Chapter 5
Kunjungan Mendadak Saito
Ketika kami melangkah
keluar, matahari sudah terbenam sepenuhnya. Cahaya temaram yang berpendar dari
jendela-jendela gedung sekolah nyaris tak mampu menerangi permukaan tanah
lapangan sekolah yang tidak rata. Tampaknya anak-anak klub sedang bersiap-siap pulang,
meratakan tanah lapangan sebagai bagian dari piket pembersihan mereka.
Selain mereka, area
sekitar sudah sepi melompong. Tak ada orang lain di dekat kami. Situasi ini
seharusnya aman—tidak akan ada yang menganggap aneh jika kami berjalan bersama.
Saito yang baru selesai mengenakan sepatunya melangkah keluar dari gedung
sekolah.
"Maaf sudah
membuatmu menunggu."
"Ayo, kita
berangkat."
Cahaya lembut yang
menyinari Saito memberinya pesona yang luar biasa memikat. Rambut hitamnya yang
berkilau tampak bersinar di tengah kegelapan, menghadirkan aura yang begitu
anggun dan memesona. Meski sudah melihatnya tak terhitung kali, penampilannya malam
ini terasa sangat segar, hingga membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Kami menyusuri jalan
setapak yang remang-remang menuju gerbang sekolah. Sudah lama aku tidak pulang
selarut ini dari sekolah, dan rasanya agak aneh. Kehangatan siang hari telah
lama sirna, dan hembusan napasku tampak mengepul di udara yang dingin. Aku membenamkan
wajahku ke balik syal.
"Hehe, rasanya
aneh ya jalan bersama di malam hari begini."
"Iya, benar juga.
Kita biasanya tidak pulang bersama."
"Berada di luar
bersamamu saat malam mengingatkanku pada kunjungan ke kuil saat Tahun
Baru."
"...Iya, aku
juga."
Hari itu adalah momen yang
mustahil untuk kulupakan. Bergandengan tangan secara tak sengaja, rona bahagia
di wajahnya saat kubawakan pembatas buku yang sudah kuperbaiki, caranya
bersandar padaku, dan akhirnya, momen saat aku menyadari perasaanku sendiri.
Setiap memori terasa begitu nyata, dan hanya dengan mengingatnya saja sudah
membuat punggungku merinding geli karena malu.
"Aku biasanya jalan
kaki dari rumahku, tapi apa rumahmu jauh dari sini?"
"Kira-kira dua puluh
menit, kurasa."
"Kalau begitu butuh
waktu sedikit lebih lama untuk sampai ke sana."
"Kau benar-benar
yakin mau ikut? Aku bisa membawakan bukunya ke sekolah besok."
"Tentu saja aku ikut!
Buku itu sedang memanggilku. Aku harus menyahutinya. Lagipula, aku penasaran
seperti apa rumah Tanaka-kun."
"Cuma rumah biasa.
Kurasa tidak ada hal menarik yang patut membuatmu bersemangat."
"Mana mungkin rumah
Tanaka-kun cuma rumah 'biasa.' Kau pasti punya tumpukan buku setinggi gunung di
sana, kan?"
"Bagaimana kau bisa
tahu!?"
"Sejujurnya, justru
lebih mengejutkan kalau aku sampai tidak tahu."
Saito menghela napas
panjang yang dibuat-buat, lalu menegakkan kepalanya seolah sedang menyegarkan
kembali suasana hatinya.
"Aku ingin sekali
melihat buku-buku apa saja yang kau beli dan baca selama ini."
"Yah, aku tidak
keberatan kalau kau cuma ingin melihat-lihat rak bukuku."
"Siapa tahu aku bisa
menemukan salah satu rahasia Tanaka-kun di sana."
"Rahasia macam apa
yang kau harapkan bisa ditemukan di rak bukuku...?"
Bukannya bermaksud
mengecewakannya, tapi memang tidak ada hal yang patut dirahasiakan di sana.
Sejujurnya, satu-satunya rahasia yang tidak ingin sampai ia ketahui hanyalah
perasaanku kepadanya. Aku menghela napas pelan.
Meskipun rute yang
familier ini tampak sedikit berbeda di bawah naungan malam, tak ada risiko
tersesat sama sekali. Aku sudah melewati jalan ini berkali-kali. Udara dingin
perlahan meresap ke dalam tubuh selagi kami melangkah, hembusan napas kami
mengepul jelas di tengah dinginnya malam. Kami melewati persimpangan tempat
Saito biasanya berbelok menuju rumahnya, lalu terus lurus menuju rumahku.
Sensasi aneh menyusuri jalan ini berdua dengannya terus mengusik benakku. Aku
meliriknya dari samping; pipinya yang sedikit memucat karena dingin mengintip
dari balik helaian rambutnya yang terayun lembut.
"Kita sudah sampai.
Ini rumahku."
"Ini rumahmu?"
Kami tiba tanpa hambatan,
dan aku menunjuk ke arah rumah di hadapan kami. Saito mengamati bagian luarnya
dengan saksama. Ini hanya rumah tapak biasa—tidak ada yang istimewa—tetapi ia
mengerjapkan matanya berkali-kali seolah sedang memproses semuanya.
"Ada yang aneh?"
"Tidak, aku cuma baru
tahu kalau rumah Tanaka-kun ternyata rumah tapak keluarga."
"Iya,
begitulah."
Aku mengangguk, lalu
Saito mendadak tersentak pelan.
"Kalau
dipikir-pikir lagi, apa tidak apa-apa aku datang berkunjung tiba-tiba
begini?"
"Tidak apa-apa, kok.
Aku sama sekali tidak keberatan."
"Bukan itu maksudku,
bagaimana dengan keluargamu?"
"Oh, itu. Orang tuaku
sedang berada di luar negeri sekarang, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Di luar negeri?
Jadi kau tinggal sendirian?"
"Untuk sekarang,
iya."
Perubahan mendadak
harus tinggal sendiri memang sempat mengejutkanku awalnya, tapi sekarang aku
sudah terbiasa. Memang agak merepotkan, tapi sisi positifnya, aku bisa membeli
buku jauh lebih banyak dari sebelumnya.
"Aku tidak
percaya Tanaka-kun tinggal sendirian... Apa kau baik-baik saja? Kau makan
dengan teratur, kan?"
"Tentu
saja."
"Benarkah?"
"Ayolah,
setidaknya percayai aku untuk hal sekecil itu. Kau pikir aku sering melewatkan
waktu makan atau bagaimana?"
"Mengenal
tabiatmu, kupikir kau bakal terlalu asyik membaca buku sampai-sampai lupa makan
dan tidur..."
"Tolonglah. Kalau
kulakukan itu setiap hari, aku pasti sudah mati. Itu cuma terjadi sesekali
saja, jadi tidak perlu cemas."
"Itu sama sekali
tidak terdengar menenangkan. Tolong jaga dirimu lebih baik lagi."
Tatapannya yang tajam
menusukku persis sebilah pisau. Menakutkan. Aku mengangguk berulang kali berusaha
meredakan kekhawatirannya.
"Semakin banyak
kudengar, semakin cemas aku jadinya. Rumahmu bersih kan, setidaknya?"
"Jangan khawatir soal itu. Rapi,
kok."
"Benarkah?"
Ia mengernyitkan alisnya,
memberiku tatapan penuh keraguan. Apa dia sama sekali tidak punya rasa percaya
padaku?
"Aku serius. Nanti
kau bisa lihat sendiri. Masuklah."
Kubimbing ia menuju pintu
masuk, membuka kuncinya, lalu melangkah ke dalam. Begitu berada di dalam, Saito
menoleh ke sana kemari untuk mengamati sekelilingnya.
"...Area pintu
masuknya memang bersih, aku akui. Tapi itu bukan jaminan bagian dalam rumahmu
tidak berantakan."
"Ayo masuk."
Saat kuantar Saito
masuk ke ruang tamu, ia mengerjap kaget dan langsung mematung di ambang pintu.
"Tempat ini
benar-benar bersih sekali. Mungkinkah... kau sengaja merapikannya karena tahu aku
mau datang?"
"Kau pikir aku ini
peramal apa?"
Siapa juga yang bisa
menduga kalau Saito akan berkunjung ke rumahku? Bahkan sekarang pun, saat dia
berdiri tepat di hadapanku, situasinya masih terasa sangat tidak nyata bagiku.
Pemandangan Saito berada di ruang tamuku yang familier ini menghadirkan sensasi
kontras yang begitu janggal.
"Buku-buku itu
tempatnya di rak buku, tahu. Debu adalah musuh alami mereka, jadi aku selalu
memastikan untuk bersih-bersih secara rutin."
"Jadi pada akhirnya
semua itu demi buku juga..."
Meski tampak bisa menerima
penjelasanku, ia menghela napas panjang. Kenapa reaksinya harus begitu?
"Buku-bukunya ada di
tiga rak ini dan di kamarku di lantai atas. Aku akan menyiapkan minuman dulu,
jadi silakan lihat-lihat raknya selagi menunggu."
"Baiklah."
"Ada teh hangat atau
teh gandum. Kau mau yang mana?"
"Tunggu, kau bisa
menyeduh teh?"
"Tentu saja
bisa."
"Kalau begitu aku mau
teh biasa saja."
"Siap, tunggu
sebentar."
Apakah hanya perasaanku
saja, atau penilaian Saito terhadap diriku memang luar biasa rendah? Dengan
perpaduan rasa sedikit kesal dan pasrah, aku melangkah menuju dapur.
Dari dalam lemari gantung,
kuambil cangkir teh dan ketel yang sudah lama tidak melihat cahaya matahari,
lalu mulai merebus air. Sembari menunggu, aku mencuri pandang ke arah Saito. Ia
sedang mengamati rak buku dengan ketertarikan yang mendalam, sedikit berjongkok
sembari menyusuri punggung-punggung buku dengan saksama. Matanya yang gelap
bergerak naik turun, membaca judul-judulnya dengan teliti.
Air di dalam ketel mulai
mendidih dan berguncang pelan, menandakan airnya sudah siap. Suara klik dari
tombolnya memastikan air telah matang sempurna. Meski sudah agak lama tidak
melakukannya, aku berhasil mengingat kembali takaran menyeduh teh dan lekas menyelesaikannya.
"Ini, tehnya sudah
jadi. Kutaruh di meja, ya."
"Ah, terima
kasih."
Kutaruh cangkir teh itu di
atas meja rendah di ruang tamu. Saito meliriknya sekilas sebelum kembali
mengalihkan perhatiannya ke rak buku.
"Menemukan sesuatu
yang menarik?"
"Banyak sekali buku
di sini yang belum pernah kubaca. Sebagian besar bacaanku kan novel misteri,
jadi melihat kisah bertema kedewasaan dan fiksi sejarah seperti ini terasa
sangat menyegarkan."
"Aku memang cenderung
membaca apa saja yang kelihatannya menarik. Aku bahkan punya light novel
dan genre semacamnya."
"Kau benar-benar
sangat mencintai buku ya."
"Yah,
begitulah."
"Ngomong-ngomong, di
mana buku sekuel yang kupinjam kemarin?"
"Ada di kamarku di
atas. Mau coba lihat?"
"Tentu saja
mau!"
Wajah Saito seketika
berbinar-binar penuh semangat.
"Tapi isinya kurang
lebih sama saja seperti yang di bawah sini, lho."
"Hehe, instingku
mengatakan kalau kamarmu pasti menyembunyikan beberapa rahasia memalukan,
Tanaka-kun."
"Memangnya apa yang
kau harapkan bakal ditemukan di sana...?"
Mengabaikan antusiasmenya
yang aneh itu, kubawa nampan berisi cangkir teh lalu memimpin jalan menuju
lantai atas. Selagi kami menaiki anak tangga, kudengar Saito menggumamkan
sesuatu dengan penasaran di belakangku.
"Tempat ini
benar-benar rapi tanpa cela."
"Aku selalu
menjaganya tetap bersih, dan karena sebagian besar waktuku di rumah cuma
dihabiskan untuk membaca, tidak banyak barang yang berantakan."
"Entah kenapa,
obsesimu pada buku ini rasanya patut dikagumi juga."
Mendapat pujian—atau
mungkin godaan—seperti itu membuatku bingung harus merespons apa, jadi aku
hanya mengangkat bahu dan terus melangkah. Tiba di puncak tangga, aku berbelok
ke kiri, meletakkan nampan di atas meja belajarku, lalu memberi isyarat ke sekeliling
ruangan.
"Ini kamarku...
dan ya, sebagian besar isinya memang buku."
"Memangnya apa
lagi yang bakal kau simpan di sini selain buku?"
Di sepanjang dinding,
empat rak buku berdiri berjajar dengan sangat rapi dan simetris. Menyusunnya
berdasarkan nama penerbit adalah salah satu kebanggaan tersendiri bagiku. Saito
menghampiri rak-rak itu dan mulai menyusuri koleksinya lagi, persis seperti
yang ia lakukan di lantai bawah tadi.
"Kurasa novel
lanjutannya ada di rak paling bawah sebelah sana."
Kuambil buku-buku
tersebut dari baris terbawah rak paling kanan. Sesuai dugaan, aku menemukannya
dalam sekejap. Sampul birunya yang pekat masih terlihat sangat mulus,
seolah-olah baru dibeli kemarin meski usianya sudah bertahun-tahun. Kuserahkan
buku-buku itu ke tangan Saito.
"Ini, buku-buku
lanjutannya."
"Terima
kasih."
Ia memandangi sampul
buku itu dengan lekat, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.
"Kau berhasil
menemukan 'rahasia' yang kau cari?"
"Aku menemukan album
kelulusanmu! Tanaka-kun masa kecil adalah harta karun rahasia tingkat tinggi!
Boleh kulihat?"
"Aku tidak punya hal
memalukan yang disembunyikan, sih, tapi silakan saja kalau kau mau."
Mendapat izinku, Saito
langsung menarik seluruh tumpukan album itu dari rak.
"Semuanya?
Serius?"
"Kalau mau melihat,
aku harus melihat semuanya sampai tuntas. Kau sudah memberiku izin tadi, jadi
tidak bisa ditarik kembali."
Dengan nada suara yang
riang, ia mendekap tumpukan album tebal itu dan membawanya ke meja belajarku.
Rambut hitamnya terayun anggun seolah sedang menari mengikuti gerak langkahnya.
Ia meletakkan album-album
itu secara hati-hati di atas meja sebelum menghempaskan tubuhnya ke sofa
abu-abu di dekatnya. Karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan, aku pun
duduk di sampingnya. Aku tak bisa menepis rasa cemas kalau-kalau ada tulisan memalukan
yang tercatat di dalam album-album itu.
"Mari kita mulai dari
album kelulusan TK-mu."
Ia mengeluarkan album
berukuran paling kecil dari wadahnya lalu mulai membalik halamannya satu per
satu. Halaman-halaman awal menampilkan foto-foto nostalgia bagian luar gedung
TK dan arena bermainnya. Masuk lebih dalam, tampak sebuah halaman yang memuat
foto potret anak-anak dari setiap kelas.
"Tanaka-kun dulu di
kelas mana?"
"Seingatku di Kelas
Ume."
Ia membalik halaman hingga
menemukan bagian Kelas Ume, matanya menyusuri dengan teliti sebelum akhirnya
terpaku di satu titik.
"Oh, ini foto
Tanaka-kun. Kau kelihatan sangat
berbeda dibanding sekarang. Mungkin karena auramu dulu terasa jauh lebih lembut dan
polos?"
"Apa kelihatannya
seberbeda itu? Rasanya aku tidak banyak berubah."
"Matamu berbeda. Aku
tidak percaya dulu pernah ada masa di mana kau memiliki tatapan mata yang
begitu murni dan tanpa dosa seperti ini."
"Hei, itu kan
cuma cara halusmu untuk mengejekku yang sekarang, kan?"
Saito membandingkan
sosokku dengan foto di album tersebut, pandangannya bolak-balik menatapku dan
foto itu seolah tak percaya. Ia mengulangi gerakan itu beberapa kali.
"Tidak, tidak,
itu artinya Tanaka-kun versi anak TK luar biasa hebat. Kau sangat menggemaskan
waktu kecil. Saking manisnya, aku sampai khawatir—apa tidak ada orang yang
mencoba menculikmu dulu?"
"Kalau aku sampai
diculik, aku tidak akan berdiri di sini sekarang, kan?"
Imajinasi macam apa
yang ada di kepalanya? Penampilanku dulu sama
sekali tidak mencolok, dan sudut pandang Saito selalu saja terasa agak
nyeleneh.
"Aku cuma mau bilang
kalau kau semenggemaskan itu," balasnya sembari membalik halaman
berikutnya.
Suara gesekan kertas
terdengar pelan beberapa kali sebelum ia berhenti di halaman yang
memperlihatkan aktivitas sehari-hari di taman kanak-kanak. Tentu saja, sosokku
juga ada di sana.
"Oh, ini kau lagi.
Lihat, kau sedang membuat bola-bola lumpur. Aku tidak percaya Tanaka-kun
ternyata pernah bermain di luar rumah."
Saito menunjuk ke salah
satu fotoku, tersenyum hangat. Meskipun komentarnya menyiratkan seolah aku ini
anak rumahan tulen seumur hidup, aku mendapati diriku tak sanggup mendebat saat
melihat senyuman ringannya yang begitu tulus.
"Apa melihatnya
benar-benar semenyenangkan itu?"
"Tentu saja
menyenangkan! Rasanya unik membayangkan kalau orang sepertimu pun pernah
melewati masa kanak-kanak yang begitu ceria."
"Kau sendiri
sepertinya tipe orang yang tidak banyak berubah sejak dulu, Saito."
Di masa-masa itu, selalu
ada tipe anak perempuan yang suka memimpin dan mengatur. Aku tak bisa menahan
diri untuk tidak membayangkan sosok Saito kecil sebagai tipe anak seperti
itu—suka memerintah dan ceplas-ceplos. Bayangan versi miniaturnya yang sedang
memarahi anak-anak lain dengan kalimat-kalimat tajam muncul dengan sangat mudah
di kepalaku.
"Hmm, kurasa kau
benar. Rasanya aku juga tidak banyak berubah sejak dulu."
"Kau punya foto masa
kecilmu?"
"Oh, punya! Aku punya
satu foto waktu TK yang sudah kusimpan di ponsel."
Ia merogoh tasnya untuk
mengeluarkan ponsel lalu mengetuk layarnya dengan jari telunjuk.
"Ini dia."
"Wah...!"
Foto yang terpampang di
layar ponselnya memperlihatkan dua orang: seorang wanita dewasa yang memiliki
kemiripan luar biasa dengan Saito, dan seorang gadis cilik yang mengenakan
seragam taman kanak-kanak. Gadis kecil itu, dengan rambut dikuncir dua dan senyuman
yang merekah cerah, tampak menggenggam erat tangan wanita tersebut. Bahkan
tanpa perlu bertanya pun, sudah sangat jelas bahwa anak kecil itu adalah Saito.
Berada di antara transisi
sosoknya yang sekarang dan kepolosan murni seorang anak-anak, Saito memancarkan
pesona yang tak terbantahkan. Aku tak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa
dia pasti sangat populer saat kecil dulu. Senyumannya yang lepas dan cerah
tampak sanggup memikat siapa saja yang melihatnya.
"Waktu itu kau masih
sangat kecil, tapi memang tidak banyak berubah. Kutebak kau pasti sangat
populer di kalangan anak-anak dulu."
"Kalau diingat-ingat
lagi, kurasa memang banyak yang menyukaiku, tapi waktu itu aku belum
menyadarinya. Kau tahu kan bagaimana anak laki-laki suka menjahili anak
perempuan? Aku ingat dulu sering sekali menangis gara-gara tidak paham kenapa
mereka begitu jahat padaku."
"...Kedengarannya
masa kecilmu cukup berat, ya."
Caranya memang berbeda
dari bagaimana ia menghadapi orang-orang saat ini, tetapi tampaknya Saito
memang selalu menarik perhatian dari lawan jenis sejak dulu. Kenapa anak
laki-laki selalu suka menjahili anak perempuan yang mereka sukai saat masih
kecil? Aku ingat pernah melihat kejadian serupa menimpa anak-anak lain.
"Apa kau pernah
menjahili orang lain waktu kecil, Tanaka-kun?"
"Tentu saja tidak
pernah. Aku biasanya bermain sendirian, jadi tidak ada orang yang bisa
kujahili."
"Jadi kau sudah
menjadi penyendiri sejak masa kanak-kanak?"
"Berhenti menatapku
dengan mata penuh rasa iba seperti itu."
Aku bukan penyendiri
akut—aku punya teman yang bisa kuajak bermain dengan baik. Bahkan sekarang pun,
aku punya orang-orang yang bisa kuajak bicara.
"Wanita di
sebelahmu di foto ini—apa beliau ibumu?"
"Iya. Kami tidak
punya banyak foto bersama, jadi foto ini sangat berharga bagiku."
"Kalian berdua sangat
mirip sekali."
"Benarkah
begitu?"
Saito memandangi foto
ibunya dengan ekspresi penasaran, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Beliau terlihat
seperti versi dirimu yang jauh lebih dewasa. Kutebak saat dewasa nanti kau
pasti akan tumbuh menjadi wanita yang secantik itu."
"...Cantik?"
"Iya. Kalian berdua
begitu mirip, jadi itu hal yang sangat wajar."
Melihat betapa kuatnya
kemiripan di antara mereka, aku tidak bisa membayangkan Saito akan tumbuh
dengan penampilan yang jauh berbeda. Saat aku mengangguk mantap, senyum lembut
perlahan merekah di wajahnya.
"Hehe, terima
kasih."
Aku hanya melontarkan
observasi objektif yang jujur, tapi entah mengapa ia tampak sangat bahagia
mendengarnya. Apa dia benar-benar sebahagia itu saat disamakan dengan ibunya?
Merasa heran, aku kembali menatap ke arah album foto.
***
"Fyuuh. Kisah
pertumbuhan Tanaka-kun ternyata sangat menghibur."
Dengan helaan napas pelan,
Saito menutup album terakhir. Dia benar-benar telah menamatkan seluruh album
kelulusanku dari awal sampai akhir. Album terakhir itu kini bertengger di atas
tumpukan album lainnya di atas meja.
Saito meraih cangkir
tehnya yang kini telah dingin, menyesapnya sedikit sebelum kembali
menghembuskan napas perlahan.
"Kurasa itu tidak
layak disebut kisah hidup. Hidupku cuma dihabiskan untuk membaca buku."
"Oh, tidak, aku jadi
mendapat gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana kau tumbuh besar.
Meskipun... sebagian besarnya cuma menyaksikan obsesi bukumu yang makin parah
dari tahun ke tahun."
"Sudah lama aku tidak
melihat foto-foto itu, tapi aku sendiri baru sadar betapa banyaknya foto yang
memperlihatkanku sedang membaca. Waktu makan siang, jam istirahat, bahkan saat
festival olahraga—aku selalu menempel pada buku."
Sulit rasanya menyangkal
rasa pasrah Saito barusan. Melihat foto-foto itu membuatku bertanya-tanya
mengapa diriku di masa lalu tidak bisa bersikap sedikit lebih seimbang. Mungkin
mulai sekarang aku harus menahan diri untuk tidak membaca buku saat acara-acara
besar berlangsung.
Saito bangkit berdiri,
mengembalikan tumpukan album itu ke rak buku, lalu kembali menyusuri jajaran
koleksiku. Pandangannya bergerak perlahan hingga akhirnya terhenti di satu
sudut.
"Apa ini light
novel yang kau ceritakan tadi?"
"Oh, iya. Aku mulai
membacanya waktu SMP setelah direkomendasikan oleh seorang teman. Bahasanya
ringan dan ceritanya segar, jadi aku langsung ketagihan dan akhirnya memborong
banyak sekali."
"Aku pernah
mendengarnya, tapi belum pernah membaca satu pun. Apa ceritanya menarik?"
"Ada beberapa yang
biasa saja, tapi yang satu ini luar biasa bagus."
Aku menunjuk ke sebuah
buku yang pertama kali menjerumuskanku ke dunia novel komedi romantis. Kisahnya
menceritakan tentang seorang pahlawan wanita yang jahil dan berusaha membuat
sang protagonis jatuh hati padanya. Terlepas dari premisnya yang santai, kedalaman
emosional dalam penggambaran karakternya terasa sangat memikat di luar dugaan.
"Boleh kubaca?"
"Silakan."
Kuambil buku itu dari rak
dan menyerahkannya kepada Saito, yang langsung membungkuk kecil sebagai tanda
terima kasih. Ia melirik ke arah sampulnya, dan kedua pipinya seketika merona
merah muda tipis.
(Gawat.)
Aku benar-benar lupa
betapa provokatifnya sampul beberapa light novel. Yang satu ini
menampilkan sang pahlawan wanita dalam balutan seragam sekolah, duduk
menyilangkan kaki dengan rok mini dari sudut pandang rendah yang membuatnya
tampak seolah pakaian dalamnya hampir terlihat. Tampilannya memang agak terlalu
berani.
Mengingat keengganan Saito
terhadap hal-hal yang berbau sugestif, aku bersiap-siap menerima teguran
darinya. Namun alih-alih mengeluh, ia hanya bergumam sangat pelan, "Ini...
agak tidak senonoh," sebelum lekas mundur ke arah sofa membawa buku tersebut.
Saito duduk di sofa,
membalik lembaran halaman buku itu dengan sangat hati-hati. Gerak-geriknya
tampak sopan, tetapi ada kilatan rasa ingin tahu yang nyata di matanya saat ia
mengamati setiap ilustrasi di dalamnya satu per satu.
Meskipun alur ceritanya
sama sekali tidak vulgar, melihat seorang teman sekelas perempuan membaca buku
semacam itu tetap saja membuatku merasa sedikit salah tingkah. Aku tak sanggup
duduk di sampingnya, jadi aku pura-pura sibuk mencari buku lain di rak sembari
sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Setelah selesai
melihat-lihat lembar ilustrasi, Saito mulai membaca teks ceritanya. Arah
pandangannya bergerak naik turun menyusuri baris demi baris kata. Di setiap
halaman yang ia balik, tubuhnya tampak makin condong ke depan, fokusnya pada
buku itu makin menguat. Tampaknya ia mulai terseret masuk ke dalam alur kisah.
Menilai dari posisi duduknya, ia jelas-jelas sangat menikmati ceritanya.
Bukunya tidak terlalu
tebal—seharusnya hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikannya. Tak
ingin mengusik konsentrasinya, kuputuskan untuk mengambil buku yang belum
sempat kutamatkan lalu membacanya sembari menunggu.
***
Detak jarum jam yang
teratur bergema di seluruh ruangan, iramanya yang tenang menghadirkan suasana
menenteramkan yang kian memperdalam fokus membacaku. Gemerisik halus dari
lembaran halaman yang dibalik sesekali terdengar menyapa telinga, berpadu
harmonis dengan suara detak jam.
"Tanaka-kun!"
Aku yang tadinya sedang
bersandar di rak buku sembari membaca sontak terkejut. Tanpa kusadari, Saito
telah melangkah mendekat. Ia kini berdiri hanya sekitar tiga puluh sentimeter
di depanku, mendongak menatapku. T-terlalu dekat.
"A-ada apa?"
"Buku ini... cerita
apa ini sebenarnya!?"
"Eh, apa kau... tidak
suka?"
Intensitas sikapnya
membuatku refleks mundur selangkah, hanya untuk menyadari bahwa rak buku di
belakangku tidak memberiku ruang lagi untuk mundur.
"Tidak, sama
sekali bukan begitu! Karakter perempuannya manis dan menggemaskan sekali! Aku
tak tahan untuk tidak mendukungnya—dan aku sangat tersentuh!"
"Oh, begitu ya. Syukurlah kalau kau
menyukainya."
Tampaknya ia sangat
menikmati buku itu. Nada bicaranya terdengar jauh lebih hidup dan bersemangat
dari biasanya.
"Awalnya aku sempat
agak skeptis gara-gara pakaiannya yang, yah, provokatif itu, tapi ternyata
dugaanku salah besar. Hal itu sama sekali tidak mengurangi kualitas ceritanya!
Alurnya penuh liku-liku yang seru, dan aku benar-benar larut di dalamnya. Yang paling penting,
karakter perempuannya itu terlalu imut!"
"Iya, karakter
perempuannya memang imut sekali. Itu semacam daya tarik utama ceritanya. Tapi aku kaget
kau bisa menganggapnya semenyenangkan itu."
"Tentu saja! Usahanya
yang begitu tulus membuat siapa saja ingin menyemangatinya."
"Meskipun di dunia
nyata, kurasa tidak banyak orang yang bakal bersikap menggemaskan sekaligus
jahil persis iblis kecil seperti itu."
Sulit membayangkan ada
orang yang menggoda orang yang disukainya dengan cara seperti itu di kehidupan
nyata. Setidaknya bagi orang yang payah dalam urusan asmara sepertiku,
memperagakan tindakan menggoda yang lincah seperti itu jelas hal yang mustahil.
Sejujurnya, memangnya ada permintaan untuk cowok yang bertingkah ala iblis
kecil begitu?
"Benar juga, tapi dia
begitu manis sampai-sampai tidak masalah meski terasa kurang realistis."
"Kau pasti
benar-benar sangat menyukai buku itu."
"Tanaka-kun,
menurutmu gadis yang suka menggoda seperti dia itu manis?"
"Yah... iya, mereka
manis."
Maksudku, siapa yang tidak
akan senang jika orang yang disukainya mengambil inisiatif untuk mendekat
duluan? Meski begitu, membayangkan Saito bersikap layaknya iblis kecil yang
nakal adalah hal yang... mustahil. Mendengar jawabanku, Saito sedikit menurunkan
pandangannya dan bergumam pelan.
"Hmm, begitu rupanya
ya?"
"Apa maksud gumamanmu
barusan?"
"Ngomong-ngomong,
bagian mana yang paling kau sukai?"
"Bagian saat dia
menyatakan perasaannya dengan santai. Suasananya terkesan bercanda, tapi kau
bisa merasakan betapa tulusnya dia."
Ada satu adegan di mana
sang pahlawan wanita berkata, "Aku menyukaimu," kepada tokoh utama
dengan gayanya yang khas dan usil. Suasananya tidak dibuat tegang atau serius,
tetapi ketulusannya terpancar begitu kuat, menjadikannya momen yang sangat
membekas di ingatan.
"Ah, adegan yang itu. Begitu
rupanya."
Saito mengangguk-angguk paham, mengetuk dagunya
perlahan dengan jari telunjuk.
"Adegan itu memang
sangat manis. Aku paham kenapa Tanaka-kun menyukainya."
"Benar, kan?"
"Apa kau mengagumi
perlakuan seperti itu?"
"Yah, cuma kalau itu
dilakukan oleh orang yang kusukai, sih."
"Hehe, aku mengerti
sekarang."
Saito tersenyum penuh
arti, lalu kembali menundukkan pandangannya ke arah buku di tangannya.
***
"Sudah malam.
Sebaiknya kau bersiap-siap pulang sekarang."
"Oh, sudah jam
segini? Kau benar—aku harus segera pulang."
Jam di dinding menunjukkan
waktu hampir pukul delapan malam. Saito meliriknya lalu mulai merapikan
barang-barangnya. Ia memasukkan buku pinjamannya ke dalam tas, menghabiskan
sisa tehnya, lalu bangkit berdiri.
"Kuantar sampai ke
rumah, ya."
"Oh, tidak usah,
jangan merepotkan dirimu. Waktumu bakal terbuang percuma kalau harus
bolak-balik jalan."
"...Kau yakin tidak
apa-apa?"
"Iya, tidak masalah.
Waktunya bisa kau pakai untuk membaca buku saja."
Penolakannya yang
tegas tidak memberiku ruang untuk mendebat. Meski masih merasa sedikit cemas, aku mengangguk dan
mengantarnya turun menuju pintu depan. Selagi kami menuruni anak tangga, udara
malam yang dingin merembes masuk ke area pintu masuk, menyisakan kepulan tipis
pada hembusan napasku.
***
Saito mengenakan sepatunya
lalu berbalik menghadap ke arahku.
"Terima kasih sudah
menerimaku bertamu hari ini."
"Bukan masalah sama
sekali. Kau benar-benar yakin tidak mau kuantar pulang?"
"Terima kasih atas
perhatianmu, tapi aku sungguh-sungguh tidak apa-apa."
"Kalau kau bilang
begitu, baiklah."
"Ngomong-ngomong,
apa tidak masalah aku mampir mendadak begini tadi?"
"Jangan dipikirkan.
Kalau itu kau, Saito, aku sama sekali tidak keberatan."
Awalnya membayangkan
gebetan datang ke rumah memang membuatku luar biasa gugup, tetapi pada akhirnya
kami hanya menghabiskan waktu membaca buku, persis seperti biasanya. Mengingat
betapa seringnya aku berkunjung ke apartemennya, rasanya konyol jika aku terlalu
mempermasalahkan hal ini.
Mendengar jawabanku, Saito
menyipitkan matanya dan tersenyum manis.
"Hehe, Tanaka-kun
selalu saja bersikap manis padaku."
"Begitukah?"
"Tentu saja. Kau
selalu begitu cepat menuruti keinginanku—rasanya seolah kau sudah sepenuhnya
berada di bawah kendaliku. Sejujurnya, kau pasti sangat menyukaiku, kan? Tenang
saja, aku juga menyukaimu, Tanaka-kun."
"A-apa—!?"
Saito terkekeh jahil,
senyumannya memancarkan pesona menggoda yang memabukkan. Tatapannya yang
mendongak dan matanya yang sedikit menyipit berbinar persis seorang pembuat
onar yang nakal. Kejutan dari kalimatnya yang sama sekali tak terduga itu
meruntuhkan seluruh pertahananku—aku tak sanggup menyembunyikan reaksiku yang
kelabakan.
"Ya ampun, wajahmu
memerah sekali."
Suara jahilnya sarat akan
rasa geli, dan caranya memiringkan kepala ke samping terlihat sangat terencana
dengan matang.
"...Itu kutipan dari
adegan di novel yang kita bicarakan tadi, kan?"
"Tepat sekali. Karena
kau tampaknya mengagumi momen semacam itu, kuputuskan untuk mencobanya secara
langsung sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengizinkanku mampir
mendadak."
"Tolong... ampuni
aku..."
Yang bisa kulakukan
hanyalah menghela napas pasrah ke arah Saito, yang kini tubuhnya berguncang
menahan tawa geli. Untuk sesaat tadi, kukira dia sudah benar-benar membongkar
bagaimana perasaanku kepadanya. Untuk ukuran sebuah lelucon, serangannya
barusan terlalu tepat sasaran—itu benar-benar menguji ketahanan jantungku.
Tentu, aku mungkin pernah mengkhayalkan hal semacam itu terjadi, tetapi
mengalami langsung aksi iblis kecil dari Saito di dunia nyata berada di tingkat
yang sama sekali berbeda. Rasa panas di pipiku menolak untuk mereda.
"Maaf ya sudah
menggodamu," ucapnya dengan sedikit nada tulus.
"...Pokoknya jangan
lakukan itu lagi. Kau membuatku jantungan tahu."
"Iya, aku minta
maaf."
Wajahnya berseri-seri
dihiasi senyuman yang memukau saat ia mengangguk. Terlihat sangat jelas bahwa
ia merasa sangat puas berhasil membuatku salah tingkah setengah mati.
"Kalau begitu, sampai
jumpa lagi."
"Iya, hati-hati di
jalan."
Saito membungkuk kecil
sebelum membuka pintu dan melangkah keluar. Sosoknya perlahan menghilang
ditelan kegelapan malam, dan pintu depan tertutup dengan suara klik pelan,
menyisakan keheningan di dalam rumah.
"Itu tadi benar-benar
curang..."
Bayangan senyuman jahil
nan memikat dari Saito terukir abadi di kepalaku, membiarkan gumaman
kata-kataku larut begitu saja ke dalam sunyinya malam.


Post a Comment