Chapter 3
Purikura
Liburan musim semi telah
mencapai paruh perjalanannya. Sebagian besar waktunya kuhabiskan
bermalas-malasan sambil membaca buku di rumah Saito.
Rutinitas ini tidak jauh
berbeda dari bagaimana kami menghabiskan liburan musim dingin dulu. Bersantai
di atas sofa empuk milik Saito sembari menikmati buku bagus telah menjadi salah
satu kemewahan kecil dalam hidupku.
Namun tetap saja, orang
sepertiku pun mulai merasa sedikit bersalah karena tidak melakukan apa pun
selain membaca sepanjang liburan musim semi.
"Saito, mau melakukan
sesuatu?"
"Sesuatu? Seperti
apa?"
Saito yang duduk di
sampingku mengangkat kepalanya lalu memiringkannya sedikit, rambut hitamnya
terayun lembut memantulkan cahaya.
"Yah, dari kemarin
kita cuma membaca buku terus. Mumpung sedang liburan musim semi, kupikir kita
bisa melakukan hal lain untuk mencari variasi."
"Kau tidak apa-apa,
Tanaka-kun? Kau, mengusulkan sesuatu selain membaca?"
Entah mengapa, suaranya
terdengar sangat cemas sungguhan. Konyol sekali. Kenapa mengusulkan aktivitas
lain harus memicu kekhawatiran yang seberlebihan itu?
"Aku cuma merasa
tidak enak kalau membaca terus-menerus."
"Tanaka-kun, kau
sudah tumbuh begitu dewasa sampai bisa memikirkan perasaan orang lain
begini."
"Hei."
Tatapan layaknya orang tua
yang ia layangkan padaku, sarat akan dorongan semangat yang lembut, terasa
sangat canggung. Ia bahkan bertepuk tangan seolah sedang mengapresiasi tumbuh
kembangku.
"Kau tidak perlu
merasa tidak enak atau semacamnya, tapi bagaimana kalau hari ini kita pergi
foto purikura?"
"Oh, benar juga, kita
memang sempat merencanakannya. Ayo berangkat."
Kami memang pernah membuat
janji itu saat mengambil foto berdua sebelumnya. Aku sempat berpikir kami harus
segera menjadwalkannya, jadi waktunya terasa sangat pas.
"Mau berangkat
sekarang?"
"Tidak perlu
buru-buru. Foto di bilik foto tidak memakan banyak waktu, jadi kita bisa pergi
siang nanti."
"Baiklah, kita
berangkat siang nanti."
Lagipula ini cuma
sekadar berfoto. Mungkin kami bisa sekalian
melihat-lihat mesin capit boneka di sekitarnya, tapi secara keseluruhan tidak
akan memakan waktu terlalu lama.
Saito menepukkan kedua
tangannya.
"Sembari menunggu,
bagaimana kalau pagi ini kita bermain permainan papan (board game)?"
"Board game?"
Pilihan klasik yang di
luar dugaan.
"Kurasa ada papan Othello
di suatu tempat di rumah ini."
Dengan begitu, ia
menghilang ke kamar sebelah. Suara berisik mencari barang bergema di seluruh
rumah hingga ia kembali membawa sebuah kotak besar berbentuk papan.
Ia meletakkannya di atas
meja dengan suara debukan pelan.
"Fyuuh, berat
juga."
"Ukurannya cukup
besar ya?"
"Seingatku tidak
sebesar ini, mungkin karena aku sudah tidak pernah memainkannya lagi sejak
kecil."
Saito memutar bahunya
untuk melemaskan otot. Kubuka kotak itu dan mendapati wadah hitam berisi
kepingan-kepingan permainannya.
"Wah, ini membuat
bernostalgia. Aku ingat bentuk wadahnya yang unik ini."
Ia tersenyum bernostalgia
saat membuka wadah tersebut, matanya menyipit senang.
"Dulu kau sering
memainkannya waktu kecil?"
"Tidak, aku sempat
mencoba sekitar sepuluh kali tapi tidak pernah menang sekalipun. Setelah itu
kukunci rapat-rapat di lemari."
"Praktis masih
seperti baru kalau begitu."
