Chapter 3
Peristiwa Besar di Tempat Kerja
Hari setelah membuat janji
temu dengan Saito dan Kazuki. Saito sempat bilang bahwa ia ada urusan lain,
tapi karena aku juga ada giliran kerja, waktu luang kami sangat pas.
Seperti biasa, suasana
kedai sangat sibuk, tetapi berkat kelihaian Hiiragi-san dalam mengatur
pekerjaan, semuanya berjalan lancar. Selagi mengantar pelanggan baru ke
mejanya, aku berpapasan dengan Hiiragi-san yang sedang membawa tumpukan piring.
Kuncir kudanya membal dengan lincah seiring langkah kakinya.
Denting lonceng elektronik
di pintu masuk bergema di penjuru kedai, menandakan kedatangan pelanggan
berikutnya. Suara riuh para pengunjung terdengar makin nyaring, memenuhi
ruangan yang sudah padat ini. Aku pun bergegas menuju area depan untuk
menyambut mereka.
"Selamat datang. Meja
untuk dua orang?"
Pelanggan yang baru tiba
adalah dua wanita berpakaian kasual. Salah satunya memiliki rambut hitam
panjang yang tergerai melewati bahu, dengan anting-anting merah tua yang
bergoyang anggun. Satunya lagi, yang biasanya berambut panjang, kini berambut
cokelat terang sebatas leher dengan gaya ikal lembut—sepertinya baru saja
dikeriting.
Wanita berambut hitam
terlihat persis seperti biasa, tetapi gaya rambut pendek si wanita berambut
cokelat membuatnya nyaris tak kukenali pada pandangan pertama. Ia tampak
berpakaian sedikit lebih rapi dari biasanya—meski bisa saja itu hanya
perasaanku semata.
Sepertinya mereka
datang berkunjung lagi. Terlepas dari situasi canggung saat kunjungan terakhir
mereka, aku senang mereka kembali. Meski tidak tahu nama mereka, melihat keduanya lagi
memberiku rasa lega. Si wanita berambut cokelat sepertinya juga mengingatku,
terlihat dari bungkukan kecil yang ia berikan.
"Terima kasih untuk
waktu itu."
"Oh, sama sekali
bukan masalah. Tolong jangan dipikirkan lagi. Mari saya antar ke meja
Anda."
Ia benar-benar tidak perlu
merasa bersalah. Toh, setelah kejadian itu pun aku sudah memecahkan piring lain
lagi. Aku hanya berharap mereka melupakan kejadian waktu itu dan menikmati
santapan bersama. Saat aku berbalik untuk mengantar mereka ke meja, wanita
berambut cokelat memanggilku.
"Um..."
"Iya? Ada yang bisa
dibantu?"
Ketika aku berbalik,
wanita berambut cokelat itu tampak ragu-ragu, bibirnya bergerak-gerak seolah
ingin menyampaikan sesuatu. Ada apa gerangan?
"Katanya kau mau
menyimpannya untuk nanti sebelum pulang," bisik wanita berambut hitam di
sebelahnya. Si wanita berambut cokelat mengangguk pelan menanggapi bisikan itu.
Wanita berambut hitam kemudian menoleh ke arahku dengan senyum meminta maaf.
"Maaf soal tadi.
Bukan apa-apa, kok. Bisakah antarkan kami ke tempat duduk?"
"...Tentu saja."
Tampaknya wanita berambut
cokelat itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena ia mengurungkannya, aku
memutuskan untuk tidak mendesak. Mengesampingkan pertanyaan itu di benakku, aku
mengantar mereka berdua menuju meja.
Mengobrol dengan pelanggan
tetap sempat membuatku rileks sejenak, namun pekerjaan segera menuntut
perhatian penuhku kembali. Selalu ada yang harus dikerjakan—mengantar makanan
ke sana, membereskan meja di sini, sesekali menyahuti panggilan pelanggan. Meski
sudah terbiasa, ritme kerjanya tetap tak kenal ampun.
"Tanaka-san, tolong
catat pesanan untuk Meja 3."
"Berikutnya, antarkan
ini ke Meja 5."
"Ada pelanggan
menunggu di kasir."
Mengikuti arahan dari
Hiiragi-san, aku menyelesaikan setiap tugas satu demi satu. Meski secara teknis
dia bukan manajer, kehebatannya sungguh luar biasa. Dia bisa menangani
pekerjaannya sendiri sembari memastikan staf lain tetap fokus. Bermalas-malasan
sama sekali bukan pilihan—dia akan langsung memergokimu saat itu juga.
Bagaimana aku bisa tahu?
Yah, tentu saja karena aku pernah kena semprot sebelumnya. Waktu itu,
Hiiragi-san benar-benar menakutkan. Aku tidak mau merasakan pengalaman itu
lagi. Aku sudah kapok—tidak akan pernah curi-curi waktu santai lagi.
Tepat saat aku
menyelesaikan satu tugas, tugas lain sudah menanti. Bahkan tidak ada waktu
sedetik pun untuk bernapas lega, dan siklus ini terus berlanjut untuk beberapa
saat.
***
Dua jam telah berlalu
sejak kedai dibuka, dan gelombang pelanggan masih belum surut. Setelah
mengantar rombongan lain ke tempat duduk mereka, kudengar seseorang memanggil
dari arah meja kasir.
"Permisi!"
"Iya, saya segera ke
sana."
Menoleh ke meja kasir,
kulihat dua pelanggan tetap yang sama tadi. Mereka sedang asyik mengobrol sembari menunggu dengan
dompet di tangan.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu."
Aku mengambil struk pembayaran mereka dan mulai
memasukkan rinciannya ke mesin kasir, berhati-hati agar tidak membuat
kesalahan.
Selagi melayani, aku tak tahan untuk tidak
memperhatikan betapa berbedanya penampilan si wanita berambut cokelat.
Pakaiannya jauh lebih modis dari biasanya, hampir seperti orang yang hendak
pergi berkencan. Perubahan itu terasa segar, memberi sedikit variasi di tengah
giliranku yang monoton. Aku menyelesaikan transaksi dan menyerahkan uang
kembalian mereka.
"Terima kasih
banyak."
Wanita berambut cokelat
menerima kembalian itu dengan bungkukan kecil.
Seharusnya transaksi sudah
selesai sampai di situ, tetapi entah mengapa ia tidak beranjak pergi.
Sebaliknya, ia menatap koin-koin di tangannya dengan pandangan tertunduk lekat.
"Ada yang
salah?"
