Chapter 6
Hari Libur yang Dihabiskan Bertiga
Hari Minggu.
Rasanya sudah lama
sekali sejak terakhir kali aku menikmati hangatnya sinar matahari di hari
libur. Begitu melangkah keluar rumah, langit biru cerah yang bersih membentang
luas di atas kepala. Beruntung cuacanya sangat bersahabat, dengan mentari yang
menyinari segalanya dengan hangat. Suhu hari ini terasa jauh lebih bersahabat
dari biasanya, tanpa ada hembusan angin kencang yang mengganggu kehangatan
lembut di kulitku. Saat merentangkan kedua tangan ke atas, persendianku
berbunyi gemeretak.
Biasanya, aku jauh
lebih puas berdiam diri di rumah sambil membaca buku daripada pergi ke luar. Namun, di luar dugaan, aku
mendapati diriku begitu menantikan acara jalan-jalan hari ini. Aku sudah
mengecek ulasan filmnya di internet, dan tampaknya tanggapannya sangat positif.
Aku tahu bahwa memasang
ekspektasi terlalu tinggi hanya akan memperbesar peluang rasa kecewa, tetapi
karena novel aslinya juga menuai banyak pujian, sulit rasanya untuk tidak
merasa antusias. Hiiragi-san juga sempat bilang bahwa ia tertarik, jadi kuharap
kami bisa menikmatinya bersama.
Rasa antusias yang langka
ini membuat jantungku berdegup lebih cepat. Hari ini rasanya akan menjadi hari
yang menyenangkan. Namun, tepat saat pemikiran itu terlintas, ingatan akan
keberadaan Mai-san langsung menyergap kepalaku, seketika membuyarkan suasana
hatiku yang ceria.
(...Dia pasti bakal
menjahiliku lagi hari ini, kan?)
Kejahilan Mai-san entah
mengapa selalu mengingatkanku pada anak kecil yang nakal. Meski senyuman
usilnya memang manis dan tak terbantahkan, sifatnya itu agak sulit kuhadapi.
Dia sebenarnya orang yang baik di lubuk hatinya, tetapi dia punya kebiasaan
mengerjai aku dan Hiiragi-san di setiap ada kesempatan. Sebaiknya aku tetap
waspada agar tidak terperangkap dalam ulah usilnya.
Ketika tiba di area plaza
stasiun yang menjadi titik kumpul kami, mereka berdua sudah duduk di bangku
menungguku—padahal masih ada waktu lima menit sebelum jam perjanjian. Bagi
Hiiragi-san yang selalu tepat waktu hal ini tidak mengejutkan, tetapi aku benar-benar
terperangah melihat Mai-san sudah ada di sana. Tadinya kukira dia tipe orang
yang selalu datang terlambat.
Hiiragi-san mengenakan
mantel biru tua dengan syal berwarna krem yang melilit rapi di lehernya,
memberikan kesan anggun dan dewasa. Kerah mantelnya dinaikkan, menenggelamkan
sebagian wajahnya demi mencari kehangatan. Sementara itu, Mai-san mengenakan
sweter rajut putih dan rok tutu merah muda. Kontras penampilan keduanya
terlihat begitu mencolok saat mereka melambaikan tangan ke arahku dari atas
bangku.
"Ah, Tanaka-senpai!
Kau telat sekali!"
"Maaf, tapi
sebenarnya aku datang lima menit lebih awal, tahu?"
"Terlalu naif! Fakta
bahwa kau membiarkan para gadis menunggu otomatis membuatmu didiskualifikasi.
Nilai plusmu di mata calon gebetan langsung anjlok drastis. Tapi karena hatiku
seluas samudra, kumaafkan kau untuk kali ini."
Ekspresi puas dirinya itu benar-benar menyebalkan. Menyebut diri sendiri "berhati besar" saja sudah menggugurkan klaim itu secara otomatis. Meski begitu, memang benar aku telah membuat mereka menunggu.
"Ada sebagian
orang yang berpikir asal datang pas waktu itu sudah cukup, kan?"
"Yah, memang,
tapi bukan berarti orang yang kau sukai bakal sepemikiran, kan? Benar begitu,
kan, Hiiragi-senpai?"
"A-aku sendiri
sebenarnya tidak terlalu keberatan asalkan mereka tidak terlambat..."
Ini topik yang
ternyata cukup rumit. Mengingat aku mungkin saja pergi keluar bersama Saito di
masa depan, ini adalah hal yang perlu kupikirkan baik-baik.
"Baiklah, ayo kita
lekas berangkat! Aku semalam sangat bersemangat sampai tidak bisa tidur sama
sekali!"
Suara Mai-san dipenuhi
antusiasme selagi ia melangkah riang ke depan, rambutnya membal di setiap
langkah.
"Sebenarnya, aku juga
cukup bersemangat."
"Oh, sudah kuduga!
Maksudku, pergi kencan dengan dua gadis manis—bukankah itu mimpi bagi setiap
cowok?"
"Bukan, sama sekali
bukan begitu."
Tingkat kesalahpahaman ini
sudah luar biasa parah. Apa sebenarnya yang sedang ia bicarakan?
"Kenapa bukan?
Kau kan sedang jalan bersama gadis cantik sepertiku!"
"Sejujurnya, aku
sempat lupa kau ada sampai beberapa detik yang lalu."
"Gaaaah—!"
Mai-san menjatuhkan
bahunya secara dramatis diiringi erangan keras. Aksi teatrikalnya itu
menghadirkan sedikit rasa bersalah di hatiku.
"B-bukan begitu,
aku cuma terlalu fokus memikirkan filmnya sampai melupakan hal-hal lain.
Bukannya aku sengaja mengabaikanmu..."
"Fufufu, kalau
begitu, kumaafkan."
Rasa murung tadi
seketika lenyap tak berbekas, berganti dengan senyum berseri-seri saat ia
mendongakkan wajahnya. Perubahan suasana hati gadis ini benar-benar bikin
pusing kepala. Sambil menghela napas pasrah, kami akhirnya melangkah menuju
bioskop.
***
Gedung bioskop yang
sudah lama tidak kukunjungi ini terlihat jauh lebih baru dari yang kuingat.
Dindingnya bercat putih bersih, dan karpet di bawah kaki terasa empuk tanpa
noda. Rupanya tempat ini baru saja direnovasi belum lama ini. Meskipun aku
selalu mengikuti perkembangan rilis buku terbaru, aku cenderung mengabaikan
hal-hal lainnya. Pesona buku memang terlalu sulit untuk ditolak.
Di dekat pintu masuk,
antrean mulai mengular di depan mesin tiket otomatis. Ulasan positif di
internet sepertinya memang terbukti, menilai dari ramainya pengunjung.
