Chapter 5
Menginap
Hari Senin, hari pertama
setelah akhir pekan. Ketika aku tiba di sekolah, Kazuki sedang asyik mengobrol
dan tertawa bersama teman-temannya. Pemandangan itu sendiri sudah menjadi hal
yang biasa.
Namun, setengah karena
rasa frustrasi, aku tak bisa menahan rasa sedikit jengkel. Menilai dari
reaksi-reaksinya sebelumnya, jelas sekali Kazuki sudah lama menyadari identitas
asli Hiiragi-san. Mengetahui hal itu dan tetap tutup mulut... aku tidak bisa membiarkannya
lolos begitu saja.
"Punya waktu
sebentar?"
Aku memanfaatkan jeda
percakapan mereka untuk memanggilnya.
"Oh, Minato. Pagi.
Ada apa?"
Kazuki berbalik, sedikit
melebarkan matanya karena terkejut.
"Pagi. Ada yang perlu
kubicarakan sebentar. Sekarang bisa?"
"Wah, ada apa ini?
Mau nembak? Tunggu sebentar."
Dengan santai dia memberi
tahu teman-temannya bahwa dia akan menyingkir sebentar, lalu melangkah
menghampiri mejaku.
"Jadi, ada apa?
Jangan bilang kau benar-benar mau menyatakan cinta?"
"Jangan
bercanda."
Tentu, penampilannya
memang tidak buruk, tetapi aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang
jatuh hati padanya setelah tahu sifat aslinya. Sejujurnya, dia sudah mulai
membuatku kesal.
"Ini tentang
Saito."
"Ah, sudah kuduga.
Bagaimana hasil Valentine kemarin?"
"Iya, aku berhasil
mendapatkan cokelat darinya tanpa masalah. Tapi masalahnya adalah apa yang
terjadi setelahnya."
"Setelahnya?"
Kazuki memiringkan
kepalanya sedikit, menunggu kelanjutanku.
"Identitas asli
Hiiragi-san itu Saito, kan?"
"Oh, jadi akhirnya
kau menyadarinya juga?"
"'Akhirnya'? Kau
ini... kalau kau sudah tahu dari awal, harusnya kau beri tahu aku sejak
dulu!"
"Yah, aku kan
penasaran kapan kau bakal sadar. Lagipula, menontonnya itu sangat
menghibur."
"Gara-gara itu,
aku mempermalukan diriku sendiri. Kau tahu betapa malunya aku waktu menyadarinya...?"
Bahkan sampai sekarang,
ingatan itu membuat wajahku memanas. Aku tidak percaya bahwa tanpa sadar aku
telah memuji-muji dirinya tepat di depan wajahnya sendiri. Mengingatnya saja
sudah membuatku bergidik ngeri, meski aku berusaha keras menekannya.
"Haha! Jadi orang
sepertimu bisa salah tingkah juga ya, Minato."
"Siapa pun pasti
bakal begitu kalau ada di posisi itu. Aku begitu malu sampai-sampai rasanya
ingin mati saja, meski cuma sesaat."
"Ekstrem sekali. Tapi
hei, jangan sampai bunuh diri sungguhan, ya?"
"Tidak akan."
Aku memang sempat
berguling-guling di atas kasur saking malunya, tetapi mana mungkin aku
meninggalkan tumpukan koleksi bukuku begitu saja. Masih ada begitu banyak buku
yang belum sempat kubaca. Lagipula, alasan mati karena hal seperti itu
terdengar kelewat konyol.
Tetap saja, tindakan
Kazuki yang merahasiakan hal ini adalah masalah yang lebih besar. Mengingat
bagaimana reaksinya setiap kali aku mengungkit soal Saito, kemungkinan besar
dia sudah mengetahuinya sejak lama.
Keengganannya untuk
memberitahuku memperjelas betapa jahil dan liciknya kepribadiannya. Aku
melayangkan tatapan tajam penuh tuduhan ke arahnya.
"Kenapa kau tidak
mengatakan apa-apa?"
"Kenapa? Tentu saja
karena itu sangat lucu. Kau tidak bisa melihat situasi konyol seperti itu
setiap hari."
"Kau ini...
sialan."
Tanpa ada rasa bersalah
sedikit pun, dia menyeringai lebar sembari terkekeh pelan.
"Lagipula, ini
salahmu sendiri karena tidak peka, Minato. Sekalipun kau biasanya tidak
tertarik pada orang lain, setidaknya kau harus sadar kalau itu adalah orang
yang kau sukai."
"Yah..."
Aku kehabisan kata-kata
untuk mendebat. Ucapannya seratus persen benar. Kesalahan ini murni berada di
pihakku. Kurangnya minatku pada orang lain telah berujung pada kekacauan ini.
Rasanya sangat menjengkelkan, tetapi perkataan Kazuki memang tidak salah.
"Sejujurnya, berada
di dekatmu selalu menghadirkan hiburan tersendiri, Minato, tapi yang kali ini
adalah yang terbaik. Waktu mendengar kau begitu antusias curhat ke Hiiragi-san
tentang Saito, aku sampai tidak bisa berhenti tertawa."
"Mana ada orang yang
menyangka kalau mereka berdua adalah orang yang sama. Maksudku, dia kan
menyamar, dan nama keluarga mereka juga berbeda."
"Itu benar,"
Kazuki mengangguk paham. Jika nama keluarga mereka sama, aku mungkin sudah
menaruh curiga, tetapi dengan perbedaan nama itu, mustahil bagiku untuk
menghubungkan petunjuknya. Meski aku punya gambaran samar mengapa nama
belakangnya berbeda... itu mungkin salah satu alasan mengapa ia menyembunyikan
identitasnya.
"Lalu bagaimana kau
bisa tahu? Sejujurnya, aku tidak menyangka orang yang tidak peka sepertimu bisa
mengetahuinya."
"Aku tidak sebuta
itu, ya. Tidak sopan sekali."
Aku menganggap diriku
cukup peka dalam membaca perasaan orang lain.
"Iya deh, terserah
kau saja. Jadi, bagaimana caranya?"
"Cokelat yang dia
berikan padaku adalah jenis yang sama persis dengan yang dikatakan Hiiragi-san
akan ia buat untuk orang yang disukainya."
"Oh? Jenis apa?"
"Orangette dan
brownies cokelat yang penuh dengan buah-buahan kering."
"Wah, cukup rumit
juga ya. Iya sih, aneh sekali kalau hal serinci itu bisa sama persis secara
kebetulan."
"Tepat sekali. Hal
itu memicu kecurigaanku, lalu aku teringat nama depan Hiiragi-san. Saat itulah
semua potongan teka-tekinya menyatu."
"Kau ingat nama
depannya? Bukannya nama itu bahkan tidak tertulis di papan namanya?"
"Waktu dia
memperkenalkan diri padaku pertama kali dulu, aku sempat membatin, 'Eh, namanya
sama dengan Saito.' Hal itu sedikit membekas di ingatanku."
Biasanya aku tidak akan
mengingat hal semacam itu, tetapi karena dia adalah pembimbing pertamaku dan
namanya sama persis dengan siswi terkenal di sekolah, hal itu meninggalkan
kesan tersendiri.
"Paham. Masuk akal
juga. Jadi, sekarang kau sudah membongkar semuanya, ya?"
"Kenapa nada bicaramu
terdengar kecewa begitu?"
"Yah, soalnya situasi
lucunya jadi berakhir sekarang. Kalau tahu bakal selesai secepat ini, harusnya
kunikmati lebih banyak sebelum Valentine kemarin."
Dia mengerucutkan
bibirnya, tampak benar-benar merasa menyesal. Aku belum pernah melihatnya
sekecewa ini. Seberapa banyak hiburan yang sudah dia nikmati selama ini?
"Mana sudi aku
membiarkanmu bersenang-senang di atas penderitaanku lagi."
"Ayolah, jangan
begitu. Kau itu hiburan terbaik dalam hariku, tahu."
"Sana mengering saja
jadi mumi di suatu tempat."
Dia bisa mengering jadi
mumi saja sekalian, aku tidak peduli. Bukannya aku berniat menghibur Kazuki
sejak awal. Namun entah bagaimana caranya, dia selalu saja berhasil menggiring
situasi ke arah yang menghibur, dan hal itulah yang membuatnya sangat berbahaya.
"Jadi, sekarang
setelah kau tahu identitas asli Hiiragi-san, kau sudah memberitahunya, kan?
Bagaimana reaksinya?"
"Sebenarnya, aku
belum memberitahunya."
"Hah?"
"Awalnya aku cuma
ingin memastikan apakah itu benar-benar dia. Rencananya aku mau membicarakannya
setelah itu. Tapi begitu momennya tiba, aku tak tahan untuk tidak ingin
membalasnya sedikit atas semua waktu di mana dia menyembunyikan identitasnya dariku."
"...Oh?"
Sesaat, wajah Kazuki
sempat kosong, lalu bibirnya melengkung membentuk seringai lebar. Matanya
berkilat nakal, persis anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.
"Saito diam-diam
mendengarkan semua isi hatimu yang jujur, kan? Jadi kupikir aku ingin mencoba
mendengar isi hatinya juga untuk sekali ini. Waktu giliran kerja kami, aku
sengaja menyinggung soal Hari Valentine dan bertanya pada siapa dia memberikan cokelatnya."
"Haha, Minato,
apa-apaan yang kau lakukan itu?"
Kazuki tertawa
terbahak-bahak lebih keras dari yang pernah kulihat, bahunya berguncang hebat
saking senangnya. Air mata sampai
menggenang di sudut matanya dan ia berulang kali menyekanya. Tentu, aku tahu
tindakanku itu agak konyol, tapi apa benar-benar selucu itu?
"Tidak selucu itu
sampai harus tertawa begitu."
"Tidak, tidak,
tidak. Mana mungkin tidak lucu? Tepat saat kukira leluconnya sudah berakhir,
kau malah menciptakan materi baru yang segar. Jadi, bagaimana hasilnya? Kau
dapat pengakuan cinta yang Imut dari Saito-san?"
"Uh... yah,
kurang lebih begitu."
"Kenapa jawabanmu
menggantung begitu?"
Aku mengingat kembali
kejadian dua hari yang lalu saat aku mengorek perasaan Saito sebagai bentuk
pembalasan kecil. Sejujurnya, respons yang kuterima jauh melampaui
ekspektasiku.
Tadinya kuharap hanya
mendengar sesuatu yang menggelikan, tetapi sebaliknya, dia malah berakhir
mengungkapkan berbagai macam perasaan manis yang mendalam. Itu membuatku
bahagia, tetapi di saat yang sama juga luar biasa memalukan.
Pantas saja dia
terkadang bersikap begitu gugup.
Hal-hal yang ia
katakan memang memiliki dampak sebesar itu. Terutama ekspresi malu-malunya—itu sangat menggemaskan.
Mengingatnya kembali membuat wajahku memanas lagi, dan aku menghembuskan napas
perlahan untuk menenangkan diri.
"Sudahlah, tidak
penting. Pokoknya hasilnya lebih dari yang kuduga."
"Hmm."
"Apa?"
Aku melotot ke arah
tatapan penuh arti Kazuki, memaksanya bungkam. Instingnya yang tajam itu
sungguh menyebalkan.
"Kukira Saito-san
yang sedang bersenang-senang, tapi sekarang malah kau yang melakukan hal yang
sama. Kelihatannya kau sangat menikmatinya ya. Kau berencana untuk terus
pura-pura tidak tahu dan mengoreknya?"
"Aku masih
menimbangnya."
"Oho, sampai membuat
Minato sebimbang ini, pasti isi pengakuannya bagus sekali. Dia bilang apa
saja?"
"Mana mau kuberitahu
padamu."
"Ah, begitu ya. 'Isi
hati Saito yang sebenarnya cuma milikku seorang,' begitu ya?"
"Diamlah."
Aku mengabaikan godaan
Kazuki, tetapi sejujurnya, aku masih bingung kapan waktu yang tepat untuk
berterus terang. Aku sudah terlanjur melewatkan kesempatan terbaik demi
membalasnya tempo hari, jadi mencari momen sempurna yang lain tidaklah mudah.
Namun lebih dari itu, aku tak bisa menahan perasaan enggan untuk berhenti
menyaksikan reaksi-reaksinya yang salah tingkah.
"Yah, kalau kau masih
ragu, kenapa tidak diteruskan sedikit lebih lama lagi? Saito-san kan sudah
mendengarkanmu memujanya sekian lama. Sedikit pembalasan rasa-rasanya masih
adil."
"Begitukah?"
Aku merasa Kazuki sedang
berusaha menggiringku secara halus ke arah tertentu, tetapi memang benar aku
sempat berpikir untuk melanjutkannya sedikit lagi. Lagipula, melihat Saito
tersipu malu terasa sangat menyenangkan.
"Kenapa tidak
memanfaatkan White Day sebagai alasan? Kalau kau bertanya langsung
padanya, dia mungkin bakal mengelak, tapi kalau kau memancingnya secara halus,
kau mungkin bisa dapat jawaban yang lebih jujur."
"Itu... benar
juga."
Sejujurnya, aku memang
sedang pusing memikirkan hadiah balasan untuk Valentine nanti. Setelah menerima
bingkisan yang begitu rumit dan indah, sudah sepantasnya aku membalasnya dengan
sesuatu yang sama berharganya.
Namun, mengenal tabiat
Saito, dia kemungkinan besar akan menolaknya dengan dalih seperti "Aku
cuma memberikannya karena iseng saja, jadi tidak perlu repot-repot berterima
kasih." Iya, aku bisa membayangkan skenario itu terjadi dengan sangat
jelas.
"Baiklah. Aku akan
melanjutkannya sedikit lebih lama lagi."
"Pilihan yang
mantap."
Saat aku mengangguk,
Kazuki memamerkan senyuman puas yang merekah lebar.
***
Sepulang sekolah, aku
melangkah menuju rumah Saito seperti biasa. Meskipun kami sempat bertemu di
tempat kerja, saat itu pertemuannya murni dalam perannya sebagai Hiiragi-san.
Ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengannya sebagai Saito sejak aku membongkar
rahasianya. Aku bertanya-tanya apakah akan ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sejujurnya, aku sama sekali tidak tahu.
Ketika kutekan bel pintu,
wajahnya yang cantik dan terawat rapi seperti biasa pun muncul.
"Tanaka-kun, silakan
masuk."
"Ah, maaf
mengganggu."
Sejauh ini, semuanya
tampak normal. Aku melangkah mengikutinya di belakang, memandangi ayunan lembut
dari rambutnya yang diikat.
Begitu kami berada di
dalam kamarnya, aku duduk di sofa yang biasa sementara ia menyiapkan teh.
Kemudian, ia bergabung denganku, meletakkan cangkir teh ke atas meja.
"Ini tehnya."
"Terima kasih."
