Chapter 2
— Kanase Mitoguchi dan Cerita
yang Terurai —
"—Kalau begitu, mari kita
akhiri rapat rutin OSIS hari ini. Semuanya, terima kasih atas kerja keras
kalian."
Suara Kanase yang tenang dan
lantang menggema memenuhi ruang OSIS. Jam-jam senja sepulang sekolah sepertinya
menjadi puncak kelelahan bagi semua orang, sehingga para pengurus OSIS
melakukan peregangan tubuh atau membunyikan persendian untuk mengendurkan otot-otot
mereka.
SMA Sōyō menganut sistem
otonomi OSIS, yang secara konkrit berarti pihak OSIS memegang peran utama dalam
pengelolaan kegiatan klub serta berbagai acara seperti festival budaya dan
festival olahraga. Bukan sekadar hiasan, sebagai salah satu organisasi yang
benar-benar menjalankan operasional sekolah, gerak-gerik mereka selalu diawasi
oleh para guru dan siswa umum.
"Hodoki-kun."
"Ada apa, Ketua?"
"Aku ingin membawa dokumen
dan komputer jinjing ke ruang guru, bisakah kamu membantuku setelah ini?"
"Baik. Boleh."
Itu adalah interaksi yang sepintas
tampak biasa saja. Asahi adalah
seorang sekretaris, yang bisa dibilang seperti pesuruh di dalam OSIS. Begitu
rapat selesai, tugasnya adalah membereskan ruangan dan mengembalikan
barang-barang pinjaman. Di saat anggota yang lain pamit pulang dengan ucapan
"sampai jumpa~", dia harus tinggal sedikit lebih lama.
Namun—anggota OSIS lainnya
tidak tahu bahwa itu adalah hal yang sudah direncanakan.
'Bantu aku setelah ini' adalah
sandi rahasia antara ketua OSIS dan sekretaris yang diam-diam berpacaran.
"—Lelah sekali ya, hari
ini."
"Ketua itu bekerja terlalu
keras, sih."
Ruang OSIS yang kini hanya
menyisakan Kanase dan Asahi diterangi kuat oleh sinar matahari senja dan
berubah menjadi warna kemerahan.
Dari kejauhan terdengar teriakan
semangat dari klub olahraga dan suara latihan alat musik dari klub brass band.
Suasana terasa tenang namun tetap diwarnai kebisingan. Jam-jam sepulang sekolah
di hari kerja adalah sebuah bangun berdimensi banyak tempat berbagai macam
suara saling tumpang tindih.
Terkadang, Asahi dan Kanase
menghabiskan waktu berdua saja di ruang OSIS seperti ini. Jika mereka
melakukannya di setiap kesempatan rapat, tentu saja orang-orang akan curiga,
jadi mereka bergantian untuk saling mengajak pada waktu-waktu tertentu.
"Kalau begitu, pada
liburan berikutnya, maukah kamu membawaku ke suatu tempat yang
menyenangkan?"
"Ajakan kencan yang agak
kasual ya... Boleh saja. Tapi aku tidak bisa menjamin tempat itu menyenangkan,
lho."
"Fufu. Asal bersama
Hodoki-kun, di mana pun pasti menyenangkan."
Mitoguchi Kanase. Siswa kelas tiga
SMA. Seorang wanita cerdas yang digambarkan sebagai perwujudan kesempurnaan
(cantik dan pintar), nyaris tanpa cela, eksistensi yang disebut sebagai bunga
di atas tebing (idola sekolah).
Selain itu, latar belakang
keluarganya juga kaya, menjadikannya seorang putri dari keluarga terpandang...
begitulah informasi yang pertama kali kudengar dari Kirio.
Awalnya Asahi berpikir bahwa akan
sulit untuk berpacaran dengan Kanase, namun setelah masuk OSIS sejak kelas satu
untuk memperpendek jarak, berusaha semaksimal mungkin untuk sering berinteraksi
dengannya yang ramah pada siapa saja, serta aktif menumpuk percakapan dan
tindakan, hasilnya ia menyatakan cinta dan lamarannya diterima. Katanya, ini
adalah pertama kalinya ia ditembak oleh seorang pria.
Tampaknya, jika seorang wanita
terlalu dianggap sebagai bunga di atas tebing, justru tidak ada yang berani
mendekatinya, sehingga pihak yang mengambil langkah pertama (first penguin)
justru yang diuntungkan. Asahi
benar-benar menyadari bahwa dalam hal apa pun, seseorang harus bertindak.
"Kalau begitu, bagaimana
kalau kita berputar-putar mencari tempat yang kelihatannya sama sekali tidak
menyenangkan?"
"Misalnya?"
"—Pemakaman, misalnya."
"Kalau tengah malam mungkin
bisa menyenangkan, ya? Kita uji nyali berdua!"
"—Tanah kosong,
misalnya."
"Kalau ada ruang kosong,
bagaimana kalau kita bermain lempar tangkap bola berdua? Aku belum pernah
mencobanya, jadi kurasa itu pasti menyenangkan. Ah, peralatannya akan disiapkan
dari sini sebelumnya, ya?"
"Ugh... Memangnya apa pun
contoh yang kusebutkan, perasaannya rasanya Ketua pasti akan selalu
menikmatinya, ya."
Kanase memang serius, namun bukan
berarti dia kaku; Kanase justru pandai bercanda dan pandai berbicara. Menjadi
orang yang pintar berarti memiliki laci perbendaharaan kata dan topik obrolan
yang banyak pula. Dan kecepatan Kanase dalam membuka laci-laci itu sangat
cepat. Bagi ukuran Asahi, mustahil bisa membuat wanita itu kewalahan.
"Kenapa kamu berusaha agar
aku tidak menikmatinya, sih. Aku tidak
mau, kalau tidak menyenangkan."
"Yah, aku hanya berpikir
untuk sesekali mengejutkan Ketua. Sekaligus membawa suasana ke ritmeku
sendiri."
"Kalau begitu ingin membawa
suasana ke ritme Hodoki-kun—"
Kanase mendorong bagian tengah
kacamata yang dipakainya dengan jari, lalu mempersempit jaraknya sedikit dengan
Asahi.
Tercium aroma manis yang samar.
Aku sudah memikirkannya sejak lama, dari rambut Kanase menguar wewangian yang
sangat enak—jika dihirup, detak jantungku rasanya bakal melonjak naik satu
tingkat. Tubuh Asahi sedikit menegang.
"—Ba, bagaimana kalau kita
melakukan sesuatu yang membuat jantung berdebar-debar?"
"Emm. Kalau itu, secara
spesifiknya seperti apa?"
"M-mencari tahu hal itu
adalah tugas Hodoki-kun!"
"Begitu juga ya..."
Kanase, yang selama ini hubungan
relasinya dengan lawan jenis hanya sebatas permukaan saja, ternyata sangat naif
(polos).
Meskipun sudah cukup lama
berpacaran, jangankan berpegangan tangan, bahkan hanya bersentuhan ujung jari
saja sudah membuatnya tersipu malu dan langsung mengambil jarak. Dia memang
seorang nona besar, atau mungkin pertahanannya memang kuat. Jika karakter seperti
ini memiliki jarak emosional yang kacau, itu barulah bisa disebut sebagai
wanita penggoda (femme fatale).
Namun, Kanase yang biasanya
seperti itu justru terlihat sangat agresif hari ini. Mungkin dia ingin
melangkah ke tahap yang sedikit lebih maju—Asahi menangkap maksud tersebut,
lalu dengan lembut meraih tangan Kanase.
"Nhn..."
"Eh, anu, tolong jangan
mengeluarkan suara aneh begitu."
"Ka, karena, tanganku
disentuh oleh seorang pria..."
Teksturnya sangat berbeda.
Asahi langsung merasakannya. Berbeda dengan jarinya sendiri yang tebal dan
memiliki ruas-ruas yang menonjol, milik Kanase setiap jarinya bagaikan seikat
benang sutra putih. Lembut meluncur, namun empuk.
Meskipun secara biologis
mereka seharusnya adalah manusia yang sama, apakah perbedaan jenis kelamin saja
sudah membuatnya begitu berbeda?
Saat Asahi meremas tangan
Kanase dengan ringan, gadis itu kembali mengeluarkan suara manis yang seolah
lolos dari bibirnya.
"—Ketua, tangan Anda... indah
sekali."
"Mana mungkin... b, biasa
saja."
"Kalau begitu, artinya
memang biasa indah, ya."
Ketika aku mengatakan sedikit
hal yang bernada menggoda, wajah Kanase memerah hingga kalah dari warna
matahari senja.
Sama seperti saat pertama kali
menapakkan kaki di atas salju baru, yang diiringi oleh perasaan bersalah
sekaligus tumbuhnya hasrat untuk sedikit menyiksa, menyentuh tubuh seorang
wanita yang suci memunculkan sensasi terlarang yang setara.
Sedikit terbawa oleh situasi
dan nafsu—itu adalah saat ketika Asahi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Maaf-maaf! Di ruang
OSIS, masih ada orang kah—!?"
Pintu ruang OSIS terbuka lebar
dengan suara ngik. Sepertinya dia membukanya dengan menggunakan kaki—dan
alasannya adalah karena wanita muda itu membawa sebuah kotak kayu putih sebesar
bola basket di kedua tangannya.
"Kebetulan kami baru
selesai beres-beres dan mau menguncinya, sih."
"Ada keperluan apa, ya? Bu
Umegoshi."
"Ah, baguslah. Kalau ada
Hodoki-kun dan Mitoguchi-san, aku jadi tenang."
Tanpa rasa bersalah, mereka berdua
menyambut wanita itu—guru bahasa Jepang modern, Umegoshi. Penyusup selalu
menyertai pertemuan rahasia, dan baik Asahi maupun Kanase sangat peka terhadap
kehadiran orang lain melebihi orang biasa. Begitu mendengar suara langkah kaki, mereka langsung
menjaga jarak dengan sigap.
Umegoshi meletakkan kotak
tersebut di atas meja ruang OSIS begitu saja.
"Keperluannya, kalian
pasti tahu kalau melihatnya. Kotak saran!"
"Eh? Tapi bukankah jadwal
pengambilan kotak saran masih belum waktunya ya?"
"Meskipun begitu, alasan Ibu
membawanya kemari berarti—"
"Sudah menumpuk! Meskipun
bukan hari pengambilan, periksalah situasi isinya."
Kotak saran adalah salah satu
bagian dari kegiatan OSIS yang dipasang di depan ruang guru.
Setiap siswa bebas menuliskan
'pendapat' secara anonim di atas kertas khusus lalu memasukkannya ke dalam
kotak, yang kemudian dapat disampaikan kepada pihak OSIS. 'Pendapat' tersebut
sangat beragam, mulai dari hal yang serius seperti permintaan perbaikan
fasilitas sekolah yang rusak atau peningkatan metode pengajaran, hal yang
didasari oleh keinginan pribadi seperti minta penambahan menu kantin atau jatah
libur yang lebih banyak, hingga pengaduan bernada tuduhan seperti siapa yang
diam-diam berpacaran dengan siapa, atau aku benci si anu jadi tolong lakukan
sesuatu—ragamnya luar biasa banyak.
Berdasarkan sistem sekolah, sering
kali menyampaikan permintaan melalui OSIS untuk diangkat sebagai topik
pembahasan jauh lebih mudah disetujui daripada menyampaikannya secara langsung
kepada guru. Oleh karena itu, kotak saran yang terkesan agak kuno ini selalu
diisi oleh jumlah surat yang konstan, dan setiap harinya pihak OSIS disibukkan
dengan penanganannya. Mengesampingkan 'pendapat' yang sama sekali tidak masuk
akal, jika permintaan yang wajar tidak ditangani dengan benar, ketidakpahaman
dan ketidakpuasan para siswa akan menumpuk dan mengembang seperti balon.
"Maaf, ini kelalaian saya.
Mulai sekarang, kami akan mengecek isinya meskipun di luar jadwal
pengambilan."
"Tapi karena Bu Umegoshi
membawanya kemari, pekerjaan kita jadi berkurang satu dan kita beruntung. Kotak
saran ini berat karena dibuat dari kayu tanpa alasan."
"Asal tahu saja, lain kali
aku akan menyiarkan pengumuman sekolah dan menyuruh kalian mengambilnya
langsung, lho?"
Saat Asahi mengatakannya dengan
nada bercanda ringan, Umegoshi sedikit mengerutkan keningnya. Umegoshi
sebenarnya adalah wanita yang cukup cantik dari segi penampilan, namun
kepribadiannya blak-blakan dan tidak terlalu menjaga jarak dengan para siswa.
Karena dia mengatakan apa pun yang ada di pikirannya secara terus terang,
popularitasnya justru lebih tinggi di kalangan siswi perempuan daripada
laki-laki.
Namun di sisi lain, dia sangat
diandalkan sebagai seorang guru, dan baik Asahi maupun Kanase cukup akrab
dengannya.
"Kalau saat itu tiba, saya
akan berlari ke sana tanpa ragu. Kan mantan anak klub atletik."
"Jangan berlari di dalam
koridor sekolah. Datanglah dengan jalan cepat (racewalking)."
"Maafkan kami, Bu Umegoshi. Padahal Ibu sibuk
sebagai pembina klub sastra dan klub riset animasi, tapi malah direpotkan oleh
kecerobohan pihak OSIS."
"Ah, tidak apa-apa, toh di
sana kebetulan cukup santai jadi tidak perlu dipikirkan. Klub anime itu dari
awal statusnya cuma pinjam nama pembina saja. Jadi daripada meminta maaf
padaku—"
"T-, Bu Umegoshi~. Jalannya
terlalu cepat tahu~~"
Menyusul cukup telat di
belakangnya, seorang wanita lain masuk ke ruangan sambil terengah-engah.
Tubuhnya lebih pendek dari
Umegoshi maupun Kanase, wajahnya bahkan terlihat kekanak-kanakan hingga sekilas
bisa dikira murid sekolah, namun karena mengenakan setelan jas formal dengan
rapi, dia juga merupakan salah satu anggota staf pengajar.
"—Ucapkan terima kasih yang
benar kepada Bu Ashiya."
"Kenapa saya juga dipaksa
ikut membantu membawanya..." Padahal saya sudah bilang kalau saya tidak
punya waktu luang sepulang sekolah karena klub musik ringan dan klub brass
band..."
"Membantu pihak OSIS adalah
kewajiban seluruh guru. Di luar
urusan klub masing-masing."
Ashiya adalah guru baru yang
merupakan junior dari Umegoshi. Mata pelajaran yang diampu adalah bahasa
Inggris, dan seperti yang dikatakannya sendiri, sejak tahun pertama
penugasannya ia langsung dibebani rangkap dua jabatan sebagai pembina klub
musik ringan dan klub brass band.
Dibandingkan dengan Umegoshi,
Ashiya masih tampak kurang bisa diandalkan. Pengalamannya masih minim, jadi
wajar saja jika dia bersikap demikian. Meskipun di sisi lain, Umegoshi justru luar biasa bisa
diandalkan terlepas dari masa kerjanya yang panjang.
"Terima kasih banyak, Bu
Ashiya."
"Terima kasih banyak
bantuannya, Bu Ashiya. Maaf ya, kotaknya sampai ada dua."
Kanase menundukkan kepala. Asahi
melirik sekilas ke arah Ashiya dan melihat wanita itu meletakkan sebuah kotak
kertas berwarna merah muda yang ukurannya sedikit lebih kecil, terpisah dari
kotak kayu khusus OSIS, di atas meja.
"Padahal kalau Bu Umegoshi
membawa kedua-duanya sekaligus kan beres..."
"Tidak mau."
(Penolakan yang terlalu
jujur...)
"Mulai tahun depan, kotak
yang satu ini akan ditiadakan."
Yang ditunjukkan oleh Kanase
adalah kotak berwarna merah muda tersebut. Ditiadakan mulai tahun depan—karena
Kanase akan lulus.
"Saya belum pernah
mendengarnya lho~, ada 'kotak permohonan' yang ditujukan khusus untuk individu
siswa seperti itu..."
"Aku juga kaget waktu pertama
kalinya. Ternyata ada sistem yang khusus diperuntukkan bagi Ketua."
"Saya rasa saya hanya
berpikir untuk bisa membantu rekan-rekan siswa sekalian, dan tidak merasa
melakukan hal yang terlalu istimewa, tapi..."
"Benar. Di sekolah ini, bukan
berarti ini tradisi sih, tapi karena hal itu muncul secara berkala, tempat ini
jadi terkenal karena—"
Plak, Umegoshi menepuk pundak
Kanase. Asahi ingat saat pertama kali
mengetahui sistem ini setelah masuk sekolah, dia sempat merasa
"Seriusan?!" karena terkejut, begitu pula Ashiya yang juga
menunjukkan keterkejutan sesaat setelah ia mulai bertugas di sini.
Hanya Umegoshi seorang, yang entah
kenapa mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh kebiasaan dan kepastian.
"—Seorang detektif
partikel."
***
"—Mitoguchi
Kanase. Jadi berikutnya giliran kita yang harus putus dengan wanita itu,
ya?"
"Ah, um.
Kalau bisa, sih."
Setelah pulang
ke rumah, terkadang Kirio menyambutku dengan mengenakan pakaian pelayan.
Meskipun disebut menyambut, sikapnya sangat tidak sopan, namun biasanya pada
saat itulah kami berdua merapikan dan mencocokkan informasi.
"Sebagai
sebuah strategi, itu tidak salah kok. Dari sudut pandangku, wanita itu adalah
yang paling 'berbahaya'."
Saat ini,
orang yang paling sering berinteraksi dengan Asahi adalah Kanase. Di saat yang
sama, Kanase juga disebut oleh Kirio sebagai orang yang paling harus
diwaspadai. "Berbahaya" dalam konteks ini berarti 'memiliki
kemungkinan tinggi untuk menyadari fakta perselingkuhan lima kaki'.
"'Berbahaya'
ya... Ungkapan yang memicu salah paham. Memang benar Ketua, seperti yang
terlihat, otaknya cerdas luar biasa, bisa berpikir secara sistematis dan logis,
dan pemikirannya juga fleksibel tidak kaku. Yah, jarang sekali ada siswa yang
diakui resmi oleh para guru dengan julukan 'detektif partikel' (detektif
hebat), kan?"
"Betul.
Mau tidak mau rumor tentang wanita itu bahkan sampai ke telingaku. Mulai dari
memecahkan misteri tujuh keajaiban sekolah, mencegah teror peledakan sekolah,
hingga menemukan film animasi legendaris dan menjadi miliarder—karena terlalu
banyak dilebih-lebihkan, aku tidak tahu mana yang benar."
"......Mungkin
sekitar separuhnya itu fakta."
"Apaan
tuh. Separuh pun itu tetap saja keterlaluan."
'Kotak saran'
adalah sistem bagi siswa umum untuk menyampaikan usulan atau permintaan secara
anonim mengenai OSIS itu sendiri atau seluruh sekolah kepada pihak OSIS. Oleh
karena itu, penanganannya dilakukan oleh seluruh anggota OSIS.
Sebaliknya,
'kotak permohonan' adalah sistem bagi siswa untuk mengajukan permohonan
penyelesaian masalah atau pertanyaan secara pribadi dan menggunakan nama asli
langsung kepada ketua OSIS, Kanase. Tentu saja, penanganannya diserahkan
sepenuhnya kepada Kanase seorang.
Awalnya
kegiatan itu dimulai oleh Kanase sebagai bagian dari konsultasi masalah siswa,
namun di antara permohonan-permohonan itu banyak yang rumit dan misterius, dan
karena Kanase telah berkali-kali menyelesaikannya, dia bahkan dijuluki sebagai
'Detektif' oleh para guru.
Dan dalam
beberapa insiden—hanya sebatas penyebutan untuk kenyamanan saja—Asahi memiliki
pengalaman bekerja sama membantu penyelesaiannya sebagai asisten Kanase.
"Pertama-tama,
urusan siswa menyelesaikan masalah siswa lain secara pribadi itu terasa arogan
dan aku menentangnya. Hal semacam itu seharusnya dilakukan oleh pihak yang
memiliki status sosial yang layak. Kalau perdata oleh pengacara, kalau pidana
oleh polisi. Bagaimanapun juga, mereka berdua kan masih anak-anak SMA. Aku tidak habis pikir dengan orang-orang
yang gemar mengandalkan wanita sempurna itu."
(Kirio
sendiri juga bagian dari 'anak-anak' itu sih...)
Kanase
mengoperasikan 'kotak permohonan' secara pribadi semata-mata karena semangat
pengabdian. Karena ingin berguna bagi orang yang sedang kesulitan, ingin
mengulurkan bantuan meski sedikit—hanya karena alasan sesederhana itu.
Asahi tahu
bahwa itu bukan demi nilai raport (naishin) atau reputasi, dan argumen sinis
dari Kirio—yang tidak terlalu mengenal Kanase—cukup mengusik perasaannya.
"Hah?
Ada apa dengan ekspresimu itu? Marah karena pacar kesayanganmu
dijelek-jelekkan?"
"Yah,
kurang lebih mirip seperti itulah. Ketua itu hebat. Suatu saat nanti, coba saja Kirio
berkonsultasi padanya."
"Kalau
begitu aku mau konsultasi soal 'ada siswa cowok yang selingkuh dengan lima
cewek sekaligus'. Reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan wanita itu, cukup
menarik juga untuk dilihat."
"Jangan
hentikan. Atau lebih tepatnya, jangan bicara hal yang tidak bisa kau
lakukan."
"Cih. Cuma
bercanda, tahu."
Sebagai
pengawas, Kirio sama sekali tidak boleh melakukan intervensi langsung terhadap
hubungan percintaan Asahi. Meskipun sesekali memberikan bantuan diizinkan,
namun membocorkan rahasia kebenaran kepada seseorang atau menanamkan kecurigaan
di benak para pacarnya adalah hal yang tabu (haram). Intinya, tidak boleh
mengganggu jalannya permainan.
Kirio menata
makan malam di meja makan dengan teliti, lalu menunjuknya dengan dagunya secara
sembarangan.
"Makan
malam. Makan."
"Terima
kasih. Padahal kamu bisa makan bersama sekalian."
"Ha? Di
belahan dunia mana ada pelayan yang makan bersama majikannya? Jangan
merendahkanku."
"Apa aku
baru saja mengatakan hal yang salah...?"
Saat Asahi
menunjuk bahwa di sekolah pun mereka sering makan siang bersama, Kirio
mendengkus mengejek secara terang-terangan, lalu mulai menuangkan saus tomat ke
atas omurice menu makan malam mereka.
"Kalau
siang itu karena aku seorang pelajar. Pelayan yang mengenakan seragam sekolah,
ya mana mungkin disebut pelayan."
"Apakah
fokus utamanya ada pada pakaiannya... bagian itu?!"
Saus tomat itu
ditulis dengan rapi membentuk kata 'BODOH' (manuke). Jika ada maid cafe dengan
konsep seperti ini, Kirio mungkin bisa menguasai dunia. Karena sifat aslinya
memang seperti ini.
"Dengarkan
sambil makan. Kau terlalu meremehkan wanita itu."
"Ketua?
Tidak kok. Justru aku mengevaluasinya setinggi mungkin."
"Evaluasi
itu sendiri sudah salah. Dengar ya? Kalau wanita itu adalah seorang
detektif—ketika daya nalar yang dimilikinya itu diarahkan kepadamu, wanita itu
akan menjadi eksistensi yang paling berbahaya. Kau paham arti dari kalimat
ini?"
"Paham,
tapi ya. Agar hal itu tidak terjadi, di hadapan Ketua aku berusaha sebersih
mungkin. Aku juga mewaspadai wanita itu... meskipun sebenarnya tidak ingin
kulakukan."
Jika 'detektif'
didefinisikan secara sederhana sebagai 'seseorang yang berbakat dalam
membongkar sesuatu', maka Kanase sangat unggul dalam kemampuan tersebut.
Perselingkuhan biasanya berawal dari kecurigaan atau keraguan kecil, yang
kemudian ditarik benang merahnya hingga akhirnya terbongkar. Saat ini, Kanase
hanya sedang tidak mengerahkan kemampuannya terhadap Asahi, namun jika
kemampuan itu dikerahkan, dipastikan Asahi tidak akan bisa menyembunyikan fakta
perselingkuhan lima kaki tersebut.
Singkatnya—hal
itu berarti Kanase memiliki probabilitas tertinggi untuk mengakhiri permainan
ini.
"Karena
begitu dicurigai, semuanya langsung berakhir. Menurutku, ketimbang gadis pelari
itu, seharusnya kita menyingkirkan si detektif ini terlebih dahulu, tapi yah,
urutannya terserah padamu. Kamu punya rencana kan?"
"Nggak
punya tuh? Justru aku ingin minta saran."
"Nggak
punya?!"
"Mana
mungkin punya. Rencana mana yang bisa berjalan sesuai bayaran, lagian aku
sendiri tidak punya rencana. Kalau ada celah sedikit saja, ingin kubawa ke arah
pembicaraan putus... hanya saja celah itu paling besar pada diri Tsukiashi, itu
saja. Kalau Ketua, justru semakin ditstimulus secara asal malah semakin
berbahaya."
Jika mengajukan
pembicaraan putus dengan alasan yang kurang kuat, Kanase justru akan
menyelidiki niat di balik itu. Jika sudah begitu, cepat atau lambat dia akan
sampai pada keadaan yang dialami Asahi. Singkatnya, itu adalah 'akhir'.
Artinya—pembicaraan
putus yang dilancarkan kepada Mitoguchi Kanase hanya bisa dilakukan sekali
saja.
Dalam satu
kesempatan itu, dia harus benar-benar diyakinkan tanpa meninggalkan keraguan
sekecil apa pun untuk mengakhiri hubungan.
"Yang
penting sekarang, aku harus bergerak agar Ketua sama sekali tidak mencurigaiku.
Yui dan Ami-san sepertinya aman, jadi karena aku sudah putus dengan Tsukiashi,
selama aku berhati-hati pada Oriko-san dan Ketua, situasi terburuk tidak akan
terjadi. Sekalipun ingin mencari celah, aku harus menggunakan waktu sedikit
lebih lama lagi."
"......Hmph.
Itu sendiri yang namanya 'rencana', tahu. Sadar nggak sih? Setan."
"Setidaknya
sebut itu sebagai 'harus berasumsi penuh harapan'."
Berpacaran
dengan lawan jenis sambil mempertimbangkan tingkat bahaya dan keselamatan,
bagaimanapun dipikirkan itu tidak normal.
Namun,
ketika menyadari bahwa dirinya menerima kenormalan itu sebagai hal yang wajar,
lalu berpikir ke depan dan bertindak berdasarkan hal tersebut, Asahi terkadang
jatuh ke dalam kebencian pada diri sendiri hingga membuatnya merasa mual.
Kirio, yang
secara blak-blakan menyebutnya 'Setan', mungkin dalam arti tertentu adalah
penyelamat bagi Asahi.
"Ngomong-ngomong,
aku bahkan tidak tahu bagaimana pasangan pacaran normal mengakhiri hubungan
mereka. Apakah biasanya ada semacam pemicu besar atau semacamnya? Apa Kirio
tahu?"
"Pelecehan
seksual ya? Jangan bertanya hal semacam itu pada seorang pelayan."
"Kenapa
pula..."
Hanya ada satu
hal yang ia ketahui.
Sang pacar
tercinta yang berwajah rupawan dan cerdas luar biasa—si detektif—untuk saat ini
adalah musuh terkuat bagi Asahi—
***
"Aku ingin
Hodoki-kun juga melihat surat permintaan ini."
"Boleh
saja sih... tapi kalau aku yang baca, sepertinya tidak akan membantu apa-apa,
lho?"
"Tidak
juga kok. Pokoknya, maukah kamu membacanya?"
"Baiklah."
Keesokan
harinya, saat Asahi dipanggil ke ruang OSIS pada jam istirahat siang, ia
diserahkan selembar surat permintaan oleh Kanase.
Karena anggota
OSIS lainnya tidak ada di tempat, Kanase mungkin memanggil Asahi secara
pribadi.
Jika Kanase
adalah seorang detektif, maka Asahi adalah asistennya, namun pada akhirnya apa
yang ia lakukan tidak berbeda dari sekretaris OSIS—yaitu serabutan secara umum.
Baik itu pekerjaan kasar, atau menyambung komunikasi, apa pun bisa dikerjakan
oleh siapa saja.
Oleh karena
itu, ia tidak bisa menjadi asisten cerdas yang mampu mengisi celah-celah
pemikiran wanita itu, namun Kanase mengatakan tidak masalah, jadi Asahi membaca
surat permintaan itu dengan teliti.
"—Pacarku
mungkin berselingkuh, begitu."
"Ya.
Pemohonnya adalah siswi kelas dua, Ichikawa Mimi-san, ia mencurigai
perselingkuhan pacarnya yang anak kelas tiga, Satomi Ryoya-kun, dan meminta
saya untuk menyelidiki fakta kebenarannya."
"Apakah
ada gelagat mencurigakan yang terlihat dari pacarnya? Atau malah, ini
benar-benar terasa seperti cerita detektif. Bukan fiksi, tapi versi nyata.
Masalah begini seharusnya tidak perlu dikonsultasikan ke Ketua, kan."
Karena ini
sudah menyangkut permintaan penyelidikan perselingkuhan, rasanya ini sudah
bukan lagi ranah pekerjaan ketua OSIS.
Asahi
berpikir, pergilah ke kantor detektif profesional seperti yang ada di
iklan-iklan majalah kereta.
"Dari
sudut pandang hukum bisnis detektif, seseorang tidak harus memiliki lisensi
khusus untuk menjadi detektif, jadi bagi saya pun tidak ada masalah sih."
"Bukannya
masalah itu..."
Namun jawaban
Kanase sedikit meleset dari sasaran. Gadis itu terkadang memiliki sisi polos
(natural).
Penyelidikan
perselingkuhan—mendengar kata itu membuat jantung Asahi berdegup kencang.
Meskipun ia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi atau perubahan suasana di
wajahnya, jauh di lubuk hatinya ia tidak bisa menahan perasaan adanya kemiripan
situasi yang buruk.
"Bukankah
ini kasus yang bisa ditolak saja? Ketua tidak harus turun tangan mengurus
segala hal."
"Awalnya
saya memang berpikir begitu, sih. Urusan asmara bukanlah panggung bagi saya,
lagian berpacaran secara terang-terangan dilarang di sekolah kita."
"Tapi kita
berdua melanggar peraturan sekolah itu, lho."
"Undang-undang
dan peraturan dibuat untuk dipatuhi, tapi peraturan sekolah (rule) dibuat untuk
dilanggar!"
"Pernyataan
yang bermasalah..."
Jika Kanase
benar-benar tipe orang yang mematuhi aturan dan regulasi secara ketat, sejak
awal mereka tidak akan bisa berpacaran. Justru karena dia memiliki sisi santai
sewajarnya gadis sebayanya, ia memiliki daya tarik sebagai manusia.
Setidaknya saat
melihatnya tersenyum usil, Asahi berpikir begitu dari lubuk hatinya.
Apakah
pembicaraannya sudah selesai sampai di sini—saat pikiran itu terlintas di benak
Asahi, Kanase mengeluarkan selembar kertas lainnya dan menyerahkannya.
"Sebelum
mengambil kesimpulan, bisakah kamu membaca yang satu ini juga?"
"Baik.
Eeto——"
Asahi membaca
surat permintaan itu. Dan begitu membaca beberapa baris pertama, ia
mengeluarkan suara tanpa sadar, "Eh."
"Pemohonnya
adalah siswi kelas tiga, Mishima Yū-san, dan isi permintaannya adalah—"
"—Mishima-san
mencurigai perselingkuhan pacarnya yang anak kelas tiga, Satomi Ryoya-kun, dan
meminta untuk menyelidiki fakta kebenarannya."
Permintaan
dari pemohon yang berbeda dengan isi yang hampir identik. Apa arti dari hal itu, bahkan Asahi pun bisa
memahaminya.
"—Seriusan?
Eh, kalau begitu, bisa dibilang ini sudah..."
"Ya. Sudah
terselesaikan. Tanpa perlu kita berbuat apa pun, melalui dua surat permintaan
ini."
"Benar
juga. Soalnya... dia memang melakukannya, kan. Satomi-senpai ini,
berselingkuh."
"Atau
bisa disebut juga 'berselingkuh dengan dua orang sekaligus' (futamata).
Sepertinya begitu. Oleh karena itu, saya ingin berdiskusi lagi dengan
Hodoki-kun—saya harus bagaimana, ya...?"
Kanase
menurunkan ujung alisnya dengan ekspresi kesulitan. Bagi Asahi, menemani Kanase
memecahkan masalah ibarat bertindak sebagai pemberi respons (tsukkomi),
sehingga jarang sekali ia diminta menentukan pokok utamanya.
"Harus
bagaimana maksudnya... secara spesifiknya seperti apa?"
"Apakah
sebaiknya hal ini disampaikan kepada Ichikawa-san dan Mishima-san? Jika hanya
satu permintaan saja, dari awal saya berniat menolaknya, namun meskipun
kebetulan, kita sudah mendapatkan jawabannya, bukankah mengabaikannya itu
sesuatu yang—bagaimana ya—tidak adil? Terlepas dari diterima atau tidaknya
permintaan itu, hanya kita berdua yang tahu jawabannya, dan sengaja memilih
untuk bungkam..."
"—.
Jawabannya sepertinya sudah ada di dalam diri Ketua, kok. Kalau Ketua butuh dorongan terakhir, akan
kukatakan secara sengaja. Sampaikan saja kepada kedua pemohon itu. Kebenaran
harus diperjelas."
Memberikan
kata-kata yang ingin didengar oleh lawan bicara adalah hal yang sangat penting
dalam pergaulan sosial. Terlebih lagi jika hubungan tersebut adalah hubungan
pria dan wanita. Respons Asahi bagi Kanase sepertinya bernilai seratus poin
sempurna, karena gadis itu langsung menunjukkan senyum yang merekah cerah dan
berkata, "Terima kasih banyak!"
(——Seharusnya
tidak ada yang salah. Tapi, ada apa ini. Bukankah melibatkan Ketua dalam
masalah ini adalah hal yang sangat berbahaya? Apakah karena isi masalahnya yang
sensitif...)
Meskipun
dirinya sama sekali bukan pihak yang terlibat langsung, namun ia memegang
keadaan yang tumpang tindih dengan isi permintaan tersebut.
Asahi
merasakan krisis tanpa alasan yang jelas terhadap prasangka bahwa Kanase
berbahaya dan fakta bahwa gadis itu mengintervensi 'permintaan yang tumpang
tindih' tersebut—namun ia tidak tahu apakah itu sekadar kekhawatiran belaka.
***
"Jadi,
menurut Mitoguchi-san, siapa di antara aku dan selingkuhannya yang dikira
sebagai kekasih utama (honnin) Ryoya-chan? Karena kau dipanggil Detektif oleh
para guru, hal seperti itu pasti bisa kau ketahui juga, kan?"
"Eh..."
Atas
anjuran guru, Mishima Yū yang duduk di kelas tiga dipanggil ke ruang OSIS, dan
tanpa memberitahu keberadaan Ichikawa Mimi, Kanase menyampaikan bahwa fakta
perselingkuhan itu benar adanya, membuat Mishima langsung bertanya dengan nada
bicara yang agak ketus. Ada nuansa sedikit meremehkan—Kanase memang tidak
disukai oleh seluruh siswa di sekolah.
Mishima
mendekati Kanase bukan atas dasar rasa suka, melainkan memanfaatkan posisinya.
Namun
Kanase tidak mempedulikan sikap orang seperti itu, dengan perasaan bingung ia
menjawab:
"Julukan
detektif untuk saya hanyalah sejenis candaan belaka, lagian di sekolah kita
pada dasarnya melarang hubungan asmara, jadi selanjutnya, saya harap
Mishima-san dan rekan-rekan bisa diam-diam memutuskan arah kedepannya di ranah
pribadi..."
"Gara-gara
peraturan sekolah yang bodoh itu, kan jadi susah mau konsultasi secara terbuka
ke teman. Makanya aku menyita waktu dan datang berkonsultasi ke Yang Mulia
Ketua OSIS, tahu? Lagian, kalau hal begini saja tidak bisa diselidiki tapi
dipanggil detektif, jangan-jangan cuma cari muka ke guru demi nilai raport
(naishin) ya? Lucu banget."
(Orang ini
sikapnya buruk sekali...)
Pertama-tama,
apakah itu kekasih utama atau bukan, apa gunanya mengetahuinya? Apakah ia akan puas jika bisa memastikan bahwa
posisinya bukan sekadar mainan? Cara berpikir yang tidak bisa dipahami oleh
Asahi.
Sebaiknya dia
segera dipersilakan pulang. Asahi memberikan tatapan isyarat kepada Kanase, dan
Kanase mengangguk kecil.
"——Baiklah.
Kalau begitu, mari saya selidiki sesuai cara saya, siapa sebenarnya kekasih
utama Satomi-kun."
"Eh,
beneran nih?!"
"Baguslah.
Kalau sudah tahu, kabari aku lewat pesan, ya. Ah, kalau ada hal yang ingin kamu
tahu soal Ryoya-chan, boleh kuajari duluan kok?"
"Emm.
Kalau begitu, berdasarkan daftar nama siswa, Satomi-kun sepertinya berasal dari
klub musik ringan, apakah itu benar?"
Entah angin apa
yang membawanya, Kanase tidak menarik diri dari kasus ini.
Mishima, yang
mendapatkan jawaban memuaskan, dengan riang memperlihatkan ponselnya kepada
Kanase dan Asahi.
"Nih,
lihat ini! Keren banget, kan?!"
"Ini——foto
saat sedang tampil, ya? Apakah orang ini adalah Satomi-senpai?"
Berdiri di
tengah panggung, di depan mikrofon penyangga, seorang pria sedang memetik
gitar—foto di dalam ponsel Mishima mengabadikan momen tersebut. Disinari oleh
cahaya lampu yang terang, bermandi keringat namun tetap memetik gitar dengan
tangan kirinya, Asahi berpikir bahwa sosok itu memang terlihat keren. Ini pasti
Satomi.
"Lokasinya,
apakah di semacam live house? Satomi-kun membentuk sebuah band, dan meskipun
statusnya hanya terdaftar di klub musik ringan, kegiatannya tampaknya berpusat
di luar."
"Kau tahu
banyak juga ya, Mitoguchi-san. Betul banget. Makanya Ryoya-chan hampir nggak
pernah datang ke klub musik ringan, dan malah manggung di live house. Yah, klub
main-main di sekolah kayak gini kan nggak ada artinya buat Ryoya-chan yang
ngejar cita-cita jadi profesional."
Mishima
mengeluarkan pernyataan yang secara terang-terangan meremehkan klub musik
ringan. Memang dasarnya memiliki kepribadian seperti itu.
Di SMA Sōyō,
terdapat peraturan sekolah yang mewajibkan seluruh siswa untuk terdaftar di
salah satu kegiatan klub. Karena itulah tidak ada siswa yang berstatus 'grup
bebas' (kaktaku-bu) secara resmi, namun pada kenyataannya banyak siswa yang
menjadi anggota hantu (ghost member) yang hanya terdaftar namanya saja,
sehingga peraturan ini bisa dibilang sebagai salah satu aturan sekolah yang
sudah mati fungsinya (fukaika).
Satomi juga,
begitu jam sekolah usai, alih-alih pergi ke klub, ia rutin bermain musik di
live house atau studio.
"Mishima-san
adalah anggota klub bola voli, kan? Klub bola voli kan punya jadwal latihan
yang padat, jadi apakah kamu jarang bertemu dengan Satomi-kun? Kupikir setiap
hari sepulang sekolah ada latihan."
"Begitulah.
Latihan seminggu 6 hari. Yah, aku berusaha cari waktu sih. Oh ya, satu lagi,
Ryoya-chan itu punya hari di mana dia sama sekali nggak bisa ditemui. Kalau
hari itu kebetulan barengan sama jadwal libur klub, tamat sudah
riwayatku."
"Hari di
mana sama sekali tidak bisa ditemui..."
Asahi bergumam
mengucapkannya dengan suara pelan. Jika dipikir secara normal, keberadaan hari
seperti itu sangat memudahkan seseorang untuk mendua.
Dirinya sendiri
pun menetapkan hari-hari di mana ia tidak bisa menemui para pacarnya. Alasannya
masing-masing berbeda, entah karena kegiatan OSIS, pekerjaan paruh waktu, atau
urusan keluarga, seringkali itu bukanlah sebuah kebohongan namun juga bukan berarti
sepenuhnya bersih.
Kanase
mengangguk-angguk paham, lalu menanyakan tentang 'hari yang sama sekali tidak
bisa ditemui' itu.
"Hari
seperti apakah itu?"
"Hari di
mana studio besar bisa disewa. Karena hari itu dia mau fokus latihan, jadi dia
nggak mau ketemu siapa pun."
"Begitu
ya. Saya mengerti. Untuk sementara cukup sekian, jika nanti ada hal lain yang
ingin saya tanyakan, saya akan menghubungi Mishima-san langsung, ya?"
"Makasih
ya, Mitoguchi-san. Ternyata kamu anak baik banget, ya! Sampai jumpa lagi!"
(Orang yang
realistis...)
Begitulah,
Mishima meninggalkan ruang OSIS. Asahi yang tertinggal langsung menginterogasi
Kanase.
"Apa
maksudmu, Ketua. Menerima permintaan semacam ini."
"Hmm...
Pertama, karena aku sedikit merasa kesal. Perasaan 'tidak bisa melakukan' itu
lebih melukai harga diri seseorang daripada 'tidak mau melakukan', kan? Aku
tidak ingin Mishima-san—atau lebih tepatnya, Hodoki-kun—berpikir bahwa aku
tidak mampu menyelidiki siapa kekasih utamanya."
"Bahkan
tanpa hal itu pun penilaianku terhadap Ketua tidak akan goyah hanya karena
masalah begini."
"Itu
artinya penilaiannya tidak akan naik lagi, dong?"
"Bolehkah
aku menganggapnya sudah naik setinggi-tingginya?"
"Muuu."
Kanase
tampaknya memiliki kebanggaan tersendiri dipanggil sebagai 'Detektif'. Meskipun
ia tidak sepenuhnya menelan mentah-mentah julukan itu, ia benci dipandang
rendah. Terutama di hadapan sang kekasih.
"Satu
lagi. Ini bersifat pribadi sih——karena ada hal yang 'membuatku penasaran'
versiku sendiri. Jadi aku ingin menyelidikinya juga."
"Eh?
Apakah itu mengenai hubungan cinta segitiga yang aneh tadi?"
"Ya. Jadi,
mari kita panggil Ichikawa-san berikutnya."
Kanase
tersenyum manis. Asahi bahkan tidak bisa menebak di bagian mana alur pemikiran
gadis itu sedang melaju sekarang. Berada di tempat yang sama dan melihat hal
yang sama, namun tidak bisa memikirkan hal yang sama.
'Perbedaan'
itulah——yang suatu saat nanti akan mengarahkan bilah pedang ke takdir Asahi.
"Eh, ah,
kalau begitu, anu, apa Satomi-ya-senpai itu, menganggapku bukan kekasih
utamanya...? K-kalau begitu, apakah Ketua OSIS tahu siapa sebenarnya kekasih
utamanya...?"
Giliran
Ichikawa Mimi dari kelas dua yang dipanggil, dan setelah disampaikan bahwa
fakta perselingkuhan itu benar adanya, ia memberikan reaksi yang mirip dengan
Mishima. Dibandingkan Mishima yang menonjol dengan sikap tangguhnya, Ichikawa
jauh lebih penakut atau bisa dibilang kurang bersemangat. Satomi Ryoya
sepertinya berselingkuh dengan dua orang berkarakter kontras.
"Untuk
saat ini saya belum tahu. Tapi, jika Ichikawa-san menginginkannya, akan saya
selidiki."
"...B-benarkah?
Kalau begitu... bolehkah tolong diselidiki?"
"Boleh
saja. Tapi, jika Anda bisa menjawab beberapa pertanyaan dari saya terlebih
dahulu, itu akan sangat membantu sekali."
"Boleh...
aku akan menjawabnya. Apa pun... demi Satomi-senpai."
(Demi
Satomi-senpai, ya. Tapi kelihatannya tidak seperti itu.)
Kepribadian
Ichikawa dan Mishima tampak bertolak belakang, namun persamaannya terletak pada
keterikatan mereka terhadap sang pacar, Satomi. Pertanyaan 'siapa kekasih
utamanya' jika dibalik sebenarnya bermakna 'aku ingin bukti bahwa akulah
kekasih utamanya'. Keduanya sama-sama tidak memiliki keraguan. Kemungkinan
bahwa diri mereka bukanlah kekasih utama tidak terlintas sama sekali di benak
mereka.
Asahi
berpikir demikian dengan dingin, sementara Kanase merangkai percakapan dengan
tenang.
"Pertama,
Ichikawa-san adalah anggota klub sastra, seberapa sering kamu datang ke
kegiatan klub?"
"Emm...
seminggu 2 atau 3 kali? Kalau tidak datang pun, Bu Umegoshi tidak
mempermasalahkannya..."
"Begitu
ya. Kalau begitu, seberapa jauh kamu mengenal Satomi-kun?"
"Seberapa
jauh... ditanya begitu juga. Dia nge-band, penampilannya saat manggung keren
banget, dan dia serius bercita-cita jadi musisi profesional..."
"Misalnya,
apakah ada hari di mana dia sama sekali tidak bisa ditemui?"
"Ah, ada.
Hari di mana studio bagus bisa disewa, kami tidak bisa bertemu."
(Eh. Pengaturan
itu ternyata benar? Kalau begitu, bukan bohong melainkan dia benar-benar
berlatih di studio?)
Asahi tadinya
mengira bahwa Satomi membuat 'alasan' berupa 'hari di mana studio bagus bisa
disewa jadi tidak bisa ditemui' kepada salah satu pacarnya, lalu menggunakan
waktu kosong itu untuk berselingkuh dengan pacar yang lain. Namun, baik
Ichikawa maupun Mishima sama-sama menyebutkan 'pengaturan' yang sama. Saat
Kanase mencocokkan tanggalnya, hari-hari dengan 'pengaturan' tersebut ternyata
saling tumpang tindih pada keduanya, yang berarti itu bukanlah alasan palsu
melainkan dia benar-benar pergi ke studio.
Satomi, yang
dengan sungguh-sungguh bercita-cita menjadi musisi profesional, mungkin tidak
memalsukan bagian itu. Setidaknya dalam hal musik ia bersikap tulus, Asahi
memperbarui pengaturan mental tentang Satomi secara sepihak.
"Aku
tidak begitu mengenal Satomi-kun. Apakah Ichikawa-san menyimpan foto atau video
Satomi-kun saat tampil di atas panggung di ponselmu?"
"Y-ya!
Yang ini... meskipun bentuknya video."
Sama seperti
Mishima, Ichikawa memiliki video Satomi. Saat mereka berdua melihatnya,
meskipun sudut pandang dan warna pencahayaannya berbeda, sosok yang sedang
tampil itu memang benar-benar Satomi sendiri. Entah bagaimana di atas panggung,
sambil memetik gitarnya, ia menyanyikan lagu barat yang liriknya familier di
telinga Asahi.
Kanase menatap
video itu lekat-lekat, lalu berkata, "Terima kasih."
"Apakah
ada hal lain mengenai Satomi-kun yang terasa membingungkan atau membuatmu
penasaran?"
"A, e,
eetto, eetto... Itu, apakah hal seperti ini boleh kukatakan..."
"Jika itu
hal yang sulit diungkapkan, Anda tidak perlu memaksakan diri. Jika Anda merasa
risih di hadapan seorang pria, saya bisa meminta sekretaris saya untuk keluar
ruangan, atau jika lisan terasa sulit, Anda bisa mengungkapkannya lewat
tulisan—"
"A...
tidak, akan kukatakan... Anu, Satomi-senpai itu tinggal sendiri, tapi...
kalau... untuk urusan itu, kami pasti melakukannya di hotel. Dia tidak pernah
membawaku ke rumahnya..."
(Waaah)
Pembicaraan
yang vulgar. Asahi sama sekali tidak ingin tahu urusan seksual orang lain,
apalagi anak SMA, namun Kanase memiliki tingkat imunitas yang rendah terhadap
topik seperti ini. Apakah dia tidak mendadak tersipu malu lalu membeku—dihantui
kecemasan, ia melirik sekilas untuk mengamati ekspresi Kanase.
"—Begitu
ya. Kalau begitu, hari-hari spesial... seperti hari Natal atau ulang tahun
masing-masing?"
"Hari-hari
perayaan musiman biasanya berbenturan dengan jadwal konser... jadi kami
merayakannya sedikit lebih cepat atau sesudahnya. Ulang tahun juga... sama, alasannya karena ada
konser..."
(Te-tenang
sekali. Saat dalam
mode detektif, dia tidak akan terguncang oleh apa pun yang datang.)
Tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa dia telah berubah menjadi orang yang berbeda.
Kanase sangat tenang, dan kini ia menangkap seluruh informasi ibarat kepingan
puzzle. Dan ia tidak
akan membiarkan dirinya terusik oleh satu kepingan puzzle sekalipun.
Bagaimanapun bentuk isinya, hal itu hanyalah masalah sepele jika dibandingkan
dengan gambar akhir yang bernama kebenaran.
Asahi yang
bereaksi secara batin di setiap ucapan lawan bicaranya tampak sangat
awam—kembali menyadari bahwa Kanase memang tidak berada di panggung yang sama
dengannya.
"Saya
mengerti. Ngomong-ngomong, apakah Ichikawa-san tertarik pada musik? Bukan
sebagai pendengar, melainkan apakah kamu pernah punya perasaan ingin ikut
tampil bersama Satomi-kun, atau semacamnya?"
"Ah,
tidak, tidak ada. Aku murni hanya sebagai pendengar..."
"Terima
kasih. Kalau begitu, ini pertanyaan terakhir——bagaimana cara Ichikawa-san
mengetahui fakta perselingkuhan itu?"
"Eh, ah,
itu..."
"Ini hanya
sebatas tebakan saya, tapi, apakah itu bukan karena kecerobohan Satomi-kun
sendiri, atau dari gosip teman—melainkan ada sesuatu 'benda' yang memperkuat
kecurigaan itu?"
Dengan hampir
penuh keyakinan, Kanase menyimpulkan hal itu. Ichikawa mengangguk pelan dalam
keheningan——
***
"—Aku juga sudah
memastikan pada Mishima-san, dan situasinya hampir sama persis seperti
Ichikawa-san."
"Maksudnya?"
"Perilaku Satomi-kun
sehari-hari, begitu. Keduanya sama-sama tidak pernah diajak bertemu di
hari-hari spesial, tidak pernah diajak ke rumahnya, namun hubungan fisik itu
ada. Selain itu, minat keduanya terhadap musik pun minim. Hanya saja, jika
murni menghitung jumlah pertemuan, karena perbedaan waktu luang harian,
Ichikawa-san sepertinya berada di atas."
Beberapa hari kemudian,
sepulang sekolah. Meskipun tidak ada kegiatan OSIS hari ini, Asahi tetap berada
di ruang OSIS bersama Kanase.
Di sana, ia
mendengarkan informasi yang telah dirangkum oleh Kanase. Meskipun begitu, dari sudut pandang Asahi,
informasi-informasi tersebut sama sekali tidak bisa dipahami apa tujuannya.
"Kalau secara simpel
jumlah pertemuannya lebih banyak... jangan-jangan Ichikawa adalah kekasih utama
Satomi-senpai?"
"Begitu ya. Kalau
memang benar begitu alangkah bagusnya—"
Kanase menggantung
kalimatnya. Ia berniat menggali lebih dalam secara spesifik, namun pada saat
itu, suara ketukan terdengar di pintu ruang OSIS. Tanpa menunggu jawaban, pintu
langsung terbuka lebar dengan suara kriet.
"Woi. Disuruh
dateng makanya aku datang. Eh, apaan nih? Kukira mau ditembak sama Mitoguchi,
tapi malah ada cowok nggak dikenal. Ini hidden camera? Lagi ngerekam video ya?"
"Maaf, Satomi-kun. Padahal Anda pasti
sibuk dengan kegiatan band. Hari ini sepertinya adalah hari latihan di studio besar,
ya. Terima kasih atas kerja kerasnya."
"Ya-lah. Terus
tolong persingkat ya."
(Orang ini benar-benar
sesuai dengan bayanganku...)
Satomi yang dipanggil
tampak sangat dangkal, dan kesan pertamanya benar-benar cocok dengan kenyataan
saat ia berbicara. Tipe kepribadian yang membuat orang lain pilah-pilih untuk
mendekatinya. Setidaknya, Asahi merasa tidak akan pernah bisa akur dengannya.
"Dia adalah
sekretaris OSIS dan bisa dibilang asisten saya. Alasan saya memanggil
Satomi-kun ke sini hari ini, kalau langsung saja ke intinya—Mishima Yū-san dan
Ichikawa Mimi-san, dari antara kalian berdua, siapakah yang menjadi kekasih
utama Anda, saya berniat mendengarnya langsung dari mulut Satomi-kun."
(Langsung straight to the point
banget...)
Siapa sebenarnya kekasih
utama, cara paling mudah untuk mengeluarkan kesimpulan itu.
Tentu saja, Kanase
nantinya akan memberitahukan kepada dua orang pemohon tersebut mengenai siapa
yang dipilih oleh Satomi sendiri. Asahi tadinya mengira Kanase akan menebaknya
lewat proses penalaran dan deduksi, jadi pilihan Kanase ini justru membuatnya terkejut.
Namun, karena itu adalah
cara yang masuk akal, tentu saja tidak ada keluhan yang bisa diajukan.
Satu-satunya yang mungkin
akan protes adalah Satomi sendiri yang tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu.
"Hah? Bukan, nggak
paham aku. Kenapa tiba-tiba? Jangan-jangan beneran lagi ngerekam video ya.
Berhenti deh."
"Kalau suara, dia
merekamnya sebagai bukti."
"Maaf, Satomi-senpai.
Ini bukan bentuk video
jadi harap tenang."
"Bukan masalah
tenang atau nggak tenang, tahu! Haaah, tunggu sebentar deh serius. Bercandanya
nggak lucu ya. Mitoguchi, mentang-mentang kamu disayang sama guru, kamu jadi
nggak bisa bedain mana hal yang boleh dilakukan dan mana yang nggak? Bener-bener
nggak masuk akal. Mau kuadukan ke pengadilan lho, beneran. Gimana?"
(Reaksi terkejut yang
terang-terangan, makian kasar, ancaman yang amat payah. Bagaimana pun
dilihat...)
Itu tampak seperti
perlawanan yang buruk rupa. Tidak diragukan lagi bahwa ia memang tertusuk di
titik yang tepat, namun Satomi tetap berusaha menutup-nutupinya. Sebagai pihak
yang bersangkutan, dia mungkin berpikir bahwa fakta perselingkuhan dua kakinya masih
bisa disembunyikan rapat-rapat.
"Aku nggak tahu
siapa Ichikawa atau Mishima itu, ya!"
"Panggilan sayang
kalian berdua adalah 'Mī-chan', kan? Dari 'Mi'shima dan 'Mi'mi."
(Penyamaan nama
panggilan—untuk mencegah salah sebut.)
"Ah... hah?! Nggak
ngerti apa-apaan maksudnya?!"
Konfirmasi panggilan
tersebut telah diambil dari kedua belah pihak, baik Ichikawa maupun Mishima.
Keduanya sama-sama dipanggil 'Mī-chan' oleh Satomi, dan mereka berdua pun
menerimanya. Agar tidak salah sebut secara tidak sengaja, Satomi menggunakan
akalnya sendiri. Asahi sempat berpikir, untung saja nama depan mereka kebetulan
memiliki suku kata yang sama.
"Saya juga bisa
menunjukkan buktinya, tapi pertama-tama ini adalah permintaan langsung yang
saya terima dari Ichikawa-san dan Mishima-san. Karena mereka berdua sudah
mencurigai Anda, saya rasa tidak ada untungnya lagi jika Anda terus mengelak..."
"Seriusan............
gawat juga ya. Haaah............"
Satomi menghela napas
panjang. Pada akhirnya, bagaikan seorang pelaku kejahatan yang menyerah saat
moncong senjata diarahkan kepadanya, ia mengangkat kedua tangannya.
Menyampaikan pesan tersirat bahwa ia menyerah.
"Maaf ya Mitoguchi!
Seperti katamu, aku memang selingkuh dengan dua orang sekaligus! Soalnya kalau
ditanya siapa yang utama, jujur saja karena ini cuma main-main jadi aku nggak
pernah memikirkannya! Tapi kalau begini keadaannya, aku jadi merasa bersalah
pada mereka berdua, jadi aku mau putus dengan keduanya saja!"
(Ringan banget
mulutnya...)
Bagaikan anak kecil yang
ketahuan berbuat nakal, Satomi terus-menerus melontarkan kata "maaf"
tanpa kejelasan siapa yang dituju. Tidak terlihat adanya rasa bersalah sedikit
pun, dan meskipun itu bukan urusannya, Asahi merasa muak. Meskipun dirinya
sendiri tidak punya kualifikasi untuk menilai, itu adalah emosi yang tak bisa
dihindari.
"—Jadi, itu
kesimpulan dari Satomi-kun? Meninjau dari sudut pandangku, tindakanmu itu
sangat tidak tulus, tahu?"
"Ah, iya.
Begitulah. Sori banget, beneran. Sudah merepotkan Mitoguchi. Oh iya, sebagai permintaan
maaf, bagaimana kalau lain kali kita pergi makan bareng? Kalau mau akan
kutraktir, atau lebih baik lagi, kasih tahu kontaknya dong! Ngomong-ngomong aku
kan belum pernah sekelas sama Mitoguchi, ini kesempatan pas banget, kan?"
"Baiklah. Kalau
begitu, bisa tolong keluarkan ponsel Anda?"
"Oke, oke."
Dengan nada santai, Satomi
mengeluarkan ponselnya sendiri. Menyetujui hal itu, Kanase memberi isyarat mata
kepada Asahi.
"Hodoki-kun, benda
yang itu."
"Ah, baik."
"Eh?"
Sebelum memanggil Satomi,
Kanase sempat meminta sedikit bantuan berupa tugas Errand (suruhan) kepada
Asahi.
Tugasnya adalah mendatangi
beberapa klub sekolah yang telah ditentukan oleh Kanase, lalu meminjam suatu
alat tertentu—namun apakah arti dari alat tersebut, ia tidak diberitahu secara
langsung.
Menerima instruksi
tersebut, Asahi membawanya ke hadapan Kanase.
"Ada apa sih,
Mitoguchi?"
"Saya kan ketua OSIS.
Jika ingin meminjam kekuatan, tentu saja pertama-tama harus dari pihak
masing-masing klub."
Kanase menjejjerkan
alat-alat itu di atas meja. Satomi mengeluarkan suara keheranan.
"Hah? Tanah liat,
sama bubuk? Maksudnya apa?"
"Ini adalah tanah
liat dan bubuk aluminium yang saya pinjam dari klub seni dan klub sains. Maaf
ya, Satomi-kun. Bersamaan dengan ponsel Anda, bisakah Anda meminjamkan kunci
rumah Anda? Hanya perlu beberapa detik saja."
Jika itu adalah permintaan
dari ketua OSIS, masing-masing klub akan kesulitan untuk menolak. Mereka tidak
ingin membuat Kanase marah dan akhirnya dibebani hal-hal yang merugikan klub
mereka sendiri. Oleh karena itu, baik tanah liat maupun bubuk aluminium
dipinjamkan tanpa ada rasa curiga sedikit pun saat Asahi berkata, "Ketua
ingin menggunakannya."
Baik Satomi maupun Asahi
sama sekali belum mengerti apa yang ingin gadis itu lakukan. Hanya menuruti apa
yang diminta, Satomi menyerahkan kunci rumah dan ponselnya kepada Kanase.
"Ini, jenis disc cylinder key. Terima kasih, akan segera
saya kembalikan."
Disc... apa tadi?
(Kalau tidak salah, disc
cylinder memiliki masalah dari segi keamanan. Orang ini tinggal sendiri... secara finansial,
sepertinya dia tidak tinggal di kamar yang terlalu bagus.)
Ciri khas kunci tipe disc
cylinder adalah terdapat alur bergerigi berbentuk segitiga pada batangnya.
Bentuk kunci yang sudah tidak asing lagi bagi siapa pun, namun di sisi lain
banyak kelemahan yang ditunjukkan dari segi keamanan. Karena masih menjadi
jenis kunci utama di apartemen-apartemen murah, Asahi tanpa sadar menangkap
latar belakang kehidupan Satomi.
Kanase menekan kunci
itu dengan kuat ke dalam tanah liat untuk mencetak polanya, lalu segera
mengembalikannya kepada Satomi.
Entah sengaja atau
tidak, gerakannya seolah-olah ia sedang memegang benda yang agak kotor.
"Orang-orang
sering bilang ya kalau Mitoguchi itu orangnya aneh?"
"Begitu ya.
Mungkin ada yang berpendapat seperti itu. Jadi, akan saya jelaskan sekarang, ya."
"......Menjelaskan
apa?"
"Triknya."
"Maksudnya
apa?!"
Kanase menaburkan bubuk
aluminium secara perlahan ke atas layar ponsel Satomi. Layar ponselnya jadi
penuh dengan bubuk, membuat Satomi secara refleks mengerutkan keningnya.
"Kamu, lagi apa
sih!"
"Maaf, akan segera
saya bersihkan. Bubuk aluminium adalah jenis bubuk yang sering digunakan dalam
cat dan memerlukan kehati-hatian khusus saat penanganannya. Klub sains di
sekolah kita tampaknya kadang-kadang menggunakannya untuk eksperimen, dan pengajuan
pembeliannya kadang diajukan ke OSIS. Jadi, saya tahu bahwa kita memiliki
sedikit persediaan."
Kanase mengeluarkan sebuah
sapu tangan dari saku bajunya lalu membentangkannya di atas meja. Kemudian, ia
membalikkan ponsel Satomi yang baru saja dipenuhi bubuk aluminium secara
terbalik di atas sapu tangan tersebut.
Bubuk itu berjatuhan satu
per satu, lalu layar ponsel itu diperlihatkan kepada Satomi.
"Kegunaan lainnya
adalah——deteksi sidik jari."
"Hah? Sidik jari?
Terus buat apa ngambil sidik jariku dari HP-ku sendiri?"
"Begitu ya.
Kemungkinan besar, hanya sidik jari Satomi-kun yang akan terdeteksi. Mungkin
saja sidik jari orang lain juga akan muncul, tapi karena saya tidak memiliki
data sidik jari orang lain, tentu mustahil melakukan pencocokan sidik jari.
Jadi, yang harus dilihat adalah bagian di mana sidik jari paling banyak
muncul."
Minyak alami yang
terkandung dalam sidik jari bereaksi dengan bubuk aluminium, memunculkan
gambarnya dengan jelas. Namun, sidik jari tersebut tidak tersebar merata di
seluruh layar, terlihat ada tingkat ketebalan dan keburaman tertentu pada area
tertentu. Yang diinginkan Kanase adalah ketidakrataan tersebut.
"Ponsel ini biasanya
menggunakan pengenalan wajah (face unlock), tapi bisa juga dibuka
menggunakan passcode 6 digit, kan? Ketika pengenalan wajah tidak
merespons, Anda membukanya dengan cara itu. Setelah selesai manggung atau
semacamnya, Anda kan seringkali berkeringat dan tatanan rambut berantakan,
sehingga pengenalan wajah sering gagal, bukan? Pada saat-saat seperti itu, Anda
langsung memasukkan passcode dengan cepat. Tanpa memedulikan tangan yang
kotor, begitulah cara Satomi-kun menggunakan ponselnya sehari-hari. Oleh karena
itu, meskipun layarnya sempat dibersihkan sedikit, bagian yang sering disentuh
akan tetap menyisakan minyak kulit dan kotoran, sehingga mudah dideteksi."
"Bukannya, terus
kenapa?"
(Bagian di mana sidik jari
paling banyak tertinggal——jika disebutkan dalam urutan deretan angka passcode,
itu adalah area sekitar angka 1, 7, 8, 9, 0. Artinya orang ini sering menekan
bagian itu, ya.)
Kanase mengeluarkan satu
helai sapu tangan lagi dan membersihkan bubuk aluminium di layar itu dengan
hati-hati sampai bersih. Bahkan seolah menghapus seluruh sidik jari dan minyak
kulitnya, layar itu kini tampak mengkilap.
Kemudian Kanase
membalikkan layar ponsel Satomi ke arah dirinya sendiri dan mencoba
membukanya—namun karena menggunakan pengenalan wajah, tentu saja ponsel itu
tidak merespons Kanase yang merupakan orang lain. Sebagai gantinya, layar
masukan passcode pun muncul.
"Satomi-kun suka
musik, ya. Saya kebetulan memiliki pengetahuan tentang itu, jadi saya penasaran
dan mencoba mendeteksi sidik jarinya——dan tebakan saya benar."
Tanpa ragu Kanase
memasukkan passcode tersebut. Alhasil, pengamanan ponsel Satomi berhasil
ditembus dengan mudah, dan layar utama pun beralih menampilkan tampilannya
kepada sang pemilik yang berbeda.
"Ada beberapa
kandidat sebelumnya——namun 700918. Itulah passcode ponsel Satomi-kun."
"T-tunggu, k-kenapa
bisa...? Eh? Kenapa kamu tahu?"
"Anu, Ketua. Kenapa
bisa tahu? Serem banget kayak hacking sungguhan."
"Tanggal kematiannya.
Milik Jimi Hendrix. Hodoki-kun juga pasti tahu setidaknya namanya, kan?"
"Emm, yah, sebatas
namanya saja sih. Tapi, apa hubungannya dengan itu?"
"Saat melihat foto
penampilan live Satomi-kun, dia bermain gitar dengan tangan kiri, jadi
saya pikir itu jarang. Saat melihat video berikutnya, dia menyanyikan lagu
milik Jimi Hendrix. Saya dengar bagi pemain gitar kidal (left-handed),
Jimi Hendrix itu ibarat sosok dewa, dan saya yakin Satomi-kun juga sangat
menghormati beliau——saya berpikir begitu secara spontan. Passcode
biasanya diatur menggunakan deretan angka yang memiliki arti khusus bagi
pemiliknya, bukan? Jadi, jika Satomi-kun mengatur passcode, saya
berasumsi pilihannya tidak jauh dari tanggal lahirnya sendiri, tanggal lahir
para kekasihnya, tanggal lahir gitaris terkenal, atau tanggal kematiannya, jadi
saya mengingatnya sekalian. Begitu saya periksa, sidik jari paling banyak
tertinggal di angka 1, 7, 8, 9, 0, jadi saya menyimpulkan tanggal kematian Jimi
Hendrix pasti dijadikan passcode-nya."
"Seriusan..."
Dari satu lembar foto dan
satu buah video, mampu menebak latar belakang Satomi sedemikian rupa hingga
memikirkan urusan passcode, hal itu berada di luar batas pemahaman
Asahi.
Jangankan itu, fakta bahwa
Jimi Hendrix adalah seorang left-handed pun merupakan informasi baru
bagi Asahi yang tidak memiliki ketertarikan sama sekali.
"Bahkan bagi saya
yang tidak tertarik pada Satomi-kun pun, perkiraan semacam ini masih mungkin
dilakukan. Apalagi jika seseorang yang memiliki ketertarikan pada Anda, pasti
akan lebih cepat menyadari hal ini. Ah, omong-omong, soal deteksi sidik jari
ini——tanpa bubuk aluminium pun, tepung terigu, bubuk kapur, atau kosmetik
berjenis powder bisa dijadikan pengganti. Terlepas dari apakah
benda-benda itu ada di rumah Anda atau tidak, sih."
"M-Mitoguchi. Kamu
sebenarnya..."
"Ponselnya saya
kembalikan, ya. Saya bukanlah kekasih Satomi-kun ataupun siapa pun."
Mengembalikan ponsel
kepada Satomi, Kanase menyapu tangannya dengan sapu tangan. Entah disadari atau
tidak, bagi ukuran gadis itu, tindakan tersebut adalah bentuk penolakan yang
sangat jelas terhadap Satomi.
Akhirnya Asahi pun
menyadarinya. Kemungkinan itu sebenarnya memang ada, namun jalur pemikiran
menuju ke sana pasti tidak akan bisa dipahami oleh Asahi. Oleh karena itu, ia
tidak akan bisa menyodorkan bukti apa pun kepada orang lain.
Kanase berbeda. Suatu
ketika ia duduk di kursinya, menegakkan postur tubuhnya, dan menatap lurus ke
arah Satomi——
"—Satomi-kun.
Berselingkuh dengan tiga orang sekaligus, bukankah itu keterlaluan?"
——Ucapnya dengan suara
yang luar biasa dingin.
"Ha............
eh?"
"Melalui 'trik'
barusan, kekasih utama Anda telah mengintip ponsel Anda dan mengetahui fakta
perselingkuhan tersebut. Tentu saja, tanda-tanda perselingkuhan itu sendiri
mungkin sudah ada sejak lama. Namun, bukti yang pasti belum ada. Ponsel, dalam
artian tersebut, adalah bongkahan informasi pribadi. Kotak hitam kasat mata
yang dimiliki secara pribadi oleh setiap individu, yang tidak akan dibiarkan
dilihat isinya bahkan oleh keluarga atau kekasih sekalipun. Makanya riwayat
interaksi dengan Mishima-san dan Ichikawa-san masih tersimpan rapi di ponsel
Anda, kan?"
Alasan mengapa ia begitu
mudah membuang Mishima dan Ichikawa adalah karena mereka hanya main-main. Jika
demikian, tidak aneh jika ada kekasih utama lain yang disembunyikan——namun,
meskipun hal itu ditanyakan kepada Satomi, untuk masalah yang satu ini ia pasti
akan mengelaknya.
Alasannya, karena ada
situasi yang mengharuskannya untuk mengelak. Begitulah pemikiran Kanase.
Di mata Asahi, Kanase saat
ini terasa begitu menakutkan. Tidak marah ataupun kesal. Ia hanya ingin
memojokkan lawannya sewajarnya seperti biasa. Sikap yang tenang dan tanpa ampun
itu——seandainya diarahkan kepada dirinya sendiri.
"Pihak kekasih utama
telah menggenggam fakta perselingkuhan tersebut, lalu berpikir. Bagaimana
caranya agar Anda bisa putus dengan wanita main-main itu. Sungguh menyedihkan
bahwa pihak yang harus disalahkan seharusnya bukanlah Anda, melainkan wanita
selingkuhan itu. Ngomong-ngomong, pihak kekasih utama telah bergerak. Dengan
mengirimkan surat tuduhan anonim ke rumah Ichikawa dan Mishima, bertuliskan
'Satomi Ryoya berselingkuh'."
"............"
Kanase sudah menyadari sejak awal bahwa akar
masalahnya terasa ganjil. Apakah mungkin secara kebetulan pada periode yang
sama, datang dua permintaan berbeda yang mencurigai perselingkuhan dari pacar
yang sama? Mengingat kultur di sekolah ini, meskipun wajar jika ada berbagai
macam konsultasi yang datang kepada Kanase, kebetulan yang aneh ini sulit untuk
diterima akal sehat.
Oleh karena itu, Kanase menduga bahwa baik
Ichikawa maupun Mishima sebenarnya tidak menyadari fakta perselingkuhan itu
dari perilaku Satomi, melainkan mereka baru mengetahuinya secara bersamaan
karena dipicu oleh faktor eksternal tertentu.
Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Ichikawa dan
Mishima, ternyata benar bahwa mereka berdua mulai mencurigai perselingkuhan
Satomi setelah 'mendapatkan surat aneh di kotak pos rumah masing-masing', lalu
meminta Kanase melakukan penyelidikan.
"Anu, Ketua. Kenapa orang itu harus pakai
cara berputar-putar seperti mengirim surat? Bukankah lebih baik langsung bilang
saja pada mereka berdua, kalau aku sih berpikir begitu."
"Dia mungkin tidak
ingin menampakkan sosoknya di hadapan orang lain. Lebih dari itu, karena tahu
watak Satomi, ia paham bahwa dengan menanamkan kecurigaan seperti itu, pada
akhirnya Satomi akan membuang kedua gadis tersebut. Faktanya, begitu didesak
oleh saya, Satomi-kun dengan mudahnya langsung membuang mereka berdua. Niat
terselubung untuk membuat saya memegang peran sebagai pionnya itu...... mungkin
saja memang ada di benak orang tersebut."
"......Mitoguchi!
Sori, karena sudah waktunya jadi aku harus pergi sekarang! Kalau kamu terus
menyebarkan omongan sembarangan, aku beneran bakal manggil pengacara, lho!
Duluan ya!"
Berdiri terburu-buru,
Satomi kabur meninggalkan ruang OSIS seolah melarikan diri. Ketika situasinya
berubah merugikan dirinya, ia memilih bersikap keras kepala atau kabur, tabiat
yang sama sekali tidak patut dipuji.
"Ah,
Satomi-senpai!"
"Tidak apa-apa. Saya
sudah tidak punya urusan lagi dengannya."
Kanase dengan tenang
menahan Asahi yang hendak mengejar. Karena dilarang, Asahi pun menghentikan niatnya untuk
mengejar.
"Pada akhirnya......
ternyata tidak ada satu pun yang menjadi kekasih utamanya. Menyampaikan hal ini
kepada kedua gadis itu, biar aku saja yang memberitahukannya. Ketua pasti malas
mengatakannya, kan."
"Tidak-tidak, kalau
begitu mari kita katakan bersama-sama. Hanya saja, sebelum itu——kita harus
membereskannya sampai tuntas."
"Eh?"
"Hodoki-kun kan
sudah bilang tadi, kan? 'Kebenaran harus diperjelas'. Saya juga berpikir
begitu——jadi, maukah membantuku sedikit lagi?"
"Itu......
silakan saja sih."
Tujuannya semula
adalah menyelidiki siapa kekasih utama—dan sebagai hasilnya, hanya fakta bahwa
tidak satupun dari mereka yang merupakan kekasih utama yang tersisa. Kalau
begitu, sisanya adalah masalah yang seharusnya diselesaikan di antara Satomi
dan para gadis itu sendiri.
Meskipun begitu,
Kanase tidak berniat untuk berhenti. Karena masih ada urusan yang belum diselesaikan.
"Ada seseorang yang
ingin saya perdengarkan rekaman suara ini, jadi saya akan pergi ke sana. Waktu
batas akhir jam pulang sekolah tinggal satu jam lagi... Hodoki-kun tolong pergi
ke tempat ini sesaat sebelum waktu tersebut dan bertindaklah sesuai instruksi
catatan ini. Setelah itu, kita bertemu lagi di ruang OSIS."
Jika memecahkan segala
misteri adalah syarat mutlak bagi seorang detektif——maka memang benar, Kanase
adalah sosok detektif sesungguhnya.
Asahi mengangguk pelan.
Dan benar saja, satu jam kemudian sesuai perintah, Asahi mengikuti instruksi
Kanase. Ia melangkah masuk ke ruang penyiaran sebelum jam pulang sekolah,
mempersiapkan pengumuman sekolah, lalu mengumumkannya.
『——Dari pihak OSIS, kami memanggil seorang guru. Kepada
Ibu Ashiya, ada laporan mendesak dari pihak OSIS, jadi mohon segera datang ke
ruang OSIS. Kami ulangi, dari pihak OSIS——』
——Menyebutkan nama sang
'kekasih utama' milik Satomi Ryoya.
***
"T-tunggu sebentar,
jam segini tadinya kan waktu di mana aku bisa pulang lebih awal, apa-apaan
ini?!"
Sambil terengah-engah,
guru Ashiya muncul di ruang OSIS. Tampaknya ia benar-benar baru hendak pulang
kerja, datang dengan mengenakan pakaian persiapan pulang. Menyambutnya dengan
tenang, Kanase dan Asahi berdiri menanti.
"Maaf, Bu Ashiya
Miku. Ah, atau sebaiknya saya panggil Bu 'Mī-chan'?"
"Ha......?
Mitoguchi-san, apa maksudmu?"
"Ibu. Hendak
pergi ke manakah Anda setelah ini?"
"Mau ke mana lagi, ya
mau pulanglah...... hei, sebenarnya apa keperluan kalian memanggilku?!"
"Ke studio, atau
mungkin ke rumahnya——saya tidak peduli. Kalau ingin menyerahkan 'surat
tuduhan', alih-alih dikirimkan ke rumah siswa, justru akan lebih aman jika
diselipkan secara diam-diam di sekolah agar tidak meninggalkan jejak. Apakah
karena di sekolah ada banyak mata siswa lain jadi sengaja dihindari? Tapi, jika
dipikir menggunakan akal sehat, orang yang memiliki akses terhadap alamat para
siswa di lingkungan sekolah hanyalah guru. Terutama menyelidiki alamat dua
orang siswa dari kelas berbeda yang tergabung dalam klub tanpa titik temu
seperti klub sastra dan klub bola voli, adalah hal yang mustahil kecuali ada
kenalan atau teman bersama."
Bahkan, Ichikawa Mimi dan
Mishima Yū tidak saling mengenal secara langsung, dan tidak memiliki teman atau
kenalan yang sama. Satu-satunya hal yang menghubungkan mereka berdua adalah
Satomi Ryoya sebagai pacar mereka, dan fakta bahwa mereka berdua telah dipermainkan
oleh pacar yang sama.
"Sesuai keinginan
Anda, Satomi-kun sepertinya akan putus dengan kedua gadis itu. Apakah Anda puas
dengan ini?"
Mata Ashiya terbelalak
lebar. Wajah yang mengenali ketua OSIS di hadapannya bukan sebagai salah satu
murid, melainkan sebagai 'musuh' sejati dirinya sendiri——bahkan di mata Asahi,
ekspresi itu tampak jelas telah terdistorsi.
"Maaf, Mitoguchi-san.
Boleh aku pulang sekarang? Tindakan OSIS yang mempermainkan guru dengan
memanggilnya seperti ini akan aku laporkan secara resmi kepada guru-guru lain
besok, ya?"
"Sebagai ketua OSIS
di sekolah ini, sekaligus sebagai sesama manusia, saya ingin menyampaikan ini
secara terus terang. Bu Ashiya, menjalin hubungan asmara secara
sembunyi-sembunyi dengan murid lalu melakukan hubungan fisik, ditinjau dari
sudut pandang peraturan dan disiplin profesi, saya rasa lebih bijak jika
dihentikan. Setidaknya, tidak bisakah Anda bersabar menunggu sampai Satomi-kun
lulus nanti?"
"Aku tidak
mengerti maksudmu."
(......Anak kecil
sekali, orang ini. Bukan dari segi tinggi badannya, tapi isi kepalanya.)
Alasan mengapa Satomi
tidak ingin disinggung soal 'kekasih utama' dan memilih kabur——sederhana saja,
karena ada fakta bahwa ia berpacaran dengan seorang guru. Begitu pula dengan
sang 'kekasih utama' yaitu Ashiya, tidak boleh sampai terbongkar bahwa ia berpacaran
dengan seorang murid. Kedua orang ini tidak akan dengan mudah mengakui fakta
hubungan mereka.
"Sepertinya kita
berdua tidak berniat untuk bertele-tele lebih lama lagi. Bu Ashiya, kalau
begitu bolehkah saya melihat kunci rumah Anda? Anda membawanya, kan——karena
Anda kan mau pulang sekarang."
Kanase sengaja
membidik waktu tepat sebelum batas akhir jam pulang sekolah karena ia
memperhitungkan bahwa hari ini Ashiya pasti pulang tanpa lembur. Barang
berharga yang biasanya disimpan di dalam locker saat siang hari, pasti dibawa
saat hendak pulang.
Ashiya mendecakkan
lidah, mengambil kunci dari tas tangan miliknya, lalu melemparkannya dengan
kasar ke arah Kanase. Sebaliknya, Asahi yang berada di sebelah menangkap kunci
tersebut dengan tangannya lalu menyerahkannya kepada Kanase.
"Terima kasih banyak,
Hodoki-kun. Kunci ini——jenis dimple cylinder key,
ya."
"Hah? Terus kenapa?"
Berbeda dengan disc cylinder, dimple
cylinder key adalah jenis kunci yang menjadi standar saat ini, yang pada
batangnya tidak memiliki alur gerigi melainkan beberapa cekungan kecil
berbentuk bulat.
Kanase menggelengkan
kepalanya beberapa kali, lalu meletakkan kunci Ashiya di atas meja.
"Bukan itu, Bu. Ini
adalah kunci rumah Ibu, kan? Yang ingin saya lihat adalah kunci rumah
miliknya——bolehkah saya memeriksa tas tangan Anda itu?"
"Mana boleh begitu!
Hei, apa kamu tahu arti privasi dan semacamnya?! Mentang-mentang pintar, hal semacam itu pun tidak
tahu, benar-benar anak kurang ajar ya kamu!!"
Menampakkan giginya,
Ashiya menolak usulan Kanase. Sikap yang sama sekali tidak terduga dari seorang
guru yang biasanya tampak kurang bisa diandalkan dan berkesan penakut itu,
membuat Asahi sedikit bergidik.
"Memang benar,
sebagai murid ataupun Hodoki-kun, kami tidak berhak memeriksa barang bawaan
seorang guru. Kalau begitu, bagaimana jika meminta bantuan untuk
memeriksanya——Bu Umegoshi."
"I?"
Begitu nama itu dipanggil,
pintu ruang OSIS terbuka dengan dorongan kaki. Meskipun kedua tangannya sedang
kosong, ia sengaja membukanya dengan kaki——mungkin guru bahasa Jepang Umegoshi
yang muncul itu juga menyimpan kekesalan tersendiri di dalam hatinya.
"—Tidak boleh
begitu, Bu Ashiya. Jangan memanggil murid dengan sebutan anak kurang
ajar."
"["Kami
tidak memanggilnya begitu kok."]""
Asahi dan Kanase
melontarkan respons tsukkomi secara bersamaan. Itu adalah sebutan 'anak
kurang ajar' (gaki), bukan 'keparat kurang ajar' (kusogaki).
Dengan langkah mantap
Umegoshi mendekati Ashiya dan mengulurkan satu lengannya.
"Bolehkah aku
memeriksa tas tanganmu? Tenang saja, akan kukembalikan begitu selesai
melihatnya. Aku sendiri pun merasa kebingungan, 'sebenarnya apa sih yang sedang
diributkan anak-anak ini?'."
Orang yang diperdengarkan
rekaman suara oleh Kanase adalah guru pembina klub sastra, Umegoshi. Karena
Ichikawa yang bernaung di klub sastra ikut terlibat, Umegoshi tentu saja tidak
bisa dibilang tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Terlebih lagi, dalam
menghadapi guru seperti Ashiya, Kanase ingin menjadikan sesama guru sebagai
sekutu di pihaknya.
Oleh karena itu, selama
waktu terpisah dari Asahi, Kanase telah menjelaskan seluruh situasinya dan
meyakinkan Umegoshi.
"K-kalau begitu!
Cepat tegur saja kedua anak itu dan suruh mereka berhenti, kan beres!! Kenapa
Bu Umegoshi malah ikut-ikutan mau memeriksa tasku?!"
"Sudah kubilang tadi,
kan. Membantu pihak OSIS adalah kewajiban seluruh guru."
Hanya mengatakan itu,
Umegoshi merampas tas tangan dari genggaman Ashiya.
Namun, sebelum memulai
pemeriksaannya——Umegoshi menoleh dan menatap tajam ke arah Asahi dan Kanase.
"Kuberitahu dari awal
ya, kalau ternyata setelah tas tangan ini diperiksa tidak ditemukan apa-apa,
masalah ini akan dibesar-besarkan sebagai tindakan melampaui batas wewenang
oleh Mitoguchi-san dan Hodoki-kun. Tergantung situasinya, kalian bisa dijatuhi
skors dan bahkan dikeluarkan dari keanggotaan OSIS. Apakah kalian berdua sudah
siap menanggung risiko itu?"
"Yah...... kalau
hasil dari tindakan yang dipercaya berkat keyakinan pada Ketua memang berujung
seperti itu, kami terpaksa harus menerimanya."
"Kami siap. Saya
tidak tahu kebiasaan sehari-hari, tapi khusus pada hari ini, Bu Ashiya pasti
membawa kunci itu. Hari di mana Satomi-kun 'menggunakan studio besar', pastinya
adalah isyarat pertemuan rahasia mereka berdua. Jika seandainya Bu Ashiya tidak
memegang kunci rumah Satomi-kun, itu artinya——"
Perbedaan antara 'kekasih
utama' dan 'mainan' dalam hubungan pria dan wanita. Meskipun perbedaannya bisa
bermacam-macam, sebagai garis pembatas yang paling jelas, Kanase memiliki satu
landasan yang kuat.
"—Ibu pun sebenarnya
hanyalah wanita mainan, bukan kekasih utamanya. Begitu saja
kesimpulannya."
! Mitoguchi-ii!!
"Ah, iya, iya. Kamu
ini, tipe orang yang karakternya langsung berubah total kalau sedang marah, ya.
Menakutkan."
Mengira itu adalah bentuk
penghinaan terhadap 'keperempuanan' dirinya, Ashiya menunjukkan mata yang
memerah dan meluapkan kemarahannya yang langsung diredakan dengan santai oleh
Umegoshi yang kemudian memulai pemeriksaan tas tangan tersebut. Dan tidak lama
kemudian, ia mengeluarkan satu buah kunci dari dalam sana.
"—Jadi, Bu
Ashiya. Kunci apa ini? Kunci rumah Ibu kan yang ada di atas meja itu, kan? Kunci ini—kunci
Metchayo Milky(?) yang sama sekali berbeda dengan kunci itu... milik siapa dan
kunci apa, ya?"
"["Itu adalah jenis disc
cylinder key, Bu."]"
Entah jenis kuncinya penting atau
tidak, dua orang itu kembali melontarkan tsukkomi atas ucapan Umegoshi yang
terkesan asal-asalan.
Ashiya merapatkan giginya, tubuhnya
bergetar hebat.
Bagi Asahi, melihat kondisi wanita
itu langsung membuatnya paham bahwa itu adalah waktu untuk merangkai alasan.
"—I-ini
kunci rumah... rumah orang tua saya! Punya saya! Rumah orang tua saya!!"
"Hee—begitu
ya. Tapi Bu
Ashiya bilang begitu, tahu?"
"Kalau
begitu, bisakah Anda mencoba mencocokkan kunci itu ke dalam cetakan tanah liat
ini? Tadi, saya
sempat mengambil cetakan kunci rumah Satomi-kun menggunakan tanah liat ini.
Jika itu benar-benar kunci rumah orang tua Bu Ashiya, seharusnya kunci itu
tidak akan pas masuk ke dalam cetakan ini."
"Mitoguchi-san,
kenapa kamu sampai melakukan hal seperti itu..."
(Aku juga
ingin bilang begitu, Bu Umegoshi)
Kegunaan
bubuk aluminium langsung bisa dipahami saat itu juga, namun alasan digunakannya
tanah liat saat itu adalah untuk menjadikannya bukti telak guna memojokkan
Ashiya. Umegoshi sendiri justru merasa takjub dan pasrah dengan kecepatan
langkah antisipasi Kanase—namun Asahi tetap saja merasa ngeri melihat sifat
presisi Kanase tersebut.
Umegoshi
memasukkan kunci milik Ashiya itu ke dalam cetakan tanah liat yang diserahkan
oleh Kanase. Tanpa meleset
sedikit pun, kunci itu terbenam pas ke dalam cetakan tersebut. "Oh,"
Umegoshi tanpa sadar mengeluarkan suara kagum.
"Bukan!!
Itu karena Mitoguchi, dia yang memanipulasinya!! Saya ditipu, Bu
Umegoshi!!"
"Nah, Bu
Ashiya bilang begitu lagi, lho?"
"Kalau
begitu, mari kita bawa cetakan ini dan pergi ke tukang kunci bertiga—tidak,
berempat. Mintalah mereka membuatkan kunci duplikat berdasarkan cetakan ini,
lalu cobalah gunakan pada pintu rumah Satomi-kun. Jika saya sengaja
memanipulasi cetakan tanah liat ini demi menjebak Bu Ashiya, seharusnya kunci
itu tidak akan cocok."
"Begitu
katanya. Bagaimana, Bu Ashiya? Daripada repot-repot membuat kunci duplikat
pakai tanah liat ini, bagaimana kalau sekarang juga ikut aku berkunjung ke
rumah Satomi-kun dan mencoba menggunakan kunci ini? Kalau ini memang kunci
rumah orang tuamu, kunci ini pasti nggak bisa dipakai, kan? Kurasa cara itu
bakal lebih cepat selesai, lho?"
"—Ah,
......っ!"
Mari kita
lakukan——kalimat itu tidak akan bisa diucapkan oleh Ashiya meskipun mulutnya
harus robek. Apa pun alasan yang diucapkannya, satu-satunya pintu yang bisa
dibuka oleh kunci itu hanyalah pintu rumah Satomi. Itu sama saja seperti
menjerat lehernya sendiri.
Umegoshi
menghela napas pelan, lalu menyimpan kunci Ashiya yang ada di tangannya ke
dalam saku bajunya sendiri.
"Bagaimanapun
juga, kunci ini akan kusita bersamaan dengan kasus ini. Pulanglah sekarang, Bu
Ashiya. Kebenaran yang sesungguhnya harus diutarakan di hadapan orang-orang
yang berkedudukan lebih tinggi besok."
Mendapat
desakan itu, Ashiya meninggalkan ruangan dengan langkah sempoyongan seperti
orang sakit parah. Mengantarkan punggung itu dalam keheningan, kesunyian
sejenak melanda ruang OSIS—sebelum akhirnya dipecah oleh Umegoshi yang
menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan kasar.
"—Kalian
benar-benar membuatku kerepotan, ya. Ah, serius deh, gimana caranya beresin
ini? Haaah."
"Emm...
Apakah ini artinya... sudah selesai?"
"Terima
kasih banyak, Bu Umegoshi."
"Jangan
berterima kasih padaku, Detektif~! Ketua OSIS sih tidak berbuat salah apa-apa,
malahan kamu sudah membongkar fakta tindakan amoral antara guru dan murid~!
Masalahnya adalah Ketua Yayasan kita itu wanita kaku yang BENAR-BENAR membenci
hal semacam ini, dan aku diseret untuk menjelaskan situasinya, ditambah lagi
aku kesal karena aku yang seharusnya tidak ada hubungannya malah ikut kena
semprot~!!"
Umegoshi
mengeluh dengan nada antara meratap dan membuat keributan. Asahi belum pernah
melihat reaksi semacam itu dari seorang guru, jadi rasanya cukup segar.
"Kalau
tidak salah, Ketua Yayasan yang baru saja menggantikan posisi sebelumnya itu
seumuran dengan Bu Umegoshi, ya...?"
"Bahkan
kami berteman! Setidaknya begitu! Entah apakah pihak sana berpikir hal yang
sama atau tidak sih!"
(Lingkungan
pertemanan yang tak disangka-sangka)
Mungkin
membayangkan beban mental yang menanti esok hari, Umegoshi merosot lemas
menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Kanase
menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan seolah berkata sabar ya—posisinya
kini justru terbalik.
"—Urusan
setelah ini, biar kami para orang dewasa yang mengurusnya. Baik Mitoguchi-san maupun Hodoki-kun, terima
kasih atas kerja keras kalian. Setidaknya kalian berdua telah sedikit
menegakkan kedisiplinan di sekolah ini. Jadi, berhati-hatilah agar tidak
membicarakan kasus ini kepada orang lain, dan pulanglah sekarang. Ah,
tapi..."
"["?"]"
"Kalian
berdua juga jangan ikut-ikutan melakukan tindakan amoral, ya? Anak SMA batasnya
cuma sampai berciuman, lho."
Mendengar
ucapan Umegoshi yang begitu santai, Kanase dan Asahi kompak kehilangan
keseimbangan.
"T-tunggu,
Bu! Apa yang Ibu bicarakan?!"
"B-betul,
Bu! K-kenapa saya dan Hodoki-kun bisa disangka begitu?!"
"Eh?
Karena kalian berdua diam-diam berpacaran, kan? Kalian mungkin bisa menipu
orang-orang di luar sana, tapi kalian tidak bisa mengelabui mataku. Yah, aku
tidak akan menegur ataupun mengadu pada siapa pun, selagi kalian menjalaninya
dengan benar dan bersih. Tapi Hodoki-kun, kamu tidak boleh mendua sampai tiga, lho?"
"T-tidak
akan..."
Tidak
mendua sampai tiga. Karena kenyataannya ia sudah mendua sampai lima——ucapan itu tentu saja
mati-matian ia tahan di dalam hati.
Melihat
ketajaman pengamatan Bu Umegoshi yang tak disangka-sangka, Asahi dalam hati
memasukkannya ke dalam daftar orang yang harus diwaspadai secara diam-diam.
Wanita itu memang santai, namun di balik itu ia memiliki pemikiran yang tajam
dan kemampuan membaca watak orang lain. Meskipun tidak disangsikan lagi bahwa
ia adalah guru yang baik.
"Sungguh,
pria yang mendua itu benar-benar sampah paling rendah. Entah itu disengaja atau
tidak, bahkan jika orang seperti itu dibunuh pun ia tidak akan diampuni hukum,
dan ia pun tidak punya hak untuk protes jika dibunuh. Makanya aku ingin
Hodoki-kun tidak sampai dibunuh, dan aku ingin Mitoguchi-san tidak membunuh
siapa pun. Harapanku cuma itu."
(Apakah wanita
ini memiliki trauma di masa lalu...?)
"P-candaan
yang ekstrem ya..."
Tanpa
menjawab apakah itu candaan atau bukan, Umegoshi melambaikan tangannya
mengusir. Karena ia ingin berleha-leha sebentar di ruang OSIS sebelum
melaporkan insiden ini kepada pihak atas, kehadiran mereka berdua sepertinya
sudah dianggap mengganggu.
Memberikan satu
kali hormat, Asahi dan Kanase memutuskan untuk pulang sekolah bersama.
"—Ngomong-ngomong,
meskipun kita mencetak bentuk kuncinya menggunakan tanah liat, kabarnya kunci
duplikat tetap tidak bisa dibuat, lho."
"Eh.
Begitukah?"
Di tengah
suasana hari yang sudah benar-benar gelap, Asahi berjalan berdampingan dengan
Kanase, ketika gadis itu tiba-tiba bergumam demikian. Mengingat mereka telah
mencetak bentuknya dengan teliti menggunakan tanah liat, Asahi tadinya mengira
kunci duplikat tentu bisa dibuat tanpa masalah.
"Lalu,
kenapa Ketua repot-repot menggunakan tanah liat tadi?"
"Untuk
memberikan efek penekanan pada argumen kita. Jadi, jika seandainya Bu Ashiya
tahu soal itu, mungkin dia akan bersikeras mengelak. Lagian, aku juga tidak
yakin wanita itu mau repot-repot datang langsung ke rumah Satomi-kun."
"Begitu
ya... itu tadi benar-benar pertaruhan yang cukup berbahaya, ya."
Asahi mengira
Kanase bergerak tanpa keraguan sedikit pun, berlandaskan logika dan bukti yang
sempurna, namun ternyata tidak selalu demikian. Selama tujuan utamanya—yakni
mematahkan mental Ashiya—bisa tercapai, proses di baliknya tidak terlalu ia
persoalkan. Asahi merasa sangat kagum. Sambil berusaha menyembunyikan rasa
ngerinya rapat-rapat.
"—Hodoki-kun."
"Ya?"
"Apakah
ponsel Hodoki-kun itu... anu, tipe ponsel yang boleh dilihat oleh
pacarmu?"
Kanase bertanya
dengan nada ragu-ragu. Melalui kejadian hari ini, ia mungkin tanpa sadar
terseret ke dalam semacam perasaan cemas. Asahi menjawab "Tentu saja
boleh," lalu menggenggamkan ponselnya ke dalam tangan Kanase.
"Passcode-nya
adalah tanggal lahirku ditambah umurku saat ini. Makanya aku selalu mengganti
kodenya setiap tahun, aku."
"Kalau
begitu, 061116...?"
Tanggal 11 Juni
adalah hari ulang tahun Asahi. Itu berarti bulan depan, ia harus kembali mengganti passcode-nya.
Ketika
Kanase iseng memasukkan passcode tersebut, layar utama ponsel langsung terbuka.
"Silakan
kalau mau lihat isinya. Tidak ada hal aneh di dalamnya kok."
"T-tidak,
aku tidak akan melihatnya! Maafkan aku, gara-gara aku jadi melontarkan hal
semacam ini untuk mengujimu. Rasa percaya itu tidak akan lahir dari rasa
curiga. Aku ini benar-benar payah..."
"Wajar
saja kok. Terutama setelah melihat orang seperti Satomi-senpai."
Sebagai
catatan, seandainya Asahi ingin memberikan satu patah kata penilaian untuk
Satomi——kalimatnya hanya akan berupa satu hal ini.
(Kurang teliti.
Bukankah membawa beberapa ponsel sekaligus adalah dasar dari berselingkuh?)
Ponsel yang ia
serahkan kepada Kanase saat ini khusus hanya digunakan untuk berinteraksi
dengan Kanase saja. Jejak kehadiran keempat gadis lainnya tidak bersisa sedikit
pun——Asahi sebenarnya memiliki beberapa unit ponsel dengan model yang sama
persis, lalu membaginya sesuai peruntukannya.
Sengaja membuka
diri selebar-lebarnya demi mendapatkan kepercayaan dari pasangan. Demi
melunturkan kecurigaan Kanase, memberikan passcode ponsel bukanlah harga yang
mahal. Asahi tanpa sadar menyadari bahwa dirinya sudah terbiasa melakukan
perhitungan semacam itu——
"—Yah,
sungguh. Pria yang suka mendua itu, benar-benar sampah."
——Ia bergumam
mengatakannya untuk dirinya sendiri, dan disambut oleh persetujuan Kanase
dengan ucapan "Sangat benar!".
***
"Ada apa,
wajahmu pucat begitu? Seperti baru melihat hantu saja?"
Setibanya ia di
rumah, sang pelayan yang menetap langsung menyambutnya dengan senyum
setengah-setengah, membuat Asahi mengangguk tanpa suara.
Kirio toh sudah
mengetahui situasinya. Melewati bagian prosesnya, ia hanya meluapkan isi
hatinya yang sesungguhnya.
"—Wanita
itu, Ketua itu, sangat berbahaya. Kalau sampai dicurigai——semuanya akan
berakhir."
Sebelum-sebelumnya,
Kanase memang sering menyelesaikan berbagai insiden dengan gemilang sebagai
seorang detektif. Di sampingnya, Asahi sempat membantu sebagai asisten,
sehingga ia sangat yakin bahwa kemampuan gadis itu memang nyata.
Namun melalui
insiden hari ini, Asahi menyadarinya secara telak.
Anggaplah ada
bilah pedang yang mampu memotong apa pun di dunia ini, jika dipastikan bahwa
mata pedang itu tidak akan pernah diarahkan kepada dirinya sendiri, maka memuji
ketajamannya sebagai benda pusaka yang luar biasa adalah hal yang mudah. Namun,
ketika ketajaman itu harus dibuktikan pada tubuhnya sendiri, setiap orang pasti
akan meratapi dan mengutuki kenyataan bahwa benda pusaka itu memang sangat
mematikan.
Asahi sempat
berimajinasi. Masa depan di mana Kanase dengan mudah membelah dirinya menjadi
dua menggunakan kemampuan dan bilah pedang tersebut.
Kekuatan
mengerikan yang bahkan bisa disebut anomali itu——meskipun ia sudah
mengetahuinya sejak awal.
"Itulah
yang disebut Anomalous Talent (Abnormal Genius). Sudah kubitahu dari awal,
kan——"
Sambil
menyipitkan matanya, Kirio menatap tajam ke arahnya. Teguran tersirat atas
kurangnya kepekaan Asahi.
"—Kelima
wanita yang kau pacari itu, tidak ada satupun yang normal."
Aturan kondisi
tahun pertama di mana ia harus berselingkuh dengan lima wanita secara
bersamaan, yakni para gadis yang dipilih oleh Zen Hinomiya.
Bukan
berarti sembarang lawan jenis boleh dipilih. Poin terpentingnya terletak pada
fakta bahwa Zen-lah yang memilih mereka.
Singkatnya,
Tsukiashi Tsumugi, Yui Hizume, Mitoguchi Kanase, Oriko Kokigi, dan Ami Chigira;
kelima orang di atas memiliki kemampuan khusus yang unik dan luar biasa, yang
berhasil ditemukan oleh sang kakek tua bangka yang mendeklarasikan dirinya
sebagai penguasa dunia.
"Hari ini,
aku akhirnya bisa merasakannya sampai ke tulang beluorku. 'Bakat tersembunyi'
individu yang mendominasi secara mutlak jika dibandingkan dengan orang biasa...
itulah yang disebut Anomalous Talent, kan?"
"Benar.
Atau kemampuan yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu sains modern pun, untuk
kenyamanan penyebutan kita namakan itu. Yah, itu adalah definisi baru dalam
bidang fisiologi manusia dan ilmu saraf yang sengaja didanai dan diteliti oleh
si orang tua bangka itu. Padahal sudah kuingatkan berkali-kali agar
berhati-hati, tapi kau baru menyadarinya sekarang. Bodoh sekali."
"Aku minta
maaf deh."
Anomalous
Talent milik si gadis detektif itu adalah Kekuatan Penalaran (Reasoning Power).
Dalam hal memecahkan misteri, ia mengerahkan kemampuan hingga tingkat yang
tidak normal. Spesifikasi dasarnya pun sudah tinggi, sehingga setelah lulus
nanti ia lebih baik masuk ke kepolisian atau kejaksaan. Kemampuan itu
dipastikan akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tingkat penangkapan
dan vonis bersalah di Jepang.
Tidak diketahui
apakah Kanase sendiri menyadari hal itu atau tidak, namun dalam situasi yang
melibatkan misteri, spesifikasi tingginya semakin terasah. Meskipun karakternya
sangat pemalu sampai-sampai hanya bersentuhan tangan saja sudah membuatnya
tersipu malu, urusan informasi insiden membuatnya sama sekali tidak terguncang
oleh apa pun. Mampu melangkah lurus menuju kebenaran tanpa keraguan——bagi
manusia normal, hal semacam itu mustahil dilakukan. Manusia biasa pasti akan
dihinggapi keraguan atau hambatan psikologis.
"—Aku akan
lebih berhati-hati terhadap Ketua. Melebihi sebelumnya. Meskipun kurasa tidak
akan ada gunanya juga——hanya kepada wanita itu, aku tidak boleh sampai
membiarkannya menyimpan kecurigaan."
"Cih.
Mengatakannya memang mudah tapi melakukannya sulit. Jangan-jangan sebenarnya
sudah terlambat, tahu."
"Mungkin
saja. Tapi, jika aku terlalu mencemaskannya, aku justru akan masuk ke lubang
hitam. Sifat keraguanku yang seperti itu pasti akan segera disadari olehnya.
Aku akan bersikap sewajarnya saja... mulai besok pun."
Berkat
perbincangannya dengan Kirio, pikirannya sedikit terorganisir. Jujur saja,
setelah menyaksikan pertunjukan penalaran tadi, keyakinan bahwa ia bisa
mempertahankan status kencan empat sisanya besok dengan mudah sama sekali tidak
ada di benaknya.
Bahkan rasa
takut dan gentar terhadap Kanase itu sendiri bisa menjadi bahan analisis bagi
sang detektif. Di atas segalanya, Kanase tidak memiliki dosa apa pun——jika hati
seseorang sampai membusuk di hadapan cahaya kebaikan miliknya, itu adalah
kesalahan Asahi sendiri yang memang penuh cela.
"Hmph.
Kalau kau hanya terpaku waspada pada si gadis detektif itu saja, itu juga
sama-sama berbahaya. Keempat wanita lainnya juga memiliki bakat/pola pikir yang setara. Jadi
bagi dirimu saat ini, tidak ada satu pun wanita yang bisa disebut 'aman'. Ingat
itu baik-baik."
"—Lalu
bagaimana dengan Kirio?"
"Ha?"
"Apakah
Kirio tidak aman?"
Bagi Asahi, itu
adalah pertanyaan yang sangat polos. Yah, meskipun jenis kelamin Kirio sendiri
masih misterius, untuk saat ini ia hanya ingin memotong pada kata 'aman' saja.
"…………Haah.
Mana kutahu. Nilai sendiri sesukamu."
"Begitu
ya. Kalau begitu, kuanggap kamu aman, ya."
"Bawel.
Lebih cepat waktu makan malam. Cepat makan sana, bodoh."
Karena
pembelaan gengsinya terasa begitu kasar, jawaban itu jelas bukan berarti iya.
Namun terhadap
sang pengawas yang hanya mengenakan kostum pelayan pinjaman ini, Asahi tidak
bisa menumbuhkan perasaan benci yang mendalam. Setidaknya, selama ia masih
menceburkan diri ke dalam《Permainan Kehidupan Orang Lain》, Kirio Kageri bukanlah musuh.
"Terima
kasih. Menu malam ini apa?"
"Bubur."
"Eh."
Hanya dengan
hal sederhana itu saja, hatinya sudah sangat tertolong——


Post a Comment