3. Tuhan, Kami Telah Menyadari-Nya
"Yo-kun, lihat lihat! Cocok
nggak?"
"Un.
Cocok banget, Haru-chan! Apalagi cat yang mirip cipratan darah itu. Bando
tanduk dan aksesori bola mata di pita itu juga pas banget!"
"...Ini,
memuji ya?"
"Memuji,
memuji. Mana mungkin aku menghina? Kan ke kekasih
tercinta."
"...!"
"Haru-chan..."
Yamada, yang sudah mengenakan kostum untuk 『Meido Kissa (Kafe Pelayan Akhirat)』, bertatapan mesra dengan Youjiro sambil
berpegangan tangan. Di sudut ruang kelas yang didekorasi dengan nuansa seram,
suasana manis justru menguar.
"Benar-benar tidak ada habisnya
bermesraan, ya, mereka itu."
Sudah sekitar satu minggu sejak mereka mulai
berpacaran. Aku mengalihkan pandangan dari pemandangan dua sahabat masa kecil
yang tengah dimabuk asmara yang sudah terbiasa kulihat ini, lalu kembali
mengerjakan pembuatan menu.
Jus Darah Segar 200 yen, Kopi Keputusasaan 200
yen—
"Benar sekali."
Junna, yang bersandar di punggungku, berbisik
di telingaku.
"......Memangnya tidak malu?"
"Aku tidak mau dengar itu dari
Junna-chan!"
Yamada yang mendengar perkataan Junna
langsung berteriak. Pendengarannya tajam seperti pelayan neraka yang asli.
Baju pelayan dengan desain standar
hitam-putih itu memiliki cipratan tinta merah gelap yang meniru darah di bagian
celemeknya. Roknya pendek, dan kaus kaki setinggi lutut (knee socks) berwarna
hitam membuat absolute territory (bagian paha yang terlihat) milik Yamada yang
putih bersih itu terlihat sangat memikat.
Melihat itu, aku secara spontan berkhayal,
(Kalau Junna yang memakainya, pasti akan
sangat cocok...)
『Selamat
datang, Tuan.』
Dengan ekspresi datar, tapi entah kenapa
terlihat malu-malu. Junna dengan baju pelayan yang menatap ke arahku dari
bawah—
Un. Lucu sekali. Aku ingin mempekerjakannya di
sisiku selamanya.
"Shigure... bisakah kau berhenti menatap
kekasihku dengan pandangan mesum?"
"Aku tidak melihat apa-apa. Lagipula,
Junna, berhenti mencekik leherku."
Dari belakang, dia sedang mencekik arteri
karotidku.
"Haha! Bercanda, bercanda. Sama
seperti aku yang hanya punya mata untuk Haru-chan, Shigure juga tidak melihat
gadis lain selain Amamori-chan, kan?"
"Tidak, aku melihatnya kok. Guru,
misalnya. Aku selalu curiga kalau dia selingkuh."
"Bukan begitu... selingkuh atau apa pun,
kita kan belum—sakit, sakit!"
"...Bisakah kau menyangkal bagian
'melihat gadis lain'?"
"Standar ketegasan untuk komplainmu ini
ketat sekali ya."
Melihat interaksi kami, Youjiro tertawa.
"Hahaha! Justru kalian berdua yang
terus-terusan bermesraan. Pantas saja kalian rival kami."
"Rival...?"
Pasangan paling mesra di sekolah.
Itulah penilaian para siswa terhadap Youjiro
dan Yamada, yang sejak lama terkenal sebagai 'pasangan masa kecil yang selalu
bertengkar namun akrab'. Sepertinya kami dianggap sebagai pesaing mereka.
Tapi—
"Yo-kun."
Yamada memeluk punggung Youjiro yang sedang
berbincang.
"Sekarang kamu ada waktu, kan? Kalau begitu, temani aku ya... aku ingin latihan melayani pelanggan. Di
tempat yang sepi, pelan-pelan saja. Tolong ya, Tuan-ku."
Sambil bermanja-manja, dia membisikkannya
dengan suara yang manis.
Wajah Youjiro langsung meleleh tidak berdaya.
"H, Haru-chan... tidak, izinkan aku
memanggilmu 'Harukaze'. Baiklah, Harukaze—akan kuajarkan sesuai keinginanmu!
Hubungan antara Tuan dan pelayan, ya."
"Kyaaa!"
"............"
Youjiro menarik tangan Yamada dengan kasar dan
keluar dari kelas. Aku melepas kepergian pasangan paling mesra di sekolah yang
sedang berteriak heboh itu dengan ekspresi datar seperti Junna.
"Tidak mungkin aku mau bersaing
dengan mereka."
"Si gila itu jadi gila karena mabuk cinta
ya."
"Si gila? Maksudmu Yamada-san?"
"...Un. Dia sangat kegirangan. Sejak
mulai berpacaran dengan Kuzujiro-san—si sampah itu, sepertinya dia tidak lagi
mendengarkan lagu YOHILA. Katanya dia hanya mendengarkan lagu cinta
yang manis dan berkilauan."
"Begitu ya."
