-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Bad End Fukahi no Make Heroine-tachi ga Mob Boukansha no Ore ni Renai Flag wo Tatetekuru Volume 1 Chapter 2

Chapter 2: Heroin Pendukung Kedua


Sudah beberapa hari berlalu sejak aku mengambil peran sebagai pengawas Momomichi Haruka.

Sejauh ini, kurasa semuanya berjalan dengan cukup baik.

Meskipun hanya "cukup baik", dan tidak ada perkembangan yang terlalu besar sih.

"Hari ini aku bisa bilang 'selamat pagi' ke Akasaka-kun dengan sangat natural lho."

"Begitu ya. Baguslah."

"Ehehehe..."

Pada jam istirahat, aku dan Haruka keluar kelas secara terpisah dan bergabung di Ruang Dokumen Ketiga yang ada di gedung khusus, lalu melakukan pertemuan rahasia berdua saja.

Pada dasarnya Haruka lah yang bergerak secara terbuka, sedangkan aku hanya bertugas memberikannya saran. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak berbicara dengannya di dalam kelas.

Akan gawat jika pihak ketiga tahu bahwa aku dan Haruka berada dalam hubungan "rekan konspirasi". Terlepas dari diriku, hal itu pastinya hanya akan memberikan dampak negatif bagi Haruka.

Oleh karena itu, hubungan kami adalah rahasia. Kami harus memastikan tidak ada seorang pun yang tahu, terutama sang protagonis Kouta Akasaka dan para heroin lainnya.

"Hubungan rahasia, ya? Rasanya itu..."

"Hmm? Ada apa?"

"E, nggak, nggak apa-apa. Sebaiknya kita tidak memikirkannya terlalu dalam ya."

"?"

Bagaimanapun juga, untuk saat ini semuanya berjalan lancar. Meskipun tidak ada perkembangan yang terlalu besar, Haruka selangkah demi selangkah dengan pasti meningkatkan tingkat keintimannya dengan Akasaka.

Jika terus begini, seharusnya dia tidak akan terjerumus ke dalam rute bad ending. Meskipun kita tetap tidak boleh lengah.

"Soal Tenjin-san... Dia terus-menerus ngobrol sama Akasaka-kun, ya? Kelihatan akrab banget. Akasaka-kun juga tampak senang... Apakah kita biarkan saja hal itu...?"

Tiba-tiba Haruka bergumam, menjatuhkan bayangan suram di wajahnya.

Ya ampun, mulai lagi. Anak ini seharusnya memiliki kepribadian yang serius dan baik hati, tapi hanya karena pemicu kecil saja, dia langsung diselimuti aura yang kelam.

Jika sisi yang mirip karakter muram atau yandere ini lepas kendali, dia pasti akan menuju ke bad ending yang sangat tragis itu.

Itu adalah ending terburuk di mana baik protagonis maupun para heroin semuanya mati, jadi aku harus menuntunnya agar tidak berakhir seperti itu...

"Biarkan saja Tenjin. Percuma bersaing dengannya. Kamu hanya akan dijadikan pemeran pendukung saja."

"B-Begitukah? Memang sih, Tenjin-san itu hebat dalam banyak hal..."

"Kan? Makanya jangan berurusan dengan—"

"Bagian dada yang besar banget itu, keterlaluan ya. Kenapa bagian tubuhnya bisa bergetar ke atas dan ke bawah hanya karena bergerak secara biasa? Rasanya agak menyebalkan juga... Uhehehe."

Gawat, Haruka masuk ke mode yandere lagi... Emosinya sangat tidak stabil sampai-sampai menyeramkan. Lagian, meskipun dia salah satu heroin, jangan ngomongin soal dada segala.

"Tenanglah. Kalau kamu terus-menerus kesal karena hal seperti itu, tidak akan ada habisnya. Apa kamu berniat membasmi semua karakter berdada besar yang ada di dunia ini?"

"B-Bukan begitu maksudku..."

"Jangan pedulikan hal semacam itu. Kalau kamu berpikir 'anak itu memang seperti itu', bukankah itu jadi tidak dipedulikan lagi?"

"U, un... benar juga..."

Haruka tampak tidak puas, tapi sepertinya dia bisa menerimanya untuk saat ini.

Baguslah kalau begitu. Mari kita usahakan agar dia tidak terlalu memikirkan Amane Tenjin.

"Tapi, kalau hanya menyapa saja kan rasanya kurang... Bukankah sudah waktunya kita melangkah ke tahap selanjutnya?"

"Hmm, benar juga..."

"Bagaimana kalau cara seperti ini? Kita tulis surat kaleng lalu memasukkannya ke kotak sepatu Akasaka-kun."

"Klasik banget ya. Tapi, mungkin itu tidak buruk karena bisa memberikan kesan serius dan tulus kepada target... Mau menulis surat seperti apa? Terlalu blak-blakan menunjukkan perasaan mungkin masih terlalu cepat lho."

"Begitu ya... Kalau begitu, bagaimana kalau 'Aku selalu mengawasi gerak-gerikmu lho'?"

"Bukan begitu, itu seram! Bukankah itu surat ancaman?!"

"K, kalau begitu, 'Aku tahu segalanya tentang dirimu'..."

"Sama saja! Alih-alih menunjukkan rasa suka, kenapa malah menebarkan teror!"

"B, begitukah...?"

...Anak ini, jangan-jangan punya sifat natural airhead? Terlebih lagi tipe yandere.

Pantas saja dia adalah heroin di balik bayangan yang berpasangan dengan heroin utama di sisi terang. Tapi bukankah sisi negatifnya terlalu kuat?

Padahal biasanya dia adalah anak yang baik dan sangat serius... Sungguh heroin yang disayangkan.

"Ide suratnya kita simpan dulu. Kita harus memberikan kesan yang bagus terlebih dahulu. Bagaimana kalau kamu mencoba mengajak Akasaka ngobrol di luar jam menyapa?"

"Eeeh!? I-Itu rasanya tingkat kesulitannya tinggi banget, ya? Kita kan bukan teman, kok bisa-bisa..."

"Nah, tepat sekali. Itulah target kita untuk waktu dekat."

"Eh? Maksudnya yang mana?"

"Kita naik tingkat dari sekadar kenalan biasa di kelas menjadi teman. Kalau kita sudah bisa mengobrol santai, seharusnya tidak akan terlalu sulit untuk menjadi lebih akrab dari sana."

"O-Ooh... rasanya perkataanmu sangat meyakinkan! Jangan-jangan Sawaraguchi-kun ini adalah orang yang sangat paham soal percintaan?"

"Yah, lumayan lah."

"Begitu ya. Hebat sekali!"

Huh, jangan memujiku separah itu. Aku jadi malu.

Yah, begitulah, di kehidupan sebelumnya aku kan sudah menjadi orang dewasa. Aku rasa aku lebih tahu soal hubungan pria dan wanita dibandingkan anak SMA.

Lagian aku telah memainkan berbagai macam game. Tentu saja game simulasi percintaan pun sudah kutaklukkan habis-habisan.

...Meskipun aku tidak punya pengalaman pacaran dengan perempuan di dunia nyata, kurasa itu bukan masalah besar.

Urusan percintaan bisa diatasi jika kita punya pengetahuan dari game. Aku juga cukup sering menonton komedi romantis di anime dan manga.

"Sawaraguchi-kun ternyata seorang master percintaan ya! Bolehkah aku memanggilmu Guru?"

"Hih, jangan begitu..."

"Guru!"

"...Tolong hentikan beneran. Aku tidak begitu paham dan juga tidak mendalaminya. Soal bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis, bukankah kebanyakan orang mengira mereka paham padahal sebenarnya tidak?"

"I, iya juga ya. Ternyata sangat mendalam..."

Mendengar kejujuranku, Haruka mengangguk kagum.

Aku tidak tahu apakah itu mendalam atau dangkal, tapi itu memang masalah yang rumit. Cara berhubungan antara pria dan wanita mungkin adalah tema abadi bagi umat manusia yang tidak memiliki jawaban mutlak.

Terlepas dari itu, aku harus membasmi elemen-elemen berbahaya agar Haruka tidak menuju ke rute bad ending.

Kita harus membuatnya akrab dengan Kouta Akasaka secara natural dan menjalin hubungan pertemanan. Meskipun akan menjadi masalah juga kalau aku terlalu jauh ikut campur sampai membuatnya benci.

"Cari saja alasan yang wajar, lalu cobalah ajak Akasaka mengobrol."

"M-Meskipun kamu bilang alasan yang wajar... apa yang harus kukatakan?"

"Misalnya, pelajaran berikutnya ini mata pelajaran X, apakah kamu sudah mengerjakan PR-nya? Atau karena hari ini tanggal sekian, kita mungkin akan dipanggil berdasarkan nomor absen... Bisa juga membahas soal cuaca, atau berita terkini. Topiknya bebas yang penting biasakan diri untuk mengobrol."

"O-Ooh. Topiknya tidak penting, yang bermakna adalah pertukaran percakapannya itu sendiri ya."

Baguslah karena dia cepat paham. Haruka pada dasarnya adalah anak yang pintar. Kulihat nilai sekolahnya juga bagus.

Dia adalah anak yang serius, jujur, dan baik. Aku harus membimbingnya agar dia tidak terjerumus ke dalam bad ending yang terlalu menyedihkan.

"...Tapi ya, kalau dipikir-pikir... Sawaraguchi-kun dan aku sudah berada di tahap bisa mengobrol secara normal begini ya..."

"Hmm? Yah, benar juga."

"Kalau begitu, boleh dong kita anggap kalau aku dan Sawaraguchi-kun ini berteman?"

"Silakan saja sih. Tapi kalau kamu dianggap berteman dengan orang sepertiku, nilaimu malah bisa turun lho. Hati-hati agar tidak sampai begitu..."

"Tidak akan. Nilaiku tidak akan turun. Kenapa kamu ngomong begitu?"

Menatapku dengan mata serius, Haruka membuatku kehabisan kata-kata.

Bukannya apa-apa sih. Haruka adalah heroin dari karakter bernama, sedangkan aku hanyalah karakter mob yang seharusnya tidak punya nama. Perbedaan kasta kami terlalu jauh.

Haruka benar-benar anak yang serius ya. Dia memperlakukan mob sepertiku sebagai manusia yang setara. Aku sangat berterima kasih, tapi kau tidak boleh membuang-buang waktu dengan orang sepertiku. Kalau ingin mengincar happy ending, kau harus fokus melihat karakter protagonis saja.

"Bagaimanapun juga, mulailah dengan bisa mengobrol secara normal dengan Akasaka. Semangat."

"U, un, akan kucoba. Aku kan bisa mengobrol secara normal dengan Sawaraguchi-kun, jadi kalau sekadar itu..."

Untuk saat ini, beres. Selanjutnya tinggal bergantung pada usaha Haruka sendiri.

Aku cukup penasaran dengan reaksi Kouta Akasaka, tapi karena dia pada dasarnya diatur bersikap netral dan memperlakukan heroin mana pun secara adil, dia seharusnya tidak akan mengabaikan Haruka begitu saja.

Mari kita berikan dukungan agar mereka bisa menjadi teman yang baik. Kuharap tidak ada gangguan tidak perlu yang masuk...

Pelajaran jam ketiga hari ini adalah Pendidikan Jasmani.

Dengan pakaian olahraga di bagian atas dan celana pendek yang dirangkap training di bagian bawah, kami pergi ke lapangan.

Pelajaran olahraga pada dasarnya dilakukan secara terpisah antara pria dan wanita, tapi kali ini secara langka diadakan secara gabungan.

Aku ingat event seperti ini juga ada di game aslinya. Pasti ini adalah event untuk mendekatkan karakter protagonis dan para heroin.

Kami pergi ke lapangan yang cukup luas dan berlari mengelilingi lintasan atletik yang dibuat di salah satu bagiannya. Satu putaran sekitar 400 meter.

Siswa pria dan wanita dari dua kelas mengikuti pelajaran bersama, dan sekitar 80 orang berlari di lintasan yang sama. Karena cukup padat, acaranya terasa agak kacau.

Anak-anak yang berlari cepat terus berputar mendahului lintasan. Sementara anak-anak yang lambat atau tidak bersemangat sebagian besar berjalan di tengah jalan.

Golongan yang paling banyak adalah mereka yang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat, berlari dengan sungguh-sungguh pada kecepatan sedang. Aku adalah salah satunya.

Agar tidak terlalu lelah, aku berlari sambil mempertahankanペース (pace) ku sendiri. Aku benci banget lari maraton, tapi berlari seperti ini rasanya sudah tidak kulakukan sejak masa SMA, jadi terasa cukup menyegarkan.

Ada juga siswi perempuan berkaos olahraga dan celana pendek, yang membuat semangatku sedikit naik.

Bagi orang yang sudah dewasa dan masuk dunia kerja, kesempatan berolahraga bersama wanita muda hampir tidak pernah ada.

Melihat siswi SMA berlari di depan mata dengan pakaian tipis saja sudah membuatku senang. Untung sekali aku bisa bereinkarnasi menjadi anak SMA.

Beberapa menit setelah dimulai, aku menyadari Kouta Akasaka sedang berlari beberapa meter di depanku. Pantas saja karakter protagonis, dia berlari dengan sungguh-sungguh.

"Fiuh, pelajaran olahraga sungguh melelahkan ya. Ampun deh..."

Dia menggumamkan dialog yang mirip seperti protagonis. Ribet banget ngomong ampun deh terus, berisik tahu.

...Ini kesempatan bagus, coba kucoba arahkan Haruka untuk mendekati Akasaka. Kalau mereka berlari berdampingan, mereka pasti bisa mengobrol secara natural.

Um, di mana Haruka...

"Yuhuu, Akasaka-kun!"

"—!?"

Seorang siswi yang mengibaskan rambut panjangnya melewatiku begitu saja di sisi kananku menyapa Akasaka.

Itu adalah Amane Tenjin. Pantas saja heroin utama, dia menyapa sang protagonis dengan begitu natural.

Omong-omong, saat dia melewatiku tepat di samping, tercium aroma yang sangat harum. Aku sempat meliriknya sekilas, dan melihat bagian dada yang terlalu menonjol bergetar naik-turun. Itu benar-benar luar biasa. Tidak heran jika Haruka merasa terancam. Ancaman karena ukuran dada... ah, berisik banget aku ini.

Namun, apakah kita keduluan oleh Tenjin? Mengirim Haruka ke tempat kedua orang itu berlari berdampingan sepertinya sudah tidak ada gunanya.

Tapi, bukan berarti mereka akan terus berlari berdampingan. Masih ada peluang jika kita mengincar saat mereka terpisah...

"...Haa. Dia ngobrol lagi sama Tenjin-san. Akrab banget ya..."

"—!?"

Tanpa kusadari, seorang siswi datang ke sebelah kananku dan menggumamkan sesuatu.

Kukira itu Haruka, tapi ternyata bukan. Gadis itu adalah heroin yang lain.

Akira Akiyoshi. Dia juga adalah salah satu sub-heroine di game tersebut, serta merupakan karakter bernama.

Dibandingkan gadis pada umumnya, dia cukup tinggi, cocok dengan rambut pendeknya, dan merupakan gadis pecinta olahraga yang ceria serta aktif. Secara keseluruhan, dia memiliki bentuk tubuh yang langsing dan kencang, namun bagian yang harus menonjol tetap menonjol dengan proporsional.

Terkejut oleh kemunculan karakter heroin yang tiba-tiba mendekat, aku tanpa sadar menatap wajahnya lekat-lekat.

Melihat itu, Akiyoshi terperanjat, lalu menunjukkan senyum canggung karena merasa canggung.

"M-Maaf, kedengaran ya? Atau jangan-jangan aku tadi ngomong keras-keras? Ahahaha..."

"Hahaha..."

Gawat. Ini gawat...




Aku tadinya berniat untuk menghindari kontak dengan karakter bernama sebisa mungkin. Tidak disangka malah mereka sendiri yang mendekatiku.

...Ya, sudahlah, kami kan teman sekelas, wajar saja kalau suatu saat tidak sengaja mengobrol. Kalau hanya sekadar bertukar sapa ringan, seharusnya tidak masalah.

"Um, soal kejadian tadi, kalau bisa tolong jangan bilang ke siapa-siapa ya... Boleh kan?"

"Ah, tenang saja, aku tidak dengar apa-apa kok."

"Fufu, terima kasih. Eh, kalau tidak salah kamu anak dari kelas yang sama, Sawaraguchi-kun ya? Aku Akira Akiyoshi. Salam kenal, ya."

"A, ah. Salam kenal."

Tidak kusangka dia tahu namaku. Bukankah dia terlalu baik pada seorang mob?

Akiyoshi berlari menyamakan kecepatannya denganku, sambil menatap ke arah Akasaka dan Amane yang berlari berdampingan beberapa meter di depan, lalu bergumam.

"Akasaka-kun itu ya... orangnya sedikit berbeda, dan... baik banget."

"...Begitukah."

"Karena aku ini tomboi, anak-anak cowok maupun cewek, terutama anak cowok, selalu memperlakukanku seperti anak laki-laki. Ya, aku sih sudah terbiasa jadi tidak masalah."

"..."

"Beberapa waktu lalu, aku sempat harus membawa barang berat sendirian. Terus, Akasaka-kun datang membantu. Dia bilang, 'Akiyoshi kan perempuan. Jangan memaksakan diri.' Rasanya sudah lama sekali aku tidak diperlakukan sebagai perempuan, jadi hatiku langsung berdebar-debar—"

...Aku tahu kok. Itu adalah event pertemuan antara salah satu heroin, Akira Akiyoshi, dengan sang protagonis.

Di game aslinya, protagonis pada dasarnya akan bertemu dengan semua heroin dan menjadi kenalan. Dan di hampir semua kasus, para heroin langsung menaruh perasaan suka pada pertemuan pertama. Hanya sekadar bertemu saja sudah disukai, hal itu tergolong sangat longgar, atau bisa dibilang sangat mudah untuk ukuran game simulasi percintaan.

Di dunia yang sangat mirip dengan game ini pun, Akira Akiyoshi sepertinya sudah menuntaskan event pertemuan dengan Kouta Akasaka.

Makanya dia menaruh perasaan suka pada Akasaka. Dari segi syarat, kondisinya sama persis dengan Haruka.

"Tenjin-san itu selalu ngobrol terus ya sama Akasaka-kun. Hubungan mereka berdua sebenarnya seperti apa, ya? Jangan-jangan mereka sudah... pacaran?"

Akiyoshi bertanya dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi cemas, membuatku kebingungan.

Yah, kenapa malah menanyakannya padaku? Apakah karena perasaannya ketahuan? Tapi meskipun begitu, apakah boleh mengatakannya pada orang yang bahkan belum pernah diajak bicara sekalipun?

Aku sangat kerepotan, tapi tidak mungkin juga mengabaikannya begitu saja. Karena, dia—Akira Akiyoshi—juga memiliki bad ending yang sudah disiapkan untuknya.

Di rute bad ending Akiyoshi, sang protagonis Kouta Akasaka menjadi cukup akrab dengan Akira Akiyoshi.

Namun di sisi lain, dia juga menjadi akrab dengan Amane Tenjin, dan orang yang menjadi target romantisnya adalah Amane, sementara Akiyoshi hanya dianggap sebagai teman biasa.

Akiyoshi yang menyadari bahwa dirinya tidak dianggap sebagai target romantis merasa sangat terluka dan jatuh ke dalam kepedihan yang mendalam.

Akiyoshi yang kehilangan kendali memanggil Akasaka ke atap sekolah, lalu mendesaknya sambil menyatakan perasaannya. Namun, Akasaka menolaknya dengan alasan bahwa dia sudah menyukai orang lain.

Akiyoshi yang putus asa langsung menerjang Akasaka, memeluknya erat, dan melompat terjun dari atap. Keduanya tewas dan game berakhir dengan bad ending.

Sungguh, orang-orang yang memikirkan bad ending di game itu benar-benar tidak beres ya... Padahal game simulasi percintaan sama sekali tidak butuh unsur ketegangan atau horor.

Jika Akiyoshi juga berniat menuju ke rute bad ending seperti Haruka, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu.

Aku tidak ingin melihat akhir yang begitu tragis, jadi aku harus mencegahnya.

"Kedua orang itu sepertinya memang akrab, tapi sepertinya mereka belum pacaran kok."

"Eh, b-benarkah? Fu, fuuun."

"Kurasa Akiyoshi-san masih punya kesempatan kok."

"B-Begitukah? Kalau begitu sih bagus..."

Mendengar perkataanku, Akiyoshi tampak kembali bersemangat.

Wajahnya berubah cerah dengan senyum lebar, dan dia tertawa malu-malu.

...Wajah yang bagus. Pantas saja dia adalah gadis pecinta olahraga yang ceria dan aktif. Dia pada dasarnya memiliki kepribadian yang optimis dan ceria, jadi selama kita menjaganya agar tidak berpikir yang aneh-aneh, dia seharusnya akan baik-baik saja.

"Untung deh aku cerita ke Sawaraguchi-kun. Ngomong-ngomong, boleh nggak kalau kapan-kapan aku konsultasi lagi?"

"...Yah, kalau sekadar mendengarkan cerita sih tidak masalah."

"Terima kasih! Duh, aku kan nggak punya teman buat ngobrolin hal kayak gini. Rasanya kayak bukan aku banget, malu rasanya... Bener-bener terbantu banget!"

Akiyoshi tersenyum manis lalu menepuk-nepuk punggungku dengan kencang.

Bukankah ini terlalu ramah secara tiba-tiba? Apakah ini yang dinamakan jarak sosial gaya anak olahraga?

Aku jadi bingung saat ditatap dari jarak dekat dengan senyuman secerah itu. Kalau aku mengalaminya saat masih menjadi anak SMA sungguhan, aku pasti sudah jatuh cinta.

Untungnya, diriku yang sekarang memiliki pengalaman hidup beberapa tahun sebagai anggota masyarakat, dan secara mental aku sudah cukup dewasa. Aku tidak akan langsung jatuh cinta hanya karena ditatap oleh seorang siswi SMA yang cantik.

Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa visualnya yang terlalu indah terasa menyilaukan bagi diriku yang seorang introvert ini. Ditambah lagi bentuk tubuh Akiyoshi yang lumayan proporsional, badannya langsing tapi bagian yang harus menonjol benar-benar menonjol, sampai-sampai membuat mataku tanpa sadar terpaku ke sana.

Bagian dada dari kaos olahraga polosnya tampak menonjol dengan jelas, dan gundukan bulat itu bergetar naik-turun mengikuti irama langkah larinya.

Lengan kecilnya yang panjang memiliki otot yang terlatih dengan pas, dan kita bisa melihat gerakan maju-mundur kecil pada lengannya yang selaras dengan naik-turunnya bagian dada tersebut.

Posisi pinggangnya tinggi, kaki jenjang yang terekspos dari celana pendeknya membentuk garis kaki yang luar biasa indah, memancarkan pesona sehat saat melompat bergantian kiri dan kanan. Paha mulus tanpa noda itu memiliki garis otot namun tetap tampak plump (berisi), benar-benar sangat merangsang.

...Pemandangan yang luar biasa. Kuharap game aslinya punya fitur untuk save dan menyimpan adegan event, tapi sayangnya tidak bisa save di sini ya.

Kalau saja aku punya smartphone, aku ingin merekamnya dalam bentuk video, tapi sayangnya ada aturan ketat kalau membawa ponsel dilarang keras selama jam pelajaran olahraga berlangsung. Sungguh disayangkan...

"—Sedang apa kamu, Sawaraguchi-kun?"

"—!?"

Tiba-tiba aku disapa, membuatku terperanjat kaget.

Kulihat-lihat, entah sejak kapan seorang siswi sudah berjalan menyusuruiku di sebelah kiri.

Berambut sebahu, tinggi badan standar, dan memiliki proporsi tubuh yang seimbang.

Atasannya kaos olahraga lengan pendek dan bawahannya celana training, dia adalah Momomichi Haruka.

Haruka berlari berdampingan tepat di sebelah kananku, lalu melirik tajam ke arahku dengan sudut matanya.

"Sawaraguchi-kun ternyata kenal dengan Akiyoshi-san ya? Kalian kelihatan akrab banget..."

"T, tidak, bukan begitu..."

Aku meringis kesakitan saat disikut oleh Haruka di bagian pinggang.

Astaga, ini beneran sakit lho. Bukankah itu terlalu kuat untuk sekadar teguran? Siku Haruka benar-benar menancap di lengan kiriku.

Saat aku memasang wajah kesakitan dan menatapnya dengan tatapan protes, Haruka memasang ekspresi setengah tersenyum dengan tatapan mata yang dingin—benar-benar ekspresi berbau yandere.

"Maaf ya, sakit ya? Rasanya aku dikhianati oleh Sawaraguchi-kun, jadi tadi refleks..."

"H, hei, tunggu dulu. Aku sama sekali tidak mengkhianatimu..."

"Aku lihat semuanya lho. Wajahmu kelihatan senang banget waktu Tenjin-san lewat di sebelahmu sambil hidungnya kembang-kempis kan? Kamu lagi nyium aromanya ya? Terus, kamu juga natap lekat-lekat dada besar perempuan itu yang lagi guncang-guncang kan?"

"Eh? I, itu..."

"Waktu Akiyoshi-san sejajar di sebelahmu juga, kalian ngobrol akrab banget. Kamu kelihatan senang banget merhatiin wajah Akiyoshi-san, dadanya yang goyang-goyang, sama paha mulusnya..."

"T, tidak, aku rasa tidak seperti itu...?"

Menjatuhkan bayangan suram di wajahnya dan bergumam dengan suara rendah, Haruka membuatku mengeluarkan keringat dingin. Entah kenapa gaya berbicaranya yang menggunakan bahasa formal terasa sangat menyeramkan.

Dia memperhatikan dengan jeli ya. Maksudku, apakah dia mengawasi gerak-gerikku terus dari tadi? Serem banget.

Namun, bukankah aneh kalau Haruka sampai mencela tindakanku?

Apa pun yang kulakukan, itu bukan urusan Haruka, kan? Apakah dia tidak bisa mengabaikannya karena menganggapku sebagai teman kenalan? Meskipun begitu, kurasa aku tidak melakukan hal yang pantas untuk dicela.

Merasa kasihan melihatku yang dipelototi oleh Haruka, Akiyoshi mencoba memberikan pembelaan.

"Um, kalau tidak salah Momomichi-san ya? Jangan terlalu menyudahi Sawaraguchi-kun dong. Kan aku cuma curhat sepihak aja ke dia..."

"...Begitukah."

"Iya, betul. Jadi Sawaraguchi-kun tidak salah kok. Kalau ada hal yang tidak berkenan, bilang saja padaku."

"..."

Haruka menatap Akiyoshi lekat-lekat, memperhatikan seluruh tubuh Akiyoshi dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik, lalu memasang ekspresi cemberut.

Dia mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu bergumam dengan nada tidak suka.

"Akiyoshi-san kelihatannya sehat banget, dan tumbuh dengan subur ya... kan, Sawaraguchi-kun?"

"Eh? Y, yah, begitu lah..."

Apa sih yang coba diucapkan anak ini. Akiyoshi tampak sedikit malu lalu menarik-narik ujung bawah kaos olahraganya ke bawah. Bagian dada di sekitarnya menjadi semakin ketat, menonjolkan bentuk gundukan besar yang proporsional... Wah, volumenya luar biasa. Ukurannya sepertinya sekitar cup F...

"—Kamu lagi liat ke mana, mesum. Hal kayak gitu tuh nggak bagus lho..."

"—!?"

Haruka merapatkan tubuhnya ke arahku, lalu berbisik di dekat telingaku.

Disentuh erat-erat dari samping oleh seorang siswi cantik berpenampilan manis berbalut pakaian olahraga membuatku tanpa sadar merasa berdebar.

...Tolong ampuni aku. Meskipun jiwaku adalah orang dewasa, pada dasarnya aku adalah seorang introvert yang tidak punya kekebalan terhadap lawan jenis, tahu.

Apa yang akan terjadi jika heroin cantik dari game simulasi percintaan yang penuh gadis cantik mendekati orang sepertiku.

Aku bisa menahannya sampai batas tertentu, tapi kalau melampaui batas itu, situasinya akan gawat. Otakku bisa mendidih dan aku tidak bisa berpikir jernih lagi.

"T, tenanglah... Anak SMA kan masih anak-anak... Hanya karena dia sedikit manis, terus kenapa... Bukan apa-apa kok..."

"Ada apa, Sawaraguchi-kun? Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat lho?"

Haruka semakin merapatkan tubuhnya, lalu mendongak menatap wajahku dari sisi kiri bawah dengan tatapan memelas dari bawah (up-muri).

Ugh, hentikan. Karena dia adalah karakter bernama, visualnya terlalu mematikan.

Saat aku sedang kerepotan, Akiyoshi mengajakku bicara.

"Kalian berdua akrab ya? Ngomong-ngomong, di kelas kalian juga kadang ngobrol kan? Meskipun kelihatannya sengaja sembunyi-sembunyi biar nggak kelihatan mencolok sih."

"—!?"

Dia menyadarinya rupanya. Sedikit terkejut juga. Padahal aku sudah berusaha berhati-hati agar tidak ada yang memerhatikan saat mengobrol dengan Haruka.

...Gawat juga. Kalau sampai ada salah paham aneh di sini, situasinya bisa jadi rumit.

Akiyoshi adalah salah satu heroin, dan dia menaruh perasaan suka pada Kouta Akasaka. Itu berarti dia adalah saingan bagi Haruka. Akan gawat kalau gadis seperti dia mengetahui hal-hal yang bisa menjadi kelemahan Haruka.

"Tidak, aku dan Momomichi-san tidak seakrab itu kok... Hei, Momomichi-san."

"..."

Bagi Haruka pun, disalahpahami secara aneh oleh teman sekelas pasti akan merepotkan. Begitu pikirku, jadi aku meminta persetujuan Haruka.

Namun entah kenapa Haruka malah memasang ekspresi tidak senang dan cemberut, menatapku dengan mata setengah tertutup.

...Eh? Kenapa begitu?

"Kenapa kamu ngomong begitu... Kamu keberatan kalau dikira akrab sama aku? Begitu ya..."

"Eh, bukan, Momomichi-san? Aku sama sekali tidak bermaksud begitu..."

"Terus, apa maksudmu? Lagian, orang sepertiku..."

Melihat Haruka memasang wajah suram, aku langsung panik.

Gawat. Entah kenapa, sepertinya sikapku barusan kurang tepat.

Aku buru-buru mendekat ke arah Haruka dan berbisik pelan.

"H, hei, ada apa? Tolong pulihkan mood-nya dong."

"Meh."

"Bukannya begitu. Sebenarnya, Akiyoshi-san sepertinya juga punya perasaan suka ke Akasaka lho."

"Eh? B, benarkah?"

"Betul sekali. Itu artinya, dia adalah saingan Momomichi-san, kan? Kalau sampai ketahuan kalau kita akrab, bukankah itu bisa jadi masalah besar nantinya?"

"..."

Haruka merengutkan alisnya, berpikir sejenak, lalu membuka mulutnya.

"Bukankah itu hal yang berbeda? Hanya karena aku menaruh perasaan suka pada Akasaka-kun, bukan berarti aku tidak boleh akrab dengan Sawaraguchi-kun, kan?"

"T, tapi, bagaimana ya. Elemen yang berpotensi jadi masalah sebaiknya kita basmi sedari awal..."

"Masalah apa yang kamu maksud? Jangan ngomong aneh-aneh deh."

Ditegur dengan nada bicara yang sedikit tegas oleh Haruka, aku langsung kehabisan kata-kata untuk membalas.

Karena biasanya dia anak yang pendiam dan serius, ditegur dengan tegas seperti itu membuatku ciut. Pendapat Haruka terdengar jauh lebih masuk akal.

Atau tidak, kalau memikirkan perkembangan ke depannya, bukankah situasi ini tetap gawat... Tidak ada dampak positifnya kan kalau ketahuan akrab dengan orang sepertiku?

"Aku dan Sawaraguchi-kun itu teman. Jadi tolong maklumi ya."

"Ya, aku mengerti. Rasanya agak aneh melihat Sawaraguchi-kun panik separah itu, tapi kalian berdua memang berteman ya. Fufufu."

Mendengar deklarasi Haruka, Akiyoshi mengangguk sambil tersenyum.

Apakah boleh dibiarkan seperti ini? Kalau sainganku—maksudku, saingan Haruka, tahu soal kelemahan ini...

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku juga jadi teman Sawaraguchi-kun?"

"...Hah?"

Mendapatkan usulan aneh dari Akiyoshi, mataku langsung terbelalak.

Bukannya kenapa, kok bisa jadi begini? Apakah boleh bagi karakter mob sepertiku menjalin hubungan pertemanan dengan heroin dari karakter bernama? Kalau di game, itu bukannya bug ya?

Melihatku yang kebingungan, Akiyoshi mendekatiku dengan gerakan mulus dan bertanya sambil tersenyum.

"Kenapa, kamu keberatan kalau aku jadi temanmu? Kamu nggak mau akrab sama cowok-cewek kayak aku? Wah, aku jadi sedih nih."

"B, bukan, bukan begitu... Tapi kalau orang sepertiku jadi teman, reputasi Akiyoshi-san bisa turun drastis..."

"Fufu, reputasi apa sih, apaan tuh. Aku nggak pernah mikirin hal kayak gitu, dan emang peduli? Mau temenan sama siapa pun kan itu urusanku sendiri, benar kan? Aku nggak suka diatur-atur sama orang lain."

Pendapat yang sangat mencerminkan anak gaul tipe anak olahraga ya... Senyumannya terlalu menyilaukan sampai aku tidak sanggup menatapnya...

Yah, di satu sisi aku merasa kalau berurusan dengan karakter bernama itu berbahaya, tapi di sisi lain ada perasaan senang karena bisa akrab dan mengobrol dengan gadis cantik yang ceria, perasaan itu bercampur aduk membuatku merasa rumit. Bisa dibilang ini double standard.

"Kalau kamu nggak keberatan, ayo temenan! Nggak boleh ya?"

"A, aa, yah... Nggak dilarang sih, nggak keberatan juga..."

"Fufu, kalau begitu kita resmi temenan ya! Oke-oke!"

Tersenyum sambil merapatkan tubuh dan membenturkan bahunya dengan ringan padaku, Akiyoshi sukses membuatku kebingungan.

Dia memperpendek jarak dengan sangat natural dan agresif. Aku agak kurang terbiasa dengan tipe anak olahraga.

Bagian dada yang terlalu menonjol itu terus berguncang-guncang. Maksudku, saat dia membenturkan bahunya tadi, bagian dadanya sempat beberapa kali mengenai lenganku lho.

Bukankah ini servis yang terlalu berlebihan, Akiyoshi-san? Apa aku harus membayarnya dulu? Paling tidak sekitar dua puluh ribu yen.

"—Hei, Sawaraguchi-kun? Tolong jangan terlalu kegegeran ya..."

"—!?"

Suara dengan nada yang sangat rendah—jauh berbeda dari suara biasanya—itu diucapkan oleh Momomichi Haruka.

Haruka menjatuhkan bayangan suram di wajahnya, membenturkan bahunya ke tubuhku, lalu menatap tajam ke arahku dari posisi serong bawah.

...Serem banget, sumpah. Aku ngelakuin kesalahan apa? Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Haruka menatapku dengan tatapan seolah ingin bilang "Mau kubunuh ya?".

Melihatku yang kebingungan, Haruka berbisik pelan.

"Kamu lebih senang bisa temenan sama Akiyoshi-san daripada sama aku? Begitu yaaa?"

"T, tidak, aku merasa tidak pernah bilang begitu... Kenapa kamu marah?"

"Aku tidak marah kok! Jangan melempar tuduhan sembarangan ya?"

"..."

...Dari sudut manapun dia jelas-jelas sedang marah. Apakah dia sebegitu kesalnya karena aku menjalin hubungan pertemanan dengan Akira Akiyoshi yang merupakan saingannya?

Aku tidak berniat mengkhianati Haruka, dan aku berniat memihaknya. Tapi di sisi lain, aku juga ingin mencegah Akira Akiyoshi agar tidak jatuh ke jurang bad ending.

Jika begitu keadaannya, secara otomatis aku harus mendukung kedua belah pihak secara bersamaan... tapi kalau tidak diseimbangkan dengan baik, situasinya bakal gawat.

"..."

Sekilas melihat ke depan, Amane Tenjin berbalik ke arah kami dan melirik ke arah kami sejenak.

Gawat, apakah kami terlalu berisik? Akan menjadi masalah besar kalau Tenjin atau Akasaka mulai merasa curiga. Aku harus lebih berhati-hati.

"Aku duluan ya!"

Akiyoshi berpamitan kepada kami, lalu berlari menjauh dengan kecepatan penuh.

Begitu berhasil menyusul Akasaka dan Tenjin, Akiyoshi langsung menyapa mereka dengan ceria.

"Yo, Akasaka-kun! Gimana kabarnya?"

"O, oh, Akiyoshi. Ya, lumayan lah..."

"Apaan sih, kurang semangat gitu! Ayo kita lebih semangat lagi!"

"Yah, aku mau jalan dengan caraku sendiri sih..."

"Begitu ya! Kalau gitu ya sudah deh!"

Melambaikan tangan dengan senyuman ke arah Akasaka, Akiyoshi berteriak "Duluan ya!" lalu berlari ngibrit menjauh.

...Hebat juga kau, Akira Akiyoshi. Langsung bergerak mendekati Akasaka ya... Semangat ceria dan keaktifan itu adalah kelebihan sekaligus senjata terbesarnya.

Mana mungkin ada cowok yang merasa terganggu saat disapa dengan ramah oleh siswi semanis itu. Tingkat kesukaan Akasaka terhadap Akiyoshi pasti meningkat drastis.

Kira-kira apa yang dipikirkan oleh Tenjin yang berada di sebelah Akasaka? Karena aku melihatnya dari belakang, aku tidak bisa melihat ekspresinya... tapi siapa tahu dia sebenarnya lagi kesal.

"Kita nggak boleh kalah dari Akiyoshi-san. Momomichi-san, bagaimana kalau kamu coba menyapa Akasaka juga?"

"Eh, sekarang? Rasanya tingkat kesulitannya tinggi banget... Ada Tenjin-san juga soalnya."

Memang benar sih. Mungkin hal itu mudah bagi Akiyoshi yang merupakan anak olahraga yang ceria, tapi akan terasa sulit bagi Haruka yang cenderung introvert.

Namun, apakah boleh membiarkan hal itu terus terjadi? Bukankah kita akan terus tertinggal di belakang heroin lain?

Padahal aslinya dia adalah karakter sederhana dengan kecenderungan introvert (meskipun aslinya gadis yang sangat cantik, tapi di game pengaturannya memang begitu). Bukankah dia seharusnya lebih gencar menunjukkan eksistensinya di depan sang protagonis Akasaka?

"Cukup sapa saja dengan ringan. Bagaimana kalau dicoba berjuang sedikit."

"B, baiklah, akan kucoba...!"

Saat aku mendorongnya dengan tegas, Haruka memasang ekspresi serius di wajahnya lalu mengangguk mantap.

Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul Akasaka yang berlari beberapa meter di depan, lalu menyapanya.

"U, um... Akasaka-kun..."

Namun, suaranya terlalu pelan sehingga sepertinya tidak terdengar oleh Akasaka.

Akasaka bahkan tidak menoleh ke belakang, dan justru semakin mempercepat laju larinya.

"Aku nggak boleh kalah cepat dari Akiyoshi, coba kucoba lari lebih cepat lagi deh...!"

Sepertinya dia terprovokasi oleh perkataan Akiyoshi dan mulai bersemangat.

Akasaka mempercepat larinya, dan Tenjin yang berada di sampingnya ikut mengikutinya.

Sementara Haruka, dia tidak mampu mengejar mereka berdua, lalu terengah-engah sambil sempoyongan.

"T, tunggu dulu... Kecepatan banget..."

Tanpa menyadari keberadaan Haruka, Akasaka dan Tenjin semakin berlari menjauh.

Aku menyusul Haruka yang hampir tumbang, lalu menyapa gadis itu yang sedang terengah-engah bermandikan keringat.

"Kerja bagus. Kamu sudah berjuang dengan baik."

"B, begitu ya, aku sudah berjuang ya... Kalau dinilai dari skala angka, kira-kira dapat berapa poin?"

"Mungkin sekitar 5 poin."

"Itu dari skala 10?"

"Bukannya, dari skala 100."

"Uuu... Terlalu kejam..."

Aku tidak punya pilihan selain menghibur Haruka yang memasang wajah hampir menangis.

Pada akhirnya, selama jam pelajaran olahraga berlangsung, kami tidak bisa mengejar rombongan Akasaka.

...Ampun deh. Apakah perbedaan kemampuan fisik bisa terlihat begitu jelas di saat-saat seperti ini?

Harusankah aku menyuruh Haruka latihan lari tambahan? Untuk persiapan kalau-kalau terjadi situasi darurat.

Rasanya ini bukan lagi game simulasi percintaan, melainkan game raising (membesarkan karakter).

Waktu istirahat siang di akademi ini berlangsung selama 45 menit, di antara jam pelajaran keempat dan kelima.

Sama seperti saat aku masih menjadi anak SMA dulu ya. Dulu aku merasa 45 menit itu sangat lama, tapi setelah masuk ke dunia kerja, waktu itu terasa begitu singkat. Paling tidak aku ingin waktu istirahat satu jam.

Jam istirahat siang tentu saja adalah waktu utama untuk mengisi perut.

Soal makan siang, siswa terbagi menjadi beberapa kelompok: ada yang membawa bekal sendiri, ada yang membeli roti di kantin kecil (kanteen sekolah), dan ada juga yang makan di kantin siswa (gakushoku).

Aku biasanya memilih opsi terakhir, yaitu makan di kantin sekolah yang ada di dalam area gedung.

Ngomong-ngomong, sepertinya kantin sekolah jarang sekali muncul di dalam game simulasi percintaan.

Apakah karena makan siang bersama heroin di atap gedung atau di halaman sekolah jauh lebih disukai oleh para pemain sebagai sebuah event?

Yah, karena aku hanyalah seorang karakter mob dan bukan protagonis, aku hanya akan makan siang di tempat yang kusukai dan dengan cara yang kusukai.

Keluar dari kelas, aku berjalan menuju kantin siswa yang terletak di dekat gedung gimnasium.

Kapasitas kantin sepertinya sekitar 200 orang. Mengingat jumlah siswa di akademi ini sekitar 1.000 orang, diperkirakan pengguna kantin mencakup sekitar seperlima dari total seluruh siswa.

Pertama-tama kita membeli kupon makanan di mesin penjual otomatis, lalu menyerahkannya ke konter untuk mengambil makanannya. Di konter ada beberapa loket terpisah berdasarkan jenis makanannya, dan para siswa berbaris di depan loket tersebut.

Loketnya terbagi menjadi menu set makanan harian, menu mi udon, menu kari, menu rice bowl (donburi), dan lain-lain.

Menu pilihanku hari ini adalah kari. Harganya murah dengan porsi yang lumayan, dan rasanya juga lumayan enak. Mungkin karena disesuaikan untuk semua kalangan, tingkat kepedasannya adalah manis. Isian dagingnya hampir tidak ada, tapi rasanya tidak buruk kok.

Ngomong-ngomong, kantin sekolah saat aku SMA dulu juga harganya sangat murah. Wajar saja kalau kualitas makanannya kalah dari restoran umum, ya kan?

Kantin ini memiliki luas yang setara dengan lima ruang kelas, dengan beberapa meja panjang berukuran besar yang berjajar rapi.

Saat jam istirahat siang, kantin hampir terisi penuh, dan kita akan kesulitan mencari kursi kosong. Meskipun kursi untuk satu orang biasanya masih ada yang kosong, tapi agak canggung kalau harus duduk di sebelah kelompok siswa asing atau sekumpulan siswi perempuan.

Aku menemukan kursi kosong di sudut meja, lalu duduk di sana. Untungnya kursi di sebelahku juga kosong.

Nah, saat aku berpikir untuk menyantap nasi kari super murah dengan rasa dan porsi yang lumayan ini—

"Eh, Sawaraguchi-kun. Boleh duduk di sebelah sini?"

"—!?"

Tiba-tiba disapa, aku terperanjat kaget.

Pemilik suara itu adalah Akira Akiyoshi, gadis pecinta olahraga berambut pendek.

Sambil melemparkan senyuman kepadaku, dia meletakkan nampan berisi makanannya di atas meja, menarik kursi, lalu duduk di sebelahku.

...Hei, hei, seriusan? Tidak kusangka aku akan berpapasan dengan karakter bernama di tempat seperti ini... Aku lengah karena mengira tidak ada event terkait kantin sekolah di game aslinya.

"Sawaraguchi-kun cuma pesan kari porsi biasa ya? Apa segitu aja udah cukup?"

"Y, yah, bagaimana ya... Kurasa cukup..."

"Akiyoshi-san sendiri pesan apa..."

Kulihat nampan Akiyoshi dipenuhi dengan tumpukan makanan yang padat.

Itu tampak seperti menu set paling mahal dan mewah di kantin, seperti menu Teishoku... tunggu, bukankah porsinya terlalu banyak untuk ukuran menu set biasa?

"Fufu, kalau aku pesannya ini! Spesial A-Teishoku!"

"Spesial Teishoku? Ada menu seperti itu ya?"

"Kamu belum tahu ya? Ini tuh menu khusus buat anak-anak yang ikut klub olahraga! Cukup tambah seratus yen dari harga kupon Teishoku biasa terus bilang 'pake menu spesial', nanti langsung disediain!"

"O, ooh, begitu ya."

Menu Teishoku biasa ada dua jenis, yaitu A dan B, dengan lauk yang berganti tiap hari. Teishoku A adalah menu Barat, sedangkan Teishoku B adalah menu Jepang. Standarnya terdiri dari piring lauk, mangkuk nasi, dan sup miso.

Teishoku A hari ini sepertinya adalah ayam goreng tepung (karaage), tapi menu spesial yang dipesan Akiyoshi jumlahnya jauh lebih banyak daripada porsi normal.

Ayam gorengnya ditumpuk menggunung di atas piring, yang biasanya cuma 4 buah kini sepertinya ada sekitar 10 buah. Salad pendampingnya juga menggunung.

Nasinya ditumpuk tinggi di mangkuk, kelihatannya setara dengan tiga porsi nasi biasa. Mangkuk sup misonya juga jauh lebih besar dari mangkuk standar.

Bisa dibilang ini porsi giga-size daripada porsi jumbo. Hanya dengan menambah seratus yen saja kita bisa makan sebanyak ini? Pelayanannya terlalu royal.

"Hebat banget. Tapi, kalau cuma khusus buat anak klub olahraga, orang biasa nggak bisa makan dong..."

"Ya, itu kan cuma sebutan resminya aja, aslinya anak yang nggak ikut klub juga tetep bisa pesen kok? Mereka nggak bakal ngecek satu-satu juga."

Begitu ya. Memang benar, merepotkan juga kalau harus mengecek satu persatu apakah orang yang memesan benar-benar anggota klub olahraga.

Dengan kata lain, siapa pun yang ingin makan banyak tinggal memesannya saja. Sistem yang bagus.

Kapan-kapan aku juga mau coba pesan deh. Tapi, rasanya porsinya terlalu banyak juga ya... apakah makanan sebanyak itu bisa dihabiskan?

"...Ngomong-ngomong, Akiyoshi-san ini ikut beberapa klub olahraga sekaligus ya?"

"Iya, aku ikut tiga klub sekaligus: basket, sofbol, dan judo... Kok kamu tahu banyak banget?"

"Y, yah, karena kamu kan cukup populer."

"Hmm?"

Akira Akiyoshi adalah gadis tipikal penanggung jawab bidang olahraga dalam game bergenre seperti ini.

Dibandingkan gadis pada umumnya, tinggi badannya di atas rata-rata, memiliki bentuk tubuh yang kencang, dan kemampuan fisiknya sangat tinggi.

Dia merangkap beberapa klub sekaligus, dan menunjukkan kemampuan tingkat atas apa pun bidang yang dicobanya, seorang gadis serba bisa di bidang olahraga.

Begitulah pengaturan karakternya di game aslinya. Sepertinya di dunia ini pun pengaturannya tetap sama.

"Sawaraguchi-kun sendiri nggak ikut klub olahraga?"

"Aku sih lebih cocok jadi anggota 'klub pulang ke rumah' (pulang cepat). Kalaupun ikut, mungkin klub sastra atau semacamnya."

"Begitu ya—"

Sambil mengobrol santai denganku, tangan Akiyoshi terus bergerak tanpa henti, melahap menu spesial Teishoku dengan lahap (hap, kunyah, telan).

Cara makannya benar-benar memuaskan untuk dilihat. Rasanya mirip seperti melihat talent mukbang melahap makanan dalam jumlah besar, sangat menyenangkan.

"Cara makanmu memuaskan banget ya. Kelihatan lebih jantan dan keren daripada kebanyakan cowok."

"Ngh...!? Maksudmu apa!?"

Saat aku menyampaikan kesan jujurku, Akiyoshi tersentak kaget dan menghentikan gerakannya.

Mengunyah potongan besar ayam goreng di mulutnya, menelannya dengan susah payah, menyendok nasi lalu meneguk air minum, dia langsung menatapku dengan tatapan tajam.

"Anu, emangnya aku ini kelihatan setomboi itu ya? Perasaanku aku bertindak biasa aja kok..."

"Biasa banget kelihatan tomboinya. Lebih tepatnya, 'jantan' ya? Kayak tipikal pria sejati gitu?"

Mendengar itu, Akiyoshi menjatuhkan bayangan suram di wajahnya, memasukkan potongan ayam goreng baru ke mulutnya, melahap nasi, menyeruput sup misonya, lalu berteriak.

"Aduh, ampun deh! Kenapa semua orang selalu bilang aku mirip cowok sih? Padahal kan aku ini perempuan!"

"—!?"

Akiyoshi tiba-tiba meledakkan rasa tidak puasnya, membuat mataku terbelalak kaget.

Ada apa ini, kenapa dia tiba-tiba begini? Apakah respons-ku salah?

Kalau dipikir-pikir lagi, Akira Akiyoshi di game aslinya... punya kompleks karena sering dianggap mirip cowok, ya.

Karena aku tidak berniat berurusan dengannya, aku sampai lupa pengaturan dasar karakternya. Ini kelalaianku.

Meskipun begitu, karena kami sudah terlanjur mengobrol, peluang untuk kembali berbicara di masa depan sebenarnya sangat besar. Aku harus lebih berhati-hati.

"M-Maaf, aku tidak bermaksud... Maksudku tadi itu sebagai pujian lho."

"Nggak apa-apa sih. Lagian aku kan karakternya mirip cowok yang pakai rok..."

"N-Nggak kok! Aku tahu kok kalau Akiyoshi-san itu perempuan! Eh, begini lho, di kalangan cowok-cowok kamu itu cukup populer tahu! Karena kamu ramah dan bisa diajak ngobrol sama siapa aja..."

"Hah, beneran tuh... Jangan-jangan mereka cuma nganggep aku gampang diajak ngobrol karena aku mirip cowok doang, kan?"

"B-Bukan, bukan begitu! Akiyoshi-san itu cewek yang manis secara normal, dan ada banyak cowok yang ngerasa tertarik sama kamu! Jangan salah paham ya!"

"..."

Saat aku membelanya dengan penuh semangat, Akiyoshi merengutkan alisnya dan menatapku dengan tatapan penuh kecurigaan.

Meskipun dia memang tomboi, Akiyoshi pada dasarnya adalah gadis yang cantik dan populer di kalangan siswa laki-laki. Mengesampingkan pengaturan game, dia seharusnya adalah sosok yang menarik.

Aku ingin dia mempercayainya... tapi bagaimana cara menjelaskannya ya. Susah juga.

"...Kalau Sawaraguchi-kun sendiri gimana?"

"Eh?"

"Kamu sendiri, apa nganggap aku cewek...?"

Ditatap dengan tatapan serius, aku jadi kebingungan.

Penilaian dari orang sepertiku kurasa tidak begitu penting... tapi bagi Akiyoshi, mendengar suara langsung jauh lebih berharga daripada gosip atau reputasi yang tidak pasti.

Kalau begitu keadaannya, aku harus menjawabnya dengan tegas. Itulah respons terbaik yang bisa diberikan.

"Aku tahu kok kalau Akiyoshi-san itu perempuan. Kamu anak olahraga, dan masuk kategori cukup manis. Mungkin sedikit tomboi, tapi tipe orang yang mudah diajak ngobrol dan ramah. Sebagian besar cowok di kelas pasti nganggep Akiyoshi-san itu 'cewek yang asyik'."

"B-Begitu ya? Aduh, kalau dipuji terang-terangan kayak gitu aku jadi malu... A, ahahaha..."

Akiyoshi merona sampai ke ujung telinganya, mengambil potongan ayam goreng lalu memasukkannya ke mulut dengan cepat sambil mengunyahnya.

Aku merasa pujianku sedikit berlebihan, tapi tidak apa-apa kan kalau segini? Kalau sampai dia stres lalu meluncur ke rute bad ending, itu akan jadi masalah besar.

"A, anu... Sawaraguchi-kun sendiri... ngerasa aku ini... 'asik' juga nggak?"

"Eh, aku? Aku sih... merasa..."

Mendapat pertanyaan tak terduga dari Akiyoshi, aku sedikit kebingungan.

Apakah boleh bagi mob sepertiku terlibat terlalu jauh dengan salah satu karakter heroin? Jangan-jangan gara-gara aku ngomong sembarangan, dia malah masuk ke rute bad ending...

...Ah, aku terlalu overthinking. Tidak mungkin kata-kataku berdampak besar pada rute individu Akiyoshi, selama aku tidak mengatakan hal yang kelewat aneh.

"Kurasa kamu memang cewek yang asyik kok. Cantik, manis juga. Kepribadianmu juga baik."

"Bbuhoh!?"

Akiyoshi yang sedang menyeruput sup miso mengeluarkan suara aneh, lalu terbatuk-batuk tersedak.

Ada apa nih? Sebaiknya makanlah dengan lebih tenang. Gagal bernapas karena tersedak makanan kan gawat.

Saat aku menepuk-nepuk punggungnya, Akiyoshi merona merah padam sambil berkata "Aman kok, aman".

Apakah dia benar-benar baik-baik saja? Matanya berair karena batuk-batuk, aku jadi khawatir.

"Nggak tersedak kan? Bisa bernapas dengan benar? Kalau parah, mau kupanggilkan ambulan?"

"Ukh, nggak apa-apa kok... Nggak usah segitunya juga..."

"Ya ampun, jelas harus khawatir dong! Hidup manusia itu bisa hilang atau celaka cuma karena hal sepele lho! Makanya hati-hati."

"I, iya... M, makasih ya..."

Untungnya, Akiyoshi sepertinya baik-baik saja. Syukurlah tidak terjadi hal yang mengancam nyawa.

Mengingat diriku sendiri pernah mati karena kelelahan di kehidupan sebelumnya... kita tidak akan pernah tahu di mana bahaya maut bersembunyi.

Sambil mengelus dada karena lega, Akiyoshi mulai mengajakku bicara lagi.

"Sawaraguchi-kun ini, gimana ya... jangan-jangan kamu tipe orang yang agak berbahaya ya... Sebaiknya kamu jangan gampang ngomong gitu ke cewek lho."

"Eh, kenapa emang? Aku barusan ngomong hal yang salah ya? Kasih tahu dong!"

"Hmm, gimana ya... Mungkin kamu baru bakal sadar sendiri nanti?"

"???"

Akiyoshi tidak mau memberitahuku secara jelas. Kenapa dia malah sedikit tersenyum?

Aku sempat takut kalau aku melakukan kesalahan fatal... tapi sepertinya tidak separah itu, kan?

"Wah, kari hari ini enak banget. Biasanya cuma ada isian seukuran partikel debu, tapi kali ini ada potongan daging mirip sapi ukuran 5 milimeter!"

"Fufu, bagus deh kalau gitu."

Meskipun sempat dibuat kebingungan oleh interaksi tak terduga dengan karakter bernama, sepertinya aku berhasil melewatinya dengan baik.

Bagaimanapun juga, makan siang bersama seorang siswi cantik bergenre heroin bukanlah pengalaman yang buruk.

Tidak ada masalah besar yang terjadi, semuanya beres...

"Mana mungkin semuanya beres..."

"—!?"

Selesai makan siang di kantin, aku berpisah dengan Akiyoshi dan berjalan kembali menuju ruang kelas.

Di tengah koridor, aku mendengar suara seseorang dan menghentikan langkah karena kaget.

Begitu aku berputar 180 derajat karena panik, seorang siswi sudah berdiri tepat di belakangku. Momomichi Haruka.

Haruka menunduk dengan bayangan suram di wajahnya, menunjukkan gelagat yang aneh.

"Kenapa."

"Eh?"

"Kenapa kamu makan siang bareng Akira-san dengan kelihatan senang banget? Tolong jelaskan padaku..."

"—!?"

Haruka mendongakkan wajahnya secara perlahan, menatapku dengan tatapan mata yang luar biasa tajam, membuatku menelan ludah.

Ekspresi macam apa itu. Ke mana perginya kesan fluffy yang biasanya? Dia masuk ke mode gelap lagi.

Atau lebih tepatnya, kenapa dia tahu kalau aku makan siang bareng Akira Akiyoshi? Jangan-jangan...

"Aku juga ada di kantin tadi. Di meja yang ada di sudut..."

Aduh, ternyata begitu. Penontonnya terlalu ramai jadi aku tidak menyadarinya.

Tapi kalau dia ada di kantin, kenapa tidak menyapaku saja sekalian.

"Kalian berdua duduk berdampingan dengan akrab, kelihatannya senang banget ya... Saking akrabnya sampai nggak ada celah buat orang lain masuk..."

"T, tidak, bukan begitu... Kami kan cuma mengobrol obrolan biasa sehari-hari aja?"

"Obrolan biasa ya... Bilang kalau dia cantik, manis, menganggapnya sebagai cewek yang asyik... Begitu yaaa?"

"—!?"

Sambil tetap memasang bayangan suram di wajahnya, Haruka tersenyum seringai, membuatku mengeluarkan keringat dingin.

Astaga, kenapa dia tahu sampai separah itu? Katanya dia duduk di meja sudut, kan? Eh, ngomong-ngomong... bukankah aku dan Akiyoshi juga duduk di meja sudut?

Jangan-jangan, Haruka duduk di meja yang sangat dekat? Begitu dekat sampai-sampai percakapan kami terdengar jelas.

Aku penasaran ekspresi seperti apa yang ditunjukkan Haruka saat mendengarkan percakapanku dengan Akiyoshi, tapi rasanya terlalu menakutkan untuk mencari tahu. Lebih baik jangan...

"...Menguping itu perbuatan yang nggak baik lho."

"Aku nggak berniat nguping kok, tapi kedengaran sendiri mau gimana lagi. Emang Sawaraguchi-kun tipe orang yang suka ngomong kayak gitu ke sembarang cewek ya?"

Didesak oleh Haruka dalam mode gelap, aku kehabisan kata-kata untuk menjawab.

Hmm, bagaimana sebaiknya aku menjawab... Menurutku sendiri, aku tidak merasa mengatakan hal yang kelewat buruk, tapi Haruka sepertinya merasa tidak senang.

Apakah ini masalahnya? Sebagai sesama saingan yang menaruh perasaan suka pada orang yang sama—Kouta Akasaka—dia tidak suka melihatku (yang seharusnya menjadi sekutunya) bersikap akrab dengan Akira Akiyoshi.

Mungkin dia mengira aku mengkhianatinya dan memihak Akiyoshi.

Aku sama sekali tidak berniat begitu... tapi bagaimana cara agar dia mau mengerti. Di game aslinya, event semacam ini sama sekali tidak ada...

"Yah, tunggu dulu. Aku ini di pihak Momomichi-san kok. Tenang saja, aku tidak berniat mengkhianatimu."

"..."

"Aku dan Akiyoshi-san tadi benar-benar cuma mengobrol biasa. Aku tidak berniat memihak padanya."

"..."

Haruka masih menatapku dengan tatapan penuh kecurigaan, tapi ekspresinya sedikit melunak.

Apakah dia mulai mempercayaiku? Katakanlah orang yang percaya akan diselamatkan, aku ingin dia tetap jujur.

"...Yah, untuk sekarang aku percaya. Tapi tolong jangan terlalu terlihat akrab dengan cewek lain ya..."

"O, ooh, aku mengerti. Aku kan berpihak pada Momomichi-san. Aku bakal jaga jarak sama cewek lain deh."

Merasa puas dengan deklarasiku, Haruka benar-benar menghilangkan bayangan suram dari wajahnya.

Baguslah kalau begitu. Kita harus menjaga agar Haruka tidak terjerumus ke mode gelap yandere. Kalau dibiarkan berlarut-larut, dia pasti akan langsung masuk ke rute bad ending.

Meskipun begitu...

"...Menghindari bad ending itu ternyata jauh lebih merepotkan daripada yang kubayangkan ya? Ada terlalu banyak adegan dan situasi yang tidak ada di dalam game, bikin serem..."

"Kamu lagi ngomong apa sih? Sawaraguchi-kun ini kadang suka ngomong hal-hal yang nggak jelas."

"..."

Melihat Haruka tersenyum kecut, aku jadi kebingungan.

Sebenarnya dunia macam apa ini. Meskipun pengaturannya sangat mirip dengan game itu, tempat ini sepertinya bukan game itu sendiri...

Seandainya aku membuat pengakuan di sini dan bilang kalau dunia ini adalah dunia game jadi tindakan kita harusnya sesuai dengan aturan game! ...Apakah Haruka dan heroin lainnya sebagai penduduk dunia ini akan mengerti?

Kemungkinan besar tidak. Lagian, rasanya itu hal yang berbahaya.

Seandainya tempat ini memang diciptakan berdasarkan aturan game, membongkar mekanisme dasarnya justru bisa menyebabkan dunia ini runtuh.

Atau mungkin, aku sendiri yang akan ditolak oleh dunia dan disingkirkan sebagai benda asing.

Mungkin aku terlalu banyak berpikir... tapi demi menjalani kehidupan yang damai, sebaiknya aku menahan diri untuk tidak mengeluarkan ucapan atau tindakan yang berisiko tinggi.

Beberapa puluh menit kemudian, saat jam istirahat.

Saat aku sedang melamun di bangku milikku, sesosok siswi meluncur masuk ke hadapanku.

Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan lalu menyapaku.

"Fufu, dari tadi kamu ngelamun terus. Sehat?"

"—!?"

Terperanjat kaget, aku mendongakkan wajah, dan melihat senyuman cerah berambut pendek di sana.

Akira Akiyoshi. Sambil membelalakkan matanya karena kaget, Akiyoshi mulai berbicara kepadaku.

"Pelajaran siang tuh emang bikin ngantuk ya. Tadi aku berjuang setengah mati biar nggak ketiduran lho."

"A, ah. Iya juga ya..."

Apa maksudmu, Akira Akiyoshi. Sebagai salah satu heroin dan karakter bernama, kau tidak boleh menyapa mob sepertiku secara terang-terangan.

Tidak masalah kalau di tempat sepi, tapi ini kan di dalam kelas? Bagaimana kalau anak-anak sekelas mulai merasa curiga.

Untuk saat ini, sebaiknya aku memperingatkannya.

"U, um, Akiyoshi-san. Tindakan kayak gini sebaiknya dihindari..."

"Eh? Maksudnya tindakan kayak gimana?"

"Maksudku... Aneh kan kalau kamu ngobrol sama orang sepertiku di dalam kelas. Gimana kalau nanti dikira kita pacaran atau semacamnya?"

Mendengar itu, Akiyoshi merengutkan alisnya, menatapku lurus-lurus, lalu bergumam.

"Jangan ngomong hal-hal sedih begitu dong, ayo ngobrol biasa aja. Atau kamu beneran nggak suka ngobrol sama aku?"

"B, bukan nggak suka sih..."

Masalahnya aku ini canggung dan malu kalau ngobrol sama cewek. Tolong mengertilah.

Saat aku sedang kesulitan mencari jawaban, Akiyoshi merendahkan suaranya lalu berbisik pelan.

"T, terus soal itu, aku mau konsultasi... Menurutmu, gimana caranya supaya aku bisa mendekati Akasaka-kun dengan baik?"

"—!?"

Oho, jadi itu tujuan utamanya ya.

Kalau soal itu, serahkan saja padaku. Aku kan bukan sekadar iseng menaklukkan berbagai game, dan aku juga tahu segalanya tentang game yang menjadi basis dunia ini.

Mulai dari rute penaklukan 'Akira Akiyoshi', syarat happy ending, hingga isi dari rute bad ending, aku menguasai semuanya tanpa terkecuali.

Meskipun aku merasa terlalu banyak berurusan itu berbahaya, memberikan saran agar dia tidak masuk ke rute bad ending seharusnya tidak menjadi masalah.

"Akiyoshi-san, pertama-teman kamu harus berteman dulu dengan Akasaka... lalu bangun hubungan di mana kamu bisa langsung melontarkan tsukkomi saat dia ngelucu."

"Eeh!? Berteman sih nggak masalah, tapi membangun hubungan boke dan tsukkomi itu susah tahu!"

Menerima saranku, Akiyoshi membelalakkan matanya lebar-lebar.

Wajar saja kalau dia terkejut, tapi ini adalah pintu gerbang menuju rute penaklukan yang benar untuk 'Akira Akiyoshi' di dalam game.

Meskipun begitu, itu bukanlah hal yang terlalu sulit. Bagian yang paling sulit seharusnya adalah 'menjadi teman'. Karena Akiyoshi adalah tipe karakter yang bisa dengan mudah menaklukkan tahap itu, dia sudah berada di posisi yang lebih unggul daripada heroin lainnya.

"Baiklah, ayo kita coba lakukan sekarang. Kamu kan sudah bisa ngobrol biasa sama Akasaka, kan? Tingkatkan frekuensi obrolan kalian dan naikkan tingkat keintimannya."

"U, un, kalau cuma ngobrol sih gampang... T, tapi kan, aneh rasanya kalau tiba-tiba ngajak ngobrol terus?"

"Tingkat keintimannya ditingkatkan sampai obrolan itu nggak kelihatan aneh lagi. Lagian, kamu kan ngobrol sama aku secara natural aja dari tadi. Padahal kita nggak begitu akrab lho."

Mendengar itu, Akiyoshi terperanjat, lalu tersenyum kecut sambil menatapku.

"Ahaha, kenapa ya? Sawaraguchi-kun ini ternyata orangnya gampang diajak ngobrol... Tanpa sadar aku malah ngajak kamu ngobrol biasa tanpa mikir macam-macam."

"..."

Itu karena aku adalah tipe orang yang tidak perlu dicemaskan. Lagian aku kan cuma mob.

Akiyoshi adalah heroin tipe ceria dan aktif dari klub olahraga. Sudah tentu dia adalah gadis cantik yang sangat manis. Ditambah lagi kepribadiannya yang ramah dan menyenangkan, membuat dia memperlakukan mob sepertiku dengan akrab.

Kalau aku di dunia nyata masih jadi anak SMA, aku pasti sudah jatuh cinta. Mana mungkin ada orang yang tidak jatuh cinta pada gadis seperti ini. Pantas saja dia didapuk sebagai heroin dalam game simulasi percintaan.

Untungnya, aku punya ingatan dari kehidupan sebelumnya, dan perasaanku jauh lebih dewasa daripada saat aku masih SMA. Berkat itu, aku bisa menahan diri agar tidak jatuh cinta meskipun didekati oleh heroin cantik. Meskipun sebenarnya hampir batas kemampuan sih.

"...Coba saja ajak Akasaka ngobrol dengan gaya seperti itu. Sebagian besar anak cowok SMA pasti bakal berdebar kalau didekati dengan senyuman cerah oleh Akiyoshi-san."

"Eh, b, beneran? Haha, jadi malu..."

Akiyoshi menggaruk kepalanya karena malu, lalu memiringkan kepalanya dengan heran.

"Hmm? Maksudnya, jangan-jangan Sawaraguchi-kun juga berdebar karena diajak ngobrol sama aku?"

"Mungkin saja... Aku kan juga cowok SMA biasa pada umumnya..."

"Hmm?"

Mendengar jawabanku, Akiyoshi tersenyum menyeringai dengan ekspresi seolah merasa geli.

Senyuman macam apa itu... Kita memang seumuran secara fisik, tapi aslinya aku jauh lebih tua darinya, tahu? Jangan meremehkan diriku atau kau bakal menyesal. Mau kulemparkan lelucon candaan dewasa yang tidak bakal terpikirkan oleh anak SMA?

Namun, dikelilingi oleh siswi berpenampilan sehat ala anak olahraga yang mengenakan seragam sekolah, lalu diajak ngobrol dengan senyuman manis... rasanya tidak buruk juga.

Jarak kami terlalu dekat, dan senyumannya terlalu menyilaukan. Ada aroma harum yang tercium, benar-benar sosok heroin yang sesungguhnya...

"—Ukh!?"

Sensasi aneh mendadak menyerangku, membuatku bergidik ngeri.

Ada apa ini barusan? Terdengar seperti rasa dingin yang menusuk, tapi apa sebenarnya...

Sambil mengedarkan pandangan ke seisi kelas yang cukup bising, aku menyadari ada seorang siswi yang duduk di bangku bagian depan dekat jendela sedang menatap ke arahku.

Itu adalah Momomichi Haruka. Tanpa berkedip, dia menatap lekat-lekat ke arah wajahku.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan dari Haruka, lalu Akiyoshi bertanya padaku.

"Ada apa?"

"T, tidak, bukan apa-apa..."

Kujawab seadanya untuk mengalihkan pembicaraan.

Tidak mungkin kukatakan yang sebenarnya, kan? Bahwa siswi pendiam dan tampak serius dari kelas yang sama sedang menatapku dengan tatapan seolah-olah aku adalah target pembunuhan berencana.

Kenapa pula Haruka tadi menatapku tajam? Jangan-jangan karena aku ngobrol dengan Akiyoshi? Apakah dia mengira aku "berkhianat" lagi?

Kalau memang begitu, aku harus memberikan pembelaan setelah ini. Ampun deh...

"...Hm?"

Aku merasa kembali merasakan tatapan dari seseorang, lalu mengalihkan pandanganku ke arah sumber tatapan tersebut.

Seorang siswi yang duduk di kursi dekat koridor agak jauh di sebelah kanan depan, kenapa sedang menatap ke arahku.

Terlebih lagi, dia adalah salah satu heroin dan karakter bernama. Saat pandangan kami bertemu, dia buru-buru memalingkan wajahnya.

Ada apa? Kenapa dia menatapku? Padahal aku merasa tidak melakukan hal yang mencolok...

Di titik itulah, aku menyadari sesuatu dan langsung tersadar.

Ah, begitu rupanya. Jadi itu alasannya... Fuh, misteri telah terpecahkan sepenuhnya...!

...Yah, alasannya sederhana dan masuk akal, dia pasti sedang menatap Kouta Akasaka.

Tidak ada yang aneh jika seorang karakter heroin melihat karakter protagonis. Itu adalah tindakan yang wajar.

Untuk melihat Akasaka yang duduk di kursi paling belakang dekat jendela dari kursinya, dia memang harus mengarahkan wajahnya ke arah serong kiri belakang.

Jika dia melakukan itu, kursiku secara otomatis akan masuk ke dalam sudut pandang penglihatannya. Meskipun dia mungkin tidak mempedulikan diriku yang merupakan mob tak terlihat, kebetulan ada Akiyoshi yang berbadan tinggi dan mencolok di sebelahku, jadi pandangannya mungkin tidak sengaja tertarik ke sana.

Meskipun mungkin karena faktor sesama karakter bernama, mungkin saja dia tahu kalau Akiyoshi menaruh perasaan suka pada Akasaka. Makanya dia menaruh perhatian pada Akiyoshi yang merupakan saingannya.

Karena penasaran dengan siapa saingannya mengobrol, dia memeriksa wajah lawan bicaranya, lalu tidak sengaja bertatapan mata denganku.

Sekali lagi, keberadaanku disadari oleh salah satu heroin... tapi kalau dia, sepertinya aman.

Karena dia adalah sosok yang unik di antara para heroin, atau lebih tepatnya, seseorang dengan tingkat kemampuan bersosialisasi yang sangat rendah.

Namanya adalah Saori Roppongimatsu. Kalau diucapkan secara positif dia adalah gadis yang tenang, tapi kalau di sisi negatifnya dia adalah gadis pendiam yang tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Bisa dibilang introvert, atau tipe misterius? Meskipun begitu, penampilannya terlihat cukup dewasa dan memancarkan aura adulte.

Mungkin karena alasan itu, dia sulit diajak ngobrol oleh siapa pun, baik pria maupun wanita, sehingga dia tidak punya teman. Itulah pengaturan dasar karakternya di game tersebut.

Omong-omong, aku juga tidak punya teman. Namanya juga mob. Urus urusanmu sendiri.

Eh, tunggu, apakah sekarang aku punya teman? Mengingat Haruka dan Akiyoshi sudah mendeklarasikan diri kalau kami berteman.

Aku tidak merasa keberatan, tapi hal itu justru sepertinya bakal memicu masalah baru... Apakah cara hidup seperti ini benar-benar akan baik-baik saja?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment