Chapter
1
Setelah
Kami Mulai Berpacaran
Aku mulai berpacaran dengan Saito.
Meskipun terasa seperti
akhir yang alami, aku sangat bahagia saat dia menerima pernyataan cintaku. Raut
wajah Saito saat mengangguk masih terpatri jelas di benakku. Setelah menyatakan
perasaan, aku hampir tidak ingat apa saja yang kami bicarakan. Seingatku, aku
hanya berbasa-basi sebentar lalu pamit pulang.
Ini baru hari pertama
setelah pengakuan itu, jadi semuanya masih terasa sangat tidak nyata. Tidak ada
yang langsung berubah drastis setelah memulai suatu hubungan, tetapi aku sama
sekali tidak bisa tenang.
Melihat jam dinding,
kusadari aku bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Cahaya matahari yang
menyusup masuk melalui jendela masih temaram. Padahal seharusnya aku masih
mengantuk, tetapi mataku sudah terjaga sepenuhnya. Aku meninggalkan kehangatan
kasur lipatku (futon) lalu mulai bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Saat tiba di sekolah jauh
lebih awal dari biasanya, ruang kelas masih hampir kosong melompong, dan belum
ada tanda-tanda keberadaan Kazuki. Aku sebenarnya berencana berbicara
dengannya, tetapi itu bisa menunggu. Karena tidak ada teman mengobrol, aku duduk
di mejaku dan membuka buku yang kubawa.
Selama seminggu terakhir,
pikiranku tersita sepenuhnya oleh rencana menyatakan cinta, hingga aku tidak
bisa fokus membaca buku dengan benar. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir
kali aku bisa tenggelam seutuhnya ke dalam bacaan. Kata-kata di lembaran
halaman perlahan menarikku masuk ke dalam dunianya.
"Pagi, Minato. Tumben
sekali kau datang pagi."
Sebuah suara yang familier
memecah konsentrasiku. Aku mendongak dan melihat Kazuki duduk santai di kursi
meja tepat di depanku, padahal itu bukan tempat duduknya.
"Ada masalah kalau
aku datang pagi?"
"Tidak, cuma tidak
biasa saja. Oh, aku tahu. Kau pasti terlalu bersemangat gara-gara pengakuan
cintamu kemarin sampai bangun kepagian, kan?"
"Bagaimana kau
bisa...?"
"Sudah kuduga. Wah,
manis sekali kau ini, Minato."
Instingnya yang tajam
hampir terasa mengerikan. Aku melotot ke arah Kazuki yang sedang menyeringai
jahil, tetapi dia hanya tertawa riang tanpa henti.
"Tak kusangka si kutu
buku Minato sekarang sudah punya pacar... Setahun yang lalu, aku tidak akan
pernah bisa membayangkannya."
"Aku bahkan belum
menceritakan bagaimana hasilnya padamu."
"Tapi dia menerimamu,
kan?"
"Iya, dia
menerima."
"Kalau begitu
tidak masalah. Dia senang?"
"Tentu saja. Aku
bahkan memberinya hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih. Kurasa semuanya berjalan
lancar. Saito tersenyum."
Aku tidak bisa melupakan
ekspresi Saito di momen itu. Senyumannya begitu berseri-seri, jauh lebih
memikat daripada senyuman apa pun yang pernah kulihat sebelumnya. Saat
mengingat kembali kejadian kemarin, bibirku tanpa sadar melengkung membentuk
senyuman.
"Oho, kau
tersenyum."
"...!"
Kazuki langsung
menunjukknya, dan aku tersadar bahwa wajahku baru saja mengendur tanpa kendali.
Rasa malu seketika membuncah di dalam dadaku, dan aku bersusah payah
menekannya.
"Haha, dia pasti
senang sekali ya."
"...Diamlah."
Aku ingin membungkam
Kazuki yang kini menyeringai lebih lebar dari biasanya, tetapi aku tahu
menimpali ucapannya hanya akan memancingnya untuk menggodaku lebih jauh, jadi
aku memilih diam.
"Pelajaran pertama
kita ada di ruang musik, jadi sebaiknya kita segera bersiap."
"Aku lebih
memilih pergi sendiri."
"Ayolah, jangan
dingin begitu. Ceritakan lebih banyak lagi padaku."
Mengabaikan
penolakanku, Kazuki beranjak mengambil buku teks dari mejanya. Langkah kakinya yang
santai tanpa beban terasa sangat menjengkelkan.
Sembari menghela napas
pelan, aku menunggunya kembali.
"Maaf sudah membuatmu
menunggu."
Saat Kazuki kembali, kami
mengikuti arus teman-teman sekelas yang melangkah keluar ruangan menuju lorong.
Hawa dingin seketika membuatku merinding sesaat.
Kami berpapasan dengan
murid-murid yang baru saja tiba di sekolah. Tiba-tiba, beberapa teman sekelas
yang berjalan di depan kami mulai berbisik-bisik. Penasaran, aku mendongak dan
melihat sosok yang sangat kukenal.
"Panjang umur—itu
Saito-san."
Kazuki tampak geli, tetapi
suasana hatiku sama sekali tidak sejalan dengannya. Kupikir aku baru akan
bertemu dengannya sepulang sekolah nanti, jadi aku sama sekali belum siap
berhadapan dengannya sekarang. Merasa luar biasa gugup, aku menelan ludah dengan
susah payah. Saito rupanya juga menyadari keberadaanku, langkah kakinya sempat
tersendat sesaat.
Matanya yang bening
bak permata tampak sedikit goyah. Ia memalingkan pandangannya dengan canggung,
dan saat mata kami sempat bertemu kembali untuk sepersekian detik, ia membuang
wajahnya sepenuhnya lalu berjalan cepat melewataiku.
"Ah, indahnya
cinta monyet yang masih polos."
Kazuki menepuk
pundakku, membuat rasa kesalku makin bertambah. Tanpa perlu menoleh pun aku tahu dia pasti sedang
menyeringai puas.
"Beruntung sekali
bisa melihat Saito-san pagi-pagi begini."
"Benar banget.
Harusnya kemarin aku menyatakan cinta sambil bawa cokelat."
"Halah, yang ada kau
cuma bakal ditolak mentah-mentah. Katanya kemarin ada beberapa cowok yang
ditolak langsung."
Aku tak sengaja
mendengar obrolan beberapa teman sekelas di depan kami. Popularitas Saito
memang luar biasa seperti biasanya. Aku tidak menyangka kejadian sebanyak itu
terjadi kemarin. Kazuki yang ikut mendengar percakapan yang sama mencondongkan
tubuhnya lebih dekat lalu merendahkan suaranya.
"Bayangkan kalau
mereka tahu pacarnya sebenarnya sedang berdiri tepat di sini. Tidak akan ada
yang percaya."
"Kemungkinan
besar tidak."
Bahkan aku sendiri pun
masih belum sepenuhnya percaya bahwa aku sekarang berpacaran dengan Saito. Mana
mungkin orang lain bisa memercayainya.
"Kau harus
menjaganya baik-baik."
"Tentu
saja."
Puas dengan jawabanku,
Kazuki mengangguk mantap. Meskipun dia sedang berbicara serius, sikapnya entah
mengapa tetap saja membuatku kesal.
"Baguslah. Senang
melihatmu seserius ini. Semua dukunganku selama ini tidak sia-sia."
"...Iya, kurasa aku
berutang budi padamu."
"Lho, ada apa ini?
Minato bisa jujur juga? Kau salah makan ya?"
Ia menatapku dengan mata
membelalak jahil. Padahal aku baru saja menunjukkan momen rasa terima kasih
yang langka, dan beginilah caranya merespons.
"Tidak. Aku cuma
mengatakan apa yang kupikirkan."
"Haha, terima kasih.
Senang mendengarnya."
"Kalau aku tidak
merasakannya, aku tidak akan mengatakannya."
"Benar juga. Tapi
ngomong-ngomong, bukankah ada orang lain lagi yang harus kau beri tahu?"
"Orang lain?"
Aku memiringkan kepalaku,
tidak yakin apa maksud perkataannya. Tatapan Kazuki yang dipenuhi binar geli
terlihat sangat mencurigakan. Tunggu... mungkinkah?
"Kau tidak boleh
melupakan Hiiragi-san. Kau harus melapor padanya juga."
"Kau bercanda,
kan? Mereka berdua kan orang yang sama."
Apa-apaan yang dia
katakan? Sebelum mengetahui identitas asli Hiiragi-san, aku mungkin memang akan
menceritakannya. Namun sekarang, rasanya terlalu canggung dan memalukan.
"Justru karena itulah
kau harus memberitahunya! Kalau kau mendadak berhenti menceritakan betapa luar
biasanya Saito-san hanya karena kalian sudah jadian, dia bisa kehilangan minat.
Memujinya itu penting, tahu."
"A... apa itu
benar?"
"Bukankah kau bakal
senang kalau tidak sengaja mendengar Saito-san membicarakan hal-hal baik
tentangmu kepada orang lain? Konsepnya sama persis."
"Y... yah, kurasa itu
memang bakal membuatku senang."
"Dan siapa tahu, kau
bahkan bisa mengintip isi hati Saito-san yang sebenarnya."
"...! Baiklah, aku
akan memberitahunya dan memastikan untuk memujinya!"
Saran Kazuki sebenarnya
tidak buruk. Melaporkannya pada Hiiragi-san memang terasa memalukan, tetapi
membayangkan bisa mengetahui lebih banyak tentang perasaan Saito yang
sesungguhnya terasa sangat menggoda.
Meskipun aku sudah tahu
bahwa dia menyukaiku, aku belum pernah mendengar rincian perasaannya secara
langsung.
Ini adalah kesempatan
emas. Kuputuskan untuk memancingnya secara halus nanti. Hal ini membuatku makin
tidak sabar menantikan giliranku di tempat kerja paruh waktu.
Aku memang menantikan
laporanku kepada Hiiragi-san nanti, tetapi pertama-tama, ada jam pulang sekolah
yang harus kulewati. Ini akan menjadi pertemuan pertamaku yang layak dengan
Saito sejak kami resmi berpacaran.
Meskipun tadi pagi kami
sempat berpapasan, kami sama sekali tidak sempat berbicara, jadi inilah kali
pertama kami akan saling berhadapan secara langsung.
(Tetap saja, aku gugup
sekali...)
Berdiri di depan pintu
rumah Saito, aku menarik napas dalam-dalam. Aku sudah berkunjung ke sini
berkali-kali sebelumnya, jadi seharusnya aku sudah terbiasa. Namun tetap saja,
aku tak bisa menahan rasa tegang di sekujur tubuhku.
Apakah karena aku tidak
tahu bagaimana cara Saito akan menyambutku kali ini? Berusaha mengusir rasa
gugupku, kutekan tombol bel pintu.
"Iya?"
Pintu terbuka, dan sosok
Saito melongokkan kepalanya keluar.
"Hai."
"Tanaka-kun."
Begitu melihat sosokku,
bibir Saito seketika terkatup rapat membentuk garis lurus.
"Um, boleh aku
masuk?"
"Oh, iya. S-silakan
masuk."
Dengan rona merah tipis di
pipinya, Saito membimbingku melangkah ke dalam. Gerak-geriknya terasa sangat
kaku, hampir seperti robot.
"Sudah agak lama
sejak kemarin ya?"
"I-iya. Benar
juga."
Rasa gugupnya ternyata
menular, membuat tubuhku terasa makin tegang.
Saito kembali membawa
secangkir teh lalu duduk di sampingku. Secara refleks aku menggeser posisi
dudukku sedikit menjauh darinya. Tidak terlalu jauh, hanya cukup untuk menjaga
jarak yang nyaman. Maksudku, lebih baik tidak terlalu terburu-buru merapatkan jarak,
kan?
"..."
Saito duduk membisu di
sebelahku, bibirnya terkunci rapat. Haruskah aku mengungkit kejadian kemarin?
Rasanya aneh jika tidak membahasnya sama sekali, tetapi memaksakan topiknya
juga terasa kurang tepat.
Aku merutuki minimnya
pengalamanku dalam urusan asmara. Tidak ada satu pun buku yang pernah kubaca
yang membahas situasi secanggung ini.
Demi memecah keheningan
yang menyesakkan, aku menyesap tehku sedikit.
Saat meletakkan cangkir
kembali ke atas meja, kusadari dari sudut mataku bahwa Saito sedang mencuri
pandang ke arahku. Ketika mata kami bertemu, tatapannya sempat bergetar bimbang
sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.
"Um..."
"I-iya? Ada
apa?"
Kedua pipi Saito yang
dihiasi semburat merah muda seketika membuat jantungku berdegup kencang. Sejak
kapan dia bisa terlihat semanis ini?
Dengan ekspresi yang
sangat serius, matanya yang jernih menatap lurus ke dalam mataku selagi ia
bertanya dengan ragu-ragu.
"Apa kita...
benar-benar berpacaran sekarang?"
"Tentu saja.
Kupikir memang begitu... kecuali kalau perasaanmu berbeda?"
"Tidak, aku cuma
ingin memastikannya saja."
Ketegangan di wajahnya
seketika mencair, dan ia menghela napas panjang yang lega. Menyandarkan
punggungnya ke sofa, ia sedikit menundukkan pandangannya, bibirnya melengkung
membentuk senyuman tipis.
Tampaknya dia pun
merasakan ketidaknyataan yang sama persis sepertiku. Merasa lega, kekakuannya
tadi perlahan meleleh, menyisakan sekelumit senyuman manis di wajahnya.
(Jadi ini nyata... kami
benar-benar berpacaran.)
Kenyataannya akhirnya
mulai meresap sepenuhnya ke dalam benakku. Dulu aku bahkan tidak pernah
membayangkan kemungkinan untuk berpacaran, tetapi sekarang setelah benar-benar
menjalaninya, rasanya sama sekali tidak buruk. Terlebih lagi mengetahui bahwa
Saito merasa sangat bahagia karenanya.
"Tadi pagi aku juga
merasa semuanya belum terasa nyata, jadi melegakan mengetahui bukan cuma aku
yang merasa begitu."
"Kau juga begitu,
Tanaka-kun? Aku tadi benar-benar tidak percaya sampai-sampai tidak tahu
bagaimana cara menyapamu."
"Iya, waktu kau
membukakan pintu tadi saja, tampangmu kelihatan kaku sekali."
"Apa sekelihatan
itu?"
"Kau bergerak persis
seperti robot rusak."
"Tidak sopan sekali!
Seingatku aku tidak bergerak seaneh itu. Dan kalau bicara soal rasa gugup,
kaulah yang kelihatan jauh lebih kaku dari biasanya!"
"Yah, ini kan
pertama kalinya aku berpacaran dengan orang yang kusukai."
"..."
Saat kulirik sosok Saito,
bibirnya terkatup rapat-rapat, kedua pipinya merona merah menyala.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa."
"Benarkah? Yah, aku
senang mengetahui kau sama gugupnya denganku. Tidak ada buku panduan untuk
situasi seperti ini, kan."
"Tentu saja tidak
ada."
"Kukira buku bisa
menjawab segala hal di dunia, tapi ternyata buku hanyalah sekumpulan tumpukan
kertas."
"Sebesar apa
sebenarnya kedudukan buku di dalam kepalamu itu...?"
Helaan napas pasrahnya
menyapa telingaku. Akhirnya, sosok Saito yang kukenal telah kembali seutuhnya.
Dia memang paling cocok bersikap seperti ini.
***
"Ngomong-ngomong,
terima kasih untuk cokelat kemarin ya."
"Oh, syukurlah kalau
kau menyukainya."
"Aku sudah mencicipi
satu, dan rasanya luar biasa lezat."
Saito bangkit berdiri dan
melangkah menuju dapur, lalu kembali membawa kotak cokelat yang kuberikan
kemarin.
"Kau mau coba juga,
Tanaka-kun?"
"Boleh? Kalau begitu
aku ambil satu."
Kuambil sepotong cokelat
berbentuk bunga berwarna merah dari dalam kotak lalu memasukkannya ke dalam
mulut. Rasa asam segar yang lembut seketika menyebar di lidahku, disusul oleh
manisnya cokelat yang lumer perlahan.
"Wah, ini
benar-benar sangat enak."
"Benar,
kan?"
Saito ikut memakan
sepotong, matanya melembut selagi senyuman penuh kepuasan merekah di wajahnya.
Terlihat sangat jelas bahwa ia sangat menyukainya.
"Tanaka-kun,
setidaknya seleramu dalam memilih hadiah cukup bagus juga."
"'Setidaknya'? Apa
maksudnya itu?"
"Maksudku,
mengejutkan sekali orang sepertimu tahu bagaimana cara memilih barang yang
disukai perempuan. Pembatas buku yang kau berikan tempo hari juga sangat
bagus."
"Aku kan melakukan
riset dulu. Lagipula, aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu bersamamu untuk
bisa menebak apa yang kau sukai. Aku ini di luar dugaan cukup peka, tahu."
"..."
Tatapan tajam Saito
mendadak menusuk tepat ke arahku tanpa alasan yang jelas.
"P-pokoknya, aku
senang kau menyukai cokelatnya. Usahaku memilihnya jadi terasa sangat
sepadan."
"Iya, aku sangat
menyukainya sampai-sampai memotretnya banyak sekali."
Ia memperlihatkan layar
ponselnya padaku, menampilkan foto cokelat berbentuk bunga tersebut. Aku sempat
melihat sekilas galeri fotonya yang dipenuhi jepretan serupa—kemungkinan besar
dari usahanya untuk mendapatkan sudut pengambilan gambar yang paling sempurna.
"Kau mengambil
banyak sekali foto, ya."
"Aku tidak bisa
langsung mendapatkan hasil foto yang memuaskanku."
"Memangnya sesulit
itu?"
"Haha, kau tidak
paham, Tanaka-kun. Kau tidak bisa asal memotret begitu saja; kau harus
memperhitungkan sudut kemiringan dan pencahayaan untuk mendapatkan hasil yang
estetik."
Saito menjelaskan
teknik fotografinya dengan sangat bangga. Penasaran, kuputuskan untuk mencoba memotret kotak
cokelat di atas meja menggunakan ponselku sendiri, mengikuti arahannya.
Hasilnya ternyata terlihat cukup bagus.
"Bagaimana dengan
yang ini?"
"Bagaimana bisa kau
mengambil foto sebagus ini hanya dalam sekali coba!?"
Menilai dari reaksinya
yang heboh, dugaanku ternyata bukan sekadar perasaan semata. Saito menatap
lekat-lekat ke arah layar ponselku, bergumam pelan di balik napasnya,
"Padahal aku butuh waktu dua jam cuma buat dapat hasil yang pas..."
"Yah, memotret benda
mati itu mudah. Bagian paling sulit adalah memotret manusia, jadi jangan
langsung sombong dulu."
"Memotret orang jauh
lebih sulit, ya?"
"Tentu saja. Banyak
sekali faktor yang terlibat, seperti ekspresi wajah dan postur tubuh, yang
membuatnya jauh lebih rumit."
Selagi berbicara, mata
Saito mendadak membelalak seolah baru saja menyadari sebuah ide. Ia menundukkan
pandangannya sesaat sebelum perlahan kembali menatapku.
"Biar kujadikan kau
sebagai contoh, Tanaka-kun. Aku akan memotretmu."
"Aku? Kau tidak perlu
bertindak sejauh itu."
"Tidak, aku harus
melakukannya. I-ini adalah kewajibanku untuk mendemonstrasikan secara nyata
betapa sulitnya memotret manusia. Mulai detik ini, aku mendeklarasikan diriku sebagai
duta besar fotografi."
"Sejak kapan jabatan
itu ada...?"
Aku menghela napas pasrah,
tetapi aku paham betul bahwa Saito sebenarnya memang ingin sekali mengambil
fotoku. Entah bagaimana caranya, dia sudah menyiapkan ponselnya dan
mengarahkannya tepat ke arahku dengan ekspresi yang sangat fokus.
"Apa yang harus
kulakukan?"
"Mari kita mulai
dengan posemu saat membaca buku."
"Mulai dengan itu...
ya."
Aku punya firasat bahwa
sesi foto ini tidak akan berakhir hanya dengan satu jepretan saja. Namun Saito
terlihat begitu bersemangat, jadi kuputuskan untuk membiarkannya
bersenang-senang.
"Baca saja bukumu
seperti biasa tanpa memedulikanku. Bersikaplah alami."
Ia memberi isyarat dengan
tangannya dengan penuh semangat agar aku lekas mulai. Kukeluarkan buku yang
sedang kubaca dari dalam ranselku. Rasanya jauh lebih mudah menuruti
permintaannya daripada disuruh memperagakan pose-pose aneh yang canggung. Saat
aku mulai membaca, suara klik kamera mulai memenuhi ruangan.
"Bagus, Tanaka-kun.
Garis wajahmu dari samping terlihat sangat bagus."
Aku melirik ke arahnya dan
melihatnya sedang asyik memotret dengan mata yang berbinar-binar, jauh lebih
bersemangat daripada yang pernah kulihat sebelumnya. Ia mengarahkan kameranya
dari berbagai sudut—dari depan, sedikit dari atas, dan dari samping. Dia terlihat seperti
sedang menikmati momen paling membahagiakan dalam hidupnya.
Meskipun membaca buku
adalah aktivitas paling pasif yang bisa dibayangkan manusia, Saito tampak sama
sekali tidak keberatan. Ia terus menekan tombol rana kamera tanpa henti. Setiap
kali aku membalik halaman atau sedikit mengubah posisi dudukku, kameranya
langsung berbunyi klik.
(Wah...)
Aku selalu bangga
dengan kemampuanku membaca buku dalam situasi apa pun, tetapi kali ini adalah
pengalaman pertama bagiku. Suara kamera yang tiada henti dan tatapan fokusnya
yang begitu intens membuatku kesulitan untuk berkonsentrasi. Dan sejujurnya,
melihatnya begitu hanyut dalam apa yang dilakukannya, dengan wajahnya yang
berseri-seri dipenuhi antusiasme, terasa sangat manis di mataku.
Aku sempat berpikir
untuk menegurnya beberapa kali, tetapi aku ragu-ragu, tidak tega merusak
kesenangannya yang begitu nyata.
"Hei, Saito."
"Iya? Ada apa?"
"Tidakkah kau merasa
sudah mengambil terlalu banyak foto dari tadi?"
Ia menurunkan ponselnya
lalu mengamati layarnya sejenak sebelum mengangguk puas.
"...Kau benar.
Hasilnya sudah cukup banyak dan memuaskan. Coba lihat yang ini—bukankah
hasilnya sangat bagus?"
Ia memperlihatkan foto
profil wajahku dari samping. Meskipun hasilnya memang terlihat cukup bagus, aku
merasa agak canggung menilai foto wajahku sendiri.
"Kurasa
lumayan."
"Itu adalah ekspresi
orang yang sama sekali tidak paham seni fotografi."
"Yah, rasanya aneh
memuji foto wajahku sendiri."
"Menyedihkan sekali.
Tidak memahami pesona dari fotomu sendiri berarti kau telah melewatkan delapan
puluh persen dari kenikmatan hidup."
"Perhitungan
matematika dari mana itu?"
"Itu hasil
kalkulasi pribadi dan statistik inderawiku sendiri."
"Sebaiknya kau
hitung ulang statistikmu itu."
Klaim percaya dirinya
yang kelewat berlebihan membuatku kehabisan kata-kata. Mengaitkan delapan puluh
persen kenikmatan hidup hanya dengan foto diriku sendiri jelas terlalu
mengada-ada. Jika itu artinya menikmati hidup, aku lebih memilih tetap bodoh
saja. Saito sedikit mengerucutkan bibirnya, menatap layar ponselnya dengan
ekspresi yang tampak kurang puas.
"Yah, setidaknya
aku sekarang paham kalau memotret orang ternyata jauh lebih sulit dari
dugaanku."
"Kau paham
sekarang?"
"Setelah
melihatmu mengulang jepretan berkali-kali tadi, iya. Jelas sekali itu bukan hal yang mudah."
"Tadi itu... uh,
iya, memang sangat menantang."
Tatapannya sempat
goyah sesaat sebelum ia mengangguk mantap. Kuputuskan untuk membiarkannya saja.
"Kau tahu,
memotret orang lain dan mengambil foto selfie itu dua tantangan yang
sama sekali berbeda. Kalau selfie, kau harus memperhitungkan jarak yang
pas selagi memegang ponsel."
"Masuk akal
juga."
Aku ingat pernah
melihat teman-teman sekelasku—biasanya anak-anak perempuan—mengambil foto selfie
bersama di kelas.
"Um..."
Ia menarik pelan lengan
bajuku, Tatapan matanya dengan malu-malu bertemu dengan mataku.
"Ada apa?"
"Aku berpikir... aku
bisa mengajarimu cara mengambil foto selfie yang benar."
"Eh?"
"Maksudku, kita bisa
mengambil foto berdua dan aku akan menunjukkan trik-triknya padamu."
(Foto berdua?)
Sebelum mulai menghabiskan
waktu bersama Saito, aku tidak pernah paham apa gunanya mengambil foto. Namun
sekarang, aku memahaminya. Jika itu adalah foto bersama orang yang kusukai, aku
tentu ingin menyimpannya dan melihatnya kapan pun aku mau.
"Baiklah, ayo kita
coba."
Mendengar persetujuanku,
wajahnya seketika berseri-seri bak mentari terbit.
"Kalau begitu
biar aku yang memegang kameranya dulu."
"Tentu,
silakan."
Aku memberi isyarat
agar ia mengangkat ponselnya selagi aku menggeser posisi dudukku mendekat ke
arahnya. Cukup dekat hingga pundak kami nyaris saling bersentuhan.
"Eh, t-tunggu
sebentar..."
"Katamu tadi kita
harus merapatkan jarak kalau mau selfie, kan?"
"Y-yah, memang benar
sih, tapi..."
Rasa gugupnya terlihat
sangat menggemaskan, dan reaksinya yang salah tingkah membuatku ingin
menggodanya sedikit. Dengan hati-hati ia mengangkat ponselnya menggunakan satu
tangan lalu mengatur sudut kemiringannya sebelum menekan tombol kamera. Begitu
selesai, ia lekas menggeser duduknya sedikit menjauh dariku.
"Bagaimana
hasilnya?"
"Kurasa hasilnya
lumayan bagus."
"Coba kulihat."
Aku mencondongkan badanku
untuk melihat layar ponselnya, dan Saito sempat tersentak kaget sedikit. Layar
itu menampilkan foto kami berdua—Saito dengan senyuman yang tampak agak kaku
dan diriku yang terlihat santai di luar dugaan.
"Kelihatannya bagus.
Meski senyumanmu kelihatan agak terpaksa."
"A-aku tidak bisa
menahannya! Berada sedekat itu membuatku luar biasa gugup..."
Ia memalingkan wajahnya,
kedua pipinya merona merah muda yang manis.
"Yah, menurutku
hasilnya bagus, kok. Bisakah kau mengirimkan foto itu padaku?"
"Kau mau fotonya
juga, Tanaka-kun?"
"Tentu saja. Kenapa
aku tidak mau menyimpan foto bersama orang yang kusukai? Aku bahkan belum punya
satu pun foto kita berdua."
"B-begitu ya."
Meskipun mengungkapkan
perasaanku secara terang-terangan bukan gayaku yang biasa, melihat senyuman
malu-malu namun bahagia di wajah Saito membuat segalanya terasa sangat sepadan.
Ia mengirimkan foto itu padaku dengan senyum lembut yang merekah di bibirnya.
"Ini, sudah
kukirim."
"Terima kasih."
Kubuka pesannya dan
kupandangi foto itu sekali lagi. Senyuman Saito yang sedikit canggung namun
luar biasa manis membuatku ikut tersenyum sendiri.
(Ternyata berfoto
bersama tidak seburuk yang kubayangkan.)
Melirik ke arahnya,
kulihat Saito sedang memandangi foto itu di ponselnya dengan raut wajah yang
sangat puas. Kemudian, seolah baru saja
mendapatkan ide baru, ia mendongak menatapku.
"Hei, Tanaka-kun.
Lain kali, maukah kau mencoba foto purikura bersamaku?"
"Purikura? Aku
pernah mendengarnya, tapi aku tidak begitu tahu apa itu sebenarnya."
"Kau pasti pernah
melihat mesin-mesin foto kotak besar di pusat arkade permainan tempat anak-anak
perempuan sering berkumpul, kan?"
"Oh, mesin-mesin itu.
Iya, aku pernah melihatnya."
"Tepat sekali. Kita
masuk ke dalam biliknya lalu berfoto bersama. Tapi sensasinya sama sekali
berbeda dibanding sekadar berfoto dengan ponsel biasa."
"Berbeda bagaimana
maksudmu?"
"Kita bisa
memperagakan berbagai macam pose, dan setelahnya, kita bisa menghias fotonya
menggunakan pena digital dan stiker-stiker lucu."
"Ah, aku pernah
melihat hasil fotonya. Foto yang matanya diedit jadi sangat besar dan penuh
tulisan warna merah muda itu, kan?"
"Iya, yang itu! Kau
mau mencobanya bersamaku?"
Ia melayangkan tatapan
mendongak yang malu-malu ke arahku. Mana mungkin aku sanggup menolaknya.
"Boleh saja, tapi aku
sama sekali tidak tahu pose apa yang harus kupakai."
"Tenang saja! Mesin purikura
modern sekarang bisa merekomendasikan pose-pose otomatis, jadi pemula sepertimu
pun pasti bisa mengatasinya!"
"Itu melegakan untuk
didengar."
Ia tersenyum lebar
mendengar persetujuanku, rasa antusiasnya terpancar begitu nyata.
"Jadi, kapan kita mau
berangkat? Waktu liburan musim semi nanti? Akhir pekan? Atau... bagaimana kalau
hari ini saja?"
"Hari ini!?"
"Mumpung semangatnya
masih membara, seperti kata pepatah. Siapa tahu Tanaka-kun nanti berubah
pikiran?"
"Aku bukan orang
yang gampang berubah pikiran begitu. Aku selalu menepati janjiku."
Aku selalu
membanggakan diriku dalam memegang komitmen. Bagaimanapun juga, rasa percaya
adalah fondasi utama dalam hubungan antarmanusia.
"Jadi, kapan kita mau
pergi?"
"Bagaimana kalau saat
liburan musim semi saja? Kita bakal punya lebih banyak waktu untuk menikmatinya
santai, dan mungkin bisa sekalian mencoba permainan arkade lainnya."
"Kedengarannya bagus.
Mari kita jadwalkan waktu itu saja kalau begitu."
Itu memang usulan yang
mendadak, tetapi keputusannya sudah bulat—kami akan pergi mencoba purikura
bersama saat liburan musim semi nanti.
***
Pada hari giliranku di
tempat kerja paruh waktu, kuputuskan untuk mengikuti saran Kazuki dan melapor
kepada Hiiragi-san. Ketika tiba di kedai, kudapati ia sedang beristirahat di
ruang staf.
"Hiiragi-san, terima
kasih atas kerja kerasnya hari ini."
"Selamat malam,
Tanaka-san. Terima kasih juga untukmu."
Ia sedang duduk rapi di
tepi meja di tengah ruangan, asyik menggulir layar ponselnya. Ia melirik
sekilas untuk menyapaku sebelum kembali mengarahkan fokusnya ke layar. Sikapnya
terlihat begitu tenang dan datar seperti biasa, sama sekali tidak memperlihatkan
perubahan apa pun sejak kami mulai berpacaran.
"Um,
Hiiragi-san?"
"Iya, ada apa?"
"Aku ingin
menceritakan tentang gadis yang selama ini sering kukonsultasikan
denganmu."
"...Iya?"
Matanya sedikit membelalak
saat ia mengangguk perlahan, memperlihatkan binar rasa penasaran yang langka.
"Berkat hadiah di White
Day kemarin, kami akhirnya resmi berpacaran."
"Begitu ya. Itu
luar biasa."
"Kau kelihatannya
tidak terlalu terkejut ya."
"Eh? Oh, tidak, tentu
saja aku kaget! Jelas sekali."
"Benarkah?"
Aku menggodanya sedikit,
dan rasa canggung yang terpampang jelas di wajahnya membuatku terkekeh dalam
hati. Yah, masuk akal dia tidak terlalu terkejut—wong dia sendiri orang yang
bersangkutan.
"Iya, aku terkejut
sekali. Soalnya kau tidak menyinggung apa-apa soal itu waktu sesi curhat kita
yang terakhir."
"Itu karena aku
terlalu malu untuk mengatakannya secara terang-terangan."
Tentu saja aku tidak
mungkin mengumumkan sebelumnya bahwa aku berniat menyatakan cinta padanya. Itu
sama saja dengan memberikan deklarasi perang terlebih dahulu.
"Begitu rupanya. Yah,
bagaimanapun juga, selamat ya."
"Terima kasih
banyak."
"...Jadi, bagaimana
rasanya? Apa ada hal yang berubah sejak kalian mulai berpacaran?"
"Tidak banyak, tapi
sehari setelah kami jadian, kami berdua sama-sama merasa luar biasa gugup dan
canggung."
"Dia secemas
itu?"
Tatapannya melirik ke
arahku dari balik lensa kacamatanya, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
Dia jelas sangat tertarik mendengarnya. Aku ingat bagaimana Saito menyangkal
mati-matian rasa canggungnya tempo hari, tetapi sekarang giliranku meluruskan faktanya.
"Jelas sekali.
Gerak-geriknya persis seperti robot berkarat—itu sangat menggelikan."
"Dia separah
itu!?"
"Iya, padahal
biasanya dia selalu terlihat begitu tenang dan berwibawa, yang justru membuat
kepanikannya itu berkali-kali lipat lebih lucu."
"Kau tidak boleh
menertawakan hal itu; itu tidak sopan padanya."
Saat aku menahan tawa
mengingat memori itu, Hiiragi-san menggembungkan pipinya cemberut tanda tidak
puas lalu melayangkan tatapan tajam padaku.
"Yah, sisi dirinya
yang seperti itu juga terlihat sangat manis, kok."
"..."
Mengikuti saran Kazuki,
aku lekas melontarkan pujian, dan hasilnya langsung instan—raut cemberutnya
seketika lenyap, dan semburat merah muda tipis menyebar di kedua pipinya saat
ia merapatkan bibirnya kuat-kuat. Saran Kazuki benar-benar tepat sasaran.
Sejujurnya, aku memang
tulus menganggap tingkah lakunya itu sangat menggemaskan, dan karena secara
teknis kami sedang membicarakan sosok "pihak ketiga", jauh lebih
mudah bagiku untuk berbicara secara blak-blakan. Melihat Hiiragi-san salah
tingkah seperti ini justru membuatku ingin menggodanya lebih banyak lagi.
"Setelah kami
berhasil melewati rasa canggung di awal, kami sempat mengambil foto berdua
bersama."
"Oh, baguslah kalau
begitu. Kau memang ingin mengambil foto bersamanya, kan?"