"Un. Kalau musik yang kusukai, misalnya
Spitz..."
"—'Unmei no Hito'?"
"Atau 'Haruka'. Padahal bagusnya
mendengarkan yang bernuansa musim gugur seperti 'Kaede'."
"Itu kan lagu perpisahan... kenapa kamu
segelisah itu? Biarkan saja."
Aku sendiri kemarin di dalam bus saat pulang
juga mendengarkannya.
"Kalau dengan berpacaran dengan Youjiro,
kegilaan Yamada-san terhadap YOHILA jadi mereda, hasilnya ya bagus saja."
Aku teringat tekad yang diucapkan Youjiro
sebelum kencan ganda.
『Aku pasti akan membuatnya jatuh cinta lagi.
Itu dia—』
『Sampai-sampai, baik kamu, Amamori-chan, JUN,
maupun musik YOHILA... sampai-sampai hal selain diriku menjadi tidak penting
lagi.』
Ternyata, benar-benar terjadi sesuai
perkataannya.
Setidaknya untuk saat ini, sepertinya tidak
perlu khawatir Yamada akan melakukan hal aneh terkait JUN atau YOHILA.
"...Yah, mungkin begitu."
Junna mengangguk dan melepaskan tubuhnya
yang tadi menempel.
"Tapi..."
Wajah yang kulihat saat dia berbalik
memang tanpa ekspresi, tapi dahinya berkerut. Junna cemberut dan mengeluh.
"Melihat ini pun, aku kesal."
☂
Setelah persiapan festival budaya selesai,
aku pulang bersama Junna.
Cuacanya hujan—di bawah payung transparan,
kami berjalan menuju stasiun sambil bersandar secara alami. Kami berjalan
perlahan, seolah ingin menikmati setiap langkahnya.
Karena aku dan Junna menggunakan jalur
kereta yang berbeda, kami akan berpisah di stasiun.
Karena itulah, aku ingin mengulur waktu.
"Shigure."
Junna memanggil namaku dengan suara yang
hampir tertelan oleh suara hujan yang menghantam payung. Di bawah payung ini,
di jarak sedekat ini, aku sangat menyukai suara gadis itu.
"—Hm?"
"Festival
budaya..."
Lampu
hijau lalu lintas berkedip-kedip.
Di
tengah orang-orang yang berlarian dengan panik sambil menginjak genangan air,
kami berhenti dan menunggu seolah sedang berdiri di tepi pantai.
"...................."
Junna tidak melanjutkan kata-katanya. Setelah
jeda yang sangat lama, hampir seperti lampu lalu lintas yang berubah merah lalu
kembali hijau, dia berkata,
"Aku memutuskan untuk tampil."
"..."
"Sebagai JUN dari YOHILA, di atas
panggung."
—Tepat.
Suaranya bukan Junna, melainkan JUN.
Meskipun rapuh, suaranya kuat, dan meskipun
kuat, suaranya halus. Emosi yang berat dan bergejolak merembes keluar.
Rasanya seolah semua suara di persimpangan
yang ramai kendaraan itu hilang, kecuali suaranya. Di tengah keheningan, aku
bertanya.
"...Kamu akan melakukan konser?"
"Un. Di aula olahraga."
"Siapa anggotanya? Pendukung?"
"Tidak. Aku akan tampil sendirian.
Instrumen selain gitar tidak dimainkan langsung, tapi menggunakan backing
track—sumber suara yang sudah direkam."
"Begitu ya. Soal itu, kepada pihak
agensi atau label..."
"Sudah kusampaikan. Malahan, sudah diputuskan dalam rapat."
Lampunya sudah hijau sejak tadi.
Tapi, kami tidak mulai berjalan. Kami menghindari kerumunan orang, menepi ke sisi
jalan, dan terus berbincang sambil berdiri diam.
"Foto artis baru JUN yang menunjukkan
wajah dan video musik 'Yuu & Ai' akan dirilis pada malam hari setelah
konser festival budaya berakhir. Alur setelahnya pun sudah ditentukan."
"...Serius?"
Berbagai emosi datang dan pergi di hatiku.
Terkejut, senang, harapan, cemas, haru,
kesepian... Saat aku menarik napas dalam-dalam, aroma hujan yang bercampur
dengan aroma manis tubuhnya memenuhi dadaku.
Akhirnya, yang keluar dari mulutku adalah—
"Bukankah kau bilang kau tidak akan
melakukan konser?"
Sebuah pertanyaan atas jawaban yang pernah
diucapkannya dulu.
Setelah melakukan karaoke di kencan pertama
kami, saat aku merasa suara Junna (JUN) seharusnya didengarkan oleh lebih
banyak orang dan bertanya 'Apa kau tidak berniat melakukan konser?', Junna
menjawab dengan cara ini.
—Tidak akan melakukannya.
Dengan suara dan ekspresi nol derajat.
Sambil menyelimuti dirinya dengan penolakan
keras dan emosi yang gelap, seperti hawa dingin.
Waktu itu aku belum bisa melangkah lebih
dalam, dan dia tidak membiarkanku masuk.
Tapi, sekarang.
"............"
Junna memejamkan kelopak matanya. Dia menarik
napas,
"Aku, tahu..."
Saat dia membuka kelopaknya, dia menatap
mataku dan bercerita. Alasan mengapa JUN dan YOHILA tidak pernah melakukan
konser selama ini.
"──────......"
Di tengah hujan yang turun deras, hanya
terdengar oleh telingaku saja.
☂
Langit biru tertutup, dan payung warna-warni
melayang di atasnya.
Merah, kuning, merah muda, putih, biru, ungu.
Itu adalah dekorasi bernama Umbrella Sky, digantung dengan tali yang membentang
di atas halaman sekolah.
Di dalam sekolah juga banyak dekorasi mewah
lainnya, mengubah sekolah yang biasa kami kunjungi menjadi pemandangan yang
terasa seperti dunia lain.
Hari festival budaya.
Banyak orang mengunjungi area sekolah yang
dibuka untuk umum, dan itu memperkuat kesan bahwa ini benar-benar dunia lain.
Karena tempatnya sudah familiar, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai dunia
paralel. Sensasi yang sangat aneh.
Dengan latar belakang kebisingan dan tawa,
sebuah acara radio langsung yang dibawakan oleh siswa sedang disiarkan. Lagu
yang diputar atas permintaan pendengar adalah 'Hikoutei' milik King Gnu—aku
suka lagu 'Ame Sansan'..., pikirku sambil mencoba memotret payung di atas
kepala,
"Shigure."
Suara
yang sudah kukenal.
Aku
menurunkan ponsel yang tadi kuangkat dan menekan tombol rana kamera.
Foto
seorang gadis yang mengenakan kaus biru-ungu berlengan pendek dan rok seragam
terpotret. Itu Junna.
"Maaf,
terlambat. Orangnya ramai sekali."
Sambil
berkata begitu, dia berdiri di sampingku, menempel erat,
"Kalau mau foto, ayo bersama-sama...
ya?"
Dia membentuk bentuk misterius dengan jarinya.
Menjulurkan ibu jari dan menekuk jari telunjuknya.
"...Ah."
Aku segera mengerti, membuat bentuk simetris
dengan tanganku yang bebas, lalu menyatukannya dengan jari Junna.
Finger heart.
Dengan latar belakang Umbrella Sky, kami
bisa mengambil foto seperti pasangan yang mesra.
"...Ramai? Wahana roller coaster kayu
kelas 4."
"Un, antreannya panjang sekali dan
sangat populer. Semuanya, apa mereka ingin mati ya... 'I don't
wanna die'!"
"Itu lagu Ging Nang BOYZ."
"Bagaimana dengan Meido Kissa kelas
kalian?"
"Ramai sekali. Mungkin berkat liputanmu,
reputasinya katanya suasananya terlalu seram."
"Hmmm... aku penasaran. Aku kan suka
horor."
"...Pengaturan bahwa kau takut horor ke
mana perginya?"
"Bohong. Aku, takut horor, benci."
"Dasar, tetap saja meskipun tanpa
ekspresi kamu itu orang yang mudah dimengerti ya."
"—Shigure."
Junna menatapku tajam.
Pada kaus biru-ungu yang kupakai, yang sama
dengan Junna.
"Kau benar-benar menggantinya
untukku..."
"Tentu saja. Konser YOHILA sudah menanti.
Daripada kaus kelas, lebih baik kaus band, kan!"
Kaus
dengan logo YOHILA tercetak di bagian dada itu adalah official merchandise
resmi YOHILA. Sebenarnya ada tiga warna: putih, hitam, dan biru-ungu, namun,
"Lagipula,
baju kita kembaran..."
Aku
berpikir Junna mungkin akan memilih warna biru-ungu, jadi aku memutuskan untuk
menyamakan pilihanku dengannya.
Junna menunduk dan bergumam.
"...Seperti pasangan norak saja,
memalukan."
"Apa-apaan kau ini. Aku tidak menyangka
kata-kata itu keluar dari mulut orang yang tadi diam-diam memintaku melakukan
pose memalukan. Pilih salah satu, mau pamer atau mau malu? Dasar gadis
kontradiktif."
☂
"Junna, apa ada tempat lain selain kelas
kita yang ingin kau kunjungi? Atau makanan yang ingin kau makan?"
"UKS."
"Jangan mencoba mengungsi secara
tiba-tiba."
Suasana lorong sekolah yang ramai oleh
banyaknya orang. Junna menunduk dan berkata dengan suara
yang hampir menghilang.
"...Orang-orang terus melihat ke arah
kita. Bahkan orang-orang dari luar sekolah..."
"Ya, tentu saja."
Aku yang sedang membentangkan brosur
menghela napas.
"Kalau ada sepasang pria dan wanita
berjalan-jalan sambil menempel erat dengan baju kembaran, orang pasti akan
melihat, kan?"
Aku melirik Junna yang berpegangan erat
pada lenganku.
Dia tampak seperti orang yang tidak bisa
berenang sedang berpegangan pada ban pelampung. Ada keputusasaan di sana, seolah dia akan tenggelam jika melepaskannya.
Sudah cukup lama sejak Junna berhenti
melakukan 'sekolah di UKS', tapi sisi dirinya yang satu ini masih sama sejak
pertama kali dia masuk sekolah secara normal. Aku jadi khawatir.
"Apa kamu akan baik-baik saja dengan
keadaan seperti ini... kupikir kamu akan lebih banyak diperhatikan di atas
panggung nanti?"
"...Kalau di panggung, aku baik-baik
saja. Karena saklarku akan ON."
"Begitukah?"
"Begitulah. Aku adalah tipe yang bisa
melakukannya jika aku sudah memutuskan untuk 'melakukannya'."
"Saat turnamen olahraga pun, kamu
terlihat sangat percaya diri."
"Itu karena aku ingin menunjukkan sisi
baikku pada Shigure—"
"—Oh. Amamori-san!"
Seseorang menyapa Junna.
"...!?"
Seorang siswi dengan rambut dan rok very
short.
Wajahnya maskulin dan teratur, jika tidak
memakai rok, aku mungkin akan salah mengiranya sebagai laki-laki. Junna
melemaskan bahunya, "Ah..."
"Sena-san."
"...Kenal?"
"Un. Teman sekelas... dia yang aktif saat
main voli."
—Ah, anak itu. Attacker bertubuh tinggi yang
menjadi rekan setim Junna saat turnamen olahraga.
Siswi yang mendekati kami itu tingginya,
memang benar, hampir sama denganku. Sepertinya hampir 170 cm.
"Maaf ya, sedang kencan dengan
pacar."
"B, bukan pacar... belum."
"Un, aku tahu. Cuma ingin melihat
reaksimu saja."
Sena tersenyum tipis pada Junna yang
meninggikan suaranya, lalu melirik ke arahku. Namun, dia tidak mengajakku
bicara dan kembali menatap Junna.
"—Aku menantikan konsermu," katanya
singkat, lalu pergi dengan gaya yang cool. Saat pergi,
"Anak ini juga—"
"T, tidak melakukan itu!"
Aku tidak sadar karena dia sedang bersembunyi,
tapi ada seorang gadis di belakang Sena. Tubuhnya mungil dengan gaya rambut
dango dan tatapan mata yang terlihat keras kepala.
"Yah, aku akan pergi menontonnya kok...
jadi, berusaha keraslah!"
"Ah, ya... terima kasih.
Kameyama-san."
"Dia juga kenalanmu?"
"Kenalan dari kenalan. Teman Sena-san... dia orang yang jadi setter di tim
lawan saat turnamen olahraga."
"Ah, si anak klub voli."
Entah ini promosi atau apa, di punggung
Kameyama yang menjauh terdapat papan nama bertuliskan 'Crepe Klub Voli' dengan
huruf warna-warni. Sedikit berima.
"Mau beli? Crepe."
"Un. Aku suka crepe."
Sambil berbincang, kami melanjutkan
langkah. Saat aku memeriksa lokasi di brosur,
"—Ah. Kalau kegiatan klub, aku juga ingin
ke klub atletik. Tempat Shigure."
Junna berkata seolah teringat sesuatu.
Aku mengerutkan kening, "Eh..."
"Jangan lakukan itu, deh."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya..."
Aku menelan mentah-mentah kejujuranku bahwa
itu akan terlihat seperti sedang pamer.
"...Klubku tidak menjual makanan yang kau
sukai. Seperti okonomiyaki pakai protein, atau takoyaki Rusia yang satu dari
enam buahnya berisi saus pedas mematikan (death sauce)."
"Bagus dong, protein. Aku sebenarnya
cukup rajin berlatih otot, lho? Karena pelatih bilang otot itu penting bagi
vokalis... mau lihat? Perutku."
"J, jangan mencoba menunjukkannya di
tempat seperti ini!"
Aku buru-buru menghentikan Junna yang hendak
menyingsingkan ujung kausnya. Itu justru malah akan membuat orang lain
melihatnya, tahu!?
"...Dasar. Kamu ini sebenarnya peduli
pandangan orang atau tidak, pilih salah satu—"
"Kurimoto!"
Kali ini seseorang menyapaku.
Seperti pepatah, panjang umur si orang yang
dibicarakan, dia adalah teman sekelas dari klub atletik. Kulitnya kecokelatan
akibat terbakar sinar matahari. Dia menunjukkan deretan gigi putihnya lalu
berlari mendekat.
"Halo."
"...Oh."
"Halo juga, Amamori-san! Halo!"
"...Shigure."
Junna menatapku, bukan pada pria yang menyapa,
dan bertanya.
"Siapa?"
"Aku, Nakano!"
Nakano menjawab sambil menunjuk wajahnya
sendiri.
Di belakangnya ada beberapa pria yang
menemaninya. Bukan anggota klub atletik. Mungkin teman sekelas. Semuanya
menatap Junna dengan mata yang sangat tertarik.
"Aku sama Kurimoto satu klub atletik.
Kami sering pergi karaoke atau apa lah!"
—Tidak pernah. Aku memang pernah diajak,
tapi tidak pernah pergi.
"Amamori-san main musik kan? Pasti jago
karaoke, ya?"
"............"
"Aku
ingin dengar Amamori-san bernyanyi. Musik apa yang
kamu suka?"
"............"
"Lagipula, kamu benar-benar imut,
ya!"
Junna berekspresi datar dan tidak
bereaksi. Dia bahkan tidak melihat ke arah Nakano, tapi Nakano tidak peduli dan
terus bicara nyerocos. Mentalnya kuat sekali.
"Dilihat dari dekat pun tetap imut
sekali! Rasanya sayang sekali kalau buat Kurimoto..."
"Nakano."
Junna membuka mulut untuk pertama kalinya dan
menatap Nakano lekat-lekat. Lalu dengan wajah serius, dia mengangkat jari
tengahnya,
"Kill you."
"Why!?"
"Sudah, sudah..."
Aku menurunkan jari tengah Junna dan
memperingatkannya. Omong-omong, 'Nakano kill you' adalah judul lagu dari Ling Tosite
Sigure—tapi.
"Jangan bilang 'kill you' (aku
membunuhmu) pada orang yang tidak mengerti referensi musik."
"...Pui."
Junna membuang muka dan berjalan pergi
sendirian.
"Tidak lulus."
"Ah, tunggu! Maaf... anak itu, rasa
canggung pada orang asingnya parah sekali."
"O, oh..."
Nakano tampak sedikit tertekan, tapi,
"Amamori-san!"
Saat dia memanggil punggung Junna,
"Hari ini ada konser kan!? Kami semua akan menonton, jadi berjuanglah!"
Dia berteriak dengan tangan membentuk corong
di mulutnya.
Teman-teman pria yang bersamanya pun berseru,
"Kami mendukungmu!" atau "Tidak sabar menontonnya!" dengan
kata-kata yang hangat.
Langkah kaki Junna yang menjauh terhenti. Dia
berbalik perlahan,
"......................s."
Dia menggerakkan mulutnya. Suara yang keluar
terlalu pelan hingga larut dalam kebisingan festival budaya, tapi meskipun
tidak terdengar, aku tahu apa yang dia katakan.
Aku tersenyum kecut dan menyampaikan
kata-katanya.
"—Dia bilang 'terima kasih'."
☂
Setelah itu, aku berkeliling ke berbagai
tempat bersama Junna.
"Selamat datang, dan turut berduka
cita."
"...Apa-apaan salam itu."
"Karena konsepnya toko neraka.
Omong-omong, 'I' pada 'Irasshaimase' (selamat datang) menggunakan kanji 'I'
untuk meninggal, dan saat keluar, katanya akan disapa dengan 'Mata Isshaimase'
(datanglah meninggal lagi)."
"Seram."
"Fuhihi. Kira-kira kalian berdua bisa
pulang dengan selamat atau tidak ya?"
"Takut..."
(Kalau dugaanku tidak salah, dia sudah
pernah benar-benar mencoba mengirimku ke sana sekali)
Kami dilayani oleh pelayan Yamada di 『Meido Kissa
(Kafe Pelayan Akhirat)』,
"Yo, Shigure. Amamori-chan. Kembaran
baju, ya, pantas saja! Aku juga nanti akan berkeliling dengan Haru-chan setelah
shift-nya selesai, kalau boleh mau aku beri tahu beberapa 'tempat yang
direkomendasikan untuk pasangan'?"
"Oh. Membantu sekali."
"Terima kasih, Kuzumi-san."
"Kalian tidak menyangkal kalau kalian
pasangan? Dan, hmm... senang sih kalian berubah memanggilku dari nama panggilan
jadi nama keluarga, tapi, Kuzujiro dan Kuzumi, tidak banyak bedanya ya."
Mendapatkan informasi dari Youjiro yang sedang
berpatroli di sekolah sebagai komite pelaksana,
"Kompatibilitas aku dan Shigure, 92
persen?"
"Tinggi, kan."
"Tidak tinggi! 100 persen,
bukannya... itu tidak mungkin. Peramal ini palsu, Shigure. Dia asal bicara."
"...Hentikan. Maaf, dia memang
merepotkan."
"—Merepotkan? Poin Utsu-P bertambah
1.000.000."
"Satu juta ya. Inflasinya parah
sekali."
Dan mengalami perdebatan di 'Ramalan
Kecocokan' yang direkomendasikan...
Kami sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang
terasa buatan sendiri yang berbeda dari festival musim panas atau taman
hiburan, lalu memutuskan untuk mengunjungi UKS sambil membawa makanan yang
dibeli di stan.
Jika ada pengguna, kami hanya akan menyapa
lalu pergi, dan makan di tempat lain—begitu rencana kami.
Namun, Akagi tidak ada di sana.
Sebagai gantinya ada guru wanita lain, katanya
Akagi sedang 'absen'.
"Belakangan ini dia terlihat sibuk
sekali..."
Mencari tempat sepi, akhirnya kami sampai di
tangga darurat sayap barat. Sambil memakan okonomiyaki berprotein, Junna
bergumam.
