Chapter 4
Sesi Tanda Tangan
Saat aku sedang bersantai
di sofa rumah Saito sembari menyandarkan punggung dengan nyaman, bunyi
notifikasi berdenting dari atas meja. Layar ponsel pintar menyala, dan Saito
yang duduk di sampingku mengulurkan tangan untuk memeriksanya. Tangannya yang
seputih porselen dan tanpa cela melayang di atas layar. Tiba-tiba, ia mematung
di tempatnya.
"Tanaka-kun, coba
lihat ini!"
Suaranya yang tak biasa
begitu bersemangat seketika menarik perhatianku. Aku mendongak dari bukuku dan
mendapati wajahnya berseri-seri dipenuhi sukacita—pemandangan yang sangat
langka.
"Ada apa?"
"Aku menang undian
untuk acara jumpa penggemar dan sesi tanda tangan!"
"Sesi tanda
tangan?"
Aku memiringkan kepalaku
bingung mendengar seruan tak terduganya. Menanggapi rasa heranku, ia
mengguncang tubuhku perlahan, rasa bahagianya meluap-luap.
"Ini, lihatlah!"
"Hei, berhenti
mengguncangku, aku tidak bisa membaca apa-apa kalau begini."
Pandanganku buram akibat
guncangan hebatnya, persis seperti sedang berada di tengah gempa bumi. Saat
kutegur, ia langsung berhenti seketika.
"Ah, maaf. Aku
terlalu terbawa suasana."
"Tidak apa-apa. Jadi,
sesi tanda tangan siapa ini?"
"Penulis favoritku!
Beliau merilis buku baru, dan ada acara sesi tanda tangan di akhir bulan ini
untuk merayakannya."
Ia menyebutkan nama
penulis tersebut, seorang sastrawan terkenal yang kebetulan juga merupakan
salah satu penulis favoritku.
Aku sama sekali tidak tahu
kalau dia ikut undian untuk acara semacam itu.
"Wah, aku tidak tahu
sama sekali. Bagaimana kau bisa tahu acaranya?"
"Zaman sekarang
segalanya ada di media sosial. Aku mengikuti akun resminya, jadi aku langsung
dapat notifikasi begitu diumumkan."
"Tunggu, Saito, kau
main media sosial? Di sekolah ada rumor kalau kau tidak memakai medsos sama
sekali."
"Tentu saja aku tidak
memakainya untuk urusan pribadi. Aku punya akun khusus yang memang
diperuntukkan untuk konten perbukuan. Kugunakan untuk mengunggah ulasan dan
pemikiranku tentang buku-buku yang sudah kubaca."
"Ooh, aku baru tahu
medsos bisa dipakai seperti itu."
"Kau ini ketinggalan
zaman sekali ya. Apa kau baru saja melakukan perjalanan waktu dari masa lalu ke
sini?"
Tatapannya yang geli
terasa persis jarum-jarum yang menusukku.
"Hei, aku juga
memakai ponsel, tahu."
"Iya, cuma sekitar
tiga puluh menit sehari. Itu hampir tidak dihitung. Anak-anak muda menghabiskan
lebih dari dua jam di ponsel setiap hari, asal kau tahu. Kebiasaanmu itu setara
dengan kakek-kakek umur delapan puluh tahun."
"Yah, begitulah
masyarakat modern."
"…Tanaka-kun,
apa-apaan sih yang sebenarnya kau bicarakan?"
"Tenanglah, aku cuma
bercanda. Jangan melototiku seperti itu."
Matanya yang bulat dan
besar sempat menyipit tajam sesaat, tetapi ia lekas kembali rileks sembari
menghela napas pelan.
"Tanaka-kun yang
bertingkah aneh kan bukan hal baru lagi, jadi ayo kita lanjut."
"Hei, aku
tidak—"
"Pokoknya, sesi
tanda tangannya!"
"Hei, tunggu
sebentar."
Ia mengabaikan protesku
mentah-mentah, dan aku menghela napas pasrah. Memang tidak ada peluang menang
melawan Saito jika dia sudah berada dalam mode seperti ini.
"Yah, baguslah kalau
kau berhasil menang."
"Iya! Peluang
menangnya sangat kecil, jadi awalnya aku tidak terlalu berharap banyak."
"Yang membuatnya jadi
jauh lebih luar biasa. Keberuntunganmu pasti sangat bagus."
"Tidak juga. Cuma
kebetulan untuk kali ini saja. Tapi aku berusaha sangat keras untuk
mendapatkannya, tahu."
Ia membusungkan dadanya
dengan bangga, senyum puas terukir di wajahnya.
"Oh? Usaha macam apa
yang kau lakukan?"
"Kucurahkan seluruh
isi hatiku ke dalam formulir pendaftarannya, menjabarkan setiap alasan kenapa
aku begitu mencintai karya-karya beliau."
"Begitu ya."
"Dan aku tidak
berhenti sampai di situ! Kukirimkan beberapa formulir pendaftaran sekaligus,
masing-masing dengan ulasan dan kesan yang berbeda-beda dari setiap
karyanya."
"Tunggu, bukannya
mengirim formulir ganda itu melanggar aturan?"
"Tertulis di sana
bahwa mengirim banyak formulir tidak akan meningkatkan peluang menang. Tapi
karena mereka mengizinkannya, kuanggap itu sebagai sebuah pertanda—mungkin
pihak penyelenggara memang menginginkan lebih banyak masukan!"
"Kurasa mereka
cuma tidak mengantisipasi bakal ada orang sepertimu..."
Ia menangkupkan kedua
tangannya di depan dada lalu menengadah ke atas, seolah sedang memanjatkan rasa
syukur ke langit.
Pemandangan itu
terlihat menggemaskan sekaligus agak mengerikan di saat yang bersamaan.
"Rencanaku
berhasil sempurna. Pihak penyelenggara pasti
menyadari antusiasmeku."
Senyumannya berubah
menjadi sesuatu yang licik, nyaris seperti iblis kecil. Kontras yang sangat
mengejutkan dengan pembawaannya yang biasanya anggun bak bidadari.
"Yah, syukurlah kalau
usahamu membuahkan hasil."
Aku tak tahan untuk tidak
terkekeh melihat senyum berseri-serinya, meski diwarnai sedikit rasa ngeri.
"Ada hal lain lagi
yang kau lakukan?"
"Itu fokus utamaku.
Selain itu, aku berdoa setiap hari."
"Berdoa?"
"Oh, kurasa aku belum
pernah memperlihatkan ini padamu."
Ia bangkit berdiri lalu
menghilang ke kamar sebelah, kembali beberapa saat kemudian dengan membawa
sesuatu di tangannya.
"…Apa itu
kucing?"
Duduk di telapak tangannya
adalah sebuah miniatur patung kucing kecil. Namun, alih-alih berdiri dengan
empat kaki, patung itu duduk dengan kaki belakangnya, salah satu cakarnya
terangkat ke atas dalam gestur memanggil.
"Manis, kan? Ini
versi realistis dari maneki-neko (kucing pemanggil keberuntungan)."
"Y... yah, kurasa
begitu."
"Kulihat di
internet, dan aku langsung merasa harus membelinya. Patung ini dibuat
berdasarkan foto kucing yang sempat viral. Lihat, bukankah ini luar
biasa?"
Ia memperlihatkan foto
aslinya dan patung tersebut padaku. Kemiripannya sungguh luar biasa persis,
bahkan sampai ke pola corak bulunya.
"Jadi, kau berdoa
pada patung ini?"
"Iya. Begitu
melihatnya, aku langsung tahu patung ini ditakdirkan untuk tujuan ini."
"Bukan, kau cuma
mencari alasan untuk membelinya saja."
"…Itu tidak
benar."
Suaranya sedikit bergetar
ragu, dan ia memalingkan pandangannya.
"Pokoknya jangan
berlebihan membeli barang karena dorongan sesaat, ya?"
"Aku bisa mengatakan
hal yang sama persis padamu, Tanaka-kun. Bukannya kau sendiri yang menghabiskan
seluruh uangmu untuk membeli buku bulan lalu?"
"Itu adalah bentuk
investasi yang sudah diperhitungkan dengan matang."
"Alasan itu justru terdengar jauh lebih
parah."
Ia menghela napas kecil,
ekspresinya perpaduan antara rasa pasrah dan geli.
"Yah, bagaimanapun
juga, aku senang kau bisa ikut acaranya."
"Iya, aku benar-benar
sangat menantikannya."
"Kapan
acaranya?"
"Tanggal tiga puluh
satu Maret, tepat sebelum semester ajaran baru dimulai."
"Oh, mepet sekali
waktunya ya."
"Bisa bertemu penulis
favoritku tentu sangat sepadan dengan usahanya. Ngomong-ngomong…"
"Ya?"
"Setiap pemenang
boleh membawa satu orang tamu pendamping. Kau mau ikut denganku? Cuma kalau kau
tidak keberatan, tentu saja."
"Serius? Kau
mengajakku?"
Ekspresi Saito melembut
saat menatapku, sedikit rasa gugup tampak di matanya. Aku tidak percaya pada
keberuntunganku sendiri—ini adalah kesempatan emas.
"Aku tidak akan
mengajakmu kalau tidak ingin kau ikut. Sama sekali bukan beban, kok."
Memalingkan wajahnya
sedikit ke samping, Saito bergumam sangat pelan, garis wajahnya dari samping
dihiasi semburat merah muda tipis.
"I-iya. Baiklah kalau
begitu, ayo kita pergi bersama. Mumpung di sana, kita bisa sekalian mengunjungi
festival bunga sakura yang kita bicarakan tempo hari."
"Iya, kedengarannya
sangat menyenangkan. Aku jarang sekali punya kesempatan untuk menikmati hanami
(melihat bunga sakura), jadi aku sangat menantikannya."
Saito tersenyum lembut,
raut wajahnya tampak begitu damai. Namun tiba-tiba, matanya membelalak
menyadari sesuatu.
"Oh, dan kita ke sana
sungguhan untuk melihat bunga sakura—bukan untuk membaca buku, paham?"
"Kau ini menganggapku
orang seperti apa sih sebenarnya?"
"Yah, kupikir hal itu
sangat mungkin terjadi kalau orangnya adalah dirimu, Tanaka-kun."
"Aku tidak akan
melakukan hal seperti itu. Orang sepertiku pun tahu tidak pantas membaca buku
saat kencan hanami… walaupun, aku sempat terpikir membawanya sedikit.
Cuma sekilas saja."
"Tuh, kan! Sudah
kuduga!"
Ia memukul pundakku pelan.
Merasakan tatapan menyipit penuh tuduhan dari sampingku, aku secara refleks
membuang wajahku ke arah lain.
Bagaimana bisa Saito
selalu tahu persis apa isi kepalaku? Akhir-akhir ini rasanya seolah-olah dia
bisa membaca pikiranku. Ketajaman intuisinya mulai terasa agak meresahkan
bagiku.
***
Aku akhirnya menjadwalkan
acara melihat bunga sakura bersama Saito pada hari terakhir liburan musim semi,
tetapi masih ada beberapa hari tersisa sebelum hari itu tiba.
Tentu saja hari-hari
menjelang hanami yang dijanjikan itu diisi oleh jadwal giliran kerjaku
di kedai.
"Permisi, boleh pesan
set menu bunga sakura satu?"
Waktu menunjukkan pukul
tiga sore lewat sedikit di akhir pekan. Kafe sedang dipadati pelanggan yang
kemungkinan besar mampir untuk beristirahat sejenak di tengah acara jalan-jalan
mereka.
Ide spontan dari manajer
untuk meluncurkan menu bertema bunga sakura, entah bagaimana ceritanya,
ternyata sukses besar di luar dugaan. Khusus untuk hari ini saja, kami sudah
menerima dua puluh pesanan. Untuk sekali ini, tampaknya kreasi beliau
benar-benar mendulang keberhasilan besar.
"Manajer, pesanan set
menu Sakura satu lagi."
Sembari mengambil
piring hidangan yang siap diantar, kupanggil manajer yang sedang sibuk di
dapur.
"Oh, benarkah? Luar
biasa sekali! Kejutan yang sangat
menyenangkan."
"Jarang-jarang
menu baru bisa sepopuler ini, ya?"
"Jarang-jarang? Tidak
sopan sekali bicaramu! Menu-menu baru kita selalu dapat pesanan, tahu."
Manajer mendengus,
pura-pura tersinggung. Tentu saja setiap menu baru memang selalu ada yang
memesan, tetapi biasanya sangat sedikit dan berjarak—jelas-jelas hanya menyasar
kalangan tertentu saja.
Meski begitu, selama
bisnis kedai berjalan lancar, aku sama sekali tidak punya keluhan. Aku kembali
mengantarkan makanan dalam diam.
Kesibukan terus
berlangsung hingga sekitar pukul empat sore, saat jam ramai akhirnya mulai
mereda. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, aku tidak perlu lagi
terburu-buru melangkah ke sana ke mari di penjuru kafe.
"Kudengar kabar yang
sangat menarik lho, Tanaka-senpai. Jadi, akhirnya kau berhasil punya pacar,
ya?"
Saat sedang membawa
tumpukan piring dari meja yang baru dibersihkan, Mai yang melakukan hal serupa
menghampiriku sembari menyeringai jahil. Ia melongokkan wajahnya menatapku
seolah sedang menikmati gosip yang sangat lezat.
"Yah, begitulah. Kami mulai berpacaran
setelah White Day kemarin."
"Wah, selamat ya! Kau
berjuang sangat keras demi dia, kan? Seperti waktu urusan pembatas buku
itu."
"Iya, kejadian itu
memang sempat terjadi ya. Terima kasih sudah membantuku waktu itu."
"Oh, jangan sungkan!
Tapi kau tahu, karena aku sudah banyak membantu, harusnya kau memberitahuku
lebih awal. Bagaimanapun juga, aku kan praktis sudah jadi Mak Comblang (Cupid)
buat kalian, benar kan?"
Tatapannya yang penuh
harap dan dilebih-lebihkan membuatku menghela napas panjang. Memang benar dia
sangat membantu saat insiden pembatas buku dulu, tetapi aku enggan mengakui
sosok Mak Comblang yang menyebalkan seperti dirinya.
"Aku menolak
mentah-mentah menyebutmu sebagai Mak Comblang-ku."
"Kenapa tidak
boleh?! Gadis manis sepertiku kan sosok Mak Comblang yang paling sempurna,
menurutmu tidak begitu?"
Ia berputar-putar di
dekatku dengan dramatis seolah ingin membuktikan kata-katanya. Mengayun-ayunkan
nampan penuh piring seperti itu jelas bukan tindakan yang aman. Tak tahan untuk
menahannya, aku bergumam, "Kelakuan sembrono seperti inilah yang kumaksud."
Beruntung tidak
terjadi kecelakaan apa pun, dan kami berhasil mengantarkan tumpukan piring itu
ke area cuci dengan selamat. Namun Mai belum menyerah. Ia terus melontarkan
sindiran tentang perannya sebagai Mak Comblang, yang tentu saja kuabaikan
sepenuhnya.
Tepat pada saat itu,
Hiiragi-san melintas di dekat kami.
"Oh,
Hiiragi-senpai!"
Mai tidak membuang waktu
untuk langsung menempel pada Hiiragi-san, mendongak menatapnya dengan mata
bulat yang berkaca-kaca.
"Ta-Tanaka-senpai
jahat sekali padaku barusan..."
"Hei!"
Pilihan katanya
jelas-jelas sangat menyesatkan. Sesuai dugaanku, tatapan tajam Hiragi-san
seketika terarah padaku.
"Tanaka-san, apa
sebenarnya yang kau lakukan pada adik tingkatku yang manis ini?"
"Tidak ada apa-apa!
Mai terus bersikeras mengaku sebagai Mak Comblang, jadi aku cuma mengabaikannya
dari tadi."
"Mak Comblang?"
Hiiragi-san memiringkan
kepalanya bingung, ekspresi herannya terlihat sangat mirip dengan sosok Saito.
Mai akhirnya melepaskan pelukannya lalu mulai menjelaskan.
"Begini lho,
Tanaka-san baru saja bilang kalau dia sudah resmi berpacaran dengan gebetannya!
Dan karena dulu aku banyak membantunya waktu urusan pembatas buku itu, kuklaim
diriku sebagai Mak Comblang-nya."
"Oh, begitu ya. Kalau
alasannya itu, Mai-chan mungkin memang benar-benar pantas disebut Mak
Comblang-mu."
"Tuh, kan! Dengar
itu!"
Mai menoleh ke arahku
dengan senyum kemenangan, ekspresinya terlihat sangat puas diri seperti biasa.
Seandainya saja dia bisa sedikit mengurangi sikap sombongnya itu, mungkin aku
bisa menyetujuinya dengan lebih mudah.
"Tanaka-san,
sebaiknya kau akui saja kontribusinya. Bagaimanapun juga, dia memang sudah
membantumu, kan."
"Yah, kalau
Hiiragi-san yang bilang begitu..."
Memanfaatkan Hiiragi-san
untuk memojokkanku terasa sangat tidak adil. Tanpa ada pilihan lain, dengan
enggan kuakui hal itu sembari menghela napas melirik sosok Mak Comblang yang
kini tersenyum pongah di hadapanku.
"Jangan pasang muka
masam begitu! Kalau kau sedang dalam kesulitan, Mak Comblang ini akan selalu
siap membantu. Jadi, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan pacarmu
itu?"
Mai menepuk pundakku
perlahan seolah sedang menghiburku. Ironis sekali—padahal semua kekacauan ini
bermula dari ulahnya sendiri sejak awal.
"Kurasa semuanya
berjalan cukup lancar...?"
Mengingat kembali, kurasa
tidak ada masalah apa pun di antara kami. Saito mungkin sesekali menghela napas
pasrah, tetapi kami tidak pernah bertengkar.
Kami selalu menikmati
waktu bersama—setidaknya begitulah yang kurasakan dari sudut pandangku. Tentu
saja selalu ada kemungkinan ada hal-hal yang luput dari perhatianku. Cemas akan
hal itu, kulirik Hiiragi-san, dan mata kami bertemu.
"…Apa benar-benar
begitu keadaannya?"
Nada bicaranya membawa
sekelumit rasa tidak puas yang samar, seolah ada sesuatu yang ingin ia
sampaikan. Tunggu, serius?
"Maksudku, kupikir
semuanya baik-baik saja, tapi apa menurutmu dia mungkin punya keluhan atau rasa
frustrasi terhadapku?"
"Yah, aku kan
bukan dirinya, jadi aku tidak bisa memastikannya."
Hiiragi-san mengangkat
bahunya acuh tak acuh, menghindari pertanyaan itu. Respons itu sama sekali
tidak membantu—terlebih saat melihat raut wajahnya yang jelas-jelas menyiratkan
bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Kazuki pernah bilang
bahwa saat rasa frustrasi seorang perempuan mulai menumpuk, di situlah sebuah
hubungan bisa hancur berantakan. Aku tidak boleh membiarkan hal ini lewat
begitu saja. Aku harus tahu kebenarannya.
"Ngomong-ngomong,
Hiiragi-san, apa kau sendiri punya keluhan terhadap pacarmu?"
"Eh?"
Ia mengerjapkan
matanya kaget, matanya membelalak di balik lensa kacamatanya. Terlihat sangat jelas
bahwa ia sama sekali tidak menduga pertanyaan itu.
"Yah, tadi kau
kelihatan seperti ingin mengatakan sesuatu. Kupikir mungkin ada hubungannya
dengan hal itu..."
"Hiiragi-senpai, apa
itu benar!? Aku mau dengar juga!"
Mai yang selalu bernafsu
mengorek urusan asmara langsung menyambar kesempatan emas ini. Untuk sekali
ini, kebiasaannya untuk ikut campur terasa sangat membantu.
Terjebak di bawah tatapan
penasaran kami berdua, mata Hiiragi-san bergerak gelisah ke sana kemari,
pandangannya melayang tak tentu arah di udara. Akhirnya, ia menghela napas
pasrah.
"Yah... sebenarnya,
dia sama sekali tidak pernah mengambil inisiatif untuk mendekatiku."
"Apa!?"
Pengakuannya yang tak
terduga itu membuatku terperangah, kehilangan kata-kata. Aku tidak pernah
membayangkan dia bakal mengungkit hal yang begitu blak-blakan.
Saat aku menatapnya
lekat-lekat, pipinya sedikit merona dan ia melotot ke arahku, seolah
memperingatkanku untuk tidak salah paham.
"Jangan salah
paham dulu. Aku bukan sedang membicarakan hal-hal yang terlalu jauh. Maksudku
cuma... tidak ada kontak fisik atau kemesraan sama sekali, bahkan untuk hal-hal
yang paling mendasar."
"Oh, itu
maksudmu. Iya sih, aku paham kenapa hal itu bisa membuatmu merasa cemas,"
ujar Mai mengangguk antusias, kuncir kudanya ikut membal di setiap gerakan.
"Iya, itu
membuatku bertanya-tanya apakah aku ini kurang menarik sebagai seorang
perempuan..."
Mata Hiiragi-san melirik
sekilas ke arahku sesaat. Tidak, sama sekali tidak—malahan dia itu luar biasa
memikat dan cantik. Menjaga ketenanganku di dekatnya selama ini adalah sebuah
perjuangan berat tersendiri.
"Kurasa kau tidak
perlu mencemaskan hal itu."
"Lalu menurutmu
kenapa dia sama sekali tidak pernah mengambil inisiatif?"
Sepasang matanya yang
indah bak permata menatap lurus ke arahku, tajam dan menyelidik. Rasanya makin
sulit mempertahankan sandiwara bahwa "pacarnya" dan diriku bukanlah
orang yang sama.
Ekspresi Hiiragi-san
terlihat sangat serius, dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Namun, mengungkapkan
perasaanku secara terang-terangan saat ini terasa terlalu memalukan. Dengan
sangat hati-hati kupilih kata-kataku, menjaga ekspresi wajahku tetap senetral
mungkin.
"Yah, kalian kan
baru berpacaran sebentar, benar? Dia mungkin cuma berusaha untuk tidak
terburu-buru. Kalau secara pribadi, menurutku pacarku itu begitu manis
sampai-sampai aku takut kalau tidak menahan diri, aku bakal ingin membanjirinya
dengan rasa sayang tanpa henti setiap saat."
"Benarkah? Apa
memang begitu yang dia rasakan?"
"I-iya. Aku harus berusaha keras
mengendalikan diriku secara sadar."
Kata-kataku sempat sedikit
tersendat, tetapi aku berhasil mempertahankan ketenanganku. Sialan, kenapa
malah aku yang berakhir dibuat salah tingkah di sini?
Biasanya akulah yang
menjahili Saito dan menikmati reaksinya, tapi sekarang malah diriku yang
terjebak di posisi ini.
Hiiragi-san meremas ujung
seragamnya erat-erat, kedua pipinya merona merah muda yang manis.
"Kalau memang begitu
alasannya, kurasa hal itu bisa dimaklumi."
"Kuyakin pacarmu
merasakan hal yang persis sama, Hiiragi-san."
"Hmm. Tanaka-senpai,
kau benar-benar sangat paham bagaimana cara kerja pikiran cowok, ya?"
Mai menatapku dengan
ekspresi kagum. Tentu saja aku paham—wong akulah cowok yang sedang dibicarakan.
"Kau merasa sedikit
lebih tenang sekarang?"
"Sedikit.
Tapi..."
"Tapi?"
"Setidaknya aku ingin
dia memanggilku dengan nama depanku."
"Tunggu, dia belum
pernah memanggil nama depanmu sama sekali!?"
Mai memekik kaget,
suaranya dipenuhi rasa tak percaya. Reaksi itu tidak mengejutkan; aku sendiri
bahkan baru menyadarinya sekarang. Sejak awal, aku selalu memanggilnya dengan
nama keluarga "Saito". Memanggilnya "Rena" terasa sangat canggung
dan asing di lidahku.
"Iya, aneh sekali
rasanya tidak saling memanggil nama depan, padahal sudah resmi berpacaran. Wajar saja kalau dia
merasa cemas."
"Benar,
kan?"
Hiiragi-san dan Mai
kompak mengangguk setuju. Obrolan mereka terasa menyengat telingaku. Kazuki pasti
bakal tertawa terbahak-bahak sampai puas kalau mendengar hal ini.
"Apa pacarmu itu
baik-baik saja?"
"Tentu saja. Dia orang yang sangat
luar biasa. Kurasa dia cuma belum
sempat memikirkannya saja."
Hiiragi-san menghela napas
panjang. Tebakannya tepat sasaran. Jelas sekali ini masalah yang harus segera
kuselesaikan. Dengan festival bunga sakura yang sebentar lagi tiba, momen itu
rasanya adalah kesempatan yang sangat sempurna.
Jika aku mulai memanggilnya "Rena",
mungkin dia juga akan mulai memanggil nama depanku. Membayangkan mendengar
suaranya menyebut namaku memenuhiku dengan rasa antusias yang aneh. Dalam hati
aku membulatkan tekad untuk mewujudkannya nanti.
***
Hari terakhir liburan
musim semi berlangsung cerah tanpa awan. Ramalan cuaca menyebutkan bahwa cuaca
cerah menyelimuti seluruh negeri, dengan suhu yang diperkirakan akan melonjak
cukup tinggi. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi matahari sudah
mulai naik tinggi di ufuk timur. Ketika aku tiba di stasiun, Saito sudah berada
di sana, tampak jauh lebih ceria dari biasanya.
"Ah, Tanaka-kun.
Selamat pagi!"
"…Mm, pagi."
"Kau kelihatan
mengantuk sekali."
"Tentu saja. Jam
segini biasanya aku masih tidur nyenyak di kasur."
Sebagai makhluk nokturnal
tulen, sinar matahari yang begitu menyilaukan ini terasa persis musuh
bebuyutanku.
"Pagi ini indah
sekali. Kau harus menikmatinya."
"Rasanya lebih
seperti matahari ini berniat membakar tubuhku jadi abu."
"Kalau kau seorang
vampir, kau pasti bakal mengurung diri di dalam peti matimu sepanjang
hari."
"Aku tidak bisa
membantah hal itu."
"Kau tidak perlu
menyetujuinya sekuat itu juga."
Ia memberiku tatapan
tajam, padahal dia sendiri yang melontarkan komentar itu barusan. Aku tidak
habis pikir.
Ketika berhasil membuka
mataku sepenuhnya, kuperhatikan penampilannya.
"Kau benar-benar
berdandan maksimal hari ini ya?"
Ia mengenakan terusan gaun
putih sederhana, tetapi tatanan rambutnya terlihat sangat rapi dan teliti.
Rambutnya dikepang dengan gaya half-updo, dihiasi pita berbentuk bunga
yang menyatu indah di antara jalinan kepangannya layaknya bando. Terlihat
sangat jelas bahwa ia mencurahkan banyak waktu dan usaha untuk penampilannya
hari ini.
"Aku begitu
bersemangat sampai-sampai sudah bangun sejak jam empat pagi tadi."
"Jam empat!? Itu kan
masih tengah malam!"
Aku menatapnya terperangah
tak percaya. Bangun di jam yang luar biasa pagi seperti itu adalah hal yang
mustahil bagiku.
"Tolong jangan
menatapku seolah-olah aku ini makhluk dari dimensi lain."
"Bagaimana kau tahu
apa yang sedang kupikirkan?"
"Jadi tebakanku benar
ya…"
Ia menghela napas kecil
yang pasrah. Belakangan ini kemampuannya menebak isi kepalaku benar-benar mulai
terasa meresahkan.
"Karena sudah keburu
bangun pagi, kuputuskan untuk mencoba mengepang rambutku."
"Yah, kelihatannya
sangat bagus. Sangat cocok untukmu."
"Fufufu, terima
kasih."
Senyum bahagianya terlihat
sangat berseri-seri. Dia begitu cantik memukau—layaknya seberkas sinar mentari
yang hangat dan memesona. Rasanya sulit untuk memalingkan pandangan darinya.
"Ayo, Tanaka-kun,
kita berangkat. Keretanya sebentar lagi tiba."
Biasanya ia selalu
bersikap lebih jaim, tetapi hari ini, tanpa ragu sedikit pun, ia mengulurkan
tangannya dan menautkan jari-jemarinya di sela-sela jariku. Sentuhannya yang
terasa sedikit dingin menyebar di telapak tanganku. Ia menggenggamnya erat lalu
menarikku melangkah maju.
Kereta tiba tepat waktu,
dan kami naik ke dalam gerbong tanpa kendala. Mungkin karena masih sangat pagi,
penumpang di dalam kereta tergolong sepi. Kami duduk di kursi untuk dua orang,
bergoyang teratur mengikuti laju kereta.
Ayunan ritmisnya terasa
begitu menenangkan, dan rasa kantuk mulai merayap kembali ke mataku.
"Hwaaah."
"Kau kelihatan
mengantuk sekali."
"Yah, begitulah.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bangun jam enam pagi."
"Kau sebenarnya tidak
perlu bangun sepagi itu cuma untuk berangkat... Oh, jadi itu alasannya."
Saito menatap wajahku lalu
menyeringai penuh arti.
"Kau sengaja
meluangkan waktu untuk berdandan juga kan hari ini?"
"Kurang lebih
begitu."
Berbeda dari pakaian
kasual santai yang biasa kukenakan ke sekolah, hari ini aku mengenakan setelan
rapi persis seperti saat aku berangkat kerja paruh waktu. Mempersiapkan
penampilan ini memaksaku bangun jauh lebih awal dari biasanya.
"Aku memang sudah
pernah melihatnya sebelumnya, tapi menurutku pakaian ini benar-benar sangat
cocok untukmu."
"Yah, terima
kasih."
Dipuji seperti itu rasanya
sama sekali tidak buruk. Jarang sekali ada orang yang memuji pakaian kerjaku,
jadi mendengarnya terasa sangat menyegarkan di telingaku.
"Kenapa kau tidak
memakai pakaian seperti ini ke sekolah saja?"
"Untuk apa?
Merepotkan sekali."
"Serius deh, kalau
kau tidak sebegini pemalasnya, kau pasti bakal jauh lebih populer di
sekolah."
"Membaca buku jauh
lebih penting daripada membuang-buang waktu untuk hal semacam itu."
"Kalau begitu kenapa
kau tidak menikah dengan buku saja sekalian?"
"Memangnya hal itu
benar-benar bisa kulakukan!?"
"Itu cuma kiasan
saja."
Ia memotong perkataanku
dengan tegas. Padahal aku sudah sempat berharap hal itu mungkin.
"Perjalanan kita
masih cukup panjang, jadi tidur saja kalau kau mau."
Acara sesi tanda tangan
ini berjarak tiga jam perjalanan menggunakan kereta, jadi kami belum akan
sampai dalam waktu dekat. Meskipun ini secara teknis adalah sebuah kencan, jauh
lebih baik tidur siang sekarang daripada terserang kantuk di tengah acara
nanti.
"Kau yakin tidak
apa-apa?"
"Iya. Aku bisa
menghabiskan waktu melihat pemandangan atau bermain ponsel. Karena kau sudah
rela bangun pagi demi diriku, kuizinkan kau tidur."
Saito mengangguk dengan
senyum lebar, tampak tulus merasa senang, jadi kuputuskan untuk menerima
tawarannya. Sayangnya, kursi kereta ini tidak bisa direbahkan, jadi kulipat
kedua tanganku di dada, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, lalu memejamkan
mata. Rasa kantuk seketika menarik kesadaranku dalam hitungan detik.
Seiring kian dalamnya rasa
kantuk dan memudarnya kesadaranku, aku teringat obrolan di tempat kerja tempo
hari.
Rupanya Saito
diam-diam sangat mendambakan kemesraan dan kontak fisik. Dia sudah menahan diri sejak lama, jadi jika dia tidak
keberatan kusandari, tidak ada alasan bagiku untuk ragu-ragu. Dengan perlahan,
kusandarkan kepalaku di atas pundaknya.
(Hm, posisinya terasa
sangat nyaman.)
Ketegangan di leherku
seketika mereda, dan posisi tubuhku terasa jauh lebih rileks. Kehangatan samar
dari tubuhnya meresap melalui kain pakaiannya, menghadirkan rasa nyaman yang
menenteramkan. Rasa kantuk merengkuhku seutuhnya.
Tepat sebelum aku
benar-benar terlelap, samar-samar kudengar suara pekikan kecil kaget,
"Kyaa!"
(Eh, suara apa itu
barusan...?)
Sensasi aneh di kepalaku
menarikku kembali dari tidurku.
Sesuatu sedang membelai
dan menyusuri helaian rambutku berulang kali. Sentuhannya yang begitu lembut
dan penuh kehati-hatian terasa sangat menenangkan. Seiring kesadaranku yang
mulai menajam, kusadari bahwa itu adalah tangan Saito.
Berusaha agar tidak
ketahuan kalau aku sudah bangun, tubuhku sedikit menegang kaku. Tangannya terus
menyisir lembut rambutku perlahan.
Begitu terjaga sepenuhnya,
aku memahami situasinya. Aku sedang bersandar di pundak Saito, dan dia sedang
asyik membelai rambutku.
Aku tidak tahu apa yang
menurutnya begitu menyenangkan dari hal itu, tetapi bahkan saat aku sedang
bingung memikirkannya, ia terus melanjutkannya.
Terkadang ia menekan
lembut rambutku, di saat lain ia merapikannya perlahan. Dia tampak benar-benar
sedang bersenang-senang menikmati momen ini.
Kubuka mataku sedikit,
berusaha mengintip, tetapi posisi duduk kami yang berdampingan membuatnya
mustahil untuk melihat ekspresi wajahnya.
Selagi aku menimbang
apa yang harus kulakukan, gerakannya terhenti. Untuk sesaat kupikir dia sudah
selesai, tetapi kemudian kudengar suara hirupan napas pelan.
(Hei, apa-apaan ini?)
Dia sepertinya baru saja
mengendus aroma rambutku. Meskipun tidak terasa mengganggu, situasinya secara
keseluruhan tak terbantahkan terasa sangat ganjil.
Bagaimana aku harus
menyikapi hal semacam ini?
Sebelum aku sempat
merespons, ia kembali melanjutkan membelai rambutku. Aku tidak bisa membiarkan
situasi ini berlanjut selamanya.
"Mm."
Aku sengaja melontarkan
gumaman kecil dan menggeser tubuhku. Tangannya seketika ditarik mundur secepat
kilat. Ketika perlahan kubuka mataku dan mengangkat kepala, Saito sudah
berbalik menatap keluar jendela, wajahnya sedikit berpaling. Ia melirikku dari sudut
matanya.
"Oh, Tanaka-kun. Kau
sudah bangun."
"Iya... Maaf ya
sempat ketiduran di pundakmu."
Aku sempat ragu untuk
mengungkitnya, tetapi karena dia tampak merasa malu, kuputuskan untuk tidak
membahasnya. Jika dia ingin membicarakannya, dia sendiri yang akan memulainya.
Tadinya aku ingin bertanya
apakah membelai kepalaku tadi menyenangkan, tetapi kusimpan saja bahan lelucon
itu untuk di tempat kerja nanti. Melihat reaksinya yang salah tingkah saat tahu
aku membongkarnya pasti bakal sangat menghibur.
"Kau terjaga
sepanjang perjalanan tadi?"
"Kecuali sempat
merasa sedikit mengantuk sebentar, sebagian besarnya kuhabiskan memandangi
pemandangan luar."
"Berapa lama lagi
kita sampai?"
"Sebentar lagi
sampai."
Ternyata aku tertidur jauh
lebih lama dari dugaanku. Pundak Saito pasti jauh lebih nyaman dari yang
kusadari. Selagi menguap dan mengucek mataku, kulihat kedua pipinya merona
merah muda tipis.
"Ada apa?"
"Um, tadi kau
bersandar di pundakku waktu tidur... Apa posisinya tidak nyaman?"
"Tidak, nyaman
sekali. Malahan aku tidur
sangat nyenyak tadi. Maaf ya memakai pundakmu
tanpa izin dulu."
"T-tidak apa-apa, aku
cuma kaget saja tadi, jadi bukan masalah."
Jadi pekikan kaget yang
kudengar sebelum terlelap tadi memang bukan sekadar halusinasiku belaka.
"Ah, seingatku aku
sempat mendengar suara seperti itu sebelum terlelap tadi."
"Kau
mendengarnya!?"
"Iya. Kurasa aku
penasaran ingin tahu bagaimana reaksimu."
"Kau mengagetkanku
tahu! Tapi... aku tidak keberatan sama sekali."
"Boleh kulakukan lagi
nanti?"
"E-eh? Maksudku,
tentu saja boleh kalau kau mau..."
Pipinya berubah menjadi
warna merah yang jauh lebih pekat saat ia mengangguk.
"Tapi, um, bolehkah
lain kali aku meminjam pundakmu juga?"
"Tentu saja. Mau coba
sekarang?"
Waktunya memang tinggal
sedikit, tetapi masih cukup untuk tidur siang sebentar. Menawarkan pundakku
terasa adil karena aku baru saja memakai pundaknya tadi. Saat aku sedikit
memiringkan tubuhku agar lebih mudah baginya, ia menggelengkan kepalanya dengan
cepat.
"T-tidak, nanti saja
waktu perjalanan pulang."
"Baiklah kalau
begitu."
Kukira dia ingin
mencobanya sekarang juga, tapi ternyata tidak. Aku mengangguk, sedikit heran.
Selagi kami mengobrol,
kereta akhirnya tiba di stasiun tujuan kami. Sebagian besar penumpang mulai
beranjak turun, dan kami mengikuti arus kerumunan keluar dari gerbong.
***
Begitu menginjakkan kaki
di peron, keriuhan stasiun yang ramai langsung menyergap kami. Suara obrolan
kerumunan datang silih berganti, terdengar nyaring lalu perlahan memudar ke
kejauhan.
"Untuk sekarang, ayo
kita cari tahu dulu lokasi acara sesi tanda tangannya. Begitu tahu tempatnya,
kita bisa jalan-jalan melihat area sekitarnya."
"Ide bagus."
Aku menggenggam tangan
kanan Saito untuk memastikan kami tidak terpisah di tengah kerumunan.
Merasakan sensasi
genggaman yang kini sudah terasa familier, kami melangkah menuju gerbang tiket.
"Ramai sekali
orangnya ya."
"Jangan sampai
tersesat."
"Tidak akan. Kau kan
sedang menggandeng tanganku, jadi aku pasti aman."
"Baiklah, tapi aku
khawatir waktu kita melepas genggaman nanti. Kau kelihatan seperti tipe orang
yang gampang terseret arus kerumunan."
"Kalau soal itu, aku
justru jauh lebih mengkhawatirkan dirimu. Dengan banyaknya toko buku di sekitar
sini, siapa yang tahu kapan kau bakal terpikat lalu menghilang begitu
saja."
"Aku tidak bisa
membantah hal itu."
"Tolong bantah
dong..."
Di tengah obrolan santai
yang remeh itu, kami berhasil melewati gerbang tiket.
"Bukankah katanya ada
toko buku di salah satu gedung ini?"
"Iya, kelihatannya
ada di gedung sebelah sana. Tepat di sebelah situ."
Saito mengecek peta di
ponselnya lalu menunjuk ke arah sebuah gedung bertingkat dengan dinding kaca.
"Pasti toko buku
yang sangat besar. Aku jadi bersemangat. Mereka pasti punya banyak sekali koleksi buku."
"Ayolah, tujuan utama
kita hari ini kan acara sesi tanda tangan."
"Aku tahu. Toko buku
itu cuma bonus saja."
"Wajahmu tadi sama
sekali tidak kelihatan seperti menganggapnya 'cuma bonus'."
Saito secara berlebihan
memasang wajah penuh binar teatrikal, seolah sedang menengadah menatap
keagungan langit. Cara menirunya yang dilebih-lebihkan terlihat sangat detail
sampai terasa menggelikan.
"Tadi kau memasang
wajah persis seperti ini."
"Bagaimana bisa kau
menirukannya seakurat itu?"
"Kelihatan jelas
sekali. Setiap kali kau memasang ekspresi seperti itu, kau biasanya sedang
tidak memikirkan hal-hal yang benar."
Ia menundukkan
pandangannya ke tanah lalu mengangkat bahunya, seolah ingin berkata, "Aku
sudah terlalu terbiasa dengan kelakuanmu ini”.
Tunggu, apa ekspresi
wajahku benar-benar semudah itu dibaca?
"Aku tahu kau sangat
mencintai buku, Tanaka-kun, tapi kau boleh melihat-lihat sepuasmu nanti setelah
acaranya selesai. Pokoknya jangan sampai kau hilang kendali seutuhnya,
paham?"
Ia menodongkan jari
telunjuknya ke arahku dengan gerakan tegas, ekspresi wajahnya terlihat sangat
serius. Sungguh menggemaskan.
"Kau mendengarkanku,
kan?"
"I-iya. Aku
mendengarkan."
"Kau jelas-jelas sama
sekali tidak mendengarkanku. Aku serius tahu!"
Fokusku teralihkan,
terpesona oleh betapa manisnya sosoknya saat ini. Akhir-akhir ini, segala hal
yang dilakukan Saito entah mengapa selalu terlihat sangat menggemaskan di
mataku. Bahkan saat ini, ketika ia menggenggam tanganku dan memimpin jalan
dengan penuh percaya diri, ia terlihat begitu memikat hati.
Tanpa ragu-ragu, ia
membimbing kami menuju pintu masuk gedung, di mana kami sudah bisa melihat
bahwa lantai pertama ditempati oleh sebuah toko buku yang sangat luas.
Ukurannya jauh lebih besar daripada toko buku lokal mana pun yang pernah
kulihat seumur hidupku.
Saat melangkah masuk ke
dalam, ketenangan khas toko buku seketika menyelimuti kami. Suara gesekan pelan
langkah kaki dan atmosfer hening di dalamnya terasa begitu memabukkan.
(Wah!)
Toko buku langganan memang
menyenangkan, tetapi mengunjungi toko buku yang baru selalu saja sukses
membuatku luar biasa bersemangat. Di toko yang sudah biasa dikunjungi, kau tahu
persis di mana letak setiap buku, dan peluangmu untuk menemukan hal baru
terbatas hanya pada rilis-rilis terbaru saja.
Namun, di toko buku yang
asing, kemungkinannya terasa tanpa batas. Aku menghentikan langkahku di dekat
pintu masuk untuk mengagumi pemandangannya.
"Wah."
"Ada apa?"
Saito memiringkan
kepalanya penasaran, jadi kujelaskan padanya.
Di dekat pintu masuk,
rak-rak buku memamerkan deretan novel dan manga baru dengan sampul depannya
menghadap ke luar secara penuh. Sebagian besar toko buku hanya melakukan hal
ini untuk beberapa judul populer pilihan saja, jadi menyaksikan penggunaan ruang
rak yang begitu mewah seperti ini adalah hal yang sangat langka. Biasanya
penataan semacam ini akan mengurangi jumlah total buku yang bisa ditampung oleh
sebuah rak.
"Kau benar. Penataan
seperti itu memang jarang terlihat."
"Tepat sekali. Toko
buku semacam inilah yang kusebut sebagai toko buku kaum borjuis."
"Borjuis? Apa-apaan
sih istilahmu itu? Ayo lekas jalan."
Kukira itu cara yang
cerdas untuk mendeskripsikannya, tetapi Saito tampaknya kurang menghargai
pilihan kataku barusan. Ia menarik tanganku, memaksaku untuk kembali melangkah.
Meski begitu, mataku lekas menangkap sesuatu yang menarik perhatianku.
"Tunggu, sebentar.
Buku baru dari penulis ini sudah terbit sekarang?"
"Ayolah, ayo jalan.
Kau boleh melihatnya sepuasmu nanti."
Saito mengabaikanku
sepenuhnya, menyeretku terus maju. Bahkan saat kami berjalan, rak-rak yang
dipenuhi buku-buku menggoda seolah sedang mengejekku, tetapi aku tidak punya
kesempatan untuk berhenti. Kami akhirnya tiba di tempat yang tampaknya
merupakan area acara.
Lima puluh kursi tersusun
rapi dalam beberapa baris, dengan sebuah meja panjang dan kursi di bagian
depan. Sebuah mikrofon berdiri di dekatnya untuk pembawa acara. Sekitar sepuluh
orang sudah duduk menunggu di dalam. Areanya dibatasi oleh tali pembatas, dengan
seorang staf berseragam biru tua yang berjaga di pintu masuknya.
"Apakah Anda
hadir untuk acara sesi tanda tangan? Boleh saya periksa email konfirmasinya?"
Saito memperlihatkan layar
ponselnya, dan staf tersebut mengangguk sebelum memandu kami menuju tempat
duduk kami di baris kedua, tepat di bagian tengah.
"Serius deh,
Tanaka-kun, kita butuh waktu lama sekali cuma untuk sampai ke sini gara-gara
kau terus-menerus mau berhenti. Kita cuma punya sisa waktu sepuluh menit
sebelum mulai."
"Yah, maksudku
kan..."
"Tidak ada
alasan. Hari ini, aku yang akan memegang kendali atas dirimu. Kalau kuserahkan
padamu, kita bakal menghabiskan sepanjang hari cuma di dalam toko buku."
Saito membusungkan
dadanya penuh tekad. Dia memang terlalu mengenalku luar dalam.
"Toko buku
sebesar ini cukup untuk kuhabiskan selama setahun penuh, bukan cuma
sehari."
"Sumpah ya,
kelakuanmu belakangan ini makin parah tahu, Tanaka-kun."
"Kejam sekali
bicaramu. Aku kan cuma jujur."
"Hal itu justru
membuatnya berkali-kali lipat lebih parah."
Saito menghela napas
panjang, meremas tangan kiriku perlahan selagi melakukannya. Di pangkuannya
bertengger sebuah tas yang ukurannya sedikit lebih besar dari biasanya, yang
bergerak sedikit saat ia membetulkan posisi duduknya.
"Tasmu kelihatan
lebih besar hari ini."
"Oh, iya. Tadi aku
bingung memilih buku mana yang mau kutandatangankan, jadi kubawa beberapa
pilihan."
Ia merogoh isi tasnya,
mengeluarkan tiga buku berbeda dengan sampul yang bervariasi.
"Menurutmu buku mana
yang sebaiknya kupilih?"
"Mana kutahu?"
Buku-buku yang ia
perlihatkan semuanya sama-sama layak: novel debut pertamanya, karyanya yang
paling terkenal, dan rilisan terbarunya. Orang sepertiku pun pasti bakal
kesulitan menentukan pilihan.
"Mungkin yang paling
terkenal, karena itu karya mahakaryanya yang paling ikonik?"
"Kemungkinan besar
iya. Tapi aku sangat menyukai novel debut pertamanya ini... Tunggu, bagaimana
kau bisa tahu kalau aku suka novel debutnya?"
"Tertulis di akun
ulasan bukumu."
"Bagaimana kau bisa
tahu soal akun rahasia itu!?"
"Kau pernah
memperlihatkannya padaku sekali dulu."
Ia tampak tersentak kaget,
tetapi aku tidak paham kenapa dia harus sekaget itu. Dia sendiri kan yang
memperlihatkannya padaku waktu itu.
"Iya sih memang, tapi
kan cuma sekilas saja. Bagaimana bisa kau mengingatnya?"
"Aku punya daya ingat
yang bagus. Berkat membaca banyak buku."
"Bakat aneh lainnya
lagi... Apa kau melihat hal-hal aneh di akunku?"
"Tidak juga.
Ulasan-ulasanmu sangat menarik untuk dibaca."
Aku biasanya tidak pernah
membagikan pemikiranku sendiri secara daring, jadi sangat menarik melihat sudut
pandangnya dan menemukan buku-buku bagus yang sebelumnya belum pernah kudengar.
"Aku tidak pernah
membayangkan kau bakal bermain media sosial, Tanaka-kun."
"Yah, kalau kau yang
menulisnya, tentu saja aku ingin tahu apa saja yang kau katakan."
"Isinya cuma ulasan
buku saja, kok."
"Memang benar.
Tapi kau juga sempat menyukai beberapa foto kucing di sana, kan?"
"Memangnya apa
yang salah dengan foto kucing?"
"Seperti biasa,
kau memang sangat menyukai kucing, ya."
"Kucing adalah
favorit abadiku. Desain tubuh mereka adalah rasio emas (golden ratio)
dari keimutan yang hakiki."
"Iya, iya, terserah
kau sajalah."
Memangnya apa itu
"rasio emas"? Sama sekali tidak masuk akal bagiku, tetapi aku cukup
tahu diri untuk tidak memperpanjang topik tersebut. Jika kuladeni, Saito tidak
akan pernah berhenti berbicara. Sejujurnya, ini adalah salah satu sifat uniknya
yang agak nyentrik. Manis, tapi memang nyentrik.
***
Selagi kami terus
mengobrol ringan, persiapan acara tampaknya telah rampung. Seorang staf berdiri
di bagian depan bersama dengan orang lain.
"Acara sesi tanda
tangan akan segera kita mulai. Mari kita sambut tamu kehormatan kita dengan
tepuk tangan yang meriah."
Mendengar pengumuman
tersebut, seorang wanita melangkah keluar dari pintu belakang, membungkuk
beberapa kali dengan sopan selagi berjalan menuju bagian depan. Ia mengambil tempat
duduk di meja panjang di depan ruangan.
Sebelum sesi tanda
tangan dimulai, ada sesi bincang-bincang singkat terlebih dahulu. Pembahasannya
mencakup berbagai hal mulai dari preferensi pribadi sang penulis hingga
cerita-cerita di balik layar pembuatan karya-karyanya.
Sungguh pengalaman
yang sangat menarik mendengarnya langsung dari sang penulis, sesuatu yang belum
pernah kurasakan sebelumnya. Di sampingku, mata Saito berbinar-binar saat
menyaksikannya dengan saksama, tenggelam seutuhnya.
Setelah beberapa sesi
tanya jawab usai, sesi tanda tangan pun resmi dimulai. Saito berdiri mengantre,
raut wajahnya tampak sangat tegang, lalu menyerahkan bukunya untuk
ditandatangani.
Dari kejauhan, aku tidak
bisa mendengar percakapan mereka, tetapi gestur tangannya yang berapi-api
memperjelas bahwa ia sedang berbicara dengan antusiasme yang luar biasa tinggi.
Penggemar fanatik
garis keras memang berada di tingkatan yang berbeda. Pada akhirnya, ia diantar
mundur perlahan oleh staf dan kembali menghampiriku.
"Lihat! Aku
berhasil dapat tanda tangannya!"
Ia memamerkan bukunya
dengan sangat bangga. Di bagian dalam sampulnya tertera tanda tangan yang
digambar rapi, dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk seekor
kucing.
Sang penulis rupanya
juga seorang pencinta kucing persis seperti Saito.
"Oh, kau sadar
tanda tangannya mirip kucing? Beliau itu pencinta kucing kelas berat, tahu.
Beliau sering mengunggah foto kucing peliharaannya, Al-chan, di media sosial.
Kucing jenis belacu (calico), dan manis sekali."
"Kedengarannya
kalian berdua bakal sangat cocok berteman."
"Tidak ada orang
jahat yang menyukai kucing. Kita semua adalah kawan seperjuangan."
"Apa semua pencinta
kucing memang punya pola pikir seperti itu?"
"Apa maksudmu dengan
'seperti itu'?"
Dia tampaknya tidak
menyadarinya sendiri. Matanya yang membelalak lebar memperjelas hal itu.
"Kau tahu kan,
kebiasaan kalian yang suka 'menyembah kucing' itu."
"Kucing adalah dewa.
Mereka adalah makhluk yang begitu berharga sampai-sampai menyembah mereka
adalah hal yang sangat lumrah."
Saito membusungkan dadanya
dengan bangga. Dia terlihat begitu puas dengan dirinya sendiri, tetapi aku
tetap tidak habis pikir. Meski begitu, melegakan melihatnya tetap menjadi
dirinya sendiri yang biasa.
"Tadi kelihatannya
kalian mengobrol cukup lama. Memangnya bicara apa saja?"
"Kusampaikan seluruh
pendapatku mulai dari karya-karya awalnya hingga yang terbaru, dan kuberitahu
betapa aku selalu mendukungnya. Oh, dan beliau tahu soal masukan yang kutinggalkan di
kolom komentar!"
"Serius?"
"Rupanya staf
penerbit sempat menceritakan padanya tentang ada seorang penggemar yang luar
biasa fanatik, dan beliau membaca masukanku itu."
Tampaknya segalanya
berjalan persis sesuai rencana Saito. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya
dia saat diakui langsung oleh penulis idolanya. Bagi orang sepertinya, hal itu
sama saja seperti mendapat pengakuan langsung dari sang dewa.
"Bahkan orang
sepertiku pun tahu kau ini penggemar garis keras, jadi stafnya pasti kaget
bukan main."
"Beliau bilang belum
pernah melihat ada orang yang mengirim komentar sebanyak itu sekaligus
sebelumnya."
"Iya, mana ada
orang normal yang bakal melakukan hal segila itu."
Jika ada banyak
penggemar seperti Saito di dunia ini, para penulis tidak akan pernah bisa hidup
tenang. Dalam artian tertentu, dia ini layaknya kritikus tingkat akhir.
"Kalau mau
menyebut diri sendiri sebagai penggemar, usaha sebanyak itu adalah standar
paling minimal."
"Kalau standarmu
setinggi itu, sebagian besar orang di dunia ini tidak pantas menyebut diri
mereka penggemar apa pun."
"Orang-orang lain
itu cuma kurang punya gairah saja."
Saito melipat kedua
tangannya di dada lalu mendengus bangga. Standarnya benar-benar tidak masuk
akal tingginya.
"Di tingkatmu
yang seperti itu, bahkan aku pun tidak sanggup bersaing."
"Eh? Kalau
menyangkut urusan buku, kau itu jauh lebih intens dan parah dibanding diriku
tahu, Tanaka-kun."
"Tunggu, apa
katamu?"
"Apa?"
Aku menatapnya tak
percaya, dan ia membalas tatapanku dengan mata membelalak lebar. Apa dia
benar-benar berpikir aku berada di tingkat kegilaan yang sama dengannya? Aku menolak mengakuinya.
"Ya sudah, kalau
urusan di sini sudah selesai, ayo kita lihat-lihat buku."
"Jangan lupa, kita
masih punya jadwal pergi ke festival untuk melihat bunga sakura setelah ini
ya."
"Aku tahu, aku tahu.
Cuma satu jam saja, boleh ya? Kumohon?"
Saito menghela napas
pasrah, tetapi akhirnya mengangguk. Belakangan ini aku baru sadar bahwa jika
aku memohon dengan sungguh-sungguh, dia sering kali luluh dan mengalah.
Aku mulai khawatir diriku
bakal berubah menjadi orang yang makin buruk jika terus-menerus memanfaatkan
kebaikannya ini. Keterampilan hidupku sudah berada di bawah rata-rata, dan aku
tidak ingin kondisiku makin merosot. Aku harus lebih berhati-hati.
Kami sepakat untuk bertemu
kembali di dekat meja kasir dalam waktu satu jam lalu berpisah ke arah
masing-masing. Aku langsung melangkah menuju papan denah lantai di sebelah
eskalator.
"Wah."
Seluruh lantai ini
didedikasikan untuk toko buku, dengan area khusus novel yang sangat luas
membentang. Rasa antusiasku seketika membuncah. Kuhafal tata letaknya di kepala
lalu lekas melangkah menuju deretan rak.
Sebagian besar toko buku
memiliki pola tata letak yang serupa, jadi menyusurinya terasa sudah seperti
insting alami bagiku. Pengalaman bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Mungkin ini keahlian yang bisa kupamerkan di hadapan Saito nanti.
Ketika tiba di area novel,
rak-rak buku yang menjulang tinggi berdiri kokoh di sepanjang dinding, tersusun
tiga baris ke dalam. Sekadar berjalan menyusurinya dan melihat-lihat judulnya
saja sudah menghadirkan kebahagiaan murni. Kuambil sebuah buku yang menarik
perhatianku lalu mulai membaca.
***
"...Tanaka-kun."
Aku tersentak keluar dari
lamunan duniaku saat kurasakan tubuhku diguncang perlahan. Di sampingku, Saito
sedang berdiri menatapku dengan alis yang sedikit berkerut.
"Sudah
waktunya."
"Apa!?"
Kucek jam tanganku. Aku
sudah melewati batas waktu perjanjian kami selama tiga menit.
"Maaf, aku terlalu
larut ke dalam ceritanya."
"Sudah kuduga. Tapi
kalau kau menemukan buku yang bagus, ya sudah tidak apa-apa. Mau kau
beli?"
"Tentu saja. Tunggu
sebentar ya."
Aku lekas membayar di
kasir lalu melangkah keluar meninggalkan toko. Kerumunan pengunjung di sore
hari terasa jauh lebih padat dibandingkan dengan saat kami baru tiba tadi.
Beberapa orang yang melintas tampak melayangkan pandangan ke arah Saito selagi
kami berjalan beriringan.
Saito tampak sama sekali
tidak terganggu oleh perhatian orang-orang, kemungkinan besar sudah sangat
terbiasa dengan hal tersebut.
"Waktunya pas sekali.
Ada festival bunga sakura di dekat sini."
"Iya. Informasi itu
langsung muncul paling atas waktu kucari di internet, jadi tempatnya pasti
sangat terkenal."
"Memang terkenal.
Bahkan aku sendiri pun sudah tahu tempat itu sejak lama."
"Benarkah?"
"Itu tempat
berfoto yang sangat populer. Banyak anak muda yang datang ke sana. Mereka bahkan menyalakan
lampu-lampu hias (light-up) saat malam hari."
Ia memperlihatkan
foto-foto bunga sakura yang bermandikan pendar cahaya lampu malam yang indah di
ponselnya. Pemandangannya sungguh memukau, dan aku bisa paham kenapa tempat itu
begitu populer.
"Iya, indah
sekali."
"...Kau ternyata bisa
mengapresiasi pemandangan seperti ini juga ya?"
"Kau ini menganggapku
orang seperti apa sih sebenarnya?"
"Kupikir kepekaan
inderawimu terhadap hal-hal selain buku sudah mati total."
"Itu tidak benar.
Foto ini... uh, warnanya merah muda. Bagus sekali."
"Kau benar-benar
harus belajar cara mengekspresikan pendapatmu dengan lebih baik lagi."
Tatapan menyipit datar
Saito menusuk tepat ke arahku.
"Kenapa? Deskripsiku
tadi akurat kok."
"Kau mendeskripsikan
sesuatu terlalu harafiah. Untuk ukuran orang yang membaca begitu banyak buku,
kenapa kau payah sekali merangkai kata untuk mengungkapkan isi pikiranmu?
Benar-benar sebuah misteri besar."
Saito menempelkan
tangannya di pipi lalu memiringkan kepala, seolah sedang merenungkan pertanyaan
filosofis yang sangat mendalam. Jangan membuatnya terdengar seberat itu dong.
"Kalau menyangkut
buku, aku bisa membicarakannya dengan penuh gairah dan sangat fasih,
tahu."
"Jadi pada akhirnya
itu cuma karena kau tidak mau berusaha saja. Sangat khas dirimu,
Tanaka-kun."
Kukira dia bakal merasa
lebih pasrah, tetapi ia menerimanya dengan toleransi yang mengejutkan. Rasanya
agak sedikit janggal.
Festival bunga sakura
tersebut diadakan di sebuah taman yang berjarak tiga stasiun dari tempat kami
berada, jadi kami menuju ke sana bersama-sama.
Ketika tiba di lokasi,
areanya sudah dipadati oleh arus pengunjung yang seolah tiada habisnya
melangkah menuju arena festival. Kerumunannya jauh lebih besar dari yang
kubayangkan.
Rupanya ini adalah acara
tahunan yang rutin, bukan sekadar festival musiman sekali jalan. Orang-orang
tampaknya memang sangat menggemari bunga sakura.
"Kapan ya terakhir
kali aku sengaja pergi keluar rumah khusus demi melihat bunga sakura? Rasanya
sudah lama sekali."
"Aku cukup sering
melihatnya. Ada tempat bagus di tepi sungai di kampung halamanku."
"Oh iya, aku ingat
pernah pergi bersama orang tuaku waktu masih kecil dulu. Mungkin itu kali
terakhir bagiku."
"Kedengarannya masuk
akal. Tapi Tanaka-kun, kau kan kelihatannya tidak terlalu tertarik pada bunga
sakura, lalu kenapa kau mengajakku pergi hanami(melihat bunga sakura)?"
"Yah, itu
kan..."
Sekarang setelah ia
menanyakannya secara langsung, rasanya agak sulit untuk dijawab. Sebenarnya
hanya ada satu alasan murni di baliknya.
"Mumpung sedang
liburan musim semi, kupikir menyenangkan rasanya kalau bisa pergi ke suatu
tempat bersamamu, Saito. Festival ini kebetulan ide yang paling praktis untuk
kuusulkan."
"Begitu ya. Masuk
akal juga."
Puas dengan jawabanku,
Saito tersenyum lembut.
"Kau boleh mengajakku
kapan saja, tahu? Sekadar pergi keluar bersamamu saja sudah sangat menyenangkan
buatku."
"Yah, kalau kau
memang tidak keberatan."
"Hari ini pun aku
merasa sangat bersenang-senang."
"Syukurlah kalau
begitu. Tadinya kukira kau masih marah gara-gara aku lupa waktu di toko buku
tadi."
"Kalau hal itu sih
sudah jadi makanan sehari-hari sekarang. Sejak bertemu denganmu, aku belajar
bahwa keberadaan buku membuatmu menjadi sosok yang sama sekali tidak bisa
diandalkan."
"Kurasa
kejadiannya tidak sesering itu deh."
Aku tidak bisa
mengingat jumlah pastinya, tetapi seharusnya masih di bawah sepuluh kali.
Setidaknya begitulah dugaanku.
"Sudah ada
setidaknya sepuluh kali, bahkan mungkin lebih."
Ah, pupus sudah
dugaanku. Sekarang setelah ia mengungkitnya, aku kemungkinan memang sudah
terlalu sering hanyut dalam buku di hadapannya lebih dari yang kusadari.
"Sebanyak itu ya?
Yah, anggap saja itu tanda rasa percayaku padamu."
"Aku tidak butuh
tanda semacam itu. Kukembalikan padamu
saja."
Ia menggelengkan kepalanya
kuat-kuat, menolak alasanku mentah-mentah. Haruskah dia menolaknya secara
segamblang itu?
Ketika kami tiba di dalam
area taman, jalan setapaknya dipadati oleh lautan manusia. Pasangan-pasangan
kekasih yang berjalan sembari bergandengan tangan melintas di dekat kami, dan
deretan kedai makanan kaki lima berjejer rapi di dekat pintu masuk.
"Mau cari makan dulu?
Kita kan belum makan siang dari tadi."
"Benar juga. Aku
sampai lupa sama sekali. Mau beli apa?"
"Aku mau yakisoba
(mi goreng Jepang). Aku selalu membelinya setiap kali ada festival musim
panas."
"Tanaka-kun pergi ke
festival musim panas!?"
Mata Saito seketika
membelalak lebar karena kaget. Reaksinya memang tidak sepenuhnya salah, tetapi
tetap saja terasa agak menyinggung perasaanku.
"Aku juga pergi ke
festival musim panas, tahu."
"Sosok Tanaka-kun dan
festival musim panas itu rasanya seperti dua hal yang paling mustahil untuk
berdampingan di dunia ini."
"Masih banyak
kombinasi lain di luar sana yang jauh lebih mustahil. Kenapa festival musim
panas bisa masuk daftar itu?"
"Kau kan tipe cowok
yang tidak punya banyak teman. Memangnya ada alasan apa bagimu untuk pergi ke
sana?"
Sindiran tajam dari
kata-katanya menusuk tepat ke ulu hatiku. Yah, aku tidak bisa membantahnya.
"Aku punya teman,
tahu. Waktu SMP aku pernah pergi, dan bahkan tahun lalu Kazuki sempat
mengajakku."
"Mengejutkan sekali.
Kupikir kau bakal menolaknya mentah-mentah dan lebih memprioritaskan
buku."
"Tentu saja buku
tetap nomor satu."
"Mari kita
kesampingkan dulu betapa bangganya nada bicaramu soal hal itu. Jadi, kenapa kau
akhirnya tetap pergi waktu itu?"
Ia tampak benar-benar
penasaran, rasa ingin tahunya terpancing.
"Festival musim panas
kan diadakan saat liburan musim panas, benar?"
"Sebagian besar
memang di bulan Juli atau Agustus, iya."
"Waktu liburan
musim panas, aku biasanya cuma berdiam diri di rumah membaca buku, dan
keluargaku melihat kelakuanku itu sepanjang waktu."
Saito
mengangguk-angguk berulang kali seolah sedang menyimak sebuah pengungkapan
fakta yang sangat penting.
"Jadi, ibuku yang
sudah muak melihatku menyuruhku untuk pergi keluar sesekali. Karena itulah aku akhirnya
pergi."
"Jadi itu semua
berkat perhatian ibumu, ya."
"Tepat sekali. Dan
sekarang karena aku sudah tidak tinggal bersama orang tua lagi, aku bisa
membaca buku sepuasnya tanpa gangguan apa pun. Ini adalah kehidupan
terbaik."
"Tidak, itu tidak
boleh. Kau harus keluar rumah sesekali. Kalau ibumu tidak ada di sini untuk
menyeretmu keluar, biar aku yang mengambil alih peran itu."
"Ampuni aku."
Akhirnya aku berhasil
mendapatkan kebebasan untuk membaca buku dengan tenang, tetapi sekarang rasanya
aku malah ditarik kembali ke titik awal. Kutangkupkan kedua tanganku dalam
gestur memohon, tetapi Saito menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak boleh. Kau
selalu saja mengabaikan waktu tidur dan makan demi buku. Kalau kau tidak keluar
rumah, kau bakal berubah menjadi manusia penyendiri yang tidak sehat yang tidak
pernah melihat sinar matahari."
"Kulit pucat kan
tidak apa-apa. Bukannya akhir-akhir ini sedang tren cowok berkulit putih
bersih?"
"…Yah, aku akui sih,
sosok Tanaka-kun yang berkulit gelap kecokelatan memang terasa seperti orang
yang sama sekali berbeda."
Ia memegang dagunya
sembari berpikir sejenak sebelum kembali menggelengkan kepala.
"Tetap saja tidak
boleh. Mulai sekarang, kita akan pergi keluar bersama sekali atau dua kali
sebulan."
"Baiklah."
Tanpa kusadari, aku baru
saja menyetujui jadwal kencan rutin. Bukannya aku keberatan pergi jalan-jalan
bersama Saito—itu sangat menyenangkan—tetapi dia punya cara yang begitu lihai untuk
menyelipkan kesepakatan ke dalam obrolan dengan sangat mulus. Jika ini adalah
kontrak perjanjian yang mencurigakan, aku mungkin sudah menandatanganinya tanpa
sadar.
Sembari mengobrol, kami
membeli yakisoba untukku dan okonomiyaki untuk Saito lalu
menemukan sebuah bangku taman dengan pemandangan bunga sakura yang sangat
indah.
Beruntung sekali, sepasang
kekasih baru saja meninggalkan bangku tersebut, memberi kami tempat duduk
terbaik.
Meskipun bunganya baru
mekar setengahnya, ranting-ranting pohonnya sudah dipenuhi oleh banyak kuntum
bunga, rona merah muda pucatnya tampak melayang anggun di bawah langit biru.
Kubuka wadah yakisoba-ku, menaruhnya di atas pangkuanku.
"Aromanya harum
sekali. Membuatku makin lapar."
Saito duduk di sebelahku,
membuka wadah okonomiyaki-nya. Kusantap suapan pertama mi gorengku,
sausnya yang gurih dan kaya rasa seketika memanjakan lidahku dan memuaskan rasa
laparku.
"Enak sekali."
Karena baru selesai
dimasak, yakisoba-nya masih panas mengepul, memenuhi mulutku dengan cita
rasa yang mantap di setiap suapannya.
"Seenak itu ya?"
"Iya. Mau coba?"
"Boleh."
Kami bertukar makanan, dan
Saito menerima wadah yakisoba-ku. Tepat saat ia bersiap memakannya
menggunakan sumpitnya, sebuah pemikiran mendadak terlintas di kepalaku.
"Oh..."
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa."
"Jangan bilang
'bukan apa-apa'. Katakan padaku."
"…Ini bakal jadi
ciuman tidak langsung, kurasa."
Sebenarnya ini bukan
masalah besar, tetapi mengungkitnya secara terang-terangan seketika membuat
pipi Saito merona merah muda yang manis. Gerakannya mematung di udara,
sumpitnya melayang tepat di atas mie.
"Yah... aku tidak
keberatan, jadi tidak apa-apa."
"Baiklah kalau
begitu."
"Dan
lagi..."
"Hm?"
Saat kuberi isyarat
agar ia melanjutkan, dengan ragu-ragu ia menggumamkan sisa kalimatnya.
"Yah, karena kita
sekarang sudah berpacaran... ciuman tidak langsung seharusnya bukan masalah
besar lagi, kan?"
"I-iya, kau
benar."
Merasa canggung di
luar dugaan, aku memalingkan wajahku sembari mengangguk. Saito dengan malu-malu
menyantap suapan yakisoba tersebut.
"Bagaimana
rasanya?"
"Um, enak sekali…
kurasa."
Kalimat terakhirnya
nyaris tak terdengar saking lirihnya. Ia mengembalikan wadah yakisoba-ku
lalu mengambil kembali okonomiyaki-nya dari pangkuanku.
Dengan sedikit rasa
canggung yang masih tersisa, kami menyelesaikan makan siang kami yang
terlambat.
Setelahnya, kami duduk
berdampingan dalam keheningan yang damai, memandangi mekarnya bunga sakura.
Namun, karena besok
sudah mulai masuk sekolah, kami tidak bisa tinggal terlalu larut, jadi sudah
waktunya untuk bersiap pulang.
"Bisa kita jalan ke
stasiun sekarang?"
"Iya, kita harus
berangkat sekarang supaya sempat mengejar kereta pulang."
Rasanya sayang sekali
harus beranjak pergi, membuat tubuhku terasa berat untuk bangkit dari bangku
taman.
"Acara Hanami
ternyata sangat menyenangkan di luar dugaan. Melakukan hal seperti ini bersamamu, Saito, rasanya sama
sekali tidak buruk."
"Aku senang kau
menikmatinya. Aku juga bersenang-senang sekali hari ini."
Bahkan obrolan santai
yang biasa seperti ini saja sudah membuatku ingin berlama-lama bersamanya lebih
lama lagi.
Namun, kami tidak bisa
berada di sini selamanya. Tepat sebelum bangkit berdiri, aku sempat ragu
sejenak. Jika aku ingin mengucapkannya, momennya adalah sekarang.
Aku bangkit berdiri lalu
mulai berbicara.
"Rena. Terima kasih
ya sudah mengajakku ke sini hari ini."
"Tidak, tidak,
akulah yang seharusnya berterima kasih… Tunggu, eh?"
"Ayo, kita
jalan."
"Tunggu, Tanaka-kun,
apa—!?"
Kugenggam tangannya
erat-erat lalu menariknya bangkit berdiri.
***
Sudut Pandang Saito
(Apa tadi Tanaka-kun baru
saja memanggil nama depanku!?)
Selagi melangkah mengikuti
Tanaka-kun yang menggenggam pergelangan tanganku dengan mantap dari depan,
kupandangi tangannya yang menaut erat tanganku. Kami berjalan membelah
kerumunan orang, dan yang bisa kulihat hanyalah punggungnya yang kokoh.
Apa sebenarnya yang sedang
ia pikirkan? Tiba-tiba memanggilku dengan nama depanku tanpa aba-aba seperti
itu—itu sama sekali di luar dugaanku. Jantungku berdentum luar biasa keras di
dalam dada, suaranya hampir terasa memekakkan telingaku sendiri. Kubiarkan
diriku dituntun melewati kerumunan hingga kami akhirnya tiba di stasiun.
Bahkan saat kami menunggu
di peron menanti kedatangan kereta, keheningan yang canggung menggantung begitu
berat di antara kami berdua.
"Tanaka-kun, soal
yang tadi… tadi kau memanggil nama depanku, kan?"
Tepat setelah
mengucapkannya, gelombang rasa malu seketika menyapu seluruh tubuhku. Apa-apaan
sih yang sebenarnya kutanyakan padanya? Kulirik wajah Tanaka-kun dan mendapati
ekspresinya yang tampak sedikit berpikir keras.
Ah, harusnya tadi aku
tidak bertanya. Aku bahkan tidak tahu
apa yang ingin kucapai dengan menanyakan hal itu, jadi tentu saja dia pasti
merasa bingung. Rasa cemas mulai merayap masuk, dan aku sempat mempertimbangkan
untuk menarik kembali pertanyaanku barusan. Tepat saat aku hendak melakukannya,
Tanaka-kun membuka suara.
"Karena kita
sekarang sudah resmi berpacaran, kupikir sudah seharusnya aku memanggilmu
dengan nama depanmu."
"B-begitu
ya."
Perubahan mendadak
pada caranya memanggilku memang sempat mengejutkanku, tetapi mengetahui bahwa
dia memikirkannya sedalam itu membuat hatiku membuncah bahagia. Dulu aku sempat
agak khawatir bahwa meskipun kami sudah berpacaran, tidak ada hal yang benar-benar
berubah di antara kami. Aku ingin ada sesuatu yang terasa berbeda.
"Boleh aku mulai
memanggil nama depanmu juga?"
"Tentu saja
boleh."
"Baiklah.
M-Minato-kun."
Rasanya benar-benar sangat
asing dan canggung di lidahku. Sekadar melafalkan namanya saja sudah membuat
jantungku berdegup kencang tak karuan.
Memanggil orang yang
disukai dengan nama depannya ternyata jauh lebih menguji nyali daripada yang
pernah kubayangkan.
Mulutku belum terbiasa
mengucapkannya, dan rasa canggung ini tampaknya tidak akan hilang dalam waktu
dekat.
Meski begitu, memanggilnya
"Minato-kun" terasa sangat istimewa, seolah-olah ikatan di antara
kami kini telah menjadi jauh lebih erat. Minato-kun. Minato-kun.
Kuulangi nama itu berkali-kali di dalam kepalaku, menikmati setiap getaran
suaranya.
"Tapi kenapa baru
sekarang?"
Sejujurnya, tadinya kukira
dia akan langsung mengubah cara memanggilku tepat setelah kami resmi
berpacaran.
Namun, waktu itu kami
berdua terlalu sibuk mencari cara bagaimana harus bersikap satu sama lain
sampai-sampai pemikiran itu mungkin tidak pernah terlintas di kepala kami. Kami
lekas kembali ke dinamika hubungan kami yang biasa, dan kesempatan untuk
mengubahnya pun terlewat begitu saja.
"Aku sendiri tidak
sadar kalau selama ini belum memakai nama depanmu sampai beberapa hari yang
lalu. Begitu menyadarinya, kuputuskan bahwa aku ingin mulai memanggilnya, dan
momen tadi rasanya adalah waktu yang paling pas."
"Begitu rupanya. Tadi
itu benar-benar membuatku kaget setengah mati."
Serius deh, setidaknya dia
bisa memberiku semacam peringatan terlebih dahulu. Aku tahu itu tidak
realistis, tetapi tetap saja, sedikit waktu untuk mempersiapkan mental-ku pasti
akan sangat membantu.
Waktu dia memanggil namaku
tadi, aku kemungkinan besar memasang reaksi yang sangat aneh. Minato-kun selalu
saja sukses membuatku lengah. Kuharap dia bisa sedikit memikirkan bagaimana
perasaanku.
Kereta meluncur masuk ke
peron stasiun dengan hembusan angin yang kencang. Setelah memperhatikan para
penumpang turun, kami naik ke dalam gerbong dan berhasil mendapatkan tempat
duduk untuk dua orang, persis seperti saat berangkat tadi. Kereta mulai melaju
perlahan, bergoyang dengan lembut.
"Hei, Rena."
"I-iya!"
Berhenti memanggilku
mendadak begitu! Aku terbata-bata lagi. Mustahil bagiku untuk bisa
terbiasa dengan panggilan ini dalam waktu dekat. Ini benar-benar sangat buruk
untuk kesehatan jantungku. Selagi berusaha menenangkan dadaku yang berdegup
liar, dalam hati aku melotot ke arahnya.
"Kau mau tidur siang
di pundakku selama perjalanan pulang?"
Minato-kun sedikit
mengangkat pundaknya, seolah sedang mengundangku untuk bersandar di sana.
Kupandangi wajahnya lekat-lekat, mencari-cari apakah ada sekelumit keraguan di
sana, tetapi ekspresi wajahnya terlihat sangat tenang tanpa beban.
(Kenapa dia bisa setenang
ini menghadapi hal semacam ini?)
Mendengar namaku dipanggil
saja sudah membuat mental-ku kewalahan setengah mati, dan sekarang dia malah
mengusulkan agar aku bersandar di pundaknya? Itu sudah terlalu berlebihan untuk
kutanggung sendiri.
Namun tentu saja, aku
tidak akan menolak tawarannya. Mataku terus melirik bergantian antara wajahnya
dan pundaknya.
"Hm?"
Minato-kun memiringkan
kepalanya bingung. Aku tidak bisa membiarkannya menunggu lebih lama lagi.
Jawabanku sebenarnya sudah bulat sejak awal; aku hanya perlu mengucapkannya
saja.
Merasakan hawa panas mulai
membakar kedua pipiku, kuberikan satu anggukan kecil. Minato-kun bergeser
sedikit, memberi ruang agar aku bisa bersandar dengan nyaman di pundaknya.
Dengan ragu-ragu, kusandarkan kepalaku di sana.
(Wah...)
Melalui kain kemejanya,
aku bisa merasakan tekstur pundaknya yang padat namun terasa begitu hangat.
Gerakan halus dari tarikan napasnya mengayunku perlahan. Semua ini adalah
sensasi yang tidak pernah kurasakan saat hanya duduk berdampingan biasa
dengannya.
Ini sama sekali tidak
menenangkan—aku terlalu tegang bahkan hanya untuk sekadar memikirkan tidur.
Pikiranku seketika kosong melompong.
(Apa yang harus kulakukan?
Lalu sekarang bagaimana?)
Meskipun sedang bersandar
padanya, aku sama sekali tidak bisa rileks. Kudongakkan kepalaku menatapnya
dengan gugup.
"M-Minato-kun, apakah
posisinya terasa tidak nyaman buatmu?"
"Sama sekali tidak.
Tidur saja kalau kau lelah. Aku punya buku baru yang kubeli tadi untuk
kubaca."
Ia mengeluarkan sebuah
buku saku dari tas yang dibawanya lalu mulai membaca. Rasanya sungguh tidak
adil—kenapa cuma diriku seorang yang merasa begitu salah tingkah dan sadar akan
situasi ini? Merasa sedikit jengkel, kubenamkan kepalaku lebih dalam ke pundaknya.
"Hm? Ada apa?"
"Bukan apa-apa."
Setelah membetulkan posisi
beberapa kali, kutemukan titik yang paling sempurna. Kepalaku bersarang dengan
sangat pas di sana, dan sensasinya luar biasa nyaman. Akhirnya aku paham kenapa
tadi Minato-kun bisa tertidur dengan begitu cepatnya saat berangkat.
Begitu posisiku pas,
kepalaku berhenti bergerak, dan aku merasa sangat tenang seutuhnya. Kehangatan
tubuhnya begitu menenteramkan, dan rasa aman dari keberadaannya terasa sangat
meluap-luap. Ini hampir membuat ketagihan, layaknya sebuah bantal tidur yang
sempurna. Pikiranku melayang kembali ke perjalanan kereta saat berangkat tadi.
(Tadi aku melakukan
beberapa hal yang sangat berani waktu Minato-kun sedang tidur siang...)
Awalnya aku memang
membiarkannya tidur dengan damai, tetapi lama-kelamaan aku tak sanggup
membendung dorongan kuat untuk menyentuh rambutnya. Kubelai dan kusisir
rambutnya berulang-ulang. Meskipun aku sudah pernah melakukannya sebelumnya,
sensasinya tidak pernah membosankan. Malahan aku merasa makin terpesona
olehnya. Helaian rambutnya yang halus meluncur di antara jemariku terasa begitu
memabukkan. Dulu aku selalu menunggu kesempatan untuk bisa menyentuhnya lagi,
dan aku sangat bersyukur tadi dia tertidur begitu lelap. Mengingat kembali
sensasi sentuhan itu membuat senyum tipis merekah di bibirku.
(Menyentuhnya sih tidak
masalah, tapi mengendusnya tadi mungkin agak terlalu berlebihan.)
Dari dulu aku selalu
menyukai aroma tubuh Minato-kun. Kali ini, karena dia sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda akan bangun, aku terbawa suasana dan bahkan sampai
mengendus aroma rambutnya. Kenapa juga tadi aku nekat melakukan hal seberani
itu?
Memikirkannya sekarang
membuat seluruh wajahku merona merah padam. Kalau sampai dia tahu, aku pasti
bakal mati karena malu. Syukurlah dia tampaknya sama sekali tidak menyadari
apa-apa.
(Tetap saja, panggilan
'Rena' dari Minato-kun hari ini benar-benar menjadikannya hari yang sempurna.)
Dengan pemikiran manis itu
di kepala, kubiarkan diriku perlahan terlelap ke dalam tidur.


Post a Comment