Aku berterima kasih
sembari menatap ke arah cangkir teh. Tampaknya Saito sama sekali tidak berniat
untuk bersikap berbeda. Untuk saat ini, hal itu cukup melegakan.
"Sekali lagi terima
kasih untuk cokelat tempo hari ya. Aku memang sudah mengirim pesan kemarin,
tapi rasanya benar-benar luar biasa lezat."
Aku yakin sudah sempat
menyampaikan betapa lezatnya cokelat itu, tetapi baru kepada Hiiragi-san. Aku
belum mengatakannya secara langsung kepada sosok Saito, jadi ini adalah hal
yang tetap perlu kulakukan.
...Situasi ini mulai
terasa membingungkan di kepalaku.
Saat ini keadaanku memang
cukup rumit. Aku harus bisa membedakan antara hal-hal yang kuketahui dari
peranku bersamanya sebagai Hiiragi-san dan hal-hal yang kuketahui bersamanya
sebagai Saito. Memikirkannya kembali, sungguh mengagumkan bagaimana ia bisa menjaga
semua rahasia ini tetap terpisah tanpa pernah keceplosan sedikit pun selama
ini.
"Syukurlah kalau kau
menyukainya. Aku juga cuma ingin menunjukkan rasa terima kasihku atas semua
bantuanmu selama ini."
"Bentuk dan detailnya
sangat rumit dan indah sekali. Pasti butuh banyak usaha untuk membuatnya."
"...Sama sekali
tidak. Aku cuma mengikuti resepnya, jadi sangat mudah."
"Begitu ya. Yah,
terima kasih banyak."
Saito merespons dengan
singkat. Meskipun ia mengklaim bahwa itu mudah, aku sudah tahu betul bahwa
pembuatannya pasti memakan waktu yang tidak sedikit.
Dia mungkin merasa malu
jika aku sampai tahu betapa besarnya usaha yang ia curahkan demi diriku. Dia
memang tidak pernah jujur soal perasaannya, tapi itulah sisi khas dari dirinya.
Aku tak bisa menahan senyum geli yang samar saat memikirkan hal itu.
"Apa kau sering
membuat makanan manis?"
"Tidak, jarang
sekali. Menyiapkan semua bahan-bahannya itu merepotkan, dan kalau memikirkan
biaya serta tenaganya, rasanya membeli jadi jauh lebih praktis. Jadi, aku
hampir tidak pernah membuatnya."
"Pola pikir yang
sangat praktis."
"Mana mau aku
repot-repot membuat sesuatu yang serumit itu hanya untuk diriku sendiri."
"...Begitu ya."
Dia mengucapkannya dengan
nada datar tanpa beban, tetapi tidakkah dia sadar bahwa secara tidak langsung
ia baru saja mengakui betapa besarnya usaha yang ia kerahkan khusus demi
diriku? Caranya melontarkan kalimat-kalimat semacam itu dengan begitu alami justru
membuatnya makin berbahaya bagi ketenangan hatiku.
"Ada sesuatu yang kau
inginkan sebagai hadiah balasan atas cokelat itu?"
"Itu kan hal yang
kuberikan atas keinginanku sendiri, jadi aku tidak butuh balasan apa pun."
Ah, jawabannya persis
seperti yang kubayangkan. Sangat tepat sasaran—sampai-sampai terasa
mengharukan.
"Ayolah, jangan
bicara begitu. Aku berencana memberimu sesuatu saat White Day nanti,
meski mungkin cuma beli di toko. Setelah semua usaha yang kau curahkan, aku
merasa tidak enak kalau tidak membalasnya."
"Kan sudah
kubilang itu bukan masalah besar..."
"Iya, iya, aku
paham."
"...Astaga."
Mungkin aku agak terlalu
mendesaknya, tetapi ia akhirnya mengalah dengan helaan napas pasrah. Menopang
dagu dengan tangannya, ia mulai berpikir.
"...Yah, coba
kupikir. Aku baru saja menyelesaikan buku pinjaman darimu, jadi bolehkah aku
meminjam seri lanjutannya?"
"Oh, buku itu. Tentu
saja boleh. Kali ini kau membacanya agak lama ya."
"Waktuku kan tersita
untuk menyiapkan cokelat kemarin..."
Ia menggumam sangat pelan
di balik napasnya, melirik ke arah lain. Suaranya begitu lirih dan samar,
tetapi aku mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ada hal lain
lagi?"
"Hal lain lagi...?
Oh, bagaimana dengan ini: sambil meminjam buku, aku ingin mencoba kotatsu
yang kau rekomendasikan tempo hari."
"Kotatsu?"
"Iya, dulu kau sempat
bercerita panjang lebar tentang betapa luar biasanya benda itu. Kau punya satu
di ruang tamumu, kan?"
"Eh, iya. Punya.
Tentu saja boleh, tapi... apa benar cuma itu saja yang kau inginkan?"
"Itu persis yang
kuinginkan. Maksudku, kalau kau menceritakannya dengan begitu berapi-api, mana
mungkin aku tidak penasaran?"
Matanya berbinar-binar,
dan ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Semakin dekat dirinya, semakin
semerbak aroma manis yang menguar darinya.
"Jadi, kau mau main
ke rumahku cuma demi mencoba kotatsu?"
"Iya. Waktu terakhir
kali berkunjung, aku terlalu sibuk meminjam buku dan membongkar rahasiamu
sampai tidak sempat mencobanya."
"Waktu itu kau memang
benar-benar mengorek semua rahasiaku ya."
"Tentu saja. Berkat
itu, aku jadi bisa melihat masa kecilmu yang kesepian secara langsung."
"Hei, jangan sebut
itu 'kesepian'!"
Mengabaikan protesku,
ia terkekeh pelan, bahunya berguncang geli. Caranya tersenyum begitu cerah
memperjelas betapa ia sangat menikmati momen ini. Yah, kalau dia bisa tertawa sebahagia ini, kurasa tidak
apa-apa.
"Jadi, bagaimana
kalau kita sepakati ajakan mencoba kotatsu ini sebagai hadiah terima
kasihku?"
"Yah, kalau memang
itu yang kau mau, aku sih tidak masalah."
Aku tidak yakin apakah ini
bisa dihitung sebagai hadiah balasan yang layak, tetapi jika Saito merasa puas
dengannya, aku tidak punya alasan untuk mengeluh. ...Tetap saja, dia agak
terlalu cepat menyetujui gagasan untuk berkunjung ke rumah seorang cowok, tetapi
mengingat dia sudah pernah mampir sebelumnya, rasanya sudah agak terlambat
untuk mencemaskan hal semacam itu.
"Hehe, aku sudah
tidak sabar ingin merasakan sensasi kotatsu yang kau rekomendasikan
itu."
"Itu cuma alat
pemanas biasa, tahu."
Antusiasmenya terasa agak
berlebihan, persis anak kecil di malam sebelum pergi berlibur ke taman hiburan.
Um, Saito? Kotatsu itu bukan wahana rekreasi.
"Yah, kuharap kau
bakal menyukai kotatsu nanti."
"Kudengar benda itu
adalah perangkat iblis yang membuat siapa pun tidak bisa melepaskan diri begitu
masuk ke dalamnya."
"Perangkat iblis,
ya... Yah, kau tidak sepenuhnya salah sih."
"Bagaimana kalau aku
nanti sampai terjebak di dalamnya juga?"
Saito bermalas-malasan di
dalam kotatsu? Ah, tidak. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan
pemandangan itu.
"Saito, kau tidak
perlu mengkhawatirkan skenario yang mustahil seperti itu."
"Kau tidak pernah
tahu. Kelihatanku memang seperti ini, tapi aku sebenarnya bisa sangat pemalas,
tahu."
"...Pemalas dalam hal
apa?"
Aku memiringkan kepalaku
tanpa berpikir. Jika orang seperti Saito saja dihitung pemalas, sebagian besar
manusia di bumi ini praktis sudah layak disebut kungkang.
"Um, aku merasa
mencuci piring itu merepotkan, jadi aku mencuci piring sarapan dan makan malam
sekaligus di malam hari."
"Itu hal yang
sangat lumrah bagi orang yang tinggal sendirian."
"Aku sering
memasak makanan sekaligus dalam porsi banyak untuk beberapa hari."
"Itu namanya efisien,
bukan malas."
"Aku cuma
membersihkan rumahku seminggu sekali."
"Tingkat kebersihanmu
masih jauh lebih tinggi daripada milikku."
"Um, selain
itu..."
Ia mengernyitkan alisnya,
memeras otaknya untuk mencari contoh lain. Sejujurnya, memulai pembelaan dengan
mencuci piring saja sudah terasa keliru sejak awal.
Setelah beberapa saat, ia
melontarkan erangan kecil, tampaknya sudah kehabisan ide.
"Menyerah sajalah.
Kalau kau saja dibilang pemalas, lalu aku ini apa?"
"Kau benar
juga..."
Mata Saito membelalak
seolah baru saja menyadari sesuatu yang besar. Hei, jangan langsung setuju
begitu dong—itu agak menyinggung perasaanku.
Meskipun aku sendiri yang
mengatakannya, mendengar orang lain membenarkannya terasa agak menjengkelkan.
Aku berdeham keras-keras untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pokoknya, aku paham
kalau kau ingin mencoba kotatsu. Kapan kau mau datang?"
"Aku ingin segera
membaca buku berikutnya, jadi secepat mungkin."
"Besok kalau
begitu?"
"Iya, besok.
Baiklah. Aku menantikan buku dan juga kotatsu-nya."
Maka dengan begitu,
diputuskan bahwa Saito akan kembali berkunjung ke rumahku.
***
Keesokan harinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membersihkan ruang tamu rumahku
menggunakan penyedot debu (vacuum cleaner). Suara deru mesinnya
terdengar nyaring selagi menyedot debu. Biasanya aku tidak akan terlalu peduli,
tetapi karena hari ini aku benar-benar memperhatikannya, kulihat lapisan debu
tipis mulai menumpuk di sudut-sudut ruangan. Aku memastikan untuk
membersihkannya sampai tuntas.
Rupanya, Saito sempat
mampir ke rumahnya dulu untuk menaruh barang-barangnya sebelum datang ke mari.
Ruang tamuku sebenarnya tidak berantakan, tetapi tetap butuh dibersihkan, jadi
jeda waktu ini sangat menguntungkanku. Begitu selesai merapikan area yang terlihat, aku menghela
napas panjang. Aku sudah merasa lelah hanya karena menyedot debu—kemungkinan
besar akibat tubuhku yang jarang berolahraga. ...Mungkin aku harus mulai
sedikit berolahraga.
"Fyuuh. Kurasa begini
saja sudah cukup."
Waktu Saito berkunjung
kemarin lusa, acaranya sangat mendadak, jadi aku tidak sempat berbenah. Namun
saat ada tamu yang hendak datang, sudah sepantasnya menjaga rumah tetap bersih.
Tepat saat aku selesai
menyimpan penyedot debu, bel pintu berbunyi. Kucek layar interkom untuk
memastikan—itu Saito. Aku lekas menuju pintu depan untuk menyambutnya.
"Hai, masuklah."
"Permisi."
Raut wajahnya terlihat
agak kaku saat melangkah masuk dengan bungkukan kecil.
"Kenapa kau tegang
sekali?"
"Tentu saja aku
gugup."
"Waktu datang kemarin
kau kelihatannya tidak gugup sama sekali."
"Itu karena waktu itu
aku bertindak berdasarkan dorongan sesaat. Pikiranku sedang dipenuhi hal lain
saat itu. Tapi setelah punya waktu seharian untuk memikirkannya, orang
sepertiku pun pasti bakal merasa gugup."
"Begitu ya. Yah, kau
tidak perlu mencemaskannya."
Kubimbing ia menuju ruang
tamu.
"Oh, itu kotatsu-nya!"
Begitu melangkah masuk ke
dalam ruangan, matanya langsung berbinar menatap keberadaan meja kotatsu.
"Iya, pemanasnya
sudah kunyalakan dari tadi. Silakan pakai."
"Baiklah."
Ia mengangguk kecil,
menelan ludah, lalu perlahan menyelipkan kakinya ke bawah selimut kotatsu.
Gumaman pelan, "Hangat sekali..." meluncur dari bibirnya. Saat ia
menyamankan posisi duduknya, ekspresi wajahnya seketika mencair menjadi
senyuman lembut.
"Bagaimana
rasanya?"
"Luar biasa nyaman. Terasa begitu hangat
dan menenteramkan."
Kedua pipinya yang
pucat karena dinginnya udara luar perlahan berubah menjadi warna merah muda
yang Imut. Matanya yang rileks dan tampak sedikit sayu memberinya tampilan yang
sangat menggemaskan, dan bahkan nada bicaranya kini terdengar agak manja dan
santai.
"Kelihatannya kau
sangat menyukainya, ya."
"Iya, aku paham
sekarang kenapa orang-orang menyebutnya sebagai perangkat iblis."
Ia bergumam sembari
menyandarkan dagunya di atas meja. Jarang sekali melihatnya bisa serileks ini.
"Oh, ini..."
"Buku yang
kujanjikan kemarin. Jilid berikutnya dan jilid setelahnya lagi."
Tampaknya ia begitu
terpesona oleh kotatsu hingga baru menyadari keberadaan buku-buku di
atas meja. Menarik tangannya keluar dari kehangatan selimut kotatsu, ia
mengambil buku-buku itu dan matanya seketika berbinar penuh semangat.
"Terima kasih."
"Beri tahu saja kalau
sudah selesai membacanya. Aku bisa meminjamkan jilid-jilid berikutnya kapan
saja."
"Kau yakin? Aku
mungkin bakal menyelesaikannya dengan sangat cepat karena ceritanya begitu
menarik."
"Dulu aku juga
meminjam buku darimu setiap hari, jadi itu bukan hal baru."
"Benar juga. Kalau
begitu, terima kasih banyak."
Saito menundukkan
kepalanya dengan sopan, lalu seketika mulai membaca buku-buku pinjamannya itu.
Saat ia membalik beberapa halaman awal, seluruh perhatiannya langsung terserap
seutuhnya. Duduk di seberangnya, aku memperhatikannya yang mulai larut ke dalam
dunia buku.
Untuk beberapa saat, kami
berdua membaca dalam keheningan yang tenang. Lama-kelamaan, kakiku mulai terasa
kesemutan. Saat aku membetulkan posisi dudukku, menarik kakiku yang tadinya
kuluruskan, ujung jemari kakiku tanpa sengaja menyenggol sesuatu.
"Kyaa!"
Pekikan kaget yang
melengking tiba-tiba meluncur keluar.
"Eh? Saito?"
Saat kupanggil namanya, ia
buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan tangan seolah baru saja menyadari
bahwa ia telah keceplosan.
"Kau mengagetkanku
menyentuh kakiku tiba-tiba begitu!"
"M-maaf."
Saito melotot ke arahku,
pipinya dihiasi semburat merah tipis. Itu murni kecelakaan, tetapi aku tetap
menundukkan kepalaku untuk meminta maaf. Kulihat ia menarik kakinya mundur di
bawah meja.
"Aku terlalu fokus
pada buku sampai tidak sadar kalau kakiku sudah kesemutan parah."
"Iya, kalau duduk
diam meluruskan kaki di dalam kotatsu memang sering bikin begitu."
Mengingat dia kemungkinan
besar sama sekali tidak menggerakkan kakinya selama membaca tadi, kesemutannya
pasti terasa cukup parah. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit dan bergumam,
"Harusnya kau memperingatkanku lebih awal," sembari memijat kakinya
di bawah meja.
"Maaf, maaf. Aku
tidak menyangka kau bakal selarut itu membaca bukunya."
"Jangan-jangan
membuat kakiku kesemutan dan memancingku mengeluarkan suara aneh tadi itu
bagian dari rencanamu ya? Kau jahat sekali."
"Apa? Itu fitnah yang
keji!"
Rencana macam apa yang
aneh seperti itu? Mana mungkin aku melakukan hal sekonyol itu.
Tentu saja dia tidak
bermaksud menuduhku dengan serius. Ia lekas menyambungnya dengan kalimat,
"Cuma bercanda," lalu akhirnya berhenti memijat kakinya.
"Ah, akhirnya
baikan juga."
"Syukurlah kalau
begitu."
Saito kembali meluruskan
kakinya dan menyelipkannya kembali ke dalam kotatsu.
"Ngomong-ngomong, mau minum sesuatu?"
Teh yang kami minum tadi sudah hampir habis,
jadi sepertinya ini waktu yang tepat untuk menggantinya.
"Ada teh hijau, teh panggang (hojicha),
kopi, dan cokelat panas (cocoa)."
"Aku mau cokelat
panas."
"Siap."
Aku sudah menduganya,
mengingat seleranya yang menyukai makanan manis. Aku beranjak keluar dari kotatsu
dan melangkah menuju dapur.
Ketika aku kembali membawa
cangkir berisi cokelat panas, Saito mengangkat pandangannya dari buku.
"Terima kasih."
"Kubuat suhunya
hangat kuku supaya bisa langsung kau minum."
"...Kau
benar-benar sangat mengenalku ya."
"Aku tahu lidahmu
sensitif terhadap panas."
Sudah berapa kali kami
minum teh bersama sampai sekarang? Tentu saja aku pasti menyadarinya. Aku
bahkan pernah mengungkitnya sekali dulu, meski waktu itu dia menolak
mengakuinya secara terang-terangan.
Saito menerima cangkir
tersebut lalu menyesapnya sedikit.
"Ah, nikmat sekali.
Minum cokelat panas di dalam kotatsu memang yang terbaik."
"Seenak itu ya?"
"Iya, rasanya
menghangatkan seluruh tubuhku."
Wajahnya berseri-seri
selagi ia minum, senyumannya memancarkan kebahagiaan murni. Melihatnya seperti
itu membuatku ikut tersenyum. Jika secangkir cokelat panas dan sebuah kotatsu
bisa memunculkan kebahagiaan sebesar itu, maka semuanya terasa sangat sepadan.
"Ini sudah mulai
cukup larut. Kau yakin tidak apa-apa masih di sini?"
"Hmm... sebentar lagi
saja."
Saito meringkuk makin
dalam ke dalam kotatsu, jelas-jelas enggan beranjak pergi. Dia pasti
benar-benar sudah jatuh cinta pada benda ini. Jam dinding sudah mendekati pukul
delapan malam, jadi rasanya dia memang harus segera pulang, tetapi jika ia
ingin tinggal sedikit lebih lama lagi, aku tidak akan melarangnya.
"Baiklah, satu jam
lagi ya."
"...Iya."
Ia sedikit merapatkan
bibirnya, tampak agak enggan tetapi tetap menyetujuinya dengan anggukan kecil.
Ucapannya soal kotatsu sebagai perangkat iblis ternyata memang bukan
bualan belaka. Meliriknya yang menghela napas nyaman, aku kembali memusatkan
perhatian pada bukuku.
Sembari membaca, aku
menyesap cokelat panasku sendiri. Beberapa halaman kemudian, kusadari tubuhku
terasa begitu hangat dan rileks, kemungkinan besar berkat perpaduan antara
cokelat panas dan pemanas kotatsu. Tubuhku terasa nyaman dari dalam ke
luar. Persis seperti yang dikatakan Saito—sangat menenteramkan dan nikmat. Aku
bisa memahami kenapa ia tampak begitu nyaman.
(...Aku mulai merasa
mengantuk.)
Atmosfer yang nyaman dan
hangat ini membuat kelopak mataku terasa makin berat. Ditambah lagi semalam aku
kurang tidur gara-gara merasa gugup memikirkan Saito yang akan berkunjung, yang
kini makin menambah rasa kantukku. Tidur siang sebentar tidak ada salahnya,
kan? Tanpa kusadari, mataku pun terpejam.
***
"...?"
Ketika membuka mata, aku
disambut oleh terangnya pendar lampu neon di langit-langit. Aku menyipitkan
mata menahan silau, baru tersadar bahwa aku sempat tertidur dengan posisi
bersandar di atas meja. Sebuah buku masih tergeletak terbuka di tanganku, tepat
di halaman terakhir yang kubaca. Ini bukan pertama kalinya aku tertidur pulas
seperti ini.
Saat mengangkat kepalaku
yang terasa berat, pandanganku tertuju pada sebuah pemandangan yang seketika
membuatku terjaga sepenuhnya.
(S-Saito!?)
Tepat di hadapanku, Saito
sedang tertidur lelap, dengan lengannya yang dijadikan sebagai bantal. Wajah
cantiknya tampak begitu rileks, hembusan napasnya terdengar lembut dan teratur,
bahunya naik turun perlahan di setiap tarikan napas.
Panik bukan main,
kuulurkan tanganku berniat membangunkannya, tetapi tanganku mendadak mematung
di udara. Sekarang jam berapa? Melirik ke arah jam dinding, kulihat waktu sudah
lewat pukul satu dini hari. ...Yang benar saja.
Apa yang harus kulakukan
sekarang? Membangunkannya lalu menyuruhnya pulang selarut ini rasanya sangat
tidak pantas.
Aku memang bisa menawarkan
diri untuk mengantarnya pulang, tetapi mengusik tidurnya yang begitu lelap dan
damai rasanya tidak tega. Membiarkannya tidur di sini sampai pagi mungkin
adalah pilihan yang lebih baik pada titik ini.
Namun membiarkan Saito
menginap di rumahku berarti mustahil bagiku untuk tetap tenang. Menginap
bersama orang yang kau sukai—acara macam apa ini sebenarnya? Andai saja tadi
aku ikut tidur pulas sampai pagi bersama dengannya.
Meskipun tahu mengharapkan
hal itu tidak ada gunanya, aku tak tahan untuk tidak mengeluh dalam hati.
Serius deh, apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini?
"Hah..."
Aku menghela napas
perlahan dan tanpa suara, berhati-hati agar tidak sampai membangunkannya.
Bagaimana bisa dia tidur senyenyak itu? Melihatnya tertidur dengan begitu damai
membuatku merasa sedikit iri. Di sini aku sendirian yang panik memikirkan
segalanya.
Menopang dagu dengan
tangan, kupandangi wajah tidurnya. Ekspresi tegang dan dingin yang biasanya
selalu ia pasang kini lenyap tak berbekas, berganti dengan raut wajah yang
begitu tenang dan santai.
Dengan deru napasnya yang
lembut, ia terlihat sedikit lebih polos dan kekanak-kanakan. Aku memang sudah
melihat wajahnya tak terhitung kali sebelumnya, tetapi menyaksikannya tertidur
pulas seperti ini adalah pengalaman yang sangat baru. Ini bukan pemandangan
yang bisa kulihat setiap hari, jadi aku tak tahan untuk tidak mengamatinya
lekat-lekat.
(Dia benar-benar sangat
cantik...)
Kulitnya yang putih mulus
tanpa cela, bulu matanya yang lentik, dan bibirnya yang tampak segar merekah
layaknya buah—sungguh tidak adil betapa memukaunya sosok ini, bahkan saat
sedang tertidur sekalipun. Melihatnya tampak begitu bahagia dan damai, aku merasa
tidak tega untuk membangunkannya.
Memutuskan untuk mengambil
selimut agar dia tidak masuk angin, aku bangkit berdiri. Melangkah seperlahan
mungkin tanpa menimbulkan suara, aku naik ke lantai atas dan kembali membawa
selembar selimut tebal.
Saito masih tertidur lelap
tanpa bergerak sedikit pun. Saat kusampirkan selimut itu di atas pundaknya,
sudut bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman lembut, dan ia
menggeliatkan tubuhnya sedikit. Seuntai rambut hitamnya jatuh melintasi
wajahnya.
(Serius deh...
bisa-bisanya tidur senyenyak itu.)
Perlahan kusingkirkan
helaian rambut itu dari wajahnya. Tepat saat kulakukan itu, tanpa sadar ia
menggesekkan pipinya ke ujung jariku.
"...!"
Aku menahan napasku
seketika, kaget bukan main. Jangan bergerak mendadak seperti itu—ini sangat
buruk untuk kesehatan jantungku. Aku bisa merasakan dengan sangat jelas
jantungku yang berdentum keras di dalam dada.
Mematung kaku di
tempatnya, aku tetap diam tak bergerak selagi ia menggesekkan pipinya ke jariku
beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Jariku masih menempel di permukaan
kulitnya yang lembut. Bertindak berdasarkan dorongan sesaat, kutekan jariku
perlahan ke pipinya.
(L-lembut sekali...)
Teksturnya luar biasa
kenyal dan lembut, persis kue moci yang empuk. Tanpa berpikir panjang, kucolek
pipinya berulang kali. Setiap kali kucentuh, tubuhnya menggeliat kecil seolah
merasa geli, yang menurutku terasa sangat menggelikan.
Aku menghentikan
perbuatanku saat menyadari ia mungkin saja bisa terbangun. Beruntung, ia sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Malahan, ia tampak tenggelam
ke dalam tidur yang jauh lebih lelap. Bagaimana bisa seseorang tidur tanpa
kewaspadaan sebesar ini di rumah orang lain?
Sekarang, apa yang harus
kulakukan? Aku bisa saja pergi tidur di kamarku di lantai atas, tetapi aku
tidak yakin bakal bisa tidur nyenyak mengetahui dia sedang berada di sini.
Bukannya aku berniat melakukan hal yang tidak-tidak, tentu saja.
Aku menghela napas panjang
dan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku. Membaca adalah
pengalih perhatian yang sempurna, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Setelah
semua kepanikan yang ia buat malam ini, aku berencana untuk menikmati reaksinya
saat ia bangun nanti. Aku sangat penasaran melihat bagaimana tanggapannya.
Berganti mengenakan
pakaian tidurku, aku duduk menyamankan diri di dalam kotatsu dengan
sebuah buku di tangan. Suasana ruangan yang hening terasa begitu damai, hanya
diselingi oleh suara lembaran halaman yang dibalikkan.
Biasanya aku akan
tenggelam seutuhnya ke dalam dunia cerita, tetapi malam ini terasa sangat
berbeda. Setiap beberapa halaman sekali, aku mendapati diriku melirik ke arah
Saito untuk mengecek keadaannya. Bukannya aku mengharapkan ada sesuatu yang
berubah, tetapi aku tak bisa menahannya.
Pasangan kekasih kabarnya
sering menghabiskan malam bersama seperti ini. Dari sudut pandangku saat ini,
hal itu terasa sangat tidak masuk akal. Apa mereka sudah gila? Aku
bertanya-tanya apakah aku akan pernah bisa terbiasa dengan situasi semacam ini.
"..."
Saito bergerak sedikit,
suara gesekan kain selimut seketika menarik perhatianku. Reaksiku langsung
sigap. Melihat kondisiku yang seperti ini, tampaknya mustahil aku bisa terbiasa
dalam waktu dekat.
Kalau dipikir-pikir lagi,
satu-satunya perbedaan hanyalah kenyataan bahwa Saito sedang tertidur. Selain
itu, situasi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari waktu-waktu yang kami
habiskan berdua di rumahnya. Aku sudah sangat terbiasa berduaan saja dengannya.
Namun tetap saja, hanya
mendengar kata "menginap" saja sudah membuatku luar biasa gugup. Ada
sesuatu yang tak terbantahkan terasa istimewa, bahkan hampir terasa terlarang
di dalamnya. Tolonglah, tenanglah wahai jantung. Pada akhirnya, aku
tidak bisa berkonsentrasi penuh, dan malam pun berlalu dengan sangat lambat.
***
Ketika jarum jam dinding
telah berputar beberapa putaran penuh, ruangan perlahan mulai terang secara
samar. Cahaya fajar menyusup masuk melalui celah tirai, perlahan mengusir
kegelapan malam.
(Akhirnya pagi juga.)
Aku menghembuskan napas
lega yang dalam. Entah bagaimana caranya, aku berhasil melewati malam ini.
Meskipun tadi sempat tertidur sebentar, terjaga sejak tengah malam membuat
tubuhku terasa sangat lelah. Waktu masih menunjukkan pukul enam lewat sedikit,
jadi masih ada waktu sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin aku bisa tidur
sebentar sebelum pergi. Penasaran apakah Saito akan segera bangun.
Menutup buku yang
bacaannya tidak banyak bertambah itu, kulirik sosok Saito. Dia sama sekali
tidak terbangun sekali pun sepanjang malam—tidurnya luar biasa lelap. Ke mana
perginya kewaspadaannya yang biasa?
Sudah waktunya
membangunkannya. Namun sebelum itu, kuulurkan tanganku dan kembali mencolek
pipinya perlahan. Lembut. Dia masih belum bangun. Menjadi lebih berani, kucubit
pipinya dengan lembut. Kelembutannya yang tak terlukiskan ini hampir terasa
membuat ketagihan. Kuremas perlahan beberapa kali lagi, tetapi dia tetap
bergeming tanpa bergerak.
(Bagaimana bisa dia masih tertidur pulas
begini?)
Pasrah, kuguncang pelan
pundaknya.
"Hei, Saito.
Bangun."
"...Mmm."
Ia akhirnya mulai
bergerak, melontarkan erangan kecil yang linglung. Perlahan-lahan ia mengucek
matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.
"Eh?
Tanaka-kun?"
"Pagi, Saito."
"Selamat
pagi..."
Ia menguap kecil,
menyipitkan matanya yang masih mengantuk. Dia jelas masih setengah sadar.
"Eh? Kenapa
kau...?"
Ia melirik ke kanannya,
lalu ke kirinya. Begitu kesadaran kembali sepenuhnya ke matanya, ia mulai
menyadari situasinya saat ini.
"T-tunggu, mana
mungkin..." gumamnya, kedua pipinya perlahan berubah menjadi merah padam.
"Tidurmu nyenyak
sekali ya. Kau tertidur pulas sekali, jadi kubiarkan saja kau tidur."
"K-kenapa...?"
Telinganya memerah menyala
saat pandangannya bergerak panik ke sana kemari. Ekspresi wajahnya saat ini
sungguh tak ternilai harganya.
Setelah semua kepanikan
yang harus kutanggung semalaman, inilah momen yang sedari tadi kunantikan.
"B-berapa lama aku
tertidur?"
"Entahlah. Aku tadi
juga sempat tertidur. Waktu aku bangun, kau sudah tertidur pulas. Kemungkinan
besar dari sekitar jam satu dini hari."
"Aku tertidur selama
itu...?"
Saito membenamkan wajahnya
ke dalam kedua telapak tangannya, mengerang panjang mengeluarkan campuran suara
"Aaaah" dan "Uggghhh". Setelah beberapa saat, ia akhirnya
mengangkat kepalanya.
"Um... maafkan aku
karena tertidur pulas seperti itu."
"Tidak apa-apa. Aku
sendiri yang membiarkanmu tidur."
"Kau tidak...
sempat melihat wajah tidurku, kan?"
"Tentu saja
kulihat—terpampang sangat jelas di depan mataku."
"Mana mungkin... aku
sama sekali tidak sadar."
"Itu karena kau
sedang tidur lelap."
Tampaknya dia memang
benar-benar mati rasa dalam tidurnya tadi, karena dia sama sekali tidak
menyadari kejahilan kecilku yang tidak berbahaya itu.
Merasa malu setengah mati
membayangkan aku melihat wajah tidurnya, pipinya merona merah tua. Tiba-tiba
ekspresi wajahnya menegang kaku seolah baru saja menyadari sesuatu yang gawat.
"T-tunggu... Kau
tidak... berbuat macam-macam padaku waktu aku tidur, kan?"
"K-kenapa juga aku
harus melakukan hal semacam itu?!"
Tuduhan keterlaluan macam
apa itu? Dia pikir aku ini cowok macam apa? Kalau mau adil, dia seharusnya
berterima kasih padaku karena sudah membiarkannya tidur dengan begitu damai.
Tentu, aku memang sempat mencolek pipinya sedikit, tapi itu hampir tidak bisa
dihitung sebagai pelanggaran.
"B-benar juga ya...
maaf."
"Tolonglah, jangan
menuduh sembarangan. Aku tidak menyentuhmu dengan niat aneh sama sekali."
"Baiklah... maaf
sudah meragukanmu."
Ia menghela napas panjang,
akhirnya berhasil mendapatkan kembali sedikit ketenangannya. Rona merah di
pipinya sebagian besar sudah mulai memudar.
"Lagipula ini hari
sekolah, jadi bagaimana kalau kau pulang ke rumahmu dulu sekarang? Kau tidak mungkin
berangkat langsung ke sekolah dengan pakaian seperti ini, kan?"
"Ide bagus.
Sekarang jam enam pagi, jadi kalau berangkat sekarang, aku seharusnya sempat
bersiap-siap."
"Mau kuantar
pulang?"
"Tidak usah, di
luar sudah cukup terang, dan kau juga harus bersiap-siap, kan?"
"Yah, iya juga
sih."
"Kalau begitu aku
tidak apa-apa sendiri. Lagipula, aku... butuh sedikit waktu untuk diriku
sendiri."
"B-baiklah."
Di luar dia memang
tampak berusaha bersikap tenang, tetapi terlihat jelas bahwa isi kepalanya
masih dipenuhi gejolak emosi yang berputar-putar. Saito lekas bangkit berdiri,
mengenakan mantelnya, dan merapikan barang-barangnya. Saat ia melangkah menuju pintu depan, aku mengikutinya
dari belakang.
"Terima kasih untuk
semuanya—kotatsu-nya, buku-bukunya, selimutnya, dan semuanya."
"Jangan dipikirkan.
Tidurmu nyenyak?"
"Um... lumayan."
"Syukurlah kalau
begitu."
"Asal kau tahu ya,
ini cuma terjadi sekali ini saja. Aku biasanya tidak pernah menginap di rumah
cowok."
"Iya, aku
paham."
"Aku serius!"
Ia mendongak menatapku
dengan sungguh-sungguh, matanya memohon agar aku memercayainya. Aku sama sekali
tidak meragukannya sedetik pun—sikapnya sehari-hari tidak menyisakan ruang
untuk rasa curiga. Lagipula, Saito pada dasarnya memang tidak punya kesempatan
untuk menginap di rumah laki-laki sejak awal.
"Aku benar-benar
paham. Kau tahu kan sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama?"
"Baiklah... asalkan
kau paham."
Merasa puas, ia melangkah
mundur, mengenakan sepatunya, lalu berdiri tegak.
"Sekali lagi terima
kasih untuk semuanya."
"Sama-sama.
Kapan-kapan ayo kita lakukan lagi—tanpa bagian ketiduran sampai paginya
ya."
"A-aku tidak akan
menginap lagi!"
Dengan begitu, ia
melangkah keluar meninggalkan rumah dengan langkah yang jelas-jelas terlihat
sangat salah tingkah. Aku tak tahan untuk tidak menggodanya hingga detik-detik
terakhir. Kupandangi punggungnya yang menjauh hingga sosoknya menghilang dari
pandangan, Sisa-sisa rasa malunya seakan masih tertinggal di udara.
***
Tiga hari telah berlalu
sejak peristiwa tak terduga ketika Saito menginap di rumahku. Sehari setelah
kami berpisah pagi itu, sikapnya terasa agak aneh, terlihat sangat canggung dan
mencurigakan, tetapi sejak kemarin, ingatannya tentang kejadian itu tampaknya
sudah mulai memudar dan ia telah kembali ke sikapnya yang biasa.
Dia jelas-jelas sangat
menikmati kotatsu itu dan sekarang sedang mempertimbangkan untuk membeli
satu untuk dirinya sendiri. Ketika kusinggung bahwa musim dingin sudah hampir
berakhir, ia menjawab dengan penuh semangat, "Akan kumanfaatkan
sebaik-baiknya tahun depan nanti."
"Terima kasih atas
kerja kerasnya hari ini, Tanaka-san."
"Terima kasih juga
untukmu, Hiiragi-san."
Kedai sedang dalam proses
tutup untuk hari ini ketika Hiiragi-san membuka percakapan. Poni tebal dan
kacamata bulatnya seperti biasa menjadi bagian dari penyamaran rendah profilnya
yang sempurna.
"Jadi, bagaimana
kabarmu? Apa kau dan temanmu itu sempat melakukan sesuatu yang menarik
belakangan ini?"
Pertanyaan yang mendadak
itu sempat membuatku terperangah. Apa yang sebenarnya sedang ia incar?
"Menarik? Yah, kurasa
memang sempat terjadi sesuatu..."
"Oh? Apa itu?"
"Dia sempat menginap
di rumahku."
"Dia menginap di
rumahmu?"
Reaksinya terlihat terlalu
dibuat-buat. Dia memasang wajah kaget, padahal aku tahu betul dia sudah tahu
segalanya. Menilai dari gelagatnya, sudah sangat jelas dia mengangkat topik ini
hanya demi mengorek apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Jika dia sebegitu
penasarannya, kuputuskan untuk menceritakan semuanya saja padanya.
"Iya, itu benar-benar
sebuah kejutan. Dia tertidur sangat
lelap dan ekspresinya terlihat begitu damai. Wajah tidurnya terpampang sangat
jelas tepat di depan mataku."
"Wajah
tidurnya...?"
Ia menggeliat canggung
sedikit, tampak merasa sangat malu. Kelihatannya dia memang sengaja ingin
mengunci rapat-rapat memori malam itu dan belum berani mengungkitnya langsung
denganku sampai sekarang. Sebagai gantinya, dia memancing informasi lewat cara seperti
ini. Jika dia sebegitu ingin tahunya, dengan senang hati akan kubagi.
"Dia tidak
memasang wajah yang aneh-aneh saat tidur, kan?"
"Tidak, sama
sekali tidak. Sejujurnya, aku sampai kagum melihat betapa cantiknya wajah
tidurnya. Dia bahkan mengeluarkan
hembusan napas kecil yang sangat menggemaskan saat tidur."
"B-begitu ya..."
Ia menggumam lirih, nada
suaranya melengking tinggi saat ia menyembunyikan wajahnya di balik helaian
rambutnya. Jelas sekali kata-kataku barusan mengenai sasaran dengan telak.
Persis seperti yang kupikirkan sebelumnya, membuatnya salah tingkah ternyata sangat
menyenangkan. Aku tak tahan untuk terus melanjutkannya.
"Dia tidur begitu
nyenyak sampai-sampai aku tidak tega membangunkannya, jadi kubiarkan saja dia
tidur sampai pagi."
"Begitu ya."
"Aku akui, sebagian
diriku memang sengaja ingin melihat bagaimana reaksinya saat bangun
nanti."
Reaksinya saat itu
benar-benar melampaui dugaanku. Caranya panik dan gelagapan adalah pemandangan
yang sangat langka. Hiiragi-san menggumamkan, "Sudah kuduga..."
sangat pelan di balik napasnya.
"Lalu, bagaimana
reaksinya waktu bangun?"
"Awalnya dia masih
setengah sadar dan belum paham apa yang sedang terjadi."
"Itu masuk akal.
Siapa pun tidak akan langsung sadar kalau mereka ketiduran sampai pagi di rumah
orang lain."
"Tapi begitu dia
sadar, dia panik luar biasa yang belum pernah kulihat sebelumnya seumur
hidupku."
"Separah itu?"
"Oh, jelas sekali.
Seluruh wajahnya memerah padam, dan dia terus menutupi wajahnya dengan kedua
tangan sembari mengerang malu. Itu pertama kalinya aku melihatnya sekelabakan
itu."
"Yah, siapa pun pasti
bakal panik kalau ada di situasi itu. Kenapa kau tega membuatnya melalui hal
memalukan seperti itu?"
"Soalnya reaksinya
sangat menggemaskan. Jarang sekali melihatnya seperti itu, jadi aku tidak bisa
menahan diri."
"...Kurasa aku tidak
bisa menyalahkanmu untuk hal itu."
Meskipun raut wajahnya
terlihat ingin melayangkan protes, ia lekas menyerah. Tampaknya dia sudah
memaafkanku.
"Tadinya aku cuma
mengharapkan reaksi kecil, tapi tidak kusangka dia bakal merasa semalu itu—apa
orang-orang memang bisa tersipu sampai seheboh itu ya?"
"Tentu saja. Menginap
di rumah orang yang kau sukai, terlebih lagi sebelum kalian resmi berpacaran,
adalah hal yang sangat memalukan dan tidak pantas. Siapa pun pasti bakal
merasakan hal yang sama."
Ia menghela napas panjang
dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kemungkinan besar sedang mengingat
kembali peristiwa memalukan itu di kepalanya.
"Belum lagi wajah
tidurnya sampai terlihat juga..."
"Menurutku itu tidak
masalah sama sekali. Wajah tidurnya terlihat begitu polos tanpa pertahanan dan
sangat menggemaskan."
"Itu masalah besar.
Aku ingin orang yang kusukai melihatku dalam penampilan terbaikku."
Tatapannya yang
sungguh-sungguh menusuk tepat ke arahku, tekadnya yang kuat berkilat nyata di
balik lensa kacamatanya. Hawa panas seketika menyergap wajahku.
"B-begitu ya..."
Bersusah payah merangkai
jawaban, aku berharap dia bisa sedikit mengurangi intensitas ucapannya.
Ketulusan perasaannya begitu kuat sampai-sampai mendengarkannya saja sudah
membuatku merasa sangat malu.
"Kau melihat wajah
tidurnya, kan?"
"Iya, dia
tertidur sangat lelap."
"Kau tidak merasa
tergoda untuk, kau tahu, menjahilinya sedikit?"
"Tentu saja tidak.
Aku tidak melakukan apa-apa."
Kenyataannya, aku memang
sempat mencolek dan mencubit pipinya berulang kali, tetapi mana mungkin aku
mengakuinya sekarang. Aku yakin Saito pun tidak akan sudi mendengarnya.
Setidaknya begitulah dugaanku.
"...Begitu ya."
Suaranya terdengar sedikit
diwarnai rasa kecewa.
"Um, apa seharusnya
aku melakukan sesuatu waktu itu?"
"T-tidak,
pengendalian dirimu sangat patut diacungi jempol. Itu adalah tindakan yang sangat tepat. Tapi..."
"Tapi?"
"Secara pribadi...
aku sebenarnya tidak keberatan kalau kau melakukan sesuatu. Sedikit saja."
"Apa?"
Apa yang baru saja ia
katakan? Itu jawaban yang sama sekali di luar dugaanku.
"C-cuma sedikit saja.
Berada begitu dekat dan membiarkan diriku begitu lengah tanpa pertahanan, tapi
tidak terjadi apa-apa sama sekali... itu membuatku bertanya-tanya apakah aku
ini kurang menarik sebagai seorang perempuan."
"A... aku
paham."
"Pokoknya, itu cuma
perasaan rumit khas anak perempuan saja."
Aku tidak yakin apakah aku
memahaminya secara utuh, tetapi ekspresi wajahnya yang tampak agak mendung
membuatku terdorong untuk menghiburnya. Menggaruk pipiku, kuputuskan untuk
berterus terang.
"Sebenarnya, aku agak
malu untuk mengakuinya, tapi aku memang sempat menjahilinya sedikit."
"Benarkah?"
"Iya, kupikir pipinya
kelihatan sangat kenyal dan empuk, jadi kucolek dan kucubit beberapa
kali."
"Kau benar-benar
melakukan hal itu?"
"Iya. Awalnya cuma
mau sekali saja, tapi teksturnya begitu lembut sampai-sampai aku tidak bisa
berhenti."
Pipinya memiliki
kelembutan adiktif yang sampai sekarang masih belum bisa kulupakan. Bahkan
sekarang pun, aku merasa tergoda untuk menyentuhnya lagi.
Hiiragi-san mengerjapkan
matanya beberapa kali, lalu tersenyum tipis.
"Fufu, jadi kau
memainkan pipinya ya. Kau pasti benar-benar sangat menyukainya kalau sampai
tidak bisa berhenti begitu."
Aku tidak tahu kenapa
pengakuanku barusan bisa membuatnya merasa sebahagia itu, tetapi melihat
senyumannya kembali merekah menghadirkan rasa lega di hatiku. Meski begitu, aku
tak bisa menepis sekelumit rasa sesal karena sudah berbicara terlalu banyak.
(Yah, sudahlah, tidak
apa-apa.)
Melihatnya membusungkan
dadanya dengan bangga, aku tak bisa menahan senyum kecut yang terukir di
bibirku.


Post a Comment