-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Amamori Junna wa Shitsudo ga Takai Volume 1 Chapter 5

5: Cerah, Lalu Hujan, Lalu Badai


“—Junna?”

Aku memanggil Junna yang berjalan di sebelahku, dengan payung kami yang berdampingan. Matanya, yang tadinya menatap kosong ke arah pemandangan kota, beralih padaku dan mulai fokus. Dia berkedip.

“Mm... Maaf, aku tadi melamun.”

Dia memegang kembali gagang payungnya. Payung berwarna hydrangea (bunga hortensia) itu bergoyang, menebarkan tetesan air hujan.

“Ini tempat yang ingin kamu kunjungi, kan, Shigure? Um...”

“Ada apa?”

Tanyaku sambil balas menatap matanya. Baik saat kami berada di ruang AV maupun saat berjalan pulang bersama seperti ini, hari ini Junna sering kali melamun, seolah-olah pikirannya melayang jauh entah ke mana. Dia menunduk dan mencengkeram tali wadah gitarnya dengan erat.

“Pembuatan lagunya... sedang...”

jawabnya setelah jeda sejenak.

“...berada di tahap krusial. Batas waktunya sudah dekat. Bagaimanapun caranya, aku harus menyelesaikannya sebelum musim hujan berakhir.”

“Ah. Benar ya. Ini waktu yang penting, bukan? Untuk YOHILA.”

Band Junna, YOHILA, saat ini sedang bersiap untuk debut mayor mereka. Mereka berada di tengah-tengah kerja keras menggarap lagu pertama untuk debut tersebut.

“Salahku. Ini bukan waktunya aku mengajakmu jalan-jalan...”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku sendiri ingin jalan-jalan denganmu, ingin lebih sering bersamamu. Tapi—”

“Ya. Kamu harus fokus pada musikmu sekarang.”

Kataku dengan nada tegas. Junna berhenti berjalan. Aku bergeser dari sisinya untuk berdiri di hadapannya, menatap tepat ke matanya, dan melanjutkan.

“Jangan khawatirkan aku, curahkan saja seluruh tenagamu untuk menciptakan lagu.”

“Shigure...”

Junna berkedip. Sebuah mobil melintas di sebelah kami, dan angin hangat bertiup. Rambut hitamnya berkibar, menampakkan warna bagian dalam (inner color) rambutnya yang berwarna hydrangea.

“...Ya. Kamu benar.”

Junna menunduk. Ekspresinya, yang terbayang oleh poni dan payungnya, terlihat suram dan tenggelam. Setetes air yang jatuh dari ujung payungnya menghantam genangan air di dekat kakinya, menciptakan riak.

“Aku akan melakukannya. Mulai besok, aku akan fokus pada musikku untuk sementara waktu—”

Dia mendongak menatapku dari balik bayangan yang suram.

“Tidak ada lagi pertemuan sepulang sekolah sampai lagunya selesai. Aku libur dulu, Shigure,”

katanya dengan nada ceria yang tak biasa baginya, seolah ingin mengusir kesuraman itu.

“Dengan kata lain... cinta terlarang. Seperti berpantang alkohol atau merokok.”

“Bukankah itu membuatnya terdengar seperti 'cinta terlarang' dengan cara yang agak berbeda?”

“Tidak juga. Faktanya, ini sempurna. Benar-benar sempurna.”

“Bagian mananya yang sempurna...?”

Obrolan santai kami mencairkan suasana, dan suasananya menjadi lebih lembut. Aku tersenyum, lalu berbalik dan melangkah. Aku menginjak genangan air dan mulai berjalan.

“Yah, pokoknya, aku menantikannya,”

kataku, mengungkapkan perasaan jujurku kepada Junna di belakangku.

“Sebagai penggemar beratmu, penggemar JUN—dan menantikan lagu baru YOHILA.”

“............”

Tidak ada jawaban. Tepat saat itu, sebuah truk lewat dengan berisik, memercikkan air di jalan, jadi aku berhenti dan menengok ke belakang, mengira suaranya tenggelam oleh kebisingan itu.

Payung berwarna hydrangea itu melewati sisiku.

“Lagu yang baru,”

katanya dari balik payungnya.

“—Aku pasti akan menjadikannya mahakarya.”

Kata-kata itu, yang dipenuhi emosi kuat, terdengar anehnya melemah entah kenapa.

Seolah ingin menghapus perasaan gelisah itu, hujan semakin deras. Pada akhirnya, aku tidak mengatakan apa pun dan berjalan mengikuti langkahnya.

Aku mendongak menatap langit abu-abu yang tampak seperti akan turun hujan kapan saja, lalu menghela napas.

Ramalan cuaca mengatakan berawan dengan potensi hujan. Jika hujan turun seperti yang diprediksi, kami tidak akan bisa menggunakan lapangan untuk latihan sore.

Hatiku, yang biasanya berdegup bersemangat, kini merasa tenang. Sebagian alasannya karena aku tidak bisa melihat Junna, tapi—

“...Belum ada balasan.”

Aku menatap layar ponselku dan bergumam.

Shigure: Hei. Kita sempat bahas untuk tidak bertemu sepulang sekolah, tapi bagaimana dengan jam makan siang?

Hari sudah hampir siang, dan pesan LINE yang kukirim ke Junna pagi ini bahkan belum dibaca. Apakah dia sibuk...? Atau apakah aku mengganggunya? Aku terus memikirkan hal itu berulang-ulang.

Saat jam istirahat siang, aku mengunjungi ruang kesehatan sambil membawa kotak bekalku.

Tulisan di pintunya bertuliskan 'Keluar' (Away).

Tok, ta-tok, tok-tok-tok, tok, tok. Aku mengetuk dengan pola ritme yang sudah ditentukan—yang rupanya disebut ketukan irama "Shave and a Haircut"—dan,

“...Masuk.”

Suara Akagi-sensei terdengar dari dalam.

“Kurimoto.”

Akagi-sensei, yang duduk dengan kaki disilangkan di kursi kerjanya, berpenampilan santai dan tidak senonoh seperti biasa. Jas lab yang berantakan, blus rajut tanpa lengan, rok ketat, dan stoking jaring ikan. Serta masker kain putih yang menyembunyikan wajah dan identitas aslinya.

“Halo, Sensei. Apa Junna ada di sini?”

“Dia belum datang,”

kata Akagi-sensei sambil mengangkat bahunya yang terbuka saat aku melihat sekeliling ruangan.

“Tidak ada kabar darinya, dan pesan-pesanku juga belum dibaca.”

“...Anda juga, Sensei? Apa dia baik-baik saja?”

“Ini sering terjadi.”

Akagi-sensei menghela napas di balik maskernya. Di atas mejanya terdapat sebuah kotak bekal yang dibungkus kain merah.

“Hal ini sudah jarang terjadi sejak dia mengenalmu. Batas waktu tugasnya sudah dekat, jadi dia mungkin sedang asyik membuat lagu. Ada juga kemungkinan dia cuma ketiduran.”

“Begitu ya?”

Jika Akagi-sensei, yang sudah lama mengenal Junna, berkata demikian, maka mungkin memang itulah kenyataannya. Aku diam-diam merasa lega dan meletakkan kotak bekalku sendiri di atas meja, lalu tiba-tiba membeku.

Junna tidak ada di sini—yang berarti.

“Kita berdua saja.”

Akagi-sensei menyipitkan matanya dan menyentuh tali maskernya.

Dan yang terungkap adalah wajah yang begitu cantik hingga hampir terasa berlebihan. Wajah seorang wanita yang sering kulihat di TV dan video musik.

“Jangan terlalu tegang.”

Bibir merahnya yang mengkilap melengkung ke atas, dan Akagi-sensei—EIMEE dari ENDY—menatapku saat aku berdiri terpaku. Dia melipat tangan di dada, mendorong dadanya yang besar ke atas, dan berkata dengan nada menggoda.

“...Aku akan bersikap lembut, tahu?”

“J-Jangan menggoda saya.”

“Heh heh,” Akagi-sensei terkekeh mendengar suaraku yang kebingungan dan wajahku yang berpaling.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bayangkan, tapi sudah cukup lama sejak hari itu... aku ingin ngobrol lagi denganmu, jadi ini waktu yang pas. Duduklah.”

“...Haa.”

“Dalam kedua artian itu.”

“Apa maksudnya itu!?”

Sama seperti saat pertama kali kami bertemu, aku akhirnya membalas ucapannya dengan tidak formal.

Candaan yang dibuat Junna pasti merupakan pengaruh dari wanita ini, pikirku sambil menghela napas, lalu duduk di kursi di seberangnya.

“Kurimoto. Seberapa jauh hubunganmu dengan Amamori?”

Dan begitu saja, sebuah pertanyaan blak-blakan dan langsung pada intinya. Aku sudah menduga arah pembicaraan ini dari obrolan kami sebelumnya, jadi aku membalasnya dengan tenang.

“...Kami belum ke mana-mana. Minggu lalu kami baru jalan bareng untuk pertama kalinya, sih.”

“Oh. Ke hotel?”

“Bukan. Apa yang bisa keluar dari mulutmu cuma lelucon kotor ya, Anda ini...?”

“Cuma? Aneh sekali. Aku yakin aku juga membahas hal-hal yang wonel/pantas, kok. Apa segala hal terlihat menyimpang di pikiranmu? Betapa pink efek pedal yang kamu punya.”

“...Aku yakin sekarang. Andalah pengaruh buruk bagi Junna, Sensei.”

Citra EIMEE yang keren dan berwibawa di benakku hancur berkeping-keping. Akagi-sensei tertawa terbahak-bahak.

“Bercanda.”

Melepaskan lipatan tangannya, Akagi-sensei condong ke depan. Dengan tatapan penuh minat,

“Kamu jalan sama gadis rumahan itu, ya? Pergi ke mana?”

“Kichijoji.”

“...Kamu ya.”

“T-Tidak, Anda salah paham.”

Akagi-sensei pernah menanyakan alamat rumahku saat dia memberiku tebengan. Melihat matanya yang menyipit menggoda, aku buru-buru melanjutkan.

“Kami tidak pergi ke tempatku. Kami cuma makan biasa di luar, jalan-jalan... lalu berpisah seperti biasa. Tidak ada hal... spesial—”

Saat aku hendak mengatakan itu, aku teringat.

Tempat berteduh dari hujan. Perasaan Junna yang dia akui di tengah hujan lebat, dan kisah tentang bunga hydrangea.

“...Aku dengar soal YOHILA. Masa lalu yang tidak ada di Wikipedia. Apa Anda tahu soal itu, Sensei?”

“Ya. Aku tahu.”

Akagi-sensei mengangguk. Dia menurunkan pandangannya, yang dihiasi pulasan eyeshadow merah.

“Dari awal pembentukan band hingga keluarnya para anggota satu per setengah... aku mendengar sebagian besar kisah bagaimana YOHILA menjadi YOHILA seperti sekarang dari Amamori. Tapi dia tidak pernah cerita bagaimana perasaannya atau apa yang dia pikirkan tentang itu.”

“...Begitu ya.”

“Kamu dengar kan, Kurimoto?”

Melihat reaksoiku, ekspresi Akagi-sensei melembut.”

“Kalau begitu, simpanlah itu baik-baik. Itu bukti bahwa Amamori telah membuka hatinya untukmu, sesuatu yang tidak pernah dia berikan kepada siapa pun sampai sekarang. Kemajuanmu cukup bagus, kan?”

“Sensei...”

“Aku akan memberimu hadiah.”

Apa yang diulurkan Akagi-sensei adalah kotak bekalku yang belum disentuhnya.

“...Tidak apa-apa?”

“Ya. Amamori sepertinya mengambil libur hari ini, dan aku tidak makan siang. Makanlah.”

“T-Terima kasih!”

Aku menerimanya dengan gembira. Melihat Junna dan Yamada memakannya, aku sudah lama penasaran dengan masakan itu. Tentu saja kelihatannya enak, tapi itu juga masakan buatan rumah dari wanita yang sangat kukagumi, EIMEE—

Aku tidak pernah bermimpi hari ini akan tiba di mana aku bisa mencicipinya.

“Jangan disisakan.”

“Mana mungkin aku melakukan hal semahal itu!”

“Bekalmu sendiri dan bekalku... dihabiskan semuanya, ya?”

“Tidak masalah!”

Jangan meremehkan kapasitas lambung seorang anak laki-laki yang sedang dalam masa pertumbuhan. Dengan jantung berdebar kencang karena antisipasi, aku membuka bungkus bekal tersebut. Hari ini adalah menu masakan Cina; hidangan seperti tumis ayam dan kacang mete, udang saus cabai, tumis kucai telur, dan salad soun tersusun rapi. Aku menangkupkan kedua tangan untuk berdoa.

“—Selamat makan.”

Aku langsung menghabiskannya dalam waktu singkat. Rasanya sangat enak sampai-sampai aku tidak bisa berhenti menyumpit.

Akagi-sensei, yang tadi menontoniku makan sambil menopang pipinya di atas meja, bergumam pelan pada dirinya sendiri.

“...Hmm. Mungkin mulai sekarang aku akan membuat porsi untuk satu orang lagi.”

Aku mendapat balasan dari Junna di LINE menjelang akhir jam istirahat siang.

JUN: Maaf, baru bangun tidur. Kamu benar... kurasa mendapatkan separuh porsi perhatian Shigure justru tidak akan efektif, jadi mari kita lewatkan jam makan siang juga. Mari kita berjuang bersama dengan "cinta terlarang" kita, oke?

