Chapter 7
Lengah Meski Sudah Dimintai Saran
Suasana sekolah setelah
akhir pekan usai. Rasa malas di hari Senin memang sulit dihilangkan, tetapi aku
berhasil melewati hari itu, menyeret langkahku di setiap jam pelajaran.
Menjelang jam pulang sekolah, sebagian besar teman sekelasku tampak sama lelahnya
denganku.
Cokelat yang kubeli
kemarin sudah tersimpan aman di dalam tas. Karena hari ini aku berencana
menemui Saito di rumahnya, aku memeriksa ulang untuk memastikan barang itu
tidak ketinggalan. Saat sedang mengeluarkan kotak tersebut dari tas untuk
memastikannya, Kazuki melangkah santai menghampiriku.
"Lho? Bukankah itu
dari toko yang baru buka itu? Tumben sekali, Minato."
"Berisik. Kemarin aku
kebetulan sedang berada di dekat stasiun, jadi sekalian kubeli."
"Aha! Mau kau berikan
pada Saito-san, kan?"
"Bukan urusanmu.
Lagipula, ada apa kau ke sini?"
Wajahnya memasang seringai
puas yang biasa, ekspresi yang selalu membuatku ingin memukulnya. Menahan
dorongan itu, aku menjejalkan buku-buku pelajaranku ke dalam tas dan mulai
merapikan barang-barang.
"Ada apa katamu? Aku
ke sini demi dirimu, Minato. Bersyukurlah."
"Hah?"
"Aku datang untuk
mengingatkanmu agar memastikan apakah Saito-san punya perasaan padamu atau
tidak. Kau sudah lupa ya?"
"...Iya juga, kita
memang sempat membicarakan hal itu, kan?"
Karena dia mengungkitnya,
aku jadi samar-samar teringat pernah menyetujui saran Kazuki. Menghentikan
kegiatanku sejenak, aku melirik ke arahnya.
"Kau mungkin sudah
tahu ini, tapi dia jelas-jelas menyukaimu."
"Kau kedengaran
percaya diri sekali. Punya bukti?"
"Pertama, fakta bahwa
dia sudah begitu terbuka padamu. Saito-san
itu hampir tidak pernah bicara dengan cowok."
"Tapi dia
kelihatannya cukup ramah juga padamu."
"Itu karena kaulah
yang jadi topik pembicaraannya. Kau tidak sadar? Dia cuma memperlihatkan emosi
kalau sedang membicarakan dirimu."
"B-benarkah?"
Kalau dipikir-pikir lagi,
setiap kali Saito dan Kazuki mengobrol seru, biasanya memang aku yang menjadi
bahan pembicaraan. Seperti waktu mereka menertawakan betapa fanatiknya diriku
terhadap buku. Ugh, mengingatnya saja sudah membuatku sedih.
"Serius, Saito-san
jelas menganggapmu sebagai seseorang yang istimewa."
"...Aku tidak
menyangkal hal itu. Tapi hanya karena dia
menganggapku istimewa, bukan berarti dia menyukaiku secara romantis. Bisa saja
dia cuma menganggapku sebagai teman baik."
Bahkan saat
mengucapkannya, aku merasa kalimat itu terdengar hampa. Siapa pun yang berada
di dekat Saito belakangan ini pasti bisa merasakan perasaannya. Bukannya aku
tidak menyadari sikapnya yang semakin proaktif. Namun aku tak bisa menepis
keraguan yang masih tersisa—bagaimana kalau aku hanya salah mengartikan
semuanya?
"Astaga, kau keras
kepala sekali. Ada orang yang sudah terang-terangan menunjukkan perasaannya
padamu, dan kau masih ragu?"
"Memangnya kau bisa
menjamin itu seratus persen pasti?"
"Aku memang tidak
bisa menjaminnya mutlak..."
"Makanya, aku memang
merasa dia mungkin menyukaiku, jadi aku berencana memastikannya dari reaksinya
hari ini."
"Oh? Bagaimana caramu
melakukannya?"
"Aku akan memujinya. Katanya, perempuan
bakal senang kalau dibilang 'manis'. Setidaknya, begitulah yang diberitahukan
padaku kemarin."
"Hah? Apa itu
idenya Hiiragi-san?"
"Bukan, dari yang
satunya lagi. Kemarin aku pergi nonton
bioskop dengannya dan Hiiragi-san."
"A-apa?! Minato,
menjalani kehidupan normie!? Bukannya kau ini rajanya kaum
introver?"
Mata Kazuki membelalak
lebar, rasa terkejutnya begitu berlebihan sampai-sampai terasa menghina.
Memangnya seaneh itu? Belum lagi sindirannya barusan sama sekali tidak perlu.
"Berhenti
menjelek-jelekkanku. Itu cuma terjadi sekali saja. Sejujurnya, bepergian ke
luar itu melelahkan sekali. Kakiku pegal semua, dan aku kapok melakukannya lagi
untuk sementara waktu."
"Staminamu payah
sekali. Kau benar-benar harus lebih banyak olahraga..."
Tatapan ibanya terasa
lebih menyengat daripada yang ingin kuakui. Dia pasti sedang memikirkan julukan
mengejek seperti "Kakek Minato".
"Pokoknya, aku akan
memujinya dan melihat bagaimana reaksinya. Kalau Saito yang dulu, dia pasti
bakal kesal, tapi kurasa hal itu tidak akan terjadi sekarang. Lagipula,
Hiiragi-san sudah memberiku restu."
"Hiiragi-san bilang begitu?"
"Iya. Dia menyemangatiku untuk memujinya,
bahkan bilang kalau dia sendiri akan senang mendengarnya."
"Ahahaha. Yah, kalau dia sendiri yang
bilang begitu, lakukan saja. Hujani saja dia dengan pujian—katakan padanya kalau dia
super manis."
"Hei, tunggu dulu.
Sekali saja sudah cukup!"
Dia mengucapkannya dengan
begitu santai, seolah-olah mengulanginya berkali-kali adalah hal yang lumrah.
Inilah alasan kenapa orang yang luwes di dekat perempuan sangat menyebalkan
bagiku. Buatku, berhasil melakukannya sekali saja sudah membutuhkan perjuangan
luar biasa. Terlebih lagi karena ini ditujukan pada orang yang kusukai. Mana
mungkin aku bisa tetap tenang.
"Kenapa tidak
dikatakan lebih sering saja? Dia pasti bakal menyukainya."
"Aku tidak terbiasa
dengan hal-hal begini, dan aku cuma ingin mengukur reaksinya. Sekali saja sudah
lebih dari cukup."
"Dasar, kau ini
benar-benar keras kepala tanpa harapan."
Kazuki menghela napas
panjang yang dramatis, tetapi aku tidak berniat mengubah keputusanku.
***
Setelah berpisah dengan
Kazuki, aku melangkah menuju rumah Saito. Berdiri di depan pintunya, aku
menarik napas dalam-dalam. Sampai saat ini, aku sudah menekan bel pintunya tak
terhitung kali, tetapi memikirkan apa yang hendak kuucapkan nanti membuat saraf-sarafku
menegang kaku. Jariku melayang di atas tombol, ragu-ragu untuk menekannya.
Aku tidak bisa berdiri
mematung di sini selamanya, jadi akhirnya kupaksa diriku untuk menekannya.
Denting bel elektronik bergema, disusul suara langkah kaki tergesa-gesa yang
mendekat ke arah pintu. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.
"Tanaka-kun, silakan
masuk."
"Terima kasih sudah
mengizinkanku bertamu."
Mengikuti langkah Saito,
aku melangkah ke dalam. Saat memandangi ujung rambutnya yang terayun lembut,
sebuah pikiran mendadak terlintas—kapan waktu yang tepat untuk memujinya?
Penampilan Saito pada dasarnya memang sudah memukau, jadi dia selalu terlihat manis
setiap saat. Apakah itu berarti aku bisa mengatakannya kapan saja?
Bahkan orang sepertiku pun
tahu kalau tiba-tiba melontarkan "Kau manis" tanpa aba-aba
kemungkinan besar bakal jadi bumerang. Dia pasti akan kaget dan merasa bingung.
Harus ada momen yang tepat untuk ini.
Tenggelam dalam pikiran
soal penentuan waktu, aku tersadar bahwa aku sama sekali belum merencanakannya
dengan matang. Aku menyesal tidak meminta saran pada Kazuki tadi. Cowok itu
pasti bisa merangkai kata-kata pujian dengan mudah kapan saja dan di mana saja.
"Aku akan menyeduh
teh dulu, silakan duduk dan tunggu sebentar."
"Terima kasih."
Seperti biasa, aku duduk
di sofa pada tempat yang sudah menjadi jatahku. Tampaknya tehnya sudah
disiapkan sebelumnya, karena tak lama kemudian Saito kembali membawa nampan
berisi cangkir-cangkir teh.
"Ini tehnya."
Aku menerima cangkir
tersebut dan memperhatikannya saat ia duduk di sampingku. Gerakannya membuat
bantalan sofa sedikit amblas, dan tubuhku pun condong sedikit ke arahnya.
"Hati-hati, masih
panas."
"Baiklah."
Aku menyesapnya sedikit,
membiarkan rasa teh yang hangat dan sedikit pahit menyebar di dalam mulutku.
Suhu hangatnya terasa begitu menenangkan, pas di tenggorokan. Rasa hangat itu
sedikit meredakan ketegangan di tubuhku.
Melirik ke samping,
kulihat Saito sedang meniup tehnya perlahan, berusaha mendinginkannya sebelum
menyesapnya. Bibirnya yang sedikit mengerucut terlihat memikat di luar dugaan,
dan tanpa sadar aku menatapnya tanpa berpikir.
"Ada apa?"
"Kau benar-benar nekojita
(tidak tahan panas) ya, Saito."
"...Ini kan panas!
Memangnya ada masalah?"
"Tidak, sama sekali
tidak. Jangan marah begitu."
Dia tampak merasa canggung
soal itu, mengernyitkan alisnya karena sedikit kesal. Sikap keras kepalanya
yang kekanak-kanakan itu terasa sangat menggemaskan di mataku, dan seketika itu
juga sebuah ide melintas.
"...Kau tahu,
menurutku itu manis. Bahkan sifat nekojita-mu itu."
Menekan rasa maluku sekuat
tenaga, aku berhasil mengeluarkan kata-kata itu. Kupikir aku sudah
mengucapkannya dengan cukup alami. Mengamati reaksinya, kulihat matanya sedikit
membelalak kaget sebelum ekspresi wajahnya melunak menjadi senyuman lembut.
"Fufu, terima
kasih."
Ia terkekeh pelan,
senyumannya memancarkan rasa percaya diri yang santai selagi ia menyesap
tehnya.
"..."
Bagaimana aku harus
menafsirkan reaksi ini? Dia memang terlihat senang, dan itu bukan reaksi yang
buruk, tetapi sama sekali bukan respons tersipu malu yang kuharapkan. Namun
karena itu bukan sebuah penolakan, kuputuskan untuk membiarkannya saja.
"Oh, iya. Karena kau
selalu meminjamkanku buku dan memberiku camilan, aku membelikan ini untukmu
sebagai ucapan terima kasih."
Kukeluarkan kotak cokelat
itu dari dalam tasku. Saito menerimanya dengan tatapan penasaran.
"Boleh kubuka
sekarang?"
"Boleh. Katanya
rasanya enak sekali."
Ulasan yang kubaca
semuanya sangat positif, jadi kuharap dia menyukainya.
Dengan hati-hati, ia
membuka bungkus kado itu, memastikan kertasnya tidak sobek. Gerakan jemarinya
yang lentik memperlihatkan ketelitian tersendiri.
Setelah bungkusnya
terlepas, sebuah kotak berwarna cokelat gelap yang elegan dengan tulisan emas
pun terlihat. Ia membukanya dan mengambil salah satu cokelat di dalamnya.
"Rasa apa ini?"
"Mungkin sejenis buah
beri."
Menilai dari bungkusnya
yang berwarna merah muda kemerahan, kukira itu rasa beri. Aku tidak ingat nama
pastinya; namanya berupa istilah katakana rumit yang tidak kupahami—mirip
mantra sihir. Saito membuka bungkus cokelat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Mm!"
Matanya membelalak
gembira. Selagi menikmati cokelat tersebut, ekspresi wajahnya meleleh menjadi
senyuman yang penuh kenikmatan. Matanya sedikit menyipit, bibirnya melengkung
ke atas, memancarkan aura kebahagiaan murni. Sungguh mempesona melihatnya begitu
menikmati makanan itu.
"Wah, ini enak
sekali."
Ia menghela napas pelan,
nada suaranya terdengar begitu lembut hingga membuat jantungku berdegup
kencang. Senyumannya yang rileks dan bertahan lama memperjelas betapa ia sangat
menyukainya. Jika memberinya hadiah ini bisa membuatku melihat ekspresi seperti
itu, maka ini sangat sepadan dengan harganya.
"Syukurlah kalau kau
suka. Melihatmu begitu puas membuat usahaku terasa sangat berharga."
"Apa aku tadi
memasang wajah yang seaneh itu?"
"Sama sekali tidak.
Itu murni ekspresi bahagia, dan terlihat sangat manis. Sejujurnya, Saito,
kurasa senyumanmu adalah hal yang paling kusukai."
"..."
Memanfaatkan kesempatan
ini, aku memujinya sekali lagi. Berbeda dari yang pertama tadi, kali ini aku
tidak terlalu gugup karena yakin dia tidak akan bereaksi negatif. Kazuki
menyemangatiku untuk memujinya sebanyak mungkin, jadi kupikir begini saja tidak
masalah. Aku mengharapkan respons yang serupa seperti tadi—sebuah senyuman atau
ucapan terima kasih yang sopan.
Namun sebaliknya, Saito
mematung sesaat, lalu melontarkan gumaman lirih yang terdengar linglung,
"...Oh." Senyumannya lenyap seketika, dan ia merapatkan bibirnya
kuat-kuat.
"?"
"A-aku akan menyeduh
teh lagi!"
Mendadak bangkit berdiri,
ia bergegas melangkah menuju dapur. Aku hanya bisa memandangnya dengan bingung
saat ia terburu-buru pergi.
Apa yang baru saja
terjadi? Aku kan cuma
mengatakan hal yang mirip seperti tadi. Mungkinkah memujinya ternyata sebuah
kesalahan? Rasa gugup yang kukira sudah hilang kini mulai merayap kembali.
Saat memperhatikannya
dari belakang sembari memikirkan alasan apa yang harus kubuat, aku menyadari
sesuatu—daun telinganya memerah padam.
Kulit Saito yang putih
pucat membuat rona merah di telinganya terlihat sangat mencolok. Sekarang
setelah menyadarinya, aku baru sadar kalau dia sebenarnya belum mulai menyeduh
teh sama sekali. Tangannya yang memegang teko tampak mematung kaku di tempatnya.
(Ah, jadi begitu
rupanya!)
Akhirnya aku paham—dia
merasa sangat malu. Karena itulah dia pergi begitu mendadak. Dia berusaha
menyembunyikan reaksinya dariku. Sial, manis sekali...
"Hei, Saito."
"Hyaa! A-ada
apa?"
Hyaa? Itu sama sekali
bukan gayanya yang biasa. Biasanya selalu begitu tenang, melihatnya kelabakan
seperti ini terasa sangat lucu. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum
jahil. Jadi begini rasanya menjadi Kazuki saat sedang menjahiliku.
"Tehnya masih belum
selesai juga?"
"I-ini sedang
kuseduh! Tolong tunggu sebentar lagi!"
Denting keramik
terdengar berdenting saat tangannya yang tadi mematung akhirnya mulai bergerak
kembali. Setelah menunggu sebentar, ia kembali dengan membawa teh yang baru
diseduh.
"Maaf sudah
membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Terima
kasih sudah repot-repot menyeduh yang baru."
"T-tidak, bukan masalah."
Saito meletakkan teh yang masih mengepul itu ke
atas meja. Saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan, helaian rambutnya terayun,
memperlihatkan sekilas wajahnya. Pipinya masih dihiasi semburat merah muda bunga
sakura—kemungkinan sisa-sisa dari rasa malunya tadi. Kesadaran bahwa Saito
benar-benar salah tingkah kembali menyergapku, membuat jantungku berdegup
kencang.
Selama beberapa detik yang
ia butuhkan untuk meletakkan cangkir teh itu, aku mendapati diriku terpesona
oleh ekspresi malu-malunya yang langka. Terasa sangat segar, bahkan luar biasa
menggemaskan. Berbeda dengan senyumannya yang biasa, rasa malu ini memiliki
pesona tersendiri yang unik. Aku tak tahan untuk tidak berpikir bahwa aku ingin
melihatnya lagi.
Saat berusaha merekam
setiap detail dari ekspresinya yang fana itu ke dalam ingatan, Saito menyadari
tatapanku.
"Ada apa?"
Suaranya terdengar lebih
tajam dari biasanya, dan matanya yang menyipit memancarkan ketajaman yang tak
salah lagi. Ketajaman tatapannya terasa begitu nyata, tetapi semburat merah
tipis di pipinya membuatnya terlihat sangat menggemaskan tanpa bisa dibantah.
"Bukan apa-apa,
kok."
"Untuk ukuran 'bukan
apa-apa', kau tersenyum lebar sekali dari tadi. Bisakah kau mengontrol dirimu
sedikit?"
"Maaf, refleks."
Aku lekas merapikan
ekspresi wajahku, baru menyadari bahwa sedari tadi aku tersenyum sendiri tanpa
sadar. Namun sejujurnya, menuntutku untuk tidak tersenyum setelah melihat
pemandangan semanis itu adalah permintaan yang mustahil.
Saito duduk kembali di
sampingku, meraih bukunya seperti biasa. Meliriknya dari sudut mata, kulihat
ketenangannya sudah kembali, bersamaan dengan sikap anggunnya yang biasa. Rona
merah yang tadi mewarnai pipinya telah lenyap, menyisakan ekspresi tenangnya
yang sudah sangat kukenal.
Saat memandangi wajahnya
yang kini telah tenang kembali, ekspresi tersipu malu yang baru saja kusaksikan
tadi terasa bagaikan fatamorgana yang cepat berlalu. Bulu matanya yang lentik,
matanya yang bening, dan garis hidungnya yang tegas sempurna—semuanya begitu
memukau. Dia sangat cantik, hampir sampai di tahap yang sulit dipercaya. Fakta
bahwa seseorang seperti dirinya bisa memiliki perasaan terhadapku benar-benar
sebuah keajaiban murni.
Reaksinya yang kelabakan
tadi telah memastikannya tanpa ada keraguan sedikit pun. Ini bukan sekadar
imajinasiku saja—Saito benar-benar menyadariku dalam artian romantis. Pemikiran
itu memenuhiku dengan campuran rasa bahagia dan malu, kehangatan yang hampir
terasa terlalu meluap untuk kutanggung sendiri.
Tetap saja, bayangan
wajahnya yang merona malu masih membekas jelas di kepalaku, begitu hidup dan
tak terlupakan. Itu terasa sangat baru, sangat berbeda, dan luar biasa manis.
Aku tak tahan untuk tidak ingin melihatnya sekali lagi. Ekspresi itu kini terpatri
abadi di dalam ingatanku, seperti cap yang tidak akan pernah kulupakan dalam
waktu dekat.
***
Sudut Pandang Ichinose
Saat jam istirahat
sekolah, aku melirik ke arah Minato yang seperti biasa sedang tenggelam dalam
bacaan di mejanya yang berada di dekat jendela. Kalau kau mengajaknya bicara,
kau akan segera tahu kalau dia ini agak bodoh, tetapi dari kejauhan, dia terlihat
persis seperti murid teladan yang berwibawa. Mungkin berkat
kacamatanya—kacamata memang punya kekuatan yang luar biasa.
Aku menghampirinya meski
ia memancarkan aura yang agak sulit didekati. Mendengar suara langkah kakiku,
ia mengangkat kepalanya. Begitu melihat sosokku, ekspresi wajahnya langsung
berubah menjadi tatapan pasrah yang jengkel. Serius, manusia macam apa yang
langsung memasang muka seperti itu begitu melihat orang lain? Seperti biasa,
Minato memang tidak pernah punya sopan santun.
"...Mau apa
lagi?"
"Ingat obrolan kita
tempo hari soal memastikan perasaan Saito-san? Bagaimana hasilnya?"
"Lancar, kurasa. Dia
sepertinya memang punya perasaan padaku."
"Oho, mantap! Terus,
apa Saito-san kelihatan senang?"
"Yah, iya, dia
kelihatan senang. Setidaknya dia tidak tampak terganggu, jadi itu
melegakan."
"Haha, kau ini
terlalu banyak cemas."
Saito-san merasa kesal?
Itu hal yang jelas-jelas mustahil. Minato ini terlalu pesimistis dan kelewat
berhati-hati. Terlebih lagi kali ini, Saito sendiri yang praktis meminta
perlakuan itu—mana mungkin dia tidak suka. Tentu saja, Minato sama sekali tidak
menyadari hal tersebut.
"Jadi, pujian apa
yang persisnya kau katakan padanya?"
"...Aku cuma bilang
kalau dia manis."
"Mendengarmu memuji
seorang cewek rasanya aneh sekali. Sama sekali tidak cocok dengan
kepribadianmu."
"Memangnya kau pikir
aku sudah terbiasa melakukan hal begitu?"
Mengenal sosok Minato, itu
pasti membutuhkan perjuangan sekuat tenaga baginya untuk bisa melakukannya.
Fakta bahwa ia sanggup memujinya saja sudah merupakan keajaiban tersendiri.
Sambil menghela napas, Minato membuka kembali bukunya, rasa lelahnya praktis
memancar dari seluruh tubuhnya.
"Tapi kerja baguslah.
Nah, sekarang setelah kau tahu kalian berdua saling suka, apa kau bakal
menyatakan cinta?"
"Tidak, kurasa dia
belum menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku berencana membuatnya
lebih sadar akan keberadaanku dulu."
"Dia belum
sadar...?"
Mengingat bagaimana Minato
biasanya bersikap, tidak heran jika Saito mengira cowok ini hanya menganggapnya
teman. Namun setelah acara nonton bioskop bersama Hiiragi-san kemarin,
perasaannya praktis sudah terpampang jelas di wajahnya. Mustahil rasanya kalau
Saito belum menyadarinya sampai sekarang.
"Aku selalu
memperlakukannya seperti teman biasa. Mana mungkin dia bisa tahu bagaimana
perasaanku."
"Yah, kalau kau
berpikir begitu, terserahmu sajalah."
"Hei, bagaimana
caranya membuat dia lebih sadar akan keberadaanku?"
"Itu tergantung pada
orangnya masing-masing, sih..."
Tepat saat mengatakannya,
sebuah ide brilian melintas di kepalaku. Oho, ini bakal sangat seru. Aku
sendiri penasaran ingin melihat bagaimana perkembangannya nanti.
"Kau harus minta
saran pada Hiiragi-san. Dia kan orang yang paling kau percayai, benar?"
"Iya, mungkin aku
akan melakukannya."
"Hei, ajak aku ya
waktu kau mengobrol dengannya nanti."
"Hah? Tidak mau. Aku
tidak mau kau mendekati Hiiragi-san. Kau cuma
bakal bikin onar."
Kewaspadaan Minato terlihat begitu gamblang.
Dia benar-benar tidak memercayaiku. Kuharap dia bisa sedikit mengurangi rasa
curiganya—bukannya aku berniat bikin masalah sungguhan. Aku cuma ingin
menikmati pertunjukan ini sedikit saja.
"Ayolah, jangan begitu. Aku kan sudah
sempat mengobrol singkat dengan Hiiragi-san sebelumnya, tapi aku ingin
mengobrol yang lebih layak. Dan sejujurnya, aku penasaran bagaimana caramu
curhat padanya soal hal-hal semacam ini."
"Kenapa hal itu
penting buatmu?"
"Karena tiga kepala
lebih baik daripada dua kepala! Kau bisa dapat lebih banyak ide kalau ada aku.
Dan mari akui saja kenyataannya, kau ini payah sekali dalam urusan
asmara."
"Diamlah. Ya sudah,
aku punya sedikit waktu sebelum kerja paruh waktu, jadi kurasa kita bisa
bertemu waktu itu. Giliranku agak sore hari ini."
"Bagus! Sudah
diputuskan ya. Sekalipun kau berubah pikiran, aku tetap akan ikut, jadi sudah
terlambat untuk mundur sekarang."
"Aku sudah mulai
menyesali keputusan ini..."
Menepuk punggung Minato
dengan penuh semangat, aku menyeringai saat mendengar helaan napas pasrah lolos
dari mulutnya. Melihatnya terkulai lemas seperti itu selalu memberikan hiburan
tanpa batas. Wah, aku sudah tidak sabar melihat dinamika di antara dia dan
Hiiragi-san nanti.
Jam pulang sekolah pun
tiba, dan aku tidak membuang waktu untuk lekas menjemput Minato. Di mejanya, ia
tampak malas-malasan menjejalkan barang-barangnya ke dalam ransel, rasa enggan
memancar begitu kuat darinya.
"Minato, cepatlah! Ayo berangkat."
"Waktu kita masih banyak. Lagipula, aku
mau mampir ke rumah dulu untuk mengambil beberapa barang."
"Begitu ya,
begitu ya. Kau harus menyamar dulu, kan. Sudah lama aku tidak melihatmu dalam
wujud itu, Minato."
Minato yang biasanya
membenci hal-hal merepotkan ternyata masih tetap mempertahankan penyamarannya.
Peluang ada anak sekolah yang mengetahui rahasianya memang kecil, tetapi dia di
luar dugaan sangat berhati-hati dalam urusan ini.
Aku menunggu Minato
selesai membereskan barang-barangnya, lalu kami meninggalkan gedung sekolah
bersama. Sudah cukup lama sejak
terakhir kali aku main ke rumahnya. Kalau dipikir-pikir lagi, Minato tinggal
sendirian. Apakah kondisi rumahnya layak huni?
"Hei, Minato. Kau
menjaga rumahmu tetap bersih, kan? Tempatmu tidak berubah jadi tempat pembuangan sampah,
kan?"
"Tentu saja
tidak. Aku setidaknya masih sanggup membuang sampah pada tempatnya. Lagipula,
aktivitasku di rumah cuma membaca buku atau makan, jadi tidak ada barang yang
berantakan."
"...Mungkin kau harus
mencoba melakukan aktivitas lain sesekali?"
Anak ini mungkin
memang benar-benar sudah tidak tertolong. Seorang anak SMA di masa puncak masa
mudanya, menghabiskan seluruh waktunya di rumah hanya untuk makan dan membaca
buku? Tapi yah, dibandingkan waktu kelas satu dulu, setidaknya sekarang dia
sudah bekerja paruh waktu dan mulai mengejar cinta, jadi kurasa ada sedikit
kemajuan... semoga saja.
Ketika tiba di rumah
Minato, ia langsung melangkah masuk ke dalam. Karena tidak ada hal lain yang
bisa kulakukan, aku duduk di undakan dekat pintu masuk untuk menunggu. Tanpa
adanya pemanas di luar, udaranya terasa sangat membekukan, dan aku menghembuskan
napas panjang, memperhatikannya berubah menjadi kepulan putih di udara dingin.
"Maaf sudah
membuatmu menunggu."
Saat Minato keluar,
transformasinya sudah selesai sempurna. Sikap lesunya yang biasa telah lenyap
tak berbekas, berganti dengan penampilan yang segar dan penuh percaya diri. Ia
memancarkan aura pemuda tampan yang tulus dan memikat—mustahil ada orang yang
bisa menghubungkan sosoknya saat ini dengan sosok Minato yang ada di sekolah.
"...Kau tahu, ini
pada dasarnya adalah tindakan penipuan publik."
"Ini semua demi
buku."
Ia mengucapkannya dengan
wajah datar tanpa dosa, tetapi isi pembelaan dirinya sungguh menyedihkan.
Penampilannya luar memang boleh berubah, tapi bagian dalamnya tetap sama saja.
Aku bahkan sudah tidak sanggup berkomentar lagi.
"Ya sudah, ayo
berangkat. Cepat perkenalkan aku pada Hiiragi-san."
"Sebegitu inginnya
kau bertemu dengannya? Tenang saja; kami berada di giliran kerja yang sama hari
ini, jadi kau bakal segera melihatnya."
Minato menyampirkan tas di
pundaknya, dengan seragam kerja paruh waktu terselip rapi di dalamnya. Aku
bangkit berdiri dan mengikutinya melangkah keluar dari rumah.
Perjalanan kaki dari rumah
Minato menuju kedai memakan waktu sekitar lima belas menit. Di sepanjang jalan,
beberapa orang melayangkan pandangan ke arah kami. Meski sebagian tatapan itu
mungkin tertuju padaku, aku sangat yakin beberapa di antaranya terarah langsung
pada Minato. Dia memang terlihat sangat mencolok dalam penampilannya yang
sekarang. Kalau dia berpakaian seperti ini setiap saat, siapa tahu? Dia mungkin
sudah dikerumuni banyak pengagum rahasia sekarang.
Ketika kami tiba di kedai
yang terletak di jalan samping yang tenang tak jauh dari jalan raya utama,
suasananya persis seperti yang kuingat—rapi dan bergaya, dengan eksterior yang
apik. Minato membimbingku melewati area parkir lalu berhenti di depan pintu
belakang.
"Aku panggil dia
dulu. Tunggu di sini sebentar."
Ia menghilang di balik
pintu, meninggalkanku menunggu sendirian di luar. Aku tak bisa menahan rasa
antusias yang membuncah di dadaku. Aku sangat penasaran ingin melihat bagaimana
reaksi Hiiragi—atau lebih tepatnya, Saito—nanti. Ini pasti bakal sangat menarik.
Memikirkannya saja sudah membuatku menyeringai lebar.
"Hmm? Bukankah itu
Kazuki-kun?"
"Ah, Ibunya
Mai-chan... Sudah lama tidak bertemu."
Sebuah kebetulan yang
menarik bisa berpapasan dengannya di sini, meski aku selalu menduga bakal
bertemu dengannya lagi kalau sering mampir ke area ini. Tetap saja, aku tidak
menyangka bakal bertemu beliau sekarang. Ibunya Mai-chan sama sekali tidak
berubah dalam dua tahun terakhir sejak terakhir kali kulihat.
"Sudah lama sekali.
Ada angin apa ke sini? Ada keperluan?"
"Saya sedang menunggu
Minato memanggil Hiiragi-san. Mau mengobrol sebentar dengannya."
"Oh, begitu rupanya.
Ngomong-ngomong soal Minato, kaulah yang dulu mengenalkannya pada kami, kan?
Terima kasih banyak untuk itu."
"Sama-sama. Asalkan
dia tidak membuat masalah di sini."
"Masalah? Sama sekali
tidak ada. Ibu ingin sekali mengobrol lebih lama, tapi hari ini Ibu ada janji.
Anak perempuanku sepertinya juga ingin mengobrol denganmu. Kapan-kapan mampir
lagi ya?"
"Tentu, kalau ada
kesempatan."
Beliau melambaikan tangan
kecil lalu beranjak menuju mobilnya. Terlepas dari obrolan singkat itu, aku
merasa sedikit cemas membayangkan kemungkinan bakal bertemu langsung dengan
sosok Mai-chan nanti.
Setelah pertemuan tak
terduga barusan, aku kembali menunggu. Tak lama kemudian, pintu berderit
terbuka.
"Dia sudah datang."
"Sudah lama tidak bertemu,
Ichinose-san."
"Benar sekali, sudah
lama. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk keluar."
Hiiragi—atau lebih
tepatnya, Saito—melangkah keluar. Rambutnya diikat ke belakang dengan gaya
kuncir kuda sederhana, dengan poni tebal yang jatuh tepat melewati matanya. Ia
juga mengenakan kacamata dan tampaknya mengubah gaya riasannya, memilih
warna-warna yang lebih gelap. Penampilannya yang sederhana dan bersahaja ini
sangat berbeda dari gaya aslinya yang biasa.
Kontras dengan
transformasi Minato, penyamarannya justru membuatnya terlihat polos dan tidak
mencolok. Seandainya aku belum
mengetahui identitas aslinya, aku pasti tidak akan mengenalinya sama sekali.
"Jadi, ada perlu apa
mencariku?"
"Yah, sebenarnya
bukan aku yang butuh bantuan—tapi Minato."
"Tanaka-san?"
"Minato datang padaku
untuk minta saran, tapi kupikir bakal lebih membantu kalau meminta masukanmu
juga. Kau tidak keberatan membantu mengatasi dilema kecilnya ini, kan?"
"Dilema soal
apa?"
"Tentu saja soal
perasaan Minato kepada gebetannya."
Saat aku mengatakannya
sambil menyeringai, Saito tersentak kaget. Oho, dia salah tingkah. Dia
jelas-jelas sangat salah tingkah.
Aku sudah tahu betul dari
ocehan Minato betapa cowok itu sangat memujanya, dan sangat jelas terlihat
bahwa Saito sempat tersipu karenanya. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan
emas ini—aku harus menyaksikan lebih banyak lagi.
"Kau kan selama ini
selalu memberinya saran, benar?"
"I-iya, itu
benar."
"Kalau begitu tolong
bantu kami untuk urusan yang satu ini juga."
"B-baiklah..."
Kulihat jakunnya bergerak
saat ia menelan ludah dengan gugup. Dia pasti sedang tegang setengah mati,
bertanya-tanya hal gila apa lagi yang bakal diucapkan Minato selanjutnya.
"Oh, ngomong-ngomong,
kudengar kau menyemangati Minato untuk memuji gebetannya?"
"Oh, benar juga! Hari
Minggu kemarin waktu kami pergi jalan-jalan, Hiiragi-san bilang padaku, 'Kau
harus mengatakan padanya kalau dia manis.'"
"Begitukah?"
Aku harus menahan diri
sekuat tenaga agar tidak menyemburkan tawa. Mengetahui identitas aslinya,
sungguh langkah yang sangat berani memberikan saran seperti itu pada orang yang
menyukainya. Saito ini diam-diam ternyata punya bakat jadi perencana yang licik.
Saat mata kami bertemu, pipinya seketika merona merah muda tipis, dan ia
buru-buru memalingkan pandangannya.
"Wah, acara
jalan-jalan kemarin kedengarannya seru. Kalian ngapain saja?"
"Biasa saja. Kami
nonton bioskop, beli oleh-oleh, lalu mengakhiri hari di kafe. Cuma itu saja,
kan, Hiiragi-san?"
"I-iya, tepat sekali!
Cuma itu yang kami lakukan. Cuma tiga teman yang menikmati hari libur
bersama."
Aku tidak percaya kalau
tidak terjadi apa-apa sama sekali. Menilai dari gelagat Hiiragi-san yang
gelisah, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Kalau tidak, mana
mungkin dia bersikap sekelabakan ini.
"Jadi, apa kalian
sempat membicarakan sesuatu yang mendalam atau semacamnya?"
"Tidak, tidak
juga. Tapi..."
"Tapi?"
Minato tampak
mengingat sesuatu, dan instingku berteriak bahwa ini adalah jackpot besar.
"Yah, aku mungkin
agak terlalu berlebihan memuji gebetanku kemarin. Agak memalukan kalau diingat-ingat."
"Kau benar-benar
melakukan hal itu?"
Wah, luar biasa sekali.
Hiiragi-san pasti dibuat kewalahan setengah mati mendengarnya langsung. Pantas
saja dia bersikap sangat salah tingkah begini. Membayangkan reaksinya saja
sudah membuatku kegirangan saking antusiasnya.
"Itu terjadi waktu
kami sedang membicarakan tempat kencan yang ingin dikunjungi."
"Hiiragi-san, apa itu
benar? Apa Minato menumpahkan segudang pujian tentang gebetannya tepat di
hadapanmu?"
"I-iya. Tanaka-san
memang selalu seperti itu... selalu merepotkan."
Kalau dia memang
benar-benar merasa terganggu, setidaknya dia bisa berpura-pura terlihat lebih
jengkel. Namun ekspresi yang terpasang di wajah Hiiragi-san sama sekali bukan
rasa kesal—melainkan sebuah kebahagiaan samar yang tertahan. Tak ada keraguan
sedikit pun di benakku bahwa ia sangat menikmati mendengarnya. Dan sejujurnya,
siapa yang tidak akan merasa bahagia mendengar kata-kata tulus dari orang yang
disukai?
"Paham, paham. Jadi
hal semacam itu sempat terjadi ya. Nah, kembali ke poin utama—waktu kau
memujinya kemarin, kau sadar kalau dia mulai memperhatikannmu, kan?"
Saat kutanyakan hal itu,
Minato mengangguk lalu melirik ke arah Hiiragi-san.
"Hiiragi-san,
sepertinya dia memang mulai memperhatikanku, persis seperti yang kau
bilang."
Telinga Hiiragi-san
berkedut sedikit mendengar kata-katanya.
"B-bagaimana kau bisa
begitu yakin?"
"Aku melakukan apa
yang kau sarankan waktu di bioskop kemarin—aku memujinya."
"Lalu?"
"Yah, yang pertama
kali, reaksinya... uh, aneh."
"Aneh? Apa maksudmu
dengan aneh? Apa reaksinya buruk?"
"T-tidak, tidak
seburuk itu..."
Minato refleks mundur
selangkah saat Hiiragi-san mencondongkan badannya lebih dekat, jelas sangat
penasaran. Whoa, Hiiragi-san, jangan terlalu kentara begitu. Kupikir dia
tidak mungkin sengaja memberi reaksi buruk, tapi tampaknya sempat terjadi
semacam kesalahpahaman.
"Dia memang
kelihatan senang, tapi dia juga tampak begitu tenang. Rasanya sama sekali tidak
membuatnya jadi salah tingkah."
"Begitu ya."
"Tapi lalu aku
ingat apa yang dikatakan Hiiragi-san—kalau perempuan bakal senang kalau
dibilang suka senyumannya. Jadi kucoba mengatakan itu... dan kali ini, dia
benar-benar salah tingkah."
"K-kau
menyadarinya!?"
Mata Hiiragi-san
membelalak kaget.
"Tentu saja aku
menyadarinya."
"Padahal kau biasanya
sangat tidak peka? Apa benar-benar sekelihatan itu kalau dia sedang salah
tingkah?"
Hiiragi-san tampak
benar-benar terperangah. Sejujurnya, ketidakpekaan Minato selama ini sudah
menjadi rahasia umum, jadi memang mengejutkan dia bisa menyadari perubahan
suasana hati gadis itu. Mungkinkah dia sudah sedikit berkembang?
"Awalnya aku
tidak menyadarinya, tapi lalu kulihat daun telinganya memerah padam, dan dari
situlah aku tahu."
"D-daun
telinga..."
Hiiragi-san tanpa
sadar meraba telinganya sendiri, menjepitnya pelan seolah sedang memastikan
kebenarannya.
"Dan setelah itu,
seluruh wajahnya juga ikut memerah. Sejujurnya, itu sangat manis."
"M-manis? Kau bilang
ekspresi panik dan salah tingkah itu manis?"
"Justru hal itulah
yang membuatnya manis. Dia kan biasanya selalu tenang dan anggun, jadi
melihatnya kehilangan ketenangannya... yah, itu membuatku ingin melihatnya
lagi."
"B-begitu ya."
