2 Gadis Kesepian yang Misterius
Tetesan hujan
menghantam jendela. Udara terasa lembap dan berat, seolah melekat di kulit.
Hujan yang turun berhari-hari, dan hujan deras pula. Cuaca seperti itu
seharusnya membuatku muak meski aku bukan orang yang benci hujan, tetapi
kontras dengan langit abu-abu yang gelap, hatiku justru terasa cerah.
Karena hujan, tidak
ada latihan pagi klub atletik. Aku tiba di sekolah lebih awal dan membuka buku paperback
di bangku tempat dudukku.
Judulnya adalah Koi
Suru Leucochloridium (Leucochloridium yang Sedang Jatuh Cinta)──
Genrenya adalah novel
romansa. Karena novel misteri yang kubaca beberapa hari lalu seru, aku memilih
karya penulis yang sama dengan ulasan tinggi. Kebetulan saja itu adalah novel
romansa.
Itu tidak ada
hubungannya dengan pertemuanku dengan Junna, dan bukan berarti aku bersemangat
sejak pagi hanya karena aku bisa bertemu dengannya saat hujan.
Aku menetralkan rasa manis
cerita itu dengan pahitnya kopi, lalu menyunggingkan senyum.
"Selamat pagi. Tumben
sekali pagi ini suasana hatimu bagus, Shigure," seseorang menegurku.
Bukan pria dengan rambut
ikal sepertiku, melainkan pria dengan rambut cokelat yang sengaja dikeriting di
salon dan dicat terang, wajah yang netral (androgini), bertubuh tinggi
hampir 180 cm namun kurus. Dia adalah teman sekelasku, Youjirou Kuzumi. Dia
meletakkan tasnya yang basah di meja, lalu menyibakkan rambutnya dengan gaya
yang menyebalkan.
"Padahal hujan turun
berhari-hari, apalagi hujan badai deras begini... Apa kamu sebahagia itu karena
latihan pagi ditiadakan?"
Cara bicaranya yang sok
anggun dan mencurigakan serta sikapnya yang kelewat blak-blakan adalah ciri
khas pria ini. Selain karena posisi duduk kami yang tadinya depan-belakang,
setelah pengacakan bangku pun posisi kami tetap dekat, menjadikannya lawan bicara
yang paling sering kutemui di kelas.
"Yah, bisa dibilang
begitu. Itu salah satu alasannya."
Aku menutup buku dan
beralih dari mode membaca ke mode mengobrol. Tanpa sadar, sudah hampir 30 menit
sejak aku tiba di sekolah, dan kelas sudah ramai oleh siswa yang selesai
latihan pagi.
Ngomong-ngomong,
Youjirou adalah anggota klub basket, tempat latihannya di gimnasium, jadi
latihan paginya tidak pernah ditiadakan meski hujan.
"Salah 'satu'?"
Alis Youjirou berkedut.
Ia menggeser kursinya
dan mendekat.
"Itu artinya, ada
alasan lain, kan? Biasanya, apa karena buku yang kamu baca sekarang itu
menarik?"
"Itu juga salah
satunya."
"Lagi-lagi 'itu
juga'!? Banyak sekali alasanmu untuk merasa bahagia!"
Reaksi Youjirou sangat
berlebihan. Ia meletakkan tangan di dagunya sambil berpikir.
"...... Apa ya. Apa
mungkin karena pakaian dalam gadis manis yang basah terkena hujan terlihat
tembus pandang?"
"Bukan."
"Apa karena kamu
bisa berdempetan dengan gadis manis di kereta yang penuh sesak?"
"Bukan."
"Apa karena
dengan gadis manis──"
"Lemari deduksimu
terlalu sempit, tahu."
"Apa karena kamu bisa
berkenalan dengannya?"
"............"
Aku terdiam dan membuang
muka. Youjirou membelalakkan matanya dan mencondongkan tubuh ke depan. Ia
bertumpu pada mejaku dan mengangkat pinggulnya,
"Jangan-jangan
jawabannya benar!? Kamu berkenalan dengan gadis manis, Shigureee!"
"Suaramu terlalu
keras."
Aku menegur Youjirou yang
berteriak. Sekelompok siswi dari klub olahraga yang sedang mengobrol di dekat
meja guru melirik ke arah kami. Youjirou berbisik padaku.
"...... Gadis yang
seperti apa?"
"Gadis yang seperti
apa, ya..."
Aku membayangkan sosok
Junna dan menjawab.
"Gaya rambutnya bob
pendek warna hitam dengan warna bagian dalam (inner color) ungu
kebiruan."
"Hee. Unik juga ya.
Selain itu? Tinggi badan atau
ukuran dadanya?"
"...... Aku tidak
tahu soal ukuran dadanya. Tinggi badannya awal 150-an sentimeter... Kalau ciri
menonjol selain warna rambut, dia pakai headphone nirkabel hitam dan
menggendong wadah gitar."
"Hee! Dia anak
band?"
"Dia murid di sekolah
kita, satu angkatan."
Aku menjeda sebentar
sebelum bertanya.
"Kamu tidak
tahu?"
Youjirou punya
jaringan pertemanan yang jauh lebih luas dariku, dia suka ikut-ikutan tren, dan
tahu banyak soal keadaan sekolah. Aku pikir dia pasti tahu soal Junna, apalagi kalau gadis
itu cantik.
"...... Tidak
tahu."
Youjirou mengerutkan
kening. Ia mengetuk pelipisnya dengan jari.
"Warna bagian dalam
ungu kebiruan dan wadah gitar. Kalau ciri-cirinya sejelas itu, harusnya dia
jadi pusat perhatian. Apa karena cuma warna bagian dalam jadi tidak disadari?
Anak band pun banyak. Jangan-jangan sebenarnya dia tidak secantik itu, cuma
selera Shigure saja yang aneh──"
"Tidak."
Aku langsung membantah pernyataan Youjirou.
Junna adalah gadis cantik yang akan diakui oleh 100 dari 100 orang. Meskipun aku tidak
menyangkal kalau seleraku mungkin berbeda dari selera umum.
"...... Ah, iya.
Kalau Shigure sampai menjamin begitu, pasti memang begitu. Kalau begitu, makin
aneh. Bagaimana bisa mataku
melewatkan gadis cantik, apalagi satu sekolah..."
"Namanya Amamori
Junna."
"Amamori Junna? Belum pernah dengar."
Youjirou bersedekap. Lalu,
"Woi, Haruka!"
Dia berteriak. Salah satu siswi di kelompok
yang sedang mengobrol di depan kelas bereaksi dan menatap kami dengan curiga.
"...... Apa?"
"Sini sebentar.
Sini!"
"Hah? Males..."
Siswi yang dipanggil itu
mengomel pada Youjirou yang melambai-lambaikan tangan.
Namanya Yamada Haruka.
Anggota klub tenis dan teman masa kecil Youjirou. Menggoyangkan kuncir kuda
yang diikat tinggi, dengan tatapan tajam dan kaki panjangnya, ia berjalan
mendekat.
"Apa?"
Seperti tatapannya,
tekanan suaranya juga kuat. Namun Youjirou tidak gentar,
"Kamu tahu anak
bernama Amamori Junna? Kelas satu di sini."
Tanyanya. Ekspresi Yamada
menjadi makin ketus.
"Enggak, enggak
tahu... Kamu mau merayu dia atau gimana? Kuzujirou (Youjirou
Sampah)."
"Bukan aku, tapi
Shigure."
"Eh."
Mata Yamada yang tadinya
menyipit tajam kini membulat, dan ia menatapku.
"......
Kurimoto-kun?"
"Tumben, ya?"
"Iya, tumben.
Lagipula, tak disangka. Kurimoto-kun ternyata punya ketertarikan sama
cewek..."
"Ya namanya juga
laki-laki seumuran."
Aku mengomel pada Yamada
yang terkejut. Karena dia teman masa kecil Youjirou dan sekelas, aku pernah
beberapa kali bicara dengan Yamada, tapi tidak menyangka dia punya kesan
seperti itu tentangku.
"...... Aku tidak
sebrengsek Kuzujirou, tapi ya lumayanlah?"
Kuzujirou adalah julukan Youjirou.
Menurut Yamada, Youjirou sejak dulu adalah tukang rayu dan hidung belang;
julukan itu muncul karena saat SMP dia pernah merayu empat gadis sekaligus. Kuzu
(sampah) adalah plesetan dari Kuzumi.
"Aha, gitu ya. Kalau
bukan sampah, berarti aman."
Ia tertawa kecil sambil
menahan mulutnya.
Sikap Yamada yang ketus
hanya ditujukan pada orang seperti Youjirou si sampah. Pada dasarnya dia gadis
yang ceria dan mudah diajak bicara. Matanya yang jernih bersinar karena rasa
ingin tahu saat dia berjongkok di depan mejaku.
"──Terus?
Kurimoto-kun yang lagi puber ini mau merayu gadis yang seperti apa?"
Jika Junna adalah langit
mendung saat hujan, Yamada mengingatkanku pada langit biru cerah tanpa awan.
Aku menceritakan ciri-ciri
Junna pada Yamada yang punya koneksi luas seperti Youjirou dan bertanya apakah
dia tahu sesuatu, tapi tetap saja tidak ada informasi yang didapat.
Gadis yang hanya bisa
kutemui di ruang audio-visual saat hari hujan──
Siapa sebenarnya dia?
☂
Kalau ingin tahu, tanyakan
saja langsung.
Sepulang sekolah. Di
tengah hujan yang turun deras seperti pagi tadi, aku mengunjungi ruang
audio-visual dan melihat sosok Junna yang sedang memainkan gitarnya dengan mata
mengantuk.
Dia tidak memakai headphone,
dan karena dia yang pertama kali menyadari kedatanganku, dia menghentikan tuning
gitarnya dan menyapaku.
"Selamat pagi,
Shigure."
"Oh, selamat pagi...
atau bagaimana ya?"
"Di industri ini,
kita selalu bilang selamat pagi."
"Industri apa
itu? Jangan bilang kamu kesiangan lagi?"
"Enggak. Hari ini
aku datang dari pagi dengan benar. Hebat, kan?"
"Memangnya
hebat?"
Aku tersenyum kecut
pada Junna yang membanggakan diri, meletakkan tas enamel yang penuh
sesak dengan baju olahraga dan buku pelajaran di atas meja, lalu mengambil
posisi—satu baris di depan Junna—dan memutar tubuhku ke belakang. Lalu aku
memulai. Lebih baik lakukan sekarang.
"Ngomong-ngomong──"
──Junna kelas berapa?
Aku hendak bertanya, tapi pertanyaannya tersangkut di tenggorokan.
Yang mengganjal adalah
cara bicara Junna. Bagi kami murid sekolah, pergi ke sekolah di pagi hari
adalah hal yang normal, tapi apakah bagi Junna itu berbeda?
"............"
Junna menatapku dari
bawah. Setelah jeda beberapa detik, aku melanjutkan kata-kataku.
"Gitar itu..."
Yang keluar ternyata bukan
pertanyaan yang sudah kusiapkan.
"Itu Telecaster?"
Entah mengapa, aku merasa
seperti tidak boleh menanyakannya. Jadi aku asal memutar otak untuk mencari
pertanyaan lain dan melontarkannya.
Saat aku menanyakan hal
itu sambil melihat gitar dengan bodi surf green, pickguard putih,
dan komponen emas yang berkilau, Junna menggerakkan jarinya tanda 'salah'.
"Mirip, tapi
beda. Ini gitar buatan Jepang bernama Reggae Master dari MOON."
"Reggae?"
"Iya. Reggae yang diadopsi oleh
band SiM itu."
"Kamu suka? Rasanya itu musik yang punya
imej 'positif' (yang)."
Di benakku, terbayang sosok Junna yang
melompat-lompat di pantai dengan kacamata hitam sambil memutar-mutar handuk di
bawah terik matahari. Rasanya janggal sekali.
"Aku tidak benci. Secara musikalitas,
banyak elemen yang kusukai... Tapi reggae tidak ada hubungannya dengan
alasanku memilih gitar ini. Kamu tidak tahu?"
"............"
Sama sekali tidak tahu.
"Karena Igarashi-san
memakainya."
"Igarashi-san?"
"Gitaris
sekaligus vokalis Syrup."
Syrup alias Syrup 16g adalah band depressive
rock yang representatif.
Dikatakan bahwa mereka disebut sebagai 'King of
Depressive Rock' dan menjadi pemicu terciptanya kata depressive rock. Di kalangan penggemar,
mereka mungkin yang paling terkenal, dan tentu saja aku tahu.
Hanya saja──
"Ah, begitu ya.
Aku tidak tahu itu. Aku memang mendengar berbagai macam musik, tapi aku hampir
tidak pernah mencari tahu informasi tentang bandnya. Sejujurnya, aku bahkan
tidak tahu nama anggota sebagian besar band."
"Eh..."
Junna terdiam,
mengeluarkan suara yang terdengar seperti terkejut sekaligus heran. Apakah dia
kecewa? Aku bertanya dengan was-was pada Junna yang emosinya tidak terbaca dari
ekspresinya.
"A, apa tidak boleh?
Gagal jadi otaku?"
"──Eh? Ah,
bukan."
Setelah tertegun sejenak,
Junna menggelengkan kepalanya lebar-lebar ke kiri dan ke kanan.
Rambutnya bergoyang,
memperlihatkan warna bagian dalam ungu kebiruannya. Jarang sekali Junna
bereaksi seheboh ini.
"Menurutku tidak
begitu. Cara menikmati musik itu tergantung orangnya. Aku memang orang yang
lumayan suka riset, tapi... soal latar belakang si pembuat, kehidupan
pribadinya, atau latar belakang terciptanya lagu itu... menurutku kalau kita
tidak terlalu mendalami pemahamannya, kita malah bisa lebih menikmati nilai
dari musik itu sendiri? Ya, kurasa tidak apa-apa. Tidak perlu mencari tahu
sana-sini. Kamu, Shigure."
Dia bicara dengan lancar
dan cepat. Aku merasa lega dan keteganganku mencair.
"......Hm. Begitu
ya."
Lebih baik tidak mencari
tahu sana-sini. Sekarang kami memang sedang bicara soal musik, tapi aku
berpikir, hal yang sama mungkin berlaku untuk diri Junna sendiri.
Waktu yang kuhabiskan
bertemu dengan Junna di sepulang sekolah hari hujan ini sangat menyenangkan.
Kalau begitu, bukankah cukup dengan itu saja?
Tidak perlu memaksakan
diri untuk mencari tahu atau menyelidiki jati diri Junna hanya karena aku
penasaran.
──Mari nikmati saja secara
murni.
Karena Junna pasti juga
berharap aku melakukan itu.
Namun, pertanyaan yang
kutelan tadi, tanpa diduga, akan segera terjawab.
☂
Pada jam keempat hari
berikutnya, aku cedera saat pelajaran olahraga.
Cuaca cerah. Saat bermain
sepak bola di lapangan yang belum sepenuhnya kering, kakiku tersangkut oleh
lawan dan aku jatuh dengan keras──lututku lecet.
Untungnya cederanya tidak
seberapa dan aku melanjutkan permainan, tapi──
"Kurimoto! Pergi ke
ruang kesehatan!"
Atas desakan guru
olahraga, dengan enggan aku meninggalkan pelajaran saat pertandingan berakhir
dan mengunjungi ruang kesehatan. Tidak ada murid yang menemani.
"...... Hah. Kalau
bisa, aku tidak mau ke sini, sih."
Pasalnya, guru kesehatan
di sekolah kami punya reputasi yang sangat buruk. Konon:
"Setelah mengetuk
pintu, disuruh 'tunggu' seperti anjing, lalu dibiarkan menunggu sampai lima
menit."
"Saat bilang ingin
pakai kasur karena tidak enak badan, malah disuruh tidur di lantai."
"Cara mengobati dan
cara bicaranya kasar, saat datang untuk mengobati luka di tubuh, malah dapat
luka di hati."
"Terdengar
teriakan manusia yang tidak terdengar seperti dari dunia ini dari dalam. Aku
takut untuk masuk."
Dan masih banyak lagi.
Menurut rumor, dia perempuan dan bermarga Akagi.
Di kalangan murid, dia
ditakuti dengan julukan 'Iblis Merah'. Siswa senior klub atletik bahkan begitu
benci menggunakan ruang kesehatan sampai-sampai mereka membawa kotak P3K
sendiri.
Karena itu, pengguna ruang
kesehatan di sekolah kami sangat sedikit, dan ini pertama kalinya bagiku. Aku
menarik napas dalam-dalam di depan pintu, lalu mengetuk dengan sopan.
"...... Masuk."
Aku sempat khawatir kalau
dijawab 'tunggu', tapi kekhawatiranku tidak terjadi. Suara perempuan yang
rendah dan teredam. Teriakan──tidak terdengar. Aku membuka pintu.
Udara yang didinginkan AC
membelai kulitku yang berkeringat, dan bau cairan desinfektan menusuk hidung.
"Apa?
Membolos?"
Begitu masuk, serangan
langsung dilayangkan. Seorang wanita berambut hitam pendek yang memakai masker
kain non-anyaman menatapku dengan mata penuh kecurigaan dari meja tengah.
Dia mengenakan jas lab
dengan berantakan, memperlihatkan bahu putihnya dari blus rajut tanpa lengan.
Di bawahnya dia memakai rok ketat yang pendek.
Padahal dia sedang
duduk menyilangkan kaki, jadi aku bingung harus memandang ke mana. Panas dari
koridor dan udara dingin di dalam ruangan beradu, membelai kulit dengan hawa
hangat.
"T,
tidak..."
Aku menutup pintu dan
mendekati wanita yang kupikir adalah Akagi dengan perasaan was-was.
"Saya lecet di lutut
saat pelajaran olahraga."
"Hmph, bodoh."
Dia memaki dengan nada
suara serak yang tajam—mengingatkanku pada pisau. Saat aku membeku, Akagi
menurunkan kakinya, menghela napas panjang dengan sengaja,
"...... Kemari. Aku
obati."
Katanya dengan ketus. Dia
terlihat sangat malas.
"Luka begini, cuci
dengan air lalu olesi ludah pun sembuh."
"Ludah itu tidak
higienis, kan."
Saat aku refleks
membalas, Akagi menatap tajam, "──Apa?".
Aku tidak bisa melihat
wajahnya karena tertutup masker, tapi sudut matanya yang tajam dengan riasan
merah memberikan kesan wanita cantik yang keras kepala. Tekanan intimidasi
sesuai dengan julukannya.
"Apa kamu juga
bilang hal seperti itu saat berciuman dengan wanita?"
"...... Ya?"
Aku mengernyitkan dahi
mendengar balasan yang tak terduga. Lalu, Akagi meringis,
"Ya? 'Ya', katamu? Rendah sekali."
"Aku tidak bilang
'Ya' dalam artian YES!"
Aku tidak sengaja
membalas dengan bahasa santai.
Kupikir aku akan
dimarahi──tapi ternyata.
"Kuku, pasti begitu
lah."
Akagi tertawa dengan geli,
"Pasti kamu belum
pernah berciuman, kan?"
Dia mendengus
meremehkanku.
"Sejak masuk
ruangan, kamu terus bingung memandang ke mana. Meski terlihat tenang, gerakan matamu sibuk sekali. Itu
bukti kamu belum terbiasa dengan wanita."
Saat Akagi bergerak,
gundukan melimpah yang menekan kain rajut tipisnya bergoyang. Jika aku melihat
ke bawah, kaki sensual yang terbungkus stoking jaring sudah menanti.
"...... Serahkan saja
pada imajinasimu."
Aku membuang muka dari
Akagi dan menahan bibirku.
Meskipun berbeda dari
rumor, situasi ini tetap sulit dan membuatku gelisah. Aku tahu dia sedang
mempermainkanku dengan godaan dan kata-kata sensual yang kelewat batas, dan dia
menikmati reaksinya.
Begitu urusan selesai, aku
harus segera kabur. Saat aku berpikir begitu, dan sedang diobati dengan
teliti—berbeda dari rumor—itulah saatnya.
Di titik pandangku yang
teralihkan, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Kasur yang diletakkan
di paling pojok. Apakah ada pengguna di
sana? Dari ujung tirai yang tertutup rapat, aku bisa melihat sesuatu yang
tampak seperti wadah gitar hitam. Di ritsletingnya tergantung boneka katak ungu
kebiruan.
"──Junna?"
Akagi menghentikan
tangannya yang sedang mensterilkan luka mendengar gumamanku.
"Kamu, kenal
Amamori?"
"Eh? Eh, yah,
begitulah..."
"Hubungan macam
apa?"
"H, hubungan?
Hmm..."
Aku jadi kesulitan
menjawab. Hubungan di mana kami hanya bertemu di sepulang sekolah saat hujan
lalu mengobrol. Bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkannya? Kenalan?
Teman?
Saat aku mencari jawaban,
tirai kasur terbuka dengan suara nyaring.
"...... Sudah siang.
Sensei, aku lapar──"
Orang yang muncul sambil
melepas headphone memang Junna. Saat matanya bertemu denganku, Junna
membeku seperti batu dan terdiam. Sesaat kemudian,
"──Shigure?"
Suara Junna yang keluar
begitu lirih dan gemetar.
"Kenapa kamu... ada
di sini?"
"Aku cedera saat
pelajaran olahraga. Junna sendiri, kenapa ada di sini? Apa kamu sakit?"
"A, aku..."
Junna menunduk dan
ragu-ragu untuk bicara.
"...................."
Aku menunggu sebentar,
tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya, hanya terdiam dengan tangan yang
menggenggam erat ujung roknya. Aku merasa bingung.
"Junna...?"
"Amamori itu,"
Akagi yang membuka mulut.
Dia menempelkan plester pada luka yang baru saja disterilkan, lalu melirik
Junna yang menunduk, lalu memberitahuku.
"Dia melakukan Hokenshitsu
Toukou (bersekolah di ruang kesehatan)."
☂
Hokenshitsu Toukou adalah pergi ke sekolah
bukan ke ruang kelas, melainkan ke ruang kesehatan, dan menghabiskan sebagian
besar kehidupan sekolah di sana—tampaknya begitu.
Alih-alih mengikuti kelas
bersama teman-teman, dia melakukan belajar mandiri dengan bantuan guru
kesehatan, sambil tetap mengumpulkan kredit dan hari kehadiran yang diperlukan
untuk lulus.
"Ya, singkatnya, dia
selangkah lagi jadi anak futoukou (tidak bersekolah). Bukan memutus
hubungan dengan sekolah secara total seperti anak yang tidak bersekolah, tapi
dengan terus datang ke tempat terbatas bernama ruang kesehatan, dia bisa tetap
bertahan sebagai 'pelajar'. Kurang lebih begitu."
"...... Begitu
ya."
Setelah selesai
mendengarkan penjelasan Akagi, aku memilih kata-kataku dengan hati-hati.
Setelah bingung apa yang
harus ditanyakan lebih dulu, aku menanyakan sesuatu yang membuatku khawatir
sejak mendengar istilah bersekolah di ruang kesehatan tadi.
"Apakah dia tidak
menderita penyakit serius? Seperti penyakit bawaan?"
"Ah, secara fisik dia
sehat sepenuhnya. Kalau dipaksa menyebutkan──"
"Bukan karena
penyakit mental juga, kok."
Junna, yang tadinya diam,
menyela ucapan Akagi.
Junna yang duduk di tepi
kasur mengayunkan kakinya, lalu melanjutkan dengan wajah datar seperti
biasanya.
"Hanya saja, aku suka
menyendiri... karena aku tidak mau berurusan dengan orang lain tanpa alasan,
makanya aku bersekolah di ruang kesehatan yang sepi orang seperti ini. Kalau di
kelas... sejak masuk sekolah, aku tidak pernah pergi ke sana sekalipun."
──Sejak masuk sekolah,
tidak pernah sekalipun. Begitu ya, aku paham. Itulah sebabnya Youjirou maupun
Yamada, tidak ada yang tahu soal Junna.
"Jam kedatanganku pun
kuatur. Kadang waktu pulang sekolah berpapasan, tapi aku berusaha keluar lewat
pintu belakang agar tidak mencolok."
"Kamu sangat
totalitas, ya..."
Memang benar, aku
tidak pernah melihatnya. Satu-satunya tempat—adalah di 'tempat itu'.
"...... Lagipula,
kalau terus di ruang kesehatan aku bosan, jadi sepulang sekolah aku ke ruang
audio-visual. Kedap suaranya bagus dan aku bisa memainkan gitar, kalau panas
aku bisa menyalakan AC. Dilarang makan dan minum memang minusnya, tapi selain
itu tempat terbaik. Seperti studio."
"Sepulang sekolah,
orang-orang juga jarang datang ke sana."
"Iya, makanya aku
lengah. Aku lupa menguncinya. Lalu..."
Junna menatap ke luar
jendela. Tirai putih yang terbuka lebar.
Dia menyipitkan mata pada
sinar matahari yang memancar dari langit biru cerah, bukan langit mendung
seperti hari itu,
"Aku bisa bertemu
Shigure."
Gumamnnya.
"Aku suka menyendiri
dan tidak mau berurusan dengan orang lain tanpa alasan... tapi kalau Shigure,
tidak apa-apa."
Ekspresinya tidak terbaca.
Namun suaranya lembut, jernih, dan terasa seolah meresap dari lubuk hati
terdalam. Emosi yang murni dan tulus.
"Junna..."
Pasti ada alasannya.
Sulit dipercaya pihak
sekolah mengizinkan Hokenshitsu Toukou hanya dengan alasan 'suka
menyendiri'—masih ada sesuatu yang disembunyikan Junna.
Namun, meski begitu,
aku tidak ingin membongkarnya.
Jika Junna, yang
menghindari dan membenci interaksi dengan orang lain sampai harus sekolah di
ruang kesehatan, tetap ingin menerima keberadaanku.
"Aku punya satu
permintaan."
"......
Permintaan?"
Junna menatapku. Aku
membalas tatapan matanya yang tampak gelisah, lalu aku tersenyum,
"Ya."
"Mulai sekarang,
bukan hanya di ruang audio-visual, tapi di ruang kesehatan juga... apa aku
boleh datang menemui Junna? Saat istirahat siang, misalnya. Kalau di sini,
cuaca tidak jadi masalah."
"......!"
Junna membelalakkan mata.
Di wajah yang diwarnai keterkejutan, sukacita yang cerah mulai menyebar. Namun,
saat bibirnya merekah dan senyumnya hendak meledak,
"Y, ya..."
Junna menunduk dan
tiba-tiba menyembunyikan ekspresinya. Dia bergerak gelisah di atas kasur. Sinar
matahari yang cerah menerangi dan menembus rambut hitam dan ungu kebiruannya
yang tergerai.
Dari celah rambut itu,
dia mengintipku, dan menjawab dengan suara yang menekan emosinya.
"Boleh. Aku juga
makan siang di sini... apa kamu mau makan bersama? Berdua saja..."
"Aku juga di sini,
lho? Maaf mengganggu kalian yang sedang tenggelam di dunia berdua,"
Akagi, yang tadi mematikan
mode mute dan menjadi bagian dari suasana, tertawa kecut.
☂
Makan siang di ruang
kesehatan adalah pengalaman pertama bagiku.
Bukan di kelas, bukan di
kantin, melainkan ruang kesehatan—ruang yang dipenuhi bau cairan desinfektan,
namun karena AC-nya dingin, tempat ini terasa nyaman.
Baru di awal minggu lalu
pakaian mulai diganti ke seragam musim panas, dan kedatangan musim panas yang
sesungguhnya masih agak lama, namun meski begitu, hari-hari cerah seperti hari
ini terasa cukup lembap dan panas.
Di sekolah kami yang
fasilitas AC-nya hanya dipasang di tempat-tempat terbatas seperti ruang guru
dan perpustakaan, ruang kesehatan adalah oasis yang sangat berharga.
"Saat cuaca sedang
panas-panasnya, orang-orang menyerbu ke sini sampai rasanya
menjengkelkan," ujar Akagi yang duduk di kursi sambil menyilangkan kaki,
lalu mengangkat bahunya yang terbuka.
"Meski tidak
sedang sakit pun mereka datang. Makanya, agar murid-murid merasa 'sebisa
mungkin tidak ingin menggunakan ruangan ini', aku sengaja bersikap seburuk
mungkin."
Bagaimana bisa sikap
seperti itu dibenarkan sebagai guru kesehatan?—aku menelan komentar itu bersamaan dengan potongan
ayam goreng yang sedang kumakan.
Junna, yang duduk di
sebelahku, berkata sambil menusuk-nusuk paprika di kotak bekalnya dengan
sumpit.
"Tidak perlu
bersusah payah pun, mulut Sensei memang sudah terburuk. Apa makanya Sensei
menutupnya dengan masker?"
"Amamori."
Akagi melonggarkan
ekspresinya di balik masker.
"──Mau kukirim ke
rumah sakit?"
"Bagaimana bisa
ucapan seperti itu keluar dari seorang guru kesehatan!?"
Aku tidak tahan untuk
tidak memprotes, namun Junna tetap tenang,
"Tidak pada
kekerasan. Kata-kata kasar juga."
"Hmph... Paprika.
Jangan disisakan, ya?"
Akagi pun dengan santai
mengalihkan pembicaraan. Bagi mereka berdua, ini mungkin pertengkaran yang
biasa.
"Kalau tersisa satu
potong saja, aku tidak akan membuatkannya lagi untukmu."
"...... Jahat."
Junna mengerutkan kening,
lalu memasukkan paprika yang tadi ia mainkan dengan ujung sumpit ke dalam
mulutnya.
"──Hm......
Ternyata tidak sepahit yang kukira. Malah enak?"
Aku mengalihkan
pandangan dari Junna yang tampak heran, lalu melihat ke arah Akagi yang duduk
di depanku.
"Bekal Junna ini,
Sensei yang buatkan?"
"Ya. Amamori itu
pemilih soal makanan."
Bekal yang dibentangkan
Junna tampak cukup banyak bagi ukuran anak perempuan, penuh dengan aneka
lauk-pauk yang penuh warna, dan terlihat dibuat dengan penuh usaha.
Ada tumis paprika dan ikan
teri, telur dadar dengan daun shiso, tumis wortel dan akar burdock (kinpira),
brokoli, daging babi jahe... nasinya adalah nasi biji-bijian, ditaburi bumbu shiso
merah. Bahkan sebagai hidangan penutup, ada yogurt yang diberi selai merah.
"Kalau dibiarkan, dia
hanya akan makan roti manis, camilan, dan makanan tidak sehat lainnya. Jadi,
sebagai guru kesehatan, aku menyiapkan makanan sehat dengan nutrisi yang
seimbang untuknya."
"Setiap
hari?"
"Setiap hari.
Omong-omong, aku tidak menggunakan produk instan sama sekali. Semuanya buatan
sendiri."
"H, hebat
sekali..."
Aku menatap potongan
ayam goreng beku di bekalku dan bergumam. Menurutku produk instan pun sudah
cukup enak, tapi dedikasi ini luar biasa.
"Mulutnya memang
buruk," Junna mengunyah daging babi jahe yang banyak menggunakan irisan
bawang bombay tumis berwarna kecokelatan dengan penuh nikmat, lalu mengacungkan
jempolnya.
"Tapi masakannya luar
biasa."
"Terima kasih atas
pujiannya."
Akagi menyipitkan mata dan
tertawa. Aku mengubah persepsiku.
"Sensei, Anda
benar-benar teladan bagi guru kesehatan..."
Mungkin dia sebenarnya
adalah guru yang baik dan peduli pada muridnya, hanya saja mulutnya sedikit
kasar.
"Jujur saja, saya
pikir Anda adalah orang yang jauh lebih menakutkan. Sesuai rumornya."
"...... Rumor? Rumor
macam apa?"
"Rumor yang bilang
kalau mengetuk pintu, Sensei menyuruh 'tunggu' seperti memberi perintah pada
anjing, lalu membiarkan murid menunggu lima menit."
"Itu karena aku butuh
waktu untuk membuat Amamori bersembunyi."
"Atau kalau ada yang
ingin pakai kasur karena sakit, Sensei malah menyuruh tidur di lantai."
"Itu karena
jelas-jelas mereka cuma pura-pura sakit. Aku tidak masalah kalau aku yang
membolos, tapi aku tidak akan membiarkan muridku bolos."
"Ada juga rumor yang
bilang cara mengobati dan cara bicara Sensei kasar, dan kalau datang untuk
mengobati luka di tubuh, malah dapat luka di hati."
"Itu bohong. Terlepas
dari cara bicaranya, pengobatanku lembut dan teliti, kan?"
"Katanya juga ada
suara teriakan orang dari dalam yang tidak terdengar seperti manusia."
"Itu death voice. Itu musik Crossfaith
atau Rebellion yang kuputar dengan volume maksimal."
"Tolong jangan setel loud rock di
ruang kesehatan."
"Mungkin itu lagu Maximum the Hormone
atau Fear, and Loathing in Las Vegas yang sedang kudengarkan?"
"Junna, kamu juga harus pakai headphone
dengan benar."
"Apa kamu tidak pernah... ingin mandi
suara, tidak hanya lewat telinga, tapi dengan seluruh tubuh?"
"...... Pernah sih. Tapi aku bilang
pilihlah tempatnya, si Gadis Noisemaker."
"Hm. Keren ya, NOISEMAKER."
"Aku tidak sedang
membicarakan band. Aku paling suka lagu
'NAME'."
Saat kami sedang mengobrol
seperti biasanya, Akagi mendecakkan lidah, "......Kukuk." Dia
bertopang dagu di atas meja sambil memperhatikan kami.
"Kalian berdua ini
akrab sekali, ya. Baru kali ini aku melihat Amamori yang cerewet seperti
ini."
"......
Begitukah?"
Aku sempat berkesan bahwa
Junna hanya tidak ramah, tapi ternyata dia cukup banyak bicara—atau lebih
tepatnya, dia suka melontarkan lelucon. Ternyata saat berdua saja dengan Akagi,
dia tidak banyak bicara. Bahkan saat makan pun hampir hening.
"Malah, baru kali ini
aku diberi komentar soal masakanku. Biasanya dia cuma mengeluh, bilang ini
tidak suka, itu tidak suka."
"Hebat sekali Anda
terus memasakkannya setiap hari..."
Aku kembali merasa kagum.
Saat aku menoleh ke arah
Junna, Junna mungkin merasa sikapnya sedang dikritik, dia pun membuang muka
dengan kesal. Aku mengalihkan pandangan kembali ke Akagi dan bertanya.
"Lagipula, Sensei
tidak makan siang?"
Tidak ada bekal di
depan Akagi, dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mulai makan. Akagi
mengangguk, "Ya."
"Aku hanya makan
dua kali sehari. Siang tidak makan. Bekal ini juga dasarnya kubuat sekaligus
untuk stok, dan aku hanya memasukkan porsi yang tidak habis kumakan sendiri.
Bukan sesuatu yang merepotkan."
Ekspresi Akagi saat
berbicara begitu tidak bisa dibaca karena tertutup masker.
Namun, perhatian dan
kepeduliannya kepada Junna tersampaikan dengan jelas, dan aku merasa dia memang
guru yang baik.
"......
Sensei."
Junna membuka mulut.
Dia menatap wajah Akagi, hendak mengungkapkan rasa terima kasih yang biasanya
ia simpan dalam hati menjadi kata-kata──
"Tidak pernah
melepas masker sama sekali, ya."
──Ternyata tidak.
Justru di detik berikutnya, dia melontarkan hinaan yang keterlaluan.
"Jangan-jangan
orang sekolah berpikir, 'jangan-jangan dia jelek ya?'"
"......
Amamori."
Akagi tersenyum.
Namun, matanya sama sekali tidak terlihat sedang tertawa.
"Kamu, mulai
besok tidak usah dapat bekal ya."
☂
Sejak hari itu, aku
mulai mengunjungi ruang kesehatan saat istirahat siang, dan sekarang aku bisa
bertemu Junna setiap hari meski tidak sedang hujan.
Namun, hari berikutnya
dan hari setelahnya cuaca terus hujan. Di Kanto, diumumkan bahwa musim hujan
telah tiba sedikit lebih lambat. Dengan begitu, waktu yang kuhabiskan bersama
Junna secara otomatis bertambah, dan hasilnya──
"...... Shigure. Apa kamu mau makan wortel
shirishi (tumis wortel) ini?"
Junna bertanya sambil mendekatkan kursinya
sampai jaraknya lebih dekat dari biasanya, hingga bahu kami hampir bersentuhan.
Meskipun aku diam-diam menjauh, dia terus menggeser kursinya agar tetap
menempel, jadi itu percuma.
Aroma sampo manis tercium
dari rambut hitamnya yang berkilau.
"Enak, lho? Aaa..."
"Makan sendiri
sana."
Tanpa membuang waktu,
teguran Akagi terbang dari arah samping.
"Jangan karena kamu
benci wortel, kamu jadi memaksanya ke orang lain."
"Bukan begitu,
Sensei. Tujuannya bukan untuk memaksakan wortelnya, tapi tujuan utamanya adalah
untuk menyuapi Shigure dengan 'aaa'. Jangan salah paham."
"............"
Apakah aku harus
menanggapi ucapannya? Meskipun kata-katanya terdengar sentimental, suaranya dan
ekspresinya terasa kering, membuatku sulit menilai apakah dia sedang melucu
atau serius.
"Amamori."
Akagi menegur dengan nada
yang lebih rendah dari sebelumnya, dengan nada yang tidak membantah.
"Makan sendiri.
Keseimbangan nutrisimu yang sempurna akan rusak."
"...... Hmph."
Junna memajukan bibirnya
dan menurunkan sumpitnya. Aku merasa 'tertolong' di dalam hati. Jika bukan
karena interupsi Akagi, aku mungkin akan bingung harus bereaksi bagaimana dan
suasana akan menjadi canggung.
"...... Kalian
berdua. Apa kalian selalu bermesraan seperti itu?"
Akagi menghela napas
di balik maskernya dan bersedekap. Dia menatap kami berdua lekat-lekat lalu bertanya,
"Apa yang kalian
lakukan di ruang audio-visual sepulang sekolah?"
"Karena tempat itu
kedap suara, kami melakukan ini dan itu..."
"Mendengarkan gitar
yang dimainkan Junna, atau sekadar mengobrol biasa, kurasa."
Aku menjawab, mengabaikan
Junna yang berbicara dengan nada penuh makna.
"Kemarin dan sehari
sebelumnya, kami menonton film. Di layar besar."
Ruang audio-visual
dilengkapi dengan peralatan untuk memutar materi audio-visual, yaitu DVD dan
proyektor. Karena dilarang makan dan minum, kami tidak bisa makan berondong
jagung, tapi itu adalah lingkungan yang sempurna untuk menikmati film.
"...... Oh. Film apa
yang kalian tonton?"
"Kami menonton
rekomendasi satu sama lain. Aku menyarankan Se7en dan──"
"Aku menyarankan The
Mist."
"Kalian berdua sama
saja, hobi sekali menonton film yang membuat mual..."
"Selera filmku
cocok dengan Junna. Begitu juga buku dan musik. Alasan kami bisa langsung akrab pun karena kesukaan kami
pada musik minor yang sama."
Saat aku mengatakannya,
Junna mulai bersenandung di sampingku.
Sesekali, Junna memang
suka mulai bersenandung seperti ini.
Menurutnya sendiri,
melodinya tergantung pada 'suasana hati saat itu', tapi setiap kali terdengar
sangat merdu hingga membuatku terbuai.
"Musik minor?"
Akagi bertanya balik.
"Musik seperti depressive
rock yang agak lawas."
Sambil mendengarkan
gumaman lagu Junna, aku terus mengobrol dengan Akagi. Junna, yang sedang bersenandung, berhenti makan dan
memeluk ponselnya sambil mengayunkan tubuh ke kiri dan ke kanan.
"Kami berdua suka band bernama
YOHILA."
"──Apa?" Akagi mengerutkan kening.
Mungkin karena gumaman lagu Junna, dia tidak mendengarnya dengan jelas.
"YOHILA. Masih indie sih, tapi
lirik dan musiknya sangat sesuai seleraku... band baru yang disebut sebagai
'Depressive Rock Generasi Baru'. Sensei tidak tahu?"
"............"
Aku mengira dia akan langsung menjawab
"Tidak tahu" dalam hitungan detik, tapi Akagi terdiam. Dia menatapku
dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kurimoto, kau..."
──Saat itu, pintu ruang kesehatan diketuk
dengan pelan.
"......!"
Junna tersentak kaget
dan berhenti bersenandung.
Kami semua serempak
menoleh ke arah pintu.
Seharusnya papan
bertuliskan 'Tidak Ada' tergantung di pintu, tapi──
"Permisi!"
Pintu ditarik terbuka
tanpa memedulikan papan tersebut.
Yang muncul adalah seorang
siswa laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut dicat cokelat terang, dan seorang
siswi langsing dengan kuncir kuda—pasangan teman masa kecil, Youjirou dan
Yamada.
Waktu seolah terhenti
sejak pintu terbuka, dan keheningan yang mencekam memenuhi ruang yang dipenuhi
bau desinfektan itu. Keheningan itu dipecahkan oleh,
"Ehm...
Shigure?"
Youjirou, yang membuka
pintu.
Dia melihatku, lalu
menunjuk ke arah sebelahku dan bertanya,
"Jangan-jangan, gadis itu yang namanya... 'Amamori Junna'?"
☂
"──Yang
namanya?"
Junna menatapku
lekat-lekat.
Aku membuang muka dari
Junna dan menggaruk bagian belakang kepalaku, "Aah..."
Aku bisa dengan mudah
membayangkan kenapa ini terjadi.
Sebelum mulai datang ke
sini, aku biasanya makan siang di kelas bersama Youjirou. Lalu tiba-tiba, aku
berkata, "Mulai besok aku makan siang di tempat lain."
Meski aku mengarang alasan
seperti "ada teman dari kelas lain yang baru kukenal di klub
atletik," tentu saja dia akan curiga.
"Shigure sendiri yang
mengatakannya."
Youjirou melangkah masuk
dengan senyum ramah yang disukai orang-orang.
"Katanya kau
berkenalan dengan gadis yang cantik sekali!"
"Gadis yang cantik
sekali. Cantik sekali... cantik... hmm?"
Tatapan Junna yang tertuju
ke profil wajahku terasa semakin berat. Meski ingin menyangkal, aku tidak bisa
karena itu adalah fakta. Aku memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"...... Kalian
membuntutiku?"
"Iya. Karena kau baru
saja bicara begitu, aku curiga. Jadi aku memutuskan untuk memastikannya
sendiri. Sebenarnya siapa yang ditemui Shigure!"
"H, hei, aku tadi
menolak ikut, lho?"
Terhadap Youjirou yang
mengaku tanpa rasa bersalah, Yamada menutup pintu ruang kesehatan, melirik
Akagi sekilas, lalu berbisik, "Ma, maaf mengganggu..." sebelum
mendekat.
"Tapi, aku penasaran.
Gadis yang ingin kau rayu itu──"
"Aku tidak mencoba
merayunya, tahu!?"
Bukankah aku sudah
menyangkalnya dengan halus saat bicara pada Yamada tentang Junna? Lagipula,
tolong jangan bicara begitu di depan orangnya langsung.
Seperti yang diduga, Junna
menatapku tajam dengan mata sanpaku-nya,
"...................."
Dia menatapku seolah ingin
mengatakan sesuatu. Apakah dia curiga kalau aku pria yang ringan?
"A, aku benar-benar
tidak mencoba merayunya, ya?"
Saat aku menekankannya,
Junna mengerutkan kening. Apa itu malah makin memperburuk keadaan?
"Lagipula, Shigure.
Anak ini benar-benar imut sekali!"
Yang menyelamatkanku (?)
adalah Youjirou. Junna, yang wajahnya diintip, merasa takut ("Hih!?")
dan membeku.
Untuk menenangkan Junna,
Youjirou memperlebar senyumnya.
"Salam kenal,
Amamori-san! Aku Kuzumi Youjirou. Sahabat karib Shigure."
"Sahabat? Kau salah,
itu sahabat buruk."
"Aku Yamada Haruka!
Kalau dengan Kurimoto-kun... teman dari teman?"
"Aku sebenarnya ingin
kau bilang teman."
"............"
Junna terdiam,
membandingkan wajah Youjirou dan Yamada.
"Youjirou dan
Yamada..."
Gumamnya lirih, lalu
memiringkan kepala.
"RAD dan Jennifer
Yamada-san?"
"Cuma aku yang
dipanggil nama depan, menang!"
"Siapa itu Jennifer!?
Namaku Haruka!"
"Bukan Miso Shiru
Z (grup komedi), ya!"
Youjirou, Yamada, dan aku
bereaksi dan memprotes satu sama lain. Junna menunjuk ke arahku dan menyatakan,
"Shigure, lulus. Dua
orang lainnya tidak lulus."
"“Kenapaaaa!?”"
Jeritan Youjirou dan
Yamada bersahutan. Junna tidak menjawab, dia malah bersembunyi di balik
punggungku.
Sekadar informasi──RAD,
alias RADWIMPS, adalah band rock terkenal yang dipimpin oleh Yojiro
Noda. Adapun "Jennifer Yamada-san" adalah lagu yang relatif
kurang dikenal di antara lagu-lagu RAD yang populer.
Miso Shiru Z adalah band bertopeng
misterius yang memiliki hubungan persahabatan erat dengan RAD dan konon
mereka yang merilis lagu Jennifer Yamada-san.
"E-ehm,
Amamori-saaan?"
"............"
"Halo-halo?"
"......Aku tidak
berurusan dengan orang-orang yang tidak lulus seleksi."
Junna menjawab dengan
ketus pada Youjirou dan Yamada yang mencoba mengajaknya bicara, lalu dia duduk
kembali di kursinya. Dia memasang headphone yang tadinya menggantung di
lehernya, memutar musik, lalu kembali melanjutkan makannya dalam diam.
Layar ponsel yang
tergeletak di atas meja—lagu yang sedang diputar adalah Hikikomori Rorin
dari RAD.
Suara hujan dan deru
suara AC, ditambah suara musik yang bocor dari headphone-nya, mewarnai
keheningan yang turun.
Melihat Junna yang
tampak benar-benar mengurung diri di dunianya sendiri,
"......Amamori
itu, orang yang sangat pemalu pada orang asing," gumam Akagi yang sejak
tadi hanya mengamati situasi, lalu membuka suara.
"Dia menjalani Hokenshitsu
Toukou. Aku akan sangat terbantu jika kalian tidak menyebarkan hal
ini."
Mendengar kata-kata Akagi,
Youjirou dan Yamada saling berpandangan.
Mereka melirik ke arah
Junna yang tetap diam, terus menggerakkan sumpit dengan wajah masam sambil
tetap memakai headphone.
"A, aduh
kita..."
"Sepertinya sudah
mengganggu ya?"
Setelah kecewa, mereka
berdua menatapku sambil menangkupkan tangan, "Maaf ya!"
Aku pun merasa ingin
meminta maaf sama seperti mereka.
☂
"Tindakan tadi
keterlaluan, tahu."
Sepulang sekolah hari itu.
Saat aku berduaan saja dengan Junna di ruang audio-visual, aku mulai membahas
kejadian tadi siang.
Cuacanya masih hujan.
Karena hari ini terasa lembap dan panas, kami menyalakan AC. Namun, hawa yang
terasa lebih dingin dari biasanya mungkin bukan hanya disebabkan oleh AC itu
sendiri.
"Mereka berdua yang
asal membuntuti dan menerobos masuk memang salah. Tapi tetap saja, sikapmu
tidak ramah—eh, hei! Jangan pakai headphone-nya."
"......Muu. Shigure,
berisik."
Junna sedikit mengerutkan
kening setelah aku menurunkan headphone yang hendak dia pakai.
Junna lebih mudah
menunjukkan emosi negatif daripada emosi positif. Dia mengerucutkan bibirnya
lalu bergumam.
"Kan sudah kubilang.
Aku tidak mau... berurusan dengan orang asing yang tidak perlu. Tidak ramah pun
tidak apa-apa."
"Junna..."
"Aku tidak mau
mendengar omelan lagi. Bahkan suara Shigure pun akan kublokir."
Junna mengancamku
dengan menyiapkan headphone peredam bising berteknologi tinggi. Rupanya,
ketidaksukaan Junna pada orang asing jauh lebih serius dan parah daripada yang
kukira.
"Baiklah, aku
mengerti. Aku tidak akan bilang apa-apa lagi... aku tidak akan mengatakannya
lagi."
Aku menghela napas dan
mengangkat kedua tanganku.
"Sebagai
gantinya, bolehkah aku bertanya?"
Aku menatap mata Junna
lurus-lurus dan bertanya.
"Kenapa kamu bersikap
baik padaku? Karena selera kita cocok?"
"......Itu salah
satunya, sih."
Junna mengalihkan
pandangan dan menunduk.
"Yang paling utama
adalah... firasat?"
"Firasat,
katamu?"
"Lalu suaramu.
Penampilanmu. Suasananya... and more."
"Jangan bicara
seperti artis yang akan tampil di festival musik."
"Sama seperti saat
mendengar musik yang kusukai, aku merasakannya secara intuitif, 'Ah, orang ini
bagus.' Bukan berpikir, tapi merasakan. Itu alasannya, mengerti?"
"......Begitu
ya."
"And more."
"Tunggu, masih ada
lagi!?"
"Iya. Sebenarnya
pengumuman headliner-nya belum keluar."
Headliner adalah artis paling
terkenal dan utama yang tampil di festival musik. Dia ingin mengatakan bahwa
ada alasan yang lebih besar kenapa dia bersikap baik padaku, tapi mungkin
kurang sopan jika menanyakannya sekarang. Aku menahan diri untuk tidak
berkomentar, "Bukankah headliner biasanya diumumkan di awal?"
"Shigure,"
Junna bergumam lirih
dengan volume suara yang seolah akan tenggelam oleh suara hujan, namun entah
mengapa terdengar sangat jelas di telingaku.
"Meski tahu aku
menjalani Hokenshitsu Toukou, kamu tetap memperlakukanku seperti biasa.
Kalau begitu... mungkin tidak apa-apa. Aku akan mengungkap 'rahasia' satu
lagi."
"Eh?" Aku
terkejut, dan dari sudut mataku, aku melihat Junna mulai mengutak-atik
ponselnya.
Casing silikon berwarna ungu
kebiruan. Katak yang tergantung di ritsleting wadah gitarnya, serta warna
bagian dalam rambutnya—semuanya berwarna bunga hydrangea.
Dan bunga hydrangea,
punya nama lain──
'Shiyo-hira' (Kelopak empat).
"......Ini LINE-ku.
Tambahkan ya."
"O, oh..."
Bukankah tadi bilang tidak
pakai?—pikirku, tapi aku tetap
mengeluarkan ponselku dan memindai kode QR pertemanan yang ada di layarnya.
Nama akunnya adalah 'JUN',
dan ikonnya adalah ilustrasi bunga hydrangea yang terkena hujan. Itu
adalah logo band YOHILA.
"Dulu aku bohong
bilang tidak pakai... Karena sekarang aku memakainya terutama untuk
'pekerjaan', aku takut namaku akan ketahuan, jadi aku tidak bisa
memberitahumu."
Angin berhembus dan
aroma manis menggelitik hidungku. Saat aku mengangkat wajah dari layar ponsel,
mata Junna sudah berada tepat di depanku. Aku terperangkap dalam sepasang mata
yang dalam dan jernih seperti danau, membuat napasku tertahan.
"Yah, Shigure
yang tidak pernah mencari tahu soal 'si pembuat karya' mungkin tidak akan
menyadarinya. JUN itu, adalah namaku yang lain."
Sambil mengintip
wajahku dari jarak yang sangat dekat, Junna memberitahuku. Identitas istimewa
yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
"Aku adalah
vokalis sekaligus gitaris, pemain keyboard, dan komposer dari band
YOHILA."


Post a Comment