Chapter 2
Kencan
(...Hari ini
adalah harinya.)
Suara jam beker menarik
kesadaranku sepenuhnya. Kuangkat kepalaku yang terasa berat dari bantal lalu
mengecek waktu—baru saja lewat pukul delapan pagi. Karena janjiku dengan Saito
baru pukul sepuluh, aku masih punya cukup waktu. Kuputuskan untuk bersiap-siap
dengan santai dan teliti.
Setelah sarapan, aku mulai
berdandan seolah-olah hendak berangkat kerja. Kutata rambutku dengan menyisir
poniku ke atas, lalu memasang lensa kontak—sebagian besar penampilanku sudah
beres. Untuk urusan pakaian, Kazuki sudah memberiku persetujuan tadi malam,
jadi seharusnya tidak ada masalah.
(Aku gugup
sekali...)
Sebagai pemeriksaan terakhir,
kulirik pantulan diriku di cermin panjang dan menghela napas pelan. Perasaanku
gelisah sepanjang pagi. Rasanya memang tidak buruk, tetapi ada sensasi sesak di
dadaku yang tak kunjung hilang. Meski merasa senang dan bersemangat
menghabiskan hari bersama Saito, rasa cemas dan gugup tetap bergejolak di balik
permukaannya.
Apakah penampilanku sudah
pantas? Secara pribadi, kupikir pakaian ini jauh lebih baik dibanding
penampilanku yang biasa, tetapi aku tidak yakin apakah Saito akan menganggapku
keren. Aku hanya berharap ini bisa
menarik perhatiannya, meski hanya sedikit.
Dan apakah kencannya akan berjalan
lancar? Ini pertama kalinya aku mengajak seseorang keluar, apalagi pergi
berduaan saja dengan seorang gadis. Aku sudah melakukan banyak riset di
internet dan mempersiapkan segalanya, tetapi tidak ada jaminan dia akan menikmatinya.
Ketidakpastian yang tersisa itu terus merayap di dadaku. Tak peduli berapa kali
pun kutarik napas dalam-dalam, rasa cemas itu tak mau pergi.
(...Yah, semuanya akan baik-baik
saja. Ayo berangkat.)
Jam menunjukkan waktu sudah lewat
pukul 9.30. Semakin kupikirkan, rasa sesak di dadaku kian berat, tetapi terus
mencemaskannya tidak akan membantu. Aku hanya harus menjalaninya apa adanya.
Dengan tarikan napas dalam-dalam
untuk menenangkan diri, aku melangkah menuju stasiun tempat kami berjanji untuk
bertemu.
***
Aku tiba di pintu masuk plaza
dekat stasiun lalu mengecek waktu di jam tanganku. Jarum jam menunjuk ke pukul
9.50. Setidaknya aku tidak terlambat, dan aku menghela napas lega. Datang
terlambat pada kencan pertama adalah kesalahan terburuk, jadi berhasil menghindarinya
terasa seperti kemenangan besar.
Masih ada beberapa menit sebelum
waktu pertemuan kami, jadi kuputuskan untuk menunggu di dalam plaza. Saat
melangkah masuk, mataku menangkap sosok Saito yang sedang duduk di sebuah
bangku di kejauhan.
"...Ah."
Tanpa sadar aku tercekat.
Kecantikannya tampak begitu mencolok di tengah suasana sekitar yang dingin dan
pucat, hingga membuatku kehilangan kata-kata sesaat.
Bahkan dari kejauhan sekalipun,
terlihat sangat jelas bahwa Saito telah berdandan rapi dan tampak sangat imut.
Ia mengenakan rok panjang berbahan satin cokelat muda yang dipadukan dengan
atasan rajut cokelat tua. Di luarnya, ia mengenakan jaket boa putih
berbulu halus yang sangat cocok dengannya, mempertegas pesonanya yang memikat
dan membuatnya mustahil untuk tidak dipandang.
Di sekolah, ia biasanya hanya
mengeriting ringan rambutnya, tetapi hari ini rambutnya ditata dengan gaya half-updo
(setengah diikat ke atas) berhiaskan ornamen rambut berwarna emas yang berkilau
di antara rambut hitamnya.
Aku harus menyapanya.
Tersadar dari lamunanku, perlahan
kugerakkan kakiku yang sempat mematung lalu melangkah menghampirinya.
Saito sedang memegang minuman
kaleng dengan kedua tangannya, meniupnya perlahan. Saat aku melangkah makin
dekat, semakin banyak detail yang terlihat jelas. Gaya rambutnya memperlihatkan
telinganya yang dihiasi anting-anting berbentuk bunga merah muda pucat yang
bergoyang anggun.
Riasan wajahnya berbeda dari
biasanya, dengan lipstik merah yang sedikit lebih menyala dan polesan mengilap,
memberinya kesan yang elegan sekaligus menawan. Ia terlihat segar dan murni,
namun juga memancarkan daya pikat yang halus. Di setiap langkah yang makin
dekat, rasa gugupku kian memuncak.
(Haruskah aku
memanggilnya sekarang?)
Melihat ke sekeliling,
kuperhatikan orang-orang yang melintas sesekali melayangkan pandangan ke
arahnya. Ia menarik perhatian banyak orang dengan begitu mudahnya. Namun, Saito
tampaknya tidak memedulikannya, asyik memainkan ponselnya dengan ekspresi datar
yang tenang. Kecantikannya yang menyilaukan hampir terasa mengintimidasi, dan
untuk sesaat, aku ragu-ragu untuk mendekatinya.
Saat aku akhirnya tiba di
hadapannya, ia pasti mendengar langkah kakiku karena ia mendongakkan kepalanya.
Matanya yang jernih dan memikat bertemu dengan mataku.
"Yo."
"...Eh,
Tanaka-kun!?"
Begitu mata kami bertemu,
ekspresi Saito sempat melunak sesaat sebelum matanya membelalak kaget.
"Wah. Kau langsung
mengenaliku."
Itu di luar dugaan. Kupikir
penyamaranku sudah sempurna—Kazuki bahkan bilang dia tidak akan mengenaliku
secara langsung. Aku sudah bersiap-siap menghadapi sikap waspadanya. Saito
mendongak menatapku dengan ekspresi penasaran.
"Jadi... ada apa dengan
pakaian ini?"
"Yah... karena kita mau
jalan-jalan, kupikir aku harus berpakaian sedikit lebih rapi. Dan kau
kelihatannya penasaran ingin melihat bagaimana penampilanku kalau berdandan
rapi waktu kita ke kuil dulu."
"Oh, itu. Kau masih
ingat?"
"Iya. Apa... kelihatan
aneh?"
"Tidak, sama sekali tidak. Aku cuma terkejut."
"Begitu ya.
Syukurlah."
Aku menghela napas lega dalam
diam.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana kau bisa tahu kalau ini aku?"
"Eh...?"
"Maksudku, pakaian ini sangat
berbeda dari penampilanku yang biasa. Ditambah lagi, aku tidak memakai
kacamata. Kukira awalnya kau bakal salah mengira aku orang lain dan bersikap
waspada. Bagaimana caramu mengetahuinya?"
"Y-yah, itu kan...
um..."
Dengan gugup ia mengalihkan
pandangannya, menggenggam kaleng di tangannya erat-erat.
"Yah, kau tahu sendiri,
karena kita sering menghabiskan waktu bersama, aku bisa mengenali perubahan
sekecil apa pun padamu."
"Begitukah?"
"Iya. Kalau kau bertemu
seseorang hampir setiap hari, wajar saja kalau kau menyadari hal-hal seperti
ini."
"Masuk akal juga. Yah,
setidaknya ini menghemat tenagaku untuk menjelaskan, jadi aku senang kau
langsung mengenaliku."
Meskipun penjelasannya terasa
sedikit canggung, alasannya masuk akal. Melihat seseorang hampir setiap hari
tentu membuat perubahan kecil mudah disadari. Ditambah lagi, dia sudah tahu
kalau aku akan datang, yang mungkin turut membantu.
Meskipun tidak berjalan persis
seperti dugaanku, reaksinya membuatku merasa berhasil mengejutkannya. Rasa puas
memenuhi dadaku.
"Maaf sudah membuatmu
menunggu."
"Tidak apa-apa. Aku cuma
datang terlalu cepat, jadi jangan dipikirkan."
"Baiklah."
Aku ingin memuji pakaiannya. Itu
adalah tips yang kubaca di internet, dan kupikir aku harus segera
mempraktikkannya secepat mungkin. Tapi bagaimana cara mengungkitnya?
"Uh... kau terlihat sangat
modis hari ini."
"Yah... itu karena aku pergi
bersamamu. Apa... kelihatan aneh?"
Ia menatapku, matanya sedikit
bergetar menyiratkan sekelumit rasa ragu.
"Sama sekali tidak. Menurutku,
kamu imut sekali. Sangat cocok untukmu."
"B-benarkah?"
Pemandangan dirinya saat aku
pertama kali tiba tadi telah memukauku, dan aku menjawabnya dengan tulus, meski
rasa gugup membuat suaraku agak kaku. Mendengar kata-kataku, pipi Saito merona
merah lembut, dan senyum kecil terukir di bibirnya.
"...Ah."
Dia memang sudah cantik dengan
penampilannya yang biasa, tetapi dengan riasan dan pakaian hari ini,
keimutannya terasa hampir berbahaya bagi jantungku. Dari jarak sedekat ini,
dampaknya terasa berkali-kali lipat lebih dahsyat. Perpaduan antara pesona muda
dan daya pikat yang elegan membuatnya terlihat sangat menawan, membuatku salah
tingkah. Kepalaku tidak bisa berpikir jernih akibat ketegangan ini. Aku lekas
memalingkan wajah untuk menghindari pemandangan yang terlalu memesona itu.
"Y-ya sudah, bagaimana kalau
kita berangkat sekarang?"
Aku mencoba mengajak kami segera
bergerak, melangkah maju satu langkah. Namun kemudian, kurasakan tarikan pelan
di lengan bajuku.
"T-tunggu, um... bisakah kau
mendekatkan telingamu sebentar?"
"...Ada apa?"
Aku merendahkan tubuhku sejajar
dengan Saito, menekuk lututku agar mata kami saling berhadapan. Saito
menangkupkan tangannya di dekat mulut lalu mencondongkan tubuhnya ke dekat
telingaku.
"...Tanaka-kun juga terlihat
sangat tampan hari ini."
Hembusan napasnya yang hangat
menggelitik telingaku saat ia membisikkan kata-kata manis itu. Desiran rasa geli yang
menyenangkan menjalar di sepanjang tulang belakangku. Kejutan itu membuatku mematung kehilangan kata-kata,
wajahku seketika memanas. Tak sanggup menahan sensasi yang begitu meluap-luap,
aku melangkah mundur dan berbalik menghadapnya.
Saito, dengan senyum yang tampak
sedikit lebih dewasa, meletakkan jari putihnya yang lentik di atas bibirnya.
"Bisa kita berangkat
sekarang?"
Merasa puas, ia memutar tubuhnya
dengan anggun dan mulai melangkah lebih dulu. Memandangi punggungnya yang
menjauh, pipiku yang masih terasa panas kian merona pekat.
—Ah, persis seperti yang
dikatakan Hiiragi-san, Saito hari ini benar-benar tampak berani di luar dugaan.
"Ada apa?"
Menyadari aku masih berdiri
terpaku di sana, Saito menoleh ke belakang menatapku.
"...Tidak, bukan
apa-apa."
"Benarkah? Wajahmu merah
sekali, lho."
Dia jelas-jelas sedang menggodaku.
Matanya yang sedikit menyipit dan nada bicaranya yang jahil membocorkan
niatnya, meski ia berpura-pura tidak bersalah. Suaranya yang riang memperjelas
rasa senangnya. Tentu saja, aku tidak mungkin mengakui bahwa kata-katanya tadi
telah membuatku salah tingkah setengah mati. Aku memalingkan wajahku untuk
mengelak.
"Bukan apa-apa. Cuma
perasaanmu saja."
"Fufu, kalau kau bilang
begitu. Anggap saja begitu."
Tetap saja, Saito tampak
sangat terhibur saat ia tersenyum sendiri lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Jadi, Tanaka-kun, ke mana
tujuan pertama kita?"
"Oh, kupikir kita bisa nonton
film dulu. Kau tidak keberatan, kan?"
"Tentu saja tidak.
Ngomong-ngomong, film apa?"
"Yah, kita bisa ganti kalau
ada film lain yang menarik perhatianmu, tapi untuk sekarang rencananya film
romantis yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan."
"Oh, aku tahu film itu! Film itu diadaptasi dari novel yang sangat laris
manis, kan?"
Tampaknya tebakanku tepat—Saito
memang tertarik. Matanya berbinar saat ia mencondongkan badannya sedikit.
Mengingat betapa mencoloknya buku itu dipajang di toko-toko buku, tidak heran
jika ia mengetahuinya.
"Iya, film yang itu. Mungkin
agak terlalu kekinian, tapi ceritanya menarik perhatianku."
"Aku tidak menyangka kau
bakal tertarik pada hal yang begitu populer, Tanaka-kun."
Matanya sedikit membelalak
kaget.
"Memangnya seaneh
itu?"
"Oh, tidak juga. Aku cuma
punya kesan kalau kau hanya peduli pada hal-hal yang kau sukai secara pribadi
dan tidak terlalu memedulikan tren."
"Yah, biasanya memang
begitu. Aku tidak terlalu pandai mengikuti tren atau gosip. Tapi karena awalnya
ini dari buku, aku jadi penasaran."
