Chapter 6: Selesaikan Event Penting!
"Kakak, bekalmu."
"Okeloh. Eh, kamu buatkan khusus?"
"Mana mungkin kubiarkan kamu makan bekal
minimarket terus."
"Oh, makasih banyak ya."
"Tapi lauknya semua pakai makanan beku,
sih."
"..."
Entah kenapa, tak seperti biasanya, Mayura
menyiapkan bekal untukku.
Katanya, itu agar aku tidak mempermalukannya.
Dia ternyata punya sisi yang baik juga, ya.
Dan alasan kenapa aku butuh bekal adalah
karena hari ini ada kegiatan sekolah kecil-kecilan.
"Hati-hati, ya."
"Haha, tenang saja."
"Wajahmu sudah memancarkan aura bakal
ketiban sial gara-gara perempuan, lho."
"Hahaha... mana mungkin..."
Mendengar ucapan yang tidak menyenangkan
itu, aku mengeluarkan keringat dingin.
Tenang saja, aku ini cuma karakter mob.
Selama aku bersikap patuh dan tidak mencolok, tidak akan terjadi apa-apa.
Pertama, aku pergi ke sekolah, berganti
pakaian olahraga, lalu bersiap berangkat.
Hari ini, seluruh kelas satu dijadwalkan
mengikuti kegiatan belajar di luar ruangan seharian penuh. Istilah kerennya,
field trip alias tamasya.
Mana ada anak SMA masih piknik, pikirku,
tapi ngomong-ngomong, saat aku masih menjadi anak SMA di kehidupan sebelumnya,
kegiatan piknik seperti ini memang ada.
Kami menaiki bus per kelas dan bergerak
menuju pinggiran kota.
Tujuannya adalah sebuah gunung yang
katanya merupakan tempat wisata yang cukup populer di daerah sini. Namanya
Gunung Abrami, ya? Kami turun dari bus di tempat parkir yang ada di kaki
gunung, lalu berjalan menuju jalur pendakian bersama kelas masing-masing.
Kelas kami, 1-1, mendapat giliran berjalan
di barisan paling depan.
Nah, saatnya tiba.
Ini adalah event yang juga ada di dalam
game tersebut.
Sang protagonis berinteraksi dengan para
heroine, menyelesaikan berbagai sub-event, dan menaikkan tingkat keintiman
serta kesukaan mereka.
Kudengar, di game aslinya kita bahkan bisa
menaklukkan beberapa heroine sekaligus secara bersamaan dan menaikkan tingkat
kesukaan mereka semua.
Jika aku bisa memanfaatkannya dengan baik,
aku mungkin bisa menaikkan tingkat keintimanku dengan semua heroine dan
memperkecil kemungkinan mereka masuk ke rute bad ending.
Kunci dari segalanya bergantung pada
hubungannya dengan satu orang. Protagonis, Akasaka Kouta.
Di game aslinya, pemain berperan sebagai
Akasaka Kouta untuk menaklukkan para heroine, tetapi Akasaka Kouta di dunia
nyata ini sepertinya tidak punya niat untuk mendekati para heroine secara
proaktif.
Padahal para heroine semuanya menaruh perasaan
suka pada Akasaka. Anak-anak cowok di sekitar pasti akan sangat iri jika
melihatnya.
Karena Akasaka tidak mau bergerak duluan,
satu-satunya cara adalah memaksa para heroine untuk mengambil inisiatif
mendekatinya. Demi menghindari bad ending.
Semua siswa memasuki jalur pendakian yang
belum diaspal dan mulai berjalan mendaki menuju puncak.
Awalnya mereka berjalan berkelompok
berdasarkan kelas, tapi mereka langsung terpencar dan mendaki jalan gunung
dengan kecepatan masing-masing.
Akasaka berada di... sekitar bagian paling
belakang dari kelompok depan. Posisi yang bagus.
Aku harus menyapa para heroine dan membuat
mereka bertindak bersama Akasaka. Kalau bisa, yang paling cepat adalah
membentuk satu kelompok yang terdiri dari Akasaka dan para heroine.
Nah, sebaiknya mulai dari siapa dulu... Aku
harus mengarahkan mereka untuk mendekati posisi Akasaka.
"Yuhuu, Saraguchi-kuun! Cuacanya cerah
banget, ya!"
"Nama pemanggilanku itu Saraguchi,
tahu."
Gadis
yang menyapaku dengan ceria adalah Amane Tenshin.
Ia
mengenakan pakaian olahraga polos di bagian atas dan celana training di bagian
bawah, serta menggendong ransel berukuran besar yang kelihatan cukup berat.
Amane
berjalan sejajar di sebelah kananku sambil tersenyum lebar dan mengajakku
mengobrol.
"Sesekali jalan-jalan begini seru juga,
ya! Kalau cuma belajar melulu di dalam kelas
kan bosan!"
"Begitu, ya."
"Eh, Saraguchi-kun kelihatannya nggak
begitu bersemangat? Nggak suka mendaki gunung?"
"Bukan nggak suka. Dibilang suka juga
enggak, sih."
"Begituー ya."
Aku menjawab sekenanya sambil kebingungan
bagaimana harus merespons Amane yang tiba-tiba bersemangat tinggi.
Bagaimana ya mengatakannya, karena dia
terlalu cantik, sekadar mengobrol biasa saja rasanya sudah menjadi perjuangan
tersendiri. Terlalu menyilaukan bagi mob sepertiku.
Kehadiran Amane saja sudah membuat suasana
di sekitar terasa lebih cerah, dan aku bisa melihat para siswa di
sekitarnya—baik cowok maupun cewek—memperhatikannya.
"Kenapa Tenshin-san ngobrol sama
cowok kayak gitu?" atau "Barusan figurnya ngomong?" mungkin
itulah yang mereka pikirkan. Aku bisa mendengar suara hati anak-anak sekelas
dan itu membuat telingaku sakit.
Namun,
semakin dilihat, dia benar-benar gadis yang sangat cantik. Wajahnya
proporsional dan selalu dihiasi senyuman.
Letak
pinggangnya tinggi, memiliki kaki yang jenjang nan ramping, bentuk kaki yang
indah, ukuran dada yang jauh melampaui standar rata-rata, pinggang yang
ramping, serta pinggul bulat yang manis.
Penampilannya benar-benar sempurna dan
proporsional, persis seperti gambaran seorang heroine utama yang sesungguhnya.
Ditambah lagi, dia dikelilingi oleh aura berkilau mirip serbuk peri, membuatnya
tampak bersinar di mana pun dia berada.
Bukan hanya spec-nya yang kelewat tinggi,
tingkat keintimannya dengan sang protagonis secara default juga sudah tinggi.
Di game aslinya, jika kita tidak menaikkan tingkat keintiman protagonis
dengannya melebihi heroine lain, para sub-heroine tidak akan bisa mencapai
happy ending.
Agar Amane tidak semakin menaikkan tingkat
keintimannya dengan Akasaka, aku harus menahannya agar tidak mendekati Akasaka.
Setelah itu, aku harus mengirim para heroine lain ke
tempat Akasaka...
"Bawaanmu berat banget, tuh. Isinya apa
saja?"
"Ah, ini? Aku pikir mendaki gunung itu
butuh banyak tenaga... jadi aku memasukkan makanan sebanyak yang kubisa!"
"Heh, begitu... semuanya itu
makanan..."
Menunjuk ke arah ransel raksasa yang
digendongnya, Amane membusungkan dadanya dengan bangga.
Tonjolan dada yang terbalut baju olahraga itu
berguncang lembut, langsung mencuri perhatian. Volumenya benar-benar luar
biasa. Ditambah lagi kelihatan empuk. Pantas saja dia adalah heroine utama.
Saat aku berniat melanjutkan percakapan untuk
menahan Amane lebih lama lagi, seorang heroine yang karakternya bertolak
belakang dengan Amane tiba-tiba menyela di antara kami.
"Selamat pagi, Saraguchi-kun. Cuacanya
bagus sekali, ya."
"O, oh. Betul."
Gadis yang menyapaku sambil tersenyum adalah
pemimpin para sub-heroine, sang heroine dari balik bayangan, Haruka Momomichi.