Ekspektasiku kian melambung.
Biasanya kami harus
membeli tiket di sini, tetapi kali ini kami tidak perlu repot karena sudah
mengantongi tiketnya. Manajer... Meski dugaannya
agak merepotkan, aku tak bisa memungkiri rasa terima kasihku. Aku menyampaikan
rasa terima kasih dalam diam di dalam hati.
Ketika waktu masuk tiba,
kami mengikuti arus pengunjung melangkah ke dalam. Pendar cahaya jingga yang
hangat dari lampu interior memenuhi ruangan teater dengan suasana yang nyaman.
Manajer tampaknya memilihkan kursi yang sangat bagus untuk kami—hampir tepat di
bagian tengah. Saat aku duduk, bantalannya yang empuk langsung menopang tubuhku
dengan nyaman.
"Sudah lama sekali
sejak terakhir kali aku pergi ke bioskop."
Hiiragi-san yang duduk di
sebelah kananku memandang sekeliling dengan penasaran, matanya berbinar penuh
ketakjuban. Dia jarang sekali memperlihatkan rasa antusias seperti ini,
mengingat ia biasanya selalu tenang dan kalem di tempat kerja. Tasnya terpangku
di pangkuan, dengan gantungan kunci yang tergantung terayun lembut mengikuti
gerakannya.
Selagi mengamatinya dari
sudut mata, seseorang menepuk pundak kiriku. Menolehkan kepala, kulihat Mai-san
sedang menyodokku dengan jari telunjuknya. Ia tersenyum lebar saat mata kami
bertemu.
"Tanaka-senpai, apa
kau tidak pernah mengajak orang yang kau sukai nonton bioskop?"
"Hmmm... Kurasa aku
cuma tidak tahu kapan waktu yang tepat. Ditambah lagi, rasanya aneh mengajak
seseorang kalau aku belum yakin dia punya perasaan yang sama."
"Bicara apa sih? Kau
tidak akan tahu sebelum mencobanya! Dari responsnya nanti, kau bisa membaca
bagaimana perasaannya terhadapmu. Lagipula, dari apa yang kudengar selama ini,
menurutku dia itu sudah benar-benar tergila-gila padamu. Aku jamin—dia sudah
jatuh hati sepenuhnya."
"Benarkah?"
Mai-san terdengar begitu
yakin, tetapi aku tidak bisa membawa diriku untuk memercayainya seratus persen.
"Kalau kalimat itu
keluar darimu, agak sulit untuk dianggap serius..."
"Apa?!"
"Melihat kelakuanmu
sehari-hari. Rasanya sebagian besar waktumu cuma dipakai untuk
menjahiliku."
"Jahat sekali
bicaramu, Senpai! Tentu, aku memang suka menggodamu, tapi kali ini aku
bersungguh-sungguh!"
"Hei, tunggu
dulu..."
Jangan kira aku tidak
mendengar pengakuanmu barusan! Hal seperti inilah yang membuat ucapanmu sama
sekali tidak meyakinkan.
"Kalau tidak percaya
padaku, tanya saja pada Hiiragi-senpai."
Dengan begitu, ia
mengalihkan pandangannya ke arah Hiiragi-san, yang langsung terperangah karena
mendadak diseret ke dalam obrolan.
"A-aku!?"
"Hiiragi-senpai,
bukankah gadis itu jelas-jelas menyukai Tanaka-senpai? Dia cuma bersikap agak
dingin untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Apa aku salah?"
"Um... Aku tidak tahu
pasti, tapi..."
"Lalu, apa menurutmu
dia membencinya?"
"Sama sekali
tidak!"
Sangkalan keras dari
Hiiragi-san membuat tubuhku refleks mundur sedikit.
"Dia jelas-jelas
tidak membencinya. Untuk hal itu, aku bisa menjaminnya."
"Tuh, kan? Dengar
itu, Tanaka-senpai. Bahkan Hiiragi-senpai saja setuju denganku!"
Jika Hiiragi-san yang
mengatakannya, maka mungkin saja itu benar. Namun ekspresi kemenangan di wajah
Mai-san benar-benar membuat kesal. Aku sendiri pun tahu tidak mungkin aku
dibenci jika kami bisa menghabiskan waktu di rumahnya hampir setiap hari.
"Sejujurnya,
menghabiskan waktu berdua di rumahnya saja sudah cukup membuat orang berpikir
kalian berpacaran. Sebagian besar gadis tidak akan membiarkan seorang cowok
masuk ke rumahnya begitu saja."
"Memang, tapi
sikapnya biasanya sangat dingin. Aku tidak merasa dia menganggapku lebih dari
sekadar teman biasa."
"Justru itu yang
kubilang—itu cuma kedok belaka! Dia berusaha menutupi perasaannya supaya kau
tidak menyadarinya. Benar kan, Hiiragi-senpai?"
"I-iya, terkadang...
Saat merasa malu untuk jujur, seseorang bisa terkesan bersikap agak
ketus..."
Hiiragi-san menggigit
bibirnya lalu menunduk sesaat sebelum kembali mengangkat pandangannya.
"Tapi sekalipun
begitu, itu cuma karena dia menyukaimu. Jadi... tolong jangan membencinya
karena hal itu."
Tatapannya yang
sungguh-sungguh menusuk batinku, matanya memantulkan kilau cahaya jingga lembut
dari lampu teater.
"Tentu saja tidak.
Aku tidak akan pernah membencinya cuma karena hal seperti itu."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Saat kubalas tatapan
Hiiragi-san, ia menghela napas lega secara perlahan. Raut wajahnya yang sempat
menegang tadi melunak, membuatnya tampak jauh lebih hangat dari biasanya.
"Sejujurnya, kalau
kau masih ragu-ragu, menurutku menyerangnya secara tiba-tiba dengan sebuah
pujian pasti akan berhasil. Kalau dia sampai salah tingkah dan tersipu, itu
tanda pasti dia menyukaimu."
"Pujian, ya..."
Sekalipun ada yang
mendadak menyuruhku melakukannya, bukan berarti aku bisa langsung merangkai
kata-kata yang pas begitu saja. Orang seperti Kazuki yang sudah terbiasa
menghadapi perempuan mungkin bisa melakukannya dengan mudah, tetapi bagi pemula
sepertiku, itu standar yang terlalu tinggi.
"Cukup bilang dia
manis atau imut saja sudah cukup, kok."
"Apa sesederhana
itu?"
"Bagi perempuan,
dibilang manis itu tidak akan pernah membosankan. Terlebih kalau itu keluar
dari mulut orang yang disukai. Benar kan, Hiiragi-senpai?"
