Chapter 1
Bertemu Gadis
Tercantik di Sekolah
Saat itu
akhir bulan September, dan cuaca bertahap menjadi semakin dingin. Angin dingin
berembus, membuatku sedikit menggigil. Aku sedang bersantai di atap sekolah
saat istirahat makan siang, menatap langit yang berawan.
"...Ah."
"Ada apa,
Minato? Suasana hatimu sepertinya sedang buruk hari ini. Kalau kamu terus
menghela napas seperti itu, kebahagiaanmu bisa kabur, lho."
Rupanya, aku
menghela napas cukup keras hingga terdengar oleh orang di sebelahku. Dia adalah
Ichinose Kazuki, yang menatapku dengan ekspresi agak khawatir. Aku sudah
berteman dengannya sejak awal SMA. Dia selalu menjahiliku dan bahkan mencoba
menjodohkanku dengan gadis-gadis, jadi aku tidak bisa bilang dia cowok yang
benar-benar baik—tapi dia salah satu dari sedikit teman yang benar-benar
mengkhawatirkanku, jadi aku tidak bisa membencinya.
Merasa sedikit
terhibur oleh kepedulian Kazuki, aku memutuskan untuk menceritakan alasan di
balik helaan napasku, karena tahu dia tidak akan membocorkannya kepada siapa
pun.
"Kurasa
tidak apa-apa kalau cuma kebahagiaanku yang kabur. Tapi, dengar ya...
Sebenarnya..."
Kejadiannya
sekitar dua minggu yang lalu.
Ayahku
dipindahtugaskan ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, dan ibuku memutuskan
untuk ikut dengannya. Pada akhirnya, mereka meninggalkanku, dan aku mendadak
harus hidup sendirian di pertengahan tahun kedua SMA.
Awalnya, aku
merasa lega. Tidak ada lagi orang tua yang memompa omelan berarti lebih banyak
kebebasan—atau begitulah pikirku. Namun, hanya karena hidup sendirian bukan
berarti aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan. Keluargaku bukan orang
kaya, jadi masalah keuangan segera menjadi kendala utama.
Tentu saja,
mereka meninggalkanku sejumlah uang untuk biaya hidup, tetapi jumlahnya jauh
dari kata cukup. Aku juga tahu persis alasannya. Aku terlalu bersemangat dan
membeli terlalu banyak buku. Memegang uang dalam jumlah besar untuk pertama
kalinya membuatku tidak sanggup menahan godaan. Alhasil, kondisi keuanganku
saat ini cukup mengenaskan.
"...Jadi
begitu ceritanya."
"Haha, kamu
begitu suka buku sampai-sampai menghabiskan uang belanja demi buku? Seberapa
gilanya kamu sama membaca? Buku itu sudah seperti tambatan hatimu saja."
"Diamlah.
Ini juga salahmu karena merekomendasikan begitu banyak buku rilis baru yang
menarik bulan ini."
"Kamu masih
sama saja seperti biasanya. Jadi, apa yang bakal kamu lakukan?"
"Justru
karena itulah aku kesulitan. Kurasa aku bisa bertahan kalau menghemat dan
memperketat pengeluaran."
"Hmm, kalau
begitu kenapa kamu tidak coba cari pekerjaan paruh waktu saja? Kamu bisa dapat
uang dari sana. Setidaknya itu bisa membantu situasimu saat ini."
"Mana
mungkin! Kamu bodoh ya? Kerja paruh waktu itu melanggar peraturan
sekolah."
"Banyak kok
yang kerja paruh waktu diam-diam, jadi kurasa tidak masalah."
"Tidak
bisa, hukuman kalau ketahuan itu cukup berat."
Aku tahu ada
orang-orang yang bekerja paruh waktu secara sembunyi-sembunyi, tapi bagaimana
kalau mereka ketahuan? Memikirkan kemungkinan buruk itu saja sudah membuatku
ragu untuk menyetujui saran Kazuki.
"Hmm,
begitu ya... Ah, aku tahu!"
Kazuki tampak
sedikit kecewa ketika aku tidak langsung setuju, tetapi tiba-tiba wajahnya
cerah kembali, matanya berbinar dengan seringai jahil.
"Aku belum
pernah dengar ada orang yang benar-benar dihukum karena ketahuan kerja paruh
waktu, tapi kalau kamu sekhawatir itu, Minato..."
"Oh,
oke...?"
Dia
mendekat, dan secara refleks aku menarik diri ke belakang. Perasaanku mulai
tidak enak. Berdasarkan pengalaman—saat dia menunjukkan wajah seperti itu,
jarang sekali ada ide bagus yang keluar dari kepalanya.
"Minato,
ayo kita menyamar!"
"Oh...
oke...?"
Sarannya begitu
mendadak sampai-sampai aku hanya bisa merespons seperti anjing laut yang
kebingungan.
"...Dan apa
maksudmu dengan menyamar?"
"Ya seperti
artinya. Maksudku mengubah penampilanmu secara total—terlihat jauh lebih
bergaya daripada kamu yang sekarang. Dari dulu aku selalu berpikir, kalau
Minato mau berdandan dengan benar, kamu bakal kelihatan keren banget."
"Hah, kamu
kan populer di kalangan gadis-gadis se-sekolah, jadi saat kamu bicara begitu,
rasanya kamu cuma sedang mengejekku."
Ungkapan
"se-sekolah" mungkin agak berlebihan, tetapi tetap saja, Kazuki
sangat terkenal. Mungkin tidak ada seorang pun di sekolah yang tidak mengenalnya. Yah,
sebenarnya ada satu orang yang jauh lebih terkenal darinya.
"Ayolah,
ini bukan masalah besar. Jadi, bagaimana kalau kamu menyamar lalu cari kerja
paruh waktu?"
"Meskipun
aku menyamar, tidak akan ada perbedaan besar. Aku tetap akan langsung ketahuan,
dan kalau itu terjadi, rasanya bakal menakutkan sekali."
"Jangan
remehkan aku. Kamu itu punya potensi lebih dari yang kamu kira, Minato. Tidak
akan ada yang tahu, percayalah padaku. Aku bakal mengajarimu cara menyamar yang
benar. Plus, aku bahkan bakal mencarikanmu pekerjaan paruh waktu yang hampir
tidak pernah dikunjungi siswa dari sekolah kita."
"Tapi..."
Bahkan dengan
bantuan sejauh itu dari Kazuki, aku masih merasa cemas jika harus melanggar
peraturan sekolah. Namun saat aku ragu-ragu, Kazuki mengeluarkan argumen
pamungkasnya.
"Kamu
yakin? Kalau kamu melakukan ini, kamu bakal bisa beli semua buku yang kamu mau
tanpa perlu mengkhawatirkan uang lagi."
"Baiklah,
beri tahu aku di mana tempat kerjanya. Dan kamu harus mengajariku cara menyamar
ini."
Aku langsung
menjawab tanpa ragu.
Ya, jika itu
artinya aku bisa membeli lebih banyak buku, aku tidak takut lagi melanggar
aturan sekolah. Buku jelas jauh lebih penting daripada aturan itu.
Setelah pulang
sekolah, aku berada di rumah bersama Kazuki, bersiap-siap untuk belajar cara
menyamar.
"Banyak hal
yang harus dipoles, tapi kita mulai dari mana dulu ya?" tanya Kazuki
sambil tersenyum lebar. "Pertama-tama, kacamata itu. Asli, buruk
banget."
Dia tertawa
seolah-olah sangat menikmati momen ini.
Aku tahu
kacamataku tidak terlalu cocok denganku, tetapi aku tidak bisa menahan rasa
kesal atas komentarnya. Namun, karena posisi aku yang sedang diajari, aku
memutuskan untuk membiarkannya berlalu. Untuk saat ini.
"Diamlah.
Jadi langkah pertama adalah melepas kacamata ini?"
"Kurang
lebih begitu. Kalau kamu memang ingin tetap pakai kacamata, aku bakal bantu
cari bingkai yang lebih bagus. Tapi bukannya kamu sudah punya lensa kontak,
Minato?"
"Ya, yang
kamu hadiahkan saat ulang tahunku tahun lalu. Kamu tiba-tiba minta resep ukuran
mataku lalu memberiku lensa kontak sebagai hadiah. Aneh memang, tapi aku masih
menyimpannya. Aku akan pakai."
Aku berjalan ke
kamar mandi dan mengambil kotak lensa kontak yang tidak tersentuh selama
setahun. Aku pernah memakai lensa kontak beberapa kali saat SMP, tetapi
memakainya setiap hari terasa merepotkan—dan mahal juga. Meski begitu,
memasangnya ternyata lebih mudah dari yang kuingat. Setelah berhasil
memasangnya, aku merasa sedikit lega, seperti baru saja lolos dari sebuah
ujian. Aku mengembalikan tempat lensa kontak ke dalam tas lalu kembali ke ruang
tamu.
"Wah! Cuma
ganti ke lensa kontak saja dampaknya sudah besar banget," seru Kazuki.
"Sudah kuduga perkiraanku tidak salah."
"Asal tidak
kelihatan aneh, aku sih oke saja," jawabku.
"Heh,
oke, sekarang ke langkah berikutnya—rambutmu."
"Aku
ingatkan dari sekarang, aku tidak mau memotongnya."
"Tenang
saja, aku sudah menebak kamu bakal bilang begitu. Poin utamanya kan menyamar? Kalau
kita potong terlalu pendek, kamu malah bisa lebih mudah dikenali. Jadi, kita
tidak akan memotongnya."
"Baiklah,
lalu apa rencanamu untuk rambutku?"
"Ta-da!"
Dia mengeluarkan sebuah catokan rambut kecil dari tasnya, mengayun-ayunkannya
seolah-olah itu adalah tongkat sihir.
Aku pernah
melihat benda ini sebelumnya tetapi tidak pernah menggunakannya sendiri.
"Kalau kita
angkat poni rambutmu dan membuat wajahmu lebih terlihat, penampilanmu bakal
berubah total. Setelah itu, kita pakai wax dan spray untuk menatanya."
"...Aku
tidak begitu paham, tapi lakukan saja," kataku mendesaknya.
Wajah Kazuki
berbinar, jelas terlihat bersemangat saat dia mulai menata rambutku. Dia
menggunakan catokan untuk mengangkat poniku, memberinya sedikit volume dan
tekstur yang agak bergelombang. Melihat rambutku bertransformasi di cermin
terasa agak nyata namun aneh.
"Ini
benar-benar sesuatu..." gumamku, terkejut melihat betapa berbedanya
diriku.
"Mulai
sekarang, kamu harus melakukan ini sendiri, Minato. Aku bakal mengajarimu
selama seminggu, setelah itu kamu berjuang sendiri," kata Kazuki sambil
tersenyum puas.
Aku tahu aku
tidak bisa mengandalkannya setiap kali akan bekerja paruh waktu, jadi masuk
akal jika aku harus belajar. Kelihatannya tidak terlalu rumit, dan setelah
seminggu, aku yakin bisa menguasainya.
"Baiklah,
sekarang sentuhan terakhir—wax dan spray."
Kazuki mengambil
sedikit wax, meratakannya ke rambutku, menatanya hingga perlahan mengeras dan
mempertahankan bentuknya. Saat rambutku ditarik dan ditata, aku merasakan
campuran aneh antara rasa tidak nyaman dan lega, menunggu proses transformasi
ini selesai. Setelah merapikannya beberapa kali, menyisir dan membentuk
beberapa bagian, dia akhirnya menyemprotkan spray penata rambut.
"Selesai!
Jujur saja, rasanya sulit percaya kalau kamu ini Minato. Kamu kelihatan
seperti orang yang benar-benar berbeda," katanya dengan cengiran konyol.
Dia
tidak sekadar bercanda—ekspresi puas di wajahnya memberi tahu bahwa prosesnya
berjalan sukses. Bahkan aku sendiri bisa melihat bahwa aku tampak seperti orang
lain. Rambut yang biasanya menutupi mataku kini terangkat dan tersisir rapi,
memberikan pandangan yang jauh lebih luas. Aku terkejut dengan betapa
berbedanya penampilanku, dan jika aku sendiri hampir tidak mengenali diriku,
tidak mungkin orang lain akan mengenali.
"Ya...
Aku ragu akan ada orang yang mengira ini aku."
"Aku
punya catokan rambut cadangan, jadi kamu boleh ambil yang ini. Besok kita beli wax dan spray. Harganya cukup murah
kok."
"Terima
kasih banyak. Aku benar-benar menghargainya."
"Hei,
santai saja. Aku melakukan ini supaya Minato kelihatan keren! Aku bakal
mengajarimu lebih banyak trik mulai besok. Ayo kita lanjutkan."
"Ya, aku
mengandalkanmu."
***
Dengan begitu,
aku menyelesaikan semua persiapan untuk kerja paruh waktuku. Instruksi Kazuki
sangat jelas dan mudah dipahami, dan aku dengan cepat menangkap
trik-triknya—seperti cara menata rambut dan bahkan merapikan alis. Semuanya
berjalan lancar, dan beruntung, wawancara kerjaku berjalan tanpa kendala. Aku
langsung diterima bekerja.
Akhirnya, hari
pertama kerjaku tiba. Toko tersebut memiliki atmosfer yang elegan dan modis,
didominasi oleh warna hitam dan cokelat. Aku berdiri dengan gugup di
depan staf lainnya, berusaha menenangkan diri. Semua orang memakai seragam
hitam yang sama denganku, dan semua mata tertuju pada anggota baru—yaitu aku.
"Ini
Tanaka Minato, yang mulai bergabung dengan kita hari ini. Mari kita semua
bekerja sama dengan baik mulai sekarang," sang manajer memperkenalkan.
"Um,
salam kenal semuanya," tambahku sambil membungkuk sedikit, merasakan
beratnya tatapan mereka.
Manajer
melanjutkan, "Nah, siapa yang harus bertugas melatih Tanaka...? Ah,
Hiiragi, bisa minta tolong? Kalian berdua usianya sebaya, jadi kurasa akan
lebih mudah untuk berkomunikasi."
"...Aku
mengerti," sebuah suara lembut menjawab.
Orang
yang melangkah maju adalah Hiiragi. Dia memiliki poni panjang yang hampir
menyembunyikan matanya, dan bibirnya terkatup rapat. Kacamata berbingkai tipis
membingkai wajahnya, menyajikan penampilan yang polos dan terkesan tertutup.
"Salam
kenal, aku Hiiragi Rena. Mohon kerjasamanya," katanya dengan nada formal
dan sedikit jarak.
Sikapnya yang
berhati-hati dan tertutup membuatku merasa agak canggung, tetapi aku bisa
memahaminya. Ini adalah pertemuan pertama kami, dan fakta bahwa kami lawan
jenis mungkin menambah rasa tidak nyaman tersebut. Ditambah lagi, dia sepertinya
tipe orang yang tidak terbiasa berbicara terbuka dengan orang asing.
Namun,
yang lebih menyita perhatiaku adalah namanya—Rena. Aku mengenal seseorang
dengan nama itu. Saito Rena, gadis tercantik di sekolah kami. Semua orang
mengenalnya. Mungkinkah Hiiragi yang tampak biasa saja ini adalah orang yang
sama? Pikiran itu sempat terlintas di benakku, meski aku segera menepisnya
sebagai kebetulan belaka.
Saito
begitu terkenal sehingga sulit membayangkannya hanya digambarkan dalam satu
kalimat. Aku tidak tahu banyak tentangnya, tetapi Saito langsung menarik
perhatian hanya dengan keberadaannya. Keanggunannya membuat orang-orang menoleh
hanya karena dia berjalan melintas.
Rambut
hitamnya berkilau saat diterpa cahaya. Matanya yang lebar dengan kelopak ganda,
hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah merekah, serta kulitnya yang putih
mulus memberikannya kecantikan yang memikat siapa saja yang melihatnya.
Singkatnya, dia adalah tipe gadis yang begitu memukau hingga kamu tidak bisa
menahan diri untuk tidak menatapnya.
Cukup
mengejutkan bahwa Hiiragi memiliki nama depan yang sama dengan seseorang yang
begitu terkenal, tetapi "Rena" adalah nama yang umum. Bukan hal aneh
bertemu orang lain dengan nama yang sama, jadi rasa canggung sesaat itu memudar
dengan cepat.
