-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Ore wa Shiranai Uchi ni Gakkouichi no Bishoujo wo Kudoiteita Rashii Volume 3 Chapter 4

 Chapter 4

Titik Temu Tiga Kehidupan


Sudut Pandang Ichinose

Sepulang sekolah, sesi wali kelas berakhir, dan teman-teman sekelas mulai berhamburan keluar. Sama seperti yang lain, aku merapikan barang-barangku lalu melangkah menuju deretan kursi di dekat jendela.

"Ayo, Minato. Kita berangkat bareng!"

Akhirnya tiba juga hari di mana aku bisa mengobrol dengan Saito-san. Aku sudah sangat menantikan momen ini sejak lama. Meski sudah sering mendengar berbagai rumor tentangnya, aku tidak terlalu mengenalnya secara pribadi. Tetap saja, kalau orang seperti Minato—yang biasanya cuma peduli pada buku—bisa menyukainya, mana mungkin aku tidak penasaran. Ditambah lagi hubungan mereka terasa agak unik, yang justru membuat rasa penasaranku makin menggebu-gebu. Saking bersemangatnya, aku memukul punggung Minato beberapa kali. Dia berbalik, meringis kesal ke arahku.

"Hentikan. Memangnya seberapa bersemangat sih kau ini?"

"Ini kesempatan langka untuk bertemu Saito-san yang sangat kau kagumi itu. Tentu saja aku luar biasa antusias!"

Sudah lama sekali aku tidak merasa sebersemangat ini.

"Iya, terserah, tapi jaga sikapmu. Jangan ajukan pertanyaan aneh atau semacamnya, paham?"

"Maaf, aku tidak bisa janji soal itu. Soalnya terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan."

"Kubatalkan sekarang juga nih pertemuannya."

Nada bicaranya mendadak berat berusaha mengintimidasi, tapi ancaman murahan seperti itu sama sekali tidak mempan padaku. Aku sudah terlalu sering melihat ekspresi itu untuk bisa terpengaruh. Aku tahu Minato sebenarnya enggan memperkenalkanku pada Saito-san, jadi aku sudah menyiapkan argumen balasan.

"Kau yakin mau membatalkannya? Dari ceritamu selama ini, Saito-san sepertinya bukan tipe orang yang suka pada orang yang mengingkari janji, lho."

Menilai dari cara Minato menceritakannya, Saito-san tampak benar-benar tertarik ingin bertemu denganku. Membatalkannya jelas bukan pilihan baginya, dan aku tahu betul hal itu. Sesuai dugaan, erangan frustrasi Minato mengonfirmasi tebakanku. Sempurna. Ekspresi kesalnya itu selalu menyenangkan untuk dijahili.

"Fufufu. Jadi, kau tetap akan membawaku menemuinya, kan?"

"Cih. Iya, iya."

"Mantap. Sudah waktunya, ayo lekas berangkat."

Dengan enggan Minato mengangguk, lalu kami melangkah keluar kelas bersama. Selagi berjalan, aku bisa merasakan tatapan tajam menusuk dari sampingku—pasti Minato sedang melotot ke arahku. Reaksinya selalu sangat menghibur sampai-sampai aku tak tahan untuk terus menggodanya, meski tahu seharusnya aku menahan diri.

Lorong sekolah masih ramai, dan kami berpapasan dengan beberapa murid. Saat kami melintas di dekat gerombolan siswi kelas sastra, Aise-chan, salah satu teman dekatku, menyadari keberadaanku.

"Oh? Ichinose-kun, mau ke mana?"

"Yah, sebenarnya aku dipanggil guru. Sekarang sedang jalan ke sana."

"Kau kelihatan terlalu bersemangat untuk ukuran orang yang dipanggil guru. Aneh banget."

Ia memiringkan kepalanya sedikit karena penasaran, lalu terkekeh pelan. Tawanya yang lembut serta bahunya yang berguncang ringan terlihat sangat manis. Biasanya aku akan berhenti sejenak untuk mengobrol lebih lama dengannya, tetapi hari ini ada hal yang jauh lebih menarik yang sudah menungguku.

"Pokoknya aku harus buru-buru. Sampai jumpa lagi nanti!"

Tak ingin tertahan lebih lama, aku lekas menyudahi obrolan dan melangkah pergi. Wajah kecewa Aise-chan sempat melintas di sudut pandanganku, tapi kuputuskan untuk mengabaikannya.

Beberapa kenalan lain sempat mencoba menyapaku selagi kami berjalan menuju perpustakaan, tetapi aku menanggapinya sesingkat mungkin, hanya bertukar sapaan formal. Siapa sangka punya terlalu banyak kenalan justru bisa jadi penghambat sebesar ini?

Cemas kalau jeda sapaan yang terlalu sering ini membuat Minato jengkel, aku melirik ke arahnya. Seperti biasa, dia tampak melamun, menatap kosong ke kejauhan. Dia kemungkinan besar sedang tersesat dalam pikirannya tentang buku, memikirkan hal sepele semacam, "Enaknya baca apa ya begitu sampai di rumah?" Tatapan kosongnya itu biasanya berarti tepat seperti itu. Merasa lega karena kekhawatiranku tidak berdasar, aku kembali fokus melangkah menuju perpustakaan.

"Tempat ini aromanya masih tetap berdebu seperti biasa."

"Tapi justru di situlah daya tariknya. Perpaduan aroma kertas dan debu menghasilkan wewangian terbaik."

"Iya, maaf, aku sama sekali tidak paham."

Perpustakaan ini masih sama redup dan kunonya seperti yang kuingat. Udaranya sarat dengan nuansa apek, dan suara sekecil apa pun akan bergema di seluruh ruangan. Percakapan kami, meski berbisik-bisik, terasa bisa terdengar ke setiap sudut perpustakaan.

Namun anehnya Minato terlihat luar biasa bersemangat di sini—sikap lesunya yang biasa mendadak berganti dengan antusiasme yang nyaris membuatnya tak dikenali. Sejujurnya, rasa antusiasnya terhadap buku adalah hal yang tak akan pernah bisa kupahami. Matanya yang biasanya sayu kini berbinar-binar dengan kepolosan layaknya anak kecil. Itu sudah cukup membuatku ingin bertanya, "Kau ini sebenarnya siapa?"

Kami memang sengaja memilih perpustakaan demi menjaga kerahasiaan, tapi mungkin langkah itu adalah sebuah kesalahan. Minato sudah keburu melipir ke rak koleksi buku baru, tenggelam sepenuhnya di sana. Dia begitu asyik menyusuri punggung-punggung buku hingga tampak melupakan tujuan awal kami datang ke mari. Hei, kita ke sini untuk bertemu seseorang sekarang, ingat?

"Ayolah, bukunya tidak akan lari ke mana-mana. Kau harus fokus menunggu Saito-san."

"Satu menit lagi. Aku cuma ingin mengecek apa saja rilisan barunya."

"Kau ingat tidak terakhir kali bilang begitu kau malah menghabiskan waktu satu jam di sini? Ayo, lekas jalan."

Aku menariknya menjauh dari rak dan membimbingnya menuju meja-meja di bagian belakang. Area itu sepi melompong, dan cahaya matahari sore yang samar menembus tirai hanya sedikit menerangi permukaan meja. Kami memilih tempat duduk di dekat jendela dekat pintu masuk, di mana pencahayaannya sedikit lebih terang. Berkat udara musim dingin, permukaan kursinya terasa dingin dan kurang nyaman.

"Kau sudah mengirim pesan memberitahu kalau kita sudah sampai?"

"Sudah. Katanya dia ada tugas yang harus diserahkan ke guru dulu dan meminta kita menunggu sebentar."

"Beri tahu dia kalau kita tidak keberatan sama sekali."

Minato yang duduk di sampingku tampak mengetik di ponselnya dengan sangat lihai. Melihatnya sibuk menggunakan ponsel alih-alih membaca buku terasa sangat janggal. Rasanya seperti menyaksikan manusia purba yang mendadak menguasai teknologi modern. Aku menatapnya agak terlalu lekat, dan Minato menyadarinya, lalu melirik ke arahku.

"...Apa?"

"Bukan apa-apa. Cuma kaget melihatmu mengirim pesan ke Saito-san dengan sesantai itu."

"Aku cuma mengirim pesan kalau ada urusan koordinasi seperti hari ini. Jangan berpikir yang aneh-aneh."

"Berpikir aneh-aneh? Aku kan belum bilang apa-apa dari tadi?"

"...Aku tahu kau sangat bersemangat ingin bicara dengan Saito, tapi bisakah kau berhenti menggangguku?"

Raut wajah Minato tampak jauh lebih kesal dari biasanya—pemandangan yang sangat langka. Meski tahu aku sudah terlalu banyak memancing emosinya, sulit untuk menahan diri saat dia memperlihatkan ekspresi seekspresif ini. Terlalu menghibur untuk dilewatkan.

Selagi kami menunggu, pintu perpustakaan yang sudah berumur berderit terbuka, dan sosok Saito Rena pun muncul. Aku sudah pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya, tetapi tak peduli berapa kali pun kulihat, kecantikannya tidak pernah gagal memukaunya diriku. Ia melangkah menghampiri kami, rambut hitam legamnya berkilau indah selagi terayun anggun di setiap langkah. Ada pesona memikat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dari kehadirannya, memancar di setiap gerak-geriknya.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu."

Tatapannya yang jernih dan tajam langsung mengunci ke arahku saat ia duduk di seberang Minato. Di dalam manik matanya yang bening, aku bisa melihat bayangan diriku sendiri terpantul di sana.

"Senang bertemu denganmu, Ichinose-san. Aku Saito Rena."

Tampaknya ia tetap berpegang teguh pada skenario bahwa ini adalah pertemuan pertama kami, memilih untuk merahasiakan perjumpaan kami di tempat kerja tempo hari. Pasti ada alasan khusus di baliknya, jadi kuputuskan untuk mengikuti permainannya.

"Senang bertemu denganmu juga, Saito-san. Aku Ichinose Kazuki. Terima kasih sudah bersedia bertemu denganku hari ini."

Aku memasang senyum paling ramah yang kubisa, berusaha memberi kesan pertama yang baik. Namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Biasanya senyumanku sanggup meluluhkan sikap orang lain, tapi Saito tetap bergeming tanpa terpengaruh sedikit pun. Melihat itu, aku mengalihkan topik ke obrolan ringan yang netral untuk membaca karakternya.

Setelah bertukar beberapa patah kata, aku mulai memahami batasan jarak yang ia pasang. Begitu obrolan kami sempat terhenti sejenak secara alami, Saito-lah yang pertama kali mengangkat topik baru.

"Jadi, kenapa kau ingin berbicara denganku?"

"Yah, jarang sekali melihat Minato menaruh minat pada orang lain selain buku, apalagi sampai bisa seakrab ini. Aku penasaran sosok seperti apa dirimu."

"Begitu rupanya. Memang benar kalau Tanaka-kun hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada apa pun selain buku. Dia benar-benar cuma memikirkan buku..."

Raut wajah Saito akhirnya berubah, memperlihatkan sedikit rasa pasrah untuk pertama kalinya. Fakta bahwa sosok seperti dirinya pun tak sanggup menyembunyikan rasa frustrasinya terhadap obsesi buku Minato sudah cukup menggambarkan betapa parahnya tingkat fanatisme temanku itu.

"Jadi, Minato sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa cintanya pada buku saat bersamamu?"

"Sama sekali tidak. Hubungan pertemanan kami dimulai justru karena kami berdua sama-sama menyukai buku. Tapi bahkan aku sendiri pun kadang tidak sanggup mengimbangi ucapan-ucapannya. Bagaimana denganmu sendiri, Ichinose-san?"

"Sama sekali tidak sanggup."

Aku mengangkat bahu, dan Saito terkekeh pelan. Tampaknya ia juga merasakan penderitaan yang sama saat menghadapi keeksentrikan Minato. Awalnya aku pun sama bingungnya menghadapi komentar-komentar aneh anak itu, tapi lambat laun aku belajar untuk membiarkannya saja. Pengalaman mengajarkanku bahwa jarang sekali ada makna mendalam di balik ocehan Minato soal buku. Bisa kupastikan ocehannya itu tidak penting-penting amat.

"Aku merasa lega mengetahui bahwa orang yang sudah berteman lebih lama dengannya sepertimu pun kesulitan untuk mengimbanginya."

"Kalau menghadapi Minato, cara terbaik adalah cukup mengangguk sesekali dan biarkan dia mengoceh sepuasnya. Nanti dia bakal menarik kesimpulannya sendiri tanpa butuh banyak tanggapan."

"Aku bisa mendengar kalian, tahu."

Minato melayangkan tatapan tajam ke arahku, menyipitkan matanya dengan berbahaya. Tatapannya mungkin bisa membunuh orang jika tatapan punya kekuatan seperti itu, tapi aku sama sekali tidak gentar. Sejujurnya, dia sendiri yang harus introspeksi diri atas kelakuannya. Sementara itu, Saito menganggap perdebatan kami berdua lucu dan memandangi kami dengan senyum geli yang lembut.

"Fufu, kalian berdua benar-benar sangat akrab, ya. Menyegarkan rasanya melihat Tanaka-kun berbicara secara blak-blakan begini."

"Minato ini tsundere, kau tahu. Dia selalu bersikap dingin padaku di luar, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, aku yakin dia sangat menghargaiku. Agak merepotkan juga sih sebenarnya."

"Berhenti membuat pernyataan yang menyesatkan. Aku bukan tsundere—aku cuma mengatakan apa yang ada di kepalaku."

Minato menggumamkan sesuatu dengan suara pelan, tapi kuabaikan saja. Untuk ukuran orang yang selalu pasang muka kesal tiap kali kuajak bicara, dia tetap mendengarkanku dan bahkan mau mengikuti rencanaku. Kalau itu bukan perilaku tsundere klasik, entah apa lagi namanya. Tsundere cowok... benar-benar kombinasi yang tidak penting.

"Yah, aku senang melihat Saito-san ternyata orang yang sangat menyenangkan. Sebagai sesama korban penderitaan atas kelakuan Minato, mari kita jalin hubungan baik mulai sekarang."

"Begitu pula denganku. Tolong terus bantu menjaga Tanaka-kun kami yang merepotkan ini, ya."

"Jangan bikin aliansi aneh-aneh di belakang punggungku!"

Yup, anggap saja aku tidak mendengar suara apa pun.

"Jadi, apa kalian sudah berteman dengan Tanaka-kun sejak kelas satu?"

"Iya. Awalnya kupikir dia cuma cowok aneh yang kerjanya membaca melulu, jadi aku mulai menyapanya karena penasaran. Ternyata dia jauh lebih menarik dari dugaanku, dan akhirnya kami berteman."

"Lebih tepatnya kau yang memaksa masuk ke duniaku."

Wajah Minato berkerut masam seolah sedang mengingat kembali masa-masa kelam itu.

"Ayolah. Kalau aku tidak gigih mendekatimu, kau pasti tidak akan pernah mau bicara denganku, kan?"

"Kalaupun kau bicara, aku tidak akan peduli. Aku baru mulai merespons karena kau terlalu gigih dan sangat mengganggu."

"Itulah kekuatan cinta. Aku bisa merasakan kalau jauh di dalam lubuk hatimu, kau sebenarnya ingin ada seseorang yang mendekatimu."

"Itu kalimat yang biasa diucapkan penguntit, asal kau tahu."

Ekspresi masam Minato sungguh tak ternilai harganya. Reaksinya selalu sangat menghibur—itulah alasan kenapa aku tidak pernah bosan menjahilinya. Sejujurnya, tanggapannya yang serba dramatis justru makin menjadikannya sasaran empuk. Sayangnya dia sendiri tidak menyadarinya.

"Jadi, Minato memang tidak banyak berubah sejak kelas satu, ya?"

"Sama sekali tidak. Dari dulu isinya cuma buku, buku, dan buku lagi. Bahkan sampai sekarang sebagian besar percakapan kami selalu berputar di topik itu."

"Begitu ya. Obrolan pertama apa yang akhirnya membuat dia mulai terbuka padamu?"

Mata Saito berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. Karena tadi ia menyebutkan bahwa buku juga menjadi alasan awal mereka saling mengobrol, dia mungkin merasa ceritaku ini sangat relevan dengannya.

"Awalnya aku mencoba meminta rekomendasi buku untuk mencairkan suasana, tapi hasilnya gagal total."

"Tentu saja gagal. Siapa juga yang mau mendengar ceramah rekomendasi buku selama satu jam penuh dari orang yang baru saja ditemui?"

Itu menjelaskan mengapa Minato terlihat sangat kaku waktu kami pertama kali bertemu dulu. Kurasa dia pun punya batasan privasi tersendiri.

"Jadi aku memikirkan cara baru. Kupikir meminjamkan buku mungkin bakal berhasil. Aku menawarkan untuk meminjamkan satu buku padanya, dan trik itu langsung ampuh—dia seketika membuka diri."

Aku masih ingat betapa cepatnya dia luluh setelah itu. Benar-benar mengejutkan. Kupikir bakal ada penolakan, tapi ternyata dia langsung menyambar umpan itu dalam sekejap mata. Bahkan kucing liar pun bakal bersikap jauh lebih waspada dibanding dirinya. Di saat itulah aku menyadari betapa mudahnya menaklukkan seorang Minato.

"Tanaka-kun, tolong jangan asal menerima buku dari orang asing."

"Aku tidak akan... mungkin."

Kata "mungkin" yang terdengar ragu di akhir kalimatnya itu sungguh meresahkan. Bahkan anak SD zaman sekarang pun tahu mana yang benar dan salah. Minato benar-benar kehilangan akal sehatnya begitu berhadapan dengan buku. Saito pun menatapnya dengan pandangan pasrah yang sama.

"Apa ada cerita lucu lainnya tentang Tanaka-kun?"

"Tidak ada, sungguh. Waktu kelas satu dia cuma membaca buku sepanjang waktu."

"Tanaka-kun, aku kan tidak sedang bertanya padamu. Sejujurnya, bukankah kau bertingkah aneh justru setiap kali ada buku yang terlibat?"

"Ugh..."

Minato kehilangan kata-kata setelah diskakmat oleh Saito-san. Melihat interaksi mereka berdua, aku bisa melihat dengan sangat jelas betapa dekatnya hubungan mereka. Meski nada bicara Saito terkesan dingin, ada kehangatan dan keakraban mendalam di balik setiap kalimatnya.

"Salah satu cerita paling lucu tentang Minato pasti momen waktu karya wisata sekolah musim semi lalu."

"Karya wisata ke Kyoto tahun lalu, kan?"

"Tepat sekali. Kyoto kan terkenal dengan makanan tradisional, kerajinan tangan, dan banyak hal lainnya. Agak bingung memilih oleh-oleh yang pas, kan?"

"Iya, itu benar. Dengan begitu banyak pilihan, pasti sulit menentukan."

Saito mengangguk setuju. Tepat sekali. Wajar kalau kita merasa sedikit bimbang.

"Tapi tidak bagi Minato. Dia sama sekali tidak ragu. Setelah membeli satu kotak yatsuhashi, dia langsung meluncur ke toko buku dan menghabiskan sisa waktunya di sana memborong tumpukan buku."

Aku masih bisa membayangkan pemandangan itu dengan sangat jelas. Saat waktu bebas, ketika murid-murid lain sedang pusing memilih oleh-oleh apa yang harus dibeli, Minato justru berada di toko buku terdekat, memborong tumpukan buku tebal. Pemandangan yang sungguh luar biasa.

"Yah, mau bagaimana lagi. Waktu itu orang tuaku bilang yatsuhashi saja sudah cukup untuk oleh-oleh, dan sisa uang sakunya bebas kupakai sesukaku. Tentu saja akan kugunakan untuk membeli buku."

"Apa maksudmu dengan 'tentu saja'...?"

Dia mengatakannya seolah itu adalah hal paling lumrah di muka bumi, padahal kenyataannya sama sekali tidak. Aku cukup yakin hanya Minato satu-satunya manusia yang kepikiran untuk membeli tumpukan buku saat karya wisata sekolah. Dia sepertinya lupa esensi dari karya wisata itu sendiri.

"Tapi Tanaka-kun, apa kau punya kenangan lain dari perjalanan itu?"

"Tentu saja punya. Itu pertama kalinya aku memborong begitu banyak buku sekaligus dalam satu waktu. Itu momen yang luar biasa dan tidak akan pernah kulupakan."

"Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan karya wisatanya sendiri..."

Ekspresi Saito berubah menjadi tatapan pasrah yang mendalam, nyaris seperti sedang menatap seseorang yang patut dikasihani.

"Kau yakin? Kau kan mengunjungi banyak kuil bersejarah waktu itu? Apa kau mengingat salah satunya?"

"Ah, yah... samar-samar..."

Anggukan ragu Minato sama sekali tidak meyakinkan. Berani bertaruh uang dia tidak mengingat satu pun kuil itu. Selama perjalanan, dia terlalu sibuk mendekap tumpukan buku barunya. Bahkan ada momen di mana dia begitu hanyut sampai-sampai hampir tertinggal rombongan. Menilai dari tatapan curiga yang dilayangkan Saito padanya, gadis itu pasti juga menyadarinya.

"Keanehan Minato yang lain adalah setiap kali kami pergi bersama. Aku sih sudah terbiasa, tapi setiap kali kami melewati toko buku, dia pasti mendadak berhenti. Itu benar-benar masalah besar."

"Memangnya separah itu?"

"Lebih tepatnya dia tiba-tiba menghilang. Satu detik dia berjalan di sampingmu, detik berikutnya dia sudah lenyap."

"Jangan bilang kalau... dia menyelinap masuk ke toko buku?"

"Tepat sekali. Meskipun seringnya dia tidak masuk ke dalam, dia cuma berdiri mematung di luar, sibuk membolak-balik buku apa pun yang dipajang di dekat pintu masuk."

"Benar-benar masuk ke dalam perangkap strategi promosi toko buku, ya?"

"Tepat sekali."

Semakin banyak aku mengobrol dengan Saito soal Minato, temanku ini makin terlihat seperti kasus yang sudah tidak tertolong. Sejujurnya, kuharap dia bisa sedikit mengontrol dirinya. Dia biasanya terlihat sangat normal, tetapi begitu ada buku yang terlibat, akal sehatnya langsung lenyap tak berbekas. Yang bisa kulakukan hanyalah menghela napas panjang.

"Ada hal lain lagi? Kalau kau penasaran tentang Tanaka, tanyakan saja sesukamu. Aku tahu semua hal tentangnya luar dalam."

"Itu kalimat yang menjijikkan untuk didengar."

Minato mundur selangkah menjauhiku, ekspresinya dipenuhi rasa waswas murni. Dia tidak perlu memasang tampang setakut itu; lagipula aku tidak benar-benar tahu segalanya. Hanya saja Minato itu orang yang sangat mudah ditebak sampai-sampai aku biasanya bisa tahu persis apa isi kepalanya.

Saito, di sisi lain, tampak berpikir keras. Ia melipat tangannya di dada dan sedikit mengerucutkan bibir sebelum matanya tiba-tiba berbinar cerah.

"Oh, kalau Tanaka-kun punya rahasia, tolong beri tahu aku."

"Hei!"

Mata Minato membelalak kaget mendengar pertanyaan tak terduga itu.

"Rahasia Minato, ya? Sejujurnya tidak banyak."

"Tentu saja. Aku hidup jujur pada diriku sendiri."

"Tapi kurasa kau harus sedikit mengurangi obsesimu pada buku."

Bagi orang seperti Minato, mungkin ada baiknya untuk sedikit menahan diri. Dia terlalu menjadi budak nafsunya sendiri jika sudah menyangkut urusan buku. Meski begitu, sosok Minato tanpa obsesi bukunya tentu bukan Minato yang sebenarnya.

"Ah, aku tahu."

Sebuah ide melintas di kepalaku, dan aku memberi isyarat dengan jariku agar Saito mendekat. Wajah cantiknya mencondongkan tubuh ke arahku, membuat garis-garis wajahnya terlihat begitu jelas di depan mata. Aku berbisik pelan di telinganya agar Minato tidak bisa mendengar.

"Sebenarnya Minato ini diam-diam berjiwa romantis."

"B-benarkah!?"

Saito melontarkan bisikan terkejut, nada suaranya diwarnai sedikit rasa antusias.

"Beneran. Dia memang bersikap seolah tidak peduli sama sekali soal cinta-cintaan, kan?"

"Iya, aku benar-benar percaya dia memang seperti itu."

"Tapi itu tidak benar. Dia cuma tidak menunjukkannya di luar. Jauh di lubuk hatinya, dia jauh lebih peka dan sadar dari yang kau bayangkan. Menurutku, kau harus bersikap lebih terus terang padanya."

Cowok seperti Minato yang mengaku tidak peduli soal asmara biasanya justru tipe yang diam-diam terlalu banyak memikirkannya di dalam kepala. Semoga informasi kecil ini bisa memberi dorongan yang dibutuhkan Saito untuk mendobrak dinding pertahanannya.

"Kalian berdua bisik-bisik apa di situ?"

Minato yang jelas-jelas penasaran menatap ke arah kami dengan curiga.

"Fufu, aku cuma membagikan salah satu rahasiamu pada Saito-san."

"Iya, aku baru saja mempelajari hal yang sangat menarik."

Merasa puas, Saito tersenyum senang. Melihat ekspresi gadis itu, Minato tampak sedikit rileks lalu menghela napas pelan.

"Kau tidak menceritakan hal aneh-aneh padanya, kan?"

"Tentu saja tidak. Cuma fakta murni."

"...Kalau Saito senang, kubiarkan lewat untuk kali ini."

Oho, langka sekali. Kupikir dia bakal mendesak lebih jauh, tapi melihat senyum Saito sepertinya langsung melunakkan sikap keras kepalanya.

"Wah, kalian berdua benar-benar sangat dekat ya. Minato bahkan jadi jauh lebih ramah kalau menyangkut Saito-san."

"Ini sikap biasa saja, kok."

Minato mungkin tidak menyadarinya sendiri, tapi bagiku yang tahu betul tabiat aslinya—sangat jelas terlihat bahwa sikapnya berubah drastis jika Saito-san yang terlibat. Kalau cuma kami berdua, Minato jauh lebih menyebalkan dan dingin. Aku mengalihkan pandanganku dari Minato ke arah Saito-san.

"Kalian merahasiakan pertemanan kalian dari anak-anak lain, kan?"

"Iya. Bakal merepotkan kalau sampai rumor menyebar ke mana-mana. Untuk saat ini, satu-satunya orang yang tahu hubunganku dengan Tanaka-kun cuma Ichinose-san. Sampai rumor-rumor itu mereda, kurasa cara terbaik adalah tetap menyembunyikannya seperti sekarang."

"Iya, itu memang langkah terbaik. Oh, tunggu dulu. Minato, bukannya kau menceritakan soal hubunganmu dengan Saito-san ke orang lain selain aku?"

Memanfaatkan momen yang tepat ini, aku sengaja mengangkat topik yang paling membuatku penasaran—Hiiragi-san. Mengamati reaksi mereka dengan saksama, kulihat tubuh Saito-san sedikit menegang.

"Oh, benar juga. Saito, sebenarnya... aku menceritakan hubungan kita ke satu orang—Hiiragi-san. Tapi dia dari sekolah lain dan tidak mengenalmu, jadi kurasa kabarnya tidak akan menyebar. Maaf ya sudah menceritakannya tanpa minta izin dulu."

Minato menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk meminta maaf. Melihat pemandangan itu, tatapan mata Saito-san tampak bergerak gelisah ke sana kemari.

"T-tolong jangan minta maaf sedalam itu. Kalau Tanaka-kun memutuskan menceritakannya ke orang lain, itu artinya kau memercayainya, kan? Aku sama sekali tidak masalah kalau itu orang yang kau percayai."

Saito-san menggelengkan kepalanya pelan berusaha menenangkannya. Tentu saja, dia kan sudah tahu betul situasinya. Dan kalimat, "Aku sama sekali tidak masalah kalau itu dia"—yah, jelas saja, wong dia sendiri pelakunya, mana mungkin dia keberatan.

Dia sebenarnya hanya menyatakan fakta yang sudah jelas, tetapi Minato tidak menyadari hal itu. Minato kemungkinan besar mengira gadis itu hanya sedang berbaik hati dan pengertian padanya. Dia bahkan menundukkan kepala sekali lagi sambil berkata, "Terima kasih."

"Aku juga tidak terlalu tahu banyak soal Hiiragi-san. Memangnya dia orang yang seperti apa?"

"...!"

Pertanyaanku yang kulontarkan dengan harapan tipis bisa memancing reaksi dari sang "Hiiragi-san" ternyata memberi dampak yang jauh lebih dahsyat dari dugaanku. Saito-san membelalakkan matanya dan menatapku lekat-lekat seolah ingin berteriak, "Apa-apaan yang sedang kau bicarakan ini!?" Melihatnya panik dan gelagapan seperti itu—pemandangan yang luar biasa langka—membuat perutku geli ingin tertawa terbahak-bahak.

Apa Minato menyadari gelagat aneh Saito-san barusan? Tentu saja tidak. Di sampingku, dia tampak larut dalam pikirannya sendiri, kemungkinan besar sedang memikirkan cara mendeskripsikan sosok Hiiragi-san. Benar-benar buta terhadap situasi yang sedang terjadi. Sayang sekali—padahal ini tontonan yang sangat menghibur.

Setelah terdiam sejenak, Minato bergumam, "Coba kupikir..." lalu melepaskan lipatan tangannya di dada.

"Dia orang yang baik. Sangat bisa diandalkan juga. Aku kadang berkonsultasi dengannya, dan sarannya selalu sangat tepat sasaran."

"Oh, ya ampun, benarkah? Pantas saja kau sering minta saran padanya."

Aku nyaris menyemburkan tawa di tempat. Ekspresi serius di wajah Minato benar-benar terlalu lucu. Saran yang tepat sasaran? Ya jelaslah tepat sasaran—wong sarannya datang langsung dari orang yang bersangkutan. Siapa lagi yang bisa memberi saran paling akurat selain pelakunya sendiri? Melirik ke arah Saito-san, mata kami bertemu, dan ia buru-buru memalingkan pandangannya dengan canggung.

"Dia bukan tipe orang yang suka bicara sembarangan, jadi kurasa informasinya tidak akan bocor."

"Kau benar-benar memercayainya ya? Jarang sekali melihatmu memuji orang setinggi ini, Minato. Kau suka padanya?"

"Hah?"

Minato memberiku tatapan seolah aku baru saja mengucapkan hal paling konyol di muka bumi. Raut wajahnya praktis berteriak, Kau kan sudah tahu siapa orang yang kusukai.

"Mana mungkin. Dia cuma teman. Aku cuma mengajaknya bicara kalau butuh saran."

"Membosankan sekali tanggapanmu. Terus, bagaimana sikap Hiiragi-san saat kau curhat padanya?"

"Sikapnya seperti apa? Pertanyaanmu aneh banget..."

Rupanya Minato selalu menceritakan kegalauannya tentang Saito-san kepada Hiiragi-san. Mencurahkan isi hati soal gebetan langsung kepada orang yang bersangkutan tanpa sadar—benar-benar situasi yang luar biasa konyol. Dan dia melakukannya berkali-kali pula. Penasaran sekali hal memalukan apa saja yang sudah ia ceritakan.

Raut wajah Minato tampak berpikir keras sembari menjepit dagunya dengan ibu jari dan telunjuk.

"Dia selalu mendengarkanku dengan sungguh-sungguh. Tidak sepertimu yang cuma menanggapi setengah niat."

"Jahat sekali bicaramu."

"Oh, tapi kadang-kadang dia kelihatan malu atau bersikap gelisah serba salah."

"Benarkah?"

Nah, ini baru informasi yang sangat menarik. Aku tidak bisa membayangkan sosok Saito-san tersipu malu, tetapi emosinya memang cenderung mudah meluap jika menyangkut Minato. Dia pasti sangat menaruh rasa percaya yang dalam padanya. Itu menjelaskan kenapa dia bisa bersikap gugup di hadapan Minato.

Kira-kira apa yang sudah diceritakan Minato sampai bisa membuat gadis itu bereaksi seperti itu? Untuk membuat Saito-san sampai tersipu pasti membutuhkan pemicu yang luar biasa besar. Sebuah skenario lucu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Kalau ini benar, situasinya bakal jadi berkali-kali lipat lebih menghibur. Mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Minato, aku berbisik pelan agar Saito-san tidak bisa mendengar.

"Jangan-jangan, kau sempat cerita ke Hiiragi-san kalau menurutmu Saito-san itu imut atau semacamnya ya?"

"...! K-kau tahu dari mana hal itu!?"

Minato langsung tersentak mundur, melotot ke arahku dengan semburat merah yang seketika menyebar di pipinya.




"Oho, jadi tebakanku benar. Begitu rupanya."

Sudah tidak bisa ditahan lagi—seringai lebar tak terbendung merekah di wajahku. Meski ekspresi Minato mengeras dipenuhi kejengkelan, aku tidak sanggup menghentikan tawaku. Yah, pantas saja Saito-san sampai salah tingkah dan tersipu malu.

Aku tidak pernah menyangka Minato bakal memuji-muji gadis itu secara terang-terangan tepat di depan wajah orangnya langsung. Saat membayangkan hal apa yang bisa membuat Saito-san malu, aku cuma bertanya iseng untuk memastikan—dan ternyata dugaanku seratus persen akurat.

Sembari menahan seringaiku sekuat tenaga, aku melirik ke arah Saito-san. Persis seperti Minato, kedua pipinya kini dihiasi rona merah muda sakura yang manis. Dia pasti sudah menyadari kalau aku telah membaca seluruh dinamika situasi di antara mereka berdua.

Melihat reaksinya, sudah tidak diragukan lagi kalau mereka berdua ini sebenarnya saling menyukai. Keadaan mereka memang agak rumit dan berbelit-belit, tetapi dari sudut pandangku, hal itu justru membuatnya jauh lebih menghibur untuk ditonton. Karena Saito-san tampaknya belum berniat membongkar identitas aslinya sebagai Hiiragi-san, aku tidak punya pilihan selain memanfaatkan situasi emas ini sebaik-baiknya. Membayangkan berbagai potensi keseruan di depan membuat dadaku dipenuhi rasa antusias.

Melihat mereka berdua duduk berdampingan dalam suasana yang begitu menghangatkan hati, aku tak tahan untuk tidak memandangi keduanya dengan senyum lembut. Namun suara Saito-san tiba-tiba memecah lamunanku, nadanya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya.

"T-Tanaka-kun. Aku mengerti kalau Hiiragi-san itu orang yang bisa dipercaya, jadi bagaimana kalau kita ganti topik obrolan saja?"

Sayang sekali. Saito-san sudah meminta untuk menghentikannya. Padahal situasinya sedang seru-serunya, tapi mendesaknya lebih jauh sekarang hanya akan merusak kesenangan. Kusimpan saja bahan lelucon ini untuk waktu di mana hanya ada aku dan Minato nanti. Maka dari itu, kami pun beralih ke topik obrolan yang lain.

***

Sudut Pandang Tanaka

"Seru sekali mengobrol dengan kalian. Sampai ketemu lagi kapan-kapan!"

Aku melambaikan tangan pelan saat Kazuki melangkah pergi, menyisakan hanya diriku dan Saito-san di sudut ruangan. Lirikan cepat ke arah jam dinding memberitahuku bahwa kami masih punya waktu sekitar tiga puluh menit sebelum perpustakaan tutup.

Meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka, keduanya tampak langsung cocok mengobrol satu sama lain, dan waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Mengetahui kepribadian Saito-san yang biasa, kupikir tipe orang seperti Kazuki bukan seleranya, tetapi aku merasa lega karena kekhawatiranku tidak terbukti dan suasana tidak menjadi canggung. Meski begitu, fakta bahwa mereka menjadi akrab gara-gara saling mengeluhkan obsesiku pada buku terasa agak mengganjal di hatiku.

Kazuki yang terus tersenyum senang sampai akhir obrolan tetap saja menyebalkan seperti biasa. Entah bagaimana caranya, dia bisa tahu kalau aku sempat memuji-muji Saito-san di depan Hiiragi-san. Bagaimana dia bisa menebak hal itu? Belakangan ini intuisi Kazuki rasanya sudah hampir mencapai level supernatural. Nanti aku harus menanyakannya langsung padanya.

"Jadi? Bagaimana kesanmu setelah mengobrol dengannya?"

"Sesuai dugaanku, dia orang yang sangat menyenangkan. Aku juga jadi bisa melihat sisi lain dari dirimu saat mengobrol dengannya tadi, Tanaka-kun. Rasanya sangat seru."

"Sisi lain? Maksudmu bagaimana?"

"Tentu saja ada. Bahkan saat kalian sedang berdebat pun terlihat jelas betapa kau sangat menaruh rasa percaya padanya."

"Aku cuma meladeninya karena dia yang memaksa terus."

"Fufufu, sikap gengsi seperti itulah yang membuat orang-orang menyebutmu tsundere."

"Kau jangan ikutan juga, dong, Saito..."

Aku menghela napas saat Saito-san terkekeh geli, bibirnya melengkung membentuk senyuman menggoda. Kuharap dia tidak salah paham. Aku mencoba menyangkalnya, tetapi tindakanku jelas tidak mempan—bahunya berguncang pelan selagi ia terus tertawa kecil.

"Aku juga mendengar banyak cerita tentangmu, Tanaka-kun. Aku merasa sangat puas dengan obrolan hari ini."

"Kau tadi menanyakan banyak hal sekali, sih."

"Rasanya sangat menyegarkan bisa mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak kuketahui tentangmu. Meski kebiasaan berlebihanmu terhadap buku ternyata memang tidak berubah."

"Tidak separah itu, kok."

"Bibir mana yang barusan bicara begitu? Kudengar kau pernah memeluk buku rilis baru sampai menempelkannya ke wajah waktu sedang belanja bersama Ichinose-san tahun lalu. Itu terdengar mengerikan."

Tatapan tajam Saito-san menusukku persis belati es yang dingin.

"Itu cuma sekali waktu itu saja. Aku biasanya tidak melakukan hal seperti itu."

"Kalau kau melakukannya setiap saat, orang-orang bakal mengira kau sudah gila."

"Waktu itu aku sudah menunggu buku itu selama setahun penuh, dan saat akhirnya resmi terbit, aku begitu bersemangat sampai tidak bisa menahannya. Di rumah, bukankah kau juga bakal melakukan hal yang sama, Saito?"

"Tentu saja tidak. Buku itu untuk dibaca. Bagaimana bisa kau sampai kepikiran melakukan tindakan aneh seperti itu?"

Tatapannya yang tak biasa dingin terasa sangat menakutkan. Aku hampir bisa merasakan reputasi sosialku di matanya anjlok drastis di setiap detik yang berlalu.

"Begini lho, memeluknya membuat rasa kepemilikan itu terasa nyata—itu menghadirkan semacam luapan kebahagiaan."

"Entahlah, aku tidak paham. Aku belum pernah melakukannya seumur hidupku."

Aku menatapnya dengan pandangan memohon, tapi yang kudapat hanyalah sebuah helaan napas panjang yang berat. Dia tampak terlalu pasrah untuk melanjutkan perdebatan, tetapi caranya menatapku—seolah aku adalah makhluk malang yang patut dikasihani—terasa menusuk hatiku. Tolonglah, jangan menghakimiku dalam diam seperti itu.

"Oh, ngomong-ngomong, aku sudah membaca buku yang kau rekomendasikan kemarin."

"Oh? Bagaimana menurutmu?"

"Luar biasa bagus! Aku biasanya tidak membaca novel petualangan fantasi, tapi ceritanya begitu memikat sampai-sampai aku tidak bisa berhenti membacanya!"

Sepasang matanya berbinar cerah saat berbicara dengan penuh semangat. Suaranya terdengar jauh lebih hidup dari biasanya, memperjelas betapa ia sangat menikmati buku tersebut.

"Syukurlah kalau kau menyukainya. Bagian mana yang paling membekas buatmu?"

"Yah, bagian yang ini—"

Saito-san merogoh tas ranselnya yang ditaruh di kursi sebelah lalu mengeluarkan buku tersebut. Ia meletakkannya perlahan di atas meja, membukanya untuk memperlihatkan isinya padaku. Namun karena kami duduk saling berhadapan di seberang meja, aku tidak bisa membaca teksnya dengan jelas. Menyadari hal itu, Saito-san bangkit berdiri lalu pindah duduk tepat di sampingku. Pengikisan jarak yang mendadak di antara kami langsung membuatku tersentak kaget.

"...Lebih mudah melihatnya kalau begini, kan? Karena itulah aku pindah ke sini."

"I-iya. Terima kasih."

Aku mengangguk berusaha menguasai rasa gugupku. Jaraknya yang tiba-tiba begitu dekat membuat konsentrasiku buyar, tetapi aku lekas membenahi posisi dudukku dan menyandarkan punggung ke kursi.

"Jadi, bagian yang mana tadi?"

"Tepat di sebelah sini—"

Ia mulai menjelaskan dengan ekspresi yang sangat hidup, suaranya dipenuhi energi yang meluap-luap. Selagi mendeskripsikan adegan demi adegan, ekspresi wajahnya terus berubah-ubah: alisnya berkerut sedih, wajahnya berseri-seri di momen yang menegangkan, dan sesekali tangannya membuat gestur dramatis. Jarang sekali melihatnya sehidup dan seceria ini—dia terlihat sangat menggemaskan. Aku harus berjuang keras menahan senyum agar tidak terlihat jelas saat memandanginya.

Sembari mendengarkannya, aku mendapati diriku makin larut ke dalam percakapan. Ada kebahagiaan tersendiri yang unik saat bisa berbagi hal yang kau sukai dengan seseorang yang tulus menikmatinya. Saking asyiknya kami mengobrol, aku bahkan tidak menyadari betapa dekatnya posisi duduk kami hingga lengan kami tanpa sengaja saling bersentuhan.

"Ah, maaf."

"T-tidak, harusnya aku yang minta maaf."

Suasana ceria dan hidup tadi mendadak sirna, menyisakan ketegangan canggung yang menggantung di udara. Aku benar-benar mengacaukannya. Padahal obrolan kami tadi berjalan sangat lancar. Melihat Saito menundukkan pandangannya dengan ekspresi yang tampak gelisah justru membuat rasa bersalahku makin besar. Selagi memikirkan apa yang harus kulakukan, aku melirik wajahnya. Mata kami bertemu, tatapannya dipenuhi keraguan. Manik matanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan beberapa kali.

"A-ah..."

"A-ada apa?"

"Lenganmu... benar-benar terasa seperti lengan seorang laki-laki."

"...Apa?"

Apa yang mendadak ia bicarakan ini? Aku memiringkan kepalaku bingung, tidak yakin apa maksud ucapannya. Saito terus mencuri pandang ke arah lenganku sambil merapatkan bibirnya kuat-kuat.

"Lenganku? Apa itu begitu mengganggumu?"

"Y-yah..."

Saito menopang dagunya dengan tangan kiri, pandangannya melayang tak tentu arah di atas permukaan meja dalam keraguan. Setelah terdiam sesaat, ia mengangguk pelan dengan ragu-ragu.

"...Waktu lengan kita bersentuhan tadi, aku tak sengaja menyadarinya. Rasanya berotot, kau tahu? Berbeda sekali dengan lenganku."

"Yah, wajar kan kalau ada perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan."

Aku sendiri tidak merasa tubuhku kekar berotot. Di kalangan cowok, lenganku mungkin tergolong ramping. Meski begitu, dibandingkan dengan lengan Saito yang tampak lembut dan ramping, kurasa lenganku memang terasa lebih padat dan tegas.

"Mungkin karena aku sering memegang buku-buku tebal yang berat waktu membaca."

"Kalau alasannya begitu, harusnya sekarang aku sudah jadi binaragawati yang kekar berotot, dong?"

Membayangkan sosok Saito menjadi binaragawati berotot membuatku terkekeh pelan. Kepribadiannya yang anggun dan elegan dipadukan dengan fisik yang kekar berotot—itu pemandangan surealis yang sangat menggelikan di kepalaku.

"Aku sih tidak keberatan melihat Saito jadi binaragawati."

"T-tunggu, tipe idealmu yang seperti itu!?"

Saito mematung seketika, matanya membelalak selebar cawan. Dia benar-benar menganggapnya serius. Padahal itu cuma lelucon biasa...

"Bukan, bukan begitu maksudku. Aku cuma berpikir bayangan itu lucu karena sangat kontras dan sulit dibayangkan."

"Y-yah, tentu saja. Aku juga tahu itu cuma lelucon. Jelas sekali kok."

"Tadi reaksimu sama sekali tidak kelihatan seperti menganggapnya lelucon, tuh."

Reaksinya begitu transparan dan mudah dibaca. Dia tadi jelas-jelas seratus persen memercayaiku. Ke mana perginya sikap waspada dan tenangnya yang biasa? Saat aku meliriknya dari samping, Saito terbatuk kecil dengan canggung, jelas berusaha menguasai kembali ketenangannya.

"Tidak masalah asalkan aku tahu preferensi Tanaka-kun ternyata masih normal."

"Syukurlah kalau itu sudah jelas. Tapi kenapa kau begitu tertarik dengan lenganku?"

"Aku sebenarnya sudah sempat memikirkannya sebelumnya, tapi tadi saat lengan kita bersentuhan, aku benar-benar merasakan perbedaannya... Boleh aku... menyentuhnya?"

"...Hah?"

Saito mendongak menatapku dengan mata bulatnya yang berbinar, pipinya bersemu merah lembut. Tidak mungkin dia tidak menyadari implikasi dari permintaannya barusan. Gelagatnya memperjelas hal itu.

Aku memang sempat punya kecurigaan, tapi sekarang aku yakin—Saito belakangan ini bersikap luar biasa berani. Dia tidak pernah seproaktif dan seagresif ini sebelumnya. Permintaannya yang sama sekali tak terduga ini sempat membuatku terperangah kehilangan kata-kata untuk beberapa saat.

"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa, kok..."

Kebisuanku pasti dianggapnya sebagai penolakan. Bahunya seketika merosot saat ia menundukkan pandangan, terlihat jelas merasa kecewa dan sedih.

"T-tidak, bukannya aku keberatan..."

"Kalau begitu... boleh?"

"Y-yah, kurasa boleh saja..."

Aku memang tidak punya alasan khusus untuk menolaknya, dan melihatnya terlihat semurung itu membuat nuraniku merasa tidak tega. Aku mengulurkan lenganku ke arahnya, meski dengan sedikit ragu-ragu. Saito, dengan daun telinga yang merona merah padam, perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh kulit lenganku.

Jari-jemarinya yang ramping dan putih pucat menelusuri kulit lenganku dengan sangat lembut, merabanya dengan hati-hati seolah sedang memegang barang pecah belah yang rapuh. Ia mengusapnya perlahan, seolah sedang memastikan tekstur kekenyalannya.

Sentuhannya yang ragu-ragu itu terasa menggelitik, membuat tubuhku mendadak merasa gelisah dan serba salah. Cara jemarinya meluncur di atas lenganku terasa agak sensual, menghadirkan sensasi aneh yang tak biasa di dalam diriku. Dia sebenarnya tidak melakukan hal yang aneh-aneh, tetapi aku tak bisa menepis gejolak perasaan aneh yang mulai bergolak di dalam dadaku.

Yang makin memperparah rasa canggungku adalah tatapannya yang begitu fokus dan serius. Aku belum pernah merasakan pengalaman seperti ini seumur hidupku—disentuh oleh seorang gadis selagi ditatap dengan begitu lekat dan intens. Itu membuatku mendadak menjadi sangat salah tingkah. Setelah menahannya beberapa saat, aku tak sanggup lagi membendungnya.

"Hei, ini mulai terasa geli... Apa sudah selesai?"

"A-ah, iya, sudah selesai."

Dia tampak tersentak kaget, seolah baru saja kutarik keluar dari alam bawah sadarnya. Dengan enggan ia menarik kembali tangannya, ekspresi wajahnya menyiratkan sedikit rasa penyesalan saat melepaskan lenganku.

Ketegangan dari sentuhannya akhirnya mencair, dan aku menghela napas lega dalam-dalam. Bahuku ternyata sempat menegang kaku tanpa kusadari selama ia menyentuhku tadi.

"Jadi? Bagaimana menurutmu?"

Kupikir tidak ada hal istimewa yang patut dibahas dari lenganku, tapi aku tak tahan untuk tidak menanyakannya. Saito, dengan kedua pipi yang masih bersemu merah muda, awalnya menghindari tatapanku, lalu dengan malu-malu mendongak menatap mataku. Ekspresi wajahnya yang tersipu malu dan tampak salah tingkah itu terlihat begitu memesona dan meluluhkan hati. Ia bergumam sangat pelan, suaranya sarat dengan getaran emosi.

"Um... Rasanya sangat berbeda dengan punyaku—jauh lebih berotot dan padat. Sensasi sentuhannya terasa... asing, tapi itu membuatku sadar kalau Tanaka-kun ini benar-benar seorang laki-laki. Itu membuat jantungku berdebar sedikit lebih kencang."

"O-oh... begitu ya..."

Mana mungkin ada orang yang tidak berpikir macam-macam setelah mendengar kalimat seperti itu!? Jantungku seketika berdentum keras di balik rusukku. Senyumannya terlihat begitu memukau hingga aku terpaksa memalingkan wajahku ke arah lain, tak sanggup menatap matanya lebih lama.

Saito kembali menundukkan pandangannya, memandangi ujung-ujung jemarinya seolah sedang mengingat kembali sensasi sentuhan di lenganku tadi. Pipinya masih tetap mempertahankan semburat merah yang manis.

"Yah, bagaimanapun juga, aku senang kau menyukai buku yang kupinjamkan kemarin."

"Iya, tentu saja! Aku tidak bisa berhenti membacanya—buku itu habis kubaca dalam sekejap."

"Sebenarnya novel itu ada sekuel lanjutannya, lho."

"Benarkah!? Aku mau sekali membacanya!"




Aku mengangkat topik itu dengan santai, tetapi reaksinya luar biasa heboh. Matanya berbinar-binar, dan matanya yang memang sudah bulat ekspresif itu membelalak semakin lebar. Dia selalu menegurku karena bereaksi berlebihan, padahal Saito sendiri sama parahnya. Ke mana perginya sikap tenangnya yang biasa?

"...Mau kupinjamkan?"

"Iya, mau! Aku tidak percaya ternyata ada sekuelnya!"

Aku meliriknya sekilas dari samping, tetapi dia tampak tidak menyadarinya. Ia menangkupkan kedua tangannya, memandang ke kejauhan dengan ekspresi penuh antusiasme, suaranya praktis melambung girang.

"Apa kau membawanya sekarang?"

"Tidak, tentu saja ada di rumah."

"Kalau begitu, bolehkah aku main ke rumahmu sekarang? Aku ingin membacanya secepat mungkin."

"...Apa?"

"Apa itu... tidak boleh?"

"Eh, tidak, boleh kok."

Saito datang ke rumahku? Mana mungkin aku tidak salah tingkah memikirkannya. Wajahku mulai terasa panas selagi aku bersusah payah mengendalikan pikiranku yang kalang kabut. Apa sebenarnya yang ada di kepala Saito?

Meskipun baru saja mengusulkan untuk berkunjung ke rumah lawan jenis, dia sendiri tampak tidak terlalu ambil pusing. Matanya berbinar penuh semangat, terfokus sepenuhnya pada buku itu. Oh, aku paham sekarang—pikirannya sudah terserap habis oleh keinginan untuk membaca. Rasa panikku mendadak terasa konyol.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Kita sebaiknya tidak pulang terlalu larut."

"Memangnya gawat kalau kemalaman?"

"Tentu saja. Bahaya berada di luar sendirian saat malam, dan lagi, berada di rumah lawan jenis selarut itu... yah, kau tahu sendirilah."

"...!?"

Dia langsung mematung, matanya membelalak seolah baru saja menyadari apa yang baru ia usulkan. Yup, persis seperti dugaanku.

"Kalau kau merasa tidak nyaman, kita batalkan saja."

"B-bukan begitu! Aku cuma mau meminjam buku, itu saja. Tidak ada masalah karena memang itu satu-satunya alasanku. Benar kan, Tanaka-kun?"

"Iya, iya, aku paham."

Pipinya merona merah tipis, tetapi mengungkitnya sekarang jelas tindakan yang tidak peka. Aku tidak berniat memancing masalah yang tidak perlu. Lebih baik tidak membangunkan singa yang sedang tidur.

Masih bertanya-tanya bagaimana situasinya bisa berkembang sejauh ini, aku memiringkan kepalaku sedikit selagi kami melangkah keluar dari perpustakaan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment