Chapter 4
Tenggelam dalam Musim Panas yang Berkilau
Berdiri di dekat pintu,
aku mendengarkan musik melalui earphone sambil menatap langit biru yang cerah
dan awan cumulonimbus yang melayang di balik jendela kereta. "Ao to
Natsu" oleh Mrs. GREEN APPLE—bahkan seseorang yang sinis sepertiku
terkadang memilih lagu tentang masa muda yang jujur seperti ini.
Bukannya—dua hari lalu,
ketika aku mengajak Junna untuk jalan-jalan sepulang sekolah, dia menolakku
mentah-mentah dengan berkata, "Aku mau pergi dengan beberapa anak
sekelasku hari ini," dan aku sempat merasa down sampai akhirnya mendapat
pesan gembira darinya─lalu sekarang, jantungku berdebar kencang karena antusias
menyambut rencana kami hari ini, atau aku terbawa suasana dan semacamnya.
Sebuah lonceng angin
berdering di dalam kepalaku, dan ponselku bergetar di dalam saku.
JUN: Maaf, sepertinya aku
bakal telat! Shigure: Jarang-jarang nih. Mengerti.
Tepat saat aku membalas pesan
itu, kereta tiba di stasiun tujuan kami, dan pintu pun terbuka. Hawa panas
menyelimuti tubuhku, dan bau beton panas memenuhi hidungku.
Bau musim panas di Tokyo.
“...Panas.” ─Jalur Tokyu Toyoko, Stasiun Naka-Meguro. Ini mungkin pertama
kalinya aku turun di sini.
Ini adalah kota yang konon
menjadi tempat tinggal banyak selebriti, dan sebuah gedung pencakar langit
setinggi 45 lantai menjulang di atas stasiun, seolah memandang rendah rakyat
jelata. Aku bertanya-tanya apakah dia tinggal di sana... saat aku menuruni tangga
dan mulai berjalan.
Saat aku keluar dari gerbang
tiket, aku berada di tempat teduh di bawah jalur layang, yang entah kenapa
mengingatkanku pada Junna, dan aku tidak bisa menahan tawa kecil. Tempat pertemuan kami berada di
depan sebuah toko buku bergaya modern dengan dinding kaca.
Aku melepas earphone-ku
dan hendak mengirim pesan bertuliskan "Aku sudah di sini" ketika,
“M-Maaf aku telat!” seseorang memanggilku. Aku mendongak dari ponselku dan,
“Oh. Aku juga baru sampai─” Ucapanku terhenti.
“...Shigure?” Sebuah blus
putih tipis dengan lengan menggembung dan rok flare berwarna ungu lilac. Di
kakinya terselip sandal yang terlihat sejuk, dan kuku jarinya dicat dengan
warna biru keunguan.
Gadis cantik, yang tampak
seperti nona muda terpandang, berdiri di hadapanku dan bertanya dengan tatapan
dari bawah.
“Apa kamu... marah karena aku
telat?”
“T-Tidak,” jawabku pada gadis
cantik itu─Junna, sambil menggaruk pipiku.
“Aku tidak marah. Masih lima
menit lebih awal. Aku cuma terkejut karena pakaianmu... berbeda dari yang
kuduga.”
“..................Apa itu aneh?”
“Mana mungkin. Cocok banget kok buat kamu.”
Dibandingkan dengan terakhir
kali, saat dia berpenampilan seperti anak laki-laki, kali ini dia jauh lebih
feminin. Hampir tidak ada nuansa punk juga.
Tapi itu sangat cocok untuknya.
“Kamu mengecat kukumu.”
“Iya. Khusus buat liburan musim
panas. Warnanya sama kayak warna bagian dalam rambutku, hydrangea di luar
musim.”
“Bagus. Rasanya sangat 'Junna'.”
“Mm...” Junna tersenyum dan salah
tingkah. Lalu dia memandangiku dari atas ke bawah dengan seksama dan, “...Kamu
juga, Shigure. Cocok banget, banget, banget, banget sama kamu,” katanya.
Aku mengenakan kaos berwarna biru
muda dengan celana jogger denim biru nila. Di kakiku terselip sepatu kets putih
kesayanganku, dan sebuah tas selempang hitam tersampir di pundakku.
“Kamu suka Aerosmith,
kan?”
“Stan Smith.
Jarang-jarang kamu nyebut referensi musik barat... Musik jenis apa yang kamu
dengar?”
“Nirvana, Radiohead, Nine Inch Nails. Aku suka Kurt Cobain, Thom Yorke, dan
Trent Reznor.”
“Begitu ya. Jadi, versi
musik barat dari rock depresi.”
“Mm... kalau dipikir-pikir,
mungkin ya? Aku tidak sengaja memikirkannya.”
Di bawah jalur layang yang teduh.
Di kota yang asing, melakukan obrolan yang sama seperti biasanya. Rasanya
sangat menenangkan dan menghadirkan rasa nyaman. Bahkan angin hangat yang
diwarnai bau gas buang kendaraan pun terasa begitu.
“Tetap saja, Naka-Meguro. Kamu
tinggal di tempat yang bagus... Sewanya pasti mahal, kan?”
“Iya. Tapi agensiku menanggung
sebagian biayanya, dan aksesnya bagus. Sensei juga tinggal dekat sini.”
“Oh, ya?” Pantas saja
untuk mantan vokalis band super populer. Tidak aneh jika Akagi tinggal di
gedung pencakar langit itu, tapi dia kan sekarang hanya perawat sekolah, jadi
sepertinya tidak.
“...Iya. Pokoknya, ayo jalan.
Panas.” Junna mulai berjalan dan membuka payung.
─Hari ini cerah, tapi dia pakai
payung?
“Ini payung pelindung matahari
(parasol).”
Parasol yang dibuka Junna
memiliki warna biru keunguan yang sama dengan payungnya saat hari hujan, tapi
warnanya sedikit lebih muda dan memiliki hiasan renda di bagian tepinya. Itu
cocok dengan pakaiannya, dan saat dia memegangnya, dia terlihat persis seperti
sebuah boneka.
Penampilannya begitu memukau
sampai-sampai orang-orang di kota itu, yang mungkin sudah biasa melihat
selebriti, tidak bisa menahan diri untuk menoleh dan melihatnya.
“Mau ikut berteduh di bawah payung?”
“...Enggak, enggak.”
“Ayo sini.”
“Berbagi parasol itu agak...”
“Masuk sini.”
“Itu tadi sebuah perintah!?”
Sambil saling melempar candaan
seperti duo pelawak, kami berjalan menuju tujuan kami.
Hari ini, tidak lama setelah
liburan musim panas dimulai, adalah "kencan di rumah" yang telah
diminta oleh Junna.
☂
JUN: Aku mau kamu datang dan
memasak untukku!!
Itulah permintaan Junna. Karena
itu adalah janji untuk mengabulkan satu permintaan, apa pun itu, "ya"
adalah satu-satunya jawaban yang diperbolehkan.
Namun, bagiku yang sudah
bersiap-siap mental, membayangkan "sesuatu yang jauh lebih luar
biasa," perasaan jujurku adalah, "Apakah cuma itu...?"
Kendati demikian, ini adalah
kunjungan ke rumahnya. Ke
rumah seorang gadis yang tinggal sendiri. Berkat itu, aku hampir tidak bisa
tidur semalam suntuk.
Aku menahan menguap saat
Junna dan aku melewati pintu otomatis. Udara sejuk membawa aroma yang akrab.
Aroma yang kucintai sama besarnya dengan bau toko buku: bau supermarket.
“...Shigure. Kamu sudah
menentukan mau beli apa?”
“Sudah,” jawabku kepada Junna
yang sedang memegang keranjang dan bertanya padaku.
Aku membuka aplikasi memo di
ponselku dan, “Coba tebak apa yang bakal aku masak dengan melihat bahan-bahan
yang aku ambil.”
Aku mulai mencari
barang-barang yang tertulis di sana. Yang pertama adalah kol. “Babi jahe
(shogayaki).”
“...Bisa nggak, sih,
nggak langsung ditebak dalam sedetik?”
Aku menghela napas dan
mengambil sedikit jahe. Jahe segar musiman.
“Yah,” gumam Junna, “kol
artinya diiris tipis, dan kol iris artinya babi jahe... Aku pikir kamu suka
hal-hal yang tidak biasa, Shigure, tapi masakanmu klasik banget.”
“...Kamu tidak suka?”
“Enggak. Aku suka.”
“Kan? Aku suka mengambil menu
klasik lalu memberikan sedikit sentuhan unik.”
Aku mulai memasukkan bahan-bahan
ke dalam keranjang. Toge, jahe myoga, daun shiso, tunas lobak, bawang
bombay─
“Kamu pakai daging perut babi (pork belly)?”
“Daging bagian pinggang atau potongan biasa juga boleh sih, tapi kali ini
pakai yang ini.”
Aku memasukkan irisan tipis perut babi ke dalam keranjang yang dipegang
Junna dan kami meninggalkan bagian produk segar.
“Kamu punya semua bumbu
dasar, kan?”
“Iya. Kadang-kadang ada
orang yang datang dan memasak untukku...”
“Akagi-sensei? Perhatian juga ya
dia.”
“Jangan sebut nama wanita lain
saat kita sedang berkencan.”
“Itu curang banget di
situasi seperti ini!”
“Nyonya rumah³... istri?
Belanja bareng begini, kita kelihatan kayak pasutri. Rasanya kayak kita lagi
tinggal bareng.”
“Kurang lebih begitu.”
“Jawabannya setengah-hati
banget. Ditambah sepuluh ribu Poin Depresi.”
“Angkanya semakin tidak
masuk akal. Lagian sudah lama
topik itu nggak dibahas.”
Aku memalingkan wajahku,
pura-pura mencari sesuatu. Aku harap dia tidak mengatakan hal-hal seperti
"kayak pasutri" atau "kayak kita lagi tinggal bareng" tanpa
rasa malu begitu.
“...Hmph.” Junna mendengus,
sengaja mengeraskan suaranya, lalu melangkah pergi.
Aku menyambar sekaleng jagung dan
bergegas mengejarnya.
“Hei, tunggu! Jangan ambil
keranjangnya!”
“─Ini.”
Di tempat dia berhenti,
Junna mengambil sebuah sikat gigi berwarna biru.
“Buat kamu, Shigure.”
“Kita ini beneran tinggal
bareng!?”
“Kamu pasti mau sikat gigi
setelah kita makan, kan?”
“...Yah, benar juga sih.”
“Dan, satu hal lagi yang kita
butuhkan kalau tinggal bareng adalah─”
“Jangan terlalu cepat
mengambil kesimpulan. Kita kan nggak pindah bareng sekarang ini.”
“─Sekarang? Hmmm.”
“A-Ada apa...”
“Dikurangi dua puluh ribu Poin
Depresi.”
“Sudah kubilang, perubahan
emosimu itu terlalu berlebihan.” Sambil mengobrol seperti itu, kami berhasil
mengumpulkan semua barang yang kami butuhkan.
Namun, Junna sudah berjalan
keliling toko sejak tadi, melihat-lihat sekeliling dengan gelisah.
“Apa yang kamu cari?” Tanyaku,
lalu dia berbalik. Dia memberitahuku dengan ekspresi datar tanpa emosi.
“Kondom.”
“...!? Kamu─” Tepat pada saat
itu, pasangan muda, kemungkinan besar mahasiswa, berjalan melewati belakang
Junna.
Saat mereka lewat, si pria
menatap Junna dengan ekspresi terkejut, dan si wanita terkikik, seolah ingin
berkata, "Ooh~."
Wajah Junna, sampai ke
telinganya, berubah menjadi merah padam. “A-A-A-A-A-Aku cuma bercanda!”
Katanya dengan suara cukup keras agar didengar oleh pasangan itu, lalu berjalan
menuju kasur—eh, kasir dengan kepala tertunduk.
Saat aku melihat rok selututnya bergoyang dan sosoknya menjauh ke kejauhan,
“...Dia meledakkan dirinya sendiri. Obat yang mujarab.”
Aku tersenyum kecut dan membalas anggukan pasangan tadi, yang sempat menoleh
ke belakang ke arah kami.
“Bunga sakura terlihat sangat indah di musim semi.” Setelah selesai
berbelanja di supermarket, kami berjalan berdampingan di sepanjang Sungai
Meguro.
Daun-daun sakura hijau lebat yang bergoyang di atas kepala kami membawa
aroma kehijauan yang pekat terbawa angin.
“Nanti kita ke sini lagi ya pas
bunga sakura mekar, Shigure?”
“Masih lama banget itu...”
Aku membetulkan pegangan pada
tali kantong belanjaan yang terasa dua kali lebih ringan dari seharusnya, lalu
menjawab.
“Hm, boleh juga sih.”
“Mm... Janji ya. Sudah buat janji
nih.”
“Kamu terlalu buru-buru
menyimpulkan!”
“Dan aku sudah merekamnya sebagai
bukti, buat berjaga-jaga.”
“...Kamu bercanda, kan?”
Junna tidak menjawab, dia malah
mulai bersenandung pelan. Suara latar belakangnya adalah derik suara jangkrik.
Sambil mendengarkan melodi yang
suatu hari nanti mungkin akan menjadi lagu YOHILA, aku mulai bertanya-tanya
seperti apa perubahan diri kami pada musim semi tahun depan─lalu aku
menghentikan pikiranku.
Rasanya itu masih terlalu jauh.
Perasaan itu seperti tersedot ke dalam langit biru tak berujung yang membentang
di balik hijaunya pepohonan yang bergoyang.
Kami, yang tidak bisa terbang,
hanya sedang melakukan yang terbaik untuk berjalan di atas tanah kokoh masa
kini. Singkatnya, “Rumahku agak jauh kalau jalan kaki dari stasiun.”
─Saat ini aku merasa lebih gugup
dari sebelumnya. Tentang
masa depan yang berada tepat di hadapanku. Tentang peristiwa besar pertama
dalam hidupku: berkunjung ke rumah seorang gadis.
“O-Oh... begitu ya?”
Keringat mengucur di
telapak tanganku.
“Iya,” jawab Junna sambil
mengangguk, lalu membetulkan pegangannya pada sisi tali kantong yang lain.
“Sebenarnya lebih enak pakai
sepeda, tapi nanti aku nggak bisa dengerin musik.”
“Benar juga.”
“Aku juga nggak suka pakai jas
hujan pas hari hujan.”
“Iya...”
Junna melirikku dari samping.
“Shigure? Kamu kelihatan agak linglung... Kamu gerah? Kalau iya, aku buka payungku ya─”
“...Enggak, aku baik-baik
saja. Cuma kurang tidur sedikit.”
Payung Junna tertutup.
Karena aku menolak untuk berbagi payung dengannya. Meskipun begitu,
“Hmm... semalam nggak
bisa tidur? Sebelum pengalaman pertamamu?”
“Pengalaman pertama datang ke
rumah perempuan, maksudmu?”
“Bagian dalamnya perempuan,
maksudnya pengalaman pertamamu masuk ke dalam?”
“Apa panasnya bikin otakmu
meleleh!? Lelucon kotormu bahkan lebih parah dari biasanya!”
Berjalan sambil membawa satu
kantong belanjaan berdua terasa cukup memalukan. Aku tadi sempat ingin
membawanya sendirian, tapi Junna bersikeras keras kepala.
Hasilnya, rasanya jadi seperti
kami sedang berpegangan tangan dengan kantong belanjaan di antara kami.
Junna menunduk, melirik isi
kantong belanjaan di mana sikat gigi biru itu terletak di bagian atas, lalu
berkata.
“Hei, kita sebaiknya beli kondom
juga nggak sih? Di minimarket atau semacamnya.”
“Sialan, obatnya nggak mempan!”
Aku sudah merasa kesal, tapi
ketika topiknya blak-blakan seperti ini, hal itu justru memberikan efek
sebaliknya yang meredakan suasana canggung dan mencairkan keteganganku. Pada
saat kami menyeberangi jembatan biru di atas sungai, melewati terowongan hijau,
dan memasuki area perumahan, keteganganku sudah benar-benar hilang.
“Shigure. Badanmu merah semua...”
“Iya, iya, panas. Ayo kita
nyalakan AC-nya begitu sampai di rumahmu.”
“AC-nya sudah menyala. Tinggal
memasukkannya saja.”
“Aku, masuk ke dalam rumah.
Masukkan aku. Iya, iya.”
“Berhenti bilang 'iya, iya'.”
“Aku bakal berhenti kalau kamu
berhenti bikin lelucon.”
“...Aku nggak bisa. Aku bisa
mati.”
“Kamu ini apa, ikan tuna yang
nggak bisa bernapas kalau nggak berenang...”
“Aku bukan pihak yang
pasif lho. Aku mungkin cukup
aktif.”
“Iya, iya.”
“Udah kubilang, berhenti
bilang 'iya, iya'.”
“Kalau mau aku berhenti, berhenti
bikin lelucon kotor.”
“Iya, iya.”
“Jangan malah membalas 'iya, iya'
padaku.”
Aku terus meladeni
rentetan lelucon datar Junna dengan cekatan.
Alasan Junna lebih banyak
bicara dari biasanya mungkin karena dia sama gugupnya denganku... Pikirku
sambil tersenyum hangat.
☂
Itu adalah sebuah gedung
apartemen lima lantai yang rapi. Eksteriornya menggunakan beton ekspos,
memberikan kesan modern khas bangunan desainer baru.
Kamar Junna adalah unit pojok di
lantai paling atas. Kami naik lift, menyusuri lorong dalam berlantai pola ubin
yang elegan, dan tiba di depan pintu bernuansa hotel.
“Masuklah.”
“O-Oh. Permisi numpang masuk...”
Sambil memegang kantong belanjaan
dari supermarket, aku melangkah masuk dengan ragu-ragu. Aroma bunga dari
pengharum ruangan menggelitik lubang hidungku. Ada pintu di sebelah kiriku, dan
lorong pendek berbentuk huruf L membentang di depan.
“Ruang tamunya di sebelah kiri,
sedangkan dapur dan kamar mandi ada di bagian belakang sebelah kanan.”
“...Paham. Untuk sekarang, aku
masukkan barang belanjaan kita ke kulkas dulu ya?”
Sambil melirik tempat payung di
mana payung berwarna biru keunguan bersandar, aku melepas sepatuku dan naik ke
lantai.
Sebuah keset selamat
datang bergambar Geroppi terbentang di lantai. Tempat ini benar-benar terasa
seperti dunianya Junna.
“Ruang kerjanya agak
kecil, tapi tolong dimaklumi ya.”
“Tidak masalah. Kompornya
punya dua tungku.”
Dapur tersebut dilengkapi
kompor induksi. Ukurannya lebih kompak dari yang kuduga, tapi kurasa itu hal
wajar untuk apartemen lajang. Aku mulai memasukkan bahan makanan yang kami beli
ke dalam kulkas hitam yang tampak masih baru.
“...Bukankah ada terlalu
banyak minuman berenergi di kulkas ini?”
“Aku beli terlalu banyak
pas lagi belajar buat ujian.”
“Jangan terlalu sering
minum itu, ya? Tidak baik untuk kesehatan.”
“Jangan ngomong kayak
guru aja...”
Kami tidak membeli
terlalu banyak barang, jadi aku selesai membereskan semuanya dengan cepat.
─Baiklah. Selanjutnya,
aku perlu memeriksa bumbu dan peralatan masak.
“Aku buka ini ya?”
seruku, dan saat aku sedang mengaduk-ngaduk rak penyimpanan dapur, Junna
memanggilku dari balik konter dapur sambil memegang pintu dengan sebelah tangan
dan sikat gigi biru di tangan lainnya.
“Shigure.”
“Ya.”
“Aku mau mandi dulu.”
“Ya.”
.................. Mandi?
“Silakan pakai bumbu atau alat
apa pun yang kamu butuhkan─”
“Tunggu, tunggu.”
“...Hm?”
“Bukan 'hm'. Kenapa kamu malah
mau mandi?”
“Karena aku berkeringat.”
Wajah Junna tampak santai. Dia
sama sekali tidak terlihat berkeringat.
“Ini semua karena kamu nggak
ngebiarin aku pakai payung, Shigure.”
“Kamu kan bisa pakai payungnya
sendirian.”
“............Jadi, aku serahkan
sisanya padamu ya.”
“Hei, tunggu! Jangan─”
─Banting, klik!
Junna telah kabur. Pintu tertutup
dan terkunci.
Ditinggal sendirian, aku
menggaruk bagian belakang kepalaku dengan tangan yang terulur lalu menggerutu.
“Mentang-mentang rumah
sendiri, seenaknya sendiri ya...”
“Shigure.”
Junna berbicara kepadaku
dari balik pintu. Aku mendengar suara gesekan pakaian.
“Mau mandi bareng? Kalau mau,
pintunya kubuka nih─”
“Mana mungkin aku mau!”
Teriakku sambil menyalakan
sakelar kipas ventilasi. Lalu, agar bisa fokus memasak, aku mengeluarkan sebuah
apron dari tas sacoche miliknya.
☂
Mengenakan apron yang sudah agak
usang (dengan kain aplikasi yang dijahit oleh saudaraku), aku berdiri di dapur.
Di atas talenan yang
diletakkan melintang di atas bak cuci, aku dengan cekatan menyiapkan makanan.
Menghindari bagian
tengahnya, aku mengiris tipis-tipis hanya bagian luar kubis yang empuk. Aku
merendamnya dalam air dingin agar terasa renyah, lalu mencampurnya dengan jahe myoga
cincang, daun shiso, dan tunas lobak. Setelah meniriskan airnya dan memasukkannya ke dalam kulkas, hidangan
pelengkap pun selesai.
Saat aku sedang mengiris tipis
bawang bombay, air di dalam panci mulai mendidih, jadi aku memasukkan bagian
tengah kubis yang sudah dipotong kasar. Kaldu dasi-nya menggunakan shiro-dashi
sederhana. Aku tidak repot-repot membuatnya sendiri, tapi ya begitulah masakan
ala cowok ceroboh.
Earphone yang tersangkut di
telingaku memutarkan musik secara acak dari daftar putar.
─Salah satunya tiba-tiba ditarik
lepas.
Aroma sabun yang kuat menguar ke
arahku. Junna, dengan satu earphone terpasang di telinganya,
“'Kanpeki na Niwa' dari People In
The Box... Bagus. Aku suka,” gumamnya sambil membagikan suara itu tanpa izin.
Jangan seenaknya bilang "aku suka" gitu dong.
Aku menghentikan irisan jahenya
dan, “...Itu baju santaimu?” tanyaku.
Junna, yang selesai mandi, telah
berganti pakaian dari pakaian jalan-jalannya ke pakaian yang lebih
santai─sebuah hoodie berwarna biru keunguan. Di kepalanya terpasang tudung
dengan bola mata yang menonjol keluar.
“Iya. Pakaian rumah Geroppi
kesayanganku. Krik,
krik.”
“Lucu banget, sialan!”
Aku kembali mengiris jahe dengan fokus penuh.
Rambutnya yang lembap
seusai mandi mengintip dari balik tudung, kulitnya yang sedikit merona, dan
kakinya yang mulus menjulur dari ujung celana terasa terlalu memancing.
“Ngomong-ngomong, di
baliknya─”
“Celana pendek kan? Aku
tahu tanpa harus melihat. Jangan perlihatkan padaku.”
“...Hmph.”
Separuh jahe dicincang,
separuhnya lagi diparut. Sambil berkonsentrasi pada tugas di hadapanku, Junna
merengut. Dia menarik tangannya dari ujung hoodie dan,
“Ngomong-ngomong,” dia
mengintip dari samping, seolah ingin menghalangi pandanganku.
“Aku tidak pakai riasan
wajah lho.”
Aku tidak bisa bekerja
dengan Junna dengan cara seperti itu.
“...Menurutmu bagaimana?”
Aku mengalihkan
pandanganku dari tatapannya yang tajam dan menjawab.
“C-Cute... yah, manis.”
“Lihat aku dengan benar.”
Aku ditegur, jadi aku menoleh lagi.
Kulitnya masih terlihat indah,
mulus, dan merona kemerahan.
Saat aroma sampo dan kondisioner
yang menguar darinya mengancam untuk meruntuhkan akal sehatku, aku berhasil
memaksakan kata-kata itu keluar.
“...Kamu juga manis tanpa
riasan.”
“Jelaskan secara detail.”
“............Jujur saja, aku
tidak begitu bisa melihat bedanya. Kalau harus memilih, kamu terlihat sedikit
lebih muda? Kurasa riasan cocok dengan jenis pakaian yang kamu kenakan
sebelumnya, dan wajah tanpa riasan cocok dengan pakaian yang kamu kenakan sekarang.
Jadi kesimpulannya, kamu sama-sama manis... Puas? Gadis yang haus perhatian.”
“~~~~~~~~~~!”
Wajah Junna memerah, dan bibirnya
yang terkatup rapat bergetar. Seolah-olah dia sedang menahan sesuatu.
Tepat saat aku berpikir, 'Wah,
dia mau meledak'─Junna menunduk dan memalingkan wajahnya.
Sambil mengipasi pipinya yang
merona dengan tangan untuk mendinginkannya, dia berkata dengan suara yang
hampir berbisik.
“L-Lolos...”
Pancikannya mendidih meluap.
“...!?”
Aku buru-buru mengangkat
panci dari kompor induksi dan mematikan dayanya.
“H-Hampir saja...”
Sesuatu di dalam diriku
juga hampir meledak dan meluap.
“M-Maaf. Aku terbawa suasana.”
Junna meminta maaf kepadaku saat
aku sedang membersihkan tumpahan air dengan lap, berhati-hati agar tidak
melepuh. Aku menghela napas dan meletakkan kembali pancinya.
“...Sungguh. Tapi yah, kalau kamu
minta maaf, sudahlah. Aku
sedang memasak, jadi tolong tahan dirimu. Terutama saat aku sedang menggunakan
api dan pisau.”
Sambil menunggu kompor
induksinya mendingin, aku memotong daging perut babi. Jantungku berputar
kencang, dan musik yang diputar secara acak di salah satu telingaku berubah.
“Mariage” oleh Bungei
Tengoku─
Junna, yang tadinya
menunduk, mengangkat kepalanya.
“Shigure...”
Sambil mengangkat
ponselnya, lensa dan matanya berkilau,
“─Bolehkah aku mengambil fotomu
saat memakai apron? Dan video saat kamu memasak?”
“Ya, kamu sama sekali tidak
merasa bersalah.”
☂
Aku membawa hidangan yang sudah
selesai ke ruang tamu dan meletakkannya di atas alas piring dengan nampan kayu
bergaya kafe. Ada satu set lengkap peralatan makan untuk dua orang, mulai dari
mangkuk nasi hingga tempat sumpit.
“Aku membelinya untuk
berjaga-jaga kalau hal seperti ini terjadi,”
kata Junna, duduk di kursi meja
makan di ruang tamu berukuran sekitar delapan tikar tatami itu, sambil
memeriksa foto dan video yang baru saja diambilnya.
“Sepasang. Aku memilihnya dari
daftar hadiah pernikahan populer.”
“...Aku lupa mengecek apakah kamu
punya piring untuk dua orang, jadi itu sangat membantu. Pembelian yang bagus.”
Aku mengabaikan bagian tentang
hadiah pernikahan. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Junna mengangkat ponselnya.
“Kelihatannya enak.”
Setelah mengambil foto makanan
dengan cepat, dia mengarahkan kameranya kepadaku dan berkata, “Shigure. Pasang
wajah 'pengantin baru' untukku?”
“Wajah macam apa itu...”
Sambil menatapnya dengan jengkel,
dia mengambil beberapa foto diriku secara beruntun. Kenapa dia menggunakan mode
burst?
“...Mm. Terima kasih.”
Saat aku menuangkan teh mugicha
ke gelas Junna,
“Hei, kenapa kamu ganti baju
lagi?”
“Aku tidak ganti baju. Aku cuma
melepas hoodie-ku.”
