-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Bad End Fukahi no Make Heroine-tachi ga Mob Boukansha no Ore ni Renai Flag wo Tatetekuru Volume 1 Chapter 3

Chapter 3: Third Heroine (Heroin Ketiga) Akan Menghancurkan Dunia?


"Hei, hei, beri aku uang."

"……Jangan boros-boros."

"Aah, aku tahu kok. Makasiiih."

Aku menyerahkan uang kepada seorang siswi SMP (bisa disebut JC—Joshuusei) yang berperawakan kecil dan bermulut lancang.

Anak yang berpenampilan sedikit bergaya chara (ganjen/gaul) itu mengucapkan "Thanks" lalu pergi begitu saja.

Haa, ampun deh. Meskipun tidak digambarkan dalam game, mob sepertiku ternyata punya kehidupan sehari-hari sendiri, dan rasanya lumayan merepotkan.

Dunia ini mungkin memang berasal dari game, tapi bagi diriku yang sekarang, ini adalah dunia nyata.

Selain akademi yang menjadi panggung utama, aku juga punya kehidupan di luar sana, harus pergi dan pulang sekolah, makan, hingga tidur.

Yang mengejutkan, siaran televisi benar-benar ada dan internet juga sudah menyebar luas. Pada dasarnya, dunia ini menganut sejarah yang sama persis dengan dunia tempatku hidup di masa lalu.

Saat jam berangkat sekolah di pagi hari, di sudut kawasan perumahan.

Setelah berpisah dengan siswi SMP yang lancang itu dan bersiap menuju ke akademi, seseorang memanggilku.

"S-Sawaraguchi-kun? S-Selamat pagi..."

Pemilik suara itu ternyata adalah Momomichi Haruka.

Aku sama sekali tidak menyangka akan berpapasan dengan salah satu heroin di pagi buta begini, membuatku terkejut.

Jangan-jangan, Haruka memang diatur tinggal di dekat rumahku? Entah ini baru kuketahui atau memang pengaturan seperti itu tidak ada di game aslinya.

"Selamat pagi, Momomichi-san. Ada apa?"

Melihat ekspresi Haruka yang tampak menegang, aku memiringkan kepalaku heran.

Ada apa? Apakah ada hal yang mencurigakan dariku?

Padahal aku berniat untuk bersikap senatural mungkin. Kalau aku melakukan tindakan aneh, aku takut disingkirkan dari dunia ini.

Haruka lantas bertanya kepadaku dengan ekspresi sedikit bermasalah.

"U, um, itu... Barusan, apa kamu baru saja memberikan uang kepada anak SMP?"

"Oh, ketahuan ya. Yah, aku baru saja memperlihatkan pemandangan yang memalukan. Haha."

"K-Kenapa kamu kasih uang... J-Jangan-jangan, kamu sedang diperas (katsuge), ya?"

"……Hah?"

Mendengar pertanyaan yang aneh itu, aku memiringkan kepala.

Apa yang sedang dibicarakan oleh Haruka? Diperas? Maksudnya apa?

"K-Kalau kamu sedang menghadapi masalah, silakan cerita! Entah apakah aku bisa membantu atau tidak..."

"Bentar, tunggu dulu. Sebenarnya, apa yang kamu bicarakan..."

"Kalau kelemahanmu dipegang dan kamu sedang diancam, aku bisa coba bicara dengan anak itu! Tergantung situasinya, mungkin aku akan bernegosiasi dengan cara yang sedikit ekstrem..."

Haruka merogoh tas sekolahnya dan tampak hendak mengeluarkan benda mirip gunting kain ukuran besar.

Tunggu, cara ekstrem apa maksudmu? Apa kamu berniat menggunakan senjata berbahaya itu? Itu seram banget, tahu.

Karena sepertinya dia salah paham, aku memutuskan untuk menjelaskannya.

"Aa, bukan, bukan begitu. Bukan pemerasan atau ancaman..."

"Transaksi yang sah!? Hubungan seperti papa-katsu dengan siswi SMP begitu?"

Nggaklah, mana mungkin begitu. Diriku yang sekarang ini kan anak SMA, jadi mana mungkin ikut-ikutan papa-katsu.

Sambil menghela napas menghadapi Haruka yang tampak kebingungan dengan wajah serius, aku memberitahukannya dengan nada tenang.

"Bukannya begitu. Sebenarnya, anak itu adalah... adik perempuanku."

"……Eh? Adik perempuan?"

"Iya, benar. Aku yang mengatur masalah uang saku, jadi aku memberikan uang setelah mendengar jumlah yang dibutuhkan dariku."

Yah, begitulah keadaannya.

Di dunia ini, aku rupanya memiliki pengaturan sebagai seorang kakak yang tinggal berdua saja dengan adik perempuanku. Kedua orang tua kami tinggal di luar negeri karena urusan pekerjaan.

Dengan kata lain, siswi SMP yang genit barusan adalah adikku. Dia meminta uang saku yang merangkap biaya sekolah, jadi kuberikan padanya.

"B-Beneran adik perempuanmu? Jangan-jangan kamu cuma menyuruhnya berperan sebagai adik dan membayarnya..."

"Nggaklah, dia beneran adikku! Lagian, mana mungkin aku punya hobi sesat sampai harus bayar orang buat akting jadi adik?"

Haruka merona karena malu, lalu menggumam, "Katanya ada banyak cowok yang punya hobi seperti itu sih..."

Apakah dia memiliki pengetahuan yang terlalu menyimpang? Jangan-jangan dia sudah diracuni oleh internet yang salah.

Saat aku menjelaskan dengan sungguh-sungguh tentang keberadaan adikku, Haruka akhirnya tampak percaya.

"Ngomong-ngomong, kamu punya adik perempuan ya. Orang tuamu ada di luar negeri, dan kalian hidup berdua saja."

"Iya, betul. ...Kenapa kamu tahu detail banget?"

Karena merasa ada yang janggal, aku menanyakannya, namun Haruka tidak menjawab pertanyaanku dan justru tersenyum manis.

"Bagus deh. Aku sempat khawatir kalau Sawaraguchi-kun ditipu atau diancam... Tapi syukurlah, kalau pembunuhan sih gawat ya."

"Ah, iya, benar juga... Tunggu, melompati tahap diskusi atau negosiasi dan langsung mengambil tindakan kekerasan itu gimana ceritanya..."

"Eh, begitu ya? Kalau menghadapi orang yang memeras uang, bukankah diskusi itu buang-buang waktu? Lebih baik langsung dihabisi saja..."

"O, oke, pembicaraan ini sudahi saja! Karena dia adikku, jadi tidak ada masalah apa-apa! Momomichi-san juga sudah paham, kan?"

"Iya, yah. Kalau begitu sih tidak apa-apa..."

Memastikan Haruka memasukkan kembali benda mirip gunting kain yang hampir dia keluarkan ke dalam tas, aku mengembuskan napas lega.

...Anak ini baik-baik saja, kan? Bukankah dia terlalu gampang masuk ke mode yandere hanya karena pemicu sepele?

Jarak dari rumahku ke akademi sekitar 3 kilometer. Jarak yang terlalu jauh untuk berjalan kaki, tapi juga masih lumayan dekat.

Biasanya orang-orang menggunakan bus atau naik sepeda. Aku sendiri pada dasarnya memilih menggunakan sepeda.

Namun, di hari bercuaca buruk seperti hari ini, aku menggunakan bus. Aku berpisah dengan adikku di tengah jalan menuju halte bus, dan di sanalah aku tidak sengaja bertemu dengan Haruka.

Pukul 08.02 pagi. Kami menaiki bus yang menuju ke depan akademi.

Di hari cuaca buruk, jadwal keberangkatan dan kedatangan bus sering kali terlambat, atau jalurnya mengalami kemacetan, tapi jika naik bus ini, kami akan tiba tepat di batas waktu pelajaran dimulai.

Busnya cukup padat, membuatku dan Haruka tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus naik dengan berdiri.

Berpegangan pada tali gantungan (strap) di dalam bus yang penuh sesak, kami berdiri berdampingan dan terayun-ayun mengikuti gerakan bus.

"……Sawaraguchi-kun biasanya naik bus ke sekolah? Belum pernah lihat sebelumnya."

"Nggak, biasanya aku naik sepeda. Cuma kalau cuaca lagi jelek aja aku naik bus."

"Begitu ya."

Sambil bertukar obrolan ringan seperti itu, kami terayun bersama bus bersama Haruka.

Karena busnya sangat padat, jarak kami menjadi sangat dekat. Bahu ramping Haruka menempel erat padaku, membuat jantungku berdebar kencang.

Haruka juga tampak malu, memperlihatkan wajah yang sedikit bersemu merah.

Huu, berangkat sekolah bersama seorang siswi cantik saja sudah terasa seperti event game, tapi ditambah dengan posisi yang sangat menempel ini... Tindakan ini sungguh tidak pantas bagi seorang karakter mob.

Akan gawat kalau sampai terlihat oleh anak-anak sekelas atau karakter bernama dalam kondisi seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu.

"……"

Menerobos kerumunan penumpang di sekitarmu, aku mencoba menjauh sedikit dari Haruka.

Namun, itu tidak berhasil. Bus terayun cukup keras, membuatku tidak bisa bergerak dari tempatku.

