Epilog
Hubungan Baru Antara Dua Insan
POV Saito
Sudah empat hari berlalu sejak
Tanaka-kun mengembalikan pembatas buku yang telah diperbaiki itu padaku. Kafe
tempatku bekerja sempat tutup untuk liburan Tahun Baru, tetapi buka kembali
hari ini. Aku dijadwalkan untuk shift makan siang, jadi aku berangkat dari
rumah sesuai jadwal.
Di luar, cuaca musim dingin
terasa sangat cerah tidak seperti biasanya. Langit biru jernih membentang di atas, dan
tidak ada angin yang berembus.
Kehangatan matahari membungkus
kulitku dengan lembut, dan aku mengeluarkan helaan napas pelan menikmati
sentuhan udara yang menenangkan ini.
Aku masih belum bisa
mempercayainya.
Bahkan sampai sekarang, rasanya
masih tidak nyata bahwa pembatas buku itu telah diperbaiki dan dikembalikan
padaku. Aku sudah sepenuhnya merelakannya, menganggap barang itu tidak mungkin
bisa diperbaiki lagi.
Sekarang, barang itu tersimpan
dengan aman di antara halaman-halaman sebuah buku, digunakan kembali dengan
penuh kehati-hatian.
Tanaka-kun mengatakannya dengan
begitu santai, tetapi tidak mungkin memperbaiki hal seperti itu bisa dilakukan
dengan mudah. Dia pasti telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk meriset
dan belajar hanya demi memperbaikinya untukku.
Ketika dia mengirimiku pesan
tanpa alasan yang jelas waktu itu, aku sempat berpikir dia ingin bertemu karena
suasana di antara kami terasa canggung. Tapi tidak sangka kalau semua itu
dilakukan hanya untuk memperbaiki pembatas bukuku…
Dia selalu membantuku. Tidak
heran kalau aku terus-menerus jatuh cinta padanya. Sungguh, benar-benar orang
yang merepotkan.
Dengan senyum tipis memikirkan
bayangan Tanaka-kun di benakku, aku berjalan menuju tempat kerja.
Di kafe, aku segera memulai
shift-ku, menjalankan rutinitas seperti biasa. Meskipun ini Tahun Baru,
pekerjaannya tidak ada bedanya—menyapa pelanggan, menyajikan makanan,
membersihkan meja. Aku menjalankan tugas-tugasku secara efisien dan tanpa perlu
banyak berpikir.
Sesekali, dari sudut mataku, aku
menangkap sosok Tanaka-kun. Penampilan penyamarannya, seperti biasa, sangat
berbanding terbalik dengan dirinya yang biasa—dia terlihat benar-benar keren. Berdasarkan reaksi Mai-chan, bukan
hanya aku yang berpikir begitu. Dia secara objektif memang berparas tampan. Aku
tidak bisa menahan diri untuk tidak penasaran mengapa dia repot-repot menyamar
seperti itu. Hal itu membuatku tertarik, tetapi aku memutuskan untuk
membiarkannya dulu untuk saat ini, menikmati perasaan eksklusif karena
mengetahui sisi dirinya yang satu ini.
Mendekati tengah hari,
jumlah pelanggan mulai meningkat. Tetap saja, berkat efek liburan yang masih
tersisa, kafe tidak seramai biasanya, dan kami bisa mengatasinya dengan mudah.
Saat itulah seseorang
yang baru memasuki kafe—seorang pemuda tinggi berambut pirang halus dan
panjang, dengan mata lipatan ganda yang memikat. Dia memancarkan daya tarik
alami, senyum lembutnya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Dalam keadaan normal, aku
tidak akan terlalu memperhatikannya. Tapi aku kenal orang ini—Ichinose, salah
satu sosok paling menonjol di sekolah.
Tanaka-kun sepertinya
menyadarinya juga dan mendekatinya.
"Kamu benar-benar
datang..." gumam Tanaka, terdengar sama sekali tidak antusias.
"Kenapa tidak? Dan
hei, itu cocok untukmu, Minato," jawab Ichinose dengan tawa geli.
Memperhatikan Tanaka-kun
yang mengerang saat Ichinose menggodanya, aku menyadari bahwa Ichinose pasti
sudah tahu tentang penyamarannya. Aku sempat berpikir hanya akulah satu-satunya
yang tahu rahasia itu, dan untuk beberapa alasan, kesadaran itu sedikit membuatku
kesal.
Sebesar apa pun
keinginanku untuk terus mencuri dengar percakapan mereka, aku dipanggil oleh
pelanggan lain. Aku mengalihkan perhatianku kembali ke pekerjaan dan membiarkan
mereka berdua mengobrol.
Ketika aku selesai melayani
pelanggan dan melihat kembali, percakapan mereka sepertinya sudah berakhir.
Tanaka-kun sedang mengambil pesanan dari pelanggan lain, dan Ichinose duduk
sendirian sambil mengamati menu.
Aku sering melihat mereka berdua
berbicara di sekolah, jadi aku mengasumsikan mereka dekat. Mengingat bagaimana
Ichinose membantu mengatasi rumor tentangku waktu itu, mereka tampaknya
memiliki ikatan yang kuat.
Untuk seseorang seperti
Tanaka-kun yang biasanya menyendiri, memercayai Ichinose sudah menjelaskan
banyak hal. Itu membuatku penasaran tentang siapa sebenarnya Ichinose.
Dentingan bel panggilan
mengembalikanku ke realitas. Aku memeriksa nomor meja dan melihat bahwa itu
adalah meja Ichinose.
Aku menguatkan diriku sedikit.
Dia seseorang dari sekolah. Aku tidak boleh membiarkannya mengenaliku. Tetap
saja, aku pernah menghadapi teman sekelas sebelumnya, jadi tidak ada alasan
untuk terlalu gugup. Aku hanya perlu bertindak seperti yang selalu kulakukan.
Langkah demi langkah, aku
mendekati mejanya.
"Terima kasih telah
menunggu. Boleh saya mengambil pesanan Anda?"
"Uh, saya mau paket makan
siang A, dan—"
Ichinose terhenti saat dia
mendongak menatapku, ucapannya terputus di tengah kalimat.
"Um, ada sesuatu di
kacamatamu… seperti noda atau semacamnya," tunjuknya.
"Oh! Ah, maaf," kataku
terburu-buru, melepaskan kacamata untuk membersihkannya. Namun saat aku menyapu
lensanya, aku mendengarnya bergumam pelan:
"...Saito-san?"
Suaranya pelan dan tidak yakin.
Saat itulah aku menyadari kesalahanku—aku telah melepaskan kacamataku.
Aku mengacaukannya.
Kepanikan melingkupiku saat
pusing mendadak membuat pikiranku kosong. Aku tidak bisa memikirkan apa pun
untuk dikatakan. Reaksiku pasti telah membocorkan identitasku karena ekspresi
Ichinose berubah menjadi penuh kepastian.
"Jadi ini benar-benar kamu,
Saito-san?"
"...Ya," aku mengakui,
pasrah. Tidak ada gunanya menyangkalnya sekarang. Jika aku tidak bisa
menghindarinya, aku harus meyakinkannya untuk merahasiakan hal ini. Memantapkan diri, aku mengangguk
tegas dan menatap matanya. Yang mengejutkan, dia memberikan senyum tipis.
"Kamu tidak perlu sewaspada
itu. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun."
"...Terima kasih."
"Akulah yang memperkenalkan
Minato ke kafe ini. Jika kabar kalau kamu bekerja di sini menyebar, itu akan
memengaruhinya juga. Kita tidak ingin hal itu terjadi, kan?"
"Itu memang masuk akal. Dan
aku pernah melihatmu dan Tanaka-kun bersama di sekolah, jadi aku sudah menduga
kalian dekat."
Aku tidak sepenuhnya yakin,
tetapi penjelasannya tampak masuk akal.
"Aku datang ke sini untuk
melihat Minato bekerja, tapi aku tidak menyangka akan menemukanmu di sini juga,
Saito-san."
"Kamu sudah tahu aku dekat
dengan Tanaka-kun, kan?"
"Ya, Minato menceritakannya.
Dia bilang kalian dekat karena sama-sama suka buku."
Kata-kata Ichinose tidak
mengejutkanku. Setelah apa yang terjadi sebelum libur musim dingin, masuk akal
jika Tanaka-kun curhat padanya. Mengambil kesempatan ini, aku memutuskan untuk
menyampaikan rasa terima kasihku.
"Terima kasih atas bantuanmu
mengenai rumor sebelum libur musim dingin lalu. Aku sangat menghargainya."
"Oh, soal itu? Jangan
berterima kasih padaku. Aku cuma mengikuti rencana Minato. Dialah yang harusnya
membuatmu kagum. Dia menyiapkan segalanya demi dirimu."
"Apakah begitu?"
"Ya. Dia bahkan menceritakan
tentang hubungannya denganmu hanya untuk mendapatkan kerja samaku. Aku tidak
pernah melihatnya gigih seperti itu."
Detail di balik layar yang
dibagikan Ichinose penuh dengan hal-hal yang tidak kuketahui. Setiap
penyingkapan melukiskan gambaran yang lebih jelas tentang seberapa besar usaha
yang telah dicurahkan oleh Tanaka-kun. Sungguh… benar-benar orang seperti apa dia
itu.
"Aku juga tidak suka
rumor," kata Ichinose, nadanya tenang namun tegas. "Tapi jika kami
mencoba membelamu secara terang-terangan, itu hanya akan memperburuk keadaan
bagimu, tidakkah kamu berpikir begitu?"
"Ya. Karena itulah aku
memberi tahu Tanaka-kun untuk tidak melakukan apa pun," jawabku.
"Benar, kan? Aku
juga memikirkan hal yang sama. Aku memberi tahunya bahwa pilihan terbaik adalah
membiarkan waktu yang membereskannya. Tapi kemudian, dia mendadak ingin menyelesaikannya secepat mungkin, dan
begitulah cara dia menemukan pendekatan itu. Sungguh, Minato itu luar
biasa."
Ada jejak kekaguman pada ekspresi
Ichinose saat dia berbicara, sebuah tatapan yang menunjukkan rasa percaya yang
dalam pada Tanaka-kun.
"Bagaimanapun juga, karena
dia telah melangkah sejauh itu untuk membantumu, tidak mungkin aku melakukan
sesuatu yang akan mempersulit keadaan bagimu. Kamu bisa tenang."
"Begitu ya. Itu membuatmu
terasa sedikit lebih bisa dipercaya," kataku dengan anggukan kecil dan
senyum tipis.
Ichinose merespons dengan
senyuman percaya diri dan ramah. Dia melirik sebentar ke papan nama yang
tersemat di dadaku, lalu menatapku kembali.
"Apakah aku harus
memanggilmu Hiiragi-san selama kamu di sini?"
"Itu akan sangat membantu,
terima kasih."
"Paham. Jadi, apakah Minato
tahu tentang identitas aslimu?"
"Tidak, dia belum
menyadarinya sama sekali."
"Sudah kuduga. Dengan
pakaian itu dan kacamata tersebut, bahkan aku pun tidak akan mengenalimu pada
awalnya. Minato bahkan lebih kecil kemungkinannya untuk menyadarinya. Baiklah,
aku akan tetap diam tentang hal ini."
"Terima kasih. Aku sangat
menghargainya."
Kami mengakhiri percakapan di sana saat aku menyerahkan menu padanya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengobrol saat sedang bekerja. Aku mengambil pesanan paket makan siang A darinya dan melangkah pergi dari mejanya.
Namun, saat aku melangkah pergi, bisikan pelan yang kudengar di belakangku terus terngiang di telingaku:
"Jadi, segalanya jadi makin
menarik, ya?"


Post a Comment