Chapter 8
Tanaka yang Tampan
"Fwaaah..."
Pagi hari Senin selalu melelahkan. Meskipun berhasil tiba di kelas, aku merasa sangat mengantuk hingga rasanya aku bisa mati. Satu kuapan lagi lolos dari bibirku.
"Selamat pagi, Minato!"
"Oh, pagi."
Meskipun aku nyaris tidak berfungsi dengan benar, orang paling menyebalkan di muka bumi ini datang menghampiriku. Sekilas saja sudah kelihatan bahwa dia jauh lebih ceria dari biasanya, praktis memancarkan energi berlebih.
"Sudah kukatakan lewat pesan, tapi terima kasih sekali lagi ya. Kau benar-benar menyelamatkanku."
"Tidak perlu dipikirkan. Bukan apa-apa, kok."
"Bukan apa-apa katamu! Kalau bukan karenanya, situasinya pasti bakal berantakan total."
"Ayolah. Kalau kalian memang bisa berbaikan semudah itu, lama-kelamaan kalian pasti bakal balikan sendiri."
"Tapi fakta bahwa kaulah yang membuat itu terjadi sekaranglah yang penting! Aku berhutang budi padamu. Aku akan melakukan apa saja yang kau mau—sebutkan saja."
"Kalau begitu biarkan aku tidur. Aku lelah setengah mati."
Menghadapi energi hiperaktif Kazuki dalam keadaan kurang tidur adalah penderitaan murni. Suaranya bergema menyakitkan di dalam kepalaku.
"Tapi kemarin kan hari Minggu. Kenapa kau bisa sesadis itu capeknya?"
"Karena hari Sabtu adalah siksaan seharian penuh, kau lupa?"
"Iya, aku ingat."
"Aku tidak bisa membaca sama sekali, dan gejala kekurangan buku-ku kambuh parah. Makanya kemarin aku membaca buku maraton gila-gilaan, dan tahu-tahu hari sudah berganti hari ini."
"Kekurangan? Kau ini bodoh ya?"
Kazuki menghela napas pasrah. Tapi bukan berarti aku bisa mengendalikannya. Aku cuma ingin membaca—hanya itu saja. Aku tidak bersalah di sini.
"Mengingat aku sudah bersusah payah merapikan semuanya buatmu hari Sabtu kemarin, hargailah itu baik-baik."
"Tentu saja!"
"Kalau sampai kau mengacaukan ini, Rena bakal memburumu."
Kulirik ke samping, dan benar saja, mata Saito memancarkan kilatan mengancam, seolah dia mendengar percakapan kami.
"Serem banget!"
"Kalau begitu, hadapi dengan serius. Dia sempat sedikit cemas kalau-kalau kau bakal terburu-buru bertindak gegabah."
"Hah?"
"Waktu pawai malam itu, kau mendadak menggandeng tangannya begitu saja."
"Kau lihat itu!?"
Kazuki mundur kaget. Rupanya dia tidak menyadari kalau aku sempat mengawasi mereka.
"Aku kebetulan sedang berada di seberang jalan, dan Rena yang pertama kali melihatmu. Awalnya kami cuma merasa adegan kalian mengobrol riang itu manis, tapi tiba-tiba kalian bergandengan tangan. Itu mengejutkan."
"Yah, um... kami kebetulan terbawa suasananya, tahu?"
"Kau tidak tahu betapa susahnya perjuanganku cuma buat bergandengan tangan. Dan kau malah melakukannya dengan begitu santai."
"Mungkin itu karena kau memang payah dalam urusan begitu…?"
"Mau mengejekku? Jangan mulai ya. Aku cuma bersikap hati-hati."
Kazuki menggaruk belakang kepalanya, tampak salah tingkah, tetapi hal itu justru menyebalkan. Waktu itu aku harus bersusah payah menimbang setiap hal kecil karena tidak ingin mengacaukannya.
"Jadi, apa yang kalian berdua lakukan setelah kami pergi?"
"Awalnya, kencan menguntit."
"Tunggu, menguntit!?"
Suara Kazuki melengking kaget, kesadaran akhirnya menampar benaknya.