Terlebih lagi, Haruka tiba-tiba terdorong ke arah dadaku, membuat kami berdua menempel sangat dekat dari arah depan.

"M-Maafkan aku. Busnya goyang banget tadi, jadi refleks..."

"O, ooh. Kalau padat begini sih ya mau gimana lagi..."

"A-Aku bakal langsung menjauh kok... Kyah!"

"—!?"

Bus kembali terayun, membuat kami nyaris terjatuh. Aku berusaha sekuat tenaga berpijak dengan kokoh dan menopang Haruka yang wajahnya sempat dibenamkan ke dadaku.

"M-Maaf ya. Aku nggak sengaja. B-Beneran minta maaf lho?"

"Nggak apa-apa kok. Biar nggak jatuh, pegangan saja padaku."

"U, un. Makasih ya..."

Menyembunyikan wajahnya di dadaku, Haruka berpegangan erat-erat.

Wangi lembut yang harum tercium samar dari rambut indahnya, membuat debaran di dadaku semakin kencang.

Meskipun tidak terlalu besar, gundukan dada yang lembut dan pas dalam genggaman itu menempel tepat di bagian perutku, mengirimkan sensasi kenyal yang luar biasa. Menempel erat dengan tubuh Haruka yang secara keseluruhan terasa lembut dan hangat, aku gemetar karena kombinasi antara rasa nyaman yang tak terlukiskan dan ketegangan yang melanda.

……Aduh, sial. Enak juga ya, damn.

Tapi, apakah boleh aku menempel sedekat ini dengan heroin secantik ini? Padahal aku cuma mob.

Jika ini adalah protagonis, mungkin ini akan dihitung sebagai event pemicu flag dengan salah satu heroin... tapi bagi karakter mob, tidak ada istilah flag-an atau semacamnya.

"M-Maaf ya. Pasti merepotkan banget kan kalau ketempelan cewek sepertiku. Maafkan aku..."

Mendengar Haruka bergumam dengan nada penuh penyesalan, aku memiringkan kepalanya.

Apa yang dia bicarakan. Seharusnya kalimat itu yang kuucapkannya, tahu.

Sudah kupikirkan sejak dulu, bukankah tingkat penilaian dirinya terhadap diri sendiri terlalu rendah? Padahal Haruka adalah sub-heroine teratas, heroin di balik bayangan yang berada tepat setelah heroin utama.

"Nggak merepotkan kok. Malah, aku merasa terhormat."

"Eh?"

"Kalau mob sepertiku bisa menjadi sandaran untuk Momomichi-san, itu adalah sebuah kehormatan. Silakan berpegangan erat tanpa perlu sungkan. Anggap saja aku ini benda mati atau alat."

"A, alat, mana mungkin... Apa sih yang kamu katakan?"

"Bagi diriku sendiri ini adalah sebuah keberuntungan. Kamu bahkan boleh memelukku lebih erat lho?"

"—!?"

Mendengar itu, Haruka mendongakkan wajahnya, menatapku dengan wajah yang sudah memerah padam.

……Hei, hentikan. Jangan menatapku dengan wajah selucu itu. Bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta padanya?

Saat aku mengalihkan pandangan, Haruka kembali menunduk dan membenamkan wajahnya di dadaku.

Haruka mencengkeram jaket bagian atasku dengan kedua tangannya, lalu merapat semakin erat.

"K-Kalau Sawaraguchi-kun nggak keberatan, aku mau nempel gini aja... B-Boleh kan?"

"Ya, tidak masalah. Tapi, bisa menempel dengan cewek begini rasanya benar-benar event yang menyenangkan ya."

"B-Begitukah? Rasanya malu banget..."

Aku sempat khawatir kalau dia akan merasa jijik atau berteriak ketakutan, tapi meskipun aku menyuarakan isi hatiku yang sebenarnya, Haruka tidak merasa ngeri sama sekali dan justru menunjukkan reaksi yang sangat manis.

Sambil tetap menundukkan wajah, dia mempererat cengkeramannya padaku dan semakin merapatkan tubuhnya. Merasakan proporsi tubuh Haruka yang seimbang di seluruh tubuhku, aku hampir saja merasa jiwaku melayang ke surga.

Betapa lembut dan hangatnya tubuh ini. Meskipun tidak bisa dibilang glamour, tubuhnya berkembang dengan pas, gundukan dadanya, perutnya yang lembut, serta pahanya yang plump (berisi) menekan dan bergesekan dengan lembut, mencoba menghancurkan akal sehatku.

Diriku yang masih anak SMA di kehidupan sebelumnya pasti sudah berada dalam bahaya besar. Aku pasti sudah terpesona oleh Haruka dan menjadi tawanannya.

Namun, diriku yang sekarang memiliki pengalaman hidup selama beberapa tahun sebagai anggota masyarakat, dan memiliki sudut pandang orang dewasa. Bahkan saat menempel erat dengan siswi SMA cantik berstatus heroin, aku tidak sampai kehilangan kesadaran sepenuhnya. Meskipun harus diakui, batasanku sudah sangat-sangat tipis.

Terayun-ayun di dalam bus yang padat selama sekitar 15 menit, kami akhirnya tiba di akademi.

Begitu turun dari bus, aku merasakan gelombang kebebasan yang luar biasa, merentangkan kedua tangan lalu meregangkan tubuh selebar-lebarnya.

"Hwaaaaa... Bebas itu memang menyenangkan ya..."

"K-Kerja bagus... Aku juga capek banget... Fiuhhh..."

Haruka memegangi dadanya sambil mengembuskan napas panjang, lalu merapikan rambutnya yang berantakan dengan kedua tangannya.

……Sebelumnya aku tidak terlalu menyadarinya, tapi Haruka ternyata punya... bagian tubuh yang cukup berkembang ya?

Selain karena dia menempel erat padaku dari arah depan, goyangan bus yang luar biasa tadi juga membuat situasi menjadi sangat pelik. Kalau busnya terlambat tiba lima menit lagi saja, akal sehatku mungkin sudah benar-benar lenyap.

Pantas saja dia adalah sub-heroine nomor satu dan heroin di balik bayangan. Seandainya game itu benar-benar dirilis, dia mungkin akan menjadi karakter terpopuler kedua, atau bahkan merebut posisi teratas mengalahkan heroin utama.

Sambil mengangguk-angguk puas dalam hati, Haruka tiba-tiba mengajakku bicara.

"Aku paling nggak suka naik bus atau kereta yang penuh sesak, rasanya selalu mau remuk terhimpit... Tapi hari ini aku terbantu banget berkat Sawaraguchi-kun. Terima kasih ya."

"Nggak, aku kan nggak ngapa-ngapain..."

"Kamu sudah menopangku dan melindungiku dari desakan orang-orang kan? Aku tahu kok."

"……"

Mendapatkan senyuman manis dari Haruka, aku tanpa sadar mengalihkan pandangan.

Berhenti, kumohon. Jangan menatapku dengan ekspresi seatraktif itu menggunakan wajah cantiknya yang sudah rapi. Aku jadi malu, tahu.

Yah, sudahlah. Kami kan sekadar kenalan, dan wajar saja kalau menolong seorang gadis yang hampir remuk di dalam kendaraan umum yang padat.

Tindakan itu justru berujung pada kontak fisik yang semakin intens, dan hasilnya aku malah merasa diuntungkan. Jadi aku merasa tidak perlu diberi ucapan terima kasih segala.

"……Aku cuma mikir kalau ini kesempatan emas buat nempel-nempel sama cewek imut kayak Momomichi-san kok. Orang sepertiku kan tipikal cowok rendahan."

"Eeeh!? K-Kamu seneng bisa nempel sama aku? F, fuuun..."

Haruka merona merah, lalu membuang muka dariku.

Dia melirik-lirik ke arah wajahku sambil tersenyum kecil penuh arti. Aku tidak begitu paham, tapi apakah dia tidak merasa terganggu? Kalau begitu sih baguslah.

"Daripada itu, bukankah lebih baik kita memikirkan strategi agar bisa akrab dengan Akasaka?"

"Eh? A—oh iya, benar juga... Kira-kira gimana caranya supaya aku bisa akrab dengan Akasaka-kun ya?"

Haruka sepertinya kembali mengingat tujuan utama kami, membuatku merasa lega.

Jika dia ingin menghindari rute bad ending dan mengincar happy ending, tingkat keintiman dengan Kouta Akasaka serta pembangunan flag adalah hal yang krusial.

Di dalam game aslinya, alur permainan utamanya adalah melatih karakter protagonis untuk menaikkan berbagai parameter, berdialog dengan para heroin, memilih opsi jawaban yang tepat dari pilihan yang tersedia, dan menaikkan tingkat kesukaan mereka.

Namun, karena posisiku bukanlah protagonis melainkan karakter mob, aku tidak bisa menaklukkan heroin secara langsung. Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?

Jika dunia ini mengikuti aturan game secara mentah-mentah, kita hanya perlu menuntun heroin tersebut agar mengarah ke rute happy ending. Sekalipun happy ending itu sulit dicapai, kita setidaknya harus mencegah agar dia tidak terjerumus ke rute bad ending.

