Chapter 5: Kalahkan Main Heroine (Wanita Utama)
Akhirnya, aku melakukan kontak dengan sang
heroine utama, Amane Tenshin.
Rasanya seperti baru saja encounter dengan
boss terakhir, tapi apakah keputusanku tadi sudah benar?
Aku sempat berpikir bahwa jika aku menerima
tekanan penuh dari heroine utama, karakter mob sepertiku pasti akan langsung
musnah, tapi aku merasa lega karena bisa melewatinya dengan selamat.
Yah, setidaknya aku berhasil mengetahui
kelemahan Amane. Meskipun sepertinya tidak akan begitu
berguna...
"Oh, selamat pagi, Akasaka-kun! Masih
mepet waktu lagi? Kalau tidak datang lebih cepat, nanti bisa terlambat
lho!"
"Pagi. Aku ini tipe orang yang susah
bangun pagi."
Seperti biasa, Amane sedang berinteraksi
dengan Akasaka Kouta.
Hanya saja, satu hal yang agak mengejutkan
adalah Akasaka tampaknya tidak memperlakukan Amane secara khusus.
"Akasaka-kun, selamat pagi!"
"Ah, pagi."
Nah, lihat itu, bahkan ketika disapa oleh
Akira Shiyodai, ia menanggapinya dengan cara yang kurang lebih sama seperti
saat menghadapi Amane.
Hal yang sama juga berlaku pada Haruka;
Akasaka tampaknya memperlakukan siapa pun dengan sikap yang sama.
Pantas saja dia adalah karakter protagonis,
sikapnya sangat netral dan adil di mana pun. Meskipun lawannya adalah heroine
utama, ia tidak memberikan perlakuan khusus ataupun mengubah sikapnya secara
terang-terangan.
Dengan kata lain, untuk saat ini, dia belum
masuk ke rute heroine mana pun.
Bagi aku yang berniat mencegah setiap heroine
masuk ke rute bad ending, ini adalah kabar baik.
Itu berarti masih ada ruang untuk menyesuaikan
rutenya. Meskipun, selama aku tidak tahu seberapa mirip dunia ini dengan game
aslinya, aku tidak bisa memastikan seberapa jauh usahaku akan berhasil.
Meski begitu, aku berniat melakukannya sebisa
mungkin sebagai seorang mob. Mungkin aku tidak bisa memberikan pengaruh
yang besar, tapi kalau sekadar memberikan saran...
"Takumi-cchi, selamat pagi!"
"!? P-pagi..."
Duduk di kursi milikku sendiri, aku disapa
oleh sang gadis sporty, Akira Shiyodai, yang langsung membuatku mengeluarkan
keringat dingin.
Sejak saat itu, dia jadi bersikap terlalu
akrab... rasanya bukan perasaan yang buruk sih, tapi agak merepotkan.
Karena Shiyodai berbadan tinggi dan mencolok,
dia langsung menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Nah, lihat itu,
mereka menatapku dengan ekspresi seolah berkata, "Kenapa cewek seperti itu
menyapa cowok itu?" atau "Apa cowok ini bayar dia pakai uang?"
Sebagai seorang yang introvert, situasi
ini cukup menyiksa. Aku sebenarnya ingin bersikap sekecil mungkin agar tidak
mencolok, tapi Shiyodai—yang seolah merepresentasikan kasta normie—sepertinya
tidak bisa memahami hal itu.
"Heeh? Nggak apa-apa kali, cuma nyapa
doang. Kamu terlalu parno, ya?"
Meskipun aku menegurnya secara halus, dia
hanya menganggapnya angin lalu.
Terlebih lagi, dia meletakkan tangannya di
bahuku sambil mendekatkan wajahnya, membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Makanya, jaraknya terlalu dekat! Dia mungkin
hanya berniat menunjukkan sikap bersahabat, tapi bagi seseorang yang tidak
punya kekebalan terhadap lawan jenis sepertiku, ini terlalu merangsang.
Suhu tubuh Shiyodai dapat kurasakan, dan aroma
segar menyerupai buah jeruk menguar di sekitarnya, membuatku merasa hampir
pusing.
"Aduh, reaksi Takumi-cchi ini lucu
banget, sih? Padahal cuma ditempel cewek aja langsung salah tingkah."
"Hentikan, jangan gitu. Kamu
sebaiknya lebih sadar diri dengan pesonamu. Kamu nggak separah itu dibilang
mirip cowok lho."
"Eh? B-begitu ya..."
Karena dia bertubuh tinggi untuk ukuran
wanita dan berambut pendek, dia mungkin sering dikira cowok, tapi dari sudut
pandang mana pun dia tetaplah seorang gadis.
Bagian-bagian tertentu miliknya cukup
menonjol, dan berada di dekatnya membuat aroma harum tercium... tidak mungkin
aku bisa memperlakukannya sama seperti memperlakukan sesama kaum Adam.
"Lagi pula, hal-hal seperti itu harusnya
kamu lakukan ke orang lain, bukan ke..."
"Kyaaaa! Jangan ngomong gitu—!"
"Muguh!?"
Shiyodai merangkul kepalaku, lalu membekap
mulutku dengan telapak tangannya.
Dada empuk dengan elastisitas luar biasa
menempel di sisi kepalaku, membuat kesadaranku nyaris melayang karena
kenyamanan yang luar biasa.
Sebenarnya apa yang dipikirkan anak ini? Apa
dia berniat membunuhku? Sungguh gadis yang menakutkan.
Saat aku meronta-ronta sambil bergumam tidak
jelas, dia bergumam, "Ah, maaf," lalu melepaskan tangannya dengan
cepat.
Fiuh, nyaris saja. Kalau tadi aku sampai
pingsan di kelas pagi-pagi buta, itu bakal menjadi insiden besar. Kalau sampai
diberitakan bahwa aku pingsan karena didekap oleh seorang siswi lalu dilarikan
ke rumah sakit dengan ambulans... itu akan memalukan setengah mati.
"Maaf, ya? Tapi, Takumi-cchi juga salah,
sih. Makanya jaga omonganmu, oke?"
"B-baiklah, maaf. Akan kuingat."
"Nah, begitu anak baik! Kalau begitu,
sampai nanti ya—!"
Sambil melambaikan tangan dengan ceria,
Shiyodai beranjak pergi dari mejaku.
Sungguh, merepotkan sekali. Hal-hal seperti
itu seharusnya dia tunjukkan pada Akasaka. Walaupun secara pribadi, kejadian
tadi adalah "masalah" yang menyenangkan bagiku sih.
Shiyodai cukup akrab menyapa Akasaka, dan
Haruka juga menyapa Akasaka meskipun dengan sedikit canggung.
Jika begitu, masalahnya ada pada...
sub-heroine yang ketiga.
Saat jam istirahat, aku pergi menuju ruang
istirahat di lantai dua gedung khusus.
Begitu aku mendudukkan diri di bangku panjang,
sesosok gadis tiba-tiba muncul tepat di sebelahku.
Saori Roppongi menatap ke ruang kosong
dengan ekspresi yang tampak melamun.
"Halo, Roppongi-san. Bagaimana
kelanjutannya setelah hari itu?"
"..."
Mendengar itu, Saori menolehkan wajahnya ke
arahku dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada apa-apa. Tidak ada
perkembangan."
"Begitu ya. Aku sempat mengira kalian
mungkin sempat mengobrol di luar pengamatanku... tapi sepertinya tidak juga,
ya."
Melihat Saori mengangguk pelan, aku menghela
napas.
Waktu kami mengobrol tempo hari, dia kelihatan
cukup bersemangat... tapi apakah bagi tipe seperti Saori, sekadar menyapa orang
lain saja sudah menjadi misi dengan tingkat kesulitan yang tinggi?
Karena aku tipe orang yang mirip dengannya,
aku sangat memahami perasaan itu. Menyapa orang yang bahkan tidak akrab adalah
event dengan tingkat kesulitan very hard, ya.
"Aku sebenarnya ingin mencoba
menyapanya... tapi aku tidak pernah menemukan kesempatan yang pas untuk
mendekati Akasaka-kun..."
"Jangan-jangan, kamu menunggu sampai
Akasaka kebetulan datang ke dekatmu?"
Melihat Saori kembali mengangguk, aku menghela
napas untuk kedua kalinya.
Sudah kuduga. Hal semacam itu memang sering
terjadi pada introvert dengan kemampuan komunikasi rendah. Aku dulu juga
begitu, jadi aku sangat paham.
Dia menunggu sampai sang target datang
mendekat, lalu mencoba menyapanya. Dengan cara seperti itu, sampai kapan pun
kalian tidak akan pernah bisa menjadi teman.
"Kecuali ada urusan tertentu, dia tidak
akan datang mendekat atas kemauannya sendiri. Kamu harus mendekatinya secara
proaktif."
"Tapi... kalau tidak ada urusan, rasanya
canggung..."
"Bukankah 'menyapa untuk meningkatkan
keintiman' itu sudah termasuk urusan? Tenang saja, dia tidak akan membencimu
hanya karena hal sepertitu."
"..."
Tentu saja itu akan berbeda cerita jika pihak
sana sudah membencimu, tapi kalau itu Akasaka, seharusnya aman.
Dia adalah karakter protagonis yang
memperlakukan siapa pun secara netral. Sekalipun Saori mengajaknya bicara, dia
pasti akan meresponnya seperti heroine yang lain.
"Apa benar-benar tidak apa-apa... aku
tidak akan diabaikan, kan?"
"Tentu saja tidak. Eh, tapi, kamu
harus mengucapkannya dengan suara yang jelas, ya? Suaramu itu terdengar agak
kecil."
"Itu... mungkin benar."
Saori mengangguk, lalu merapat mendekatiku
tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Secara tiba-tiba menempel begitu saja di
sebelahku, membuat jantungku berdegup kencang.
"T-tunggu, Roppongi-san? Ada apa
ini..."
Mendekatkan wajahnya kepadaku, Saori
berbisik dengan nada pelan.
"Kalau jaraknya segini, suaraku pasti
terdengar jelas..."
"B-begitu ya... kurasa sih kedengaran,
tapi..."
Ditatap dari jarak sedekat itu oleh sepasang
mata yang basah, aku langsung membeku.
Sudah kubilang, jaraknya terlalu dekat! Apa sensor jaraknya sedang rusak?
Pertumbuhan tubuh Saori terbilang cukup
baik, dan dia memancarkan atmosfer yang agak dewasa secara keseluruhan. Namun,
tampaknya dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya, sehingga dia hobi menutup
jarak secara tiba-tiba.
Bahu dan pahanya menempel erat padaku, dan
kelembutan serta kehangatan itu membuatku nyaris lumer. Ditambah lagi, wajahnya
yang jelita berada di jarak di mana hembusan napasnya bisa kurasakan, membuatku
benar-benar kerepotan. Ada aroma mawar yang tercium samar... gawat, aku hampir
terpesona dibuatnya.
"A-anu, Roppongi-san. Hal seperti ini
tidak baik, lho."
"Memangnya... apa yang tidak baik?"
"Maksudku, kebiasaan menempel pada
sembarang orang tanpa perhitungan itu sebaiknya dihentikan..."
"..."
Mendengar teguranku, Saori memiringkan
kepalanya dan bergumam pelan.
"Bukannya menempel pada sembarang
orang, kok. Aku kan memilih-milih orangnya."
"Eh? B-begitu ya?"
Kali ini giliran aku yang memiringkan
kepala kebingungan saat melihat Saori mengangguk.
Apa maksudnya itu? Apakah dia menempel padaku
karena aku adalah orangnya?
Mungkin dia berpikir bahwa mob sepertiku
adalah pilihan yang aman, jadi dia tanpa beban memperpendek jarak. Kalau
dipikir-pikir, diperlakukan sebagai mob sepertinya tidak buruk juga...
"...Kira-kira perlu mendekat lagi
nggak?"
"T-tidak! Kurasa jarak ini sudah batas maksimal! Lagian, kalau kamu tiba-tiba
mendekat seperti ini ke Akasaka, dia pasti akan kaget. Sebaiknya kamu jaga
jarak sedikit lagi."
"Apa kamu benci kalau aku mendekat?"
"Nggak benci, kok! Cuma, rasanya terlalu
merangsang... hahaha..."
"?"
Saori mengerjap-ngerjapkan matanya, tampak
kebingungan.
Hei, yang aneh itu sebenarnya kamu, tahu...
meskipun memancarkan aura dewasa, jangan menempel-nempel seperti anak kecil
dong. Repot urusannya, tahu rasa.
Pada akhirnya, hingga detik-detik terakhir
sebelum jam istirahat berakhir, Saori tetap menempel padaku tanpa mau beranjak
sedikit pun.
Apakah ini yang dinamakan hak istimewa
khusus karakter mob? Karena dianggap sebagai manusia yang cuma jadi latar
belakang, para heroine mendekat tanpa rasa waspada sedikit pun.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku
merasa bersyukur karena terlahir sebagai karakter mob... rasanya tidak buruk
juga.
Namun, aku tidak bisa terus-menerus merasa
senang dengan kebahagiaan kecil seperti itu.
Meskipun dia belum masuk ke rute khusus,
heroine yang memegang kendali sebagai pemimpin saat ini tetaplah Amane Tenshin.
Selama Amane masih ada, heroine lainnya tidak
akan memiliki peluang untuk menang. Jika
dibiarkan, siapa pun bisa saja terdorong masuk ke rute bad ending.
Skenario terburuknya, semua heroine selain
Amane berakhir di rute bad ending. Walaupun aku berharap hal itu tidak sampai
terjadi...
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Aku tahu aku harus melakukan sesuatu terhadap
Amane, tapi bagaimana caranya secara spesifik... tentu saja aku tidak bisa
menantangnya bertarung lalu mengalahkannya.
Semakin akrab dia dengan sang protagonis
Akasaka Kouta, semakin tinggi pula probabilitas heroine lain jatuh ke jurang
bad ending, jadi yang harus kulakukan adalah mencegah hal itu terjadi, bukan?
Dengan kata lain, aku harus melakukan sabotase
agar hubungan antara Amane Tenshin dan Akasaka Kouta tidak berkembang dan
mereka tidak menjadi terlalu akrab. Bagaimana kalau kita coba cara itu?
Bagi Amane, hal itu mungkin sangat
menyebalkan, tetapi ini demi menghindari bad ending yang terlalu mengenaskan.
Maaf ya Amane, terpaksa kamu harus jadi korban.
Jika sudah memutuskan, mari kita mulai kembali
investigasi terhadap Amane.
Kali ini bukan sekadar mengamati
gerak-geriknya. Aku harus melakukan sabotase agar dia tidak terlalu akrab
dengan Akasaka Kouta.
Dari posisiku, mungkin ini akan terasa sulit,
tapi bukan berarti mustahil. Mari kita jalani ini seolah-olah sedang
menaklukkan game di dunia nyata...
Pertama, Operasi Sabotase Bagian Pertama.
Selama jam istirahat di sela-sela pelajaran,
Amane sering terlihat mendekati Akasaka untuk mengajaknya ngobrol.
Jika aku mengganggu obrolan mereka berdua, itu
seharusnya bisa mencegah peningkatan tingkat keintiman di antara mereka.
Oleh karena itu, begitu bel istirahat
berbunyi, aku langsung bangkit dari kursi dan bergerak.
"Hei, Akasaka. Ada waktu sebentar?"
"O-oh. Ada perlu apa denganku?"
Aku segera melangkah menuju kursi Akasaka yang
terletak di barisan paling belakang dekat jendela—posisi yang benar-benar
diperuntukkan bagi seorang protagonis—dan memanggilnya.
Dia adalah karakter protagonis yang
memperlakukan siapa pun secara netral. Bahkan jika itu adalah karakter mob yang
hanya dianggap sebagai latar belakang.
Prediksiku tepat; meskipun aku, seseorang yang
hampir tidak pernah berbicara dengannya, mendadak mengajaknya bicara, Akasaka
menanggapinya dengan wajar.
Wah, orang ini benar-benar baik, ya. Mau
meladeni orang sepertiku. Layak disebut sebagai sosok protagonis sejati.
Meskipun aku melempar topik remeh seputar
cuaca atau acara televisi yang tidak penting, ia mendengarkan dan meresponnya
dengan sungguh-sungguh.
Mengingat dia bahkan tidak mengatakan
kalimat seperti "Jadi, sebenarnya ada keperluan apa?", karakternya
benar-benar matang. Jauh berbeda dariku.
Sementara itu, Amane tidak terlihat
mendekati kursi Akasaka. Mungkin dia merasa tidak enak karena mengganggu
obrolan antar pria. Untuk saat ini, operasi pertama ini sukses besar.
Operasi Sabotase Bagian Kedua.
Akan terlihat aneh jika hanya aku—yang
sama sekali tidak akrab dengannya—yang terus-menerus mengajaknya ngobrol.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
mengandalkan support. Sebelum pelajaran berakhir, aku menghubunginya
menggunakan aplikasi perpesanan di ponsel dan memberikan instruksi: "Ajak
Akasaka ngobrol begitu jam istirahat mulai."
Si gadis sporty golongan normie, Akira
Shiyodai, langsung memberikan lampu hijau. Begitu pelajaran usai, gerakannya
jauh lebih cepat dariku; dia langsung meluncur ke kursi Akasaka dan mengajaknya
ngobrol.
"Akasaka-kun, sudah kerjakan PR bahasa
Inggris belum? Aku sama sekali belum sempat, nih."
"Hah, kamu belum kerjakan sama sekali? Bukannya itu gawat?"
"B-bukan begitu, kan? Boleh contek,
ya?"
"Haduh..."
Bagus, percakapan mereka terjalin dengan
baik. Hebat sekali.
Di sisi lain, Amane tampak mengobrol
dengan teman-teman wanitanya sambil sesekali melirik ke arah Akasaka. Meskipun dia mungkin penasaran, dia rupanya tidak berniat menyela
percakapan mereka berdua.
Operasi Sabotase Bagian Ketiga.
Di jam pelajaran berikutnya, aku mengirimkan
pesan lewat aplikasi dan memberikan instruksi: "Pergi ke kursi Akasaka dan
ajak dia ngobrol saat jam istirahat nanti."
Saori Roppongi membalas pesannya dengan
tulisan: "Kenapa?" Hei, kenapa pakai bertanya segala. Bukankah aku
sudah sering menyuruhmu mencoba mengajak Akasaka ngobrol sejak dulu?
'Pokoknya ajak dia ngobrol. Kalau dibiarkan
begini, hubungan kalian tidak akan pernah berkembang.'
'Tapi, mungkin aku akan mengganggunya.'
'Tidak apa-apa. Tidak akan ada orang yang
merasa terganggu jika diajak ngobrol oleh gadis manis sepertimu.' 'Aku jamin.'
'Manis itu... maksudmu aku?'
'Betul.' 'Makanya, lebih percaya dirilah.'
'...'
'Halo?' 'Woi, ada apa?'
Di tengah-tengah percakapan lewat aplikasi
tersebut, Saori tiba-tiba berhenti membalas. Kenapa? Anak ini benar-benar sulit
dimengerti seperti biasanya.
Begitu jam istirahat dimulai, Saori bangkit
dari kursinya dan berjalan dengan langkah lambat menuju kursi Akasaka, tapi
Amane bergerak jauh lebih cepat darinya.
Karena keduluan oleh Amane, Saori akhirnya
hanya mondar-mandir kebingungan di sekitar kursi Akasaka. Tidak lama kemudian,
dia berbalik arah, menghampiriku, lalu berbisik pelan.
"Gagal. Mana mungkin aku bisa menyela
obrolan mereka berdua..."
"B-begitu ya. Kalau begitu, mari kita
tunggu kesempatan berikutnya."
Sambil mengangguk lesu, Saori kembali ke
kursi miliknya sendiri.
Apakah ini sebuah kegagalan? Mengirimkan
Saori yang berhati lambat ke dalam misi yang menuntut kecepatan tinggi ternyata
adalah keputusan yang keliru.
Operasi Sabotase Bagian Keempat.
Pelajaran pilihan, seni rupa. Para siswa
dibagi menjadi dua kelompok: seni rupa atau musik. Ngomong-ngomong, meskipun
disebut sebagai mata pelajaran pilihan, bukan berarti kita bisa memilih
sebebasnya; terkadang kita malah dilempar ke mata pelajaran dengan jumlah
peminat yang lebih sedikit alih-alih pilihan utama kita.
Untungnya, aku mendapat jadwal pelajaran seni
rupa yang sama dengan Akasaka dan Amane. Dan kebetulan, Haruka Momomichi juga
berada di kelas seni rupa yang sama.
Pelajaran seni rupa, ya. Kalau tidak salah, di
game aslinya juga ada event di sini. Event klasik yang sering muncul.
"Bentuklah pasangan pria dan wanita, lalu
buatlah lukisan potret wajah satu sama lain."
Ah, benar dugaanku. Sesuai perkiraan. Aku
mengangguk setelah mendengarkan instruksi yang diberikan oleh guru pengampu
seni rupa.
Ini pada dasarnya adalah event yang dirancang
untuk meningkatkan tingkat keintiman antara protagonis dan heroine. Rupanya
event ini juga tercermin di dunia nyata.
Jika begitu, aku tidak boleh menyia-nyiakan
kesempatan ini. Aku segera mendekati Haruka dan
membisikkan instruksi.
"Ini kesempatanmu, Momomichi-san. Sapa
Akasaka dan ajak dia berpasangan."
"Eeeh!? T-tapi, mendadak begitu...
bagaimana kalau aku ditolak..."
"Tenang saja. Akasaka pasti akan
menerimanya. Cepat datangi dia sebelum dia bingung
memilih pasangan dengan orang lain."
"B-baiklah."
Aku mendorong punggung Haruka dan
mengarahkannya untuk mendekati Akasaka.
Nah, sekarang giliranku yang harus
bergerak. Amane Tenshin ada di sini. Amane tidak mungkin
melewatkan kesempatan emas seperti ini. Dia pasti berniat untuk berpasangan
dengan Akasaka.
Sebelum hal itu terjadi, aku harus
menghentikan langkah Amane. Aku mendekati Amane—yang kelihatannya sedang
mencari seseorang, atau lebih tepatnya mencari Akasaka—lalu menyapanya.
"Halo, Tenshin-san. Sudah menentukan mau
berpasangan dengan siapa?"
"Eh? Ah, um, belum sih..."
Amane membelalakkan matanya saat aku
menyapanya. Apakah dia tidak menyangka akan disapa oleh karakter mob yang
biasanya menyatu dengan latar belakang?
Meskipun aku cuma mob, aku ini manusia hidup,
tahu. Wajar saja kalau sesekali aku menyapa heroine utama. Meskipun aku merasa
sangat gugup.
"A-anu, begini. Kalau kamu belum
memutuskan mau berpasangan dengan siapa..."
"?"
Menatap Amane yang memiringkan kepalanya
dengan bingung, aku menelan ludah dengan susah payah.
Meminta gadis paling cantik di sekolah, sang
heroine utama yang berada di pusat dunia ini, untuk berpasangan dengan mob
sepertiku... betapa tidak tahu dirnya diriku ini.
Tentu saja, aku tidak berharap ajakan itu akan
diterima. Lebih tepatnya, aku sudah tahu pasti kalau aku akan ditolak. Karena
Amane sudah pasti mengincar Akasaka.
Meskipun aku sudah tahu hasilnya, alasan tetap
nekat menyapa Amane semata-mata hanya untuk mengulur waktu.
Selama jeda ini, jika Haruka berhasil
berpasangan dengan Akasaka, itu sudah lebih dari cukup. Sekalipun itu Amane,
dia tidak mungkin dengan sengaja memisahkan pasangan yang sudah terbentuk, kan?
Sambil bersiap mental mendengar kata
"maaf" dari Amane, aku membuka mulut.
Nah, kira-kira apa reaksi orang-orang di
sekitar saat melihatku ditolak mentah-mentah nanti? Tentu saja tidak akan ada
yang menunjuk-nunjuk lalu tertawa terbahak-bahak, tapi mungkin akan ada
beberapa orang yang mengejekku pelan.
Hah, silakan saja tertawa sepuas kalian.
Saksikanlah kebodohan badut ini, wahai kalian para siswa mob sepertiku...!
"Anu, kalau tidak keberatan, maukah kamu
berpasangan den—"
"Ah, ketemu! Saraguchi-kun, maukah kamu
berpasangan denganku?"
"!? "
Satu detik lebih cepat sebelum aku sempat
melontarkan permintaan kepada Amane, sesosok gadis tiba-tiba muncul menyela.
Tanpa mempedulikanku yang masih terkejut,
Haruka Momomichi mencengkeram kedua pergelangan tanganku dan menarikku dengan
kuat.
"Ayodah, cepat kita pergi ke sana. Nanti
waktunya habis."
"H-hei... apa-apaan ini...?"
Karena ditarik secara paksa, mau tidak mau aku
mengikuti langkah Haruka dari belakang. Amane memiringkan kepalanya, menatap
kepergian kami dengan pandangan bingung.
Setelah kami berjalan cukup jauh dari posisi
Amane, aku bertanya kepada Haruka.
"Momomichi-san, sebenarnya ada apa ini?
Kamu ditolak oleh Akasaka?"
"B-bukan begitu, sebenarnya... aku
tadinya berniat menyapanya, tapi..."
"Jangan bilang, kamu tidak jadi
mengajaknya?"
Haruka tampak canggung dan mengangguk
pelan.
Serius? Apa yang sebenarnya kamu lakukan.
Menyiakan kesempatan emas begitu saja.
"Begini... saat aku sedang ragu-ragu
apakah harus menyapa Akasaka-kun atau tidak, aku melihat Saraguchi-kun sedang
mengobrol dengan Tenshin-san..."
"Hmm?"
"Lalu aku berpikir, 'Oh, Saraguchi-kun
mau berpasangan dengan Tenshin, ya'... dan entah kenapa, perasaanku jadi tidak
enak... jadi kurasa aku harus menghentikan kalian berdua dulu..."
"Yah, kenapa jadi begitu? Aku benar-benar
tidak paham..."
Sambil mengalihkan pandangannya, Haruka
menjawab dengan nada ragu.
"Entahlah... begitu aku berpikir bahwa
Saraguchi-kun juga ingin akrab dengan Tenshin, rasanya aku jadi kesal..."
"Eeeh..."
"Aku merasa sebal dan berpikir, 'Idih,
cowok satu ini ujung-ujungnya pilih dada, ya? Apakah dada besar itu segalanya?
Apakah ukuran besar adalah keadilan?!', sialan banget kan si Saraguchi
ini."
Ada-ada saja. Dia datang mengganggu hanya
karena merasa kesal melihat tindakanku? Benar-benar tidak masuk akal.
Apakah dia mengira aku terpesona oleh Amane
dan mencoba mendekatinya? Padahal sama sekali tidak begitu.
Sambil menghela napas, aku memberikan
penjelasan kepada Haruka.
Kemungkinan besar kamu salah paham. Aku sama
sekali tidak mengincar Tenshin, kok."
"Eh? Tapi..."
"Alasan aku menyapanya tadi cuma untuk
mencegah Tenshin mendekati Akasaka, alias sekadar mengulur waktu. Aku
mengajaknya bicara justru dengan asumsi bahwa aku pasti akan ditolak."
"Begitukah? Aku tadinya mengira..."
"Kira-kira apa? Kamu pikir aku
benar-benar berniat berpasangan dengan Tenshin?"
"Y-ya, um... aku mengira kamu sengaja
menyuruhku mengalihkan perhatian Akasaka-kun supaya kamu bisa berpasangan
dengan Tenshin-san..."
Mendengar penjelasan Haruka, kepalaku
mendadak pening.
Bagaimana caranya berpikir sampai bisa
menghasilkan kesimpulan seperti itu... anak perempuan ini, apa kepalanya
berfungsi dengan normal? Jangan-jangan di dalam kepalanya itu malah berisi
alien?
Aku melirik ke arah Amane, dan
kelihatannya dia sudah berhasil menyapa Akasaka dan memutuskan untuk
berpasangan dengannya.
Ya, sudah kuduga bakal begitu. Pantas
disebut sebagai heroine utama, dia tidak pernah melewatkan event semacam ini.
Sebaliknya, sub-heroine yang ada di
hadapanku ini... kenapa harus menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti itu?
Sungguh tidak habis pikir.
"M-maaf, ya. Padahal Saraguchi-kun
sudah berusaha berbaik hati membantu, tapi aku malah gagal..."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Berusahalah
lagi di kesempatan berikutnya."
"U-um. Ngomong-ngomong... kita harus
berpasangan dengan lawan jenis, kan? Maukah kamu berpasangan denganku?"
"Eh? Yah, itu..."
Memang benar, aku harus mencari orang
untuk dijadikan pasangan, tapi... apakah boleh aku berpasangan dengan Haruka?
Bagi Haruka, sepertinya tidak ada keuntungan
apa pun. Bukankah itu justru akan mendatangkan kerugian baginya?
"Kamu kelihatan ragu begitu. Memangnya
kamu keberatan berpasangan denganku?"
"Bukannya keberatan, tapi... kalau kamu
berpasangan denganku, bukankah reputasi Momomichi-san malah akan turun?"
"Kamu ngomong begitu lagi. Jangan-jangan
sebenarnya kamu maunya berpasangan dengan Tenshin-san, ya?"
"B-bukan, bukan begitu! Kenapa jadi
mengarah ke sana...?"
Mendapat tatapan penuh kecurigaan dari Haruka,
aku pun mengeluarkan keringat dingin.
Apa separah itu aku menunjukkan ketertarikanku
pada Amane di hadapan Haruka? Memang benar aku menganggapnya sebagai heroine
kelas atas, sih.
Repot juga kalau aku disangka yang
tidak-tidak, jadi sebaiknya aku terima saja ajakan Haruka.
"Kalau begitu, kamu mau berpasangan
denganku?"
"Tentu saja, mau. Kalau Saraguchi-kun
tidak keberatan."
Akhirnya, aku pun berpasangan dengan
Haruka.
Kami mencari bangku kosong yang tersedia,
lalu duduk saling berhadapan. Memegang buku sketsa masing-masing, kami mulai
menggambar potret wajah satu sama lain.
Ini seharusnya adalah event di mana sang
protagonis meningkatkan keintiman dengan heroine, kan? Omong-omong, dalam versi
game-nya, Amane selalu dijadwalkan mengambil kelas seni rupa pilihan yang sama
dengan protagonis, sementara sub-heroine yang hadir bersifat acak.
Tentu saja, tidak mungkin ada skenario di
mana mob sepertiku berpasangan dengan para heroine... tapi di dalam game,
heroine yang tidak berpasangan dengan protagonis pasti akan berpasangan dengan
orang lain, jadi tidak aneh jika pasangannya adalah aku, kan?
Ngomong-ngomong, sewaktu masa sekolah dulu
aku sempat bercita-cita menjadi mangaka, jadi kemampuan menggambarku lumayan
bagus.
Yah, hanya sebatas "lumayan" dan
belum sampai taraf profesional, tapi... saat aku mengunggah ilustrasi buatanku
ke media sosial, responsnya cukup positif.
"..."
"Wah, kamu kelihatan serius banget.
Aku juga harus bersemangat, nih."
Mengamati wajah Haruka sekali lagi, aku
menggoreskan pensil di atas kertas gambar putih. Karena ini potret wajah,
menggambar bagian wajah hingga batas bahu saja sudah cukup, kan?
Namun,
jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, dia benar-benar gadis yang sangat
cantik. Nuansa sedikit suram yang melekat pada dirinya justru membuatnya
terlihat semakin menarik. Pantas saja dia adalah pimpinan para
sub-heroine, sang heroine dari balik bayangan.
Kira-kira lima menit sebelum jam pelajaran
berakhir, aku menghentikan tanganku dan menghembuskan napas pelan, yang
langsung ditanggapi oleh Haruka.
"Saraguchi-kun, sudah selesai? Coba
lihat, lihat!"
"B-sebentar, sentuhan akhirnya
masih..."
Didesak oleh Haruka yang tersenyum ceria, mau
tidak mau aku menyerahkan buku sketsa tersebut.
Melihat potret wajahnya sendiri yang kugambar,
Haruka tiba-tiba membelalakkan matanya dan membeku.
"Eh, apa ini benar-benar
aku...?"
"Ah, maaf, aku sudah lama tidak
menggambar... jadi hasilnya kurang begitu bagus, ya..."
Mendengar itu, Haruka menggelengkan
kepalanya pelan, pipinya merona tipis tanpa alasan yang jelas, lalu menatap
wajahku dengan mata berkaca-kaca.
"I-ini mah, digambar terlalu
cantik... Saraguchi-kun ternyata jago menggambar,
ya..."
"Begitukah? Yah, kalau kamu senang,
baguslah..."
Bagiku pribadi karena sudah lama tidak
memegang pensil, hasilnya terasa kurang maksimal, tapi Haruka sepertinya sangat
menyukainya.
Sebagai perbandingan, aku juga meminta untuk
melihat hasil gambar Haruka... dia ternyata cukup mahir menggambar, terbukti
dari gambar diriku yang diguratkannya, diubah menjadi sosok pemuda tampan
dengan gaya komik shoujo yang berkilau-kilau.
Hei, dibikin terlalu tampan, ya! Aku tidak
punya garis wajah setirus itu, dan aku juga tidak memancarkan kilauan apa pun.
Itu sudah di level "ini siapa ya?".
Ngomong-ngomong, Akasaka menggambar dengan
buruk seperti orang biasa, sementara Amane menggambar potret yang sangat
realistis dan detail secara aneh. Mengingat status Akasaka yang bisa berkembang
pesat tergantung cara pemain melatihnya, mungkin saat ini statistik seninya
masih berada di level 1.
***
Operasi Sabotase Bagian Keempat gagal, ya. Aku
harus memikirkan langkah berikutnya...
Pelajaran jam kelima, olahraga.
Sekali lagi, kelas diadakan secara gabungan
antara pria dan wanita. Mungkin karena untuk memperbanyak event interaksi
antara protagonis dan para heroine, kelas campuran pria-wanita jadi sering
diadakan.
Kelas olahraga kali ini diadakan dengan
menggabungkan dua kelas, yang berarti total peserta sekitar delapan puluh orang
jika digabung menjadi satu.
Cabang olahraganya adalah softball. Lapangan
yang sangat luas dibagi menjadi empat bagian, dan setiap pertandingan dimainkan
oleh tim beranggotakan sepuluh orang yang terdiri dari campuran pria dan
wanita.
Karena ada kelebihan sekitar satu orang di
setiap tim, kelebihan tersebut ditugaskan untuk menjaga area outfield (luar),
sehingga terciptalah aturan unik dengan empat orang penjaga outfield.
Aku jadi ingat kalau di game aslinya juga ada
event softball. Protagonis pasti akan masuk ke tim yang sama dengan salah satu
heroine, dan bertanding melawan tim yang berisi heroine lainnya.
Pembagian tim dilakukan melalui undian.
Di timku, ada Haruka Momomichi, lalu ada juga
Akira Shiyodai dan Saori Roppongi. Wah, semua sub-heroine dari kelas kita
berkumpul di sini.
Sementara di tim lawan, ada Akasaka Kouta dan
Amane Tenshin. Tim yang berisikan karakter protagonis dan
heroine utama, ya. Lawan yang sangat tangguh.
Ini hanyalah pelajaran olahraga biasa,
jadi menang atau kalah seharusnya tidak menimbulkan masalah khusus.
Namun, jika ini adalah event untuk
memperdalam keintiman dengan para heroine, aku tidak boleh menganggapnya remeh.
Dalam versi game-nya, protagonis akan
masuk ke tim yang sama dengan heroine yang memiliki tingkat keintiman paling
tinggi dengannya saat itu.
Mengingat Akasaka dan Amane berada dalam
satu tim, apakah itu berarti perlumbaan antar heroine ini sedang dimenangkan
oleh Amane? Ada kemungkinan tingkat keintiman mereka akan
semakin meningkat lewat event ini.
Hmm, haruskah aku mencegah kedua orang itu
berada di tim yang sama sejak awal? Yah, percuma juga kalau baru dibahas
sekarang...
"Baiklah, aku yang jadi pitcher-nya!
Serahkan padaku!"
Orang yang berseru penuh semangat itu adalah
Akira Shiyodai. Ngomong-ngomong, Shiyodai mengikuti beberapa kegiatan klub
sekaligus, dan salah satunya adalah klub softball, bukan?
Jika diserahkan kepada Shiyodai, sepertinya
kita tidak perlu khawatir. Biarlah aku berjaga di posisi outfield saja.
"Takumi-cchi, mau jadi catcher?"
"Eh?"
Menurutku posisi seperti itu seharusnya diisi
oleh orang yang berpengalaman, tapi di tim kami tidak ada yang seperti itu.
Mau tidak mau, aku memutuskan untuk mencoba
menjadi catcher. Yah, ini kan cuma softball, kalau cuma lemparan anak
perempuan, aku pasti bisa menangkapnya.
Katanya mau latihan ringan dulu, jadi aku
mengambil jarak dengan Shiyodai, berjongkok, dan bersiap.
"Mulai
yaaa!"
"O,
ooh."
Shiyodai
melakukan wind-up dengan lemparan underhand yang besar.
Bola
softball yang ukurannya sedikit lebih besar dari bola bisbol itu merobek udara
dan meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahku.Don-, suara hantaman keras
tercipta saat bola menancap di sarung tangan catcher-ku, berputar-putar sejenak
sebelum akhirnya berhenti.
Bola
apa ini? Kecepatan dan tenaga sebesar ini untuk ukuran softball, bukankah ini
sudah tidak wajar?
Shiyodai memutar-mutar tangan kanannya
sambil berkata dengan senyuman.
"Wah, hebat juga cowok, bisa langsung
menangkapnya dalam sekali coba! Kalau cewek biasanya butuh waktu lama sampai
bisa menangkapnya lho!"
"Lemparannya kencang banget. Aku
sempat mengira tanganku bakal copot beserta sarung tangan ini."
"Hahaha, berlebihan banget. Aku kan
baru melempar dengan kekuatan sekitar enam puluh persen lho!"
"...Itu baru enam puluh persen?"
Itu dibilangnya masih menahan diri? Padahal benturannya terasa seperti dihantam peluru meriam. Kalau dia
melempar dengan tenaga penuh, bukan cuma tanganku saja, tapi badanku juga bisa
tembus, kan?
Karena ini jam pelajaran, dia bilang akan
melempar dengan santai, tapi kalaupun dia mau melakukannya, aku sangat
berterima kasih. Sebagian besar orang pasti tidak akan bisa
memukul bola secepat itu.
Nah,
bagaimana dengan heroine yang lain... Haruka sih
biasa saja, tapi bagaimana dengan Saori?
"Roppongi-san,
apa kamu pernah main softball?"
"..."
Saori
menggelengkan kepalanya pelan. Jangankan mahir atau tidak, dia bahkan belum
pernah memainkannya sama sekali?
"Umm, apa kamu tahu aturan
dasarnya?"
"Sedikit. ...Ganti posisi setelah tiga
kali out?"
"Wah, kamu tahu sampai tingkat itu
rupanya. Kalau begitu, sepertinya masih bisa diatasi."
"Kalau mengenai pemukul (batter) terkena
dead ball, itu dihitung satu out, lalu kalau berhasil menjatuhkan tiga orang
berarti tiga out?"
"Bukannya begitu!? Kenapa kamu tahu
istilahnya tapi malah salah menghafal aturannya!?"
"Hmm... kalau lemparannya mengenai bagian
tengah tubuh pemukul dihitung strike, kalau mengenai tangan atau kaki dihitung
ball?"
"Bukan! Ini bukan game lempar-lempar
badan ke pemukul!"
Saori sempat bilang, "Kira-kira mirip
sepak bola, ya." Sepak bola juga tidak punya aturan seperti itu, tahu.
Untuk berjaga-jaga, aku juga mencoba
menyapa Haruka.
"Momomichi-san
pasti pernah main softball, kan?"
"U, um, ya, begitu lah. Bukan berarti
aku jago banget, sih..."
Kemampuan atletik Haruka seharusnya berada di
tingkat rata-rata. Bisa dibilang tidak terlalu bagus, tapi juga tidak buruk.
Jika begitu, satu-satunya yang bisa diandalkan
sebagai tumpuan kekuatan adalah Shiyodai dari klub softball.
"Saraguchi-kun, kamu kelihatan serius
banget. Kamu suka softball, ya?"
"Enggak juga, sih. Yah, kalau nonton
pertandingan bisbol aku memang lumayan suka..."
Aku membisiki Haruka agar tidak didengar oleh
siswa lain, menjelaskan situasinya secara hati-hati.
"Di tim lawan itu ada Akasaka dan
Tenshin, kan? Aku ingin melakukan sesuatu terhadap mereka berdua. Lebih
tepatnya, aku tidak mau membiarkan mereka menang. Aku justru ingin mengalahkan
mereka."
"Ke, kenapa?"
"Alasannya jelas, lah. Coba bayangkan apa
yang akan terjadi kalau mereka berdua bekerja sama dengan akrab lalu
memenangkan pertandingan ini? Hubungan mereka bakal jadi semakin intim dari
sebelumnya. Kalau bisa, aku ingin mencegah hal itu terjadi."
"Itu... ta, tapi, kenapa sampai
segitunya..."
Wajar saja kalau dia merasa heran. Tidak
mungkin dia tahu alasan kenapa aku ingin memisahkan mereka berdua.
Aku tidak mungkin menceritakan soal bad ending
itu, jadi aku memberikan alasan yang masuk akal...
"Alasannya ada banyak, tapi alasan
utamanya adalah... agar Momomichi-san bisa bersatu dengan Akasaka,
mungkin?"
"Eeeh!? I-ini demi aku, gitu?"
"Yah, bisa dibilang begitu. Kamu kan
sungguh-sungguh menyukai Akasaka, kan? Begitu aku tahu soal itu, aku berniat
memberikan bantuan sebisa mungkin."
"Beg, begitu ya. Jadi begitu..."
Meskipun kukatakan begitu, sebenarnya ini
bukan semata-mata demi Haruka saja.
Baik Shiyodai maupun Saori, semua sub-heroine
menaruh perasaan pada Akasaka. Dalam game aslinya, jika protagonis gagal
menaklukkan heroine, maka cerita akan berujung pada bad ending...
Selama mereka tidak masuk ke rute skenario
individu masing-masing, dan berhasil mengarah ke happy ending (atau bahkan
normal ending), bad ending tragis yang disiapkan untuk setiap heroine
seharusnya bisa dihindari. Dalam hal ini, jika heroine dan protagonis bersatu
maka itu happy ending, jika tidak bersatu pun itu hanya menjadi normal bad
ending dan seharusnya tidak ada masalah...
Masalahnya adalah jika mereka terperangkap
di jalur bad ending setelah masuk ke rute individu. Sekali masuk ke jalur bad
ending, mustahil untuk keluar darinya.
Lalu,
bagaimana cara memastikan agar bad ending tersebut bisa dihindari? Jawabannya
hanya satu.
Yaitu,
memastikan mereka tidak masuk ke rute individu masing-masing. Jika begitu,
karena mereka tidak berakhir dengan protagonis mana pun, itu berarti tidak
mencapai happy ending, tapi karena itu hanya berakhir sebagai normal bad ending
akibat kegagalan penaklukan, kerusakan yang terjadi bisa ditekan seminimal
mungkin.
Saat
ini, orang yang paling gencar memicu flag dengan Akasaka sudah pasti adalah
sang heroine utama, Amane Tenshin. Kita harus mencegah agar Amane tidak masuk
ke rute individunya, dan memastikan tingkat keintiman antara Akasaka dan Amane
tidak semakin meningkat dari ini.
"Makanya, karena alasan itulah. Kita
harus memenangkan pertandingan ini dan mencegah mereka berdua meraih kemenangan
yang bisa menaikkan tingkat keintiman mereka. Momomichi-san juga tolong bantu
ya."
"U,
um. Aku mengerti..."
Untuk saat ini, Haruka sepertinya bisa
menerimanya. Alasan kenapa dia tadi kelihatan kurang bersemangat mungkin karena
dia memang tidak begitu mahir bermain softball.
Pertandingan dimulai dengan formasi timku yang
terdiri dari empat orang (aku dan ketiga sub-heroine) ditambah enam orang siswa
mob tak dikenal (tentu saja mereka punya nama, tapi tidak penting untuk
diingat).
Berdasarkan pengaturan game, karena aku
sendiri adalah seorang mob, komposisi tim kita adalah tiga heroine ditambah
tujuh siswa mob. Kalau di game, orang-orang selain tiga heroine itu pasti hanya
menggunakan model CG daur ulang.
Di sisi lain, tim lawan berisikan kombinasi
terkuat—protagonis Akasaka dan heroine utama Amane—ditambah delapan orang siswa
mob. Dari jumlah karakter bernama, tim kita unggul, tapi kombinasi protagonis
dan heroine utama terlalu curang. Itu adalah kombinasi terkuat di dunia game.
Shiyodai selaku kapten tim kita dan Akasaka
selaku kapten tim lawan melakukan suuit-chanto (batu-gunting-kertas) untuk
menentukan posisi first bat (menyerang duluan) atau bertahan (fielding).
Shiyodai menang dan memilih bertahan.
"Kenapa milih bertahan?"
"Biar seru aja nanti pas kita comeback. Lebih membakar semangat, kan?"
Begitukah. Kalau peluang menangnya sama, terserah yang mana saja sih.
Pertandingan dimulai dengan tim lawan
menyerang lebih dulu. Tim kami mengambil posisi bertahan, Shiyodai naik ke
mound sebagai pitcher, aku sebagai catcher, sementara Haruka dan Saori menjaga
posisi di outfield.
"Ini kan jam pelajaran, jadi aku
lemparkan bola yang bisa dipukul aja ya!"
Seru Shiyodai sambil melakukan lemparan.
Meskipun kelihatannya dia melempar dengan setengah tenaga, bolanya tetap terasa
sangat cepat hingga pemukul pertama tim lawan sama sekali tidak bisa
menyentuhnya.
"Hmm, kurasa aku harus mengurangi
kecepatannya sedikit lagi ya?"
Untuk pemukul kedua, dia melempar dengan
kecepatan yang jauh lebih lambat dari sebelumnya. Kali ini pemukul tersebut
berhasil mengenai bola, tapi hanya menghasilkan ground ball lemah ke arah
infield, menjadikannya two out.
"Shiyodai dari klub softball, ya?
Lemparannya kencang banget."
"...!"
Pemukul ketiga adalah Akasaka. Kemunculan sang
protagonis mau tak mau membuat suasana mendadak tegang.
Karakter satu ini diatur sebagai orang biasa
yang kemampuan akademis maupun fisiknya berada di level rata-rata, tapi dia
juga merupakan karakter cheat yang kemampuannya bisa melonjak drastis jika
sedikit dilatih.
Kekuatannya saat ini masih belum diketahui.
Kemampuan seni rupa miliknya memang hancur lebur, tapi bagaimana dengan bidang
olahraga?
Dari cara dia melakukan practice swing sebelum
masuk ke batter's box, ayunan batnya terlihat sangat tajam. Perlu diwaspadai.
"Bisa nggak ya aku memukulnya? Tolong
main lembut ya."
"Shiyodai-san, dia bilang tidak perlu
menahan diri, lho!"
"H-hei, Saraguchi?"
Saat aku berteriak, Shiyodai mengangguk
kecil.
Menampakkan ekspresi tajam, dia
mengayunkan tangannya lebih lebar, melangkah maju, dan melempar bola.
"Hiaah, delapan puluh persen!"
Menembus udara dengan suara bergemuruh,
bola meluncur mendekat.
Akasaka mengayunkan bat dengan tajam tepat
di waktu yang pas, tapi bola itu hanya menyerempet ujung batnya.
"...Bisa tolong sedikit menahan diri?
Aku ini kan cuma amatir."
"Shiyodai-san, katanya suruh lempar
dengan kekuatan penuh! Dia bilang lemparan berikutnya mau home run!"
"Enggak, aku nggak ngomong begitu!?
Saraguchi ini tipe orang yang nggak kenal ampun kalau lagi bertanding, ya?
Ampun deh."
Bodo amat mau ngomong apa. Aku ini tipe
orang yang tidak akan memilih cara apapun demi menang. Aku akan memakai segala
cara demi mencapai tujuan.
Namun, dia memang pantas disebut sebagai
protagonis. Akasaka berhasil membaca lemparan cepat Shiyodai, memukulnya
menjadi sebuah hit, dan berhasil mencapai base pertama.
Lalu, pemukul berikutnya adalah Amane
Tenshin. Menggeser posisi sang protagonis dan langsung menempati posisi pemukul
keempat (clean-up). Pantas saja disebut sebagai heroine utama.
"Baiklah, aku akan memukulnya! Ayo bertarung
secara adil, Shiyodai-san!"
"Hmph, Tenshin-san ya. Situasi ini
sepertinya menuntutku untuk benar-benar serius..."
Melihat lawannya adalah Amane, Shiyodai pun
mulai serius.
Bagaimanapun juga, Amane adalah heroine yang
paling akrab dengan Akasaka saat ini. Shiyodai pasti paham bahwa Amane adalah
lawan yang sangat berbahaya.
Shiyodai memasang wajah tegang, mengerahkan
seluruh kekuatannya. Dia memutar lengannya dengan gerakan yang cukup
berlebihan, merendahkan posisinya, melangkah lebar, dan melepaskan lemparan.
"Hiaah! Seratus persen!"
Lemparan penuh tenaga? Dia benar-benar berniat
melumpuhkannya.
Lemparan underhand dengan lintasan sangat
rendah meluncur membawa kepulan debu tanah, lalu melambung naik tepat di depan
batter's box dan menembus zona strike.
Kecepatan dan tenaga bola itu jelas bukan
level softball pada umumnya. Mana mungkin ada orang yang bisa memukul bola
seperti itu.
"Hiyyaah!"
"!? "
Amane sedikit mengangkat kaki depannya lalu
menginjaknya ke tanah, mengayunkan bat dengan sangat tajam dan berhasil meredam
lemparan kilat tersebut.
Suara benturan nyaring terdengar, dan bola
melayang ke arah tengah lapangan. Haruka mengejarnya sekuat tenaga, tapi bola
itu terus melambung tinggi dan keluar melewati batas lapangan. Home run ke
luar lapangan (out-of-the-park home run).Two-run home run itu sukses menyumbang
dua poin pertama untuk tim lawan. Sungguh awal pertandingan yang buruk.
Terlebih
lagi, fakta bahwa Akasaka berhasil on base dan Amane mencetak poin pembuka
lewat home run adalah skenario yang buruk. Rasanya seperti melihat mereka berdua bekerja sama dan mencetak poin.
Meskipun pemukul berikutnya berhasil kukelabui
lewat strikeout, Shiyodai kelihatan sangat terpukul.
"Padahal aku sudah melempar dengan
serius, tapi dipukul home run sampai keluar lapangan oleh orang yang bahkan
nggak ikut klub... apa arti keberadaanku sebenarnya..."
Eh, dia mulai merasa murung dan masuk ke mode
gelap? Wah, gawat ini...
"Jangan dipikirkan. Lemparan Shiyodai
terlalu cepat, makanya bola liar itu bisa terbang sejauh itu."
"B-begitu ya... Apa aku ini masih layak
hidup di dunia ini...?"
"Tentu saja layak, lah. Sedih cuma karena
hal sepele begituan nggak mirip kamu banget."
"U, um. Kamu benar. Makasih..."
Aku merasa lega karena dia berhasil
mengembalikan semangatnya. Kalau gara-gara ini sampai memicu flag rute bad
ending, urusannya bisa panjang.
Berganti posisi, sekarang giliran tim kami
yang menyerang. Pitcher dari tim lawan ternyata adalah Amane, sementara
catcher-nya adalah Akasaka.
Lagi-lagi pasangan itu... Hei Amane, meskipun
kamu heroine utama, bukankah kamu terlalu memonopoli elemen penaik tingkat
keintiman ini?
Tapi, karena dia berada di tim lawan, sulit
rasanya untuk mengganggu hubungan mereka berdua. Paling tidak, aku bisa
berusaha agar tim mereka tidak menang, sehingga tidak ada lagi peningkatan
tingkat keintiman atau favourability.
"Ayo, Akasaka-kun! Hiyyaah!"
Amane bersiap dengan penuh semangat,
mengibaskan rambut panjangnya, menggerakkan tubuhnya dengan lincah, lalu
melempar bola.
Bola yang dilempar dengan lintasan rendah
menciptakan kepulan debu, melambung tipis di batas bawah zona strike, dan
mendarat mulus di sarung tangan Akasaka dengan suara benturan yang tegas.
Melihat lemparan cepat Amane tersebut, seluruh
anggota tim—baik kawan maupun lawan—terperangah takjub.
Bola apa itu tadi. Meskipun dia jago di
berbagai bidang olahraga, ini sudah keterlaluan. Bukan cuma pukulannya saja,
kemampuan lemparannya pun berada di level tinggi.
Ngomong-ngomong, pemukul pertama tim kita
adalah Saori, tapi dia tidak mampu bereaksi sama sekali terhadap lemparan super
cepat itu, hanya berdiri mematung sambil memegang bat besi yang terasa berat.
Karena Saori menatapku dengan wajah
kebingungan, aku meminta waktu (time-out) kepada siswa yang bertugas sebagai
wasit dan berlari mendekati batter's box.
"Ada apa, Roppongi-san? Kamu tahu kan apa
tugas seorang pemukul?"
"Ya. Tujuannya adalah memastikan bola
yang dilempar oleh pitcher musuh tidak mengenai diri kita, memukulnya balik
dengan bat, lalu memukul anggota tim lawan untuk merobohkan mereka, kan?"
"Kamu salah paham semuanya! Bukan begitu,
maksudnya bola yang dilempar pitcher itu harus dipukul pakai bat supaya tidak
bisa ditangkap oleh musuh."
"Begitu ya. Kalau begitu, kita tinggal
menjatuhkan bolanya ke tempat yang tidak dijaga musuh, ya."
"Meskipun kamu bilang begitu, lemparan
secepat itu jelas tidak mungkin dipukul... Lakukan yang terbaik sebisa mungkin,
anggap saja ini latihan mengayun bat."
"...Mengerti."
Sambil mengangguk pelan, Saori melakukan
practice swing di tempat. Batnya kelihatan goyah karena terlalu berat. Apa
tidak ada bat yang lebih ringan, ya?
Begitu aku mundur dari batter's box, wasit
menyatakan pertandingan dilanjutkan.
Saori berdiri dengan posisi siap mengayun
sambil bergumam pelan.
"Posisi jatuhnya bola di lemparan pertama
tadi sudah kuingat. Untuk ukuran pemula sepertiku, kemungkinan lemparan kedua
diarahkan ke jalur yang sama adalah sangat tinggi. Kalau begitu, aku tinggal
menempatkan batku di jalur itu..."
Bola mendarat mulus tepat di batnya, meluncur
melewati infield, dan menggelinding sampai ke outfield. Saori berlari ke base
pertama dan dinyatakan safe.
Dengan wajah tanpa ekspresi, ia mengangkat
tangan kanannya tinggi-tinggi seolah-olah ingin memamerkan kebolehannya,
sementara aku bertepuk tangan untuknya.
Amane di mound kelihatan sangat kesal karena
tidak menyangka pukulannya bisa dibalas, giginya terkatup rapat menahan gemas.
Kerja bagus, Saori. Kau berhasil membalas sang
heroine utama. Meskipun kelihatannya dia payah dalam olahraga, dia benar-benar
bisa diandalkan saat dibutuhkan.
Pemukul kedua adalah Haruka. Dia mengayunkan
bat beberapa kali, lalu melangkah ke batter's box dengan ekspresi kurang
percaya diri.
Melihat itu, aku berlari menghampiri Haruka
dan memanggilnya.
"Ini kesempatanmu, Momomichi-san. Buat
musuh bebuyutanmu, Amane Tenshin, merasa down."
"Eh, tapi... lemparan secepat itu rasanya
mustahil bisa dipukul..."
"Memang benar, bola secepat itu biasanya
tidak bisa dipukul. Kurasa bahkan para cowok pun sedikit yang bisa."
"B-bukan begitu? Aku mana bisa..."
Yah, benar juga sih. Pendapat yang sangat
wajar.
Namun, meskipun ada perbedaan kemampuan fisik,
kita tetap bisa memberikan perlawanan. Saori sudah membuktikannya.
Terlebih lagi, Haruka adalah pemimpin para
sub-heroine yang eksistensinya berpasangan dengan Amane sang heroine utama.
Mustahil jika dia tidak bisa melawannya.
"Momomichi-san pasti bisa. Tunjukkan
kemampuan aslimu sebagai heroine dari balik bayangan!"
"Eee... ngomong apa sih... Tapi, kalau
disemangati sama Saraguchi-kun, rasanya aku jadi bisa melakukannya... kenapa
ya..."
Sambil membuang muka dariku, Haruka
melirik-lirik kecil dan bergumam seperti itu.
Entah apa maksudnya, tapi... kalau dia jadi
termotivasi, ya sudah lah bagus.
Haruka mengambil posisi di batter's box,
dan pertandingan dilanjutkan. Amane menatap Haruka dengan ekspresi tajam,
melakukan wind-up yang besar, lalu melempar bola.
Lemparan cepat berlintasan underhand
meluncur menerbangkan debu, dan don-, langsung menghujam sarung tangan Akasaka
selaku catcher.
Haruka membeku di tengah ayunan batnya
dengan mata membelalak lebar.
"Ma-mana bisa, cepat banget... mana
mungkin bola kayak gini bisa dipukul...?"
Padahal baru saja dia termotivasi, tapi
mentalnya langsung hancur seketika. Wajar saja sih kalau dihadapkan dengan
lemparan secepat itu.
Aku tadinya berniat menghampiri batter's
box untuk bilang "tidak usah dipukul tidak apa-apa, berjuanglah"
sambil meminta time-out, tapi Haruka menoleh ke arahku dan melambaikan telapak
tangannya seolah menyuruhku berhenti.
"Tenang saja, jangan khawatir. Aku
akan coba mencari cara sendiri."
"..."
Wah, keren juga. Apakah dia punya kartu As
rahasia?
Mengingat dia berkata begitu, aku memutuskan
untuk menyerahkan sisanya padanya dan kembali ke area tunggu.
Haruka mengambil kembali posisinya, memegang
bat, lalu bergumam pelan.
"Kalau begini caranya, aku harus meniru
cara Roppongi-san..."
Seiring dengan lemparan kedua yang dilepaskan
Amane, Haruka dengan cepat merendahkan tubuhnya dan memposisikan batnya secara
horizontal.
Apakah dia berniat melakukan bunt dengan
membaca jalurnya? Melakukan bunt pada lemparan secepat itu rasanya sangat
sulit, tapi setidaknya itu lebih mudah mengenai bola daripada mengayunnya
secara penuh.
Bola yang meluncur disertai kepulan debu
mendadak melambung tinggi di detik-detik terakhir, membuat Haruka terperanjat
kaget dan mencoba menghindar, tapi sudah terlambat.
"Auch!"
Bola mengenainya tepat di bahu, menghasilkan
dead ball.
Melihat Haruka berjalan menuju base pertama,
Amane berkali-kali membungkuk meminta maaf dengan ekspresi bersalah, "Maaf
ya, maaf ya!" Mungkin instingnya terkejut melihat posisi bunt sehingga
lemparannya meleset.
Aku berlari menghampiri Haruka dan bertanya.
"H-hei, kamu tidak apa-apa? Kalau
terluka..."
"U, um, aku tidak apa-apa. Aku tidak
menyangka bolanya bakal mengenai badanku, tapi karena aku bisa sampai ke base
kan hasilnya tetap bagus. Jangan pasang wajah khawatir begitu."
Sambil memegangi bahunya yang sepertinya
sedikit nyeri, Haruka memamerkan senyuman untuk meyakinkanku bahwa dia
baik-baik saja.
Pemukul ketiga adalah aku. Saat aku berdiri di
batter's box, Akasaka selaku catcher bergumam.
"Saraguchi ya. Lawan yang harus
diwaspadai."
"Enggak, aku ini benar-benar pemula yang
awam. Tolong berbaik hatilah dan kurangi tenaga
kalian."
"Bisa saja kamu ngomong begitu. Dua orang
sebelumnya berhasil on base kan karena kamu yang mengajari mereka strateginya,
kan?"
"Mana mungkin. Enggaklah, kamu salah
paham."
Aku langsung mengelaknya, tapi Akasaka
tampaknya salah paham. Dia bahkan meneriaki Amane di mound, "Jangan
lengah, Tenshin! Lempar dengan kekuatan penuh!"
Hei, kenapa jadi begini? Aku kan cuma seorang
mob? Baik dulu maupun sekarang, aku ini tipe anak rumahan yang kemampuan
fisiknya berada di bawah rata-rata.
Tapi yah, semenjak bereinkarnasi ke dunia ini,
aku merasa tubuhku menjadi jauh lebih muda dan bertenaga. Makanya, di kehidupan
sebelumnya aku terus-menerus bekerja sebagai budak korporat di depan meja kerja
selama bertahun-tahun sampai-sampai tubuhku rusak karena tidak sehat.
Mumpung ada kesempatan, biarkan aku sedikit
melawan kombinasi emas antara protagonis dan heroine utama ini.
Kujadikan ini kesempatan! "Ayo,
Saraguchi-kun! Hiyyaah!"
Karena tidak berniat menahan diri sejak awal,
Amane melancarkan lemparan penuh bahkan untuk menghadapi orang sepertiku.
Melihat bola cepat meluncur disertai kepulan
debu, aku mengeluarkan keringat dingin. Kecepatan lemparannya pasti sudah
melewati 100 kilometer per jam, kan? Ini sudah bukan level softball lagi.
Aku mencoba mengayunkan bat di waktu yang pas,
tapi bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Memukul bola ini ternyata jauh
lebih sulit dari yang kubayangkan.
"Kenapa, Saraguchi? Jarak antara bat dan
bolanya tadi ada sepuluh sentimeter lebih, lho."
"Habisnya, lemparan secepat itu tenagaku
tidak akan sanggup... Tolong beri keringanan sedikit,
dong."
"Aku tidak akan tertipu dengan trik
itu. Kamu berpura-pura tidak bisa memukul supaya aku melempar bola pelan lalu
kamu pukul, kan? Haduh, licik sekali."
Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar
gumaman serius dari Akasaka. Sebenarnya dia menganggapku sebagai orang macam
apa? Aku kan cuma mob biasa!
Dari area tunggu, Shiyodai berteriak,
"Hajar! Hantam bolanya!", Haruka berteriak, "Se-semangat!",
sementara Saori meneriakkan dukungan yang bernada misterius, "Bunuh...
basmi semuanya..."
...Aku disemangati oleh semua sub-heroine
sekaligus? Kenapa mereka malah memberikan dukungan
semacam itu kepada mob sepertiku.
Kalau situasinya jadi begini, mau tidak mau
aku harus berhasil on base, bukan? Padahal aku bukan tipe karakter yang seperti
itu...
"Aku tidak akan membiarkanmu memukulnya! Hiyyaah!"
Amane berteriak dan melemparkan bola
keduanya. Sama seperti sebelumnya, itu adalah lemparan
penuh tenaga.
Mana mungkin aku bisa memukul bola super cepat
seperti itu. Tapi, dari lemparan pertama tadi, aku setidaknya sudah bisa
memperkirakan waktu mengayunkan bat.
Dan berkat Akasaka, aku tahu ada perbedaan
ketinggian lebih dari sepuluh sentimeter antara posisi bola dan batku.
Sepertinya bola melintas di posisi yang jauh lebih rendah dari perkiraanku.
Kalau begitu...
"Di sekitar sini, ya?"
Aku menahan bat pada posisi horizontal dan
menyambut lintasan bola cepat tersebut.Gon-, bola sukses membentur bat,
meluncur deras melewati sisi pitcher, dan bergulir ke arah right field.
Teknik bunt sukses! Aku berhasil mencapai base
pertama dengan aman, dan dua pelari lainnya juga selamat, menciptakan situasi
bases loaded (basis penuh).
"Cu-curang, Saraguchi-kun! Mana boleh
melakukan bunt tiga kali berturut-turut!?"
Amane melancarkan protes keras kepadaku, tapi
aku hanya menanggapinya dengan cengiran tanpa mengatakan apa pun, yang justru
membuatnya menatapku dengan tatapan membunuh.
Aku tidak melakukan pelanggaran aturan,
jadi dibilang curang pun rasanya kurang tepat. Meskipun caranya agak tidak
biasa, aku berhasil mengalahkan heroine utama, jadi sebagai pemain aku merasa
sangat puas.
Pemukul keempat adalah sang gadis sporty,
Akira Shiyodai. Bertekad membalas kekalahan dari home run di babak pertama
tadi, dia melangkah ke batter's box dengan semangat yang membara.
"Demi harga diri klub softball, aku
pasti akan memukulnya! Ayo bertarung, Tenshin-san!"
"Shiyodai-san ya. Aku juga tidak akan
kalah! Demi harga diri anak rumahan, aku tidak akan membiarkanmu mencetak
angka!"
Shiyodai dan Amane memancarkan aura panas yang
luar biasa, menciptakan suasana penuh tekanan seolah-olah mereka sedang berada
di adegan rivalitas manga olahraga shounen yang berdarah panas.
...Event ini, apakah alurnya memang
seperti ini? Bukankah seharusnya event ini cuma sekadar adegan di mana
protagonis dan heroine bekerja sama dan menciptakan momen manis sesaat?
Akasaka selaku catcher asli tampak sedikit
mundur perlahan melihat interaksi Amane dan Shiyodai. Wajahnya terlihat kaku.
"Hiaah, jurus pamungkas... Putaran Maut,
Peluru Iblis!"
Amane merentangkan kedua tangannya lebar-lebar
dan berputar kencang di mound bagaikan gasing berkecepatan tinggi.
Bola melesat keluar dari pusaran tubuh Amane
yang sedang berputar.
Shiyodai mencoba menyambut bola cepat tersebut
dengan ayunan penuh, tapi batnya hanya menyerempet angin. Lemparan itu
dinyatakan foul, dan dia mengerang kesal.
"Ck, hebat juga ya, Tenshin-san. Aku jadi
ingin merekrutmu masuk klub..."
Sambil menyeringai, Amane bersiap melakukan
lemparan kedua.
"Hiaah, jurus pamungkas, Bola Bayangan
Kembar!"
Dia akhirnya mulai menyebut istilah-istilah
jurus aneh! Ini sudah benar-benar di luar nalar.
Amane meremas bola softball seolah hendak
mengubah bentuknya, lalu melemparnya dengan gaya underhand. Bola itu tampak
bergetar hebat ke kiri dan ke kanan seolah terbelah menjadi dua, membuatku dan
semua orang di sana tertegun.
Mana mungkin bola seperti itu bisa
dipukul, pikirku, tapi Shiyodai mengayunkan batnya dengan lintasan yang seolah
membelah kedua bayangan bola tersebut sekaligus.
Hasilnya, bat memang mengenai bola, tapi
lintasannya menyimpang jauh dan kembali menjadi foul.
"Hebat sekali bisa mengenai bola itu,
Shiyodai-san! Kalau begitu, sepertinya aku terpaksa harus mengeluarkan kartu As
terakhirku...!"
"Silakan keluarkan, Tenshin-san! Bola apa
pun akan kupukul!"
Pertarungan sengit di antara keduanya terus
berlanjut setelah itu.
Amane melompat tinggi ke udara untuk melempar,
bola yang melambat hingga tampak melayang seolah dihinggapi lalat, hingga
lemparan yang mendadak lenyap tepat di hadapan pemukul.
Shiyodai memanfaatkan kepekaan insting memukul
dan kemampuan atletiknya untuk mentransformasikannya menjadi lemparan foul.
Pertarungan di paruh pertama inning tersebut
terus berlanjut tanpa akhir dalam situasi no-out bases loaded, hingga akhirnya
waktu pelajaran olahraga pun habis.
***
Pada akhirnya, tim kami yang sempat tertinggal
dua poin harus mengalami kekalahan. Rasanya ini adalah akhir yang agak
menggantung.
"Kalau ada kesempatan lain, aku nggak
akan kalah! Kita
tanding ulang ya, Tenshin-san!"
"Boleh
saja. Tapi jangan dendam kalau kalah lagi ya, Shiyodai-san!"
Shiyodai
dan Amane saling melempar senyuman tajam dengan percikan api permusuhan di
antara mereka.
Ini
adalah tren yang tidak buruk. Setidaknya dalam pertarungan olahraga, Shiyodai
dan Amane berada di posisi yang setara dan seimbang.
"Momomichi-san,
ayo kita ke UKS."
"Eh?
A-aku tidak apa-apa... kok."
"Kamu
terus mengusap bahu yang sakit itu, kan. Meskipun kelihatannya tidak serius,
setidaknya kita harus mengobatinya."
"U,
um, aku mengerti..."
Mendorong
Haruka yang terluka, aku membawanya pergi ke UKS.
Seharusnya
di game aslinya tidak ada event seperti ini, tapi kenyataannya memang berbeda
dari game, ya. Yah, aku lega karena Haruka tidak mengalami cedera parah...
"...Kenapa
kamu begitu baik padaku, sih... Aku jadi agak repot, tahu..."
"Hmm? Kamu barusan bilang
sesuatu?"
"B-bukan apa-apa. Jangan
dipikirkan."
"?"


Post a Comment