Junna, yang kini mengenakan kaus
sederhana, menjawab sambil meletakkan ponselnya di meja. Ini adalah
transformasinya yang ketiga. Apakah dia berencana melakukan sampai tujuh
transformasi penuh?
“Saat aku duduk di seberangmu di
meja tadi, aku merasa suhu tubuhku naik dan aku jadi gerah...”
“Kamu tidak harus melepasnya,
tinggal diturunkan saja pengatur suhu AC-nya─Aduh.”
Saat aku mencoba
mengelak, dia menendang tulang keringku di bawah meja.
Junna menatapku, “...Sayang. Apa
menu hari ini?”
“Babi tumis jahe, kubis cincang
dengan campuran remuph-rempah, dan sup miso mentega jagung,” jawabku sambil
menuangkan mugicha ke gelas milikku sendiri.
Ini juga merupakan gelas
pasangan. Sulit untuk melihat apakah gelas itu kosong, tetapi saat aku
menuangkan tehnya, tulisan "Istriku ♡" dan "Suamiku
♡" muncul di permukaan masing-masing
gelas.
─Aku tidak akan mengomentari hal
itu.
“Dengan menambahkan beberapa
rempah musiman ke dalam kubis, rasanya jadi lebih menyegarkan dan tidak bikin
cepat bosan.”
“Sayang?”
“Aku pakai daging perut babi
karena kelezatannya sangat cocok dengan lauk ini. Aku juga menambahkan mayones
dan doubanjiang untuk variasi rasa. Kalau kamu tidak suka makanan pedas,
kamu bisa mencobanya dicampur.”
“Sayang...”
“Sup miso mentega jagung persis
seperti namanya, sup miso dengan jagung dan mentega. Rasanya kaya dan lezat.
Paling enak dinikmati saat musim dingin, tapi tetap enak juga di musim panas.”
“Hei, sayang─”
“Berhenti memanggilku begitu.”
Aku tidak bisa menahannya lagi
dan membalas. Mata Junna menyipit, dan dia tampak senang.
“...Shigure. Kamu malu, ya?”
“Aku tidak malu.”
“Pembohong. Kalau kamu bilang
'aku tidak malu', biasanya kamu sebenarnya malu.”
“...Ayo makan. Makanannya keburu
dingin.”
“Oh, dia kabur.”
“Itadakimasu.”
“...Itadakimasu.”
Kami menangkupkan tangan lalu
mengambil sumpit masing-masing. Aku mengamati Junna saat melakukannya.
Junna mendekatkan mangkuknya ke
bibir lalu menyeruput sup misonya.
Kemudian, wajahnya yang biasanya
stoik berubah menjadi senyuman lembut.
“Enak.”
Suapan kedua. Kali ini, dia
memasukkan tauge, kubis, dan tahu ke dalam mulutnya lalu,
“Enak banget, enak
banget...” katanya sambil menikmati.
Aku pun tak kuasa menahan senyum.
Meskipun aku sendiri belum
mencicipi sup miso itu, perasaan hangat menyebar di dadaku.
Kami menyuap gigitan ketiga
bersama-sama.
─Ya. Rasanya lumayan enak, kalau
aku boleh memuji diri sendiri. Aku mencoba menambahkan lemak dari menggoreng
daging babi tadi, dan itu benar-benar memperdalam rasanya.
“...Rasanya seperti kebahagiaan.”
Setelah Junna bergumam seperti
itu, dia mulai bersenandung.
Melodi dari
"kebahagiaan" yang dirasakan oleh Junna.
Melodi yang manis,
beserta waktu, mengalir begitu saja.
“Babi jahenya juga enak.
Sangat pas dipadukan dengan lauknya.”
“Aku senang
mendengarnya.”
“Rasanya seperti kamu dan
aku, Shigure.”
“...Ya.”
Jarum jam terus berputar
sementara kami mengulangi siklus makan, mengobrol, dan bersenandung.
Dan di saat yang sama, aku yakin
hubungan kami juga ikut berkembang.
Aku berdoa semoga masa depannya
kelak dipenuhi dengan hari-hari seperti ini.
“Shigure? Ada apa, kok melamun.”
“...Tidak, bukan apa-apa.”
Aku menggerakkan sumpitku yang sempat berhenti tanpa disadari, lalu
mengalihkan pandanganku kembali.
Di dalam gelas pasangan yang isinya sudah berkurang dan hanya menyisakan
tanda "♡", es yang mencair bergemerincing dengan suara
yang jernih dan sejuk.
☂
Shuko, shuko, shuko, shuko.
Aku menggerakkan sikat gigiku di depan cermin. Sikat gigi yang baru itu bulunya masih terasa
kaku.
Shuko, shuko, shuko, shuko.
Di sebelahku, Junna yang
mengenakan pakaian santai sedang menggerakkan sikat gigi berwarna biru keunguan
dengan cara yang sama. Fakta bahwa barang-barang kecil sehari-harinya pun
dikoordinasikan dalam warna bunga hydrangea menunjukkan selera gayanya
yang kuat.
............
Saat sedang menyikat gigi, mata
kami saling bertatap di cermin.
Kami berdua sama-sama memasang
wajah tanpa ekspresi. Aku merasa akan kalah jika aku memalingkan muka, jadi
situasi ini berubah semacam kontes adu tatap.
Shuko, shuko, shuko, shuko,
shuko, shuko, shuko, shuko.
............!.........
Junna lah yang akhirnya menyerah
duluan.
Matanya menyipit saat wajahnya
merekah dalam senyuman, lalu dia meludahkan busa putih yang terkumpul di dalam
mulutnya.
Dia mengembalikan sikat giginya
yang sudah dibilas ringan ke tempatnya, dan dengan air dari cangkir yang
warnanya senada—biru keunguan—dia berkumur. Kuchu, kuchu, kuchu.
............
Dia tidak langsung
memuntahkannya, melainkan terus berkumur sambil menatapku di cermin.
Pipi Junna mengembung dan
mengempis bergantian di kedua sisi. Pemandangan itu begitu lucu hingga aku
tanpa sadar ikut meludahkan busa punyaku sendiri.
Pada detik itu juga,
Junna mendekatkan wajahnya ke wajahku di atas wastafel dan, dengan suara
"npeh," dia membersihkan busa di mulutku dengan air yang baru saja ia
kumur. Lalu, dia menyeka mulutnya yang basah dengan tangan dan,
“Mm.”
Dia menyerahkan cangkir
yang masih menyisakan beberapa teguk air itu kepadaku yang sedang membilas
sikat gigi.
“Terima kasih.”
Aku menaruh sikat gigiku
ke wadahnya dan berkumur menggunakan air dari cangkir yang dia berikan.
Saat aku mendekatkan
cangkir itu ke bibirku, insiden di kedai hamburger saat sesi belajar kami dulu
melintas kembali di benakku, dan aku sempat membeku sejenak─tetapi karena aku
tidak tahu di bagian mana Junna tadi menempelkan bibirnya, aku memutuskan untuk
tidak ambil pusing dan memuntahkan rasa malu samar yang telanjur mekar di
dadaku bersamaan dengan air kumuran tersebut.
“Shigure─”
Junna memanggilku saat
aku sedang menyeka mulut menggunakan saputangan yang aku ambil dari saku
belakang celanaku. Aku mencoba menebak apa yang akan dia katakan selanjutnya.
Rasanya benar-benar
seperti kita tinggal bersama.
Kita (secara tidak
langsung) ciuman lagi...
Boleh aku pinjam
saputangannya?
“─Mau makan apa malam ini?”
"Kita kan baru saja selesai
makan siang!?"
Pertanyaannya sama sekali tidak
terduga.
Aku menggelengkan kepala sambil
merapikan saputanganku.
“Sayangnya, aku belum memikirkan
menu makan malam.”
Aku sudah menghabiskan semua
bahan makanan yang kami beli dalam sekali masak. Aku merencanakan menu tadi
dengan pemikiran bahwa akan merepotkan baginya jika ada sisa makanan, mengingat
dia tidak biasa memasak sendiri.
“Ehhh,” Junna merengut.
“Perencanaanmu terlalu naif,
Shigure. Kalau kamu pergi ke rumah seorang gadis, menginap adalah hal yang
wajar terjadi. Dan itu artinya, tentu saja kita butuh makan malam... Jadi. Ayo
kita belanja lagi, ya?”
“Aku hanya akan mengabulkan satu
permintaan.”
Kataku tegas, lalu berbalik
menjauh dari wastafel tempat sikat gigi biru dan biru keunguan itu berjajar.
Aku pergi ke dapur dan mulai
mencuci piring untuk kami berdua.
Junna mengikutiku dan
berdiri di sampingku. Dia mengambil kain lap piring yang bersih dan,
“Y-Yah, memang benar sih,
tapi... kamu tidak mau menginap, Shigure?”
“...Aku tidak tidak,
tidak tidak tidak tidak tidak menentangnya.”
“Jumlah negasinya genap.
Berarti kamu 'mau'? Cara bicaramu berbelit-belit ya. Kamu imut banget,
Shigure.”
“Aku tidak berpikir sejauh itu, dan jangan menghitungnya secara presisi.”
“Nah kan, ada kata
'tidak' lagi. Kamu malu, ya?”
“Aku tidak tidak, tidak
tidak tidak tidak menentangnya.”
“Jumlahnya ganjil kali
ini... itu berarti 'aku tidak malu', tapi sebenarnya kamu benar-benar malu,
kan, Shigure? Kamu sangat imut.”
“Berhenti memanggilku
'imut'.”
“Aku akan berhenti kalau
kamu mau menginap denganku.”
“Kalau begitu, kamu tidak
usah berhenti.”
“...Hmph.”
Sambil terus berbantahan,
aku mencuci piring dan menyerahkannya kepada Junna. Dia langsung menerimanya
dan mengeringkannya dengan cekatan.
Seolah-olah dia sudah
terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun.
Sebuah kerja sama tim
yang selaras dengan baik.
Setelah Junna terdiam
dalam kekesalan, kami berdua sempat hening sejenak, tetapi itu tidak terlalu
menggangguku.
Suara piring berderik,
suara air mengalir. Rasanya aneh, menggelitik, sekaligus menyenangkan bisa
hanyut dalam suara-suara sehari-hari ini bersama Junna.
─Aku benar-benar tidak
ingin pulang.
Pikiran itu tiba-tiba melintas
begitu saja di benakku.
“...Imut, Shigure-san yang imut. Hari ini kamu akan tinggal sampai jam berapa?”
tanya Junna. Aku tidak tahu
kenapa dia mendadak menggunakan bahasa formal, tapi, “Kira-kira sampai jam
empat atau lima sore, sepertinya,”
jawabku. Aku baru saja selesai
mencuci semua piring ketika,
“Mm, paham. Kalau begitu.”
Junna menggantungkan kain lap
basah di gantungan lalu berkata, “Mau menonton JUN of YOHILA... saat sedang
bekerja?”
☂
─Aku benar-benar telah
terpancing dengan sempurna, pikirku.
Di bagian belakang ruang
tamu terdapat pintu geser partisi. Di baliknya, di ruangan berukuran sekitar
empat setengah tatami, terdapat sebuah tempat tidur selain meja kerja.
“Ini ruang kerjaku... sekaligus
kamarku.”
Seprai putih, sarung bantal dan selimut berwarna biru keunguan pucat.
Gorden hitam blackout berwarna biru keunguan juga tertutup rapat, dan
cahaya putih kebiruan yang lembut dari lampu plafon menerangi ruangan kecil
itu.
“Ini praktis karena aku
bisa langsung berbaring begitu merasa lelah.”
Sambil berbicara, Junna
berjalan ke bagian belakang ruangan. Karena dia melepas hoodie-nya dan
mengenakan kaus, celana pendek yang dipakainya terlihat jelas, dengan keliman
yang jauh lebih pendek dari celana pendek biasa.
Itu adalah pakaian
olahraga, yang biasa disebut celana pendek lampion (dolphin shorts),
terbuat dari bahan longgar dengan belahan di paha luar untuk memudahkan
pergerakan.
Dan hal itu, yah, tidak
baik untuk kesehatan mentalku.
Pahanya, yang terekspos
bukan hanya setengah melainkan dua pertiga bagian, benar-benar beracun bagi
mataku.
“─Shigure. Kamu mau menonton,
kan? Masuklah...”
Meskipun berkunjung ke rumah
Junna, aku bertekad untuk tidak pernah menginjakkan kaki di kamar tidurnya.
Namun, terpikat oleh daya tarik
"umpan" yang digantungkan di depanku dan langsung melahapnya begitu
saja tanpa berpikir panjang...
Ini benar-benar sebuah
kecerobohan yang nyata.
“Tutup pintunya.”
“...Bukannya tidak apa-apa kalau
dibiarkan terbuka?”
“Aku selalu menutupnya, jadi
tutup saja. Kalau suasananya berubah, konsentrasiku buyar.”
Kata Junna sambil menyalakan
komputer dan mengoperasikan tetikus (mouse).
“...Paham,” jawabku patuh, lalu
menutup pintu ruang kerja (sekaligus kamar tidur) tersebut.
Lalu, saat aku menoleh kembali ke
dalam ruangan, Junna yang berdiri di depan meja sedang membungkuk ke depan
dengan bokongnya yang menonjol ke arahku.
Karena ada kursi meja yang besar
di sana, posisi tubuhnya menjadi sedikit miring.
“............Bolehkah aku minta
tolong duduk di kursi itu?”
Junna melirikku sekilas.
“Kamu lihat ke mana? Mesum.”
“...!? Apa─”
“Bukan ke aku. Lihat ke sini.”
Junna menunjuk ke arah meja
dengan jarinya lalu duduk. Aku menelan mentah-mentah sanggahanku dan mendekat.
Seperti yang diperintahkan, aku
mengalihkan pandanganku ke meja.
Untuk pertama kalinya aku melihat
ruang kerja seorang musisi.
Komputer desktop terletak
di tengah, dengan speaker hitam besar di kedua sisinya. Perangkat dengan
deretan tombol kecil itu kemungkinan besar adalah audio interface.
Papan tik (keyboard)
disusun membentuk huruf L, dan di bawah meja terdapat amplifier serta
papan efek gitar (effects pedalboard). Berbagai kabel menjalar di
lantai, yang salah satunya terhubung ke mikrofon yang terpasang pada sebuah
penyangga.
Ada beberapa gitar yang
bersandar di dinding. Gitar elektrik surf green yang familier, gitar
elektrik putih, dan gitar akustik hitam.
Jenis kegembiraan yang
sama sekali berbeda dari sebelumnya kini membakar hatiku.
“...Jadi di sinilah
tempatmu menulis lagu dan merekamnya.”
“Ya. Meskipun baru
sebatas demo.”
Kata Junna sambil meluncurkan
semacam perangkat lunak.
“Aku merekam gitarnya
dengan mik itu... Ada juga metode yang disebut line recording di mana
kamu menangkap sinyal suara secara langsung, dan kualitas suaranya jadi lebih
jernih dan stabil dengan cara itu. Tapi karena YOHILA tidak tampil secara
langsung, aku ingin suaranya semirip mungkin dengan suara band mentah, dengan
nuansa digital seminimal mungkin. Jadi bahkan untuk demo pun, aku pada dasarnya merekam menggunakan mik.
Kurasa simulator tidak bisa sepenuhnya mereplikasi suara, atmosfer, dan ambien
dari amp asli. Rasanya seperti suara yang tidak punya nyawa.”
Kata-katanya meluncur deras
secara beruntun, tipikal seorang otaku musik. Ada beberapa bagian yang
tidak sepenuhnya kutemui atau kuartikan dengan pas, tapi,
“Kamu sangat pemilih soal itu
ya.”
“...Ya. Kecintaanku pada musik
juga besar.”
Jawab Junna, matanya masih
menatap layar komputer. Profilnya yang serius membuatku sadar sekali lagi bahwa
dia benar-benar sosok JUN dari YOHILA.
“Tidak apa-apa kan kalau
aku berkonsentrasi sebentar?”
Tanya Junna sambil
mengambil sepasang headphone yang menggantung di gantungan.
Headphone itu menggunakan
kabel, bukan nirkabel, dan dari merek yang berbeda. Dia sepertinya menggunakan headphone
yang berbeda untuk produksi musik dan untuk mendengarkan lagu secara santai.
“Tentu saja,” aku
mengangguk.
“Anggap saja aku ini
udara kosong dan fokuslah pada pekerjaanmu.”
“Udara kosong... yah.
Dalam arti aku akan mati kalau tidak ada, sih. Tapi kalau kamu berdiri begitu
dekat, mustahil untuk tidak menyadari keberadaanmu.”
Kata Junna santai.
“Tempat tidur. Duduklah di sana.”
“Baiklah.”
Aku kembali menuruti instruksinya
dengan patuh dan berjalan ke sisi lain meja.
Entahlah. Aku merasa bodoh karena
merasa begitu tegang dan akhirnya memasuki tempat tidur Junna. Begitu mudah
terpancing...
“............”
Junna, tanpa memperdulikan aku
yang duduk di atas tempat tidur, fokus menghadap komputernya.
Aku menatap sosoknya yang penuh
dedikasi dan ketulusan itu.
Bukan sebagai udara kosong,
melainkan sebagai sebuah karya seni (objet d'art).
Gadis yang sedekat nadi beberapa
saat lalu kini terasa begitu jauh.
☂
Sekitar satu jam setelah dia
mulai bekerja, Junna meregangkan tubuh sambil berkata, "Mmm..."
Dia melepas headphone-nya,
berdiri, dan mulai melakukan sedikit peregangan otot.
Tanpa melirik ponselku sama
sekali, aku yang sedari tadi mengamati cara kerjanya dengan seksama,
memanggilnya,
“Kerja bagus... Ngomong-ngomong, ini agak...”
Setelah sedikit ragu-ragu,
“Ternyata pekerjaannya cukup biasa ya, tidak sekeren yang kubayangkan?”
Kataku menyampaikan kesan
jujurku. Junna, tanpa terlihat tersinggung sedikit pun,
“Ya. Aku tadi cuma memotong,
menempel, dan menyusun semuanya sedikit demi sedikit di DAW.”
“DAW?”
“Digital Audio Workstation.
Perangkat lunak untuk membuat komposisi musik di komputer.”
“Begitu ya.”
Dari luar, kelihatannya
dia hanya mengeklik tetikus di depan komputer.
Dia sesekali meraih MIDI
keyboard, tetapi hanya mengetuknya seolah untuk memastikan sesuatu lalu
langsung kembali ke tetikus. Sepenuhnya pekerjaan meja (desk work).
“Sepertinya melelahkan
ya, duduk terus di situ.”
“Ya. Capek banget...
Makanya,”
Junna berbalik menghadap
ke arahku.
“Pijat.”
Matanya memantulkan cahaya
ruangan dan berkilau.
“─Tolong ya?”
“Hah?”
Aku sudah punya firasat buruk
sejak dia mengucapkan kata "makanya" itu. Junna mendekatiku saat aku
sedang duduk di tepi tempat tidur. Dengan ekspresi tanpa beban, dia
menggerak-gerakkan jari-jarinya.
“Biar aku yang memijatmu kalau
mau. Aku akan
menyentuhmu dan mengisi ulang energiku...”
“Tunggu, tunggu, tunggu,
tunggu!”
Dengan dinding di
belakangku, aku tidak bisa melarikan diri, jadi aku mengulurkan kedua tangan
untuk menghentikannya.
“Ini semua terjadi terlalu cepat!
Kalau kamu lelah, ada minuman berenergi di kulkas─”
“Kamu sendiri yang bilang kalau
itu 'tidak baik untuk kesehatan', Shigure.”
“Kamu kan bisa berbaring
dan istirahat saja─”
“Tidak. Apakah kamu
lupa?”
Junna meraih kedua
tangannya dan menyingkirkannya ke samping, lalu mencondongkan tubuhnya
mendekat. Aroma sabun yang
kuat mengingatkanku pada insiden di kamar mandi tadi, membuatku menahan napas.
“Janjinya.”
“...!”
Aku teringat percakapan kami
sebelum ujian.
“Kalau nilaiku lebih baik dari
Kuzujiro, aku minta dipijat.”
“...Apakah aku yang harus
memijatnya?”
“Terserah yang mana saja. Kamu
menyentuhku, atau aku menyentuhmu.”
─Benar juga.
Aku benar-benar lupa karena sudah
memenuhi janji terbesar yaitu "melakukan satu hal, apa pun itu,"
tetapi ternyata masih ada satu hal terakhir yang tersisa.
Membahas hal itu di waktu seperti
ini... Kamu benar-benar ahli strategi yang ulung, Amamori Junna.
“Kamu mau pilih yang mana?”
Cengkeramannya di pergelangan
tanganku semakin mengerat.
“Kamu mau memijat? Atau dipijat?”
Tidak ada jalan keluar, baik
secara fisik maupun mental. Janji tetaplah janji.
“Shigure.”
Aku merevisi kembali pemikiranku.
Junna benar-benar telah
memancingku ke dalam ruangan ini sebagai jebakan, dan aku telah tertelan umpan
itu mentah-mentah. Bagaikan pemangsa yang telah menangkap mangsanya, Junna
tersenyum menyeringai.
“Pilih.”
☂
Memijat Junna, atau dipijat oleh
Junna. Dihadapkan pada dilema pamungkas seperti itu, aku memilih─
“............Aku serahkan
semuanya padamu.”
pilihan kedua, yaitu 'dipijat'.
Bagiku, disentuh sepertinya tidak akan separah jika aku harus menyentuhnya.
Mendengar jawabanku, Junna melepaskan kedua tanganku sambil berucap, “Mm.”
“Tengkuraplah.”
“...Kita tidak bisa melakukannya
di sofa? Di ruang tamu saja.”
“Tidak. Di tempat tidur,
posisinya tengkurap,” perintahnya dengan nada yang tidak membantah, lalu dia
memindahkan selimut ke sisi dinding.
“Baiklah,” kataku, dengan
berat hati berbaring tengkurap di atas tempat tidur.
Kasurnya terasa empuk dan
lembut, beraroma manis, tidak seperti aroma sabun atau parfum.
“Kamu bisa pakai bantal lho,
kalau mau.”
“...Tidak perlu.”
Aku menggunakan lenganku sendiri
sebagai bantal dan memalingkan pipi menghadap ke dinding.
Pandangan kami bertemu.
Boneka Geroppi berwarna ungu hydrangea
dan aku.
Ukurannya cukup besar. Aku sempat
berpikir apakah Junna tidur sambil memeluknya─lalu segera menepis bayangan yang
mulai terbentuk di kepalaku itu.
“Nnsho...”
Kasurnya berderit dan
melesak turun. Saat itu juga,
“Peron.”
Junna mengangkat keliman kaus
yang kukenakan. Dan sebelum aku sempat terkejut, Junna mengangkangi punggung
bawahku yang terekspos.
Pahanya yang dingin dan telanjang
menyentuh kulitku dan menekan lembut. Karena kulit kami bersentuhan langsung,
aku bisa merasakan sensasi mentahnya.
“Apa─!? Hei─”
“Jangan bergerak, jangan
bergerak.”
Junna menepuk-nepuk punggungku
yang menggeliat seolah untuk menenangkanku. Lalu, dia mengelusnya.
“Tidak apa-apa. Aku akan
melakukannya dengan lembut...”
Meskipun terhalang kaus,
rangsangannya sudah lebih dari cukup. Aku menyumpahi tipisnya kain pakaian itu,
yang memang merupakan pakaian musim panas.
“Santai saja.”
─Boro-boro bisa santai! Aku
hampir berteriak, tapi aku menahannya. Aku bisa merasakan Junna terkekeh geli.
Jumlah tangan yang mengelus
punggungku bertambah, dan perlahan-lahan, dia mulai memberikan tekanan.
“Biar kulemaskan ototmu,”
umurnya, dan area yang menjadi sasarannya adalah bahuku. Dia menekan bagian
dalam tulang belikatku menggunakan bantalan ibu jarinya, memberikan tekanan.
Seolah ingin mengerahkan tenaga lebih banyak, dia menjepit pinggangku dengan
pahanya.
“...Shigure. Enak tidak?”
“Mm. E-Enak...”
“Baguslah. Buat aku juga terasa
enak kok.”
“...'Buat aku juga'? Kalimat
macam apa itu? Jangan bilang kamu merekam ini lagi untuk disalahgunakan─Aduh!”
Dia menekan titik saraf di bahuku
seolah ingin mencongkelnya. Digiling.
“Setiap kali kamu membantah,
pijatannya akan semakin kuat.”
“H-Hei, kamu! Jangan sembarangan
berbuat sesuka hati─”
“...Nn, fu... Nnuh.”
“Jangan mengeluarkan
suara aneh begitu kalau sedang mengerahkan tenaga!”
Mata hitam legam milik
boneka Geroppi memantulkan sosokku yang sedang berteriak.
Junna melanjutkan
pijatannya, tidak hanya menggunakan jari-jarinya, tetapi juga meremas dengan
telapak tangan dan mengerahkan berat seluruh tubuhnya. Mungkin karena dia tidak
terbiasa, gerakan tangannya terasa sedikit kaku, yang entah kenapa terasa menggemaskan
sekaligus menyenangkan.
“Kamu sebenarnya lumayan
berotot juga ya?”
Gumam Junna sambil meremas otot
bisepku.
“Padahal badanmu kurus begitu.”
“...Aku ikut klub olahraga.”
Jawabku, setengah terbuai oleh
sensasi nyaman setelah mulai terbiasa dengan tekanannya.
“Aku cukup sering
berolahraga...”
“Mm, kamu kan anggota tim
lari.”
Dia memijatku secara
berurutan, mulai dari lengan atas ke lengan bawah, dari telapak tangan ke
jari-jari, dan,
“Bagian bawah tubuhmu
pasti jauh lebih luar biasa lagi.”
Kata Junna pelan.
Aku menangkap nada suara
yang bernada ancaman di balik ucapannya itu, seketika menarikku kembali dari
ambang tidur.
“─Junna?”
“Ganti posisi. Untuk memijat
tubuh bagian bawahmu... Aku mau berbalik arah.”
Dalam sekejap, beban di punggung
bawahku lenyap, dan pahanya terangkat dari kulitku. Kasur berderit, dan udara
manis yang tadinya terperangkap kini mengalir kembali.
“Nn... sho...”
─Punggungku dihujani beban dengan
bunyi gedebuk.
Napasku tertahan di kerongkongan.
Kuku-kuku yang dicat warna biru keunguan melintas cepat di depan penglihatanku,
dan sepasang kaki putih menghalangi pandanganku ke arah Geroppi. Junna, yang
mengangkangi tubuhku, telah berputar 180 derajat.
“...!?]”
Boneka kodok itu menghilang dari
pandanganku, dan penglihatanku sepenuhnya dipenuhi oleh kulitnya, mulai dari
betis hingga telapak kakinya.
Posisi ini sangat
berbahaya dalam berbagai aspek.
Bokongnya, yang tadinya
berada di punggung bawahku sesaat lalu, kini berada di punggung atasku. Karena
aku sedang tengkurap dengan kepala menoleh ke samping, kaki telanjang miliknya
berada tepat di depan mataku.
“W-Woi! Junna─”
“─Ah.”
Aku secara insting
mengangkat kepalaku untuk menoleh ke belakang di saat yang bersamaan ketika
Junna mengeluarkan seruan kecil.
Pintu partisi ruangan itu
terbuka, dan seorang wanita sedang berdiri di sana.
“Kalian berdua...”
Rajutan musim panas merah tanpa
lengan, celana jins robek-robek berwarna hitam. Dia tidak mengenakan masker.
Akagi, dengan pakaian santainya, tersenyum dengan sudut bibir yang dipoles
lipstik merah terangkat naik.
“Lanjutkan saja, tidak usah
pedulikan aku.”
Dia menurunkan kacamata hitam
bertona terang yang tadi diangkatnya dengan jari, lalu,
“─Mau diteruskan?”
“Dimengerti, sensei.”
“Jangan mengerti! Enggak,
mana bisa!? Enggak bisa!”
Perkataan Akagi disusul
oleh jawaban Junna dan sanggahanku yang panik.


Post a Comment