Pantas saja kondisinya
masih sangat mulus. Papan Othello di rumahku sudah begitu usang
sampai-sampai kotaknya nyaris tembus pandang—kontras yang sangat mencolok.
"Dulu aku bermain
melawan ibuku, tapi beliau tidak pernah membiarkanku menang."
"Beliau tidak
mengalah sedikit pun?"
"Sama sekali tidak.
Beliau membantai permainanku tanpa ampun sambil tersenyum. Aku bahkan ingat
sempat menangis waktu beliau membalik semua kepingan menjadi warnanya."
"Iya sih, aku juga
bakal menangis kalau begitu."
Ibu Saito terdengar
seperti seorang sadis. Mengalahkan anak kandungnya sendiri sambil tersenyum
manis? Itu kejam sekali.
"Beliau
mendidikmu dengan cukup tegas ya?"
"Iya, tapi beliau
sebenarnya sangat baik hati. Hanya saja beliau sangat tegas soal hal-hal yang
tidak bisa ditoleransi."
Sangat berbeda dengan
orang tuaku yang kelewat santai. Pantas saja Saito tumbuh menjadi sosok yang
begitu bertanggung jawab.
"Bagaimana denganmu,
Tanaka-kun? Kau jago main Othello?"
"Ayahku cukup jago
memainkannya, jadi aku sering bertanding melawannya."
"Kalau begitu kau
pasti sangat hebat."
"Tidak juga, aku cuma
amatir."
Aku cuma tahu strategi
dasar, seperti mengincar sudut dan menghindari mengambil tepi papan tanpa
perhitungan. Paling banter aku cuma
bisa memprediksi satu langkah ke depan. Memikirkan beberapa langkah ke depan?
Mana mungkin.
"Orang yang
bicara begitu biasanya justru sangat jago. Ibuku juga bilang hal yang sama
sebelum menjadikanku sansak tinjunya di papan ini."
Tatapan penuh keraguan dan
menusuk darinya terasa agak mengintimidasi. Tampaknya ibunya benar-benar
meninggalkan trauma mendalam padanya.
"Bagaimana kalau
kuberi handicap (keuntungan awal)?"
"Tidak perlu. Rasanya
kemampuanku sudah meningkat sejak saat itu. Bagaimanapun juga, aku kan sudah
tumbuh dewasa sejak masih kecil dulu. Aku bahkan mungkin bisa mengalahkanmu,
Tanaka-kun."
Saito menyeringai penuh
percaya diri. Aku tidak paham dari mana datangnya rasa percaya diri sebesar
itu, tapi rasanya jahat kalau langsung mematahkan semangatnya saat itu juga.
Pada akhirnya, kami
memutuskan untuk bermain tanpa handicap di babak pertama.
Kami menyiapkan papannya,
mengambil kepingan masing-masing, lalu meletakkan empat kepingan awal di bagian
tengah.
"Siapa yang jalan
duluan?"
"Kau yang pilih saja,
Saito. Ambil warna mana pun yang kau suka."
"Oho, percaya diri
sekali! Jangan remehkan aku. Kecerobohan seperti itu bakal membawamu ke
kekalahan."
Saito memilih kepingan
hitam dan mengambil langkah pertama. Kata-katanya sangat berani, jika tidak ada hal lain yang
bisa dibanggakan.
***
Langkah demi langkah,
permainan berlanjut. Saito menatap papan dengan sangat intens, fokus
sepenuhnya. Satu-satunya suara di ruangan itu hanyalah denting kepingan yang
diletakkan di atas papan.
(Apa faedahnya
mengambil langkah seperti itu?)
Aku sempat bersiap
menghadapi peluang kecil bahwa Saito mungkin saja diam-diam sangat ahli, tetapi
keajaiban semacam itu tidak terjadi. Kondisi papan saat ini mutlak didominasi
oleh kepingan putih milikku, dan setiap langkah yang diambil Saito seolah makin
memperburuk posisinya sendiri. Dia bahkan terus memberiku titik-titik sudut
yang sangat menguntungkan.
Aku meliriknya, dan mata
kami bertemu.
"K-kau lumayan jago
ya, Tanaka-kun."
"…Terima kasih."
"Kau pikir kau sudah
menang? Permainan ini belum berakhir!"
"Iya, iya."
Langkah-langkahnya begitu
buruk dan menyedihkan sampai-sampai tidak tega melihatnya. Tentu, situasi masih
bisa berbalik jika ia mulai berpikir strategis, tetapi entah mengapa ia secara
konsisten selalu memilih titik-titik terburuk. Bakat yang luar biasa unik.
Terlepas dari tekad
pantang menyerah Saito, aku menang telak.
"A-aku kalah… Satu
pertandingan lagi! Ayo main lagi!"
"Boleh, tapi kurasa
sebaiknya kau pakai handicap."
"Kau benar. Aku rela
mencoba apa saja saat ini."
"Baiklah, kubiarkan
kau menaruh kepinganmu di keempat sudut papan sejak awal."
"Keempat
sudutnya!?"
Matanya membelalak kaget.
Sejujurnya, bahkan keuntungan sebesar itu pun kurasa belum cukup, tetapi Saito
tampaknya berpikir lain.
"Fufufu, kau sudah
lengah, Tanaka-kun. Jangan menyesal nanti ya."
Ia menata kepingannya
dengan mata penuh binar harapan. Apa cuma aku sendiri yang merasa ucapannya
barusan baru saja memasang bendera kekalahan?
***
"Kenapa jadinya
begini lagi!?"
Hasilnya, tentu saja,
kembali menjadi kemenangan telak untukku. Meski kali ini sisa kepingan hitam di
papan lebih banyak, kepingan putihku tetap mendominasi mutlak. Sekalipun Saito
punya klon dirinya sendiri untuk membantunya bermain, hasilnya tidak akan ada
bedanya.
"Aku sama sekali
tidak bisa menang."
"Kau harus lebih
memikirkan ke mana kau meletakkan kepinganmu, Saito."
"Aku berpikir, tahu.
Aku bergerak mengikuti apa yang terasa pas—semacam percikan inspirasi."
"Itu bukan berpikir
namanya. Sama sekali bukan."
Pantas saja dia kalah
melulu. Dia mengandalkan intuisi seratus persen, yang praktis tidak ada bedanya
dengan menyerahkan segalanya pada keberuntungan—bahkan lebih buruk. Meski
bermain beberapa ronde lagi, aku berakhir dengan menyapu bersih kemenangan di
sepuluh pertandingan berturut-turut.
"Aku sudah muak
dengan Othello. Lagipula sudah hampir waktunya."
"Iya, ayo
bersiap-siap."
Saito melayangkan tatapan
penuh dendam ke arah papan Othello saat ia bangkit berdiri. Aku ragu
permainan ini bakal melihat cahaya matahari lagi di masa depan.
"Kau
bersiap-siaplah duluan. Biar aku yang membereskan ini."
"Terima kasih.
Kuserahkan padamu, ya."
Ia mengangguk kecil
sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Aku sendiri sudah siap
sejak tadi, jadi yang perlu kulakukan hanyalah mengenakan jaketku. Saito
mungkin sudah menyelesaikan sebagian persiapannya, tetapi pasti masih butuh
waktu agak lama baginya untuk benar-benar siap pergi keluar.
Demi membunuh waktu, aku mulai bermain Othello
sendirian. Mencoba menangkis langkahku sendiri dan memprediksi kedua belah
pihak ternyata cukup menghibur di luar dugaan.
***
"Gawat, apa kau
sedang berlatih? Mau sejago apa lagi kau
sebenarnya?"
Saito muncul membawa tas
untuk jalan-jalan kami. Dia pasti sempat keluar untuk mengambil sesuatu dan
memergokiku sedang asyik bermain sendiri.
"Cuma membunuh waktu.
Jangan dipikirkan. Selesaikan dandananmu sana."
Aku mengibaskan tanganku
menyuruhnya pergi, dan ia kembali menghilang ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat
bermain Othello solo, Saito akhirnya keluar lagi.
"Maaf sudah membuatmu
menunggu."
"Tidak apa-apa. Ayo
berangkat."
Rambut Saito ditata ikal
dan mengembang manis hari ini—jelas sekali kenapa dia butuh waktu lama
berdandan. Pakaian kasualnya, seperti biasa, terlihat sangat manis.
Pusat arkade terbesar di
area ini berada di stasiun sebelah, jadi kami naik kereta sebentar untuk menuju
ke sana.
"Kau pernah ke pusat
arkade sebelumnya, Tanaka-kun?"
"Pernah sekali atau
dua kali."
"Untuk apa?"
"Aku cuma ikut-ikutan
Kazuki. Waktu itu kami sedang membunuh waktu sebelum nonton bioskop."
"Kau dan Ichinose-san
benar-benar akrab ya," ujar Saito sembari terkekeh pelan, jelas merasa
geli.
Dibilang akrab dengan
cowok itu rasanya agak menjengkelkan.
"Bukan begitu. Dia
cuma terlalu gigih memaksa, jadi aku tidak punya pilihan."
"Meski begitu, kalau
kau sampai mau pergi bersamanya, itu artinya kalian cukup dekat."
Saito tidak bisa berhenti
tertawa melihat ekspresi kesalku. Rasanya tidak ada gunanya mendebat lebih
jauh, jadi kubiarkan saja.
"Bagaimana denganmu
sendiri?" tanyaku.
"Aku pernah beberapa
kali. Sebagian besarnya untuk foto di bilik foto bersama teman-teman, atau
mencoba mesin capit boneka."
"Benarkah?
Mengejutkan sekali."
Aku tidak pernah
membayangkan Saito sebagai tipe orang yang bakal mengunjungi arkade permainan.
Kubayangkan dia lebih cocok menjadi tipe gadis yang sering nongkrong di kafe
atau butik-butik lucu.
"Memangnya
mengejutkan sekali?"
"Kupikir kau lebih
menyukai tempat-tempat seperti butik atau kafe."
"Yah, tebakanmu tidak
salah juga. Aku juga sering ke
tempat-tempat itu."
Ia mengangguk dengan
senyum tipis. Selagi mengobrol, kami tiba di gedung arkade.
"Wah, jadi ini
tempatnya. Belum pernah lihat sebelumnya."
"Sekalipun belum
pernah masuk ke dalam, kau pasti pernah melihatnya dari luar. Tempat ini sangat
besar."
"Tidak pernah.
Setiap kali berada di stasiun ini, satu-satunya tujuanku cuma toko buku."
"Kau harus lebih
memperhatikan lingkungan sekitarmu sedikit."
Ia menghela napas pasrah,
tapi menurutku tidak ada gunanya. Setiap kali berada di stasiun, satu-satunya
hal yang ada di kepalaku hanyalah lekas sampai di toko buku.
Saat melangkah masuk ke
dalam, kami langsung dihantam oleh rentetan kebisingan suara elektronik.
Suaranya begitu memekakkan telinga sampai-sampai aku refleks mundur selangkah.
"Ada apa?"
"Bising sekali."
"Waktu baru pertama
masuk memang selalu begini."
Mengobrol dengan Saito
saja terasa sulit; aku harus mengandalkan membaca gerak bibirnya untuk
memahaminya.
"Area bilik foto ada
di sebelah sana. Ayo ke arah situ," ujar Saito sembari menunjuk ke salah
satu sudut arkade.
Saat kami mendekat,
kulihat papan peringatan yang menyatakan laki-laki dilarang masuk tanpa
didampingi perempuan.
"Hei, apa ini tidak
apa-apa?"
"Tertulis di sana
laki-laki yang didampingi perempuan boleh masuk."
"Tetap saja, rasanya…
meresahkan."
"Pasti tidak apa-apa.
Aku yakin ada cowok lain juga di dalam…"
Memandang ke arah area
bilik foto, terlihat sangat jelas bahwa seluruh pengunjungnya adalah perempuan.
Saito pun menyadarinya dan suaranya memudar.
"…Yah, seharusnya
tidak apa-apa."
"Hei!?"
Dia mengabaikan
kekhawatiranku mentah-mentah. Aku tak bisa menepis rasa cemas ini. Bukankah
bilik foto seharusnya menjadi tempat yang aman dan damai?
Saito melangkah maju
dengan penuh percaya diri, tidak memberiku pilihan selain mengikutinya. Areanya sangat semarak
dengan gerombolan gadis-gadis yang asyik mengobrol dan tertawa.
"Pilihannya banyak
sekali. Kita pilih mesin yang mana?"
Ia menatapku, tetapi aku
sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Mana kutahu?
"Aku tidak punya
gambaran sama sekali."
"Kalau begitu, mari
kita minta bantuan internet."
Ia mengeluarkan ponselnya
dan mulai berselancar dengan saksama di internet, sesekali mengangguk seolah
sedang mengonfirmasi temuannya.
Sementara itu,
kelompok-kelompok perempuan yang melintas sesekali melayangkan pandangan ke
arah kami. Meski ada Saito bersamaku, aku tak bisa mengenyahkan rasa paranoid
kalau-kalau bakal dilaporkan sebagai penyusup. Aku tidak mau berakhir dengan catatan kriminal
gara-gara masalah sepele begini.
"Hei, Saito, masih
belum selesai juga?"
"Sebentar lagi.
Hampir ketemu."
Saat kuulurkan tangan
untuk menepuk pundaknya, ia menepisnya acuh tak acuh. Serius, Saito? Di saat
kau sibuk fokus pada risetmu, aku di sini terjebak dalam penderitaan yang luar
biasa canggung.
Setelah waktu yang terasa
bagai keabadian berlalu, Saito akhirnya menyimpan ponselnya.
"Baiklah, sudah
ketemu."
"Kau sudah tahu
pilihannya?"
"Iya. Mesin yang itu
adalah pilihan terbaik."
"Baguslah, ayo lekas
ke sana."
"Tidak perlu
terburu-buru begitu. Kau lelah atau bagaimana?"
"Penderitaan mental-ku
sudah cukup berat…"
Saito tampak
benar-benar bingung melihat rasa frustrasiku. Sungguh polos tanpa dosa.
Ketika kami tiba di
depan mesinnya, rupanya sudah ada kelompok lain yang sedang memakainya, jadi
kami menunggu giliran. Selagi menunggu, kupastikan untuk menceritakan semua
pergulatan batinku saat menunggu di tempat canggung tadi kepada Saito.
"Oh, kelihatannya
sudah kosong sekarang."
"Jadi, aku tinggal
memasukkan koinnya ke sini?"
Koin-koin berdenting saat
tersedot masuk ke dalam mesin. Merunduk melewati tirai penutup, kami melangkah
masuk ke dalam bilik. Ruangan di dalamnya ternyata lebih luas dari dugaanku,
dengan latar belakang putih dan layar hijau (green screen) di bagian
belakang. Saat kami meletakkan barang bawaan di rak dekat kamera, suara
pengumuman otomatis mulai terdengar.
Layar pemilihan muncul,
memungkinkan kami memilih latar belakang dan jumlah orang. Begitu kami selesai
menentukan pilihan, hitungan mundur langsung dimulai seketika.
"Sudah mulai!?"
Sama sekali tidak ada
waktu untuk bersiap. Layar menginstruksikan kami untuk berpose, dan kami
mengikuti petunjuknya saat kamera menjepret foto demi foto dengan cepat.
"Gerakanmu cukup
bagus, Tanaka-kun. Di luar dugaan kau sangat tanggap."
Saito tampak sangat
terbiasa dengan proses ini, memperagakan setiap pose dengan sempurna tanpa
kesulitan.
Sementara itu, aku dengan
gugup menirukan apa yang ia lakukan, cemas kalau pose konyolku yang kaku bakal
merusak hasil foto. Samar-samar aku ingat sempat melakukan beberapa pose
canggung, tetapi tidak ada waktu untuk memikirkannya.
Tanpa kusadari, sesi
pemotretan telah selesai.
"Kerja bagus! Silakan
lanjut ke bilik berikutnya."
Bahkan mesinnya pun
memberi kami ucapan selamat. Semuanya berlalu begitu cepat hingga aku akhirnya
menghela napas lega.
"Astaga, tadi itu
melelahkan sekali."
"Ini belum
selesai."
"Mau apa lagi
sekarang?"
"Ke sebelah sini.
Kita harus cepat, kalau tidak, kita bakal kehabisan waktu."
Saito menarikku masuk ke
bilik di sebelahnya. Di dalam terdapat dua layar yang menampilkan foto-foto
yang baru saja kami ambil.
Ruangannya di luar dugaan
sangat sempit, dan pundak kami nyaris bersentuhan saat berdiri berdampingan.
Aku bergeser sedikit untuk memberi sedikit ruang.
"Jadi, apa yang kita
lakukan di sini?"
"Kau gunakan pena ini
untuk menambahkan tulisan, stiker, atau bahkan mengedit fotonya."
"Menarik…"
"Lalu setelah itu…
ikuti intuisimu."
"Serius?"
Kenapa dia harus langsung
melemparku ke level sesulit ini? Ini terlalu rumit untuk seorang pemula. Selagi
Saito menggambar dengan lihai di layarnya, kuputuskan untuk menambahkan tanggal
hari ini ke salah satu foto.
"Tanaka-kun, ayo kita
edit matamu."
"Mataku?"
Saito mengulurkan tangan
ke layarku, mengetuk beberapa opsi, lalu memunculkan menu ikon untuk mengedit
mata.
"Ini, pilih dari opsi
ini. Kau bisa mengubah bentuk dan gayanya."
Kupilih salah satu karena
penasaran, dan mataku di layar seketika berubah menjadi sayu dan lembut.
"Wah!"
Setiap pilihan mengubah
tampilan mataku. Ukuran, tingkat kecerahan, bahkan pantulan cahaya di pupilnya
berubah dengan mulus.
Ilmu pengetahuan dan
teknologi memang luar biasa. Saat aku asyik bereksperimen dengan berbagai
pilihan, Saito memperhatikanku dengan ekspresi geli.
"Kau orang
pertama yang kulihat bisa sebahagia ini cuma gara-gara mengedit mata."
"Tapi ini luar
biasa! Lihat betapa banyaknya yang bisa diubah! Bilik foto ini sudah di tingkat
yang berbeda."
"Kurasa semua bilik
foto di sini bisa melakukan hal ini, tahu."
"Yang benar
saja?"
Rupanya semua mesin di
area bilik foto ini memiliki kemampuan canggih semacam itu. Perkembangan
teknologi memang sudah melangkah begitu jauh.
"Tanaka-kun,
kelakuanmu persis seperti kakek-kakek."
Hei, aku masih anak SMA,
tahu? Sindiran itu agak keterlaluan. Pada akhirnya, aku begitu asyik
bermain-main dengan editan mata sampai-sampai waktu kami habis.
Kami melangkah keluar
dari area bilik foto, dan kusadari ada sesuatu yang kurang.
"Tunggu, di mana
lembaran fotonya?"
"Sekarang
semuanya serba digital. Kau mengunduhnya dari internet. Biar kukirimkan
padamu."
Sebuah notifikasi
berbunyi di ponselku. Saito baru saja
mengirimiku pesan. Saat kubuka, ada sepuluh lampiran foto di dalamnya.
"Kita mengambil
sebanyak ini?"
"Mesinnya memotret
sekaligus dalam satu sesi, jadi cepat selesai."
Aku bahkan tidak ingat
pose apa saja yang tadi kuperagakan. Saat memeriksa foto-fotonya, kuperhatikan
sebagian besar poseku adalah pose feminin yang imut. Berdiri di sebelah sosok
Saito yang begitu cantik memukau, aku terlihat sangat salah tempat.
"Fufu, yang ini manis
sekali, Tanaka-kun."
"Eh? Yang mana?"
Dia sedang memandangi foto
di mana aku membuat bentuk hati dengan kedua tanganku di depan wajah. Sama
sekali tidak ada unsur manis di sana. Apa yang salah dengan standar
estetikanya?
"Itu jelas-jelas
memalukan dan bikin bergidik."
"Kau tidak paham
seninya, ya? Kesenjangan antara sikapmu yang biasa dan pose ini justru yang
membuatnya luar biasa. Kita harus menyimpannya."
Saito mengunci foto
tersebut agar tidak sengaja terhapus. Apa ini bahan pemerasan baru yang
berhasil ia dapatkan? Melihatnya menyimpannya dengan begitu teliti membuatku
meragukan niat aslinya.
"Kau tidak berencana
menggunakan foto ini untuk melawanku, kan?"
"Melawanmu? Bagaimana
caranya?"
"Seperti mengancam
bakal menyebarkannya ke orang lain…"
"Oh, begitu ya."
Saito mengangguk berulang
kali, ekspresi wajahnya berubah menjadi nakal. Ia menyunggingkan senyum jahil
persis iblis kecil.
"Itu bisa jadi cara
pemanfaatan yang menarik."
Ekspresi itu memperjelas
bahwa ia sedang memikirkan rencana jahat di kepalanya. Komentar cerobohku baru
saja menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Saat Saito melangkah pergi sembari
bersenandung riang, aku mengikutinya dari belakang, merasa waswas memikirkan
apa yang mungkin bakal ia perbuat.
Menelusuri kembali langkah
kami, kami tiba di area utama pusat arkade. Ruangannya sangat luas, dipenuhi
berbagai jenis mesin permainan—permainan koin, permainan ritme musik, balapan,
dan masih banyak lagi. Di dekat pintu masuk terdapat deretan panjang mesin
capit boneka (crane games).
"Kenapa ya
boneka-boneka di mesin capit selalu kelihatan begitu memikat?"
Saito berjalan dari satu
mesin ke mesin lain, mengamati hadiah-hadiah yang dipajang. Permainan itu
memamerkan berbagai karakter familier dan desain hewan dalam berbagai bentuk
dan ukuran.
"Tadi kau bilang
pernah ke sini untuk berburu cendera mata. Dulu kau dapat apa?"
"Boneka dari seri
Kucing Tidur Siang."
"Kucing lagi,
ya?"
Aku sudah punya
firasat pasti barang semacam itu. Tebakanku ternyata tepat sasaran.
"Ini bukan
sembarang kucing. Seri ini mengusung tema pose-pose tidur yang—"
"Iya, iya, aku paham,
aku paham."
"Kau sama sekali
tidak paham seninya."
Kalau kubiarkan dia terus
berbicara, dia pasti bakal mengoceh tanpa henti soal rasa cintanya pada kucing.
Pengalaman telah mengajariku bahwa memotong kalimatnya sejak awal adalah hal
yang sangat krusial.
"Bagaimana denganmu,
Tanaka-kun? Hadiah apa yang kau inginkan dari mesin capit?"
"Buku, tentu
saja."
Kuberikan acungan jempol
penuh percaya diri padanya, tetapi Saito hanya melontarkan helaan napas
panjang.
"Mana ada buku di
dalam mesin capit boneka."
"Di luar sana pasti
ada di suatu tempat."
Untuk berjaga-jaga, kucari
di ponselku. Jepang itu luas—pasti setidaknya ada satu pusat arkade yang
menyediakan pilihan seaneh itu.
"Nihil, yang
kutemukan cuma panduan cara menang main mesin capit."
"Tentu saja. Mana ada
orang yang mau bikin mesin yang cuma bakal dimainkan olehmu seorang."
Dengan impianku yang
hancur berkeping-keping, kuputuskan untuk mengikuti langkah Saito ke mana pun
dan melihat apa yang menarik perhatiannya. Tidak sulit untuk menebaknya, tetapi
kubiarkan ia meluangkan waktunya.
"Oh!"
Ia akhirnya berhenti di
depan salah satu mesin, menatap lekat-lekat ke arah isinya.
(Sudah kuduga.)
Di dalamnya terdapat
boneka karakter kucing populer, karakter yang bahkan orang sepertiku pun
mengenalnya.
Aku pernah melihat Saito
memakai pensil mekanik dengan desain yang sama sebelumnya.
"Kau
menginginkannya?"
"Kalau bisa dapat,
tentu saja mau."
"Jadi, kucing lagi
ya."
"Memangnya ada
masalah?"
Ia menyipitkan matanya
menatapku, dan aku buru-buru menggelengkan kepala.
"Kalau kau sebegitu
menginginkannya, biar kuambilkan untukmu."
"Tanaka-kun, kau
yakin bisa melakukannya?"
Wajahnya dipenuhi
keraguan. Bukankah di momen seperti ini harusnya kau menatapku dengan penuh
harap dan rasa percaya?
Masukkan koinnya lalu
mulai menggerakkan tuas capitnya. Aku belum pernah bermain mesin capit
sebelumnya, tetapi mekanismenya terlihat cukup sederhana—cukup posisikan cakar
capitnya menggunakan tombol panah lalu jatuhkan di titik yang tepat.
"Eh, t-tunggu…!"
Aku salah total dalam memperhitungkan
waktu untuk melepas tombolnya. Capitnya berhenti di udara, lalu turun mencapit
ruang kosong, jauh sekali dari target. Bahkan tidak mendekat sama sekali.
"…Sebaiknya kita
sudahi saja?"
Suara tenang Saito menusuk
telingaku. Gawat ini. Kalau begini terus, aku bakal kelihatan seperti pecundang
sejati.
"T-tunggu. Tadi itu
cuma kesalahan teknis. Kalau kucoba sekali lagi, kali ini pasti dapat."
"Benarkah?"
Ekspresi skeptisnya
menyiratkan segalanya. Tak ada keraguan di kepalanya bahwa aku bakal gagal
lagi. Aku sudah bisa membayangkan dia kehilangan seluruh rasa percayanya padaku
kalau aku sampai mengacaukan percobaan berikutnya ini.
Tanganku sedikit gemetar,
tetapi kupaksa diriku untuk tetap tenang dan membidik targetku dengan sangat
hati-hati.
(Ini dia!)
Kuhentikan capitnya tepat
di posisi yang kuinginkan. Capit itu turun tepat di tengah-tengah boneka, dan
kedua cakarnya mencengkeram tubuh boneka itu dengan sempurna. Distribusi
bobotnya tampak tanpa cela. Yang tersisa hanyalah menunggu capit itu terangkat
naik.
Namun, tepat saat capit
mulai terangkat, boneka itu tergelincir lolos dan jatuh kembali ke tempatnya
semula.
"Yang benar
saja…"
Bidikanku sudah
sempurna. Aku sudah mengikuti rencana persis seperti yang diniatkan. Namun
tetap saja aku gagal. Berdiri terpaku tak percaya di sana, aku ditarik kembali
ke dunia nyata saat Saito dengan lembut menyenggol tubuhku ke samping,
menggeserku menjauh dari mesin.
"Kau mencoba
mendapatkannya hanya dalam satu kali capit, itulah kenapa usahamu gagal.
Biarkan aku yang menanganinya sebentar."
Saito mengeluarkan
koin 500 yen dari dompetnya lalu memasukkannya dengan mulus ke dalam mesin.
Tanpa ragu-ragu, ia mulai mengoperasikan tuas capitnya.
Pada percobaan
pertama, ia sengaja hanya menyenggol sedikit bonekanya, menggeser kepalanya
lebih dekat ke lubang jatuhan.
Pada percobaan kedua
dan ketiga, ia dengan hati-hati memanuver tubuh boneka itu makin mendekati
tepi. Gerakannya sangat terlatih dan presisi. P
ada percobaan keempat,
boneka itu sudah tergantung miring di bibir jurang lubang.
Dan pada percobaan
kelima sekaligus terakhir, boneka itu jatuh dengan sempurna ke dalam lubang
pengambilan.
"Fyuuh, dapat
juga."
Ia menyeka dahinya
secara dramatis, seolah-olah baru saja menyelesaikan misi yang sangat berat. Kemahirannya mengeksekusi
permainan itu begitu mengagumkan hingga aku tak bisa menahan rasa takjub
padanya.
"…Kau jago sekali
main ini."
"Cendera mata bertema
kucing sangat umum di mesin capit, jadi aku sudah terbiasa setelah sering
memainkannya."
"Begitu ya…"
"Um, tapi aku sangat
menghargai usahamu yang tadi mau mengambilkannya untukku, kok."
Terlihat sangat jelas
bahwa ia hanya sedang berusaha menjaga perasaanku. Tadinya kuharap bisa unjuk
gigi dan membuatnya terkesan, tetapi sebaliknya, aku malah gagal total secara
menyedihkan. Pada akhirnya, yang berhasil kulakukan hanyalah mengubah kencan
kami menjadi kenangan yang sedikit memalukan bagi diriku sendiri.


Post a Comment