"I-iya. Kalau itu
dari orang yang kusukai, aku pasti akan merasa senang tak peduli berapa kali
pun mendengarnya..."
Hiiragi-san berbicara
dengan malu-malu, melayangkan lirikan cepat ke arahku. Dia memang selalu malu
membicarakan topik semacam ini, dan terlihat jelas ia merasa kesulitan untuk
mengekspresikan perasaannya.
"Tapi, mengucapkannya
secara langsung juga terasa sangat memalukan buatku."
"T-tolonglah, kurasa
mengatakannya secara langsung itu sangat penting. Tolong cobalah sekali
saja."
"Yah, kalau
Hiiragi-san sampai bersikeras begini, akan kucoba."
Tak sanggup menolak
tatapannya yang begitu tulus, aku mengangguk pasrah. Pembicaraan ini mulai
mengarah ke hal yang aneh. Memikirkan cara yang tepat untuk memuji Saito terasa
sangat berat. Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan benar. Apa dia benar-benar
akan merasa senang atau tersipu malu?
Aku tidak bisa
membayangkannya. Jauh lebih realistis membayangkan dia memiringkan kepala
bingung atau memberiku tatapan tajam nan skeptis, lalu berujar dingin,
"Apa-apaan yang sedang kau bicarakan?" Meski begitu, jika Hiiragi-san
bilang itu akan berhasil, aku harus memercayainya. Lagipula, ini adalah
kesempatan untuk memahami perasaan Saito dengan lebih baik. Membulatkan tekad
untuk mencobanya, aku menunggu film dimulai.
***
Ketika waktunya tiba,
tirai di samping layar terbuka penuh, dan lampu-lampu teater mulai temaram.
Ruangan perlahan menjadi gelap, hanya menyisakan pancaran dari layar lebar,
lampu pijar di bawah kursi, dan penanda jalur lorong.
Iklan pembuka mulai
diputar, dengan pengeras suara yang menggelegar begitu kuat hingga tubuhku ikut
bergetar mengikuti suaranya. Sensasinya terasa sangat nyata. Mungkin karena
sudah lama tidak menonton di bioskop, intensitas suaranya terasa jauh lebih dahsyat
dari sebelumnya. Aku bertanya-tanya bagaimana tanggapan Hiiragi-san yang juga
mengaku sudah lama tidak ke bioskop. Lirikan ke sisi kananku memperlihatkan
matanya yang terpaku pada layar, memantulkan sinarnya. Kilauan dari layar
berpendar di dalam pupil matanya yang gelap, menciptakan kesan yang memikat.
Menoleh ke sebelah kiri, kulihat mata Mai-san juga berbinar dengan cara yang
sama.
Setelah deretan iklan
usai, video peringatan anti-pembajakan yang sudah tak asing mulai diputar. Di layar, seorang pria
berkepala kamera bertarung melawan sosok berkostum sirene patroli. Video itu
sama sekali tidak berubah selama bertahun-tahun. Meskipun jumlah kunjunganku ke
bioskop bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, entah mengapa video ini sangat
melekat di ingatanku.
"Tanaka-san, mereka
masih memutar video manusia kamera itu, ya."
"Aku baru saja
memikirkan hal yang sama."
Rupanya Hiiragi-san
memiliki pemikiran yang serupa. Ia mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, dan
kami bertukar tawa kecil tanpa suara. Tak lama berselang, video peringatan itu berakhir,
dan filmnya pun resmi dimulai.
***
"Tadi itu luar biasa
sekali!"
"Benar banget!
Aku benar-benar terkecoh oleh pengungkapan fakta di bagian akhirnya!"
Antusiasme Hiiragi-san
begitu kontras dengan kepribadiannya yang biasanya tenang sampai-sampai terasa
mengejutkan.
"Plot twist di bagian akhirnya
sungguh tak terduga!"
Kalau sudah membaca cukup banyak novel misteri,
kita biasanya mulai bisa mengenali pola dan memprediksi jalan ceritanya. Namun
film ini penuh dengan kejutan, tanpa menyisakan petunjuk yang gamblang untuk
ditebak. Cerita yang begitu sulit ditebak seperti ini sangatlah langka.
Terlepas dari keunikan liku-liku plotnya, narasinya mengalir dengan sangat
alami, berpuncak pada trik alibi pertukaran tubuh yang disamarkan dengan
sempurna. Eksekusinya sangat brilian—begitu brilian hingga membuatku sangat
tersentuh.
Bagaimana bisa sang penulis memikirkan ide
secemerlang itu? Penulisnya layak mendapatkan kekaguman luar biasa, atau bahkan
sedikit rasa ngeri.
"Ulasan bagusnya
memang pantas didapatkan, kan, Hiiragi-san?"
"Iya. Sudah lama
sekali sejak terakhir kali aku nonton film, tapi aku sangat senang memutuskan
ikut hari ini."
Hiiragi-san mengangguk
mantap, tampak sangat puas. Sama sepertiku, ini adalah momen yang sudah lama
tidak ia rasakan, tetapi ia tampak sangat menikmatinya dari awal sampai akhir.
Sekalipun sebuah film
atau buku menuai ulasan luar biasa di internet, selalu ada kemungkinan karya
tersebut tidak cocok dengan selera pribadi. Jadi sangat melegakan mengetahui kami berdua sama-sama
menyukainya. Secara pribadi, aku merasa sangat puas.
Meskipun secara umum aku
lebih menyukai buku dibanding media visual karena buku memberi ruang lebih luas
bagi imajinasi, film ini dieksekusi dengan sangat apik hingga aku menganggapnya
sebagai pengalaman yang sangat berharga. Siapa pun yang belum menontonnya jelas
melewatkan karya hebat. Aku harus merekomendasikannya pada Kazuki nanti—dan
juga menyisihkan sebagian uang gajiku untuk membeli novel aslinya.
Masih terhanyut dalam
sisa-sisa emosi seusai menonton, kami melangkah keluar dari teater. Kerumunan
penonton mulai menyebar ke area sekitar. Setelah terbiasa dengan pencahayaan
bioskop yang temaram, sinar matahari di luar terasa agak menyilaukan. Karena ruangan
teater tadi cukup hangat, hembusan udara luar yang segar terasa menyejukkan di
pipiku yang hangat.
"Jadi, apa rencana
kita selanjutnya? Ada tempat yang ingin kalian tuju?"
"Oh, ada satu tempat
yang ingin kukunjungi sebentar. Boleh kan?"
"Oh? Mau ke
mana?"
"Toko cokelat
yang baru buka belakangan ini."
"Ah, begitu
rupanya. Mau beli sesuatu untuk orang yang kau sukai, ya?"
Mai-san menyeringai
dengan ekspresi jahil. Sejujurnya, aku sudah lelah menanggapi reaksi semacam
itu.
"Iya, memangnya
kenapa?"
"Oh, tidak apa-apa
sama sekali. Aku sih setuju saja, tapi bagaimana denganmu,
Hiiragi-senpai?"
"...Aku juga tidak
keberatan, tapi apa itu rahasia atau semacam hadiah kejutan?"
"Bukan, cuma sekadar
tanda terima kasih atas semua bantuannya selama ini."
"Kalau begitu, tentu
saja boleh."
Apa dia punya alasan
tertentu saat menanyakan hal itu? Terlepas dari itu, karena dia tampak puas
dengan penjelasanku, kami pun melangkah menuju toko cokelat yang ia sebutkan.
"Kau ternyata suka
makanan manis juga, ya."
"...Sama saja seperti
orang pada umumnya."
Kupikir itu bukan hal yang
perlu disembunyikan, tetapi Hiiragi-san tampaknya berpikir lain. Pipinya
sedikit merona saat ia memalingkan pandangannya.
Mengikuti arahannya, kami
menuruni eskalator menuju lantai bawah tanah. Ini kali pertamaku mengunjungi
lantai ini, dan detak jantungku berpacu sedikit lebih cepat. Saat kami melangkah
turun, deretan toko yang memamerkan produk-produk andalan mereka langsung
menyambut pandanganku. Suasananya begitu semarak—mungkin terasa lebih memukau
karena aku tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Meski berada di bawah
tanah, areanya diterangi cahaya terang benderang, dengan cokelat dan kue-kue
cantik yang berjejer rapi di segala penjuru.
"Wah...!"
Jadi ini yang biasa
disebut orang sebagai depachika. Aku pernah melihatnya beberapa kali di
televisi, tetapi menyaksikannya secara langsung adalah pengalaman yang sama
sekali berbeda. Semua yang dipajang terlihat begitu lezat. Selagi aku masih
terpana, Mai-san menarik pelan lengan bajuku.
"Tanaka-senpai,
fokus dong. Kurasa toko yang kau cari ada di sebelah sana."
"Kau tahu dari
mana?"
"Jangan remehkan
kemampuan risetku. Aku sudah memetakan semua toko manisan di sini."
Sembari membusungkan
dadanya dengan bangga, ia memimpin jalan dengan penuh percaya diri. Sangat bisa
diandalkan. Terlepas dari kebiasaan jahilnya, aku tak bisa menahan rasa terima
kasih di momen seperti ini. Ia memandu kami melewati lorong-lorong yang padat
dengan lihai, dan tanpa kusadari, kami sudah tiba di depan toko.
"Tepat di sini,
kan?"
"Ah, iya, benar
tempat ini."
Nama toko itu cocok
dengan yang kulihat di internet, tertulis di salah satu pilar di belakang
gerai. Gadis ini benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Aku langsung mulai
melihat-lihat pilihan yang tersedia.
Etalasenya memamerkan
berbagai varian cokelat yang tersusun rapi dengan kemasan yang cantik. Nilai
jual unik dari toko ini adalah pembeli bisa memadupadankan rasa sesuka hati ke
dalam kotak kustom. Setiap potongnya memang terbilang cukup mahal, tetapi karena
ini adalah bentuk rasa terima kasihku, urung memberikannya sama sekali bukan
pilihan.
"Kau kelihatan
serius sekali."
Mai-san yang berdiri
di sampingku berkomentar saat melihatku meneliti setiap pilihan yang ada.
"Yah, begitulah. Aku ingin orang yang
menerimanya merasa sebahagia mungkin."
"Apa dia suka makanan
manis?"
"Kemungkinan besar
iya. Aku memang belum pernah bertanya langsung, tapi dia terlihat paling
bahagia waktu sedang makan sesuatu yang manis."
"Kau cukup jeli juga
ya memperhatikannya."
Senyuman Saito luar biasa
memikat—tanpa beban, lepas, dan begitu menghangatkan hati hingga aku sendiri
pun ikut merasa terangkat suasana hatinya. Itu adalah senyuman yang tak pernah
bosan kulihat dan selalu ingin kusaksikan lebih sering.
"Meskipun ini
sebagiannya adalah hadiah terima kasih, aku berbohong kalau bilang tidak ingin
melihat senyumannya."
"Fufufu, kau
benar-benar sudah terpikat ya, Tanaka-senpai? Tidak kusangka bakal melihatmu
jatuh hati sedalam ini."
"...Begitukah?"
"Kalau ini belum
dibilang jatuh hati, entah apa lagi namanya. Ini contoh kasus yang ada di buku
teks."
"Begitu ya..."
Tidak menyadarinya sendiri
membuat analisanya terdengar jauh lebih memalukan. Gelagapan, aku mengalihkan
fokusku kembali ke deretan cokelat yang tertata rapi. Aku sempat melihat
sekilas pantulan wajahku yang sedikit memerah di kaca etalase. Sementara itu,
Mai-san meletakkan satu tangannya di pinggang lalu menghela napas kecil.
"Dia beruntung sekali
disukai sampai segitunya. Mendengar perasaan yang begitu tulus pasti bakal
bikin siapa saja luluh. Benar kan, Hiiragi-senpai?"
"I-iya, kurasa
aku juga berpikir begitu."
Percakapan mereka
sayup-sayup terdengar di telingaku.
"Kalau orang yang
kau sukai mengatakan hal itu langsung kepadamu, bagaimana perasaanmu,
Hiiragi-senpai?"
"Y-yah, tentu saja
aku akan merasa senang, tapi juga pasti sangat malu."
"Kenapa malu?"
"Karena itu hal yang
tidak biasa ia katakan. Kalau dia mendadak mengungkapkan perasaan yang begitu
tulus, aku pasti bingung harus bagaimana. Rasanya bakal terlalu luar
biasa."
Penasaran dengan obrolan
mereka, aku mencuri pandang ke arah keduanya. Pipi Hiiragi-san tampak merona
merah seolah sedang membayangkan skenario itu secara nyata di kepalanya. Rasa
malunya membuat Mai-san mengerjapkan mata kaget.
"Eh, maksudku, ini
cuma pengandaian saja, tentu saja."
"Iya, iya, tentu.
Cuma pengandaian."
Tersadar kembali ke
kenyataan, Hiiragi-san berdeham pelan dan buru-buru memalingkan wajah, hanya
untuk secara canggung melakukan kontak mata denganku. Panik, ia kembali
membuang pandangannya dan terbatuk kecil.
