Chapter 3: Third Heroine (Heroin Ketiga) Akan Menghancurkan Dunia?
"Hei, hei, beri aku uang."
"……Jangan boros-boros."
"Aah, aku tahu kok. Makasiiih."
Aku menyerahkan uang kepada seorang siswi
SMP (bisa disebut JC—Joshuusei) yang berperawakan kecil dan bermulut lancang.
Anak yang berpenampilan sedikit bergaya
chara (ganjen/gaul) itu mengucapkan "Thanks" lalu pergi begitu saja.
Haa, ampun deh. Meskipun tidak digambarkan
dalam game, mob sepertiku ternyata punya kehidupan sehari-hari sendiri, dan
rasanya lumayan merepotkan.
Dunia ini mungkin memang berasal dari
game, tapi bagi diriku yang sekarang, ini adalah dunia nyata.
Selain akademi yang menjadi panggung
utama, aku juga punya kehidupan di luar sana, harus pergi dan pulang sekolah,
makan, hingga tidur.
Yang mengejutkan, siaran televisi
benar-benar ada dan internet juga sudah menyebar luas. Pada dasarnya, dunia ini
menganut sejarah yang sama persis dengan dunia tempatku hidup di masa lalu.
Saat jam berangkat sekolah di pagi hari, di
sudut kawasan perumahan.
Setelah berpisah dengan siswi SMP yang lancang
itu dan bersiap menuju ke akademi, seseorang memanggilku.
"S-Sawaraguchi-kun? S-Selamat
pagi..."
Pemilik suara itu ternyata adalah Momomichi
Haruka.
Aku sama sekali tidak menyangka akan
berpapasan dengan salah satu heroin di pagi buta begini, membuatku terkejut.
Jangan-jangan, Haruka memang diatur
tinggal di dekat rumahku? Entah ini baru kuketahui atau memang pengaturan
seperti itu tidak ada di game aslinya.
"Selamat pagi, Momomichi-san. Ada
apa?"
Melihat ekspresi Haruka yang tampak
menegang, aku memiringkan kepalaku heran.
Ada apa? Apakah ada hal yang mencurigakan
dariku?
Padahal aku berniat untuk bersikap
senatural mungkin. Kalau aku melakukan tindakan aneh, aku takut disingkirkan
dari dunia ini.
Haruka lantas bertanya kepadaku dengan
ekspresi sedikit bermasalah.
"U, um, itu... Barusan, apa kamu baru
saja memberikan uang kepada anak SMP?"
"Oh, ketahuan ya. Yah, aku baru saja
memperlihatkan pemandangan yang memalukan. Haha."
"K-Kenapa kamu kasih uang...
J-Jangan-jangan, kamu sedang diperas (katsuge), ya?"
"……Hah?"
Mendengar pertanyaan yang aneh itu, aku
memiringkan kepala.
Apa yang sedang dibicarakan oleh Haruka?
Diperas? Maksudnya apa?
"K-Kalau kamu sedang menghadapi masalah,
silakan cerita! Entah apakah aku bisa membantu atau tidak..."
"Bentar, tunggu dulu. Sebenarnya, apa
yang kamu bicarakan..."
"Kalau kelemahanmu dipegang dan kamu
sedang diancam, aku bisa coba bicara dengan anak itu! Tergantung situasinya,
mungkin aku akan bernegosiasi dengan cara yang sedikit ekstrem..."
Haruka merogoh tas sekolahnya dan tampak
hendak mengeluarkan benda mirip gunting kain ukuran besar.
Tunggu, cara ekstrem apa maksudmu? Apa kamu
berniat menggunakan senjata berbahaya itu? Itu seram banget, tahu.
Karena sepertinya dia salah paham, aku
memutuskan untuk menjelaskannya.
"Aa, bukan, bukan begitu. Bukan pemerasan
atau ancaman..."
"Transaksi yang sah!? Hubungan seperti papa-katsu dengan siswi SMP
begitu?"
Nggaklah, mana mungkin begitu. Diriku yang
sekarang ini kan anak SMA, jadi mana mungkin ikut-ikutan papa-katsu.
Sambil menghela napas menghadapi Haruka
yang tampak kebingungan dengan wajah serius, aku memberitahukannya dengan nada
tenang.
"Bukannya begitu. Sebenarnya, anak
itu adalah... adik perempuanku."
"……Eh? Adik perempuan?"
"Iya, benar. Aku yang mengatur masalah
uang saku, jadi aku memberikan uang setelah mendengar jumlah yang dibutuhkan
dariku."
Yah, begitulah keadaannya.
Di dunia ini, aku rupanya memiliki pengaturan
sebagai seorang kakak yang tinggal berdua saja dengan adik perempuanku. Kedua
orang tua kami tinggal di luar negeri karena urusan pekerjaan.
Dengan kata lain, siswi SMP yang genit barusan
adalah adikku. Dia meminta uang saku yang merangkap biaya sekolah, jadi
kuberikan padanya.
"B-Beneran adik perempuanmu?
Jangan-jangan kamu cuma menyuruhnya berperan sebagai adik dan
membayarnya..."
"Nggaklah, dia beneran adikku! Lagian,
mana mungkin aku punya hobi sesat sampai harus bayar orang buat akting jadi
adik?"
Haruka merona karena malu, lalu menggumam,
"Katanya ada banyak cowok yang punya hobi seperti itu sih..."
Apakah dia memiliki pengetahuan yang terlalu
menyimpang? Jangan-jangan dia sudah diracuni oleh internet yang salah.
Saat aku menjelaskan dengan sungguh-sungguh
tentang keberadaan adikku, Haruka akhirnya tampak percaya.
"Ngomong-ngomong, kamu punya adik
perempuan ya. Orang tuamu ada di luar negeri, dan kalian
hidup berdua saja."
"Iya, betul. ...Kenapa kamu tahu
detail banget?"
Karena merasa ada yang janggal, aku
menanyakannya, namun Haruka tidak menjawab pertanyaanku dan justru tersenyum
manis.
"Bagus deh. Aku sempat khawatir kalau
Sawaraguchi-kun ditipu atau diancam... Tapi syukurlah, kalau pembunuhan sih
gawat ya."
"Ah, iya, benar juga... Tunggu,
melompati tahap diskusi atau negosiasi dan langsung mengambil tindakan
kekerasan itu gimana ceritanya..."
"Eh, begitu ya? Kalau menghadapi
orang yang memeras uang, bukankah diskusi itu buang-buang waktu? Lebih baik
langsung dihabisi saja..."
"O, oke, pembicaraan ini sudahi saja!
Karena dia adikku, jadi tidak ada masalah apa-apa!
Momomichi-san juga sudah paham, kan?"
"Iya, yah. Kalau begitu sih tidak
apa-apa..."
Memastikan Haruka memasukkan kembali benda
mirip gunting kain yang hampir dia keluarkan ke dalam tas, aku mengembuskan
napas lega.
...Anak ini baik-baik saja, kan? Bukankah
dia terlalu gampang masuk ke mode yandere hanya karena pemicu sepele?
Jarak dari rumahku ke akademi sekitar 3
kilometer. Jarak yang terlalu jauh untuk berjalan kaki, tapi juga masih lumayan
dekat.
Biasanya orang-orang menggunakan bus atau
naik sepeda. Aku sendiri pada dasarnya memilih menggunakan
sepeda.
Namun, di hari bercuaca buruk seperti hari
ini, aku menggunakan bus. Aku berpisah dengan adikku di tengah jalan menuju
halte bus, dan di sanalah aku tidak sengaja bertemu dengan Haruka.
Pukul 08.02 pagi. Kami menaiki bus yang menuju
ke depan akademi.
Di hari cuaca buruk, jadwal keberangkatan dan
kedatangan bus sering kali terlambat, atau jalurnya mengalami kemacetan, tapi
jika naik bus ini, kami akan tiba tepat di batas waktu pelajaran dimulai.
Busnya cukup padat, membuatku dan Haruka tidak
kebagian tempat duduk dan terpaksa harus naik dengan berdiri.
Berpegangan pada tali gantungan (strap) di
dalam bus yang penuh sesak, kami berdiri berdampingan dan terayun-ayun
mengikuti gerakan bus.
"……Sawaraguchi-kun biasanya naik bus ke
sekolah? Belum pernah lihat sebelumnya."
"Nggak, biasanya aku naik sepeda. Cuma
kalau cuaca lagi jelek aja aku naik bus."
"Begitu ya."
Sambil bertukar obrolan ringan seperti itu,
kami terayun bersama bus bersama Haruka.
Karena busnya sangat padat, jarak kami menjadi
sangat dekat. Bahu ramping Haruka menempel erat padaku, membuat jantungku
berdebar kencang.
Haruka juga tampak malu, memperlihatkan wajah
yang sedikit bersemu merah.
Huu, berangkat sekolah bersama seorang siswi
cantik saja sudah terasa seperti event game, tapi ditambah dengan posisi yang
sangat menempel ini... Tindakan ini sungguh tidak pantas bagi seorang karakter
mob.
Akan gawat kalau sampai terlihat oleh
anak-anak sekelas atau karakter bernama dalam kondisi seperti ini. Aku harus
melakukan sesuatu.
"……"
Menerobos kerumunan penumpang di sekitarmu,
aku mencoba menjauh sedikit dari Haruka.
Namun, itu tidak berhasil. Bus terayun cukup
keras, membuatku tidak bisa bergerak dari tempatku.
Terlebih lagi, Haruka tiba-tiba terdorong ke
arah dadaku, membuat kami berdua menempel sangat dekat dari arah depan.
"M-Maafkan aku. Busnya goyang banget
tadi, jadi refleks..."
"O, ooh. Kalau padat begini sih ya mau
gimana lagi..."
"A-Aku bakal langsung menjauh kok... Kyah!"
"—!?"
Bus kembali terayun, membuat kami nyaris
terjatuh. Aku berusaha sekuat tenaga berpijak dengan kokoh dan menopang Haruka
yang wajahnya sempat dibenamkan ke dadaku.
"M-Maaf ya. Aku nggak sengaja. B-Beneran
minta maaf lho?"
"Nggak apa-apa kok. Biar nggak jatuh,
pegangan saja padaku."
"U, un. Makasih ya..."
Menyembunyikan wajahnya di dadaku, Haruka
berpegangan erat-erat.
Wangi lembut yang harum tercium samar dari
rambut indahnya, membuat debaran di dadaku semakin kencang.
Meskipun tidak terlalu besar, gundukan dada
yang lembut dan pas dalam genggaman itu menempel tepat di bagian perutku,
mengirimkan sensasi kenyal yang luar biasa. Menempel erat dengan tubuh Haruka
yang secara keseluruhan terasa lembut dan hangat, aku gemetar karena kombinasi
antara rasa nyaman yang tak terlukiskan dan ketegangan yang melanda.
……Aduh,
sial. Enak juga ya, damn.
Tapi,
apakah boleh aku menempel sedekat ini dengan heroin secantik ini? Padahal aku
cuma mob.
Jika
ini adalah protagonis, mungkin ini akan dihitung sebagai event pemicu flag
dengan salah satu heroin... tapi bagi karakter mob, tidak ada istilah flag-an
atau semacamnya.
"M-Maaf
ya. Pasti merepotkan banget kan kalau ketempelan cewek sepertiku. Maafkan
aku..."
Mendengar
Haruka bergumam dengan nada penuh penyesalan, aku memiringkan kepalanya.
Apa
yang dia bicarakan. Seharusnya kalimat itu yang kuucapkannya, tahu.
Sudah
kupikirkan sejak dulu, bukankah tingkat penilaian dirinya terhadap diri sendiri
terlalu rendah? Padahal Haruka adalah sub-heroine teratas, heroin di balik
bayangan yang berada tepat setelah heroin utama.
"Nggak merepotkan kok. Malah, aku merasa
terhormat."
"Eh?"
"Kalau mob sepertiku bisa menjadi
sandaran untuk Momomichi-san, itu adalah sebuah kehormatan. Silakan berpegangan
erat tanpa perlu sungkan. Anggap saja aku ini benda mati atau alat."
"A, alat, mana mungkin... Apa sih yang
kamu katakan?"
"Bagi diriku sendiri ini adalah sebuah
keberuntungan. Kamu bahkan boleh memelukku lebih erat lho?"
"—!?"
Mendengar itu, Haruka mendongakkan wajahnya,
menatapku dengan wajah yang sudah memerah padam.
……Hei, hentikan. Jangan menatapku dengan wajah
selucu itu. Bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta padanya?
Saat aku mengalihkan pandangan, Haruka kembali
menunduk dan membenamkan wajahnya di dadaku.
Haruka mencengkeram jaket bagian atasku dengan
kedua tangannya, lalu merapat semakin erat.
"K-Kalau Sawaraguchi-kun nggak keberatan,
aku mau nempel gini aja... B-Boleh kan?"
"Ya, tidak masalah. Tapi, bisa menempel
dengan cewek begini rasanya benar-benar event yang menyenangkan ya."
"B-Begitukah? Rasanya malu
banget..."
Aku sempat khawatir kalau dia akan merasa
jijik atau berteriak ketakutan, tapi meskipun aku menyuarakan isi hatiku yang
sebenarnya, Haruka tidak merasa ngeri sama sekali dan justru menunjukkan reaksi
yang sangat manis.
Sambil tetap menundukkan wajah, dia mempererat
cengkeramannya padaku dan semakin merapatkan tubuhnya. Merasakan proporsi tubuh
Haruka yang seimbang di seluruh tubuhku, aku hampir saja merasa jiwaku melayang
ke surga.
Betapa lembut dan hangatnya tubuh ini.
Meskipun tidak bisa dibilang glamour, tubuhnya berkembang dengan pas, gundukan
dadanya, perutnya yang lembut, serta pahanya yang plump (berisi) menekan dan
bergesekan dengan lembut, mencoba menghancurkan akal sehatku.
Diriku yang masih anak SMA di kehidupan
sebelumnya pasti sudah berada dalam bahaya besar. Aku pasti sudah terpesona
oleh Haruka dan menjadi tawanannya.
Namun, diriku yang sekarang memiliki
pengalaman hidup selama beberapa tahun sebagai anggota masyarakat, dan memiliki
sudut pandang orang dewasa. Bahkan saat menempel erat dengan siswi SMA cantik
berstatus heroin, aku tidak sampai kehilangan kesadaran sepenuhnya. Meskipun
harus diakui, batasanku sudah sangat-sangat tipis.
Terayun-ayun di dalam bus yang padat
selama sekitar 15 menit, kami akhirnya tiba di akademi.
Begitu turun dari bus, aku merasakan
gelombang kebebasan yang luar biasa, merentangkan kedua tangan lalu meregangkan
tubuh selebar-lebarnya.
"Hwaaaaa... Bebas itu memang
menyenangkan ya..."
"K-Kerja
bagus... Aku juga capek banget... Fiuhhh..."
Haruka
memegangi dadanya sambil mengembuskan napas panjang, lalu merapikan rambutnya
yang berantakan dengan kedua tangannya.
……Sebelumnya
aku tidak terlalu menyadarinya, tapi Haruka ternyata punya... bagian tubuh yang
cukup berkembang ya?
Selain
karena dia menempel erat padaku dari arah depan, goyangan bus yang luar biasa
tadi juga membuat situasi menjadi sangat pelik. Kalau busnya terlambat tiba
lima menit lagi saja, akal sehatku mungkin sudah benar-benar lenyap.
Pantas
saja dia adalah sub-heroine nomor satu dan heroin di balik bayangan. Seandainya
game itu benar-benar dirilis, dia mungkin akan menjadi karakter terpopuler
kedua, atau bahkan merebut posisi teratas mengalahkan heroin utama.
Sambil
mengangguk-angguk puas dalam hati, Haruka tiba-tiba mengajakku bicara.
"Aku
paling nggak suka naik bus atau kereta yang penuh sesak, rasanya selalu mau
remuk terhimpit... Tapi hari ini aku terbantu banget berkat
Sawaraguchi-kun. Terima kasih ya."
"Nggak, aku kan nggak
ngapa-ngapain..."
"Kamu sudah menopangku dan
melindungiku dari desakan orang-orang kan? Aku tahu kok."
"……"
Mendapatkan senyuman manis dari Haruka, aku
tanpa sadar mengalihkan pandangan.
Berhenti, kumohon. Jangan menatapku dengan
ekspresi seatraktif itu menggunakan wajah cantiknya yang sudah rapi. Aku jadi
malu, tahu.
Yah, sudahlah. Kami kan sekadar kenalan, dan
wajar saja kalau menolong seorang gadis yang hampir remuk di dalam kendaraan
umum yang padat.
Tindakan itu justru berujung pada kontak fisik
yang semakin intens, dan hasilnya aku malah merasa diuntungkan. Jadi aku merasa
tidak perlu diberi ucapan terima kasih segala.
"……Aku
cuma mikir kalau ini kesempatan emas buat nempel-nempel sama cewek imut kayak
Momomichi-san kok. Orang sepertiku kan tipikal cowok
rendahan."
"Eeeh!? K-Kamu seneng bisa nempel
sama aku? F, fuuun..."
Haruka merona merah, lalu membuang muka
dariku.
Dia melirik-lirik ke arah wajahku sambil
tersenyum kecil penuh arti. Aku tidak begitu paham, tapi apakah dia
tidak merasa terganggu? Kalau begitu sih baguslah.
"Daripada itu, bukankah lebih baik
kita memikirkan strategi agar bisa akrab dengan Akasaka?"
"Eh?
A—oh iya, benar juga... Kira-kira gimana caranya supaya aku bisa akrab
dengan Akasaka-kun ya?"
Haruka sepertinya kembali mengingat tujuan
utama kami, membuatku merasa lega.
Jika dia ingin menghindari rute bad ending dan
mengincar happy ending, tingkat keintiman dengan Kouta Akasaka serta
pembangunan flag adalah hal yang krusial.
Di dalam game aslinya, alur permainan utamanya
adalah melatih karakter protagonis untuk menaikkan berbagai parameter,
berdialog dengan para heroin, memilih opsi jawaban yang tepat dari pilihan yang
tersedia, dan menaikkan tingkat kesukaan mereka.
Namun, karena posisiku bukanlah protagonis
melainkan karakter mob, aku tidak bisa menaklukkan heroin secara langsung.
Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?
Jika dunia ini mengikuti aturan game secara
mentah-mentah, kita hanya perlu menuntun heroin tersebut agar mengarah ke rute
happy ending. Sekalipun happy ending itu sulit dicapai, kita setidaknya harus
mencegah agar dia tidak terjerumus ke rute bad ending.
"Menyapa di pagi hari kan sudah berhasil.
Bagaimana kalau kita melangkah ke tahap berikutnya, yaitu mencoba mengajak
Akasaka mengobrol di setiap jam istirahat?"
"U, um... Rasanya agak susah ya. Susah
banget kalau nggak ada pemicu atau alasan buat ngajak ngobrol."
Aku tersenyum kecut melihat Haruka yang
memasang wajah kebingungan.
Dia pada dasarnya adalah anak yang serius. Dia
mungkin tidak pernah memikirkan cara mendekati lawan jenis seumur hidupnya.
Aku sendiri juga hampir tidak pernah
memikirkannya, tapi kita tidak bisa tinggal diam. Aku harus membimbing Haruka agar dia tidak berakhir dengan ending yang
tragis.
Untungnya kami tidak terlambat, dan bisa
masuk ke kelas sebelum HR (Home Room) pagi dimulai.
Aku berpisah dengan Haruka di halte bus
depan akademi dan menyuruhnya berjalan duluan. Aku berpikir bahwa berjalan
bersama mob sepertiku hanya akan berdampak negatif bagi dirinya.
"Eh, tapi... Kita kan teman sekelas, dan
kebetulan banget naik bus yang sama, jadi apa salahnya kalau kita datang
bersamaan?"
Haruka sempat memprotes seperti itu, tapi
setelah aku menegaskan dengan kuat bahwa "Itu tidak boleh", dia
akhirnya menurut.
Begitu jauh lebih baik. Kita harus
menyingkirkan elemen apa pun yang berpotensi menurunkan penilaian orang lain.
Terlebih lagi, saingan yang mengincar Kouta Akasaka sang protagonis itu
jumlahnya sangat banyak.
Bahkan jika dibatasi hanya pada siswa di kelas
yang sama dengan Kouta Akasaka, selain Haruka masih ada tiga heroin lainnya.
Mulai dari heroin utama Amane Tenjin, Akira
Akiyoshi, hingga Saori Roppongimatsu. Kita harus memastikan dia tidak
tertinggal dari ketiga heroin tersebut.
Masuk ke kelas beberapa saat setelah Haruka
dan duduk di bangku milikku, seorang siswi berambut pendek dengan senyum cerah
menyapaku.
"Pagi! Hari ini datangnya lebih lambat
dari biasanya ya!"
Tersenyum lebar sambil meletakkan tangannya di
pundakku dan menyapaku dengan penuh semangat—dia adalah Akira Akiyoshi.
Seperti biasa, jaraknya terlalu dekat. Apakah
setelan jarak sosialnya mengalami bug? Tolong jangan dekat-keluarkan wajah
selucu itu di dekatku. Nanti jantungku bisa copot.
Mengabaikan reakiku yang kebingungan, Akiyoshi
merapatkan tubuhnya dan menyapaku dengan senyuman.
"Lagian ya, kamu kan masuk tepat setelah
Momomichi-san masuk kelas, kan? Jangan-jangan kalian datang barengan, ya?"
"……Kebetulan aja naik bus yang sama,
kok."
"Ah, beneran. Kalau gitu kenapa nggak
barengan aja masuk kelasnya? Kenapa harus pisah-pisah?"
"Kalau jalan bareng mob sepertiku nanti
Momomichi-san malah repot. Kalau ada yang salah paham atau salah kaprah kan
ribet..."
Mendengar itu, Akiyoshi merengutkan alisnya
lalu mencondongkan wajahnya mendekatiku.
Hei, ini sudah keterlaluan dekatnya. Ujung
hidung kami bahkan hampir bersentuhan.
Menghadapiku yang kebingungan, Akiyoshi
bertanya dengan wajah serius.
"Kenapa bisa mikir gitu? Sawaraguchi-kun
nggak benci kan sama Momomichi-san?"
"Mana mungkin benci. Kamu ngomong apa
sih?"
"Kalau gitu, bukankah lebih baik bersikap
lebih natural aja? Jangan terlalu dipikirkan
berlebihan."
Begitu... ya?
Kalau dipikir-pikir, mungkin apa yang dia
katakan memang benar.
Apakah ada hal buruk yang akan terjadi hanya
karena orang sepertiku bertukar obrolan dengan seorang heroin... Bukankah tidak
ada?
"Kalau terlalu kaku nanti malah dibenci
lho? Menurutku lebih baik bersikap biasa saja—"
"B, begitu ya. Akan kuingat."
Aku memasang senyum canggung pada Akiyoshi
yang tersenyum riang.
Sebenarnya apa sih yang terjadi. Apa yang
harus kulakukan sekarang?
Sebagai karakter mob, kupikir aku seharusnya
tidak perlu berurusan dengan para heroin.
Namun entah kenapa, para heroin itu sendiri
malah meminta saran padaku. Mengabaikan mereka juga tidak mungkin,
benar-benar situasi yang merepotkan.
Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang
damai di dunia ini, tapi kenapa jadi begini... Apakah ini karena pengaruh
ingatan dari kehidupanku sebelumnya?
Saat jam istirahat, aku keluar kelas dan
menyusuri koridor penghubung dari gedung umum menuju gedung khusus yang berisi
ruang spesialis dan ruang dokumen, lalu menuju ke ruang istirahat di sudut
lantai dua.
Di sebelah tangga terdapat ruang kosong
kecil, dengan mesin penjual otomatis di sisi dinding dan bangku panjang di
seberangnya.
Tempat ini adalah area istirahat yang
cukup sepi. Gedung khusus jarang dikunjungi siswa kecuali ada keperluan
tertentu, dan karena di lantai satu tepat di bawah tangga terdapat kantin
kecil, mesin penjual otomatis, serta area istirahat yang lebih luas, sangat
sedikit siswa yang menggunakan area istirahat sempit di lantai dua ini.
Aku menemukan tempat ini saat sedang
menjelajahi area akademi. Karena panggung utama game ini berada di akademi ini,
aku harus memahami fasilitas yang ada di sini dengan sempurna.
……Jujur saja, sebenarnya aku hanya mencari
tempat sepi di mana aku bisa sendirian tanpa ada orang lain. Sebagai seseorang yang berjiwa loner (penyendiri),
tempat seperti ini terasa paling menenangkan.
Membeli minuman di mesin penjual otomatis,
aku duduk di bangku panjang untuk menarik napas sejenak. Kopi hitam kaleng
adalah favoritku.
Ngomong-ngomong, aku memang sudah lama
menyukai kopi, tapi aku mulai terbiasa minum kopi hitam sejak tahun pertama SMA
di kehidupan sebelumnya.
Sambil mengenang masa lalu dan melamun
santai—tiba-tiba, aku menyadari kehadiran seseorang di sudut pandangku.
Eh, ada orang? Siapa yang datang ke tempat
sepi seperti ini... atau lebih tepatnya, sejak kapan dia ada di sana?
Itu adalah seorang siswi. Dia duduk
bersandar di sudut bangku panjang sambil melamun kosong.
Begitu melihat sosok gadis tersebut, aku
langsung menyadari siapa dia, membuatku mengeluarkan keringat dingin.
Namanya adalah Saori Roppongimatsu. Siswi
dari kelas yang sama, salah satu heroin dan karakter bernama.
Memiliki rambut panjang bergelombang,
bertubuh mungil namun dengan proporsi tubuh yang sangat berkembang. Kulitnya
pucat dan tampak kurang sehat, namun di antara para heroin dia memancarkan aura
adulte dengan tingkat daya tarik sensual yang tinggi.
Seorang heroin bertipe misterius sekaligus
seksi, memiliki karakteristik ganda yang unik.
Berpapasan dengan sosok yang sama sekali
tidak kuduga, aku menelan ludah.
Kenapa dia bisa ada di sini... T, tidak, ini
kan fasilitas umum yang bisa digunakan siapa saja, jadi tidak aneh jika ada
salah satu heroin di sini...
Apakah aku harus segera kabur? Kalau aku salah
melangkah, urusannya bisa jadi rumit.
Pikirku sambil bersiap bangkit dari bangku,
namun Roppongimatsu tiba-tiba bersuara.
"……Tempat ini tenang dan nyaman ya.
Apa kamu tidak berpikiran begitu?"
"—!?"
Eh!? Kenapa tiba-tiba... Apakah dia sedang
mengajakku bicara?
Tidak ada orang lain di sini, dan karena
dia melontarkan pertanyaan, sudah pasti dia tidak sedang berbicara sendirian,
kan? Dia tidak mungkin sedang mengobrol dengan makhluk tak kasat mata, bukan?
Namun, apa yang harus kulakukan. Aku paling
ingin menghindari interaksi dengan karakter heroin... tapi mengabaikan sapaan
dari teman sekelas sepertinya juga bukan hal yang terpuji.
Mau tidak mau, aku harus menjawabnya. Bertukar
obrolan singkat saja seharusnya tidak masalah, kan?
"Ah, iya benar. Tempat ini memang
tenang dan menenangkan."
"……"
Mendapatkan jawabanku, Roppongimatsu
menoleh ke arahku, lalu memiringkan kepalanya dengan ekspresi penasaran.
"Kamu, siapa?"
Oーoh, reaksi macam apa itu? Rasanya seperti boneka manekin yang tiba-tiba
hidup dan bisa bicara, membuatku terkejut...
"Aku kaget. Kukira tidak ada orang di
sini..."
"B, begitu ya? Um... Tadi kamu
ngobrol sama siapa ya?"
Sambil menunjuk ke arah samping mesin
penjual otomatis, Roppongimatsu bergumam.
"Di sebelah sana. Di samping mesin
penjual otomatis itu..."
"Eh, di sebelah mana? Perasaanku tidak ada apa-apa di sana..."
"Ada perempuan berambut panjang
dengan seragam berdarah dan hancur berdiri di sana... Apa kamu tidak bisa melihatnya?"
"Eeeh!? I-Itu, jangan-jangan..."
Apakah itu hantu atau semacamnya? Apakah
Roppongimatsu bisa melihat hal semacam itu?
Ngomong-ngomong, dia adalah heroin bertipe
misterius yang sangat tertarik pada hal-hal berbau supranatural... Kalau tidak
salah, dia memang anggota klub yang mendalami hal-hal semacam itu.
"……Hanya candaan. Tidak ada siapa-siapa
di sana kok."
"A, apa, ternyata cuma candaan. Aku
sempat ketakutan setengah mati mengira ada hantu berbahaya. Hahaha..."
"Sebenarnya, itu adalah guru perempuan
yang berlumuran darah. Dia dikhianati oleh siswa yang dia percayai, lalu
mengakhiri hidupnya sendiri setelah mengundurkan diri, dan berubah menjadi
hantu gentayangan (jibakurei). Dia
sepertinya gantung diri di sebelah mesin penjual otomatis itu."
"Hih……! B, bohong kan……"
Melihatku yang langsung pucat pasi karena
ketakutan, Saori mendesis pelan tanpa ekspresi.
"Bohong kok. Tidak ada fakta seperti
itu."
"Bohong rupanya!? Kenapa kasih candaan
separah itu... Kan aku jadi percaya!"
"Kira-kira akan menyenangkan kalau ada
kejadian seperti itu... Bukankah itu menarik?"
"Tidak menarik sama sekali! Yang ada
malah seram!"
Saat aku menjawab begitu, Saori memasang wajah
sedikit sedih lalu bergumam, "Begitu ya. Jadi tidak menarik ya..."
Yah, tentu saja lah. Kalau orang dengan aura
unik seperti Saori tiba-tiba bicara soal hantu, orang pasti akan mengiranya
sebagai kenyataan.
Kalau dipikir-pikir lagi, mati gantung
diri tapi berlumuran darah itu kan aneh... Ah, sudahlah, bukan itu masalahnya.
Mana ada unsur menarik dari cerita horor seperti itu. Aku benar-benar tidak
paham.
"Kamu, anak dari kelas yang sama...
Sawara-siapa gitu?"
"Sawaraguchi. Tidak perlu diingat pun
tidak apa-apa sih."
"Aku Saori Roppongimatsu. Anggota
Klub Penelitian Okultisme. Kalau berminat, kamu boleh bergabung..."
"Nggak, aku tidak tertarik dengan
hal-hal seperti itu... Makasih."
"……Boleh kok kalau mau gabung."
Sambil berkata begitu, Saori melangkah
mendekatiku, lalu menyerahkan selembar kertas.
Kertas yang dicetak di atas kertas
fotokopi A4 itu adalah formulir pendaftaran klub.
Karena Saori tidak bergeming sambil terus
menyodorkan formulir tersebut, mau tidak mau aku pun menerimanya.
Namun, gawat juga ya. Aku kembali
berinteraksi dengan salah satu heroin.
Untungnya, Saori memiliki kepribadian yang
cukup unik dan berbeda dari heroin lain, jadi dia bukan tipe karakter yang
secara proaktif mendekati sang protagonis.
Mungkin, di antara sekian banyak heroin,
dia diatur sebagai tipe heroin yang tidak biasa, memiliki atribut introvert dan
disukai oleh kalangan tertentu.
Heroin misterius yang pendiam dan minim
ekspresi adalah karakter klise yang wajib ada dalam game bergenre seperti ini,
sekaligus karakter populer yang tidak boleh dilewatkan.
Jujur saja, dia juga tipe yang cukup
kusukai secara pribadi. Karakter yang tidak peduli dengan percintaan dan tidak
mau berurusan dengan orang lain, perlahan-lahan mulai terbuka... itu
benar-benar menggemaskan, ya kan.
Namun, dia juga adalah salah satu heroin
target penaklukan di game aslinya.
Itu berarti, dia pasti menaruh perasaan suka
kepada sang protagonis, Kouta Akasaka.
"Um, itu... Roppongimatsu-san, sebenarnya
apa pandanganmu terhadap Akasaka?"
"!? K, kenapa menanyakan hal itu..."
Saat aku bertanya untuk memastikannya, Saori
merona merah, menunduk, lalu meremas-remas ujung roknya dengan kedua tangannya
sambil salah tingkah.
Wah, mudah sekali ditebak... Padahal di game
aslinya, pengaturan karakternya adalah 'tipe heroin yang minim perubahan
ekspresi dan sulit dibaca emosinya'.
Yah, heroin yang muncul di game jenis ini
memang sudah agak ter-template sih. Baik Haruka maupun Akiyoshi, keduanya
menunjukkan reaksi yang sangat mudah ditebak terhadap protagonis, jadi aku
hanya bisa memaklumi kalau memang karakternya seperti itu.
"Akasaka-kun... adalah orang yang tidak
menganggap aneh hobi-hobiku, malah memahaminya... Makanya, dia itu
spesial..."
Ah, begitu ya. Tentu saja, aku tahu. Aku tahu
tentang bagaimana pertemuan Akasaka dan Saori, serta alasan kenapa dia mulai
menaruh perasaan suka padanya.
Kalau tidak salah, mereka bertabrakan di
tikungan koridor, Saori terjatuh lalu menjatuhkan boneka kutukan atau
semacamnya. Sang protagonis memungutnya dan memaklumi hobi khususnya, sehingga
dia mulai menaruh perasaan suka... itulah event pertemuan mereka.
Dan, tentu saja... Saori Roppongimatsu juga
memiliki rute bad ending yang disiapkan untuknya.
Di rute Saori, Kouta Akasaka bergabung dengan
Klub Penelitian Okultisme dan sibuk mengikuti kegiatan klub bersamanya.
Hubungan mereka berkembang dengan baik...
namun pada suatu waktu, mereka menyadari keberadaan kelompok sekte sesat yang
bergerak di balik bayangan akademi.
Kelompok sekte sesat menculik Amane Tenjin
sebagai korban persembahan untuk memanggil dewa kegelapan. Protagonis dan Saori
mencoba menghentikannya, namun karena protagonis lebih memilih menyelamatkan
Amane daripada Saori, dewa kegelapan akhirnya merasuki tubuh Saori.
Berkat kekuatan dewa kegelapan, seluruh
anggota kelompok sekte sesat tersedot energi kehidupannya dan tewas seketika,
begitu pula seluruh siswa akademi yang terenggut jiwanya.
Kekuatan dewa kegelapan semakin membesar,
menyebar ke seluruh negeri dan seluruh dunia, menyerap energi kehidupan dari
seluruh umat manusia hingga akhirnya umat manusia pun punah.
Bumi yang dikuasai dewa kegelapan dan menjadi
planet gelap bergerak menuju matahari, menelan matahari lalu meledak. Energi
gelap menyebar ke seluruh alam semesta, dan dunia ini hancur musnah secara
keseluruhan——.
Sebuah bad ending tanpa harapan di mana bad
ending tingkat individu bahkan meluas hingga penghancuran alam semesta. Orang
yang memikirkan ending ini sepertinya sangat menyukai Mitologi Cthulhu.
Tidak,
game simulasi percintaan tidak butuh hal semacam itu. Cthulhu, horor kosmik,
atau kehancuran semesta, tolong buat di genre yang berbeda saja.
Di
kehidupan sebelumnya, aku ingat sempat memegang kepala saat mengecek rute
ending Saori di tengah pekerjaan debugging.
……Orang yang memikirkan ending ini
benar-benar tidak waras. Kegilaannya setara dengan menetapkan pelacur
non-perawan sebagai heroin utama di game simulasi percintaan.
Kira-kira sejauh mana game itu direvisi
sebelum dirilis, ya? Kuharap poin-poin revisi yang kutulis sudah
diperbaiki... meskipun sekarang tidak ada cara untuk memastikannya lagi.
Terlepas dari itu semua, apakah Saori
Roppongimatsu akan baik-baik saja? Kalau dia
sampai masuk ke rute bad ending, alam semesta ini akan musnah lho.
Aku ingin percaya hal itu tidak akan
terjadi... tapi kalau ceritanya berjalan sesuai skenario game, maka hal itu
bisa dianggap sebagai 'kemungkinan nyata'.
"..."
Menyadari Saori sedang menatapku
lekat-lekat, aku terperanjat.
Aku jadi terlalu asyik memikirkan
pengaturan gamenya. Saori adalah tipe orang yang tidak biasa, kuharap dia tidak
membaca pikiranku...
"A, ada apa?"
"Itu... kopi hitam?"
"Eh?"
Saori sepertinya tertarik pada kopi kaleng
yang kupegang.
Oh, syukurlah cuma itu. Aku sempat panik
mengira pikiranku terbaca.
"A, ah, iya benar. Kenapa
memangnya?"
"Pahit begitu mana bisa diminum. Batasku
cuma caffe au lait atau susu kopi."
"O, begitu ya. Ternyata kamu cukup suka
manis ya."
Mengingat dia memancarkan aura adulte, aku
mengira dia akan bilang hanya bisa minum kopi hitam, jadi ini cukup tak
terduga.
"Kenapa minum sesuatu yang pahit begitu?
Lagi latihan semacam itu?"
"N, nggak, bukan begitu... Kalau tidak
pakai gula, aftertaste-nya lebih bersih dan enak."
"..."
Saori sedikit membelalakkan matanya,
menunjukkan ekspresi terkejut. Terlihat sedikit imut.
"Ternyata dewasa juga ya. Nggak nyangka
kita seumuran..."
"Nggak, nggak juga..."
"Jangan-jangan aslinya kamu adalah arwah
orang berumur kepala tiga (30-an) yang merasuki tubuh ini."
"Apa...!? "
Sekarang giliranku yang terkejut. Bodoh,
kenapa dia bisa tahu?
Jangan-jangan dia memang bisa melihat sesuatu
yang tidak bisa dilihat orang biasa? Kalau
begitu, aku harus ekstra hati-hati.
"...Cuma bercanda kok."
"Eh? Ah, apa, ternyata cuma
bercanda..."
"Kurang menarik, ya?"
"B, yah, kaget sih, tapi dibilang menarik
ya nggak juga..."
Mendengar itu, Saori memasang wajah murung
lalu bergumam, "Begitu ya. Jadi tidak menarik ya..."
Cukup mengejutkan, tapi jangan-jangan... dia
sedang mencoba melontarkan lelucon untuk mencairkan suasana? Apakah Saori punya
pengaturan karakter seperti itu?
Tempat ini memang dunia yang sangat mirip
dengan game tersebut, tapi apakah semuanya harus sama persis seperti game? Atau
maksudnya, dunia ini tidak akan bisa berjalan hanya dengan bagian-bagian yang
digambarkan di dalam game saja?
Contohnya, diriku yang hanya seorang mob
ternyata punya rumah sendiri dan keluarga. Meskipun tidak digambarkan di dalam
game, hal semacam itu wajar dimiliki oleh manusia yang hidup di dunia nyata.
Oleh karena itu, tidak aneh jika karakter
heroin memiliki elemen yang tidak pernah digambarkan di dalam game. Kurasa akan
berbahaya kalau aku tidak memahami hal itu saat berinteraksi dengan mereka.
"Sawaraguchi-kun ternyata cukup dewasa
ya. Kelihatannya kamu sudah tahu kalau aku menganggap Akasaka-kun itu
spesial..."
"A, ah, itu... c, cuma merasa begitu saja
sih... Hahaha..."
"Aku ini tidak begitu paham soal anak
laki-laki. Sebenarnya aku ingin coba akrab dengan Akasaka-kun, tapi aku bingung
harus berbuat apa..."
Eh? Jangan-jangan alur ini... Rasanya seperti
deja vu...
"Kalau tidak keberatan, bolehkah aku
meminta saranmu? Aku tidak punya orang lain untuk diajak bicara soal hal
seperti ini..."
"T, tidak, itu... b, bagaimana
ya..."
"......Katanya ada senior dari organisasi
keagamaan mencurigakan yang bilang aku boleh minta saran kapan saja, tapi aku
agak takut. Kira-kira aman nggak ya kalau minta saran ke orang itu?"
"Serahkan saja padaku! Aku akan dengarkan
saran apa pun! Dan lagi, sebaiknya jangan berurusan
dengan organisasi atau kelompok mencurigakan!"
Organisasi keagamaan itu, pastinya kelompok
itu kan? Sudah pasti mereka adalah kelompok sekte sesat yang muncul di dalam
game.
Semua elemen yang mengarah ke rute bad
ending harus dibasmi. Gawat kalau sampai dunia ini dimusnahkan.
"Mohon bantuannya..."
"O, oke. Serahkan padaku."
Menanggapi Saori yang membungkuk hormat, aku
menjawab sambil meringis.
...Aku benar-benar terjebak. Aku kembali
terjerat dengan salah satu heroin...
Tapi ya, mau bagaimana lagi. Pertemuan kami
kan kebetulan, dan kalau dibiarkan begitu saja, sepertinya sudah dipastikan dia
akan menuju ke rute bad ending.
Mau tidak mau aku harus berusaha semampuku. Menjaga agar dunia ini tidak hancur sambil mengatur
agar para heroin tidak meluncur ke rute bad ending...
Rasanya ini seperti dipaksa melakukan
debugging di dunia nyata... Ini bukan mimpi yang sedang dialami oleh diriku
yang kehilangan kesadaran di dunia asal kan?
Kalau dilihat dari ketajaman
pemandangannya, tempat ini terlalu nyata untuk ukuran mimpi, jadi kurasa
bukan... tapi entah itu mimpi atau kenyataan, hal yang harus kulakukan
sepertinya tetap sama.
Bagaimanapun juga, aku harus mencegah
mereka mencapai bad ending. Karena itu adalah akhir di mana tidak ada seorang
pun yang bahagia.
Pelajaran berikutnya adalah Bahasa Jepang
Klasik (Kogo), dan metodenya adalah belajar mandiri (jishu) karena guru
pengampunya sedang sakit.
Kami harus mengumpulkan tugas, jadi semua
orang sibuk mengerjakan lembar tugas (print), membuat suasana kelas menjadi
sangat tenang.
Kelas ini sepertinya dipenuhi oleh
siswa-siswi yang pada dasarnya rajin. Suasana tidak
akan tenang begini kalau isinya anak-anak pemalas.
Saat aku sedang menatap lembar tugas sambil
memeras otak karena kebingungan, seorang siswi menyapaku.
"Wah, aku sama sekali nggak ngerti nih!
Hei-hei, bisa tolong ajarin aku nggak?"
"—!?"
Yang menyapaku adalah gadis pecinta olahraga
dari klub, Akira Akiyoshi.
Kursi di sebelah kananku kosong, jadi dia
duduk di sana dan merapatkan mejanya ke mejaku.
Eh, tunggu dulu. Melakukan hal seperti ini di
tempat umum... Lagian Akiyoshi kan anak yang tinggi dan ceria, tipe yang sangat
mencolok.
Dia populer di kalangan cowok maupun cewek,
dan selalu menjadi pusat perhatian. Apa yang akan terjadi jika siswi seperti
itu dengan akrab menyapaku?
Suasana kelas langsung mendadak riuh, dan aku
bisa merasakan tatapan seluruh anak sekelas terpusat ke bangku milikku. Cukup
menyiksa bagi seorang mob introvert...
"Sawaraguchi-kun, kamu ngerti nggak? Ajari aku
dong!"
"A,
ah. Boleh sih..."
Aku
berusaha memasang ekspresi setenang mungkin dan menjaga sikap sealamiah mungkin
untuk meresponsnya.
Kalau ini terjadi saat aku masih benar-benar
anak SMA di dunia nyata, aku pasti sudah panik. Tapi diriku kan mantan pekerja
kantoran, jadi sekadar menutupi kepanikan dan mengalihkan situasi masih bisa
kulakukan.
Kudengar bisikan blak-blakan seperti,
"Kenapa cowok seperti dia...", "Siapa sih orang itu?",
"Jangan-jangan Akiyoshi sedang dimanfaatkan kelemahannya", membuatku
nyaris muntah darah.
Tenang,
tenanglah. Aku ini sudah dewasa. Aku tidak akan peduli meskipun dikomentari
macam-macam oleh anak-anak SMA ingusan itu. Meskipun sebenarnya tetap saja
terasa menyiksa.
Aku
bertanya dengan suara pelan kepada Akiyoshi yang membentangkan lembar tugas
yang masih banyak bagian kosongnya.
"Hei, bukankah saat seperti ini adalah
kesempatan emas? Kalau kamu bilang ke Akasaka minta diajari..."
"Ah, iya, mungkin sih... tapi sainganku
sudah keduluan."
"Saingan?"
Aku melirik ke arah kursi Akasaka yang berada
di pojok paling belakang dekat jendela.
Di sana, aku melihat sosok seorang gadis yang
merapatkan mejanya dengan meja Akasaka dan mengerjakan lembar tugas
bersama-sama.
Tanpa perlu dikatakan lagi, gadis itu adalah
Amane Tenjin.
Hmm, rupanya Tenjin sudah lebih dulu mendekati
Akasaka ya. Pantas saja heroin utama, dia tidak pernah melewatkan kesempatan
bagus seperti ini.
"Kalau begini keadaannya, bagaimana kalau
coba menyela di antara mereka berdua? Alasan seperti 'Belajar bertiga kan
selesainya lebih cepat!' atau semacamnya."
"U, um, rasanya agak susah... Bukankah
itu terlampau tidak tahu malu?"
"Ternyata kamu tipe yang cukup tahu malu
ya."
"Maksudmu apa? Mau bilang aku ini orang
yang tidak punya kepekaan dan urat malu, gitu?"
Ditatap dengan tajam, aku mengeluarkan
keringat dingin. Apakah ucapanku barusan salah?
Tapi kalau begitu, seharusnya dia juga merasa
malu padaku...
"Begini ya, karena orangnya itu
Sawaraguchi-kun, jadi aku merasa santai."
"Oh..."
Blak-blakan sekali ucapannya. Maksudnya, dia
tidak perlu merasa sungkan pada mob yang bahkan tidak masuk dalam target
romantisnya, begitu?
Yah, toh aku juga cuma eksistensi mirip udara.
Terserah deh, lakukan sesukamu.
"G-Gimana sih, jangan pasang muka seram
begitu dong. Maksudku 'santai' itu dalam arti positif lho! Rasanya kalau sama
Sawaraguchi-kun, meskipun aku sedikit egois pun kamu bakal senyum dan
maklumin..."
"......"
Apa-apaan itu. Apakah aku terlihat seperti
orang yang begitu pengertian?
Sebaliknya, aku merasa diriku adalah tipe
orang yang sulit didekati dan kaku. Tapi sejak datang ke dunia ini, aku selalu
berusaha bersikap sewajarnya agar tidak memicu masalah, mungkin karena itulah
mereka salah paham.
"Terserah sih... Tapi sebaiknya jangan
terlalu berekspektasi tinggi padaku."
"Eh? Maksudnya gimana..."
"Kelihatannya tidak berbahaya, tapi siapa
tahu aku ini menyembunyikan sifat asli yang sangat gelap? Jangan-jangan aku
sedang berpura-pura ingin menolong padahal berniat menipumu..."
"Kyaa, seramnya. Kalau gitu, aku bakal
lebih hati-hati deh! Ufufufu."
Akiyoshi tertawa riang dan sama sekali tidak
mempercayai perkataanku.
Sial, aku benar-benar diremehkan. Berusaha
bersikap seperti orang baik demi menghindari masalah justru menjadi bumerang.
Mengatakan apa pun sekarang sepertinya
percuma, jadi kubatalkan saja niatku dan mencobanya di lain waktu. Kubuktikan
kepada mereka seperti apa sebenarnya diriku ini.
Saat aku sedang merencanakan hal itu, sosok
merepotkan lainnya datang mendekat.
"U, um, Sawaraguchi-kun... Mau ngerjag
tugas bareng nggak? Ada bagian yang aku nggak ngerti..."
Yang menyapaku adalah gadis cantik
berambut sebahu, Momomichi Haruka.
Dia membawa kursinya dari suatu tempat dan
merapatkannya ke mejaku.
Saat Haruka mendekati bangkuku dan mengajakku
bicara, suasana kelas kembali mendadak riuh.
Meskipun sedikit suram dan pendiam, Haruka
tanpa ragu adalah seorang gadis yang cantik.
Bagaimanapun juga, dia adalah sub-heroine
teratas, sosok yang diposisikan berpasangan dengan Amane Tenjin sang heroin
utama. Tentu saja, dia dengan mudah menarik perhatian orang di sekitarnya.
Menyusul Akiyoshi, bahkan Haruka kini
mengajaknya bicara, membuat seluruh anak sekelas merasa sangat terkejut.
Mereka melirik ke arahku sambil berbisik-bisik
dan bergosip, "Ada apa dengan cowok itu?", "Bahkan Momomichi-san
yang diam-diam punya banyak penggemar pun mendekatinya! Sebenarnya dia
siapa?", "Padahal tadinya cuma jadi bayaran latar belakang, emang ada
cowok kayak gitu ya?". Komentar khas mob memang seperti ini ya.
Berusaha pura-pura tidak mendengar
komentar-komentar itu, aku berkata kepada Haruka.
"Boleh saja sih. Tapi, Momomichi-san,
bukankah seharusnya kamu mencari orang lain untuk..."
"......"
Begitu aku mengucapkannya, kaki kursi Haruka
menendang kursiku dengan bunyi gedebuk, membuatku langsung menutup mulut.
Haruka menatapku tajam dengan senyuman di
wajahnya untuk memperingatkanku.
Tatapan itu seolah menyuruhku untuk berhenti
mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Seram banget.
Ngomong-ngomong, Akiyoshi sepertinya belum
tahu kalau Haruka menaruh perasaan suka pada Akasaka. Kalau begitu, akan lebih
aman jika rahasia itu tetap tidak diketahui.
Akiyoshi sama sekali tidak menunjukkan
kecurigaan meskipun Haruka bergabung. Dia tersenyum ramah lalu berkata kepada
Haruka.
"Momomichi-san akrab banget ya sama
Sawaraguchi-kun. Sudah temenan lama?"
"T, tidak, bukan begitu... Kami baru
kenal belakangan ini kok."
"Begitu ya? Berarti sama kayak aku
dong. Pantesan—"
Menanggapi Akiyoshi yang tersenyum ramah,
Haruka justru tampak sedikit kesal.
"Meskipun kenalannya baru sebentar, tapi
Sawaraguchi-kun adalah pihaikku. Jadi Akiyoshi-san jangan ikut campur..."
"Eh, apa-apaan. Aku kan juga temannya,
dan aku juga berada di pihaknya. Bukankah tidak adil kalau kamu minta
diperlakukan spesial sendirian?"
"......"
Mendengar protes dari Akiyoshi, Haruka semakin
terlihat tidak senang.
Dia menggembungkan pipinya sambil menatap
Akiyoshi dengan mata setengah terpejam, lalu melirik ke arahku juga.
Yah, kenapa jadi begini. Aneh rasanya kalau
aku ikut dimusuhi juga. Tolong bersikap lebih tenang dan hadapi masalah ini
dengan rasional, dong.
"Sawaraguchi-kun berkhianat...? Jahat
banget... Mau diapakan ya orang kayak gitu..."
"Hei, tunggu, barusan kamu bilang mau
membunuh? Suaramu kurang jelas."
Mendengar itu, Haruka merengut lalu
membuang muka dariku sambil menjawab.
"Nggak ngomong begitu kok. Aku cuma
bilang mau menyingkirkannya."
"O, ooh. Kalau sekadar disingkirkan
sih ya..."
"Dibuang dari atas tebing sampai
jatuh ke bawah kan nggak masalah... Hidup atau mati itu kan cuma
untung-untungan kayak judi..."
Itu mah namanya percobaan pembunuhan biasa! Tolong hentikan hal-hal ekstrem seperti itu!
Saat aku memprotesnya, Haruka bergumam,
"Padahal cuma bercanda."
Maaf saja, tapi sama sekali tidak terdengar
seperti candaan. Lagian, matanya jelas-jelas terlihat serius, kan?
Kalau mob sepertiku berurusan dengan para
sub-heroine di situasi seperti ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi. Kalau
mereka tidak bisa mendekati Kouta Akasaka, jalan satu-satunya ya kita kerjakan
saja tugas lembar kerja mandiri ini dengan tenang.
Saat aku hendak mendesak mereka berdua untuk
fokus mengerjakan tugas, seseorang kembali menyapaku.
"Sawaraguchi-kun. Ayo kerjakan tugasnya
bersama-sama."
Pemilik suara itu adalah Saori Roppongimatsu.
Kursi di depanku kosong, jadi dia memutar posisi kursinya 180 derajat dan duduk
menghadap langsung ke arahku.
Tidak kusangka, bahkan dia pun ikut-ikutan
mengajakku bicara. Aku tentu saja sangat terkejut, dan anak-anak sekelas
tampaknya jauh lebih terkejut lagi.
"Bahkan Roppongimatsu-san yang pendiam
dan sedikit menyeramkan itu? Ada apa sebenarnya?", "Lagi-lagi cowok
itu. Sebenarnya siapa sih dia!", "Jangan-jangan dia memegang rahasia
kelemahan para cewek-cewek itu? Apa kita harus lapor guru?", "Nggak,
mending lapor polisi! Cowok itu pasti penguntit! Nggak tahu malu banget!"
...Dan komentar-komentar semacam itu
berhamburan, membuat wajahku berkedut kaku.
Kalian ini ya, sembarangan sekali kalau
ngomong... Jangan remehkan mantan pekerja kantoran, ya? Mau kubawa kalian semua
ke pengadilan buat minta ganti rugi pencemaran nama baik? Masing-masing bisa
kena setengah juta yen nih.
Aku mengingat wajah semua orang yang
mencelaku, lalu diam-diam mencatat nama mereka di buku catatan. Akan kugunakan
nanti kalau situasinya sudah gawat.
Haruka dan Akiyoshi juga tampak terkejut. Keduanya menatapku dan Saori secara bergantian dengan
ekspresi tidak percaya.
"B,
bohong... Bahkan Roppongimatsu-san juga... Sebenarnya siapa Sawaraguchi-kun ini, dan apa tujuannya...?"
"Jangan-jangan dia sebenarnya pemain
ulung? Kukira dia cuma cowok pendiam yang tidak mencolok, tapi jangan-jangan
aku sedang ditipu...?"
Hentikan, kumohon. Aku tidak punya niatan
seperti itu.
Pertama-tama, di game aslinya aku bahkan tidak
punya desain visual yang jelas sebagai karakter mob, tahu!
Aku sama sekali tidak punya niat ataupun
kemampuan untuk ikut campur dengan para heroin cantik yang berada di pusat
dunia ini.
Di tengah suasana yang terasa canggung, Saori
mengabaikan semuanya begitu saja dan bergumam datar.
"Kamu sudah berjanji kan mau mendengarkan
konsultasiku? Bantu aku menyelesaikan lembar tugas mata pelajaran yang paling
kubenci."
"A, ah, boleh saja sih... Kamu benci
pelajaran sastra klasik?"
"Sama sekali tidak ngerti. Padahal sastra
modern aku jago lho."
Begitu ya. Padahal kupikir Saori adalah tipe
orang yang jago soal bahasa kuno dan sastra klasik.
Saat aku sedang mengajarinya materi soal yang
membingungkan Saori, Haruka dan Akiyoshi ikut merapat.
"Sawaraguchi-kun, ajari aku juga."
"Aku jugaー! Ini mah mirip sandi rahasia! Eh, Roppongimatsu-san dari tadi kayaknya
hampir nulis semua jawabannya sendiri, deh?"
"......"
Saori terdiam, tapi aku juga menyadari hal
itu. Meskipun bilang tidak mengerti, dia sudah menulis hampir seluruh
jawabannya sendiri.
Sebenarnya dia tidak perlu bertanya padaku
sejak awal, kan? Apa sebenarnya niatnya.
"Aku sebenarnya paham kok, cuma kurang
suka saja. Aku cuma ingin diajari oleh Sawaraguchi-kun yang kelihatannya
jago."
"O, begitu ya. Yah, aku sendiri sih tidak
keberatan..."
"「「......」」"
Entah kenapa ketiganya mendadak terdiam dengan
ekspresi yang terasa rumit.
......Ada apa ini? Hubungan di antara ketiga
orang ini tidak memiliki pengaturan khusus di dalam game, kalau tidak salah...
Mereka adalah para heroin yang menaruh
perasaan suka pada sang protagonis, dan semuanya adalah saingan, kan?
Bergantung pada situasinya, apakah mereka akan
berubah menjadi teman, atau malah menjadi musuh bebuyutan?
Kalau begitu keadaannya, mob sepertiku harus
berhati-hati dalam bersikap...
"B, kalau begitu, mari kita saling
mengajari bagian yang kita pahami. Kalau ada yang tidak tahu, kita bisa buka
kamus..."
Aku mengajak mereka kembali fokus dan mulai
mengerjakan tugas.
Namun belum ada lima menit, Saori tiba-tiba
bergumam pelan.
"......Ngomong-ngomong, soal masalah
itu."
"Eh?"
"Menurutmu apa yang harus
kulakukan?"
Sambil berkata begitu, Saori melirik sekilas
ke arah jendela... ke arah kursi Kouta Akasaka.
Hei, jangan bilang di situasi seperti ini dia
mau membahas cara mendekati Akasaka? Padahal dua orang yang juga naksir berat
pada cowok itu sedang duduk tepat di depan matanya?!
Atau jangan-jangan, Saori tidak tahu kalau
Haruka dan Akiyoshi adalah saingannya. Kalau itu alasannya mungkin bisa
dimaklumi, tapi tetap saja...
Haruka dan Akiyoshi memiringkan kepala mereka
dengan bingung. Sepertinya rahasia itu belum terbongkar oleh mereka berdua.
"Hei-hei, soal masalah apa tuh?"
Akiyoshi bertanya dengan santai, membuatku
mengeluarkan keringat dingin. Khas anak olahraga, blak-blakan sekali. Tidak
punya rasa takut ya.
Tapi, aku tidak boleh membeberkannya di sini.
Mungkin cepat atau lambat mereka akan tahu, tapi untuk sekarang jangan.
Takutnya kedengaran oleh siswa lain.
Saat aku sedang memikirkan alasan untuk
mengalihkan pembicaraan, Saori berbisik datar.
"Aku sedang konsultasi padanya. Ada hal
yang sedikit membuatku pusing..."
"Oh, begitu ya? Wah, sama dong kayak
aku!"
Akiyoshi menjawab dengan riang, sementara
Saori memiringkan kepalanya dengan heran.
Situasi macam apa ini. Apakah hal ini aman?
Rasanya seperti berdiri di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja karena
pemicu tersembunyi...
Kalau di antara mereka berdua ada yang
tiba-tiba nyeletuk, "Konsultasi soal apa emangnya?", situasinya bakal
jadi ribet...
Kalau sudah begini, satu-satunya cara adalah
melempar topik lain dan mengalihkan pembicaraan secara paksa. Um, kira-kira
bahan obrolan apa ya...
Tepat saat itu, mataku tak sengaja bertatapan
dengan Haruka. Melihat Haruka mengangguk kecil seolah berkata "Serahkan
padaku", aku langsung tersadar.
Apakah dia bisa membaca situasi dan berniat
membantuku? Oh, bersyukur sekali ada yang mau membelaku. Tolong bantu aku,
Haruka-san!
"Konsultasi dengan Sawaraguchi-kun itu
giliranku yang duluan. Kalian berdua antre setelah aku."
Hei, Haruka. Apa-apaan yang baru saja kamu
ucapkan?
Jangan pasang muka sok mendominasi seolah
berkata "Sudah kubuat dia bungkam". Tidak perlu juga mengacungkan
jempol.
Aku tidak menyangka dia setidak-peka ini...
atau jangan-jangan, dia justru sangat peka dan sengaja menegaskan posisi
keunggulannya? Kalau begitu, dia benar-benar gadis yang merepotkan.
"Hah, gitu ya? Momomichi-san juga lagi
konsultasi? Hmmm?"
"Pihak pertama... Apakah kamu membayar
uang sewa atau semacamnya?"
Entah kenapa. Meskipun mereka bertiga tidak
sedang saling memelototi, atmosfer di sekitar mendadak terasa menegang... atau
cuma perasaanku saja?
Rasanya salah satu dari mereka bertiga bisa
saja nyeletuk, "Sebenarnya apa sih yang kalian konsultasikan?".
Meskipun kurasa tidak ada yang akan menjawab secara blak-blakan, tapi ada
kemungkinan salah satu dari mereka akan keceplosan.
Kalau sampai itu terjadi, urusannya bakal
panjang. Aku harus mencari cara untuk mengalihkan situasi ini...
"Aku tidak pernah menetapkan siapa yang
lebih dulu atau siapa yang harus diprioritaskan. Tolong jangan membuat
keributan yang tidak perlu."
"Kalau begitu berarti kita semua setara
dan adil, dong! Kalau gitu sih nggak masalah!"
"......Baiklah. Aku tidak keberatan
dengan hal itu."
Akiyoshi dan Saori sepertinya bisa
menerimanya. Tapi hanya Haruka yang tampak tidak puas.
"Kamu bilang aku adalah pihakmu, tapi
kenapa berkhianat? Jangan coba-coba bersikap baik ke semua orang."
"Bukannya begitu. Aku ini sifatnya
netral, tidak berniat memihak atau menjadi musuh siapapun. Mohon
pengertiannya."
"......"
Meskipun Haruka tampak kesal, mungkin
karena ada dua orang lainnya di sini, dia menyadari tidak etis jika memaksakan
diri meminta prioritas, jadi dia akhirnya mengalah untuk sementara waktu.
Sepertinya aku harus memberikan
pembelanjaan khusus atau mendekatinya lagi nanti. Bagaimana bisa Haruka yang
paling pendiam dan serius ini justru yang paling merepotkan?
"Jadi, menurutmu apa yang harus
kulakukan?"
"Eh!? Masih mau melanjutkan konsultasinya
di sini? Roppongimatsu-san punya mental sekuat baja ya!"
Saori kembali melanjutkan konsultasinya
kepadaku, membuat Akiyoshi membelalakkan matanya.
Aku juga kaget setengah mati. Masih sanggup melanjutkan topik konsultasi di situasi seperti ini? Apakah
Saori tidak punya rasa takut sama sekali?
Tanpa ekspresi, Saori melanjutkan dengan nada
datarnya.
"Kalau ada dua orang lain di sini yang
berada di posisi yang sama dan sedang berkonsultasi, kurasa aku bisa mendengar
pendapat yang bagus..."
"Ah, begitu ya. Masuk akal juga
sih!"
"......"
Mendengar ucapan Saori, Akiyoshi tampak cukup
antusias. Sementara Haruka merengutkan alisnya dengan ekspresi rumit, seolah
ingin bilang, "Aku malas mendengarkan masalah percintaan orang lain."
Namun, jika aku salah memberikan tanggapan di
situasi ini, ketiga orang itu akan menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi
sebenarnya merujuk pada orang yang sama. Itu gawat.
Kalau
ini game, mungkin akan muncul tiga pilihan opsi di layar, tapi di dunia nyata
tidak ada sistem seperti itu, dan aku harus memikirkan sendiri jalan keluarnya.
Hmm,
bagaimana ya... Respon apa yang paling optimal di situasi ini...
Memberikan
saran kepada Saori tanpa membiarkan kedua orang lainnya mengetahui isi
konsultasinya.
Menghentikan
pembicaraan dengan alasan "Lebih baik kita selesaikan dulu lembar tugas
ini daripada bahas hal lain".
Membuka
sendiri isi konsultasinya dan membuat ketiganya menyadari bahwa mereka berada
di posisi yang sama.
Kira-kira seperti itu pilihannya? Kalau opsi 2
berhasil, masalahnya mungkin selesai di sini, tapi apakah bisa semudah itu?
Opsi 3 rasanya ideal, tapi sangat berisiko.
Kalau ketiganya menyadari bahwa mereka saling bermusuhan, salah satu dari
mereka bisa saja terdorong masuk ke rute bad ending.
Jadi, apakah harus memilih opsi 1? Meskipun
ini juga tampaknya cukup sulit...
"Jadi-jadi? Apa masalah yang sedang kamu
hadapi?"
Akiyoshi tiba-tiba bertanya kepada Saori
dengan nada santai, membuatku terperanjat kaget.
Gawat, aku keduluan. Kalau Saori memberikan
jawaban yang mengarah ke inti masalah, situasinya bisa berubah menjadi bencana
besar...!
"......Soal hubungan antarmanusia."
"Oh, begitu ya? Masalah paling klise
memang seputar itu ya. Nggak nyangka Roppongimatsu-san juga peduli hal-hal
seperti itu?"
"......Terkadang."
Melihat interaksi keduanya, jantungku berdegup
kencang karena cemas.
Melihat dua orang dengan tipe yang sangat
berbeda mengobrol secara normal mungkin adalah pemandangan yang cukup langka.
Namun, untungnya keduanya tidak ada yang
mencoba mengorek bagian dalam dari isi konsultasi tersebut. Mereka ternyata
cukup berhati-hati.
Di saat itulah Haruka memasang ekspresi seolah
menyadari sesuatu, lalu membuka mulutnya.
"Jangan-jangan, itu cerita tentang orang
yang kamu sukai..."
"Ekhm! Uhuk, uhuk, uhuk! Aduh, tenggorokanku kering banget ya! Uhuk,
uhuk!"
Meskipun aktingku terasa sangat
dibuat-buat, aku sengaja terbatuk-batuk untuk memotong perkataan Haruka.
Sebenarnya apa yang ingin dia katakan? Apakah
dia juara pertama dalam kategori 'orang yang tidak bisa membaca situasi'?
Ampuni aku deh.
"Ada apa, Sawaraguchi-kun? Kelihatan
sengaja banget batuknya..."
"Uhuk, uhuk!"
Aku mencengkeram bahu Haruka dan berbisik
pelan di dekat telinganya.
"......Bisa tolong diam sebentar?"
"U, un. Ba, baiklah..."
Mungkin baru sadar kalau ucapannya tadi
berbahaya, Haruka akhirnya mengangguk patuh.
Sialan, anak ini benar-benar... Tolonglah, jangan melontarkan kalimat yang sembarangan lagi.
Saat itu, Saori melontarkan komentar dengan
nada datarnya.
"Kalian berdua, kelihatannya akrab sekali
ya."
"Eh?"
Menyadari bahwa "kalian berdua" yang
dimaksud adalah aku dan Haruka, aku langsung tersadar.
Gawat. Kalau sampai salah paham, urusannya
bakal panjang nanti. Aku harus segera menyangkalnya.
"Bukannya begitu, tidak ada apa-apa di
antara kami kok... Kan, Momomichi-san?"
"......"
"Momomichi-san?"
Aku meminta persetujuan Haruka, tapi entah
kenapa dia malah terdiam.
Dia memasang wajah cemberut lalu melirik tajam
ke arahku sambil berkata,
"Kenapa harus disangkal? Memangnya kamu
benci dikira akrab denganku? Hmmm..."
"B, bukan, bukan begitu maksudku..."
Eh, tunggu, jangan-jangan aku salah ngomong
lagi? Padahal aku berniat agar hubungan kami tidak disalahpahami secara aneh.
Haruka menunduk dengan wajah suram sambil
bergumam tidak jelas.
"Lagian, aku kan... cuma gadis suram
yang cocoknya berteman sama meja... Mungkin sebaiknya aku berubah wujud jadi
kursi aja ya..."
Gawat, Haruka masuk ke mode gelap lagi...!
Aku harus segera mencairkan suasananya sebelum dia jatuh ke jurang kegelapan.
"N, nggak kok! Momomichi-san tidak
sesuram itu, malah kelihatannya bersinar banget... Makanya, lebih percaya
dirilah!"
"Nggak apa-apa, nggak usah memaksakan
diri memujiku... Sawaraguchi-kun juga sebenarnya nggak mau kan dikira temenan
sama orang kayak aku...?"
"B, bukan begitu, bukan itu maksudku.
Aku cuma takut kalau dikira akrab sama orang sepertiku malah bikin kamu
repot... Pokoknya bukan begitu!"
Aku mencoba membelanya dengan
sungguh-sungguh, namun Haruka tetap menunduk dengan tatapan penuh kecurigaan.
Ugh, tidak mempan ya. Rupanya kata-kata
dari mob sepertiku memang tidak mampu menggerakkan hati seorang heroin...
Di tengah keputusasaanku menghadapi
ketidakberdayaan ini, Akiyoshi ikut angkat bicara.
"Kalian berdua ini mirip banget ya...
Kurasa penilaian diri kalian berdua terlalu rendah, deh?"
"Eh? B, begitu ya?"
Sambil memiringkan kepala, aku menatap
Akiyoshi yang tersenyum lebar.
"Iya benar. Menganggap diri sendiri
bakal membawa dampak buruk kalau berteman dengan orang lain, itu namanya
terlalu merendahkan diri sendiri. Padahal kan nggak seperti itu. Iya kan,
Momomichi-san?"
"I, iya. Sawaraguchi-kun, apakah kamu
juga bilang hal yang sama ke Akiyoshi-san?"
"T, tidak, aku..."
"Bilang, bilang kok! Katanya begitu,
makanya kubilang jangan merendahkan diri sendiri, tapi dia kayaknya nggak paham
juga ya. Repot banget kan punya temen kayak gini?"
Mendengar Akiyoshi berkata begitu dengan
nada gemas, aku jadi kebingungan harus merespons apa.
Begitukah? Apakah pemikiranku selama ini
salah? Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang ada benarnya juga...
Namun, Haruka dan Akiyoshi adalah karakter
bernama yang berada di pusat dunia ini, sedangkan aku adalah karakter mob yang
dilabeli sebagai latar belakang. Rasanya tidak mungkin kami berada di level
yang setara.
Yang aneh justru Haruka, dia adalah
sub-heroine teratas dan posisi yang paling dekat dengan heroin utama, tapi dia
malah terlalu merendahkan dirinya sendiri.
"Sebaliknya,
bukankah justru Momomichi-san yang aneh? Terlalu rendah diri."
"Nggak kok. Yang aneh itu
Sawaraguchi-kun. Ngatain diri sendiri mob lah, latar belakang lah... Aneh
banget tahu."
Meskipun aku menjelaskan teori yang logis,
Haruka tetap tidak mau menerimanya dan membantah mentah-mentah.
Aduh, kenapa mereka tidak mau mengerti.
Jelas-jelas kasta antara sub-heroine seperti kalian dengan mob sepertiku itu
berbeda jauh. Memaksa diri untuk menganggap kami setara pun rasanya tidak masuk
akal.
Saat aku dan Haruka sedang berdebat kecil,
Saori yang dari tadi diam tiba-tiba bergumam.
"Kalian berdua benar-benar kelihatan
akrab ya. Bisa dibilang mirip sepasang kekasih yang cocok?"
"「Nggak mirip sama sekali!」"
Mendengar komentar Saori, aku dan Haruka
refleks melontarkan sanggahan secara bersamaan.
Gawat, kami tidak sengaja sinkron sempurna.
Kalau begini, mereka bakal semakin salah paham.
Akiyoshi tertawa terbahak-bahak sambil
menepuk-nepuk pundakku.
"Ahahaha, klop banget kalian! Pasangan
komedian senior aja kalah kompak!"
"B, bukan begitu. Tadi itu cuma
kebetulan..."
"Kurang pas rasanya kalau disangkal
begitu kan...? Nanti Momomichi-san keburu ngambek lho?"
Akiyoshi
merapat ke dekat telingaku dan berbisik pelan.
Mendadak
berada di jarak yang begitu dekat membuatku salah tingkah, sambil memikirkan
saran yang diberikan oleh Akiyoshi.
Apakah memang seperti itu? Artinya, reaksi
yang kutunjukkan barusan salah?
Kupikir bersikap hati-hati agar tidak
membebani Haruka adalah hal yang benar, tapi ternyata tindakanku justru melukai
hatinya... Begitu ya?
Mendapatkan nasihat percintaan dari karakter
game rasanya aneh, tapi tempat ini kan sekarang sudah menjadi dunia nyata.
Sebagai pendapat dari manusia sungguhan—bukan karakter fiktif—mungkin aku
memang harus mendengarkannya.
Kulihat
ke arah Haruka, dia sedang membuang muka dariku sambil sesekali mencuri pandang
ke arahku. Ekspresinya tampak cemberut kesal, namun pipinya sedikit merona dan
dia tampak salah tingkah. Terlihat cukup imut.
Aku
tidak begitu paham dengan reaksi semacam itu... tapi apakah dia sedang menunggu
sesuatu? Apakah dia ingin aku mengatakan sesuatu?
Akiyoshi
tersenyum penuh arti, sementara Saori menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi.
Situasi macam apa ini? Apakah aku, si karakter mob ini, harus menyelesaikan
situasi rumit ini?
Tidak,
ini sudah keterlaluan! Aku kan bukan protagonis, bukan pula
karakter bernama yang memegang alur utama.
Namun, atmosfer di sini menuntutku untuk
melakukan sesuatu... Rasanya seperti berada di game yang freeze di tengah
jalan, dan sebagai debugger yang sedang uji coba, mau tidak mau aku harus
mencari cara mengatasinya.
"......Maaf, aku yang salah. Aku dan
Momomichi-san memang berteman. Tentu saja, kalau Momomichi-san tidak
keberatan."
Aku menundukkan kepala untuk meminta maaf. Mendengar itu, Haruka langsung melambaikan kedua
tangannya dengan panik.
"T, tentu saja aku nggak keberatan!
Malah, aku yang harusnya bilang... kalau Sawaraguchi-kun nggak keberatan, aku
pengen kita tetep temenan..."
Situasinya jadi agak aneh, tapi intinya Haruka
memang ingin berteman denganku, begitu ya?
Bagi diriku sendiri, bisa berteman dengan
gadis selucu ini tentu saja adalah sebuah kebahagiaan... tapi di sisi lain,
bagaimana dengan perasaan Haruka sendiri?
Mungkin karena pengaturan karakternya
sebagai heroin introvert yang suram, dia merasa senang bisa berteman bahkan
dengan mob sepertiku.
Sebagai seorang heroin, apakah hal seperti itu wajar? Apakah dia akan baik-baik saja dengan kondisi seperti ini?


Post a Comment