Chapter 2
Sebuah Hubungan Mulai Berubah
Melangkah keluar rumah,
udara dingin yang menusuk langsung menyengat kulitku. Napasku mengembun menjadi
kepulan putih di bawah langit kelabu berawan yang menggantung di atas. Cuaca
seperti ini sama sekali tidak membangkitkan semangat untuk beraktivitas—malah
makin memperburuk suasana hatiku yang memang sedang lesu.
Keriuhan Tahun Baru telah
berlalu, dan hari ini menandai berakhirnya liburan musim dingin. Liburan kali
ini terasa ambigu—terasa panjang sekaligus singkat di saat yang bersamaan.
Banyak hal tak terduga telah terjadi, tetapi secara keseluruhan, itu bukan cara
yang buruk untuk menghabiskan hari.
Aku menyusuri rute yang
sudah tak asing, langkah kakiku bergerak dengan pasti. Meski jadwal kami sempat
tidak cocok selama berhari-hari, hari ini akhirnya aku bisa pergi ke tempat
Saito.
Deretan rumah yang
familier, taman yang sudah kulewati tak terhitung jumlahnya, serta pepohonan
pinggir jalan yang tampak meranggas abadi—pemandangan yang kuhafal selama
liburan musim dingin ini bergulir melewatinya selagi aku berjalan dari rumahku
ke kediamannya. Aku berbelok ke kanan, lalu ke kiri, tanpa pernah tersesat. Tak
butuh waktu lama, apartemennya pun terlihat.
Berdiri di depan pintunya,
aku menekan bel. Denting bel bergema
lembut, dan tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat dari
dalam.
"Iya. Masuklah,
Tanaka-kun."
"Ah, maaf
mengganggu."
Saito mengulurkan
tangannya dengan gestur menyambut, membimbingku masuk. Saat aku melangkah ke
dalam dan melepas sepatu, udara hangat langsung menyelimutiku, membuatku
menghela napas lega.
"Ah, hangat sekali di
sini."
Melepaskan syal yang
melilit leherku, aku langsung menjatuhkan diri ke sofa yang biasa, tempat duduk
khusus untukku. Dari arah dapur, terdengar denting cangkir teh saat Saito
sedang menyeduh teh.
"Hari ini terasa
sangat dingin, ya," komentarnya.
"Pantas saja.
Tadi pagi aku hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur saking
dinginnya."
"Kau memang tidak
tahan dingin, ya?"
"Iya, kalau bisa,
aku ingin menghabiskan sepanjang hari meringkuk di bawah kotatsu sambil
membaca buku."
"Itu terdengar
seperti kebiasaan kura-kura..."
Helaan napasnya yang
setengah pasrah lolos sebelum sempat ia tahan.
Merasa sedikit kesal,
aku meliriknya dari balik pundak. Ia sedang memasukkan daun teh ke dalam teko
dengan hati-hati, gerakannya sangat teliti.
"Hei, jangan
meremehkannya. Tertidur di bawah kotatsu sambil membaca buku itu
perasaan paling nikmat di dunia."
"Dan kau bisa masuk
angin kalau melakukan itu. Sungguh..."
"Kau tidak suka kotatsu,
Saito?"
"Ini bukan soal suka
atau tidak suka—aku belum pernah menggunakannya."
"...Apa?"
"Keluargaku tidak
pernah punya kotatsu di rumah."
"Yang benar saja?
Kurasa kau pasti akan menyukainya kalau mencobanya."
"Entahlah—aku belum
pernah punya kesempatan."
"Kalau begitu kau
harus datang ke rumahku dan—"
Kata-kata itu meluncur
begitu saja sebelum aku sempat menyadarinya. Aku langsung mengatupkan bibirku
rapat-rapat.
"Ada apa?"
tanyanya, pandangannya masih terfokus menuangkan air panas ke dalam teko.
Untunglah, dia tidak
menatap ke arah wajahku, menyelamatkanku dari situasi memalukan karena terlihat
panik. Perlahan, aku mengalihkan pandanganku kembali ke depan dan berusaha
menguasai diri.
"B-bukan
apa-apa," jawabku, memaksa kata-kata itu keluar. Aku menghela napas pelan,
merasa lega karena kecerobohanku tidak terbongkar.
Apa yang kupikirkan,
sampai-sampai mengajaknya ke rumahku? Mengundang seorang gadis ke rumah pasti
akan menimbulkan kecurigaan dan memicu salah paham. Terlebih lagi sekarang,
saat aku sudah sepenuhnya menyadari perasaanku kepadanya.
Karena Saito tampaknya
lebih nyaman menjaga hubungan kami sebatas teman, aku harus berhati-hati agar
tidak melakukan tindakan apa pun yang melewati batas itu. Aku merapatkan
bibirku dengan penuh tekad.
"Kau pemilih sekali
soal musim, Tanaka-kun."
"Begitukah?"
"Dulu kau bilang
kalau kau benci musim hujan."
"Oh iya, kurasa
aku pernah bilang begitu. Tapi alasannya kurang lebih sama. Memakai sarung tangan
itu merepotkan, dan udaranya terlalu dingin untuk membaca di luar. Bahkan di
dalam ruangan pun tanganku jadi mati rasa, membuatku sulit membalik halaman.
Sejujurnya, aku tidak keberatan kalau pemanasan global melenyapkan musim
dingin."
"Jangan melontarkan
pernyataan layaknya penjahat begitu," ujarnya, menegurku dengan nada
bercanda.
Suara langkah kakinya
mendekat, lalu ia meletakkan secangkir teh hangat yang mengepul di atas meja di
hadapanku.
"Ini. Hangatkan
dirimu."
"Terima kasih."
Kehangatan cangkir itu
meresap ke jemariku saat aku menyesapnya. Teh yang baru diseduh itu memiliki
suhu yang pas untuk meredakan dingin di tubuhku.
Saat aku mulai rileks
menikmati teh, Saito kembali setelah membereskan nampan. Biasanya, ia akan
duduk di seberangku, di sofa yang satunya lagi. Setidaknya, itulah yang
kuharapkan.
Namun nyatanya, Saito
justru duduk tepat di sampingku.
"?!"
Aku hampir saja
tersedak sebelum sempat menelan tehku. A-apa
yang sedang terjadi?!
Berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresiku tetap
netral, aku meliriknya dari sudut mata.
Dia tidak tampak berbeda. Bibir merahnya yang
lembut menyentuh tepi cangkir saat ia meminum tehnya. Begitu selesai, ia
menatapku dengan ketenangan yang biasa.
"Ada yang salah?"
Sepasang matanya yang
indah, sebening telaga jernih, bertemu dengan mataku. Apakah ini hanya
imajinasiku saja, atau tatapannya sempat bergetar sedikit?
Ia pasti menyadari bahwa
tempat duduknya kali ini tidak biasa. Haruskah aku bertanya kenapa dia memilih
duduk di sampingku? Apakah itu hanya sekadar kebetulan, atau memang ada
alasannya? Apa dia akan menjawab kalau kutanya?
(Tidak, tidak perlu
mengungkitnya...)
Pada akhirnya, dia hanya
duduk di sebelahku. Tidak ada gunanya membesar-besarkan hal sepele.
Kalau aku bertanya,
bukankah aku akan terlihat seperti terlalu memikirkan hal itu? Membayangkannya
saja sudah membuatku malu, jadi aku lekas memalingkan wajahku dari Saito.
"T-tidak, bukan
apa-apa. Tehnya, seperti biasa, sangat enak."
"Oh, benarkah?
Syukurlah kalau kau suka."
Aku berhasil
mengucapkannya entah bagaimana caranya, lalu menundukkan pandangan ke arah
pangkuanku. Keheningan yang canggung menyelimuti kami berdua. Untuk memecahnya,
aku merogoh ranselku, mengeluarkan buku yang kupinjam, dan melanjutkan membaca.
Saito, yang tampaknya mengikuti langkahku, juga mulai membaca bukunya sendiri.
Bahunya begitu dekat
hingga nyaris bersentuhan dengan bahuku. Jika aku mengulurkan tangan, aku bisa
menyentuhnya dengan mudah. Aroma bunga yang manis dan samar yang selalu ia bawa
terasa jauh lebih memikat hari ini. Aku tidak bisa tenang. Pikiranku kacau, dan
aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Jemariku ragu-ragu saat membalik
halaman, tanpa ada satu kalimat pun yang benar-benar terserap.
Apa yang sebenarnya
terjadi? Apakah ini cuma dorongan sesaat? Mungkin hubungan kami sudah semakin
dekat, dan dia merasa nyaman untuk menurunkan kewaspadaannya di dekatku?
Atau... mungkinkah dia juga memiliki perasaan terhadapku?
Pikiran konyol itu
melintas di kepalaku, dan aku lekas menepisnya. Aku terlalu percaya diri. Hidup
tidak berjalan semudah itu. Aku harus berhenti membiarkan perasaanku
mengendalikanku—memperlihatkannya secara terang-terangan sama sekali bukan
pilihan yang bijak.
Dari sudut mataku,
profil wajah Saito yang menawan tampak begitu jelas selagi ia membaca dengan
tenang. Ia memegang buku saku itu dengan lembut menggunakan kedua tangannya,
memindahkan pembatas buku kaca di antara halaman demi halaman setiap kali
membaliknya. Segala hal tentangnya tampak seperti biasa. Tidak ada yang
berubah.
(Hah.)
Kuharap dia berhenti
melakukan hal-hal seperti ini—ini hanya membuatku mengharapkan sesuatu yang
tidak semestinya. Apa sebenarnya yang sedang
dipikirkan Saito? Mau dipikirkan sekeras apa pun, mustahil bagiku untuk
menemukan jawabannya. Rasa gelisah terus menggerogotiku, dan waktu berlalu
begitu saja saat aku gagal memusatkan perhatian.
Untuk beberapa saat,
satu-satunya suara di ruangan itu hanyalah detak jarum jam dinding. Iramanya
yang tenang anehnya terasa menenangkan, perlahan menarikku kembali ke dalam
cerita. Tanpa kusadari, aku mulai tenang dan menenggelamkan diri ke dalam alur
kisah. Kesadaranku akan keberadaan Saito di sampingku perlahan memudar seiring
kata demi kata yang melukiskan gambaran hidup di kepalaku.
Sang protagonis yang
berjuang melawan penyakitnya, orang-orang di sekitarnya yang berharap bisa
menyelamatkannya, jalinan plot yang tersusun begitu rumit—semuanya menyatu
dengan sempurna. Aku tak bisa berhenti membalik halaman. Satu demi satu, cerita
berkembang, dan sisa halaman kian menipis.
Akhir cerita sudah dekat.
Aku bisa merasakannya, tetapi meski ada sekelumit rasa sedih yang menyusup, aku
terus membaca hingga membalik halaman terakhir.
"Ah, luar biasa
sekali..."
Kata-kata itu meluncur
begitu saja saat aku menutup buku itu dengan ketukan lembut. Mengangkat
kepalaku, pemandangan ruang tamu Saito yang familier menyambut pandanganku,
mengingatkanku betapa aku telah tenggelam sepenuhnya dalam bacaan tadi. Rasa
antusias yang tersisa dari cerita itu mulai surut, digantikan oleh kesedihan
hening yang menyebar di dalam dadaku.
Semuanya sudah berakhir.
Sebuah seri panjang yang
sangat kusukai telah mencapai ujungnya. Saat pertama kali memulainya, kupikir
masih ada begitu banyak cerita di depan, tetapi sekarang setelah selesai,
rasanya begitu mendadak. Mungkin seharusnya aku membacanya perlahan-lahan untuk
lebih menikmatinya. Penyesalan samar membakar pelan di dalam hatiku.
(Jadi sampai di sini
saja... Seri ini sudah tamat. Ceritanya begitu bagus, tapi sekarang sudah tidak
ada lagi yang tersisa untuk dibaca.)
Entah itu novel, anime,
atau manga, setiap kali sesuatu yang kau sukai berakhir, selalu ada campuran
antara rasa puas dan hampa. Semakin lama dan berharga ikatan itu, semakin kuat
pula dampak yang ditinggalkannya.
Aku sudah membaca banyak
karya hebat sebelumnya, tetapi seri ini istimewa—begitu istimewa hingga
menyelesaikannya menyisakan kesedihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Meski ada rasa puas karena telah menyelesaikannya, rasa kehilangan yang teramat
sangat itu tak bisa disangkal. Tak sanggup menahannya, aku menghela napas
kecil.
"Kau sudah selesai
membacanya?"
Suaranya memecah
lamunanku. Menoleh ke arahnya, kulihat ia telah menutup bukunya dan sedang
menatapku, sepasang matanya yang besar dan cerah bertemu dengan mataku.
"Iya,
begitulah."
"...Kau kelihatan
tidak terlalu ceria. Oh, apa karena serinya sudah tamat?"
Menyadari ada sesuatu yang
aneh dariku, ia sedikit mengernyitkan alisnya, tatapannya menyiratkan rasa
khawatir.
Lirikannya ke arah buku di
tanganku seolah menegaskan tebakannya.
"Iya... hanya saja,
ini seri yang sangat bagus. Aku sangat menikmatinya, dan itu membuatnya semakin
sulit untuk dilepaskan."
"Aku mengerti! Saat
seri yang kau sukai berakhir, mustahil untuk tidak merasa sedih."
Aku hanya menjawab
seadanya, tetapi nada suaranya yang tak biasanya tegas menarik perhatianku.
Suaranya yang jernih dan mantap terngiang di telingaku.
Tampaknya ia sangat
berempati sebagai sesama pencinta buku. "Rasa hampa yang tak terlukiskan
itu memang tidak pernah mudah dihadapi..." gumamnya, mengangguk setuju.
"Menyenangkan memang
bisa mengikuti sebuah cerita sampai tamat, tapi ya... ending selalu
terasa pahit-manis."
Bahkan membicarakannya pun
tidak berhasil mengangkat suasana hatiku. Helaan napas lain kembali lolos
dariku selagi rasa hampa itu terus melekat di dadaku, menolak untuk menghilang.
Saat masih terhanyut dalam
sisa-sisa perasaan usai membaca, pandanganku beralih ke sampul buku tersebut,
dan tiba-tiba sebuah pikiran menyadarkanku.
(Tunggu... bukankah ini
berarti aku tidak punya alasan lagi untuk menghabiskan waktu bersama Saito?)
Aku hampir saja
melupakannya, terlalu larut dalam dampak cerita tadi. Alasan awal Saito dan aku
saling berinteraksi adalah untuk meminjam dan mengembalikan buku. Itulah alasan
mengapa aku bahkan bisa berada di apartemennya sekarang.
Namun sekarang setelah
seri ini tamat, alasan itu telah sirna. Kesadaran itu mendatangkan jenis
kesedihan baru, terpisah dari rasa melankolis usai menamatkan bacaan.
"Ada apa?"
"...Tidak, bukan
apa-apa."
Dia pasti menyadari
perubahan ekspresiku karena ia memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.
