Chapter 1
Kebenaran yang Mengejutkan
Musim dingin kian menusuk, dan udara dingin tak
kunjung mereda. Ini baru giliran kerja keduaku di tahun baru, tapi kedai sudah
luar biasa sibuk.
Meski kedai baru saja
buka, pelanggan terus berdatangan silih berganti. Pasangan, kelompok tiga
orang, serta rombongan kecil lainnya berbaur dengan grup-grup besar yang
biasanya jarang mampir, menciptakan suasana yang riuh. Bagiku yang masih merasa
sedikit linglung setelah libur Tahun Baru, situasi ini cukup menguras tenaga.
Sambil membiasakan diri kembali dengan ritme kerja, aku berusaha sekuat tenaga
untuk mengimbanginya.
"Selamat
datang!"
Lonceng pintu yang
menandakan kedatangan pelanggan berdentang di penjuru kedai saat aku bergegas
menyambut mereka. Area pintu masuk sudah dipadati pengunjung yang mengantre.
"Meja untuk dua
orang, benar?"
Mereka adalah sepasang
wanita yang cukup sering berkunjung. Penampilan keduanya sangat kontras—satu
berambut hitam panjang, satunya lagi berambut cokelat—tetapi mereka selalu
datang bersama dan terlihat sangat akrab.
"Saat ini waktu
tunggu sekitar dua puluh menit. Apakah tidak apa-apa?"
"Ya, tidak
masalah."
Wanita berambut hitam
tersenyum hangat. Pelanggan tetap seperti mereka biasanya sangat pengertian,
dan itu sungguh melegakan. Sikap ramah mereka sedikit meringankan kepalaku yang
mulai kewalahan.
Aku mengantar mereka ke
ruang tunggu dekat pintu masuk sebelum lekas berbalik untuk mengantar pesanan.
Saat aku melewatinya, wanita berambut cokelat menyemangatiku, "Kerja
kerasmu hebat, semangat terus, ya." Betapa baiknya mereka.
Ketika kembali ke area
makan, Hiiragi-san tampak bergerak dengan kecepatan luar biasa—mengantar
pesanan, membersihkan meja, mencatat pesanan baru—semuanya dilakukan tanpa
jeda. Staf lain memang bekerja keras, tapi Hiiragi-san terlihat bergerak dua
kali lipat lebih cepat. Ia bahkan sudah layak disebut ninja.
"Tanaka-kun, kalau
sudah selesai, tolong antarkan hidangan ini ke Meja 5."
Bahkan orang yang biasanya
selalu tenang seperti Hiiragi-san pun tampak merasakan tekanan, terlihat dari
bulir keringat yang mulai membasahi dahinya. Ia tetap terlihat mengagumkan
seperti biasa. Terinspirasi oleh kata-kata manis pelanggan tadi, aku kembali
memusatkan perhatian pada pekerjaan.
Tenggelam dalam ritme
kerja, aku menyelesaikan tugas demi tugas, berpindah dari satu meja ke meja
lain. Perlahan-lahan fokusku kembali, dan aku mulai punya ruang di kepala untuk
memikirkan hal lain.
Saat giliran kerja
terakhir kami, Hiiragi-san sempat berbicara dengan Kazuki. Kira-kira apa yang
mereka bicarakan?
Waktu giliran kami selesai
di jam yang berbeda hari itu, jadi aku tak sempat bertanya. Mungkin tentang
diriku—Kazuki memang tipe orang yang suka seperti itu. Kuharap dia tidak
mengatakan hal-hal aneh.
Melirik ke arah
Hiiragi-san, kulihat ia sedang tekun mengantar pesanan, sama sekali tidak
menyadari tatapanku. Seragamnya tampak rapi tanpa cela, dan gerak-geriknya
sangat anggun. Rasanya tetap aneh membayangkan seseorang yang begitu serius
seperti dirinya bisa mengobrol santai dengan Kazuki yang santai dan
ceplas-ceplos.
Selagi aku memikirkan
keanehan itu, lonceng kembali berbunyi. Sembari meletakkan piring-piring yang
kubawa, aku bergegas untuk mencatat pesanan berikutnya.
"Terima kasih
sudah menunggu."
Rupanya sepasang
pelanggan tetap yang kusapa tadi. Mereka sepertinya juga mengenaliku—wanita
berambut cokelat sempat membelalakkan mata sesaat karena terkejut sebelum
tersenyum hangat.
"Bisa pesan
sekarang?"
"Tentu saja."
Aku mengeluarkan
perangkat genggam di pinggang dan bersiap mencatat. Dulu aku sering membuat
kesalahan dengan alat ini, tapi sekarang sudah terbiasa. Keduanya memesan menu
set makan siang yang sama dengan pasta dan akses bebas ke konter minuman.
Mereka memang sangat kompak.
Setelah mencatat
pesanan, aku berpindah ke meja lain—mengangkat piring kotor, mengantar makanan,
menangani kasir—semuanya tiada henti. Hari ini benar-benar melelahkan. Yang
kupikirkan saat ini hanyalah pulang ke rumah dan menenggelamkan diri dalam buku
untuk melepas penat. Buku yang kupinjam dari Saito sudah mendekati bagian
klimaks. Aku sudah tak sabar untuk melanjutkannya.
Begitu bayangan buku
itu melintas, keinginanku untuk membacanya makin tak terbendung. Kemarin aku
berhenti di bagian yang sangat menegangkan dan tadi pagi tidak sempat membaca
selagi bersiap berangkat kerja. Keinginan itu terasa begitu kuat, tetapi aku berusaha
menahannya dan memaksa diri untuk kembali fokus bekerja.
Terakhir kali
pikiranku melayang seperti ini, Hiiragi-san menegurku dengan tatapan dingin dan
ucapan, "Tolong konsentrasi." Ingatan akan tatapan tajamnya itu masih
membuat punggungku merinding. Tubuhku tanpa sadar bergidik.
Merasakan firasat
buruk, aku melirik ke arah Hiiragi-san. Benar saja, dia sedang menatap ke
arahku dengan mata yang tajam. Gawat... Apa dia menyadarinya? Aku langsung
tersentak dan memusatkan konsentrasi penuh pada pekerjaan.
Saat aku sedang
membereskan piring, suara benda pecah tiba-tiba terdengar. Aku menoleh ke
sumber suara dan melihat pecahan gelas berserakan di lantai. Wanita berambut
cokelat tadi mematung di sampingnya dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar.
"Anda tidak
apa-apa?"
"I-iya, saya... Maaf
sekali. Tadi terlepas dari
tangan saya."
"Tidak apa-apa,
biar saya yang bereskan."
Ia tampak benar-benar
cemas, jadi aku berbicara dengan nada lembut. Hal seperti ini terjadi sekali atau dua kali dalam
sebulan—sama sekali bukan masalah besar. Saat aku memberinya senyum
menenangkan, raut wajahnya tampak sedikit lebih rileks. Syukurlah, usahaku
berhasil.
Mengambil sapu dan pengki
dari ruang penyimpanan, aku kembali ke lokasi kejadian. Wajahnya masih
menyiratkan rasa bersalah.
"Silakan duduk
kembali, biar saya yang tangani."
Kurang pantas membiarkan
pelanggan berdiri terus, jadi aku mempersilakannya kembali ke kursinya. Karena
staf lain sedang sibuk, ini menjadi tugasku. Beruntung aku sudah cukup sering
melakukannya. Aku menyapu dengan tenang, hingga hanya suara gesekan pecahan
kaca di atas pengki yang terdengar di antara kami.
"Sudah selesai.
Silakan nikmati hidangan Anda."
"Terima kasih
banyak... dan saya benar-benar minta maaf."
"Sungguh, tidak
apa-apa. Ini sering terjadi. Saya sendiri sudah tak terhitung berapa kali
menjatuhkan dan memecahkan barang, jadi satu gelas lagi tidak akan jadi
masalah."
Aku mencoba bergurau, dan
wanita itu tertawa kecil. Suasana muram di sekitarnya pun berangsur menghilang.
Baguslah—dia tidak akan terbebani lagi.
"Mendengarnya membuat
saya lega."
"Sama-sama, bukan
masalah."
Sambil memastikan tak ada
pecahan yang tertinggal, aku menyimpan kembali peralatan pembersih. Gelas yang
pecah kubuang ke tempat sampah anorganik, lalu mengembalikan sapu dan pengki ke
tempatnya semula.
Kembali ke area makan,
kulihat wanita tadi sedang asyik mengobrol dengan temannya yang berambut hitam,
tampak jauh lebih tenang. Sepertinya mereka sudah bisa menikmati makan
siangnya.
Setelah itu, hari berlalu
tanpa ada kejadian besar lainnya. Satu-satunya momen yang tersisa adalah saat
kedua wanita itu mengucapkan terima kasih kepadaku saat hendak pulang.
Seiring meredanya jam
sibuk makan siang, jumlah pelanggan mulai berkurang secara bertahap. Akhirnya
kami melewati puncak keramaian. Lirikan ke arah jam dinding menunjukkan bahwa
waktu istirahat makan siang hampir tiba. Manajer pun tampaknya menyadari hal
itu.
"Situasi sudah mulai
tenang. Kalian berdua boleh istirahat makan siang."
"Baik, permisi."
Meninggalkan area kedai
yang kini telah hening, aku melangkah menuju ruang istirahat di belakang.
Hiiragi-san menyusul tepat di belakangku, lalu berjalan berdampingan. Meski jam
kerja kami belum usai, aku menghela napas pelan, merasa lega karena akhirnya
bisa bernapas lega sejenak.
"Sudah lama kedai
tidak seramai ini, ya?" ujarku.
"Benar sekali. Sudah
cukup lama sejak terakhir kali seramai itu. Padahal aku sudah cukup lama
bekerja di sini, tapi tadi benar-benar menguras tenaga."
Berjalan di sampingku,
wajah Hiiragi-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ekspresi
tenangnya yang dibingkai poni panjang dan kacamata berbingkai tipis tetap
terjaga sempurna.
"Lama-lama kau akan
terbiasa. Tidak seburuk itu,
kok."
"Benarkah? Apa dulu terasa berat
bagimu saat pertama kali mulai?"
"Sampai batas
tertentu, ya. Banyak sekali yang harus dipelajari, dan aku belum terbiasa
bergerak cepat di tengah kondisi yang sibuk."
"Wah, itu
mengejutkan. Kau terlihat seperti tipe orang yang langsung mahir sejak
awal."
"Begitukah kesanmu
terhadapku?"
Dia menoleh sedikit,
tampak penasaran.
"Kau punya citra
yang sangat serius dan sempurna."
"Aku sering
mendengar itu, tapi aku jauh dari kata sempurna," jawabnya dengan senyum
tipis. "Sebagai contoh, waktu baru mulai, aku memecahkan piring lebih
banyak dari yang bisa kuhitung, dan aku juga sering salah mencatat pesanan. Lihat, kan? Sama sekali
tidak sempurna."
"Y-ya, kurasa itu
benar."
Entah kenapa, Hiiragi-san
tampak anehnya bangga saat menceritakan kecerobohannya di masa lalu, matanya
berbinar di balik lensa kacamata. Uh, aku tidak yakin itu hal yang patut
dibanggakan sedemikian rupa?
"Yah, sekarang aku
mengerti kalau kau pun pernah mengalami kesalahan."
"Baguslah kalau
begitu."
Merasa puas, ia kembali
menatap lurus ke depan.
"Oh, ngomong-ngomong,
temanku sempat datang ke sini tempo hari. Kau ingat dia?"
"Ya, kalau tidak
salah Ichinose-san?"
"Iya. Kulihat kalian
berdua sempat mengobrol. Apa yang dia bicarakan?"
Aku tak bisa menahan rasa
cemas kalau-kalau Kazuki mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Dia sangat suka
menjahili orang lain.
"Tidak ada yang aneh.
Dia hanya memperkenalkan diri dan berkata, 'Terima kasih sudah menjaga Tanaka.'
Hanya itu."
"Hanya... itu?"
"Ya, cuma itu."
Tak disangka, Kazuki
bersikap sopan. Karena terlalu sering menghadapi kejahilannya, aku jadi
bersikap terlalu curiga. Tampaknya kekhawatiranku tidak berdasar. Atau mungkin,
Hiiragi-san hanya bersikap sopan untuk menjaga perasaanku. Kalau perlu, aku
bisa memastikannya langsung pada Kazuki nanti.
Percakapan kami
berakhir tepat saat kami tiba di depan ruang istirahat. Aku mendorong pintunya hingga terbuka.
"Ah, kerja bagus,
Hiiragi-senpai, Tanaka-senpai."
"Mai-chan. Kerja
bagus."
"Kerja bagus."
Seorang gadis dengan
rambut cokelat keabuan sedang duduk di tengah ruangan, mengalihkan pandangan
dari ponsel pintarnya untuk menyapa kami dengan riang.
Senyum cerahnya
memancarkan kehangatan dan ketulusan. Senang rasanya melihat keadaannya
baik-baik saja sejak hari Natal lalu. Dia tidak ada di giliran pagi, jadi
kemungkinan dia baru mulai di giliran siang. Sudah mengenakan seragam biru tua
yang sama dengan Hiiragi-san, entah mengapa penampilannya memberikan kesan yang
sama sekali berbeda.
Aku tidak terlalu lapar,
tapi aku tetap mengeluarkan makan siang yang kubawa—roti lapis yang terbungkus
rapi—lalu menaruhnya di atas meja. Melepaskan celemek, aku duduk sambil
menghela napas panjang.
"Kalian kelihatan
lelah sekali. Tadi pagi sesibuk itu, ya?" tanya Mai sembari meletakkan
ponselnya di meja.
"Kurang lebih begitu.
Sudah lama tidak sepadat ini."
"Separah itu, ya?
Jarang-jarang makan siang bisa seramai itu. Untung aku memutuskan ambil giliran
siang."
"Tunggu, kau sudah
tahu bakal seramai ini?"
"Tentu saja, aku kan
anak manajer. Setelah bertahun-tahun mengamati kedai, kau pasti bisa punya
insting semacam ini."
Mai membusungkan
dadanya dengan bangga. Itu kemampuan yang mengesankan, tapi aku tak tahan untuk
tidak berpikir betapa aneh dan spesifiknya "bakat" yang ia miliki.
Hiiragi-san yang ikut
mendengarkan obrolan kami menghentikan suapannya sejenak.
"Itu... terdengar
seperti bakat yang sangat tidak biasa."
"S-sama sekali
tidak! Berkat ini, aku bisa dengan mudah meminta uang saku dari ibuku. Aku
mencurahkan seluruh energiku untuk mencari cara termudah mendapatkan uang
jajan."
Mai tersenyum licik,
membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya untuk menirukan bentuk
koin. Senyum itu jauh dari kesan ramahnya yang biasa—senyuman licik yang nyaris
menyerupai tokoh antagonis. Uh... itu bukan ekspresi yang pantas dibuat oleh gadis
manis.
Hiiragi-san tampaknya
sepemikiran denganku, menyipitkan matanya sedikit sembari menatap datar ke arah
Mai.
"Hei, Mai-chan.
Wajahmu. Perbaiki."
"Ah, ups. Maaf,
refleks."
Mai memijat kedua pipinya
sebentar, lalu kembali memasang senyum cerahnya yang biasa. Dia mengedipkan
senyum manis ke arahku, tapi jelas—senyuman itu tak lagi bisa menipuku.
Merasa lebih baik
mengabaikan topik tersebut sebelum pandanganku terhadap Mai berubah total, aku
memilih pura-pura melupakan apa yang baru saja kulihat.
Sambil menggigit roti
manis yang kubawa untuk makan siang, aku melirik Hiiragi-san yang duduk di
seberangku. Dia tampaknya lebih menyukai bekal buatan sendiri; kotak makan
kecilnya tersusun rapi dengan lauk-pauk yang penuh warna dan menggugah selera.
"Kalau dipikir-pikir,
ini kali kedua aku melihatmu tahun ini, Hiiragi-senpai. Tapi kalau dengan
Tanaka-senpai, sudah cukup lama, ya? Seingatku..."
"Iya, sejak Natal.
Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu waktu itu—sungguh sangat
menolong."
Bahkan sampai sekarang,
mengingat kejadian itu masih membuatku merasa bersalah. Waktu itu aku begitu
panik sampai tidak memikirkan cara yang lebih baik. Meneleponnya tiba-tiba dan
mengajaknya pergi keesokan harinya—aku benar-benar memanfaatkan kebaikannya.
Aku memang sudah berterima kasih lewat telepon sesudahnya, tapi rasanya itu
masih belum cukup. Aku menundukkan kepala, dan Mai membalas santai,
"Jangan dipikirkan."
Melihat interaksi kami,
Hiiragi-san mengerjap, mulutnya sedikit terbuka.
"Natal? Kalian
berdua? Memangnya ada apa?"
Matanya yang terlihat
di balik kacamata membelalak kaget, lalu ia mematung. Kurasa memang kombinasi
yang tidak biasa, jadi aku ragu bagaimana menjelaskannya. Sebelum aku sempat
menyusun kata-kata, Mai langsung menyela.
"Yah, begitulah,
kami pergi jalan berdua."
"Kalian... pergi
berdua?"
Hiiragi-san tampak
berusaha mencerna ucapan Mai, menciptakan jeda hening sejenak di ruangan itu.
Suara detak jam dinding mengisi keheningan hingga akhirnya ia kembali sadar dan
bertanya dengan ragu-ragu:
"...Apa itu
sebuah kencan?"
"Fufu, bisa
dibilang begitu, mungkin."
"Hei, tunggu
sebentar."
Aku sontak menoleh ke
arah Mai yang jelas-jelas sedang menikmati situasi ini. Ia tersenyum jahil,
tampak seperti anak kecil yang girang karena leluconnya berhasil. Adik
tingkatku yang satu ini benar-benar tahu cara memancing keributan.
Gawat. Sekarang aku
yakin Hiiragi-san salah paham. Aku harus segera meluruskannya.
"Sebenarnya
ceritanya tidak seperti itu—"
"Hmm."
Tatapan dingin yang
dilayangkan Hiiragi-san kepadaku seketika memotong kalimatku. Ini pertama kalinya aku
melihatnya memasang ekspresi seperti itu.
"A-ah,
Hiiragi-san?"
Tatapannya yang tajam
terasa seolah bisa menembus batinku, dan keringat dingin mulai mengalir di
punggungku. Naluri liarku memperingatkan bahwa situasi ini jauh lebih kritis
dari apa pun.
Waktu itu aku belum
menyadari perasaanku pada Saito, apalagi betapa dalamnya rasa itu. Ditambah
lagi, aku mengajak Mai justru demi Saito—jadi secara teknis, aku tidak
melakukan kesalahan apa pun... kan?
Meski begitu, jika
dipikir-pikir lagi, aku mengerti mengapa pergi berdua dengan perempuan
lain—terlebih di hari Natal—bukanlah tindakan yang bijak. Hiiragi-san
kemungkinan sudah menyadari perasaanku pada Saito dari obrolan-obrolan kami
sebelumnya. Dari sudut pandangnya, tindakanku pasti terlihat seperti
mengkhianati perasaan itu.
Menelan ludah dengan
gugup, aku memberanikan diri untuk berbicara.
"S-sebenarnya ada
alasan di balik semua itu..."
"Dan apa alasan yang
kau maksud itu?"
"Kau tahu teman
yang sering kuceritakan, yang sangat dekat denganku? Yah, barang berharga
miliknya—sebuah pembatas buku kaca—rusak. Aku ingin memperbaikinya, jadi aku
meminta bantuan Mai."
"Oh..."
Mata Hiiragi-san sedikit
melebar saat ia mulai memahami situasinya.
"Dan dari situ, kami
akhirnya pergi bersama untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk
memperbaikinya."
"Begitu rupanya. Jadi
itu yang sebenarnya terjadi."
Aku menatap matanya
langsung saat menjelaskan, dan setelah beberapa saat, ia menurunkan
pandangannya lalu mengangguk dalam-dalam. Tampaknya ia sudah paham.
Tatapannya kembali
mengarah padaku, tetapi kali ini rasa dingin yang menghakimi itu telah lenyap.
Ia tampak mengendurkan ketegangan tubuhnya dan menghela napas lega.
"Sungguh, Mai-chan.
Itu sama sekali bukan kencan. Jangan mengatakan hal-hal yang bisa memicu salah
paham."
"Ahaha, aku cuma
berniat menggoda sedikit. Lagipula, siapa pun pasti tahu kalau Tanaka-senpai
tidak punya niat terselubung, melihat bagaimana paniknya dia hari itu."
"Apa maksudmu?"
"Yah..."
"Oh, ayolah."
Perasaan cemas kembali
menyergap dadaku. Waktu itu aku begitu fokus ingin memperbaiki pembatas buku
tersebut sampai tidak memedulikan hal lain di sekitarku. Aku pasti telah
melakukan hal-hal konyol tanpa kusadari. Aku berusaha menghentikan Mai sebelum
dia berbicara lebih jauh, tapi terlambat.
"Waktu kami pergi
membeli resin untuk perbaikan, Tanaka-senpai kelihatan begitu putus asa. Dia
terus meminta saranku, berkonsultasi dengan staf toko, dan bahkan mencari
informasi di internet langsung di tempat demi memastikan barang yang dibeli
benar. Kebanyakan orang tidak akan berusaha sejauh itu, kan?"
"...Dia benar-benar
berusaha sekeras itu, ya?"
Hiiragi-san melirik ke
arahku. Saat mata kami bertemu, ia buru-buru menunduk dan mulai memilin untaian
rambutnya dengan jari.
"Dan masih ada
lagi."
"M-masih ada
lagi?"
"Tentu saja. Semuanya
berawal saat dia tiba-tiba meneleponku untuk menanyakan cara memperbaiki
pembatas buku itu. Dan kau tahu apa katanya? Dia menyebutnya 'barang berharga
milik seseorang yang sangat penting.' Benar begitu, kan, Tanaka-senpai?"
Mai menoleh ke arahku
dengan senyuman menggoda. "I-iya," aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Meski semuanya benar,
mendengarnya diucapkan kembali secara gamblang oleh orang lain membuatku ingin
berteriak ke dalam bantal. Bolehkah aku pulang sekarang dan menenggelamkan
wajahku di sana?
"Biasanya orang
tidak akan bisa menyatakan hal seperti itu dengan begitu terang-terangan. Sekalipun pada orang yang
mereka sukai, mereka pasti akan ragu. Tapi senpai, kau mengatakannya dengan
sangat percaya diri—bahkan terus mengulanginya saat kita berbelanja
bersama."
"K-kurang lebih
begitu..."
Hiiragi-san terus mencuri
pandang ke arahku, tapi aku sungguh berharap dia berhenti melakukannya.
Semua yang dikatakan Mai
memang benar, tetapi waktu itu aku sedang panik. Emosiku pasti meluap ke dalam
kata-kataku lebih dari yang kusadari.
Sekarang, saat semuanya
diceritakan kembali dengan tenang, aku hanya ingin lenyap dari muka bumi.
Tidak, sungguh—ini adalah tingkat rasa malu yang bisa menjadi aib seumur hidup.
Tolong, siapa pun, biarkan aku menghilang sekarang juga.
"Bisa mengungkapkan
perasaan sejelas itu kepada orang lain sungguh mengesankan. Sejujurnya, kau
terlihat keren. Waktu itu kau menyebutnya teman, tapi bagaimana kebenarannya?
Maksudku, berusaha sekeras itu untuk lawan jenis sangatlah mencurigakan."
Mata Mai berbinar penuh
rasa ingin tahu saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Lirikan sekilas ke
samping memperlihatkan bahwa Hiiragi-san pun, sambil menikmati makanannya,
terus melirik ke arahku. Um... kalian sama sekali tidak pandai menyembunyikannya.
Kalau memang berniat
pura-pura tidak tertarik, setidaknya berusahalah lebih keras sedikit.
(Sudah tidak ada jalan
keluar lagi.)
Jika ini terjadi sebelum
aku menyadari perasaanku sendiri, aku pasti akan menyangkalnya seperti biasa.
Namun sekarang, aku tidak bisa melakukannya. Hiiragi-san telah banyak
membantuku melewati berbagai sesi curhat; aku berutang kejujuran padanya.
"Yah, sebenarnya...
setelah semua itu, aku baru menyadari bahwa aku menyukainya," akuku sambil
menggaruk bagian belakang leherku.
Aku bersiap-siap,
mengira Mai akan langsung melompat girang mendengar pengakuanku—tetapi
sebaliknya:
"Apa!? T-Tanaka-san,
kau menyukainya!?"
Justru Hiiragi-san
yang bereaksi lebih dulu, suaranya terdengar begitu lantang.
Matanya membelalak
selebar bulan purnama, mengerjap berkali-kali seolah tak percaya. Ia bahkan
sampai berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke atas meja dengan kedua tangan
bertumpu. Mai yang kaget melihat luapan emosi Hiiragi-san yang tidak biasa itu
sampai mematung di tempatnya.
"Eh, iya..."
Aku mengangguk ragu,
bingung bagaimana harus menanggapi keterkejutannya. Aku belum pernah melihatnya
bereaksi seheboh ini sebelumnya, dan intonasi suaranya benar-benar membuatku
terperangah.
Selagi aku berpikir
keras mencari kata-kata selanjutnya, Hiiragi-san tampak tersadar kembali, lalu
buru-buru duduk dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"A-ah, maaf. Aku
hanya sedikit terkejut..."
Ia meminta maaf dengan
suara lirih, menghindari kontak mata sambil bergerak gelisah di kursinya. Sedikit? Itu jelas sangat
terkejut.
Saat aku masih berusaha
memproses reaksinya, Mai juga tampak tersadar dari rasa herannya.
"Wah, aku tidak
menyangka Tanaka-senpai akan mengaku semudah itu. Pantas saja Hiiragi-senpai
sampai kaget."
"Apa aku benar-benar
kelihatan seperti orang yang pantang mengakui perasaan?"
"Kupikir kau adalah
tipe protagonis keras kepala yang menolak mengakui perasaannya sendiri
bagaimanapun situasinya."
"Itu terdengar
terlalu kejam."
Kata-katanya terasa
menyengat, meski aku tidak bisa sepenuhnya menyangkal. Seandainya yang ada di
sini adalah Ichinose dan bukan Hiiragi-san, aku pasti akan menolak
mentah-mentah untuk mengakuinya. Jika bersamanya, kita tidak pernah tahu
bagaimana ia akan memelintir kata-kata untuk menjahili orang lain.
"Rencananya aku ingin
melihatmu menyangkal mati-matian, lalu menikmati tontonan itu bersama
Hiiragi-senpai. Rencanaku jadi berantakan! Bagaimana kau akan bertanggung jawab
untuk ini, Tanaka-senpai!?"
"...Mai-san,
kepribadianmu benar-benar luar biasa, ya?"
"Terima
kasih!" sahutnya sambil membusungkan dada dengan bangga.
"Itu tadi
sindiran."
Aku memberinya tatapan
datar, tapi hal itu sama sekali tidak memengaruhinya. Malahan, ia membalasnya
dengan kedipan mata yang nakal. Sebenarnya apa salahku sampai harus menjadi
sasaran empuk begini? Rasanya seperti dia sedang kerasukan jiwa usil milik Ichinose.
Aku menghela napas
memikirkan temanku yang merepotkan itu. Tepat saat itu, Hiiragi-san mendongak
menatapku dengan ekspresi yang tak biasanya tampak ragu-ragu.
"Um... Tanaka-san,
tentang apa yang kau katakan tadi... Apa itu benar?"
"Iya, itu
benar."
"Kapan... kapan kau
mulai menyadarinya?"
"Sulit untuk
dipastikan dengan tepat. Kurasa itu terjadi begitu saja seiring berjalannya
waktu. Tapi aku baru benar-benar menyadarinya belakangan ini."
"Begitu..."
Ia tampak larut dalam
dunianya sendiri selama beberapa saat, tatapan melamunnya diiringi dengan nada
bicara yang lembut dan terkesan linglung. Apa dia meragukanku?
"Eh, itu
sungguh-sungguh benar, lho."
"Eh?"
"Maksudku, kami
kebetulan pergi hatsumode bersama, dan saat melihat senyumannya ketika
kami berpisah, aku sadar bahwa aku menyukainya. Kurasa aku selalu mengagumi
senyumnya karena perasaanku kepadanya."
"B-baiklah! Aku
percaya. Sungguh, aku percaya padamu."
Hiiragi-san mengangguk
mantap, pipinya sedikit bersemu merah. Ia menghela napas lega secara perlahan,
lalu mengambil sumpitnya dan kembali melanjutkan makan dengan tenang.
"Jadi,
Tanaka-senpai," sambung Mai. "Karena sekarang kau sudah sadar akan
perasaanmu, apa kau berencana untuk menyatakan cinta?"
"Tidak mungkin.
Berdasarkan sikapnya selama ini, aku cukup yakin dia hanya menganggapku sebagai
teman. Dia mungkin lebih suka hubungan kami tetap seperti sekarang. Aku tidak
berencana melakukan apa pun."
"Huu! Membosankan
sekali!"
"Kau cuma ingin bahan
untuk menggodaku lagi, kan?"
Mengabaikan bibirnya yang
mengerucut berlebihan, aku membuang jauh-jauh pikiran untuk bercerita lebih
banyak. Mai sangat suka menggoda orang lain, dan tidak ada hal baik yang akan
didapat jika aku menuruti kemauannya.
Lagipula, dari apa yang
kulihat selama ini, sulit membayangkan dia memiliki perasaan romantis kepadaku.
Menyatakan perasaan hanya akan merusak hubungan yang sudah terjalin.
Sejujurnya, membayangkan reaksinya saja—yang kemungkinan besar berupa campuran
antara jengkel dan tak percaya—sudah cukup untuk menghentikan niatku.
Aku menjejalkan sisa roti
ke dalam mulut, pura-pura tidak melihat tatapan memohon Mai yang seolah
mendesakku untuk segera menyatakan cinta. Matanya praktis meneriakkan hal itu.
Tidak, tidak akan pernah terjadi.
Melihatku tidak bergeming,
Mai akhirnya menyerah, binar di matanya meredup sejenak—hanya untuk menyala
kembali beberapa detik kemudian.
"Baiklah kalau
begitu. Setidaknya ceritakan tentang jalan-jalan saat hatsumode kemarin.
Aku puas dengan itu saja."
"Tidak mau. Untuk apa
aku secara sukarela memberimu bahan untuk menjahiliku?"
"Ayolah! Jantungmu
pasti berdebar-debar kan saat bersama orang yang kau sukai? Bagilah sedikit
rasa mendebarkan itu padaku! Biarkan aku ikut merasakannya!"
"Kalaupun iya, aku
tidak akan menceritakannya padamu."
Tatapannya yang memohon
mungkin bisa mempan pada orang lain, tapi tidak akan berhasil menggoyahkanku.
Meskipun saat itu aku
belum menyadari perasaanku, pada kenyataannya itu adalah kencan dengan orang
yang kusukai. Dia bahkan mengenakan pakaian feminin yang langka hari itu, yang
tentu saja langsung menarik perhatianku. Rasanya mustahil untuk tidak memperhatikannya.
Namun entah mengapa, aku
enggan menceritakan lebih jauh kepada Mai. Memalingkan wajah, aku memberi
isyarat penolakan, dan dia membalasnya dengan mengetuk meja perlahan karena
kesal.
"Ada apa dengan
sikapmu itu? Kau malah membuatku makin penasaran. Benar kan,
Hiiragi-senpai?"
"Eh? Aku?"
"Iya! Kau juga
penasaran kan, tentang detail cerita yang bikin deg-degan itu?"
"Um... yah,
sebenarnya iya."
"Apa!?
Hiiragi-san!?"
Dikhianati. Sejujurnya
kukira Hiiragi-san akan berada di pihakku, tetapi sepertinya rasa penasarannya
terhadap kisah asmara telah mengalahkan akal sehatnya. Meski ia sedikit
menundukkan wajahnya, ia terus mencuri pandang ke arahku. Kalau memang berniat
menyembunyikan rasa tertarik, setidaknya lakukanlah dengan benar.
Menolak Mai adalah satu
hal, tetapi jika Hiiragi-san yang memintanya, aku tak kuasa menolak.
Bagaimanapun juga, dialah teman curhatku selama ini. Menghela napas panjang,
aku akhirnya mengalah.
"Sebenarnya bukan
cerita yang luar biasa. Kami cuma kebetulan pergi bersama, dan aku jarang
melihatnya memakai pakaian modis, jadi hal itu meninggalkan kesan yang mendalam
bagiku."
"Begitu rupanya. Jadi
kau benar-benar memperhatikannya."
"Yah, siapa pun pasti
memperhatikannya kalau dia terlihat sebagus itu."
Bahkan saat mengenakan
pakaian santai di rumah pun dia terlihat menawan, jadi melihatnya berdandan
begitu niat... mustahil rasanya jika aku tidak terpana. Rasanya seperti melihat
sisi lain dari dirinya yang sama sekali berbeda, sisi yang belum pernah kusadari
secara sadar sebelumnya. Bahkan sampai sekarang, ingatan itu masih begitu jelas
hingga membuat detak jantungku berpacu.
"Fufufu, jadi kau
terpesona oleh perbedaan penampilannya yang tidak biasa. Padahal aku tidak
menyangka kau bisa sepolos ini dalam urusan seperti ini."
"Hei, aku tidak
senaif itu."
"Apa ada hal
lain?"
"Hal lain...?"
Didesak oleh Mai, aku
kembali mengingat momen kami saat pergi hatsumode. Kami akhirnya pergi
bersama secara tak terduga, melangkah menuju kuil di tengah rasa canggung dan
bingung yang bercampur aduk. Lalu...
Ingatan saat menggenggam
tangannya kembali terlintas dengan sangat jelas. Waktu itu aku belum menyadari
perasaanku, jadi itu adalah gestur yang terjadi begitu saja secara alami. Namun
saat memikirkannya sekarang, tindakan itu terasa sangat berani. Aku menatap ke
arah telapak tanganku.
Sensasi lembut dari
genggaman tangan Saito seakan kembali terasa di telapak tanganku.
Jari-jemarinya yang ramping dan lentik, ukurannya yang lebih kecil dari
tanganku—terasa begitu khas seorang wanita. Merasakan pipiku mulai memanas, aku
mengepalkan tangan untuk mengenyahkan ingatan tersebut.
"Oh? Reaksi apa itu
tadi?"
"Hah? Tidak, bukan
apa-apa..."
Mata Mai berbinar-binar
dan ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tapi aku tak bisa menahan rasa
maluku. Membicarakan hal-hal seperti ini benar-benar di luar zona nyamanku.
Selagi aku ragu-ragu,
kulihat Hiiragi-san mengintip ke arahku dengan mata penuh rasa ingin tahu.
"T-Tanaka-san, kalau
masih ada lanjutannya, tolong ceritakan. Aku juga penasaran."
"Bahkan kau juga,
Hiiragi-san..."
"Y-yah, lagipula
orangnya tidak akan tahu..."
Permintaan sopan dari
Hiiragi-san makin menyudutkanku. Poninya menutupi sebagian matanya, tetapi
ketertarikan yang jelas itu tak bisa disembunyikan. Aku tak pernah menyangka
akan melihat Hiiragi-san yang biasanya begitu tenang bisa begitu
bersemangat—kisah cinta tampaknya memang menjadi kelemahannya.
"Yah... kalau harus
memilih, kurasa momen yang paling membuatku gugup adalah saat kami bergandengan
tangan. Awalnya itu cuma untuk membantunya berjalan, jadi aku tidak terlalu
memikirkannya. Tapi setelah menyadari perasaanku, aku jadi tidak bisa berhenti
memikirkannya."
"Jadi, saat kalian
tak sengaja bergandengan tangan, kau sebenarnya sudah merasa
berdebar-debar."
Pipi Hiiragi-san merona
samar saat berbicara, senyum lembut merekah di wajahnya. Perpaduan antara rasa
malu dan geli membuat ekspresinya tampak jauh lebih manis.
"Kau tidak perlu
tertawa seperti itu. Aku memang tidak terbiasa dengan hal-hal begini."
"Tidak, aku tidak
sedang mengejekmu. Aku hanya berpikir kalau itu... lucu."
"Kau jelas-jelas
sedang menggodaku, kan?"
Aku melayangkan
tatapan tajam yang setengah hati ke arahnya, tapi senyumannya tak kunjung
pudar. Hiiragi-san tampak benar-benar terhibur, dan senyum lembut itu terus
bertahan hingga waktu istirahat makan siang kami berakhir.
***
Sudut Pandang Saito
Setelah menyelesaikan
giliran kerja hari ini, aku berada di ruang ganti bersama Mai-chan,
bersiap-siap untuk pulang. Tanaka-kun tampaknya sudah pulang lebih dulu karena
gilirannya berakhir pada sore hari.
Menggerakkan tubuhku
yang lelah, aku melepas jaket seragam dan memasukkannya secara hati-hati ke
dalam tas.
"Siapa sangka
Tanaka-senpai bisa jatuh cinta pada seseorang? Cukup mengejutkan, ya?"
Mai-chan yang sedang
berganti pakaian di sebelahku berkomentar santai tentang apa yang terjadi siang
tadi. Aku melirik ke arahnya dan melihat jemarinya sedang mengancingkan kemeja
kasualnya. Jari-jemarinya yang
lentik dengan hiasan kuteks merah muda bergerak dengan cekatan.
Kutarik sweter hitam
tebalku melewati kepala, merapikannya sembari menjawab.
"Iya, aku juga
terkejut."
Suaraku terdengar
tenang, tetapi jantungku sebenarnya masih berdegup kencang.
Pengakuan yang tak
terduga itu benar-benar mengguncang perasaanku. Tampaknya Tanaka-kun dan aku mungkin sebenarnya memiliki
perasaan yang saling berbalas. Rasanya begitu mendadak hingga tak terasa nyata.
Seseorang yang hanya
peduli pada buku—bagaimana mungkin aku bisa percaya bahwa orang seperti dia
bisa jatuh cinta padaku?
Meski dia mengatakannya
secara langsung dan aku tahu itu kenyataan, menerimanya adalah persoalan yang
sama sekali berbeda. Memikirkannya saja sudah membuatku merasa malu dan sangat
canggung. Peganganku pada tali tas kian mengerat.
"Hiiragi-senpai, kau
kan sudah sering mendengarkan curhat Tanaka-senpai sejak lama, kan? Masa kau
tidak menyadari apa-apa?"
"Aku tahu kami memang
dekat, tapi aku tidak menyangka kalau perasaannya bersifat romantis..."
Itulah alasan mengapa aku
begitu terkejut. Memang, dia pernah melontarkan ucapan seperti "kau
manis" atau "aku suka senyummu," tapi selama ini aku selalu
menganggapnya sebagai pujian biasa.
Saat kami sedang bersama,
dia tidak pernah terlihat terlalu canggung atau bersikap khusus kepadaku, dan
aku selalu berpikir fokus utamanya adalah buku, bukan manusia.
"Tanaka-san bilang
dia baru menyadari perasaannya belakangan ini. Dia mungkin hanya menganggapmu
sebagai teman biasa sampai saat itu. Mungkin ada sesuatu yang berubah selama
liburan Tahun Baru."
"Mungkin saja...
Memang benar dia tampak tidak menyadari apa-apa saat Natal, jadi bisa saja itu
terjadi saat hatsumode atau semacamnya."
Mai-chan melipat
tangannya di dada, bergumam sambil berpikir. Ekspresi seriusnya menunjukkan
bahwa ia sedang berpikir keras—meskipun saat ini ia masih mengenakan pakaian
dalam dan belum bergerak sedikit pun untuk menyelesaikan pakaiannya. Mai-chan,
bagaimana kalau kau pakai baju dulu sebelum mulai merenung begitu?
Meski penampilannya kurang
sopan, tebakannya kemungkinan besar tepat. Banyak hal yang terjadi waktu itu.
Kami pergi bersama, bergandengan tangan, dan pada satu momen, aku bahkan...
menyandarkan kepalaku di dada Tanaka-kun.
T-tidak. Aku harus
melupakan hal itu. Lupakan semuanya. Mengingatnya lagi sangat tidak baik untuk
kesehatan jantungku. Wajahku sudah mulai terasa panas hanya karena mengingat
kejadian itu. Aku menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan memori itu ke sudut
pikiranku yang terdalam. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Mengingat
topiknya sudah terangkat, aku memutuskan untuk menanyakan hal yang sempat
mengganjal di hatiku.
"Kau sempat
menyinggungnya saat makan siang tadi, kalian pergi bersama saat hari Natal,
kan?"
"Iya. Aku cuma
membantunya memperbaiki pembatas buku."
"Aku tidak pernah
membayangkan kalian berdua akan pergi berdua."
Saat pertama kali
mendengarnya, aku sangat terkejut—dan sejujurnya, sedikit cemburu. Membayangkan
mereka pergi berdua, terlebih di hari Natal, rasanya sungguh tidak adil. Aku
juga ingin menghabiskan waktu bersamanya. Yah, setelah mendengar alasannya, aku
bisa mengerti. Tapi tetap saja, kuharap dia memberitahuku lebih awal. Kalimat
ambigu dari Mai-chan tadi juga makin memperkeruh suasana.
Tanaka-kun bahkan terlihat
agak tegang saat itu. Apa aku benar-benar semenakutkan itu? Mengingat kembali
hal itu, aku menghela napas kecil.
"Aku juga kaget waktu
dia tiba-tiba menelepon. Tapi dia kelihatan sangat panik dan bersikeras ingin
memperbaiki pembatas buku itu."
"Dia begitu
bersikeras, ya..."
Aku juga mendengarnya dari
Mai-chan saat makan siang, tetapi mengetahui bahwa dia berusaha sekuat tenaga
demi diriku membuatku merasa sangat bahagia. Dia mungkin merasa bersalah karena
telah membuatku berharap banyak saat kejadian rusaknya barang itu, yang
menjelaskan mengapa dia begitu bertekad. Padahal sejak awal itu sama sekali
bukan kesalahannya.
Meski begitu, membayangkan
dia berusaha mati-matian demi memperbaiki pembatas bukuku sukses menerbitkan
senyuman di wajahku. Aku bisa membayangkan sosoknya dengan jelas di kepalaku,
berkonsentrasi penuh hanya untuk membantuku. Waktu makan siang tadi, aku harus
berjuang keras menjaga ekspresi wajahku agar tetap netral dan tidak mendadak
tersenyum lebar. Sungguh, dia selalu punya cara untuk membuatku bahagia secara
tak terduga.
"Kuharap kau bisa
melihat Tanaka-senpai di hari Natal. Dia sangat bersungguh-sungguh, seperti
memancarkan aura, 'Ah, orang ini benar-benar peduli pada sosok yang sedang ia
bantu.' Itu sangat menyentuh."
"Mendengarmu berkata
begitu membuatku jadi penasaran."
"Dia benar-benar
keren saat itu. Kalau orang yang dibantunya melihat langsung, dia pasti akan
langsung jatuh hati."
Mai-chan tersenyum
lembut, tampak seperti sedang bernostalgia. Dia terus-menerus memuji Tanaka-kun, jadi dia pasti
benar-benar meninggalkan kesan yang kuat.
(Tunggu sebentar.)
Rasa cemas yang tiba-tiba
merayapi hatiku. Bagi seseorang yang memuji lawan jenis dengan begitu tulus dan
antusias... mungkinkah—
"Mai-chan, jangan
bilang kalau... kau menyukai Tanaka-san?"
"Eh? Oh, tidak, sama
sekali tidak. Memang dia keren, tapi aku tidak menyukainya dalam artian
romantis."
"B-benarkah?"
Jawabannya yang ceria dan
lugas sama sekali tidak terdengar seperti kebohongan. Tampaknya instingku
keliru. Fyuuh. Aku menghela napas lega dalam hati.
"Ada orang lain yang
kusukai."
"Tunggu,
benarkah?"
"Iya. Tapi cuma cinta
bertepuk sebelah tangan, sih."
Ia memasang senyum getir
yang jarang terlihat, matanya sedikit menyipit. Tampaknya ada kisah yang lebih
dalam dari apa yang ia perlihatkan di luar.
"Apa karena itu kau
mengubah penampilanmu?"
"Wah, kau cepat
sekali tanggap."
"Itu alasan klasik
bagi seorang perempuan untuk mengubah penampilannya."
"Ahaha, benar juga.
Rasanya seperti cerita di dalam manga shoujo, kan? Mengubah penampilan
agar orang yang disukai memperhatikannya."
"Jadi, apa itu yang
sedang kau lakukan?"
"Tidak sepenuhnya
begitu. Aku bahkan belum bertemu lagi dengannya sejak mengubah penampilanku.
Itu memang salah satu alasannya, tapi bukan satu-satunya."
Tatapannya menerawang ke
kejauhan saat ia bergumam. Ekspresi itu, berpadu dengan garis wajahnya dari
samping, memancarkan tekad yang kuat.
Selagi aku berpikir harus
berkata apa, ia memecah keheningan dengan senyum cerahnya yang biasa.
"Mari kita
kesampingkan kisah cintaku yang tanpa harapan ini untuk sementara. Bagaimana
denganmu sendiri, Hiiragi-senpai? Ada kemajuan sejak saat itu?"
Tatapannya dipenuhi rasa
ingin tahu yang polos, meski matanya yang menyipit menyiratkan nada menggoda.
Aku menghela napas mendengar pertanyaannya. Sebenarnya, berkat interogasinya
siang tadi, segalanya telah mengalami kemajuan pesat.
Ia memiringkan kepalanya bingung, rambut
cokelat terangnya yang lembut bergoyang pelan. Wangi manis dari sampo yang ia
kenakan menggelitik hidungku.
"Yah, kurang lebih begitu..."
"Oh? Lalu apa yang
terjadi?"
"Aku baru menyadari
kalau orang itu... sepertinya juga memiliki perasaan yang sama
terhadapku."
"B-benarkah!? Wah, itu luar biasa! Jadi, kalian sudah resmi
jadian sekarang?"
"B-belum. Kami belum
sampai ke tahap itu."
"Ugh, cepat pacaran
saja sana!"
"Aku baru
mengetahui perasaannya secara tidak langsung. Hubungan kami masih berada di
jarak pertemanan biasa."
"Ah, begitu
ya."
Mengetahui perasaan
Tanaka-kun bukan berarti aku bisa langsung terburu-buru mengambil langkah.
Setelah menjadi teman sekian lama, mengambil lompatan sebesar itu bukanlah hal
yang mudah.
Mai-chan tampak
mengerti, ia mengangguk dengan penuh simpati.
"Apa orang itu tahu
bagaimana perasaanmu yang sebenarnya?"
"Masih... belum
jelas. Aku sudah menyembunyikan perasaanku sejak lama."
"Hmm, begitu
ya."
"Menurutmu apa yang
harus kulakukan sekarang?"
"Kau harus lebih
proaktif! Tunjukkan perasaanmu lebih dulu padanya!"
"P-proaktif!?"
Suaraku tanpa sengaja
meninggi dan tercekat. Bersikap proaktif... berarti melakukan hal itu atau
bahkan hal itu. Pikiranku melayang ke fantasi-fantasi memalukan yang membuat
wajahku serasa terbakar.
Aku mengibaskan kedua
tanganku di depan wajah untuk mendinginkannya. Sementara itu, Mai-chan berpose
penuh kemenangan sambil menyemangatiku, yang justru membuat situasiku makin
runyam.
"Um, ini terlalu
memalukan... Lagipula, bagaimana kalau dia malah merasa risih dan
menjauh?"
"Bicara apa sih kau
ini, Hiiragi-senpai? Coba bayangkan ini—bayangkan kau dipeluk oleh orang yang
kau sukai. Bagaimana rasanya? Apa kau akan merasa tidak suka?"
"...Aku tidak akan
membencinya."
Aku tanpa sengaja
membayangkan Tanaka-kun memelukku erat dari belakang. A-apa yang sebenarnya
sedang kupikirkan!?
"Lihat, kan? Kalau
dia juga menyukaimu, dia tidak akan merasa risih sama sekali."
"B-benarkah
begitu?"
"Tentu saja!
Lagipula, dengan proporsi tubuhmu yang sebagus itu, kau harus
memanfaatkannya!"
Mai-chan menyatakannya
dengan lantang sambil menunjuk tepat ke arahku. Senyuman jahilnya justru
membuatnya terlihat makin percaya diri.
"Dari dulu aku
selalu berpikir begitu. Kau itu sangat cantik; sayang sekali kalau potensi itu
tidak dimaksimalkan. Kalau kau benar-benar berniat merayunya, orang yang kau
sukai tidak akan punya peluang untuk bertahan."
"Tidak punya peluang
untuk bertahan...?"
"Yang perlu kau
lakukan hanyalah menempelkan dadamu ke arahnya. Cowok-cowok bakal langsung luluh seketika."
"A-aku tidak akan
pernah bisa melakukan hal seperti itu!"
"Tahu, kok, tahu, aku
cuma bercanda."
Mai-chan tertawa kecil,
menghela napas pelan seolah merasa puas telah menggodaku. Dia selalu
melontarkan lelucon dengan santai sampai sulit membedakan kapan dia sedang
serius atau sekadar bercanda.
"Tapi kalau bicara
serius, kenapa tidak mencoba sesuatu yang lebih halus, seperti sengaja
menyenggol atau bersentuhan dengannya?"
"Kupikir dia tidak
pernah benar-benar memperhatikan penampilanku, jadi kurasa hal itu tidak akan
memberi banyak pengaruh..."
"Fufufu, berdasarkan
analisaku, cowok seperti dia—tipe yang kelihatannya tidak tertarik—justru
sering kali adalah orang yang paling sensitif dan pemalu terhadap hal-hal
semacam itu. Itu pasti akan berhasil."
"Benarkah?"
Sejujurnya, aku tidak bisa
membayangkan Tanaka-kun terpengaruh oleh hal-hal seperti itu dariku. Aku belum
pernah melihatnya bereaksi terhadap penampilanku sebelumnya. Dia diam-diam
sensitif dan pemalu? Ah, rasanya dia bakal jauh lebih bersemangat saat membalik
lembaran bukunya daripada memperhatikan diriku.
"Pasti berhasil,
percayalah padaku. Kalau kau tiba-tiba mendekat, jantungnya pasti akan berdegup
kencang. Kau ingin dia memperhatikanmu, kan?"
"Yah... tentu saja
aku mau."
"Kalau begitu
cobalah! Dan kalau itu berhasil, kau bahkan mungkin bisa melihat wajahnya
merona merah padam."
"I-itu..."
Aku... aku ingin
melihatnya. Aku benar-benar ingin melihat wajah Tanaka-kun yang memerah malu.
Itu bahkan sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.
Gagasan menggiurkan
tentang wajahnya yang tersipu memberiku dorongan motivasi yang mendadak.
Melihat reaksiku, seringai nakal Mai-chan mengembang persis seperti iblis kecil
yang penuh muslihat.
"Bagus, ayo kita
lakukan!"
Dukungannya membuatku
mengepalkan tangan dengan penuh tekad. Sudah tidak ada pilihan lain.
Aku harus melihat wajah
Tanaka-kun yang memerah malu. Sejujurnya, kalau memungkinkan, aku bahkan ingin
mengabadikannya lewat foto. Dengan tekad membara di dalam benak, aku membuat
keputusan bulat di dalam hatiku.


Post a Comment