"Tentu saja. Begitu
kami mulai berpacaran, aku baru sadar kalau kami belum punya satu pun foto
berdua. Dan, kau tahu sendiri, kita pasti ingin menyimpan foto dari orang yang
kita sayangi."
"Begitu ya."
Senyumannya kian
mengembang saat ia merespons, jelas merasa sangat bahagia. Meskipun biasanya ia
selalu mempertahankan sikap tenangnya saat kami mengobrol di rumahnya, kali ini
ia tampak tak sanggup membendung rasa sukacitanya.
(Sesi laporan ini
benar-benar sangat sepadan.)
Meskipun seiring
berjalannya waktu ia mulai memperlihatkan lebih banyak emosi di hadapanku,
tetap saja jarang sekali melihat reaksi yang seblak-blakan ini darinya. Aku harus berhati-hati
agar tidak sampai ikut tersenyum lebar sendiri.
"Apa anak perempuan
juga suka berfoto bersama orang yang mereka sukai?"
"Tentu saja. Tak
peduli pakaian apa yang mereka kenakan atau bagaimana penampilan mereka, sosok
yang kau sayangi akan selalu terlihat luar biasa di matamu, dan kau pasti ingin
terus memandanginya selamanya."
Hiiragi-san berbicara
dengan penuh gairah, kata-katanya terdengar begitu tulus dari lubuk hatinya. Itu menjelaskan
mengapa Saito begitu bernafsu mengambil fotoku berulang-ulang tempo hari.
"Apa kau sendiri
suka melihat-lihat kembali foto-foto itu waktu sedang sendirian?"
"Iya...
terkadang."
Saat kutanyakan hal
itu, ia mengangguk dengan sedikit tersipu malu, tetapi ia sama sekali tidak
menyangkalnya.
(Wah, benarkah
begitu?)
Mengetahui betapa
dalamnya rasa sayangnya padaku terasa agak memalukan, tetapi sama sekali tidak
terasa buruk. Malahan, hal itu menghangatkan seluruh rongga dadaku.
"Kenapa ekspresi
wajahmu begitu?"
"Eh, bukan
apa-apa."
"Memangnya salah
kalau memandangi foto orang yang kita sukai?"
Tatapannya yang tajam
menusuk tepat ke arahku selagi kedua pipinya merona makin pekat. "Tidak,
menurutku itu hal yang sangat bagus," jawabku cepat sembari mengangguk
mantap.
"Lalu, bagaimana
denganmu sendiri? Bagaimana kelanjutan ceritamu setelah Hari Valentine
kemarin?"
Aku tentu saja sudah tahu
jawabannya, tetapi aku berpura-pura tidak tahu.
"A-aku?"
"Iya, waktu itu kau
bilang mau memberikan cokelat pada seseorang. Apa yang terjadi
setelahnya?"
"Yah... aku ditembak
saat White Day kemarin, dan sekarang kami resmi berpacaran."
Jawaban Hiiragi-san
terdengar lirih dan bersahaja, tetapi kata-katanya membawa bobot kebahagiaan
yang nyata.
"Wah, selamat ya!
Kelihatannya situasi kita berdua sama persis."
"...Iya, tampaknya
begitu."
Tatapan datarnya
memberitahuku bahwa ia sama sekali tidak tertipu oleh akting polosku, tetapi ia
memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Jika dia tidak berniat menegurku
secara langsung, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menanyakan hal-hal
yang tidak bisa kutanyakan dalam situasi biasa.
"Bagaimana rasanya
waktu ditembak kemarin?"
"Rasanya sangat
membahagiakan sekali. Aku tahu dia bukan tipe orang yang percaya diri dalam
urusan asmara, jadi mengetahui bahwa dia mengumpulkan segenap keberaniannya
hanya untuk menyatakan cinta padaku itu sangat berarti besar buatku."
"..."
Kata-katanya menghantam
perasaanku jauh lebih dahsyat dari yang kuduga. Dia benar-benar memahami diriku
seutuhnya, dan hal itu seketika membuat seluruh wajahku terasa terbakar panas.
"Aku sebenarnya sudah
tahu bagaimana perasaannya, tetapi mendengarnya terucap langsung dari mulutnya
sendiri membuat segalanya terasa sangat berbeda. Aku begitu tersentuh
sampai-sampai hampir menangis waktu itu."
"A... aku
paham."
Mendengarnya mengatakan
hal itu membuat batinku terasa begitu meluap. Kata-katanya yang begitu jujur
dan terus terang terlalu berat untuk ditanggung oleh hatiku yang sedang salah
tingkah setengah mati ini.
Mengingat kembali, semua
reaksinya saat aku berkonsultasi tentang rencana menyatakan cinta tempo hari
kini terasa sangat masuk akal. Aku tak tahan untuk tidak bertanya-tanya apakah
perasaanku selama ini terlihat setransparan perasaannya di mataku. Meski begitu,
kuputuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh—aku khawatir penyamaranku
bisa-bisa terbongkar saat itu juga jika aku terus berbicara.
(Kusimpan sisa obrolan ini
untuk lain waktu saja.)


Post a Comment