Chapter 6
Kazuki dan Mai
"Minato, ada
waktu sebentar?"
Sepulang sekolah, Kazuki
menghampiri mejaku. Ini sepertinya berkaitan dengan kejadian saat jam makan
siang tadi.
Kami tidak sempat
membicarakannya lebih awal karena waktu keburu habis dan harus segera bergegas
masuk ke kelas sore. Aku sendiri juga penasaran, jadi ini waktu yang sangat
pas.
Aku mengirim pesan kepada
Saito: "Aku akan pulang terlambat hari ini." Ia melirik
ponselnya dari kursi di sebelahku, kemungkinan besar sedang membaca pesanku.
Kami berjalan menuju
lantai atap yang tenang, tempat semilir angin musim semi berhembus membawa
udara yang menenteramkan. Duduk di sebuah bangku dekat pagar pembatas, Kazuki
langsung membahas intinya.
"Kau kenal Mai?"
"Kau ingat kan waktu
aku menceritakan kejadian yang terjadi di SMP dulu?"
"Iya, soal rumor
jelek itu dan bagaimana akhirnya kau memilih menjaga jarak dari gadis
tersebut?"
Kazuki pernah menceritakan
padaku alasan mengapa ia dulu membantu situasi Saito saat rumor-rumor buruk
mulai menyebar. Ini pasti hal yang dimaksudnya saat itu.
"Gadis itu adalah
Mai."
"Kau bercanda."
Kebetulan gila macam apa
ini? Adik tingkatku di tempat kerja bukan hanya orang yang dikenal Kazuki,
melainkan seseorang yang dulunya sangat dekat dengannya. Seberapa besar peluang
hal semacam ini bisa terjadi?
"Aku tahu Mai bekerja
di tempat itu."
"Kau tahu?"
"Iya, aku pernah
beberapa kali ke sana bersamanya dulu."
Jadi Kazuki sebenarnya
sudah tahu Mai bekerja di sana saat dia mengenalkanku pada pekerjaan itu. Jika
itu adalah tempat yang sudah tidak asing baginya, masuk akal kalau dia
menyarankannya padaku.
"Aku tidak akan
berbohong—aku merekomendasikan tempat itu bukan cuma karena ingin melihat
bagaimana penampilanmu kalau dirapikan, tapi juga karena aku penasaran
bagaimana kabarnya. Maaf ya sudah memanfaatkanmu begitu."
"Cuma itu saja? Aku
tidak keberatan. Malahan aku justru berterima kasih. Berkat pekerjaan itu, aku
bisa membeli buku jauh lebih banyak daripada sebelumnya."
Sekalipun Kazuki punya
niat terselubung, aku sama sekali tidak dirugikan, jadi tidak ada alasan untuk
menyimpan dendam.
Jika dipikir-pikir, aku
justru punya banyak hal untuk disyukuri—tanpa pekerjaan itu, aku mungkin tidak
akan pernah berpacaran dengan Saito. Mengingat bagaimana semuanya berujung
indah, aku tidak punya perasaan lain selain rasa terima kasih yang mendalam padanya.
"Apa rekomendasiku
membantumu?"
"Tidak juga. Dia
tidak pernah menceritakan apa pun tentang dirinya, jadi tidak banyak yang
berubah."
"Begitu ya."
"Tapi aku kaget
melihat betapa akrabnya kalian berdua."
"Akrab? Kalau
menurutku, dia cuma menganggapku sebagai mainan untuk dikerjai."
Sekarang setelah
dipikir-pikir, cara Mai menjahiliku terasa sangat mirip dengan gaya Kazuki.
Masuk akal juga—mereka memang mirip dalam banyak hal.
"Tetap saja, kalau
kalian begitu akrab, kurasa dia bakal lebih sering menceritakan
tentangmu."
"Kau pikir aku akan
membiarkannya memenuhi isi kepalaku saat dia tidak ada di dekatku?"
Memiliki seseorang seperti
dia di dalam kepalaku terus-menerus bakal sangat buruk bagi kesehatan mentalku.
Di tempat kerja, aku juga
sudah memblokir Kazuki dari pikiranku, jadi situasinya kurang lebih sama saja.
Kenapa mereka harus memiliki kepribadian yang begitu mirip?
"Apa Mai selalu ceria
begitu dari dulu?"
"Kurang lebih begitu.
Dia selalu ceria sejak pertama kali aku mengenalnya."
"Begitu ya. Baguslah
kalau begitu."
Bibir Kazuki melengkung
membentuk senyuman tipis yang damai selagi ia memandangi kejauhan.
"Apa dia juga seperti
itu waktu di SMP? Kukira dia tipe orang
yang bakal mengabaikan rumor buruk begitu saja."
"Sama sekali
tidak. Tentu, dia memang banyak bicara kalau cuma ada kami berdua, tetapi
selebihnya dia pendiam, tertutup, dan jauh lebih penakut."
"Kau ini sedang
membicarakan siapa sih?"
Mai yang kukenal dan Mai
yang dideskripsikan oleh Kazuki sama sekali tidak terdengar seperti orang yang
sama. Aku tidak bisa membayangkannya sebagai sosok selain dirinya yang selalu
ceria dan lincah seperti sekarang.
"Dia mungkin berubah
setelah aku pergi. Aku punya sedikit gambaran kenapa alasannya."
Ekspresi Kazuki yang
tampak terbebani memperjelas bahwa ia merasa bertanggung jawab.
"Kau tidak perlu
menyiksa dirimu sendiri begitu."
"Tapi itu semua
salahku karena dia harus menghadapi begitu banyak masalah waktu itu."
"Yang harus
disalahkan adalah orang-orang yang menyebarkan rumor jahat itu. Merekalah
sumber masalahnya, bukan kau."
"…Kau orang yang
baik, Minato."
"Melihatmu pasrah
bermuram durja begitu membuatku risi."
Aku hanya ingin dia
kembali menjadi dirinya seperti biasa. Kazuki yang kehilangan energi rasanya
bagaikan orang yang sama sekali berbeda. Ia melepaskan tawa kecil lalu
tersenyum tipis.
"Mumpung kalian
berada di sekolah yang sama lagi, kenapa tidak mencoba berhubungan kembali? Kau
bisa merajut kembali persahabatan kalian."
"Aku ragu bakal dapat
kesempatan. Tidak ada alasan mendasag untuk berinteraksi dengan anak kelas
satu."
"Benar juga. Kalau
begitu, mampirlah ke tempat kerja paruh waktu saja."
"Tidak mau. Kalau aku
tidak keberatan pergi ke sana, aku tidak akan merekomendasikanmu bekerja di
tempat itu sejak awal."
"Pengecut."
"Tidak menyangka kata
itu keluar dari mulutmu."
Kazuki melirikku sekilas,
tapi kuabaikan saja. Itu masalah lain.
"Baiklah. Aku akan
mengatur sesuatu untuk kalian."
"Dan bagaimana
caranya kau mau melakukan itu?"
"Coba kulihat...
kalau aku yang mengajaknya, dia mungkin akan datang."
"Tadi kau lihat kan
reaksinya saat jam makan siang? Apa kau yakin dia mau datang?"
Kazuki tampak yakin bahwa
Mai sedang menghindarinya, tetapi berdasarkan reaksinya tadi, aku tidak begitu
yakin. Dia jelas mengingat Kazuki, jadi pasti ada peluang. Kendati demikian,
mengingat betapa canggung situasi di antara mereka, sulit untuk memastikan
hasilnya.
"Tenang saja. Kau kan
sudah banyak membantuku, jadi percayalah pada keahlianku."
"Maksudmu kemampuan
sosialmu yang tidak ada itu?"
"Tepat sekali."
Jangan diungkit-ungkit—aku
sedang berusaha bersikap optimis di sini. Kazuki menyeringai, menggelengkan
kepala dengan senyum pasrah. "Akankutunggu, tapi aku tidak menaruh harapan
terlalu tinggi."
Setelah berpisah dengan
Kazuki, aku melangkah menuju rumah Saito. Aku menghabiskan sepanjang perjalanan
dengan membaca buku, berusaha memikirkan apa yang harus kulakukan.
***
"Hmm..."
"Ada apa? Biasanya
kau tidak pernah mengerang separah itu."
Saito yang sedari tadi
membaca di sampingku mencondongkan badan, alisnya berkerut cemas.
"Bukan apa-apa."
Aku tahu Saito dan Mai
sangat dekat di tempat kerja, jadi idealnya aku bisa meminta bantuannya. Namun
jika kulakukan itu, dia akan langsung sadar bahwa aku sudah tahu hubungan masa
lalu mereka, yang tentu saja tidak akan berujung baik.
"Apa buku itu
menyulitkanmu?"
"Tidak, ini cuma light
novel biasa. Bacaannya sangat ringan."
"Jarang sekali
melihatmu membaca buku seperti itu. Biasanya kan kau cuma suka novel
misteri."
"Kazuki yang
merekomendasikannya padaku. Katanya temannya menyarankan itu padanya, dan
ceritanya ternyata cukup menyenangkan di luar dugaan."
"Oh? Ceritanya
tentang apa?"
"Ceritanya tentang
romansa—semacam komedi romantis. Karakter utamanya cukup imut."
"!? Novel yang mana
itu?"
Baru saja ia bersikap
santai, Saito mendadak langsung fokus sepenuhnya. Ia mencondongkan badan untuk
melongok ke arah buku yang kupegang, ekspresi wajahnya terlihat serius di luar
dugaan. Apa dia benar-benar sangat menyukai gadis-gadis imut?
Membalik-balik
lembarannya, aku berhenti pada ilustrasi pembuka di balik sampul. Karena ini
adalah jilid pertama, halaman itu memuat pengenalan karakter. Tokoh utamanya
digambarkan sedang duduk di meja belajarnya, menatap ke luar jendela. Seorang gadis berambut
hitam yang cantik dengan rambutnya yang berkibar tertiup angin.
"Gadis ini,
kan?"
"Iya, benar dia. Ini
cerita romansa satu lawan satu (one-on-one), jadi heroine-nya cuma
satu."
"Bagian mana dari
dirinya yang kau minati?"
"Eh?"
Tertangkap basah, aku
melirik ke arah Saito yang sedang menatapku lekat-lekat, matanya berbinar penuh
rasa ingin tahu yang tulus. Mustahil bagiku untuk mengabaikan pertanyaan itu
begitu saja.
"Dia biasanya
bersikap dingin pada sang protagonis, tapi sesekali dia menunjukkan sisi
manjanya. Saat itulah dia terlihat paling imut."
"Begitu ya. Dan waktu
dia bersikap manja, apa saja yang dilakukannya?"
"Uh, ada berbagai macam hal..."
Dari momen-momen santai
hingga adegan yang agak vulgar. Menjelaskan semuanya pada Saito terasa terlalu
memalukan.
"Apa kau mau
membacanya sendiri?"
"Boleh kah? Oh, tapi
kalau kubaca, nanti kau tidak punya bahan bacaan."
"Aku sudah menduga
hal ini bakal terjadi, jadi aku membawa buku cadangan."
"…Apa isi tasmu
selain buku-buku?"
"Kau sudah
menebaknya dengan benar."
Saito menatap tasku
dengan pandangan penuh arti dan sedikit sebal, seolah-olah ia bisa menembus isi
tas itu.
"Yah, kalau
begitu, aku tidak akan ragu untuk membacanya."
"Silakan saja.
Jangan dipikirkan."
Sejujurnya, aku memang
tidak bisa fokus membaca hari ini karena terlalu banyak hal yang berkecamuk di
kepalaku. Jika Saito tertarik, membiarkannya membacanya lebih dulu adalah
keputusan yang tepat. Ia tidak membuang waktu membuka buku itu, jadi aku
menarik buku cadanganku dan mencoba menyusun kembali pikiranku.
Beberapa saat
kemudian, kudengar suara lembaran buku yang ditutup dengan pelan di sampingku.
Mendongak, kulihat Saito tersenyum puas, ekspresinya tampak sedikit geli.
"Sudah
selesai?"
Padahal baru berjalan satu
setengah jam.
"Iya. Tulisannya
sangat bagus dan mengalir lancar sampai-sampai aku melahapnya dalam
sekejap."
"Kau
menyukainya?"
"Tentu saja. Isinya
sangat mencerahkan. Ini bukunya, kukembalikan ya."
"Uh, terima
kasih."
Kata "menceritakan
banyak hal/mencerahkan" sempat terlintas di benakku sesaat, tetapi saat ia
mengembalikan buku itu, kuabaikan begitu saja.
"Kau tadi kelihatan
berpikir keras. Ada apa?"
"Jujur saja, aku
sedang jalan buntu. Aku tidak bisa memikirkan solusi yang bagus."
"Begitu ya."
Saito mengangguk
serius, bangkit berdiri, lalu berjalan mengambil posisi tepat di hadapanku. Ia
menatap ke arahku yang sedang duduk di atas bangku.
"Rena?"
Ia tidak mengatakan
apa-apa, hanya memandangiku, kedua pipinya merona merah muda tipis. Rona malu
di wajahnya, dipadukan dengan tatapannya yang lekat, memancarkan pesona yang
tak terduga. Aku hendak bertanya ada apa dengannya saat ia tiba-tiba bergerak.
"—!?"
Aku tercekat saat
gelombang kehangatan tiba-tiba menyelimuti tubuhku. Untuk sesaat, aku tidak
bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
Kemudian kusadari dari
tekanan lembut lengannya yang melingkar—Saito sedang memelukku.
(Tunggu, apa-apaan ini!?)
Aku mematung, bingung
bagaimana harus bereaksi. Haruskah aku balas memeluknya? Kedua tanganku
melayang canggung di udara, ragu apakah harus tetap diam menggantung atau
membalas pelukannya.
Semuanya terjadi begitu
cepat sampai-sampai akal sehatku tidak mampu mengejar. Aku hanya bisa berfokus
pada sensasi sentuhan Saito selagi waktu terasa merenggang tanpa ujung.
(Begitu dekat...)
Wajahnya berada tepat di
sampingku, dan aroma bunga khas miliknya mendominasi indra penciumanku. Dalam
jarak sedekat ini, mustahil untuk tidak merasa salah tingkah.
Tidak. Ini sudah terlalu
berlebihan. Aku bisa merasakan panas yang merayap naik ke wajahku. Jika ia
melepaskannya sekarang, dia pasti akan tahu betapa merahnya wajahku.
Degup, degup. Aku tidak bisa membedakan
apakah itu debaran jantungku atau jantungnya, tetapi suara itu memenuhi udara
selagi waktu terus berjalan. Akhirnya, Saito melepaskan pelukannya.
"K-kenapa mendadak
memelukku seperti itu?"
Menengadah menatapnya,
kulihat wajahnya sudah memerah padam sempurna. Bibirnya terkatup rapat, bahkan
telinganya pun ikut memerah.
"Di buku itu, ada
adegan di mana sang heroine memeluk protagonis untuk menyemangatinya. Aku ingin
mencobanya. Apa itu membantu?"
"I-iya. Tentu
saja."
Entah pelukan itu membantu
atau justru sukses membuat otakku shut down, tetapi satu hal yang
pasti—aku sangat bahagia. Meskipun jantungku masih berdegup liar tak karuan.
"Tapi kau
mengejutkanku."
"Kaulah yang bilang
kalau sisi manja heroine itu imut."
"Tunggu, jadi itu
maksud dari kata 'mencerahkan' tadi?"
Rupanya dia membaca buku itu sambil
membayangkanku. Tentu, aku memang sempat bilang kalau aku menyukai sisi manja
heroine tersebut, tetapi aku tidak pernah menyangka ucapannya bakal berujung
pada hal ini. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa memprediksi alur
ini.
"…"
Keheningan yang agak canggung menyelimuti kami
berdua. Ini sudah keterlaluan—bahkan aku tidak sanggup menatap wajahnya sekarang.
"Minato-kun, wajahmu
merah banget."
Kedua pipi Saito masih
merona merah, tetapi ia tersenyum lembut, seolah sedang menggodaku. Ada
sekelumit kerentanan di balik ekspresinya yang membocorkan rasa gugupnya
sendiri.
"Diamlah. Tentu saja
aku memerah. Ini di luar batas."
"Kau kelihatan salah
tingkah sekali."
"Jelaslah."
Kehangatan yang tersisa
dari pelukan tadi dan kesurrealan situasi ini membuatku merasa kehilangan
pijakan. Aku bahkan tidak sanggup membalas tatapannya. Sebagai gantinya, aku
menatap buku di tanganku. Tiba-tiba, jemarinya menyentuh lembut pipiku.
"Minato-kun yang
sedang salah tingkah itu lumayan imut juga."
"Kau ini—"
Saat kulirik ke arahnya,
wajahnya masih memerah, tetapi ia menyunggingkan senyuman tipis yang jahil dan
menggoda.
(Tatapan itu curang
sekali...)
Tak sanggup menanggungnya
lebih lama lagi, aku kembali menundukkan pandanganku menatap buku. Aku harus
secara sadar mengatur napas, kalau tidak aku bisa lupa cara bernapas. Sisa hawa
panas di tubuhku membuatku mustahil berpikir jernih. Butuh waktu cukup lama
sebelum akhirnya aku berhasil tenang kembali.
"Sudah lebih
baik?"
"Kurang lebih."
Setelah jeda sejenak,
pikiranku akhirnya mulai kembali normal. Pikiranku terasa jauh lebih jernih
dibanding sebelumnya.
"Tolong jangan
lakukan itu lagi. Aku tidak sanggup."
"Wajahmu tadi
kelihatan lucu sekali saat salah tingkah. Seru juga ternyata
memperhatikannya."
"Kalau kau tahu
perasaanku, berbaik hatilah sedikit padaku."
Demi memastikan Saito
tidak melakukan hal nekat lagi, kukukuhkan kembali permintaanku dengan tegas.
"Jadi, apa yang
sedang mengganggumu? Kalau kau tidak keberatan, aku senang mendengarkannya.
Tentu saja, kalau kau tidak mau menceritakannya, itu juga tidak apa-apa."
"Ah, soal itu,
aku sedang berusaha merajut kembali hubungan antara Mai-chan dan Kazuki. Tapi
aku bingung harus mulai dari mana, dan hal itu terus mengusik pikiranku."
"Tunggu, Mai-chan
dan Ichinose-san saling kenal?"
"Kau tidak
tahu?"
"Tidak, ini
pertama kalinya aku mendengarnya."
"Dulu mereka
sempat dekat, tapi sepertinya terjadi sesuatu, dan akhirnya mereka jadi
menjauh."
"Begitu ya."
"Kau kan berteman
baik dengan Mai-chan, kan, Rena? Bisakah kau mengajaknya pergi bersama dan
membantuku?"
"Aku tidak
keberatan, tapi... tunggu. Apa aku pernah bilang padamu kalau Mai-chan dan aku
itu dekat?"
"Yah, aku tahu kau
memakai nama Hiiragi di tempat kerja paruh waktumu. Kalian berdua selalu
kelihatan akrab saat bekerja."
Setelah aku tenang dan
memikirkannya, solusinya sebenarnya sangat sederhana—aku tinggal menyebutkan
bahwa aku sudah mengetahui identitas asli Hiiragi-san. Sejujurnya, aku
merahasiakannya demi menjahili Saito, tetapi aku sudah cukup puas
bersenang-senang.
Kucoba mengungkitnya
dengan santai, tetapi Saito langsung mengangkat sebelah tangannya, ekspresinya
memperlihatkan kepanikan yang kentara. "T-tunggu sebentar. Kau sudah
tahu?"
"Tentu saja."
"Sejak kapan?"
"Sejak Valentine,
waktu aku menerima cokelat darimu."
"Apa!? Itu kan sudah
lama sekali!"
Ia mencengkeram pundakku
dengan cubitan tajam.
"Yah, buktinya jelas
sekali. Kau meminta saran soal cokelat padaku, lalu aku menerima persis seperti
yang kusarankan. Ditambah lagi, nama depanmu sama."
"Yah, iya sih, aku
memang melakukannya dengan sengaja, jadi dalam artian tertentu rencanaku
berhasil."
Itu bukan sebuah
kesalahan—tampaknya dia memang sengaja membidik reaksi itu dariku. Pantas saja
semuanya terasa begitu kentara.
"Kelihatannya
rencanamu sukses besar kalau begitu."
"Bukan hal bagus
tahu! Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau sudah tahu? Aku jadi bingung
setengah mati waktu kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa keesokan
harinya."
"Karena kau sendiri
diam saja, kupikir aku ingin membalasmu."
"Oh, jadi gara-gara
itu aku satu-satunya yang merasa malu setengah mati selama ini! Aku tahu ada
yang aneh. Kau sengaja menjebakku, kan?"
"Maaf. Cuma
pembalasan kecil saja."
"…Baiklah, aku akui
aku juga salah karena ikut merahasiakannya."
"Tidak apa-apa. Waktu
aku menyadarinya, aku begitu malu sampai ingin merayap masuk ke dalam lubang
tanah."
"Aku ingin sekali
melihat ekspresimu waktu itu."
"Kau ini
benar-benar keterlaluan."
Apa dia bahkan merasa
bersalah? Memikirkan betapa aku tanpa sadar telah membual tentang orang yang
kusukai di depan orangnya langsung adalah sebuah bencana besar yang sangat
memalukan. Aku tak tahan untuk tidak menghela napas.
"Pokoknya, intinya
adalah aku tahu kau dekat dengan Mai-chan."
"Paham. Jadi aku cuma perlu mengajak Mai-chan pergi keluar, kan?"
"Itu tujuan
utamanya."
"Ngomong-ngomong,
apa rencanamu setelah itu?"
"Itulah
masalahnya—aku tidak punya rencana. Sekalipun kami berhasil mempertemukan
mereka, mereka mungkin cuma akan duduk diam dalam keheningan yang canggung. Dan
aku sendiri bukan orang yang pandai menjaga percakapan tetap mengalir."
"Kau harus berusaha
semaksimal mungkin di sini."
"Kalau usaha saja
bisa menyelesaikan ini, aku mungkin sudah punya lebih banyak teman
sekarang."
"Masuk akal
juga."
"Hei."
Jangan langsung setuju
begitu—itu cukup membuatku ingin menangis.
Saito memijat dagunya
berpikir keras lalu melepaskan gumaman sebelum mengangkat kepalanya.
"Aku punya ide.
Bagaimana kalau kita buat ini jadi kencan ganda (double date)?"
"Kencan ganda?"
"Nanti ada aku dan
Minato-kun, Mai-chan, dan Ichinose-san. Dengan begitu, aku bisa membantu
menjaga percakapan tetap hidup, dan akan lebih mudah bagi Mai-chan untuk ikut
kalau ada aku di sana."
"Oh, ide bagus. Cara itu mungkin
benar-benar bisa berhasil."
"Satu-satunya masalah
adalah kita harus pergi ke mana. Bagaimana kalau ke taman bermain?"
"Taman bermain?"
Usulan yang sama sekali
tidak kuduga.
"Taman bermain adalah
tempat dengan berbagai wahana seru seperti roller coaster, rumah hantu,
dan semacamnya."
"Aku tahu apa itu
taman bermain."
"Oh, kau tahu?"
"Maksudku kenapa kau
memilih tempat itu secara spesifik."
Aku tidak bisa menebak
apakah dia salah paham sungguhan atau cuma pura-pura bodoh. Aku pernah beberapa
kali ke taman bermain sebelumnya, tetapi menilai dari nada bicara Saito, dia
sepertinya mengira aku ini seorang shut-in sejati yang tidak pernah
keluar rumah.
"Di taman bermain,
ada banyak kesempatan untuk mengobrol saat mengantre di wahana, dan sangat
mudah mencari topik pembicaraan. Ditambah lagi, begitu mereka mulai merasa
nyaman mengobrol, kita bisa diam-diam 'tersesat' dan meninggalkan mereka berdua
saja..."
"Lalu mereka akan
berbaikan."
"Tepat sekali!"
Saito dan aku kompak
menyeringai lebar. Ini adalah rencana yang sangat sempurna. Tidak mungkin
rencana ini gagal. Aku sudah bisa membayangkan Mai-san dan Kazuki tersenyum dan
tertawa bersama.
(Akhir cerita yang tanpa cela.)
Bayangan di dalam kepalaku menyerupai adegan
penutup dari sebuah film atau novel. Dipandu oleh visi tersebut, Saito dan
mulai mendiskusikan bagaimana cara mengeksekusi rencana kami langkah demi
langkah.
***
Sudut Pandang Hiiragi
Untuk menjalankan rencana yang telah kami susun
bersama Minato-kun, langkah pertamanya adalah mengajak Mai-chan. Waktu yang
paling tepat adalah saat kami bekerja paruh waktu, yang berarti sekarang. Shift
malam baru saja berakhir, dan Mai-chan berada tepat di sebelahku, sedang
berganti pakaian—waktu yang sangat sempurna.
"Mai-chan, aura dirimu berubah banyak
sekali sekitar dua tahun lalu, ya?"
"Iya, kurasa sekitar
waktu itu. Aku ingin mengubah
dirimu sendiri."
"Mengubah dirimu
sendiri?"
"Ada alasan di
baliknya. Dulu aku menyukai seseorang, tapi orang itu sangat populer di
kalangan banyak anak perempuan. Bahkan ada yang sampai menyatakan cinta tapi
ditolak."
"Wah, aku tidak
tahu soal itu."
"Aku memang tidak
pernah membicarakannya."
Menilai dari percakapanku
dengan Minato-kun, orang yang disukainya dulu pasti adalah Ichinose-san.
Mai-chan memegang jaketnya dengan kedua tangan, ekspresi wajahnya tampak
sedikit mendung.
"Aku akhirnya bisa
dekat dengannya melalui serangkaian kebetulan, tetapi hal itu justru membuatku
jadi pusat segala jenis gosip miring di antara anak-anak perempuan lain. Hal
itulah yang membuat kami akhirnya saling menjauh. Setelah kejadian itu, aku
memutuskan untuk membenahi diriku sampai titik di mana tidak ada seorang pun
yang bisa mencelaku lagi. Saat itulah aku mulai membuat perubahan—sekitar dua
tahun lalu."
"Aku tidak tahu kalau
kau pernah melewati masa-masa sulit itu."
"Sebenarnya, aku baru
saja tidak sengaja berpapasan lagi dengannya baru-baru ini. Namanya Ichinose
Kazuki—apa kau mengenalnya?"
"Tentu saja. Dia
dekat dengan Minato-kun."
"Sudah kuduga. Waktu
aku berpapasan dengannya, Tanaka-senpai juga ada bersamanya, yang membuatku
terkejut."
"Minato-kun juga
sempat kaget waktu tahu kau dan Ichinose-san saling kenal."
"Oh, dia dengar soal itu juga?"
"Iya. Maaf ya tiba-tiba menanyakan hal
aneh seperti itu."
Bagi Mai-chan, itu mungkin bukanlah kenangan
yang menyenangkan. Mengingatnya kembali pasti
terasa berat.
"Jangan dipikirkan;
semuanya sudah berlalu."
"Apa kau masih
menyukai Ichinose-san?"
"Tentu saja. Meskipun
kami sudah tidak saling bicara selama dua tahun, aku yakin dia pasti melihatku
sebagai gadis yang menyebalkan sekarang."
"Tidak benar begitu!
Sebenarnya, Minato-kun sempat menceritakan sudut pandang Ichinose-san padaku,
dan kelihatannya dia sangat menyesali bagaimana akhir hubungan kalian."
"Benarkah?"
"Iya. Dia menyalahkan
dirinya sendiri atas kejadian itu."
Setelah sesi rapat
strategi kami di kamarku, Minato-kun menceritakan lebih banyak soal situasi
Ichinose-san. Mendengarnya, aku jadi paham kenapa Minato-kun tidak bisa
mengabaikannya begitu saja.
"Tidak ada alasan
baginya untuk menyalahkan diri sendiri."
"Kalau begitu katakan
langsung padanya. Kalau kau tidak mengatakannya, dia tidak akan pernah
tahu."
"Kau benar. Tapi apa
benar tidak apa-apa bagiku menemuinya dan berbicara dengannya sekarang?
Bukankah itu terdengar egois?"
"Tentu saja tidak
apa-apa. Justru, dia juga sangat menginginkannya."
"Tapi aku tidak tahu
kapan waktu yang tepat. Waktu aku melihatnya terakhir kali, situasinya begitu
mendadak sampai-sampai aku gugup dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata
pun."
"Kalau begitu,
bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain bertiga... ah, berempat
bersama-sama saja nanti? Minato-kun sudah setuju untuk membicarakan hal itu
dengan Ichinose-san, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Kapan kalian
merencanakan semua ini…?"
"Aku cuma ingin
melihatmu bahagia, Mai-chan. Kau kan adik tingkatku yang menggemaskan."
"Hiiragi-senpai…!"
Mai-chan yang bertubuh
mungil memelukku erat-erat. Kehangatan tubuhnya menembus lapis tipis pakaian kami,
terasa langsung di kulitku.
"Terima kasih. Aku
sempat mengumpulkan keberanian untuk masuk ke sekolah yang sama, tapi aku
bingung harus berbuat apa dan merasa tersesat. Kau benar-benar banyak
membantuku."
"Jangan sungkan
begitu. Silakan andalkan aku kapan saja."
Kusentuh lembut rambut
Mai-chan yang halus dan mengembang. Teksturnya yang lembut terasa sangat
menenangkan dan berbeda dari rambutku sendiri.
"Jadi, bagaimana
rasanya waktu kau tidak sengaja melihatnya baru-baru ini?"
"Kacau balau. Aku
langsung tahu kalau dia merasa canggung, yang membuatku ikut membeku. Pada
akhirnya aku kabur melarikan diri, dan sekarang jadinya begini. Kemampuanku
berinteraksi dengan orang lain memang sudah membaik selama dua tahun terakhir,
tapi tetap saja terasa sulit."
"Tentu saja,
canggung rasanya menghadapi seseorang yang sudah lama terasing—terutama
mengingat situasi masa lalu kalian. Tapi kau harus tetap berjuang melangkah
maju."
"Kau benar.
Kesempatan yang dibuat oleh Hiiragi-senpai ini—tidak boleh disia-siakan."
"Sebenarnya, rencana
ini adalah ide Minato-kun."
"Tanaka-senpai?"
Mata Mai-chan membelalak
tak percaya. Aku bisa memahami reaksimu—reaksiku dulu juga sama persis.
"Iya, sungguh. Ini
bukan lelucon. Minato-kun lho."
"Tidak mungkin!"
"Dia bilang dia
sangat berterima kasih kepada Ichinose-san dan ingin memanfaatkan kesempatan
ini untuk membantunya."
"Begitu ya. Kalau
begitu aku harus berterima kasih padanya dengan layak nanti."
"Hadiah buku mungkin
cocok—dia pasti sangat menyukainya."
"Buku?"
Mai-chan memiringkan
kepalanya bingung. Wajar saja; memberikan buku sebagai ucapan terima kasih
bukanlah hal yang umum.
"Dia sangat mencintai
buku. Dia kemungkinan besar bakal jauh lebih menghargai itu dibanding makanan
manis."
"Tanaka-senpai
memang orang yang aneh ya."
"Aku tidak bisa
mendebat hal itu."
Gumam pelan Mai-chan
membuatku mengangguk menyetujui. Minato-kun memang benar-benar tidak biasa.
Bakal jadi masalah besar kalau ada lebih banyak orang sepertinya di dunia ini.
"Oh ya, ngomong-ngomong, aku harus
membelikan buku apa ya? Aku sama sekali tidak tahu buku apa saja yang sudah
dikoleksi Tanaka-senpai."
"Kurasa sebaiknya kau
cek rak buku rilisan terbaru dan pilih salah satu dari sana. Aku punya firasat
dia sepertinya sudah melahap habis sebagian besar buku-buku klasik."
Tentu saja, pasti masih
ada banyak buku yang belum dibacanya, tetapi entah kenapa rasanya dia sudah
menamatkan seluruh karya klasik yang ada di dunia ini. Mengingat obsesinya
terhadap buku, sulit mengatakan ini cuma perasaanku saja—seram juga rasanya.
"Kapan kita berencana
pergi ke taman bermain? Makin cepat makin baik, kan? Kalau jadwal semua orang
cocok, aku berpikir antara hari Sabtu atau Minggu minggu ini. Apa kau
senggang?"
"Iya, aku senggang di
kedua hari itu."
"Bagus. Nanti akan
kukonfirmasi rencananya dan kuberitahu ya."
"Terima kasih. Aku
bahkan sudah mulai merasa gugup sekarang."
"Masih terlalu dini
untuk gugup! Belum ada satu pun yang benar-benar difinalisasi."
Aku tak tahan untuk tidak
tertawa melihat ekspresi Mai-chan yang kaku. Kalau dia sudah setegang ini
sekarang, dia tidak akan bertahan menghadapi hari H nanti.
"Ngomong-ngomong, aku
menyadari kau tiba-tiba memanggil Tanaka-senpai dengan nama depannya."
"…Kau menyadarinya
ya?"
Tajam sekali
pengamatannya. Kupikir dengan mengubahnya sekarang, saat Mai-chan sedang
terlalu sibuk untuk menyadarinya, aku bisa lolos begitu saja.
"Aku sangat peka pada
detail-detail kecil seperti itu. Itu semacam keahlian khusus."
Mai-chan memperagakan
gestur seolah sedang membetulkan letak kacamata di hidungnya. Tentu saja dia
tidak sedang memakai kacamata—itu adalah kacamata khayalan.
"Aku sengaja
berhati-hati memanggilnya agar Minato-kun tidak mengetahui identitas
asliku."
"Masuk akal
juga."
"Tapi sekarang karena
aku sudah menceritakan soal aku dan Minato-kun padamu, dan dia juga sudah tahu
kalau Hiiragi dan Saito adalah orang yang sama, kupikir tidak apa-apa."
"Tunggu, dia
menyadari kalau mereka berdua adalah orang yang sama!?"
Keterkejutan Mai-chan
sangat bisa dimengerti. Aku dulu pun sama terkejutnya saat Minato-kun
memberitahuku, jadi aku bisa membayangkan betapa luar biasa mengejutkannya hal
itu.
"Dia menyadarinya
saat Hari Valentine. Kupikir menggabungkan cokelat yang kuajukan untuk
kuberikan padanya di tempat kerja dengan cokelat dari sekolah akan membocorkan
rahasianya, dan ternyata dugaanku benar."
"Jadi dia sudah tahu
selama ini dan tidak bilang apa-apa?"
"Tepat sekali.
Rupanya dia sengaja ingin menjahiliku soal itu."
"Oh, jadi begitu.
Pantas saja dia selalu melontarkan kalimat-kalimat tepat sasaran yang sukses
membuatmu salah tingkah."
Mai-chan mengangguk
berulang kali seolah sedang mengenang kejadian spesifik.
"Tanaka-senpai punya
bakat tersembunyi juga ya."
"Dulu aku mengira dia
cowok yang sama sekali tidak peka, tapi ternyata aku keliru."
Bahkan saat acara melihat
bunga sakura kemarin, ketika ia dengan samar-samar mencium aroma udara di dalam
kereta, dia jauh lebih peka dari yang kusadari. Mungkin Minato-kun tidak
sebodoh itu dalam urusan membaca situasi. Untuk pertama kalinya, aku mendapati
diriku merevisi ulang penilaianku terhadap dirinya.


Post a Comment