Chapter 6
Kunjungan Kuil Tahun Baru Bersama Gadis Tercantik di Sekolah
Malam makin larut, dan hanya
tersisa beberapa menit sebelum pergantian tanggal. Di atas kepala,
bintang-bintang berkilau terang, keberadaan mereka diperjelas oleh udara yang
dingin dan bersih.
Cahaya lembut mereka menyinari
samar-samar jalanan yang gelap dan berbayang, memberikan aura yang begitu indah
dan magis.
Normalnya, pada jam selewat ini,
jalanan akan sepi melompong. Namun dengan makin dekatnya Tahun Baru, aku
melewati beberapa kelompok orang, termasuk orang-orang yang tampak seperti
pasangan yang berjalan bergandengan tangan.
Bagaimana bisa jadi begini?
Pikiran itu terus berputar-putar
di benakku saat aku berjalan. Yang kurencanakan hanyalah menyerahkan pembatas
buku dan mengejutkannya. Namun entah bagaimana, aku malah berakhir setuju untuk
pergi ke kunjungan kuil bersamanya.
Mengapa dia mengaja ku? Apa
tujuannya? Meskipun kami pernah pergi keluar bersama karena kebetulan
sebelumnya, ini adalah pertama kalinya kami merencanakan pergi keluar terlebih
dahulu. Mungkinkah ini dihitung sebagai… sebuah kencan? Pikiran konyol itu merayap
ke dalam benakku, tetapi aku dengan cepat menepisnya.
Aku tidak melupakan kemungkinan
bahwa Saito mungkin memiliki perasaan padaku. Tetap saja, dia selalu
memperlakukanku sebagai seorang teman. Mungkinkah perilakunya benar-benar
berubah begitu mendadak? Lebih masuk akal untuk mengasumsikan ada alasan spesifik
tertentu di balik ajakannya.
Namun tak peduli seberapa banyak
aku memikirkannya, aku tidak bisa memahaminya.
Menggelengkan kepala, aku
mengalihkan perhatianku dengan memeriksa kotak di dalam tasku sekali lagi untuk
memastikan pembatas buku itu masih ada di sana.
---
Perjalanan dari rumahku ke rumah
Saito terasa asing tetapi lancar. Aku tiba tanpa masalah dan mendapati diriku
berdiri di depan pintunya. Aku mengulurkan tangan ke bel pintu, jariku melayang
di atas tombol.
Raut wajah seperti apa yang harus
kubuat saat melihatnya? Sudah seminggu sejak terakhir kali kami bertemu—pada
Malam Natal, tak kurang tak lebih. Hari itu, kami berpisah dengan nada yang
canggung.
Sudah seminggu berlalu, jadi dia
kemungkinan tidak akan masih terlihat kesal. Haruskah aku bersikap seolah
semuanya normal? Aku tidak bisa memutuskan bagaimana cara mendekatinya, dan
keraguanku menahanku untuk tidak menekan tombol bel. Waktu berlalu tanpa
keputusan, jadi aku akhirnya memaksa diriku untuk menekannya.
Dentingan elektronik berfluktuasi
tinggi bergema di sepanjang lorong, diikuti oleh keheningan. Tak lama kemudian,
aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari dalam. Pintu terbuka.
"Ya?"
"!?"
Saat aku melihatnya, aku membeku.
Dia mengenakan sweter putih yang
dipadukan dengan rok denim hitam dan mantel cokelat berbulu lembut yang
tersampir di bahunya. Pakaiannya berbanding terbalik dengan pakaian santai yang
biasa dia kenakan di rumah, dan itu sangat cocok untuknya.
Aku selalu tahu Saito bisa cocok
dengan penampilan apa pun, tetapi aku tidak menyangka dia akan terlihat sebagus
ini.
Pakaiannya memberikan
keseimbangan sempurna antara kedewasaan yang anggun dan keimutan muda,
menonjolkan pesona alaminya secara maksimal.
Sementara aku terbiasa melihatnya
berseragam sekolah, rok yang sedikit lebih pendek yang dia kenakan sekarang
memperlihatkan pahanya yang mulus secukupnya untuk menarik perhatianku.
Rambut hitamnya yang berkilau
telah ditata dengan keriting longgar, memberikannya aura kewanitaan yang
lembut. Anting-anting
yang menggantung berkilau saat bergoyang, makin meningkatkan daya tariknya.
Riasan tipis yang dia
kenakan melengkapi fitur wajahnya dengan indah, memancarkan aura keanggunan
yang halus.
Dia sangat memukau—begitu memukau
hingga aku lupa bernapas. Tubuhku membeku saat aku berdiri di sana, benar-benar
terpesona. Menyadari reaksiku, dia miringkan kepalanya bingung.
"Ada apa?"
"Tidak, cuma... kamu begitu
cantik sampai aku tidak bisa memalingkan pandangan."
Kata-kata itu terlepas sebelum
aku bisa menghentikannya, mengejutkan kami berdua.
Matanya melebar terkejut,
berkedip beberapa kali sebelum pipinya merona merah muda lembut. Dia merapatkan
bibirnya rapat-rapat, ekspresinya tidak yakin.
Reaksinya menyentakkanku kembali
ke realitas. Saito bukanlah tipe orang yang menikmati pujian tentang
penampilannya. Penyesalan segera membumbung saat aku menyadari apa yang baru
saja kukatakan.
"Maaf, aku tahu kamu tidak
suka komentar seperti itu..."
"T-tidak juga!"
"Oh... oke."
Jawabannya yang mendadak
dan tegas membuatku terkejut. Lega bahwa dia tidak membencinya, bagaimanapun
juga aku dibuat terkejut oleh betapa sungguh-sungguh penampilannya. Aku hanya
bisa mengangguk canggung.
Dia memalingkan
pandangannya, melihat ke samping, lalu berbalik kembali padaku dengan ekspresi
yang sedikit cemberut.
"...Aku tidak
keberatan jika kamu yang mengatakannya, tapi jangan asal melontarkannya begitu
saja. Serius deh."
"Paham. Salahku."
Atas permintaan maafku, dia
menghela napas pelan, rona di pipinya memudar menjadi merah muda tipis.
Berdeham seolah untuk mengatur ulang suasana, dia menatapku lagi.
"Jadi, apakah kamu sudah
siap untuk pergi?"
"Ya, aku sudah siap."
"Kalau begitu ayo berangkat.
Aku berpikir kita bisa pergi ke kuil yang lebih kecil yang agak jauh, di mana
kita lebih kecil kemungkinannya bertemu dengan orang yang kita kenal. Apakah
tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Itu sangat
cocok untukku."
Ada dua kuil di daerah kami. Yang
satu besar dan terletak di pusat kota, menarik kerumunan pengunjung, sementara
yang lain lebih kecil dan lebih terpencil.
Karena kuil yang lebih kecil
berada di sisi kota yang berlawanan dari sekolah kami, sebagian besar siswa
cenderung mengunjungi kuil yang lebih besar. Jika dia tidak menyaratkannya, aku
yang akan menyaratkannya.
Menerima usulannya, kami mulai
berjalan menuju kuil yang lebih kecil.
"Ngomong-ngomong, kenapa
kamu mengajahku?"
"Yah, aku tidak
ingin pergi sendirian. Plus,
aku belum pernah ke kuil pada malam hari, jadi aku ingin merasakannya."
"Huh, kamu belum
pernah pergi di malam hari?"
"Belum. Aku biasanya
pergi bersama ibuku saat siang hari pada Hari Tahun Baru."
Mungkin dia benar-benar
mengajahku hanya karena dia ingin pergi. Menilai dari ekspresinya yang ceria
dan cara dia tampak benar-benar antusias, sepertinya tidak ada alasan yang
lebih dalam.
"Kamu tampak cukup
gembira tentang hal ini."
"Tentu saja! Bagaimanapun juga ini kunjungan kuil malam
hari pertamaku."
"Apakah begitu?"
Senyum ceria Saito bebas dari
bayangan yang sempat menggelapkan ekspresinya pada Malam Natal. Dia tampak
benar-benar bahagia, hampir seolah-olah dia bisa mulai bersenandung kapan saja
sekarang. Sikapnya yang berseri-seri meredakan kekhawatiranku, meskipun ada
ketegangan halus dan tak terelakkan di balik tawanya yang cerah saat dia
berkata, "Aku benar-benar menantikan hal ini."
---
Perjalan kaki dari rumah Saito ke
kuil memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Itu lebih jauh dari yang
kuperkirakan, dan aku mendapati diriku sedikit terengah-engah pada saat kami
tiba.
"Whew, kita akhirnya sampai.
Itu lebih jauh dari yang kubayangkan."
"Memang agak jauh, sih, tapi
bukan berarti sampai membuatmu kehabisan napas begini. Mungkin kamu kurang
olahraga karena terlalu banyak membaca?"
"Benar juga. Mungkin aku
harus mulai membawa tiga buku sekaligus."
"...Bukan solusi itu yang
kumaksudkan."
Saito menghela napas, nadanya
jengkel. Bagiku, membawa buku ekstra sepertinya ide yang sempurna—bahan bacaan
untuk situasi apa pun sekaligus latihan fisik. Rupanya, dia tidak setuju.
Mengatur napas, aku melewati
gerbang torii. Meskipun kuil ini lebih kecil dari kuil utama di kota, tempat
ini tetap ramai oleh pengunjung. Orang-orang mengalir masuk dan keluar secara
terus-menerus.
"Ada lebih banyak orang di
sini dari yang kubayangkan," catatku.
"Wah! Aku tidak
menyangka akan seramai ini di malam hari!"
Saito melihat sekeliling
dengan takjub, matanya berbinar saat dia menikmati pemandangan itu. Dia tampak
gembira dengan keunikan kunjungan kuil di malam hari, suaranya cerah dan ceria
saat dia berpindah-pindah di antara pemandangan, tidak mampu tetap fokus pada
satu hal saja.
"Bersenang-senanglah,
tapi jangan sampai terpisah, ya?"
"Aku tidak terlalu
bersemangat kok! ...Mungkin
cuma sedikit. Tapi aku akan memastikan untuk tidak tersesat."
Bukankah itu definisi dari
terlalu bersemangat? Aku menyimpan pikiran itu untuk diriku sendiri.
Kata-kataku sepertinya menenangnkannya, dan dia mendapatkan kembali
ketenangannya. Reaksinya yang tulus mengingatkanku pada anak kecil yang polos,
dan aku tidak bisa menahan tawa gembira.
"...Apa yang lucu?"
Dia menyipitkan matanya padaku,
menggembungkan pipinya dengan cemberut pura-pura. Cara dia menatap tajam lebih
menggemaskan daripada menakutkan, menyerupai hewan kecil yang imut.
"Bukan apa-apa,"
jawabku.
"...Baiklah kalau begitu.
Ayo pergi!"
Mengabaikan jawabanku yang samar,
dia berbalik ke depan dengan tatapan bertekad, energinya yang cerah memancar
seolah-olah kami sedang pergi piknik. Keceriaannya terasa sedikit tidak pada
tempatnya, tetapi aku menepis pikiran itu.
Saat kami memasuki kerumunan,
kemacetannya lebih buruk daripada yang terlihat dari luar. Kebisingan
mengelilingi kami dari segala arah, dan orang-orang bergerak secara kacau,
membuatnya sulit untuk dinavigasi. Aku berjalan dengan hati-hati, memperhatikan
agar tidak menyenggol orang lain saat kami menuju ke chōzuya.
(TLN: Chōzu-ya atau temizu-ya
(手水舎) adalah
paviliun penyucian air Shinto untuk ritual penyucian seremonial yang dikenal
sebagai temizu atau chōzu (手水, harfiah: 'air-tangan').
Paviliun ini berisi wadah besar
berisi air yang disebut chōzubachi (手水鉢).)
Pada saat itulah aku menyadari
betapa banyaknya perhatian yang ditarik oleh Saito. Dia tidak mengenakan
pakaian yang secara khusus mencolok—malahan, ada orang lain yang mengenakan
kimono tradisional yang seharusnya lebih menonjol. Namun, semua mata seolah
tertarik padanya.
Itu adalah kecantikan alaminya,
tidak diragukan lagi. Riasan dan pakaiannya meningkatkan daya tariknya secara
maksimal, membuatnya mustahil untuk tidak disadari.
"Ada apa?" tanyanya,
merasakan tatapanku.
"Bukan apa-apa,"
jawabku.
Pikiran melintas di benakku bahwa
dia pasti populer, meskipun kesadaran itu meninggalkanku dengan perasaan agak
kesal. Mereka bahkan tidak mengenalnya. Aku menekan gelombang frustrasi itu dan
fokus menuntun kami menjauh dari chōzuya.
Saito mengikuti tepat di
belakangku saat kami bergerak melewati kerumunan. Dia tidak terbiasa
bernavigasi di lingkungan yang begitu ramai dan sesekali menyenggol orang lain,
mengeluarkan jeritan pelan.
Ketika aku berbalik, aku
melihatnya berdiri beberapa langkah di belakang, terlihat bingung. Alisnya
berkerut, dan bibirnya terkatup rapat saat matanya bertemu dengan mataku.
"Maaf, aku berjalan terlalu
cepat. Kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa…
maaf."
Aku bergegas mendekat, tetapi
alih-alih mengeluh, dia menunduk dan meminta maaf. Itu bukan salahnya—aku yang
seharusnya lebih memperhatikan.
"Kita hampir sampai. Ini,
berikan tanganmu."
"Apa—?"
"Permintaan maaf bisa
menunggu. Berbahaya kalau diam saja di tengah kerumunan."
Tanpa menunggu jawabannya, aku
menggenggam tangannya dan mulai menuntunnya melewati kerumunan orang. Dia
mengeluarkan suara terkejut yang pelan, tapi aku mengabaikannya, fokus membawa
kami ke kuil. Pada akhirnya, kami berhasil mengantre untuk kunjungan tersebut.
"Aku seharusnya lebih
perhatian. Maaf soal itu."
"T-tidak, tidak
apa-apa…"
Saat kami masuk ke dalam antrean,
aku menyadari aku masih memegang tangannya. Karena malu, aku dengan cepat
melepaskannya, tangannya yang lembut dan bagaikan porselen terlepas dari
tanganku. Wajahku terasa hangat saat menyadari apa yang baru saja kubuat—aku
begitu fokus menuntunnya hingga tidak menyadarinya.
Melirik Saito, aku melihatnya
menatap tangannya, membuka dan menutupnya seolah menguji rasanya. Ketika dia
menyadari aku memperhatikan, dia berpaling secara mendadak, telinganya sedikit
memerah.
"Kamu kan cuma membantuku,
jadi mau bagaimana lagi," katanya dengan cepat. "Lagipula, antreannya
bergerak. Ayo pergi."
"O-oke."
Dengan wajahnya yang berpaling,
aku tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi rona tipis di telinganya
membocorkannya.
Aku benar-benar mengacaukannya.
Dia pernah bilang dia tidak
keberatan disentuh olehku, tetapi itu bukan berarti tidak apa-apa untuk
memegang tangannya seperti itu.
Bagaimanapun juga kami cuma
berteman. Kedekatan semacam itu tidak pantas, bahkan jika itu tidak disengaja.
Aku menghela napas dalam hati, memarahi diriku sendiri.
"Jujur saja, berapa lama
kamu akan terus memikirkannya? Ini sudah hampir giliran kita," katanya,
menyentakkanku keluar dari lamunan.
Ketika aku mendongak, rona merah
Saito sudah memudar, dan dia sedang menatap ke depan dengan ekspresinya yang
biasa. Melihat sikap tenangnya membantu mengusir penyesalanku yang tersisa, dan
aku berbalik menghadap ke depan juga.
Denting, denting. Suara bel besar bergema dari depan. Orang di barisan paling depan membunyikannya, diikuti oleh orang berikutnya, dan kemudian berikutnya, nada logam itu berulang pada setiap giliran. Dengan setiap dentangan yang dalam dan bergetar, antrean secara bertahap bergerak maju.
"Apakah ada trik
khusus untuk membunyikan lonceng itu dengan benar?"
"Siapa yang tahu?
Bukankah cuma perlu diayunkan seperti biasa saja?"
"Setiap kali aku
melakukannya, suaranya selalu pelan. Makanya aku selalu berusaha ekstra keras
setiap tahun."
Saito mengayunkan tangannya
secara berlebihan untuk memperagakannya, gerakannya begitu kaku dan lucu hingga
aku tidak bisa menahan tawa.
"Kamu ternyata bisa
melakukan hal seperti itu juga, ya?"
"Yah, ini kan cuma terjadi
setahun sekali. Aku harus memastikan loncengnya berbunyi dengan benar,"
katanya sambil berbalik menatapku dengan senyum ceria. Ekspresinya memikat dan
sangat menggemaskan, tetapi untuk beberapa alasan, ada sesuatu dari senyuman
itu yang terasa tidak pas bagiku.
Sambil membawa rasa janggal yang
samar itu, kami sampai di barisan paling depan untuk giliran kami di kuil.
Mengikuti tata cara yang benar, kami menepuk tangan, memanjatkan doa, lalu
bergeser menjauh dari altar.
"Apa yang kamu doakan?"
Saat aku meliriknya selama berdoa
tadi, posturnya yang tenang terlihat begitu indah hingga hampir menyihirku.
Mengingat hal itu, aku tidak bisa menahan rasa penasaran tentang apa yang dia
doakan.
"Tentu saja, aku berdoa
untuk sesuatu yang berhubungan dengan buku—agar bisa menemukan buku-buku bagus
tahun ini."
"Sudah kuduga," kataku
sambil terkekeh. Aku memang punya firasat doanya akan berkaitan dengan buku,
dan itu sangat tipikal dirinya dengan cara yang menggelikan.
"Mungkin sesekali berdoalah
untuk sesuatu yang lebih biasa?"
"Memangnya apa yang salah
dengan doa itu? Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang kamu doakan?"
"Buku, tentu saja. Aku
berdoa agar dapat kesempatan menghadiri acara penandatanganan buku dari salah
satu penulis favoritku."
"Itu sih pada dasarnya sama
saja dengan doaku!"
Dia memberiku tatapan agak
jengkel dan menghela napas pelan. Tatapannya yang tajam dan menyipit seolah
berkata, Bagaimana bisa kamu mengkritik doaku kalau doamu sendiri sangat mirip?
Aku mengedikkan bahu meminta maaf, mencoba mengalihkannya.
"Ayo kita tarik ramalan
berikutnya. Apakah tidak apa-apa?"
"Tentu, ayo."
Sekali lagi, Saito memimpin
jalan, menuntun kami ke tempat berikutnya. Dia tampak tidak biasanya begitu
antusias malam ini.
"Apakah kamu suka menarik
kertas ramalan?"
"Ya, aku suka! Aku selalu
menariknya setiap tahun."
Bukankah itu hal yang cukup
wajar? batasku dalam hati, tetapi memutuskan untuk tidak mengucapkannya.
Suaranya yang cerah saat berkata, "Aku tidak sabar ingin melihat apa yang
kudapatkan!" menghentikanku untuk menggodanya.
Kali ini, aku berusaha secara
sadar untuk menyesuaikan langkahku saat kami berjalan. Tetap saja, di tengah
jalan, dia menarik pelan lengan bajuku.
"Tunggu sebentar."
"Ada apa?"
"Merek menjual oshiruko di
sebelah sana. Mau beli sedikit?"
(TLN: Oshiruko adalah sup
hidangan penutup tradisional Jepang yang terbuat dari pasta kacang merah manis
yang disebut anko dan kue beras ketan yang kenyal yang disebut shiratama
dango.)
Dia menunjuk ke arah kedai di
mana amazake hangat dan oshiruko disajikan. Udara yang dingin membuat ide
minuman hangat terasa menarik, jadi aku mengangguk dan mengikutinya ke sana.
(TLN: Amazake adalah minuman
tradisional Jepang yang manis, beralkohol rendah atau non-alkohol yang terbuat
dari beras terfermentasi.)
"Oshiruko dua, tolong,"
katanya.
Penjual menuangkan sup kacang
merah manis itu ke dalam gelas kertas dan menyerahkannya kepada kami. Memegang
gelas itu, aku merasakan kehangatan yang menenangkan meresap ke telapak
tanganku.
Kami melangkah ke tepi jalan dan
meminumnya sedikit. Rasa manis dari sup kacang merah menyebar dengan lembut di
dalam diriku, dan kehangatannya menetap dengan nyaman di perutku. Aku
mengembuskan napas lega.
Melirik Saito, aku melihatnya
menyeruput dengan ragu-ragu—dia sepertinya sensitif terhadap suhu panas.
Akhirnya, dia menyeruputnya dengan benar, matanya menyipit puas dan bibirnya
melengkung membentuk senyum kecil. Dia mengembuskan napas pelan, sangat mirip
denganku.
"Bagaimana rasanya?"
tanyaku.
"Manis dan lezat,"
jawabnya dengan senyum cerah, ekspresinya memancarkan kebahagiaan.
"Kamu benar-benar menyukai
makanan manis, ya?"
"Apa yang salah dengan itu? Ini enak kok!"
"Aku tidak sedang
mengeluh. Melihatmu begitu bahagia membuat suasana hatiku ikut jadi bagus
juga."
"...Begitu ya."
Matanya melebar sejenak
sebelum dia merapatkan bibirnya rapat-rapat. Dia kemudian mengambil seruputan kecil
oshiruko-nya lagi, pipinya merona merah muda tipis.
Kami berdiri diam, menyeruput
minuman kami dan memperhatikan aliran orang yang lewat—keluarga, kelompok
teman, pasangan.
Itu adalah pemandangan langka,
larut malam yang dipenuhi kehidupan, yang hanya muncul setahun sekali.
"Bisakah kita pergi
sekarang?" katanya akhirnya.
"Sudah selesai?"
Saito, yang lambat minum karena
mulutnya sensitif terhadap panas, tampaknya akhirnya telah menghabiskan
oshiruko-nya.
Kami membuang gelas kami dan
kembali ke tujuan awal kami. Kehangatan di perutku masih tersisa, membuat malam
yang dingin terasa sedikit tidak terlalu menusuk.
Menyesuaikan langkahnya kali ini,
kami tiba di tempat penarikan ramalan tanpa masalah. Setelah membayar biayanya,
aku dengan antusias membuka ramalanku.
Hasilnya tertulis suekichi
(keberuntungan masa depan), hasil menengah yang membuatku terkekeh canggung.
Melirik Saito, aku melihatnya membuka kertas ramalannya dengan hati-hati.
Matanya berkedip terkejut sebelum
wajahnya berseri-seri dengan kegembiraan murni.
"Lihat! Ini daikichi
(keberuntungan besar)!" serunya, suaranya sedikit lebih keras dari
biasanya, senyum lebar menerangi wajahnya. Dia memegang kertas itu dengan
bangga, kata "keberuntungan besar" tercetak jelas di atasnya.
"Baguslah kalau
begitu," kataku, tersenyum pada kegembiraannya yang tanpa beban.
Antusiasmenya yang polos terasa sangat menggemaskan.
Menyadari betapa heboh dirinya
tadi, dia dengan cepat menarik kembali kertas ramalannya, ekspresinya berubah
menjadi malu.
Berdeham, dia berkata,
"Lupakan apa yang kamu lihat tadi," sebelum terburu-buru membaca sisa
kertas ramalannya. Pipinya yang kemerahan membocorkan rasa malunya, dan aku
tidak bisa menahan tawa lagi.
Setelah menyelesaikan doa dan
ramalan kami, aku berpikir mungkin ini saatnya untuk pulang. Namun tepat saat
itu, Saito menguap pelan di sampingku.
"Mengantuk?"
"Ya, sedikit," akuinya.
Air mata mengenang di sudut mata
Saito yang mengantuk saat dia mengusapnya. Dia terlihat sangat mirip kucing
pada saat itu, sebuah pikiran acak melintas di benakku—Dia benar-benar
mengingatkanku pada hewan kecil.
"Bagaimana kalau kita
pulang? Aku akan mengantarmu kembali."
"Aku bisa pulang
sendiri, tahu. Aku bukan anak kecil."
Rupanya, dia tidak cukup
paham bahwa dia bukan sekadar gadis sembarangan, melainkan gadis yang sangat
cantik luar biasa.
Membiarkan seorang gadis,
terutama seseorang secantik Saito, berjalan sendirian di jalanan yang sepi
selarut ini sangatlah tidak aman. Ini bukan sekadar tentang sikap ksatria; ini
adalah hal yang benar untuk dilakukan.
Membiarkannya pergi
sendirian akan berdampak buruk padaku sebagai seorang pria.
"Bukan itu maksudku.
Kamu kan seorang gadis—di luar sini berbahaya, terutama untuk seseorang seimut
kamu."
Aku maksudkan itu sebagai
peringatan tulus demi keselamatannya, tetapi bibirnya merapat membentuk garis
tipis. Sebelum aku sempat membaca reaksinya, dia tiba-tiba berbalik dan mulai
berjalan di depan.
"Tunggu, hei!"
Aku memanggilnya, dan dia
membeku di tempatnya. Perlahan, dia berbalik menghadapku kembali, kepalanya
sedikit menunduk.
"...Kamu tahu, terkadang
kamu itu tidak adil," gumamnya pelan.
"Apa? Apa yang kubuat?"
"...Bukan apa-apa."
Dia memalingkan wajah lagi,
meninggalkanku dalam kebingungan. Namun, dia sepertinya bersedia membiarkanku
mengantarnya pulang, berkata, "Ayo, cepat jalan," sebelum melangkah
pergi. Bingung namun lega, aku mengikutinya di belakang.
Saat kami berjalan, jalanan makin
sepi, dengan makin sedikit orang di sekitar saat kami makin jauh dari kuil. Aku
secara instingtif memeriksa kotak di dalam tasku lagi, menyapukan jari-jariku
di atas tepi-tepinya yang terbungkus kain untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa
barang itu masih ada di sana.
Aku akan memberikannya padanya
tepat sebelum kami berpisah.
Aku tahu dia kemungkinan akan
mendesakku mencari jawaban begitu aku menyerahkannya. Tetapi jika aku
berpura-pura biasa saja dan pergi dengan cepat, semuanya akan baik-baik saja.
Lagipula, aku tidak bisa menahan
rasa malu untuk menyerahkannya secara tatap muka. Rasanya seolah-olah itu
mungkin akan membocorkan perasaanku lebih dari yang kuniatkan.
Meskipun aku menikmati kunjungan
kuil kami, aku memutuskan untuk memberinya pembatas buku itu dan pergi secepat
mungkin.
Ketika kami sampai di
apartemennya, dia berbalik menghadapku.
"Terima kasih sudah
mengantarku pulang."
"Tidak masalah. Apakah kamu
menikmati kunjungan kuil malam harimu?"
"Tentu saja! Berdoa di dalam
kegelapan terasa sangat segar dan menyenangkan—ini seru sekali!"
Senyumnya yang berseri-seri
begitu memikat, menarik pandanganku ke arahnya. Namun, ada sesuatu dari
senyuman itu yang terasa sedikit tidak pada tempatnya. Apa itu?
Itu tidak tampak palsu. Tidak
seperti topeng sopan yang terkadang dia kenakan di sekolah, ini adalah senyuman
yang tulus dan jujur dari dalam hati.
Itu adalah senyuman yang sangat
kusukai, namun rasa janggal yang samar tetap bertahan.
"Kamu tampak tidak biasanya
begitu ceria hari ini," kataku. "Kamu biasanya lebih pendiam, jadi
melihatmu begitu bersemangat rasanya menyegarkan. Tapi jika kamu
bersenang-senang, cuma itu yang terpenting."
"Kamu menyadarinya..."
Suaranya merosot menjadi
bisikan lembut, dan dia menatap langsung padaku.
"Ya. Aku sudah tidak apa-apa
sekarang."
Nadanya yang lembut membawa bobot
tertentu, dan senyum cerahnya melunak menjadi senyuman yang rapuh. Matanya yang
jernih dan indah mengunci pandanganku, membuatku menahan napas sejenak. Dia
seolah hendak mengatakan sesuatu yang penting, suaranya yang halus meresap jauh
ke dalam diriku.
"Aku sudah cukup pulih untuk
menikmati kunjungan kuil. Cukup pulih untuk merasa gembira karena mendapat
keberuntungan besar di ramalanku. Soal pembatas buku itu memang sangat
disayangkan, tapi aku sudah merelakannya. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah
tentang hal itu lagi."
Senyumnya yang lembut dan tulus
adalah senyuman paling indah yang pernah kulihat. Emosi di balik senyuman itu
bersinar begitu terang hingga meremas dadaku dengan menyakitkan.
Ah, jadi karena itu.
Aku akhirnya memahami rasa
janggal yang kurasakan sepanjang malam.
Saito tidak biasanya begitu
ceria. Dia tampil lebih cerah, lebih hidup, dan lebih bersemangat daripada yang
pernah kulihat sebelumnya. Itu bukan sekadar kepribadiannya yang biasa—itu
adalah sebuah usaha. Dia sengaja bersikap ceria untuk menenangnkanku bahwa dia
telah melewati kesedihan atas pembatas buku itu.
Sikapnya yang sedikit berlebihan
telah merembes ke dalam senyumannya, menyebabkan perasaan ketidakselarasan itu.
Semua itu dilakukan demi diriku. Untuk meredakan kekhawatiranku, agar aku tidak
terus memikirkannya. Itulah mengapa dia mengajahku keluar malam ini—untuk
memperlihatkan padaku bahwa dia baik-baik saja.
Ini bukan tentang dirinya
sendiri. Ini tentang aku.
Kebaikannya melupaskanku, memenuhi hatiku hingga meluap. Saito benar-benar
orang yang luar biasa. Dan karena itu, aku—
"Ini, ambillah."
Aku menarik kotak berisi pembatas
buku dari tasku dan menyerahkannya padanya. Dia menatap kotak itu terkejut
sebelum melirik kembali padaku.
"Oh, jadi kamu
membawanya."
"Ya. Aku lupa
mengembalikannya pada Malam Natal. Maaf soal itu."
"Tidak, tidak apa-apa."
Dia menatap kotak itu dengan senyum yang agak sedih, jari-jarinya mengelus
kotak itu dengan lembut seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
"Coba buka."
"Huh?"
"Buka saja," desakku
padanya.
Apakah dia akan terkejut? Apakah
dia akan bahagia? Apakah dia akan tersenyum? Memperhatikannya saat dia membuka
kotak itu, aku menunggu dengan penuh antisipasi.
Ketika dia mengangkat penutupnya,
matanya melebar, dan pekikan kecil terlepas dari mulutnya.
"Apa… bagaimana bisa?"
Suaranya gemetar saat dia
merengkuh ke dalam, mengambil pembatas buku itu dengan sangat hati-hati. Dia
berkedip beberapa kali, seolah mengonfirmasi keberadaannya, sebelum memeluknya
erat di dadanya. Air mata mulai menetes dari matanya.
"Hei, tunggu! Kenapa kamu
menangis?" tanyaku tersentak kaget.
Aku pikir dia akan bahagia. Aku tidak pernah mengira dia akan menangis. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan? Terjebak dalam pusaran emosi, aku berdiri membeku saat tetesan demi tetesan air mata jatuh dari mata indah Saito, setiap tetesnya berkilauan dalam remang cahaya malam.
"Apakah… apakah kamu tidak
apa-apa?" tanyaku terbata-bata.
"Ya… aku hanya… sepertinya
tidak bisa menghentikan air mata ini," katanya, suaranya gemetar.
Jari-jarinya yang ramping dan
pucat berulang kali mengusap sudut matanya, tetapi air mata terus saja
mengalir.
"Aku sudah berusaha sebaik
mungkin untuk memperbaikinya," kataku canggung. "Aku mencari tahu,
meminta saran dari orang-orang, dan mencoba sendiri memperbaikinya. Tapi aku
bukan ahli. Jika hasilnya ternyata jelek, aku minta maaf."
"Itu tidak benar!"
Dia mengangkat kepalanya secara
mendadak, suaranya tajam menolak perkataanku. Kesungguhannya mengejutkanku, dan
aku mendapati diriku mengangguk secara refleks.
"Tidak, sungguh. Aku tidak pernah mengira barang
ini bisa diperbaiki. Aku sudah sepenuhnya merelakannya," gumamnya pelan.
Air matanya telah
berhenti di beberapa titik, dan dia menatap pembatas buku di tangannya, sebuah
senyum lembut menghiasi bibirnya. Cara dia menatapnya, ditimang dengan lembut
di dalam pelukannya, sangatlah memukau. Cahaya bintang yang samar memantul dari
pembatas buku itu, membuatnya berkilauan, dan untuk sesaat, dia tampak hampir
tidak nyata—seperti sebuah penglihatan yang sekilas melintas.
Masih menatap pembatas
buku itu, dia mengutarakan Pikirannya dengan suara yang sejernih dan selembut
udara malam.
"Ini terasa seperti
mimpi…"
Dia mengambil satu
langkah kecil ke depan, lalu langkah lainnya, mengikis jarak di antara kami
secara perlahan namun pasti. Ketika dia mencapaiku, dia menekan dahinya dengan lembut ke dadaku.
"Terima kasih, Tanaka-kun,
karena telah memperbaiki pembatas bukunya."
"O-Oh…"
Untuk apa yang terasa seperti
beberapa detik, atau mungkin lebih lama, aku berdiri membeku, tidak mampu
memproses realitas dari kedekatannya. Menyadari betapa konyolnya penampilanku,
aku tersentak dari lamunanku dan dengan lembut meletakkan tanganku di bahunya,
menariknya menjauh dengan hati-hati.
Aku memalingkan pandanganku,
berharap bisa menyembunyikan wajahku yang membara karena rasa malu. Pipiku
pasti sudah merah padam seperti buah bit. Terdesak untuk mengubah suasana, aku
melontarkan hal pertama yang terlintas di benakku.
"Uh, baru saja… kamu
memanggilku dengan namaku, kan?"
"Ya. Aku sudah ingin
memanggilmu begitu sejak lama, tapi aku sudah terbiasa memanggilmu 'kamu', dan
sulit untuk mengubahnya. Apakah… tidak apa-apa jika aku memanggilmu
begitu?"
Dia sepertinya tidak terpengaruh
oleh apa yang baru saja terjadi. Sikapnya yang biasa kembali saat dia mengintip
ke arahku dengan ragu-ragu, menunggu jawabanku.
"Y-Ya, tentu saja, tidak
apa-apa."
"Terima kasih,"
katanya, tersenyum cerah.
Bagaimanapun juga tidak ada
alasan bagiku untuk keberatan. Senyumnya kian dalam, pipinya diwarnai merah
muda tipis, dan dia melirikku penuh harapan.
"Um… aku ingin kamu
memanggilku dengan namaku juga."
"Baiklah. Saito, apakah
tidak apa-apa?"
"Ya."
Dia tampak puas, dan aku
mengeluarkana helaan napas lega kecil. Tetap saja, apa yang baru saja terjadi
beberapa saat lalu meninggalkanku dalam kebingungan.
"Terima kasih sekali lagi
karena telah memperbaiki pembatas bukunya," katanya dengan tulus.
"Yah, anggap saja itu
sebagai hadiah Natal susulan sebagai balasan untuk kuenya."
"Baiklah. Aku akan
memastikan untuk menghargainya kali ini."
"Baguslah. Sampai jumpa
besok, Saito."
"Ya, sampai jumpa besok,
Tanaka-kun."
Senyuman terakhirnya, lembut dan
berseri-seri seperti bunga yang sedang mekar, meninggalkan kesan mendalam yang
tak terhapuskan padaku saat aku berbalik dan berjalan pergi.
Udara malam yang dingin menusuk
kulitku saat aku menyusuri jalan pulang, pandanganku sesekali tertarik ke atas
pada bintang-bintang yang berkilauan. Ritme stabil dari langkah kakiku yang
sendirian bergema pelan di jalanan yang sepi.
Aku senang bahwa Saito
bahagia. Melihatnya tersenyum lagi memenuhiku dengan kelegaan. Tawanya, tulus
dan dari dalam hati, terasa sangat indah.
Air matanya sempat
membuatku bingung harus melakukan apa, tetapi pada akhirnya, dia tersenyum.
Hanya itu yang terpenting.
Aku bisa menyebut usahaku
memberikan hadiah Natal sebagai sebuah keberhasilan.
Kunjungan kuil yang tak
terduga sempat membuatk bingung pada awalnya, tetapi aku menikmatinya.
Yang tidak kuduga adalah
bahwa semua itu dilakukan demi diriku. Tindakannya yang baik dan penuh
perhatian menghangatkan dadaku. Ketidakegoisannya itu, kemampuannya untuk
sangat peduli pada orang lain, adalah salah satu dari sekian banyak alasan
mengapa aku ingin melindunginya.
Aku senang melihatnya
tersenyum begitu berseri-seri lagi. Mengingat kembali senyuman terakhirnya, aku tidak bisa menahan diri untuk
ikut tersenyum.
Ah, jadi begitu ya.
Aku selalu berpikir bahwa aku
menyukai senyuman Saito dan bahwa segala hal yang kulakukan untuknya adalah
demi melindungi senyuman itu. Aku ingin dia tertawa dan bahagia, jadi aku
bekerja keras untuk mewujudkannya.
Tetapi senyumannya bukanlah
alasannya. Itu bukanlah akar dari semuanya.
Di inti dari segala hal adalah
keinginanku demi kebahagiaan Saito.
Aku ingin dia hidup dengan ceria,
tanpa air mata atau kesedihan. Aku ingin dia aman dan menemukan kegembiraan
dalam hidup. Dan aku menyadari—ini bukanlah sekadar pikiran yang lahir dari
rasa kagum.
Aku sangat peduli padanya karena
dia begitu berharga bagiku.
Karena, tanpa meragukannya lagi…
Aku mencintainya.


Post a Comment