Dengan tergesa-gesa, aku menggelengkan kepala, tetapi rasa gelisah yang tersisa
merembes ke dalam suaraku, membuatnya terdengar lemah.
Apa yang harus kulakukan?
Aku tidak ingin ini menjadi akhir dari segalanya. Jika hubungan kami berakhir
di sini, aku tidak punya alasan lagi untuk mengajaknya bicara. Tentu saja aku
masih bisa menyapanya jika mau, tapi suasananya tidak akan sama seperti sekarang—tidak
bisa setiap hari. Pikiran itu terasa tak tertahankan.
Seharusnya aku bertanya
langsung padanya, semacam, "Jadi, apa ini berarti pertukaran buku kita
berakhir di sini?" Namun keberanian untuk mengucapkan kata-kata itu tak
kunjung datang. Aku mencobanya beberapa kali di dalam hati, tapi yang keluar hanyalah
kebisuan.
Selagi aku mematung, Saito
dengan anggun mengulurkan tangannya dan menggeser sebuah buku lain dari atas
meja ke arahku.
"Tanaka-kun, bukankah
ini buku berikutnya yang ingin kau baca?"
"Hah?"
Itu adalah jilid pertama
dari seri buku yang akhir-akhir ini sedang dibacanya.
Menatapnya dengan takjub,
awalnya aku tidak bisa memahami maksud tindakannya. Ia membalas tatapanku
dengan ekspresi yang sama-sama tampak heran.
"Bukankah kita sudah
sepakat kalau aku akan meminjamkannya kepadamu setelah ini?"
Benar juga—waktu hari
Natal, aku sempat bertanya kepadanya tentang buku yang sedang ia baca, dan kami
sudah berjanji bahwa ia akan meminjamkannya kepadaku. Aku benar-benar
melupakannya.
Menyadari bahwa hubungan
kami masih bisa berlanjut memenuhiku dengan rasa gembira yang luar biasa. Tak
sanggup membendung rasa antusias, aku lekas mengambil buku itu dari tangannya.
"Ah, benar juga!
Terima kasih, akan kupinjam!"
"Sama-sama."
Ia tersenyum lembut, raut
wajahnya mengendur menjadi kehangatan yang menenangkan. Senyuman tipis itu
begitu menawan hingga aku tak sanggup mengalihkan pandanganku darinya. Ditambah
dengan rasa lega yang membuncah, jantungku berdegup kencang tak terkendali.
Mengetahui betapa ia
begitu larut membaca buku ini, aku sudah tak sabar untuk segera membacanya.
Dadaku dipenuhi rasa antisipasi saat mengagumi sampulnya. Tepat saat itu,
kurasakan sebuah tarikan pelan di lengan bajuku.
"Um...
Tanaka-kun?"
"Hm? Ada apa?"
Ia melirik ke arahku
dengan malu-malu, matanya yang mendongak memancarkan sedikit keseriusan.
Bibirnya terkatup rapat, nada bicaranya diselimuti keraguan.
"Yah... apa kau punya
rekomendasi buku? Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku meminjamnya
darimu?"
"Tentu, aku punya
beberapa judul di kepala. Besok akan kubawakan satu."
"Terima kasih
banyak."
Bukan masalah besar untuk
meminjamkannya satu atau dua buku, terutama setelah aku meminjam begitu banyak
darinya. Sejujurnya, aku bahkan rela meminjamkannya sepuluh atau dua puluh
buku—atau seluruh isi rak bukuku sekalipun jika ia menginginkannya.
Aku mengangguk untuk
menunjukkan persetujuanku, dan Saito membungkuk kecil sebagai tanda terima
kasih.
"Tapi aku tidak bisa
menjamin kau pasti akan menyukainya, ya. Sekadar mengingatkan saja."
"Sama sekali tidak
masalah. Fufu, aku sudah menantikannya dari sekarang."
Suaranya membawa nada yang
ringan dan ceria, dan senyumannya begitu berseri-seri hingga tampak layaknya
guguran kelopak bunga yang indah. Ia kelihatan sangat antusias.
"Kau seantusias
itu?"
"Tentu saja! Ini kan
buku yang direkomendasikan oleh Tanaka-kun. Lagipula..."
"Lagipula?"
"Aku... aku juga
ingin tahu lebih banyak tentang hal-hal yang kau sukai..."
"U-uh, begitu
ya..."
Suaranya sedikit bergetar
karena gugup, dan semburat merah muda mewarnai pipinya selagi ia mengalihkan
pandangannya. Ekspresi malu-malu yang tersipu itu tampak begitu memikat di luar
dugaan, dan dadaku mendadak berdenyut kencang.
Itu hampir saja membuatku
salah mengartikan niatnya. Kemungkinan besar dia hanya penasaran sebagai sesama
pencinta buku, ingin mengenal seleraku lebih jauh.
Merasakan hawa panas yang
menjalar ke wajahku, aku menghela napas pelan.
***
Ketika liburan musim
dingin berakhir, semester ketiga akhirnya dimulai. Ah, liburan musim dinginku
yang berharga. Kehidupan membacaku yang sempurna telah berakhir. Hari-hari
berharga saat aku bisa melupakan pelajaran dan waktu demi menenggelamkan diri
di dalam buku kini telah usai. Bahkan sekarang pun, aku sudah mulai
merindukannya.
Sudah berapa lama sejak
terakhir kali aku bangun sepagi ini? Kelopak mataku terasa begitu berat, dan
yang kuinginkan hanyalah merangkak kembali ke balik selimut tebalku yang hangat
di atas ranjang.
Menyeret langkah kakiku
dengan kepala yang masih berkabut karena sisa kantuk, aku berjalan gontai
menuju sekolah. Aku mungkin terlihat seperti zombi di mata siapa pun yang
melihatku. Seandainya jam pelajaran menyisakan waktu untuk membaca buku,
mungkin aku akan merasa sedikit lebih bersemangat.
Namun tentu saja tidak
seberuntung itu. Memikirkan sekolah saja sudah cukup untuk menguras seluruh
energiku.
Langit suram yang mendung
hanya makin memperburuk keadaan. Kalau saja cuacanya cerah, mungkin perasaanku
bisa sedikit lebih baik. Ditambah lagi udaranya sangat dingin. Sejujurnya,
tidak bisakah pemanasan global bergerak lebih cepat? Enyahlah musim dingin.
Saito pasti akan
memarahiku kalau mendengar pernyataan semacam itu. Dan tepat saat aku
memikirkannya, sosoknya pun muncul di depan mata.
Di persimpangan tempat
rute berangkat sekolah kami biasa bersinggungan, ia berdiri di seberang jalan,
menunggu lampu pejalan kaki berganti hijau. Itu adalah kejadian yang cukup
langka, tetapi bukan hal yang mustahil mengingat kami melewati area ini setiap
hari. Tetap saja, ia tampak memukau seperti biasa.
Dulu aku tidak pernah
terlalu memperhatikan penampilannya, tetapi sekarang setelah aku menyukainya,
aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyadari betapa cantiknya dia.
Rambutnya melambai tertiup
angin layaknya sutra yang halus, memantulkan cahaya dan berkilau dengan anggun.
Matanya yang bulat dan menggemaskan persis hewan kecil tampak begitu memikat
hingga bisa menyihir siapa saja. Dan bibir merahnya yang lembut terlihat begitu
manis sampai-sampai sulit bagiku untuk tidak menatapnya terus-menerus.
Ia memiliki aura sempurna
di sekitarnya, namun ketika ia tersenyum polos, ia menjadi sosok yang sangat
manis dan menggemaskan. Kontras tersebut terasa hampir tidak adil. Siapa yang
tidak akan jatuh hati pada sosok seperti itu?
Selama tujuh belas tahun,
buku adalah satu-satunya minat dalam hidupku. Namun menghabiskan waktu bersama
seseorang yang begitu mempesona—tak terelakkan lagi bahwa aku akan mulai
merasakan hal ini. Ini bukan salahku. Ini benar-benar di luar kendaliku.
Tentu saja, bagi Saito,
perasaanku ini mungkin tidak lebih dari sekadar beban atau hal yang merepotkan.
Apa yang ia inginkan
adalah persahabatan, bukan romansa. Aku sama sekali tidak berniat membebaninya
dengan perasaanku.
Selagi lampu merah masih
menyala, aku mendapati diriku sedang mengukir profil wajahnya ke dalam
ingatanku. Tiba-tiba, arah pandangannya bergeser, dan ia menyadari
keberadaanku. Bibirnya melembut membentuk sebuah senyuman manis. Hal
sesederhana itu saja sudah sanggup membuatku luar biasa bahagia. Cinta memang
menakutkan. Pipiku yang dingin mulai terasa menghangat.
Cemas akan terlihat oleh
murid-murid lain yang sedang dalam perjalanan ke sekolah, aku ragu-ragu untuk
merespons. Namun Saito dengan santai mengangkat tangannya dan melambaikan
tangan kecil ke arahku.
"?!"
Gestur yang tak terduga
itu membuat jantungku melompat kaget. Aku membalas lambaian tangannya dengan
canggung, dan ekspresi wajahnya langsung berseri-seri sedikit. Kemudian ia
mulai menengok ke kanan dan ke kiri seolah sedang memastikan sesuatu di sekitarnya.
(Apa yang sedang ia
rencanakan?)
Lampu pejalan kaki
akhirnya berganti menjadi hijau, dan setelah melirik ke sekelilingnya sekali
lagi, ia mulai berlari-lari kecil menyeberangi jalan ke arahku.
"Selamat pagi,
Tanaka-kun."
"Oh, um... selamat
pagi."
Meski aku senang dia yang
menyapaku lebih dulu, aku tak bisa menahan rasa cemas. Seseorang bisa saja
melihat kami. Rumor bisa bermunculan. Saito tampaknya menyadari kegelisahanku,
terlihat dari alisnya yang sedikit bertaut khawatir. Tatapan matanya yang mendongak
sempat goyah sesaat.
"...Apa sebaiknya aku
tidak menyapamu tadi?"
"T-tidak, tidak
apa-apa! Hanya saja... kalau ada
anak sekolah kita yang melihat kita di sini, rumor aneh bisa menyebar."
"Bukan masalah. Ini
masih pagi, dan aku sudah memastikan tidak ada murid lain dari sekolah kita di
sekitar sini."
Dia membusungkan dadanya
dengan bangga, tampak sangat puas dengan dirinya sendiri. Jadi itu alasan
kenapa dia melihat ke sekeliling tadi.
"Mengobrol denganmu
di pagi hari rasanya agak aneh," katanya.
"Iya, aku paham.
Waktu liburan musim dingin, kita biasanya bertemu siang atau sore hari."
"Tepat sekali. Jadi
ini terasa segar. Oh, dan hari ini rambutmu juga mencuat acak-acakan."
"...Nanti juga rapi
sendiri karena gravitasi. Rambutku punya performa tinggi untuk urusan
begitu."
"'Performa tinggi'?
Kau cuma membiarkannya begitu saja pada alam, kan?"
Helaan napasnya yang
pasrah mengembun di udara dingin, dan tubuhnya terlihat lebih rileks seolah dia
sudah menyerah berdebat.
"Kau selalu melantur
seperti biasa, bahkan di pagi hari begini. Setidaknya kau belum mulai mengoceh
panjang lebar soal buku."
"Oh? Kau berharap aku
bicara soal buku? Boleh saja! Mau aku menceritakannya selama beberapa
menit?"
"Tidak, terima
kasih."
Tepat saat aku mulai
bersemangat, dia langsung memotongnya mentah-mentah.
"Jangan begitu—cuma
beberapa menit saja—"
"Tidak mungkin cuma
beberapa menit, kan? Sekali mulai, kau pasti akan terus mengoceh tanpa henti.
Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kita harus menghindari menarik
perhatian?"
"...Kau benar
juga."
Aku benar-benar
melupakannya. Ucapannya menyadarkanku kembali. Nyaris saja—buku selalu punya
cara untuk membuatku lupa diri. Daya tariknya sungguh berbahaya.
"Kalau begitu, aku
duluan ya. Kalau kita mengobrol terlalu lama, seseorang bisa melihat
kita."
"Baiklah. Sampai
jumpa sepulang sekolah."
"Iya, sampai nanti.
Senang bisa mengobrol denganmu, meski cuma sebentar."
"Syukurlah kalau
begitu."
Dengan senyum lembut,
Saito pun melangkah pergi.
Bahkan saat aku memandangi
punggungnya yang menjauh, senyuman perpisahannya masih terpatri jelas di
benakku. Aku sudah benar-benar terpesona oleh setiap ekspresinya. Tak sanggup
membendung rasa hangat yang menjalar di dadaku, aku menarik syalku ke atas untuk
menyembunyikan wajah.
***
Tiba di sekolah, suasana
kelas sudah riuh dengan berbagai aktivitas.
Teman-teman sekelas saling
bertukar cerita setelah liburan musim dingin, membicarakan liburan, pelajaran,
kegiatan klub, atau apa pun yang terlintas di pikiran. Suara obrolan berdengung
ramai layaknya sarang lebah.
Saat aku masuk, beberapa
orang melirik ke arahku, tetapi mereka segera kembali ke percakapan
masing-masing. Tidak ada lagi tatapan tajam dan berlama-lama seperti sebelum
libur musim dingin.
Sesuai dugaan, sepertinya
orang-orang sudah beralih dan melupakanku. Melewati keriuhan obrolan itu, aku
melangkah menuju tempat dudukku di dekat jendela.
Pertemuan dengan Saito
pagi tadi memang awal semester yang tak terduga, tapi situasi ini—tidak
dipedulikan dan membaca sendirian—adalah duniaku yang biasa. Aku mengeluarkan
buku yang sedang kubaca dari dalam tas.
Saat membuka novel
pinjaman dari Saito itu, potongan-potongan percakapan terdengar sayup-sayup di
sekitarku. Celotehan di dalam kelas cukup mengganggu, membuatku sulit
memusatkan perhatian pada cerita.
Tiba-tiba, sebuah
percakapan khusus menarik perhatianku, dan tanganku mematung di tengah-tengah
membalik halaman.
"Hei, kau sudah dengar belum? Katanya
Saito-san pergi kencan dengan seorang cowok."
"Serius?"
"Iya, banyak yang
bilang begitu. Mereka terlihat bersama waktu Hatsumode."
"Masa, sih? Siapa
cowoknya?"
"Mereka tidak
melihatnya dengan jelas, tapi ada yang mengenali Saito-san karena penampilannya
sangat mencolok."
Obrolan santai antara
dua teman sekelasku itu langsung membuat punggungku merinding. Kami sengaja
memilih kuil yang sepi untuk menghindari perhatian, tapi ternyata itu belum
cukup.
Mengingat betapa Saito
selalu menarik perhatian ke mana pun ia pergi, tidak heran jika ada yang
memperhatikannya. Setidaknya mereka tidak mengenali siapa diriku. Untuk sekali
ini, minimnya relasi sosialku di sekolah justru menguntungkanku.
Mendengarkan lebih
saksama, aku menyadari bahwa rumor itu telah menyebar luas. Beberapa kelompok
lain juga ikut memperbincangkannya. Ini kemungkinan akan menjadi topik hangat
untuk beberapa waktu ke depan. Meski obrolan itu tampaknya masih tidak berbahaya
untuk saat ini, aku memutuskan untuk tetap waspada agar masalahnya tidak
membesar seperti sebelumnya.
Memantapkan tekad untuk
tidak menarik perhatian, terdengar suara seseorang yang langsung menghempaskan
diri ke kursi kosong di sampingku.
"Yo, Minato. Lama
tidak bertemu."
"Oh, Kazuki. Iya,
sudah lama."
Kazuki menyapaku dengan
senyum santainya yang biasa, meski ada kilatan di matanya yang mengisyaratkan
bahwa ia ingin membicarakan sesuatu.
"Ada apa?"
tanyaku.
"Bung, rumor soal
Saito-san itu heboh sekali, ya?"
"Yah, dia memang
mencolok. Dan kalau menyangkut soal asmara, orang-orang pasti bakal
membicarakannya."
"Kau bersikap seolah
itu bukan urusanmu. Tapi kaulah cowok itu, kan? Sejak kapan kau dan Saito-san
mulai berkencan?"
Ia menyeringai, menaikkan
salah satu alisnya dan melengkungkan bibirnya dengan jahil. Dia jelas-jelas
sangat yakin bahwa akulah cowok yang dimaksud.
"Jangan asal
menyimpulkan. Bisa saja itu bukan aku."
"Oh? Jadi itu bukan
kau?"
Tatapannya yang penuh
selidik menusuk ke arahku, menembus sangkalanku yang lemah. Aku menghela napas,
tak sanggup bertahan di bawah tekanannya.
"...Iya, itu memang
aku."
"Ha! Sudah
kuduga!"
Wajah Kazuki berbinar
seolah dia baru saja memecahkan misteri besar. Bangga akan deduksinya, dia
mengangguk mantap sambil menepuk pundakku dengan penuh semangat.
"Kelihatan jelas
sekali; mengaku saja langsung dari tadi. Serius, Minato, kau ini sama sekali
tidak jujur pada dirimu sendiri."
"Itu karena kaulah
masalahnya."
Aku memang tidak berniat
menyembunyikannya dari orang yang sudah tahu situasinya. Tetap saja, aku enggan
mengakuinya secara terang-terangan karena aku sudah bisa membayangkan Kazuki
akan menjadikannya bahan lelucon untuk menggodaku.
Kutepis tangannya yang
sedang menepuk-nepuk pundakku dengan jahil sambil melayangkan tatapan tajam.
Tentu saja Kazuki sama sekali tidak terpengaruh, seperti biasa. Setidaknya dia
bisa pura-pura merasa bersalah sedikit.
"Jadi, bagaimana
ceritanya kalian bisa pergi ke kuil bersama? Jangan bilang kalau Saito-san yang
mengajakmu duluan."
"Memang itu yang
terjadi."
"Apa?"
Mata Kazuki membelalak,
dan senyum jahilnya yang biasa seketika retak, memperlihatkan keterkejutan yang
tulus. Jarang sekali melihatnya terperangah seperti itu, dan sejujurnya, aku
sendiri pun masih belum sepenuhnya percaya.
"Seperti yang
kubilang, dia yang mengajakku. Kau pikir aku punya keberanian untuk mengajaknya
duluan?"
"Kau tidak perlu
sepercaya diri itu saat mengakui kalau kau tidak punya nyali..."
Dia menghela napas
panjang, menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Yah, kurasa ini
artinya kalian berdua sudah semakin dekat. Jadi, apa itu artinya kau sudah jatuh cinta pada
Saito-san?"
Kazuki menyeringai penuh
arti, bersiap-siap untuk menggodaku begitu aku menyangkalnya.
Namun pada titik ini,
menyangkalnya adalah hal yang sia-sia. Kazuki bisa mengetahuinya dengan mudah,
dan di samping itu, dia orang yang cukup populer di kalangan perempuan. Mungkin
dia bahkan bisa memberiku saran yang berguna. Pasrah pada situasi, aku memutuskan
untuk berterus terang.
"Iya, aku
menyukainya."
"Iya, iya, tentu...
Tunggu, APA?!"
Kazuki langsung melompat
berdiri dari kursinya, suara decitan kakinya yang bergesekan dengan lantai
bergema di penjuru kelas. Kepala-kepala sontak menoleh ke arah kami, penasaran
dengan keributan yang terjadi.
"Hei, tenang! Kau
menarik perhatian—cepat duduk kembali."
"Oh, benar juga.
Maaf."
Kazuki dengan canggung
menurunkan tubuhnya kembali ke kursi, dan murid-murid lain yang kehilangan
minat pun kembali melanjutkan obrolan mereka.
Begitu suasana kembali
tenang, Kazuki mencondongkan badannya lebih dekat, suaranya mengecil menjadi
bisikan.
"Tunggu, serius? Kau
benar-benar menyukai Saito-san?"
"Iya, kan tadi
sudah kubilang. Memangnya seaneh
itu?"
"Mengejutkan? Minato,
kau tidak pernah mau mengakui apa pun! Aku sudah bersiap-siap menikmati momen
melihatmu gelagapan menyangkalnya."
"Justru karena itu
aku langsung mengaku—supaya kau tidak mendapatkan kepuasan itu. Dan melihatmu
sekaget ini juga cukup menghibur buatku."
Aku tersenyum lebar ke
arahnya, merasakan kepuasan karena berhasil membalikkan keadaan untuk sekali
ini. Kazuki mengerucutkan bibirnya, jelas-jelas merasa tidak puas.
"...Kau punya sisi
jahat juga ya, Minato."
"Tidak seburuk
dirimu."
Kejahilan Kazuki yang
terus-menerus telah memaksaku mengembangkan strategi pertahanan diri. Aku tidak
sedang bersikap jahat—hanya membela diri. Setidaknya begitulah pembelaanku
dalam hati.
"Jadi, sekarang
setelah kau mengakui perasaanmu, apa kau berencana untuk menyatakan
cinta?"
"Tidak mungkin. Aku
tidak akan melakukannya."
"Kenapa tidak?"
"Karena dia cuma
menganggapku teman, jelas sekali. Aku tidak sebodoh itu untuk menyatakan
perasaan saat peluang dia merasakan hal yang sama adalah nol. Lagipula, dia
adalah teman langka yang sama-sama mencintai buku sepertiku."
"Bicara apa sih kau
ini? Kalian pergi ke kuil bersama. Mana mungkin itu tidak istimewa?"
Kazuki menghela napas,
pundaknya merosot secara dramatis.
"Tentu, aku tahu aku
sedikit istimewa baginya. Tapi itu cuma karena dia tidak punya banyak teman
dekat. Bukan dalam artian romantis."
"Kupikir kau akhirnya
mulai jujur, tapi ternyata kau masih keras kepala seperti biasa."
"Katakan apa pun
sesukamulah. Aku tidak mau mempertaruhkan hubungan kami hanya demi memaksakan
hal yang lebih jauh."
"Hmm, kalau
berandai-andai, bagaimana kalau ternyata dia juga menyukaimu?"
"Hah? Kan sudah
kubilang itu tidak mungkin."
"Kubilang kan
berandai-andai."
"Yah... kalau
keajaiban itu benar-benar terjadi, kurasa aku akan berusaha sekuat
tenaga."
Membayangkan kemungkinan
Saito memiliki perasaan terhadapku menghadirkan gelombang hangat dan rasa gugup
yang berdebar di dadaku. Itu adalah pemikiran yang mustahil, tetapi jika
keajaiban semacam itu benar-benar terjadi, aku akan melakukan apa saja untuk
memperjuangkannya.
Saat skenario imajiner itu
berputar di kepalaku, semburat rasa malu mulai merayap ke wajahku. Aku
buru-buru mengangguk untuk mengusir bayangan itu, tetapi mata Kazuki langsung
berbinar seolah dia baru saja mendapatkan ide cemerlang.
"Oh, begitu ya.
Menarik."
"Mau apa lagi
sekarang?"
"Yah, setelah
mendengar semua ini, aku cukup yakin Saito-san sebenarnya menyukaimu, meskipun
kau tidak menyadarinya. Bagaimana kalau aku ikut saat kalian berdua bertemu di
perpustakaan nanti?"
"...Tidak mau."
Tidak ada hal baik yang
akan keluar jika Kazuki bertemu dengan Saito. Dia pasti akan menggodanya
habis-habisan, dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Lagipula, Saito
tampak kurang nyaman berada di dekat laki-laki, jadi memaksakan pertemuan seperti
itu hanya akan menimbulkan masalah. Aku tidak melihat ada gunanya sama sekali.
"Jangan dingin
begitu, dong. Dulu aku membantumu, kan? Setidaknya kabulkan satu permintaanku
ini."
"Kau benar-benar
mengungkit jasa lama sekarang?"
"Dan coba
pikirkan," tambah Kazuki dengan seringai licik. "Kalau aku bertemu
dengannya dan bisa memastikan bahwa dia memang menyukaimu, bukankah itu akan
membuatmu lega?"
"...Yah..."
Ucapannya ada benarnya
juga. Jika Kazuki bisa memastikan perasaannya, aku akan merasa lebih percaya
diri untuk melangkah maju.
Dibandingkan dengan orang
seperti Kazuki yang sangat paham urusan asmara, kurasa dia bisa menyadari
hal-hal yang luput dari pandanganku. Sudut pandang pihak ketiga yang objektif
bisa mengungkap kemungkinan yang mungkin tidak akan pernah bisa kulihat sendiri.
"Kau tidak mau tahu
apa Saito-san menyukaimu atau tidak? Kalau aku bisa bicara langsung dengannya,
aku bisa memancing jawabannya. Hasilnya pasti akurat."
"...Baiklah. Tapi
hanya kalau Saito setuju untuk bertemu denganmu."
"Heh, sudah
kuduga kau bakal bilang begitu."
Aku sangat sadar bahwa
Kazuki sedang menggiring situasi demi keuntungannya sendiri.
Tetap saja, tawarannya
terlalu menggoda.
Aku memang tidak punya
keberanian untuk mengambil tindakan sendiri, tapi bukan berarti aku tidak
penasaran tentang bagaimana perasaan Saito yang sebenarnya kepadaku. Itu
mungkin hanya angan-angan kosong yang bodoh, tetapi jika memang ada peluang
sekecil apa pun, aku tak tahan untuk tidak bertanya-tanya—mungkinkah Saito
benar-benar menyukaiku?
Tentu saja, aku tahu
kemungkinannya sangat tipis. Namun jika ada kesempatan untuk memastikannya,
bagaimana mungkin aku bisa menolak?
"Aku sudah tidak
sabar melihat bagaimana kelanjutannya. Sejujurnya, aku tidak menyangka kau
bakal menyadari perasaanmu selama liburan musim dingin."
"Yah, banyak hal yang
terjadi."
"Oh, ngomong-ngomong,
waktu aku mampir ke tempat kerjamu setelah Tahun Baru, aku sempat mengobrol
sedikit dengan Hiiragi-san."
"Oh iya, aku ingat.
Kalian berdua sempat mengobrol. Apa yang kalian bicarakan?"
Karena saat itu aku sedang
bekerja, aku tidak sempat banyak mengobrol dengan Kazuki. Interaksi paling
banyak yang kami lakukan hanyalah saat dia baru masuk, dan setelah itu,
seingatku Hiiragi-san yang melayani sebagian besar pertanyaannya.
"Bukan hal besar. Aku
cuma bilang betapa berterima kasihnya aku karena kau selalu banyak membantuku,
dan kami mengobrol soal itu."
"Benarkah?"
"Apa? Kau tidak
percaya padaku?"
Kazuki memasang tampang
terluka yang dibuat-buat, tapi aku tidak tertipu.
"Coba ingat-ingat
bagaimana kelakuanmu sehari-hari."
"Ayolah, aku kan cuma
menggodamu sedikit."
"Justru itu masalah
utamanya."
Entah dia mengerti
maksudku atau tidak, itu masih belum jelas. Senyum tipisnya tidak membocorkan
apa pun, menjadikannya salah satu sifatnya yang licin dan sulit kuhadapi.
"Kau yakin tidak
mengatakan hal aneh padanya?"
"Sudah kubilang,
tidak ada."
"Syukurlah... Aku
sempat mengira kau bakal mengatakan sesuatu seperti, 'Beri saja dia buku, nanti
dia juga bakal baik-baik saja.'"
"Wah, jahat sekali.
Bahkan aku pun tidak akan bertindak sejauh itu—yah, setidaknya tidak secara
terang-terangan."
"Hei!"
Meski lega dia tidak
mengatakan hal-hal aneh kepada Hiiragi-san, komentarnya barusan memperjelas
bagaimana pandangannya terhadapku. Itu menjelaskan kenapa dia sering
menyodorkan buku setiap kali aku sedang murung.
"Selama kau tidak
menyebarkan hal-hal aneh tentang diriku, kurasa tidak apa-apa."
"Tentu saja tidak!
Hiiragi-san itu teman curhat terpercayamu, kan? Jadi, apa yang biasanya kalian
bicarakan?"
"Sebagian besar
tentang Saito."
"Oh?"
Bibir Kazuki melengkung
membentuk senyuman tipis, seolah ada sesuatu yang memicu rasa penasarannya.
"Iya, aku kadang
menceritakan tentang Saito dan apa saja yang terjadi hari itu padanya."
"Ah, jadi kau
menceritakan tentang Saito-san kepada Hiiragi-san."
"Iya, kurang
lebih begitu."
"Huh. Menarik. Ini membuatku semakin
antusias untuk bertemu dengannya."
Seringai Kazuki melebar
dengan nakal, sebuah pemandangan yang terasa meresahkan sekaligus
membingungkan.
Momen-momen seperti ini
bersama Kazuki bukanlah hal baru, tetapi tetap saja selalu membuatku waswas.
Dibandingkan saat pertama kali kami bertemu, kejahilannya terasa semakin
menjadi-jadi.
***
Begitu jam sekolah
berakhir, aku langsung melangkah menuju rumah Saito. Ini kali pertama aku pergi
ke sana langsung dari sekolah, dan rasa baru ini menghadirkan sensasi yang
segar. Ingatan tentang rute yang pernah kami lalui bersama kembali melintas di
benakku.
Semakin dekat ke tujuanku,
ingatan tentang kejadian kemarin mulai merayap masuk, dan aku mulai merasa
sedikit tegang.
Ada apa dengan Saito
kemarin? Duduk di sampingku seperti itu meninggalkan kesan yang sangat
mendalam.
Pagi tadi, aku menyetujui
rencana Kazuki untuk bertemu Saito sebagian besarnya karena peristiwa kemarin.
Meminjam buku dariku, duduk di sebelahku—rasanya seolah Saito sedang berusaha
mempersempit jarak di antara kami.
Aku tahu tindakan-tindakan
itu mungkin tidak memiliki makna sebesar yang kubayangkan. Kemungkinan besar
aku hanya menafsirkannya dengan cara yang menguntungkan perasaanku sendiri.
Namun tetap saja, aku tak bisa berhenti berharap.
Jika Kazuki bisa
memastikan bahwa ada sedikit harapan... maka mungkin saja—
Aku sudah membawa buku
yang kujanjikan, memastikannya kembali di dalam tas sebelum meninggalkan
sekolah. Aku bertanya-tanya apakah dia akan menyukainya.
Dengan buku di tangan, aku
menekan bel pintu apartemennya.
"Iya?"
Pintu terbuka,
memperlihatkan sosok Saito yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Seperti
biasa, seragam itu melekat dengan rapi dan tanpa cela pada tubuhnya.
"Hai. Aku membawakan
buku yang kujanjikan."
"Benarkah? Terima
kasih banyak. Di luar sangat dingin, jadi kenapa tidak masuk dulu?"
"Apa?"
Aku menatap tangannya yang
memberi isyarat agar aku masuk. Dengan berakhirnya libur musim dingin, kukira
kami akan kembali ke kebiasaan lama—sekadar bertukar buku di depan pintu masuk.
"Ada apa? Kau tidak
mau masuk?"
"Eh, maksudku, apa
tidak apa-apa? Kukira kita cuma akan bertukar buku di sini, seperti dulu."
"Di luar dingin, kan?
Kalau di dalam, kita bisa membicarakan bukunya tanpa perlu kedinginan. Ayo,
masuklah."
"O-oh, baiklah."
Itu tidak lebih dari
sekadar ajakan untuk mendiskusikan buku di dalam ruangan. Tidak ada maksud
tersembunyi di baliknya—dia tidak bermaksud apa-apa secara personal.
Aku memahami hal itu,
tetapi tetap saja aku tak bisa mengendalikan rasa gugupku. Melangkah
mengikutinya masuk, aku berusaha sekuat tenaga menenangkan diri.
"Aku akan menyiapkan
teh, jadi silakan duduk dulu."
"Ah, iya. Terima
kasih."
Suara air mendidih dari
ketel yang sudah tak asing memenuhi ruangan, sama persis seperti saat liburan
musim dingin kemarin.
"Bagaimana hari
pertamamu kembali ke sekolah?"
"Biasa saja. Seperti
biasanya. Bagian paling berat adalah bangun pagi tadi."
"Itu karena ritme
tidurmu berantakan selama liburan."
"Buku-buku itu terus
memanggilku. Itu bukan salahku."
"Itu terdengar sangat
mirip dengan gejala kecanduan."
"Yah... mungkin aku
memang sudah kecanduan. Kalau tidak ada buku di dekatku, rasanya gelisah. Suatu
hari nanti mungkin aku bisa mulai berhalusinasi..."
"Itu tadi cuma
lelucon. Tolong jangan ditanggapi seserius itu."
"...Baiklah."
Dari arah dapur, sebuah
tatapan tajam dan menusuk terarah padaku, membuatku mengangguk patuh. Ketika
seorang gadis cantik melayangkan tatapan tajam, dampaknya terasa jauh lebih
dahsyat dari biasanya. Sejujurnya, itu agak menakutkan.
Sembari menunggu dan
mendengarkan detak jarum jam, kehangatan ruangan mulai mencairkan kulitku yang
kedinginan. Udara nyaman meresap ke dalam tubuhku, dan perlahan aku membiarkan
diriku tenggelam ke dalam empuknya sofa.
"Maaf sudah membuatmu
menunggu."
Saito meletakkan cangkir
teh ke atas meja secara perlahan dengan denting lembut—satu cangkir di
hadapanku, dan cangkir lainnya di sampingnya. Kemudian, persis seperti kemarin,
ia duduk di sebelahku. Dua hari berturut-turut.
Aku tak tahan untuk
tidak melirik ke arahnya.
"Ada apa?"
Responsnya yang
singkat diiringi dengan matanya yang menyipit tipis, seolah memperingatkanku
untuk tidak bertanya macam-macam.
Namun aku tak bisa
menahannya. Duduk di sampingku dua hari berturut-turut tidak mungkin sekadar
kebetulan. Mengapa dia sengaja duduk sedekat ini? Niatnya adalah misteri yang
tidak bisa kuabaikan begitu saja.
"Y-yah, hanya saja...
kau duduk di sebelahku lagi..."
"Apa ada
masalah?"
"T-tidak, sama sekali
tidak."
"Kalau begitu
tidak masalah, kan?"
Nada bicaranya yang
tegas tidak memberiku pilihan selain menyerah. Mendapat persetujuanku, dia
mengalihkan pandangannya dan membuka bukunya dengan santai, ekspresinya begitu
tenang seolah tidak ada yang ganjil.
Perubahan sikapnya
yang mendadak ini membuatku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku
meliriknya lagi, tetapi tidak ada yang tampak berbeda. Dia terlihat rileks,
tersenyum tipis menikmati bacaannya, persis seperti biasanya.
Apa yang sedang
dipikirkannya? Aku tak sanggup menebaknya, tetapi gelagatnya menyiratkan bahwa
mendesaknya lebih jauh adalah tindakan yang tidak bijak. Aku memutuskan untuk membiarkannya dulu untuk saat ini,
meski rasa penasaranku sama sekali tidak surut.
Duduk sedekat ini,
mustahil bagiku untuk tidak menyadari keberadaannya. Ini bukan sesuatu yang
bisa kuabaikan, terlebih karena aku menyukainya. Jarak yang sangat berbeda dari
interaksi kami yang biasa ini terasa terlalu dekat untuk bisa membuatku merasa tenang.
Aroma bunganya yang
lembut—sesuatu yang dulunya jarang kuperhatikan—kini tercium lebih nyata,
mengingatkanku akan sisi femininnya. Dia begitu dekat hingga aku bisa
mengulurkan tangan dan menyentuhnya jika mau. Pikiran itu membuat jantungku
berpacu hebat. Aku bahkan khawatir perasaan yang tak semestinya akan meluap ke
permukaan.
Selagi aku berusaha
menepis pikiran-pikiran liar itu, aku meliriknya sekali lagi, hanya untuk
mendapati bahwa dia juga sedang menatapku. Mata kami bertemu.
"Ada apa?"
"T-tidak ada apa-apa,
cuma... kau tahu..."
Gugup setengah mati, aku
buru-buru memalingkan wajah, tetapi fakta bahwa aku tertangkap basah sedang
memperhatikannya justru membuat rasa maluku semakin parah. Aku bisa merasakan
panas yang membakar pipiku.
"...Begitu ya."
Mata Saito membelalak
kaget sesaat sebelum ekspresinya melembut dan ia terkekeh pelan.
Dia pasti menganggap
reaksiku barusan lucu. Bibirnya melengkung membentuk senyuman jahil, tatapannya
diwarnai binar keisengan.
"Kenapa kau
tertawa?"
"Tidak ada apa-apa,
kok."
Meskipun aku berusaha
terdengar tegas, senyum menggoda di wajahnya tidak memudar sedikit pun. Senyum
jahil itu membuatnya terlihat seperti iblis kecil yang nakal, tetapi aku tidak
bisa marah padanya. Tawa lembutnya terlalu menenangkan.
Menghela napas pelan untuk
menenangkan diri, aku teringat pada tujuan utamaku datang ke sini.
"Oh iya. Ini buku
yang kujanjikan."
"Wah, terima kasih
banyak!"
Wajahnya langsung
berseri-seri saat mengambil buku itu dariku, raut wajahnya tampak gembira saat
memandangi sampulnya. Jarang sekali melihatnya seantusias ini.
"Buku tentang apa
ini?"
"Ini novel fantasi.
Kisah petualangan klasik. Aku membacanya sejak masih kecil—buku ini sudah
praktis menjadi bagian dari hidupku."
"Oh, jadi ini kisah
hidupmu. Dengan membaca ini, aku bisa mengungkap semua rahasia tentangmu?"
"Eh, bukan, bukan
begitu maksudku."
Nada bicaranya yang
terdengar begitu serius saat mengatakan hal yang meresahkan itu membuatku
bergidik. Untuk apa dia memanfaatkan informasi itu? Buku tidak bekerja seperti
itu.
"Aku tidak tahu apa
kau akan menyukainya, tapi cobalah membacanya dulu."
"Tentu saja. Aku
sangat menantikannya."
Ia membalik-balik
halamannya, memeriksa isinya. Itu adalah buku yang sangat kusukai, dan kuharap
dia bisa menikmatinya sama besarnya denganku. Setelah selesai memeriksanya, ia
meletakkannya perlahan di atas meja.
"Kau kelihatan sangat
senang."
"Tentu saja. Aku
sudah menantikannya sejak memintanya padamu kemarin."
"Begitu ya.
Senang mendengar kabarmu baik-baik saja. Apa situasi aman setelah rumor sebelum liburan musim
dingin kemarin?"
"Iya, syukurlah.
Meski sekarang muncul rumor baru, belum ada dampak buruk yang nyata."
Sesuai dugaanku, mengingat
betapa luasnya rumor itu menyebar, kabar tersebut akhirnya sampai juga ke
telinga Saito. Menilai dari ekspresi tenangnya saat menyesap teh, dia tampaknya
tidak terlalu terganggu.
"Apa kau ditanyai
banyak hal soal kunjungan ke kuil itu?"
"Lumayan. Pertanyaan
seperti 'Siapa pasanganmu?' atau 'Sudah berapa lama kalian dekat?' Aku
memastikan untuk menyangkal semua kesalahpahaman itu dengan tegas, jadi kau
tidak perlu khawatir."
"B-begitu ya..."
Saito kemungkinan
menyangkalnya demi mempertimbangkan diriku, tahu betapa aku tidak suka menjadi
pusat perhatian. Aku mengerti alasannya—menyangkalnya akan menghentikan
penyelidikan lebih lanjut. Di masa lalu, aku pasti akan merasa puas dengan
langkah tersebut.
Namun entah mengapa,
sangkalannya yang tegas itu justru membuatku merasa seolah hubungan di antara
kami dihapuskan begitu saja. Pikiran itu terasa mengganjal di hatiku.
Saito memiringkan
kepalanya sedikit, rasa ingin tahu tampak jelas dari ekspresinya.
"Ada yang
salah?"
"Y-yah, kau tidak
perlu menyangkalnya sekeras itu, kan?"
"Oh? Apa itu
artinya..."
"Ah, bukan, maksudku,
kalau kau menyangkalnya terlalu keras, orang-orang malah bisa curiga kalau itu
benar."
"Ah, begitu
rupanya."
Tanpa sengaja aku sempat
memperlihatkan perasaanku yang sebenarnya, tetapi Saito mengangguk pelan,
tampak berhasil diyakinkan.
"Kau benar juga.
Kalau begitu, aku akan mengambil sikap yang lebih netral—tidak membenarkan,
tapi juga tidak menyangkal."
"I-iya, begitu
lebih baik."
Lega karena berhasil
menutupi kecerobohanku, aku menghela napas dalam-dalam. Nyaris saja. Aku harus
lebih berhati-hati; aku tidak boleh sampai membiarkannya menyadari perasaanku.
Aku menghela napas
pelan, merasa gelisah dengan emosi asing di dalam diriku sendiri.
"Ngomong-ngomong,
salah satu temanku—seseorang yang tahu tentang hubungan kita—bilang kalau dia
ingin mengobrol denganmu."
"Teman... dari
Tanaka-kun..."
"Hei, jangan memasang
wajah seolah sedang berpikir, 'Dia punya teman selain buku?' begitu."
"A-apa?!"
"Ekspresimu terbaca
jelas di wajahmu. Asal tahu saja, aku punya teman manusia sungguhan."
"Maafkan aku. Kupikir
logikamu selama ini adalah, 'Buku adalah temanku, jadi aku sangat
populer.'"
Dia melontarkan sindiran
tajam itu dengan santai seolah bukan masalah besar. Selera humornya yang
sarkastis itu selalu saja berhasil membuatku terperangah. Yang membuatnya makin
menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia tidak sepenuhnya salah.
"Namanya Kazuki. Kau
tahu dia?"
"Iya. Ichinose-san cukup terkenal. Dia orang yang kadang
kulihat bersamamu, kan?"
"Iya, benar dia.
Dia sempat membantuku sebelum libur musim dingin, jadi... apa kau keberatan
untuk bertemu dengannya?"
"Aku tidak keberatan.
Kalau dia adalah teman dekat Tanaka-kun, aku yakin dia orang yang baik."
"Yah, dia bukan orang
jahat, sih."
Kazuki pada dasarnya
memang orang yang baik dan suka menolong di saat-saat penting. Tetap saja,
kebiasaannya yang sangat menikmati menggodaku adalah masalah yang terus
berulang. Aku tak bisa menepis perasaan bahwa pertemuan ini mungkin tidak akan
berjalan mulus.
"Apa yang ingin
dia bicarakan denganku?"
"Dia mungkin cuma
penasaran karena aku biasanya tidak pernah bergaul dengan perempuan. Obrolan santai saja."
"Kapan pertemuannya?
Aku ada urusan besok dan lusa."
"Tiga hari lagi
seharusnya bisa. Kazuki bilang dia bisa menyesuaikan jadwalnya."
"Baiklah. Fufu,
aku jadi menantikannya."
Ekspresi Saito
berbinar penuh semangat, hal yang langka mengingat ia biasanya merasa tidak
nyaman di sekitar anak laki-laki. Dia benar-benar terlihat antusias.
"Kau benar-benar
seantusias itu?"
"Tentu saja.
Siapa pun yang menghabiskan waktu bersamamu pasti harus menahan diri dari
obsesimu tentang buku. Kalau kami merasakan
penderitaan yang sama, kami pasti bisa cepat akrab."
"Bukankah itu agak
kejam?"
Tentu, aku memang
cenderung berlebihan kalau sudah menyangkut rasa cintaku pada buku, tapi kukira
selama ini aku masih dalam batas wajar. Paling banyak aku cuma mendapat satu
tatapan pasrah darinya dalam sehari, jadi seharusnya tidak seburuk itu.
"Melihat kelakuanmu
sehari-hari, itu penilaian yang adil. Kau harus sedikit menahan diri."
"...Baiklah."
"Lagipula, jarang
sekali ada kesempatan untuk mengobrol dengan orang yang mengenalmu dengan baik.
Aku sudah tidak sabar untuk membongkar semua rahasiamu."
"Tolong jangan
terlalu kejam padaku."
Meskipun aku menghargai
betapa mudahnya ia menyetujui ajakan itu, aku tak bisa menahan rasa cemas. Rasa
antusiasnya terasa terlalu berlebihan. Apakah aku baru saja mempertemukan dua
orang yang seharusnya tidak pernah bertemu?
Melihat matanya yang
berbinar penuh antisipasi, gelombang kegelisahan kecil perlahan mulai merayap
di hatiku.


Post a Comment