"Salam
kenal," kataku, menatap mata Hiiragi-san dan membungkuk.
Dia dengan cepat
mengalihkan pandangannya. Meskipun sikap berhati-hati itu bukan hal yang buruk,
jika dia menjaga jarak terlalu jauh dariku, hal itu mungkin membuat kami sulit
bekerja sama. Aku tidak bisa menahan rasa khawatir tentang bagaimana hubungan kerja
kami ke depannya.
"...Baiklah,
mari kita mulai dari cara melayani pelanggan," mulainya, membimbingku
mempelajari pekerjaan ini.
Terlepas dari
sikap dingin di awal, penjelasan Hiiragi-san sangat sopan dan mudah dipahami.
Setiap kali aku mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang membingungkan, dia
meluangkan waktu untuk menjelaskannya dengan jernih. Meskipun dia tampak tidak
ramah, etos kerjanya sangat tekun, dan aku merasa tenang bisa mempelajari
pekerjaan ini di bawah bimbingannya.
Aku tidak
berharap kami akan menjadi dekat, tetapi sepertinya kami bisa bergaul dengan
baik saat bekerja bersama.
Dan begitulah
kisah hidupku dimulai sebagai pekerja paruh waktu yang menyamar, berdampingan
dengan seorang gadis berkacamata yang sedikit dingin namun jauh lebih mahir
dalam pekerjaannya daripada yang terlihat dari pembawaannya.
"Baiklah,
sekian untuk wali kelas hari ini."
"Berdiri,
beri hormat, duduk kembali."
Beberapa saat
setelah aku mulai bekerja, hari sekolahku berakhir, dan aku menghela napas
pelan.
Merasa lega
karena sekolah akhirnya selesai, aku mulai memasukkan buku-buku pelajaran
kembali ke dalam ransel saat Kazuki mendekatiku.
"Bagaimana
kabarnya sejak saat itu? Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Yah, aku
baik-baik saja. Seperti yang kamu katakan, tidak ada siswa SMA di toko itu,
jadi aku bisa bekerja tanpa khawatir. Tempatnya benar-benar bagus."
"Baguslah!
Berarti tidak sia-sia aku mengenalkannya padamu. Jadi, bagaimana? Apakah ada gadis-gadis cantik?"
"...Ah, kamu ini..."
Aku baru saja mulai berpikir Kazuki adalah
cowok yang baik, tetapi kemudian dia mengatakan ini. Aku tertegun dan tidak
bisa berkata-kata, tidak bisa menahan diri untuk tidak memberinya tatapan
dingin. Dia melanjutkan dengan nada serius, seolah-olah tersinggung.
"Tidak,
tidak! Keberadaan gadis cantik itu penting tahu. Siapa tahu musim semi akan
datang untuk Minato juga. Itu sebagian alasan kenapa aku mengirimmu ke
sana."
"Tidak
ada yang datang. Cuma ada satu orang yang seumuran denganku. Sisanya jauh lebih
tua."
Dari apa yang
kulihat selama bekerja di sana, aku tidak menemukan anak muda lain selain
Hiiragi. Itu mungkin sebagian karena pelanggan di toko tersebut cenderung orang
tua. Yah, aku baru saja mulai bekerja di sana, jadi ada kemungkinan ada anak
muda lain yang belum kutemui saja.
Kazuki
langsung menyambar ucapanku dengan binar antusias di matanya.
"Oh,
itu bagus. Seorang gadis seumuranmu. Bagaimana menurutmu? Apakah dia cantik? Kamu pikir
kalian bisa akrab?"
"Aku tidak
berencana apa-apa, dan lagipula sepertinya tidak ada hal seperti itu yang bakal
terjadi. Dia tampak cukup waspada padaku dan memperlakukanku dengan
dingin."
Kazuki memang
sangat suka membahas cerita cinta. Aku sudah muak dengan introgasi konstan
darinya, tetapi aku tetap merespons.
Lagipula,
aku sudah menghabiskan sebagian besar waktuku jauh dari urusan cinta dan
wanita, jadi tidak mungkin apa yang diharapkan Kazuki akan terjadi.
Dan
tidak ada kemungkinan hal seperti itu terjadi dengan Hiiragi. Dari apa yang
kulihat di tempat kerja, dia sepertinya tidak tertarik untuk dekat dengan siapa
pun, jadi aku ragu kami bakal berteman dekat dalam waktu dekat.
"Apakah
kamu bersikap ramah? Meskipun kamu kelihatan keren, kalau kamu tetap bersikap
seperti dirimu yang sekarang, orang-orang bakal waspada padamu. Alhasil,
temanmu bakal sedikit."
"Diamlah.
Aku melakukan tepat seperti yang kamu katakan dan tidak melewatinya. Senyum
sopan dan topik pembicaraan secukupnya, kan? Berkat kamu, aku bisa berbicara
dengan orang lain di tempat kerja. Aku menghargai hal itu."
"Haha,
tidak apa-apa. Tapi sayang sekali. Aku pikir musim semi bakal tiba untuk Minato
begitu kamu mulai bekerja. Aku sudah sabar ingin mengobrol tentang cinta
bersamamu."
"Sayang
sekali. Yah, berkat pekerjaan paruh waktuku, aku punya banyak 'kekasih'."
"Kamu ini
agak plin-plan ya?"
"Bukan,
bukan begitu maksudnya!"
Aku mengakhiri
siang hari itu dengan mengobrol seperti ini, merasa terhibur oleh lelucon aneh
Kazuki.
(Beneran deh,
cowok itu...)
Tampaknya Kazuki
ada janji kencan dengan seorang gadis dan hanya mengobrol denganku untuk
membunuh waktu sampai saat itu tiba. Ketika waktunya tiba, dia pergi dengan
gembira.
Rasanya agak
aneh melihat seseorang begitu santai soal itu, tetapi sebagai seseorang yang
tidak pernah ditaksir siapa pun, aku tidak bisa menahan rasa sedikit iri. Orang-orang
sering berpikir bahwa kutu buku tidak tertarik pada orang lain, tetapi itu
tidak benar. Aku menikmati berbicara dengan orang-orang, dan aku juga tertarik
pada percintaan.
Namun,
membaca buku itu terlalu menyenangkan, jadi aku tidak berpikir akan mendapatkan
pacar dalam waktu dekat.
Ya, ini salah
buku-buku itu yang terlalu menarik. Ini bukan salahku.
Sambil berjalan
pulang, aku berpikir bahwa aku cukup puas memiliki buku sebagai kekasihku untuk
saat ini.
"Apa
ini?"
Sebuah buku
catatan kecil berwarna biru tua berukuran sepalem tangan tergeletak di pinggir
jalan. Melihat lebih dekat, aku menyadari itu adalah buku saku siswa dari
sekolahku. Sampulnya masih utuh dan dalam kondisi baik, jadi mudah dibayangkan
kalau ada seseorang yang tak sengaja menjatuhkannya. Aku merasa bersalah kalau
mengabaikannya, tetapi rasa penasaran mengalahkanku, jadi aku mengambilnya dan
melihat ke dalam.
"Saito Rena, Tanggal Lahir: 28 November
2003."
Untuk sesaat, aku tertarik pada kenyataan bahwa,
meskipun bulannya berbeda, kami memiliki tanggal lahir yang sama. Namun
pandanganku segera tertuju pada nama tersebut. Nama yang tertulis di buku
catatan itu milik seorang gadis terkenal.
(Apa yang harus kulakukan...?)
Aku memegang kepala dengan kedua tangan,
bingung harus berbuat apa dengan buku catatan ini. Karena aku yang
menemukannya, aku harus mengembalikannya, tetapi sayangnya, aku tidak memiliki
keberanian untuk mendekatinya di dalam kelas. Berbicara dengannya saja akan
menarik terlalu banyak perhatian, dan aku tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Untuk sejenak, aku mempertimbangkan untuk
meminta Kazuki menyerahkannya, tetapi aku tahu Kazuki kemungkinan besar akan
memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Saito. Kazuki memang cowok yang
baik, tetapi tidak bijaksana membiarkannya terlalu dekat dengan gadis-gadis.
Meskipun aku tidak banyak berinteraksi dengannya, aku merasa tidak enak jika
menempatkannya dalam posisi itu. Itu meninggalkanku tanpa pilihan selain
mengembalikannya sendiri.
Namun ide itu
sangat mengintimidasi. Aku menghela napas, merasakan beratnya keputusan ini.
Saito terkenal dingin dan tidak tersentuh, jadi aku bisa dengan mudah
membayangkan dia memberiku tatapan dingin yang sama jika aku mencoba berbicara
dengannya. Memikirkan hari esok membuatku merasa gentar menghadapi pertemuan
itu.
Keesokan harinya
setelah pulang sekolah, aku menunggu Saito di dekat rak sepatu. Setelah sekolah
usai, lebih sedikit orang yang akan menyadari, mengurangi kemungkinan gosip
yang tidak diinginkan. Setelah beberapa saat, dia muncul.
Rambut hitam
panjangnya berkilau, dan kecantikannya yang mencolok memperjelas bahwa dia
adalah Saito. Aku pernah melihatnya dari kejauhan beberapa kali, tetapi dari
dekat, pesonanya jauh lebih memikat. Penampilannya yang memukau, yang selalu
menarik perhatian ke mana pun dia pergi, tentu membuatnya layak menyandang
gelar gadis tercantik di sekolah.
"Bisa
bicara sebentar?"
Dia bahkan tidak
menoleh dan bersiap untuk melewatinya begitu saja ketika aku memanggil. Matanya
yang lebar dengan kelopak ganda beralih menatapku, dan aku membayangkan bahwa
dia pasti memiliki senyuman memikat yang bisa memesona siapa saja jika dia memilih
untuk meletakkannya di wajahnya.
Namun, didekati
oleh orang asing yang sama sekali tidak dikenal membuat kewaspadaannya terlihat
jelas dari sedikit menyempitnya mata hitamnya itu.
"Ada
apa?"
Nada suaranya
yang dingin dan datar tidak bisa disalahartikan, dengan jelas memberi sinyal
bahwa dia tidak tertarik untuk membiarkan siapa pun mendekat. Aku merasakan
sengatan kecil dari responsnya, tetapi itu bisa dimaklumi.
Adalah hal yang wajar baginya untuk menjaga diri di hadapan wajah yang asing.
Mungkin dia
mengira aku punya maksud terselubung atau sedang menunggu waktu untuk
mengungkapkan perasaan. Kalaupun dia berpikir begitu, itu tidak masalah; aku
hanya ingin mengembalikan buku catatannya. Tetap saja, lebih baik menyelesaikan
urusan ini secepat mungkin.
“Dengar, ini
sepertinya barangmu yang hilang.”
Aku tidak ingin
terlibat lebih jauh, dan aku juga tidak ingin dia berpikir aku punya niat
tersembunyi. Jadi, aku mengatakannya secara blak-blakan lalu menyodorkan buku
saku siswa itu ke tangannya. Saito mengeluarkan suara kecil.
“Eh...”
Matanya yang
bulat membelalak, dan ekspresi bingung terlihat di wajahnya saat dia berkedip
terkejut. Dia tampak membeku di tempat.
“Aku cuma ingin
menyerahkan ini padamu. Sampai jumpa.”
Merasa lega
karena telah menyelesaikan tugas mengembalikannya, aku berbalik menuju pintu
keluar sekolah. Urusanku sudah selesai. Sebelum Saito sempat mengatakan apa
pun, aku memutuskan untuk pergi dengan cepat.
Aku sudah
mengembalikan barangnya yang hilang, jadi kupikir dia tidak akan memprotes
kurangnya kesopananku. Dengan pemikiran itu di kepala, aku berjalan pulang dari
sekolah. Lagipula, aku tidak perlu berurusan dengannya lagi. Kebetulan seperti
ini sangat jarang terjadi, dan aku tidak ingin menarik perhatian orang-orang di
sekitarku. Aku yakin ini akan menjadi terakhir kalinya aku terlibat dengannya.
Begitulah pikirku saat berjalan pulang. Sampai momen itu tiba.


Post a Comment