Interlude: Wet Reverb Heart
Malam hari. Irama gumaman
lagu yang kunyanyikan berpadu dengan suara hujan yang menghantam kota yang
telah terlelap. Aku—Amamori Junna—sedang dalam suasana hati yang sangat baik,
tidak seperti biasanya.
Aku duduk di tepi tempat
tidur, menggoyang-goyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan sambil melanjutkan
'pekerjaan' ini.
Bayangan anak laki-laki
yang baru saja kutemui muncul di benakku. Entah itu karena rambut aslinya atau
pengaruh perm, rambut hitamnya yang bergelombang kuat itu tampak ringan
secara keseluruhan, namun bagian poninya dipotong cukup tebal, dan dia memiliki
fitur wajah yang tidak terlalu menonjol, baik atau buruk.
Tubuhnya terlihat ramping,
tapi karena dia bergabung di klub olahraga, mungkin sebenarnya dia cukup
atletis tanpa lemak berlebih.
Saat aku hampir saja
membocorkan isi novel secara tidak sengaja, tangannya yang menyentuh bibirku
terasa keras dan dingin.
Apakah benar orang yang
tangannya dingin memiliki hati yang hangat? Saat memikirkannya, dadaku terasa
hangat dan meleleh.
Dia—orang yang mengatakan
bahwa 'hal yang kusukai' adalah sesuatu yang juga sangat dia sukai—
Melodi gumaman laguku
berubah. Mengikutinya, aku mempercepat pekerjaanku. Aku membungkus gulungan
tisu dengan kain hitam, memilinnya, lalu mengikatnya dengan tali.
Aku menggunakan kain hitam
daripada tisu putih karena katanya itu memberikan efek yang lebih kuat.
Kebalikan dari putih
adalah hitam, kebalikan dari cerah adalah hujan.
Menggantung teru-teru
bouzu secara terbalik untuk memohon hujan—itulah fure-fure bouzu.
Sambil bersenandung, aku
menyelesaikan penggantungan fure-fure bouzu hitam yang sudah jadi itu di
rel tirai, lalu menghela napas lega. Aku berhenti bersenandung,
"──Hm. Bagus
sekali... Tapi, apa aku membuatnya sedikit terlalu banyak ya?"
Aku menatap
pemandangan di depanku. Tirai berwarna ungu kebiruan. Di atasnya, bayang-bayang
hitam fure-fure bouzu berjajar rapat tanpa celah. Totalnya ada sekitar
tiga puluh buah. Tapi ya sudahlah, dengan membuat sebanyak ini, seharusnya
besok hujan akan terus turun. Pasti turun, kan?
"Baiklah, kalau
begitu──"
Setelah menyelesaikan
pekerjaan itu, aku beralih ke pekerjaan lain. Aku menghentikan rekaman yang
sedang berjalan di ponsel, lalu duduk di meja dan menghadap komputer.
Begitu kupasang headphone,
suara hujan menjauh, dan kebisingan lenyap dari dunia ini. Namun, melodi yang
meluap-luap di kepalaku tidak kunjung berhenti. Aku tidak bisa tidak memohon.
(Semoga besok juga turun hujan badai.)


Post a Comment