6 Yuu & Ai (Kecemasan & Cinta)
Ini adalah hari yang
dingin, sangat cocok dengan ungkapan tsuyujamu (hawa dingin di musim
hujan).
Hujan yang turun sejak
kemarin tak henti-hentinya menderu semakin deras, dan sesekali kilatan petir
yang menyambar menerangi dunia yang tenggelam dalam monokrom.
Suara guntur yang
bergemuruh terdengar seperti geraman binatang raksasa yang bersemayam di balik
awan. Ditambah lagi, suara hujan yang tak putus-putusnya.
"Cuma peringatan
hujan deras, ya?"
"Kalau ada peringatan
angin topan, sekolah pasti diliburkan, kan."
Aku mendengar percakapan
teman sekelasku. Karena topan yang mendekat di malam hari ini adalah tipe
hujan, anginnya tidak terlalu kencang, sehingga di tengah cuaca yang buruk ini,
kami tetap berangkat ke sekolah seperti biasa.
Apakah Junna akan datang?—pikirku sambil menatap
percakapan kami yang terhenti.
Topan adalah alasan yang
bagus. Apakah aku harus menyapanya satu patah kata saja, atau tidak? (Tanpa
ditanya pun, dia pasti tidak akan datang... tapi, ya sudahlah. Aku ingin bicara
dengannya...) Saat aku sedang bimbang, bel yang menandakan dimulainya hari
berbunyi, dan aku terpaksa menyimpan ponselku ke dalam saku.
☂
Saat topan mendekat, curah
hujan semakin kuat, dan sepulang sekolah semua kegiatan klub dibatalkan. Kami,
para murid, diimbau untuk segera pulang.
Namun, itu hanyalah sebuah
'imbauan'. Bukan perintah.
"──Amamori?"
Akagi-sensei mengerutkan
kening saat aku bertanya tentang keberadaan Junna begitu sampai di ruang
kesehatan.
Aku sempat berpikir untuk
langsung pulang, tapi karena melihat payung Junna masih ada di tempatnya, aku
jadi khawatir dan kembali lagi.
"Mungkin dia ada di
ruang audio-visual," Akagi-sensei yang duduk bersila di kursinya sambil
memainkan ponsel merahnya dengan bosan, berkata padaku.
"Hanya saja...
sepertinya dia sedang sangat fokus, jadi jangan diganggu. Paling buruk, nanti
saat pulang aku akan mengantarnya pakai mobil."
Dia tetap tinggal sampai
waktu pulang sekolah terakhir meski topan sedang mendekat.
Setelah bimbang, saat
istirahat siang tadi aku sempat mengirim pesan singkat, 'Topan datang, ya.
Hati-hati kalau ke sekolah,' namun pesan itu masih belum dibaca. Aku jadi
khawatir padanya.
"Apa dia sedang
kesulitan membuat lagu...?"
"Sepertinya
begitu."
Akagi-sensei menjawab
sambil menatap layar ponsel,
"Sepertinya dia
sedang mengalami slump akhir-akhir ini. Dia mengeluh tidak bisa menulis
lagu yang 'YOHILA banget'. Dia sepertinya diam-diam saja soal ini pada Yo-chan...
manajernya."
Katanya dengan nada
santai. Satu kalimat yang diucapkan Akagi-sensei mengingatkanku pada keganjilan
yang sempat kurasakan.
"Slump... Lagu
yang 'YOHILA banget'?"
Terakhir kali aku bertemu
Junna saat pulang sekolah, saat aku bilang aku menantikan lagu barunya, Junna
menjawab dengan kuat, 'Pasti, akan kubuat jadi karya terbaik.' Namun,
saat itu atmosfernya terasa sangat lemah.
Di balik kata-katanya itu,
kepedihan dan pergulatan seperti apa yang dia rasakan?
Lagu yang 'YOHILA
banget'—lagu yang lirik dan musiknya depresif dan suram. Depressive rock.
Jika dia tidak bisa lagi menulis lagu itu, penyebab yang terpikirkan adalah,
"......................Aku."
"──Kurimoto?"
"Maaf. Permisi."
Aku membelakangi Akagi-sensei
yang menatapku dengan curiga, lalu keluar dari ruang kesehatan.
Berjalan menyusuri lorong
menuju pintu keluar, memakai sepatu, lalu bergumam sambil menatap payung warna hydrangea
yang diletakkan di pojok tempat payung.
"......Ternyata itu
salahku ya, Junna."
"Aku yang telah
merenggut 'warna' YOHILA..."
Aku meraih gagang payung
yang ditempeli stiker logo YOHILA itu, menariknya keluar, lalu menggertakkan
gigi. Aku membuka payung transparan itu dan melangkah keluar menuju badai.
Dunia abu-abu yang dingin dan gelap.
Aku adalah penggemar berat
band YOHILA, dan aku sangat menyukai musisi bernama JUN. Justru karena itulah,
aku merasa sangat takut bahwa keberadaanku memberikan pengaruh besar padanya
dan membawa 'perubahan' yang fatal pada karya yang dia ciptakan.
☂
Di tengah hujan deras,
aku berjalan ke stasiun sambil menunduk. Angin bertiup kencang seolah ingin
merenggut payung dari tanganku, dan hujan yang tak sanggup ditahan payung
membasahi celanaku.
(Apakah perasaanku saat
itu benar...?)
Suatu hari, Junna pernah
memperdengarkan lagu barunya di ruang audio-visual. Itu adalah demo yang
belum selesai dan belum dirilis.
Lagu itu menggunakan suara
yang muncul di dalam diri Junna karena kehadiranku.
Kesan pertamaku saat
mendengarkannya adalah, "Lagunya enak buat didengar."
Karena rekaman demo,
kualitas suaranya buruk, dan bass serta drumnya masih sederhana, tapi riff
gitarnya terdengar segar, halus, dan punya dinamika yang jelas, ditambah
iringan piano elektrik yang ringan.
Melodi vokalnya juga luar
biasa, lagu bertempo cepat yang membuat orang ingin berdansa. Aku jujur
berpikir itu lagu yang bagus. Kalau ditanya suka atau tidak, aku pasti sangat
menyukainya.
Namun, di saat yang sama──
(......Tapi, tidak terasa
seperti YOHILA, ya?)
Aku merasa begitu. Nuansa
gelap, rapuh, depresif, dan melankolis yang merupakan ciri khas YOHILA terasa
tipis, dan lagu itu justru dipenuhi dengan keceriaan yang terasa aneh. Itu lagu
yang bagus, tapi kalau ditanya apakah itu lagu YOHILA, aku sulit menjawabnya.
Begitulah lagunya.
Tapi, ini masih demo.
Mungkin nanti dia akan memberikan distorsi pada suaranya atau mengubah
aransemennya, mungkin saat vokal dan lirik ditambahkan, kesannya akan berubah
total. Mungkin karena situasinya dia sedang tidak konsentrasi.
Aku meyakinkan diriku
sendiri dengan pikiran itu, lalu hanya mengatakan "bagus". Dan tanpa
berpikir terlalu dalam, aku menunggu dengan antusias selesainya lagu baru itu.
Jika dipikir sekarang,
mungkin saat itu firasat sudah ada. Bahwa aku akan mengubah Junna—JUN, dan
mengubah musikalitas band bernama YOHILA. Firasat gelap yang disertai kecemasan
dan ketakutan.
Perasaan itu tumbuh
sedikit demi sedikit setiap kali aku merasakan kasih sayang Junna, dan
diam-diam menebal di balik bayang-bayang emosi positif seperti rasa senang dan
gembira.
──Tidak! Itu hanya
kesombongan konyolku, aku mencoba menegur diriku sendiri agar jangan
terlalu percaya diri dan mencoba menertawakannya, tapi.
(Ternyata dugaanku
benar...)
Kenyataannya, karena aku
meringankan kesepian dan depresi Junna serta membuatnya menjadi lebih positif,
dia jadi tidak bisa lagi melahirkan lagu-lagu suram seperti biasanya.
Karena hal itu, Junna
sebagai seorang kreator sangat menderita dan merasa terbebani.
Seperti bunga hydrangea
yang mengubah warna kelopaknya tergantung pada tanahnya, YOHILA yang pernah
berubah warna dengan drastis, mungkin sedang mencoba mengubah warnanya sekali
lagi.
Kira-kira warna apa itu
nanti? Apakah itu warna yang membahagiakan bagi aku dan dirinya?
──Aku tidak tahu.
Karena tidak tahu, aku
merasa takut. Paling buruk, dia
bahkan bisa layu──
(......Aku.)
Lampu penyeberangan
pejalan kaki berkedip lalu berubah merah. Sepatuku menginjak genangan air, dan
rasa dingin merayap naik dari ujung kakiku.
(Kalau karena aku, JUN
jadi tidak bisa membuat lagu YOHILA...)
Angin dan hujan semakin
deras. Aku menggenggam payung
dengan lebih kuat.
(Mungkin, seharusnya
aku tidak terlibat terlalu dalam dengannya.)
Diterjang angin yang
beringas, rangka besi payung murah itu berderit. Jika aku melepaskan tanganku,
payung itu akan langsung terbang dan menghilang ke angkasa.
Petir menyambar di
kejauhan. Lampu merah berubah hijau, dan orang-orang yang tertahan mulai
bergerak. Aku melangkah lebar meninggalkan genangan air. Menuju stasiun di
depanku──
(──Mana mungkin...)
Bukan itu yang kupikirkan.
"Mana mungkin aku
bisa berpikir begituuuuu!"
Aku berlari berbalik arah
menuju sekolah. Orang-orang terbelah
karena terkejut mendengar teriakanku yang tiba-tiba.
Angin yang datang dari
depan menghantam wajahku bersamaan dengan hujan.
Payungku tersambar
angin dan melambung tinggi ke angkasa, tapi aku tidak peduli. Aku berlari
sekuat tenaga.
(Aku adalah penggemar
berat, penggemar yang sangat mencintai YOHILA dan JUN!)
Sambil berlari
menembus badai, aku memikirkan lagu-lagunya. Meski tidak memakai earphone,
setiap kata dari lirik yang dinyanyikan JUN, setiap nada dari melodi yang
dimainkan YOHILA, bisa kuputar dengan jelas dan jernih di kepalaku. Begitu
besar rasa cintaku pada musiknya.
(──Meski begitu!)
Pandanganku kabur
karena hujan, rambut dan pakaian basah kuyup melekat di kulit. Napasku tidak
teratur, jantungku berdegup kencang seolah ingin menembus tulang rusuk. Ada
rasa amis darah di tenggorokanku.
(Yang paling kucintai
adalah──)
Agar tidak tenggelam
oleh suara hujan, badai, dan guntur, aku berteriak. Ke arah langit yang suram,
kupanggil namanya.
☂
Dalam keadaan
berseragam, aku tampak seperti orang yang baru saja menyelam di laut.
Menempuh jarak yang
biasanya 10 menit dalam waktu kurang dari 3 menit, aku kembali ke sekolah,
mengeringkan rambut dan tubuhku dengan asal sambil mengatur napas di pintu
masuk.
Sepertinya semua orang
sudah pulang, jadi di jalan kembali atau setelah sampai, aku tidak bertemu satu
murid pun. B
eruntung sekali,
karena kalau ada yang melihat sosokku berlari kencang tanpa payung di tengah
badai—apalagi ke arah sekolah—aku akan mati karena malu. Apalagi kalau
melihatku berteriak tadi.
Pakaian dingin yang
melekat di kulit membuat hatiku yang tadi mendidih menjadi sedikit tenang.
"......Baiklah."
Setelah selesai
mengeringkan rambut dan tubuh, aku mengganti sepatuku yang basah, dan sambil
tetap meletakkan handuk di atas kepala, aku mengintip sekeliling. Melihat ke
kanan, ke kiri, dan setelah memastikan tidak ada orang,
"Ayo!"
Aku berlari di lorong.
Tetesan air yang belum kering berhamburan dari ujung rambutku seperti keringat.
Tujuanku adalah lantai dua sayap barat, ruang audio-visual. Tempat di mana dia
berada.
──Mengganggu
pekerjaannya? Persetan dengan itu. Aku ingin bertemu. Bertemu dan ingin
menyampaikannya.
──Menyampaikan apa?
...Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, tapi aku hanya merasa sangat ingin bertemu
dengannya. Jawaban itu bisa kucari nanti setelah bertemu.
Sambil berpikir
demikian, aku menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Hati yang seharusnya sudah
tenang kembali memanas, dan napasku kembali berantakan.
Bahkan jika sekarang
ada guru yang muncul dan memarahiku karena berlari di lorong, langkahku tidak
akan berhenti. Aku akan mengabaikannya, menghindar, dan terus berlari.
"Hah,
hah..."
Aku menyeka tetesan
air—entah hujan atau keringat—dengan handuk yang jatuh dari kepala ke leher.
Suara hujan terus bergemuruh, dan guntur menyambar di sela-sela badai.
Lorong kosong yang
suram dengan lampu neon yang berkedip dan sambaran petir terasa seolah waktu
telah berhenti. Di sudut sana, dia sendirian, berjuang mati-matian──
"Junna!"
Begitu sampai di ruang
audio-visual, aku membuka pintu dan berteriak. Lampu kelas menyala. Namun, sosok Junna tidak terlihat.
"......Tidak
ada?"
Tidak ada jawaban. Ruang
kelas sunyi senyap. Di sudut meja panjang di dekat jendela, posisi favorit
Junna, tas sekolahnya tertinggal. Aku menghela napas dan mendekat.
Di atas meja, selain tas,
ada kotak pensil Geroppi (warna ungu kebiruan) miliknya yang dibiarkan terbuka.
Pensil mekanik yang belum
selesai dipakai, penghapus, dan sisa-sisa penghapus berserakan. Seolah-olah
sampai detik ini, Junna ada di sana.
Aku menatap dinding di
sebelahnya. Wadah gitarnya tidak ada.
Jam menunjukkan pukul
16.30 kurang sedikit. Karena payungnya tadi masih ada di tempat payung,
seharusnya dia belum pulang.
Di mana kamu? Aku membuka LINE untuk
bertanya langsung. Ada satu pesan baru. Menanggapi pesanku 'Topan datang,
ya. Hati-hati kalau ke sekolah',
JUN: Singin' in the Rain
Waktu pengirimannya baru
beberapa menit yang lalu.
"Singing in the Rain..."
Wadah gitar yang hilang. Aku melirik sekilas meja yang masih menyimpan jejak
Junna, lalu,
"'Singin' in the Rain'?"
Aku melihat ikon Junna.
Logo band YOHILA. Ilustrasi bunga hydrangea
yang terkena hujan.
"......! Jangan-jangan──"
Detik berikutnya, aku
membuang tas enamel-ku dan berlari. Aku melesat keluar dari ruang
audio-visual yang kosong dan menuju ke atas. Ke lantai empat. Tempat yang
paling dekat dengan langit.
──Ke atap.
Dalam cuaca seperti
ini, rasanya tidak mungkin.
Namun, langkahku tidak
berhenti. Intuisi yang meyakinkan
bahwa Junna ada di sana telah menggerakkanku.
Sambil memacu jantung yang
rasanya akan meledak, aku menaiki tangga yang gelap dan sempit dengan melompati
anak tangga.
Suara hujan semakin dekat.
Akhirnya── Di depan pintu keluar ke atap, wadah gitar kosong tergeletak. Di
lantai yang berdebu, katak ungu kebiruan terjatuh. Katak langit yang turun dari
surga, sendirian.
"......Junna!"
Aku mendorong pintu besi
berat yang mirip pintu kedap suara studio musik itu hingga terbuka.
Suara hujan seketika
meledak, dan aroma beton basah menguar. Kumpulan tetesan air seperti peluru
menghantam wajahku, membuat rambut dan tubuh yang tadi sudah kukeringkan basah
kembali, tapi aku tidak peduli. Aku menyipitkan mata dan menatap ke dalam badai.
Bunga hydrangea
yang basah oleh hujan.
Sesuai dengan bayangan
itu, Junna berdiri di tengah badai, memanggul gitar surf green yang
warnanya mirip daun, tanpa payung.
☂
Atap yang dikelilingi
pagar tinggi di keempat sisinya. Di tengahnya, Junna berdiri dengan punggung
menghadap ke arahku, berdiri dengan tenang.
Rambut dan seragamnya
basah kuyup, tapi dia tidak bergeming sedikit pun, menatap langit abu-abu yang
terbentang di atas kepalanya. Masih mengenakan seragam, seolah sedang mandi di
bawah shower.
Binatang yang
bersemayam di balik awan menggeram.
"...................."
Menyapa saja tidak
bisa, apalagi bergerak. Jika aku menggerakkan satu jari saja, udara akan retak
dan hancur berkeping-keping—ketegangan yang rapuh dan berbahaya itu membekukan
tenggorokan dan tubuhku.
──Lalu.
Junna yang tadinya
menatap langit kini menghadap ke depan, dan lengannya yang tadinya terkulai
mulai bergerak.
Tangan kirinya
memegang leher gitar, dan tangan kanannya yang memegang pick berbentuk
tetesan air bergerak ke depan tubuhnya.
Aku merasa seolah mendengar dia menarik napas
dalam-dalam.
"...... 'Yuu
& Ai' (Kecemasan & Cinta)."
Junna berbisik. Suara
kecil yang hampir hilang ditelan suara hujan itu sampai ke telingaku, menembus
celah hujan.
Yuu and Ai... YOU & I?
Saat aku sedang berpikir tentang arti kata itu, cahaya putih melesat di langit
terdekat. Tangan kanan Junna perlahan terangkat.
Saat guntur
menggelegar. Seolah itu adalah aba-aba, pick gitar dihantamkan ke senar.
Namun, tidak ada suara
yang keluar. Atau mungkin, suaranya keluar tapi terlalu lemah hingga tertelan
oleh suara badai.
Itu karena tidak ada
listrik yang mengalir. Gitar elektrik tidak bisa mengeluarkan suara ledakan
tanpa bantuan listrik.
Tanpa amplifier
yang mengubah getaran senar yang lemah menjadi sinyal listrik dan mengerasnya.
Seharusnya, suaranya mati dengan sia-sia──.
Namun, saat Junna
memetik senar itu, aku benar-benar merasakan suara distorsi yang berhamburan. Aku melihat ilusi kilatan
cahaya yang memercik di tangan Junna.
Sambil memetik gitar
elektrik yang tidak terhubung listrik (unplugged), Junna mulai menari
mengikuti irama suara yang tidak terdengar itu.
Rambut hitamnya yang basah
berkibar, memperlihatkan warna bunga yang tersembunyi di baliknya.
Sol sepatu sekolahnya
menghantam genangan air, menebarkan percikan ke mana-mana.
Sambil memainkan gitar,
dia mencondongkan tubuhnya seolah ke arah stand mic, dan──
Dia mulai bernyanyi.
Detik itu juga, aku
tenggelam. Suara nyanyian JUN yang rapuh namun kuat. Liriknya, seperti khas
YOHILA, sangat abstrak dan kompleks, tapi perasaan Junna yang tersampaikan dari
keseluruhan nyanyiannya terasa begitu sederhana.
“Suka” “Suka suka” “Suka
suka suka suka” “Suka suka suka suka suka suka suka suka!”
Seperti miliaran tetesan
hujan yang turun dari langit, perasaan yang kuat tertuang dalam lagu itu, dan
menghantamku bertubi-tubi.
Di sana ada kesuraman dan
depresi yang gelap bagaikan langit mendung, gairah yang buas bagaikan badai,
dan ratapan kesedihan bagaikan guntur. Namun, perasaan yang seperti hujan deras
itu tak mau kalah dan terus bertambah hebat.
Aku hanya bisa berdiri
terpaku, terhantam olehnya.
“....................”
Lagu itu berhenti. Tanpa
kusadari, hujan yang tadi sangat deras kini telah benar-benar berhenti, dan
cahaya yang memancar dari langit biru menyinari Junna seolah-olah seperti lampu
sorot.
Pemandangan dunia yang
basah memantulkan cahaya mentari, berkilauan begitu indah hingga membuatku
menahan napas.
Kenyataannya, aku lupa
bagaimana caranya bernapas, dan hanya menatap terpukau. Pada sosok Junna yang
berdiri di tengah dunia yang menyilaukan, balas menatap 'mata badai'.
“......Shigure.”
Suara Junna terdengar
seperti tetesan pertama hujan yang jatuh dari langit ke bumi. Berbeda dari
suara nyanyiannya, suara yang lemah dan lirih itu tidak tertelan oleh suara
hujan. Karena itulah──
“──Junna!”
Akhirnya, aku bisa
memanggil punggung kecil itu untuk membalasnya. Bahu Junna tersentak kaget,
lalu ia menoleh dengan cepat.
Tetesan air terhambur dari
ujung rambutnya yang basah, dan warna bagian dalam rambutnya yang seperti warna
bunga hydrangea terlihat sedikit transparan.
“Eh...”
Mata yang biasanya tampak
mengantuk kini terbuka lebar seolah akan tumpah. Matanya yang mirip danau
tersembunyi di kedalaman hutan itu bergetar memantulkan cahaya mentari.
“S-sejak kapan kamu di
situ!?”
Aku tak menjawab, malah
berjalan menerobos genangan air mendekati Junna yang tampak panik. Lalu aku
menggenggam tangannya yang dingin dan basah kuyup karena hujan,
“Sudahlah. Pokoknya, ayo
masuk dulu!”
Aku menariknya dengan
paksa, membawa Junna dari atap yang bermandikan cahaya menyilaukan itu ke balik
pintu, ke dalam kegelapan yang suram—seketika itu juga.
Dunia yang tadinya terang
benderang kembali meredup, dan hujan kembali mengguyur dengan deras di atas
beton tempat kami berdiri sedetik yang lalu.
Seolah-olah tepuk tangan
riuh ribuan penonton yang diberikan untuk nyanyiannya.
☂
“Sampai jumpa, ya? Titip
sekolahnya, anak-anak basah kuyup.”
Menyibakkan jas putihnya
yang berantakan, Akagi-sensei keluar dari ruang kesehatan.
Pukul 17.30, waktu akhir
jam pulang sekolah mendekat. Siswa lain sudah pulang sejak tadi, dan
Akagi-sensei bilang dia adalah staf sekolah terakhir yang tersisa.
Setelah Akagi-sensei pergi
untuk berpatroli dan mengecek kunci-kunci di dalam sekolah, tinggallah aku dan
Junna berdua. Udara di dalam ruangan yang dipanaskan terasa hangat dan lembap.
Suara hujan tak kunjung berhenti, namun guntur sudah mereda.
“....................”
Kami tak bicara untuk
sementara waktu. Aku duduk di kursi lipat melanjutkan novelku yang belum
selesai kubaca, sedangkan Junna duduk di pinggir tempat tidur, memberikan
pertolongan pertama pada gitarnya yang basah.
Aku telah melepaskan
kemejaku, menyisakan kaus dalam dan celana seragam. Sementara itu, Junna telah
mengganti seragamnya dengan kaus olahraga (jersey) sekolah.
Di bagian dadanya,
terjahit name tag bertuliskan 'Kurimoto'. Itu adalah kaus olahragaku. Sudah
pernah kupakai di pelajaran olahraga, tapi karena tak ada pakaian ganti lain,
dengan terpaksa kupinjamkan. Semoga tak bau keringat──
“Endus-endus”
──Jangan dicium.
“Baunya Shigure...”
Aku pura-pura tidak dengar
dan mencoba fokus pada bacaanku.
“......Bau selingkuh.”
“Bau macam apa itu!?”
Itu tak bisa kubiarkan
berlalu.
Saat aku menutup bukuku
dan memprotes, Junna terus mengelap papan fret gitarnya dan berkata,
“Aku lihat, lho.”
Suaranya benar-benar
kering.
“Saat pulang kemarin, Shigure pulang bersama
Yamada-san. Karena terhalang payung, aku tak melihatnya dengan jelas, tapi
kalian terlihat asyik mengobrol... dan kalian berpelukan, kan?”
“B-berpelukan itu...
di luar kendali! Payung Yamada hampir terbawa angin, jadi...”
“Aku tahu.”
Junna menghentikan tangannya. Masih menunduk,
ia menggelengkan kepalanya.
“......Hal semacam itu,
aku tahu kok. Tapi, meluap begitu saja. Suara... perasaan itu. Meluap seperti banjir
bandang dan tak mau berhenti. Tak bisa kuhentikan...”
Junna menutup kedua
telinganya dengan tangannya. Dia tidak memakai headphone. Poni yang jatuh
menutupi matanya menciptakan bayangan gelap.
“Dan dari sanalah lagu itu
lahir—'Yuu & Ai', gabungan 'Yuu' dari Yuu'utsu (Kecemasan) dan 'Ai' dari
Aijou (Cinta).”
Suara Junna terdengar
anorganik. Seperti gitarnya, yang terbuat dari kayu mati dan logam dingin.
“Merusak, menghancurkan... dan membunuh suara indah
yang diberikan Shigure. Sebuah lagu yang mencoret-coret perasaan asliku yang
kotor, yang kutumpuk di atas melodi jelek yang meluap dari dalam diriku... Lagu
yang mengerikan.”
Junna tersenyum
miring. Senyum kosong tanpa emosi.
Aku teringat nyanyian
Junna yang kudengar di atap.
Perasaan kuat yang
teramat sangat terhadap hal yang berharga baginya, dan perasaan gelap yang
justru muncul karena itu. Ketakutan akan kehilangan, keputusasaan.
Seolah cahaya yang
menyilaukan dan bayangan yang pekat ada pada saat yang bersamaan—lalu pada
akhirnya cahayanya hancur, hanya menyisakan kegelapan pekat yang tersisa,
sebuah lagu pesimistis.
“......Cara menggambarkan 'kematian' (layu) setiap
bunga itu berbeda.”
Sambil membelai gitar
di atas pahanya, Junna berbicara panjang lebar.
“Bunga sakura gugur bertebaran (chiru), seruni menari
terbawa angin (mau), plum rontok dari tangkainya (koboreru), camelia jatuh
seutuhnya (ochiru), peoni hancur berhamburan (kuzureru). Bunga hydrangea...
berpegangan erat. Katanya, itu karena bunga hydrangea akan layu saat masih
menempel kuat di batangnya. Deskripsi yang sangat pas, kan? Pas sekali dengan
diriku yang masih menyimpan penyesalan ini.”
“Junna...”
“Alasan mengapa YOHILA
pernah layu satu kali adalah...”
Udara menegang seperti
senar yang ditarik kuat, dan suara Junna mulai bergetar.
“Karena diriku terlalu berat. Perasaanku terhadap
musik dan kalian terlalu berat... aku terlalu menunjukkannya dengan gamblang
sampai-sampai menghancurkan band itu. Seperti kelopak hydrangea, perasaan yang
seharusnya kusembunyikan... aku menabrakkannya terlalu keras hingga band itu
hancur. Dan sampai sekarang pun aku masih terobsesi dengannya.”
Suara Junna yang
awalnya anorganik perlahan mulai diselimuti perasaan seperti tersengat listrik.
Suaranya yang tadinya lemah secara bertahap membesar, menguat, dan dipenuhi
gairah.
“Itulah mengapa, mulai sekarang aku berpikir untuk
sebisa mungkin menekan emosiku, menyembunyikannya, dan membunuhnya. Agar tak
menghancurkan atau merusak orang lain. Kecuali saat bermusik...”
Junna selalu tampak tanpa
ekspresi dan tanpa emosi. Namun, itu bukan berarti dia tak punya perasaan atau
perasaannya dangkal. Justru sebaliknya, perasaannya sangat kental, kuat, liar,
dan berat. Justru karena itulah, ia memendamnya. Demi tak menyakiti orang lain
atau dirinya sendiri. Ia berusaha tetap sendirian──
“Tapi, aku tak bisa
melakukannya.”
Tetesan air jatuh ke tubuh
gitar.
“......Sebesar apapun
usahaku, perasaan itu merembes dan tumpah ruah. Perasaanku pada hal yang
berharga.”
Hujan yang jatuh setetes
demi setetes tak mau berhenti.
“Kalau kumuntahkan, itu
akan mengotori. Kalau kutabrakkan, itu akan menghancurkan. Kalau aku bersandar,
itu akan menekan... Meski aku tahu itu, aku tak bisa menahannya. Musik pun
begitu. Sebuah lagu yang terlalu jujur... Aku tahu kalau orang lain mendengarnya
mereka akan menjauh dariku... Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak
menciptakannya. Saat lagu itu selesai, aku tak bisa menahan diri untuk tak
menyanyikannya.”
Bayangan Junna yang
memetik gitar dan bernyanyi di tengah badai terbayang kembali. Bayangan itu
saja sudah membuat hatiku kesemutan seperti tersambar petir.
Mengangkat wajahnya yang
tadi menunduk, dengan mata basah, Junna menatapku lekat.
“......Kamu menjauh
dariku, kan?”
Air mata yang mengalir
tiada henti membasahi pipinya dan jatuh menetes.
“Kamu tidak suka, kan? Gadis gelap dan berat yang
membuat lagu seperti itu... Seperti teman-teman YOHILA yang pernah hancur dan
layu, Shigure pasti──” “Hei.”
Memotong teriakan
Junna, aku menghela napas.
“......Apa yang kamu
bicarakan sekarang? Kamu pikir aku ini apa?”
Aku berdiri, dan
meninggikan suaraku,
“Aku ini penggemar YOHILA, penggemar JUN, tahu!?”
Aku berteriak keras. Junna
membelalakkan matanya.
“Aku penggemar berat! Mana mungkin aku menjauh karena
mendengar lagumu... Lagumu yang terbaik. Suram, berat, mengerikan──tapi sangat
indah, aku seolah tersedot ke dalamnya. Itu benar-benar lagu YOHILA yang
membuatku jatuh cinta!”
“Shigure...”
Saat Junna berkedip,
air mata yang terkumpul di matanya tumpah dan meluncur di pipinya yang memerah.
Dengan ekspresi seolah sedang bermimpi, Junna bertanya padaku.
“──Apa tak apa-apa? Gadis yang suram dan... seberat
ini...”
“Tidak ada 'tapi'.”
Aku menatap mata Junna
sambil berjongkok, menggenggam erat tangan dinginnya yang berada di atas gitar,
memberitahunya bahwa ini bukan mimpi.
“Suram dan berat──karena kau itulah, itu tak
masalah!”
“......!?”
Mendengar kata-kataku,
wajah Junna merona merah menyala. Aku teringat senja saat kami berjalan bersama setelah
berteduh.
Kata-kata yang saat itu
ingin kuucapkan, tetapi kutahan karena kepengecutanku. Aku menekan perasaanku
sendiri karena takut tak bisa menerima seluruh perasaannya meski aku sudah
memahaminya──takut bahwa aku akan mengubah dirinya.
Tapi kali ini. Mengulangi
kembali perasaan yang kuterikkan di tengah badai tadi.
“──Junna.”
Seolah menjawab perasaan
yang ia sampaikan lewat lagunya.
“Aku──”
Tepat di saat aku
hendak mengatakannya,
“──Maaf, membuat kalian menunggu,”
Pintu ruang kesehatan
terbuka dengan berisik, dan Akagi-sensei masuk kembali.
“......!”
Aku buru-buru
melepaskan genggaman tanganku, dan Junna menjerit kecil “Pyaa!?” dan
terjengkang. Gitar yang tadi dipangkunya jatuh ke lantai dengan keras.
“......? Ada apa dengan kalian?”
Melihat Akagi-sensei
yang mengerutkan kening, aku berteriak dalam hati, “Waktunya tidak pas!”
Di tengah kesunyian
yang diselimuti suara hujan yang deras, Junna perlahan bangkit, memungut
gitarnya, dan menggumam dengan suara serak yang berat.
“.......Dengan emosi dan melodi yang meluap pada saat
ini, mungkin aku bisa menulis satu lagu lagi. Lagu yang sangat liar.”
☂
“Akhir-akhir ini, aku
sempat mandek bikin lagu.”
Suara Junna berpadu
dengan suara hujan dan musik saat ia berbicara. Hujan yang turun dengan
derasnya bertiup ke kaca jendela dan meleleh, menciptakan corak warna-warni
bagaikan kelereng yang menyerap cahaya lampu kota.
“Setiap hariku begitu menyilaukan... aku tidak bisa
membuat lirik dan lagu yang suram dengan baik.”
Aku dan Junna sedang
dalam perjalanan pulang, diantar oleh Akagi-sensei dengan mobilnya. Kereta
memang beroperasi, tapi Junna tiba-tiba berucap,
‘Aku malu naik kereta pakai baju olahraga’,
‘Aku tak ingin gitarku
kebasahan lagi’, dan ‘Aku ingin tahu di mana rumah Shigure berada’.
Mendengar itu,
Akagi-sensei merespons,
‘......Ya sudahlah. Kalau terjadi apa-apa pada
Amamori, aku bisa dibunuh oleh Yo-chan. Aku akan mengantarmu sekalian jalan-jalan. Urutannya
Amamori, baru Kurimoto, kan?’
‘Tidak boleh. Urutannya
Shigure, baru aku. Aku tak akan membiarkan kalian berdua sendirian.’
‘Iya, iya.’
Akagi-sensei langsung
setuju. Dan jadilah dia mengantar kami di tengah hujan deras begini.
Menurutnya, dia memang berencana melakukan itu sejak awal. Tapi ia benar-benar
perhatian.
Menyadari percakapan di
kursi belakang, Akagi-sensei mengoperasikan audio display, dan diam-diam
menaikkan volume musik. Itu lagu 'Rain' milik Pay money To my
Pain──lagu tentang kehilangan.
“......Tapi, tiba-tiba aku berpikir. Sekarang
aku memang bahagia dan puas... tapi bagaimana jadinya kalau kebahagiaan ini
hilang? Aku jadi teringat masa
lalu.”
Masa lalu yang dia maksud
pasti saat anggota lain selain Junna keluar dari YOHILA. Rasa kehilangan itulah
yang membentuk musik Junna dan YOHILA yang sekarang.
“Semakin besar keberadaan
sosok yang berharga di dalam diriku, semakin besar dan dalam luka yang tercipta
saat ia menghilang. Memikirkan itu, aku jadi takut dengan kebahagiaanku
sendiri. Kebahagiaan itu tak lagi cuma menyilaukan. Karena aku menyadari ada
bayangan kelam yang semakin pekat seiring dengan cahayanya yang semakin kuat...
makanya aku bisa menulis lagu lagi.”
“......Begitu ya.”
Aku sudah tahu dari
Akagi-sensei kalau Junna sedang mengalami slump. Aku sangat takut karena
diriku, Junna jadi tak bisa membuat lagu dan membawa pengaruh buruk. Tapi
sepertinya ketakutanku hanyalah kekhawatiran yang sia-sia belaka.
“Iya. Pada akhirnya...
meski ada yang berubah, aku merasa ada hal yang tidak akan pernah berubah.
Bagaikan warna bunga hydrangea yang berubah-ubah, dia tetaplah hydrangea. Sifat
suram dan beratku ini, sepertinya tidak akan pernah berubah seumur hidupku. Tapi,
tidak apa-apa, kan?”
Junna mencondongkan
tubuhnya ke arahku. Mendekat sebisa mungkin sementara sabuk pengamannya masih
terpasang. Menempel erat, menggesekkan pipi dan tubuhnya padaku.
“Shigure bilang kalau itu 'tidak masalah', kan. Jadi
mulai sekarang aku mungkin akan sedikit mengurangi rasa canggungku, dan lebih
mengekspresikan perasaanku.”
Ekspresi Junna saat
tertawa mengucapkan itu tampak lebih lembut, lebih hangat, dan dihiasi dengan
perasaan yang lebih kental dari biasanya.
Nada suaranya entah
mengapa terasa manis. Meskipun aku merasa perasaan yang Junna coba
'sembunyikan' sudah merembes dan tumpah ruah terlalu banyak selama ini.
Aku merasa salah
tingkah karena suhu tubuh yang menyandar padaku.
“J-Junna... kenapa kamu
menempel-nempel padaku?”
“Karena dingin.”
Napas hangat menerpa
telingaku. Suara yang basah dan
memikat menggetarkan gendang telingaku.
“Tolong hangatkan...”
“Hah? Pemanasnya nyala
kok. Kalau dingin, suruh naikkan suhunya──”
“Tidak apa-apa, tubuhku
akan memanas dengan sendirinya. Tubuh dan juga hatiku.”
Junna melingkarkan
lengannya dan memelukku. Seperti bunga hydrangea yang tetap erat berpegangan
pada tangkainya meski telah layu.
Aku membeku. Melalui kaca
spion aku bertatapan dengan Akagi-sensei, namun ia segera menyipitkan mata dan
membuang muka. Ia juga sekalian menurunkan suhu mobil. Aku merasa ia menyuruhku
menerimanya saja.
“Shigure.”
Mengeratkan lengannya
yang memelukku, Junna bergerak kecil.
“──Tunggu lagu baruku yang sudah selesai dengan
antusias, ya?”
Ia berbisik seperti
sedang menyanyi. Lalu, saat melihatku membalas “......Tentu”, ia tersenyum
dengan damai, lalu menutup matanya.


Post a Comment