Berjalan di sebelah kiriku untuk menyaingi
Amane yang berada di sebelah kanannya, dia menyenggol lenganku dengan sikunya
sambil tersenyum manis.
"Akhir-akhir ini, kamu sering kelihatan
ngobrol sama Tenshin-san, ya. Apa ada tujuan tertentu?"
"Ha, hah? Enggak kok, nggak ada tujuan
apa-apa."
"Baguslah kalau begitu. Tolong kurangi
tindakan-tindakan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, ya."
Meskipun Haruka tersenyum, matanya sama sekali
tidak tersenyum. Penggunaan bahasa formalnya justru terasa
menyeramkan.
Dia menusukku dengan tatapan seolah
melihat seorang penjahat sambil memasang senyum palsu. Seriusan ini
menyeramkan, jangan-jangan dia sedang marah? Kenapa?
"Umm, kalau begitu aku duluan, ya! Sampai jumpa lagi, Saraguchi-kun!"
"Ah, ya..."
Sambil melambaikan tangan dengan ceria, Amane
berjalan menjauhiku.
Kenapa dia tidak pergi ke tempat Akasaka?
Padahal aku ingin menahannya sedikit lebih lama lagi.
Saat aku mengantar kepergian Amane dengan
pandangan mata, Haruka merapat mendekatiku dan menyenggolku dengan sikunya
lagi.
"Ada apa, kelihatannya kecewa begitu.
Kamu sebegitu inginnya jalan bareng Tenshin-san?"
"Bukannya begitu, ya. Tolong jangan salah
paham yang aneh-aneh."
"Salah paham? Benarkah begitu..."
Haruka menatapku dengan tatapan penuh
kecurigaan, membuatku mengeluarkan keringat dingin.
Padahal aku hanya mencoba menahan Amane agar
tidak pergi ke tempat Akasaka. Apakah Haruka mengira aku sedang mengincar
Amane?
"Gadis secantik itu mana mungkin sepadan
kalau disandingkan denganku. Aku cukup tahu diri, kok."
"Rasanya... tidak begitu juga, sih."
Haruka menundukkan pandangannya dan
menggumamkan kalimat pembelaan untukku.
Meskipun dia kadang-kadang berubah menjadi
yandere, pada dasarnya dia adalah anak yang serius dan baik hati.
"Lupakan soal aku, cepatlah sapa Akasaka.
Selama field trip ini, sebaiknya kamu banyak-banyak mengobrol dengannya."
"U, um... tapi, kurasa nggak usah
dipaksakan sampai segitunya juga..."
Mengingat dia masih merasa malu untuk menyapa
Akasaka secara langsung, Haruka sepertinya tampak kurang antusias.
Tapi, kalau dibiarkan begitu saja tidak bisa.
Terutama di event kali ini, seharusnya ada banyak kesempatan bagi protagonis
dan para heroine untuk menjadi lebih akrab. Akan menjadi masalah besar jika
kesempatan-kesempatan itu direbut oleh heroine lain, terutama Amane sang
heroine utama.
Saat aku mengarahkan pandangan ke depan, sosok
Akasaka entah sejak kapan sudah tidak terlihat lagi. Apa dia sudah berjalan
lebih dulu?
"Akasaka sudah pergi duluan, tuh. Kejar dia,
Momomichi-san!"
"Eh,
tapi..."
"Mungkin
sulit buatmu untuk mengajaknya ngobrol secara langsung, tapi berusahalah. Aku
mendukungmu!"
"U,
um, aku mengerti. Aku berangkat...!"
Haruka
memasang ekspresi tekad yang kuat, mempercepat langkahnya, dan berjalan
mendahului.
Bagus,
berusahalah. Pada akhirnya, tidak ada yang bisa dilakukan jika sang heroine
sendiri tidak bergerak secara proaktif. Sebagai seorang mob figuran, yang bisa
kulakukan hanyalah memberikan saran kepada mereka dan mengarahkan mereka untuk
menyingkirkan hal-hal yang berpotensi memicu jalur bad ending.
Tepat
saat Haruka berlari menyusul kelompok di depan hingga sosoknya tak terlihat
lagi,
Tanpa
sengaja aku menoleh ke belakang, dan aku melihat seseorang sedang berjalan di
posisi paling belakang barisan kelas.
Rambut
panjang bergelombang lembut, proporsi tubuh yang meskipun mungil tapi
berkembang dengan sangat baik, gadis cantik yang memancarkan atmosfer agak
dewasa, Saori Roppongi.
Sebagai
salah satu sub-heroine bernama, ia mengenakan setelan baju olahraga lengkap
dengan ransel berukuran standar, mendaki jalan gunung sambil terengah-engah dan
berjalan dengan langkah sempoyongan.
Meskipun
dia adalah seorang heroine dan rasanya tidak pantas bagi mob sepertiku untuk
ikut campur, aku memutuskan berhenti sebentar untuk menunggu Saori mendekat,
lalu menyapanya.
"Kamu
tidak apa-apa, Roppongi-san? Kelihatan capek banget."
"......Rasanya
aku bakal tumbang. Mendaki gunung itu mustahil buatku. Kalau begini terus aku
bisa mati..."
"Jalur
pendakiannya cukup landai sampai-sampai anak SD saja kuat. Ayo semangat."
Meskipun
Saori memancarkan aura dewasa, stamina dan kemampuan atletiknya sangat rendah,
mirip anak tingkat sekolah dasar.
Sambil
tersenyum pahit melihat Saori yang terengah-engah dengan wajah tersiksa, aku
mencoba menyemangatinya.
"Semangat,
Roppongi-san. Justru momen seperti ini adalah kesempatan emas untuk mempererat
hubungan dengan Akasaka, lho. Pergilah ke tempatnya dan ajak dia ngobrol. Ayo,
cepat kejar."
"......"
Saori
menatap lekat-lekat wajahku yang berdiri di sebelah kanannya, lalu bergumam
pelan.
"Bukannya aku tidak ingin akrab dengan
Akasaka-kun, sih. Tapi kurasa memaksakan diri cuma bikin aku kelelahan."
"B, bukan begitu. Event di luar pelajaran
sekolah yang normal seperti ini sayang kalau dilewatkan... Lagipula sepertinya
banyak cewek lain yang mengincar Akasaka, lho."
"Begitukah? Repot juga, ya."
Mendengar respons Saori yang terdengar seperti
membicarakan urusan orang lain, aku langsung memasang ekspresi kaku.
Hei, bukan waktunya bicara santai seperti itu.
Ada banyak heroine yang mengincar sang protagonis
Akasaka. Saori juga harus berjuang.
Bagaimana kalau sampai terjerumus ke rute
bad ending? Kalau kasus Saori, bahkan seluruh dunia bisa
hancur, tahu!
"Semangat, Roppongi-san. Ayo, kejar
Akasaka."
"Enggak mau. Mau membunuhku, ya?"
Melihatnya bukan sedang bermalas-malasan
melainkan benar-benar kehabisan tenaga secara fisik, aku jadi bingung harus
berbuat apa.
Meskipun hari ini takdir tidak sepenuhnya
ditentukan hanya lewat event ini saja, melewatkan kesempatan untuk berinteraksi
dengan Akasaka di sini adalah hal yang buruk.
Setidaknya dia harus mengobrol dengan
Akasaka. Kalau sudah begini caranya...!
"Roppongi-san, naiklah ke
punggungku!"
"Eh...?"
"Ayo, cepat! Cepat naik ke
punggungku!"
"......"
Saori tampak ragu-ragu sejenak, tapi
setelah aku mendesaknya berulang kali, ia akhirnya menurut.
Saat aku membungkuk, Saori dengan
malu-malu menyandarkan tubuhnya ke punggungku.
Uwooooh, empuk banget! Ditambah lagi
tercium aroma dewasa yang harum, serta kehangatan tubuhnya. Apakah itu aroma
bunga mawar?
Tonjolan dada yang berkembang di luar
dugaan menempel di punggungku, dan pahanya yang lembut menjepit pinggangku.
Ketika aku merulurkan kedua tangan ke
belakang untuk menopangnya agar tidak terjatuh, bokong Saori mendarat mantap di
atas tanganku, menyalurkan sensasi berat yang menyenangkan sekaligus kelembutan
berelastisitas tinggi.
"Baiklah, ayo berangkat. Pegangan
yang erat."
"Baik. Agak malu, sih..."
"Tahan sebentar. ......Berat juga, ya."
"Ada apa barusan? Kasar
banget..."
"M-maaf."
Sambil menggendong Saori di punggungku,
aku melanjutkan langkah menyusuri jalur pendakian yang belum diaspal.
Kemiringannya memang cukup landai, tapi menggendong satu orang dewasa sambil
berjalan sungguh melelahkan.
"......Punggung Saraguchi-kun lebar.
Rasanya seperti ayah."
"B-begitu ya? Aku jadi malu
mendengarnya."
"Rasanya stabil dan nyaman banget. Fuuuh......"
"......"
Mengatakan hal itu, Saori melingkarkan kedua
lengannya di leherku dan merapat semakin erat.
Meskipun tubuhnya mungil, tonjolan dadanya
yang cukup besar menekan punggungku dengan lembut, membuatku nyaris merasa
melayang karena terlalu nyaman.
Aku ini cuma mob, cuma bagian dari latar
belakang, jadi meskipun aku bersentuhan secara fisik dengan heroine, itu sama
saja seperti menyentuh rumput atau batu di sekitar sini, tidak ada artinya sama
sekali... Aku mencoba merapal mantra itu pada diriku sendiri agar tidak salah
paham.
Namun, karena aku menggendong Saori, jangankan
mengejar Akasaka, aku justru tertinggal jauh dari rombongan kelas. Seharusnya
aku melatih tubuhku dan menaikkan parameter fisik lebih tinggi lagi.
"Eh, ternyata kalian ada di barisan
paling belakang! Takumi-cchi? Lagi ngapain?"
Orang yang menyapa kami adalah sang gadis
sporty, Akira Shiyodai.
Jika sebagian besar siswa mengenakan setelan
pakaian olahraga atas-bawah atau training lengkap, Shiyodai justru mengenakan
kaus olahraga dipadu celana pendek.
Berjalan sejajar di sebelahku sambil menengok
ke arah kami, Shiyodai bertanya.
"Seperti yang kamu lihat. Sedang
mengangkut Roppongi-san."
"Kenapa
bisa... Roppongi-san cedera? Atau lagi nggak enak badan?"
"......Nggak cedera, kok. Cuma, waktu
aku kelihatannya hampir nggak sanggup mengikuti langkah anak-anak sekelas,
Saraguchi-kun nawarin buat gendong aku..."
Mendengar itu, Shiyodai menghela napas
dengan ekspresi takjub dan menatapku tajam.
"Takumi-cchi ini suka ikut campur urusan
orang lain, ya. Padahal biasanya pasang muka masa bodoh."
"Biarkan saja. Mau menyalahkanku?"
"Enggak, bukan begitu. Cuma rasanya aneh
saja melihat cowok yang baik ke semua orang itu..."
"?"
Aku tidak berbuat baik ke semua orang,
kok. Kesalahpahaman yang parah.
Aku memilih orangnya dengan cermat, dan
aku bahkan tidak berniat berbuat baik. Aku hanya ingin menghindari bad ending.
"Kalau Shiyodai sendiri lagi ngapain
di sini?"
"Anak-anak kelas pada mencar ke
mana-mana, jadi aku keliling buat memastikan nggak ada yang tersesat.
Maklumlah, aku kan anggota komite olahraga."
"Repot juga, ya. Daripada ngurusin
hal begitu, bukannya lebih baik kamu kejar Akasaka..."
"Kyaaaa! Jangan ngomong
sembarangan—!"
Shiyodai langsung merubah ekspresinya dan
membekap mulutku dengan tangannya.
......Apakah salah bicara di depan Saori?
Aku harus lebih berhati-hati.
"U-udah, ayo cepat jalan! Yang lain sudah
pada jauh di depan."
"B-baik..."
Shiyodai meraih tanganku dan menarikku dengan
kuat.
Anak ini, tenaganya kuat banget...!
Rasanya seperti ditarik oleh skuter matik atau traktor... Apakah ini kekuatan
karakter tipe atletis?
Sambil tetap menggendong Saori di
punggungku, aku ditarik oleh Shiyodai mendaki jalur gunung.
Lebih tepatnya ditarik, atau lebih mirip
diseret, ya. Betul-betul bisa diandalkan. Heroine bertipe sporty itu hebat
juga, ya.
"Shiyodai-san tangguh banget, ya.
Tenaganya luar biasa."
"Eh? A-aku, ya..."
Tepat saat itu, Saori berbisik di
telingaku.
"......Mengatakan gadis lain tangguh atau
bertenaga itu rasanya kurang sopan..."
"B-begitu, ya?"
Aku mengangguk pada Saori lalu berkata kepada
Shiyodai.
"Ah, maksudku, meskipun kamu ramping dan
manis begini, punya tenaga besar itu keren banget... Kelihatan cool, lho."
"Kamu ini mujinya terpaksa banget, ya?
Ma-manis atau apa... duh..."
"?"
Mengingat dia tidak sadar betapa populernya
dia di kalangan cowok maupun cewek, Shiyodai tampak kebingungan salah tingkah.
Lalu Saori kembali berbisik di telingaku.
"......Ucapanmu barusan kelewatan.
Kurangi sedikit."
"B-begitu,
ya? Susah juga, ya..."
Bagaimanapun
juga, aku ini cuma seorang mob yang keahliannya hanya bermain game.
Mana
paham caraku memperlakukan anak perempuan dengan benar. Paling mentok ya jurus
penaklukan galge...
Menurutku
memuji kelebihan seseorang secara jujur itu tidak salah, tapi rupanya memuji
berlebihan juga tidak bagus, ya. Batasan semacam itu sulit untuk dipahami.
Beberapa
saat kemudian, kami tiba di sebuah persimpangan jalan di mana jalurnya terpecah
menjadi dua, dan di sana sudah berkumpul banyak orang.
Sepertinya
ada masalah... jangan-jangan ini adalah event itu?
Shiyodai
berlari mendekati kerumunan itu, lalu segera kembali dan melaporkan kepada
kami.
"Ada
masalah! Katanya gara-gara iseng atau ulah seseorang, tanda panah di papan
penunjuk arah tertukar! Sepertinya ada beberapa orang yang tidak
sadar dan terlanjur mengambil jalur yang salah."
Ternyata benar dugaanku. Sebenarnya, ini
adalah event yang ada di dalam game tersebut. Rupanya event ini juga tercermin
di dunia nyata.
Dari dua jalur yang bercabang, satu jalur
adalah jalan normal yang menuju ke puncak, sementara jalur lainnya mengarah ke
bagian dalam hutan gunung.
Jalur yang mengarah ke dalam hutan semakin
lama semakin terjal dan akhirnya terputus.
Untuk menyelesaikan event field trip secara
normal, kita seharusnya memilih jalur yang mengarah ke puncak, tetapi jika
memilih jalur yang salah, event unik akan terpicu.
Atau lebih tepatnya, untuk menaikkan tingkat
keintiman dan kesukaan terhadap heroine, kita justru harus memilih jalur yang
salah.
Event di mana sang protagonis dan heroine
terpisah dari rombongan dan tersesat, lalu tingkat keintiman mereka meningkat
akibat harus berdua-duaan saja.
Namun, di game asli yang menjadi acuan, event
ini seharusnya terjadi di perjalanan pulang dari field trip... kenapa malah
terjadi di perjalanan berangkat?
Meskipun dunia ini mencerminkan pengaturan
dan event dari game, bukan berarti alurnya akan berjalan persis seratus persen
sama. Seharusnya aku sudah paham soal itu.
Aku terlalu lengah. Karena kukira event
itu akan terjadi saat perjalanan pulang, aku sama sekali tidak berjaga-jaga.
Padahal rencananya, aku ingin memilih
heroine yang tingkat keintimannya dengan Akasaka paling rendah saat ini, lalu
membiarkannya berpartisipasi dalam event tersebut bersama Akasaka...
Tidak, tunggu dulu. Shiyodai bilang ada
orang-orang yang terlanjur mengambil jalur yang salah, kan?
Jika di antara mereka ada Akasaka dan salah
satu heroine... bukankah event-nya akan langsung tercipta?