"Ah, begitu rupanya. Kau
memang benar-benar mencintai buku, ya?"
Ia terkekeh pelan. Nada
suaranya mungkin terdengar pasrah, tetapi saat kulirik dari samping, ia tampak
senang, ekspresi wajahnya melembut. Merasa malu, aku buru-buru mengalihkan
pandanganku ke depan.
"Apa yang salah dengan
itu?"
"Tidak ada yang salah sama
sekali. Menurutku itu sangat mencerminkan dirimu. Tanaka-kun yang bersemangat
soal buku itu menggemaskan."
"Dibilang menggemaskan tidak
membuatku senang, tahu."
"Ya ampun, padahal aku sedang
memujimu."
Aku tidak terlalu suka dibilang
"menggemaskan", terlebih sebagai seorang laki-laki. Saito, yang
tampaknya kurang puas dengan reaksiku, sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Jadi, jam berapa filmnya
mulai?"
"Jam sebelas,
seingatku."
"Kalau begitu kita masih
punya banyak waktu. Ayo jalan santai saja."
Dengan langkah kaki yang membal
riang, ia berputar pelan, membuat roknya berkibar imut. Semangatnya yang tak
biasa tinggi ini begitu menular, dan aku pun melangkah mengikutinya di samping.
Sesuai yang diucapkan, kami
berjalan perlahan dan tenang. Kami berdua pada dasarnya bukan tipe orang yang
banyak bicara, jadi jeda hening sering kali tercipta di antara kami. Namun
anehnya, keheningan itu sama sekali tidak terasa canggung. Tidak ada rasa cemas
untuk memaksakan topik obrolan—hanya rasa nyaman yang menenteramkan karena bisa
bersama.
Aku bertanya-tanya bagaimana
perasaan Saito. Saat melirik ke arahnya, kulihat pemandangan yang tidak biasa.
Raut wajahnya tampak jauh lebih lembut, bibirnya sedikit melengkung membentuk
senyuman tipis. Melihatnya begitu menikmati momen ini menghadirkan rasa bahagia
yang tenang di dalam hatiku.
"Kau kelihatan sangat
senang."
"Begitukah?"
"Iya, kau tersenyum terus
dari tadi. Dan ekspresimu jauh lebih santai dari biasanya."
"...Eh? Eh!?"
Langkah kakinya terhenti seketika,
mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Kemudian, saat makna kata-kataku meresap
ke kepalanya, pipinya berubah menjadi merah pekat.
Rupanya, ia tidak menyadarinya
sendiri. Pandangannya bergerak gelisah ke sana kemari, gerak-geriknya terlihat
jelas sangat kelabakan. Karena malu, ia menutupi kedua pipinya yang memerah
dengan kedua tangannya.
Masih dalam keadaan salah
tingkah, ia terbata-bata, "Eh, um, maksudku..." sembari bersusah
payah merangkai kata. Ia sempat
melirikku sekilas, hanya untuk kembali menundukkan pandangannya ke tanah.
Aku tidak menyangka dia bakal
sekaget ini. Reaksinya membuat fokusku buyar, dan aku malah melontarkan kalimat
yang aneh.
"Eh, bukan, maksudku
bukan dalam artian buruk. Kau terlihat imut saat tersenyum."
Terlepas dari rasa malunya,
menurutku senyumannya memang sangat Imut, hal yang tidak perlu ia tutupi.
Namun Saito malah melontarkan pekikan kecil yang kaget.
"I-imut!?"
"Bukan, maksudku, iya, memang imut tapi bukan begitu maksud perkataanku tadi! Maksudku—kau kelihatan bahagia, dan
menurutku itu hal yang bagus, cuma itu saja."
"Ah, b-begitu ya. Jadi itu
maksudmu."
Dalam keadaan panik, aku mencoba
meluruskannya, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Saito tetap membungkukkan
tubuhnya sedikit, wajahnya serasa terbakar panas. Bahkan lehernya yang biasanya
seputih porselen kini dihiasi semburat merah muda.
Aku benar-benar salah bicara kali
ini... Memandanginya, aku menghela napas
kecil.
Untuk beberapa saat, Saito tetap
menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona merah. Perlahan-lahan, ia tampak
mulai tenang, dan rona merahnya memudar menjadi warna merah muda sakura yang
lembut. Begitu mencapai tahap itu, barulah ia mengangkat kepalanya.
"Maaf sudah memperlihatkan
sisi memalukan dariku barusan."
"Oh, tidak, menurutku tidak
memalukan. Malahan tadi terlihat imut, jadi tidak apa-apa."
"T-tolong jangan
diteruskan..."
Itu benar adanya—Saito dengan
wajahnya yang merona dan sikapnya yang malu-malu terlihat luar biasa
menggemaskan. Saat aku menyangkal ucapannya demi menenangkannya, nada suaranya
sedikit meninggi saat membalas. Aku
mengangguk secara refleks, dan ia berdeham pelan untuk mengatur napasnya.
"Aku tidak menyadari
kalau ekspresiku serileks itu tadi. Apa aku kelihatan
aneh?"
"Tidak, sama sekali tidak.
Itu cuma menunjukkan betapa kau menikmati harimu."
"Yah, itu karena aku pergi
keluar bersamamu, Tanaka-kun."
"Benarkah?"
"Iya. Aku biasanya jarang
bepergian, jadi sekadar pergi keluar saja sudah menyenangkan. Tapi lebih dari
itu, ini adalah acara jalan-jalan pertama kita berdua sebagai teman, jadi
itulah alasan utamanya."
Senyum lembutnya, matanya yang
menyipit imut penuh kepuasan, meyakinkanku bahwa kata-katanya barusan murni
tulus dari lubuk hatinya. Gelombang rasa lega menyapu hatiku.
"Begitu ya. Aku senang kau
menikmatinya."
"Aku menantikan sisa hari
ini."
Ia memberiku tatapan jahil yang
penuh harap, membuatku mengangkat bahu ringan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju
bioskop dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Selagi melangkah, kami
mengobrol tentang buku, sekolah, dan topik-topik remeh lainnya. Namun di tengah
percakapan, aku mendapati diriku berulang kali melirik ke arah tangan putih
Saito yang lentik.
Aku sudah memutuskan sebelumnya
bahwa aku akan menggandeng tangannya saat menonton film nanti, tetapi sekarang
setelah momennya makin dekat, rasa gugup mulai merayapi benakku. Ini bukan hal
yang biasa kulakukan, dan aku tak tahan untuk tidak bertanya-tanya bagaimana
cara terbaik untuk melakukannya.
Tak lama berselang, kami tiba
di gedung bioskop. Hawa hangat di dalam ruangan menyambut kami, mengusir dingin
yang sempat merasuk ke kulit.
"Wah, banyak sekali film
yang sedang tayang!"
Poster-poster dari semua film
yang sedang diputar berjejer rapi di dinding, praktis menutupi hampir setiap
sudut ruangan. Saito melangkah cepat beberapa langkah di depanku untuk
mengamatinya dari dekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Ada yang menarik
perhatianmu?"
Selain film pilihan kami, ada film
aksi, fiksi ilmiah, misteri, dan genre lainnya. Pandanganku menyusuri
poster-poster itu dengan santai.
"Tidak, kurasa aku tetap
ingin menonton film romantis yang kau sarankan tadi, Tanaka-kun."
"Benarkah? Kita bisa pilih
yang lain kalau kau mau."
"Tidak, film itulah yang
paling menarik perhatianku. Lagipula..."
"Lagipula?"
Ia sempat ragu sesaat, pipinya
merona merah muda, sebelum memberiku senyuman malu-malu.
"Yah, film romantis rasanya
sangat pas untuk sebuah kencan, kan? Terlebih karena ini bersamamu,
Tanaka-kun."
"O-oh, begitu ya."
Senyumannya yang lembut bak bunga
mekar sempat merenggut kata-kataku sejenak. Mendengar kata "kencan"
diucapkan secara gamblang membuatnya terasa sangat menggetarkan hati. Aku bisa
merasakan wajahku memanas lagi saat mataku menangkap kilau cahaya dari
anting-antingnya.
Kami membeli tiket dan minuman,
lalu menunggu waktu masuk teater tiba. Selagi duduk menunggu, Saito memandangi
tiketnya dengan senyum bahagia, memperhatikannya berulang-ulang.
Tak lama kemudian, pengumuman
untuk masuk teater berkumandang, dan para pengunjung mulai bergerak. Kami
mengikuti arus dan mencari tempat duduk kami.
Lampu-lampu perlahan meredup, dan
layar lebar mulai menyala. Di bawah pendar cahaya layar, garis wajah Saito dari
samping menarik perhatianku, tetapi aku lekas menundukkan pandanganku.
Di sebelah kiriku, sekitar sepuluh
sentimeter jauhnya, ada Saito. Tangan kanannya bertumpu di sandaran tangan,
jari-jemarinya yang lentik mengintip dari balik lengan bajunya. Menelan ludah
dengan gugup, perlahan kuulurkan tanganku.
Sedikit demi sedikit. Senti demi senti. Tanganku
merayap mendekat hingga nyaris bersentuhan dengan kulitnya. Menarik napas perlahan, kuletakkan tanganku dengan lembut
di atas tangannya.
"...!"
Tubuhnya tersentak kaget sedikit
akibat sentuhan itu. Aku meliriknya, dan mata kami bertemu. Tatapan matanya
yang besar memantulkan cahaya dari layar, berbinar begitu hidup. Ia memalingkan
pandangannya, menunduk anggun, dan kemudian...
Ia menautkan jari-jemarinya yang
ramping di sela-sela jariku.
Telapak tangannya terasa sangat
hangat—hampir terasa begitu meluap. Saat kuremas tangannya perlahan, ia
membalas genggaman itu dengan lembut. Tindakan sederhana yang saling terhubung
ini memenuhiku dengan rasa bahagia yang tak terlukiskan. Selagi aku menikmati momen
tersebut, sebuah suara imut berbisik di dekat telingaku.
"Kau ingin menggandeng
tanganku ya?"
"Uh, yah... iya, kurasa
begitu."
Ditanya secara terang-terangan
seperti itu terasa sangat memalukan. Aku gelagapan mencari jawaban yang masuk
akal, tetapi tampaknya niatku sudah terbaca sangat jelas. Saito tersenyum
lembut, bibirnya melengkung membentuk tawa yang riang.
Dia benar-benar membuatku berada
di bawah kendalinya. Merasa sedikit kesal karena dipermainkan, kuputuskan untuk
membalikkan keadaan.
"Bagaimana denganmu sendiri?
Apa kau juga ingin bergandengan tangan?"
Dari reaksinya sebelumnya, kutebak
dia sebenarnya tidak sepenuhnya santai menghadapi hal-hal semacam ini. Dia
memang terlihat percaya diri saat berinisiatif, tapi kupikir dia pasti bakal
tersipu jika kudesak balik.
Ternyata dugaanku salah besar.
"Aku? Tentu saja aku mau. Bergandengan tangan di dalam
bioskop membuat jantungku berdebar kencang."
"B-begitu ya..."
Meskipun kedua pipinya merona
merah muda tipis, ketenangannya tetap terjaga sempurna. Malahan, ia secara terang-terangan memperlihatkan tautan
tangan kami padaku, membalikkan situasi dan membuatku semakin sadar akan
kebersamaan ini.
(Kenapa dia bisa setenang ini soal
hal begini...?)
Aku berusaha mendinginkan rasa
panas di wajahku selagi kami menunggu film dimulai.
Saat film resmi dimulai, aku
mengalihkan fokusku ke layar. Namun kehangatan dari tangannya terus membekas,
menolak untuk memudar. Pipiku tetap terasa hangat selagi kuatur nafasku dan
menjaga pandanganku tetap lurus ke depan.
Film itu menceritakan tentang kisah cinta masa kecil. Mengisahkan tentang seorang pemuda dan gadis yang berteman sejak kecil, yang perlahan mulai menyadari perasaan masing-masing saat memasuki masa SMA. Melalui berbagai peristiwa dan rintangan, perasaan mereka tumbuh semakin kuat, dan cerita itu menggambarkan perkembangan hubungan mereka dengan sangat teliti dan imut.
Di tengah-tengah pemutaran film,
sesekali aku mencuri pandang ke arah Saito. Pandangannya terpaku lekat pada
layar, dipenuhi rasa penasaran. Warna-warni cerah dari layar terpantul di
matanya yang indah, membuatnya berkilau persis batu permata. Bibirnya yang
dipoles mengilap membawa daya pikat halus yang membuatku menelan ludah dengan
gugup.
Pada adegan-adegan yang
menegangkan atau berbahaya, ia tanpa sadar meremas tanganku dengan erat,
mungkin karena takut atau gugup. Jantungku berpacu kencang setiap kali hal itu
terjadi. Apa dia sengaja melakukannya? Manuver mendadak seperti ini terlalu berat
untuk kutanggung sendiri.
Seiring berlalunya momen-momen
itu, jalan cerita perlahan mencapai konklusinya.
"Aku takut menyatakan
perasaan karena itu bisa merusak hubungan yang kita miliki sekarang."
Pada adegan klimaks film tersebut,
sang tokoh utama pria dan perempuan sebenarnya sudah sama-sama menyadari
perasaan masing-masing. Yang tersisa hanyalah pengakuan cinta. Saat monolog
batin sang tokoh perempuan dimainkan, kata-kata itu menusuk perasaanku begitu
dalam.
Aku memahami perasaan sang tokoh
perempuan dengan sangat sempurna.
