-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Amamori Junna wa Shitsudo ga Takai Volume 1 Interlude IV

Interlude: Melancholic Hydrangea


Saat telepon dengannya berakhir, aku mengembuskan napas, "......Hah."

Itu bukan desah kekecewaan. Justru sebaliknya. Itu adalah helaan napas kepuasan—seolah kegembiraan, kebahagiaan, dan emosi positif yang tak sanggup lagi kutampung di dada telah meluap melampaui kapasitasnya.

Aku merasa dia sering kali mengelak atau menghindar setiap kali aku menunjukkan rasa sukaku, tapi rasa gemas dan canggung itu justru terasa menggelitik dan menyenangkan.

Perasaanku terbelah antara ingin tetap berada di jarak ini dan keinginan untuk menjadi lebih dekat dengannya.

"Haaa~~~~...... Shigure, aku suka sekali."

Sambil memeluk boneka Geroppi, aku mengucapkan perasaan yang tidak bisa kukatakan langsung di hadapannya. Begitu sekali terucap, kata-kata itu tak bisa berhenti, bagai bendungan yang jebol.

"Rabu-rabu Shigure♪ Rabu-shigure♪ Rabu-rabu-rabu-rabu, Rabu-shigure♪"

Sambil memeluk boneka itu erat-erat, dengan otak yang meleleh, aku menggumamkan sesuatu yang menyerupai lagu cinta sambil berguling-guling di atas tempat tidur.

Aku ingin bicara lebih banyak lagi. Sampai fajar menyingsing, sampai baterai ponsel habis, aku ingin terhubung dengannya lewat gelombang radio dan tenggelam dalam kebahagiaan yang meluap tanpa batas.

"Rabu-ra... aw."

──Tapi, tidak boleh. Ada hal yang harus kulakukan.

".................................. Hm."

Aku yang terjatuh dari tepi tempat tidur ke lantai segera sadar kembali. Aku menyingkirkan boneka itu, membuang jauh-jauh perasaan melayangku, lalu duduk di meja.

"Mari lari dari kenyataan."

Aku memasang headphone, mengambil pena, dan menghadapi kertas loose leaf kosong itu sambil menarik napas. Lalu aku menyelam. Ke dalam lautanku sendiri. Ke dalam jurang terdalam yang gelap, dingin, dan sunyi──

"......!"

Cahaya yang masuk menyadarkanku kembali.

Tirai blackout dibiarkan terbuka. Sinar matahari pagi yang masuk dari jendela menerangi kamar yang suram seperti dasar laut itu dengan cahaya yang menyilaukan, layaknya lampu kapal selam.

Di lantai, berserakan kertas-kertas loose leaf yang diremas hingga kusut.

Aku melepas headphone, menyandarkan tubuh ke kursi meja kerja, dan terkulai lemas.

Aku tidak bisa bergerak. Begitu benang konsentrasiku putus, kelelahan mental dan fisik datang menyerang bersamaan hingga kesadaranku hampir pudar.

"...... A, akhirnya... selesai juga."

Pena jatuh dari tanganku yang terkulai lemas ke lantai.

Di hadapanku, di atas kertas loose leaf di meja, berjajar lirik-lirik yang kupetik dari dasar laut dalam selama semalaman.

Aku mengamati dan menilainya saksama, lalu menggigit bibirku.

"Tapi, ini sama sekali tidak bagus!"

Aku meremasnya hingga kusut lalu melemparnya. Kertas itu membentur dinding, memantul, lalu mengenai tuts MIDI keyboard-ku dan bergabung dengan tumpukan sampah lainnya.

"Bukan ini..."

Aku memeluk lutut di atas kursi dan bergumam getir. Semua lirik yang kukumpulkan semuanya indah bagaikan permata. Cerah, positif, dan bersinar dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

"......Ini bukan lirik YOHILA."

Ini bukan gaya penulisan JUN—gaya yang suram, pesimistis, dan penuh dengan ratapan serta kesedihan.

Kalau boleh jujur, gaya ini adalah gaya lamaku—masa sebelum YOHILA hanya menyisakan aku sendiri, masa saat kami masih beraktivitas berempat.

Masa saat musik yang kubawakan bersama anggota lain begitu menyenangkan, masa saat dunia ini tampak begitu menyilaukan. Masa saat aku membawakan musik yang ceria, namun terasa biasa saja dan suam-suam kuku.

Aku kembali ke masa YOHILA yang begitu kucintai sekaligus kubenci. Alasannya sudah jelas.

──Karena aku merasa terpenuhi.

Kekosongan yang tercipta karena kehilangan anggota band, kini terisi oleh kehadirannya.

Dia mengisi, memuaskan, membasahi, dan melenyapkan dahagaku.

Karena itulah, aku tidak bisa menulis lirik yang melankolis.

Melodinya memang indah, tapi jika didengarkan kembali, aransemennya pun terasa tidak cocok dengan YOHILA yang sekarang, yang dikenal sebagai 'Depressive Rock Generasi Baru'.

Ini tidak bisa dibiarkan.

Orang-orang yang menyukaiku dan Kotegawa-san tidak menginginkan hal itu; mereka menginginkan 'YOHILA yang seperti biasanya', yang tidak berubah meski sudah masuk major.

"U, uuuu..."

Aku menjambak rambutku sendiri sambil mengerang.

Seperti gitar akustik yang bergema melalui bodi kosongnya tanpa bantuan listrik, rasa hampa yang tercipta setelah kehilangan anggota band-lah yang memungkinkanku membawakan musik yang sekarang.

Seperti bunga hydrangea yang mengubah warna kelopaknya tergantung pada tanahnya, musikku mengubah warnanya sesuai dengan emosiku, dan lirikku pun ikut berubah drastis.

Jika begitu, apakah aku yang mendapatkan sorotan karena warna kesedihanku—JUN dari YOHILA—sebenarnya memang tidak boleh merasa terpenuhi?

Bahagia atau tidak bahagia. Kehidupan pribadi atau kreativitas. Shigure atau musik.

Jika aku hanya bisa memilih satu di antara keduanya, maka aku.

Aku──



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment