Kata Penutup
Halo. Saya Mizuki Mizushiki.
Saya persembahkan Volume 3 dari Amamori Junna
wa Shitsudo ga Takai (Junna Amamori Memiliki Kelembapan yang Tinggi).
Sambil merangkai berbagai petunjuk yang sudah
ditebar sejak volume pertama, hubungan mereka berdua berkembang pesat dalam
volume ini—bagaikan Junna yang tiba-tiba merangsek mendekat dengan agresif.
Apakah kalian menikmatinya?
Judul bab 6, "Cinta yang Abadi",
berima dengan judul bab 6 di volume 1, "Yuu & Ai" (Yuu & Ai /
Yuuon no Ai), kalimat terakhir di bagian inti cerita sama persis dengan volume
pertama, dan ilustrasi sampulnya memperlihatkan Junna yang memamerkan
cincinnya...
Meskipun suasananya seolah-olah ini adalah
volume terakhir dari seri ini, sebagai penulis saya masih sangat bersemangat
untuk melanjutkan cerita ini, dan masih banyak hal yang ingin saya tulis. Jadi,
mohon terus dukung Amamori Junna wa Shitsudo ga Takai ya.
Selain itu, karya yang mengusung judul
"Kelembapan Tinggi" ini tampaknya cara penjualannya pun bernuansa
lembap; sejak diterbitkan, perlahan... perlahan... daya tarik Junna meresap dan
menyebar luas di kalangan pembaca.
Dalam ajang Kono Light Novel ga Sugoi!
2026, karya ini berhasil menduduki peringkat ke-5 untuk kategori Karya Baru,
peringkat ke-12 untuk Kategori Bunko secara keseluruhan, dan peringkat ke-15
untuk Kategori Umum. Selain itu, mulai bulan Mei, serialisasi
adaptasi manga-nya juga akan segera dimulai. Bahkan di balik layar, ada
beberapa proyek lain yang sedang berjalan—atau mungkin tidak.
Informasi mengenai karya-karya tersebut
dibagikan melalui label penerbit dan akun media sosial penulis (X), jadi bagi
yang belum mengikutinya, silakan follow dan perbarui informasi kalian.
Sebagai catatan penutup, semenjak mulai
menulis karya ini, di mana pun saya pergi, saya selalu berpikir, "Kalau
Junna, kalau Shigure...", dan terus berimajinasi.
Kira-kira apa yang akan mereka pesan, apa yang
akan mereka beli, bagaimana mereka menghabiskan waktu, interaksi seperti apa
yang akan mereka lakukan...
Adegan kencan ganda adalah salah satu produk
dari imajinasi tersebut. Saat selesai menulis volume kedua, saya diajak oleh
seorang teman yang menyukai wahana ekstrem ke sebuah taman bermain. Meskipun
dalam hati saya berpikir, "Wahana ekstrem... sebenarnya aku kurang
suka," dasar cerita dari adegan itu berawal dari lamunan saya saat
berkunjung ke sana. Wahana ekstrem itu yang terbaik!! (Saya jadi ketagihan).
Kedepannya, saya bertekad untuk terus
menyuguhkan cerita yang penuh dengan beragam kesenangan dan unsur hiburan,
bagaikan sebuah taman bermain.
Terima
kasih banyak telah membaca hingga bagian akhir ini.
Semoga kita bisa berjumpa lagi di kata penutup
volume 4.
Ekstra E-book: Cerita Pendek Spesial
"Matahari yang Jauh"
Aku——Yamada Haruka, pernah memiliki
seseorang yang sangat kucintai.
Kusumi Kyoujiro. Anak laki-laki seusia
yang tinggal di unit apartemen sebelah.
Bisa dibilang, kami adalah teman masa kecil.
Bahkan sebelum aku memiliki ingatan yang
jelas, sebelum masuk taman kanak-kanak, keluarga kami sudah sering
berinteraksi, dan kami menghabiskan banyak waktu bersama.
You-kun.
Keren, baik hati, ceria, dan hangat.
Bersinar terang dan menerangi seluruh
dunia.
Matahariku.
——Atau lebih tepatnya, seseorang yang
pernah seperti itu.
"Mati sana, si Bajingan Jiro!"
Aku menampar wajah yang sangat menyebalkan
itu sekuat tenaga.
——Kenapa, hal ini bisa sampai terjadi?
Sambil menatap ke bawah ke arahnya yang
terjatuh sambil memegangi pipinya, aku bertanya pada diri sendiri dengan tangan
yang masih terasa berdenyut-denyut, menahan air mata yang hampir tumpah.
Aku rasa, sikapnya mulai berubah terhadapku
ketika kami berusia 10 tahun, sekitar pertengahan masa sekolah dasar.
Kata-kata lembut yang biasa ia ucapkan berubah
menjadi cacian. Bodoh, tolol, ceroboh, payah, penyendiri, penyuka introvert...
Semuanya
memang fakta sih, tapi 'You-kun' yang kukenal tidak mungkin mengatakan hal-hal
kejam seperti itu. Aku tidak mengerti dan akhirnya menangis. Dan saat aku mulai
menangis, dia akan menunjukku, menertawakanku, mengejekku, dan menjadikannya
tontonan untuk semua orang.
Hanya saja, kalau itu saja, aku masih bisa
memaafkannya. Aku pernah dengar dari para ibu bahwa anak laki-laki seusia itu
biasanya ingin bersikap usil pada orang yang mereka sukai.
Yang tidak bisa dimaafkan olehku adalah——
"Aku ini, punya orang yang aku sukai
lho."
——Dia memberitahuku bahwa dia terpikat pada
lawan jenis selain aku, pada tipe gadis yang sangat bertolak belakang dengan
diriku.
"Empat orang. Ah, ngomong-ngomong, kamu
tidak termasuk ya?"
"...................................Bodo
amat. Mati sana!"
Sejak saat itu, teman masa kecilku yang
bernama 'You-kun' berubah menjadi 'Kusujiro (Si Bajingan Jiro)'.
Perasaanku padanya berubah dari sangat suka
menjadi sangat benci, dan hubungan kami merosot menjadi hubungan terburuk yang
selalu diwarnai pertengkaran setiap kali kami bertemu.
Tapi——(Kebalikan dari suka bukanlah benci,
melainkan ketidakpedulian. Benci adalah bentuk lain dari suka... ya)
Aku teringat kata-kata yang kudengar dari
gadis itu melalui panggilan telepon. Aku sempat menyangkalnya dengan berkata,
"Mana mungkin," tapi ya, mungkin memang benar begitu.
Saat aku memutuskan untuk pergi bersamanya
dalam rangka 'peliputan', debaran di dadaku tidak mau berhenti.
Sejak malam hari sebelumnya, aku sangat
kebingungan memikirkan baju apa yang harus dikenakan, dan karena dipenuhi rasa
cemas sekaligus antisipasi, aku tidak bisa tidur semalaman (makanya mataku
sampai harus disembunyikan dengan makeup).
Saat melihatnya ketakutan di roller coaster,
aku sempat berpikir 'imut banget', dan ketika dia dengan santainya mengucapkan
kata 'suka', aku merasa sangat berdebar-debar di dalam hati.
......Padahal itu cuma candaan.
Meskipun aku tahu betul bahwa begitu aku
mempercayai gombalannya dan menganggapnya serius, dia pasti akan langsung
mengelak dengan berkata, 'Bercanda!'
Sebuah perangkap yang sudah sangat jelas
terlihat.
——Padahal, kupikir begitu.
"......Haru-chan."
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
Sisa-sisa sentuhan saat kami berada di pengering tubuh (body dryer) dan rumah
hantu masih belum sepenuhnya hilang, dan saat aku sedang melamun menatap ke
luar jendela, dia memanggilku.
Bukan
suara main-main yang meremehkan.
Suara itu terdengar tegas dan serius.
"Aku ini..."
Aku mengerutkan kening dan menatapnya
dengan penuh kecurigaan. Tatapan matanya begitu serius dan lurus——bahkan jauh
lebih serius dari suaranya. Sepasang mata berwarna hazel yang jernih dan tidak
terlalu pekat.
Detak jantungku melompat. Dan kemudian,
"Aku sudah lama menyukaimu, lho."
——Berhenti. Sungguh. Bersamaan dengan napasku
yang berhenti selama beberapa detik, jantungku benar-benar berhenti berdetak,
kan? Begitulah besarnya guncangan yang kurasakan.
"...................................Hah?"
Hanya itu yang sanggup kuucapkan.
Dia melanjutkan. Dengan nada suara berat yang
sama sekali tidak mencerminkan 'Kusujiro' yang sembrono, serta ekspresi yang
sangat sungguh-sungguh.
"Baik dulu maupun sekarang, sebagai
seorang wanita, aku sangat menyukaimu. Tapi... justru karena itulah..."
Isi dari kata-kata selanjutnya hampir tidak
bisa masuk ke dalam pikiranku. Seolah-olah aku sedang bermimpi, kesadaranku
terlepas dan melayang-layang di udara kosong.
Hal yang terus berputar-putar di dalam
kepalaku adalah perasaan yang baru saja ia nyatakan.
'Suka'*
'Suka banget'*
'Suka suka suka suka'*
'Suka suka suka suka suka suka suka suka'*
'Sudah lama suka'*
'Sangat suka'*
"You-kun!"
Sebelum aku sadari, tubuhku bergerak sendiri
dan aku langsung memeluknya yang ada di hadapanku.
Keren,
baik hati, ceria, and hangat.
Bersinar terang dan menerangi seluruh
dunia.
Matahariku, yang terbit kembali.
Aku tidak bisa memaafkan rasa dikhianati
itu, dan mulai membencinya——meskipun aku selalu meyakinkan diriku sendiri kalau
aku membencinya, tapi tetap saja. Aku tetap berharap, suatu hari nanti, pasti
akan tiba saatnya dia berkata,
'Aku sangat menyukaimu'*
seperti dulu kala. Kenangan masa lalu yang
cemerlang, serta kilau dari cinta pertama, adalah tempat sandaran hatiku.
Meskipun sempat tenggelam, matahari bagiku
selalu ada di dalam hatiku selama ini.
Oleh karena itu——
"......Aku juga."
Sambil menatapnya yang tampak terkejut, dengan
perasaan yang jauh lebih panas daripada matahari,
"Aku juga menyukaimu, You-kun!"
Aku
menjawabnya.
"——Suka
banget!"
Previous Chapter | ToC | Next Chapter


Post a Comment