kemudian, musik mulai diputarkan, dan
kembang api meluncur naik seirama dengan alunan lagunya.
Merah, kuning, biru, hijau... langit malam
diwarnai berbagai macam rona, dan tak terhitung banyaknya bunga api yang mekar
lalu berhamburan.
Lalu, hujan percikan api berjatuhan.
Hujan musim panas yang gemilang.
Pemandangan itu begitu menakjubkan hingga
merenggut napas.
Namun meskipun begitu─
“...Wah.”
Tanpa kusadari, pandanganku bukan lagi tertuju
pada kembang api yang mekar di langit kejauhan, melainkan pada profil gadis di
sebelahku, yang wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini merekah dalam
senyuman.
─Dia jauh lebih indah daripada kembang api
itu, pikirku, secara sederhana dan jujur.
Pikiran itu terdengar biasa saja, sangat pas
untuk cowok biasa sepertiku. Namun jika dia, sosok paling spesial di dunia ini,
menganggap cowok biasa sepertiku sebagai orang yang spesial.
Maka itu sudah lebih dari cukup.
Aku merasa bisa meyakini hal tersebut.
“...?”
Mungkin menyadari tatapanku, Junna menoleh ke
arahku di tengah jeda kembang api yang mereda. Aku buru-buru mengalihkan
pandangan ke atas langit, namun tidak ada apa pun di sana selain kanvas hitam
legam.
Junna terkekeh kecil.
“Kamu imut banget, Shigure.”
“Jangan panggil aku imut.”
Menanggapi diriku yang merengut pasrah, Junna
membalas bersenandung kecil. Curang rasanya kalau dia berbuat begitu, karena
aku jadi khawatir memikirkan rekamannya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menghela napas dan mendengarkan melodi
yang sedang ditenun oleh hatinya—melodi miliknya—bukan, melodi kita—sambil
mengawasi kembang api yang kembali meluncur naik ke angkasa.
Dengan suara mendesing, kembang api melesat ke
langit, dan di setiap ledakannya, kenangan tentang aku dan Junna mekar merekah
bagai bunga.
Banyak di antaranya yang melibatkan air hujan.
Hal yang telah mempertemukan kami dan merawat
hubungan ini.
Makanya, mungkin saja─
“─Ah.”
Di paruh kedua, saat kembang api mencapai
puncaknya. Aku tidak begitu terkejut ketika tiba-tiba hujan deras mulai turun.
Titik-titik air menimpa permukaan sungai yang
memantulkan cahaya kembang api, dan orang-orang di sekitar mulai berteriak
ricuh, namun kami, yang tetap memegang payung kami dengan tenang, berdiri
merapat dalam kebisuan.
Junna, yang mengenakan yukata bermotif
hydrangea, mendongak menatap langit malam yang berasap lalu menggerutu.
“Jangan-jangan aku ini wanita pembawa hujan
(rain woman) ya?”
“Entahlah. Bisa jadi aku pria pembawa hujan
(rain man),”
jawabku sambil memegang payung berwarna
ungu hydrangea tersebut.
Kami tertawa bersama, dan terselimuti oleh
suara serta aroma favorit kami, menikmati festival kembang api di tengah
guyuran hujan.
☂
Dalam perjalanan pulang, kami
memutuskan untuk berjalan kaki sedikit lebih jauh. Untuk menghindari
kerumunan—itulah alasan klisenya, namun alasan sebenarnya adalah aku ingin
berada di sisi Junna sedetik, dua detik lebih lama lagi.
Kami berjalan ke arah timur
menyusuri Jalur Sobu, berdampingan di atas aspal yang basah akibat hujan badai
tadi. Senandungnya terbawa angin malam yang beraroma sisa hujan.
Ketukan sepasang sandal geta kami
berdua berderap seirama menghasilkan ritme yang riang.
Pada akhirnya,
senandungnya berhenti, dan,
“...Tadi seru banget. Festival kembang apinya.”
kata Junna.