"Kami membuntuti kalian berdua."
"Tidak mungkin… Aku sama sekali tidak sadar. Kukira kalian bakal datang menolong kalau kami panggil."
"Kami melihat kalian berdua tampak canggung berusaha saling mencari."
"Kalian bahkan melihat itu!?"
"Kalian kelihatan panik banget. Tontonan yang luar biasa."
Aku jadi sedikit berharap sempat merekam reaksinya waktu itu. Kazuki jarang sekali bisa dibuat panik, jadi melihatnya segelisah itu adalah hiburan yang langka.
"Ditinggal berdua saja begini ternyata membuatku tegang setengah mati! Terutama dengan seseorang yang punya sejarah canggung denganku pula."
"Itu idenya Rena."
"Dia kejam sekali! Aku sampai mendebat selama tiga menit penuh di kepalaku sendiri cuma buat memutuskan apakah harus bicara padanya atau tidak."
"Aku ingat kau sempat melangkah maju, lalu mundur lagi. Berulang-ulang begitu."
"Berhenti! Lupakan kejadian itu!"
"Mana bisa."
Ini adalah kesempatan emas untuk menjahilinya, dan aku tidak akan melepaskannya.
Dibandingkan dengan seluruh waktu dia menjahiliku selama ini, ini tidak ada apa-apanya.
Aku terus menggodanya, menikmati momen langka melihat Kazuki tersipu malu.
***
Jam istirahat makan siang. Kejadian itu terjadi begitu mendadak. Salah seorang anak cowok di kelas berjalan menghampiri mejaku lalu menyodorkan ponselnya.
"Hei, hei, bukankah ini Tanaka?"
Di layar ponsel itu terpampang foto yang diambil di taman bermain hari Sabtu lalu. Foto itu dengan jelas memperlihatkan diriku mengenakan bando telinga anjing yang terkulai, bergandengan tangan dengan Saito yang memakai bando telinga kucing.
"…Dapat dari mana foto ini?"
"Ada anak Kelas A yang pergi ke taman bermain dan melihat Saito. Dia mengambil fotonya lalu membagikannya ke grup. Itu kan kau yang di sebelah kanannya?"
Sekelompok kecil teman sekelas berdiri di belakangnya, menatapku lekat-lekat. Berbagai pasang mata yang penuh rasa penasaran itu membuatku sangat tidak nyaman hingga tenggorokanku terasa kering.
Dengan foto sejelas itu, mustahil bagiku menyangkalnya. Aku mengangguk pelan.
"Serius!? Sudah kuduga!"
Ruangan kelas seketika meledak oleh suara riuh obrolan. Orang-orang yang mengerumuniku saling bertukar pandang, berbisik-bisik satu sama lain.
Kemudian, dari sudut lain ruangan itu, keributan serupa meledak. Pekikan girang dan suara celoteh nyaring menyebar di antara para siswi.
Melirik ke sana, kulihat Saito menjadi pusat perhatian mereka. Dia menyadari keberadaanku, begitu pula orang-orang di sekitarnya.
(Jadi, begitulah kenyataannya.)
Sudah sangat jelas—Saito juga telah tertangkap basah. Sekarang seluruh isi kelas sudah tahu. Setiap pasang mata di ruangan itu menatap tajam ke arahku.
"Bergandengan tangan itu artinya pacaran, kan?"
"Yah… secara teknis, memang begitu."
Suara dengungan kelas makin nyaring. Tekstur udara yang menyesakkan ini membuat kepalaku pusing. Mereka semua pasti berpikir aku tidak sepadan untuk bersanding dengannya.
"Sekarang kita harus bagaimana?" pikirku. Aku tahu hari ini pasti akan tiba, tetapi aku tidak menyangka dampaknya bakal seheboh ini.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Kalian ketemu di mana?"
"Siapa yang nembak duluan?"
"Waktu ke kuil Tahun Baru itu kalian pergi bareng Tanaka juga?"
"Saito orangnya seperti apa sih kalau kalian sedang berduaan saja?"
Pertanyaan-pertanyaan menghujani diriku, tanpa henti dan menyebalkan. Kenapa mereka begitu penasaran?