Di dalam kelompok siswa yang berjalan paling
depan tadi, seharusnya ada Akasaka, Amane Tenshin, dan Haruka Momomichi.
Harapannya, semoga Haruka berjalan bersama
Akasaka, tapi kalau ternyata tidak... kalau ternyata yang bersama Akasaka
adalah Amane, itu adalah skenario terburuk.
Atau lebih tepatnya, Amane tidak mungkin
melewatkan kesempatan emas seperti event ini. Sekalipun Amane sendiri tidak
menginginkannya, kekuatan misterius yang memberikan keistimewaan pada heroine
utama pasti akan memicu terciptanya event tersebut.
Sial, aku tidak akan membiarkan mereka memicu
flag dengan Amane lebih banyak lagi. Semua
sub-heroine bisa-bisa langsung meluncur lurus ke rute bad ending.
"Kita harus memanggil kembali
anak-anak yang masuk ke jalur yang salah! Um, aku coba hubungi mereka lewat
grup kontak kelas..."
Shiyodai mengeluarkan ponselnya dan
mencoba menghubungi mereka lewat aplikasi panggilan.
Tapi, cara itu tidak akan berhasil. Dalam
event ini, fasilitas komunikasi seharusnya disetel tidak berfungsi.
"Eh, kok nggak bisa dihubungi? Jalur ke arah sana kelihatannya masuk zona tanpa sinyal..."
Sudah kuduga. Rupanya aturan game itu
benar-benar diterapkan di sini.
Jika begitu, tidak ada cara lain selain
menyusul mereka secara langsung.
"Um, pertama-tama kita lapor ke guru
dulu... Takumi-cchi, mau ke mana?"
"Mungkin mereka belum terlalu jauh. Aku
akan pergi memanggil mereka!"
"B-bahaya! Sebaiknya tunggu instruksi
dari guru dulu..."
"Aku cuma pergi sampai dekat situ saja! Tolong jaga
Roppongi-san ya!"
Menurunkan
Saori yang tadinya digendong di punggungku, aku berlari menuju jalur yang
salah.
Sebelum
Amane sempat memicu event bersama Akasaka, aku harus menggagalkannya. Dan kalau
bisa, aku harus memastikan event-nya terjadi dengan kombinasi Haruka dan
Akasaka...
Sambil
berlari menyusuri jalan setapak gunung, jalurnya perlahan-lahan menyempit,
membuktikan bahwa jalur ini sudah jarang dirawat.
Melihat
beberapa siswa pria dan wanita berjalan gontai, aku mencoba memanggil mereka.
"Woi,
jalur ini salah! Cepat berputar balik!"
Mereka
tampak lega dan berkata, "Pantesan", "Kuduga jalur ini
aneh", "Padahal aku sudah bilang kalau ini bukan jalurnya".
"Hei, apa kalian melihat Akasaka? Apa Tenshin-san
atau Momomichi-san bersama kalian?"
"Kalau Akasaka, tadi dia jalan jauh di
depan. Sepertinya Tenshin-san juga ada di dekatnya..."
"Di depan, ya. Baiklah, kalian bertiga
cepat kembali lewat jalan yang kalian lewati tadi."
Berpesan kepada mereka, aku melanjutkan
langkah ke depan. Orang-orang itu sempat berkata, "Siapa tadi
namanya?", "Bukannya anak itu namanya Saraguchi?", "Baru
pertama kali dengar suaranya ngomong", tapi aku tidak peduli.
Bukankah tidak ada satupun karakter bernama di
sini? Tolonglah, semoga mereka belum sampai memicu event...
"Hah, hah... sial, seberapa jauh mereka
jalan...?"
Meskipun aku sudah berjalan cukup jauh ke
depan, meski ada beberapa siswa figuran lain, aku sama sekali tidak melihat
sosok Akasaka maupun Amane.
Mungkin ini sudah terlambat. Event tersesat
antara protagonis dan heroine sudah terpicu, ya.
Namun, masalahnya adalah siapa pasangannya.
Kalau ternyata itu Amane, gawat. Aku harus mencari cara untuk menghentikannya.
Semakin aku menyusuri jalur gunung tersebut,
aku melihat sepasang pria dan wanita berjalan terhuyung-huyung.
"Woi! Jangan melangkah lebih jauh ke
dalam lagi!"
Begitu aku memanggil, keduanya menghentikan
langkah dan menoleh ke belakang.
Mereka adalah Akasaka Kouta dan... Amane
Tenshin.
"Ternyata jalur ini salah, ya. Pantesan
jalurnya semakin lama semakin sepi..."
"Bahaya
banget. Tersesat saat field trip itu bukan bahan lelucon, lho."
Akasaka
kelihatan agak kelelahan, sementara Amane tersenyum lebar seperti biasa.
Melihat
mereka berdua bersama memang sudah masuk dalam prediksiku, tapi sepertinya
event tersesat itu sendiri belum resmi dimulai. Setidaknya untuk saat ini aku
bisa bernapas lega.
"Apa
ada orang lain yang berjalan mendahului kalian?"
"Enggak,
sepertinya tidak ada. Soalnya tadi kami ditarik jalan terus sampai ke barisan
paling depan sama Tenshin..."
"Iya,
betul sekali! Kurasa kami berdua adalah orang yang paling depan!"
Kalau begitu, tidak ada alasan bagiku untuk
melanjutkan perjalanan lebih jauh. Aku harus segera berbalik arah dan—
"Ngomong-ngomong,
di mana Momomichi-san? Apa dia tidak bersama kalian?"
Mendengar pertanyaanku, mereka saling
berpandangan dan menjawab.
"Entahlah, kami tidak tahu. Kurasa dia
tidak berjalan mendahului kami, kok."
"Sepertinya aku sempat melihat
Momomichi-san di dekat persimpangan tadi! Kelihatannya dia mondar-mandir di
belakang kami."
"Kalian tahu dia mengambil jalur yang
mana?"
"Hmm, yang itu aku nggak tahuー!"
"Begitu, ya..."
Sambil mengikuti langkah Akasaka dan Amane
yang mulai berbalik arah kembali, aku berpikir.
Jika mereka berdua adalah orang yang
berada di barisan paling depan, artinya tidak mungkin ada orang lain di depan
sini. Otomatis, Haruka juga seharusnya tidak ada di sini.
Kalau begitu, apakah Haruka mengambil
jalur yang benar menuju puncak? Tapi, Amane bilang dia sempat melihat Haruka.
Apakah akal sehatnya memperbolehkan Haruka memilih jalur yang berbeda dari
Akasaka, padahal tujuan utamanya adalah ingin mendekati Akasaka?
Itu tidak mungkin. Lagian karena papan
penunjuk arahnya tertukar, dia pasti mengira jalur inilah yang benar.
Jika memang begitu... ke mana sebenarnya
Haruka pergi?
Berpikirlah, gunakan otakmu, aku. Event
ini ada di dalam game, jadi alurnya seharusnya bisa ditebak.
Meskipun
ada sedikit perbedaan tak terduga dari gamenya, jika mempertimbangkan
kepribadian dan pola tindakan Haruka...
"Haruka
sempat menyusul Akasaka dan Amane, lalu menguntit dari belakang sambil
kebingungan mencari waktu yang tepat untuk menyapa... Mengikuti Akasaka dan
Amane yang salah memilih persimpangan, Haruka pun ikut masuk ke jalur ini...
Tanpa sempat menyapa, dia terus mengikuti mereka dari jarak agak jauh,
menyusuri jalur gunung yang tidak terawat ini..."
Dalam
perjalanan kembali, aku menyadari ada jejak seolah-olah sesuatu telah
tergelincir di sisi kiri jalur gunung yang sempit—ke arah lereng
curam—membuatku terperanjat.
Tadi
saat aku melewatinya aku tidak menyadarinya, tapi semak-semak tampak rebah
seolah ada seseorang yang tergelincir jatuh ke bawah...
"......Jangan-jangan......
dari sini...?"
Mengikuti
jejak semak-semak yang rebah, aku keluar dari jalur setapak dan menuruni lereng
sambil berpegangan pada batang-batang pohon.
Jejak
ketergelinciran itu berlanjut cukup jauh ke bawah. Jika jejak ini memang
disebabkan oleh seseorang yang terjatuh, maka orang itu mungkin tidak akan
selamat...
Sambil
merasa sedikit panik, aku menuruni lereng sejauh belasan meter, dan begitu aku
melihat ujung lereng tersebut ternyata adalah tebing yang terjal, aku langsung
mengeluarkan keringat dingin.
Jangan-jangan, dia terjatuh dari sana? Kalau benar begitu, urusannya bukan sekadar cedera
ringan lagi...!
Aku buru-buru berlari ke tepi tebing,
menatap ke bawah ke arah hutan yang membentang jauh di dasar jurang, lalu
berteriak sekuat tenaga.
"Woi, Momomichi-san! Kalau kamu ada
di situ, tolong beri aku jawaban! Woi!"
Aku menajamkan pendengaran, tapi tidak ada
balasan sama sekali.
Meskipun aku tidak tahu pasti berapa
ketinggiannya, tebing ini tingginya pasti lebih dari sepuluh meter... Jika
seseorang terjatuh dari sini, dia bisa mengalami cedera parah, atau bahkan...
"......Tidak mungkin. Woi, Momomichi-san,
jawab aku! Kumohon, bertahanlah...!"
Saat keputusasaan mulai merayap dan membuat
pandanganku terasa gelap, tiba-tiba—
Aku merasa mendengar suara kecil,
membuatku tersentak.
......Dari mana asalnya? Barusan aku
mendengarnya dengan jelas. Suara mirip rintihan hewan kecil yang nyaris
tewas...
"......Ugh, tolong aku..."
"!? "
Aku mencondongkan tubuh dari tepi tebing
dan mengamati situasi di bawah dengan seksama.
Tepat di bawah tebing berbatu, di sebuah
titik tonjolan kecil sekitar empat atau lima meter di bawah sini, seseorang
tampak meringkuk di sana.
Begitu aku memastikan bahwa sosok itu
adalah Haruka Momomichi, aku langsung meluncur menuruni tebing. Sambil memutar
tubuh dan menahan tangan serta kaki pada dinding tebing, aku menuruni sisi
curam itu hingga sampai ke tempat Haruka berada.
Mendarat di atas tonjolan batu dan
memastikan sekali lagi bahwa gadis yang meringkuk di sana benar-benar Haruka,
aku menghela napas lega.
"Akhirnya ketemu. Sedang apa kamu di
tempat seperti ini, Momomichi-san?"
"Eh, eh? S-Saraguchi-kun? K-kenapa kamu
bisa ada di sini... ehhhhh!?"
Haruka yang tadinya memeluk lutut dengan
posisi duduk bersila di tanah, langsung membelalakkan matanya begitu melihatku,
memasang ekspresi seolah tidak percaya.
Nggak usah pasang wajah tak percaya begitu,
dong. Bikin orang khawatir setengah mati saja.
Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang
damai dan tenteram. Bukan lelucon yang lucu jika salah satu heroine jatuh ke
jurang rute bad ending, dan aku tidak ingin ada orang yang terluka parah atau
mengalami nasib sial akibat event yang terjadi sebelum ending.
"Aku lega kamu selamat. Kamu tidak
apa-apa? Ada bagian yang sakit atau terluka?"
"U, um, aku baik-baik saja...
tss...!"
Saat mencoba berdiri, Haruka mengerutkan
keningnya.
Sepertinya pergelangan kaki kanannya terkilir,
membuatnya tampak kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Dalam kondisi seperti itu, mendaki
tebing dengan kekuatan sendiri rasanya tidak mungkin. Kalau begitu..."
Aku mendongak ke atas dan menghela napas.
Kalau hanya aku seorang diri, mungkin aku bisa mendaki, tapi itu mustahil bagi
Haruka yang sedang cedera.
Tepat pada saat itu, suara gemuruh terdengar
dari langit, disusul turunnya titik-titik air hujan. Suara guntur bergemuruh,
dan hujan mulai turun dengan derasnya.
Di bagian pangkal tonjolan batu di tengah
tebing, terdapat sebuah rongga kecil yang sepertinya cukup untuk menampung dua
orang dengan longgar.
Aku mengajak Haruka bergerak ke dalam rongga
tersebut untuk berteduh dari hujan.
"Mari kita tunggu sampai hujannya reda.
Bergerak secara gegabah di saat seperti ini sangat berbahaya."
"B, benar juga, ya. Karena berbahaya, mau
tidak mau... m, maafkan aku, semua ini gara-gara..."
Haruka memeluk lututnya di sebelahku,
menggumamkan kalimat itu dengan ekspresi nyaris menangis.
Aku menghela napas dan memberitahu Haruka.
"Bukannya begitu, justru aku yang
menuntunmu untuk pergi ke tempat Akasaka. Kamu mengikuti Akasaka dkk karena
salah mengambil jalan, lalu tersesat hingga jatuh ke tebing ini, semua itu
adalah tanggung jawabku. Akulah yang seharusnya meminta maaf... Maafkan
aku."
Aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya untuk
menyampaikan permintaan maaf.
Namun, entah kenapa wajah Haruka mendadak
memerah, ia mengibaskan kedua tangannya dengan panik dan kebingungan.
"T, tidak, Saraguchi-kun tidak perlu
meminta maaf! Aku sendiri yang ceroboh dan jatuh dari tebing! J, jangan
dipikirkan!"
Meskipun dia berkata begitu...
Meskipun aku tahu tentang adanya event itu,
tapi aku gagal menghindari masalahnya, jadi apa yang sebenarnya sedang
kulakukan?
Sungguh, betapa tidak kompetennya diriku
ini. Aku merasa begitu payah sampai-sampai ingin
menangis.
Bahkan untuk field trip kali ini, aku tahu ada
event tersesat tapi tetap saja gagal menghindarinya. Meskipun waktu dan detail
kemunculan event-nya berbeda dari gamenya, bukankah seharusnya aku bisa
bertindak lebih pintar? Sungguh, aku benar-benar payah...
"...Waktu aku jatuh dari tebing tadi,
jujur saja aku sempat berpikir semuanya sudah berakhir. Diselamatkan seperti
ini rasanya hampir seperti keajaiban."
"..."
"Lagi pula, aku sama sekali tidak
menyangka Saraguchi-kun mau datang menyelamatkanku... Kenapa kamu rela
melakukan hal berbahaya seperti ini untuk menyelamatkanku?"
Uh, kalau ditanya kenapa...
Aku hanya ingin menghindari rute bad ending
itu... tidak ada makna yang lebih dalam dari itu.
"Tidak ada alasan khusus. Ada orang yang
kelihatannya terjebak dalam situasi berbahaya, jadi aku cuma menolongnya.
Jangan dipikirkan."
"Begitukah? Kalau begitu, anggap saja
begitu, ya..."
Intensitas hujan semakin meningkat hingga
berubah menjadi badai hujan.
Kami mundur sampai ke bagian paling dalam dari
rongga kecil itu, saling merapatkan bahu sambil menunggu hujan reda.
Mendapati Haruka yang bergetar ketakutan, aku
melepaskan jaket training-nya dan menyampirkannya di bahunya.
"S, Saraguchi-kun? Apa yang..."
"Nanti kamu malah masuk angin. Cuma ini
yang bisa kulakukan, jadi tolong tahan sebentar."
"......Um."
Sekitar satu jam berlalu hingga akhirnya hujan
pun reda.
Hujan bisa saja turun lagi, jadi kita harus
segera mengevakuasi diri mumpung ada kesempatan.
Aku bangkit berdiri dan berkata kepada
Haruka.
"Mari kita cepat bergabung dengan
yang lain. Sebelum situasinya menjadi semakin rumit."
"U, um, tapi... apakah kita bisa keluar
dari tempat ini sendirian..."
Haruka tampak diliputi rasa cemas yang luar
biasa.
Wajar saja. Dalam situasi seperti ini, orang
yang ada di sisinya hanyalah mob tidak kompeten sepertiku. Aneh rasanya jika
dia tidak merasa cemas.
Jujur saja, aku tidak yakin orang sepertiku
bisa mengatasi ini, tapi aku akan mencobanya semampu yang kubisa. Meskipun
kelihatannya begini, aku dulunya adalah seorang gamer yang cukup handal dalam
hal menamatkan game, dan aku juga sempat bekerja sebagai tester profesional.
"Ayo pergi, Momomichi-san. Pegangan yang
erat, ya."
"B, baik. Mohon bantuannya..."
Setelah menyuruh Haruka mengenakan dua buah
ransel sekaligus di punggungnya, dia merapat memeluk punggungku, dan kami
bersiap melakukan evakuasi keluar dari tebing.
Alangkah baiknya jika ada tali, tapi baik aku
maupun Haruka sama sekali tidak membawanya. Mengesampingkan Haruka yang tidak
tahu apa-apa, aku yang sudah tahu bahwa event tersesat ini akan terjadi
seharusnya menyiapkan hal semacam itu. Bodoh sekali sampai membuatku ingin
menangis.
Kami memanjat tebing curam berbatu dengan
tangan kosong.
Memang ada beberapa tonjolan yang bisa
dijadikan pegangan tangan dan kaki, tapi aku ini tipe introvert rumahan yang
sama sekali tidak punya pengalaman memanjat tebing ataupun bouldering.
Terlebih lagi permukaannya sangat licin karena
basah oleh air hujan. Beberapa kali aku hampir terpeleset dan
rasanya ingin menyerah saja.
Namun, aku tidak boleh menyerah. Di
punggungku ada Momomichi Momomichi, seorang karakter bernama sekaligus sang
heroine dari balik bayangan.
Mana mungkin aku membiarkan Haruka—salah
satu heroine yang menjadi pusat dunia ini—gugur di event babak awal seperti
ini. Aku akan mendaki sampai ke atas tebing
meskipun harus mati.
"Ugh, ayo... a, aku pasti bisa
melakukannya...!"
"S-Saraguchi-kun, jangan memaksakan
diri... Kalau kamu meninggalkanku, kamu pasti bisa naik ke atas dengan mudah,
kan?"
"Enggak, ogah. Aku bersikeras mau membawa
Momomichi-san bersamaku...!"
"K-kenapa sampai segitunya... Padahal
biarkan saja aku sendirian..."
Mendengar ucapan pesimis Haruka lagi, aku
merasa sedikit kesal dan balas membantah.
"...Jangan bilang 'biarkan aku sendirian'
begitu. Aku ingin menyelamatkanmu, jadi diam saja dan dengarkan aku!"
"Eh, tapi... melakukan hal seperti ini
tidak ada untungnya buat Saraguchi-kun..."
"Yah, memang tidak ada. Keuntungan apa
pun itu tidak ada. Tapi terus kenapa?"
"Eh?"
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu, titik
itu saja. Tidak ada untung atau rugi, tapi itulah tujuanku. Sekalipun kamu
bilang tidak mau, aku akan tetap memaksa menyelamatkanmu. Itulah tujuanku dan
hal itu sudah memuaskanku! Aku tidak peduli meskipun orang lain mau mencelaku!
Aku akan bertindak sesuai dengan keinginanku sendiri!"
"......"
Sambil memanjat permukaan batu yang basah
dengan tangan kosong, berlumuran lumpur, dan nyaris terpeleset berkali-kali,
aku terus mengarah ke atas.
Baik secara fisik maupun mental, aku sudah
mencapai batasnya, membuatku tanpa sadar melontarkan isi hatiku yang
sebenarnya.
Haruka pasti merasa jijik. Mendengar keinginan
sepihak dari cowok mob sepertiku, dia pasti mengira aku ini orang yang aneh.
Namun, hal semacam itu tidak penting. Aku
hanya ingin menyelamatkan Haruka dan mencegahnya masuk ke rute bad ending.
Sekalipun di tengah proses tersebut aku dibenci olehnya sebagai seorang mob,
itu bukanlah masalah besar.
Setelah nyaris terpeleset berkali-kali, kami
akhirnya berhasil mencapai bagian atas tebing.
Hanya tinggal sedikit lagi, merentangkan
tangan sekitar tiga puluh sentimeter saja sudah cukup untuk mencapai puncak
tebing, ketika kakiku tiba-tiba terpeleset dan aku hampir jatuh.
Sudah berakhir, pikirku saat itu... namun
tangan seseorang terulur dan menangkap tanganku.
"Ketemu. Bertahanlah, Saraguchi!"
"!? "
Orang itu adalah Akasaka Kouta, sang
protagonis dari game yang menjadi acuan dunia ini.
Terlebih lagi, yang meraih tanganku bukan
hanya Akasaka saja.
"Sudah aman sekarang! Pegang erat-erat,
Saraguchi-kun!"
"Jangan memaksakan diri sendirian dong!
Panggil aku kalau butuh bantuan!"
"......Syukurlah kalian selamat. Jangan
membuat orang lain khawatir."
Amane Tenshin, Akira Shiyodai, Saori Roppongi.
Para heroine semuanya meraih lengannya diriku—yang tak lebih dari seorang
mob—dan menarik kami ke atas dengan kuat.
Setelah ditarik naik hingga ke atas tebing,
aku menghela napas lega. Aku mengucapkan terima kasih kepada Akasaka dan para
heroine yang telah menyelamatkan kami.
"Terima kasih semuanya. Berkat kalian aku
selamat..."
Mendengar itu, Akasaka dan para heroine
merespons dengan senyuman.
"Aku lega kalian berdua selamat!
Ampun deh, jangan bikin orang lain cemas, ya!"
"Betul, betul! Saat tahu-tahu
Saraguchi-kun ikutan hilang, aku sempat bingung harus berbuat apa! Setidaknya
beri tahu kami lewat suara!"
Rupanya Akasaka dan Amane baru menyadari
kehilanganku saat mereka kembali ke persimpangan jalan, lalu bersama Shiyodai
dan Saori mereka datang untuk mencari kami.
Karena hujan mulai turun di tengah
pencarian, mereka sempat menghentikan pencarian sementara, lalu melanjutkan
pencarian lagi setelah hujan reda hingga akhirnya tiba di sini.
"Waktu aku dengar Takumi-cchi hilang,
kepalaku rasanya langsung kosong! Jangan berbuat nekat sendirian seperti itu,
dong!"
"Aku tahu Saraguchi-kun pasti bisa
menyelamatkan Momomichi-san, tapi... mengorbankan diri sendiri itu tidak zaman.
Jangan lakukan hal seperti itu lagi."
Semua orang sepertinya mengkhawatirkan
keselamatan kami. Mereka semua adalah orang-orang baik sampai-sampai membuatku
merasa tidak enak.
Bagaimanapun juga, event tersesat ini berhasil
dihindari tanpa masalah, jadi bisa dibilang ini happy ending, kan?
Karena insiden siswa yang hampir tersesat itu,
kegiatan field trip akhirnya dibatalkan.
Pihak sekolah tampaknya menjadi heboh, mereka
bahkan sempat menghubungi regu pemadam kebakaran lokal dan tim penyelamat
hampir dikerahkan.
Semua siswa diperintahkan turun gunung dan
menunggu di dalam bus.
Mengingat Haruka yang sempat hilang kini telah
kembali dengan selamat, anak-anak sekelas tampak merasa lega.
Karena waktu sudah lewat tengah hari, kami
menyantap makan siang di dalam bus.
...Aku juga agak kelelahan. Padahal aku ini
mob yang introvert, tapi aku malah melakukan hal-hal di luar karakterku...
"Anu... boleh duduk di sebelah
sini?"
Orang yang menyapaku adalah Haruka.
Begitu aku mengangguk, Haruka mendudukkan
diri di kursi kosong sebelahku dan membentangkan bekal yang dibawanya.
Namun, kenapa dia repot-repot datang ke
tempatku?
"......Bukankah di saat seperti ini
lebih baik kamu makan bersama Akasaka?"
"Kamu ngomong begitu lagi... Aku
justru ingin makan bersama Saraguchi-kun. Apa kamu sebegitu tidak sudi-nya
makan bareng aku...?"
Ditatap dengan tajam, aku mengeluarkan
keringat dingin.
Bisa tidak tolong turunkan garpu yang kamu
pegang dengan posisi terbalik itu? Pose itu jelas-jelas ditujukan untuk menusuk
lauk di dalam kotak bekal, kan?
"Karena aku belum sempat mengucapkan
terima kasih... jadi aku ingin menyampaikannya."
"Terima kasih?"
"Terima kasih sudah datang
menyelamatkanku. Kalau kamu tidak datang, entah apa yang akan terjadi
padaku..."
Mendengar ucapan terima kasih yang disampaikan
dengan senyuman manis itu, jantungku berdegup kencang.
Hadeh, pantas disebut sebagai pemimpin para
sub-heroine, tingkat kegemasannya luar biasa seperti biasa. Yang mengerikan
adalah dia tidak menyadarinya sama sekali.
Aku buru-buru memalingkan wajah, memfokuskan
pandangan pada kotak bekal milikku sendiri agar tidak melihat ke arah Haruka.
"Ya, ya, kebetulan aku menemukannya
saja... jadi nggak usah berterima kasih..."
"Sebenarnya, ya... aku sempat berpikir,
jangan-jangan Saraguchi-kun akan datang menyelamatkanku..."
"Eh?"
Memiringkan kepala mendengar ucapan aneh
Haruka, aku kembali menatapnya.
Sambil mengalihkan pandangannya dariku, Haruka
berbisik pelan.
"Waktu aku jatuh dari tebing tadi, aku
sempat berpikir mungkin tidak akan ada orang yang menyadari kehilanganku...
Tapi kurasa Saraguchi-kun pasti akan menyadarinya."
"B-begitu ya."
"Tapi, meskipun dia menyadari, belum
tentu dia bisa menemukanku, begitu pikirku sampai aku hampir menangis... tapi
ternyata Saraguchi-kun benar-benar datang, jadi aku kaget banget."
Haruka berkata demikian sambil menatap ke
arahku.
Menampilkan senyuman lembut, pipinya merona
tipis, menatapku dengan mata yang basah.
Ditatap dengan senyuman yang terlalu memesona
dari jarak dekat seperti itu, aku pun membeku.
Hei, kenapa dia harus memberikan senyuman
seindah itu padanya. Wajah seperti itu seharusnya tidak boleh ditunjukkan
kepada mob sepertiku.
Terlalu menyilaukan sampai aku tidak sanggup
menatapnya secara langsung. Tolong selamatkan aku.
"Terima kasih banyak. Aku harus
memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih."
"T-tidak, tidak usah repot-repot.
Daripada itu, Momomichi-san sebaiknya pergi ke tempat Akasaka—"
"Akasaka-kun tidak ada hubungannya, kan.
Sekarang kita sedang membicarakan urusanku dan Saraguchi-kun."
Ditatap tajam oleh Haruka yang ekspresinya
berubah dalam sekejap, aku mengeluarkan keringat dingin.
Eh? Padahal aku hanya mengucapkan hal yang
wajar, tapi kenapa malah dicurigai? Kenapa?
Maaf ya, aku sama sekali tidak paham. Aku
benar-benar pusing karena terus-menerus dihadapkan pada event yang tidak ada di
dalam game.
"Ah,
Momomichi-san lagi-lagi berdua terus dengan Takumi-cchi! Aku juga mau ikut makan bareng, dong!"
"......Kurasa tidak baik kalau kamu terus
menempel pada Momomichi-san saja. Ajak aku juga."
Orang yang menyela adalah Akira Shiyodai dan
Saori Roppongi.
Shiyodai menggeser kursi di depannya, lalu
memutar posisi kursi tersebut agar saling berhadapan. Apa-apaan ini, bus
sekolah punya fitur semacam itu? Apakah ini fungsi misterius di dunia fiksi?
Shiyodai duduk di hadapanku, sementara Saori
duduk di hadapan Haruka. Keduanya mengeluarkan kotak bekal masing-masing dan
mulai makan.
"Takumi-cchi, bekalmu kelihatan kecil
banget, ya? Mana cukup buat ukuranmu. Mau kubagi sedikit laukku?"
"T-tidak, tidak usah..."
"Aku juga mau kasih. Sebagai hadiah
karena kamu sudah berjasa menyelamatkan orang hilang, kamu berhak mendapatkan
imbalan yang setimpal."
"Sampai segitunya, Roppongi-san!? Kalian
berdua tidak usah terlalu repot..."
Aku jadi kebingungan karena merasa
diperlakukan seolah-olah aku orang penting.
Padahal aku sama sekali tidak bermaksud
begitu. Apakah tindakanku barusan justru merupakan sebuah kesalahan?
Namun, aku tidak mungkin membiarkan Haruka
begitu saja... lalu apa yang seharusnya kulakukan?
"Hei, Saraguchi. Ayo makan bareng."
"Aku juga mau! Sebagai bentuk apresiasi
buat Saraguchi-kun yang sudah bekerja keras, mau kubagi special burger yang
sengaja kubawa untuk camilan?"
Akasaka Kouta dan Amane Tenshin turut datang
menghampiri, memasang kursi tambahan untuk bergabung dengan kelompok kami.
Semua orang yang ada di sini kecuali aku
adalah karakter bernama. Wah, situasi macam apa ini?
Apakah aku benar-benar melakukan kesalahan?
Meskipun aku berniat menghindari bad ending, terlalu sering terlibat dengan
protagonis dan para heroine sepertinya adalah tindakan yang berbahaya.
"Anu... Saraguchi-kun? Kamu boleh
mengambil lauk di bekalÒ·u sepuasnya. Meskipun rasanya ini masih kurang
untuk membalas kebaikanmu... tapi untuk sekarang tolong terima ini
dulu..."
Haruka yang duduk di sebelahku berkata begitu,
membuatku semakin kerepotan mencari respons yang tepat.
Kenapa semua orang mendadak ingin membagikan
lauk bekal mereka kepadaku? Apakah karena kotak bekalku berukuran kecil dan
isinya kelihatan jelas berupa makanan beku instan?
Padahal bekal sekecil ini disiapkan khusus
oleh adikku tercinta, lho. Tolong jangan menatapku dengan tatapan iba begitu.
"Nanti akan kubalas dengan benar di lain
hari... apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"
Meskipun kamu bertanya begitu, aku sama sekali
tidak mengharapkan apa-apa. Lagian, aku memang tidak butuh ucapan terima kasih.
"Jangan bilang begitu. Kalau dibiarkan begini aku tidak bisa tenang... Kalau
boleh, sedikit sentuhan... h-hal yang berbau ecchi pun... boleh, kok?"
Mendengar ucapan luar biasa yang
dilontarkan Haruka, aku langsung terperanjat kaget, sementara Shiyodai, Saori,
Akasaka, dan Amane membelalakkan mata mereka tak percaya.
Apa yang sedang diucapkan anak ini. Kalimat semacam itu seharusnya ditujukan kepada Akasaka si karakter
protagonis.
Merasakan tatapan dari semua orang di sekitar,
aku mencoba memasang wajah setenang mungkin lalu berkata kepada Haruka.
"...Kalau begitu, aku mau minta karaage
yang kelihatannya enak itu, ya."
"Ah, iya. Silakan."
Aku mengambil sepotong karaage dari kotak
bekal Haruka, mengunyahnya perlahan meskipun sudah agak dingin tapi tetap
terasa empuk dan lezat, lalu menelannya.
"Rasanya enak sekali. Terima kasih, ini
sudah lebih dari cukup. Mari kita anggap urusan hutang-budi ini lunas."
"Eh, tapi. Kalau cuma begini rasanya
masih..."
"Aku bilang sudah cukup, jadi mari kita
akhiri sampai di sini. Tidak apa-apa, kan?"
"......"
Haruka kelihatan sedikit tidak puas, tapi dia
akhirnya mengangguk pelan.
Bagus, masalah selesai. Aku akan pusing
sendiri kalau event yang melibatkan diriku ini terus berlarut-larut.
Haruka harus segera mengalihkan perhatiannya
dan bersiap untuk event-event berikutnya yang melibatkan Akasaka.
"Takumi-cchi kelihatan keren juga, ya.
Ternyata kamu bisa diandalkan!"
"Sh-Shiyodai-san? Ngomong apa
sih..."
"Menurutku kamu orang yang sangat bisa
diandalkan. Kamu punya prinsip yang kuat, ya."
"Bahkan Roppongi-san ikut-ikutan? Ada apa dengan kalian berdua?"
