Chapter 4
Titik Temu Tiga Kehidupan
Bunyi bip elektronik jam
bekerku yang melengking bergema di seluruh ruangan. Sembari memaksa kelopak
mataku yang berat untuk terbuka, kuulurkan tangan untuk mematikannya. Cahaya
matahari sudah menyusup masuk melalui celah tirai, tetapi tubuhku masih terlalu
lemas untuk keluar dari kepompong kasur lipatku (futon).
Kesadaran mengejutkan
kemarin benar-benar membuatku ingin mati karena menanggung malu. Gara-gara hal
itu, aku nyaris tidak bisa tidur semalaman hingga fajar menyingsing.
Sejujurnya, aku tidak menginginkan apa pun selain tidur seharian, tetapi siang
ini aku ada giliran kerja. Lagipula, aku harus memastikan apakah identitas asli
Hiiragi-san memang benar-benar Saito.
"Uggghhh..."
Meskipun semalam aku sudah
mulai sedikit tenang, aku tetap saja belum bisa memercayainya. Aku ingin semua
ini hanyalah kesalahpahaman belaka. Memeluk erat kasur lipatku, kubenamkan
wajahku ke dalamnya lalu melontarkan jeritan tertahan. Tidak ada cara lain
untuk melampiaskannya.
Apa sebenarnya yang
kupikirkan waktu itu? Orang normal mana pun pasti sudah langsung
menyadarinya sejak awal. Bagaimana bisa ketidakpedulian mutlakku pada orang
lain justru menjadi bumerang yang menghantamku sekeras ini? Tidak menyadarinya
selama ini... Apa aku ini bodoh?
Sejujurnya, kuharap
aku tetap tidak tahu apa-apa selamanya. Kalau aku tidak menyadarinya, aku bisa
terus hidup dalam ketidaktahuan yang membahagiakan.
Setelah raungan
frustrasi tanpa suara itu, aku akhirnya mengangkat kepalaku.
"Hah... rasanya aku
ingin mati saja."
Mungkin semua ini hanyalah
mimpi belaka. Kalau aku kembali tidur sekarang, apakah aku akan bangun dari
mimpi buruk ini? Kenyataan ini
benar-benar tidak masuk akal. Aku pasti sedang bermimpi. Iya, pasti begitu.
Meski berusaha
meyakinkan diri sendiri, tidak ada satu hal pun dari kenyataan di sekitarku
yang berubah. Di dalam kamar yang temaram, dengan enggan aku bangkit dan
membuka tirai. Cahaya matahari yang membanjiri ruangan terasa begitu
menyilaukan bagi orang yang kurang tidur sepertiku.
Aku mulai bersiap-siap
untuk berangkat. Waktu sudah hampir tengah hari, dan kalau tidak buru-buru, aku
bisa terlambat. Memasukkan selembar roti ke pemanggang, aku menyandarkan tubuh
ke punggung sofa, mendengarkan bunyi detak pelan dari mesin pemanggang roti.
Aku harus memikirkan
bagaimana cara memastikannya di tempat kerja nanti. Haruskah aku menegurnya
secara langsung? Ataukah mencoba memancingnya secara perlahan?
Yang lebih penting, kenapa
Saito tidak memberitahuku identitas aslinya lebih awal? Kalau saja dia berterus
terang sejak dulu, aku tidak perlu menanggung rasa malu yang luar biasa
menyiksa ini.
Namun, jika dipikirkan
secara logis, kemungkinan memang tidak pernah ada waktu yang pas baginya untuk
memberi tahu. Waktu pertama kali bertemu di kedai, kami praktis orang asing,
jadi tidak ada alasan untuk mengungkitnya. Pada saat kami mulai dekat, aku
sudah keburu menceritakan dan memuji-muji dirinya secara gamblang.
Pasti sangat sulit baginya
untuk mengatakan apa pun pada titik itu. Sejujurnya, kalau berada di posisinya,
aku pun pasti akan melakukan hal yang sama. Tentu, aku memang menyamar juga,
tapi aku memakai nama asliku. Saito pasti sudah mengenaliku sejak awal.
Banyak sekali pertanyaan
di kepalaku, tetapi untuk sekarang, kuputuskan untuk segera berangkat.
***
Masuk melalui pintu
belakang kedai, aku berganti dan mengenakan seragam kerjaku. Suasana kedai
tampak cukup sepi hari ini—tidak ada suara riuh obrolan pelanggan yang
terdengar dari area makan. Suasananya tenang dan santai, sangat sempurna untuk
kondisiku yang kurang tidur ini. Saat melangkah masuk ke ruang istirahat,
kudapati Hiiragi-san sedang menikmati makan siangnya.
"..."
Aku menelan ludah. Aku
tidak menyangka akan langsung berpapasan dengannya secepat ini. Aku memang tahu
dia ada di jadwal kerja hari ini, tapi ini terlalu mendadak.
Hiiragi-san mendongak
menatapku selagi menyendok nasi dari kotak bekal kecilnya.
"Terima kasih atas
kerja kerasnya hari ini, Tanaka-san."
"Oh, uh, terima kasih
juga!"
Sapaannya terdengar santai
dan alami persis seperti biasanya. Sama sekali tidak ada gelagat aneh dari
sikapnya. Untuk saat ini, aku melangkah menuju komputer untuk mencatatkan
absensi masuk.
"Kau sedang
istirahat?"
"Iya. Manajer bilang
aku boleh istirahat duluan karena hari ini kedai sedang tidak terlalu
sibuk."
Hiiragi-san menjawab
sembari menyuap nasi lagi dengan sumpitnya. Aku melirik ke arah jam dinding.
Masih ada lima menit sebelum giliranku resmi dimulai, jadi aku duduk di kursi
tepat di seberangnya.
Berpura-pura mengecek
ponsel, aku mencuri beberapa kali pandangan ke arahnya. Kacamata berbingkai
hitam, poni panjang yang menyentuh wajahnya, dan kuncir kuda yang terikat rapi
di belakang... semuanya persis seperti yang kuingat. Biasanya aku tidak akan memandanginya
selekat ini, tetapi kali ini aku tak bisa menahannya. Aku sudah melihat sosok
ini tak terhitung kali sebelumnya—lalu kenapa selama ini aku tidak
menyadarinya?
Pada pandangan pertama,
dia memang terlihat sederhana dan biasa saja, tetapi jika dilihat lebih dekat,
bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang mulus tanpa cela tampak begitu
mencolok. Rambutnya yang terawat rapi berkilau layaknya sutra, bebas dari kerusakan
yang terlihat. Dan sekarang setelah aku benar-benar memperhatikannya dengan
saksama, wajah ini tak salah lagi adalah milik Saito.
"Um, ada yang
salah?"
"Eh? Oh, tidak...
bukan apa-apa."
(Apa maksudmu dengan
"ada yang salah"?)
Hiiragi-san sedikit
memiringkan kepalanya, tatapannya yang heran menusuk tepat ke arahku. Sialan.
Mata bulat yang polos dan penuh rasa ingin tahu itu jelas-jelas adalah
miliknya.
Haruskah kutanyakan
padanya sekarang juga? Mustahil dugaanku ini keliru. Aku sudah sangat yakin
seratus persen. Aku harus menghadapinya dan memberitahunya bahwa aku sudah
membongkar semuanya.
(Tunggu... tahan dulu.)
Situasi ini berawal dari
Saito. Tentu, dia pasti punya alasan tersendiri dan merasa sulit untuk jujur,
tetapi dia tetap saja telah mendengarkan semua pengakuan memalukanku selama
ini. Meski aku tidak membencinya, hal itu cukup membuatku malu sampai-sampai
ingin membalas dendam sedikit. Tidak bisakah aku memanfaatkan situasi ini untuk
keuntunganku sendiri?
"Tanaka-san, kemarin
kan Hari Valentine. Bagaimana kelanjutannya? Kau dapat cokelat?"
"Oh, iya. Tepat
sebelum kami berpisah, sebenarnya. Tadinya kukira aku tidak bakal dapat, jadi
itu kejutan yang sangat menyenangkan."
"Apa yang kau
dapatkan?"
"Cokelat kulit jeruk
dan brownies."
"Wah, itu sama persis
dengan apa yang kuberikan."
"Iya, benar
sekali."
Aku mengangguk menanggapi
ucapan Hiiragi-san. Tentu saja sama—kalian berdua kan orang yang sama.
"...Jadi, cuma itu
saja? Cuma kebetulan?"
"Iya. Kebetulan yang
sangat lucu, ya? Kurasa hadiah-hadiah yang modis memang terkadang bisa
samaan."
Berpura-pura tidak tahu
apa-apa, aku merespons dengan santai. Reaksinya mengonfirmasi dugaanku.
Rencana Saito selama ini
adalah membongkar identitas aslinya melalui cokelat Valentine tersebut. Masuk
akal—mana mungkin seseorang yang menyamar bakal memberikan hadiah yang persis
sama secara tidak sengaja kecuali jika itu memang direncanakan.
Rencananya berhasil; aku
telah menyadari kebenarannya. Biasanya, aku akan mengakuinya di sini, dan
semuanya akan terselesaikan. Itu pasti tujuan awalnya. Namun aku tidak akan
membuatnya semudah itu baginya. Jika aku ingin sedikit membalasnya, pura-pura tidak
menyadarinya akan jauh lebih menguntungkan buatku.
Hiiragi-san mengerjapkan
matanya berkali-kali lalu menggumam pelan, "Kurasa begitu..." Ia
merapatkan bibirnya kuat-kuat sebelum akhirnya terdiam.
"Um... apa cokelat
yang kau terima rasanya enak?"
Tatapannya yang mendongak
tampak ragu-ragu menanti jawabanku.
"Iya, luar biasa
enak. Brownies cokelatnya diberi aksen buah-buahan kering, dan itu
sangat lezat. Kalau untuk orangette-nya, ini pertama kalinya aku
mencobanya, dan keseimbangan antara rasa manis dan asamnya benar-benar
sempurna. Aku sangat menyukainya sampai-sampai kuhabiskan semuanya tadi
malam."
"Begitu ya."
Ekspresi Hiiragi-san yang
tadinya tegang seketika melunak, senyum kecil terukir di bibirnya. Terlihat
sangat jelas betapa senangnya dia.
Aku sudah tahu dia sedang
berusaha membaca reaksiku, tetapi aku merasa lega bisa menyampaikan pendapatku
dengan benar. Dia tampak begitu cemas saat menyerahkan cokelat itu kemarin,
jadi kuharap ini bisa membuatnya tenang. Sejujurnya, makanan itu dibuat dengan
begitu apik sampai-sampai aku tidak bisa menemukan satu cela pun, jadi pujianku
tadi murni bukan sekadar basa-basi.
"Kau sebegitu
menyukainya, ya? Kalau begitu aku yakin orang yang kau sukai pasti merasa
sangat bahagia."
"Kau berpikir
begitu?"
"Iya, tentu saja.
Jika orang yang kau sukai merasa sangat gembira menerima cokelat buatan
tanganmu, wajar sekali kalau kau merasa bahagia karenanya."
Wah. Aku lekas memalingkan
pandanganku. Cara Hiiragi-san menyipitkan matanya dalam senyuman lembut tampak
begitu menyilaukan. Jangan tiba-tiba tersenyum padaku seperti itu. Mungkinkah
dia sengaja melakukannya karena tahu betapa aku menyukai senyuman Saito? Itu
sudah cukup membuat wajahku memerah.
Saito akhir-akhir ini
memang menjadi lebih blak-blakan, tetapi mendengar kejujuran yang begitu
terang-terangan seperti ini tetap saja terasa mendebarkan. Ini tidak baik untuk
kesehatan jantungku. Meskipun aku berhasil membongkar perasaan Saito yang sebenarnya,
aku tidak menyangka dia akan menyatakannya secara segamblang ini. Mendengar isi
hati yang jujur dari orang yang kita sukai bukanlah kejadian yang biasa
terjadi. Mengingat kembali, masuk akal kenapa selama ini Saito sering
menanyakan perasaanku. Nah, sekarang giliranku yang bertanya.
"Apa kau sendiri
berhasil memberikan cokelatmu kemarin, Hiiragi-san?"
"Iya, entah bagaimana
caranya. Aku sempat sangat gugup, tapi aku mengumpulkan segenap keberanian
untuk melakukannya."
"Orang sepertimu
pun bisa merasa gugup juga ya?"
"Tentu saja.
Sekalipun kau tahu kemungkinan besar orang itu akan menerimanya dengan senang
hati, rasa cemas itu tidak akan hilang begitu saja."
Hiiragi-san
menundukkan pandangannya, berbicara dengan suara lirih. Meskipun aku sudah
punya dugaan berdasarkan gelagatnya saat menyerahkan cokelat kemarin,
mendengarnya secara langsung rasanya sangat berbeda. Mengetahui bahwa dia
memikirkanku sedalam itu terasa sangat Imut—tidak, itu luar biasa menggemaskan.
Gawat ini. Rasanya aku
jatuh cinta makin dalam padanya.
"Apa kau sempat
ragu-ragu untuk memberikannya? Mungkin karena itu waktunya jadi agak
terlambat?"
"Um, iya. Bagaimana
kau bisa tahu?"
"Cuma firasat
saja."
"Aku tidak bisa
menemukan waktu yang tepat, dan karena aku belum pernah memberikan cokelat
kepada anak laki-laki seumuranku sebelumnya, aku sama sekali tidak tahu
bagaimana cara memulainya. Tadi malam benar-benar sebuah perjuangan
berat."
Hiiragi-san menghela napas
panjang, memperlihatkan betapa banyaknya usaha yang telah ia kerahkan. Jadi
karena itulah dia akhirnya menyerahkannya tepat saat kami hendak berpisah.
Mengingat kembali hari itu, Saito memang bertingkah agak aneh, melirik ke arahku
berulang kali. Aku tidak pernah menduga hal semacam itulah yang sedang
berkecamuk di kepalanya.
"Rencana awalku
sebenarnya ingin memberikannya dengan cara yang lebih santai dan terkesan
wajar. Tapi pada akhirnya, aku malah praktis menjejalkannya ke tangannya. Aku
tak tahan untuk tidak bertanya-tanya bagaimana perasaannya soal kejadian itu..."
"Kuyakin semuanya
baik-baik saja."
"Eh?"
Ia menatapku kaget
dengan mata membelalak lebar. Ups, aku berbicara terlalu gamblang. Aku jarang
sekali melihatnya terlihat secemas ini, dan mengetahui akulah penyebabnya
membuatku merasa terdorong untuk menenangkannya. Lagipula, melihat Saito yang
murung seperti ini adalah pemandangan yang langka, dan meski merasa bersalah,
aku juga mendapatinya sedikit menggemaskan.
"Tidak masalah bagaimana caramu
memberikannya. Yang terpenting adalah kau telah mengerahkan seluruh usahamu
demi memberikannya padanya. Ketulusan niatmu pasti tersampaikan dengan
baik."
"Kau berpikir begitu?"
Tatapannya yang mencari kepastian tertuju
padaku, matanya yang ragu-ragu tampak bergetar bimbang. Itu membuatku makin
ingin menenangkannya.
(Tidak apa-apa. Karena dia mengira aku belum
membongkar identitasnya, mengatakan sesuatu yang agak tidak biasa seharusnya
tidak jadi masalah.)