"P-pokoknya jangan
hiraukan aku. Tanaka-san, kau sudah menentukan pilihan?"
"Iya, kurasa aku akan
memilih yang ini."
Setelah mempertimbangkan
harga dan variasi rasa, aku memilih paket delapan potong cokelat. Berdasarkan
rekomendasi varian paling populer, kupilih kombinasi warna-warni yang terlihat
menarik sekaligus beragam. Pramuniaga toko menawarkan pembungkusan kado gratis,
yang tentu saja kuterima dengan senang hati.
Kecepatan mereka
membungkus kotak itu sungguh mengesankan. Pasti karena sudah sangat terlatih,
jemari mereka bergerak cekatan, dan bingkisannya selesai dalam sekejap mata.
"Terima kasih sudah
menunggu. Apakah tampilannya sudah sesuai?"
"Iya, sudah
sempurna."
Cokelat-cokelat itu
dimasukkan ke dalam kantong belanja yang kokoh dan elegan. Kelihatannya hampir
terlalu mewah untuk barang seringan cokelat. Mengintip ke dalam, kupastikan
kotak kado yang terbungkus rapi itu persis seperti pesananku. Kemasannya yang begitu
teliti membuatku tersenyum tipis. Menyadari hal itu, Mai-san ikut melongokkan
kepala ke dalam kantongku.
"Kemasannya modis dan
bagus sekali. Aku yakin dia pasti menyukainya."
"Kuharap begitu. Tapi
aku tidak bisa menepis rasa khawatir kalau dia bakal curiga."
"Curiga? Soal apa?"
"Curiga kalau aku punya niat terselubung.
Dan, yah, sebenarnya memang ada."
Jika itu Saito yang dulu, dia kemungkinan besar
akan langsung meragukan niatku, bahkan mungkin menolak menerimanya
mentah-mentah. Namun melihat betapa proaktifnya dia belakangan ini, aku punya
sedikit harapan dia tidak akan menolaknya kali ini. Aku hanya bisa mendoakan
kebahagiaannya.
"Ah, jadi kau cuma ingin melihat
senyumannya. Sejujurnya, tidak ada yang salah dengan itu."
"Yah, yang paling kukhawatirkan adalah
apakah dia akan senang menerimanya atau tidak. Aku tidak terbiasa memberikan
hadiah seperti ini."
Minimnya pengalamanku dalam situasi semacam ini
menjadi batu sandungan. Sejujurnya, aku tidak terlalu percaya diri dengan
pilihanku. Dulu sebelum memiliki perasaan kepadanya, aku tidak akan ambil
pusing jika ditolak. Namun sekarang setelah
menyukainya, rasa cemas itu tak mau berhenti. Ditolak oleh orang yang kita
sukai pasti akan sangat menghancurkan hati. Kalau hal itu terjadi sekarang, aku
mungkin bakal menangis. Rasa cemas bergolak di dalam dadaku.
"Ditolak pasti
bakal jadi pukulan yang berat."
"Hal itu tidak
akan terjadi. Jangan khawatir," Hiiragi-san menyela, suaranya terdengar
tegas.
"Eh?"
Hiiragi-san yang
sedari tadi mendengarkan percakapanku dengan Mai-san berbicara dengan penuh
keyakinan.
"Dia tidak akan
menolaknya. Terlebih saat kau sudah memikirkan pilihannya begitu matang demi
dirinya. Dia pasti akan sangat menghargainya. Kalau aku jadi dia, aku tahu aku
pasti akan sangat bahagia."
"B-benarkah?"
"Iya. Jadi,
percayalah padaku dan berikan padanya dengan penuh percaya diri."
Tidak ada hal yang lebih
menenangkan selain kata-kata dari Hiiragi-san. Dia memiliki kemampuan luar
biasa untuk selalu tepat dalam urusan seperti ini. Jika dia bilang semuanya
akan baik-baik saja, maka semuanya pasti baik-baik saja. Perlahan-lahan, rasa percaya
diriku mulai bangkit.
"Terima kasih. Aku
akan berusaha sebaik mungkin untuk menyerahkannya."
Dia pasti akan senang.
Dengan harapan itu di dalam benak, aku membulatkan tekad untuk memberikannya
nanti. Setelah melangkah keluar toko dan menemukan tempat yang agak jauh dari
kerumunan, aku menghela napas lega.
"Terima kasih sudah
menemaniku belanja. Mau ke mana kita selanjutnya?"
"Oh! Aku mau pergi ke
kafe. Tanaka-senpai, traktir aku ya!"
"Permintaan yang
sangat berani, keluar begitu saja tanpa permisi."
"Ayolah, aku kan
adik tingkat yang manis. Bukankah itu membuatmu ingin memanjakanku?"
"...Manis? Siapa yang
manis?"
Kata-kata itu meluncur
begitu saja sebelum sempat kutahan. Tentu, secara objektif dia memang manis,
tetapi pada kenyataannya dia adalah adik tingkat menyebalkan yang menghabiskan
hari-harinya untuk menjahili aku dan Hiiragi-san. Sejujurnya, kalau mau adil,
dialah yang berutang kompensasi padaku atas semua keisengannya selama ini.
Mai-san mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk.
"Ayolah, manjakan aku
sedikit saja!"
"Wah, sangat
blak-blakan sekali."
Gagasan untuk
"memanjakan" Mai-san membuatku waswas. Apa dia seberani ini juga di
sekolahnya? Membayangkan dia mempermainkan anak laki-laki lain dengan mudahnya
membuat bulu kudukku merinding. Mengenal tabiatnya, hal itu terasa sangat
mungkin terjadi. Bayangan dirinya mempermainkan hati polos anak-anak SMP muncul
begitu mudah di kepalaku. Dia pasti menyadari kegelisahanku karena ia lekas
tersenyum manis sembari mengibaskan tangannya santai.
"Oh, jangan khawatir!
Di sekolah aku ini gadis yang anggun dan santun, tahu. Cuma padamu saja aku
minta dimanja begini."
"Aku tidak yakin
merasa tersanjung dengan 'perlakuan istimewa' ini. Aku lebih memilih diberi
buku daripada perhatian semacam ini—terutama buku hardcover baru."
"Kau ini
benar-benar tidak tertolong! Baiklah, aku batalkan minta ditraktir. Tapi ayo kita
tetap ke kafe itu. Mereka sedang mengadakan festival stroberi edisi
terbatas!"
"Festival
stroberi?"
Hal itu tidak terlalu
menarik minatku, tetapi mata Hiiragi-san seketika berbinar tipis, dan suaranya
terdengar naik penuh antusias. Ya, dia jelas-jelas sangat menyukai makanan
manis.
"Iya! Ada parfait,
kue, minuman, dan bahkan es krim rasa stroberi. Ayo kita ke sana!"
"A-aku mau sekali!
Ayo kita ke sana!"
Poninya yang biasanya
menutupi sebagian wajah tak sanggup menyembunyikan binar di matanya. Stroberi
sepertinya memang makanan favoritnya.
"Tanaka-san, apa kau
tidak keberatan?"
"Iya, tidak
apa-apa."
Melihat ekspresi wajahnya
yang begitu penuh harap, mustahil bagiku untuk menolak. Saat aku mengangguk,
wajahnya tampak makin berseri-seri.
Dipandu oleh Mai-san, kami
menaiki eskalator ke lantai atas. Kafenya terletak di lantai sepuluh gedung ini.
Eskalator cukup padat tetapi masih bisa diatur. Berdiri di belakang Mai-san dan
Hiiragi-san, aku memperhatikan mereka yang sedang asyik mengobrol tentang
hidangan penutup yang ingin mereka cicipi. Rumor bahwa perempuan sangat menyukai manisan tampaknya
memang benar adanya. Pengetahuan Kazuki yang biasanya terasa tidak penting
ternyata kali ini akurat.
Tenggelam dalam lamunan,
aku nyaris tidak menyadari kami sudah mencapai lantai delapan. Tinggal dua
lantai lagi. Namun lantai sembilan adalah lantai yang berbahaya. Saat eskalator
bergerak naik, pemandangan yang menggoda iman pun terbentang di depan mata.
Rak-rak buku menutupi
seluruh lantai itu, dari ujung dinding ke ujung dinding lainnya. Itu adalah
toko buku terbesar di kota ini, dan area pintu masuknya memajang deretan
buku-buku rilis terbaru. Oh, yang itu kelihatan menarik.
Untuk sesaat, kakiku
tanpa sadar bergerak melangkah menuju etalase buku-buku baru itu. Tepat saat itu, aku
teringat peringatan dari Kazuki dan Saito lalu menghentikan langkahku tepat
pada waktunya. Nyaris saja. Aku hampir berjalan masuk ke dalam toko buku tanpa
sadar. Peringatan mereka ternyata sangat berguna. Aku buru-buru kembali ke eskalator.
Begitu kembali menaiki
eskalator, yang bisa kulakukan hanyalah membiarkannya membawaku naik. Aku
melirik ke balik pundak menatap toko buku yang kian menjauh dengan sekelumit
rasa sesal. Rak-rak berisi buku baru itu sudah berada begitu jauh. Ugh,
perpisahan ini sungguh menyayat hati. Dalam hati aku melambaikan tangan tanda
selamat tinggal, berjanji akan kembali lagi nanti.
Di lantai sepuluh,
berbagai restoran dan tempat makan berjejer di sepanjang area. Papan petunjuk
di dekat eskalator menampilkan pilihan mulai dari kuliner Jepang, Barat, hingga
hidangan khas Tiongkok. Mai-san mengamati peta itu dengan cermat, matanya menyusuri
ke sana kemari sebelum akhirnya terpaku di satu titik.
"Ah, ketemu!
Tempatnya di sebelah sini."
Ia memimpin jalan dengan
penuh percaya diri. Terlepas dari sifat usilnya, aku mendapatinya sangat bisa
diandalkan di momen-momen seperti ini. Aku tidak terbiasa dengan tempat-tempat
modis atau kekinian, jadi suasana semacam ini membuatku merasa agak canggung.
Aku mengikutinya menuju tujuan kami—sebuah kafe dengan papan di dekat pintu
masuk bertuliskan, "Festival Stroberi Resmi Dibuka!" Rincian di papan
tersebut memuat foto-foto parfait dan kue yang tak diragukan lagi
terlihat sangat menggugah selera. Di sampingku, Hiiragi-san menatap papan nama
itu dengan rasa antusias layaknya anak kecil.
Saat melangkah masuk, kami
disambut oleh seorang pelayan wanita berseragam manis. Tampilannya sangat
kontras dengan seragam di tempat kerja paruh waktuku.
"Selamat datang!
Meja untuk tiga orang?"
Di bagian dalam, kafe
itu hampir dipenuhi oleh pelanggan wanita. Sebagian besar tampaknya datang demi
festival stroberi, menikmati aneka hidangan penutup bertema stroberi.
Sedikitnya pelanggan pria membuatku merasa agak salah tempat. Pria lain yang
kulihat tampaknya hanya datang untuk menemani pacar mereka. Apa tidak apa-apa
aku berada di sini? Tentu saja aku tidak akan diusir keluar... kan?
Bahkan setelah duduk,
aku tak bisa mengenyahkan rasa gugupku. Melihat gelagatku, Mai-san terkekeh
pelan, bahunya berguncang geli.
"Tidak perlu
tegang begitu. Kau tidak terbiasa dengan tempat seperti ini ya?"
"Bukan cuma itu—aku
merasa salah tempat. Apa cowok sepertiku pantas berada di sini?"
"Wah, kupikir kau
bakal santai saja di tempat seperti ini, tapi ternyata tidak sama sekali!
Tenang saja; tidak ada yang bakal melaporkanmu ke pihak berwajib, kok."
Aku tahu penampilanku
mungkin memberi kesan yang salah, tapi aku jauh dari kata modis. Sejujurnya,
aku lebih memilih bersantai dengan pakaian rumah yang nyaman di bawah kotatsu.
Mai-san membuka buku menu
di atas meja, memperlihatkan halaman-halaman penuh hidangan penutup warna-warni
dan mewah yang jelas-jelas ditujukan untuk menarik minat pelanggan wanita.
"Waktu datang bersama
teman-temanku tempo hari, aku memesan parfait cokelat biasa, dan rasanya
enak sekali."
"Melihatnya seperti
ini, pilihan yang bukan stroberi pun terlihat sangat lezat. Jadi sulit
menentukan pilihan."
Hiiragi-san menatap menu
itu dengan lekat, ekspresi wajahnya luar biasa serius. Ia membolak-balik
halaman berkali-kali, melirik ke sana kemari. Itu adalah pemandangan yang
menggelikan sekaligus sangat menyenangkan untuk ditonton. Setelah berpikir
cukup panjang, ia akhirnya mendongak.
"Aku sudah
memutuskan. Karena ini momen spesial, aku akan memesan parfait stroberi
edisi terbatas."
Parfait yang ia tunjuk, bahkan di
foto menunya saja, terlihat sangat besar. Memakan porsi sebanyak itu bisa-bisa
membuat perut mulas.
"Bagaimana denganmu,
Tanaka-senpai? Sudah memutuskan?"
"Aku pesan kue
cokelat saja."
Mai-san sudah memilih kue
stroberi edisi terbatas, jadi kupanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami.
Meski tampak sibuk, pelayan mencatat pesanan kami dengan sikap yang sangat
ramah. Begitu pelayan beranjak pergi, Mai-san bangkit berdiri.
"Aku mau ambil
air minum dulu."
Ia melangkah menuju
dispenser air yang bentuknya menyerupai toples kaca terbalik. Ia menuangkan air
ke dalam gelas dengan hati-hati lalu kembali ke meja kami, membawa tiga gelas
air di atas nampan. Di luar dugaan sangat
perhatian. Ia meletakkan segelas air di hadapan kami masing-masing.
"Kenapa wajahmu pucat
seperti melihat hantu begitu?"
"Tidak, aku cuma
kaget kau bisa bersikap perhatian untuk sekali ini."
"Tidak sopan sekali!
Di sekolah, aku ini terkenal dengan julukan Mai-chan yang Penuh Perhatian,
tahu?"
"Bukan julukan
yang terdengar keren."
"A-apa yang salah
dengan julukan itu?!"
Mungkin dia sendiri pun
merasa julukan itu tidak keren karena pipinya sedikit merona merah. Ia meraih
gelasnya lalu meneguk airnya sampai habis dalam satu kali tegukan.
"Ups, punyaku
habis. Aku ambil lagi ya."
Ia bangkit berdiri
lagi dan melangkah kembali ke dispenser. Untuk orang yang banyak tingkah, dia
benar-benar tidak bisa diam. Aku menyesap air yang ia bawakan tadi.
"...!?"
Aroma buah-buahan
langsung memenuhi rongga mulutku. Rasanya tidak manis, tetapi aromanya di luar
dugaan sangat menyegarkan. Kukira ini cuma air putih biasa, tapi ternyata air di
sini pun diberi sentuhan yang elegan. Tren kekinian memang tidak pernah
berhenti membuatku takjub. Menyadari reaksiku, Hiiragi-san memiringkan
kepalanya bingung.
"Ada apa?"
"Coba cicipi airnya."
Tampak heran, ia menyesap
airnya sedikit, dan matanya seketika membelalak.
"Eh? Rasanya unik.
Air apa ini?"
Rupanya dia pun tidak
tahu. Ia menatap ke dalam gelasnya, memutar-mutar air di dalamnya seolah sedang
memeriksa kandungannya sebelum menyesapnya lagi, dan kembali dibuat terkejut.
"Kalian berdua sedang
apa?"
Tanpa disadari, Mai-san
sudah kembali, meletakkan gelasnya di atas meja sambil memandangi kami
bergantian.
"Air ini... bukan air putih biasa."
"Oh, itu. Itu namanya fruit water. Sedang jadi tren
akhir-akhir ini."
"Fruit water?"
"Iya. Kau tinggal
merendam potongan buah di dalam air selama sekitar sehari, nanti airnya bakal
menyerap aroma dan rasanya."
Aku sama sekali tidak tahu
hal semacam itu ada. Menyesapnya sekali lagi, aku mendapati diriku mulai
menikmati minuman tak terduga ini.
Mengingat kafe ini sangat
padat, kukira pesanan kami akan butuh waktu lama untuk tiba, tetapi secara
mengejutkan hidangan kami datang dengan sangat cepat. Seorang pelayan dengan
lihai menyeimbangkan nampan dan meletakkan pesanan di hadapan kami.
"Terima kasih sudah
menunggu."
Deretan hidangan
penutup yang semarak terbentang di depan kami tampak sangat memukau.
Masing-masing dihias dengan begitu cantik dan meninggalkan kesan yang kuat. Parfait
milik Hiiragi-san, khususnya, jauh lebih besar dari yang kubayangkan, tingginya
hampir mencapai dagunya. Matanya membelalak takjub.
"Wah, besar
sekali!"
"Hiiragi-senpai,
kurasa parfait-mu pasti dibuat ekstra spesial karena ini edisi terbatas.
Parfait cokelat yang kupesan kemarin tidak sebesar ini."
"Fufufu,
kelihatannya sangat memuaskan dan lezat."
Ia sama sekali tidak
tampak gentar melihat ukurannya. Sambil tersenyum, ia langsung menyendok suapan
pertamanya.
"Mmm, lezat
sekali."
Ia menyantapnya dengan
bahagia, sikap seriusnya yang biasa tergantikan oleh aura lembut yang penuh
kepuasan. Pemandangan yang luar biasa menyenangkan. Mungkin lain kali kalau dia
marah padaku, aku bisa menyuapnya dengan sesuatu yang manis. B-bukan berarti
aku berniat menyuapnya sungguhan, tentu saja. Mai-san dan aku juga mulai
menikmati pesanan kami masing-masing.
"Tempat ini
benar-benar menyenangkan, ya."
"Iya, aku juga
menyukainya."
"Katanya ini
tempat yang sangat cocok untuk kencan. Lain kali, aku ingin datang ke sini
bersama orang yang kusukai."
"Iya...
mungkin."
Gerakan Hiiragi-san
terhenti, sendoknya melayang di udara, dan ia menyunggingkan senyum tipis yang
ambigu.
"Hiiragi-senpai,
ada tempat yang ingin kau kunjungi bersama orang yang kau sukai?"
"A-aku? Itu... sulit dijawab mendadak
begini."
Pertanyaan itu terasa terlalu tiba-tiba baginya
untuk bisa memikirkan jawaban, dan ia tampak tenggelam dalam lamunan. Menyadari
kebingungannya, Mai-san lekas turun tangan membantunya.
"Kalau tidak bisa memikirkan tempatnya,
bagaimana kalau hal yang ingin kau lakukan bersamanya saja? Atau mungkin
sesuatu yang ingin kau dapatkan darinya?"
"Yah..."
Reaksinya mirip, tetapi kali ini sepertinya ia
punya sesuatu di dalam kepalanya. Pipinya sedikit merona selagi ia tampak
ragu-ragu.
"Aku juga ingin mendengarnya."
"Yah... sebenarnya ada banyak hal yang
ingin kulakukan."
Ia melirikku sekilas sebelum memalingkan
pandangan, matanya tertunduk selagi bergumam pelan.
"Seperti dielus
kepalanya... atau mengelus kepala mereka."
"Begitu ya, begitu
ya. Dielus kepala memang menyenangkan."
Mai-san mengangguk
antusias, jelas sangat menyetujui pemikiran itu.
