Chapter 3
Karyawisata
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita akan
menentukan kelompok untuk Karyawisata berikutnya—!"
Mendengar perkataan wali kelas kami, Pak
Suzuki, yang berdiri di atas podium, antusiasme di dalam kelas langsung
meningkat seketika.
Di SMA ini, ada tradisi tahunan di mana para
siswa kelas satu selalu pergi Karyawisata. Oleh karena itu, kami yang merupakan
siswa kelas satu pun tidak terkecuali dan akan pergi Karyawisata.
Isinya adalah perjalanan naik bus ke gunung
terdekat, berjalan-jalan di jalur hiking yang ada di sana, makan bento di
lapangan terbuka, lalu selesai—Karyawisata yang benar-benar biasa.
Meskipun begitu, seisi kelas menjadi sangat
bersemangat hanya untuk acara Karyawisata biasa seperti itu.
Tentu saja alasannya tidak lain dan tidak
bukan adalah karena di kelas ini ada Saegusa-san.
Semua orang menyalakan tekad mereka untuk bisa
satu kelompok dengan Shiorin, sang idol super.
Meskipun begitu, karena di kelas ini juga ada
gadis-gadis cantik selain Saegusa-san, kurasa kemeriahan ini bukan hanya
terpusat pada Saegusa-san seorang.
"Nah, silakan buat pasangan pria dan
wanita... lalu gabungkan dua pasangan untuk membentuk kelompok berempat
ya—"
Begitu Pak Suzuki mengumumkannya, suasana
kelas langsung gempar membahas siapa yang akan dipasangkan dengan siapa.
"Takuya, yuk gabung!"
"Yo, mohon bantuannya."
Namun, keriuhan kelas seperti itu tidak ada
hubungannya denganku. Seperti biasa, aku dan Takayuki langsung berpasangan
sejak awal, jadi aku tidak perlu pusing memikirkan masalah "siapa pasangan
dengan siapa" yang sedang melanda seisi kelas.
Di saat seperti ini, memiliki teman yang bisa
langsung diajak berpasangan sungguh sangat membantu.
Meskipun aku sendiri biasa saja, Takayuki yang
sebenarnya akrab dengan semua orang di kelas justru memilihku terlebih dahulu. Dia benar-benar orang yang hangat, dan sikap jantan
seperti itulah yang membuatnya terlihat sangat keren.
Kira-kira kalau aku seorang cewek, aku pasti
sudah naksir!
"Saegusa-san, kalau boleh, mau nggak
gabung sama kita?"
Sekelompok siswi mengerubungi meja Saegusa-san,
yang tampak sama sekali tidak tertarik dengan penentuan pasangan dan hanya
duduk diam di kursinya.
Karena kursinya hanya ada satu, para gadis
yang ingin berpasangan dengan Saegusa-san itu mati-matian melakukan self-appeal
agar bisa dipilih.
Bukan hanya para cowok, Angel Girls juga
sangat populer di kalangan cewek. Mengingat ada kesempatan emas yang berada di
depan mata untuk berKaryawisata bersama idol pemujaan mereka, wajar saja kalau
para siswi itu merasa begitu gigih.
Yah, jadi wajar saja kalau mereka berusaha
mati-matian.
Tapi, tolonglah—situasi di mana pantat seorang
cewek berada tepat di samping kepalaku hari ini sungguh membuatku merasa tidak
nyaman, jadi aku ingin mereka segera melakukan sesuatu...
"Terima kasih semuanya sudah mengajakku!
Tapi maaf ya, aku sudah punya kelompok sendiri kok."
Sambil meminta maaf dengan ekspresi menyesal
kepada para siswi yang mengerubunginya.
Mendengar jawaban itu, seisi kelas—terutama
para cowok—langsung memusatkan perhatian, penasaran dengan siapa Saegusa-san
akan berpasangan.
"Shimizu-san, boleh kan?"
Lalu, Saegusa-san menoleh ke arah
Shimizu-san—yang juga duduk di kursinya tanpa ikut campur dalam penentuan
pasangan—sambil tersenyum manis dan menyapanya.
Mendengar itu, Shimizu-san tampak kebingungan
sebelum akhirnya membalas dengan suara pelan, "U-umn, mohon
bantuannya."
Aku sebenarnya tidak begitu mengingat momen
saat Saegusa-san dan Shimizu-san berbicara, tapi karena mereka berdua duduk
berurutan di depan dan belakang berdasarkan nomor absen, mungkin mereka sempat
berinteraksi di tempat yang tidak kulihat.
Karena pasangan Saegusa-san sudah ditentukan,
para gadis yang tadinya ingin bergabung langsung menyerah dan meninggalkan meja
Saegusa-san dengan perasaan kecewa. Sementara itu, Shimizu-san berjalan
menghampiri meja Saegusa-san dengan langkah kikuk karena merasa tidak enak.
Berbicara soal Shimizu-san, dia adalah seorang
gadis imut berambut hitam legam dengan potongan hime cut, kulit putih bersih,
dan bertubuh mungil.
Bisa dibilang, selain Saegusa-san, dia
sebenarnya terkenal sebagai salah satu gadis paling cantik di sekolah ini,
dengan basis penggemar yang cukup fanatik, terutama di kalangan para otaku.
Karena dua gadis tercantik di kelas—Saegusa-san
dan Shimizu-san—bergabung menjadi satu pasangan, tatapan mata para cowok
langsung berubah drastis secara terang-terangan.
"Pasangannya sih sudah beres, tapi
bingung juga gimana cara nentuin kelompoknya ya."
Namun, Takayuki yang tidak terlalu tertarik
dengan hal semacam itu bergumam dengan ekspresi bingung, memikirkan kelompok
mana yang sebaiknya mereka ajak bergabung.
Aku pun merasakan hal yang sama, dibuat pusing
memikirkan apa yang harus kami lakukan selanjutnya.
—Melirik.
"Iya juga ya, yang lain juga pasti
bingung mau gabung ke mana."
Saat aku mengedarkan pandangan ke sekitar,
sepertinya baru ada satu atau dua kelompok saja yang sudah terbentuk.
Baik cowok maupun cewek sepertinya masih
saling mengamati pasangan siapa yang akan bergabung dengan siapa.
—Melirik-lirik.
"......Ah, benar juga ya."
—Melirik, melirik, melirik.
"......Ah, begitulah..."
Sambil menjawab, aku bertukar pandang
dengan Takayuki.
(Bagaimana nih?)
(Takuya, urusan ini serahkan padaku.)
(......Baiklah.)
Setelah bertukar komunikasi diam-diam hanya
lewat tatapan mata dengan Takayuki, aku menghela napas dalam-dalam.
Kemudian, aku menoleh ke arah si gadis di
sebelah yang dari tadi terus melirik ke arah kami, lalu membulatkan tekad untuk
menyapanya.
"......Um, Saegusa-san? Kalau tidak
keberatan, maukah kamu bergabung dengan kelompok kita?"
Mendengar ajakanku, wajah Saegusa-san langsung
merekah cerah bagaikan sekuntum bunga yang baru mekar penuh!
"Boleh?! Mohon bantuannya ya!!"
Tanpa pikir panjang, Saegusa-san langsung
menerima ajakanku.
Shimizu-san yang duduk di sebelahnya pun
mengikuti Saegusa-san, membungkuk hormat dengan wajah yang memerah padam sambil
berkata, "M-mohon bantuannya!"
"Yo, kalau begitu mohon bantuannya juga!
Oke, kalau begini, kelompok kita fix berempat ya!"
Takayuki tersenyum lebar dan mengumumkannya
dengan suara yang agak kencang, membuat seisi kelas langsung tahu bahwa
pasangan Saegusa-san telah ditentukan. Akibatnya, para cowok yang tersisa
langsung memasang ekspresi kecewa yang amat sangat.
—Maaf ya kawan-kawan, tekanan auranya tadi
benar-benar luar biasa... luar biasa banget...
Begitulah, aku akhirnya berhasil membiarkan
diri diseret masuk... ah, maksudnya bergabung ke dalam kelompok yang sama
dengan Saegusa-san.
***
Hari Karyawisata pun tiba.
Karena hari ini kami akan banyak menggerakkan
tubuh sepanjang hari, kami para siswa kelas satu datang ke sekolah mengenakan
pakaian olahraga sejak pagi.
Setibanya di sekolah, beberapa bus khusus Karyawisata
telah terparkir di area parkir, dan para siswa yang baru datang mulai naik ke
bus kelas masing-masing.
Urutan tempat duduk di dalam bus telah
ditentukan per kelompok sebelumnya, jadi aku pun masuk ke dalam bus dan menuju
ke kursi kelompok kami, namun... tidak ada tempat duduk untukku di sana.
Kenapa tidak ada? Karena sejak pagi, anak-anak
sekelas mengerubungi sekitar kursi tersebut untuk mengobrol dan menghabiskan
waktu bersama Saegusa-san.
Yah, aku sendiri bukanlah orang berhati
sempit, jadi aku tidak begitu mempermasalahkan hal sepele seperti itu.
Hanya saja, masalahnya adalah aku tidak punya
tempat untuk menunggu sampai kursinya kosong.
"S-selamat pagi, Ichijo-kun."
Seseorang menyapaku dengan suara pelan dari
kursi sebelah, menyelamatkanku yang sedang kebingungan.
Di sana, Shimizu-san duduk seorang diri dengan
postur kaku, tampak merasa tidak nyaman.
—Oh begitu, Shimizu-san ternyata bernasib sama
sepertiku.
Sepertinya Shimizu-san memutuskan untuk duduk
di kursi itu sambil mengawasi keadaan agar bisa langsung kembali begitu
kerumunan di sekitar Saegusa-san membubarkan diri.
"Mau bagaimana lagi, kita cuma bisa
menunggu mereka bubar ya."
Sambil menghela napas pasrah, aku meminta
izin, "Boleh aku duduk di sebelahmu?", lalu duduk di samping
Shimizu-san.
Dan begitu duduk, aku baru sadar.Kenapa aku
malah duduk santai di sebelah anak cewek begini.
Begitu kesadaran itu muncul, situasi ini
mendadak terasa sangat memalukan.
Sepertinya Shimizu-san juga merasakan hal yang
sama; dia menunduk dengan wajah memerah, tampak sangat gelisah.
"A-m-maaf! Kamu pasti risih kan?!"
"T-tidak, tidak apa-apa kok."
Aku sempat berniat langsung berdiri dan pergi
karena merasa bodoh, tapi Shimizu-san menarik pelan ujung pakaianku sambil
menatapku dengan malu-malu dan berkata bahwa dia tidak keberatan.
Mengingat Shimizu-san adalah gadis tercantik
nomor dua di kelas—atau bahkan di angkatan ini—setelah Saegusa-san, pemandangan
itu jujur saja terasa begitu menggemaskan hingga hampir mirip seperti sebuah
kecurangan.
"Maaf ya semuanya! Shimizu-san sama
Ichijo-kun jadi nggak bisa duduk nih, boleh tolong kosongkan kursinya
sebentar?"
Saat aku dan Shimizu-san sedang kaku saling
bertatapan, Saegusa-san tiba-tiba bersuara agak keras untuk memotong obrolan
mereka. Berkat itu, kerumunan orang yang memenuhi sekitar kursi kami sejak tadi
langsung membubarkan diri dalam sekejap.
"Maaf ya kalian berdua, sekarang sudah
bisa duduk kok."
Begitu orang-orang di sekitarnya pergi, Saegusa-san
berbalik dan menyapa kami dengan senyuman manis, meski senyuman itu menyiratkan
kepanikan samar dan rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan.
Hari ini pun Saegusa-san secara diam-diam
kembali menunjukkan sifat挙動不審 (mencurigakan)-nya tanpa disadari oleh orang lain.
"Hampir aja! Nyaris telat tadi!"
Takayuki yang naik ke bus tepat di detik-detik
terakhir sebelum berangkat berjalan menghampiri kursiku sambil terengah-engah,
lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sebelahku.
"Kukira kamu nggak bakal datang, aku
sempat khawatir tahu."
"Sori-sori, beneran ketiduran
tadi!"
Sambil tertawa dan mengibas-ngibaskan
bajunya untuk meredakan gerah, Takayuki tetap memancarkan aura wild ikemen yang
maksimal hari ini.
Sudah lumayan lama sejak kami sekelas, tapi
popularitas Takayuki di kalangan para siswi memang sangat tinggi. Aku bahkan
bisa melihat beberapa siswi di belakang melirik ke arahnya secara diam-diam
saat dia sedang mengibaskan bajunya tadi.
Sambil membatin bahwa dia memang cowok yang
memesona seperti biasa, aku mengalihkan pandangan ke kursi barisan belakang. Di
sana, aku melihat Shimizu-san yang wajahnya sedikit memerah, serta Saegusa-san
yang menyipitkan mata dengan ekspresi cemberut entah kenapa.
—Tunggu, kalau Shimizu-san wajar, tapi
ekspresi macam apa yang dipasang Saegusa-san itu?!
Jangan-jangan Saegusa-san menatap Takayuki
dengan tatapan seperti itu juga? Pikirku, tapi sayangnya pandangan Saegusa-san
sama sekali tidak mengarah ke Takayuki.
Lalu, sedang melihat ke arah mana dia
sebenarnya? Jawabannya adalah, Saegusa-san justru sedang bertatapan mata secara
langsung denganku.Ehm? Ini apa-an maksudnya?
Saegusa-san terus menatapku tajam dengan mata
yang menyipit.
Aku sama sekali tidak mengerti apa tujuannya
berbuat begitu, tapi ekspresi itu jelas bukan menunjukkan emosi yang baik, jadi
aku memutuskan untuk membalas tatapannya sambil tertawa canggung,
"Ha-ha-ha," dan melambaikan tangan kecil padanya.
—Jurus pamungkas: Tertawa dan pura-pura tidak
tahu!
Kupikir trik semacam itu tidak akan mempan,
tapi entah kenapa Saegusa-san langsung mengubah ekspresinya menjadi senyuman
cerah dan melambaikan tangan balik kepadaku dengan gembira.
Meskipun aku sama sekali tidak paham kenapa
trik itu bisa berhasil, setidaknya Saegusa-san sekarang sudah kembali good
mood, jadi aku memilih untuk tidak memikirkannya terlalu dalam.
Kami tiba di tempat tujuan dan turun dari bus.
Karena angkatan kami terdiri dari delapan
kelas, orang-orang mulai berbondong-bondong turun dari total delapan bus secara
beruntun.
"Baik, kalau begitu kita langsung
mulai rute hiking-nya ya. Pastikan jalan bersama-sama dan jangan sampai
terpisah dari anggota kelompok kalian! Paham semuanya?"
"Paham—!"
Begitu kepala guru tingkat berseru melalui
pengeras suara, kegiatan hiking pun resmi dimulai.
Kami mulai berjalan mengikuti arus orang
banyak, namun masalah langsung muncul di detik-detik awal—
"Halo Saegusa-san! Kalau boleh, mau jalan
bareng nggak?"
Orang yang tiba-tiba menyapa dengan begitu
ramah dan santai adalah Kimihisa Togo.
Kami memang dari kelas empat, tapi kalau tidak
salah ingat, dia berasal dari kelas satu.
Togo ini terkenal sebagai model pembaca untuk
majalah remaja populer ‘Try’, dan sering dicsbut-sebut sebagai pangeran oleh
para siswi karena wajah tampannya yang sangat mudah menarik perhatian. Singkat kata, dia adalah cowok populer yang tampak
sangat percaya diri.
Togo tentu saja sangat percaya diri dengan
pesonanya, terbukti dari caranya yang terang-terangan mendekati Saegusa-san
untuk mencari kesempatan dekat.
"Sesama orang yang berkecimpung di
dunia hiburan, mau ngobrol sambil jalan-jalan nggak?"
"Aku kan sudah pensiun, jadi nggak
ada yang perlu diobrolin."
Menanggapi Togo yang dengan lancang
berjalan di sampingnya dan mengajaknya mengobrol, Saegusa-san menolak
mentah-mentah ajakan tersebut sambil memasang senyuman manis tanpa beban.
"Yah, tapi kan aku mau minta berbagai
saran dari kamu sebagai senior di dunia hiburan..."
"Hmm, kurasa antara idol sama model nggak
punya banyak kesamaan deh? Lagian, aku nggak punya kenalan cowok yang
berprofesi sebagai model. Maaf ya."
Usai melontarkan kalimat itu, Saegusa-san
berlari menghampiri kelompok kami seolah-olah sedang menghindari Togo, lalu
menarik tangan Shimizu-san sambil berkata, "Yuk jalan!", dan
melangkah pergi dengan ceria.
Togo berdiri terpaku di tempatnya, menatap
kosong ke arah punggung Saegusa-san yang mengabaikannya begitu saja.
Meskipun sedikit merasa kasihan pada Togo,
harus diakui ada bagian dari diriku yang merasa puas melihat kejadian barusan.
"Shimizu-san
suka baca buku ya?"
Sambil
berjalan menyusuri jalur hiking, Takayuki mengajak Shimizu-san mengobrol dengan
nada santai seolah-olah mereka sudah berteman lama.
"Eh? A-asalnya dari mana?"
Mendengar pertanyaan mendadak dari Takayuki
itu, Shimizu-san tampak kebingungannya terlihat jelas.
"Yah, habisnya kamu kelihatan sering baca
buku di kelas terus, kan?"
"U-um... kamu tahu ya..."
"Ya iyalah, kita kan sekelas!"
Mungkin merasa malu karena kebiasaannya
diamati oleh orang lain, Shimizu-san menunduk sambil merona merah di bagian
pipinya.
Namun, Takayuki sama sekali tidak mempedulikan
reaksi gugup Shimizu-san dan malah tertawa lebar, berkata, "Nanti kasih
tahu aku rekomendasi buku yang bagus ya!"
Di saat aku bahkan belum bisa mengobrol dengan
benar bersama Shimizu-san, kemampuan sosial Takayuki yang bisa bergaul dengan
siapa saja tanpa canggung ini selalu menjadi salah satu hal yang paling
kuresapi dan kukagumi sejak dulu.
Sambil memikirkan hal itu dan berjalan
selangkah di belakang untuk mengamati interaksi mereka berdua, Saegusa-san—yang
sedari tadi berjalan di sebelah Shimizu-san—perlahan-lahan memperlambat
langkahnya dan bergeser secara mulus untuk menyamakan posisi berjalan di
sampingku.
Gerakannya begitu natural seolah-olah dia bisa
menghilang dan berpindah tempat, membuat Shimizu-san maupun Takayuki yang
berjalan tepat di sampingnya sama sekali tidak menyadarinya.
—Saegusa-san ini sebenarnya jangan-jangan
seorang ninja.
Begitu berhasil pindah ke sampingku, Saegusa-san
melemparkan senyuman manis, meski pandangannya sempat bergeser sebelum akhirnya
menyapaku dengan nada canggung, "Y-yuhuu!"
"Cuacanya
bagus ya hari ini!"
"Iya, betul."
"Pas banget buat hiking ya!"
"Iya, betul."
"U-udara di bawah naungan pohon ini
sejuk ya!"
"Iya, betul."
"......"
Meskipun Saegusa-san terus melemparkan
topik obrolan secara beruntun, rasa gugupku serta minimnya bahan pembicaraan
membuatku hanya bisa membalas semuanya dengan kata "betul".
Akibatnya, Saegusa-san tiba-tiba
menghentikan langkahnya sepenuhnya—.
Merasa ada yang tidak beres, aku menoleh
ke belakang untuk melihat Saegusa-san yang berhenti.
Di sana, Saegusa-san berdiri dengan pipi
menggembung penuh mirip seperti seekor hamster, mengepalkan kedua tangannya di
depan dada sambil memasang ekspresi tidak puas.
"S-Saegusa-san?"
"......"
Aku mencoba memanggilnya, tapi dia tetap
diam membisu dengan pipi menggembung tanpa mau bergerak.Ehm? Kalau situasi seperti ini enaknya diatasi pakai apa ya?
Satu hal yang pasti, situasi ini sangat gawat
dan harus segera diselesaikan secepat mungkin.
Alasannya sederhana: saat aku mengedarkan
pandangan ke sekitar, kulihat kelompok dari kelas lain mulai memperhatikan kami
dengan tatapan penasaran.
Jika orang-orang melihat Shiorin sang idol
super sedang cemberut dan menatapku lekat-lekat seperti ini, orang lain yang
melihatnya mungkin akan salah paham dan berpikir, ‘Tuh anak cowok ngapain aja
sampai bikin Shiorin ngambek?’
Situasi itu berbahaya—
Aku harus segera memecah kebuntuan ini secepat
kilat.
Didorong oleh pikiran, ‘Biar-lah terjadi apa
yang terjadi!’, aku langsung meraih pergelangan tangan Saegusa-san yang masih
mengepal, lalu menariknya agar kami bisa berjalan menjauh dari tempat itu demi
meredakan suasana.
Namun, di detik berikutnya aku langsung
menyadari kesalahan fatal yang baru saja kuperbuat.
—Eh, tunggu dulu. Bukankah menyeret tangan Saegusa-san
seperti ini malah jauh lebih berbahaya?!
Saat aku menoleh ke depan, Takayuki dan
Shimizu-san yang menyadari kami berhenti mendadak tampak berbalik dan
menghentikan langkah mereka.
Ekspresi terkejut terpampang jelas di
wajah mereka berdua.
Menghadapi tatapan kaget dari kedua
temanku itu, aku menyerah pada keadaan, melepaskan tangan Saegusa-san dengan
gerakan canggung, lalu berbalik sambil meminta maaf, "Maaf ya! Saegusa-san!"Sebenarnya dari tadi aku ini sedang melakukan apa sih?
Batin ratapku dalam hati.
Namun, reaksi yang kudapat bukanlah kemarahan
seperti yang kutakutkan.
Sebaliknya, Saegusa-san tidak tampak marah
sama sekali; dia justru berdiri sambil menunduk malu dengan wajah yang memerah
padam.
"U-um..."
"Hah?!
Eh? A-maaf ya! Ayo jalan lagi!"
Mendengar
suara ragu-ragu itu, Saegusa-san tersentak, lalu tersenyum malu-malu dan
kembali melangkah maju seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Syukurlah,
sepertinya dia tidak benar-benar marah, membuatku merasa lega.
Aku
menyamakan langkahku dengan Saegusa-san dan kembali berjalan.
Lalu,
Saegusa-san kembali merapatkan posisinya berjalan di sampingku.
Sambil
berbisik tepat di dekat telingaku, dia menjulurkan sedikit ujung lidahnya
dengan nada menggoda:
"—Mulai
sekarang, kalau mau ngomong harus yang bener ya, kalau nggak nanti aku ngambek
lho?"
Ekspresi
dan bisikan itu... sungguh, daya serangnya terlalu mematikan.
Setelah
berjalan beberapa saat, kami akhirnya tiba di lapangan terbuka di tengah gunung
yang menjadi titik akhir rute hiking.
"Paham
semuanya? Kelompok yang sudah sampai silakan manfaatkan waktu untuk istirahat
bebas sampai jam setengah dua sesuai jam di sana! Pastikan setiap kelompok
sudah makan siang sebelum waktu itu habis! Mengerti?"
"Paham—!"
Akhirnya, waktu istirahat makan siang pun
tiba.
"Mau makan di sekitar sini?"
"Boleh juga sih... eh, tunggu..."
Aku nyaris menyetujui usul Takayuki sebelum
akhirnya mengurungkan niatku.
Alasannya, aku menyadari bahwa beberapa siswa
dari kelompok kelas lain sedang mengamati gerak-gerik kami dari jarak dekat,
sepertinya berniat mencari tempat makan di sekitar sini juga.
Sebenarnya secara pribadi aku tidak keberatan
jika ada orang lain di sekitar, tapi masalahnya adalah apakah Saegusa-san bisa
menerima hal itu atau tidak.
Ketika aku mengamati ekspresi Saegusa-san,
kudapati wajahnya tampak sedikit lelah karena terus-menerus dikerumuni orang
bahkan setelah tiba di tempat Karyawisata seperti ini.
Oleh karena itu, aku memberikan isyarat mata
kepada Takayuki dan Shimizu-san, lalu kami mulai berjalan pergi setelah saling
mengangguk paham.
Saegusa-san mengekor di belakang kami
dengan ekspresi bingung karena tidak mengerti apa yang sedang kami lakukan.
Begitu kami berhasil menjauh dari
keramaian dan merasa tempatnya cukup sepi, aku kembali meraih pergelangan
tangan Saegusa-san.
"Eh? A-apaan?!"
Mendapati tangannya ditarik secara
tiba-tiba, Saegusa-san terkejut, namun aku menanggapinya dengan senyuman ramah.
"Saegusa-san! Kita lari sebentar
ya!"
Tanpa buang waktu, kami langsung berlari
kencang menuju ke bagian agak dalam dari lapangan terbuka tersebut.
Anggota kelompok lain yang sempat dikejutkan
oleh aksi mendadak kami sempat mencoba mengejar, namun begitu mereka menyadari
tindakan itu akan membuat mereka terlihat seperti sedang menguntit kami, mereka
menyerah di tengah jalan dan memilih berhenti.
"Yosh! Kita berhasil lolos!"
"Fiuh, beneran lolos!"
"Eh, kalian berdua tiba-tiba lari sih,
bikin kaget aja!"
"Maaf ya Shion-chan."
Begitu memastikan tidak ada orang lain di
sekitar, kami berhenti sejenak sambil mengatur napas.
Situasi pelarian kecil itu tiba-tiba terasa
begitu konyol, membuat kami tertawa bersama-sama.
"Baiklah! Waktunya makan siang!"
"Bagaimana kalau di bawah pohon besar
yang itu?"
"Oh, ide bagus!"
Akhirnya, kami memutuskan untuk memakan bento
bersama-sama di bawah naungan pohon besar yang terletak jauh dari kerumunan
orang.
Naungan pohon besar itu terasa begitu sejuk,
membuat kami bertiga—ralat, berempat—bisa menikmati makan siang dengan santai
dan menyenangkan.
Selesai makan, karena suasananya tenang dan
tidak ada gangguan orang lain, kami memutuskan untuk bersantai lebih lama di
tempat ini.
Keputusan itu bukanlah hasil dari usulan
seseorang secara spesifik, melainkan sudah menjadi semacam pemahaman tak
diucapkan di antara kami berempat; kami bisa merasakan kenyamanan itu tanpa
perlu diungkapkan lewat kata-kata.
Ngomong-ngomong soal bento, Shimizu-san
ternyata telah membuatkan sandwich di wadah kotak yang agak besar khusus untuk
dibagikan ke anggota kelompok, dan hal itu sukses membuatku merasa sangat
senang.
Tentu saja kami masing-masing sudah membawa
bento sendiri, namun karena kami ingin menghargai ketulusan Shimizu-san, kami
melahap habis sandwich buatannya bersama dengan bento bawaan kami masing-masing
sampai bersih.
Berkat itu, perutku dan Takayuki sampai terasa
begah dan penuh, namun melihat senyuman bahagia Shimizu-san saat melihat
makanannya dihabiskan membuat rasa kenyang itu sepadan dengan kebahagiaannya.
Di sisi lain, Saegusa-san yang melihat
Shimizu-san begitu perhatian membawakan makanan untuk semua orang sempat
memasang ekspresi keputusasaan seolah dunia mau kiamat, lalu dengan tangan
gemetar menusuk sebutir bakso dari kotak bentonya menggunakan tusuk gigi dan
menyodorkannya kepadaku sambil gemetaran hebat.
Meskipun dalam hatiku berpikir bahwa dia tidak
perlu segitunya memaksakan diri, pemandangan Saegusa-san yang bertingkah begitu
lucu membuatku hampir tertawa terbahak-bahak dan harus kutahan sekuat tenaga.
Sebagai bentuk balas budi atas bakso itu, aku mengambil sepotong tamagoyaki
(telur dadar) dari kotak bentoku dan memberikannya kepada Saegusa-san.
Mendapat balasan itu, Saegusa-san sempat
tertegun sejenak sebelum akhirnya berseru, "Eh?! Buat aku?!" dengan
senyuman merekah penuh bunga, seketika mengubah suasana hatinya menjadi ceria
kembali.
Bagaimana mungkin seorang gadis jelita mantan
idol papan atas yang tadinya hanya kulihat di televisi bisa langsung kembali
ceria hanya karena sepotong telur dadar dariku, lalu duduk di sebelahku sambil
mengunyahnya dengan ekspresi gembira—sungguh, situasi itu sama sekali tidak
masuk akal di kepalaku.
"Hei Takuya, hari ini kamu ada kerja
paruh waktu?"
"Enggak, libur kok, emangnya
kenapa?"
Sambil menikmati sejuknya angin di bawah
pohon, Takayuki melempar topik obrolan santai.
Aku menjawab bahwa karena hari ini ada acara Karyawisata
sekolah yang melelahkan, aku sengaja tidak mengambil jadwal kerja.
"Begitu ya, aku juga libur klub karena
acara ini. Jadi, gimana kalau sesudahnya kita mampir karaokean sebentar?"
"Karaoke? Hmm, yah... kalau Takayuki mau,
aku ikut aja."
Krek—!!
Tepat saat aku menyetujui ajakan Takayuki,
suara benda patah tiba-tiba terdengar dari sebelah.
Aku, Takayuki, dan Shimizu-san yang duduk
bersama sontak terkejut dan mencari sumber suara tersebut. Ternyata, suara itu
berasal dari ranting pohon kecil yang dipatahkan oleh Saegusa-san di dalam
genggamannya.
"Sh-Saegusa-san...?"
"Eh?
Ah! M-maaf ya! Tanpa sengaja rantingnya patah!"Maksudnya
apa patah tanpa sengaja?
Meskipun tidak jelas alasannya, Saegusa-san
mengibas-ngibaskan kedua tangannya dengan malu-malu sambil meminta maaf karena
telah mematahkan ranting pohon itu; perilakunya hari ini benar-benar konsisten
menunjukkan tingkat kecurigaan yang tinggi.
"Aku... belum pernah pergi ke
karaoke..."
Giliran Shimizu-san yang bergumam pelan
sambil menunduk malu.
"Eh? Shimizu-san belum pernah
karaokean?"
"U-um..."
"Begitu ya, kalau gitu gimana kalau
Shimizu-san ikut kita juga?"
Tanpa beban, Takayuki secara natural langsung
mengajak Shimizu-san yang sedang merendah itu untuk ikut bergabung dengan
rencana karaoke nanti.
Mendengar ajakan tersebut, Shimizu-san tampak
terkejut, sementara Saegusa-san menunjukkan reaksi terkejut dengan cara yang
aneh.
"B-bolehkah?"
"Yo jelas boleh lah! Kalau cuma kita
berempat, mungkin rasanya nggak bakal terlalu gugup buat yang baru pertama
kali, kan?"
"U-um, kalau gitu... aku coba... ikut
deh..."
Mendengar Takayuki menjawab dengan senyuman
lebar dan penuh keyakinan, Shimizu-san akhirnya membulatkan tekad untuk ikut
pergi karaoke sambil merona merah karena malu.
Yah, dari sudut pandangku, pergi dengan jumlah
orang yang pas rasanya akan jauh lebih seru, dan yang terpenting, selama
Shimizu-san bisa menikmati waktunya, itu sudah lebih dari cukup.
Tiba-tiba, aku merasakan tatapan mata yang
sangat tajam mengarah kepadaku dari sebelah.
Dengan perasaan was-was, aku menoleh ke
samping, dan kudapati Saegusa-san sedang menatapku lekat-lekat menggunakan
sepasang mata indahnya yang mulai berkaca-kaca, seolah sedang menyampaikan
protes lewat tatapan.
Ekspresi wajahnya bahkan memancarkan isi
hatinya dengan sangat jelas:
—Ajak aku juga dong!
Yah, tentu saja. Kalau kami berempat sedang
berkumpul tapi merencanakan pergi karaoke tanpa menyertakan salah satu anggota,
situasinya pasti akan berakhir canggung...
Rasanya sungguh tidak enak jika meninggalkan Saegusa-san
seorang diri seolah-olah dikucilkan.
Oleh karena itu, aku tersenyum ramah kepada Saegusa-san
dan mengajaknya bicara.
"Um, kalau Saegusa-san tidak keberatan,
maukah—"
"Aku mau! Aku sangat ingin ikut!"
Bahkan sebelum aku sempat menyelesaikan
kalimat ajakan, Saegusa-san langsung mengangkat tangan kanannya dengan sigap
dan menjawab dengan penuh penegasan bahwa dia ingin ikut.
Melihat tingkah laku Saegusa-san yang begitu
antusias, aku merasa geli dan memutuskan untuk sedikit menggodanya lebih jauh.
"Beneran
boleh? Nanti lagu ‘Your Only Servant’ dinyanyikan juga nggak nih?"
"Nyanyi! Pasti aku nyanyikan! Eh—"
Saegusa-san sempat menjawab tanpa berpikir
panjang, namun sedetik kemudian dia sepertinya baru menyadari apa arti dari
judul lagu yang baru saja kusebutkan.‘Your Only Servant’—lagu tersebut adalah
singel ketiga milik Angel Girls, sekaligus lagu yang kostum utamanya adalah
seragam pelayan yang sempat dikirimkan fotonya oleh Saegusa-san beberapa waktu
lalu.
Mungkin aku agak kejam karena mengungkitnya,
tapi begitu menyadari hal itu, wajah Saegusa-san langsung memerah padam,
sementara matanya menyala seolah membakar semangat juang, berseru, "Kalau
gitu justru bakal kutandar dan nyanyikan habis-habisan!"
Melihat interaksiku dan Saegusa-san yang
saling melempar candaan, Takayuki dan Shimizu-san tertawa kecil meskipun mereka
tidak sepenuhnya mengerti konteks di balik obrolan kami berdua.
Melihat senyuman mereka berdua, aku dan Saegusa-san
saling bertukar pandang kebingungan sebelum akhirnya ikut tertawa bersama-sama
dalam formasi empat orang.
"Hei, hari ini klub kita kan libur,
kan? Kalau gitu, bagi yang bisa, selepas ini mau
pada ikut karaokean nggak?"
Dalam perjalanan pulang menaiki bus usai acara
Karyawisata berakhir, orang yang kembali melontarkan ajakan karaoke kepada
seisi kelas adalah si cowok populer, Niijima-kun.
Sambil berbicara, Niijima-kun berulang kali
melirik secara terang-terangan ke arah Saegusa-san.
Rupanya dia mengincar kesempatan hari ini
dengan asumsi bahwa Saegusa-san tidak punya alasan lagi untuk menolak.
"Asyik, ayo ikut!"
Dan seperti biasa, para siswi kelompoknya
langsung menyambut ajakan itu dengan penuh antusias, menciptakan suasana di
dalam kelas di mana semua orang merasa harus ikut pergi karaoke bersama-sama.
Sontak, seisi kelas mulai melirik ke arah Saegusa-san
secara diam-diam, tampak penasaran sekaligus berharap sang idola mau menerima
ajakan tersebut hari ini.
Namun, Saegusa-san sendiri tidak menunjukkan
tanda-tanda peduli pada sekitarnya; dia duduk dengan tenang sambil tersenyum
tipis, menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.
Tatapan penuh harap dari anak-anak kelas tidak
hanya tertuju pada Saegusa-san; para cowok juga melirik ke arah Shimizu-san,
sementara para cewek melirik ke arah Takayuki. Namun, mereka berdua tampak
duduk dengan santai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh perhatian tersebut.
Bus akhirnya tiba di area sekolah, dan begitu
kami turun, pidato penutupan singkat dari guru tingkat resmi mengakhiri
rangkaian acara Karyawisata hari ini.
"Saegusa-san! Nanti ikut, kan?!"
Di saat momen itu, Niijima-kun yang sudah
kehabisan kesabaran akhirnya melangkah maju dan bertanya secara langsung kepada
Saegusa-san.
Meskipun memiliki tingkat kepercayaan diri
yang tinggi, dia terpaksa membuang harga dirinya demi bisa mendekati Saegusa-san
secara langsung.
Tindakan itu membuktikan betapa besar
keinginan Niijima-kun untuk mempererat jarak dengan Saegusa-san.
"Maaf ya, hari ini aku ada keperluan jadi
nggak bisa ikut."
Menanggapi Niijima-kun, Saegusa-san menolaknya
secara tegas namun tetap dibarengi dengan senyuman penuh rasa menyesal.
"K-keperluan...?"
"Iya, keperluan! Sampai jumpa!"
Merespon Niijima-kun yang tampak kebingungan, Saegusa-san
melambaikan tangan dengan manis, lalu berlari seorang diri meninggalkan area
gerbang sekolah.
Melihat punggung Saegusa-san yang beranjak
pergi begitu saja, ekspresi kosong di wajah Niijima-kun sedikit membuatku
merasa iba.
Meskipun begitu, saat melewati sisiku tadi, Saegusa-san
sempat berbisik pelan, ‘Nanti ya’.
Aku hanya bisa membalas bisikan rahasia itu
dengan sebuah anggukan kecil.
"Maaf ya semuanya! Hari ini aku pass
dulu! Sampai jumpa di lain kesempatan!"
"A-aku juga kayaknya skip karaokean
dulu... maaf ya..."
Melihat Saegusa-san pergi, Takayuki dan
Shimizu-san pun kompak menolak ajakan dari teman-teman sekelas mereka
masing-masing.
Akibat absennya figur-figur penting di
kelas—meskipun dengan alasan berbeda—acara karaoke rombongan kelas itu mendadak
kehilangan gaung antusiasmenya.
—Ping.
Di tengah suasana yang agak canggung itu,
sebuah notifikasi Line masuk ke ponselku.‘Aku duluan ke “Karaoke Roman” ya!’
Pesan itu dikirim oleh Saegusa-san.
Merespon pesan Saegusa-san tersebut, Takayuki
dan Shimizu-san langsung mengirimkan stiker tanda ‘Mengerti’, disusul olehku
yang ikut mengirimkan stiker serupa.
Ya, semenjak kami memutuskan untuk pergi
karaoke hari ini, kami sudah membuat grup Line khusus untuk berempat.
Oleh karena itu, meskipun aku sempat terkejut
saat Niijima-kun tiba-tiba menawarkan tempat karaoke yang sama, Shimizu-san
sempat mengirim pesan privat lebih dulu mengatakan bahwa dia merasa canggung
jika harus pergi bersama rombongan besar seisi kelas, sehingga kami memutuskan
untuk pergi berempat saja sejak awal.
Namun, pergi ke cabang karaoke besar di depan
stasiun berisiko tinggi membuat kami berpapasan dengan anak-anak sekelas, jadi
kami memilih tempat yang agak tersembunyi bernama ‘Karaoke Roman’.
Jadi, meskipun sedikit tidak enak pada
anak-anak sekelas, kami terpaksa mengabaikannya karena kami sudah memiliki
janji terlebih dahulu.
Ngomong-ngomong soal diriku sendiri, karena
tidak ada seorang pun yang berniat mengajakku bergabung dengan rombongan
mereka, aku bisa meninggalkan tempat itu dengan mulus tanpa hambatan.
Reputasi sebagai karakter yang tidak pernah
menghadiri perkumpulan kelas semacam ini sepertinya sudah mendarah daging,
entah itu hal yang bagus atau buruk.
Meskipun bukan karena alasan itu, bagaimanapun
juga aku hanyalah seorang siswa SMA biasa yang berbeda dari ketiga orang
lainnya, jadi situasi ini sudah sewajarnya terjadi.
***
Untuk berjaga-jaga agar tidak mencurigakan,
kami berpencar dan akhirnya berkumpul kembali di lobi ‘Karaoke Roman’.
"Untung banget! Semuanya berjalan lancar,
ya!"
"Rasanya agak nggak enak sama anak-anak
sekelas sih, tapi karena kita sudah punya janji lebih dulu, ya mau bagaimana
lagi!"
"Terima kasih ya semuanya... Aku masih
agak canggung kalau harus di tempat ramai..."
"Shimizu-san nggak usah dipikirkan. Aku
juga agak kurang suka tempat yang terlalu ramai kok."
"Betul tuh! Hari ini kita nikmati
saja!"
"Setuju!"
"Iya, terima kasih banyak!"
Shimizu-san tampak masih merasa sedikit tidak
enak, tapi begitu kami memberinya dukungan, dia membalasnya dengan senyuman
manis. Karena berdiri di lobi terlalu mencolok, kami memutuskan untuk segera
memesan ruangan karaoke dan masuk ke dalam.
Begitu membuka pintu, ruangan itu memancarkan
suasana kotak karaoke kuno yang sangat klasik.
Lantai ruangan dilapisi karpet merah, dan
sebuah panggung kecil yang dilengkapi satu penyangga mikrofon sudah disiapkan
di sana.
Bahkan, sebuah lampu disko (mirror ball)
juga tergantung di langit-langit ruangan.
"Wah, apa-an nih! Coba kita nyalakan
yuk!"
Takayuki, yang menyadarinya, merasa tertarik,
lalu menyalakan lampu disko tersebut sambil mematikan lampu utama ruangan.
Seketika, suasana di dalam ruangan berubah
total, menyerupai diskotik zaman dulu yang sering kulihat di televisi.
Suasana yang terasa begitu kontras dengan
tujuan awal kami itu membuat kami tertawa geli, berpikir sebenarnya kami ini
mau datang untuk apa.
Yah, mungkin suasana yang agak gelap ini bisa
mengurangi rasa malu, dan lagipula suasananya jadi jauh lebih seru kalau
dibiarkan begini.
Akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan
acara "disko alias karaoke" ini dengan penuh semangat.
"Kalau begitu, sepertinya lebih baik aku
yang nyanyi duluan ya."
Sambil berkata begitu, Saegusa-san segera
menyelesaikan pilihan lagunya dan mengirimkan request.
Tentu saja, kemampuan vokal antara kami yang
amatiran ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan Saegusa-san yang
sampai beberapa waktu lalu merupakan seorang idol nasional.
Menyanyi duluan di hadapan Saegusa-san rasanya
sudah seperti hukuman yang tingkat kesulitannya setara dengan siksaan, jadi aku
merasa sangat terbantu.
Takayuki sepertinya merasakan hal yang sama;
selain merasa lega, dia juga memasang ekspresi antusias yang penuh antisipasi
untuk mendengarkan suara nyanyian asli Saegusa-san.
Aku pun merasakan hal yang sama, teringat
kembali pada suara nyanyian Saegusa-san yang kudengar di konser DDG hari itu.
—Suara nyanyian itu benar-benar sangat indah.
Hanya dengan membayangkan bahwa aku bisa
mendengarnya lagi secara langsung membuatku merasa sangat gembira.
Terlebih lagi, kali ini kami tidak berada di
venue konser yang besar, melainkan di dalam bilik karaoke kecil yang hanya
diisi oleh empat orang saja.
Aku sempat berpikir apakah boleh aku menikmati
kemewahan semacam ini, dan justru karena itulah aku bertekad untuk menikmati
hari ini sepuas-puasnya.
Judul
lagu muncul di layar karaoke.‘Your Only Servant’
Aku tanpa sadar mengeluarkan suara,
"Ah."
Saegusa-san, yang tidak melewatkan suaraku
itu, menatapku sambil tersenyum menyeringai penuh kenakalan.
Sepertinya Saegusa-san benar-benar berniat
mewujudkan gurauan yang sempat kubahas sebelumnya.
Bayangan foto Saegusa-san berbalut kostum
pelayan yang dikirimkan padanya tempo hari terlintas di benakku; alih-alih
melontarkan candaan, aku justru dibuat berdebar-debar sendiri.
Begitu intro lagu dimulai, Saegusa-san bangkit
dengan gesit, naik ke atas panggung kecil, lalu menarik mikrofon dari
penyangganya dengan gerakan mantap.
Lalu,
"Hanya untuk dirimu seorang—♪
Kupersembahkan lagu ini—♪"
Bersamaan dengan bait pembuka itu, Saegusa-san
bahkan menampilkan koreografi tarian lagu tersebut secara sempurna!
Melihat Saegusa-san yang begitu bersemangat,
Takayuki bangkit berdiri sambil berseru, "Woooー!", lalu ikut memberikan sorak-sorai (call) kepada Saegusa-san dengan
penuh antusias.
Shimizu-san, yang awalnya sempat terkejut
melihat interaksi heboh antara Saegusa-san dan Takayuki yang dimulai secara
mendadak itu, lama-kelamaan merasa terhibur hingga tertawa terbahak-bahak
memegang perutnya melihat tingkah mereka berdua.
Aksi konyol Takayuki yang bertindak layaknya
fans garis keras memberikan sorakan penuh semangat, dibalas oleh Saegusa-san
dengan fan service berlebihan yang tidak mungkin dia lakukan semasa aktif
menjadi idol dulu, benar-benar terlihat sangat kocak bagaikan sebuah adegan
komedi.
Ketidaksesuaian antara pakaian olahraga yang
kami kenakan dengan latar ruangan karaoke jadul, ditambah pemandangan dua orang
yang asyik melampiaskan keusilan dengan penuh semangat itu, secara alami
membuatku ikut tertawa lepas.
Selesai bernyanyi dan membawakan satu lagu
penuh, Saegusa-san dan Takayuki yang memasang ekspresi puas saling melakukan
high-five sambil memuji satu sama lain, "Hebat banget!" dan
"Penampilannya keren banget!"
Berkat mereka berdua, suasana ruangan yang
tadinya canggung langsung mencair seketika.
Selesai bernyanyi, Saegusa-san menyerahkan mic
kepada Takayuki—yang sudah memilih lagu berikutnya—lalu kembali ke bangkunya.
Namun, begitu kembali ke bangku, alih-alih
duduk di tempat asalnya, Saegusa-san malah duduk di sebelahku.
Aku tadinya mengira dia akan duduk di sebelah
Shimizu-san, jadi aku dibuat terkejut dan jantungku berdegup kencang karena
tidak menduganya.
"I-Ichijo-kun, b-bagaimana
menurutmu?"
Saegusa-san menoleh ke arahku, meminta kesan
dengan ekspresi malu-malu.
Maksud dari pertanyaannya itu tentu saja
adalah kesan tentang penampilannya tadi.
"Bagus banget, dan seru juga."
"B-benarkah?"
Saat aku menjawab sambil tersenyum, Saegusa-san
merona merah, namun tersenyum dengan gembira.
Melihat Saegusa-san yang tersenyum
malu-malu tepat di hadapanku ini, sejujurnya, dia terlihat sangat, sangat imut.
"Iya, lagu yang dinyanyikan Saegusa-san
tadi sebenarnya sudah kudownload dan sering kudengarkan di jalan waktu mau ke
sekolah. Jadi, aku senang banget bisa mendengarnya secara langsung."
Begitu aku menyampaikan kesan itu dengan
jujur, Saegusa-san semakin salah tingkah dan benar-benar bertingkah awawa-awawa
karena malu.
"Kalau tadi pakai baju pelayan itu,
pasti bakal jauh lebih sempurna lagi sih."
Melihat Saegusa-san yang tampak begitu
menggemaskan, aku memutuskan untuk menambahkan sedikit godaan usil.
Mendengar itu, Saegusa-san yang tadinya
sedang salah tingkah mendadak langsung mengepalkan tangannya penuh semangat.
"Lain kali, aku pasti akan
menyiapkannya!"
Sambil mendengus kecil lewat hidungnya, Saegusa-san
mengumumkan hal itu dengan lantang.
Duh, aku cuma bercanda, jadi nggak perlu
sampai sebegitu bersemangatnya juga kali, batin-ku, tapi ya sudahlah, kalau
memang dia benar-benar ingin memperlihatkannya nanti, itu adalah sebuah
keuntungan besar, jadi aku memilih untuk membiarkannya saja.
—Meskipun begitu, kalau aku benar-benar
diperlihatkan wujud seperti itu tepat di hadapanku, aku tidak yakin bisa tetap
bersikap normal.
Setelah Takayuki memeriahkan suasana dengan
membawakan lagu bergenre rock yang keren, giliran aku yang diminta bernyanyi.
Jadi, mau tidak mau aku memilih sebuah lagu balada favoritku.
Lagu ini sedikit jadul dan jarang diketahui
orang, tapi karena ini adalah lagu yang sudah sering kudengarkan sejak dulu,
kupikir menyanyikan lagu ini di depan orang lain tidak akan terlalu memalukan,
jadi aku berusaha menyanyikannya sebaik mungkin.
Namun, memikirkan bahwa Saegusa-san—yang
sampai beberapa waktu lalu aktif sebagai seorang idol—sedang mendengarkannya
tepat di hadapanku, tentu saja membuatku bernyanyi dengan penuh kesungguhan.
Aku berusaha sekuat tenaga, bahkan kurasa aku
belum pernah bernyanyi dengan sehebat dan setulus ini seumur hidupku.
Lalu hasilnya bagaimana?
Takayuki dan Shimizu-san tampak mendengarkan
nyanyianku dengan serius.
Melihat mereka berdua menyimak suaraku dengan
sungguh-sungguh membuatku merasa jauh lebih tenang, meyakinkanku bahwa suaraku
ini sepertinya tidak terlalu buruk saat didengar.
Namun, masalahnya ada pada satu orang yang
tersisa.
Saegusa-san pindah duduk ke kursi yang paling
dekat dengan panggung tempatku berdiri, lalu menatapku tanpa berkedip dengan
binar mata yang berbinar-binar penuh ketertarikan selama aku bernyanyi.
Ehm, Saegusa-san? Situasi itu bikin aku jadi
susah banget buat nyanyi, tahu tidak?!
Mengabaikan isi hatiku sepenuhnya, Saegusa-san
terus menatapku lekat-lekat.
Apakah ini adalah bentuk metode teror baru
atau semacamnya?
Bernyanyi sambil dilihat oleh seorang gadis
dengan ekspresi penuh kekaguman seperti itu sukses membuat jantungku berdegup
kencang bukan main.
Begitu aku berhasil menyanyikan lagunya sampai
selesai, Saegusa-san bertepuk tangan dengan antusias seolah-olah dia baru saja
selesai menonton konser penyanyi favoritnya.Bukannya harusnya posisinya
dibalik, pikirku sambil merasa malu, lalu buru-buru melangkah kembali ke tempat
dudukku semula.
"Aku sudah mikir dari dulu sih, tapi
kalian berdua itu..."
"Hm? Kenapa?"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa kok. Nah,
giliran berikutnya, Shimizu-san, ayo coba nyanyi!"
Melihat interaksiku dengan Saegusa-san
yang—dalam artian tertentu—masih menunjukkan tabiat mencurigakannya itu,
Takayuki sempat hendak mengatakan sesuatu, namun langsung mengurungkan niatnya
dan mengalihkan pembicaraan.
Meskipun kami sudah berteman lama, sangat
jarang melihat Takayuki sengaja menggantung kalimatnya di tengah jalan,
membuatku jadi sedikit penasaran apa sebenarnya yang ingin dia katakan tadi.
Ngomong-ngomong, Saegusa-san—satu orang lagi
yang dipanggil "kalian berdua" oleh Takayuki—sedang sibuk mencari
sesuatu di ponselnya.
Sambil bergumam, "Ketemu!", dia
mengunduh sesuatu.
Sekilas kulihat layar ponsel Saegusa-san
menampilkan judul lagu yang baru saja kuanyikan tadi; sepertinya dia sedang
mengunduh lagu yang kinyanyikan barusan.
Saegusa-san memasang senyuman puas yang
terlihat sangat senang, dan mengetahui bahwa dia begitu menyukai lagu yang
kunyanyikan membuatku merasa sangat gembira sebagai orang yang membawakannya.
Usai giliranku bernyanyi, sekarang giliran
Shimizu-san yang maju.
Berkat dorongan semangat dari Takayuki,
meskipun tampak gugup, Shimizu-san berhasil memilih lagu dan mengirimkannya,
membuatku merasa lega.
Lagu yang kemudian muncul di layar karaoke
ternyata adalah lagu milik Angel Girls.
"U-um, Shion-chan. K-kalau tidak
keberatan, maukah kamu bernyanyi bersama?"
Gestur Shimizu-san yang meminta dengan
malu-malu itu terlihat sangat menggemaskan, bagaikan seekor anak hewan yang
imut.
Rupanya Saegusa-san yang sesama perempuan
merasakan hal yang sama; dia langsung menyetujui ajakan Shimizu-san tanpa pikir
panjang, lalu berjalan bersama menuju panggung kecil dan menggenggam mikrofon
dengan gembira.
Keduanya kemudian mulai bernyanyi bersama
membawakan lagu Angel Girls dengan akrab.
Aku dan Takayuki saat ini sedang
menyaksikan sebuah pemandangan yang terasa bagaikan sebuah keajaiban—
Satu orang adalah Shiorin alias Saegusa-san,
yang sempat bernaung di bawah grup idol nasional Angel Girls.
Dia tersenyum dengan ceria dan manis,
memancarkan aura idol sekelas bintang profesional bahkan di dalam ruangan
karaoke yang sempit ini, menyanyikan lagu Angel Girls dengan sempurna dan
sangat imut.
Dan satu orang lagi adalah Shimizu-san, teman
sekelas kami.
Meskipun dia biasanya pendiam dan lebih suka
menghabiskan waktu dengan membaca buku, dia memiliki suara nyanyian yang sangat
manis, persis seperti suara aslinya sehari-hari.
Meskipun gerakannya terlihat sedikit kaku,
kesungguhannya saat bernyanyi memancarkan pesona tersendiri yang berbeda dari Saegusa-san
di sebelahnya.
Oleh karena itu, pemandangan di mana dua gadis
tercantik di angkatan ini sedang bernyanyi bak idol tepat di depan mata kami
sekarang—meski agak tidak enak pada anak-anak sekelas—memiliki daya rusak yang
luar biasa besar bagi kewarasan kami.
"—Hei, Takuya."
"—Apa, Takayuki."
"—Sepertinya kita saat ini sedang
menginjakkan kaki di tanah Eden."
"—Begitu ya, jadi di sinilah letak Eden
itu."
Pantas saja, tidak heran tempat ini terasa
begitu suci dan berharga.
Disuguhi pemandangan dua idol kelas yang
bernyanyi dengan imut dan gembira di hadapan kami, aku dan Takayuki berhasil
disucikan secara bersamaan—
Dua jam berlalu, kami menikmati waktu karaoke
dengan mengerahkan seluruh tenaga sebelum akhirnya membubarkan diri.