"Menyapa di pagi hari kan sudah berhasil. Bagaimana kalau kita melangkah ke tahap berikutnya, yaitu mencoba mengajak Akasaka mengobrol di setiap jam istirahat?"

"U, um... Rasanya agak susah ya. Susah banget kalau nggak ada pemicu atau alasan buat ngajak ngobrol."

Aku tersenyum kecut melihat Haruka yang memasang wajah kebingungan.

Dia pada dasarnya adalah anak yang serius. Dia mungkin tidak pernah memikirkan cara mendekati lawan jenis seumur hidupnya.

Aku sendiri juga hampir tidak pernah memikirkannya, tapi kita tidak bisa tinggal diam. Aku harus membimbing Haruka agar dia tidak berakhir dengan ending yang tragis.

Untungnya kami tidak terlambat, dan bisa masuk ke kelas sebelum HR (Home Room) pagi dimulai.

Aku berpisah dengan Haruka di halte bus depan akademi dan menyuruhnya berjalan duluan. Aku berpikir bahwa berjalan bersama mob sepertiku hanya akan berdampak negatif bagi dirinya.

"Eh, tapi... Kita kan teman sekelas, dan kebetulan banget naik bus yang sama, jadi apa salahnya kalau kita datang bersamaan?"

Haruka sempat memprotes seperti itu, tapi setelah aku menegaskan dengan kuat bahwa "Itu tidak boleh", dia akhirnya menurut.

Begitu jauh lebih baik. Kita harus menyingkirkan elemen apa pun yang berpotensi menurunkan penilaian orang lain. Terlebih lagi, saingan yang mengincar Kouta Akasaka sang protagonis itu jumlahnya sangat banyak.

Bahkan jika dibatasi hanya pada siswa di kelas yang sama dengan Kouta Akasaka, selain Haruka masih ada tiga heroin lainnya.

Mulai dari heroin utama Amane Tenjin, Akira Akiyoshi, hingga Saori Roppongimatsu. Kita harus memastikan dia tidak tertinggal dari ketiga heroin tersebut.

Masuk ke kelas beberapa saat setelah Haruka dan duduk di bangku milikku, seorang siswi berambut pendek dengan senyum cerah menyapaku.

"Pagi! Hari ini datangnya lebih lambat dari biasanya ya!"

Tersenyum lebar sambil meletakkan tangannya di pundakku dan menyapaku dengan penuh semangat—dia adalah Akira Akiyoshi.

Seperti biasa, jaraknya terlalu dekat. Apakah setelan jarak sosialnya mengalami bug? Tolong jangan dekat-keluarkan wajah selucu itu di dekatku. Nanti jantungku bisa copot.

Mengabaikan reakiku yang kebingungan, Akiyoshi merapatkan tubuhnya dan menyapaku dengan senyuman.

"Lagian ya, kamu kan masuk tepat setelah Momomichi-san masuk kelas, kan? Jangan-jangan kalian datang barengan, ya?"

"……Kebetulan aja naik bus yang sama, kok."

"Ah, beneran. Kalau gitu kenapa nggak barengan aja masuk kelasnya? Kenapa harus pisah-pisah?"

"Kalau jalan bareng mob sepertiku nanti Momomichi-san malah repot. Kalau ada yang salah paham atau salah kaprah kan ribet..."

Mendengar itu, Akiyoshi merengutkan alisnya lalu mencondongkan wajahnya mendekatiku.

Hei, ini sudah keterlaluan dekatnya. Ujung hidung kami bahkan hampir bersentuhan.

Menghadapiku yang kebingungan, Akiyoshi bertanya dengan wajah serius.

"Kenapa bisa mikir gitu? Sawaraguchi-kun nggak benci kan sama Momomichi-san?"

"Mana mungkin benci. Kamu ngomong apa sih?"

"Kalau gitu, bukankah lebih baik bersikap lebih natural aja? Jangan terlalu dipikirkan berlebihan."

Begitu... ya?

Kalau dipikir-pikir, mungkin apa yang dia katakan memang benar.

Apakah ada hal buruk yang akan terjadi hanya karena orang sepertiku bertukar obrolan dengan seorang heroin... Bukankah tidak ada?

"Kalau terlalu kaku nanti malah dibenci lho? Menurutku lebih baik bersikap biasa saja—"

"B, begitu ya. Akan kuingat."

Aku memasang senyum canggung pada Akiyoshi yang tersenyum riang.

Sebenarnya apa sih yang terjadi. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Sebagai karakter mob, kupikir aku seharusnya tidak perlu berurusan dengan para heroin.

Namun entah kenapa, para heroin itu sendiri malah meminta saran padaku. Mengabaikan mereka juga tidak mungkin, benar-benar situasi yang merepotkan.

Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang damai di dunia ini, tapi kenapa jadi begini... Apakah ini karena pengaruh ingatan dari kehidupanku sebelumnya?

Saat jam istirahat, aku keluar kelas dan menyusuri koridor penghubung dari gedung umum menuju gedung khusus yang berisi ruang spesialis dan ruang dokumen, lalu menuju ke ruang istirahat di sudut lantai dua.

Di sebelah tangga terdapat ruang kosong kecil, dengan mesin penjual otomatis di sisi dinding dan bangku panjang di seberangnya.

Tempat ini adalah area istirahat yang cukup sepi. Gedung khusus jarang dikunjungi siswa kecuali ada keperluan tertentu, dan karena di lantai satu tepat di bawah tangga terdapat kantin kecil, mesin penjual otomatis, serta area istirahat yang lebih luas, sangat sedikit siswa yang menggunakan area istirahat sempit di lantai dua ini.

Aku menemukan tempat ini saat sedang menjelajahi area akademi. Karena panggung utama game ini berada di akademi ini, aku harus memahami fasilitas yang ada di sini dengan sempurna.

……Jujur saja, sebenarnya aku hanya mencari tempat sepi di mana aku bisa sendirian tanpa ada orang lain. Sebagai seseorang yang berjiwa loner (penyendiri), tempat seperti ini terasa paling menenangkan.

Membeli minuman di mesin penjual otomatis, aku duduk di bangku panjang untuk menarik napas sejenak. Kopi hitam kaleng adalah favoritku.

Ngomong-ngomong, aku memang sudah lama menyukai kopi, tapi aku mulai terbiasa minum kopi hitam sejak tahun pertama SMA di kehidupan sebelumnya.

Sambil mengenang masa lalu dan melamun santai—tiba-tiba, aku menyadari kehadiran seseorang di sudut pandangku.

Eh, ada orang? Siapa yang datang ke tempat sepi seperti ini... atau lebih tepatnya, sejak kapan dia ada di sana?

Itu adalah seorang siswi. Dia duduk bersandar di sudut bangku panjang sambil melamun kosong.

Begitu melihat sosok gadis tersebut, aku langsung menyadari siapa dia, membuatku mengeluarkan keringat dingin.

Namanya adalah Saori Roppongimatsu. Siswi dari kelas yang sama, salah satu heroin dan karakter bernama.

Memiliki rambut panjang bergelombang, bertubuh mungil namun dengan proporsi tubuh yang sangat berkembang. Kulitnya pucat dan tampak kurang sehat, namun di antara para heroin dia memancarkan aura adulte dengan tingkat daya tarik sensual yang tinggi.

Seorang heroin bertipe misterius sekaligus seksi, memiliki karakteristik ganda yang unik.

Berpapasan dengan sosok yang sama sekali tidak kuduga, aku menelan ludah.

Kenapa dia bisa ada di sini... T, tidak, ini kan fasilitas umum yang bisa digunakan siapa saja, jadi tidak aneh jika ada salah satu heroin di sini...

Apakah aku harus segera kabur? Kalau aku salah melangkah, urusannya bisa jadi rumit.

Pikirku sambil bersiap bangkit dari bangku, namun Roppongimatsu tiba-tiba bersuara.

"……Tempat ini tenang dan nyaman ya. Apa kamu tidak berpikiran begitu?"

"—!?"

Eh!? Kenapa tiba-tiba... Apakah dia sedang mengajakku bicara?

Tidak ada orang lain di sini, dan karena dia melontarkan pertanyaan, sudah pasti dia tidak sedang berbicara sendirian, kan? Dia tidak mungkin sedang mengobrol dengan makhluk tak kasat mata, bukan?

Namun, apa yang harus kulakukan. Aku paling ingin menghindari interaksi dengan karakter heroin... tapi mengabaikan sapaan dari teman sekelas sepertinya juga bukan hal yang terpuji.

Mau tidak mau, aku harus menjawabnya. Bertukar obrolan singkat saja seharusnya tidak masalah, kan?

"Ah, iya benar. Tempat ini memang tenang dan menenangkan."

"……"

Mendapatkan jawabanku, Roppongimatsu menoleh ke arahku, lalu memiringkan kepalanya dengan ekspresi penasaran.

"Kamu, siapa?"

Oーoh, reaksi macam apa itu? Rasanya seperti boneka manekin yang tiba-tiba hidup dan bisa bicara, membuatku terkejut...

"Aku kaget. Kukira tidak ada orang di sini..."

"B, begitu ya? Um... Tadi kamu ngobrol sama siapa ya?"

Sambil menunjuk ke arah samping mesin penjual otomatis, Roppongimatsu bergumam.