"Guru seharusnya tidak terlibat terlalu
dalam dengan urusan debut major itu... tapi mungkinkah dia bekerja keras di
balik layar untuk berbagai hal?"
"Entahlah. Kalau terlalu banyak bicara,
nanti dia jadi merasa tidak enak, jadi ada kemungkinan dia sengaja diam. Karena
itu guru."
"Un...... eh, Shigure?"
Junna melirikku tajam.
"Kenapa cara bicaramu seperti 'Aku tahu
segalanya'? Menyebalkan."
"Sepertinya dulu aku pernah disindir
hal yang sama... Junna ini cemburunya terlalu berlebihan kalau soal guru,
ya."
"...Soalnya."
Sambil menggigit sumpit kayu, Junna
terdiam dengan cemberut.
Aku mengangguk sambil mengunyah takoyaki,
"Aku mengerti."
"Karena dia menarik, ya.
Eimee-san—aw!"
Bagian belakang kepalaku dipukul keras.
"Gekoh-gekoh! P... pedas!"
Sebagai tambahan, takoyaki yang kumakan berisi
saus pedas mematikan.
☂
Konser YOHILA adalah program terakhir yang
diadakan di panggung aula olahraga—jika di festival musik, ini adalah
headliner.
"Aku sangat menantikan konsermu!"
"Un."
"Aku akan mendukungmu sekuat tenaga! Aku
akan menari sambil menggoyangkan penlight biru-ungu dan headbanging!"
"...Itu memalukan, jadi tolong tahan
diri."
Setelah makan siang, aku berpisah dengan Junna
yang harus bersiap-siap untuk konser. Setelah menyelesaikan shift sore, aku
langsung menuju aula olahraga. Masih ada waktu sampai konser dimulai, tapi aku
tidak bisa diam saja.
Aku ingin segera melihat dan merasakan
panggung tempat Junna—JUN dari YOHILA akan berdiri. Aku ingin menunggu momen
itu sambil merasa bersemangat.
Tampaknya, dia pun merasakan hal yang sama.
"Ah, Kurimoto-kun. Kerja bagus."
Di baris pertama kursi lipat yang disusun di
aula olahraga, tepat di tengah-tengah. Di kursi tamu istimewa yang disiapkan
Junna, sudah ada tamu sebelumnya.
Yamada. Penggemar berat YOHILA yang sama
denganku, dan sekarang pacar temanku.
"Kerja bagus, Yamada-san. Mana Youjiro?
Tidak ada?"
"Un. Sepertinya pekerjaan komite
pelaksana sedang sibuk... tapi dia bilang akan menyempatkan diri untuk
konser."
"...Begitu ya."
Kursi yang ditempeli kertas bertuliskan 'VIP'
ada empat, dan kursi yang diduduki Yamada berada di ujung kanan.
Aku duduk di ujung kiri.
"Eh, di situ? Karena di sampingku ini
adalah Yo-kun, jadi Kurimoto-kun harusnya di sebelah situ!"
"...Oh."
Setelah ditegur, aku bergeser satu kursi ke
kanan, lalu,
"—Lagipula!"
"...!?"
Yamada langsung bergeser satu kursi ke
kiri. Jantungku berdegup kencang. Bukan karena aku didekati gadis, tapi rasanya
seperti diserang oleh binatang buas.
Sambil menyembunyikan tubuhku yang tegang
dan detak jantung yang memburu, aku merespons.
"A, ada apa?"
"Tiba-tiba saja—tapi jujur, maaf!"
Yamada menangkupkan kedua tangannya dan
menunduk dalam-dalam untuk meminta maaf. Karena ini waktu jeda, panggung sedang
sepi. Tapi untungnya, tidak ada orang di sekitar kami.
Kepada aku yang terkejut, Yamada menundukkan
wajahnya,
"Tentang aku yang bilang kalau aku jatuh
cinta pada Kurimoto-kun, itu... b, bohong!"
Dia mengakui hal itu. Sambil bergegas
melanjutkan,
"Aku mendekatimu juga bukan karena
menyukaimu sebagai lawan jenis, tapi... untuk merebutmu dari Jun-chan. Dengan
merebut sesuatu yang berharga, Jun-chan akan... menciptakan lagu yang lebih
gelap dan jauh lebih berat dan melankolis. Untuk JUN-sama."
Suara Yamada terdengar basah. Air mata
menetes. Rasa cinta yang kuat pada Junna, rasa bersalah padaku, dan penyesalan
merembes keluar.
"Aku tahu itu mustahil. Aku tahu, tapi
aku sangat... sangat ingin mendengarnya! Aku... secara spontan mendorong
Kurimoto-kun—"
"Tidak apa-apa."
Aku memotong kata-kata Yamada. Sengaja dengan
nada kasar,
"Tidak apa-apa kok. Entah bagaimana, aku
sudah merasa begitu. Aku juga sudah dengar dari Junna. Kenapa Yamada-san
tiba-tiba melakukan hal itu."
Sebelum kencan ganda, Yamada sudah mengakui
semuanya kepada Junna.
Tentang usahanya merebutku, alasannya, dan
tentang dia yang diam-diam merekam data saat rekaman lalu mencurinya. Namun,
"Junna telah memaafkan Yamada-san. Kalau
begitu, aku juga akan memaafkanmu... semuanya."
Hanya ada satu hal yang disimpan rapat.
Sesuatu yang Yamada coba lakukan padaku di
peron stasiun saat menyadari dia tidak bisa merebut hatiku. Mungkin Yamada
ingin mengakuinya.
Karena itulah, aku menghentikannya.
Begitu Yamada berusaha menceritakan fakta itu
kepadaku, aku sudah memutuskan untuk membuang semuanya.
Kalau begitu, tidak perlu repot-repot
menyuruhnya bicara. Aku menegaskan dengan nada menekan.
"Dengar, semuanya. Mengerti?"
"Kurimoto-kun..."
Yamada mengangkat wajahnya dan menatapku.
Menghapus air mata yang meluap,
"U, un... aku mengerti."
Dia mengangguk. Yamada yang tersenyum
ceria tampak seperti beban yang lepas dari pundaknya.
"Terima kasih! Sudah memaafkanku karena
mencoba mendorong Kurimoto-kun."
"...Aku benar-benar bersyukur karena
itu gagal."
"Benar juga. 'Yang pertama' kan ingin
kuberikan pada orang yang paling dicintai, kan? Yah... meskipun sepertinya yang akan bersatu dengan Kurimoto-kun adalah
Harukami Rai! Fuhihi."
☂
Setelah melewati drama, pertunjukan komedi,
rap battle ala debat, dan orkestra dari klub musik tiup, akhirnya giliran
YOHILA tiba.
Band yang baru saja menyelesaikan konsernya
sepertinya adalah kakak kelas yang populer, aula olahraga pun penuh sesak.
Antusiasmenya sangat luar biasa.
Apa yang mereka bawakan kebanyakan adalah lagu
copy dari band rock terkenal, tidak ada lagu orisinal.
Memang, di panggung seperti ini, lagu-lagu
yang sudah dikenal memiliki kekuatan yang lebih besar. Semakin banyak penonton
yang tahu lagunya, semakin banyak yang ikut seru, dan semakin hangat
suasananya.
Di sisi lain, YOHILA sepenuhnya membawakan
lagu orisinal.
Popularitasnya pun, saat ini belum begitu
besar.
—Namun, justru karena itulah.
"Uuu... apa mereka akan seru? Apa tidak
apa-apa?"
Di saat peralatan panggung sedang disiapkan,
Yamada berbisik dengan suara cemas, matanya tidak tenang menatap sekeliling
aula. Aku melipat tangan, "Pasti baik-baik saja."
"Ini YOHILA, tahu. Sekali mendengarnya, pasti akan langsung
terpikat."
"Sambil bilang begitu, suaramu
gemetar, ya? Kamu lebih gugup daripada Amamori-chan yang akan naik panggung,
Shigure."
Youjiro yang duduk di antara aku dan
Yamada tersenyum pahit dan memeriksa media sosial.
"Sepertinya sampai saat ini belum
terlalu ramai dibicarakan... ada beberapa unggahan yang menyebut nama band
YOHILA yang dilihat di brosur. Semuanya merasa 'Ah, masa sih'."
"...Begitu ya. Lagipula tidak ada
pengumuman sama sekali."
Terkait konser kali ini, akun resmi YOHILA
tidak mengunggah apa pun.
Rencananya konser ini dirancang agar tidak
terlalu besar skalanya, sebagai 'rehabilitasi' untuk YOHILA yang sudah lama
tidak melakukan konser.
—Meski begitu.
"Meskipun hanya bisa melihat konsernya
saja, aku sudah sangat puas dan terharu!"
Dadaku terasa hampir pecah oleh kegembiraan.
Meskipun semua orang di ruangan ini selain
kami tidak tahu siapa itu YOHILA dan tidak ikut seru, aku akan bersemangat dan
menghidupkan suasana untuk mereka.
Dengan perasaan itulah, aku menunggu dimulai.
Yamada matanya berbinar-binar dengan napas
yang memburu, "Aku juga! Aduh, bahagia sekali..."
Youjiro secara lahiriah tampak santai, tapi
jari kakinya memukul lantai dengan tempo cepat, memperlihatkan kegembiraan yang
tidak bisa dia tahan.
Tiba-tiba aku mengalihkan pandanganku ke kursi
sebelah kiriku.
Kursi yang disiapkan kosong. Hanya di sana
yang tampak lowong.
Sebagai musik latar di aula olahraga, lagu
'Red Hot Bomb' milik ENDY diputar. Versi rekaman indie, bukan re-rekaman
(re:Rec).
"Ah, itu!"
Saat aku mencoba mendengarkannya dengan
saksama, suara asing memotong.
Kulihat seorang gadis seusia kami yang
mengenakan topi casquette putih menunduk dalam,
"Di sini, apa boleh duduk?"
Dia bertanya dengan ragu-ragu. Seorang gadis
dengan gaun motif bunga merah muda, berpenampilan rapi. Mungkin pengunjung umum
dari luar sekolah.
"Ah, di sana guru—" aku hendak
memotong Yamada yang ingin bicara, tapi,
"Ya. Karena kosong, silakan."
Begitu aku melepas kertas 'VIP' yang ditempel,
aku memintanya duduk.
Gadis itu menunduk dan berterima kasih,
"Benarkah!? A, terima kasih!" dan duduk. Meskipun area matanya
tertutup bayangan topi, sudut mulutnya tersenyum lebar, dan kebahagiaan
terpancar dari seluruh tubuhnya.
Aroma mawar menggelitik hidungku.
(...Penggemar YOHILA, ya?)
Saat aku hendak bertanya karena tertarik,
lampu aula olahraga padam tiba-tiba, dan volume BGM meningkat drastis.
Seolah menekan kebisingan di sekitarnya.
"...!"
Musik berhenti.
Di tengah kesunyian dan kegelapan, cahaya
menyala di panggung.
Ungu dan biru, warna bunga hydrangea.
Di tengahnya, sebuah gitar listrik surf
green disandarkan pada penyangga, tampak menonjol dengan kesepian.
Latar
belakangnya adalah backdrop dengan logo band dan tanda YOHILA.
Seolah
menggambarkan ilustrasi hydrangea yang terkena hujan, suara rintik hujan samar
mulai terdengar. Bukan suara asli, melainkan suara lingkungan yang diputar dari
speaker.
Dan—
Dari sisi kanan panggung jika dilihat dari
kursi penonton, Junna (JUN) muncul ke atas panggung.
Mengenakan kaus band YOHILA dan rok seragam.
Pakaian yang sama dengan yang dikenakannya saat bersamaku.
"............"
JUN berjalan menuju gitar tanpa suara,
memasang tali pada bahunya, dan di sanalah untuk pertama kalinya dia menatap
kursi penonton.
Mata yang tampak mengantuk dan ekspresi
datar. Tidak ada rasa cemas atau gugup yang berlebihan, dia terlihat seperti
biasanya—tapi, di atas panggung, dia terlihat sangat melampaui duniawi, seolah
ada aura yang tidak terlihat oleh mata.
Hanya dengan 'muncul', suasana aula
berubah.
Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata atau
suara.
Hanya suara hujan yang terus terdengar.
"............"
JUN yang berdiri di depan mikrofon dan
menatap kursi penonton, mata kembar miliknya menangkapku.
Pandangan kami bertaut.
Seketika, JUN menyipitkan matanya, dan
bibirnya yang tadi terkatup rapat sedikit melonggar.
Saat aku mengangguk dengan perasaan
'Berjuanglah!', dia membalas anggukanku, dan JUN menutup matanya. Saat itu, suara hujan berhenti dan kesunyian pun tiba.
"...'Hydrangea dan Hantu'."
Suara bisikan JUN meresap ke dalam kesunyian
itu.
Sesaat kemudian, suara piano yang indah dan
mengalir yang mengingatkan pada suara hujan mulai bergema.
Itu adalah intro dari lagu 'Hydrangea dan
Hantu' yang disebutkan JUN secara singkat sebagai judul lagunya. Melodi yang
sudah kudengar ratusan, ribuan kali.
Gitar listrik yang terdistorsi menumpuk di
atasnya. Kasar dan tajam. Namun, pertunjukan itu halus, seolah-olah itu adalah
JUN itu sendiri.
Gitar yang dipetik JUN berjalin dengan nada
piano yang jernih, bergulung sambil menaiki groove yang diciptakan bass dan
drum, berubah menjadi aliran ansambel.
Penampilan luar biasa yang membuat semua orang
menahan napas dan hati mereka tersedot.
—Tapi ini masih permulaan. Di situlah
kehebatan sebenarnya dari YOHILA dan JUN.
Seolah menanggapi pikiranku, JUN menarik
napas.
Suara nyanyian JUN.
Lagu yang membuatnya terpikat padaku—
Tidak terdengar.
Tidak terdengar. Yang keluar dari mulut JUN
hanyalah hembusan napas yang lemah.
"...!"
Ekspresi datar JUN terdistorsi oleh rasa
sakit.
Untuk menyembunyikannya, dia menunduk, dan
akhirnya bahkan tangan yang memetik gitar pun berhenti. Hanya suara instrumen
tanpa pemain yang berbunyi sia-sia dan anorganik.
"...Tidak..."
JUN bergumam lirih.
Dari tangannya yang terkulai lemah, pick
berbentuk air mata jatuh,
"Aku tidak bisa melakukannya!"
Dari wajah yang tertunduk itu, tetesan air
jatuh.
Seperti hujan, menetes satu demi satu.
Para penonton mulai riuh.
Musik berhenti,
Lalu terdengar pengumuman, "Karena ada
masalah teknis, konser dihentikan sementara. Harap menunggu beberapa saat
hingga konser dilanjutkan kembali."
Seolah-olah—
Memang sudah direncanakan sejak awal bahwa hal
ini akan terjadi.
"............Jun... na?"
Bukan aku yang menyebut namanya.
Saat tirai panggung perlahan diturunkan, aku
menghela napas panjang.


Post a Comment