Kutarik napas perlahan
untuk memastikan ketenanganku.
"Waktu dia
memberikannya padaku saat kami hendak berpisah kemarin, dia terlihat sangat
menggemaskan. Waktu itu aku terlalu kaget untuk bisa benar-benar menikmati
ekspresinya, tapi mengingatnya kembali sekarang, aku baru sadar betapa gugupnya
dia saat itu. Mengetahui betapa banyak usaha dan perhatian yang ia curahkan
untuk hadiah itu, rasanya benar-benar sangat menghangatkan hati."
"A... aku
mengerti."
"Karena itulah
menurutku dia sama sekali tidak perlu merasa cemas soal hal itu."
"A... aku
paham."
Ia mengangguk kuat-kuat,
seluruh wajahnya memerah padam. Sekarang setelah kuperhatikan lebih dekat,
bahkan telinganya pun ikut merona merah muda. Wajahku sendiri sebenarnya terasa
agak hangat, tetapi beruntung Hiiragi-san tampaknya terlalu salah tingkah untuk
menyadarinya. Berbeda dari sebelumnya saat aku tanpa sadar membeberkan
perasaanku, kali ini aku mengucapkannya dengan sengaja. Melihatnya bereaksi
setersipu ini hampir terasa terlalu Imut untuk kutanggung. Dia benar-benar
berbeda dari sosok Saito yang biasanya selalu tenang—terlalu imut untuk
dihadapi.
Dia masih tampak sangat
salah tingkah, menghindari tatapanku sembari memainkan helaian rambutnya. Kotak
bekal makannya sepertinya sudah terlupakan sepenuhnya.
Ini bukan hal yang biasa
kulakukan, tetapi jika ini bisa membuatku melihat sisi lain dari Saito ini,
mungkin aku akan terus melanjutkannya. Aku ingin melihat sosoknya yang seperti
ini lebih banyak lagi—kehilangan keseimbangan dan terlihat begitu menggemaskan.
Ini di luar dugaan terasa sangat menyenangkan.
"Wajahmu agak merah.
Kau tidak apa-apa?"
"Eh?! I-iya, aku
tidak apa-apa. Di sini cuma terasa agak hangat saja, itu saja."
Ia mengibaskan tangannya
di depan wajahnya dengan panik. Dia mungkin mengira telah berhasil mengelak,
tetapi suaranya bergetar jelas, dan ketenangannya yang biasa sudah lenyap entah
ke mana. Reaksinya sungguh sangat transparan dan menggelikan, usaha canggungnya
untuk menutupi rasa malu justru makin menambah daya pikatnya.
Ruangan ini sama sekali
tidak terasa panas, tetapi kedua pipinya merona merah muda persik, dan ia terus
mengipasi dirinya seolah berusaha mendinginkan suhu tubuhnya. Pasti sangat luar
biasa baginya mendengar kata-kata yang begitu jujur dan terus terang. Kejujuran
tanpa kepura-puraan memang memiliki dampak yang mengejutkan.
Poninya terayun pelan saat
ia mengipasi dirinya, dan wajahnya yang merona dipadukan dengan lirikan matanya
yang malu terlihat begitu memikat hati. Setelah beberapa kibasan tangan lagi,
ia menghela napas pelan, tampaknya sudah mulai sedikit tenang.
"Sekarang aku
mengerti betapa bahagianya Tanaka-san saat menerimanya. Kalau apa yang kau
katakan itu benar, maka aku merasa sedikit lebih tenang."
"Iya, tolong jangan
khawatir. Dengan semua usaha yang kau curahkan, perasaanmu pasti tersampaikan,
dan bagaimana caramu menyerahkannya sama sekali tidak masalah."
"Syukurlah kalau
begitu."
"Ngomong-ngomong, apa
membuat cokelatnya sulit?"
"Cukup menguras
tenaga. Aku kan biasa memasak, jadi aku sudah terbiasa untuk urusan itu, tapi
membuat kue dan manisan memakan waktu jauh lebih lama. Ditambah lagi, aku belum
pernah punya kesempatan untuk memberikannya kepada seseorang, jadi aku jarang
sekali membuatnya sebelumnya. Bagian itulah yang paling menantang."
"Mungkin ini cuma
pandangan awamku saja, tapi kelihatannya memang sangat sulit—terutama untuk
membuat orangette."
Mengingat betapa rapinya
buatan itu, pembuatannya pasti membutuhkan waktu dan ketelitian yang tidak
sedikit. Ditambah lagi, berhasil mencapai tingkat tampilan yang begitu
profesional meski minim pengalaman adalah hal yang jauh lebih mengagumkan.
"Oh, tidak,
sebenarnya tidak sesulit itu. Kau hanya perlu mengikuti resepnya dengan
tepat."
"Itu kalimat yang
cuma bisa diucapkan oleh orang yang berbakat, Hiiragi-san."
Dia mengucapkannya
dengan sangat santai, padahal banyak orang—termasuk diriku—bahkan kesulitan
melakukan hal sesederhana itu. Yang bisa kulakukan hanyalah membuat makanan
gosong dengan penuh percaya diri.
"Kuncinya adalah
menimbang semuanya dengan sangat presisi sesuai takaran resep. Selama takaran
dan bahan-bahannya tepat, kau tidak akan gagal."
"Begitu ya."
"Untuk yang kemarin
ini, aku sempat mengulanginya beberapa kali demi memastikan tampilannya
sempurna."
"Jadi kau sangat
teliti soal itu, ya?"
"Tentu saja! Kau
pasti ingin memberikan potongan yang paling cantik kepada orang yang kau sukai
agar dia merasa senang, kan?"
"I-iya, kau
benar."
Wah. Wajahku seketika menegang
kaku tanpa sadar. Bisakah dia tidak melancarkan serangan mendadak seperti itu
tanpa aba-aba? Tadi aku hampir saja bereaksi secara terang-terangan. Komentar
semacam itu benar-benar tidak adil. Mendadak bersikap seImut ini sangat tidak
baik bagi kesehatan jantungku. Meskipun sangat menyenangkan bisa mengintip isi
hati Saito yang sebenarnya, aku tidak menyangka bakal ada efek samping yang
seberat ini.
Namun Hiiragi-san
tampaknya tidak menyadari apa-apa dan terus bercerita dengan penuh semangat.
Tunggu, apa-apaan ini?
"Waktu membuatnya,
aku terus bertanya-tanya bagaimana reaksi orang itu nanti, dan tanpa kusadari,
aku sudah mengulanginya berkali-kali. Seperti, apa dia bakal kaget? Apa dia
bakal senang? Aku membayangkan berbagai macam hal di kepalaku. Pada akhirnya,
aku terlalu gugup untuk bisa memperhatikan reaksinya saat menyerahkannya
kemarin, tapi setelahnya, aku mendapat pesan yang berbunyi, 'Terima kasih,
rasanya luar biasa lezat.' Hanya satu pesan singkat itu saja sudah membuat
semua perjuanganku terasa sangat sepadan."
"~~~~~"
T-tolonglah, ampuni aku. Aku sudah berada di
ambang batas ingin menggeliat salah tingkah di tempat. Aku berusaha mati-matian
menahan reaksiku, tetapi ini sudah mencapai batas kemampuanku. Caranya
berbicara dengan senyuman yang begitu lembut, seluruh auranya yang mekar
merekah persis bunga musim semi, benar-benar terlalu indah untuk kutanggung. Ke
mana perginya sikap dinginnya yang biasa? Tolong kembalikan sisi tsundere-nya
sekarang juga. Aku mendadak bangkit berdiri dari kursiku.
"Um, sudah hampir
waktunya. Aku keluar duluan, ya."
"Eh? Oh, sudah jam
segini? Aku akan menyusul sebentar lagi, jadi silakan duluan."
"I-iya. Baiklah
kalau begitu."
Aku lekas melangkah
keluar dari ruang istirahat, memastikan dia tidak melihat ekspresi wajahku.
Begitu pintu tertutup rapat di belakangku, aku menyandarkan punggung ke dinding
dan akhirnya menghembuskan napas panjang.
"Haaaah..."
Menempelkan telapak
tangan di dadaku, aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang tak karuan.
Bahkan setelah menarik napas dalam-dalam beberapa kali, aku tetap tidak bisa
tenang. Wajahku terasa sangat panas, pipiku masih merona jelas. Gadis itu
benar-benar... luar biasa berbahaya.
Kutampar kedua pipiku
perlahan untuk menyadarkan diri. Rasa perihnya menarik akal sehatku kembali,
dan aku pun melangkah untuk memulai pekerjaanku.
***
Sudut Pandang Saito
Pintu tertutup dengan
bunyi klik pelan. Memandangi Tanaka-kun yang beranjak pergi begitu mendadak,
akhirnya kualihkan pandanganku kembali ke kotak bekal di hadapanku. Keheningan
kembali menyelimuti ruang istirahat, dan suara hembusan napasku terdengar begitu
nyaring dari biasanya.
(Oh, ternyata sudah jam segini?)
Jarum hitam jam
dinding bundar di dinding menunjuk tepat ke angka dua siang. Waktu telah
berlalu tanpa kusadari. Setiap kali mengobrol dengan Tanaka-kun, waktu selalu
terasa melesat begitu cepat.
Kumasukkan sisa butiran
nasi terakhir dari sudut kotak bekalku ke dalam mulut. Menatap kosong ke depan,
kuperhatikan kursi tempat Tanaka-kun duduk tadi kini telah kosong, digantikan
oleh tumpukan dokumen dan beberapa barang milik karyawan lain. Pikiranku
melayang kembali ke percakapan kami beberapa menit yang lalu.
(Syukurlah dia kelihatan
sangat menyukai cokelatnya.)
Dia memang sudah
mengirimiku pesan tadi malam untuk memberi tahu bahwa rasanya sangat enak,
tetapi mendengarnya secara langsung terasa sangat berbeda. Dia benar-benar
terlihat sangat bahagia, dan melihatnya berbicara dengan begitu berapi-api
adalah pemandangan yang langka. ...Yah, kecuali kalau dia sedang membicarakan
buku, tentu saja.
Bagaimanapun juga, jika
dia menikmatinya, maka semua usahaku terasa sangat sepadan. Dari mulai
menyiapkan bahan-bahan hingga memastikan tampilannya sempurna, semuanya adalah
perjuangan yang melelahkan. Dulu aku sempat merasa sangat cemas apakah pantas
memberikannya padanya, tetapi aku senang telah membulatkan tekad untuk
menyerahkannya.
"Tapi tetap
saja..."
Sebuah helaan napas lolos
dari bibirku. Aku sengaja memilih jenis cokelat yang persis sama dengan yang
diceritakan Hiiragi, lalu kenapa dia masih belum menyadarinya juga? Seberapa
tidak peka sih dia ini? Padahal kukira rencanaku tadi sudah sangat sempurna.
Selama ini, aku selalu
merasa bimbang kapan waktu yang tepat untuk membongkar identitasku. Mendengar
perasaan jujur Tanaka-kun memang sangat menyenangkan, dan itu membuatku merasa
bahagia setiap kali dia memujiku. Namun di saat yang sama, aku tak bisa menepis
rasa bersalah yang terus mengusik hatiku.
Awalnya, kupikir aku akan
memberitahunya secara terang-terangan. Namun, seiring hubungan kami yang makin
dekat, topik itu menjadi makin sulit untuk diangkat. Bagaimanapun juga,
mengakui bahwa "selama ini aku telah mendengarkan semua isi hatimu yang
paling jujur" bukanlah hal yang mudah untuk dikatakan.
Aku tidak bisa memprediksi
bagaimana reaksi Tanaka-kun nanti. Jika orang yang kau sukai mengetahui seluruh
perasaanmu tanpa kau nyatakan sendiri, bagaimana perasaanmu? Kalau itu terjadi
padaku, aku pasti bakal mati karena malu. Aku tidak akan tahu bagaimana cara
menatap wajahnya lagi.
Aku tidak tahu apa yang
akan dirasakan Tanaka-kun, tetapi aku sangat yakin dia tidak akan menanggapinya
dengan tenang. Aku hanya tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk
membeberkan kenyataan tersebut dengan santai.
Karena itulah aku
memikirkan rencana ini: membiarkannya menyadarinya sendiri. Dua jenis cokelat
yang langka, bentuk hadiah yang identik, dan bahkan waktu pemberian yang
bersamaan—dia pasti akan menyadarinya. Begitu dia menyadarinya dan
menanyakannya padaku, aku akan mengakuinya dengan jujur dan meminta maaf.
Begitulah rencana awalnya.
Namun kenapa dia belum
menyadarinya juga? Aku memang sudah sempat memikirkan ini sebelumnya, tetapi
Tanaka-kun ini benar-benar kelewat tidak peka. Bahkan hari ini pun, aku sengaja
mengungkit masalah Hari Valentine-ku, dan dia sama sekali tidak curiga sedikit
pun. Menceritakannya tadi terasa agak memalukan, tahu. Tidak bisakah dia
sedikit saja meragukanku? Seberapa tidak pedulinya dia terhadap orang lain di
sekitarnya?
"Hah..."
Helaan napas lainnya
kembali lolos sebelum sempat kutahan. Aku bukan tipe orang yang sering menghela napas,
tetapi kali ini aku tak sanggup membendungnya. Padahal aku sudah sangat gugup
saat berangkat kerja hari ini, dan inilah hasilnya.
Hal ini memang sangat khas
Tanaka-kun, tetapi rasanya aku ingin meminta kembali tekad besar yang
kukumpulkan saat mempersiapkan semua ini. Mungkin sebaiknya kubongkar saja
identitasku sekarang?
Kutempelkan jari
telunjukku di dagu sembari berpikir keras. Sejujurnya, aku tidak menyangka
Tanaka-kun bakal sekurang-kurangnya peka seperti ini. Aku tadinya sangat yakin
dia pasti akan membongkarnya kali ini.
Namun, menilai dari
sikapnya tadi, dia jelas belum menyadari apa-apa. Dia masih saja menceritakan
perasaannya kepadaku seolah bukan masalah besar, dan tak peduli berapa kali pun
mendengarnya, aku tetap tidak bisa terbiasa. Tolonglah, ampuni aku.
Mengingat kembali
kata-kata Tanaka-kun tadi membuat wajahku kembali terasa panas seketika.
P-pokoknya, jika dia belum
menyadarinya sampai sekarang, mungkin aku harus membuat petunjuknya menjadi
jauh lebih gamblang lagi. Aku bisa melontarkan petunjuk yang lebih
terang-terangan dengan menyamakan ceritaku sebagai Hiiragi dengan ceritaku
sebagai Saito.
Mengatakannya secara
langsung akan terasa sangat memalukan, jadi itu akan menjadi pilihan
terakhirku. Untuk saat ini, aku akan membuatnya jauh lebih jelas lagi.
Sejujurnya, aku jadi agak penasaran ingin melihat seberapa banyak petunjuk yang
ia butuhkan hingga akhirnya menyadarinya. Tanaka-kun yang tidak peka... Kali
berikutnya aku pasti akan membuatmu menyadarinya.
Dengan tekad bulat di
dalam hati, kututup rapat tutup kotak bekalku.


Post a Comment