Meskipun dipuji tentu lebih baik daripada
dicela, mendapat penilaian setinggi itu justru membuatku repot.
Para heroine seharusnya lebih memikirkan
tingkat kesukaan dan keintiman mereka dengan sang protagonis Akasaka, bukan
padaku.
Satu-satunya orang yang tampaknya paham soal
itu mungkin hanyalah sang heroine utama, Amane Tenshin. Semoga heroine yang
lain bisa meniru Amane...
"Saraguchi-kun ini sebenarnya orang yang
hebat, ya? Aku jadi penasaran..."
Eeeh!? Bahkan Amane ikut-ikutan melontarkan
kalimat apa itu?
Ini gawat. Karena aku terlalu banyak ikut
campur sebagai orang yang mengetahui seluk-beluk game aslinya, situasinya jadi
semakin melenceng dari jalur.
Agar para heroine bisa menghindari bad ending,
mereka harus mengincar happy ending bersama sang protagonis.
Namun, masuk ke rute skenario individu
masing-masing heroine justru membawa risiko terperangkap ke jalur bad ending,
jadi cara paling pasti untuk menghindarinya adalah dengan memastikan mereka
tidak masuk ke rute individu heroine mana pun.
Akhir cerita dalam skenario tersebut
seharusnya bukanlah bad ending yang terlalu tragis seperti di rute individu,
melainkan normal bad ending... tapi karena itu adalah teori dari game aslinya,
tidak ada jaminan seratus persen hal itu akan terjadi persis sama di sini.
Lalu, bagaimana cara memastikan bad ending
yang tragis itu bisa dihindari sepenuhnya? Aku memikirkannya dengan caranya
sendiri.
Pertama. Mengincar normal bad ending di mana
sang protagonis tidak berakhir dengan siapa pun. Hal itu bisa dicapai jika kita
berhasil menghindari rute skenario individu milik masing-masing heroine.
Kedua. Mengincar ending pamungkas di mana sang
protagonis memenuhi syarat happy ending dari seluruh heroine dan berakhir
dengan mereka semua. Alias harem ending.
Opsi pertama relatif lebih mudah, sedangkan
opsi kedua tingkat kesulitannya sangat tinggi.
Untuk menghindari bad ending versi super kejam
dari game aslinya, mengincar normal bad ending di mana protagonis tidak
berakhir dengan siapa pun tampaknya adalah pilihan paling rasional.
Namun, opsi ini pun bukan berarti mudah
dicapai. Sedikit saja ada pemicu, kita bisa
langsung terseret masuk ke rute skenario individu heroine.
Kita harus mengatur tingkat keintiman dan
kesukaan masing-masing heroine secara seimbang agar tidak ada satupun yang
masuk ke rute individu.
Yang jauh lebih sulit adalah pola kedua.
Mengincar harem ending, sebuah akhir cerita yang nyaris mustahil ada dalam game
simulasi percintaan biasa.
Memenuhi syarat happy ending untuk satu
heroine saja sudah sulit, apalagi memenuhi syarat untuk seluruh heroine
sekaligus. Rasanya hampir mustahil.
Meskipun demikian, itu juga bisa dikatakan
sebagai ending yang ideal karena tidak ada satupun yang menderita.
Hal yang harus kukejar pada dasarnya adalah
pola pertama. Meskipun pola ini juga tampak sulit.
Sangat sulit bagi protagonis untuk melanjutkan
cerita tanpa berinteraksi secara khusus dengan heroine mana pun.
Jika situasinya begitu, mungkin aku harus
mengejar pola pertama sambil menyisipkan unsur-unsur dari pola kedua.
Menaikkan tingkat kesukaan dan keintiman
setiap heroine secara merata sambil memastikan protagonis tidak berakhir dengan
siapa pun... syarat kemenangan yang benar-benar ekstrem.
Apakah aku sanggup melakukannya? Demi
menghindari bad ending sepenuhnya, aku tidak punya pilihan lain selain
mencobanya...
"Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak
menyangka kita bakal tersesat saat field trip."
"......Eh?"
Ucapan Haruka yang meluncur begitu saja
membuatku tersadar dari lamunannya.
Ada
apa? Barusan dia bilang apa?
"Momomichi-san,
soal tersesat tadi..."
"Eh,
makanya, gara-gara aku kalian jadi ikut tersesat, kan?"
"T,
tidak, kita kan langsung bisa bergabung dengan yang lain dengan cepat, jadi
rasanya itu bukan disebut tersesat..."
Mencari dukungan, aku mengedarkan pandangan ke
sekitar.
Namun, respons yang kudapatkan dari
orang-orang justru di luar perkiraan.
"Memang berhasil diselesaikan sebelum
menjadi insiden besar, tapi kalau ditanya apakah itu tersesat atau bukan,
jawabannya sudah pasti itu memang tersesat."
"A, Akasaka? Begitukah?"
"Betul, kan? Ini jelas-jelas insiden
tersesat!"
"Bahkan Tenshin-san juga berpikiran
begitu?"
"Aku jadi tahu kalau kita harus tetap
berhati-hati meskipun cuma pergi piknik! Untung saja
kita selamat!"
"Shiyodai-san juga sependapat?"
"Karena memang tersesat, jadi ya
begitu..."
"Roppongi-san!? Apa yang sedang kamu
bicarakan?"
T-tidak ada satupun orang yang
membelaku... Yang benar saja.
Aku mengira aku telah berhasil menghindari
event tersesat, tapi rupanya dugaanku meleset.
Itu artinya, event tersesat tersebut tetap
resmi terjadi? Bukan antara protagonis dan heroine, melainkan antara Haruka dan
diriku—seorang mob.
Bukankah itu... gawat?
"......"
Sekali lagi, aku mengamati gerak-gerik
Haruka.
Begitu pandangan kami bertemu, pipinya
merona tipis, lalu ia buru-buru membuang muka.
Eh? Reaksinya kelihatan aneh... Hnnng?
Jangan-jangan aku baru saja memicu flag
dengan Haruka...? Tidak, tidak mungkin.
Aku ini kan cuma karakter mob, eksistensi
yang posisinya mirip latar belakang. Ibarat rumput atau batu di pinggir jalan.
Mana mungkin eksistensi yang nyaris setara
dengan benda mati seperti itu bisa memicu flag dengan seorang heroine.
Atau lebih tepatnya, hal semacam itu tidak
boleh sampai terjadi. Jika sampai terjadi anomali seperti itu, aku
tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa alur cerita kedepannya.
Sangat mungkin skenario itu justru memicu bad
ending yang jauh lebih kejam daripada aslinya...
"M-Momomichi-san, mumpung ada kesempatan
bagus, bagaimana kalau kamu pergi ke tempat Akasaka—"
Ini adalah momen penentu untuk melakukan
koreksi jalur.
Dengan niat memicu interaksi antara Akasaka
sang protagonis dan Haruka untuk menaikkan tingkat keintiman mereka berdua, aku
mencoba menyapanya.
Namun, ucapanku tiba-tiba terpotong di tengah
jalan.
Sambil menyenggol lenganku dengan sikunya,
Haruka berbisik dengan suara rendah.
"Nfufu, Saraguchi-kun? Bisa tidak,
jangan ngomong sembarangan...?"
"T, tidak, aku cuma bilang kalau
Momomichi-san dan Akasaka..."
"Aku bilang diam... Apa kamu tidak
mengerti...?"
Sambil menyenggolku berulang kali dengan
sikunya dan menatapku tajam dari jarak sangat dekat, aku menelan ludah.
Apakah aku membuatnya marah lagi? Mungkin
aku terlalu gegabah mengungkitnya di hadapan tiga heroine lain yang menjadi
saingannya. Bodohnya aku...
"Meskipun kamu sering ngomong begitu,
kenapa kamu malah nekat datang menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawa...
Kamu benar-benar orang yang aneh..."
"Eh?"
"Bukan apa-apa. ......Bodoh."
"???"
Aku tidak begitu paham... tapi sepertinya
Haruka tidak membenciku, kan?
Sepertinya mulai sekarang aku harus
bersikap lebih berhati-hati lagi saat berinteraksi, bukan hanya dengan Haruka,
tapi juga dengan para heroine yang lain.


Post a Comment