Prolog
"A,
apa-apaan itu!?"
–Buang
Sampahmu Sendiri
–Awas Ada Beruang
–Apakah
kamu sudah mengambil tindakan pencegahan penuh terhadap roh jahat?
Di sebuah
perkemahan kecil tempat papan-papan peringatan biasa itu berdiri, semua orang
di sana sedang panik.
Liburan musim
panas universitas. Barbeque di perkemahan. Obrolan yang ramai antara laki-laki
dan perempuan.
Baru beberapa
menit yang lalu mereka menikmati adegan musim panas yang sempurna, layaknya
lukisan.
"MATI
SEMUA YANG PUNYA HIDUP MENYENANGKAN!"
Kotak
pendingin yang penuh bahan makanan hancur berkeping-keping, meja dibanting
hingga remuk, dan panggangan untuk membakar daging dilemparkan ke tenda
terdekat, memicu api besar.
"Gawat!
Ini nggak wajar!" teriak salah satu anak muda sambil melarikan diri.
"AKU
TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN LARI!"
Yang
mengejar anak-anak muda yang berpencar adalah seorang gadis yang tadinya ikut
menikmati kemping bersama mereka.
Matanya
merah dan tidak fokus, dan dia terus mengejar mereka dengan sepenuh hati, tanpa
mempedulikan kedua tangannya yang terluka karena kekuatan berlebihan saat
menghancurkan peralatan kemping. Di tangannya, sebilah pisau dapur digenggam
erat, dan sudah jelas apa yang akan terjadi jika mereka tertangkap.
"Makanya
aku bilang, jangan cuma bawa obat nyamuk, tapi juga semprotan beruang sama
jimat!"
"Kan
mahal! Lagian, mana ada yang menyangka kalau bakal benar-benar muncul!"
Sambil
lari sekencang mungkin dari teman perempuan mereka yang memegang pisau, para
laki-laki berteriak untuk menghilangkan rasa takut mereka.
"Um, kalau
begini, k-kita harus telepon 110... eh, 119, ya!?"
"Bodoh!
Itu polisi dan ambulans! Kalau begini, harusnya telepon langsung ke Asosiasi...
nomor berapa, ya?"
"Lagipula,
menelepon sekarang juga nggak bakal sempat!"
Gadis
itu, yang dirasuki oleh sesuatu yang bukan manusia, sudah di belakang mereka.
Secara
fisik, para laki-laki lebih unggul. Namun, dia mengejar tanpa mempedulikan
batasan fisiknya sama sekali. Mereka hanya bisa bersembunyi di suatu tempat,
atau berlindung di kantor pengelola yang letaknya jauh dan menunggu sampai
bahaya berlalu. Tapi...
"Uwaah!?"
Salah satu
laki-laki tersandung dan jatuh di tempat.
"MATI KALIAN
SEMUA YANG PUNYA HIDUP MENYENANGKAN!"
Dengan jeritan
melengking yang mustahil berasal dari manusia hidup, pisau dapur diayunkan ke
bawah.
"Uwaaaaaaaah!?"
Tepat ketika
laki-laki itu sudah siap menghadapi kematiannya tanpa tahu apa yang sedang
terjadi.
Gajun!
Sebuah suara
tumpul bergema, dan di antara gadis yang mengayunkan pisau dan laki-laki yang
terjatuh, seorang pemuda berdiri menghadang.
"Nyaris!"
Pemuda itu, yang
terlihat masih seumuran siswa SMA, menahan pisau dapur itu dengan tangan kosong
seolah itu hal yang wajar.
"Hampir saja... Kalau bukan karena Spirit Rank 2
Scale, pasti sudah ada korban tewas."
Sambil menyeka
keringat dingin, pemuda itu menggerutu sementara para laki-laki tercengang.
"Hei, Karasu
Maru! Sekarang wajahnya sudah terlihat, kan!"
Saat pemuda itu
meneriakkan sesuatu ke arah kegelapan,
"Ugh!?"
Gadis yang
memegang pisau itu menggeliat seolah dicekik oleh sesuatu dan menunjukkan
ekspresi kesakitan. Tampaknya gerakan tubuhnya telah dibekukan oleh sesuatu
yang tak terlihat.
"K-kalian..."
Meskipun
meragukan mata mereka karena serangkaian fenomena supernatural yang terjadi di
depan mereka, para laki-laki yakin siapa pemuda yang tiba-tiba muncul itu.
Taimashi.
Itu adalah
sebutan umum bagi mereka yang telah menjalani pelatihan khusus untuk melawan
entitas spiritual yang membahayakan manusia.
Seragam sekolah
yang dikenakan pemuda itu pastilah dari sekolah pelatihan ternama. Mereka
bukanlah siswa biasa; mereka sering diliput media karena bekerja seperti
profesional, tergantung kemampuan mereka.
Mereka tidak tahu
mengapa seorang Taimashi ada di sini tanpa dipanggil, tetapi yang pasti,
mereka telah diselamatkan. Saat itulah para laki-laki merasa lega.
"Uwah!?
Apa-apaan ini!?"
Pandangan para
laki-laki tiba-tiba terhalang, dan mereka tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Ada sesuatu yang
menempel di wajah mereka, dan kedua telinga mereka juga ditutup secara kasar.
"Sekarang,
Furya-kun! Mata dan telinga warga sipil sudah kututup, jadi kamu aman
menggunakan Ecstasy Exorcism Techno Breaker!"
"Bodoh!
Suara kamu keras sekali, Soya!"
Saat pertukaran
kata itu terdengar samar, di saat berikutnya.
"Nhoooooooohhh!?"
Sebuah jeritan
yang terlalu berlebihan bergema.
"Aduh, apanya yang Exorcism Ecstasy... Sungguh, kutukan
yang tidak berguna..."
Suara pemuda itu
terdengar bosan.
Dan kemudian,
sesaat. Dalam pandangan singkat laki-laki yang terhalang itu, terlihat
pemandangan yang sulit dipercaya.
Seorang wanita
tembus pandang melompat keluar dari tubuh teman perempuan mereka yang tadi
memegang pisau, kemudian menyebar ke udara dengan ekspresi kegairahan.
Itu adalah pemandangan yang layak disebut 'Kenaikan'. Namun,
di sisi lain, kondisi teman perempuan mereka yang kejang-kejang dan meneteskan
cairan dari bagian bawah tubuhnya jelas jauh dari suasana sakral yang disebut
kenaikan...
Apa sebenarnya yang terjadi di depan matanya? Apakah ini
benar-benar pengusiran roh?
Laki-laki yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang industri Taimashi itu tidak mengerti apa-apa.


Post a Comment