"Di sebelah sana. Di samping mesin penjual otomatis itu..."

"Eh, di sebelah mana? Perasaanku tidak ada apa-apa di sana..."

"Ada perempuan berambut panjang dengan seragam berdarah dan hancur berdiri di sana... Apa kamu tidak bisa melihatnya?"

"Eeeh!? I-Itu, jangan-jangan..."

Apakah itu hantu atau semacamnya? Apakah Roppongimatsu bisa melihat hal semacam itu?

Ngomong-ngomong, dia adalah heroin bertipe misterius yang sangat tertarik pada hal-hal berbau supranatural... Kalau tidak salah, dia memang anggota klub yang mendalami hal-hal semacam itu.




"……Hanya candaan. Tidak ada siapa-siapa di sana kok."

"A, apa, ternyata cuma candaan. Aku sempat ketakutan setengah mati mengira ada hantu berbahaya. Hahaha..."

"Sebenarnya, itu adalah guru perempuan yang berlumuran darah. Dia dikhianati oleh siswa yang dia percayai, lalu mengakhiri hidupnya sendiri setelah mengundurkan diri, dan berubah menjadi hantu gentayangan (jibakurei). Dia sepertinya gantung diri di sebelah mesin penjual otomatis itu."

"Hih……! B, bohong kan……"

Melihatku yang langsung pucat pasi karena ketakutan, Saori mendesis pelan tanpa ekspresi.

"Bohong kok. Tidak ada fakta seperti itu."

"Bohong rupanya!? Kenapa kasih candaan separah itu... Kan aku jadi percaya!"

"Kira-kira akan menyenangkan kalau ada kejadian seperti itu... Bukankah itu menarik?"

"Tidak menarik sama sekali! Yang ada malah seram!"

Saat aku menjawab begitu, Saori memasang wajah sedikit sedih lalu bergumam, "Begitu ya. Jadi tidak menarik ya..."

Yah, tentu saja lah. Kalau orang dengan aura unik seperti Saori tiba-tiba bicara soal hantu, orang pasti akan mengiranya sebagai kenyataan.

Kalau dipikir-pikir lagi, mati gantung diri tapi berlumuran darah itu kan aneh... Ah, sudahlah, bukan itu masalahnya. Mana ada unsur menarik dari cerita horor seperti itu. Aku benar-benar tidak paham.

"Kamu, anak dari kelas yang sama... Sawara-siapa gitu?"

"Sawaraguchi. Tidak perlu diingat pun tidak apa-apa sih."

"Aku Saori Roppongimatsu. Anggota Klub Penelitian Okultisme. Kalau berminat, kamu boleh bergabung..."

"Nggak, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu... Makasih."

"……Boleh kok kalau mau gabung."

Sambil berkata begitu, Saori melangkah mendekatiku, lalu menyerahkan selembar kertas.

Kertas yang dicetak di atas kertas fotokopi A4 itu adalah formulir pendaftaran klub.

Karena Saori tidak bergeming sambil terus menyodorkan formulir tersebut, mau tidak mau aku pun menerimanya.

Namun, gawat juga ya. Aku kembali berinteraksi dengan salah satu heroin.

Untungnya, Saori memiliki kepribadian yang cukup unik dan berbeda dari heroin lain, jadi dia bukan tipe karakter yang secara proaktif mendekati sang protagonis.

Mungkin, di antara sekian banyak heroin, dia diatur sebagai tipe heroin yang tidak biasa, memiliki atribut introvert dan disukai oleh kalangan tertentu.

Heroin misterius yang pendiam dan minim ekspresi adalah karakter klise yang wajib ada dalam game bergenre seperti ini, sekaligus karakter populer yang tidak boleh dilewatkan.

Jujur saja, dia juga tipe yang cukup kusukai secara pribadi. Karakter yang tidak peduli dengan percintaan dan tidak mau berurusan dengan orang lain, perlahan-lahan mulai terbuka... itu benar-benar menggemaskan, ya kan.

Namun, dia juga adalah salah satu heroin target penaklukan di game aslinya.

Itu berarti, dia pasti menaruh perasaan suka kepada sang protagonis, Kouta Akasaka.

"Um, itu... Roppongimatsu-san, sebenarnya apa pandanganmu terhadap Akasaka?"

"!? K, kenapa menanyakan hal itu..."

Saat aku bertanya untuk memastikannya, Saori merona merah, menunduk, lalu meremas-remas ujung roknya dengan kedua tangannya sambil salah tingkah.

Wah, mudah sekali ditebak... Padahal di game aslinya, pengaturan karakternya adalah 'tipe heroin yang minim perubahan ekspresi dan sulit dibaca emosinya'.

Yah, heroin yang muncul di game jenis ini memang sudah agak ter-template sih. Baik Haruka maupun Akiyoshi, keduanya menunjukkan reaksi yang sangat mudah ditebak terhadap protagonis, jadi aku hanya bisa memaklumi kalau memang karakternya seperti itu.

"Akasaka-kun... adalah orang yang tidak menganggap aneh hobi-hobiku, malah memahaminya... Makanya, dia itu spesial..."

Ah, begitu ya. Tentu saja, aku tahu. Aku tahu tentang bagaimana pertemuan Akasaka dan Saori, serta alasan kenapa dia mulai menaruh perasaan suka padanya.

Kalau tidak salah, mereka bertabrakan di tikungan koridor, Saori terjatuh lalu menjatuhkan boneka kutukan atau semacamnya. Sang protagonis memungutnya dan memaklumi hobi khususnya, sehingga dia mulai menaruh perasaan suka... itulah event pertemuan mereka.

Dan, tentu saja... Saori Roppongimatsu juga memiliki rute bad ending yang disiapkan untuknya.

Di rute Saori, Kouta Akasaka bergabung dengan Klub Penelitian Okultisme dan sibuk mengikuti kegiatan klub bersamanya.

Hubungan mereka berkembang dengan baik... namun pada suatu waktu, mereka menyadari keberadaan kelompok sekte sesat yang bergerak di balik bayangan akademi.

Kelompok sekte sesat menculik Amane Tenjin sebagai korban persembahan untuk memanggil dewa kegelapan. Protagonis dan Saori mencoba menghentikannya, namun karena protagonis lebih memilih menyelamatkan Amane daripada Saori, dewa kegelapan akhirnya merasuki tubuh Saori.

Berkat kekuatan dewa kegelapan, seluruh anggota kelompok sekte sesat tersedot energi kehidupannya dan tewas seketika, begitu pula seluruh siswa akademi yang terenggut jiwanya.

Kekuatan dewa kegelapan semakin membesar, menyebar ke seluruh negeri dan seluruh dunia, menyerap energi kehidupan dari seluruh umat manusia hingga akhirnya umat manusia pun punah.

Bumi yang dikuasai dewa kegelapan dan menjadi planet gelap bergerak menuju matahari, menelan matahari lalu meledak. Energi gelap menyebar ke seluruh alam semesta, dan dunia ini hancur musnah secara keseluruhan——.

Sebuah bad ending tanpa harapan di mana bad ending tingkat individu bahkan meluas hingga penghancuran alam semesta. Orang yang memikirkan ending ini sepertinya sangat menyukai Mitologi Cthulhu.

Tidak, game simulasi percintaan tidak butuh hal semacam itu. Cthulhu, horor kosmik, atau kehancuran semesta, tolong buat di genre yang berbeda saja.

Di kehidupan sebelumnya, aku ingat sempat memegang kepala saat mengecek rute ending Saori di tengah pekerjaan debugging.

……Orang yang memikirkan ending ini benar-benar tidak waras. Kegilaannya setara dengan menetapkan pelacur non-perawan sebagai heroin utama di game simulasi percintaan.

Kira-kira sejauh mana game itu direvisi sebelum dirilis, ya? Kuharap poin-poin revisi yang kutulis sudah diperbaiki... meskipun sekarang tidak ada cara untuk memastikannya lagi.

Terlepas dari itu semua, apakah Saori Roppongimatsu akan baik-baik saja? Kalau dia sampai masuk ke rute bad ending, alam semesta ini akan musnah lho.

Aku ingin percaya hal itu tidak akan terjadi... tapi kalau ceritanya berjalan sesuai skenario game, maka hal itu bisa dianggap sebagai 'kemungkinan nyata'.

"..."

Menyadari Saori sedang menatapku lekat-lekat, aku terperanjat.

Aku jadi terlalu asyik memikirkan pengaturan gamenya. Saori adalah tipe orang yang tidak biasa, kuharap dia tidak membaca pikiranku...

"A, ada apa?"

"Itu... kopi hitam?"

"Eh?"

Saori sepertinya tertarik pada kopi kaleng yang kupegang.

Oh, syukurlah cuma itu. Aku sempat panik mengira pikiranku terbaca.

"A, ah, iya benar. Kenapa memangnya?"

"Pahit begitu mana bisa diminum. Batasku cuma caffe au lait atau susu kopi."

"O, begitu ya. Ternyata kamu cukup suka manis ya."

Mengingat dia memancarkan aura adulte, aku mengira dia akan bilang hanya bisa minum kopi hitam, jadi ini cukup tak terduga.

"Kenapa minum sesuatu yang pahit begitu? Lagi latihan semacam itu?"

"N, nggak, bukan begitu... Kalau tidak pakai gula, aftertaste-nya lebih bersih dan enak."

"..."

Saori sedikit membelalakkan matanya, menunjukkan ekspresi terkejut. Terlihat sedikit imut.

"Ternyata dewasa juga ya. Nggak nyangka kita seumuran..."

"Nggak, nggak juga..."

"Jangan-jangan aslinya kamu adalah arwah orang berumur kepala tiga (30-an) yang merasuki tubuh ini."

"Apa...!? "

Sekarang giliranku yang terkejut. Bodoh, kenapa dia bisa tahu?

Jangan-jangan dia memang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang biasa? Kalau begitu, aku harus ekstra hati-hati.

"...Cuma bercanda kok."

"Eh? Ah, apa, ternyata cuma bercanda..."

"Kurang menarik, ya?"

"B, yah, kaget sih, tapi dibilang menarik ya nggak juga..."

Mendengar itu, Saori memasang wajah murung lalu bergumam, "Begitu ya. Jadi tidak menarik ya..."

Cukup mengejutkan, tapi jangan-jangan... dia sedang mencoba melontarkan lelucon untuk mencairkan suasana? Apakah Saori punya pengaturan karakter seperti itu?

Tempat ini memang dunia yang sangat mirip dengan game tersebut, tapi apakah semuanya harus sama persis seperti game? Atau maksudnya, dunia ini tidak akan bisa berjalan hanya dengan bagian-bagian yang digambarkan di dalam game saja?

Contohnya, diriku yang hanya seorang mob ternyata punya rumah sendiri dan keluarga. Meskipun tidak digambarkan di dalam game, hal semacam itu wajar dimiliki oleh manusia yang hidup di dunia nyata.

Oleh karena itu, tidak aneh jika karakter heroin memiliki elemen yang tidak pernah digambarkan di dalam game. Kurasa akan berbahaya kalau aku tidak memahami hal itu saat berinteraksi dengan mereka.

"Sawaraguchi-kun ternyata cukup dewasa ya. Kelihatannya kamu sudah tahu kalau aku menganggap Akasaka-kun itu spesial..."

"A, ah, itu... c, cuma merasa begitu saja sih... Hahaha..."

"Aku ini tidak begitu paham soal anak laki-laki. Sebenarnya aku ingin coba akrab dengan Akasaka-kun, tapi aku bingung harus berbuat apa..."

Eh? Jangan-jangan alur ini... Rasanya seperti deja vu...

"Kalau tidak keberatan, bolehkah aku meminta saranmu? Aku tidak punya orang lain untuk diajak bicara soal hal seperti ini..."

"T, tidak, itu... b, bagaimana ya..."

"......Katanya ada senior dari organisasi keagamaan mencurigakan yang bilang aku boleh minta saran kapan saja, tapi aku agak takut. Kira-kira aman nggak ya kalau minta saran ke orang itu?"

"Serahkan saja padaku! Aku akan dengarkan saran apa pun! Dan lagi, sebaiknya jangan berurusan dengan organisasi atau kelompok mencurigakan!"

Organisasi keagamaan itu, pastinya kelompok itu kan? Sudah pasti mereka adalah kelompok sekte sesat yang muncul di dalam game.

Semua elemen yang mengarah ke rute bad ending harus dibasmi. Gawat kalau sampai dunia ini dimusnahkan.

"Mohon bantuannya..."

"O, oke. Serahkan padaku."

Menanggapi Saori yang membungkuk hormat, aku menjawab sambil meringis.

...Aku benar-benar terjebak. Aku kembali terjerat dengan salah satu heroin...

Tapi ya, mau bagaimana lagi. Pertemuan kami kan kebetulan, dan kalau dibiarkan begitu saja, sepertinya sudah dipastikan dia akan menuju ke rute bad ending.

Mau tidak mau aku harus berusaha semampuku. Menjaga agar dunia ini tidak hancur sambil mengatur agar para heroin tidak meluncur ke rute bad ending...

Rasanya ini seperti dipaksa melakukan debugging di dunia nyata... Ini bukan mimpi yang sedang dialami oleh diriku yang kehilangan kesadaran di dunia asal kan?

Kalau dilihat dari ketajaman pemandangannya, tempat ini terlalu nyata untuk ukuran mimpi, jadi kurasa bukan... tapi entah itu mimpi atau kenyataan, hal yang harus kulakukan sepertinya tetap sama.

Bagaimanapun juga, aku harus mencegah mereka mencapai bad ending. Karena itu adalah akhir di mana tidak ada seorang pun yang bahagia.

Pelajaran berikutnya adalah Bahasa Jepang Klasik (Kogo), dan metodenya adalah belajar mandiri (jishu) karena guru pengampunya sedang sakit.

Kami harus mengumpulkan tugas, jadi semua orang sibuk mengerjakan lembar tugas (print), membuat suasana kelas menjadi sangat tenang.

Kelas ini sepertinya dipenuhi oleh siswa-siswi yang pada dasarnya rajin. Suasana tidak akan tenang begini kalau isinya anak-anak pemalas.

Saat aku sedang menatap lembar tugas sambil memeras otak karena kebingungan, seorang siswi menyapaku.

"Wah, aku sama sekali nggak ngerti nih! Hei-hei, bisa tolong ajarin aku nggak?"

"—!?"

Yang menyapaku adalah gadis pecinta olahraga dari klub, Akira Akiyoshi.

Kursi di sebelah kananku kosong, jadi dia duduk di sana dan merapatkan mejanya ke mejaku.

Eh, tunggu dulu. Melakukan hal seperti ini di tempat umum... Lagian Akiyoshi kan anak yang tinggi dan ceria, tipe yang sangat mencolok.

Dia populer di kalangan cowok maupun cewek, dan selalu menjadi pusat perhatian. Apa yang akan terjadi jika siswi seperti itu dengan akrab menyapaku?

Suasana kelas langsung mendadak riuh, dan aku bisa merasakan tatapan seluruh anak sekelas terpusat ke bangku milikku. Cukup menyiksa bagi seorang mob introvert...

"Sawaraguchi-kun, kamu ngerti nggak? Ajari aku dong!"

"A, ah. Boleh sih..."

Aku berusaha memasang ekspresi setenang mungkin dan menjaga sikap sealamiah mungkin untuk meresponsnya.

Kalau ini terjadi saat aku masih benar-benar anak SMA di dunia nyata, aku pasti sudah panik. Tapi diriku kan mantan pekerja kantoran, jadi sekadar menutupi kepanikan dan mengalihkan situasi masih bisa kulakukan.

Kudengar bisikan blak-blakan seperti, "Kenapa cowok seperti dia...", "Siapa sih orang itu?", "Jangan-jangan Akiyoshi sedang dimanfaatkan kelemahannya", membuatku nyaris muntah darah.

Tenang, tenanglah. Aku ini sudah dewasa. Aku tidak akan peduli meskipun dikomentari macam-macam oleh anak-anak SMA ingusan itu. Meskipun sebenarnya tetap saja terasa menyiksa.

Aku bertanya dengan suara pelan kepada Akiyoshi yang membentangkan lembar tugas yang masih banyak bagian kosongnya.

"Hei, bukankah saat seperti ini adalah kesempatan emas? Kalau kamu bilang ke Akasaka minta diajari..."

"Ah, iya, mungkin sih... tapi sainganku sudah keduluan."

"Saingan?"

Aku melirik ke arah kursi Akasaka yang berada di pojok paling belakang dekat jendela.

Di sana, aku melihat sosok seorang gadis yang merapatkan mejanya dengan meja Akasaka dan mengerjakan lembar tugas bersama-sama.

Tanpa perlu dikatakan lagi, gadis itu adalah Amane Tenjin.

Hmm, rupanya Tenjin sudah lebih dulu mendekati Akasaka ya. Pantas saja heroin utama, dia tidak pernah melewatkan kesempatan bagus seperti ini.

"Kalau begini keadaannya, bagaimana kalau coba menyela di antara mereka berdua? Alasan seperti 'Belajar bertiga kan selesainya lebih cepat!' atau semacamnya."

"U, um, rasanya agak susah... Bukankah itu terlampau tidak tahu malu?"

"Ternyata kamu tipe yang cukup tahu malu ya."

"Maksudmu apa? Mau bilang aku ini orang yang tidak punya kepekaan dan urat malu, gitu?"

Ditatap dengan tajam, aku mengeluarkan keringat dingin. Apakah ucapanku barusan salah?

Tapi kalau begitu, seharusnya dia juga merasa malu padaku...

"Begini ya, karena orangnya itu Sawaraguchi-kun, jadi aku merasa santai."

"Oh..."

Blak-blakan sekali ucapannya. Maksudnya, dia tidak perlu merasa sungkan pada mob yang bahkan tidak masuk dalam target romantisnya, begitu?

Yah, toh aku juga cuma eksistensi mirip udara. Terserah deh, lakukan sesukamu.

"G-Gimana sih, jangan pasang muka seram begitu dong. Maksudku 'santai' itu dalam arti positif lho! Rasanya kalau sama Sawaraguchi-kun, meskipun aku sedikit egois pun kamu bakal senyum dan maklumin..."

"......"

Apa-apaan itu. Apakah aku terlihat seperti orang yang begitu pengertian?

Sebaliknya, aku merasa diriku adalah tipe orang yang sulit didekati dan kaku. Tapi sejak datang ke dunia ini, aku selalu berusaha bersikap sewajarnya agar tidak memicu masalah, mungkin karena itulah mereka salah paham.

"Terserah sih... Tapi sebaiknya jangan terlalu berekspektasi tinggi padaku."

"Eh? Maksudnya gimana..."

"Kelihatannya tidak berbahaya, tapi siapa tahu aku ini menyembunyikan sifat asli yang sangat gelap? Jangan-jangan aku sedang berpura-pura ingin menolong padahal berniat menipumu..."

"Kyaa, seramnya. Kalau gitu, aku bakal lebih hati-hati deh! Ufufufu."

Akiyoshi tertawa riang dan sama sekali tidak mempercayai perkataanku.

Sial, aku benar-benar diremehkan. Berusaha bersikap seperti orang baik demi menghindari masalah justru menjadi bumerang.

Mengatakan apa pun sekarang sepertinya percuma, jadi kubatalkan saja niatku dan mencobanya di lain waktu. Kubuktikan kepada mereka seperti apa sebenarnya diriku ini.

Saat aku sedang merencanakan hal itu, sosok merepotkan lainnya datang mendekat.

"U, um, Sawaraguchi-kun... Mau ngerjag tugas bareng nggak? Ada bagian yang aku nggak ngerti..."

Yang menyapaku adalah gadis cantik berambut sebahu, Momomichi Haruka.

Dia membawa kursinya dari suatu tempat dan merapatkannya ke mejaku.

Saat Haruka mendekati bangkuku dan mengajakku bicara, suasana kelas kembali mendadak riuh.

Meskipun sedikit suram dan pendiam, Haruka tanpa ragu adalah seorang gadis yang cantik.

Bagaimanapun juga, dia adalah sub-heroine teratas, sosok yang diposisikan berpasangan dengan Amane Tenjin sang heroin utama. Tentu saja, dia dengan mudah menarik perhatian orang di sekitarnya.

Menyusul Akiyoshi, bahkan Haruka kini mengajaknya bicara, membuat seluruh anak sekelas merasa sangat terkejut.

Mereka melirik ke arahku sambil berbisik-bisik dan bergosip, "Ada apa dengan cowok itu?", "Bahkan Momomichi-san yang diam-diam punya banyak penggemar pun mendekatinya! Sebenarnya dia siapa?", "Padahal tadinya cuma jadi bayaran latar belakang, emang ada cowok kayak gitu ya?". Komentar khas mob memang seperti ini ya.

Berusaha pura-pura tidak mendengar komentar-komentar itu, aku berkata kepada Haruka.

"Boleh saja sih. Tapi, Momomichi-san, bukankah seharusnya kamu mencari orang lain untuk..."

"......"

Begitu aku mengucapkannya, kaki kursi Haruka menendang kursiku dengan bunyi gedebuk, membuatku langsung menutup mulut.

Haruka menatapku tajam dengan senyuman di wajahnya untuk memperingatkanku.

Tatapan itu seolah menyuruhku untuk berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Seram banget.

Ngomong-ngomong, Akiyoshi sepertinya belum tahu kalau Haruka menaruh perasaan suka pada Akasaka. Kalau begitu, akan lebih aman jika rahasia itu tetap tidak diketahui.

Akiyoshi sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan meskipun Haruka bergabung. Dia tersenyum ramah lalu berkata kepada Haruka.

"Momomichi-san akrab banget ya sama Sawaraguchi-kun. Sudah temenan lama?"

"T, tidak, bukan begitu... Kami baru kenal belakangan ini kok."

"Begitu ya? Berarti sama kayak aku dong. Pantesan—"

Menanggapi Akiyoshi yang tersenyum ramah, Haruka justru tampak sedikit kesal.

"Meskipun kenalannya baru sebentar, tapi Sawaraguchi-kun adalah pihaikku. Jadi Akiyoshi-san jangan ikut campur..."

"Eh, apa-apaan. Aku kan juga temannya, dan aku juga berada di pihaknya. Bukankah tidak adil kalau kamu minta diperlakukan spesial sendirian?"

"......"

Mendengar protes dari Akiyoshi, Haruka semakin terlihat tidak senang.

Dia menggembungkan pipinya sambil menatap Akiyoshi dengan mata setengah terpejam, lalu melirik ke arahku juga.

Yah, kenapa jadi begini. Aneh rasanya kalau aku ikut dimusuhi juga. Tolong bersikap lebih tenang dan hadapi masalah ini dengan rasional, dong.

"Sawaraguchi-kun berkhianat...? Jahat banget... Mau diapakan ya orang kayak gitu..."

"Hei, tunggu, barusan kamu bilang mau membunuh? Suaramu kurang jelas."

Mendengar itu, Haruka merengut lalu membuang muka dariku sambil menjawab.

"Nggak ngomong begitu kok. Aku cuma bilang mau menyingkirkannya."

"O, ooh. Kalau sekadar disingkirkan sih ya..."

"Dibuang dari atas tebing sampai jatuh ke bawah kan nggak masalah... Hidup atau mati itu kan cuma untung-untungan kayak judi..."

Itu mah namanya percobaan pembunuhan biasa! Tolong hentikan hal-hal ekstrem seperti itu!

Saat aku memprotesnya, Haruka bergumam, "Padahal cuma bercanda."

Maaf saja, tapi sama sekali tidak terdengar seperti candaan. Lagian, matanya jelas-jelas terlihat serius, kan?

Kalau mob sepertiku berurusan dengan para sub-heroine di situasi seperti ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi. Kalau mereka tidak bisa mendekati Kouta Akasaka, jalan satu-satunya ya kita kerjakan saja tugas lembar kerja mandiri ini dengan tenang.

Saat aku hendak mendesak mereka berdua untuk fokus mengerjakan tugas, seseorang kembali menyapaku.

"Sawaraguchi-kun. Ayo kerjakan tugasnya bersama-sama."

Pemilik suara itu adalah Saori Roppongimatsu. Kursi di depanku kosong, jadi dia memutar posisi kursinya 180 derajat dan duduk menghadap langsung ke arahku.

Tidak kusangka, bahkan dia pun ikut-ikutan mengajakku bicara. Aku tentu saja sangat terkejut, dan anak-anak sekelas tampaknya jauh lebih terkejut lagi.

"Bahkan Roppongimatsu-san yang pendiam dan sedikit menyeramkan itu? Ada apa sebenarnya?", "Lagi-lagi cowok itu. Sebenarnya siapa sih dia!", "Jangan-jangan dia memegang rahasia kelemahan para cewek-cewek itu? Apa kita harus lapor guru?", "Nggak, mending lapor polisi! Cowok itu pasti penguntit! Nggak tahu malu banget!"

...Dan komentar-komentar semacam itu berhamburan, membuat wajahku berkedut kaku.

Kalian ini ya, sembarangan sekali kalau ngomong... Jangan remehkan mantan pekerja kantoran, ya? Mau kubawa kalian semua ke pengadilan buat minta ganti rugi pencemaran nama baik? Masing-masing bisa kena setengah juta yen nih.

Aku mengingat wajah semua orang yang mencelaku, lalu diam-diam mencatat nama mereka di buku catatan. Akan kugunakan nanti kalau situasinya sudah gawat.

Haruka dan Akiyoshi juga tampak terkejut. Keduanya menatapku dan Saori secara bergantian dengan ekspresi tidak percaya.

"B, bohong... Bahkan Roppongimatsu-san juga... Sebenarnya siapa Sawaraguchi-kun ini, dan apa tujuannya...?"

"Jangan-jangan dia sebenarnya pemain ulung? Kukira dia cuma cowok pendiam yang tidak mencolok, tapi jangan-jangan aku sedang ditipu...?"

Hentikan, kumohon. Aku tidak punya niatan seperti itu.

Pertama-tama, di game aslinya aku bahkan tidak punya desain visual yang jelas sebagai karakter mob, tahu!

Aku sama sekali tidak punya niat ataupun kemampuan untuk ikut campur dengan para heroin cantik yang berada di pusat dunia ini.

Di tengah suasana yang terasa canggung, Saori mengabaikan semuanya begitu saja dan bergumam datar.

"Kamu sudah berjanji kan mau mendengarkan konsultasiku? Bantu aku menyelesaikan lembar tugas mata pelajaran yang paling kubenci."

"A, ah, boleh saja sih... Kamu benci pelajaran sastra klasik?"

"Sama sekali tidak ngerti. Padahal sastra modern aku jago lho."

Begitu ya. Padahal kupikir Saori adalah tipe orang yang jago soal bahasa kuno dan sastra klasik.

Saat aku sedang mengajarinya materi soal yang membingungkan Saori, Haruka dan Akiyoshi ikut merapat.

"Sawaraguchi-kun, ajari aku juga."

"Aku jugaー! Ini mah mirip sandi rahasia! Eh, Roppongimatsu-san dari tadi kayaknya hampir nulis semua jawabannya sendiri, deh?"

"......"

Saori terdiam, tapi aku juga menyadari hal itu. Meskipun bilang tidak mengerti, dia sudah menulis hampir seluruh jawabannya sendiri.

Sebenarnya dia tidak perlu bertanya padaku sejak awal, kan? Apa sebenarnya niatnya.

"Aku sebenarnya paham kok, cuma kurang suka saja. Aku cuma ingin diajari oleh Sawaraguchi-kun yang kelihatannya jago."

"O, begitu ya. Yah, aku sendiri sih tidak keberatan..."

"「「......」」"

Entah kenapa ketiganya mendadak terdiam dengan ekspresi yang terasa rumit.

......Ada apa ini? Hubungan di antara ketiga orang ini tidak memiliki pengaturan khusus di dalam game, kalau tidak salah...

Mereka adalah para heroin yang menaruh perasaan suka pada sang protagonis, dan semuanya adalah saingan, kan?

Bergantung pada situasinya, apakah mereka akan berubah menjadi teman, atau malah menjadi musuh bebuyutan?

Kalau begitu keadaannya, mob sepertiku harus berhati-hati dalam bersikap...

"B, kalau begitu, mari kita saling mengajari bagian yang kita pahami. Kalau ada yang tidak tahu, kita bisa buka kamus..."

Aku mengajak mereka kembali fokus dan mulai mengerjakan tugas.

Namun belum ada lima menit, Saori tiba-tiba bergumam pelan.

"......Ngomong-ngomong, soal masalah itu."

"Eh?"

"Menurutmu apa yang harus kulakukan?"

Sambil berkata begitu, Saori melirik sekilas ke arah jendela... ke arah kursi Kouta Akasaka.

Hei, jangan bilang di situasi seperti ini dia mau membahas cara mendekati Akasaka? Padahal dua orang yang juga naksir berat pada cowok itu sedang duduk tepat di depan matanya?!

Atau jangan-jangan, Saori tidak tahu kalau Haruka dan Akiyoshi adalah saingannya. Kalau itu alasannya mungkin bisa dimaklumi, tapi tetap saja...

Haruka dan Akiyoshi memiringkan kepala mereka dengan bingung. Sepertinya rahasia itu belum terbongkar oleh mereka berdua.

"Hei-hei, soal masalah apa tuh?"

Akiyoshi bertanya dengan santai, membuatku mengeluarkan keringat dingin. Khas anak olahraga, blak-blakan sekali. Tidak punya rasa takut ya.

Tapi, aku tidak boleh membeberkannya di sini. Mungkin cepat atau lambat mereka akan tahu, tapi untuk sekarang jangan. Takutnya kedengaran oleh siswa lain.

Saat aku sedang memikirkan alasan untuk mengalihkan pembicaraan, Saori berbisik datar.

"Aku sedang konsultasi padanya. Ada hal yang sedikit membuatku pusing..."

"Oh, begitu ya? Wah, sama dong kayak aku!"

Akiyoshi menjawab dengan riang, sementara Saori memiringkan kepalanya dengan heran.

Situasi macam apa ini. Apakah hal ini aman? Rasanya seperti berdiri di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja karena pemicu tersembunyi...

Kalau di antara mereka berdua ada yang tiba-tiba nyeletuk, "Konsultasi soal apa emangnya?", situasinya bakal jadi ribet...

Kalau sudah begini, satu-satunya cara adalah melempar topik lain dan mengalihkan pembicaraan secara paksa. Um, kira-kira bahan obrolan apa ya...

Tepat saat itu, mataku tak sengaja bertatapan dengan Haruka. Melihat Haruka mengangguk kecil seolah berkata "Serahkan padaku", aku langsung tersadar.

Apakah dia bisa membaca situasi dan berniat membantuku? Oh, bersyukur sekali ada yang mau membelaku. Tolong bantu aku, Haruka-san!

"Konsultasi dengan Sawaraguchi-kun itu giliranku yang duluan. Kalian berdua antre setelah aku."

Hei, Haruka. Apa-apaan yang baru saja kamu ucapkan?

Jangan pasang muka sok mendominasi seolah berkata "Sudah kubuat dia bungkam". Tidak perlu juga mengacungkan jempol.

Aku tidak menyangka dia setidak-peka ini... atau jangan-jangan, dia justru sangat peka dan sengaja menegaskan posisi keunggulannya? Kalau begitu, dia benar-benar gadis yang merepotkan.

"Hah, gitu ya? Momomichi-san juga lagi konsultasi? Hmmm?"

"Pihak pertama... Apakah kamu membayar uang sewa atau semacamnya?"

Entah kenapa. Meskipun mereka bertiga tidak sedang saling memelototi, atmosfer di sekitar mendadak terasa menegang... atau cuma perasaanku saja?

Rasanya salah satu dari mereka bertiga bisa saja nyeletuk, "Sebenarnya apa sih yang kalian konsultasikan?". Meskipun kurasa tidak ada yang akan menjawab secara blak-blakan, tapi ada kemungkinan salah satu dari mereka akan keceplosan.

Kalau sampai itu terjadi, urusannya bakal panjang. Aku harus mencari cara untuk mengalihkan situasi ini...

"Aku tidak pernah menetapkan siapa yang lebih dulu atau siapa yang harus diprioritaskan. Tolong jangan membuat keributan yang tidak perlu."

"Kalau begitu berarti kita semua setara dan adil, dong! Kalau gitu sih nggak masalah!"

"......Baiklah. Aku tidak keberatan dengan hal itu."

Akiyoshi dan Saori sepertinya bisa menerimanya. Tapi hanya Haruka yang tampak tidak puas.

"Kamu bilang aku adalah pihakmu, tapi kenapa berkhianat? Jangan coba-coba bersikap baik ke semua orang."

"Bukannya begitu. Aku ini sifatnya netral, tidak berniat memihak atau menjadi musuh siapapun. Mohon pengertiannya."

"......"

Meskipun Haruka tampak kesal, mungkin karena ada dua orang lainnya di sini, dia menyadari tidak etis jika memaksakan diri meminta prioritas, jadi dia akhirnya mengalah untuk sementara waktu.

Sepertinya aku harus memberikan pembelanjaan khusus atau mendekatinya lagi nanti. Bagaimana bisa Haruka yang paling pendiam dan serius ini justru yang paling merepotkan?

"Jadi, menurutmu apa yang harus kulakukan?"

"Eh!? Masih mau melanjutkan konsultasinya di sini? Roppongimatsu-san punya mental sekuat baja ya!"

Saori kembali melanjutkan konsultasinya kepadaku, membuat Akiyoshi membelalakkan matanya.

Aku juga kaget setengah mati. Masih sanggup melanjutkan topik konsultasi di situasi seperti ini? Apakah Saori tidak punya rasa takut sama sekali?

Tanpa ekspresi, Saori melanjutkan dengan nada datarnya.

"Kalau ada dua orang lain di sini yang berada di posisi yang sama dan sedang berkonsultasi, kurasa aku bisa mendengar pendapat yang bagus..."

"Ah, begitu ya. Masuk akal juga sih!"

"......"

Mendengar ucapan Saori, Akiyoshi tampak cukup antusias. Sementara Haruka merengutkan alisnya dengan ekspresi rumit, seolah ingin bilang, "Aku malas mendengarkan masalah percintaan orang lain."

Namun, jika aku salah memberikan tanggapan di situasi ini, ketiga orang itu akan menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi sebenarnya merujuk pada orang yang sama. Itu gawat.

Kalau ini game, mungkin akan muncul tiga pilihan opsi di layar, tapi di dunia nyata tidak ada sistem seperti itu, dan aku harus memikirkan sendiri jalan keluarnya.

Hmm, bagaimana ya... Respon apa yang paling optimal di situasi ini...

 

Memberikan saran kepada Saori tanpa membiarkan kedua orang lainnya mengetahui isi konsultasinya.

Menghentikan pembicaraan dengan alasan "Lebih baik kita selesaikan dulu lembar tugas ini daripada bahas hal lain".

Membuka sendiri isi konsultasinya dan membuat ketiganya menyadari bahwa mereka berada di posisi yang sama.

Kira-kira seperti itu pilihannya? Kalau opsi 2 berhasil, masalahnya mungkin selesai di sini, tapi apakah bisa semudah itu?

Opsi 3 rasanya ideal, tapi sangat berisiko. Kalau ketiganya menyadari bahwa mereka saling bermusuhan, salah satu dari mereka bisa saja terdorong masuk ke rute bad ending.

Jadi, apakah harus memilih opsi 1? Meskipun ini juga tampaknya cukup sulit...

"Jadi-jadi? Apa masalah yang sedang kamu hadapi?"

Akiyoshi tiba-tiba bertanya kepada Saori dengan nada santai, membuatku terperanjat kaget.

Gawat, aku keduluan. Kalau Saori memberikan jawaban yang mengarah ke inti masalah, situasinya bisa berubah menjadi bencana besar...!

"......Soal hubungan antarmanusia."

"Oh, begitu ya? Masalah paling klise memang seputar itu ya. Nggak nyangka Roppongimatsu-san juga peduli hal-hal seperti itu?"

"......Terkadang."

Melihat interaksi keduanya, jantungku berdegup kencang karena cemas.

Melihat dua orang dengan tipe yang sangat berbeda mengobrol secara normal mungkin adalah pemandangan yang cukup langka.

Namun, untungnya keduanya tidak ada yang mencoba mengorek bagian dalam dari isi konsultasi tersebut. Mereka ternyata cukup berhati-hati.

Di saat itulah Haruka memasang ekspresi seolah menyadari sesuatu, lalu membuka mulutnya.

"Jangan-jangan, itu cerita tentang orang yang kamu sukai..."

"Ekhm! Uhuk, uhuk, uhuk! Aduh, tenggorokanku kering banget ya! Uhuk, uhuk!"

Meskipun aktingku terasa sangat dibuat-buat, aku sengaja terbatuk-batuk untuk memotong perkataan Haruka.

Sebenarnya apa yang ingin dia katakan? Apakah dia juara pertama dalam kategori 'orang yang tidak bisa membaca situasi'? Ampuni aku deh.

"Ada apa, Sawaraguchi-kun? Kelihatan sengaja banget batuknya..."

"Uhuk, uhuk!"

Aku mencengkeram bahu Haruka dan berbisik pelan di dekat telinganya.

"......Bisa tolong diam sebentar?"

"U, un. Ba, baiklah..."

Mungkin baru sadar kalau ucapannya tadi berbahaya, Haruka akhirnya mengangguk patuh.

Sialan, anak ini benar-benar... Tolonglah, jangan melontarkan kalimat yang sembarangan lagi.

Saat itu, Saori melontarkan komentar dengan nada datarnya.

"Kalian berdua, kelihatannya akrab sekali ya."

"Eh?"

Menyadari bahwa "kalian berdua" yang dimaksud adalah aku dan Haruka, aku langsung tersadar.

Gawat. Kalau sampai salah paham, urusannya bakal panjang nanti. Aku harus segera menyangkalnya.

"Bukannya begitu, tidak ada apa-apa di antara kami kok... Kan, Momomichi-san?"

"......"

"Momomichi-san?"

Aku meminta persetujuan Haruka, tapi entah kenapa dia malah terdiam.

Dia memasang wajah cemberut lalu melirik tajam ke arahku sambil berkata,

"Kenapa harus disangkal? Memangnya kamu benci dikira akrab denganku? Hmmm..."

"B, bukan, bukan begitu maksudku..."

Eh, tunggu, jangan-jangan aku salah ngomong lagi? Padahal aku berniat agar hubungan kami tidak disalahpahami secara aneh.

Haruka menunduk dengan wajah suram sambil bergumam tidak jelas.

"Lagian, aku kan... cuma gadis suram yang cocoknya berteman sama meja... Mungkin sebaiknya aku berubah wujud jadi kursi aja ya..."

Gawat, Haruka masuk ke mode gelap lagi...! Aku harus segera mencairkan suasananya sebelum dia jatuh ke jurang kegelapan.

"N, nggak kok! Momomichi-san tidak sesuram itu, malah kelihatannya bersinar banget... Makanya, lebih percaya dirilah!"

"Nggak apa-apa, nggak usah memaksakan diri memujiku... Sawaraguchi-kun juga sebenarnya nggak mau kan dikira temenan sama orang kayak aku...?"

"B, bukan begitu, bukan itu maksudku. Aku cuma takut kalau dikira akrab sama orang sepertiku malah bikin kamu repot... Pokoknya bukan begitu!"

Aku mencoba membelanya dengan sungguh-sungguh, namun Haruka tetap menunduk dengan tatapan penuh kecurigaan.

Ugh, tidak mempan ya. Rupanya kata-kata dari mob sepertiku memang tidak mampu menggerakkan hati seorang heroin...

Di tengah keputusasaanku menghadapi ketidakberdayaan ini, Akiyoshi ikut angkat bicara.

"Kalian berdua ini mirip banget ya... Kurasa penilaian diri kalian berdua terlalu rendah, deh?"

"Eh? B, begitu ya?"

Sambil memiringkan kepala, aku menatap Akiyoshi yang tersenyum lebar.

"Iya benar. Menganggap diri sendiri bakal membawa dampak buruk kalau berteman dengan orang lain, itu namanya terlalu merendahkan diri sendiri. Padahal kan nggak seperti itu. Iya kan, Momomichi-san?"

"I, iya. Sawaraguchi-kun, apakah kamu juga bilang hal yang sama ke Akiyoshi-san?"

"T, tidak, aku..."

"Bilang, bilang kok! Katanya begitu, makanya kubilang jangan merendahkan diri sendiri, tapi dia kayaknya nggak paham juga ya. Repot banget kan punya temen kayak gini?"

Mendengar Akiyoshi berkata begitu dengan nada gemas, aku jadi kebingungan harus merespons apa.

Begitukah? Apakah pemikiranku selama ini salah? Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang ada benarnya juga...

Namun, Haruka dan Akiyoshi adalah karakter bernama yang berada di pusat dunia ini, sedangkan aku adalah karakter mob yang dilabeli sebagai latar belakang. Rasanya tidak mungkin kami berada di level yang setara.

Yang aneh justru Haruka, dia adalah sub-heroine teratas dan posisi yang paling dekat dengan heroin utama, tapi dia malah terlalu merendahkan dirinya sendiri.

"Sebaliknya, bukankah justru Momomichi-san yang aneh? Terlalu rendah diri."

"Nggak kok. Yang aneh itu Sawaraguchi-kun. Ngatain diri sendiri mob lah, latar belakang lah... Aneh banget tahu."

Meskipun aku menjelaskan teori yang logis, Haruka tetap tidak mau menerimanya dan membantah mentah-mentah.

Aduh, kenapa mereka tidak mau mengerti. Jelas-jelas kasta antara sub-heroine seperti kalian dengan mob sepertiku itu berbeda jauh. Memaksa diri untuk menganggap kami setara pun rasanya tidak masuk akal.

Saat aku dan Haruka sedang berdebat kecil, Saori yang dari tadi diam tiba-tiba bergumam.

"Kalian berdua benar-benar kelihatan akrab ya. Bisa dibilang mirip sepasang kekasih yang cocok?"

"Nggak mirip sama sekali!"

Mendengar komentar Saori, aku dan Haruka refleks melontarkan sanggahan secara bersamaan.

Gawat, kami tidak sengaja sinkron sempurna. Kalau begini, mereka bakal semakin salah paham.

Akiyoshi tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundakku.

"Ahahaha, klop banget kalian! Pasangan komedian senior aja kalah kompak!"

"B, bukan begitu. Tadi itu cuma kebetulan..."

"Kurang pas rasanya kalau disangkal begitu kan...? Nanti Momomichi-san keburu ngambek lho?"

Akiyoshi merapat ke dekat telingaku dan berbisik pelan.

Mendadak berada di jarak yang begitu dekat membuatku salah tingkah, sambil memikirkan saran yang diberikan oleh Akiyoshi.

Apakah memang seperti itu? Artinya, reaksi yang kutunjukkan barusan salah?

Kupikir bersikap hati-hati agar tidak membebani Haruka adalah hal yang benar, tapi ternyata tindakanku justru melukai hatinya... Begitu ya?

Mendapatkan nasihat percintaan dari karakter game rasanya aneh, tapi tempat ini kan sekarang sudah menjadi dunia nyata. Sebagai pendapat dari manusia sungguhan—bukan karakter fiktif—mungkin aku memang harus mendengarkannya.

Kulihat ke arah Haruka, dia sedang membuang muka dariku sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Ekspresinya tampak cemberut kesal, namun pipinya sedikit merona dan dia tampak salah tingkah. Terlihat cukup imut.

Aku tidak begitu paham dengan reaksi semacam itu... tapi apakah dia sedang menunggu sesuatu? Apakah dia ingin aku mengatakan sesuatu?

Akiyoshi tersenyum penuh arti, sementara Saori menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi. Situasi macam apa ini? Apakah aku, si karakter mob ini, harus menyelesaikan situasi rumit ini?

Tidak, ini sudah keterlaluan! Aku kan bukan protagonis, bukan pula karakter bernama yang memegang alur utama.

Namun, atmosfer di sini menuntutku untuk melakukan sesuatu... Rasanya seperti berada di game yang freeze di tengah jalan, dan sebagai debugger yang sedang uji coba, mau tidak mau aku harus mencari cara mengatasinya.

"......Maaf, aku yang salah. Aku dan Momomichi-san memang berteman. Tentu saja, kalau Momomichi-san tidak keberatan."

Aku menundukkan kepala untuk meminta maaf. Mendengar itu, Haruka langsung melambaikan kedua tangannya dengan panik.

"T, tentu saja aku nggak keberatan! Malah, aku yang harusnya bilang... kalau Sawaraguchi-kun nggak keberatan, aku pengen kita tetep temenan..."

Situasinya jadi agak aneh, tapi intinya Haruka memang ingin berteman denganku, begitu ya?

Bagi diriku sendiri, bisa berteman dengan gadis selucu ini tentu saja adalah sebuah kebahagiaan... tapi di sisi lain, bagaimana dengan perasaan Haruka sendiri?

Mungkin karena pengaturan karakternya sebagai heroin introvert yang suram, dia merasa senang bisa berteman bahkan dengan mob sepertiku.

Sebagai seorang heroin, apakah hal seperti itu wajar? Apakah dia akan baik-baik saja dengan kondisi seperti ini?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment