Interlude
Misstopia
JUN:
Selamat atas masuknya kalian ke dalam kelompok orang yang menikmati hidup
(ria-juu)!
JUN: Apakah kalian sedang bersenang-senang
malam ini? wkwkwk
Pesan yang kukirimkan segera setelah
sampai di rumah untuk Harukaze-san bahkan belum dibaca meskipun kini sudah
lewat tengah malam.
Jangan-jangan, mereka benar-benar...?
"...!? Tidak, tidak boleh."
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat,
berusaha menghapus bayangan yang muncul di benakku.
Wajahku terasa panas mungkin karena aku baru
saja selesai mandi. Aku tadi terlalu lama berendam sambil
menyenandungkan melodi yang terus bermunculan.
(Aku ingin membuat lagu... tapi)
Tubuhku terasa sangat lelah. Lebih baik aku tidur dengan tenang.
Aku memutuskan untuk menutup aplikasi
LINE, tapi mataku tiba-tiba tertuju pada satu nama di daftar obrolan, dan
jariku terhenti.
YOHILA (1)
Grup obrolan yang hanya berisi diriku
sendiri. Kotak bunga hydrangea yang tersisa satu kelopak setelah tiga anggota
lainnya keluar satu per satu.
"............"
Ibu jariku yang tadinya diam, bergerak di
luar kehendakku dan mengetuk layar.
Seketika, pesan yang muncul adalah—
『JUN
mengundang Natsuki, Minami, dan Shiori ke grup. Mohon tunggu sebentar sampai
teman yang diundang bergabung.』
Sebuah pesan sistem yang dingin. Aku
tertawa getir.
—Teman? Bukan. Mungkin kita bukan teman lagi.
—Sebentar?
Sepertinya itu salah tulis, yang benar adalah selamanya.
Tanggal
undangan itu dikirimkan adalah lebih dari setahun yang lalu.
Tidak
ada yang menanggapinya. Apakah mereka mengabaikannya, atau menolaknya? Aku
bahkan tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal: riwayat pesan ini tidak
akan bertambah, dan waktu yang telah berhenti ini tidak akan pernah bergerak
kembali.
Kelopak
bunga yang sudah berguguran tidak akan bisa kembali. Meskipun bunga baru mekar, itu tidak akan pernah sama. Aku tahu itu, aku
sudah menyerah. Aku seharusnya sudah menyerah—tapi.
"............"
Tanpa sadar, jariku kembali bergerak
sendiri. Seolah hatiku ingin berteriak, merangkai
kata-kata tanpa suara.
『Aku ingin kita melakukannya bersama-sama lagi.』
"...!"
Aku menghapusnya. Meskipun kukirim, pesan itu
tidak akan sampai. Meskipun kuharapkan, itu tidak akan terwujud. Aku seharusnya
mengerti, tapi berulang kali, aku terus mengulangi tindakan yang seperti
menyakiti diri sendiri ini.
Aku
benar-benar bodoh.
"Shigure."
Aku
memanggil namanya seolah sedang memohon. Akankah hari di
mana aku tidak bisa lagi melakukan ini akan tiba? Saat di mana suara ini,
kata-kata ini, dan musik ini tidak akan sampai lagi padanya? Aku...
—Aku takut kehilangan.


Post a Comment