Rasa ingin tahu mereka yang tidak penting itu menumpuk bak gunung, membuatku kesulitan bernapas.
Tiba-tiba, suara Kazuki yang jernih dan ceria memotong kebisingan tersebut.
"Hei, hei, jangan tinggalkan aku! Kalau kalian mau tanya-tanya, aku juga punya berita. Aku baru saja dapat pacar sehari sebelum kemarin!"
Kazuki melangkah maju, berdiri di hadapanku, tersenyum lebar ke arah semua orang. Caranya bekerja dengan sangat efektif, mengalihkan sebagian besar perhatian dariku.
"Mana mungkin! Kazuki? Kau kan selalu bilang tidak akan pernah pacaran!"
"Iya, jadi kebetulan aku berakhir berkencan dengan seseorang yang kusukai waktu SMP dulu."
"Serius?"
"Beneran. Biasanya sih canggung mau cerita bagaimana awalnya, tapi akan kubongkar semuanya. Biarkan aku pamer sedikit."
Kazuki merangkul pundak salah satu anak cowok lalu memimpin rombongan kecil itu ke bagian belakang kelas. Sebelum aku sempat menyadarinya, kerumunan orang di sekitarku sudah bubar.
Berkat Kazuki, kekacauan saat jam makan siang akhirnya mereda. Namun, insiden itu telanjur memicu kehebohan yang cukup besar hingga menyebarkan rumor, dan keesokan harinya, berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Beberapa anak cowok berkomentar: "Mustahil. Aku yakin seratus persen Saito tidak akan pernah mau punya pacar." Yang lain menggerutu: "Tunggu, pacarnya itu Tanaka? Maksudku, siapa sih sebenarnya cowok itu?" "Parah sih. Jujur saja, kurasa aku masih jauh lebih baik darinya."
Sementara itu, para siswi dari kelas lain berbisik-bisik: "Kudengar Saito berpacaran dengan cowok bernama Tanaka." "Apa?! Cowok suram yang kerjanya membaca buku melulu itu? Standar Saito ternyata aneh juga ya." "Kupikir Saito memang tidak punya selera terhadap pria," adalah komentar yang kudengar lebih dari sekali.
Secara individu, celetukan-celetukan itu mungkin bukan masalah besar, tetapi saat ditumpuk seperti ini, rasanya benar-benar tak tertanggung. Aku bahkan tidak bisa fokus membaca buku lagi.
Membaca buku di sekolah yang tadinya selalu menjadi sumber kesenanganku kini tidak bisa kulakukan lagi. Rasanya pilihan yang tersisa hanyalah rumah Saito atau rumahku sendiri.
***
"Maaf ya, Minato-kun. Kau jadi terkena banyak masalah gara-gara aku."
Begitu tiba di rumah Saito, ia menundukkan kepalanya meminta maaf. Alisnya berkerut sedih, ekspresinya terlihat begitu murung.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Rena. Orang-orang yang menyebarkan gosip jelek itulah yang salah."
"Memang benar, tapi..."
"Serius, jangan dipikirkan. Aku sama sekali tidak terganggu oleh rumor-rumor itu."
Dan sejujurnya, aku memang tidak peduli. Apa kata orang tentang diriku bukanlah urusanku. Aku tidak berubah menjadi orang lain hanya karena orang-orang mulai bergosip. Satu-satunya hal yang membuatku kesal adalah bahwa semua perhatian itu membuatku tidak mungkin bisa membaca buku dengan tenang.
"Apa itu tidak mengganggumu? Mendengar hal-hal separah itu?"
"Tidak juga. Tapi aku sebal waktu mereka mengatakan hal-hal buruk tentangmu."
"Aku baik-baik saja. Aku justru lebih kesal karena kau yang jadi sasaran empuk."
"Kelihatannya kita berdua sedang berada di perahu yang sama."
Menyadari Saito mengkhawatirkanku saja sudah lebih dari cukup. Realisasi bahwa dia merasakan hal yang sama sepertiku membuatku tersenyum.
"Kuharap rumor-rumor ini segera mereda."
"Sepertinya hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Gosip semacam ini adalah bahan empuk bagi para pencinta rumor. Ditambah lagi, kita adalah pasangan yang tidak biasa—hal itu makin membuat kita mencolok."
"Jangan sebut kita 'tidak biasa'. Bagiku, kau adalah cowok paling keren di dunia ini, Minato-kun."
"Uhm... terima kasih, kurasa."
Mendengarnya mengatakannya secara terang-terangan membuatku salah tingkah. Tatapannya begitu mantap hingga membuatku merasa gelisah dan salah tingkah, menggaruk pipiku.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kupikir kita cuma tinggal menunggu sampai rumornya mereda sendiri."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa. Aku tidak peduli pada apa kata orang. Aku memang benar-benar cuma cowok suram biasa yang sangat mencintai buku."
"Tetap saja aku merasa sedih waktu mereka mengatakan hal-hal seperti itu."
Ia menghela napas dalam-dalam, pundaknya merosot lemas. Pemandangan ekspresinya yang sedih itu membuat hatiku ikut ngilu. Tak peduli sebanyak apa pun aku memintanya untuk tidak cemas, ekspresi Saito tetap diselimuti awan kelabu.
***
(Hah...)
Berjalan pulang setelah meninggalkan rumah Saito, aku tidak bisa melepaskan bayangan wajah sedihnya dari kepalaku.
Semakin kupikirkan, hatiku makin terasa berat. Aku tidak bisa begitu saja membiarkan keadaannya terus seperti ini.
Aku sebenarnya bisa saja menunggu sampai rumor-rumor itu mereda secara alami, tetapi jika hal itu membuat Saito tidak bahagia, maka opsi itu gugur. Hal yang paling utama adalah melihatnya tersenyum kembali. Aku sangat menyukai senyumannya. Itulah alasan pertama kenapa aku jatuh hati padanya.
(Sepertinya aku harus melakukan sesuatu soal ini.)
Rumor itu bermula dari orang-orang yang bilang bahwa kami adalah pasangan yang tidak serasi. Jika masalahnya itu, maka hanya ada satu cara untuk membungkam mereka. Memantapkan tekad yang baru di dalam dada, aku melangkah pulang.
***
Sudut Pandang Saito
Semuanya bermula sejak hari Senin itu. Aku merasa sangat bahagia setelah melihat Mai-chan dan yang lchinose berbaikan, tetapi kemudian hal itu terjadi. Salah seorang siswi di kelas memperlihatkan sebuah foto padaku. Itu adalah potret diriku dan Minato-kun yang sedang bergandengan tangan berjalan di taman bermain—kemungkinan besar diambil saat kami ke sana.
Jika dipikir-pikir lagi, waktu itu aku mungkin sedang berada di puncak kebahagiaan. Kegembiraan menghabiskan waktu bersama Minato-kun dan kepuasan karena berhasil membantu Mai-chan beserta pasangannya membuatku kehilangan kewaspadaan yang biasa. Biasanya aku selalu memastikan tidak ada teman sekelas yang melihat, tetapi hari itu aku benar-benar lupa. Pantas saja kami tertangkap basah.
Seharusnya aku ingat bahwa Minato-kun sangat membenci menjadi pusat perhatian. Dia selalu duduk tenang di sudut ruang kelas, membaca buku. Aku jarang melihatnya mengobrol dengan siapa pun. Waktu kutanya alasannya dulu, dia bilang, "Aku lebih baik menghabiskan waktu itu untuk membaca buku." Gosip mendarah daging seperti ini pasti sangat menyiksa bagi orang sepertinya.
Keesokan harinya, rumor tentang kami menyebar seperti api yang membakar semak belukar. Tentu saja, tidak ada satu pun dari gosip itu yang bernada positif. Sebagian besar komentar yang ditujukan padaku atau Minato-kun sangatlah tidak menyenangkan.
Aku tidak peduli mereka membicarakanku. Aku sangat yakin pada pilihanku untuk mencintai Minato-kun, dan apa kata orang lain sama sekali tidak penting. Namun, aku tidak tahan mendengar mereka menjelek-jelekannya.
Akulah yang memilihnya. Kalau mereka punya keluhan, seharusnya mereka mengatakannya langsung padaku—bukan padanya. Setiap kata kejam yang kudengar terasa sangat menusuk hati.
Berbeda dariku, Minato-kun jelas-jelas tidak terbiasa menjadi sorotan lampu sorot. Meskipun Ichinose-san terkadang menemaninya, situasinya tetap tidak berubah.
Aku merasa begitu bersalah sampai-sampai aku meminta maaf padanya, tetapi dia menepisnya begitu saja, mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak mengganggunya. Entah itu benar atau tidak, aku tidak bisa menebaknya. Dia mungkin hanya berusaha menyelamatkan perasaanku.
"Hah..."
Akhir-akhir ini, yang kulakukan hanyalah menghela napas. Aku merasa ngeri membayangkan harus kembali masuk sekolah minggu depan. Aku hanya ingin menghabiskan hari-hari yang damai bersama Minato-kun. Apakah permintaan itu terlalu muluk?
Setelah dia pergi, sisa bayang-bayang kehadirannya masih tertinggal di dalam ruangan. Hal itu memberiku secercah rasa tenang, tetapi tetap tidak cukup untuk mengangkat suasana hatiku yang berat.
Ruang kelas anak kelas tiga terletak cukup jauh, jadi aku harus menahan banyak pasang mata yang menatapku di sepanjang perjalanan ke sana.
Namun, berbeda dari minggu lalu di mana orang-orang mencibir dan mengejekku secara sembunyi-sembunyi, hari ini mereka hanya sekadar memandangiku saja.
Perhatian itu tetap terasa begitu menyesakkan, tetapi rasanya lebih mirip dengan tatapan biasa yang sudah biasa kuterima selama ini.
Mustahil perubahan drastis seperti ini bisa terjadi tanpa alasan yang jelas. Apa situasi bisa bergeser sejauh ini hanya karena akhir pekan telah berlalu? Aku memiringkan kepalaku bingung.
Ketika aku tiba di ruang kelas dan membuka pintu, aku disambut oleh lautan ekspresi kebingungan dari teman-teman sekelasku. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami alasannya.
"Eh!?"
Di tengah-tengah ruang kelas duduk Minato-kun—bukan dengan rambut berantakan seperti biasanya, melainkan dengan gaya rambut pendek rapi yang memancarkan aura segar.
Rambutnya ditata sempurna, membuatnya terlihat luar biasa tampan. Dia bahkan menanggalkan kacamatanya dan beralih memakai lensa kontak. Minato-kun berbalik menatapku dengan senyuman cerah.
"Selamat pagi, Rena."
"Ah, eh, selamat pagi."
Mengambil tempat duduk di sampingnya, aku tak tahan untuk tidak menatapnya lekat-lekat. Ya, itu memang dirinya. Tanpa keraguan lagi. Ini bukanlah orang asing yang menyamar.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?"
"Yah, rasanya cuma… kau kelihatan sangat berbeda."
Dia terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda. Aku memang sudah terbiasa melihat versinya yang lebih rapi saat bekerja paruh waktu atau saat berkencan, tetapi potongan rambut pendek itu membawanya ke tingkat pesona yang baru.
Menyaksikannya berpenampilan seperti ini dengan balutan seragam sekolah terasa begitu segar sampai-sampai membuatku merasa agak salah tingkah.
"Rambutku kemarin mulai mengganggu, jadi kuputuskan untuk memotongnya."
"…Benarkah?"
"Iya, tentu saja."
Sudah sangat jelas bahwa transformasi mendadak Minato-kun ini dipicu oleh rumor-rumor baru-baru ini. Anak-anak di lorong sekolah tadi sudah melihat versi baru dirinya ini, yang menjelaskan kenapa reaksi mereka begitu berbeda dibanding minggu lalu.
Seolah sedang menungguku datang, atmosfer di dalam ruang kelas mendadak berubah. Para siswi mulai berkerumun mendekati mejaku.
"Saito-san, pacarmu itu… dia, uh, tampan sekali ya."
"Benar, kan? Dia adalah pacarku yang luar biasa."
Bisa kurasakan tatapan penuh rasa iri diarahkan padanya dari segala penjuru. Namun tak peduli kapan pun mereka menyadarinya, Minato-kun kini sudah sepenuhnya menjadi milikku.
"Tapi penampilannya kelihatan sangat berbeda ya, kan?"
"Sebenarnya, dia memang selalu berpenampilan seperti itu setiap kali cuma berdua saja denganku."
"Benarkah? Oh… aku tidak tahu soal itu."
Lebih tepatnya, dia memang sempat berdandan rapi beberapa kali sebelumnya. Tetapi sebagian besar waktu, teman sekelas mengenalnya hanya sebagai kutu buku berambut berantakan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tubuh menaungi mejaku. Saat mendongak, kulihat Minato-kun berdiri di sampingku.
"Kalian sedang membicarakan aku, ya?"
Tatapan tajamnya menyapu para siswi di sekitar kami, membuat mereka mematung seketika. Suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
Kemudian, tanpa aba-aba, ia meletakkan tangannya di atasku dengan usapan lembut (pof).
"Ada banyak rumor yang bilang kalau aku tidak serasi bersanding denganmu, Rena, jadi kuputuskan untuk mulai mengubah penampilanku agar bisa pantas bersanding denganmu. Bagaimana menurutmu?"
Mendengar pertanyaan Minato-kun, para siswi saling bertukar pandang sebelum mengangguk berulang kali.
"Kelihatan bagus, kan?"
"Iya, sangat cocok untukmu."
"Kau harus mempertahankan gaya rambut ini terus."
Mendapatkan pujian mereka, Minato-kun menyunggingkan senyuman tipis. Mengenal tabiat aslinya, aku tahu persis itu hanyalah kedok—sebuah ekspresi buatan alih-alih kebahagiaan yang tulus.
"Terima kasih. Kalau memang cocok, berarti usahaku tidak sia-sia."
Senyuman cerah itu—begitu tidak biasa baginya. Siapa dirimu sebenarnya, dan ke mana kau menyembunyikan sosok Minato yang kukenal?
Bahkan dari sudut pandangku sekalipun, Minato-kun terlihat begitu tampan sampai-sampai terasa memikat. Ia terus mengobrol bersama para siswi itu selagi mengelus kepalaku dengan lembut.
Menjelang siang hari, kehebohan tentang transformasi Minato-kun hanya sebatas di dalam ruang kelas saja, tetapi menjelang jam kepulangan sekolah, beritanya sudah menyebar luas ke luar. Murid-murid dari kelas lain mengintip dari jendela cuma demi mencuri pandang ke arahnya.
"Rena, ayo kita pulang bersama."
"U-um, ayo."
Mendengarnya memanggil nama depanku secara terang-terangan dan berbicara padaku di depan banyak orang masih membuatku salah tingkah.
Minato-kun bukanlah tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian, tetapi dia berdiri dengan penuh percaya diri, seolah hal itu datang secara alami padanya.
Begitu berada di luar, ia secara santai menggenggam tanganku, menautkan jari-jarinya di sela-sela jariku dalam genggaman mesra sepasang kekasih. Kami sudah melakukan hal ini tak terhitung kali, tetapi hari ini, entah mengapa rasanya begitu berbeda. Genggamanku terasa lemah, membiarkan Minato-kun memegang tanganku dengan erat.
Tatapan-tatapan orang terus mengikuti kami hingga kami mendekati rumahku, tempat kerumunan orang akhirnya mulai menipis. Begitu perhatian itu menghilang, aku menghela napas lega dalam-dalam.
"Mari kita beristirahat sebentar di taman sebelah sana."
"Eh? Boleh."
Biasanya kami akan langsung berjalan pulang lurus ke rumah, jadi usulannya pasti mengejutkan. Tapi aku memang butuh jeda—hanya untuk sejenak saja.
Taman itu sepi, bebas dari anak-anak kecil, hanya ada beberapa bangku yang diletakkan terpencar. Desiran lembut dedaunan rumput dan pepohonan mengisi kesunyian. Sela-sela matahari terbenam memancarkan pendar hangat, kuputuskan untuk berbalik menghadap Minato-kun.
"Apa kau yakin tidak apa-apa? Bukankah tadinya kau sempat mempertahankan rambut panjang dan kacamatamu demi menghindari perhatian gara-gara pekerjaan paruh waktumu?"
"Sudah mulai terasa merepotkan, dan kau kelihatannya juga sedang kesulitan."
Ia mengucapkannya begitu saja tanpa beban, tetapi aku tahu betul seberapa banyak pertimbangan yang pasti telah ia kerahkan untuk membuat keputusan untuk bertindak hari ini. Rumor tentang dirinya telah bergeser drastis, dan bisikan-bisikan cibiran dari minggu lalu kini lenyap tak berbekas.
"Minato-kun, kau selalu saja ada untuk menolongku, ya."
"Tentu saja. Aku kan pacarmu."
"Tapi ini tidak adil. Kalau kau terus melakukan hal-hal semacam ini, aku bisa-bisa makin jatuh cinta padamu."
"Silakan saja. Jatuh cintalah padaku sebanyak yang kau mau."
Ia mengangkat bahunya main-main, gestur familier yang entah kenapa sekarang terlihat jauh lebih keren. Angin sepoi-sepoi merapikan helayan rambutnya saat ia berdiri di sana, memancarkan pesona tanpa usaha.
"Aku sangat bersyukur bisa jatuh cinta pada seseorang sepertimu, Minato-kun."
"Jatuh cinta lagi padaku?"
"Tentu saja. Kau ini kelewat tampan."
Ada orang-orang baik di mana pun di dunia ini, tetapi ada seseorang yang bersedia berjuang separah ini demi diriku? Itu adalah hal yang sangat langka. Minato-kun selalu ada untukku di saat-saat aku paling membutuhkannya, dan aku tidak akan pernah bisa cukup berterima kasih padanya.
"Aku cuma bisa berusaha sebaik mungkin karena ini adalah dirimu, Rena."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Siapa pun pasti bakal mengerahkan seluruh usaha terbaiknya demi orang yang dicintainya."
Ia mengucapkannya begitu santai tanpa beban. Aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar paham betapa besar bobot dari kata-kata yang ia ucapkan itu.
"Ingat waktu kau menyatakan cinta padaku? Waktu itu kau bilang senyumanku adalah hal yang paling kausukai."
"Kau ingat ya. Apa kau benar-benar menyukainya sebesar itu?"
"Tentu saja. Melihatmu tersenyum membuatku ikut merasa bahagia."
"Kalau begitu aku harus memastikan untuk lebih sering tersenyum."
Aku tidak berniat tersenyum lebar saat itu, tetapi hatiku begitu dipenuhi oleh kata-katanya hingga senyuman itu merekah begitu saja di wajahku. Aku tahu persis itu adalah senyuman terlebar yang pernah kuberikan seumur hidupku.
"Tuh, kan? Sudah kuduga. Senyumanmu memang yang terbaik, Rena."
"Jangan mengucapkannya seserius itu. Malu tahu."
Ketulusannya membuat pipiku merona panas. Aku memutuskan kontak mata, membiarkan pandanganku melayang turun ke tanah.
Namun kemudian, kurasakan tangannya menyentuh lembut wajahku, telapak tangannya terasa hangat di pipiku.
"Aku cuma senang bisa melihatmu tersenyum. Cuma itu saja yang terpenting bagiku."
"Berkat dirimu, aku merasa jauh lebih baik sekarang."
"Baguslah. Lagipula, kau kan pacarku yang paling berharga."
"Kau adalah pacarku yang luar biasa, Minato-kun."
Aku mendongak, balas menatap matanya. Sorot matanya yang tajam dan indah seolah menarikku masuk ke dalam dunianya. Perlahan-lahan, jarak di antara wajah kami kian terpangkas habis.
"Aku mencintaimu, Rena."
"Aku mencintaimu juga."
Dan begitu saja, jarak di antara kami pun sirna sepenuhnya.


Post a Comment