2. Operasi Kencan Ganda
Akhir pekan, hari Minggu. Kami sedang
diguncang oleh bus yang melaju di jalan tol. Di kursi sebelah, Junna
menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memejamkan mata.
"...................."
Dia sedang tidur nyenyak. Napas teratur
terdengar keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.
Dia mengenakan pullover hoodie putih
dengan celana pendek denim—penampilan yang terlihat boyish.
Sedangkan aku mengenakan full-zip hoodie
abu-abu dengan celana jins lurus. Kaki kami berdua memakai model dan warna
sepatu kets putih yang sama.
Apa
yang disebut sebagai couple look (baju pasangan). Junna menanyakan pakaian apa yang akan kukenakan sebelumnya dan
menyesuaikannya.
Mungkin karena malu jika seluruh pakaian kami
sama persis, selain sepatu, barang yang dikenakan sedikit berbeda. Namun, jika
dilihat orang lain, tidak banyak perbedaannya.
Sama seperti hubunganku dan Junna yang
sebenarnya sudah seperti sepasang kekasih.
"Shi...gure..."
"...!?
A, ada apa?"
Aku
tersentak karena dipanggil tiba-tiba saat sedang menatap wajah tidurnya yang
tanpa pertahanan, namun,
".............. Fuhnyu..."
Sepertinya itu hanya igauan. Junna menggeliat,
mengendurkan pipinya dengan ekspresi bahagia, lalu mulai mendengkur halus lagi.
Air liur hampir menetes dari sudut
bibirnya yang sedikit terangkat.
Saputanganku ada di saku belakang. Jika aku
bergerak sembarangan untuk menariknya keluar, mungkin aku akan membangunkan
Junna.
Aku ragu-ragu, tapi kemudian mengulurkan
tangan ke arah mulut Junna—
"Aaah!"
Begitu tanganku hampir menyentuhnya, aku
langsung menegang karena suara yang datang dari kursi belakang.
"Gunung Fuji! Wah, gila! Besar
banget! Cantik sekali!"
"Harukaze, berisik. Kamu terlalu
bersemangat."
Itu Yamada dan Youjiro. Lewat celah kursi,
aku bisa mendengar interaksi dua sahabat masa kecil itu.
"Aku tahu kau senang bisa berkencan
denganku seperti yang kau inginkan, tapi..."
"—Hah? Jangan mengigau. Lagipula, ini
bukan kencan! Ini liputan!"
Liputan. Ya, hari ini kami memanfaatkan hari
libur untuk pergi keluar melakukan liputan yang berguna untuk rencana kelas di
festival budaya.
Tujuan kami adalah kaki Gunung Fuji, sebuah
taman hiburan yang dikenal dengan rumah hantu dan wahana pemacu adrenalin
terbaik di Jepang. Singkatnya,
"...Karena aku suka taman hiburan, aku
hanya menantikannya saja."
Ini adalah kencan ganda dengan kedok liputan.
☂
"Wah, syukurlah mereka tidak
menolak..."
Youjiro bergumam dengan lega setelah turun
dari bus.
Pakaiannya adalah kemeja berwarna merah muda,
celana panjang lebar putih, dan sepatu kets hitam dengan sol putih. Aksesori perak yang bersinar di leher dan pergelangan
tangannya membuatnya terlihat modis.
Aku melakukan peregangan, mengendurkan
otot-otot yang kaku, lalu menjawab, "Begitulah."
"Yah, karena ini bukan cuma berdua tapi
berempat. Mungkin karena Junna yang mengajak mereka, jadinya berhasil."
"Jun-chan!"
Begitu turun dari bus, Yamada berlari
mendekati Junna.
Dia mengenakan blus biru muda dengan rok
mini putih dan sepatu kets platform gading. Blus itu bermodel off-shoulder yang
memperlihatkan kedua bahunya, penampilan yang sangat khas 'gyaru'.
"Karena di pegunungan, dingin ya.
Biar kubuat hangat—eh!?"
Dia mencoba memeluknya, tapi Junna
menghindar dengan cepat.
"...Bukankah kedinginan itu karena
kamu terlalu banyak mengumbar kulit? Kamu terlalu bersemangat karena ini
kencan, ya."
"Fuhehe. Aku ingin Jun-chan berpikir,
'Wanita ini, dadanya sih rata, tapi aura seksinya ada ya... guhehe'."
"Ini bukan kencanmu denganku.
Berhenti menggerakkan tanganmu sembarangan, itu menjijikkan, jadi tolong
berhenti."
"Hmm... entah mengapa, belakangan ini
suara Jun-chan saat bilang 'menjijikkan' bercampur dengan rasa takut, apa itu
cuma perasaanku saja? Tapi, Jun-chan yang ketakutan itu imut juga! Aku ingin
membuatnya lebih takut lagi."
"...Shigure. Bolehkah aku mengubah
tujuan ke Aokigahara? Aku ingin membuang otaku pembawa sial ini."
"Tentu saja tidak boleh. Dasar gadis hutan yuru-fuwa."
"Itu
lagu Nekry Talkie."
"Jun-chan!
Tadi kamu bilang 'tokimeku (berdebar) pada otaku (ne-kura)' ya!?"
"Aku
tidak bilang begitu... dasar anak SMA yang mabuk kepayang, mati saja."
"Mahasiswa,
tahu. Itu juga Nekry Talkie, atau lebih tepatnya lagu Ishiburo."
"Kalian berdua, musik banget ya. Padahal aku menyukai Harukaze!"
"—Eh? Menjijikkan."
"............"
Jangan minta bantuan padaku dengan tatapan
seperti itu setelah meledakkan dirimu sendiri dengan santai begitu. Kamu
terlalu jujur menyampaikan perasaanmu.
"Aku menyukai Jun-chan! Fuhi!"
"Menjijikkan."
"Pedas sekali!"
Yamada juga menyampaikan perasaan jujurnya
pada Junna dan berakhir dengan kegagalan, tapi sepertinya itu sama sekali tidak
mempan padanya. Aku ingin Youjiro mencontoh ketebalan muka itu.
"Uu... tidak bisa. Karena aku terbiasa
berinteraksi dengan cara yang aneh selama bertahun-tahun, aku jadi tidak tahu
cara berinteraksi selain dengan mengejek, menertawakan, atau menggoda."
"Itu dampak dari usahamu untuk dibenci,
ya. Bukankah lebih baik mulai bersikap jujur sedikit demi sedikit?"
"...Begitu ya? Ya sudah, satu hal saja.
Aku akan jujur padamu."
Terhadapku yang tersenyum pahit, Youjiro
mengaku.
"Aku, sangat benci wahana pemacu
adrenalin..."
"Begitu ya. Tidak disangka."
Saat dia mengusulkan tempat ini, dia bilang
'Keren!', jadi kupikir dia sangat menyukainya.
"Biasanya, mati pun aku tidak akan
datang. Ke taman hiburan yang seperti tempat suci wahana adrenalin begini.
Tapi, karena Harukaze—uaaaaaaa!?"
Youjiro menjerit dan terjungkal.
Roller coaster baru saja melesat melewati rel
yang dipasang di samping trotoar.
Suara gemuruh yang memekakkan telinga dan
jeritan para penumpang yang bertumpuk menembus gendang telingaku.
"Ahahahaha! Kuzujiro, culun! Takut
banget, lucu deh—"
Yamada menunjuk Youjiro sambil tertawa
terbahak-bahak.
"Kamu dari dulu memang benci wahana
adrenalin, kan. Sampai pingsan di wahana anak-anak saja pernah! Kalau naik itu,
apa kamu tidak akan mati kaget? Buahaha! Aku tidak sabar."
"...! Harukaze itu, menyukai wahana
ini."
Youjiro mengertakkan gigi, menahan keinginan
untuk membalas.
"Jadi kupikir bagus... sialan!"
Yamada melompat-lompat menuju pintu masuk. Dia sangat senang dan bersemangat.
"Jangan-jangan, dia setuju karena ingin
melihatku ketakutan!? Kalau begini, bukannya mengumpulkan poin, tapi
malah—"
"Bagaimana dengan Junna? Apa kamu
baik-baik saja dengan wahana adrenalin?"
Aku mengabaikan Youjiro yang mulai bergumam
sendiri dan bertanya pada Junna.
Tadi, saat roller coaster melesat, tidak
ada reaksi apa pun, dia tetap berekspresi datar seperti biasa.
"Un."
Dia mengangguk pendek.
"...Mungkin? Meskipun aku hampir tidak pernah menaikinya."
Setelah menambahkan itu, dia tertawa
meremehkan.
"Sepertinya lebih aman daripada mobil
yang dikemudikan guru, jadi santai saja."
☂
"Shi... Shigure..."
Saat sedang menanjak panjang di sebuah roller
coaster raksasa yang dijuluki 'King of Coaster' dan pernah memecahkan empat
rekor dunia Guinness saat dibuka, Junna mengeluarkan suara lirih seperti suara
nyamuk.
"Hm?"
Saat aku mengalihkan pandangan dari
pemandangan megah Gunung Fuji yang terhampar di bawah sana, apa yang kulihat
bukan ekspresi datar, melainkan wajah yang pucat karena ketakutan.
Kedua tangan yang menggenggam palang pengaman,
tubuhnya, bahkan bibirnya, gemetar kecil.
Omong-omong, kami berada di baris pertama
paling depan. Di belakang kami,
"Ayo ayo, jangan tutup matamu, buka
dong, Kuzujiro. Pemandangannya indah, tahu?"
"Tidak mau tidak mau tidak mau tidak
mau tidak mau..."
"Uwah,
benar-benar pemandangan indah! Gunung Fuji dari balik Kuzujiro yang ketakutan
dan meringkuk itu, mantap banget! Aaah~~~~, kecelakaan dong! Tolong berhenti
mendadak! Fuhihihi."
"Berhenti!"
"Dia
kena mental, lucu!"
Yamada
tampak sangat bersemangat, seolah-olah ikan yang mendapatkan air, dia
terus-menerus memprovokasi Youjiro. Di tengah suasana itu, Junna yang tadinya
terdiam, tiba-tiba berseru,
"Shigure!"
Saat
kami mencapai titik tertinggi, tujuh puluh sembilan meter di atas permukaan
tanah, dia memanggil namaku sekali lagi.
"Senang bisa bertemu denganmu... terima
kasih."
"Apa-apaan kalimat yang terdengar seperti
ucapan perpisahan itu!?"
Dia mengatakannya dengan senyum yang tenang,
seolah telah merelakan segalanya. Dan, tepat saat aku selesai melontarkan
komplainku, roller coaster itu mulai meluncur jatuh—
"Hih!?"
"Uooooh!"
"Ugyaaaaaaa! Mati! Aku matiiiii!"
"Ahahahahahahaha! Kuzujiro, lucu banget!
Aduh, rasanya aku bisa mati tertawa... buwahahahaha!"
Jeritan dan suara tawa meledak. Saat tubuh
kami terasa seperti akan terlempar akibat gerakan turun, naik, dan putaran demi
putaran, aku menumpuk tanganku di atas tangan Junna yang menggenggam erat
palang pengaman, lalu aku pun menggenggamnya.
"...................."
Tidak ada reaksi dari Junna.
Sekitar tiga setengah menit waktu berlalu
dalam sekejap, dan ketika kami kembali ke titik awal, rambutnya sudah
berantakan total. My hair is bad.
"...Fuh.
Seru juga ya. Mungkin aku menyukainya, wahana adrenalin."
Sambil
merapikan poni yang berantakan, aku melirik Junna yang sangat tenang selama
perjalanan tadi. Cahaya di matanya telah hilang.
"Junna!?"
"Y, Yo-kun! Tunggu... kamu tidak
apa-apa!?"
Sepertinya Youjiro pingsan.
☂
"...Ugh. A, aku pikir aku akan mati...
wahana seperti itu bukan untuk manusia, tahu."
"Aku setuju. Entahlah, mungkin perasaan
orang yang akan dihukum mati di kursi listrik seperti ini ya... ingatanku
kosong di tengah jalan tadi. Mungkin otakku rusak... harusnya operasi wahana
ini segera dihentikan. Berbahaya."
Youjiro dan Junna tumbang. Mereka berbaring di
lapangan rumput di tengah taman, menggumam dengan mata yang kosong.
"Kalian berlebihan sekali. Manusia tidak
akan mati semudah itu."
Saat Yamada mengatakannya, rasanya menyeramkan
dan tidak bisa dianggap sebagai lelucon.
"Roller
coaster itu wahana yang aman, tahu? Dibandingkan mobil atau lainnya, tingkat
kecelakaannya jauh lebih rendah."
"Tapi, tidak nol persen kan?"
"Betul juga ya?"
Youjiro membantah penjelasanku, dan Junna
menimpali.
"Artinya, kecelakaan itu bisa saja
terjadi, kan? Shigure, jangan naik lagi."
"Kalian semua berisik sekali ya. Nanti
kulempar pakai pizza lho."
Aku mengancam sambil mengangkat makanan
yang baru saja kubeli.
—Bahwa aku merasa jauh lebih cemas saat
harus berduaan dengan Yamada untuk membeli makanan daripada naik roller
coaster, itu adalah rahasia.
Sikap Yamada sangat normal, jadi aku ingin
percaya bahwa kejadian hari itu hanyalah kekhawatiran yang tidak perlu.
"Ngomong-ngomong, aku juga membelikan
sesuatu yang sepertinya kamu sukai, Junna."
Junna bangkit dengan suara
"Hm..." lalu menerimanya.
"Bagel dengan adonan berwarna ungu.
Aku sempat bingung dengan yang warna pelangi, tapi kurasa yang ini lebih cocok
untukmu."
"Sepertinya beracun. Tapi, kelihatannya
lezat."
"Ya, ini Kuzujiro. Minumannya es teh
lemon, kan?"
"Un. Terima kasih, Harukaze."
"...Eh. Apa karena kamu sedang lemas?
Menucapkan terima kasih dengan jujur itu menjijikkan."
"Lalu aku harus bagaimana!?"
Kami duduk di rumput untuk makan siang lebih
awal.
Meskipun kami hanya menaiki satu wahana,
karena waktu tunggunya yang lama dan Junna dkk yang sudah merasa grogi, kami
memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku memeriksa informasi di ponsel untuk
mendiskusikan rencana selanjutnya.
"Untuk saat ini, mari kita taklukkan
empat coaster utama."
"Tidak mau."
"Aku juga tidak mau."
"Bukankah menaklukkan semuanya itu sulit?
Waktu tunggunya hampir 100 menit semua."
"Shigure, bukan itu masalahnya."
Junna melirikku tajam, tapi aku sengaja
mengabaikannya. Ekspresi datarnya yang seperti boneka, momen saat ekspresi itu
hancur adalah sesuatu yang berharga. Mumpung ada kesempatan, aku ingin
menikmatinya.
"Aku penasaran dengan yang ini—yang
katanya jumlah putaran terbanyak di dunia. Katanya saat berjalan, kursinya
sendiri juga akan berputar-putar!"
"Rasanya makanan yang kumakan akan keluar
kembali ke langit..."
Mendengar ucapanku, mata Junna berputar-putar,
"Aku juga penasaran dengan yang sudut
jatuhnya 121 derajat! Melewati sudut siku-siku, gila."
"Apakah ini akan jadi makanan
terakhirku..."
Mendengar ucapan Yamada, Youjiro mengunyah
pizzanya sambil menangis.
Di kejauhan, sebuah wahana yang tampak seperti
pizza tertusuk tongkat sedang berayun seperti pendulum sambil berputar. Suara
jeritan dan tawa sayup-sayup terdengar.
"—Oh? Ini, bukankah ini bagus? Coaster
berbentuk motor yang memutar lagu orisinal Sekai no Owari."
"...Hmm. Lagu apa?"
"'Dead End'."
"Terburuk. Aku tidak akan naik... aku
tidak akan pernah naik."
Dengan tangan memegang bagel yang sudah
digigit setengah, Junna menepuk-nepuk pipiku. Aku langsung menggigit bagian
bagel yang belum tersentuh.
Junna mematung dengan suara "Ah",
menatap bagel itu.
Dia khawatir tentang ciuman tidak
langsung. Padahal dia sering melontarkan lelucon kotor dan sering
menggodaku—sifat polosnya itu sangat menggemaskan.
"............"
Sambil terdiam dengan ekspresi datar dan
wajah yang sedikit memerah, Junna menatapku, aku pun tertawa dan menatap
langit.
Biru cerah tanpa awan putih sedikit pun
terbentang luas.
Hari yang sempurna untuk berteriak dengan
peluang hujan nol persen.
Mungkin ini pengaruh dari pasangan yokai
(orang ceria) yang bagaikan matahari itu.
"Ngomong-ngomong, aku baru menyadarinya
sekarang."
Setelah menghabiskan pizza berbentuk Gunung
Fuji, aku menunjuk sesuatu yang membuatku penasaran.
"—Bukankah jarak kalian terlalu dekat?
Kalian berdua..."
"Eh?"
Bukan hanya bahu, bahkan pipi mereka hampir
bersentuhan saat melihat satu layar ponsel yang sama. Youjiro dan Yamada
mengangkat wajah secara bersamaan dan mengerjapkan mata.
"Dekat... ya?"
"Kami memang dari dulu begini, kok?"
"...Begitu ya."
Jarak teman masa kecil yang tidak pernah
berubah sejak kecil, ya.
Mungkin itulah alasan mengapa aku merasa jarak
Yamada selalu sangat dekat dan terasa rusak.
"Lagipula—"
Sambil mengarahkan churro ke arah kami, Yamada
tampak terkejut.
"Justru Kurimoto-kun dan Junna-chan,
bukankah kalian juga dekat?"
Junna telah berpindah dan masuk ke sela-sela
kakiku.
Menjadikan dadaku sebagai sandaran
punggung, dia makan bagel dengan lahap. Karena tidak ingin terlihat telinganya
yang memerah, dia menutupi kepalanya dengan hoodie.
Aku melingkarkan lengan untuk memeluk
tubuh Junna sambil mengambil minumanku sendiri, menyedotnya, lalu pura-pura
tidak tahu.
"...Begitu ya?"
☂
Jam 13.00. Di bawah terik matahari, kami
semua basah kuyup. Bukan karena hujan.
Itu karena wahana.
Wahana seperti seluncuran air di mana kita
menyusuri jalur air dengan arus deras menggunakan perahu bundar berkapasitas
empat orang.
Karena akan basah jika tidak memakai apa-apa,
biasanya kita memakai ponco transparan sekali pakai yang dijual di pintu masuk,
tapi,
"Shigure. Air ini... semakin terkena air,
semakin banyak nasib buruk yang luruh dari tubuh, katanya membawa keberuntungan
untuk hubungan asmara?"
"Oh ya?"
"Bagus tuh! Ayo kita naik tanpa
ponco."
"Eh. Aku tidak mau basah..."
"Ya ampun, begitu ya! Kami bertiga
akan naik tanpa ponco, tapi kamu satu-satunya yang akan naik dengan pelindung
anti air? Kamu tidak punya rasa kebersamaan ya. Dasar inkya (penyendiri)!"
"Bukan berarti aku bilang aku tidak
akan pakai—aduh."
"Aku dan Shigure akan naik seperti
ini."
"Katanya begitu? Bagaimana dengan
Harukaze?"
"Hmm. Aku... air, ya..."
"Jangan-jangan, kamu takut?"
"—Hah? Aku tidak takut! Jangan samakan
aku dengan pria yang tadi sampai berteriak-teriak memalukan dan menyebarkan air
kotor ke mana-mana!"
"Air
mata bukanlah air kotor! ...Ah, begitu ya! Kamu tidak ingin terlihat tanpa
makeup? Tidak ingin Shigure melihat wajah polosmu yang disamarkan dengan
makeup... gufuh!?"
"Ayo pergi. Non-deri (orang yang tidak
peka) ini, ayo kita dorong ke air!"
Setelah pertukaran seperti itu, kami
memutuskan untuk naik tanpa ponco.
Hasilnya, saat turun dari perahu, kami
berempat basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan sampai ke
dalam sepatu, seolah baru saja diguyur hujan deras.
Tidak menyangka akan sebasah ini...
"...S, syukurlah. Makeup-ku tidak
luntur, kan?"
"Wajahmu tadi dijaga mati-matian, ya.
Tapi, aku juga suka Harukaze tanpa makeup."
"Iya iya."
"Kita terseret!?"
"Hachi! ...Dingin. Shigure, peluk
aku—"
"Hei. Jangan pakai ini?"
Sambil menahan dahi Junna yang mencoba
memelukku dengan tangan, aku menunjuk kotak oranye di pintu keluar.
Body dryer. Alat untuk mengeringkan tubuh
yang basah.
"300 yen sekali pakai, selama tiga menit.
Sepertinya bisa dipakai sampai empat orang sekaligus."
"...Kalau empat orang, bukankah agak
sempit?"
"Muat, kok! Sepertinya cuma ada satu
mesin, jadi ayo pakai."
"...Shigure
dingin. Dingin... he-cung!"
Aku memberikan tisu saku pada Junna,
memasukkan koin, lalu kami masuk ke dalam.
—Ya.
Sempit, ya...
"Junna. Jangan terlalu menempel. Nanti
bajunya tidak kering."
"...Karena sempit, mau bagaimana
lagi."
Junna berdalih sambil melingkarkan lengan
di punggungku dan memelukku dari depan.
Wajahnya terbenam di dadaku sehingga tidak
terlihat, tapi telinga putih yang mengintip dari balik rambut hitamnya yang
basah tampak memerah.
Tubuhku yang tadinya kedinginan menjadi panas
seketika.
Di sisi lain—
"...Hei. Anginnya tidak lemah? Aku rasa
ini tidak akan kering! Lihat ini... masih basah sekali."
"U, un..."
Yamada dan Youjiro sedang berbincang. Youjiro
menatap ke arah lain dengan gelisah sementara Yamada mengeluh sambil
mengibaskan ujung rok pendeknya.
Apakah dia malu?
"...H, Harukaze. Kamu kadang terlalu
tidak waspada, jadi kurasa kamu harus berhati-hati. Aku sih tidak masalah, tapi
di depan pria lain, itu... dowaaah!?"
"Kyaaa!?"
Sebagai bantuan, aku mendorong punggung
Youjiro dengan sekuat tenaga. Youjiro tersandung dan wajahnya mendarat tepat di
dada Yamada.
Yamada berteriak nyaring, merah padam dan
kebingungan.
"Y, Yo-kun!? A, apa yang kamu..."
"M, maaf! Punggungku didorong... aku
tidak sengaja..."
Yamada menarik diri, Youjiro tergagap memberi
alasan.
Lalu, tanpa menunggu lama—
"Kya!?"
"Chowaaaa!?"
Junna mendorong punggung Yamada. Kali ini
Yamada tersandung dan memeluk Youjiro.
"H, Haru-chan!?"
"Awawa! T, tidak... aku didorong dari
belakang... aku tidak sengaja..."
Teman masa kecil yang panik. Meskipun terbiasa
dengan kedekatan jarak, sentuhan mendadak seperti ini pastinya memalukan.
Akhirnya hembusan angin hangat berhenti, aku
dan Junna keluar dari body dryer.
—Namun, pasangan teman masa kecil itu masih
berpelukan di dalam.
"...................."
Mereka membeku tanpa suara.
Aku menyiapkan koin tambahan, lalu bertanya.
"Mau lanjut?"
"T, tidak mau!?"
"Mana mungkin mau!"
Seolah sihir waktu berhenti telah dicabut,
Youjiro dan Yamada melepaskan pelukan mereka. Youjiro menatapku dengan mata
yang ingin protes, tapi aku pura-pura tidak tahu.
Yamada berteriak seolah ingin menegaskan
bahwa wajahnya yang merah padam itu karena amarah.
"Lagi pula... bajunya sama sekali belum
kering!"
☂
Ada pepatah mengatakan hari musim gugur
berlalu secepat ember yang jatuh ke dalam sumur. Setelah menikmati semua wahana
yang ditargetkan dan saat pakaian basah kami kering, matahari telah terbenam,
dan sekelilingnya sudah gelap gulita.
Waktu yang sempurna untuk menikmati rumah
hantu.
"...Aku ingin pulang."
Di depan rumah sakit tua yang diterangi lampu
biru, tangan Youjiro yang melangkah mundur ditarik oleh,
"Iya iya. Setelah ini selesai dengan
selamat, ya?"
"Jangan bilang 'selamat' itu—!"
Yamada menariknya dan melangkah masuk ke
dalam. Anak itu, apakah dia juga benci rumah hantu selain wahana adrenalin?
"...Shigure."
Junna menggenggam tanganku dengan erat dan
berbisik.
"Takut."
—Dengan nada datar. Aku tahu betul itu
akting, tapi aku tidak melayangkan komplain dan hanya setuju, "Ya, seram
ya," lalu melangkah masuk ke dalam sambil memegang tiket yang disebut
sebagai kartu berobat.
Sebenarnya, rumah hantu yang memerlukan
tiket terpisah dan reservasi ini memiliki tingkat kengerian yang sangat tinggi
dan sungguhan menyeramkan.
Udara yang melayang di ruang tunggu yang
redup terasa dingin, dan aromanya persis seperti bau rumah sakit sungguhan.
"Rumah sakit tua ini... katanya dulu
sering dilakukan eksperimen manusia dan perdagangan organ, lho?"
Yamada yang duduk di kursi panjang
merendahkan suaranya dan berbisik.
"Katanya mereka mengambil organ dalam
dan bola mata dari tubuh pasien yang masih hidup... tanpa anestesi. Jahat
banget ya. Katanya, di rumah sakit ini, kebencian para korban itu masih
berputar-putar! Hihihi."
"Hii! B, berhenti..."
"...Takut."
"Sepertinya 'takut' yang sekarang itu
sungguhan ya? Aku juga takut... sama Yamada-san."
Saat sedang berbincang, di tengah peserta
lain, video pembuka diputar di layar depan, dan wahana pun dimulai.
"Takut."
"...Begitu ya? Hanya menyeramkan saja,
belum terlalu—"
"Hiiiii!?"
Youjiro berteriak. Sepertinya Yamada
menjahilinya,
"H, Harukaze! Kamu... tolong hentikan hal
seperti itu!"
"Fuhihi, maaf. Reaksimu lucu."
Dia berbisik dengan marah. Meski gelap,
sepertinya dia sudah berkaca-kaca.
Rumah hantu ini panjang dan merupakan yang
terpanjang di dunia, memakan waktu hampir satu jam untuk menyelesaikannya.
Katanya, ada beberapa titik untuk berhenti (menyerah) di tengah jalan.
"Maaf, aku mau berhenti—"
"Tidak akan kubiarkan. Bahkan jika
harus menyeretmu, aku akan tetap membawamu!"
Setelah menonton video, setiap kelompok
dipandu ke ruangan pribadi.
Video kedua yang ditayangkan di sana cukup
vulgar dan penuh darah,
"Takut."
Junna memelukku erat-erat. Dengan ekspresi datar dan suara datar.
"Takut takut takut takut..."
"Lucu sekali dia menutup telinganya
juga."
Aku ingin Junna mencontoh Youjiro.
Tak lama setelah video kedua berakhir, staf
memberikan satu penlight. Konsepnya adalah peserta sendiri yang harus menerangi
jalan.
Setelah berdiskusi, aku yang memegang
penlight, dan kami berjalan mengikuti jalur yang ditentukan dengan urutan: Aku,
Junna, Yamada, dan Youjiro.
Cahaya bulat kecil memotong kegelapan yang
dipenuhi kesunyian. Interior dan objek yang diterangi semuanya
realistis dan dibuat dengan detail yang rumit.
Aku menelan ludah.
"...Luar biasa. Benar-benar terasa
seperti sedang menjelajahi reruntuhan."
"Takut."
"............"
Junna terus menempel padaku dengan suara
datar, dan pasangan teman masa kecil yang berjalan di belakang berhenti
mengobrol. Youjiro mungkin hanya karena takut, tapi
mengapa Yamada diam saja, itu misteri dan menyeramkan.
"Uwaaa!?"
Mungkin bagian dari pertunjukan, Youjiro
terkejut oleh suara tiba-tiba dan berteriak. Yamada dengan senang hati menggoda reaksi berlebihan itu dan
bersenang-senang.
"...Eh, sebentar—"
Tiba-tiba dia mengeluarkan suara panik,
"T, terlalu dekat! Jangan memeluk
terlalu erat... mmm... Y, Yo-kun!"
Dia memprotes. Suara yang lebih banyak
mengandung rasa malu daripada amarah. Apakah perasaan senang sedikit tercampur
di sana, hanya perasaanku saja?
Aku tersenyum dan mempercepat langkah.
Ada berbagai trik yang disiapkan di wahana
ini, dan di beberapa tempat, aktor yang berpakaian seperti zombie akan
mengejutkan kami.
"Giyaaaaaaaa!"
Setiap kali Youjiro menjerit,
"Kyaa!? Di, di mana kau menyentuh...
Yo-ku... Kuzujiro!"
Yamada panik. Dia mengeluarkan suara manis,
lalu berteriak marah untuk menutupi rasa malunya. Karena Youjiro terlalu tidak
tenang, Yamada benar-benar kehilangan tempo.
"Takut."
"...Sejak tadi Junna hanya bilang itu
terus, ya?"
Dan dia terus menempel erat. Karena terlalu mesra, bahkan ekspresi hantu yang muncul di tengah jalan pun
terasa melunak.
—Hampir satu jam.
Aku dan Junna, Youjiro dan Yamada, terus
menempel dari awal hingga akhir.
Begitu keluar dari rumah sakit, Youjiro lemas
dan jatuh terduduk.
"Fuh... s, seram sekali. Terlalu seram
sampai aku tidak ingat apa-apa—Harukaze?"
Setelah terlambat, dia menyadari keanehan
teman masa kecilnya. Yamada menunduk, menggigit bibir, dan bahunya bergetar
hebat. Telinganya merah padam.
"Kenapa? Hahaha, ternyata kamu takut juga
ya! Setelah mengejek orang lain, ternyata
dalam hati kamu ketakutan kan!? Kamu terus memelukku dari tadi."
"............ K, Kuzujiroooooo!"
Yamada mengangkat wajah yang tadi
ditundukkan dan mengangkat tangan kanannya.
Youjiro bersiap.
Tapi—
"~~~~~! Bodoh! Tidak tahu!"
Setelah Yamada menggerakkan mulutnya
dengan tidak jelas dan meronta-ronta, dia menurunkan tangannya, memunggungi
Youjiro, dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang berat.
Youjiro yang tertinggal tampak tercengang.
"Apa aku dibenci... apa aku melakukan
kesalahan?"
"Tidak."
Sambil membeli foto kenangan yang
sepertinya diambil secara diam-diam di ruangan pribadi, aku tersenyum.
"Justru kebalikannya, bukan?"
☂
Saat naik bus untuk pulang, kami sudah
benar-benar kelelahan. Di dekat taman hiburan ada pemandian air
panas, dan Yamada ingin sekali masuk ke sana, tapi,
"Mandi bersama Harukaze-san itu
berbahaya, jadi aku tidak mau."
"Aku tidak akan melakukan apa-apa!? Cuma
melihat, tidak akan menyentuh sama sekali! Mungkin... hehe..."
"Barusan kamu bilang 'mungkin' dengan
suara kecil, kan? Lagipula, wajah mesum itu... aku sama sekali
tidak mau."
Junna menolak dengan tegas. Karena waktu juga
sudah tidak memungkinkan, kami memutuskan untuk mengantarnya saja.
"............"
Junna tertidur lelap di sebelahku. Pasti
dia sangat lelah, begitu bus berangkat, dia sudah pergi ke dunia mimpi.
Aku pun menguap.
Besok hari Senin. Karena hari libur, sekolah
libur.
Meski begitu, persiapan festival budaya tetap
ada, dan karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain mendengarkan
musik selama satu setengah jam sampai tiba di Shinjuku, aku memutuskan untuk
tidur. Aku melepaskan earphone dengan satu tangan.
Lagu yang diputar—'Unmei no Hito' milik Spitz
berhenti, dan suara dunia pun kembali. Suara bus berjalan dan suara pendingin
ruangan.
Suara di belakang tidak terdengar. Apakah
mereka sudah tidur?
Aku menggenggam kembali tangan yang tertaut,
lalu menutup kelopak mataku. Aroma manis semakin kuat, dan kontur kenyataan
mulai memudar. Kesadaran mencair di tepi pantai mimpi. Tepat sebelum itu,
"...Haru-chan."
Suara Youjiro yang terdengar sangat kaku dan
serius terdengar.
"Aku—"
☂
Saat turun dari bus, Youjiro dan Yamada
bergandengan tangan.
—Dengan tautan jari kekasih.
"Kami berdua, memutuskan untuk
berpacaran."
"............Hah?"
"............Eh?"
Perkembangannya terlalu cepat, pemahamanku
tidak bisa mengejar.
Apakah aku masih bermimpi?
Di depan kami yang kebingungan, Yamada, sambil
malu-malu,
"Wah. Tadi di bus, ceritanya jadi terbuka
semua... tentang bagaimana Yo-kun dari dulu selalu, selalu menyukaiku! Dan
karena dia tidak ingin berpisah jika nantinya putus, dia tidak bisa menjadi
kekasih! Lalu bagaimana dia sengaja ingin dibenci supaya aku yang menyukainya
tidak menyatakan cinta... Eh, apa itu? Lucu banget kan!? Imut banget
kan!?"
Dia menceritakan dengan wajah yang luluh,
terlihat sangat bucin.
Youjiro tampak geli, "H,
Haru-chan..."
Tapi, tangan mereka tetap tertaut. Sambil
menjalin jari-jari mereka dan menggesekkannya dengan manis, Youjiro berkata.
"Aku hanya ingin dia tahu... bagaimana
perasaanku selama ini. Haru-chan—Harukaze, apa yang kupikirkan tentangmu. Aku
ingin menyampaikannya dengan jujur. Setelah itu, akhirnya garis awal dimulai.
Karena aku dibenci Harukaze, aku mungkin akan ditolak dengan kejam, tapi tidak
apa-apa... aku berpikir akan berusaha agar dia menoleh padaku. Tapi—"
Dia tersenyum pahit pada Yamada yang tidak
puas hanya dengan menggenggam tangan, mulai memeluk lengannya, dan bermanja.
"Tiba-tiba dipeluk seperti ini... 'Aku juga, sudah lama menyukaimu'. Padahal aku suka, tapi—"
"Karena Yo-kun itu sampah! Tiba-tiba jadi
pria kejam dan mulai tertawa dengan wanita lain, aku syok dan tidak bisa
memaafkannya! Di SMA, aku berusaha menjadi cantik untuk membalasnya. Karena aku
berpikir, Yo-kun jadi pria sampah mungkin... karena aku tidak menarik. Jika aku
belajar makeup dan menjadi modis, pasti dia akan melihatku lagi. Di lubuk
hatiku yang terdalam..."
"Salah, Haru-chan."
Youjiro mengelus kepala Yamada yang mulai
berkaca-kaca dengan lembut.
"Bukan karena tidak menarik. Kamu terlalu
menarik... bahkan sebelum berubah pun sudah sangat menarik. Bagiku,
Haru-chan, dulu maupun sekarang, tetap menjadi number one dan only one! Di mataku, dari awal, hanya ada Haru-chan."
"...! Yo-kun..."
"Haru-chan..."
Keduanya berpelukan dari depan.
Apa yang sedang kami lihat ini...
Omong-omong, tempat ini adalah pintu
keluar selatan stasiun Shinjuku yang konon paling ramai digunakan di Jepang.
Tatapan orang-orang sangat menusuk.
"—Jadi begitulah."
Melepaskan pelukan yang sangat panjang,
Youjiro menatap kami. Penumpang lain sudah lama pergi, dan bus pun
sudah melaju pergi.
"Maaf, kalian berdua! Malam ini,
Haru-chan—Harukaze dan aku akan makan berdua saja. Karena ini hari jadi kami
berpacaran."
"Aku juga harus membeli buket
bunga!"
"Cincin
juga ya."
"...!?
C, cincin... ampun deh, Yo-kun! Aku cinta padamu!"
Pasangan
ken-cup (sering bertengkar) yang menjadi pasangan ba-cup (bucin) itu saling
merangkul, bermesraan, dan menghilang ke dalam kota di malam hari.
Kami
yang tertinggal saling bertatapan,
"...Seperti
roller coaster ya."
"Begitulah..."
Kami
terdiam tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.
Hei,
Youjiro—aku memanggilnya dalam hati.
Jangan
bersikap seperti orang yang bilang 'mari berlari bersama' dalam lomba lari
maraton, tapi malah berlari sendiri untuk sampai ke garis finis.


Post a Comment