Kami bernyanyi dan mengobrol tanpa jeda selama
dua jam penuh tanpa merasa lelah sedikit pun.
Setibanya di rumah, aku langsung mandi, makan
malam, lalu merebahkan diri melebar di atas tempat tidur.
Kelelahan yang terkumpul seharian ini terasa
langsung menimpa sekujur tubuhku begitu aku berbaring.
—Tapi, hari ini benar-benar sangat
menyenangkan.
Aku merasa sangat bahagia karena bisa
menjadi lebih akrab dengan Saegusa-san dan Shimizu-san.
—Ping.
Sebuah bunyi notifikasi Line berdering
dari ponselku.
Merespon suara tersebut, aku membuka mata
yang sudah terasa sangat mengantuk dan memeriksa ponselku.‘Hari ini seru
banget! Terima kasih ya!’
Pesan Line itu dikirim oleh Saegusa-san.‘Aku
juga seru banget!’‘Aku juga! Kapan-kapan pergi lagi yuk!’
Menyusul pesan Saegusa-san, Shimizu-san
dan Takayuki langsung ikut membalas tak lama kemudian.
—Ah, aku juga harus membalas pesan yang
bilang kalau aku juga merasa seru... kubalas... nanti...
......
Namun, aku akhirnya tertidur begitu saja
tanpa sempat membalasnya.
Suara getaran bzz-bzz membangunkanku dari
tidur.
Ada apa? Apakah ini alarm? Sambil mengucek
mata yang masih mengantuk, aku memeriksa ponselku dan mengetuk tombol di layar
untuk menghentikan suaranya.
"A-I-Ichijo-kun?"
Hm? Rasanya aku mendengar suara Saegusa-san
barusan...
"H-halo-halo! Apakah suaraku
terdengar—?"
Suaranya benar-benar... eh, eh, eh?!
Di situlah kesadaran otakku akhirnya terbangun
sepenuhnya. Benar-benar
terbangun.
"Eh?
Ah, Saegusa-san!?"
Dengan
panik aku mengangkat ponselku dan menanggapi panggilan suara tersebut.
Suara
getaran tadi ternyata bukanlah alarm, melainkan notifikasi panggilan telepon
dari Saegusa-san.
Namun, kenapa mendadak dia meneleponku tengah
malam begini?! Aku semakin dibuat panik.
"Syukurlah... Ichijo-kun mengangkat
teleponnya..."
Dari ujung telepon, terdengar suara Saegusa-san
yang menghela napas lega entah kenapa.
"M-maaf! Kayaknya tadi aku ketiduran!
A-ada apa emangnya?!"
"Ah... ketiduran... begitu ya, pantesan
ya hehehe."
Mendengar penjelasanku bahwa aku ketiduran, Saegusa-san
malah tertawa kecil seolah merasa tenang.
Aku sama sekali tidak menangkap maksudnya,
apakah aku telah berbuat sesuatu tanpa sadar selama aku tidur?
"Itu, pesanku dari Ichijo-kun nggak
dibalas-balas..."
"Line?
Ah..."
Mendengar
ucapan Saegusa-san, aku baru sadar.
Karena
tertidur dalam kondisi membuka ruang obrolan grup, sepertinya aku tidak sengaja
hanya membaca pesannya (read) tanpa memberikan respons apa pun.
Kulihat
kembali riwayat Line-ku, obrolan itu ternyata terus berlanjut bahkan setelah
aku tertidur, dan Saegusa-san bahkan sempat mengirimkan pesan pribadi
berkali-kali untuk memanggilku.
"M-maaf!
Tadi niatnya mau balas sambil ngetik teks, eh malah ketiduran di tengah
jalan!"
"B-b-begitu
ya! M-maaf ya, aku malah ngirim Line yang aneh-aneh!"
"T-tidak, justru aku yang minta
maaf!"
Kami berdua saling meminta maaf dengan panik.
"Tapi, ini pertama kalinya kita ngobrol
lewat telepon begini ya, Saegusa-san."
"Eh? A-i-iya! Tapi maaf ya, padahal kamu
lagi tidur tapi malah kutelepon..."
"Nggak kok, kebetulan aku belum sempat
nyiapin keperluan buat besok, jadi justru terbantu. Terima kasih ya."
"Ah, kalau aku malah... terima kasih
kembali, hehehe..."
Saegusa-san terdengar tertawa kecil dengan
riang di ujung telepon.
Ngomong-ngomong, mendengar suaranya lewat
telepon membuat rasanya seolah Saegusa-san sedang berbisik tepat di samping
telingaku, dan pikiran semacam itu seketika membuatku merasa salah tingkah.
Lagi pula, dipikir secara logis, mustahil
bagiku untuk menelepon dan mengobrol secara akrab dengan Shiorin, sang idol
super.
"U-um, k-kalau begitu, karena urusannya
sudah jelas, aku tutup dulu ya..."
Merasa rasa malunya sudah mencapai batas
maksimal dan segalanya mulai terasa terlalu berlebihan, aku berniat mematikan
panggilan.
"A-ah,
t-tunggu sebentar!!"
Namun,
menyadari aku berniat mengakhiri percakapan, Saegusa-san melarangku menutup
telepon.
"U-um!
Akhir pekan ini kamu ada acara nggak?!"
"Eh?
Akhir pekan? Hmm... malam Minggu aku kerja paruh waktu, tapi selebihnya sih
kosong..."
"K-kalau begitu! Kalau besok tidak
keberatan, maukah kamu pergi jalan-jalan bersamaku?!"
Menanggapi jawabanku soal jadwal akhir pekan, Saegusa-san
melontarkan ajakan tak terduga dengan penuh tekad.
—Besok, pergi jalan-jalan bersama?
—Bersama... aku? Dengan Saegusa-san?
Eeeeeeeeeeeeeeeh?!
Setelah sepenuhnya memahami makna dari ucapan Saegusa-san,
aku mengeluarkan suara teriakan "Eeeeeh?!" yang benar-benar kencang
tanpa dilebih-lebihkan.
"Kamu... nggak mau ya?"
Tanya
Saegusa-san dari ujung telepon dengan suara yang terdengar cemas.
"T-tidak, bukan nggak mau...
kok..."
"Syukurlah..."
Tentu saja aku mau.
Rasanya tidak ada cowok di dunia ini yang akan
menolak jika diajak oleh Saegusa-san.
Namun, justru karena itulah, aku sama sekali
tidak punya petunjuk kenapa aku sampai diajak olehnya.
"Tapi, apa nggak apa-apa kalau aku
orangnya?"
Meskipun pasti ada alasannya, aku bertanya
apakah benar tidak apa-apa mengajak cowok biasa sepertiku, dan setelah terdiam
sejenak, Saegusa-san menjawab dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar:
"Aku maunya... sama Ichijo-kun..."
Mendengar jawaban itu, kurasa wajahku langsung
memerah padam seketika bagaikan seekor gurita rebus.
"K-kalau gitu! Soal jamnya nanti kukabari
lewat Line ya! Selamat tidur!!"
Karena terlalu terkejut sampai membeku, Saegusa-san
mengucapkan salam tidur dengan nada suara yang meninggi, lalu langsung
memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
—Ping.
Seketika, sebuah notifikasi Line baru masuk ke
ponselku.‘Besok jam sebelas siang, kumpul di kafe depan stasiun ya!’
Itulah pesan jadwal untuk esok hari yang
langsung dikirimkan oleh Saegusa-san tak lama kemudian.
Melihat pesan Line tersebut, aku kembali
memastikan bahwa kejadian barusan bukanlah sebuah mimpi, melainkan kenyataan.
Begitulah, entah bagaimana caranya, aku
akhirnya dijadwalkan untuk pergi jalan-jalan bersama Saegusa-san keesokan
harinya—


Post a Comment