“Iya,” aku mengangguk.
“Itu adalah acara yang paling
'musim panas' banget.”
“Aku mau datang lagi
tahun depan.”
“Kamu terlalu buru-buru
menyimpulkan masa depan...”
“Dan tahun berikutnya lagi.”
“Sudah kubilang, kamu terlalu─”
“Lima tahun lagi, sepuluh tahun
lagi juga.”
“Kamu terlalu jauh berpikirnya!”
“Seratus tahun lagi juga.”
Tunggu dulu, meragukan sekali
apakah kami berdua masih hidup atau tidak di masa itu nanti─aku nyaris
melontarkan bantahan, namun melihat ekspresi serius di wajah Junna, aku menelan
kembali kata-kataku. Sebagai gantinya,
“...Ya.”
Aku mengangguk dan meremas
tangannya. Payungnya sudah lama dilipat, namun tangan kami masih saling
bertaut. Aku tidak ingin melepaskannya, pikirku.
Lalu, Junna langsung balas
meremas tanganku. Dia
mendongak menatap langit malam bertabur bintang lalu,
“Kita baru kenal belum
ada tiga bulan.”
“Tiga bulan... sebentar
ya. Tapi─”
“Rasanya sudah lama
banget.”
“─Iya. Rasanya panjang,
dan begitu intens.”
Jika waktu yang mengalir
dalam hidupku selama ini diibaratkan air, maka waktu semenjak aku mengenal
Junna adalah madu. Hari-hari yang manis dan pekat. Aku tidak bisa menahan diri
untuk berharap agar waktu semacam ini terus mengalir, sampai akhir hayatku nanti.
Aku bertanya-tanya apakah Junna
merasakan hal yang sama.
Bukan hanya sekarang,
tapi juga tahun depan.
Dan tahun-tahun setelahnya, serta
seterusnya.
Selamanya.
Tanpa berubah sedikit pun─
─Namun itu hanyalah
angan-angan kosong belaka.
Aku tahu.
Sebagaimana tidak ada
hujan yang tidak reda, tidak ada malam yang tidak berakhir, tidak ada musim
yang abadi—pastinya, tidak ada hal di dunia ini yang tidak berubah. Sisi sinisku memandang hal itu demikian.
Faktanya, perasaanku padanya pun
telah berubah, dari saat pertama kali bertemu hingga sekarang, bahkan dari hari
kemarin ke hari ini.
Perasaan itu terus membuncah,
semakin besar dan semakin kuat.
Begitu kuatnya hingga
rasanya seperti hendak meledak.
“Junna.”
Di bawah lampu jalan, aku
menghentikan langkahku.
Junna turut berhenti dan
menatapku.
“....................................”
Dalam keheningan, lekat-lekat.
Waktu seakan berhenti selama
keabadian.
Aku menarik napas dalam-dalam
menghirup udara malam yang masih menyisakan sisa-sisa keindahan kembang api─
“─Shigure.”
Suaranya yang tegas memotong
kata-kata yang hendak kuucapkan.
“Sebentar lagi saja.”
Dia menunduk, bulu matanya yang
panjang menciptakan bayangan di pipi, lalu,
“Sebentar lagi saja...”
gumamnya, sebelum akhirnya,
“...Begini saja sudah cukup.”
dia mengatakannya kepadaku.
Dia mendongak menatapku yang
berdiri terpaku dengan mulut ternganga,
“Begitu kita berubah, kita tidak bisa kembali
lagi... makanya,”
Kata-kata Junna, saat terucap, terdengar
negatif dan enggan maju.
Namun sebenarnya tidak.
Di dalam mata Junna, saat dia mendongak
menatapku, cahaya warna-warni yang menyilaukan—bagaikan kembang api di langit
malam—sedang mekar dengan sempurna.
“Aku masih ingin menikmati semua ini.”
“Junna...”
Aku mengerjap, meresapi tatapannya yang begitu
bersungguh-sungguh.
Aku menikmati setiap kata yang diucapkannya.
Emosi yang tak terlukiskan membuncah di dalam
dadaku.
Rasanya, jika harus diibaratkan dengan
sesuatu, seperti aroma yang tercium saat bermain kembang api batang, suara
jangkrik senja di kala petang, atau usapan angin malam yang sejuk di kulit
lengan—sebuah perasaan manis dan sentimental yang menggelitik relung hati
paling dalam di penghujung musim panas.
Memikirkan apa yang tersimpan di dalam hati
Junna, aku tersenyum.
“Begitu ya.”
“...Iya.”
“Kalau begitu, kita harus menikmatinya
sepuasnya!”
“I-Iya!”
Maka, kami mulai melangkah berjalan lagi.
Sambil mendiskusikan rencana kami untuk
esok hari dan seterusnya. Sekalipun festival kembang api telah usai, musim
panas belumlah berakhir, dan liburan musim panas masih menyisakan waktu.
Sungguh sebuah pemborosan jika tidak
menikmatinya sepenuhnya.
“─Ngomong-ngomong, apa kamu tidak masalah
dengan pekerjaanmu? Bukankah ini masa-masa sibuk bagimu...”
“Tidak apa-apa. Aku sudah merampungkan
sebagian besar tugas yang harus kulakukan. Sisanya serahkan saja pada
Kotegawa-san dan orang-orang dewasa lainnya.”
Kata Junna dengan santai, menanggapi diriku
yang merasa khawatir.
“Akhir-akhir ini, lagu-lagu terus mengalir
melimpah di kepalaku sampai aku bingung harus diapakan. Bukan cuma sebuah EP,
aku bahkan mungkin bisa membuat album penuh... sebulan sekali.”
“Belasan lagu dalam sebulan? Itu ritme kerja
yang luar biasa.”
“Semua ini berkat kamu, Shigure.”
Junna menyandarkan tubuhnya padaku.
Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang
belum resmi berpacaran—namun inilah jarak kita berdua.
“Pernahkah
kamu mendengar istilah 'comping', Shigure?”
“...Comping?”
“Itu
istilah dalam musik. Artinya mengambil bagian-bagian terbaik dari beberapa take
lalu menggabungkannya. Setelah itu, menjadikannya satu lagu utuh. Itu adalah
pekerjaan seorang engineer.”
“Oh...”
Aku
tidak tahu istilah itu, tapi itulah yang pernah diceritakan oleh Akagi kepadaku
saat sesi rekaman dulu. Sebuah kristal dari berbagai momen, yang terbentuk dari
kumpulan tak terhitung momen-momen berharga.
“Cara pembuatan laguku juga sama. Aku
mengambil bagian-bagian terbaik dari sekian banyak nada yang tercipta setiap
hari, menggabungkannya, lalu merancangnya. Menjadi sebuah lagu.”
─Begitulah katanya.
Junna menatapku dengan matanya yang berbinar,
dan,
“Mulai sekarang, mari kita sering-sering
bersama ya?”
senyuman lebar merekah di wajahnya.
“Bagaimana kalau kita menumpuk banyak hari dan
kenangan, seperti saat menyusun banyak take rekaman... lalu menenun nada-nada
yang melimpah itu. Mari kita buat banyak lagu, sebuah album berisi lagu untuk
kita berdua.”
“............Ya.”
Mendengar kata-kata itu, melihat ekspresi
tersebut, aku berpikir.
Tidak ada hal di dunia ini yang abadi dan
tidak berubah.
Meskipun begitu─
sekalipun hubungan kami kelak mengalami
perubahan di masa depan, dan perasaan kami satu sama lain bergeser,
“─Ini adalah janji.”
kebahagiaan yang begitu nyata di momen ini
akan tetap abadi seumur hidupku, dan musik yang terlahir darinya akan terus ada
tanpa pernah berubah, untuk selama-lamanya.


Post a Comment