Apa aku membuat kesalahan?
Mengira mungkin aku salah memberi kembalian, aku segera menghitung ulang di
kepalaku, tapi tidak ada yang keliru.
Mendengar pertanyaanku,
perlahan ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya. Pipinya yang sedikit
merona tampak kian berseri, dan bibirnya yang mengilap terkatup rapat-rapat.
"Ayo, katakan saja
langsung," desak wanita berambut hitam sembari menepuk lembut punggung
temannya. Didorong oleh gestur tersebut, si wanita berambut cokelat membuka
mulutnya dengan ragu.
"Um... Bolehkah saya
meminta kontak Anda? Sebenarnya... saya sudah menyukai Anda sejak lama."
"...Hah?"
Pikiranku langsung kosong.
Sesaat, aku tidak bisa memproses apa yang baru saja ia katakan. Perubahan
situasi ini begitu mendadak sampai-sampai aku tidak percaya ini benar-benar
terjadi padaku.
Aku memutar ulang
kata-katanya di kepalaku beberapa kali hingga maknanya benar-benar meresap ke
dalam benakku.
"Eh, um..."
Aku tidak bisa memikirkan
jawaban yang pantas. Jika yang berada di posisiku adalah Kazuki, dia pasti bisa
mengatasinya dengan mudah. Aku sama sekali tidak punya pengalaman dimintai
kontak oleh seorang gadis, jadi aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus
merespons.
Gadis itu berdiri mematung
di hadapanku, menunduk malu sembari menunggu jawaban. Ketulusannya terpancar
jelas—ini jelas bukan lelucon. Hal itu justru membuatku makin kesulitan
merangkai kata-kata yang tepat.
Saat aku menggaruk pipi
dengan canggung, kebingungan mencari respons, wanita berambut hitam turun
tangan membantu.
"Maaf atas pendekatan
yang tiba-tiba ini. Aku jamin dia benar-benar serius mengatakannya. Aku tahu
ini permintaan yang mendadak, tapi bisakah kau mempertimbangkan untuk bertukar
kontak dengannya?"
Wanita ini pasti teman
yang sangat baik. Tatapannya yang begitu sungguh-sungguh demi membela temannya
membuatku merasa luar biasa bersalah. Wajah gadis yang menunggu di sebelahnya
pun menyiratkan sepercik harapan tipis. Apa tidak apa-apa kalau aku setidaknya
memberinya kontakku saja? Pemikiran itu sempat terlintas sejenak di kepalaku.
Namun aku segera
menepisnya. Pilihan itu tidak akan membawa kebaikan bagi siapa pun.
Jika aku benar-benar
menghargai niat di balik tindakannya, memberikan jawaban ambigu adalah hal
terburuk yang bisa kulakukan. Menghadapinya secara jujur dan tulus adalah
langkah terbaik yang bisa kuambil, sekalipun itu berarti harus melukainya untuk
sementara waktu. Aku menatap matanya secara langsung.
"Maafkan saya. Saya
sangat menghargai perasaan Anda, tapi..."
Tepat saat kata-kata itu
keluar dari mulutku, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Bibirnya terkatup rapat
menahan sakit, dan dampak dari penolakanku terlihat jelas membebaninya. Rasa
bersalah dan penyesalan langsung membanjiri dadaku.
Tak sanggup menahannya
lebih lama lagi, wanita berambut cokelat itu menundukkan kepalanya.
"...Apa
benar-benar tidak bisa?"
"Maafkan saya.
Soalnya, saya sudah memiliki orang yang saya sukai."
Menekan rasa sesak di
dadaku, aku berbicara dengan tenang dan tegas. Wanita berambut cokelat itu
perlahan menurunkan tangan yang sempat ia letakkan di dadanya, lalu berbisik
pelan, "Saya mengerti." Sembari memapah tubuh temannya yang tampak
lemas, wanita berambut hitam membimbingnya melangkah pergi.
Saat mereka hendak
keluar dari kedai, si wanita berambut hitam sempat membungkuk kecil ke arahku.
Gestur sederhana itu meninggalkan kesan mendalam yang aneh di hatiku.
"...Hah."
Dengan satu helaan
napas panjang, keriuhan dan kesibukan kedai kembali menyergap pendengaranku,
menarikku keluar dari momen yang terasa ganjil barusan. Realitas berupa
kebisingan dan aktivitas kedai telah kembali, tetapi peristiwa yang baru saja
terjadi terasa sangat tidak nyata bagiku.
Sudah berapa lama dia
memendam perasaan itu? Meski penampilanku agak lebih rapi sejak mulai
memperhatikan gaya di sekolah, aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini
akan terjadi.
Pengakuan cinta pertamaku
dari lawan jenis. Betapa sulitnya menolak perasaan seseorang. Keteguhan hati
yang dibutuhkan untuk melukai orang lain demi alasan pribadi kita sendiri.
Semuanya terasa jauh lebih berat dan menyakitkan dari yang pernah kubayangkan.
Mungkin ini jenis pergulatan yang berbeda dari apa yang selama ini dialami
Saito, tetapi rasanya aku baru saja menyentuh sekelumit kecil dari beban
tersebut. Saito pasti sudah berkali-kali menghadapi situasi serupa sebelumnya.
Akankah tiba saatnya aku
menyatakan perasaanku pada Saito? Saat ini aku memang merasa cukup dengan
hubungan kami yang sekarang, tapi apakah aku akan pernah memiliki keberanian
untuk mengambil risiko mengubahnya? Seberapa besar tekad yang harus dikumpulkan
gadis tadi hanya untuk berbicara padaku?
***
Malam kian larut, dan
jumlah pelanggan akhirnya mulai menyusut.
Dengan berhentinya pesanan
untuk sementara, akhirnya aku bisa mengambil napas lega. Melirik ke samping,
kulihat Hiiragi-san sedang mencuci piring.
"Biar kubantu."
"Terima kasih."
Aku berdiri di sampingnya
dan mulai memilah piring-piring kotor. Karena tadi kami terlalu fokus agar
tidak membuat pelanggan menunggu lama, banyak sekali piring yang
menumpuk—mangkuk salad, piring bekas daging, sumpit, sendok, pisau, dan
berbagai ukuran peralatan makan lainnya.
"Tadi kau mengobrol
dengan dua wanita itu. Apa mereka kenalanmu?"
"Bukan. Aku sering
melihat mereka makan di sini, jadi aku mengenali wajahnya, tapi ini pertama
kalinya kami mengobrol."
"Apa yang kalian
bicarakan?"
"Yah... mereka
meminta kontakku."
"Kontak?"
Hiiragi-san memiringkan
kepalanya sedikit sembari mencuci piring, rasa bingung tampak jelas di
wajahnya.
Matanya mengerjap cepat
seolah sedang mencerna kata-kataku, lalu ekspresinya mendadak berubah total.
"T-tunggu—apa!?
Mereka meminta kontakmu!?"
Piring yang sedang
dicucinya terlepas dari tangan dan jatuh berdenting keras ke dalam bak cuci
piring.
"Ah, maaf! Maksudmu
kontak itu..."
"Iya. Rupanya dia
sudah tertarik padaku sejak beberapa waktu lalu."
"Jadi urusannya soal
itu... Dia salah satu dari pelanggan tetap itu, kan?"
"Iya, pasangan
yang sering datang ke sini."
"Begitu
rupanya..."
Hiiragi-san berbalik
dan memungut kembali piring yang terjatuh tadi. Tetesan air sabun menetes ke
bawah, tetapi beruntung piringnya tidak pecah.
Aku melanjutkan
tugasku dalam diam, sesekali meliriknya yang kembali mencuci piring itu dengan
sangat hati-hati.
"...Kau
memberinya kontakmu?"
Suaranya keluar
sebagai gumaman yang sangat pelan.
Dengan kepala yang
tertunduk selagi mencuci, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hanya
helaian rambutnya yang bergoyang mengikuti ritme gerakannya.
"Tidak, tidak
kukasih."
"Benarkah?"
"Tentu saja
tidak. Kalau aku sudah menyukai orang lain, rasanya tidak pantas memberi
harapan palsu padanya."
Tangan Hiiragi-san
seketika berhenti bergerak. Dia mematung dengan piring yang masih berada di
dalam genggamannya.
"Ada yang
salah?"
"T-tidak, kurasa
itu cara yang sangat tepat untuk menanganinya."
Dia kembali
melanjutkan gerakannya, kini menggosok piring itu dengan sedikit lebih
bersemangat. Suara decitan piring bersih yang digosok terdengar riang di dapur.
"Kau benar-benar
menyukai 'gadis itu', ya?"
"Aku cuma memaksakan
perasaanku padanya tanpa dia minta. Ini cuma sepihak."
"Itu tidak benar.
Kalau kau begitu tulus dalam menghadapi orang lain, aku yakin dia juga akan
tertarik padamu."
"Kuharap
begitu."
Kira-kira apa yang dia
pikirkan tentangku? Dulu aku bisa mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa
kami hanyalah teman biasa, tetapi sikap Saito akhir-akhir ini membuat
keyakinanku goyah. Duduk lebih dekat denganku, lebih sering menyentuhku—dia
perlahan menjadi sedikit lebih berani. Ataukah aku hanya melihat apa yang ingin
kulihat karena perasaan sukaku padanya?
"Tapi, kau yakin
tidak apa-apa menolaknya begitu saja?"
"Ini bukan soal
siapa pun orangnya. Ini tentang orang yang kusukai."
"Begitu ya... Itu cara pandang yang bagus.
Tanaka-san, tetaplah fokus
padanya."
"Tentu saja, memang
itu niatku."
Aku mengangguk mantap, dan
Hiiragi-san yang tampak puas kembali mencuci piring dengan ekspresi wajah yang
cerah. Apakah ini hanya imajinasiku saja, atau tadi aku sempat mendengar
senandung pelan darinya?
***
"Terima kasih atas
kunjungannya. Kami nantikan kedatangan Anda kembali."
Aku memandangi pelanggan
terakhir yang melangkah keluar meninggalkan kedai.
Akhirnya waktu tutup tiba,
dan aku menghela napas panjang. Hari ini terasa sangat melelahkan. Banyak
sekali hal yang terjadi hingga energiku terkuras habis. Yang kuinginkan saat
ini hanyalah segera merebahkan diri di atas kasur.
Namun tugas tutup kedai
masih tersisa. Memaksa tubuhku yang terasa berat untuk bergerak, aku mulai
berbenah. Saat mengantar tumpukan piring ke area cuci, manajer kedai sedang
berada di sana, sibuk memasak di dapur.
"Oh, Tanaka-kun, pas
sekali waktunya. Mau coba uji rasa menu baru? Aku berencana menambahkannya ke
daftar menu, dan aku ingin mendengar pendapatmu. Bisakah kau sekalian memanggil
Hiiragi-chan ke sini?"
"Terdengar menarik.
Tentu, saya panggilkan."
Menu baru, ya? Masakan
manajer selalu lezat tanpa cela, jadi ekspektasiku cukup tinggi. Aku sudah
mencicipi kreasi masakannya beberapa kali sebelumnya, dan semuanya selalu luar
biasa.
Aku melirik ke piring
di dekat meja dapur manajer. Tampilannya menyerupai hidangan pasta creamy.
Hanya dari penampilannya saja, hidangan itu sudah terlihat sangat menggugah
selera.
Merasa sedikit antusias
dengan makanan tersebut, aku kembali ke area depan untuk memanggil Hiiragi-san.
Ia sedang tekun mengelap meja. Setiap kali ia menggosok permukaan meja, kuncir
kudanya ikut terayun lembut.
"Hiiragi-san, punya waktu sebentar?"
"Oh? Ada apa?"
"Manajer mengajak
kita uji rasa menu baru."
"Menu baru!? Aku
ikut! Ayo ke sana!"
Matanya berbinar-binar
penuh semangat. Ia lekas meletakkan kain
lapnya di atas meja dan melangkah cepat menuju dapur. Tampaknya Hiiragi-san
sama besarnya menggemari masakan manajer sepertiku. Langkah kakinya yang ringan
memperlihatkan betapa antusiasnya dia.
"Eh? Kalian berdua
mau ke mana?"
Mai-san yang baru saja
menyelesaikan rekap kasir melongokkan kepalanya dari balik lorong.
"Manajer mengajak
kami mencoba menu baru. Mau ikut?"
"Tentu saja! Mana
boleh kalian menyelinap makan enak tanpa aku."
"'Menyelinap',
ya..."
Ini cuma satu porsi uji
rasa—tidak perlu dibesar-besarkan. Lagipula, masakan manajer adalah sesuatu
yang kemungkinan besar dinikmati Mai-san jauh lebih sering di rumah dibanding
diriku.
Mai-san meletakkan
tumpukan struk pembayaran ke atas meja dengan suara berdebum. Tumpukan yang
tidak tersusun rapi itu langsung goyah dan berhamburan di atas meja.
"Hei, bukankah itu
agak teledor?"
"Tidak apa-apa.
Biar Mai di masa depan yang mengurusnya! Sekarang menu baru yang jadi
prioritas. Ayo berangkat!"
Dia jelas sama sekali
tidak berniat membereskannya sekarang. Berjalan paling depan, Mai-san melangkah
mantap menuju dapur. Ya, pola pikir
menunda-nunda seperti itu pasti akan jadi bumerang untuknya suatu hari nanti.
Ketika kami tiba di dapur,
manajer menghela napas pasrah.
"Mai, kenapa kau
ikut-ikutan ke sini?"
"Tega sekali Ibu
meninggalkanku? Jahat banget."
"Kau kan sudah
mencicipinya kemarin."
"Y-yah, itu
kan..."
Mai-san gelagapan.
Tadi dia begitu pongah melarang orang lain menyelinap pergi, padahal nyatanya
dia sendiri yang sudah curi-curi makan duluan. Benar-benar munafik.
"Ayolah, Bu,
boleh kan minta porsi kedua?"
"Ibu sih tidak
masalah, tapi bagaimana dengan mereka?" Manajer melirik tajam ke arahku
dan Hiiragi-san. Sekarang ini, kelakuan tak tahu malu Mai-san sudah bukan hal
baru lagi bagi kami.
"Sama sekali tidak
masalah."
"Aku juga tidak
keberatan."
Lagipula ini hanya sekadar
uji rasa. Ditambah lagi, fakta bahwa Mai-san begitu bernafsu mencobanya lagi
justru membuktikan betapa enaknya hidangan tersebut.
Saat kami mengangguk,
Mai-san menangkupkan kedua tangannya tanda terima kasih dan berkata,
"T-terima kasih banyak, senpai..." Seharusnya dia bisa bersikap
sedikit lebih tulus berterima kasih.
Manajer menghela napas
panjang.
"Jadi, menu baru apa
ini, Manajer?"
"Ini pasta creamy dengan salmon dan
udang. Agak sulit membuat saus krimnya melapisi pasta dengan pas, tapi minggu
lalu aku akhirnya berhasil menyempurnakannya."
"Salmon dan udang?"
Pasta itu diberi topping potongan daging
salmon tebal dan udang yang montok. Aromanya saja sudah cukup untuk menggugah
selera makanku, bahkan setelah giliran kerja yang melelahkan.
"Nah, silakan dicicipi."
Mengambil garpu yang disodorkan manajer, aku
menggulung pasta menjadi ukuran satu suapan.
Krimnya menempel sempurna pada pasta, persis
seperti yang diinginkan manajer. Hanya melihatnya saja, aku sudah tahu ini akan
sangat memuaskan. Dengan hati-hati kubawa garpu itu ke mulut agar sausnya tidak
tumpah.
"Mmm!?"
Saat menyentuh lidah, rasa gurih dan creamy
yang kaya langsung menyebar ke seluruh mulutku. Kemudian, aroma lembut dari
salmon dan udang menyusul, memanjakan indra pengecapku.
Semakin dikunyah, perpaduan rasa dari
bahan-bahan dan saus krimnya makin menyatu dengan sempurna, menjadikannya
berkali-kali lipat lebih lezat. Begitu menelannya, aku menghela napas puas.
"Bagaimana
rasanya?"
"Luar biasa enak. Ini
pasti bakal jadi menu favorit pelanggan."
"Wah, terima kasih!
Senang kau menyukainya. Hiiragi-chan, kau juga harus mencobanya."
Manajer menggeser piring
ke arah Hiiragi-san, yang kemudian menggulung sebagian pasta ke garpunya dengan
hati-hati. Ia menggumamkan ucapan pelan "Selamat makan," meniup
pastanya perlahan untuk mendinginkannya, lalu menyuapkannya ke mulut dengan
tangan kirinya terangkat anggun menadah di bawahnya.
"Mmm!"
Saat mencicipinya, matanya
yang tersembunyi di balik poni membelalak kaget. Sembari mengunyah perlahan,
ekspresi wajahnya meleleh menjadi senyuman penuh kenikmatan.
"Fufufu, sepertinya
Hiiragi-chan juga sangat menyukainya."
Karena mulutnya masih
penuh, Hiiragi-san hanya bisa mengangguk dalam diam. Usahanya untuk
menyampaikan betapa lezatnya makanan itu tanpa kata-kata terlihat menggemaskan.
Setelah beberapa kunyahan lagi, ia akhirnya bisa berbicara.
"Manajer, ini
benar-benar sangat lezat!"
"Terima kasih.
Mendengarnya dari wajah yang seceria itu membuatku ikut bahagia."
Manajer tampak puas
melihat reaksi ekspresif Hiiragi-san. Dengan makanan selezat ini, menu tersebut pasti akan
menjadi hidangan yang sangat laris.
"Aku juga mau coba!
Tolong beri aku bagian!"
Tampaknya Mai-san sudah
tidak bisa menahan diri lagi. Mengingat betapa enaknya hidangan ini,
ketidaksabarannya bisa dimaklumi.
"Tanaka-senpai, boleh
pinjam garpumu?"
"Oh, silakan."
Aku menyerahkan garpuku
tanpa pikir panjang. Mai-san mengambilnya dan memegangnya erat di tangan
kanannya. Tunggu... Bukankah secara teknis ini berarti ciuman tidak langsung?
Seolah bisa membaca
pikiranku, Mai-san memamerkan senyuman menggoda di waktu yang sangat tepat.
"Fufufu,
Tanaka-senpai, ini bakal jadi ciuman tidak langsung, lho?"
Apa dia sengaja
melakukannya, atau baru saja menyadarinya? Mau bagaimanapun juga, setelah dia
mengungkitnya secara terang-terangan, situasinya jadi canggung. Tepat saat aku
menimbang-nimbang untuk menghentikannya, Hiiragi-san menyela lebih dulu sebelum
aku sempat bicara.
"Mai-chan, sudah
cukup. Tanaka-kun punya orang yang dia sukai, jadi tolong jangan lakukan
hal-hal semacam ini."
Suaranya terdengar lebih
berat dari biasanya, matanya yang menyipit memancarkan kilatan tajam. Meskipun
ia tersenyum, itu adalah jenis senyuman yang membuat bulu kuduk merinding.
"Kau tahu batasan
kan, Mai-chan?"
"I-iya, tentu
saja."
Bercucuran keringat
dingin, Mai-san mengangguk kuat-kuat. Ia melirik ke arah Hiiragi-san, lalu
beralih menatapku, dan dengan enggan mengembalikan garpu tersebut.
"Aku cuma bercanda,
sumpah. Hiiragi-senpai, boleh kupinjam garpumu saja kalau begitu?"
"Tentu, ini."
Saat Mai-san menerima
garpu dari Hiiragi-san, atmosfer tegang di sekitarnya tampak mereda. Tampaknya
Hiiragi-san yang selalu bersikap serius tidak bisa membiarkan hal seperti
ciuman tidak langsung lewat begitu saja. Begitu suasana hati Hiiragi-san membaik,
senyum kaku Mai-san kembali melunak menjadi senyuman cerahnya yang biasa.
"Kalau begitu,
selamat makan!"
Mengambil suapan besar
pasta, wajah Mai-san meleleh ke dalam ekspresi bahagia yang hakiki. Meskipun
kemarin dia sudah mencicipinya, dia tetap makan dengan sangat bernafsu. Caranya
melahap pasta hampir mirip seperti hewan kecil yang kelaparan. Pada akhirnya,
kami bertiga berbagi hidangan itu dengan gembira.
***
"Ah, Tanaka-senpai,
tunggu sebentar!"
Setelah menyelesaikan
tugas tutup kedai dan baru saja hendak melangkah pulang, Mai-san memanggilku.
"Hiiragi-senpai, kau
juga!"
Mendengar namanya
dipanggil, Hiiragi-san ikut menghampiri.
"Mai-chan, ada
apa?"
"Ibu memberiku tiket
bioskop ini dan menyuruhku pergi nonton bersama kalian berdua. Kalian mau
ikut?"
Mai-san mengeluarkan tiga
lembar tiket dari sakunya. Tiket-tiket itu untuk film misteri populer yang
belakangan ini ramai diperbincangkan. Desain di bagian depannya cocok dengan
poster film resminya, jadi tak diragukan lagi. Kudengar ceritanya diadaptasi
dari novel, tapi aku belum sempat membacanya. Desas-desus mengatakan alur
kisahnya luar biasa bagus.
"Oh, film itu? Aku
penasaran sekali ingin nonton. Aku mau ikut."
"Aku juga! Dari
kemarin aku ingin menontonnya. Um, tapi apa tidak apa-apa soal biayanya?"
"Jangan dipikirkan.
Ini cuma kebiasaan Ibuku yang suka ikut campur."
Suka ikut campur? Kata itu
memicu rasa penasaranku.
"Ikut campur?"
"Aku pernah
menceritakan ini pada Hiiragi-senpai sebelumnya, tapi Ibuku mengira kau dan
Hiiragi-senpai punya hubungan yang terlalu dekat."
"Apa? Tidak mungkin,
mana ada hal semacam itu di antara Hiiragi-san dan aku."
Apa sebenarnya yang
dipikirkan manajer? Itu menjelaskan mengapa beliau terkadang tersenyum penuh
arti setiap kali aku mengobrol dengan Hiiragi-san.
Berkat Kazuki, aku jadi
sangat peka mengenali seringai jahil semacam itu. Gagasan tentang adanya
perasaan romantis antara aku dan Hiiragi-san benar-benar konyol. Lagipula, kami
berdua sama-sama menyukai orang lain.
"Aku sudah
memberitahunya begitu, tapi Ibu bersikeras menolak percaya dan mengira
Hiiragi-senpai cuma terlalu malu untuk mengakuinya."
"Padahal aku sudah
menyangkalnya mentah-mentah..."
Hiiragi-san menghela napas
samar yang terdengar frustrasi, bibir merahnya sedikit mengerucut sebal.
Tampaknya ini bukan pertama kalinya kesalahpahaman semacam ini terjadi.
"Memangnya apa yang
membuat beliau berpikir begitu?"
"Mungkin karena tidak
banyak staf seumuran kita yang bekerja di sini, jadi melihat Hiiragi-senpai
mengobrol akrab dengan seorang cowok pasti terasa tidak biasa baginya. Dulu kan
dia terkesan susah didekati."
"Ah, begitu
rupanya."
Aku teringat kembali saat
pertama kali bertemu Hiiragi-san. Dia hampir tidak pernah bicara kecuali untuk
hal-hal yang benar-benar penting, dan sikapnya yang dingin membuatnya sulit
diajak berteman.
Jika memang seperti itu
perangainya sebelum aku datang, maka aku bisa memahami mengapa manajer salah
mengartikan perubahan yang terjadi sekarang. Padahal alasan sebenarnya dari
perubahan itu adalah karena Hiiragi-san telah menemukan seseorang yang ia sukai—sosok
yang benar-benar baik baginya.
"Apa kami berdua
benar-benar kelihatan sedekat itu?"
"Yah, aku sih tahu
kalian cuma mendiskusikan pekerjaan, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi
aku paham kenapa orang lain bisa salah paham."
Mai-san menyatakannya
dengan santai seolah fakta yang sudah jelas. Sekalipun kami berdua sangat yakin
tidak ada apa-apa di antara kami, kesalahpahaman dari orang-orang di sekitar
kami memang tak terelakkan. Untunglah pelakunya cuma manajer kali ini, tapi
kalau sampai Saito yang salah paham...
Untuk menghindari salah
paham yang aneh, mungkin ada baiknya aku mengungkit masalah ini di depannya
nanti. Jika itu tidak berhasil, jalan terakhir adalah mempertemukan mereka
secara langsung. Begitu mereka bertemu, aku yakin Saito akan mengerti.
"Lalu bagaimana cara
membuat manajer percaya? Menyangkalnya saja tidak mempan."
"Serahkan itu padaku!
Nanti kujelaskan semuanya sampai tuntas. Untuk sekarang, fokus saja menikmati
filmnya!"
"Kau benar. Berbicara
lebih banyak sekarang mungkin malah memperkeruh suasana. Kuserahkan padamu ya,
Mai-chan."
"Serahkan padaku!
Nanti kuberi tahu dengan jelas kalau Hiiragi-senpai ini sebenarnya sedang
tergila-gila pada cowok di sekolahnya."
Mai-san mengacungkan
jempolnya dengan penuh percaya diri. Meski rasa percaya dirinya terdengar
meyakinkan, entah mengapa aku tak bisa menepis perasaan cemas.
"Dan aku juga akan
menceritakan semua detail reaksi malu-malu Hiiragi-senpai yang menggemaskan
pada Ibu."
"Eh, aku menghargai
niatmu untuk meluruskan masalahnya, tapi... apa benar-benar perlu menceritakan
reaksiku juga?"
"Bicara apa sih? Menambahkan bumbu detail
itu penting demi kredibilitas cerita."
Meskipun alasannya terdengar masuk akal,
lengkungan tipis di bibir Mai-san memperjelas bahwa ia hanya sedang menikmati
kesempatan untuk mengerjai orang lain.
"...Mai-chan, kau
sengaja bersenang-senang di atas penderitaanku, kan?"
Tatapan tajam
Hiiragi-san menusuk tepat ke arah Mai-san, menggemakan kecurigaanku sendiri.
"Wah, mana
mungkin begitu! Aku tidak akan pernah tega menjahili seniorku cuma demi
hiburan. Tolong percaya padaku."
"Tingkat
kredibilitasmu itu nol besar."
"Kenapa
begitu!?"
"Coba renungkan
kelakuanmu selama ini. Sudah berapa kali kau
menggodaku?"
"Yah..."
Mai-san terdiam sesaat,
pandangannya sedikit turun. Apa ada alasan mendalam di balik sikapnya ini?
"Aku menggoda
Hiiragi-senpai karena aku sangat menyayangimu!"
"Kau ini anak SD
apa!?"
Aku tak tahan untuk tidak
menyela. Mengharapkan alasan yang lebih masuk akal jelas sebuah kesalahan besar
di pihakku. Mengenal tabiat Mai-san, seharusnya aku sudah bisa menduga jawaban
seperti ini.
Kukira Hiiragi-san akan
melayangkan tatapan yang jauh lebih tajam mendengar alasan konyol dari Mai-san,
tetapi sebaliknya, ia justru mengerjap kaget seolah terperangah. Ketajaman di
wajahnya mendadak melunak, dan pipinya merona merah tipis. Tunggu... Hiiragi-san?
"K-kau menyayangiku,
ya... Yah, kalau alasannya begitu, mau bagaimana lagi."
"Benar, kan? Itu
karena aku sangat menyayangimu, Hiiragi-senpai. Maafkan aku!"
Dengan mata berkaca-kaca
dan kedua tangan terkatup di depan dada, Mai-san mendongak menatap Hiiragi-san
dengan tampang memohon. Dia jelas-jelas sedang memasang wajah polos untuk
memanipulasi keadaan.
Meski taktik liciknya
terlihat begitu gamblang, Hiiragi-san tampak bimbang dan sedikit mengernyitkan
alisnya.
"...Baiklah. Asalkan
kau bisa menahan diri mulai sekarang."
"Benarkah!? Aku akan
berusaha menahan diri sebisa mungkin."
Hiiragi-san, kau ini
terlalu gampangan. Kata "sebisa mungkin" itu jelas-jelas cuma alasan
klise. Dia sama sekali tidak berniat untuk berubah. Itu kalimat yang persis
sama dengan yang sering dipakai Kazuki untuk memuluskan rencananya padaku.
Bagi seseorang yang
biasanya selalu waspada, Hiiragi-san luar biasa lunak terhadap Mai-san. Dan
lihatlah, Mai-san tersenyum licik di balik punggung Hiiragi-san. Sikap
gampangan seperti inilah yang membuatnya terus-menerus jadi sasaran empuk
kejahilan. Aku mencondongkan badan untuk berbisik pada Hiiragi-san.
"Kau yakin tidak
apa-apa membiarkannya? Dia pasti akan menjahilimu lagi nanti."
"Yah, kalau dia
melakukannya karena menyukaiku, kurasa aku bisa menerimanya."
"Terserah kau saja,
deh. Tapi kau ini terlalu memanjakan Mai-san."
Aku tak bisa berhenti
berpikir betapa miripnya tabiat Mai-san dengan Kazuki. Sekali saja kau lengah,
mereka akan langsung memanfaatkan celah itu untuk menggodamu habis-habisan. Aku
sudah bisa membayangkan Hiiragi-san bakal kembali dikerjai di masa depan.
"Nah, kembali ke
topik awal, kapan kita mau berangkat? Kalian berdua libur hari Minggu ini, kan?"
"Hari Minggu aku
bisa."
"Aku juga tidak
ada jadwal."
"Bagus! Mari kita
kumpul di depan stasiun hari Minggu nanti. Fufufu, Tanaka-senpai, kau akan
diapit oleh dua gadis cantik di kanan dan kirimu."
"Iya, iya,
terserah."
"Ayolah, pasang
tampang lebih antusias sedikit!"
Mai-san mengerucutkan
bibirnya pura-pura kesal, pipinya mengembang bulat. Tatapan sebalnya menusuk ke
arahku, tapi aku hanya berharap dia bisa mengurangi sifat jahilnya itu terlebih
dahulu. Bagaimanapun juga, aku ingin menikmati acara jalan-jalan ini dengan
damai. Maka dengan begitu, rencana kami bertiga untuk pergi di hari Minggu
resmi ditetapkan.
***
Sudut Pandang Saito
"Kalau begitu,
hati-hati di jalan, dan terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini."
"Sampai jumpa hari
Minggu!"
Setelah berpisah dengan
Tanaka-kun, aku melangkah menuju ruang ganti wanita. Rekan paruh waktu yang
lain sudah pulang lebih dulu, jadi di ruangan ini hanya tersisa aku dan
Mai-chan. Tubuhku terasa sangat berat akibat beban kerja hari ini, dan yang
kuinginkan hanyalah segera sampai di rumah lalu tidur. Aku memasukkan seragamku
ke dalam tas.
"Hiiragi-senpai, aku
benar-benar minta maaf soal Ibuku yang suka ikut campur."
"Tidak apa-apa, aku
tidak merasa terganggu. Tanaka-san memang sempat agak kaget, tapi sepertinya
dia tidak terlalu merasa terbebani. Justru aku yang merasa tidak enak karena menerima
tiket ini cuma-cuma."
Meskipun aku sudah
membantahnya dengan tegas, manajer tetap saja salah paham mengenai hubunganku
dengan Tanaka-kun. Yah, beliau memang tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja.
"Aku sudah bilang
ke Tanaka-senpai kalau kalian berdua cuma teman curhat, tapi sejujurnya,
bagaimana perkembangan hubungan kalian sebenarnya? Tadi kalian mengobrol dengan
sangat akrab di tempat cuci piring. Kurasa kesalahpahaman Ibuku tidak sepenuhnya
meleset, lho."
"Kan sudah
kubilang, bukan seperti itu. Tanaka-san cuma sedang menceritakan kejadian tidak
biasa waktu ada pelanggan yang mengajaknya bicara."
"Oh, maksudmu waktu
dia menjaga kasir tadi? Aku juga sempat melihatnya. Apa dia baru saja dirayu
oleh seorang cewek atau semacamnya?"
"Tunggu... Apa kau
menanyakan hal itu langsung pada Tanaka-san?"
"Oho, jadi tebakanku
benar."
Seringai licik Mai-chan
terlihat sangat jauh dari kesan anggun seorang gadis. Gawat, aku keceplosan.
Meskipun Tanaka-kun tidak memintaku secara khusus untuk merahasiakannya,
kejadian seperti itu bukanlah konsumsi publik yang pantas disebarluaskan begitu
saja.
"Yah, tidak
sepenuhnya dirayu. Gadis itu cuma meminta kontaknya. Rupanya dia sudah tertarik
padanya sejak beberapa waktu lalu."
"Yah, Tanaka-senpai
kan memang tampan. Dia mungkin cukup
populer juga di sekolahnya."
"Kau pikir
begitu?"
"Tentu saja! Dia itu
baik hati, tampan, dan luar biasa setia. Aku tidak bisa memikirkan alasan
kenapa dia tidak bakal populer."
Pujian Mai-chan untuk
Tanaka-kun terdengar agak berlebihan. Namun jika dipikirkan seperti itu, sulit
untuk menyangkalnya. Dia bukan sekadar kutu buku yang tidak peduli pada hal
lain di luar bacaan—dia adalah orang yang tulus dan bisa diandalkan. Kalau dipikir-pikir
lagi, kesetiaan dan kebaikannya memang salah satu sifat terbaik yang ia miliki.
Mengingat betapa
bersemangatnya dia saat membicarakan buku, senyuman tanpa sadar merekah di
wajahku.
"Ditambah lagi,
caranya memperlakukan orang yang dia sukai dengan begitu tulus sungguh
mengagumkan. Sejujurnya, aku sedikit cemburu pada siapa pun gadis beruntung
itu."
"Waktu gadis tadi
meminta kontaknya, dia bilang tidak bisa memberi jawaban mengambang karena dia
sudah memiliki orang yang dia sukai, jadi dia langsung menolaknya."
"Serius!? Dia tulus
sekali. Kalau cowok yang kusukai memikirkan diriku sedalam itu, aku pasti bakal
terbang melayang saking senangnya. Kuharap ada orang yang memikirkanku seperti
itu juga."
"K-kau benar.
Mengetahui betapa orang yang kita sukai sangat peduli pada kita pasti akan
membuat siapa saja merasa sangat bahagia."
Aku hanya bisa mengiyakan
gumaman iri dari Mai-chan. Sejujurnya, mendengarnya saja sudah membuat hatiku
membuncah bahagia. Meskipun biasanya dia bersikap datar dan acuh tak acuh di
depanku, mengetahui bahwa dia diam-diam sangat mempedulikanku di balik layar
rasanya benar-benar curang.
"Tidakkah kau
penasaran tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang yang kau sukai
terhadap dirimu?"
"Membayangkan
kemungkinan tidak disukai memang membuat deg-degan, tapi kalau dia juga
menyukaiku, aku tentu ingin tahu sekali. Aku bahkan ingin mendengar dia
memuji-muji diriku secara langsung."
Tampaknya semua orang
merasakan rasa penasaran yang sama mengenai perasaan gebetan mereka yang
sesungguhnya.
"Kalau kau
benar-benar bisa tahu apa isi pikiran cowok yang kau sukai, apa yang akan kau
lakukan?"
"Maksudmu, seperti
punya kekuatan super yang bisa membaca pikiran orang?"
"Iya, semacam
itu."
"Hmm, kalau aku, aku
pasti akan menanyakan banyak hal."
"Tapi bukankah tidak
adil mengintip pikiran pribadi seseorang tanpa izin mereka?"
"Yah, memang salah
kalau mengorek masa lalu atau rahasia mereka tanpa izin, tapi kalau cuma ingin
tahu perasaan mereka terhadap kita rasanya masih wajar. Kalau mereka tidak
tertarik, kita bisa lekas move on. Dan kalau mereka ternyata tertarik,
kita jadi makin termotivasi untuk berusaha lebih keras. Lagipula, pasti bikin
senang kalau mereka mulai lebih memperhatikan kita."
"Jadi, selama itu
menyangkut perasaan mereka terhadap dirimu, batasannya masih aman?"
"Tepat sekali. Di
situlah garis batas yang kutarik. Oh, tunggu—Hiiragi-senpai, jangan bilang kau
baru saja membangkitkan kekuatan super membaca pikiran?"
"Eh?"
Jantungku seketika
berdegup kaget.
"Cuma bercanda! Mana
mungkin kekuatan super senyaman itu benar-benar ada di dunia nyata. Kita harus
berjuang keras lewat cara konvensional."
Mai-chan merentangkan
kedua tangannya ke belakang kepala lalu menatap langit-langit. Dia bisa
melontarkan lelucon itu dengan begitu santai karena dia yakin hal itu mustahil.
Sejujurnya, belum lama ini aku pun pasti akan berpikir demikian. Namun kini,
kenyataan yang kujalani justru jauh lebih aneh daripada cerita fiksi.
"Jadi,
Hiiragi-senpai, bagaimana perkembangannya belakangan ini? Apa strategi yang
kita diskusikan kemarin untuk menarik perhatiannya berjalan lancar?"
"Aku sudah mencoba
melakukan beberapa manuver halus, tapi reaksinya... biasa-biasa saja. Kadang
dia menyadarinya, tapi membuat wajahnya memerah malu masih menjadi target yang
jauh."
"Hal-hal apa saja
yang sudah kau coba?"
"Yah, salah satunya
duduk di sampingnya di sofa. Lalu aku mencoba menunjukkan ketertarikan pada
hal-hal yang dia sukai... oh, dan aku juga bilang kalau aku menyukai hal-hal
itu."
Mengingat kembali
tindakan-tindakanku sendiri saja sudah membuatku sangat malu. Aku tidak percaya
telah melakukan hal seberani itu. Apa itu tadi terlalu agresif?
Tapi reaksi gugup
Tanaka-kun saat aku duduk di sampingnya tadi sungguh sangat menggemaskan.
Melihatnya kehilangan ketenangan yang biasa terasa begitu menyegarkan. Rasanya
aku ingin sekali mengambil fotonya saat itu. Aku ingin melihat ekspresi itu
lagi.
"Kedengarannya kau
sudah mempraktikkan saranku dengan sangat sempurna."
"Aku benar-benar
ingin melihat wajahnya memerah malu."
"...!"
Mai-chan mendadak
mematung, matanya mengerjap cepat.
"Eh? Ada apa?"
"Manis sekali!"
"T-tunggu,
Mai-chan!?"
Sebelum aku sempat
bereaksi, Mai-chan sudah melingkarkan lengannya ke tubuhku dan memelukku
erat-erat. Aroma jeruk yang segar menggelitik hidungku selagi dia menahanku di
tempatnya.
"Hiiragi-senpai, kau
benar-benar sangat menyukainya, ya? Kalau dia melihat ekspresi wajahmu yang
barusan, dia pasti bakal langsung bertekuk lutut."
"Ekspresi seperti apa
yang barusan kubuat...?"
"Wajahmu tadi
memancarkan ekspresi orang yang sedang mabuk kepayang karena cinta. Bahkan aku
yang sesama perempuan saja sempat dibuat berdebar melihatnya. Mana mungkin ada
cowok yang tidak luluh melihat Hiiragi-senpai yang begitu menggemaskan begini?"
"Dia jelas seorang
cowok, dan dia juga tampan."
Kata-kata itu meluncur
begitu saja dari mulutku sebelum sempat kutahan.
"Kalau begitu kau
cuma perlu berusaha lebih keras lagi."
"Apa yang harus
kulakukan?"
"Hm, bagaimana kalau
menggandeng tangannya?"
"M-menggandeng
tangannya!?"
Menghadapi situasi yang
kulakukan sejauh ini saja sudah membuat nafasku tersengal-sengal—mana mungkin
aku bisa melakukan hal seberani itu. Memikirkan keberanian yang dibutuhkan
untuk itu saja sudah membuat perutku mulas. Bagaimana kalau dia menganggapku aneh?
"Tenang, tenang. Aku
juga tidak benar-benar mengira orang yang pemalu sepertimu bisa langsung berani
menggandeng tangan."
"Aku tidak
pemalu!"
"Iya, iya, teruslah
menyangkal. Ngomong-ngomong, kenapa tidak mencoba sentuhan yang lebih kasual
dulu? Menepuk pundaknya dengan santai, misalnya."
"...Itu mungkin masih
bisa kulakukan."
Jika dilakukan secara
halus, hal itu seharusnya tidak akan terkesan aneh. Kurasa aku bisa
mengatasinya. Memang agak memalukan, tapi jika itu bisa membuat Tanaka-kun
lebih sadar akan keberadaanku, itu layak dicoba.
"Begitu kau sudah
terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil, langkah berikutnya akan jauh lebih
mudah mengalir secara alami."
"Kau benar. Kurasa
aku bisa melakukan ini."
Saran dari Mai-chan selalu
tepat sasaran. Kali ini, aku sangat yakin bisa melihat wajah Tanaka-kun memerah
malu.
"Cuma satu
pertanyaan—apa kau pernah menyentuhnya selain sentuhan yang tidak disengaja?
Kalau belum pernah sama sekali, sentuhan kasual pun mungkin bakal terasa
terlalu berat untukmu."
"Jangan remehkan aku.
Dia sudah pernah memegang tanganku beberapa kali waktu menuntunku jalan."
"Tapi itu kan dia
yang memulai duluan, benar? Kau harus mengambil langkah pertama."
"A-aku pernah
melakukannya!"
"Benarkah?"
Tatapan penuh keraguan
dari Mai-chan menusuk tepat ke arahku. Padahal aku lebih tua darinya, tapi
kenapa dia tidak memercayaiku sama sekali?
"Pernah, kok! Baru
beberapa hari yang lalu, aku menyandarkan kepalaku ke dadanya."
"Apa!? Ceritakan
rinciannya padaku!"
Gawat, ini buruk. Tepat di
saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat.
Wajah Mai-chan
merangsek makin dekat, matanya berkilau bak permata. Di dalam pupil matanya
yang melebar dan berbinar, aku bisa melihat bayangan wajahku sendiri terpantul
di sana.
Intensitas rasa
penasarannya yang luar biasa membuatku mundur selangkah, namun ia seketika maju
selangkah untuk memangkas jarak. Sudah tidak ada jalan keluar lagi—dia tidak
akan melepaskanku sebelum aku menjawab semua pertanyaannya.
"Yah... waktu itu
dia membantuku saat aku sedang kesulitan, dan aku begitu diliputi rasa terima
kasih sampai... aku agak terbawa suasana..."
"Wah, itu berani
sekali! Menyerahkan diri dan menempel ke dada seorang cowok seperti itu,
padahal kalian belum pacaran? Tidak semua orang punya nyali untuk
melakukannya."
"A-aku tidak akan
bisa mengulanginya lagi! Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya
benar-benar melakukan hal itu waktu itu—rasanya seperti bukan diriku
sendiri!"
Aku tidak akan pernah
sanggup melakukan hal semacam itu lagi. Masih menjadi misteri bagiku bagaimana
aku bisa memiliki keberanian sebesar itu waktu itu. Mengingatnya kembali
sekarang, itu tindakan yang terlalu nekat. Gawat, mengingatnya saja sudah
membuatku ingin menenggelamkan wajahku ke bantal dan berteriak
sekeras-kerasnya.
"Yah,
dibandingkan dengan aksi nekat itu, sentuhan kasual seharusnya jadi hal yang
sangat mudah buatmu. Kau pasti bisa."
"Ini tidak mudah,
tapi... aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Jangan
khawatir—bahkan kalaupun gagal, skenario terburuknya kau cuma akan dicap
sebagai cewek aneh. Jadi santai saja dan
kerahkan seluruh kemampuanmu!"
"Itu sama sekali
tidak membuatku merasa lebih tenang!"
Rasa gugupku langsung
meletup kembali seketika. Apakah aku benar-benar sanggup melakukannya?
Melontarkan kalimat yang meresahkan di detik-detik terakhir—benar-benar ciri
khas Mai-chan. Menarik napas dalam-dalam, aku mengepalkan kedua tanganku
erat-erat, berusaha memantapkan tekad untuk menghadapi tantangan besar di depan
mata.


Post a Comment