Pesan itu disertai stiker Geroppi si katak yang tampak sedih di bawah payung daun dalam hujan. Tidak bisa melihat Junna sungguh berat, tapi disayangkan juga karena bekal buatan Akagi-sensei (EIMEE) kini tidak bisa kujangkau lagi. Aku tidak mungkin terus-neres mendatangi ruang kesehatan hanya demi menemui Akagi-sensei.

Setelah mengetik balasan: Paham. Ya, aku akan berusaha yang terbaik, aku sedang memilih stiker untuk dikirimkan bersamanya ketika sebuah pesan baru dari Junna masuk.

JUN: Bilang ke Sensei kalau aku ambil libur hari ini.

“Sensei. Junna bilang dia ambil libur hari ini.”

“Sudah kuduga.”

Shigure: Sudah kusampaikan.

Balasan langsung datang seketika.

JUN: ...Kalian lagi bareng?

JUN: Di ruang kesehatan, kan? Cuma berdua?

JUN: Bekalku... masakan Eimi-san, kamu memakannya?

JUN: Curang.

Ping, ping, ping, berturut-turut. Apakah menyuruhku "bilang ke Sensei kalau aku ambil libur hari ini" tadi adalah sebuah jebakan? Fakta bahwa dia menulis "Eimi-san" alih-alih "Sensei" terasa menyiratkan sesuatu.

Saat aku sedang memikirkan cara membalasnya, bel peringatan tanda berakhirnya jam istirahat siang berbunyi, jadi aku hanya mengirim stiker kucing bersiul untuk mengalihkan perhatian lalu menyimpan ponselku.

“Hei. Mau ke karaoke?”

Sepulang sekolah. Di tengah hujan yang turun sesuai ramalan, dan setelah latihan sore yang singkat, anak-anak klub lari dengan cepat mulai merencanakan untuk jalan-jalan. Anak-anak ini benar-benar sangat suka karaoke.

“—Kurimoto.”

Seorang teman sekelas memanggilku.

“Duluan ya.”

“Ya. Nanti ya.”

Belakangan ini, aku jadi jarang diajak pergi main. Sepulang sekolah di hari hujan, sudah menjadi rutinitas bagiku untuk menemui Junna, lagi pula aku memang jarang menerimanya. Rasanya lebih mudah begitu.

Setelah mengganti pakaian latihan dengan seragam sekolah, aku berjalan menyusuri lorong yang redup sendirian lagi hari ini.

Tujuanku bukan ruang AV seperti biasanya, melainkan perpustakaan. Tempat yang tenang dan ber-AC di mana kamu bisa membaca dengan nyaman. Fakta bahwa kamu bisa meminjam buku secara gratis juga sangat ramah di dompet anak SMA.

Oleh karena itu, perpustakaan sepulang sekolah cukup ramai oleh pengunjung. Ada yang asyik membaca, ada yang rajin belajar, dan ada yang sudah meluncur ke dunia mimpi... Di antara mereka, aku menemukan sosok yang familiar.

—Itu Yamada.

Yamada sedang membaca buku sendirian dengan tenang di sudut meja di tempat tersembunyi di bagian belakang.

Ada jendela di sebelah khusyuk membalik halaman di bawah cahaya dingin yang merupakan campuran antara sinar matahari redup dan lampu neon.

Lalu, seolah baru saja menyelesaikan bagian yang bagus, Yamada menghela napas dan mendongak. Mata kami saling bertatap.

Mata Yamada melebar, tapi dia langsung tersenyum. Buku itu ditutup dengan suara debaman pelan. Melihat bacaannya terganggu, aku ragu sejenak sebelum berjalan menghampirinya.

“Kurimoto-kun, halo. Kebetulan banget ketemu di sini.”

“Iya.”

Jawabku sambil mencoba melihat sampul buku yang sedang dibaca Yamada. Tapi buku itu dilapisi sampul buku, jadi aku tidak bisa melihatnya. Itu adalah sampul kain bergaya dengan pola kotak-kotak gingham biru.

“Kamu suka buku?”

“Iya. Kaget?”

“...Sejujurnya, iya.”

“Kan, kutahu juga apa katamu.”

Yamada menggaruk pipinya. Gelang persahabatan berwarna biru muda melingkar di pergelangan tangannya.

“Aku anak klub tenis, tapi kalau hujan, lapangannya nggak bisa dipakai, jadi kami nggak latihan... makanya aku nongkrong di sini pas waktu luang.”

“Kamu nggak pergi main atau semacamnya?”

“Pergi sih, tapi... capek tahu kalau harus tiap hari...”

“...Capek?”

“I-Iya. Dompetku, tahu sendiri kan? Aku kan nggak punya pekerjaan paruh waktu atau apa. Lagian banyak barang yang aku pengen beli. Jadi semacam cara menghemat uang.”

“Paham sih. Kamu bisa pinjam buku gratis di perpustakaan.”

“Ya, betul banget! Sayangnya mereka nggak punya banyak buku dari genre yang aku suka, sih.”

“Oh... genre seperti apa yang kamu suka?”

“Um, fantasi... dan semacam cerita sekolah?”

Mata Yamada mulai melirik ke sana ke mari. Dari celah antara jari telunjuknya yang bertindak sebagai pembatas buku, aku bisa melihat sesuatu yang tampak seperti ilustrasi hitam-putih.

“Aku nggak begitu suka sastra murni atau cerita yang isinya terlalu berat. Lebih ke arah hiburan, novel ringan (light novel), kurasa—”

“Novel ringan?”

“—Bffft!?”

Yamada mengeluarkan suara aneh. Perhatian siswa-siswa di sekitar langsung tertuju padanya, dan dia membenamkan wajahnya ke lipatan lengannya seolah ingin menghindari tatapan mereka. Kuda-poda cokelat mudanya ikut bergoyang.

“...Aku seorang otaku.”

Yamada mengaku kepadaku, yang sedang melihat pengumuman di rak buku, dengan wajah yang masih tersembunyi.

“Otaku yang cukup akut. Jenis orang yang nggak cuma menikmati anime dan manga, tapi juga merambah ke novel ringan... Tipe yang lebih suka karya-karya niche yang jarang diketahui ketimbang karya populer yang sudah diadaptasi jadi anime.”

Aku mengambil buku yang dia serahkan dengan lesu dan memeriksanya.

Di ilustrasinya, seorang gadis memegang pemukul baseball logam yang berlumuran darah diguyur lumuran darah dan daging, tersenyum lebar. Judulnya adalah Punishment School

“Ini buku yang kuajukan permintaannya beberapa hari lalu.”

“—Eh?”

Yamada mendongak. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan murni.

“Kamu juga, Kurimoto-kun?”

'Kamu juga', artinya Yamada juga mengajukan permintaan pembelian buku?

Perpustakaan sekolah kami selalu menerima permintaan pembelian buku dari para siswa.

“Iya. Kisah tentang seorang cowok yang secara tidak adil dikirim ke sekolah tempat para pembunuh berkumpul... Aku nggak terlalu paham soal novel ringan, tapi karya ini cukup jadi bahan obrolan hangat di kalangan penggemar misteri. Katanya trik pembunuhan yang terjadi di cerita itu punya kualitas tinggi.”

“Seriusan!?”

Yamada meninggikan suaranya dan berdiri. Lalu dia membekap mulutnya sendiri dengan tangan. "Hah!"

“...Ah... M-Maaf.”

Dia membungkuk meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya dan kembali duduk di kursinya dengan lesu. Dia berkata dengan suara pelan.

“...Aku tadi agak terlalu bersemangat. Nyaris nggak ada orang di sekitarku yang baca novel ringan.”

“Genre ini memang lebih niche dibanding anime dan manga. Sekalipun orang tahu karya yang sudah diadaptasi jadi anime, hampir nggak ada orang di sekitarku yang membaca novel aslinya... jadi aku terkejut. Kalau orang sepertimu, Yamada-san, membaca buku semacam ini.”

Sambil berbicara, aku meletakkan tas enamel yang tersampir di bahuku ke atas meja. Berpikir kalau duduk tepat di sebelah Yamada akan terlalu dekat, aku menyisakan satu kursi di antara kami.

“...'Orang sepertiku'?”

Aku mengembalikan buku itu kepada Yamada yang sedang mengerutkan kening dan tersenyum kecut.

“Gadis modis, tipe anak hits—yang kayak, 'Aku lebih suka aktivitas outdoor daripada indoor, dan aku lebih banyak menghabiskan uang buat pakaian dan kosmetik daripada buku!'”

“Ah...”

Yamada mengambil buku dari tanganku dan mengalihkan pandangannya. Dia memutar-mutar ujung rambut kuncir kuda berwarna cokelat pirang yang diputihkan di jarinya. Sesaat kemudian,

“Tahu nggak,”

dia menggeser kursinya merapat, mendekat. Tepat di sebelahku.

Selain itu, Yamada mendekatkan bibirnya ke telingaku yang terkejut. Seolah untuk menyembunyikan mulutnya dari tatapan orang-orang di sekitar dengan buku yang diegangnya,

“Aku dulunya seorang nerd yang suram banget sampai SMP,”

bisiknya. Aroma jeruk yang segar dan manis, mungkin dari parfumnya, menggelitik hidungku.

“Aku baru mulai peduli soal fashion belakangan ini... semacam debut SMA. Satu-satunya orang dari SMP-ku di angkatan kita cuma si bajingan Yōjirō itu, dan aku sudah menyuruhnya untuk tutup mulut, jadi kurasa nggak ada yang tahu.”

Setelah mengakuinya, Yamada menjauh—tapi dia tetap dekat.

“Oh, eh... begitu rupanya. Aku sama sekali nggak tahu. Aku pikir kamu memang anak hits sejak lahir.”

“Hehe. Aku banyak belajar, pakai referensi dari para gyaru di manga dan novel ringan... serta influencer tipe begitu. Soalnya aku punya bahan dasar yang bagus, sih!”

—Jangan bilang begitu tentang dirimu sendiri. Yah, aku tidak menyangkalnya sih.

“Jadi, begitu ya. Apa yang kamu keluhkan tadi, soal merasa 'capek'—”

“I-Iya, capek banget tahu pura-pura jadi anak hits! Teman-teman cewek yang biasa kumpul bareng aku semuanya pada berkilau. Seru sih, tapi terlalu menyilaukan buat mantan anak suram... Aku nggak bakal sanggup ikutan kalau nggak ambil istirahat!”

“Begitu ya, makanya kamu ada di perpustakaan...”

“Iya. Kalau mereka lihat aku baca novel ringan, mereka bakal langsung tahu. Lagian aku suka hal-hal yang berbau edgy, jadi susah direkomendasikan ke orang lain. Buku yang lagi kubaca ini salah satu contoh pas.”

Yamada melambaikan novel tersebut. Sampulnya yang menampilkan ilustrasi bergaya gore dan splatter mirip dengan isi di dalamnya, disembunyikan oleh sampul buku yang imut.

“...Paham sih. Aku juga cenderung suka karya-karya yang seleranya butuh pembiasaan. Mau disebarluaskan tapi nggak bisa. Aku bakal benci banget kalau udah kasih rekomendasi tapi mereka bilang nggak suka.”

“Bener banget. Aku setuju sampai manggut-manggut terus.”

Saat aku menunjukkan rasa simpati, Yamada balik bersimpati, dan percakapan kami pun mengalir hangat.

Rasa suka yang kurasakan pada Yamada tumbuh dengan cepat di dalam diriku.

Aku juga merasakan hal yang sama pada Junna, tapi ketika kamu memiliki kesukaan yang sama, itu benar-benar membuat kalian semakin dekat. Terlebih lagi jika hal itu adalah sesuatu yang niche, rasanya semakin menyenangkan.

“—Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai baca buku ini belum, Kurimoto-kun?”

“Belum, sebenarnya belum...”

Aku merogoh tas enamel-ku dan mengeluarkan novel yang sedang kubaca.

“Aku tadinya mau baca ini setelah selesai baca buku yang sekarang.”

“Oh... aku nggak tahu judul itu. Sampulnya bagus. Apakah ini karya sastra ringan?”

Yamada mengambil novel dari tanganku dan bergumam sambil membaca sinopsisnya.

“Iya. Genrenya... romantis.”

“Romantis? Mengagetkan—”

Yamada menghentikan kata-katanya dan menyeringai.

“—atau nggak ya. He-he-he.”

“Jangan tertawa seperti nerd menyeramkan.”

“Hehe, maaf. Jati diriku yang sebenarnya tadi... sedikit keluar.”

“Apakah seorang nerd menyeramkan adalah jati dirimu yang sebenarnya?”

Kesenjangan antara penampilan dan kepribadiannya sangat besar.

Lip gloss sewarna bibir yang dipoleskan tipis di bibirnya berkilau, memantulkan cahaya lampu neon.

Yamada menyipitkan matanya, yang dibingkai oleh bulu mata panjang.

“...Aku jadi sedikit tertarik sama buku ini. Ini milikmu, Kurimoto-kun?”

“Iya. Ini rilis baru yang baru saja terbit. Sepertinya belum ada di perpustakaan.”

“Hmm... kalau begitu, boleh pinjam kalau kamu sudah selesai? Atau lebih tepatnya—”

Dia mencondongkan wajahnya mendekat.

Begitu tiba-tiba sampai aku tidak bisa menarik diri, dan aku terpaku. Rasanya seperti langit runtuh. Matanya yang jernih, mengingatkan pada langit biru, berada tepat di hadapanku.

“Ceritakan rekomendasi-rekomendasimu ya, Kurimoto-kun. 'Selera'ku agak aneh... tapi aku punya firasat kita bakal cocok, Kurimoto-kun.”

“...O-Oh.”

Aku merasa terintimidasi dan menciut ke belakang. Pertama Junna, lalu Yamada. Kenapa gadis-gadis yang mengenalku selalu berada dalam jarak fisik yang begitu dekat?

“Kamu suka hujan, Kurimoto-kun?”

Tanya Yamada sambil memiringkan payung biru pastelnya. Aku mengangkat payung transpran vinyl-ku dan menjawab saat berjalan di sebelah pelan.

“Aku agak suka.”

Jarak di antara payung kami dipenuhi oleh rintik hujan. Hujan gerimis, dan kota yang diselimuti oleh suara lembut gerimis itu tampak seolah sedang tidur mengantuk. "Begitu ya," kata Yamada senang.

“Aku juga! Kalau hujan, aku bisa diam di rumah tanpa merasa bersalah. Nggak ada latihan klub juga, jadi aku bisa baca banyak buku... Kamu anak klub lari, kan, Kurimoto-kun? Apa nomor spesialisasimu?”

“Menurutmu apa?”

“Hmm. Yah, kurasa bukan jarak pendek... Entah jarak menengah atau jarak jauh... Bisa jadi lompat jauh juga, tapi sepertinya bukan lompat tinggi. Pastinya bukan nomor lempar... Hmm, jarak jauh!”

“—Tepat. Kok tahu?”

“Yess! Hehe... Soalnya pembawaanmu itu kelihatan keren dan terkesan stoik. Suka nggak? Lari.”

“Aku nggak membencinya.”

“Jadi nggak begitu suka juga?”

“Kurasa... Memang melelahkan. Tapi aku cukup suka mendengarkan musik atau berpikir saat aku berlari. Walaupun aku nggak bisa mendengarkan musik saat latihan klub.”

“Oh. Jenis musik apa yang kamu dengar?”

Depressive rock dan semacamnya.”

“...Depressive rock?”

Seperti yang kuduga, dia tidak tahu. Sambil Yamada memiringkan kepala dan payungnya, aku menjelaskannya dengan kata lain.

“Rock Jepang. Kayak 04 Limited Sazabys, atau My Hair is Bad. Atau ENDY.”

“ENDY!?”

Yamada terpancing. Matanya, yang tidak kehilangan kilauannya bahkan di bawah langit mendung, bersinar.

“Mereka keren banget! Aku paling suka lagu yang itu—'End of Night' dan 'Dawn Yells'!”

“Double single terakhir yang dinamai sesuai nama bandnya. Lagu itu emosional banget, dalam banyak hal!”

“Iya. Aku masih belum bisa move on dari bubarnya mereka... Kalau kamu sendiri, Kurimoto-kun? Lagu mana yang paling favorit?”

“Favoritku ya... 'Red Hot Bomb'. Itu lagu rekaman ulang dari masa indie mereka, lagu yang lebih obscure dengan lirik bahasa Inggris penuh, tapi itu intens dan luar biasa. Aku sempat menyanyikannya di karaoke tempo hari.”

“Wah, kamu bisa nyanyi lagu itu, Kurimoto-kun? Bukannya itu susah banget? Wah, aku jadi pengen dengar... Mau pergi nggak? Kita berdua, sekarang juga, ke karaoke!?”

“...Sekarang?”

Aku ragu-ragu mendengar ajakan yang tiba-tiba itu.

Wajah Junna terlintas di benakku. Bayangan dirinya dengan headphone di kepala, begitu tenggelam dalam pembuatan lagu.

Setelah ragu sejenak, aku menggelengkan kepala.

“Itu agak mendadak. Aku baru saja pergi minggu lalu.”

“Mm... Begitu ya. Sayang sekali.”

Yamada mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

Air hujan yang terkumpul di daun-daun pohon pinggir jalan berjatuhan, menghantam payung kami dengan suara berat. Tapi langkah kaki Yamada ringan, dan suaranya ceria.

“Yah, aku bakal tamatin Paniscu besok. Habis itu aku bakal baca novel rekomendasi darimu, Kurimoto-kun!”

“Kalau begitu aku juga harus menyelesaikan bacaanku. Kalau novel yang lagi kubaca ini bagus, aku bakal rekomendasikan itu, tapi kalau biasa saja, aku bakal rekomendasikan yang lain. Kamu mau tipe cerita yang kayak gimana?”

“Hmm...”

Yamada meletakkan jari telunjuknya ke dagu, merenung. Dan kemudian, dengan senyuman cerah secerah matahari, senyuman yang tidak akan kamu duga dari seorang mantan anak suram, dia menjawab.

“Sesuatu dengan gaya penulisan yang ringan, tapi isi ceritanya berat dan gelap! Kalau soal romantis, aku mau yang bikin hati terasa perih... Aku suka karya yang meremukkan hati, tipe yang depresif!”

“Pagi, Kurimoto-kun!”

Keesokan paginya. Setelah latihan pagi, aku sedang dalam perjalanan menuju kelas setelah mampir sebentar ke toilet sendirian—ketika sebuah suara ceria memanggil punggungku. Aku berbalik dan memberikan sapaan singkat sebagai balasan.

“Mm, pagi, Yamada-san.”

Yamada sepertinya juga baru selesai latihan pagi; bau semprotan deodoran dan tisu basah badan tercium kuat di sekitarnya. Di luar jendela, langit biru terbentang luas, seolah seseorang telah menumpahkan sirup Blue Hawaii.

“Udah lama ya sejak kemarin?”

Wajah Yamada saat tersenyum tampak sedikit lelah, tapi apakah itu hanya karena bayangan yang diciptakan oleh teriknya matahari pagi yang menyilaukan dari jendela? Aku berjalan menyusuri lorong berdampingan dengannya.

“—Oh, benar. Aku bawa buku yang kurekomendasikan kemarin. Novel romantis yang kubaca kemarin bagus juga sih, tapi agak beda dari tipe yang bikin hati perih... Aku sempat ragu apakah itu cocok dengan seleramu, jadi aku membawakan buku yang lain. Mau kuberikan sekarang?”

Tanyaku, dan Yamada meminta maaf dengan malu-malu.

“Ah, maaf. Aku belum selesai baca punyaku...”

Bahu Yamada merosot lesu, dan dia benar-benar tampak kelelahan.

Meskipun disembunyikan dengan makeup, dia tampak kurang tidur, dan matanya terlihat sayu.

“Nggak apa-apa kok kalau soal buku... Kamu lagi nggak enak badan? Atau sibuk urusan lain? Kalau iya, nggak usah dipaksakan.”

“T-Tidak, bukan begitu,”

Yamada ragu-ragu, memainkan ujung kuncir kudanya. Sekilas keheningan tercipta di antara kami.

“...Kurimoto-kun.”

Yamada berhenti berjalan.

Aku ikut berhenti dan menatapnya. Matanya menatapku—dan di lubuk mata yang tidak biasanya terlihat gelap itu, tersimpan secercah tekad.

“Kamu punya waktu luang jam istirahat siang nanti?”

Saat berikutnya, kata-kata yang meluncur dari mulut Yamada mengejutkanku jauh melebihi plot twist novel murahan mana pun.

“Ada hal yang ingin kubicarakan... cuma berdua saja!”

Ketika kami, para siswa SMA cowok, diajak bicara berdua saja oleh seorang gadis, peristiwa pertama yang kami bayangkan adalah sebuah pengakuan cinta.

Namun, sampai kemarin, Yamada dan aku hanyalah teman dari teman, dan kami hampir tidak pernah berbicara berdua saja tanpa kenalan akrab kami, Yōjirō.

Meski begitu, tiba-tiba menyatakan cinta? Rasanya tidak mungkin—tetapi aku tidak bisa sepenuhnya mengabaikannya, mengingat seberapa nyambungnya kami mengobrol tentang hobi dan keakraban Yamada yang aneh.

Kepekaannya terhadap jarak, menyelinap melewati sensor zona privasiku dan dengan cepat menutup celah di antara kami. Bersama Yamada, rasanya tidak aneh jika dia langsung menyatakan perasaan tepat setelah bertemu hanya dalam waktu satu hari.

...Aku tahu, aku merasa terlalu percaya diri dan kepedean, tapi aku juga berpikir bahwa waktu tidak ada hubungannya dengan jatuh cinta pada sesuatu.

Terkadang, begitu kamu bertemu, hatimu langsung direnggut, dan kamu diseret masuk tanpa punya hak untuk menolak.

Sama seperti saat pertama kali aku mendengar musik YOHILA.

Dia juga—

“Tahu nggak,”

di tempat yang paling dekat dengan langit, di atas atap bergaya sangkar yang dikelilingi pagar pembatas tinggi pencegah jatuh, aku berhadapan dengan Yamada.

Ini adalah jam istirahat siang, tapi tidak ada siswa lain selain kami berdua. Ini adalah sayap barat, tempat ruang-ruang kelas khusus dikumpulkan, dan karena lokasinya jauh dari ruang kelas biasa, para siswa jarang menggunakannya.

Yamada, yang telah memilih tempat makan siang terpencil ini, begitu kami tiba di atap, langsung berbicara dengan ekspresi serius—dan tampak bermasalah.

Di tangannya terdapat kantong plastik minimarket berisi roti lapis (sandwich) dan salad.

Mencengkeram gagang kantong itu, Yamada membuka bibirnya yang sedikit bergetar.

“—Aku,”

Dia menatap lurus ke dalam mataku yang gugup.

“Aku rasa... nggak, aku yakin banget! Amamori-san adalah JUN dari YOHILA, kan!?”

Apa yang diucapkannya sama sekali di luar dugaan.

“...! Kok bisa—”

Kata-kata yang keluar dari mulutku secara refleks bukanlah persetujuan ataupun penolakan, melainkan sebuah pertanyaan. Kenapa Yamada bisa tahu tentang YOHILA?

“Kemarin, waktu kita jalan pulang, pas aku tanya kamu suka dengar musik apa... kamu jawab 'depressive rock', kan? Waktu itu aku nggak begitu paham. Tapi aku jadi penasaran, jadi aku mencarinya belakangan. Dan ternyata, banyak banget band yang muncul.”

Sambil berbicara, Yamada mengoperasikan ponselnya.

“Dan di antara semuanya, aku coba dengar lagu yang paling baru. Yaitu, lagu ini!”

Di layar ponsel yang dia sodorkan padaku, sebuah thumbnail video ditampilkan di apa yang tampak seperti artikel blog musik.

Itu adalah video lirik untuk "Hydrangea and the Ghost".

“Aku langsung terpikat dalam sekejap...”

Begitu dia menarik kembali ponselnya, Yamada menekan tombol putar pada video yang tertaut itu.

Di bawah langit cerah, petikan gitar elektrik yang terdistorsi secara patologis dan intro piano yang mengingatkan pada suara tetesan hujan mulai mengalun. Dan tak lama kemudian, suara berbisik yang terbuai mulai memintal lirik yang sesuram langit mendung.

“Pas lagunya selesai, aku langsung menekan tombol replay! ...Dan, waktu mendengarkannya, aku kayak, 'Tunggu sebentar?' Kayak, aku pernah dengar suara ini di suatu tempat sebelumnya. Kayak, nggak mungkin.”

Mencengkeram ponsel yang sedang bernyanyi itu ke dadanya, suara Yamada dipenuhi dengan kegembiraan.

Lagu itu memasuki bagian koor (chorus), dan vokal yang tadinya hampir seperti berbisik meledak seolah melepaskan sesuatu yang selama ini ditekan, dan Yamada ikut berteriak kegirangan juga.

“'Itu Amamori-san!' Aku nggak bisa menahan diri buat berteriak di kamarku... Haa. Lagunya bener-bener bagus banget... Aku suka banget... Hei, Kurimoto-kun? Kamu kenapa?”

Yamada, yang tadinya terpesona oleh lagu YOHILA dan suara JUN, bertanya dengan kebingungan. Aku sedang memegangi kepalaku, berjongkok di tempat.

—'Waktu tidak ada hubungannya dengan jatuh cinta'? Betul sekali. Kenyataannya, Yamada telah terpikat dalam sekejap dan terserap sepenuhnya.

Bukan olehku, tapi oleh YOHILA.

Sungguh kesalahpahaman yang total.

“...Bukan apa-apa.”

Pulih dari kerusakan mental pada hatiku, aku berdiri. Aku menggelengkan kepala.

“Yah, iya sih, benar juga. Tentu saja... siapa pun bakal tahu. Kalau orang yang kenal Junna mendengarnya, mereka bakal tahu kalau itu suaranya. Suaranya hampir mirip banget.”

“Ahaha, iya sih. Bagian chorus dan bagian yang penuh emosi kedengaran kayak orang lain, sih.”

Yamada tertawa, tidak menyadari kesalahpahaman memalukanku. Lagu JUN—Junna—terus bergema di atas atap.

“...Dan, yah, gara-gara itu aku jadi kecanduan banget sama YOHILA. Aku dengerin semua hal yang bisa kutemukan, dan sebelum sadar, hari sudah pagi... kayak, eh, mataharinya terbit? Makanya aku nggak sempat baca buku, dan aku kurang tidur... yawn.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan dan menguap, menyapu air mata yang menggenang di sudut matanya. Alasan kenapa Yamada tampak begitu kelelahan hari ini adalah karena kurang tidur.

“—Dan, kalau kamu mikir soal Amamori-san, kamu pasti mikir soal Kurimoto-kun, kan? Makanya aku mikir aku harus ngobrol langsung sama kamu, dan aku mengajakmu. Diam-diam, supaya nggak ada yang dengar.”

“B-Begitu ya...”

JUN sama sekali tidak pernah mengungkap identitasnya. Dan mengingat kepribadian Junna, dia pasti ingin menyembunyikan kegiatan musiknya dari orang lain sebesar mungkin.

“Apa aku harus bilang ke Amamori-san juga? Bahwa aku tahu kalau Amamori-san adalah JUN dari YOHILA.”

“Kurasa... sebaiknya rahasiakan itu dulu untuk saat ini.”

Mendengarkan bagian interlude instrumen dari "Hydrangea and the Ghost", aku berjalan menuju pagar pembatas.

“Junna sepertinya sedang sibuk sekarang. Dia lagi fokus bikin lagu... Kalau kamu mau ngomong, sebaiknya setelah situasinya tenang. Nanti aku yang jelaskan situasinya. Alasan kamu tahu tentang YOHILA itu gara-gara ucapanku yang ceroboh.”

YOHILA bukan band yang terlalu besar, tapi jika kamu mencari kata kunci "depressive rock", kamu bisa dengan mudah menemukan mereka. Aku bertekad untuk lebih berhati-hati kedepannya.

“...Tapi, aku senang kamu yang mengetahuinya, Yamada-san.”

Aku duduk di dasar pagar pembatas dan bergumam.

Yamada berkedip. "Eh?"

“Junna, dia lebih terbuka padamu daripada ke orang lain. Buat ukuran dia, ya.”

“...Eh!?”

Mendengar ucapanku, Yamada menjatuhkan kantong plastik minimarketnya. Dia menempelkan kedua tangannya ke pipinya dan berteriak.

“Seriusan!? B-B-B-Bagaimana... a-a-a-apa yang harus kulakukan?”

Tekanan dari tangannya di pipinya semakin kuat, membuatnya tampak seperti lukisan 'The Scream' karya Munch.

“Amamori-san—JUN-sama—terbuka padaku... A-Aku merasa terhormat banget!”

“JUN-sama?”

“Apa aku bisa ngobrol beneran sama Amamori-san nanti pas kita ketemu!? Aku takutnya malah terlalu terbawa emosi dan berubah jadi fangirl alay! Dia bakal tahu kalau aslinya aku seorang nerd menyeramkan! Foooooh!”

“...Bukankah itu justru bikin Junna merasa punya ikatan batin yang lebih kuat dan makin suka sama kamu? Seorang nerd menyeramkan yang mengenakan kulit luar seorang gyaru. Kalian berdua sebaiknya saling buka-bukaan saja soal rahasia masing-masing.”

Aku tersenyum kecut melihat Yamada yang kebingungan dan membuka kotak bekalku sendiri. Yamada mendapatkan kembali ketenangannya dan duduk di dasar pagar di sebelahku.

“Mm, bener juga... kita bernasib sama! Hehe.”

Setelah itu, kami menghabiskan seluruh jam istirahat siang dengan penuh semangat membicarakan YOHILA, dan kami berdua akhirnya terlambat masuk kelas siang.

“Shigure. Belakangan ini kamu selingkuh ya, kan?”

Aku dituduh melakukan sesuatu yang tidak kulakukan.

Suatu hari sepulang sekolah, saat aku sedang merapikan barang-barangku, Yōjirō tiba-tiba melontarkan kalimat itu begitu saja.

Aku mengerutkan kening, "Ha?" dan menatap Yōjirō yang berdiri dengan tangan bersilang di dada.

“Nggak, aku nggak... Maksudmu Yamada?”

“Kamu mengakui perbuatanmu! Pernyataan itu bisa kutafsirkan sebagai bentuk pengakuan bersalah, kan?”

“Nggak bisa gitu dong. Kenapa malah jadi ke arah sana?”

“Padahal kamu sudah punya Amamori-chan!”

“...Junna nggak ada hubungannya dengan masalah ini.”

Kataku sambil dengan hati-hati merapikan buku pelajaran dan buku catatanku ke dalam tas enamel agar tidak terlipat.

“Hubunganku sama Yamada nggak seperti itu.”

“...'Sama Yamada'? Jadi, maksudnya—Guh!”

Sebuah tas sekolah dihantamkan ke bagian belakang kepala Yōjirō yang sedang mendekat dengan mata berbinar-binar penuh selidik.

“Kuzujirou, kamu menghalangi jalan.”

Yamada mendengus dingin, tatapannya tertuju pada Yōjirō yang sedang meringis kesakitan. Seperti biasa, dia adalah seorang gyaru yang hanya bersikap tidak ramah kepada Yōjirō.

“Dan jangan berasumsi sembarangan. Kurimoto-kun dan aku cuma temenan.”

“...'Kurimoto-kun dan aku cuma'? Jadi, maksudnya—”

“Sudahlah, hentikan.”

Aku menutup risleting tasku dan berdiri.

“Cepat sana pergi latihan. Klub bola basket kan tetap latihan meskipun hujan, benar kan?”

Di luar jendela, hujan yang diprediksi telah turun sejak siang hari, membasahi cabang dan daun pohon yang bergoyang karena angin. Karena kami sudah melakukan latihan penuh di pagi hari, latihan sore kami hari ini dibatalkan total.

“Bagaimana dengan kalian berdua? Mau pulang bareng lagi hari ini? Atau kencan di perpustakaan?”

Mendengar pertanyaan Yōjirō, kami saling berpandangan.

“Bagaimana ya? Aku sih oke-oke saja di perpustakaan, tapi...”

“Kurang asyik buat ngobrol santai... Mau ke karaoke saja?”

“Ide bagus, ayo berangkat!”

“Tuh kan, kalian beneran selingkuh!?”

Yōjirō berteriak kepada kami yang sedang mendiskusikan rencana dengan santai. Tatapan teman-teman sekelas tertuju pada kami, dan Yamada mengerutkan kening karena kesal.

“Nggak kok. Kalau boleh dibilang, kami ini sejiwa.”

“...Apa maksudnya itu?”

“Nggak usah dipikirkan. Ayo berangkat, Kurimoto-kun.”

“Iya. Sampai jumpa nanti, Yōjirō.”

Meninggalkan Yōjirō yang tampak kebingungan, aku meninggalkan kelas bersama Yamada. Aku menengok ke belakang dan bertanya.

“Dia nggak serius salah paham... kan?”

“Entahlah? Tapi kurasa nggak masalah, sih. Kuzujirou dan aku juga nggak punya hubungan apa-apa... dan kalaupun dia salah paham, emangnya kenapa.”

Tanggapan Yamada bernada datar. Aku penasaran dengan hubungan antara Yamada dan Yōjirō, dua orang teman masa kecil itu, tapi—

“Bagaimana dengan Amamori-san? Kamu sama sekali nggak dapat kabar darinya?”

Sebelum aku sempat mendalami topik tersebut dengan lebih jauh, Yamada dengan mulus mengalihkan pembicaraan. Aku pun menjawab.

“...Enggak. Sama sekali nggak ada.”

Interaksi terakhirku dengan Junna adalah seminggu yang lalu, saat aku membalas pesan cemburunya soal aku yang memakan bekal Akagi-sensei dengan sebuah stiker.

Pesan itu sudah dibaca, tapi tidak ada balasan. Aku tidak pernah melihatnya lagi di ruang kesehatan sejak saat itu, jadi aku bahkan tidak tahu apakah dia datang ke sekolah atau tidak.

“Dia mungkin lagi sibuk.”

Aku menambahkan kalimat itu dengan santai, tapi di dalam hatiku, perasaan cemas dan frustrasi, seperti menatap langit mendung yang kelihatan mau hujan tapi tak pernah benar-benar turun, mulai menumpuk.

Yamada mengintip ke wajahku dan bertanya sambil tersenyum lebar.

“Kamu kesepian, ya?”

“Yah, sedikit...”

Kataku, lalu langsung meralatnya.

“...Enggak. Jujur saja, aku lumayan kesepian.”

Cuaca akhir-akhir ini sangat sering hujan, tapi tidak bisa melihat Junna bahkan saat hari hujan rasanya terasa ganjil. Rasanya seperti ada baut yang hilang, sesuatu yang penting telah terjatuh entah ke mana.

Ketika aku tidak bisa mengontrol diri, aku ingin menghubunginya.

“Lagi sibuk apa?” atau “Apa kamu masuk sekolah?” Aku ingin mendengar kata-katanya, meskipun itu hanya lewat pesan teks.

—Tapi, jangan. Junna adalah orang yang bilang kalau dia ingin berkonsentrasi sampai lagunya selesai, dan aku tidak boleh menjadi orang yang menghubunginya hanya karena aku merasa kesepian. Jadi, aku menekan perasaanku dalam-dalam. Meskipun tanpa baut pengganjal di hati.

“Ahaha! Begitu ya. Kamu jujur banget, ya.”

Yamada tertawa dan mengeluarkan sepatunya dari rak sepatu. Sepatu kets berwarna biru dan putih, sewarna langit.

“Mumpung kita lagi bahas ini, aku mau tanya deh. Sebenarnya ada hubungan apa sih antara kamu dan Amamori-san?”

“M-Maksudmu 'ada hubungan apa' itu...?”

“Kalian cuma temenan doang?”

Dia bertanya mendesak, dan aku terpaku di atas lantai bil kayu rak sepatu. Aku kebingungan mencari jawaban yang tepat.

“...Mm. Itu...”

Tapi, jawabannya sudah jelas.

—Tentu saja 'bukan'.

Sepertinya hal itu sudah dirasakan sejak awal. Sejak hari itu, saat momen kami tak sengaja bertemu di ruang AV pada suatu sore yang hujan setelah sekolah, aku sudah menyimpan perasaan spesial terhadap Junna.

Sama seperti saat pertama kali aku mendengar musik YOHILA.

Tapi—

“Kami temenan,”

kataku sambil mengenakan sepatu.

“Untuk saat ini.”

“...Begitu ya.”

Mata Yamada melebar, lalu dia tersenyum lembut. Dia melangkah menuju tempat payung, menarik keluar payung biru pastel miliknya, dan

“Mau nyanyi apa nih di karaoke nanti?”

tanyanya ceria, mengubah topik pembicaraan dan suasana hati dalam waktu bersamaan. Aku berdiri di sebelah Yamada dan berkata.

“YOHILA, pastinya.”

Melihat payung berwarna hydrangea yang diletakkan di sudut tersembunyi di bagian belakang, di tengah hutan payung vinyl transparan, sebuah perasaan hangat, seperti kelegaan, memenuhi dadaku.

“Lagunya nggak banyak, sih. Cuma lima.”

“Kita nyanyikan lima lagu itu terus secara on repeat! Biar JUN-sama bisa dapat royalti walau cuma satu yen...”

“Penggemar yang sangat taat.”

Kami mengobrol saat membuka payung masing-masing dan melangkah keluar. Hujannya tidak begitu deras, tapi anginnya kencang, dan hujan yang tertiup angin samping membasahi celana seragamku. Payungnya nyaris terangkat dan hampir terbawa angin.




“—Whoa!? Anginnya kencang banget...”

“Mungkin ini dari topan.”

Yamada mengangkat payungnya untuk menahan terpaan angin dan menahan rok pendeknya dengan satu tangan.

Menurut prakiraan cuaca, topan tersebut adalah jenis topan hujan. Kekuatannya sangat besar dan diperkirakan akan mendekati wilayah Kanto dari besok sore hingga malam hari.

“Kira-kira sekolah bakal libur nggak ya?”

“Entahlah? Rasanya entah kenapa selalu melenceng dari Kanto.”

Kami berjalan menuju gerbang sekolah berdampingan. Tepat pada saat itu,

“Kya!?”

Embusan angin kencang bertiup, dan payung Yamada nyaris tertiup angin.

Secara naluriah, aku menahan Yamada yang nyaris terjatuh, menangkap tubuhnya.

Beban tubuhnya yang ramping namun lembut menempel padaku, dan aroma jeruk yang manis berpadu dengan embusan angin.

“Ah—”

Di bawah payung transparan itu, Yamada terpaku. Setelah sekitar lima detik, dia dengan cepat melepaskan diri.

“M-M-M-M-Maaf!”

Basah kuyup karena hujan, dia membetulkan payungnya yang terbalik dan buru-buru membukanya lagi.

Untungnya, payungnya tidak tampak rusak. Aku mengeluarkan handuk dari tasku dan menyerahkannya padanya.

“Nggak apa-apa. Handuk ini belum pernah dipakai.”

“...M-Makasih.”

Yamada dengan malu-malu menerima handuk itu dan menyeka tubuh serta rambutnya yang basah. Aku mengalihkan pandanganku darinya, lalu tanpa sengaja menatap ke arah gedung sekolah.

Ruang AV di lantai dua sayap barat. Ujung tirai kedap cahaya yang tebal itu sedikit terbuka. Lampunya—tidak menyala.

“Nanti aku cuci handuknya terus aku balikin ya...”

Aku mengalihkan pandangan kembali mendengar suara Yamada. Pipinya, saat dia memegang handuk tersebut, tampak merona merah samar.

“Enggak usah, enggak usah. Nggak usah dipikirkan...”

Aku tersenyum kecut, mengambil handuk itu dari tangannya, dan berkata,

“Tapi, sepertinya kita tunda dulu saja karaoke kali ini. Hujannya bisa makin parah. Kamu sebaiknya cepat pulang dan langsung menghangatkan diri supaya nggak masuk angin—ini saran dari orang yang baru-baru ini sempat masuk angin gara-gara hujan.”

Sambil berkata demikian, aku melirik ke arah ruang AV sekali lagi.

Dari kejauhan, tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun di dalam kelas itu.

Suara hujan menghantam dunia di sekitar kami. Daun-daun pepohonan, yang diterpa angin kencang, bergesekan dengan berisik.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment