Kata Penutup
Sudah lama tidak berjumpa.
Saya Gozen no Ryokucha.
Seri Ore Shira
akhirnya mencapai jilid terakhirnya. Berkat kalian semua yang telah membaca
hingga titik ini, aku dapat menyelesaikan penulisan cerita yang ingin
kusampaikan. Kata-kata tidak dapat mengungkapkan rasa terima kasihku. Terima
kasih banyak.
Saat menulis kata penutup
ini, aku sempat berpikir untuk membaca ulang seri ini dari awal. Namun, kembali
membaca sesuatu yang kutulis di masa lalu ternyata menjadi pengalaman yang
sangat menyiksa. Aku terus menutup dan membuka kembali halaman-halamannya
sambil bergumam “Ughhh!”—aku pasti terlihat sangat mencurigakan bagi siapa pun
yang melihatnya. Jika kalian pernah secara tidak sengaja menemukan buku harian
lama kalian, aku yakin kalian akan mengerti perasaan itu.
Jilid pertama dari seri
ini diterbitkan pada bulan Juli 2021, jadi dengan dirilisnya jilid ini, sudah
hampir dua tahun berlalu. Kenyataannya, proses perencanaan untuk penerbitannya
bahkan dimulai lebih awal dari itu, jadi bisa dibilang waktu yang telah berlalu
sudah lebih dari dua tahun. Sejujurnya, rasanya tidak seperti sudah selama
itu—menakutkan sekali betapa cepatnya waktu berlalu.
Cerita ini sebenarnya
bermula dari sesuatu yang kutulis secara impulsif di atas bus larut malam yang
bergoyang, didorong oleh semacam energi tengah malam yang aneh. Kalau
dipikir-pikir kembali, sedikit ada rasa melankolis saat menyadari bahwa sudah
dua tahun berlalu sejak saat itu.
Itu bohong. Aku
setengah tertidur dan hampir tidak mengingat apa pun. Namun, aku ingat dengan
jelas bahwa aku ingin menulis sebuah cerita berdasarkan gagasan tentang dua
orang yang berbagi hubungan misterius, tanpa menyadari identitas asli
masing-masing.
Aku tidak pernah
membayangkan kisah mereka pada akhirnya akan menjadi sepanjang ini.
Mengenai karakter
Saito-san, ia terinspirasi dari seseorang yang kukenal di dunia nyata—terutama
kecintaannya pada kucing. Bagian itu hampir identik. Kenapa para pencinta
kucing selalu begitu penuh gairah? Baru-baru ini saja, mereka berkata dengan
wajah tanpa dosa, "Manusia hanyalah pelayan bagi kucing." Sebagai
seorang pecinta anjing, aku bisa katakan bahwa kami tidak separah itu
fanatiknya. Ini adalah sebuah
misteri—seseorang harus memecahkannya.
Sekarang, izinkan aku
menyampaikan rasa terima kasihku.
Kepada Kazurabo Aoi-sama:
Terima kasih banyak karena selalu menggambar ilustrasi Saito-san yang begitu
menggemaskan! Ilustrasi-ilustrasinya yang kau kirimkan adalah satu-satunya
sumber kebahagiaan dalam hidupku. Bukan sebuah kebohongan jika aku katakan bahwa
kau adalah penyelamatku. Kemampuanmu untuk menghidupkan tulisanku yang kaku
dengan ilustrasi yang sangat pas adalah sebuah berkah yang nyata. Terima kasih
untuk segalanya selama dua tahun ini.
Kepada editor saya,
Kobayashi-sama: Terima kasih atas kesabaran dan bimbingan baik Anda. Berkat Anda, saya
dapat melewati proses penerbitan yang menakutkan ini dengan tenang. Saya tahu
saya sempat membuat masalah, seperti mengulur batas waktu hingga saat-saat
terakhir, tetapi saya sangat senang bisa bekerja dalam proyek ini bersama Anda.
Terima kasih untuk segalanya.
Terakhir, kepada para
pembaca yang telah menemani saya sampai akhir: Sekali lagi, terima kasih
banyak. Fakta bahwa seri ini
bertahan selama ini tidak lain berkat kalian semua. Mendengar suara dan ulasan
kalian selalu menjadi sumber dorongan semangat. Karya ini tidak akan ada tanpa
para pembacanya.
Kepada semua orang yang
terlibat dalam cerita ini dengan cara apa pun, terima kasih dari lubuk hatiku
yang paling dalam.


Post a Comment