"Dan mungkin...
bergandengan tangan, kalau memungkinkan."
"Pilihan bagus. Ada
hal lain lagi?"
"A-apa lagi!?"
Suara Hiiragi-san tercekat
saat berbicara, dan ia lekas menundukkan kepalanya dalam-dalam, telinganya
memerah padam.
"Berpelukan... dan
mungkin, kalau bisa, ciuman..."
Suaranya begitu lirih
hingga nyaris tak terdengar, tetapi aku berhasil menangkapnya. Rupanya begitu pula
dengan Mai-san, yang langsung menyeringai jahil.
"Hehehe,
Hiiragi-senpai, kau ternyata berani juga ya."
"I-itu hal yang
sangat wajar!"
Merasa malu setengah
mati, Hiiragi-san kembali menyantap parfait-nya untuk menutupi rasa
salah tingkahnya. Pipinya masih bersemu merah, dan ia terus menjejalkan parfait
ke mulutnya seolah ingin menenggelamkan rasa malunya di sana.
Merasa puas telah menggoda
Hiiragi-san, Mai-san mengalihkan perhatiannya ke kuenya. Setelah beberapa
suapan dan seteguk air, ia menoleh kembali menatapku.
"Tanaka-senpai,
selain kunjungan ke kuil waktu Tahun Baru kemarin, apa kau pernah pergi ke
suatu tempat berdua dengannya?"
"Tidak juga. Kami
cuma sempat mampir ke kedai es krim waktu perjalanan pulang sekali,
kurasa."
"Sayang
sekali."
Mai-san tampak kurang
terkesan, tapi bukan berarti aku bisa berbuat banyak. Hubungan kami berawal dari situasi saling membutuhkan,
bukan karena keakraban atau rasa suka. Kami memang semakin dekat seiring
berjalannya waktu, tetapi aku ini tipe anak rumahan, dan aku baru menyadari
perasaanku belakangan ini. Tidak pernah ada kesempatan untuk pergi keluar
bersama. Lagipula, terlihat berduaan dengan Saito pasti akan langsung memicu
rumor. Kalau ingin privasi, kami harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
"Lalu, ada tempat
yang ingin kau kunjungi bersamanya?"
"Oh, aku juga ingin
tahu soal itu."
Bahkan Hiiragi-san ikut
bergabung ke dalam percakapan, meletakkan sendoknya dan mencondongkan badan
dengan rasa penasaran yang tulus. Antusiasmenya hampir terasa luar biasa
mendesak.
"Tempat yang ingin
kukunjungi, ya..."
"Tempat mana saja
boleh!"
Hiiragi-san mencondongkan
badannya makin dekat, intensitas sikapnya mendorongku untuk mengumpulkan
keberanian dan mengungkapkan isi pikiranku.
"...Mungkin akuarium
atau taman hiburan. Tempat-tempat yang biasa dikunjungi pasangan."
"K-kau ternyata punya
ketertarikan pada tempat-tempat semacam itu, ya."
"Dulu aku sama sekali
tidak tertarik, tapi kalau perginya bersama orang yang kusukai, yah, aku ingin
sekali ke sana."
"B-begitu
rupanya..."
Hiiragi-san sedikit
menundukkan wajahnya, dan kulihat tubuhnya tampak bergoyang pelan, seolah
sedang berusaha menahan gejolak emosinya.
"Yah, tempat-tempat
itu memang ingin kukunjungi karena penasaran, tapi sejujurnya, pergi ke mana
saja pasti bakal menyenangkan kalau bersama orang yang kusukai."
"Ke mana saja?"
"Bisa bersama orang
yang kusukai saja sudah sangat menenangkan, dan sekadar mengobrol sedikit saja
sudah membuatku bahagia. Meski aku tidak akan pernah mengatakannya langsung
padanya, setiap gestur dan reaksinya itu sangat menggemaskan."
"M-menggemaskan?"
"Iya. Seperti saat
dia mematung dengan tatapan kosong, atau saat dia kaget, atau bahkan saat dia
sedang keras kepala. Segala hal tentangnya itu menggemaskan."
"Jadi hal-hal itu
yang kau sukai darinya..."
Hiiragi-san memalingkan
wajahnya sedikit dariku, memilin untaian rambutnya dengan jari. Saat aku
menambahkan, "Masih ada lagi," gerakannya terhenti.
"Masih ada?"
"Iya. Meskipun dia
terlihat sempurna dan selalu tenang di depan orang lain, dia bisa bersikap
ceroboh dan lengah di depanku tanpa terduga. Menurutku momen-momen tulus dan
tanpa kepura-puraan darinya itu sangat luar biasa. Karena itulah bisa berada di
sampingnya saja sudah lebih dari cukup buatku."
Begitu mulai berbicara,
aku tidak bisa menghentikannya. Aku akhirnya membeberkan lebih banyak dari yang
kuniatkan. Namun semuanya murni kenyataan. Sejak menyadari perasaanku pada
Saito, semakin banyak aku mengobrol dengannya, semakin aku terpikat olehnya.
Rasanya hampir menakutkan melihat betapa banyak aku telah berubah.
Segala hal tentang Saito
terlihat manis di mataku. Akhir-akhir ini, bahkan tatapan tajamnya yang pasrah
pun terasa begitu menggemaskan. Bukannya aku mengembangkan kecenderungan yang
aneh-aneh atau bagaimana.
Aku tersadar bahwa aku
mungkin sudah berbicara terlalu banyak, dan benar saja, Mai-san terlihat luar
biasa girang.
"Serius deh,
Tanaka-senpai, itu sudah terlalu berlebihan memujanya! Seberapa besar sih rasa
sukamu padanya? Bahkan aku yang mendengarnya saja sampai ikut malu."
"A-aku setuju.
Tolonglah, tahan dirimu sedikit."
Bahkan wajah Hiiragi-san pun sudah memerah
padam. Namun terlepas dari protesnya, senyuman tipis di bibirnya mengisyaratkan
bahwa ia sama sekali tidak merasa terganggu. Ia menyuap sesendok parfait-nya,
mungkin berusaha mendinginkan pipinya yang merona panas.
"Maaf, kurasa aku
tadi terlalu terbawa suasana."
"T-tidak, bukan
apa-apa. Aku jadi paham sekarang betapa kau sangat peduli padanya. Tolong,
ceritakan lebih banyak lagi lain kali."
Meskipun pipinya masih
mempertahankan semburat merah muda yang manis, Hiiragi-san tersenyum hangat.
Dia tampaknya tidak keberatan sama sekali, jadi jika ada kesempatan lagi nanti,
aku tidak keberatan untuk menceritakannya kembali.


Post a Comment