Hiiragi-san melepaskan
daun telinganya lalu merapatkan bibirnya rapat-rapat, menundukkan pandangan ke
arah tanah. Dari sudut posisi Minato, dia mungkin tidak bisa melihat wajah
gadis itu, tapi aku punya sudut pandang yang sempurna. Pipinya bersemu merah muda
tipis, dan bibirnya berkedut-kedut menahan senyum. Tak diragukan lagi—dia
merasa luar biasa bahagia. Minato yang tidak peka seperti biasa terus
melanjutkan ocehan pujiannya. Sejujurnya, mereka berdua bisa langsung pacaran
saja tanpa perlu melibatkanku.
"Dan kurasa reaksinya
waktu bersikap ketus untuk menutupi rasa malunya itu juga sangat manis."
"Kau menganggap
hal itu manis? Tanaka-san, apa kau ini
seorang masokis?"
"Bukan, bukan begitu
maksudku. Tapi caranya yang begitu kentara berusaha menyembunyikan rasa malu
itu sangat... memikat. Apa itu yang biasa disebut orang sebagai tsundere?"
Aku tidak pernah menyangka
bakal mendengar Minato menggunakan kata tsundere, tetapi dia tidak
salah—Saito-san memang sangat cocok dengan arketipe tersebut. Tentu saja,
Hiiragi-san tampak kurang senang dengan label itu. Bibirnya mengerucut
cemberut.
"Tsundere,
ya..."
"Yah, kalau ada
orang yang jelas-jelas wajahnya memerah tapi berusaha bersikap sok tangguh, apa
lagi sebutannya kalau bukan itu?"
"...Kurasa itu
memang terdengar seperti tsundere."
Meski tampak enggan,
Hiiragi-san akhirnya mengangguk setuju. Dia berhasil diyakinkan. Tapi kalau
dipikir-pikir lagi, apa seseorang masih bisa disebut tsundere kalau dia
sendiri mengakui dirinya tsundere?
"Pokoknya, aku
ingin melihatnya salah tingkah seperti itu lagi, jadi kuputuskan untuk berusaha
bersikap lebih proaktif. Tapi aku tidak tahu hal apa saja yang bisa membuatnya
senang. Biasanya perempuan suka
perlakuan seperti apa?"
"E-eh!?
I-itu..."
Saat Minato
mendeklarasikan rencananya, suara Hiiragi-san tercekat saat merespons. Gawat,
Minato, jangan lakukan ini. Bertanya langsung tentang apa yang disukainya tepat
di depan orangnya? Itu sudah terlalu berlebihan. Kau bakal membuatnya meledak.
Hiiragi-san berusaha
mati-matian mempertahankan ketenangannya, tetapi wajahnya sudah merah padam
sempurna. Tentu saja dia merasa malu setengah mati—membongkar keinginan
pribadinya secara terang-terangan seperti ini praktis sama saja dengan
pengakuan cinta di depan umum. Sementara itu Minato yang buta akan gejolak
batin gadis itu menolak untuk mundur. Dia bahkan sedikit menundukkan kepalanya
dengan sungguh-sungguh.
"Tolonglah, saran
kecil saja pasti bakal sangat membantu."
Tampaknya Hiiragi-san
sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Matanya bergerak gelisah ke
kiri dan ke kanan, bahunya menciut selagi ia perlahan menurunkan pandangannya.
Akhirnya, dengan suara yang begitu lirih hingga nyaris tak terdengar, ia membiarkan
keinginannya meluncur keluar.
"K-kalau begitu, satu
hal saja... Mungkin kalau kau... menggandeng tangannya, dia akan merasa
senang."
Dia pasti sudah bergulat
hebat dengan batinnya untuk mengatakan itu. Rasa malu karena membocorkan
keinginan terdalamnya terpampang jelas di seluruh wajahnya. Namun di saat yang
sama, ada sepercik harapan tipis—bahwa sarannya itu mungkin benar-benar akan diwujudkan
oleh Minato. Pergulatan batin antara rasa malu dan harapan terlihat begitu
gamblang di matanya.
"Menggandeng
tangannya, ya? Paham! Aku pasti akan mencobanya! Kau bisa menantikan laporanku
nanti!"
"I-iya."
Kenapa kau begitu
bersemangat mendeklarasikannya, Minato? Mengumumkannya langsung di depan orang
yang bersangkutan? Serius, apa kau ini bodoh? Pipi Hiiragi-san berubah menjadi
warna merah muda yang jauh lebih pekat saat mendengarkan proklamasi percaya dirinya
itu.
Sejujurnya, mereka berdua
ini sebaiknya lekas hidup bahagia di dunia mereka sendiri saja. Aku angkat
tangan.
***
Sudut Pandang Tanaka
Sehari setelah
berkonsultasi dengan Hiiragi-san di tempat kerja paruh waktu, aku menunggu
dengan gugup di dekat loker sepatu setelah jam sekolah usai. Aku sudah
membulatkan tekad untuk bersikap lebih proaktif, tetapi karena belum terbiasa,
aku tak bisa mengendalikan rasa gugupku. Jantungku berdegup kencang di dalam
dada, hampir terasa tak tertahankan. Aku tidak menyangka bakal setegang ini.
Bisakah aku
benar-benar menggandeng tangannya nanti? Pemikiran itu menghadirkan sedikit rasa cemas. Selagi
berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam, sosok Saito pun
muncul.
"Hai."
"Eh,
Tanaka-kun!?"
Saito mematung, matanya
yang bulat dan lebar dipenuhi rasa terkejut. Berbeda dari pertemuan pertama
kami dulu, kali ini ia tidak tampak waspada sama sekali. Itu menyadarkanku
betapa hubungan kami telah berkembang jauh lebih dekat.
"Mau pulang
bareng?"
"Boleh saja,
tapi..."
"Ayo lekas jalan.
Gawat kalau ada yang melihat kita di sini."
Berdiri mengobrol sebentar
memang tidak apa-apa, tetapi berdiam terlalu lama bisa membuat murid lain
memergoki kami.
"Kau benar
juga..."
Saat kukatakan itu, ia
sempat ragu sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Ia memutar tumitnya dan
melangkah keluar dari area loker sepatu.
"Jadi, ada angin apa
ini? Tiba-tiba mengajakku
pulang bersama..."
Ia berbicara saat kami
melewati gerbang sekolah. Semburat merah tipis mewarnai pipinya. Mungkin dia juga
sadar bahwa saat ini hanya ada kami berdua yang berjalan pulang bersama.
"Oh, um... Tadi aku
membaca buku ini, dan ceritanya sangat bagus sampai-sampai aku ingin segera
membagikan pendapatku."
"...Serius? Kau
bahkan tidak bisa menunggu sampai tiba di rumah?"
Saito sedikit
membelalakkan matanya tetapi kemudian melunakkan ekspresinya dengan tawa kecil,
seolah merasa pasrah.
Kami berjalan
beriringan, mengobrolkan hal-hal santai yang tidak penting. Akhir-akhir ini,
kami biasanya langsung menuju rumahnya atau sengaja pulang di waktu yang
berbeda, jadi momen jalan bersama seperti ini terasa sangat menyegarkan.
Bahkan obrolan remeh
dengannya pun terasa sangat menyenangkan. Untuk sesaat, aku sempat berpikir
apakah sebaiknya kami menikmati jalan pulang ini apa adanya saja. Tapi tidak,
aku mengajaknya pulang bersama memang secara khusus berniat untuk menggandeng tangannya.
Kutepis keraguan itu dan fokus mencari momen yang tepat sembari menikmati
kebahagiaan mengobrol dengan orang yang kusukai.
Aku mencuri pandang ke
arah tangan kanannya yang terayun ringan di setiap langkahnya. Jari-jemarinya
yang ramping dan putih mulus tampak begitu rapuh hingga terasa bisa patah jika
kugenggam terlalu erat.
Hiiragi-san sudah
menyarankan langkah ini, dan itulah alasanku mengajaknya pulang bersama. Namun
sekarang setelah momennya tiba di depan mata, aku tak sanggup menggerakkan
tanganku. Berkali-kali aku mengulurkan tangan hanya untuk menariknya kembali
sebelum sempat menyentuh kulitnya.
Menyedihkan sekali.
Aku menghela napas
meratapi kepengecutanku sendiri. Kalau ada waktu yang tepat untuk bersikap
berani, momennya adalah sekarang. Kutarik napas dalam-dalam dan membulatkan
tekad untuk melakukannya. Menekan rasa gugup sekuat tenaga, aku kembali
mengulurkan tanganku.
"...!?"
Ujung jariku menyentuh
permukaan kulit tangannya yang lembut. Pada detik itu juga, Saito tersentak dan
menarik tangannya secepat kilat.
"M-maaf!"
"Tidak, tidak
apa-apa..."
Aku buru-buru meminta
maaf, tetapi Saito hanya menanggapi singkat sebelum akhirnya bungkam seribu
bahasa. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresinya dariku.
Dia pasti sadar aku
berniat menggandeng tangannya. Fakta bahwa ia menarik tangannya kemungkinan
besar berarti ini masih terlalu dini. Dari dulu aku sudah tahu dia tidak nyaman
bersentuhan fisik dengan lawan jenis. Sekalipun dia sudah mulai membuka diri padaku,
jelas sekali tindakanku tadi terlalu terburu-buru.
Ketegangan yang
canggung terasa begitu menyesakkan. Demi tidak membuatnya makin merasa tidak
nyaman, aku mengambil jarak setengah langkah menjauh darinya.
Aku benar-benar
mengacaukannya. Karena terlalu tidak sabar, aku mencoba menggandeng tangannya
tanpa memikirkan situasinya baik-baik. Seharusnya aku meluangkan waktu lebih
banyak untuk membangun rasa percaya sebelum mencoba hal semacam itu. Penyesalan
pahit membuncah di dalam dadaku. Lirikan dari sudut mataku memperlihatkan ia
sedang mendekap tangan yang tadi kusentuh dengan tangan satunya lagi, wajahnya
masih tetap berpaling dariku.
Aku tahu harus mengatakan
sesuatu, tetapi tak ada satu kata pun yang terlintas di kepalaku. Pada
akhirnya, kami berjalan dalam keheningan total hingga tiba di depan rumahnya.
"Maaf... aku baru
ingat ada urusan mendadak. Hari ini aku cuma meminjam bukunya saja ya."
Merasa terlalu canggung
untuk berlama-lama di sana, aku melontarkan kebohongan itu begitu saja.
"Begitu ya...
kalau begitu, ini bukunya."
"Terima kasih. Sampai
jumpa besok."
"Iya... sampai
besok."
Raut wajahnya berubah
sendu saat ia sedikit menurunkan alisnya, tetapi aku tidak sanggup menatapnya
lebih lama. Aku meninggalkan rumahnya seolah sedang melarikan diri. Aku harus
berkonsultasi lagi dengan Hiiragi-san untuk mencari tahu apa yang harus kulakukan
selanjutnya. Dengan pikiran itu di kepala, aku bergegas pulang.
***
"Haaah..."
Selagi mengelap meja di
tempat kerja, helaan napas panjang lolos dari mulutku tanpa kusadari.
Kejadian tadi sore
terus berputar ulang di kepalaku. Momen saat tanganku menyentuh tangannya,
refleks caranya menarik diri seketika. Bayangan itu terus melintas
berulang-kali.
Kenapa tadi aku begitu
bernafsu ingin menggandeng tangannya?
Hiiragi-san memang
memberi saran, tentu saja, tetapi jika dipikir-pikir lagi, langkah itu jelas
terlalu cepat. Seharusnya aku meluangkan waktu lebih banyak untuk memupuk
kepercayaan sebelum mencoba hal semacam itu. Tidak ada alasan untuk terburu-buru. Semakin kupikirkan,
rasa sesalku kian mendalam.
Terus meratapi nasib dalam
pikiran sendiri tidak akan menyelesaikan masalah. Kuputuskan bahwa jalan
terbaik adalah meminta saran lagi pada Hiiragi-san. Aku menunggu dengan cemas
hingga giliran kerjaku berakhir, tak sabar ingin lekas berbicara dengannya.
"Hiiragi-san, bisa
bicara sebentar setelah kerjaan selesai?"
"...Bisa."
Suaranya terdengar
tidak bersemangat seperti biasanya. Nada bicaranya yang tertunduk terasa
ganjil, tetapi aku fokus menyelesaikan tugas-tugas penutupan kedai dulu. Begitu
pekerjaan beres, aku mulai menceritakan dilemaku seperti biasa.
"Tadi sore, aku
mencoba menggandeng tangannya waktu kami jalan pulang bareng. Tapi begitu
tanganku menyentuh tangannya, dia langsung menarik diri. Apa ini artinya dia
membenciku?"
"Tidak, bukan
begitu!"
"...Eh?"
Saat kujelaskan
kejadiannya, Hiiragi-san merespons dengan nada suara yang tak biasanya tegas
dan bertenaga. Suaranya terdengar tegang dan dipenuhi desakan saat
menyangkalnya, membuatku terperangah hingga mengeluarkan suara kaget yang aneh.
Menyadari rasa
bingungku, ia berdeham pelan untuk menguasai kembali ketenangannya.
"Oh, um... maaf
tadi aku terbawa emosi. Menurutku bukan seperti itu masalahnya."
"Benarkah?"
"Iya. Bagi seorang
perempuan, disentuh oleh orang yang disukai bisa membuat jantungnya berdegup
luar biasa kencang. Dan bergandengan tangan... sekalipun dia sudah tahu hal itu
bakal terjadi, itu tetap saja membuat jantungnya berdebar hebat dan merasa
sangat malu."
Hiiragi-san berbicara
dengan semburat merah di pipinya, memancarkan pesona yang unik. Ekspresi
lembutnya saat membeberkan isi pikirannya terlihat begitu memikat. Tentu saja
aku paham bahwa pasti memalukan baginya menceritakan perasaan seorang gadis
kepada laki-laki, tetapi melihatnya salah tingkah justru membuatku ikut merasa
malu. Kejujuran emosinya membuat jantungku berdesir pelan.
"B-begitu
rupanya..."
"Saat orang yang
disukai menyentuh mereka, itu adalah hal yang sangat mereka sadari. Karena
itulah sentuhan yang mendadak atau tak terduga bisa membuat mereka kaget
setengah mati. Bukannya mereka tidak suka—hanya saja itu membuat jantung mereka
berdegup terlalu kencang."
Pipinya tetap
mempertahankan rona merah saat ia dengan malu-malu menundukkan pandangannya,
sesekali mencuri pandang ke arahku dengan tatapan mendongak. Tangan kanannya
menggenggam erat tangan kirinya selagi ia menggumamkan kata-katanya dengan
lembut.
"A-aku paham
sekarang. Tadi aku memang mencoba menggandeng tangannya secara mendadak. Jadi karena itu
alasannya..."
Penjelasan Hiiragi-san
sangat masuk akal dan meyakinkan. Merasa gugup bukan cuma monopoli kaum
perempuan—hal yang sama berlaku juga untuk laki-laki. Membayangkan menggandeng
tangannya saja sudah membuatku secemas itu. Kalau aku benar-benar menggenggam
tangannya, aku mungkin bakal kehilangan seluruh ketenanganku. Bukan cuma aku;
dia pasti merasakan hal yang sama.
Hiiragi-san melipat
tangannya di dada sembari berpikir keras sebelum akhirnya memberikan saran baru
dengan ragu-ragu.
"...Lain kali,
bagaimana kalau kau minta izin padanya dulu? Kalau kau bertanya dulu, kurasa
dia pasti akan mengizinkannya."
"Tapi... kalau dia
memang benar-benar tidak suka disentuh, bukankah bertanya begitu malah bakal
membuatnya makin membenciku?"
Sarannya memang masuk
akal, tetapi masih ada kemungkinan dia memang enggan bersentuhan fisik.
Bagaimanapun juga, selama ini dia selalu merasa tidak nyaman berada di dekat
lawan jenis. Sekalipun dia memiliki perasaan padaku, bukan berarti dia
serta-merta nyaman dengan kontak fisik.
Jika situasinya memang
seperti itu, bertanya secara terang-terangan justru bisa jadi bumerang.
Memikirkan kemungkinan itu membuatku ragu-ragu.
"Kurasa tidak
begitu... Justru karena itulah kau harus bertanya padanya. Mau dipikirkan
sekeras apa pun, kau tidak akan pernah tahu apa isi kepala orang lain kalau
tidak bertanya. Dengan bertanya, kau bisa memastikan perasaannya dengan
pasti."
"Yah... iya, itu
benar juga."
Mau sebanyak apa pun aku
menimbangnya di dalam kepala, pikiranku hanyalah sekadar spekulasi sepihak. Aku
tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya kecuali jika
menanyakannya langsung.
Terus mencemaskannya tidak
akan menyelesaikan rasa bimbangku. Sekalipun dia menolak untuk bergandengan
tangan, bukan berarti hubungan kami akan berakhir saat itu juga. Mungkin ini
saatnya untuk bertanya secara jujur.
"Lagipula,"
tambah Hiiragi-san dengan ekspresi yang tak biasa sangat serius, "aku bisa
menjamin kalau dia sama sekali tidak membencimu. Jadi, pastikan untuk bertanya
padanya. Kau harus bertanya, paham? Janji padaku ya."
"B-baiklah."
Tatapannya yang tulus dan
penuh tekad tak bisa diragukan lagi. Dia tampak luar biasa bernafsu memastikan
aku benar-benar melakukannya. Dihadapkan pada intensitas sebesar itu, aku tidak
punya pilihan selain mengangguk patuh.
***
(Sial, kapan waktu
yang tepat untuk mengajaknya bergandengan tangan...?)
Tiga hari telah
berlalu sejak Hiiragi-san memberiku saran itu, tetapi aku masih belum bisa
menemukan momen yang pas untuk menggandeng tangannya.
Setelah gagal sekali
tempo hari, tiba-tiba bertanya tanpa aba-aba, "Hei, mau pegangan
tangan?" pasti bakal terdengar sangat mendadak. Orang sepertiku pun pasti bakal gelagapan kalau tiba-tiba
diajak seperti itu, jadi Saito pasti akan merasakan hal yang sama.
Aku membutuhkan semacam
alasan atau dalih. Kalau ada alasannya,
mengajak bergandengan tangan tidak akan terkesan aneh. Namun peluang senyaman
itu tidak datang begitu saja. Kalau semudah itu, aku tidak akan pusing setengah
mati begini. Kenyataannya, tiga hari berlalu begitu saja tanpa aku berhasil
menemukan momen yang tepat.
"Haaah..."
Aku menghela napas
frustrasi, buntu memikirkan solusinya. Tepat saat aku hampir menyerah, sebuah
pengumuman terdengar dari pengeras suara sekolah.
"Tadi malam, sekitar
pukul 22.00, terlihat sosok orang mencurigakan di area sekitar. Diharapkan
seluruh murid berhati-hati dalam perjalanan pulang."
...Ini dia kesempatannya!
Alasan ini mungkin agak
dipaksakan, tetapi aku tidak boleh membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu
saja. Siapa yang tahu kapan aku bakal mendapatkan celah seperti ini lagi?
Memanfaatkan momen tersebut, aku segera mengirim pesan pada Saito.
'Hei, mau pulang bareng
hari ini?'
'Boleh. Kita kumpul di
dekat loker sepatu sekitar tiga puluh menit setelah kelas selesai ya, biar
tidak terlalu mencolok.'
'Siap.'
Aku sempat agak khawatir
dia bakal menolak, tetapi ternyata ia langsung setuju tanpa ragu. Merasa lega,
rasanya aku baru saja melewati rintangan pertama. Kali ini, aku bertekad bulat
untuk menggandeng tangannya. Dengan semangat baru yang membara, aku menanti jam
pulang sekolah dengan penuh harap.
Sepulang sekolah, tepat
sesuai jadwal, sosoknya pun muncul.
"Hai, maaf ya
mengajak mendadak."
"Tidak apa-apa.
Ini kan cuma masalah pulang sedikit lebih awal atau lebih lambat saja,
kan?"
Mungkin mengajak di
hari yang sama memang agak terlalu tiba-tiba, tapi dia tampaknya tidak
keberatan. Ekspresi wajahnya terlihat sama seperti biasa—tenang dan
anggun—tetapi nada bicaranya menyiratkan sekelumit rasa antusias, seolah ia
merasa senang.
Persis seperti
sebelumnya, kami mulai berjalan sembari mengobrolkan topik-topik santai.
Membaca buku bersama dan mendiskusikannya memang menyenangkan, tetapi berjalan
pulang santai seperti ini sambil membicarakan hal-hal remeh ternyata sama
nikmatnya.
Dulu aku selalu
berjalan pulang dalam keheningan total, jadi suasana baru ini terasa sangat
menyenangkan. Kemungkinan besar karena saat ini aku sedang berjalan bersama
orang yang kusukai.
Sekali lagi
pandanganku melayang ke arah tangannya yang seputih porselen. Aku tidak boleh
gagal kali ini. Aku sudah punya alasan untuk mengungkitnya, jadi ini tidak akan
terlihat aneh... semoga saja. Mengumpulkan segenap keberanian, aku mulai
berbicara.
"Hei,
Saito."
"...Iya? Ada
apa?"
Setelah jeda sejenak, ia
menolehkan pandangannya lurus menatapku.
"Yah... kalau kau
tidak keberatan, maukah kau bergandengan tangan denganku? Kau tahu kan, tadi
ada pengumuman soal orang mencurigakan, jadi untuk jaga-jaga saja."
Memangnya apa maksudnya
"untuk jaga-jaga"? Serius deh. Alasanku barusan begitu konyol
sampai-sampai aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati. Kalau bergandengan
tangan bisa mengusir orang jahat yang mencurigakan, semua anak SD di seluruh
negeri pasti bakal jalan-jalan sambil pegangan tangan. Rasa gugupku telah
menguasai akal sehatku, dan sekarang aku malah melontarkan alasan yang aneh
bukan main. Rasanya aku ingin menarik kembali kata-kata itu saat ini juga.
Mencuri pandang ke arah
Saito, kulihat kedua pipinya merona merah tipis, dan matanya berbinar penuh
rasa gembira.
"Aku tidak
keberatan. Aku mau sekali bergandengan tangan."
"O-oh, begitu
ya."
Bahkan orang sepertiku
pun bisa tahu dari binar bahagianya yang tulus bahwa ia bersungguh-sungguh, dan
perpaduan antara rasa senang dan malu membuat punggungku merinding geli.
Berusaha menahan senyuman yang hendak merekah di wajah, aku mengulurkan tanganku.
Saito perlahan meletakkan telapak tangannya di atas tanganku, lalu mendongak
menatapku dengan senyuman puas yang terlihat hampir seperti sedang menggodaku.
Merasa dia ingin
mengatakan sesuatu, aku bertanya secara blak-blakan, "Ada apa?"
"Tanaka-kun, kau
sebenarnya sangat ingin bergandengan tangan kan dari tadi? Kalau kau bilang
saja dari awal, aku dengan senang hati mau bergandengan tangan denganmu kapan
saja."
Ia terkekeh pelan,
ekspresi menggoda di wajahnya terasa begitu ceria dan santai. Sangat kontras
dengan sikap dinginnya yang biasa. Caranya menatapku sekarang—terlihat begitu
muda, sedikit jahil, dan diwarnai sedikit pesona memikat—benar-benar luar biasa
memesona.
Dadaku berdegup kencang,
dan wajahku terasa memanas seketika. Menyadari hal itu, Saito mendengus bangga
melontarkan suara "fufun" kecil lalu tersenyum penuh arti.
Ah, wajahku serasa
terbakar.
Meskipun sempat digoda
olehnya, aku berhasil menggandeng tangannya. Untuk saat ini, aku menghela napas
lega dalam diam, bersyukur segalanya berjalan lancar. Namun rasa lega itu tidak
bertahan lama. Begitu satu keinginan terpenuhi, tampaknya keinginan lain
langsung muncul seketika.
Aku ingin menggenggam
tangannya seperti sepasang kekasih.
Pikiran itu tiba-tiba
melintas di benakku. Kalau dipikir-pikir lagi, kami sebenarnya sudah pernah
saling menggenggam tangan waktu liburan musim dingin kemarin, meski waktu itu
terjadi tanpa sadar. Tindakanku saat ini sebenarnya hanya membawaku kembali ke
titik yang sama. Kalau ingin menganggap ini sebagai sebuah kemajuan, aku harus
melangkah satu tingkat lebih jauh.
Dia sedang memegang
tanganku sekarang, jadi kurasa dia tidak akan membenciku karenanya. Yang
kubutuhkan sekarang hanyalah sedikit keberanian ekstra. Menarik napas tajam,
kuselipkan jari-jemariku di sela-sela jarinya, menautkan tangan kami berdua.
"A-apa—tunggu,
Tanaka-kun!?"
Tepat saat kurasakan
jari-jemarinya yang sedikit lebih dingin bertaut di antara jemariku, ia
melontarkan suara pekikan kaget bernada tinggi. Sepasang matanya yang bulat
membelalak menatapku tak percaya, wajahnya seketika memerah padam.
"...Apa ini tidak
boleh?"
Mungkin tindakanku barusan
terlalu agresif. Aku bertanya dengan ragu-ragu, khawatir telah melewati batas,
tetapi ia menggelengkan kepalanya pelan, semburat merah di wajahnya makin pekat
saat ia menjawab.
"T-tidak, aku
sebenarnya... jauh lebih suka genggaman yang seperti ini."
"...Oh."
Perlahan ia mempererat
genggamannya pada tanganku, jemarinya meremas jemariku sedikit lebih mantap.
Merasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya, aku kembali
melangkah maju, tangan kami bertaut erat tanpa terpisahkan.
***
Sudut Pandang Saito
A-apa yang harus kulakukan
sekarang!?
Aku memang sudah
mempersiapkan diri untuk bergandengan tangan, tetapi aku sama sekali tidak
menyangka Tanaka-kun bakal menautkan jemari kami seperti sepasang kekasih yang
sedang berpacaran. Tidak ada yang memberitahuku hal seperti ini bakal terjadi.
Bahkan Hiiragi-san pun tidak menyinggung hal semacam ini saat di tempat kerja
tempo hari.
Mencuri pandang ke
arahnya, kulihat garis wajahnya dari samping—pipinya jelas-jelas merona merah
padam. Aku sangat yakin wajahku saat ini pasti sama merahnya dengan wajahnya.
Padahal aku sudah
merencanakan semuanya dengan matang untuk mengambil kendali dan menggenggam
tangannya dengan tenang, tetapi manuver tak terduga ini benar-benar meruntuhkan
seluruh fokusku. Rencanaku berantakan total. Y-yah, aku tidak bisa memungkiri
kalau aku merasa sangat bahagia bisa bergandengan tangan seperti ini...
Saat aku meremas tangannya
perlahan, ia membalas remasan itu dengan lembut. Sensasi itu membuatku
menggeliat salah tingkah antara malu dan girang. Emosiku serasa berada di
ambang batas ingin meledak. Tak sanggup terus-menerus menatap wajahnya, aku
mengalihkan pandanganku ke arah tangan kami yang saling bertaut.
Ukuran tangannya jauh
lebih besar dari tanganku. Kasar dan kuat—karakteristik tangan pria yang
dulunya sangat tidak kusukai. Namun jika itu milik orang yang kusukai,
segalanya terasa berbeda. Sifat-sifat fisik itu justru terasa sangat
menenangkan dan manis. Kehangatan yang memancar dari telapak tangannya
mengingatkanku bahwa saat ini aku benar-benar sedang bergandengan tangan dengan
Tanaka-kun.
Kurasa aku bisa bilang
rencanaku untuk membuatnya lebih sadar akan keberadaanku telah berhasil. Aku
bahkan berhasil membuatnya salah tingkah, yang memberikan kepuasan tersendiri.
Sosok Tanaka-kun yang sedang salah tingkah itu sangat menggemaskan. Dia tampan,
dan terkadang bisa bersikap sangat manis, yang rasanya benar-benar curang.
"Mumpung kita sedang
di sini, mau beli bakpao daging?" usulnya tiba-tiba.
"Boleh. Hari ini
memang sangat dingin."
Menerima tawaran
Tanaka-kun, kami melangkah menuju minimarket yang baru buka belakangan ini.
Karena sudah lama kami tidak pulang bersama, kupikir tidak ada salahnya untuk
sedikit memanjakan diri. Kemungkinan ada orang yang melihat kami sempat
melintas di benakku, tetapi rasa bahagiaku terlalu besar untuk memedulikannya.
"Oh, ini
tempatnya."
Minimarket baru itu
terlihat terang benderang dan bersih berkilau, tampak makin mencolok seiring
matahari yang mulai terbenam. Saat kami melangkah masuk, Tanaka-kun melepaskan
genggaman tangannya.
"Ah..."
Kehangatan yang tadi
menyelimuti tanganku seketika sirna, menyisakan rasa dingin dan hampa.
Ketiadaan sentuhannya memenuhiku dengan rasa sepi yang tak terduga. Aku tahu
ini hal yang wajar—kami tidak mungkin terus bergandengan tangan di dalam toko.
Namun tetap saja, aku tak bisa menahan rasa sedih kecil saat melangkah
mengikutinya masuk ke dalam.
Meski tergolong baru, tata
letak tokonya tidak jauh berbeda dari minimarket pada umumnya. Pandanganku
tertuju pada etalase pemanas di dekat meja kasir, tempat berbagai varian bakpao
kukus dipajang. Aku sudah sangat familier dengan bakpao kacang merah manis dan
bakpao piza, tetapi bakpao sirip hiu dan bakpao babi kecap (braised pork)
adalah hal baru bagiku. Semuanya terlihat sangat menggugah selera.
"Kau mau pesan yang
mana?" tanyanya.
"Pilihannya banyak
sekali... aku jadi bingung menentukan."
Aku tidak ingin membuatnya
menunggu terlalu lama, tetapi aku benar-benar kesulitan memilih. Mungkin
sebaiknya aku tetap pada rencana awal dan memilih bakpao daging biasa. Namun
bakpao kacang merah manis juga sangat menggoda, dan aku penasaran dengan bakpao
babi kecap karena belum pernah mencobanya sama sekali. Saat aku masih bimbang,
Tanaka-kun yang menyadari keraguanku mulai berbicara.
"Kau sedang bingung
memilih antara yang mana?"
"Antara bakpao kacang
merah dan bakpao babi kecap."
"Kalau begitu
bagaimana kalau aku beli yang babi kecap, dan kau beli yang kacang merah?"
"...Kau yakin tidak
apa-apa?"
"Iya. Lagipula aku
tidak terlalu bersikeras harus makan bakpao daging biasa. Ditambah lagi aku
juga belum pernah mencoba yang babi kecap, jadi penasaran."
"Terima kasih."
Cara bicaranya memang
terdengar agak ketus, tetapi kebaikannya terpancar jelas. Untuk ukuran orang
yang menyebutku tsundere, Tanaka-kun ini sebenarnya jauh lebih tsundere.
Tipe tsundere memang yang terbaik, kan?
Merasa lebih bahagia
berkat perhatiannya, aku memesan pesananku. Setelah menerima bakpao kacang
merah dari kasir, kami melangkah menuju area makan di dalam minimarket (eat-in
space). Aku duduk, membuka bungkus bakpao tersebut, dan langsung disambut
oleh aroma manis nan harum yang menguar dari dalamnya.
"Wah, kelihatannya
enak sekali!"
Melihat Tanaka-kun sudah
membuka bungkusnya dan mulai makan, aku pun menggigit suapan pertamaku.
Kehangatan dan tekstur lembut adonan bakpaonya, berpadu sempurna dengan
manisnya pasta kacang merah yang legit, seketika menyebar ke seluruh rongga
mulutku.
"Mmm~!"
Sudah lama sekali sejak
terakhir kali aku makan bakpao kacang merah, dan rasanya benar-benar luar biasa
lezat. Kenikmatan hakiki. Manis, hangat, dan begitu menenangkan—sungguh sulit
untuk ditolak. Aku tak tahan untuk
tidak tersenyum selagi menikmati gigitan demi gigitan. Saking enaknya, aku
tidak bisa berhenti mengunyah. Saat menghabiskan setengahnya, barulah aku
merasa cukup puas.
"Enak?"
"Iya, enak
sekali!"
"Mau coba yang
ini?"
"Oh, terima
kasih."
Kami bertukar
potongan, menukar sisa bakpao kacang merahku dengan setengah bakpao babi kecap
miliknya. Karena Tanaka-kun sudah memakan setengah bagiannya, aku bisa melihat
kilau daging babi kecap yang mengilap mengintip dari sisa potongannya.
Tampilannya terlihat sangat juicy dan menggugah selera. Aku lekas
mendekatkannya ke mulut untuk menggigitnya, tetapi tepat saat itu sebuah
kesadaran menyergapku.
(T-tunggu sebentar,
bukankah ini namanya ciuman tidak langsung!?)
Panik bukan main, aku
melirik ke arah Tanaka-kun. Dia tampak tidak menyadari keanehan apa pun.
Malahan, dia sudah mulai memakan bagian bakpao kacang merah yang tadi sempat
kugigit. ...Ini sedikit memalukan.
Karena Tanaka-kun tidak
membesar-besarkannya, tidak ada alasan bagiku untuk bersikap berlebihan juga.
Aku mengembalikan pandanganku pada bakpao di tanganku. Bakpao ini jelas-jelas
sudah digigit setengahnya, dan memakannya tak diragukan lagi bakal dihitung
sebagai ciuman tidak langsung. T-tapi ini cuma sekadar makan! Tidak perlu
berpikir yang aneh-aneh. Benar sekali—ini cuma makanan biasa. Cuma santapan
sore. ...Tidak, aku tetap tidak bisa!
Meskipun berusaha
meyakinkan diri sendiri, mustahil bagiku untuk tidak memikirkannya. Siapa yang
tidak akan salah tingkah mengalami ciuman tidak langsung dengan orang yang
disukai? Agak menyebalkan mengetahui hanya diriku saja yang berpikir terlalu
jauh di sini. Terserahlah. Aku memberanikan diri menggigit suapan besar dari
bakpao babi kecap itu.
"Mm!?"
Lemak daging yang gurih
dan lezat seketika meledak di dalam mulutku, membanjiri indra pengecapku dengan
rasa yang luar biasa kaya. Di setiap kunyahan, dagingnya yang empuk terasa
lumer, menyatu dengan sempurna bersama adonan roti yang sedikit gurih. Rasanya
benar-benar luar biasa nikmat. Pikiran soal ciuman tidak langsung tadi seketika
lenyap tak berbekas—fokusku terserap sepenuhnya oleh kelezatan makanan ini.
Bakpao kacang merah tadi memang enak, tapi yang ini berada di tingkatan yang
sama sekali berbeda. Tanpa kusadari, aku sudah melahap habis seluruh sisanya.
"Wah, tadi itu
benar-benar sangat lezat."
Sisa rasa gurih dari babi
kecap masih tertinggal di langit-langit mulutku, dan kehangatan yang meresap ke
tubuhku terasa begitu menenteramkan. Aku merasa sangat puas.
"Kau memasang
senyuman hebat yang sama seperti biasanya ya," celetuk Tanaka-kun
tiba-tiba.
"S-senyuman?"
"Iya. Aku benar-benar
suka melihatmu tersenyum seperti itu."
"A-apa—!?"
Serangan fajar mendadak! Persis seperti saat dia menautkan jemari kami tadi—dia
benar-benar harus berhenti melontarkan kalimat-kalimat manis semacam itu tanpa
aba-aba. Jantungku tidak kuat menanggungnya.
"Wajahmu memerah
padam tahu."
"Itu cuma perasaanmu saja!"
Tanaka-kun menyunggingkan
senyum jahil ke arahku. Jantungku berdegup kencang seketika. Senyuman itu—bukan
senyum polosnya yang biasa, melainkan senyuman yang memancarkan pesona menggoda
yang memabukkan. Itu benar-benar tidak adil...
"Ayo, kita jalan
lagi."
"I-iya."
Aku yakin wajahku saat ini
pasti sudah merah menyala. Aku tahu harus merespons dengan lebih tenang, tapi
aku tidak punya sisa ketenangan untuk melakukannya. Jurang perbedaan antara
sikapnya yang biasa dengan yang barusan ini... terlalu dahsyat!
Serius deh, seberapa
sering lagi dia berniat membuat jantungku berdegup gila-gilaan seperti ini? Aku
tahu ini sebagiannya adalah salahku sendiri karena kelakuanku saat jam kerja
tempo hari, tetapi aku tidak menyangka dia bakal mulai memujiku sebanyak ini.
Meski merasa bahagia, ini sungguh berat bagi kesehatan jantungku yang malang.
Begitu kami melangkah
keluar minimarket, kehangatan ruangan toko tadi lenyap seketika. Langit di luar
sudah jauh lebih gelap. Berdiri di depanku, punggung Tanaka-kun terlihat begitu
lebar dan menenangkan. Lengannya terayun santai di samping tubuhnya, dan di
ujung lengannya, telapak tangannya bergoyang perlahan ke depan dan ke belakang.
(Apa dia tidak berniat
menggandeng tanganku lagi?)
A-apa yang sedang
kupikirkan sekarang!? Bagaimana bisa aku menjadi seegois ini? Bisa
bergandengan tangan sekali saja tadi sudah membuatku sangat bahagia, tapi
sekarang aku malah menginginkan lebih. Memori saat kami bergandengan tangan
tadi kembali terbayang dengan sangat jelas.
Sensasinya jauh lebih
mendebarkan dari yang pernah kubayangkan. Memalukan, memang. Namun juga sangat
menyenangkan. Dan rasanya terasa begitu alami. Saking alaminya sampai-sampai aku mendapati diriku ingin
merasakannya sekali lagi.
Aku merindukan kehangatan
dari telapak tangannya, sensasi saat kami saling terhubung. Tanganku sendiri
yang kini terasa kosong terus membuka dan menutup secara refleks, seolah sedang
mencari sesuatu untuk digapai.
"...Hm."
Tiba-tiba, Tanaka-kun
mengulurkan tangan kirinya secara perlahan ke arahku tanpa suara. Aku langsung
memahami apa arti dari gestur tersebut.
Tanpa ragu sedikit pun,
aku meletakkan telapak tanganku di atas tangannya dalam keheningan. Kehangatan
yang kurasakan sebelumnya kembali merayap ke seluruh tubuhku. Sensasi familier
ini—adalah sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Gelombang
rasa bahagia seketika membanjiri dadaku.
Dengan begitu mudah dan
alaminya, seolah itu adalah hal paling lumrah di muka bumi, jemari kami kembali
bertaut erat, beralih ke genggaman mesra sepasang kekasih. Jantungku berdesir
hebat merasakan sensasi asing yang manis ini, tetapi aku tak bisa memungkiri
betapa aku sangat mencintai perasaan istimewa ini.
Kami mulai melangkah pelan
dalam keheningan bersama, tangannya membimbingku berjalan dengan lembut. Aku
bisa merasakan senyuman manis tak terbendung mulai merekah di bibirku.
Akan menjadi seperti apa
hubungan kami setelah ini? Apakah kami akan resmi berpacaran? Aku masih belum
bisa membayangkannya sekarang. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin memusatkan
perhatian pada kebahagiaan menggenggam tangannya, menikmati setiap tetes rasa
bahagia yang memenuhi seluruh rongga dadaku.


Post a Comment