Mengambil langkah berikutnya dalam
sebuah hubungan berarti mengubah dinamika yang ada saat ini. Sekali ada yang
berubah, segalanya tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, tak peduli
seberapa berharganya hubungan itu dulu.
Itulah mengapa rasa takut untuk
melangkah maju—rasa takut kehilangan apa yang kau miliki saat ini karena kau
begitu menyayanginya—terasa begitu luar biasa berat. Aku belum siap kehilangan
ikatan nyaman yang saat ini kami bagi bersama.
Aku masih remaja, jadi tentu saja
aku punya keinginan untuk merasakan bagaimana rasanya berpacaran. Namun aku
tidak ingin memanfaatkan Saito hanya demi memuaskan rasa penasaran semata.
Sebuah hubungan pada akhirnya bisa
berakhir—pemikiran itulah yang membuatku ragu untuk mengambil langkah pertama
tersebut.
(Apa yang dipikirkan Saito tentang
semua ini?)
Aku meliriknya dari sudut mataku.
Dia memercayaiku, memperlihatkan
begitu banyak sisi dirinya padaku, menjahiliku, dan bahkan membiarkanku
menggenggam tangannya. Dengan semua hal itu, rasanya tak terbantahkan lagi
bahwa Saito menyukaiku. Tentu saja, kalau semua ini ternyata cuma imajinasiku
semata, itu bakal sangat memalukan...
Sebentar lagi
saja. Aku ingin tetap seperti ini, sebentar lagi saja.
Jika aku suatu saat ingin
mengambil langkah berikutnya, itu adalah saat di mana aku sudah benar-benar
siap menanggung risiko kehilangan apa yang kami miliki sekarang. Ketika aku
sudah memiliki tekad sebesar itu, barulah aku akan menyatakan cintaku. Sampai
saat itu tiba, aku akan menunggu.
***
Pada akhirnya, film itu
ditutup dengan sang tokoh utama pria yang mengumpulkan segenap keberaniannya,
menyatakan perasaannya, dan diterima dengan bahagia. Akhir cerita yang sempurna
dan membahagiakan. Rasa lega dan sukacita membuncah di dalam dadaku.
"Tadi itu film yang
sangat bagus ya," ujar Saito.
"Iya, banyak adegan yang
terasa sangat relate denganku."
"Aku juga. Terutama
dengan tokoh perempuannya—banyak sekali momen di mana aku bisa merasakan apa
yang ia rasakan. Aku sampai menahan napas beberapa kali."
Ekspresi melamun Saito dan
suaranya yang lembut memperjelas bahwa ia masih terhanyut dalam sisa-sisa emosi
seusai menonton. Nada bicaranya menyampaikan betapa ia sangat menikmati film
tersebut.
"Iya, kau kelihatan
sangat fokus sekali sepanjang film tadi," kataku.
"Eh? Kau
memperhatikanku?"
Pipinya merona merah muda
tipis, dan matanya membelalak kaget. Ia terlihat begitu menggemaskan hingga aku
tak tahan untuk terus berbicara.
"Sedikit. Kau begitu
larut menatap layar, kelihatan jelas sekali betapa kau menikmatinya."
"Ceritanya memang
sederhana, tapi justru itu yang membuatnya mudah untuk berempati pada tokoh
perempuannya. Tanpa kusadari, aku melihat segalanya dari sudut
pandangnya."
"Wah, kalau sampai
membuatmu seantusias itu, kurasa film ini sangat layak ditonton. Bagian mana
yang paling membekas buatmu?"
"Hmm, sulit
memilihnya..."
Ia mengetuk dagunya perlahan
dengan jari rampingnya, mengernyitkan alisnya sembari berpikir. Setelah jeda
sesaat, ia berbicara dengan pelan.
"...Adegan tepat sebelum
pernyataan cinta itu, kurasa."
"Adegan pernyataan
cinta?"
"Iya. Waktu tokoh
perempuannya bilang kalau dia takut menyatakan cinta karena itu bisa merusak
hubungan mereka."
"Ah, bagian yang
itu."
"Iya. Sangat menakutkan
rasanya membayangkan kehilangan satu hal yang paling berharga dalam
hidupmu..."
Suaranya yang lembut dan
terdengar agak lirih membawa nada yang rapuh, diwarnai sekelumit kesedihan yang
samar. Selagi aku menimbang apa yang harus kukatakan, Saito mengangkat
kepalanya. Bayangan muram yang sempat melintas di wajahnya beberapa detik lalu
telah sirna.
"Tapi aku sangat suka bagian
akhirnya. Cara tokoh utamanya mengumpulkan keberanian untuk mengambil langkah
itu—terlihat sangat pas dan gagah, sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan
pandanganku darinya."
"Iya, itu benar-benar sangat
keren."
Raut gelap sesaat tadi telah
lenyap sepenuhnya, berganti dengan senyum cerah selagi kami saling bertukar
pendapat tentang film tersebut. Pernyataan cinta yang berani dari sang tokoh
utama memang patut dikagumi. Jika suatu saat nanti aku punya kesempatan untuk
menyatakan cinta, aku ingin melakukannya dengan cara sekeren itu.
Kami terus mendiskusikan berbagai
adegan dan kesan kami selagi melangkah keluar dari gedung bioskop.
Melangkah keluar, hembusan angin
dingin menyapu kami berdua. Kontrasnya suhu dengan kehangatan di dalam bioskop
membuat tubuhku refleks bergidik kedinginan. Di sampingku, Saito melakukan hal
yang sama, sedikit meringkuk dan menarik pundaknya ke atas.
"Wah, dingin sekali di
luar."
"Iya. Terasa jauh lebih
dingin setelah berada di dalam bioskop yang hangat."
"Ayo lekas cari makan. Kau
sudah menentukan tempatnya?"
"Sudah, aku sudah memesan
tempat di kedai panekuk (pancake). Katanya tempat itu sangat
terkenal."
"Oh, benarkah? Aku jadi tidak
sabar."
Wajah Saito seketika berseri-seri
dipenuhi antusiasme.
Sejak pertama kali melihatnya
begitu menikmati makanan manis seperti es krim dan kue, aku sudah curiga kalau
dia sangat menyukai makanan manis. Tampaknya pilihanku kali ini tepat sasaran.
Reaksi bahagianya membuatku tersenyum puas dalam hati.
"Kuharap kau
menyukainya."
"Tunggu... apa itu kedai
panekuk di dekat stasiun? Yang baru
buka sekitar setahun yang lalu?"
"Iya, yang itu."
"Aku pernah ke sana
sebelumnya! Rasanya enak sekali. Aku senang sekali bisa menikmatinya lagi.
Fufufu, aku sudah tidak sabar."
"Ternyata panekuk sedang
sangat populer belakangan ini, ya. Buatku, panekuk itu cuma seperti hotcake
yang biasa dibuat di rumah, jadi aku sempat ragu apa kau bakal menyukainya. Tapi kalau kau menantikannya, syukurlah."
"Bicara apa sih kau ini? Hotcake
biasa dan panekuk di sana itu dua hal yang sama sekali berbeda!"
"Eh, i-iya..."
Dia tampak tersinggung dengan
komentarku barusan, menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang sangat serius.
Matanya yang jernih dan indah mengunci tatapanku.
"Dengar ya, panekuk di tempat
itu adalah hidangan penutup yang telah memikat hati para wanita di seluruh
Jepang. Tidak, bukan cuma wanita—bahkan orang-orang dari segala usia dan
kalangan menyukainya. Rasanya sama sekali tidak bisa disamakan dengan adonan hotcake
instan kemasan toko."
"B-benarkah begitu? Kalau
begitu aku akan ikut menantikannya."
Dihadapkan pada penjelasan
berapi-api dari Saito, aku sampai terbata-bata. Tampaknya ia memiliki
keterikatan emosional yang sangat kuat terhadap panekuk ini. Aku belum pernah
melihatnya berbicara sebanyak ini untuk hal lain di luar buku, jadi makanan itu
pasti sangat istimewa baginya.
Aku lekas mengangguk setuju, yang
membuat Saito tersenyum puas. "Iya, aku yakin kau juga bakal ketagihan
nanti."
Didorong oleh hembusan angin
dingin, kami melanjutkan langkah menuju kedai panekuk tersebut.
***
Di sepanjang jalan, Saito terus
menceritakan dengan penuh semangat tentang betapa lezatnya panekuk itu hingga
akhirnya kami tiba di depan gerai.
"Oh, kita sudah sampai."
"Iya."
Celotehannya yang begitu hidup
tadi terasa sangat manis sampai-sampai aku berharap bisa mendengarkannya lebih
lama, tetapi pemandangan kedai di hadapan kami membuat obrolan kami terhenti
secara alami. Dengan denting lembut lonceng pintu, kami melangkah ke dalam.
Interiornya mengusung atmosfer
yang gelap dan elegan, dengan suasana tenang dan hening yang seketika
menyelimuti kami.
Seorang staf memandu kami menuju
sebuah meja, tempat kami duduk saling berhadapan. Setelah meletakkan buku menu
di atas meja, staf itu membiarkan kami memilih pesanan.
"Ini pertama kalinya aku ke
sini, tapi suasananya sangat nyaman. Kelihatannya tempat yang bagus untuk
membaca buku."
"Kenapa tolok ukurmu selalu
itu terus sih...?"
Saito tersenyum tipis agak pasrah
tetapi menambahkan, "Tapi aku bisa sedikit paham maksudmu, sih." Tuh,
kan? Aku tahu alasanku masuk akal.
Kubuka buku menunya untuk melihat
isinya. Persis seperti yang kulihat di
internet, pilihannya sangat beragam.
"Waktu terakhir kali ke sini,
kau pesan apa?"
"Yang ini—pilihan paling
populer. Disajikan dengan es krim vanila dan sirup. Imutnya pas dan rasanya
luar biasa lezat."
"Kedengarannya enak.
Kelihatannya menggugah selera."
Foto yang ditunjuknya
memperlihatkan tiga tumpuk panekuk putih yang lembut dan tebal (fluffy)
dengan sesendok es krim vanila di atasnya, disiram sirup keemasan yang
mengilap. Hanya melihatnya saja sudah membuat air liurku menetes.
Saito, sementara itu, sedang
meneliti pilihan-pilihan lainnya dengan mata berbinar, pandangannya bergerak
perlahan menyusuri lembaran menu. Rasa antusiasnya terlihat begitu jelas saat
ia tersenyum, tenggelam sepenuhnya dalam pilihan menu.
"Kau mau pesan yang
mana?"
"Hm, aku bingung memilih
antara dua ini..."
Ia menunjuk ke panekuk matcha dan
panekuk stroberi musiman. Keduanya terlihat sama-sama lezat, jadi
kebimbangannya sangat bisa dipahami.
Namun yang menarik perhatianku
adalah tulisan "Menu Terbatas Musiman". Kalau dipikir-pikir lagi,
bukankah dulu dia pernah menyeretku ke kedai es krim gara-gara ada menu spesial
musiman?
"Kau suka sekali menu edisi
terbatas ya?"
"Yah, iya. Memangnya ada
masalah?"
Pipinya sedikit merona saat ia
mendongak menatapku, membaca reaksiku. Ekspresi malu-malunya itu terasa agak
terlalu menggemaskan.
"Tidak, bukan masalah sama
sekali. Aku cuma baru sadar kalau kau sangat memperhatikan hal-hal seperti
itu."
"Tentu saja! Ini kan menu
edisi terbatas. Kalau melewatkannya sekarang, aku mungkin tidak akan pernah
bisa mencobanya lagi seumur hidup."
Dia benar-benar sudah terpikat
seutuhnya oleh strategi pemasaran kedai ini. Di luar dugaan sangat mudah
ditebak.
"Masuk akal juga. Kalau
begitu kenapa kau tidak pesan yang menu musiman saja? Aku yang akan pesan yang
rasa matcha."
"Kau yakin tidak
apa-apa?"
"Iya. Aku suka matcha, dan
yang stroberi kelihatannya enak juga."
Aku memang tulus menyukai matcha,
dan panekuk stroberi itu memang terlihat menggoda. Namun lebih dari itu, ini
adalah alasan sempurna untuk bisa saling mencicipi makanan secara alami. Merasa
puas dengan jalannya rencana, kupanggil staf untuk mencatat pesanan kami.
***
Setelah menunggu sebentar, dua
porsi panekuk diantarkan ke meja kami bersamaan dengan aroma manis yang sangat
menggoda. Wangi hangat nan harum menggelitik hidungku saat piring-piring itu
diletakkan.
"Wah, kelihatannya luar biasa
enak!"
Mata Saito berbinar-binar penuh
semangat saat menatap panekuknya. Binar antusias layaknya anak kecil di
wajahnya terlihat sangat menggemaskan, sangat kontras dengan kepribadiannya
yang biasanya begitu tenang. Aku tak bisa menahan senyum.
"Selamat makan."
"Iya, selamat makan."
Kami menangkupkan kedua tangan
sejenak untuk mengucapkan "itadakimasu". Saito kemudian dengan
hati-hati mengarahkan garpunya ke arah panekuk, memotong sepotong kecil
menggunakan pisaunya. Ia menusuk potongan itu dengan garpu lalu menyuapkannya
ke dalam mulut.
Tepat saat mencicipinya, matanya
membelalak lebar selagi melontarkan suara "Mmm!" pelan. Kemudian,
ekspresi wajahnya meleleh ke dalam kenikmatan murni selagi ia menikmati cita
rasanya.
"Enak?"
"Iya! Bukan cuma manis—rasa
asam segar dari buah stroberinya mengimbangi rasanya dengan sempurna.
Benar-benar luar biasa lezat."
Senyum cerahnya terasa begitu
hangat dan berseri-seri, pemandangan yang benar-benar memikat hati.
Terdorong oleh reaksinya, kugigit
suapan pertama dari panekuk matchaku. Rasa manis pekat yang berpadu dengan
sedikit rasa pahit khas matcha menyebar di dalam mulutku, melengkapi adonan
panekuknya yang lembut dengan sangat pas. Bahkan orang sepertiku yang tidak
terlalu menggilai makanan manis pun bisa mengakui betapa lezatnya hidangan ini.
"Bagaimana rasanya?"
"Sangat enak."
Saito memperhatikanku dengan mata
penuh rasa ingin tahu saat aku memberikan penilaian, lalu tersenyum puas
mendengar jawabanku. Namun tampaknya ia belum selesai—pandangannya melirik
sekilas ke arah piringku, seolah sedang membaca situasi.
Momen yang pas. Ini kesempatan
yang sempurna.
"Mau coba?"
"Iya, mau."
"Baiklah, ini, buka mulutmu,
'aaah'."
Kupotong sebagian kecil dari
panekukku lalu mengarahkannya ke mulut Saito menggunakan garpuku. Kedua pipinya
seketika merona merah muda tipis, dan matanya bergetar ragu-ragu sejenak.
"Uh... um..."
"Kenapa? Kau tidak mau
makan?"
"M-mau!"
Terlepas dari rasa malunya, ia
mencondongkan tubuhnya dan lekas melahap potongan itu seolah khawatir aku akan
menarik kembali garpuku.
"Jadi? Bagaimana
rasanya?"
"Rasanya... lezat
sekali."
Suara lembutnya menggumamkan
kata-kata itu selagi ia dengan malu-malu mendongak menatapku. Raut wajahnya
yang dihiasi semburat merah tua memperjelas betapa salah tingkahnya dia. Jelas
sekali rencanaku telah berhasil dengan sempurna.
Merasa puas dengan keberhasilan
strategiku, kulihat Saito memotong sepotong kecil dari panekuk stroberinya.
Kemudian, tanpa aba-aba, ia mengarahkannya tepat ke depan mulutku.
"Saito?"
"Ini balasan untuk yang tadi.
Ini, makanlah."
Nada bicaranya membawa sedikit
nada jengkel yang dibuat-buat, tetapi tatapan matanya yang menggoda
menceritakan hal yang berbeda. Aku sama sekali tidak menyangka dia bakal
membalikkan keadaan padaku secepat ini. Menatap garpu yang disodorkannya, aku
sempat ragu-ragu, kaget oleh situasi ini. Meski begitu, aku mencondongkan tubuh
dan memakan suapan itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Ah... iya, enak."
"Baguslah! Kalau begitu, ini
satu suapan lagi."
Sebelum aku sempat merespons, dia
sudah menyodorkan suapan berikutnya ke hadapanku.
"T-tunggu, uh..."
Aku tidak bisa memikirkan cara
untuk menolaknya, jadi aku mematung menatap garpu di depanku.
"Kau tidak mau?"
"M-mau! Aku makan."
Dengan salah tingkah, aku
mencondongkan badan dan memakan suapan berikutnya.
Pada suapan kedua ini, aku menjadi
jauh lebih sadar akan apa yang sedang kulakukan, membuat pipiku memanas karena
malu. Selagi berusaha menguasai diri, kulirik Saito yang sedang tersenyum penuh
kemenangan.
"Baiklah, satu suapan lagi
ya."
"I-iya..."
Dan begitu saja, aku berakhir
disuapi berkali-kali olehnya.
—Bagaimana ceritanya situasinya
bisa jadi begini?
Meskipun keadaannya sempat
berbalik menekanku, kami entah bagaimana berhasil menghabiskan panekuk kami
masing-masing. Menghela napas lega secara perlahan, aku menatap ke arah Saito.
"Tadi itu sangat lezat,
ya?"
"Iya, benar-benar
lezat."
Senyum lembut Saito memancarkan
rasa puas yang mendalam. Ini bukan sekadar imajinasiku saja—hari ini dia memang
jauh lebih berani dari biasanya, membuat konsentrasiku buyar berkali-kali.
Menggaruk bagian belakang leherku, aku berusaha membiasakan diri dengan sikap
proaktifnya yang tidak biasa ini.
"Berikutnya ke kafe
kucing, kan?"
"Iya. Itu kan tempat yang
kau inginkan, dan aku sudah memesan tempat, jadi kita tidak perlu
mengantre."
"Sempurna! Aku bersemangat
sekali. Penasaran kucing jenis apa saja yang ada di sana."
Suaranya yang ceria dan senyum
lembutnya memperjelas betapa ia sangat menantikan kunjungan ini.
"Dari yang kubaca di
internet, mereka punya berbagai macam ras kucing. Seingatku ada ras Munchkin
juga."
"Iya, benar sekali! Kucing
Munchkin itu sangat imu dengan kakinya yang pendek. Aku pernah melihatnya di
televisi tapi belum pernah punya kesempatan untuk menyentuhnya langsung."
"Benarkah? Kukira kau sering
mampir untuk melihat-lihat mereka di toko hewan peliharaan atau
semacamnya."
"K-kenapa kau bisa tahu hal
itu?!"
Matanya yang membelalak lebar dan
suaranya yang sedikit meninggi membocorkan rasa terkejutnya. Aku sebenarnya
cuma menebak-nebak saja, membayangkan sosoknya yang berdiri memandangi
kucing-kucing dari balik kaca toko hewan. Rupanya tebakanku tepat sasaran.
"Kau kan selalu bersemangat
kalau menyangkut hal-hal yang kau sukai. Rasanya itu gambaran yang sangat pas
untukmu."
"A-aku tidak seobsesif itu.
Aku ini sangat normal."
"Kau bilang begitu, tapi
bukankah tadi kau baru saja memuji panekuk dengan begitu berapi-api?"
"I-itu kan beda cerita!
Pokoknya, aku belum pernah menyentuh kucing Munchkin sebelumnya, jadi aku sudah
tidak sabar ingin bertemu!"
Pipinya yang malu merona merah
saat ia berusaha mengalihkan arah pembicaraan. Meski tergoda untuk menggodanya
lebih jauh, kuputuskan untuk mengurungkannya dan mengikuti alur obrolannya
saja.
"Kau punya ras favorit
lainnya?"
"Hmm... tidak ada yang
spesifik di kepalaku sekarang. Oh, tapi aku suka jenis American
Shorthair. Dulu keluargaku pernah memeliharanya waktu aku masih kecil."
"Oh, jadi kucing yang kita lihat waktu jalan
pulang tempo hari itu jenis itu ya? Kucing jenis itu memang yang biasa
dibayangkan orang-orang kalau bicara soal kucing."
"Iya, tepat sekali. Tapi
justru itulah daya tariknya. Tapi sejujurnya, menurutku semua kucing itu
menggemaskan. Sifat tsundere mereka dan bagaimana mereka tiba-tiba bisa
menjadi sangat manja—Tanaka-kun, kuberi tahu ya, kau pasti bakal terpesona
sepenuhnya oleh mereka nanti. Sebaiknya kau siapkan dirimu."
"Baiklah, aku akan
menantikannya."
Melihat Saito berbicara dengan
antusiasme yang jauh lebih besar dari biasanya, aku tak tahan untuk tidak
terkekeh pelan. Komentarku sebelumnya tentang sifat menggebu-gebunya terasa
sangat ironis sekarang.
Kami meninggalkan kedai panekuk
dan tak lama kemudian tiba di kafe kucing. Saat melangkah masuk, pemandangan
kucing-kucing yang sedang bersantai dan berjalan-jalan di area dalam menyambut
kami.
"Selamat datang! Apakah sudah
reservasi sebelumnya?"
"Iya, atas nama Tanaka."
"Baik, sudah tercatat.
Silakan mengisi formulir pendaftaran di sebelah sini."
Staf memandu kami menuju
konter, dan aku menuliskan namaku di lembar formulir. Saat sedang mengisinya, kurasakan tarikan pelan di lengan
bajuku.
"Tanaka-kun. Tanaka-kun.
Lihat! Luar biasa sekali—banyak sekali kucingnya! Mereka sedang jalan-jalan.
Oh! Yang di sebelah sana sedang menguap! Imut sekali. Benar-benar terlalu
imut."
Suara Saito dipenuhi rasa antusias
yang meluap-luap, jauh lebih ekspresif dari yang kubayangkan. Matanya yang
berbinar-binar terus terpaku pada kucing-kucing di bagian belakang ruangan,
melirik ke sana kemari penuh ketakjuban.
"Iya, aku paham, aku paham.
Tunggu sebentar lagi, ya?"
Sikap tenangnya yang biasa sudah
lenyap entah ke mana. Sosok Saito yang anggun dan pendiam telah berganti dengan
seseorang yang terus menarik-narik lenganku, mendesakku dalam diam untuk lekas
selesai. Berusaha menenangkannya, aku segera menyelesaikan proses pendaftaran.
"Waktunya satu jam ya?"
"Iya."
"Nanti kalau waktunya hampir
habis, kami akan memberi tahu Anda. Selamat menikmati kunjungan Anda."
Setelah pendaftaran selesai, aku
menghela napas lega dan berbalik menghadap Saito.
"Sudah beres semuanya."
"Bagus! Kalau begitu ayo kita
masuk sekarang juga!"
"Eh, i-iya."
Saito yang terlalu teralihkan oleh
kucing-kucing itu sampai tidak sadar, langsung menggenggam tanganku tanpa ragu
dan menarikku menuju ke dalam ruangan. Keberaniannya yang mendadak dan tanpa
sengaja ini membuat jantungku berdegup kencang saat kami melangkah masuk.
"Wah! Banyak sekali
kucingnya, Tanaka-kun. Apa yang harus kulakukan? Kucing mana yang harus
kudekati duluan?"
Begitu kami melangkah masuk,
pandangan Saito menyapu seluruh penjuru ruangan, mengamati berbagai kucing yang
ada. Rasa antusiasnya hampir seperti anak kecil, kepolosannya yang takjub
terlihat begitu menggemaskan. Aku tak bisa menahan senyum melihat kegembiraannya
yang murni.
"Waktu kita masih banyak.
Mari kita mulai dari yang paling dekat di sebelah sana."
Aku menunjuk ke arah seekor kucing
yang sedang bersantai di atas pohon kucing (cat tree) di dekat kami, dan
Saito mengangguk mantap.
Kami mendekatinya perlahan agar
tidak membuatnya kaget. Saat kami sudah dekat, kucing yang sedang tertidur itu
membuka matanya, sepertinya merasakan kehadiran kami, lalu menatap ke arah
kami.
"Oh, halo, pus! Apa kami
membangunkanmu?"
Menatap mata kucing yang berbentuk
seperti biji badam itu, suara Saito meninggi menjadi nada yang lembut dan penuh
kasih sayang. Kucing itu membalasnya dengan suara "meong" yang pelan.
"Tanaka-kun! Kau dengar itu?
Kucingnya menjawab sapaanku—dia mengeong balik!"
Ia menoleh padaku, menarik lengan
bajuku lagi, wajahnya berseri-seri dipenuhi kegembiraan. Aku tak tahan untuk
tidak terkekeh melihat reaksinya.
"Iya, aku lihat. Hebat
sekali. Mungkin kalau kau mencoba bicara pakai bahasa kucing, kau bakal dapat
respons yang lebih bagus lagi."
"Mana mungkin! Kau sedang
menggodaku, kan? Aku tahu persis apa isi kepalamu,
Tanaka-kun."
Aku melontarkan usulan itu
setengah bercanda, berharap bisa melihatnya mencobanya lagi, tetapi pipi Saito
merona saat ia gelagapan membalas cepat dengan nada suara yang sedikit tinggi.
Kemudian, ia membuang muka sembari mendengus kesal.
"Ayolah, apa salahnya dicoba.
Siapa tahu dia mengeong balik
lagi?"
Tak tahan untuk tidak
menggodanya lebih jauh, aku terus mendesak. Pandangan Saito mulai bergerak
gelisah, keraguannya terlihat jelas.
"Menurutmu... apa itu
bakal berhasil? Kalau aku menirukan suara kucing, apa dia bakal
merespons?"
Pertanyaan ragunya diiringi
dengan rasa penasaran, matanya mengintip menatapku dengan bimbang.
"Entahlah, siapa yang
tahu? Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan."
"...Baiklah, akan
kucoba."
Terdorong oleh kata-kataku, ia
mengangguk, kedua pipinya merona merah muda tipis. Berbalik menghadap sang
kucing, ia berjongkok sedikit dan menarik napas dalam-dalam.
"Nya... nyaaa."
Ia mengeong dengan lembut,
melirik sekilas ke arahku sebelum kembali memusatkan fokusnya pada kucing
tersebut. Dengan suaranya yang masih diwarnai rasa malu, ia mengeong lagi,
mengulangi suara itu beberapa kali.
Kucing itu, yang tampaknya
tertarik, sedikit memiringkan kepalanya sebelum melontarkan satu suara
"meong" sebagai balasan.
Tepat saat suara itu terdengar,
wajah Saito seketika berseri-seri dipenuhi sukacita. Ekspresi wajahnya melunak
menjadi senyuman penuh kemenangan saat ia menoleh menatapku.
"Tanaka-kun, kau lihat itu
tadi? Kucingnya benar-benar menjawabku!"
"Iya, aku lihat. Kenapa tidak
coba lagi?"
"Iya! Aku akan terus
mencobanya!"
Rasa malunya yang tadi seketika
sirna, Saito dengan riang terus mengeong pada kucing itu berulang-ulang.
Melihatnya berinteraksi dengan begitu sungguh-sungguh, senyumnya yang cerah dan
tanpa beban, menghadirkan dorongan kuat di dalam diriku untuk melindunginya—ada
kepolosan murni darinya yang menyentuh lubuk hatiku yang terdalam.
Kurekam pemandangan Saito yang
sedang bermain dengan kucing itu ke dalam ingatanku selagi ia terus mengeong
riang.
Beberapa saat kemudian, ia
mengulurkan tangannya dengan hati-hati, jari-jemarinya yang lentik menyentuh
lembut bulu kucing tersebut.
"Wah! Bulunya sangat lembut
dan halus, Tanaka-kun. Sensasinya luar biasa!"
Kucing itu yang tampaknya merasa
nyaman dengan sentuhannya menyipitkan matanya puas selagi bersantai di bawah
elusan lembutnya. Mata Saito berbinar saat ia mengelusnya dengan sangat
hati-hati.
Melihat betapa ia sangat
menikmatinya, aku tak tahan untuk tidak merasa penasaran.
"Apa benar-benar selembut
itu?"
"Iya! Rasanya seperti selimut
tebal—membuatmu ingin terus mengelusnya. Ini, kau juga harus mencobanya!"
"B-baiklah."
Karena minim pengalaman dengan
hewan, aku sempat ragu sejenak. Namun didorong oleh antusiasme Saito, dengan
gugup kuulurkan tanganku ke arah kucing itu. Tepat saat ujung jariku menyentuh
bulunya yang halus—
"Hsssss!"
"Wah!"
Kaget oleh desisan mendadak itu,
aku lekas menarik kembali tanganku secepat kilat. Tatapan tajam kucing itu
tetap terpaku mengunciku, memperjelas bahwa kehadiranku sama sekali tidak
diharapkan.
Saito yang tidak terpengaruh terus
mengelus kucing itu perlahan sembari berbicara dengan lembut padanya.
"Tidak apa-apa, pus.
Tanaka-kun ini orang baik, tahu."
Dengan suaranya yang lembut dan
menenangkan, Saito berbicara menyejukkan kucing itu. Terlepas dari usahanya,
kucing itu tetap mempertahankan tatapan waspadanya padaku, sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan kewaspadaannya. Saat aku melangkah
mundur selangkah untuk memberinya ruang, barulah ia kembali rileks, meringkuk
dan memejamkan matanya selagi Saito terus mengelusnya.
Saito melirik bergantian antara
diriku dan sang kucing, alisnya sedikit bertaut saat ia bergumam dengan nada
ragu.
"Apa yang harus kulakukan
ya...?"
"Jangan pedulikan aku. Beri
dia elusan ekstra mewakili diriku saja."
"...Baiklah."
Ia sempat membuka mulutnya seolah
ingin mengatakan sesuatu tetapi menutupnya kembali tanpa suara. Sebagai
gantinya, ia mengangguk kecil tanda mengerti. Tampaknya ia menerima kenyataan
bahwa hal ini tidak bisa dipaksakan—memang begitulah sifat alami hewan. Meski
begitu, sesekali ia melayangkan pandangan ke arahku seolah sedang mengecek
keadaanku, tetapi perhatiannya lekas kembali pada sang kucing. Raut wajahnya
melembut saat fokus mengelusnya, jelas sangat menikmati waktunya.
Memperhatikannya dari samping,
kuputuskan untuk mendekati kucing yang lain. Tentu, tadi aku memang sempat
ditolak, tetapi bukan berarti semua kucing akan bereaksi dengan cara yang sama.
Dan sejujurnya, melihat betapa bahagianya Saito membuat rasa penasaranku
terpancing.
Kulihat seekor kucing lain sedang
tidur siang tak jauh dari sana dan perlahan melangkah menghampirinya. Saat aku
mendekat, ia menyadari suara langkah kakiku, matanya seketika terbuka. Untuk
sesaat, mata kami saling bertatapan—sebelum ia lekas berbalik dan berjalan
menjauh ke arah yang berlawanan.
(Kenapa bisa begini...?)
Entah karena alasan apa yang tak
bisa kujelaskan, kucing-kucing di sini tampaknya membenciku. Berbeda dengan
Saito yang bisa mengelus mereka tanpa masalah, aku bahkan tidak bisa mendekat
cukup dekat untuk menyentuh mereka. Kucoba mendekati beberapa kucing lainnya,
tetapi semuanya kompak menghindariku.
Sambil menghela napas, aku
menyerah dan menjatuhkan bahuku tanda kalah, berjalan gontai kembali ke tempat
Saito berada. Saat melangkah mendekat, pemandangan di hadapanku membuat
langkahku terhenti.
"...Kau benar-benar sangat
populer ya."
"Tampaknya begitu. Mereka
berkumpul sendiri ke sini."
Saito duduk dikelilingi oleh
segerombolan kucing, tampak sangat tenang saat mengelus salah satunya selagi
yang lain bersantai di sekelilingnya. Pemandangan yang sungguh membuat iri.
Saat aku berkomentar, ia melihat ke sekeliling pada kucing-kucing yang mengitarinya,
senyum geli yang heran tersungging di wajahnya.
"Apa kau berhasil mengelus
salah satu kucingnya, Tanaka-kun?"
"Tidak, satu pun tidak
ada. Semuanya langsung kabur begitu aku mendekat. ...Yah, tidak apa-apa juga,
sih."
Aku mencoba mengabaikannya
dengan senyum kecut, pura-pura tidak peduli, tetapi di lubuk hatiku yang
terdalam, aku merasakan sedikit rasa kecewa. Dengan begitu banyaknya kucing di
sini, kau pasti berpikir setidaknya ada satu yang mau dielus olehku. Namun kenyataan
tampaknya punya rencana lain.
Pasrah dengan kegagalanku
menarik perhatian para kucing, kuputuskan untuk merasa cukup hanya dengan
melihat Saito bersenang-senang. Tepat saat aku sedang berpikir begitu—
"Meong."
Kurasakan senggolan lembut di
kakiku. Menunduk ke bawah, kulihat seekor kucing putih bersih sedang
menggesekkan tubuhnya ke celanaku.
"Wah! Kucing yang cantik sekali!"
"Iya, benar-benar cantik."
Meskipun semua kucing di ruangan ini punya bulu yang
indah, mantel bulu kucing yang satu ini tampak luar biasa memukau, berkilau di
bawah lampu seolah memantulkan setiap berkas cahaya. Matanya yang bulat dan
besar sangat menggemaskan, dan ada keramahan dari perilakunya yang membuatnya
berbeda dari yang lain.
"Lihat, Tanaka-kun! Ini
kesempatanmu. Kau bisa mengelus yang ini."
"A-ah, benar juga."
Aku sempat agak kaget oleh
pendekatan mendadak kucing ini, tetapi didorong oleh semangat dari Saito, aku
berjongkok dan perlahan mengulurkan tanganku. Cemas ia bakal bereaksi agresif
seperti yang lainnya tadi, aku sempat ragu-ragu—namun yang membuatku lega, ia
membiarkanku mengelusnya tanpa masalah sedikit pun.
"Wah..."
Sentuhan pertama pada bulu kucing
itu terasa luar biasa lembut. Di balik bulunya yang tebal, aku bisa merasakan
kehangatan samar dari kulitnya di ujung jemariku. Saat aku mengusap bulunya,
teksturnya yang halus terasa makin nyata. Untuk pertama kalinya, aku paham
kenapa Saito bisa begitu terpikat.
Setelah mengelusnya beberapa saat,
kucoba menirukan gerakan Saito tadi, menggaruk perlahan di bawah dagu sang
kucing. Kucing itu memejamkan matanya, jelas sangat menikmati perhatian yang
kuberikan, lalu mendengkur (purr) pelan tanda puas.
"Imut sekali."
"Tuh, kan? Tanaka-kun, kau
akhirnya menyadari betapa hebatnya kucing! Coba gendong dia—kau pasti bakal
jatuh cinta lebih dalam lagi."
"Menggendongnya?"
"Iya! Ayo, cobalah."
"A-aku tidak tahu cara
menggendong kucing yang benar..."
"Benarkah?"
"Iya."
Saito memiringkan kepalanya
sedikit, tampak terkejut. Setelah beberapa saat, wajahnya berseri-seri mendapat
sebuah ide.
"Baiklah! Aku akan
mengajarimu. Begitu kau menggendongnya, kau pasti bakal terpikat
sepenuhnya."
Senyum jahilnya menyiratkan bahwa
ia merasa senang bisa membagikan pengetahuannya sekaligus tak sabar ingin
melihatku menjadi "pengikut setia pencinta kucing". Meski mencurigai
niatnya, aku bersyukur atas tawarannya—aku memang benar-benar tidak tahu cara
menggendong kucing. Saat aku mengangguk, mata Saito berbinar penuh tekad.
"Jadi, bagaimana
memulainya?"
"Pertama, perhatikan aku. Aku
akan menunjukkan cara yang benar."
Saito mengulurkan tangannya ke
arah kucing yang tadi dielusnya. Ia menyelipkan kedua tangannya di bawah kaki
depan kucing itu, mengangkatnya perlahan, lalu menopang bagian belakang
tubuhnya dengan tangannya yang lain.
"Lihat? Begitulah
caranya."
"Paham."
"Pertama, letakkan tanganmu
di bawah kaki depan kucing dan angkat ke atas. Lalu saat mengangkatnya,
selipkan satu tangan di bawah pinggulnya untuk menopang tubuhnya. Begitu
saja!"
Dia menjelaskannya dengan sangat
lancar, tetapi hanya melihat dan mendengarnya saja tidak serta-merta membuatku
langsung mahir mempraktikkannya.
"Uh... jadi pertama..."
Aku mencoba menirukan gerakannya
tetapi kesulitan mengangkat kucing itu dengan benar. Melihat usahaku yang kaku,
Saito memberikan usulan baru.
"Hmm, agak sulit ya? Baiklah,
aku akan memandu gerakan tanganmu. Mari kita coba bersama-sama."
"Eh? Uh, baiklah..."
Sebelum aku sempat mencerna
sepenuhnya apa maksudnya, Saito sudah berpindah ke belakang tubuhku.
"Baiklah, taruh tanganmu di
bawah kaki depan kucingnya."
Rupanya dia berniat memanduku
dari belakang. Mengikuti arahannya, kuulurkan
tanganku ke arah kucing itu. Tiba-tiba, kurasakan tangan Saito menempel lembut
di atas tanganku.
"S-Saito?"
Kaget, suaraku bergetar goyah.
Respons tegasnya datang tanpa keraguan.
"Ada apa? Fokus pada
kucingnya, ya? Kau harus melakukannya dengan benar sebelum kucingnya merasa
gelisah."
"O-oh, baiklah."
Tampaknya Saito terlalu fokus pada
sang kucing sampai tidak menyadari posisi kami saat ini. Berusaha mengabaikan
rasa hangat dari tangannya yang menumpu di atas tanganku, aku berkonsentrasi
mengangkat kucing itu sesuai arahannya.
"Iya, begitu sempurna.
Sekarang..."
Tepat saat ia memandu gerakanku,
kurasakan tekanan lembut menempel di punggungku.
"T-tunggu, Saito?"
"Ada apa? Tetap fokus! Kalau
kau tidak memegangnya dengan benar, dia bisa marah nanti."
Sama sekali tidak menyadari
situasi yang sedang terjadi, Saito terus menggerakkan lenganku untuk
menyesuaikan posisi kucing tersebut. Suaranya yang tenang dan fokus membuatku
kehilangan kata-kata untuk mengungkit masalah... yang lainnya. Akhirnya, kami berhasil
menahan kucing itu dalam gendongan yang sempurna.
"Selesai! Kerja bagus,
Tanaka-kun—kau menggendongnya dengan sempurna sekarang!"
Masih dalam posisi yang sama,
dengan tubuh Saito yang menempel di punggungku, suaranya yang puas menyapa
telingaku. Meskipun sangat bagus aku berhasil menggendong kucing ini, aku tidak
bisa benar-benar merayakannya. Sensasi lembut di punggungku dan betapa dekatnya
posisi kami membuat jantungku berdegup kencang tak terkendali.
"Um, Saito... bisakah kau
mundur sedikit? Kau... um,
agak... menempel padaku."
"...Eh?"
Suaranya yang heran
memperjelas rasa bingungnya. Kemudian, saat makna kata-kataku akhirnya meresap
ke kepalanya, nada suaranya seketika melengking tinggi satu oktaf.
"T-tunggu, um..."
Kehangatan tubuhnya seketika
menarik diri saat ia melompat mundur dengan panik, memberi jarak di antara
kami. Tekanan lembut di punggungku
lenyap seketika, dan aku menghela napas lega. Berbalik menatapnya, kulihat
Saito berdiri mematung kaku, kedua tangannya terlipat di depan dada seolah
sedang melindungi dirinya sendiri. Wajahnya merah padam sempurna, dan saat mata
kami bertemu, ia menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat lirih.
"...Tanaka-kun, dasar
mesum."
"Uh, m-maaf..."
Yang bisa kulakukan hanyalah
meminta maaf pasrah.
Selagi ia berdiri di sana, sedikit
gemetar karena rasa malu, aku memperhatikannya dalam diam. Lambat laun, ia
tampak mulai tenang, melontarkan batuk yang dibuat-buat sebelum kembali menatap
mataku.
"...Tadi itu murni
kecelakaan. Lupakan kalau hal itu pernah terjadi, paham?"
"I-iya. Paham."
Kedua pipi Saito sudah mendapatkan
kembali ketenangannya, kini hanya menyisakan semburat merah muda tipis. Aku
mengangguk mendengar penegasannya.
Meskipun bukan hal yang bisa
kulupakan dengan mudah, jelas sekali kami berdua sepakat untuk tidak
mengungkitnya lagi. Saat sensasi lembut di punggungku tadi sempat melintas
sekilas di benakku, aku buru-buru menggelengkan kepala, mengubur pemikiran yang
tidak pantas itu jauh-jauh di lubuk hatiku.
"Jadi, bagaimana rasanya
menggendong kucing?"
Suara penasaran Saito menarikku
kembali ke masa sekarang. Kejadian luar biasa tadi sempat membuatku melupakan
keberadaan kucing putih yang sedang bersarang di dalam dekapanku. Saat aku
melirik ke bawah, kucing itu mendongak menatap mataku.
Matanya yang biru cemerlang
berkilau persis batu permata, dan ekornya terayun perlahan, tanda pasti dari
rasa puas. Dengan bulunya yang halus berkilau dan matanya yang bulat
menggemaskan, kucing ini memancarkan keindahan dan pesona yang begitu memikat.
Saat ia melontarkan suara "meong" yang lembut, aku tak tahan untuk
tidak menggumamkan isi pikiranku secara lantang.
"Rasanya... benar-benar
sangat Imut."
Kata-kataku yang meluncur tanpa
sengaja itu tidak luput dari perhatiannya. Wajah Saito seketika berseri-seri
dihiasi senyum kemenangan.
"Tuh, kan? Sudah kubilang
juga apa. Tidak semua kucing suka digendong, jadi kurasa kucing yang satu ini
pasti sangat menyukaimu, Tanaka-kun."
"Benarkah?"
"Iya, lihat saja betapa
santainya dia."
Tatapan lembut Saito melembut saat
ia mencondongkan badannya lebih dekat ke arah sang kucing.
"Bagaimana rasanya? Apa
dekapan Tanaka-kun terasa hangat dan nyaman?"
Nada suaranya yang menggoda dan
bernada riang sangat kontras dengan pembawaannya yang biasa, memperlihatkan
betapa ia sangat menikmati momen ini.
Ia mengulurkan tangannya untuk
mengelus sang kucing, tetapi tepat saat jari-jemarinya yang lentik mendekati
bulunya, kucing itu melayangkan satu kibasan cakarnya dengan cepat ke arah
tangannya.
"Eh?"
"...Eh?"
Kami berdua mematung seketika,
terperangah oleh reaksi mendadak dari kucing tersebut. Saito mengerjapkan
matanya berkali-kali seolah tak percaya, tangannya melayang di udara.
Kucing itu meliriknya sekilas
seolah ingin memastikan dia tidak akan mencoba menyentuhnya lagi, lalu
melontarkan satu suara "meong" pendek sebelum membenamkan wajahnya
kembali ke dalam dekapanku.
"Yah... kelihatannya orang
sepertimu pun bisa ditolak oleh kucing ya?"
"...Tampaknya begitu. Aku
sudah bermain dengan banyak sekali kucing sebelumnya, tapi aku belum pernah
ditolak mentah-mentah seperti ini."
Saito memiringkan kepalanya
sedikit, melayangkan tatapan penasaran ke arah sang kucing. Ia mengamati
jari-jemarinya yang tadi sempat ditepis sebelum mengalihkan pandangannya ke
arah kucing yang sedang meringkuk di dalam dekapanku.
Kucing itu yang tampaknya
menyadari tatapannya sedikit mengangkat kepalanya dan mengibaskan ekornya dalam
ritme yang lambat dan teratur selagi membalas tatapan matanya. Pemandangan
itu—sang kucing yang nyaman di dekapanku, Saito yang berdiri di hadapanku—terasa
seperti sebuah panggung drama yang menggelikan.
"Mungkin dia memang
kucing yang agak nyentrik. Memang tidak biasa ada kucing yang mendekatiku dari
semua orang di sini," gumamku sembari mengelus bulu halusnya.
"Sungguh... kucing yang
sangat aneh."
Tatapan fokus Saito tidak
goyah sedikit pun, ekspresinya terlihat sangat serius di luar dugaan.
"Ada yang salah?"
"Tidak... mungkin cuma
perasaanku saja."
"Maksudmu—"
Sebelum aku sempat menyelesaikan
kalimatku, kucing di dekapanku mulai bergerak. Ia menggeliat sedikit sebelum
menggesekkan wajahnya ke dadaku.
"Wah, ada apa ini?"
Kaget oleh gerakan mendadaknya,
aku mengelusnya perlahan untuk menenangkannya. Kucing itu merespons dengan
memejamkan matanya puas, meringkuk makin dekat ke tubuhku.
Sifat manjanya yang begitu kentara
membuatku ingin terus mengelusnya, jadi kuusap punggungnya dengan hati-hati dan
lembut.
Kucing itu yang tampaknya merasa
sangat puas mengalihkan pandangannya ke arah Saito dan melontarkan suara
"meong" yang terdengar seperti sedang mengejek.
"Hmm... apa kucing ini
sedang mengejekku?"
Saito menggembungkan pipinya
sedikit, alisnya berkerut saat menatap tajam ke arah sang kucing.
"Iya, aku tadi juga sempat
merasa begitu," kataku sembari menahan tawa.
"Sudah kuduga! Kucing itu
jelas-jelas baru saja menantangku!"
"Atau mungkin dia cuma mau
bilang kalau dia senang dielus begini."
"Ugh, aku memang suka kucing,
tapi... kurasa aku tidak terlalu menyukai yang satu ini."
Ekspresi cemberut Saito dan nada
suaranya yang kesal membuatku terkekeh geli.
Setelah merajuk sesaat, ia
menghela napas pelan lalu kembali menghadap sang kucing. Mencondongkan tubuh
lebih dekat, ia menatap matanya lekat-lekat.
"Ya sudah, terserah. Tapi
asal kau tahu ya, kau cuma boleh bersama Tanaka-kun untuk sekarang saja. Aku
cuma sedang meminjamkannya padamu."
Dengan senyum tipis yang penuh
percaya diri, ia menyelesaikan kalimatnya lalu berbalik pergi, melangkah menuju
kucing-kucing yang lain. Aku memandangi punggungnya yang menjauh selagi terus
mengelus kucing putih yang bersarang nyaman di dekapanku.
Selagi kami bermain dengan
kucing-kucing itu sedikit lebih lama, seorang staf menghampiri kami.
"Waktu satu jam Anda hampir
habis. Apakah Anda ingin menambah durasi waktu?"
Pemberitahuan itu mendorongku
untuk melirik ke arah jam dinding. Benar saja, sesi kami sudah hampir berakhir.
"Oh, ternyata sudah selama
itu ya? Bisakah beri kami waktu sebentar untuk memutuskannya?"
Setelah berbicara pada staf
tersebut, kupanggil Saito.
"Saito, waktunya sudah hampir
satu jam. Kau mau nambah waktu?"
"Eh? Sudah selesai? Hmm, aku
tidak keberatan kalau mau lebih lama, tapi kurasa aku sudah cukup puas bermain
hari ini."
"Baiklah, kuberi tahu stafnya
ya."
Meskipun sempat melayangkan
tatapan penuh kerinduan ke arah kucing-kucing itu, Saito tampak merasa cukup.
Setelah memberi tahu staf bahwa kami sudah selesai, kami menghabiskan sisa
menit yang ada untuk menikmati momen-momen terakhir kami bersama para kucing.
"Terima kasih banyak atas
kunjungannya. Kami nantikan kedatangan Anda kembali."
Staf membungkuk sopan saat kami
melangkah keluar dari kafe kucing. Udara dingin langsung menyapu kulitku tepat
di saat kami menginjakkan kaki di luar.
Dengan tuntasnya seluruh rencana
kencan hari ini, yang tersisa hanyalah mengantar Saito pulang. Aku ingin dia
memikirkanku sedikit lebih banyak sebelum hari ini berakhir, jadi kuputuskan
untuk menggandeng tangannya.
"Ini."
Kuulurkan tanganku sesantai
mungkin yang kubisa. Pipi Saito merona merah muda persik yang lembut saat ia
menyambutnya perlahan. Tangannya yang terasa sedikit lebih dingin dari tanganku
perlahan menghangat di dalam genggaman telapak tanganku.
"Fufufu, hari ini benar-benar
sangat menyenangkan ya," ujarnya, tersenyum berseri-seri saat kami mulai
berjalan pulang. Raut wajahnya yang dilembutkan oleh sisa-sisa kebahagiaan
seusai dari kafe terlihat jauh lebih Imut dari biasanya.
"Kau tadi kelihatan
sangat bersenang-senang sekali di dalam. Aku senang kau menikmatinya."
"Iya! Kucingnya banyak
sekali! Rasanya persis seperti mimpi yang
jadi kenyataan."
Matanya berbinar-binar saat
berbicara dengan antusiasme yang meluap-luap, suaranya mengalirkan kebahagiaan
murni. Melihatnya seperti ini, aku tak bisa menahan senyum.
"Kau tadi dikelilingi oleh
begitu banyak kucing sampai-sampai stafnya saja ikut terkejut."
"Eh, benarkah?"
"Iya. Salah satu dari mereka
sempat menghampiriku dan bilang, 'Temanmu sangat populer sekali di kalangan
kucing. Saya belum pernah melihat ada orang yang dikerumuni sebanyak itu
sebelumnya.'"
"Aku bahkan tidak menyadari
ada percakapan seperti itu..."
"Kau kan terlalu fokus pada
kucing-kucingnya," sahutku dengan senyum kecut.
Melihat betapa ia begitu hanyut di
dunianya sendiri tadi, tidak heran jika ia tidak menyadari apa yang terjadi di
sekitarnya. Dia mungkin bahkan sempat melupakan keberadaanku untuk beberapa
saat.
"Asal kau tahu ya, aku sama
sekali tidak melupakanmu, Tanaka-kun! Hanya saja... kucing-kucingnya begitu Imut
sampai aku tak tahan untuk tidak memusatkan perhatian pada mereka."
"Jangan dipikirkan. Melihatmu
bersenang-senang seperti itu adalah perubahan suasana yang menyegarkan—itu
pemandangan yang bagus."
"Benarkah? Apa aku tadi
kelihatan seberbeda itu?"
Ia menghentikan langkahnya dan
memiringkan kepala, ekspresi wajahnya tampak heran. Saat aku berbalik
menghadapnya, matanya yang bulat dan ekspresif membelalak penuh rasa ingin
tahu.
Untuk sesaat, aku ragu-ragu. Jika
kuberi tahu betapa polos dan kekanak-kanakannya ia terlihat saat bermain dengan
kucing tadi, dia pasti bakal merasa malu dan mulai bersikap terlalu jaim. Aku
tidak ingin kehilangan sisi dirinya yang Imut itu.
Tersenyum tipis, kuputuskan untuk
mengabaikannya saja.
"Yah, kalau kau tidak
menyadarinya, ya sudah tidak apa-apa."
"Apa maksudnya itu? Apa aku
tadi kelihatan aneh? Hei, beri tahu aku!"
Pertanyaannya yang mendesak
membuatku mempercepat langkah kakiku sedikit, seolah sedang melarikan diri.
***
Kami melanjutkan perdebatan kecil
yang menyenangkan itu hingga akhirnya tiba di depan rumah Saito.
"Kita sudah sampai—ini
rumahmu."
"Hmph. Kumaafkan kau untuk
kali ini, meski pengalihan topikmu tadi sangat kentara." Ia menggembungkan
pipinya sedikit sebelum menghembuskan napas perlahan, ekspresinya kembali
rileks. Hembusan angin sepoi-sepoi melintas, menyapu helaian rambutnya dan
membuatnya berkilau indah.
"Terima kasih untuk hari
ini."
"Tidak, aku yang
berterima kasih. Semuanya terasa begitu baru dan seru—tadi benar-benar sangat
menyenangkan."
"Iya, aku juga
bersenang-senang sekali. Sudah lama aku tidak pergi nonton bioskop, dan punya
teman untuk diajak bertukar pikiran setelahnya membuat pengalamannya terasa
sangat segar."
"Aku juga merasakan hal yang
sama. Ini kencan nonton pertamaku setelah sekian lama, tapi aku sangat
menikmatinya. Aku ingin sekali pergi lagi kapan-kapan."
Kata-katanya mengingatkanku pada
sebuah artikel yang kubaca di internet tentang tips kencan. Tertulis di sana
bahwa menutup hari dengan merencanakan kencan berikutnya adalah langkah yang
sangat bagus. Ini adalah kesempatan yang sempurna.
"Iya, ayo kita pergi lagi.
Bukan cuma nonton film—ayo kita pergi ke tempat lain bersama juga."
"...! Iya, tentu saja
mau!"
Ia sempat mematung sesaat, lalu
lekas memahami maksud perkataanku. Wajahnya seketika berseri-seri, dan ia mengangguk
dengan penuh semangat. Tanggapannya
membuatku menghela napas lega.
"Baiklah. Nanti kita pikirkan
mau ke mana tujuan berikutnya."
"Mari kita tentukan
bersama-sama."
"Iya."
Dengan rencana yang telah
disepakati, keheningan singkat tercipta di antara kami. Itu adalah momen yang
tenang dan damai, tetapi membayangkan harus berpisah setelah menghabiskan
begitu banyak waktu bersama menghadirkan rasa pahit-Imut tersendiri di hatiku.
Tetap saja, kami tidak bisa
berdiri di sini selamanya. Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk
berpamitan.
"Kalau begitu, sampai jumpa
besok."
Saat perlahan kulepaskan genggaman
tanganku, udara malam yang dingin lekas mengisi ruang yang tadinya diselimuti
kehangatannya. Tatapan mata Saito sempat goyah sesaat, alisnya bertaut
menyiratkan ekspresi yang tampak sedikit sendu. Ia berbisik sangat pelan, suaranya sarat dengan
getaran emosi yang tertinggal.
"Iya... Hari ini
benar-benar sangat luar biasa. Sungguh... hari yang begitu membahagiakan."
Kata-katanya tulus, dan aku
yakin ia bersungguh-sungguh mengucapkannya. Namun ada sesuatu dari raut
wajahnya—apakah ini hanya imajinasiku saja, atau dia terlihat merasa sedikit
kesepian?
Tak tega meninggalkannya
dengan ekspresi seperti itu, aku mengulurkan tanganku tanpa berpikir panjang.
"Eh, Tanaka-kun?"
Suaranya yang kaget melengking
terkejut saat aku mengabaikan keheranannya dan perlahan mengelus kepalanya
dengan lembut. Rambutnya yang ditata gaya half-updo terayun pelan di
setiap usapan. Di bawah temaramnya sinar rembulan, rambutnya berkilau indah
layaknya untaian permata.
"A-apa yang tiba-tiba kau
lakukan ini?"
Ia tetap bergeming di
tempatnya, membiarkanku mengelus kepalanya, tatapannya yang mendongak bertemu
dengan mataku. Pandangan matanya yang lebar membawa campuran rasa
bingung dan gelisah.
"Kau tadi kelihatan agak sedih, jadi... aku
refleks melakukannya."
"Aku tidak sedih,
kok..."
"Benarkah? Kalau begitu
maafkan aku."
Saat aku hendak menarik
kembali tanganku, Saito mendadak menempelkan telapak tangannya di atas
tanganku, menahannya agar tetap berada di kepalanya.
"Aku bukannya merasa kesepian
atau apa... tapi, um, bisakah kau... terus mengelus kepalaku sedikit lebih lama
lagi?"
Ia memalingkan pandangannya,
pipinya dihiasi rona merah merona saat melontarkan permintaan lirihnya itu.
Tampaknya dia memang sedang berusaha bersikap tegar dari tadi. Menahan tawa
geli melihat kejujurannya yang begitu menggemaskan, aku mengangguk pelan.
"Sesuai keinginanmu,"
ucapku, terus mengusap lembut kepalanya perlahan.
"...Baiklah, sudah cukup
untuk sekarang."
"Kau yakin?"
"Iya."
Ketika aku akhirnya mengangkat
tanganku, Saito perlahan menegakkan kepalanya. Pandangannya tetap tertunduk ke
bawah, kemungkinan besar karena merasa sangat malu setelah membiarkanku
mengelus kepalanya begitu lama.
"Kalau begitu, kali ini
sungguhan—sampai jumpa besok."
"Iya, sampai jumpa
besok."
Kami saling bertukar lambaian
tangan, mengucapkan selamat tinggal. Aku memutar tumitku dan mulai melangkah
pulang ke rumah.
Jika penglihatanku tidak salah,
Saito menyunggingkan senyum puas di wajahnya saat kami berpisah tadi.
***
(Aku harus
memastikan untuk melapor kembali dengan benar.)
Karena sudah menerima begitu
banyak bantuan saat merencanakan kencan kemarin, rasanya sudah kewajibanku
untuk memberikan laporan perkembangan. Ditambah lagi, aku ingin mendengar saran
Hiiragi-san untuk persiapan kencan-kencan berikutnya di masa depan.
Ketika kubuka pintu belakang
untuk menunggu Hiiragi-san seperti biasa, ia sudah berada di sana. Tampaknya ia
sudah tiba dan selesai berganti pakaian lebih awal dariku.
"Oh, terima kasih atas kerja
kerasnya hari ini, Hiiragi-san."
"Terima kasih juga...
Tanaka-san, akhir pekan kemarin adalah kencanmu dengan gadis itu, kan?"
"Iya, banyak hal yang
terjadi. Kau tidak keberatan mendengarkannya?"
"Sama sekali tidak keberatan.
Sebenarnya... aku sangat penasaran bagaimana hasilnya, jadi aku menunggumu di
sini dari tadi."
Hiiragi-san mengatakannya dengan
kedua pipi yang merona merah muda bunga sakura. Tampaknya ia memang sengaja
menungguku khusus demi mendengar laporanku, meski aku tidak paham kenapa ia
terlihat begitu tersipu malu soal itu.
"Kalau begitu, ayo kita
mulai—oh, tapi di luar sini agak dingin ya?"
Aku baru saja hendak mulai
bercerita saat hembusan angin dingin yang menusuk menyapu pipiku,
mengingatkanku akan hawa dingin yang menggigit di udara.
Hari ini luar biasa dingin.
Ramalan cuaca sempat menyebutkan bahwa ini adalah gelombang dingin terparah
dalam satu dekade terakhir, dan aku bisa merasakannya langsung. Berdiri
mengobrol di sini terasa kurang bijak.
"Ada kafe di dekat sini.
Bagaimana kalau kita ke sana saja untuk mengobrol?"
"Um..."
Hiiragi-san sempat ragu, matanya
bergerak gelisah ke samping.
Oh, benar juga. Aku hampir
lupa—terlepas dari betapa mudahnya ia memberikan saran akhir-akhir ini, ia
sebenarnya masih merasa canggung berada di dekat lawan jenis. Untuk sesaat,
kukira dia bakal menolak, tetapi kemudian ia berkata, "Kedengarannya boleh
juga," dan aku menghela napas lega. Tanpa membuang waktu lagi, kami lekas
melangkah menuju kafe tersebut.
Hanya tiga menit berjalan kaki,
tampak sebuah kedai kopi kecil. Berbeda dengan tempat kerja paruh waktuku,
kedai ini mengkhususkan diri pada sajian kopi dan hidangan penutup, dan mereka
tidak menyajikan makanan berat, jadi tidak ada persaingan bisnis di antara
keduanya. Kisaran harga yang lebih terjangkau di kafe ini kemungkinan menjadi
alasan lain mengapa keduanya bisa berdampingan dengan baik.
Kedai ini buka sampai larut malam,
jadi saat ini masih beroperasi. Melangkah masuk ke dalam, kami disambut oleh
kehangatan nyaman yang langsung menyelimuti tubuh, meredakan dingin yang sempat
membekukan kami. Aku membiarkan diriku sedikit rileks.
"Selamat datang!"
Karena tidak ada antrean di meja
kasir, kami langsung melangkah ke depan dan melihat-lihat menu untuk menentukan
minuman kami.
"Kau mau pesan apa,
Hiiragi-san?"
"Aku pesan cappuccino
saja—ukuran sedang."
"Cappuccino,
baiklah."
Aku memesankan pesanan untuk kami
berdua. Ketika minumannya sudah siap, kubawa cangkir-cangkir itu ke meja
terdekat lalu duduk.
"Um, soal biayanya..."
"Tidak apa-apa, biar aku yang
bayar. Anggap saja ini tanda terima kasihku karena kau selalu bersedia
mendengarkan pertanyaan-pertanyaanku yang tiada habisnya."
Meski ini masih jauh dari kata
cukup untuk membalas kebaikannya, kuharap ini setidaknya bisa menyampaikan rasa
terima kasihku. Namun Hiiragi-san menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku tidak bisa menerimanya
begitu saja."
"Tidak, sungguh—"
"Tolong tunggu
sebentar."
Sebelum aku sempat memprotes,
ia bangkit berdiri dan melangkah cepat kembali ke meja kasir. Beberapa saat
kemudian, ia kembali membawa sebuah piring kecil di tangannya.
"Ini, ini untukmu."
Ia meletakkan sepotong kue shortcake
di hadapanku. Tampaknya ini adalah caranya untuk membuat situasi menjadi
seimbang. Karena dia begitu bersikeras, aku tidak bisa menolaknya. Menundukkan
kepalaku sedikit, kuterima traktiran darinya.
"Baiklah. Terima kasih...
tapi sungguh, aku sebenarnya ingin membalas kebaikanmu karena selalu
membantuku."
"Niatmu saja sudah lebih dari
cukup. Jangan dipikirkan."
Ia berbicara dengan gaya lugasnya
yang biasa, memperjelas bahwa ia sama sekali tidak menganggap sesi konsultasiku
sebagai beban. Sikapnya membuat suasana hatiku membaik, meski ia kemudian
menambahkan dengan suara yang lebih pelan:
"Lagipula... sesi curhat itu
juga penting buatku."
"Penting? Apa maksudmu dengan
itu?"
Penasaran dengan kata-katanya, aku
mencondongkan tubuhku sedikit ke depan, yang membuatnya merespons dengan nada
tinggi dan panik.
"Eh?! Um... yah, itu
rahasia."
Dengan wajah yang sedikit merona,
ia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya dalam gestur menyuruh diam.
Jika dia bilang itu rahasia, bukan
hakku untuk mengoreknya lebih jauh. Setiap orang punya hal-hal yang tidak ingin mereka
bagikan. Meski masih penasaran dengan
alasannya, kuputuskan untuk mengesampingkannya dulu untuk saat ini.
Berdeham pelan dengan batuk yang
dibuat-buat, Hiiragi-san menegakkan posisi duduknya dan menatapku.
"Jadi, apa kencanmu berjalan
lancar?"
"Iya, kurasa begitu. Dia
kelihatan sangat senang, dan energinya jauh lebih tinggi dari biasanya. Kurasa
dia sangat menikmati kencannya."
Mengingat kembali ekspresi Saito
sepanjang hari itu, kusampaikan laporanku. Telinga Hiiragi-san tampak sedikit
terangkat mendengar penuturanku.
"Dia sehidup dan seceria itu
dibanding biasanya?"
"Iya. Mungkin cuma perasaanku
saja, tapi ekspresinya jauh lebih lembut, dan dia bicara jauh lebih banyak dari
biasanya."
"Begitu ya... jadi begitu
rupanya."
Hiiragi-san menggumam pelan,
pandangannya tertunduk selagi ia sedikit menciutkan tubuhnya.
"Iya. Kelihatan jelas sekali
kalau dia menikmati harinya sampai-sampai terlihat sangat menggemaskan."
"M-menggemaskan...?!?"
Hiiragi-san yang masih meringkuk
mendongak menatapku kaget, suaranya sedikit bergetar. Pipinya merona merah
tipis saat ia menatapku dengan mata membelalak lebar.
Apa kalimatku tadi sebegitu
mengejutkannya? Dengan sikap Saito yang biasanya selalu tenang dan berwibawa,
perilakunya yang bersemangat dan sedikit kekanak-kanakan saat kencan kemarin
memang tak terbantahkan sangat Imut.
"Itu benar. Dia jarang sekali
bersikap seperti itu, jadi itu pemandangan yang langka. Dia kelihatan seperti
anak kecil, dan itu sangat menggemaskan."
Sikap Saito sehari-hari sangat
tenang dan dewasa, jadi jarang sekali melihatnya bisa seantusias itu. Biasanya,
kalau aku mulai hanyut dalam buku, dia hanya akan menghela napas pasrah.
Melihatnya begitu banyak bicara dan ekspresif saat kencan kemarin, dengan
kepolosan yang nyaris seperti anak kecil, sungguh meluluhkan hati.
Kukira Hiiragi-san akan setuju
dengan pesona dari sisi tak terduga Saito tersebut. Namun sebaliknya, ia justru
sedikit menggembungkan pipinya, tampak agak kesal dan tidak puas.
"Ada apa?"
"Yah... begini lho, temanmu
itu bersenang-senang karena dia pergi ke tempat baru. Siapa pun pasti bakal
antusias soal itu, kan? Bahkan kau sendiri, Tanaka-san, bukankah kau bakal
merasakan hal yang sama kalau pergi ke tempat baru?"
"Iya, itu benar juga."
"Tepat sekali. Siapa saja
pasti bakal bersemangat tinggi. Karena itulah wajar sekali kalau dia seantusias
itu. Itu sama sekali bukan kekanak-kanakan."
"E-eh...?"
Intensitas kata-kata Hiiragi-san
membuatku refleks mengangguk patuh, merasa kewalahan. Tampaknya kata
"kekanak-kanakan" tadi tidak berkenan di hatinya. Padahal aku
bermaksud mengucapkannya sebagai pujian.
Merasa agak linglung, kubiarkan
pandanganku jatuh ke atas meja, di mana kulihat sepotong kue lezat dengan
hiasan stroberi merah di atasnya.
Oh, benar juga—Hiiragi-san
memberikanku ini tadi. Mengingat hal itu, kuraih garpu dan menyendok sepotong
kecil. Teksturnya yang lembut dan lembap meleleh di dalam mulutku saat kumakan.
"Mm! Shortcake ini
enak sekali."
"Syukurlah kalau kau
suka."
Karena rasanya sangat enak,
kuraih suapan berikutnya, tetapi aku tak tahan untuk tidak menyadari bahwa
Hiiragi-san sedang menatap kue shortcake itu dengan lekat.
"Um... kau mau
mencobanya?"
"Tidak, tidak usah. Itu kan kuberikan untukmu."
"Kau yakin?"
Apa dia cuma sedang bersikap
sungkan? Aku melanjutkan memakan suapan
berikutnya. Namun kali ini, aku memergokinya sedang melayangkan tatapan penuh
dambaan ke arah kue itu dari seberang meja.
"Kau benar-benar yakin
tidak mau? Kau kelihatannya ingin sekali
mencobanya."
"...Yah, satu suap saja kalau
begitu."
Ia sempat ragu sesaat, tatapannya
bergerak bimbang, sebelum menggumamkan jawabannya dengan sangat pelan, kedua
pipinya merona merah muda tipis.
Ternyata dia memang ingin
mencobanya. Menyadari bahwa ia diam-diam sangat menyukai makanan Imut terasa
sangat Imut di luar dugaan. Tersenyum geli memikirkan hal itu, kugeser piring
kue itu ke hadapannya.
Hiiragi-san dengan malu-malu
meraih garpu dan mengambil potongan kecil. Saat membawanya ke mulut, ia
mendadak bergumam seolah baru saja teringat sesuatu.
"Oh, ngomong-ngomong, kau
tidak berniat melakukan hal semacam 'buka mulutmu, aah' begitu padaku?"
"Tentu saja tidak. Itu
terlalu memalukan untuk dilakukan sembarangan. Itu cuma untuk pacarku saja
nanti."
"Fufu, begitu ya. Pola pikir
yang bagus."
Tampak sangat puas, Hiiragi-san
memasukkan kue itu ke mulutnya dan tersenyum. "Mm, enak sekali!"
Melihatnya menikmati kue itu dan
tersenyum bahagia, raut wajahnya melembut, memancarkan kehangatan samar dari
sikapnya yang biasanya selalu tenang. Sama seperti Saito, tampaknya sebagian
besar anak perempuan memang punya kelemahan terhadap makanan Imut. Begitu ia
selesai menghabiskan kuenya, kulanjutkan kembali obrolan kami.
"Yah, aku senang dia
menikmati kencannya, tapi sejujurnya, rencanaku untuk membuatnya lebih sadar
akan keberadaanku agak jadi bumerang."
"Oh, benarkah?"
"Iya. Persis seperti yang kau
bilang tempo hari, dia akhirnya bersikap jauh lebih proaktif dari dugaanku, dan
alih-alih membuatnya salah tingkah, rasanya malah akulah yang dibuat
berdebar-debar dan salah tingkah olehnya."
"Fufu, begitu ya?"
Dia kemungkinan besar menganggap
momen di mana aku dibuat kelabakan itu sangat lucu, terlihat dari bibirnya yang
melengkung membentuk senyuman kecil yang jahil.
"Bagaimana kau bisa tahu
kalau dia bakal bersikap seproaktif itu?"
"Uh, yah... kupikir karena
ini adalah momen kencan yang spesial, dia pasti bakal berusaha sebaik
mungkin."
"Begitu ya."
Jawaban pelan Hiiragi-san yang
terdengar agak malu-malu membuatku mengangguk setuju.
Kalau dipikir-pikir lagi, sama
seperti diriku yang ingin berusaha tampil lebih baik karena ini adalah sebuah
kencan, tidak aneh jika dia pun memikirkan hal yang sama. Jika itu benar...
(Dia
benar-benar terlalu Imut...)
Meskipun aku sudah merasa dia
nyaman berada di dekatku sehari-hari, hal ini berada di tingkatan yang berbeda.
Memikirkan bahwa dia berusaha sekuat tenaga khusus demi kencan kami membuat
hatiku membuncah bahagia.
"Kenapa kau
tersenyum-senyum sendiri begitu?"
"Eh? Oh, tidak... bukan
apa-apa..."
Teguran tajam Hiiragi-san
menyadarkanku bahwa mulutku tanpa sadar telah melengkung membentuk senyuman
lebar. Salah tingkah, kuangkat tanganku untuk menutupinya.
"Hanya saja... kalau apa yang
kau katakan itu benar dan dia memang berusaha keras demi diriku, rasanya aku
sangat bahagia sampai tidak bisa menahannya."
"Apa hal itu benar-benar
sesuatu yang patut membuatmu sebahagia itu?"
"Tentu saja!"
Kaget oleh reaksiku yang mendadak
bersuara keras, Hiiragi-san memiringkan kepalanya bingung.
"Dia kan biasanya bukan
tipe orang yang agresif. Jadi melihatnya berusaha keras khusus demi diriku...
tentu saja itu membuatku sangat bahagia."
"A... aku paham."
Suara Hiiragi-san sedikit
goyah, tampaknya terperangah oleh ketulusan yang terpancar dari kata-kataku.
"Dan fakta bahwa dia mau
berusaha seperti itu saja sudah... sangat teramat Imut."
"?!"
"Maksudku, membayangkan dia
mengumpulkan keberanian hanya untuk menggandeng tanganku... mengingatnya saja
sudah cukup membuatku tersenyum sendiri."
"A-aku paham! Sudah cukup,
jangan diteruskan!"
"Oh, maaf, apa aku tadi
terlalu berlebihan?"
Melihat kedua pipinya merona
merah, Hiiragi-san menciutkan tubuhnya, menundukkan pandangannya. Dia pasti
merasa malu mendengar cerita romansa yang terlalu gamblang ini. Aku bisa
melihat semburat merah muda tipis mewarnai wajahnya.
(Sialan... aku melakukannya lagi.)
Ini bukan pertama kalinya. Dulu
aku juga pernah terlalu bersemangat menceritakan tentang Saito dan berakhir
membuat Hiiragi-san salah tingkah. Dia adalah pendengar yang begitu baik
sampai-sampai aku tak tahan untuk terus mencurahkan isi hatiku padanya. Aku
harus lebih berhati-hati di masa depan.
Merenungkan kelakuanku barusan,
aku bertekad untuk tetap menjaga ketenangan. Hiiragi-san tampaknya juga
berusaha menguasai dirinya kembali, melontarkan batuk kecil.
"P-pokoknya, sekarang aku
paham kalau kau merasa sangat bahagia atas sikap proaktifnya kemarin."
Dengan begitu, ia meraih cangkir cappuccino-nya,
kemungkinan untuk menenangkan gejolak emosinya.
Saat ia menyesapnya lalu
meletakkan cangkirnya kembali di atas meja, aku menyadari ada sesuatu di
bibirnya—busa. Busa putih susu menempel di bibir atasnya, hampir terlihat
persis seperti kumis kecil.
"Um... ada sisa busa di
bibirmu."
"Eh...?"
Untuk sesaat ia mematung
dengan mata membelalak lebar, sebelum pipinya seketika merona merah padam. Ia
buru-buru menyambar serbet kertas di dekatnya lalu mengelap bibirnya.
"Ah, terima kasih..."
"Sama-sama. Aku baru tahu
kalau Hiiragi-san ternyata punya sisi ceroboh yang melamun seperti itu
juga."
"Tadi itu murni kebetulan
saja. Ini semua salahmu, Tanaka-san, karena menceritakan temanmu itu dengan
begitu berapi-api..."
"Maafkan aku."
"Serius deh. Siapa saja pasti
bakal terguncang setelah mendengar kisah cinta yang begitu intens seperti
itu."
Pipinya masih mempertahankan
semburat merah muda, dan ia menghela napas kecil. Maafkan aku karena terus
mengoceh panjang lebar soal urusan asmaraku.
"Jadi, karena rencanamu kali
ini gagal membuahkan hasil, apa yang kau rencanakan selanjutnya?"
"Yah, aku tetap ingin
melanjutkan rencanaku. Aku benar-benar ingin membuatnya lebih sadar akan
keberadaanku sebagai seorang laki-laki."
Menyerah bukanlah pilihan hanya
karena aku gagal sekali. Malahan, kuputuskan untuk menggabungkan saran dari
Hiiragi-san dan masukan dari Kazuki untuk percobaanku berikutnya. Dengan
mendapatkan sudut pandang dari sisi laki-laki dan perempuan tentang cara mendekatinya,
peluang keberhasilanku pasti akan meningkat pesat.
Kali ini pasti berhasil—aku memantapkan tekad di dalam hati lalu membalas
tatapan Hiiragi-san. Ia merespons
dengan senyuman tipis yang licik, hampir terlihat sangat jahil.
"Begitu ya. Kedengarannya
ide yang bagus. Tapi jangan lupa, pacarmu itu mungkin bakal bersikap agresif
lagi nanti, jadi pastikan bukan kau yang malah berakhir dibuat salah tingkah
ya?"
Ia melirikku dengan ekspresi
menggoda, senyumannya terlihat jahil persis iblis kecil yang nakal.
"Terima kasih atas bantuanmu
hari ini. Aku akan mengandalkanmu lagi saat merencanakan kencanku berikutnya
nanti."
"Sama-sama. Aku senang
mendengarkan ceritamu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi lain waktu."
"Iya, sampai jumpa."
Setelah berpisah dengan
Hiiragi-san, aku menyusuri jalan pulang ke rumah. Suasana sekitar sudah gelap
gulita, dan angin malam yang dingin menyapu pipiku perlahan.
Saat mendongak menatap langit, aku
disambut oleh pemandangan memukau berupa taburan bintang-bintang yang
bertebaran di langit malam yang cerah dan bersih. Mungkin karena udaranya
begitu sejuk dan segar malam ini.
***
Sudut Pandang Saito
(Sejujurnya, tak peduli berapa
kali pun hal ini terjadi, aku tetap tidak bisa terbiasa...)
Aku sudah membantu Tanaka-kun
mengatasi masalahnya berkali-kali sebelumnya, tetapi hal itu tetap saja selalu
sukses membuat wajahku memerah malu.
Dan siapa juga yang tidak akan
malu? Mendengar seseorang membicarakan dirimu dengan begitu tulus dan
bersungguh-sungguh tepat di depan wajahmu—aneh rasanya kalau tidak sampai salah
tingkah. Serius deh, Tanaka-kun ini benar-benar sangat merepotkan.
"Fakta bahwa dia berusaha
sekeras itu khusus demi diriku—tentu saja itu membuatku sangat bahagia!"
Saat memutar ulang kata-katanya
tadi di kepalaku, wajahku kembali terasa memanas seketika.
Astaga! Tentu, aku memang ingin dia lebih memperhatikanku, jadi
aku memang berusaha untuk bersikap lebih proaktif, tapi tetap saja...! Meski
begitu, melihatnya tersenyum-senyum lebar seperti itu, tampak begitu bahagia
dari lubuk hatinya...
Bayangan wajah bahagianya muncul
tanpa diundang di benakku. Wajah itu sangat berbeda dari ekspresinya yang
biasanya selalu tenang dan agak tertutup—terlihat begitu lembut dan sarat akan
emosi yang meluap.
Dia tadi berusaha bersikap sok
tenang, tetapi tidak ada yang bisa menyembunyikan bagaimana sudut bibirnya
terus berkedut membentuk senyuman.
Memberanikan diri menggandeng
tangannya saja sudah sangat menguras mentalku—itu membuat jantungku berdegup
kencang, dan mempertahankan ekspresi tenang di wajah bukanlah hal yang mudah.
Namun melihat betapa bahagianya dia membuat semua perjuanganku terasa sangat
sepadan. Tapi aku sama sekali tidak menyangka dia bakal menyebutku "Imut"
dan "menggemaskan" sebanyak itu...
Hah. Aku menghela napas pelan, menutupi kedua pipiku yang
merona dengan kedua tangan. Terlepas dari udara dingin di luar, rasa panas di
pipiku menolak untuk mereda. Telapak tanganku yang dingin terasa sangat
menyejukkan.
Meskipun aku berakhir dibuat salah
tingkah lagi gara-gara mendengarkan curhatnya, aku senang bisa mendengar isi
pikirannya yang sebenarnya. Mengetahui bahwa dia menikmati kencan kemarin sama
besarnya denganku terasa sangat melegakan.
Aku mungkin sempat agak terbawa
suasana dan terlalu larut menikmati kencan kemarin, tetapi mengetahui dia
merasakan hal yang sama membuat hatiku tenang.
Tetap saja... apa aku tadi
benar-benar terlihat sekekanak-kanakan itu? Tanaka-kun sepertinya
mengucapkannya sebagai pujian, tetapi "kekanak-kanakan" bukanlah kata
yang menyenangkan untuk didengar. Menyebut seorang gadis SMA berusia tujuh
belas tahun dengan sebutan "kekanak-kanakan" itu jelas-jelas tidak
sopan. Lagipula, aku tidak seantusias itu... mungkin.
Kalau dipikir-pikir lagi, penyebab
utamanya kemungkinan besar adalah kafe kucing tadi.
Di momen itu, aku hampir
benar-benar melupakan keberadaan Tanaka-kun dan terlalu asyik bermain bersama
kucing-kucing. Jadi yah, mungkin itulah yang dia maksud. Tapi sejujurnya, siapa
yang tidak akan histeris dikelilingi oleh begitu banyak kucing yang menggemaskan?
Kucing memang makhluk yang luar biasa.
Terlepas dari semuanya, kencan
kemarin benar-benar sangat menyenangkan. Aku sempat sangat gugup sebelumnya,
memikirkan bagaimana rasanya berduaan saja dengannya, tetapi begitu kencan
dimulai, yang ada hanyalah kebahagiaan murni. Itu adalah saat-saat yang begitu
membahagiakan—hingga aku tak tahan untuk tidak berharap agar hubungan kami ini
bisa terus berlanjut seperti ini selamanya.
Dengan hati yang terasa begitu
hangat, aku melangkah pulang menuju rumah, nyaris tidak merasakan dinginnya
udara malam. Kebahagiaan dari kencan kami masih terus membekas, menjagaku tetap
hangat di sepanjang perjalanan pulang.


Post a Comment