Chapter 4: Mencari Kelemahan Main Heroine (Heroin Utama)
"Hei,
cepat bangun!"
"U,
ugh... Biarkan aku tidur lima menit lagi..."
"Jangan ngawur. Cepat bangun,
kubilang!"
"Ugh!"
Pagi hari, di kamar sendiri.
Aku yang tadinya sedang tidur di tempat
tidur, dibangunkan oleh suara yang terdengar agak manis.
Sesuatu tiba-tiba melompat mendarat di
atas perutku, memaksa kesadaran-ku bangkit secara paksa.
Saat mendongak ke atas, di sana... ada
sesosok gadis yang tampak familier atau tidak familier, dengan ekspresi
lancang.
"Cepat bangun sana. Nanti kita bisa
terlambat, tahu!"
"A, ah, iya. Maaf, aku bangun
sekarang..."
"Sungguh.
Kakak yang payah ini..."
"..."
Rambut cokelat sebahu, mata sedikit menyipit
dengan raut wajah galak, serta tubuh yang mungil dan ramping.
Orang yang melompat ke atasku untuk
membangunkannya adalah Mayura, adik perempuanku.
Dia adalah siswi SMP yang dua tahun lebih muda
dariku, cukup pembangkang, dan sedikit bernuansa gyaru.
Di dalam game, karakter mob atau karakter
latar diperlakukan tidak jauh berbeda dengan latar belakang itu sendiri.
Namun, jika karakter mob seperti itu
adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata, mereka memiliki kehidupan
pribadi masing-masing.
Meskipun mereka mungkin hanya eksistensi
yang berada di latar belakang saat para protagonis mengobrol di game, di dunia
ini, karakter mob memiliki jalan hidup, tempat tinggal, dan keluarga mereka
sendiri.
Di kehidupan sebelumnya, aku memiliki
seorang adik perempuan yang usianya jauh dariku, tetapi adik perempuan di dunia
ini memiliki penampilan yang sangat mirip dengan adikku di masa lalu. Namanya
sama, dan suaranya pun mirip. Apakah pengaturan dari kehidupan sebelumnya
terbawa ke sini?
"Jangan
melongo dan cepat... ah."
"…?"
Mayura, yang sedang menunggangi atasku,
bergetar kaget dan pipinya merona.
Menyadari bahwa adik perempuannya di dunia
ini sedang menduduki bagian selangkanganku, dia mendadak berkeringat dingin.
"T, tidak, apa-apaan ini... rasanya
keras banget, dan besar..."
"H, hei, tunggu, jangan salah paham
ya! I, ini tuh, yang namanya fenomena fisiologis pria..."
Aku berniat mengatakan, "Ini bukan
berarti aku terangsang olehmu, lho," tetapi sudah terlambat.
Mayura memasang wajah merah padam, matanya
berkaca-kaca karena air mata di sudutnya, lalu dia menatapku tajam dan
mengangkat kepalan tangannya.
"Kenapa kamu malah tegang di depan
adikmu sendiri!? Mati saja, bodoh, hentai!"
"Gubo-!?"
Ulu hatiku dihujam pukulan telak, membuat
seluruh udara di paru-paruku keluar, dan aku pun tersiksa kesakitan.
Mayura menggunakan daya dorong dari pukulannya
untuk melompat dan turun dari tempat tidur.
Menatapku yang sedang merintih sambil
memegang perutnya, dia bergumam dengan sikap ketus.
"Cepat bangun, Okaasan- eh, maksudku
Kakak hentai. Sarapannya nanti keburu dingin."
"B, baiklah..."
Mengibaskan rambut cokelatnya, Mayura keluar
dari kamarku.
Setelah rasa sakit luar biasa yang menembus
pusat tubuhku sedikit mereda, aku merangkak keluar dari tempat tidur.
...Adikku di kehidupan sebelumnya tidak
sekejam itu, kan? Karena wajah mereka sangat mirip, aku jadi merasa sedikit
aneh... Atau jangan-jangan, waktu masa SMP dia memang sedikit suka memberontak?
Keluar dari kamarmu yang berukuran enam tatami
di lantai dua, menuruni tangga, dan menuju ruang makan di lantai satu.
Ada meja berukuran untuk empat orang, dan
sarapan sudah disiapkan di atasnya.
Mayura, sang adik, sudah duduk di kursinya.
Aku menarik kursi dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Sarapannya adalah menu barat yang ortodoks:
ham and eggs, roti panggang, sup jagung, dan susu.
Karena ada pengaturan bahwa kedua orang tua
sedang berada di luar negeri dan tidak ada di rumah, aku dan adikku bergiliran
menyiapkan sarapan dan makan malam, tetapi entah kenapa selalu adikku yang
menyiapkannya.
"Aku berterima kasih sih... tapi
kenapa?"
"Memangnya ada yang salah? Kakak
hentai."
"T, tidak, aku tidak protes... Lagian,
stop panggil aku hentai. Itu tadi bukan karena aku terangsang olehmu..."
"Alasan begitu cuma kelihatan
menyedihkan. Jangan khawatir, aku tidak akan bilang ke
siapa-siapa. Sebagai gantinya, tambah uang saku-ku ya."
"Ya sudahlah kalau soal itu... Tapi
sungguh, aku benar-benar tidak punya perasaan aneh pada—”
"Iya, iya, anggap saja begitu. Jangan
ngambek gitu dong, jijik."
"..."
Entahlah ya. Kurasa adikku di kehidupan
sebelumnya sedikit lebih menggemaskan. Apakah sifat itu tidak terpantul dengan
baik di sini?
Tapi ya sudahlah, di dunia yang serba
berbeda dari kehidupan sebelumnya ini, memiliki adik yang sangat mirip dengan
adikku yang dulu bukanlah hal yang buruk.
Sebagai seorang kakak, itu membuatku ingin
menyayanginya. Meskipun sedikit pembangkang, adik perempuan tetaplah
menggemaskan.
"Kenapa kamu nyengir-nyengir
melihatku? Jijik banget sumpah. Karena tidak laku di antara cewek seumuran,
jadi kamu melampiaskan nafsu ke adik sendiri... Ueew, ampun deh!"
"..."
Huh, adik perempuan di dunia nyata ya
memang begini adanya, ya.
Yah, tidak apa-apa. Lagipula aku kan cuma
seorang mob, tidak masalah kalau adikku jijik padaku. Meskipun aku hampir
menangis.
"Hmm... Kasihan banget ya karena
tidak laku? Mau aku, si adik ini, yang menyembuhkanmu?"
"Tidak perlu, biarkan aku
sendiri."
"Eh? Padahal tidak usah memaksakan
diri, lho? Mau kuberi manjaan juga boleh, lho?"
Mayura tertawa mengejek sambil melambaikan
tangan, membuatku mengernyitkan alis.
Anak ini, sejauh apa dia menganggapku sebagai
pria yang tidak laku? Memang benar, di kehidupan sebelumnya pun aku tidak punya
pacar, jangankan pacar, teman wanita saja tidak ada.
Terus kenapa? Apakah manusia tidak bisa hidup
tanpa pacar? Apakah kaum yang tidak laku harus mati begitu saja?
Urusan besar amat. Aku bisa hidup kok tanpa
pacar, dan mati pun tidak akan terjadi hanya karena tidak menikah. Malah, aku
melihat banyak orang yang kehidupannya hancur dan mentalnya sakit gara-gara
menikah, bahkan ada yang sampai saling bunuh.
Kalau sampai jadi seperti itu, hidup sendirian
jauh lebih baik. Bukankah pola pikir seperti itu yang kini menjadi arus utama?
"...Kakak kan tidak laku, jadi tidak usah
memaksakan diri, sendirian saja sudah cukup kok."
"Mungkin juga ya. Biarkan aku
sendiri."
"Kalau kesepian, kan ada aku yang
menemani. Untung punya adik yang baik ya?"
"Hmm? Begitu ya."
Mayura tertawa kecil dengan gembira.
Ada apa dengan ekspresi itu? Apakah
separah itu dia senang melihatku tidak laku? Menyebalkan sekali anak ini.
Yah, sudahlah tidak apa-apa. Toh, mob
sepertiku tidak mungkin punya pacar.
Namun, diejek tidak laku oleh adik sendiri
juga tidak menyenangkan... Di kehidupan sebelumnya aku terus hidup sendirian,
tapi kali ini haruskah aku mencoba konkatsu (aktivitas mencari pasangan)?
Mungkin di dunia ini ada wanita aneh nan baik hati yang mau menerimaku.
"...Kakak hidup sendirian selamanya juga
tidak apa-apa kok. Nanti aku yang urus semuanya."
"Ha, hah? S, selamanya itu... A, apa sih
yang kamu bicarakan...?"
"Kalau Mayura tidak keberatan sih. Kalau
kamu ada di sisiku, rasanya aku tidak akan bosan."
"Be, begitu ya? Ohh..."
Mayura mengalihkan pandangannya, wajahnya
mendadak merona merah.
Anak yang manis. Apakah dia sedang malu?
Sungguh, dia benar-benar mirip dengan adikku di masa lalu.
Aku di dunia ini hanyalah seorang mob, dan
jika adikku yang manis berkata ingin terus bersamaku, rasanya tidak masalah
jika harus melajang selamanya.
Atau jangan-jangan, kalau begitu justru Mayura
yang kasihan? Aku ingin adik yang sangat mirip dengan adikku di masa lalu ini
bisa hidup bahagia.
"Mayura. Kamu tidak apa-apa kok kalau mau
mencari pasangan yang cocok dan hidup bahagia."
"Hah? Nggak nyambung banget sumpah. Apa maksudmu, Kakak...!"
Mata itu menyipit tajam, menatapku dengan
tatapan yang sangat tajam, membuatku ciut.
Ekspresi macam apa itu, adikku tersayang?
Kakakmu ini bisa menangis, tahu?
"Jangan pasang wajah begitu. Wajah
manismu jadi rusak lho."
"Ha, hah? Ja, jangan bilang aku
manis! Ah, jijik, jijik!"
...Jangan sering-sering bilang jijik dong.
Kakakmu ini bisa menangis, lho. Seriusan.
Game simulasi percintaan adalah game yang
bertujuan untuk memilih satu dari beberapa heroin (heroine) yang disediakan dan
mencapai akhir yang bahagia (happy ending).
Jumlah heroine minimal ada tiga, bahkan ada
yang menyediakan lebih dari dua belas dengan berbagai tipe yang berbeda.
Pemain berperan sebagai protagonis, memilih
salah satu heroine dari mereka, dan menaklukkan rutenya.
Seringkali ada skenario individu yang
disiapkan untuk masing-masing heroine, sehingga kita bisa menikmati cerita yang
berbeda sebanyak jumlah heroine yang ada.
Gaya permainan setiap orang tentu
berbeda-beda; ada yang hanya menaklukkan heroine pilihan sesuai selera pribadi,
ada yang mencoba menaklukkan semua heroine, ada yang menentukan oshi (karakter
favorit) setelah menaklukkan semuanya, atau ada yang mencoba mengumpulkan
seluruh event.
Meskipun ada banyak heroine, dari sudut
pandang pemain mereka pada dasarnya setara, dan dalam sistem game pun sebagian
besar diperlakukan sama.
Namun, meskipun setara, pasti ada satu heroine
yang menjadi pusat. Heroine yang menjadi pusat di ilustrasi gabungan para
heroine, ditampilkan besar di sampul, atau menjadi wakil dari visual promosi.
Itulah heroine utama (main heroine).
Bisa dibilang sebagai "wajah" dari
game tersebut, sehingga heroine utama seringkali mendapatkan keistimewaan.
Dari segi desain karakter, biasanya dibuat
agar paling mencolok, dan dari sisi pengaturan cerita, mereka berada di pusat
narasi atau selalu berada di dekat protagonis.
Di dunia tempat aku tersesat ini—dunia di mana
pengaturan dari game "Doki-Doki Final Heart Story: White and Black Etude
(Tentang)" tercermin—heroine utama pun eksis.
Dialah Amane Tenshin. Dirinya adalah heroine
utama di dunia ini, wakil dari para heroine, sekaligus eksistensi yang menjadi
pusat dunia.
Dalam pengaturan game aslinya, dia adalah
gadis cantik dengan proporsi tubuh luar biasa, serta spec yang sempurna dalam
segala hal.
Kalau tidak salah, dia adalah murid pindahan.
Tepat di awal permainan, kisah dimulai dari momen ketika sang protagonis yang
sedang dalam perjalanan ke sekolah tak sengaja bertabrakan dengan Amane di
sudut jalan... sebuah situasi yang sepertinya klise tapi jarang terjadi di
kehidupan nyata.
Amane yang pindah ke sekolah bersatu kembali
dengan protagonis di kelas dan langsung menjadi akrab. Dari situlah cerita antara protagonis dan para
heroine berkembang, begitulah struktur dasar gamenya.
Sejak awal cerita, Amane sangat diistimewakan.
Namun, bukannya cerita berpusat penuh padanya dari sana, kenyataannya tidak
sesederhana itu.
Protagonis akan terus-menerus bertemu dengan
heroine lain, dan bergantung pada pilihan yang diambil, cerita akan berlanjut
ke rute individu yang disiapkan untuk masing-masing heroine.
Rute untuk Amane sang heroine utama pun ada,
tetapi untuk masuk ke rute khususnya, seseorang harus menyelesaikan syarat
paling sulit.
Ini adalah spesifikasi yang umum dalam game
bergenre seperti ini, di mana penaklukan heroine utama dibuat menjadi yang
paling sulit.
Kalau begitu, di dunia di mana pengaturan game
ini tercermin, rasanya mudah saja untuk menghindari rute Amane Tenshin dan
mengincar happy ending dengan heroine lainnya... tapi tampaknya tidak semudah
itu.
"Akasaka-kun, selamat pagi!"
"O, ooh. Selamat pagi..."
Di dalam kelas.
Seperti biasa, Akasaka Kouta yang datang ke
sekolah mepet waktu bel masuk, disapa dengan ceria oleh Amane Tenshin.
Melihat keduanya yang tampak akrab, aku
mengernyitkan alis.
Cih, apa-apaan mereka berdua. Masih saja
terlihat begitu mesra.
Bisa tidak kalian kurangi kemesraan seperti
itu? Di kelas ini, selain aku, masih ada tiga orang lain yang melihat interaksi
kalian dengan perasaan masam, tahu.
Haruka Momomichi, pemuka dari sub-heroine dan
eksistensi yang berpasangan dengan Amane, menatap interaksi Akasaka dan Amane
dengan mata setengah terpejam.
Setidaknya ekspresinya sama sekali tidak
terlihat gembira. Rasanya menyeramkan, seolah-olah dia sedang berpikir,
"Wanita itu, haruskah aku lenyapkan?"
Akira Shiyodai, gadis sporty yang ceria,
mengobrol tersenyum dengan temannya sambil melirik ke arah Akasaka dkk.
Perasaanku sajakah, atau senyumannya tampak
sedikit kaku? Sepertinya dia kembali diam-diam merasa murung.
Saori Roppongi, yang memancarkan atmosfir
misterius dan dewasa, menatap Akasaka dkk dengan tanpa ekspresi.
Lalu, pandangannya beralih kepadaku,
menunjukkan ekspresi sedih. Hei jangan begitu, jangan menatapku dengan mata
seperti itu. Aku pun bakal kerepotan kalau kamu mendadak meminta tolong lewat
tatapan mata seperti, "Tolong lakukan sesuatu pada kedua orang itu."
Meskipun sudah kuduga, eksistensi Amane
Tenshin memang sangat besar.
Bahkan di game aslinya, karena dia adalah
karakter utama, dia adalah heroine yang paling banyak kemunculannya. Bahkan
ketika masuk ke rute sub-heroine lain pun, Amane biasanya tetap ikut campur
dalam cerita.
Dan dalam banyak kasus, gara-gara Amane,
sub-heroine gagal akur dengan protagonis dan berujung jatuh ke rute bad ending.
Baik atau buruk, dia adalah figur yang berada
di pusat game. Benar-benar heroine utama yang sesungguhnya.
Untuk mencegah sub-heroine jatuh ke rute bad
ending, mungkin kita harus melakukan sesuatu terhadap eksistensi Amane.
Hmm, meskipuan aku bilang begitu... apa
yang harus kulakukan secara spesifik...?
Bagaimanapun juga, lawannya adalah heroine
utama. Bisa dibilang dia adalah eksistensi terkuat di dunia game.
Apakah aku, seorang karakter mob yang hanya
menjadi latar belakang, bisa melakukan sesuatu terhadap lawan seperti itu?
Atau, apakah aman-aman saja jika aku
mendekatinya? Jangan-jangan aku malah dihancurkan dan dilenyapkan oleh kekuatan
heroine Amane yang terlalu kuat itu...?
"..."
Dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian
agar tidak mencolok, aku mengamati gerak-gerik Amane Tenshin.
Dia adalah gadis yang sangat ceria dan tidak
pernah kehabisan senyum. Bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa pun,
senyum lembut selalu terkembang di wajahnya.
Terlalu cantik sampai-sampai terlihat
berkilau-kilau. Efek semacam itu pasti bukan efek game,
kan?
Tinggi badannya berada di rata-rata wanita. Posisi pinggangnya tinggi, dan kakinya jenjang serta
ramping.
Pertumbuhannya sangat luar biasa,
membanggakan dada yang sangat besar. Bukan cuma yang terbesar di kelas, mungkin
dia masuk jajaran papan atas di seluruh angkatan.
...Di game pasti selalu ada ya, karakter
berukuran dada besar seperti itu. Aku pribadi tidak begitu suka, tapi hal itu
pasti menarik perhatian para pengguna. Memang mencolok sih.
"Tatapanmu mesum."
"Heeeh!?"
Pada jam istirahat, di ruang arsip ketiga
gedung khusus.
Ditegur dengan nada penuh tuduhan oleh Haruka
Momomichi, aku pun terperanjat kaget.
Lagian, kamu sendiri yang memanggilku ke sini,
tapi tiba-tiba ngomong apa, hah?
Sambil memiringkan kepala, Haruka
mendekatiku dengan langkah mendekat.
"Dari tadi pagi, kamu terus melihat
ke arah Tenshin-san, kan? Melirik-lirik dengan tatapan mesum..."
"T, tidak, aku tidak melihatnya
dengan tatapan seperti itu! Itu fitnah!"
"..."
Meskipun aku membantah, tatapan Haruka
tetap penuh kecurigaan.
Wajahnya mirip seperti orang yang baru saja
menemukan pelaku pelecehan seksual atau pengintai. Kesalahpahaman yang parah.
Aku berdehem pelan, lalu berkata kepada Haruka
dengan nada tenang.
"Begini ya, Momomichi-san. Aku melihat
Tenshin tadi itu karena aku sedang mengamatinya."
"Mengamati? Buat dijadikan bahan
khayalan mesum?"
"Bukan! Bukan begitu maksudnya...
Melainkan untuk memahami spec-nya Tenshin..."
"?"
Haruka sepertinya tidak nyambung, memasang
wajah seolah baru saja mendengarkan penjelasan tentang genre game yang tidak
diminatinya.
Mau bagaimana lagi. Kalau dibiarkan salah
paham begini bakal gawat, jadi sebaiknya aku jelaskan sedikit lebih detail.
"Maksudku begini. Untuk menaklukkan
Akasaka Kouta, kita harus mencari cara untuk menghadapi Amane Tenshin yang
sepertinya bakal menjadi penghalang terbesar... Oleh karena itu, aku
mengamatinya secara diam-diam untuk memahami spec detailnya..."
"Diam-diam? Dengan melirik-lirik
pakai tatapan mesum?"
"Bagian itu tidak usah diperjelas."
Ngomong-ngomong, apa aku tadi melihatnya
dengan tatapan seperti itu? Aku sama sekali tidak merasa melakukannya.
Haruka sendiri, dengan tatapan macam apa dia
melihatku sejak tadi? Aku jadi sedikit penasaran.
"Pokoknya, alasan aku melihat Tenshin
adalah untuk meninjau kembali spec-nya dan mencari tahu bagaimana cara kita
bisa melawannya."
"Beg, begitu ya? Kalau begitu sih... ya
sudahlah..."
Haruka sepertinya sekadar mengangguk paham,
tapi sepertinya dia masih terlihat sedikit curiga.
Eh, kenapa begitu? Padahal tidak ada alasan
lain bagiku untuk melihat Amane Tenshin selain itu.
"Habisnya...
Tenshin-san kan cantik, dan manis... Jangan-jangan,
Saraguchi-kun malah jadi ngefans sama orang itu..."
Oh, karena alasan itu toh. Ampun deh.
Kumohon jangan merendahkan aku seperti itu.
Meskipun posisinya cuma mob, isi di dalamnya sedikit berbeda, tahu.
"Aku tidak akan ngefans padanya. Aku
melihatnya hanya sebagai objek pengamatan kok."
"Begitu ya? Tapi..."
"Ada apa lagi. Masih ada hal lain?"
"Umm, itu... Kadang-kadang, Saraguchi-kun
sepertinya menatap Tenshin-san dengan cara yang berbeda dari biasanya...
Rasanya itu sedikit mengganggu..."
"Eh, begitu ya? Berbeda, maksudnya
seperti apa?"
Mendengar itu, Haruka menjelaskannya dengan
nada yang agak segan.
"Bagaimana ya mengatakannya... Seperti
menatap lekat-lekat pada bagian tertentu dari tubuh Tenshin-san..."
"Eh?"
"Waktu dada besar wanita itu berguncang,
kamu menatapnya dengan penuh semangat, kan? Seolah-olah 'harus kuabadikan di
dalam ingatan' gitu..."
"..."
Yah, yah, mungkin saja hal itu memang sempat
terjadi.
Atau lebih tepatnya, bukankah itu hal yang
wajar? Kalau dada besar yang tumbuh dengan megah itu berguncang secara
mencolok, mata pasti akan otomatis melirik ke sana.
Betul, aku tidak bersalah. Kumohon hentikan
tuduhan yang aneh-aneh itu.
"Hal seperti itu tidak penting. Bukankah ada hal lain yang harus kita pikirkan?"
"Ah, dia mengalihkan pembicaraan!"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Urusan apa yang sedang kulihat tidak ada hubungannya
denganmu, kan. Tolong jangan dipedulikan."
"..."
Wajahnya masih terlihat belum puas.
Padahal urusanku mau melihat apa kan bukan urusannya.
Daripada memikirkan hal itu, lebih baik
pikirkan cara agar bisa akrab dengan Akasaka, begitu niatku hendak
mengatakannya—tepat pada saat itu.
Dari balik pintu masuk ruang arsip, suara
orang berbicara terdengar.
"Eh, bukankah ruang arsip ketiga itu di
sini?"
"!? "
Gawat, ada orang yang datang. Terlebih
lagi, suara ini...!?
Tanpa sempat berpikir, aku menarik tangan
Haruka dan bergerak ke bagian dalam ruangan. Menemukan ruang kosong tepat di
sebelah rak buku paling ujung, aku langsung melompat ke sana.
Saat itu juga, pintu geser di depan
terbuka, dan sepasang pria dan wanita masuk ke dalam.
"Ah, benar rupanya di sini."
"Ya. Kuncinya tidak dikunci
rupanya."
Menyembunyikan diri di balik bayangan rak
buku, aku mengintip situasinya secara perlahan. Dari celah-celah dokumen yang
berbaris di rak logam di tengah ruangan, aku bisa mengenali sosok dua orang
yang baru masuk.
Tidak salah lagi. Akasaka Kouta dan Amane
Tenshin. Kenapa pula, dari sekian banyak orang, harus mereka berdua yang ada di
sini...?
"Maaf ya sudah merepotkanmu membantu.
Padahal aku yang diminta oleh guru."
"Tidak apa-apa. Jadi, kotak yang berisi
dokumen untuk pelajaran berikutnya ada di mana?"
Rupanya mereka disuruh oleh guru untuk
mengambil suatu dokumen.
Si Akasaka itu membantu heroine, benar-benar
cocok dipanggil protagonis.
Alasan mereka datang ke sini sudah jelas,
tapi... situasi ini gawat. Jika ketahuan sedang berdua saja denganku di tempat
sepi dan tidak ada orang seperti ini, itu akan menjadi poin minus yang besar
bagi Haruka.
Akibatnya, tingkat kesukaan Akasaka terhadap
Haruka bisa turun drastis, dan Haruka pun terdorong masuk ke rute bad ending...
Jika sampai begitu, situasinya bakal
sangat buruk. Aku harus memastikan kami sama sekali tidak
ketahuan...
(Anu... Saraguchi-kun...)
(Ssst, tenanglah. Tolong jangan bersuara.)
(...)
Ruang di sebelah rak buku itu hanya seluas
yang bisa digunakan untuk menyembunyikan satu orang saja.
Aku dan Haruka bergeser masuk ke dalam
ruang sempit itu dengan posisi saling berpelukan erat.
Haruka membenamkan wajahnya di dadaku sambil
menahan napas. Sepertinya Haruka juga paham kalau ketahuan bakal gawat.
"Umm, yang mana ya? Katanya gampang
dicari karena ada tandanya..."
"Kotak kardus kan ada banyak. Apakah
tandanya gambar bintang? Di sebelah mana ya?"
Akasaka dan Amane sedang memeriksa rak
yang berada di dinding seberang, di balik rak logam di tengah ruangan.
Mereka sepertinya sama sekali tidak menyadari
keberadaan kami, tetapi kalau salah satu dari mereka memutari rak dan datang ke
sisi ini, mereka pasti akan ketemuan.
Cepatlah, cepatlah pergi dari sini...!
"Hmm, sepertinya tidak ada di rak
ini."
"Begitu ya. Kalau begitu, mari kita cari
di sebelah sini."
Karena kotak yang dicari tidak ada di rak
dinding seberang, Akasaka dkk membalikkan badan dan mulai memeriksa dokumen
yang tersusun di rak logam di tengah ruangan.
Sosok keduanya terlihat sekilas dari celah
dokumen, membuatku menelan ludah. Jika mereka kebetulan menoleh ke arah sini
dari celah tersebut, mereka mungkin akan menyadari keberadaan kami berdua.
Aku mengecilkan tubuh semaksimal mungkin,
bersembunyi di balik bayangan rak buku. Agar tubuh Haruka tidak kelihatan
menonjol keluar, aku melingkarkan lengannya di punggungnya untuk mendekapnya
semakin erat.
Haruka bergetar kaget, lalu berbisik
dengan suara pelan.
(!? Sa-Saraguchi-kun? Anu...)
Diem. Kalau tidak suka pun, tolong tahan
sebentar.
U, umm...
Haruka mungkin menderita, tapi aku juga
menderita. Jadi tolonglah, kuatkan dirimu.
Belum pernah seumur hidupku aku berada dalam
posisi yang sangat menempel dengan gadis secantik ini. Ini terlalu merangsang
bagiku.
Kenapa tubuhnya bisa begitu lembut? Wanginya
sangat harum, dan rasanya sulit dipercaya bahwa dia adalah makhluk hidup yang
sama denganku. Aku jadi hampir merasa pusing.
"Hmm, nggak ada ya. Akasaka-kun, di
sebelah sana gimana?"
"Di sini juga nggak ada. Coba kita cek
rak yang di sebelah sana."
Keduanya memutari rak di bagian tengah dan
mendekat ke arah sini.
Meskipun posisi kami seharusnya tidak terlihat
karena tertutup bayangan rak buku, jaraknya bahkan tidak sampai tiga meter.
Saat aku mengintip situasinya secara perlahan,
mereka berdua membelakangi kami dan sedang memeriksa rak tengah. Dari sudut
pandang kami, Amane mencari di sebelah kiri rak dan Akasaka di sebelah kanan.
Akasaka mendekat hingga jarak yang sangat dekat, membuatku menelan ludah.
Menyadari Haruka yang bergetar kecil, aku pun
mengeluarkan keringat dingin.
Kumohon tenanglah. Kalau sekarang kamu membuat
sedikit saja suara, kamu akan ketahuan oleh Akasaka...
Saat itulah, bahu Haruka tak sengaja membentur
rak buku dengan suara pelan.
Suaranya sangat pelan, tapi sepertinya itu
tetap terdengar. Akasaka bereaksi dengan tersentak kecil, memutar tubuhnya, dan
mengarahkan wajahnya ke arah sini—
"Ah, Akasaka-kun! Ketemu, ketemu!"
"Eh?"
Amane berseru, dan Akasaka mengalihkan
pandangannya ke sana. Tepat sedetik sebelum ia sempat menolehkan wajahnya ke
arah persembunyian kami, itu adalah timing yang sangat pas.
Menemukan barang yang mereka cari, keduanya
berjalan keluar dari ruang arsip sambil masing-masing memeluk kotak kardus.
Setelah kepergian mereka dan menunggu selama
beberapa detik, aku dan Haruka melemaskan otot-otot tubuh kami dan
menghembuskan napas panjang.
"Huuuuuh... Bahaya banget tadi..."
"I, iya ya... Nyaris banget..."
Kami melewati krisis tersebut dan saling
mensyukuri keselamatan masing-masing.
Menyadari bahwa kami masih saling
berpelukan, aku dan Haruka terkesiap kaget dan buru-buru melepaskan diri.
"Ya, ya sudahlah, yang penting kita nggak
ketahuan sama mereka..."
"Ya, benar. Aku sempat lengah karena
mengira nggak bakal ada orang yang datang ke sini. Kedepannya harus lebih
hati-hati."
Telinga Haruka memerah hingga ke pangkal,
dan ia membuang muka dariku.
Wajar saja. Meskipun ini adalah insiden
yang terjadi secara tiba-tiba, harus berpelukan dengan cowok mob sepertiku
pasti rasanya sangat tidak menyenangkan.
Seharusnya, event semacam ini terjadi
antara protagonis dan heroine-nya, dan tidak seharusnya ada ruang bagiku untuk
ikut campur.
Omong-omong, di game yang bersangkutan,
bukankah ada event di mana protagonis dan Haruka sedang berbicara di ruang
arsip, lalu seseorang datang dan mereka berdua harus bersembunyi...?
...Eh? Jangan-jangan, aku baru saja... merusak
sesuatu?
Sebagai seorang mob, apakah aku baru saja
merebut event heroine yang seharusnya dialami oleh sang protagonis?
Ini gawat. Sangat gawat.
Sebagai event pendahuluan yang kecil, kurasa
event ini saja tidak akan serta-merta mengubah takdir secara drastis.
Namun, tumpukan event mini seperti inilah yang
menaikkan tingkat kesukaan heroine. Mengesampingkan urusan gamenya, event ini
seharusnya menjadi momen yang pas untuk menjadi lebih akrab dengan Akasaka.
Dan aku malah menghancurkan kesempatan emas
itu. Aku harus melakukan sesuatu...
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku akan
panggil Akasaka ke sini sekarang juga!"
"Eeeh!? Ke, kenapanya?"
"Saat kalian berdua sedang mengobrol
biasa nanti, aku akan menyusup dengan berpura-pura mencari dokumen, lalu di
situlah kamu harus mengarahkan Akasaka dengan baik dan bersembunyi seperti
tadi! Kamu pasti bisa, kan?"
"T, tapi kan, itu bakal kelihatan
nggak natural banget..."
"Menempelah pada Akasaka untuk
meningkatkan keintiman kalian! Kerahkan seluruh pesona wanitamu yang pas-pasan
itu dan buat dia menyadari keberadaanmu!"
"..."
Entah kenapa, mendengar itu Haruka malah
merengut kesal dan menatapku tajam.
"Apaan sih, nggak nyambung. Kenapa aku
harus melakukan hal separah itu?"
"Kenapa ya karena biar makin akrab sama
Akasaka, lah. Emangnya apa lagi..."
"Dan lagi, kalimat 'pesona wanitamu yang
pas-pasan' itu sungguh sangat mengusikku, tahu!"
"I, itu, maksudku..."
"Jadi maksudmu setelah menempel padaku,
kesan itulah yang kamu dapatkan? Maaf ya kalau aku tidak punya pesona!
Huh!"
"Eee..."
Haruka menggembungkan pipinya dan membuang
muka dengan ketus.
Reaksi macam apa itu, mirip tsundere... tapi
rasanya sedikit menggemaskan.
Namun, jika ceplosanku barusan kembali melukai
perasaan Haruka, aku merasa tidak enak. Aku harus berusaha memperbaikinya
sebaik mungkin.
"Bukannya aku bermaksud begitu...
Maksudku, bagiku sendiri bisa berdempetan dengan gadis manis sepertiku- eh
maksudnya seperti Momomichi-san itu rasanya beruntung..."
"...Eh?"
"Begini ya, aku kan orang yang kurang
beruntung dalam urusan perempuan, semacam manusia latar belakang yang ada di
mana-mana. Jadi kesempatan menempel dengan orang seperti Momomichi-san itu
jarang banget terjadi, makanya aku merasa bersyukur..."
"Gu, begitu ya... Oh..."
"Tentu saja, Momomichi-san mungkin merasa
terganggu sih. Makanya, kurasa alangkah baiknya kalau kita menimpa pengalaman
event yang mirip dengan Akasaka ini sebagai pengganti. Anggap saja insiden
denganku tadi tidak pernah terjadi..."
"..."
Ekspresi Haruka tampak agak rumit. Sambil
menatapku dengan mata setengah terpejam, pipinya merona tipis.
Ada apa? Dia sedang marah sambil malu-malu,
kah? Aku tidak begitu paham.
"Nggak usah melakukan hal seperti itu.
Apaan tuh ditimpa-timpa. Ini bukan game, tahu."
"Ya, hahaha... Be, benar juga ya..."
"Nggak bisa begitu saja dianggap tidak
pernah terjadi, kan? Kalau kamu bilang ingin menghapus ingatanku, aku bisa
bantu lho."
"Hahaha... Hei tunggu, dari mana kamu
mengeluarkan benda mirip palu itu? Tolong jangan menatap wajahku sambil
menggenggam benda yang kelihatan berat itu dengan erat, ya? Hei, jangan!"
"..."
Haruka kembali nyaris jatuh ke mode gelap, dan
aku dengan panik berusaha menenangkannya.
Fiuh, ampun deh. Apakah anak ini punya sifat
dasar yandere? Kurasa di pengaturan karakter game aslinya
tidak ada sifat seperti itu, apa itu semacam hidden setting?
Bagaimanapun juga, syukurlah kami tidak
ketahuan oleh Akasaka dkk, tapi di sisi lain, event agar Akasaka dan Haruka
menjadi lebih akrab jadi terlewatkan.
Kekurangan poin ini harus kututup bagaimanapun
caranya. Haruka sepertinya tidak begitu paham, jadi mau tidak mau aku harus
membantunya.
"...Padahal deg-degan banget tadi,
tapi malah dianggap tidak pernah terjadi... Sebenarnya dia menganggapku apa,
sih..."
...Hmm? Apa kamu barusan bilang sesuatu?
Yah, tidak perlu dijelaskan lagi, aku
hanyalah seorang mob belaka, jadi posisiku di dalam kelas sangatlah rendah.
Yah, jujur saja, satu-satunya yang
mendapatkan penilaian tinggi hanyalah para heroine di dalam game, sementara
sisanya dirasa hanya sebagai pemeran figuran belaka.
Ngomong-ngomong, dalam game aslinya,
penilaian terhadap sang protagonis Akasaka Kouta diatur berada di
tengah-tengah, alias rata-rata.
Dari segi visual, bagaimana pun dilihat
dia adalah cowok tampan, namun pengaturannya menyebutkan bahwa dia berada di
bawah rata-rata orang tampan biasa, memiliki tubuh sedang, nilai akademik
biasa, dan pada dasarnya hanyalah orang biasa yang ada di mana-mana.
Pengaturan itu dibuat agar pemain lebih mudah
merasa terhubung (relate). Padahal jika dia benar-benar ada di dunia nyata, dia
pasti adalah karakter cheat dengan spec tinggi yang bisa berkembang sesuka hati
tergantung cara melatihnya.
Kembali ke topik awal, intinya aku
hanyalah seorang mob.
Fakta bahwa aku mengetahui seluk-beluk
dunia game yang menjadi asal-usul dunia ini rasanya bukanlah hal yang bagus.
Akan lebih baik jika aku bersikap setenang
mungkin agar tidak mencolok dan tetap berada di luar pusat cerita. Aku berniat
untuk selalu berhati-hati agar bisa bersikap seperti itu.
Namun, seolah mengabaikan niatku tersebut,
ada saja orang yang datang mendekatiku.
"Nih, nih, pelajaran tadi itu
melelahkan banget, kan? Susah banget buat nahan supaya nggak ketiduran!"
"I, iya juga ya..."
Orang yang datang tepat di sebelah mejaku,
meletakkan tangan di atas meja, dan membungkuk ke depan sambil mengajak bicara
adalah Akira Shiyodai, si gadis sporty dari klub atletik.
Dengan potongan rambut pendek yang cocok
untuknya, bertubuh cukup tinggi untuk ukuran wanita, serta bagian tubuh yang
menonjol di tempat yang tepat, dia sangat mencolok. Dia sangat populer di
kalangan pria maupun wanita, merupakan pemimpin para gadis dari klub atletik,
dan berada di kasta atas dalam kelas.
Shiyodai menyapaku dengan ceria dan
santai, yang langsung membuatku menjadi pusat perhatian orang-orang satu kelas.
Aku sebenarnya sangat terganggu dengan
situasi seperti ini. Apakah Shiyodai tidak peduli? Mengenai tatapan dan reaksi
dari orang-orang di sekitar.
Setelah memastikan tidak ada orang di
sekitar yang mencuri dengar, Shiyodai berbisik pelan.
"...Soal itu. Um, tentang
Akasaka-kun..."
Ternyata itu topik utamanya ya. Yah, aku sudah
bisa menebaknya sih.
Shiyodai juga merupakan salah satu heroine
sekaligus orang yang menaruh perasaan pada Akasaka Kouta.
Dia juga memiliki rute bad ending, dan jika
gagal mencapai happy ending, dia akan langsung meluncur ke jalur tersebut.
Kurasa kita perlu melakukan penyesuaian agar hal itu tidak terjadi.
"Aku sudah berusaha mengajaknya ngobrol
sebisa mungkin saat jam istirahat... tapi reaksinya kurang begitu memuaskan.
Menurutmu aku harus bagaimana?"
Hei, meskipun kamu bertanya begitu padaku,
seorang yang tidak punya pengalaman asmara, harus kujawab apa?
Tapi yah, aku sudah menamatkan segudang game
simulasi percintaan. Jika game-game itu bertujuan untuk memberikan pengalaman
asmara semu, mungkin aku bisa memberikan saran berdasarkan pengalamanku
menamatkan semua game tersebut.
"Bagaimana kalau kamu melangkah lebih
maju lagi? Apa kamu pernah melakukan sentuhan fisik (body touch) ke
Akasaka?"
"U, umpan, itu agak... Aku takut kalau
dia nanti mengira aku terlalu agresif..."
Shiyodai mengalihkan pandangannya dengan
ekspresi canggung.
Padahal kukira dia adalah tipe gyaru dari klub
olahraga yang blak-blakan dan tegas, tapi ternyata dia cukup sensitif ya.
Meskipun begitu, dia justru malah
mendekatiku secara berlebihan dan sering melakukan kontak fisik. Sebenarnya apa
maksudnya?
"Saraguchi-kun kan, gimana ya,
rasanya lebih gampang diajak ngobrol... dan kamu nggak kelihatan risih waktu
aku colek-colek, kan? Makanya mungkin karena itu."
Logika yang sulit dipahami. Adakah cowok
di dunia ini yang merasa risih jika didekati dengan akrab oleh gadis cantik
sporty seperti Shiyodai? Tentu saja tidak ada.
"Kalau kamu nggak keberatan, lain kali
aku minta konsultasi lagi ya, boleh?"
"Boleh-boleh saja sih..."
"Ahaha, makasih ya! Aku suka sifatmu yang
seperti itu! Oh ya, nama panggilan Saraguchi-kun siapa, ya?"
"Takumi."
"Kalau gitu, boleh panggil 'Takumi-cchi'
nggak?"
"Duh, kalau itu rasanya... aku agak
keberatan."
Meskipun aku tidak memberikan izin, sejak saat
itu Shiyodai mulai memanggilku dengan sebutan 'Takumi-cchi'.
Apaan coba itu. Gaya pergaulan anak geniah
(normie) benar-benar sulit dimengerti...
"Takumi-cchi, punya orang yang disukai
nggak? Kalau ada, mau kubantu comblangin?"
"Nggak ada, tuh. Orang yang paling sering
ngobrol denganku ya cuma Momomichi-san atau Shiyodai-san."
"Eh, aku!? So, soalnya begitu ya... ah,
ahahaha..."
"?"
Aku mendongak dan memiringkan kepala melihat
Shiyodai yang wajahnya merona merah sambil tersenyum canggung.
Reaksi macam apa itu. Sungguh sulit dipahami.
Shiyodai sangat populer, dan kelihatannya disukai oleh siapa saja.
"...Sentuhan fisik ya, akan kucoba.
Makasih ya."
Shiyodai berkata begitu, menepuk pelan bahuku,
lalu beranjak pergi.
Makanya, lakukan itu pada si Akasaka, bukan
padaku!
Di jam istirahat berikutnya, saat aku keluar
kelas dan menuju ruang istirahat di lantai dua gedung khusus,
Setelah membeli kopi kaleng dan duduk di kursi
bangku untuk beristirahat sejenak, tanpa disadari seorang gadis duduk di
sebelahku.
"Wah,
siapa ni? Eh, Roppongi-san..."
"..."
Sudah
kuduga, orang yang ada di sana adalah Saori Roppongi.
Namun, lagi-lagi dia muncul tanpa mengeluarkan
suara sedikit pun. Jangan-jangan anak ini sebenarnya adalah hantu?
"...Tempat di sini sepi jadi rasanya
tenang."
"Be, benar juga ya."
Aku menyetujui gumaman Saori yang terdengar
seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Aku pun tipe orang yang kurang begitu suka
keramaian, jadi aku bisa memahami perasaan Saori.
"Ngomong-ngomong...
tentang Akasaka-kun."
"Ah, ya. Ada perkembangan apa dari waktu
itu?"
Saat aku bertanya, Saori menggelengkan
kepalanya pelan. Berarti tidak ada perkembangan, ya?
"Aku sebenarnya ingin coba
mengajaknya ngobrol, tapi aku nggak bisa menemukan timing yang pas..."
"Begitu ya."
"Dan lagi, harus menyapa dengan
kata-kata apa... aku nggak ngerti."
Meskipun Saori memasang wajah tanpa
ekspresi, dia sepertinya benar-benar kebingungan.
Bagi dirinya yang memiliki kemampuan
komunikasi minim, mengobrol dengan orang lain pasti terasa sulit. Sebagai
sesama tipe orang pendiam, aku sangat paham.
Namun, aku memiliki pengalaman hidup sebagai
pekerja kantoran selama beberapa tahun. Kemampuan komunikasi-ku seharusnya
sudah naik level dibandingkan saat masih SMA dulu.
Sebagai senior dalam hidup, bukankah sudah
kewajibanku untuk membimbingnya?
"Kurasa kamu nggak perlu memikirkannya
terlalu rumit. Sapa saja seadanya, lalu bicarakan soal cuaca atau
semacamnya."
"Soal
cuaca... Halo. Hari ini cerah ya, gitu?"
"Pilihan
kalimatnya agak kaku, tapi ya kurang lebih begitu."
"Ah,
begitu ya, jawabnya paling cuma begitu lalu selesai..."
"Justru
itu tujuannya."
"Eh?"
Aku
memberikan saran kepada Saori yang memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk
membuat suasana jadi meriah. Cukup sapa saja. Kalau itu terus dilanjutkan,
obrolan perlahan-lahan akan terasa lebih natural."
"Begitukah rasanya."
"Begitulah. Nggak usah memikirkan untuk
langsung menaikkan tingkat kesukaan karena itu mustahil. Yang penting kita
jadikan kebiasaan untuk mengobrol secara normal dulu."
"Begitu ya..."
Saori mengangguk seolah-olah paham. Aku
tidak mengatakan hal yang terlalu hebat sih, tapi untuk dirinya, level segitu
sudah cukup.
Mustahil dan tidak mungkin memintanya
langsung menjadi teman begitu saja. Pertama-tama, mulailah dari bisa mengobrol
secara natural.
"Akan aku coba. Kalau cuma sekadar
mengobrol, rasanya aku juga bisa..."
"Semangatlah. Aku mendukungmu, jadi
berjuanglah."
"...Aku bisa mengobrol secara normal
denganmu, jadi rasanya dengan Akasaka-kun pun aku bisa melakukannya."
"Hei, tingkat kesulitan antara aku dan
Akasaka itu jauh berbeda, tahu. Sebaiknya jangan disamakan."
"?"
Saori memiringkan kepalanya dengan bingung.
Meskipun penampilannya dewasa, reaksinya
terkadang tampak kekanakan.
Jika dia benar-benar tidak paham, aku
harus membuatnya mengerti. Repot juga ya mengurusinya.
"Akasaka kan eksistensi yang spesial
bagimu. Jangan menyamakannya dengan mob sepertiku yang menyatu dengan latar
belakang."
"Aku tidak mengerti. Apa maksudnya
latar belakang atau mob?"
"Artinya eksistensi yang tidak
penting dan tidak perlu dipedulikan. Nggak usah dipikirkan terlalu dalam."
"?"
Saori tetap memiringkan kepalanya,
mengerutkan alisnya dengan ekspresi curiga.
Menatap wajahku lekat-lekat dengan mata
jernihnya, ia bergumam pelan.
"Kenapa kamu selalu menjelek-jelekkan
dirimu sendiri? Aku tidak mengerti."
"T, tidak, nggak ada maksud khusus
kok... Aku cuma menyatakan faktanya saja..."
"Aku rasa itu bukan fakta. Kamu dan
Akasaka-kun adalah siswa di kelas yang sama, posisinya seharusnya setara. Tidak mungkin dia berada di atas dan kamu di
bawah."
"Secara teori mungkin memang begitu,
tapi kenyataannya berbeda. Bukankah Roppongi-san sendiri bilang kalau Akasaka
itu spesial?"
Sedihnya, itulah kenyataannya. Akasaka
adalah karakter protagonis yang berada di pusat dunia ini, sementara aku
hanyalah seorang mob yang hanya bisa melihat karakter-karakter utama dari
kejauhan.
Bagi Saori yang merupakan salah satu
heroine, Akasaka adalah karakter penting, tapi keberadaanku adalah eksistensi
tidak penting yang tidak ada bedanya mau ada atau tidak.
Meskipun kami kebetulan mendapat
kesempatan untuk mengobrol, tidak mungkin orang sepertiku bisa memberikan
pengaruh pada Saori, dan memang seharusnya tidak boleh. Batas maksimalnya paling cuma memberikan sedikit saran.
"Akasaka-kun itu spesial. Itu
benar."
"Kan? Makanya, fokus saja pada
dia..."
"Tapi, kamu juga... Saraguchi-kun juga,
adalah eksistensi yang spesial bagiku. Bukan orang yang tidak penting."
"Betul juga, aku juga... Ehhh!?
Tunggu dulu, beda kaliii! Aku kan pengecualian, kan?"
Karena Saori tiba-tiba melontarkan ucapan
aneh, aku pun dibuat terkejut.
Saat aku membantahnya, Saori menggelengkan
kepalanya pelan berulang kali.
"Tidak beda. Kamu adalah eksistensi
yang spesial..."
"T, tapi kan. Aku nggak merasa
seperti itu..."
"Eksistensi yang spesial, berbeda
dari Akasaka-kun. Aku nggak tahu bagaimana cara mengungkapkannya... Teman konsultasi?"
"O, ooh, teman konsultasi ya! Kalau itu
sih rasanya masuk akal."
Mendengar kata yang diucapkan Saori dalam
bentuk tanya, aku merasa sedikit lega.
Begitu ya. Saori adalah anak pendiam, seorang
introvert yang tidak punya teman, jadi tidak heran jika ia menganggap orang
yang bisa diajak mengobrol walaupun sedikit sebagai eksistensi yang spesial.
Mengingat aku sudah memutuskan untuk mengambil
peran memberikan saran agar ia tidak melenceng ke rute bad ending, jadi ya
wajar saja kalau kami menjadi agak akrab.
Akan tetapi, batasi posisiku hanya sebagai
penasihat... aku harus berhati-hati agar kami tidak terlalu dekat.
"Aku akan coba mengangkat topik cuaca ke
Akasaka-kun. Jadi itu langkah pertamanya, ya...?"
"Ya, betul sekali! Kalau kalian terus
membiasakan diri mengobrol, siapa tahu nanti kalian bisa saling panggil dengan
sebutan 'Kou-chan' dan 'Saorin'!"
"Sekiranya... itu tidak mungkin."
Meskipun dia tampak kurang percaya diri,
sepertinya Saori mulai memiliki semangat dengan caranya sendiri.
Untuk saat ini, itu sudah cukup bagus. Selama
Saori tidak terjebak dalam sekte aneh atau berhubungan dengan kelompok sesat,
seharusnya dia tidak akan jatuh ke rute bad ending.
Kurasa dukungan dan kepedulian untuk
masing-masing sub-heroine sejauh ini berjalan cukup lancar.
Namun, itu saja belum cukup. Agar mereka bisa menghindari bad ending, ada satu
dinding besar yang harus dilewati.
Dinding besar itu tidak lain adalah
eksistensi dari heroine utama, Amane Tenshin.
Dibandingkan dengan heroine lainnya, Amane
memiliki spec yang jauh lebih unggul dalam segala hal, menjadikannya heroine
terkuat yang mendapat keistimewaan.
Siapa pun heroine pilihan pemain yang ingin
ditaklukkan, hampir bisa dipastikan Amane akan selalu ikut campur dalam cerita.
Pemain harus berjuang menahan pesona Amane yang memiliki spec luar biasa tinggi
sambil tetap mengincar happy ending dari masing-masing heroine.
Waktu istirahat siang. Aku keluar kelas dan
mengikuti jejak Amane.
Terlepas dari happy ending heroine mana yang
diincar, eksistensi Amane sepertinya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Aku harus memantau pergerakan Amane dan
mencegahnya agar tidak menjadi terlalu akrab dengan Akasaka Kouta lebih dari
yang diperlukan. Kurasa itulah misi yang diberikan kepadaku. Meskipun
sebenarnya tidak ada seorang pun yang memerintahkannya padaku.
Amane Tenshin menaiki tangga dan menuju ke
atap gedung sekolah.
Biasanya, area atap sekolah dilarang dimasuki
dan pintu masuknya dikunci... namun entah kenapa kunci pintunya terbuka, dan
Amane berhasil melangkah keluar ke atap dengan mudah.
Setelah menunggu beberapa menit setelah Amane
keluar ke atap, aku mendekati pintu masuk, memutar kenopnya secara perlahan,
dan sambil berhati-hati agar tidak menimbulkan suara, aku membuka pintu itu
selebar beberapa sentimeter.
Dari celah pintu, aku mengintip situasi di
atap. Di lapangan terbuka yang disinari cahaya matahari yang menyilaukan,
tampak beberapa bayangan orang berseliweran.
Di antara mereka, bukan hanya Amane Tenshin...
tapi juga sang protagonis kita, Akasaka Kouta, berada di sana.
Mungkin karena area tersebut dilarang
dimasuki, hanya ada beberapa siswa di atap.
Akasaka dan Amane duduk di pinggiran atap
dengan membelakangi pagar pembatas jatuh, duduk berdampingan dengan akrab
seolah hendak menyantap bento bersama.
Hei-hei, yang benar saja. Apakah mereka sudah
menjadi begitu akrab hingga makan siang berdua saja?
Aku sempat berpikir bahwa situasi ini
benar-benar tanpa harapan bagi heroine lainnya, tetapi aku segera menyadari
bahwa tidak demikian.
Dalam game aslinya, event di mana protagonis
dan Amane makan bento di atap memang ada.
Namun, ini seharusnya menjadi event yang
selalu terjadi terlepas dari rute heroine mana yang sedang kamu taklukkan.
Singkatnya, ini adalah salah satu event umum (common event).
Hanya karena event ini terjadi, bukan berarti
kamu akan masuk ke rute khusus Amane, dan bukan berarti kamu tidak bisa
menaklukkan heroine lainnya.
Dengan kata lain, ini adalah event yang tidak
masalah jika diabaikan. Meskipun ini adalah obrolan dalam game, dan belum tentu
perlakuan di dunia nyata akan sama persis.
Aku mengikutinya karena ingin mendapatkan
informasi tentang Amane... tapi sepertinya aku tidak akan mendapatkan informasi
yang berarti.
Mau bagaimana lagi, sebaiknya aku kembali
saja. Menyaksikan waktu makan siang penuh kemesraan para normie (yang chii)
hanya akan memunculkan niat membunuhku saja.
Aku menutup pintu, memutar arah, dan berniat
meninggalkan tempat itu, ketika aku berpasangan dengan seseorang yang sedang
menaiki tangga.
"Ah, Saraguchi-kun. Kamu di sini
rupanya."
"!? "
Orang yang menyapaku dengan senyuman manis
adalah Haruka Momomichi.
Seperti biasa, dia melemparkan senyuman lembut
yang tidak perlu. Kurasa, ada cukup banyak siswa laki-laki yang hatinya
tertembus oleh senyuman itu dan akhirnya menjadi fans Haruka.
Bahkan aku, seorang mantan pekerja kantoran
yang mengetahui pengaturan game ini dan pengaturan Haruka, hampir goyah oleh
senyuman polosnya.
Itu adalah serangan spesial yang
mengabaikan pertahanan (defense-ignore). Yang mengerikan adalah dia sepertinya
tidak menyadarinya sama sekali.
"Mau makan siang di atap? Cuacanya
bagus lho."
"..."
Di hadapan Haruka yang tersenyum ceria,
aku mengeluarkan keringat dingin.
Akasaka dan Amane ada di atap. Jika Haruka
melihat pemandangan kedua orang itu duduk berdampingan dengan akrab menikmati
makan siang... apakah dia bisa mempertahankan ketenangannya?
Haruskah aku mencegah Haruka pergi ke atap?
Aku tidak tahu apakah itu keputusan yang benar, tapi...
"Ah, di atap mungkin kurang bagus,
deh? Anginnya kencang, debunya berterbangan di mana-mana! Sebaiknya jangan ke
sana."
"Eh, begitu ya? Padahal cuacanya lagi
bagus dan nggak ada angin, hari yang paling pas buat piknik di luar ruangan,
kata ramalan cuaca lho..."
Cih, yang benar saja. Sialan kau ramalan
cuaca, pakai ikut campur segala...
"Biar kulihat sebentar ya."
"Ah."
Menyelip lewat tepat di sebelahku, Haruka
mendekati pintu keluar ke atap.
Ia membuka pintu, mengedarkan pandangan ke
situasi di atap, lalu menutupnya kembali.
"Mata salah lihat kali ya. Kayelnya tadi
Akasaka-kun dan Tenshin-san duduk berdampingan dengan akrab sambil makan
bento..."
"O, oh, begitu ya? Aku nggak
nyadar..."
Gawat, jangan-jangan Haruka akan masuk ke mode
gelap lagi... Kalau dia sampai mengeluarkan senjata tajam dan mengamuk, gawat
urusannya.
Haruka tampak merengut, tapi ia segera
menghela napas dan memberitahuku.
"Atapnya mungkin terlalu terang dan
nggak bagus. Kita makan di sini saja, ya?"
"Eh?
A, ah, benar juga."
Eh,
dia tidak ngamuk? Agak di luar dugaan ya.
Di
dekat pintu keluar menuju atap, terdapat ruang yang lumayan luas.
Atas dorongan Haruka, kami duduk
berdampingan di dekat dinding. Mengingat akan gawat rasanya kalau terlalu
menempel, aku menjaga jarak sekitar 50 sentimeter untuk sementara waktu.
Omong-omong, aku membawa kantong plastik
berisi roti dan minuman yang kubeli di koperasi sekolah sebelumnya. Haruka membawa bungkusan yang tampak seperti bento.
"Saraguchi-kun, hari ini makan roti
ya."
"Ya. Lagi ingin suasana itu aja."
"Hmm."
Bukannya ingin suasana sih, karena tadinya
berniat menguntit Amane, jadi aku menyiapkan roti agar bisa dimakan di mana
saja.
Aku mengambil special burger—roti惣菜 (souzai-pan) mewah—dari dalam kantong
plastik, melepas plastik pembungkusnya, lalu membawanya ke mulut.
Meskipun dinamakan burger, bentuknya mirip hot
dog, dengan roti koppe-pan kecil yang diberi irisan vertikal, berisi kubis dan
dagingハンバーグ (hamburg) di
dalamnya.
Rotinya lembut, dengan isian daging dan kubis
yang melimpah hingga nyaris tumpah keluar, volumenya benar-benar luar biasa.
Disiram dengan saus tomat dan saus mustard, rasanya perpaduan manis dan asin
yang pas. Aku mendengarnya sebagai menu populer jadi mencobanya, dan ini
benar-benar pilihan yang sangat tepat.
Haruka membuka bungkusan di atas pangkuannya
dan membuka kotak bentonya.
Di dalam kotak bento yang agak kecil itu, lauk
dan nasi tersusun sangat padat. Ada ayam
karaage, bakso, telur dadar, serta nasi dengan taburan furikake.
"Momomichi-san,
hari ini bawa bento ya."
"U,
um."
"Bikin
sendiri?"
"U,
um, kira-kira begitu..."
Itu
luar biasa. Orang yang bisa memasak, baik pria maupun wanita, patut dihormati.
Poin plus yang besar.
Jika
dia pandai memasak, itu mungkin bisa dimanfaatkan untuk menaklukkan Akasaka.
Yah, kalau tiba-tiba membawakan bento di tahap sekarang mungkin tidak akan
mempan, tapi kalau sudah sedikit lebih akrab, seharusnya bisa.
"Wah, itu bagus. Rasanya bisa
dimanfaatkan..."
"A, anu, ini bukan masakan yang hebat
banget kok? Nggak bisa dibilang jago masak juga..."
"Kelihatannya sudah dibuat dengan
sangat baik. Aku jadi pengen dimasakin juga."
"Eh? I, itu maksudnya, gimana..."
Aku mendorong special burger ke dalam mulut,
mengunyahnya dengan terburu-buru, lalu menelannya. Menenggak habis kopi susu
kemasan karton dalam sekali teguk, aku menyelesaikan makan siang dan bangkit
berdiri.
"Kalau begitu, aku duluan."
"Eh? Ke, kenapa buru-buru banget..."
Aku menjelaskan kepada Haruka yang tampak
kebingungan tidak mengerti.
"Kalau kita berlama-lama, orang-orang di
atap itu nanti keluar, kan. Gawat kalau sampai ketahuan kita berdua makan
bareng. Nanti bisa salah paham, kan repot."
"Ya, mungkin juga sih..."
"Yang paling gawat itu kalau sampai
terlihat oleh Akasaka dan Tenshin. Hal itu harus dihindari."
"Hah."
"Makanya, aku cabut duluan. Ya sudah,
begitu ya."
"..."
Mendapati Haruka yang merengut dan
menatapku tajam, aku terperanjat kaget.
Jangan-jangan, aku membuatnya marah lagi?
Padahal tidak ada hal yang seharusnya membuatnya marah...
"Kamu terlalu memikirkannya, tahu.
Memangnya perlu separah itu mengkhawatirkan pandangan orang?"
"Yah, tapi kan. Kita harus menghindari
hal-hal yang berpotensi menjadi poin minus semaksimal mungkin."
"Maksudmu... kamu benci disangka punya
hubungan dekat denganku, gitu?"
"Eh?"
Ditatap dengan tatapan menuntut dan penuh
tuduhan oleh Haruka, aku pun mengeluarkan keringat dingin.
Kenapa jadi ke arah situ. Aku hanya ingin
menyingkirkan elemen negatif agar penilaian orang terhadap Haruka maupun
tingkat kesukaan Akasaka tidak turun.
...Kalau dibiarkan salah paham, nanti malah
jadi urusan panjang. Sebaiknya aku beralasan sedikit.
"Bukan berarti benci, lah. Jangan salah
paham."
"Hee, tapi..."
"Mana mungkin aku tidak senang bisa
akrab dengan gadis manis sepertimu."
"Fueh!? La, lagi-lagi bilang hal yang
nggak dari lubuk hati seperti 'manis'..."
"Itu fakta kok, bukan pujian basa-basi.
Siapa pun yang bilang kamu tidak manis, pasti penglihatannya bermasalah banget
atau kepribadiannya bengkok."
"Uu..."
Telinga Haruka memerah hingga ke pangkal, dan
ia terdiam. Dia terus bergumam "uuu", tapi sepertinya dia sudah tidak
marah lagi.
Untuk saat ini, aman. Tidak harus sampai harus
pacaran dengan Haruka sih, tapi dibenci olehnya adalah hal yang gawat. Nanti
saranku tidak akan didengarkan lagi.
Lagian, disebalkan oleh gadis sebaik dan
secantik ini rasanya tidak mengenakkan. Mumpung ada kesempatan, lebih baik
berteman baik saja.
"Aku mengerti. Kalau begitu..."
"Momomichi-san?"
Di sana, entah apa yang dipikirkannya, Haruka
mulai melahap sisa bentonya dengan kecepatan luar biasa.
Memasukkannya penuh ke dalam mulut,
mengunyahnya, lalu menelannya. Kelihatan sangat tersiksa sampai matanya
berkaca-kaca.
"Mo, Momomichi-san? Ada apa
tiba-tiba?"
"Aku juga mau menyudahi makan siang dan
pergi dari sini. Kalau kita berdua pergi bersama kan tidak
masalah, kan?"
"T, tapi, itu... bagaimana ya."
"Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi
selesai makannya. Hagu... mugu...!"
"H, hei, jangan memaksakan diri! Nggak usah terburu-buru begitu!"
"Mugugu...!"
Seharusnya Haruka bukanlah tipe orang yang
hobi makan banyak atau makan dengan cepat. Jangan berlebihan begitu.
Aku berusaha menenangkan Haruka yang
kembali memasukkan makanan terlalu banyak ke mulut sambil mengunyah dengan
ekspresi tersiksa.
Sama seperti mode gelapnya tadi, anak ini suka
lepas kendali kalau bertindak. Terlalu mengkhawatirkan sampai tidak sanggup
melihatnya.
Aku harus membantunya... selama masih dalam
batas wajar dan menjaga posisiku sebagai mob.
Waktu istirahat setelah pelajaran jam kelima
berakhir.
Menyadari Amane Tenshin keluar dari kelas, aku
bangkit dari kursi.
Keluar ke koridor, aku mengikuti jejak Amane.
Pada jam istirahat, Amane sering mengobrol
dengan Akasaka Kouta, dan jika tidak sedang mengobrol dengan Akasaka, dia
berbicara dengan para siswi dari kelas yang sama.
Di sekelilingnya yang ceria dan populer,
selalu dipenuhi oleh kerumunan orang.
Sangat jarang melihat Amane bertindak
seorang diri. Kira-kira apa yang akan dia lakukan, dan hendak pergi ke mana?
Mungkin dia hanya ingin pergi ke toilet,
tapi demi berjaga-jaga aku harus memastikannya.
Bukan berarti aku penasaran kapan Amane pergi
ke toilet, lho? Aku hanya ingin memahami pola tindakan Amane.
Amane adalah heroine utama dengan pengaturan
sebagai gadis cantik yang sempurna, tapi itu adalah cerita di dalam dunia game.
Di dunia saat ini, sepertinya tidak semuanya
persis sama seperti di game, dan Amane pastinya adalah manusia berdaging dan
berdarah.
Tidak aneh jika dia memiliki kebiasaan aneh
atau kelemahan tertentu. Tidak, itu pasti ada.
Jika aku bisa mengetahui hal-hal tersebut, aku
mungkin bisa membalikkan keunggulan mutlak Amane dan membawa situasi ke arah
yang menguntungkan bagi heroine lainnya.
Yah, belum tentu juga semuanya bisa berjalan
selancar itu... tapi bagaimanapun juga, informasi itu diperlukan. Mari selidiki
sebanyak yang kubisa.
Amane berjalan menyusuri koridor dengan
langkah anggun sambil mengibaskan rambut panjangnya. Aku menjaga jarak sekitar
lima atau enam meter di belakangnya dan mengikutinya.
Di koridor pada jam istirahat, terdapat cukup
banyak siswa yang berkumpul. Kalau ini game, mereka semua mungkin diperlakukan
sebagai latar belakang atau model CG dengan beberapa variasi. Dan aku juga
salah satu dari mereka.
Namun, karena tempat ini adalah dunia nyata,
bahkan para siswa figuran pun memiliki wajah dan bentuk tubuh yang
berbeda-beda.
Meskipun para figuran ini memiliki keunikan
yang tidak berguna seperti itu, begitu Amane lewat, baik pria maupun wanita
langsung tersentak dan memperhatikannya.
Yah, wajar saja sih. Mengingat penampilannya
yang begitu cantik. Rasanya seperti ada serbuk semacam sisik peri yang
menyelimutinya hingga tampak berkilau-kilau, tapi apakah itu halusinasi,
ataukah efek khusus yang hanya diizinkan untuk heroine utama?
Saat Amane lewat, para siswa figuran langsung
tertegun memperhatikannya dan buru-buru membukakan jalan.
Mungkin mereka sudah terpatri di level
insting untuk tidak menghalangi jalan sang heroine utama. Kalau dipikir-pikir,
itu sedikit menyeramkan.
Sebenarnya Amane mau pergi ke mana? Dia sudah melewati toilet, lho.
Dia terus berjalan menyusuri koridor, melewati
jembatan penghubung menuju gedung khusus. Menuruni tangga gedung khusus, menuju
ke lantai satu.
Eh, rute ini jangan-jangan... mau pergi ke
tempat itu?
Berhati-hati agar tidak ketahuan, aku
mengikuti Amane menuruni tangga.
Setelah turun ke lantai satu dan mengedarkan
pandangan, seperti dugaanku, Amane berjalan menuju koperasi sekolah.
Apaan, mau belanja di koperasi? Apakah isi
pensil mekaniknya habis? Atau mau beli jus di mesin penjual otomatis?
Benar-benar membosankan... kuharap ada event
menarik yang terjadi.
Untuk berjaga-jaga, mari kita pastikan apa
yang dia beli. Walaupun di koperasi sepertinya tidak menjual barang yang
terlalu menarik...
"Tolong ya."
Amane berdiri di depan konter koperasi dan
memesan sesuatu kepada bibi penjaga toko.
Aku mendekati mesin penjual otomatis yang
berada agak jauh dari konter, berpura-pura memilih minuman sambil melirik ke
arah Amane dari ekor mataku.
Melihat bibi penjaga toko mengeluarkan
special burger sisa yang belum terjual ke atas konter, aku terperanjat
kaget.Special burger yang sangat populer itu, rupanya masih ada sisa? Rasanya enak, jadi mungkin aku harus beli satu untuk camilan nanti.
"Special
burger-nya masih sisa tiga ya. Tolong ambil semuanya!"
"!?
"
Membeli
semua sisa yang ada? Jangan-jangan Amane juga penggemar berat makanan itu? Selera makanan kami mungkin cocok.
Namun, belanjaan Amane tidak berhenti sampai
di situ saja.
"Terus, chocochip melonpan, bacon egg
pan, deka danish choco, cream anpan, tuna tamago sandwich, marugoto sausage,
marugoto menchi-katsu, corn-たっぷり mayonnaise pan juga... ah, choco cornet juga!"
Melihat Amane memesan roti sisa secara
berturut-turut, aku pun terkejut.
Anak itu, apa dia berniat memborong hampir
seluruh sisa roti yang ada? Koperasi sekolah mungkin senang, tapi mau diapaki
roti sebanyak itu? Untuk sarapan setiap pagi?
"Makasih selalu ya. Tapi, memangnya kamu
bisa makan sebanyak ini?"
"Mau kubagi-bagikan ke teman-teman
buat dimakan bareng-bareng kok! Nggak mungkin habis dimakan sendiri-sendiri, ya
kan!"
Begitukah. Dia membelinya sampai untuk
dibagikan ke teman-temannya rupanya. Dermawan juga ya.
Namun, kalau begitu keadaannya, bisakah
aku minta dibagikan juga? Aku ingin meminta satu atau dua special burger. Tentu saja, aku
akan membayar harganya dengan benar.
Sambil menenteng kantong plastik yang
padat berisi roti borongan, Amane keluar dari koperasi.
Aku mengikuti di belakang Amane, mencari
waktu yang tepat untuk menyapanya.
Aku dan Amane hampir tidak punya kenalan satu
sama lain. Hanya sebatas sesama siswa di kelas yang sama, dan kami belum pernah
mengobrol dengan benar sekali pun sebelumnya.
Dia pasti akan terkejut jika orang seperti aku
tiba-tiba menyapanya. Sebaiknya aku mendekatinya senatural mungkin dengan kesan
yang ramah, ya.
Mengikuti Amane yang menaiki tangga gedung
khusus. Sambil menaiki tangga, dia mengeluarkan suara gemerisik dan berisik,
sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?
Melihat Amane berhenti di bordes tangga, aku
ikut menghentikan langkahku di tengah tangga.Haguhagu...
"!? "
Berbalik badan dan menyandarkan punggungnya
pada pagar pembatas jendela di bordes tangga, Amane sedang melahap special
burger. Apakah dia sedemikian kelaparan?
Mengunyah special burger dengan lahap lalu
menelannya, dia mengeluarkan special burger kedua dari kantong plastik, dan
langsung memakannya juga.
Tunggu, melahap dua burger bervolume besar
sekaligus? Nafsu makannya luar biasa... eh, dia
mengeluarkan satu lagi!
"Ah..."
"!? "
Karena berencana meminta bagian special
burger, aku tak sengaja mengeluarkan suara.
Amane tersentak kaget dan mengarahkan
pandangannya ke arahku yang berada di bawah tangga. Pandangan kami langsung
beradu dengan sempurna.
"Ya, halo..."
"..."
Mau tidak mau aku menaiki tangga dan
menyapanya dengan wajah seolah-olah tidak melihat apa-apa.
Amane menatapku lekat-lekat sambil membuka
bungkus special burger terakhirnya, lalu menggigitnya.
"Hei, kamu nggak berhenti makan,
ya!?"Haguhagu...
Gawat, aku tak sengaja berkomentar.
Padahal niatku tadinya mau lewat begitu saja seolah tidak tahu apa-apa.
Amane menghabiskan burgernya dengan
kecepatan luar biasa, lalu menghembuskan napas—fuuuh.
"Anu, orang dari kelas yang sama, kan?
Kalau tidak salah... sawa... Sawarara-kun?"
"Raranya kelebihan, Saraguchi."
"Ah benar, Saraguchi-kun ya. Kamu lihat
tadi? Waktu aku lagi makan."
"Ah, yah..."
Bohong bilang tidak melihat pun rasanya tidak
masuk akal. Mau tidak mau aku harus mengangguk.
"Karena kamu sudah melihatnya...
kubasmi!"
"Eeeh!?"
"Cuma bercanda, kok! Mana mungkin aku
membasmi orang hanya karena melihatku sedang makan roti? Ahahaha!"
"Ya, hahaha..."
Huh, cuma bercanda toh. Syukurlah. Meskipun
sempat kurasakan ada niat membunuh sungguhan selama sedetik tadi.
"Kamu tidak makan siang?"
Seharusnya dia makan bersama Akasaka di atap
tadi, jadi aku sekadar menanyakannya untuk berjaga-jaga.
Mendengar itu, Amane menggelengkan
kepalanya pelan dan menjawab.
"Enggak, aku makan kok. Cuma,
'efisiensi bahan bakar' tubuhku ini agak buruk..."
"Efisiensi bahan bakar?"
"Kalau aku bergerak sedikit saja,
langsung lapar. Makan bento saja tidak cukup..."
"..."
Begitu ya. Seharusnya di game aslinya tidak
ada pengaturan semacam itu, tapi ini penemuan kelemahan yang tak terduga.
Sebagai gadis cantik sempurna dengan spec
tinggi, apakah konsumsi energinya sangat besar? Ibarat mobil sport bertenaga besar yang boros bahan bakar...
"Rasanya kayak karakter tukang makan,
tidak keren ya. Duh, malah ketahuan bagian yang aneh..."
Merasa malu karena hobi banyak makannya
ketahuan, Amane menunduk dengan bayangan suram di wajahnya. Berbeda jauh dari
keceriannya biasanya, ekspresinya tampak sangat muram.
Entahlah ya. Haruka juga sih, tapi tidak
usah merasa sedih hanya karena hal sepele begitu.
"Menurutku tidak apa-apa kok."
"Eh?"
"Hal seperti itu kan bukan poin minus.
Justru itu sisi tak terduga dari seorang gadis cantik sempurna, jadi malah jadi
poin plus, bukan?"
"Eeh? Be, begitu ya?"
Meskipun mungkin tidak perlu sampai ikut
campur menghibur Amane, tapi aku menyampaikan pendapatku sekadarnya.
"Ah, tapi, tolong rahasiakan ya! Malu
juga rasanya..."
"Ya, aku mengerti. Tidak akan kukatakan
pada siapa-siapa."
"Janji ya? Kalau kamu sampai
membocorkannya ke orang lain, mungkin kubasmi lho—"
"Me-menyeramkan."
"Tentu saja cuma bercanda?"
Meskipun aku berhasil mengetahui sisi tak
terduga dari Amane, tapi...
Apakah hal ini benar-benar bisa menjadi poin
plus bagi seseorang?
Untuk saat ini, aku belum bisa
memastikannya...


Post a Comment