Chapter 3
Peristiwa Besar di Tempat Kerja
Kediaman Saito. Di
tengah atmosfer yang tenang, satu-satunya suara yang menyapa telingaku hanyalah
gemerisik halaman yang dibalik. Suara gesekan lembut kertas itu terasa begitu
menenangkan hati. Akhir-akhir ini, aku menghabiskan banyak waktu memikirkan kencan,
jadi momen di mana aku bisa fokus sepenuhnya pada sebuah buku terasa begitu
bernostalgia.
Setelah menyelesaikan
buku yang direkomendasikan Saito, perlahan aku kembali ke dunia nyata. Aku
melirik ke samping menatap Saito yang duduk tenang di sebelahku.
Bulu matanya yang
lentik, matanya yang indah bak permata, dan kulit putih pucatnya yang bersih
berseri. Serta bibir merahnya yang ranum dan kenyal. Profil wajahnya yang
memukau dengan ketenangan yang anggun itu sedang terfokus lekat pada bukunya.
(Hubungan kami sudah
melangkah sejauh ini, ya?)
Selagi memandangi
garis wajahnya dari samping, pemikiran itu melintas di kepalaku. Dari
perpustakaan hingga ke rumahnya. Dari duduk saling berhadapan di seberang meja
hingga kini duduk berdampingan di sofa yang sama.
Awalnya, aku begitu
canggung sampai-sampai tidak bisa fokus membaca, tetapi manusia memang makhluk
yang mudah beradaptasi. Saito yang duduk di sampingku kini terasa begitu alami.
Saat pertama kali bertemu dulu, aku tidak pernah membayangkan keadaannya bakal
menjadi seperti ini.
Selagi aku terus
memandangi wajahnya, Saito mengangkat kepalanya dari buku. Sepasang matanya
yang bulat memantulkan bayanganku, dan ketegangan serius di wajahnya seketika
mencair menjadi senyuman lembut.
"Ada apa,
Tanaka-kun?"
"Tidak, bukan
apa-apa."
"Benarkah?"
Saito memiringkan
kepalanya sedikit, pandangannya beralih menatap tanganku.
"Kau sudah selesai
membaca? Kau selalu cepat seperti biasanya."
"Iya. Kali ini
ceritanya juga sangat menarik."
"Senang mendengarnya.
Syukurlah rekomendasiku membuahkan hasil."
"Semua buku yang kau
rekomendasikan selalu menarik. Beberapa di antaranya bahkan bukan jenis buku
yang bakal kupilih sendiri, jadi aku sangat berterima kasih."
"Sama-sama. Aku sudah
menyiapkan buku berikutnya untukmu."
"Oh, benarkah? Kalau
begitu akan langsung kubaca."
Saito menyerahkan buku
yang telah ia siapkan, dan aku tak bisa menahan rasa antusias yang membuncah.
Bagaimanapun juga, selalu ada sensasi mendebarkan dari cerita baru yang menanti
untuk diselami.
Dan dengan cap persetujuan
dari Saito, buku ini pasti sangat bagus.
"Sekarang kau sedang
membaca apa, Saito?"
"Aku? Saat ini aku
sedang membaca novel romansa."
"Lho, kau membaca
genre seperti itu juga?"
Saito belum pernah
meminjamkanku buku genre itu sebelumnya, jadi aku merasa agak terkejut.
"Iya. Belakangan ini
aku mulai tertarik dan memutuskan untuk mencobanya. Di luar dugaan, ceritanya
cukup menyenangkan."
"Benarkah? Ceritanya
tentang apa?"
Karena Saito menganggapnya
menarik, ceritanya pasti luar biasa. Aku tak tahan untuk tidak penasaran.
"Yah, aku baru saja
mulai membacanya, jadi belum tahu semua detailnya. Tidak apa-apa?"
"Iya, ceritakan saja
apa yang sudah kau baca sejauh ini."
"Pada dasarnya, ini
tentang seorang pria dan wanita yang—setelah mengetahui rahasia satu sama
lain—membentuk hubungan kerja sama dan mulai saling membantu. Seiring
berjalannya waktu, perlahan-lahan mereka mulai saling tertarik."
"Terdengar seperti
kisah klasik, tapi menarik."
"Iya. Dan di bagian
yang sedang kubaca sekarang, ada seorang anak laki-laki yang selalu dekat
dengan tokoh utama pria. Saat anak laki-laki itu mendengarkan keluh kesah
asmara sang tokoh utama dan memberinya saran, perlahan mereka mulai saling
jatuh hati..."
Saito mendadak
menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Ia mematung kaku, matanya membelalak
lebar.
"...Ada apa?"
"T-tunggu!
Mungkinkah... Ichinose adalah musuhnya?!"
"Hah?"
Penyebutan nama 'Ichinose'
yang tiba-tiba. Suara Saito yang terdengar lebih keras dari biasanya sukses
membuatku terperangah.
"Tanaka-kun, kau
sudah lama dekat dengan Ichinose-san, kan? Mungkinkah selama ini dia sedang
merayumu?"
"Tunggu,
Kazuki?"
Dibuat bingung oleh
perubahan sikapnya yang begitu mendadak, kepalaku bersusah payah mencerna
situasinya. Kenapa nama Kazuki mendadak muncul sekarang?
"Kupikir Ichinose-san
cocok dengan deskripsi seseorang yang sudah lama dekat denganmu."
"Sayangnya, itu
benar."
Meskipun aku enggan
mengakuinya, jika ada yang bertanya siapa orang yang paling sering kuajak
bicara di sekolah, jawabannya memang harus Kazuki. Meski sebenarnya aku
membenci kenyataan itu.
"Lalu? Bagaimana yang
sebenarnya? Kalian berdua sering mengobrol. Apa dia pernah merayumu?"
"Uh..."
Kenapa arah pembicaraannya
mendadak melenceng jauh dari novel romansa? Saito mencondongkan tubuhnya ke
depan, wajahnya begitu dekat, urgensi terpancar nyata darinya. Intensitas
sikapnya begitu mendesak hingga keraguan apa pun yang kupunya seketika terdorong
ke sudut kepalaku.
Aku mempertimbangkan
pertanyaannya. Di sekolah, sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk membaca dan
jarang sekali mengajak orang lain bicara atas inisiatif sendiri. Biasanya,
Kazuki-lah yang selalu datang menghampiriku.
"Iya, seperti yang
kau bilang, Kazuki yang biasanya memulai percakapan."
"Sudah kuduga!"
Mata Saito membelalak
kaget saat ia berseru lantang.
(Ada apa sebenarnya ini?)
Gelagat Saito terasa
sangat aneh. Dia tampak sangat salah tingkah dan terkejut di luar batas wajar.
Sejak topik pembicaraan beralih dari buku ke diriku, intensitasnya meningkat
secara mencolok.
Kenapa mendadak berubah
begini? Aku hanya menjawab pertanyaannya tentang Kazuki dengan jujur.
Seharusnya tidak ada hal yang mengejutkan dari jawabanku.
Saito sudah tahu bahwa aku
sudah berteman lama dengan Kazuki, dan pertanyaannya tadi terdengar lebih
seperti bentuk konfirmasi. Lalu kenapa reaksinya sampai seheboh ini?
Kalau dipikir-pikir lagi,
kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya. Tepatnya saat aku sedang
melihat-lihat album foto Saito. Setelah mendengar gumamanku, dia tiba-tiba
bergegas masuk ke kamar sebelah dan kembali dengan rambut yang dikuncir dua.
Waktu itu dia juga mengubah tindakannya secara drastis.
Pada akhirnya, hal itu
terjadi akibat kesalahpahaman di pihak Saito sendiri. Dia mengira aku menyukai
gaya rambut kuncir dua lalu memutuskan untuk memperlihatkannya padaku.
Mengingat kejadian itu,
ada satu hal yang memicu perhatianku sesaat.
(Eh? Kesalahpahaman?)
Saito memang cenderung
mengabaikan keadaan sekitar jika sudah terlalu fokus pada sesuatu. Hal itu
mungkin berpengaruh, tetapi ada kalanya dia salah paham total dan langsung
bertindak gegabah.
Insiden kuncir dua tempo
hari adalah contoh yang paling nyata. Mengingat kembali, tidak ada alasan logis
untuk menyimpulkan dari komentar ringanku bahwa aku menyukai gaya kuncir dua.
Namun entah mengapa, setiap kali menyangkut diriku, Saito tampaknya sangat
rentan terhadap kesalahpahaman yang aneh-aneh.
Jika memang begitu, maka
kepanikan mendadak dan keterkejutannya barusan kemungkinan besar juga merupakan
hasil dari kesalahpahaman aneh lainnya.
Aku menelusuri kembali
dari mana gelagat aneh Saito ini bermula. Awalnya dia bersikap normal seperti
biasa, membaca bukunya dengan tenang. Tidak ada yang saling mengganggu, jadi
tidak ada masalah di sana.
Setelah itu, kami
bertukar pendapat tentang buku yang sedang kami baca. Saat itulah Saito
menyebutkan bahwa ia sedang membaca novel romansa—hal yang tak biasa—dan aku
menanyakan isi ceritanya...
Benar, tepat pada saat
itu. Saat sedang menjelaskan alur ceritanya, Saito mendadak memotong topik.
"Selain dua orang
yang mulai saling menyukai, ada anak laki-laki yang selalu dekat dengan sang
tokoh utama pria. Saat ia mendengarkan masalah asmara cowok itu dan memberinya
saran, ia mulai jatuh hati padanya..."
Aku mengingat kembali
kata-katanya. Sikap Saito berubah drastis setelah mengucapkan kalimat itu.
Matanya membelalak menyadari sesuatu, lalu ia melontarkan kalimat aneh:
"Mungkinkah...
Ichinose-san adalah musuhnya?!"
Apa maksudnya dengan
"musuh"? Waktu itu aku melewatkan kesempatan untuk bertanya karena
nada bicara Saito yang kelewat serius, tetapi jika dipikirkan dengan kepala
dingin sekarang, sangat mudah untuk menebaknya.
Di dalam cerita itu, sang
rival cinta—"musuh" dari tokoh wanita—muncul berhadapan dengan
pasangan utama yang mulai dekat.
Sebuah hubungan rahasia
antara dua orang, ditambah sang tokoh utama pria yang memiliki relasi
konsultasi dengan karakter lain yang dekat dengannya. Skenario itu terlalu
cocok dengan dinamika antara diriku, Saito, dan Kazuki. Dan mengingat
setelahnya Saito menyebut Kazuki sebagai musuh, bentuk kesalahpahamannya
menjadi sangat gamblang.
(Atas dasar apa dia bisa
berpikir ada hubungan asmara antara diriku dan Kazuki...?!)
Aku menghela napas panjang
dalam hati.
Banyak sekali bantahan
yang ingin kulontarkan: "Mana mungkin hal semacam itu terjadi di antara
sesama cowok," atau, "Bagaimana jalan pikirannya bisa sampai ke
sana?" Dan yang paling penting, "Aku menaruh perasaan padamu, Saito,
jadi untuk apa aku melirik orang lain?"
Bahkan untuk ukuran Saito
yang memang gampang salah paham, tuduhan kali ini sudah terlalu berlebihan. Aku
harus meluruskannya dengan benar.
"Hei, jangan bilang
kau berpikir ada hubungan romantis antara aku dan Kazuki."
"Eh?! B-bagaimana kau
bisa tahu...?"
Matanya bergerak gelisah
dan panik, membuat segalanya terbaca sangat jelas. Dia benar-benar salah paham
soal hubunganku dengan Kazuki.
"Dengar, coba
pikirkan baik-baik. Mana mungkin ada dua orang cowok menjalin hubungan seperti
itu. Tentu, mungkin ada orang yang seperti itu, tapi buatku, perempuan adalah
satu-satunya yang kulihat secara romantis. Begitu juga dengan Kazuki."
Apa dia tidak tahu betapa
populernya Kazuki di kalangan perempuan? Itu praktis sudah menjadi reputasinya.
Saat aku berbicara dengan tegas, wajah Saito seketika memerah padam, dan
tubuhnya sedikit menciut.
"K-kau benar! Apa
yang sebenarnya kupikirkan tadi...?"
Ia bergumam pelan,
menutupi kedua pipinya yang merah merona dengan kedua tangan. Menyadari
kesalahpahamannya yang konyol tampaknya membuatnya luar biasa malu.
"Syukurlah kalau
masalah itu sudah beres."
"I-iya. Sepertinya
aku sudah salah paham tentang banyak hal..."
Dengan kepala yang
tertunduk, kini telinga Saito juga ikut memerah. Dia terlihat begitu malu
sampai-sampai kuputuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh.
(Ini seharusnya sudah
meluruskan segalanya, untuk saat ini.)
Aku tidak pernah
membayangkan bakal dicurigai punya hubungan asmara dengan sesama cowok, tapi
ini bukan hal yang perlu dipikirkan berlarut-larut. Walaupun Saito terkadang
suka kehilangan kendali diri, berpikir bahwa aku bakal menyukai cowok lain
adalah hal yang konyol. Hanya karena kami memiliki hubungan kerja sama, bukan
berarti asumsi liar semacam itu masuk akal.
Ngomong-ngomong soal
hubungan konsultasi, jika ada hal yang menyerupai novel yang dibaca Saito, itu
pasti...
Selagi aku merenungkannya,
Saito menggumam pelan, jadi kuarahkan telingaku ke arahnya.
"Hanya karena mereka
dekat, bukan berarti dua cowok bakal jadian. Apa yang sebenarnya kupikirkan
tadi...?"
"Tepat sekali.
Setidaknya pastikan kalau itu adalah orang yang punya hubungan konsultasi
denganku—dan, kau tahu, seorang perempuan."
Saat mengatakannya, satu
nama langsung melintas di kepalaku. Memang ada seseorang yang memenuhi kriteria tersebut:
Hiiragi-san. Tentu saja, aku hanya
menganggapnya sebagai rekan konsultasi, dan aku yakin dia pun merasakan hal
yang sama. Namun jika kita bicara soal syarat kecocokan, dia memang masuk
kriteria.
Tepat saat aku memikirkan
hal itu, Saito kembali tersentak kaget.
"Seorang gadis
yang menjadi rekan konsultasi...! Tunggu, mungkinkah...!?!"
Mata dan mulutnya
membelalak lebar saat ia mengangkat tangannya untuk menutupi bibirnya.
"Kenapa kau kaget
sekali?"
"Eh?! Y-yah,
itu..."
"Hm?"
"B-bukan
apa-apa!"
"Tidak mungkin bukan
apa-apa. Kau jelas-jelas sangat terkejut tadi."
"Bukan, ini rahasia.
Ini hal yang harus kuselesaikan dan kuperjuangkan sendiri. Ini masalah
pribadiku."
"...Baiklah."
Melihat bibirnya terkatup
rapat-rapat, kuputuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Memaksanya berbicara
rasanya tidak pantas.
Tetap saja, reaksinya
mengingatkanku pada kesalahpahamannya soal diriku dan Kazuki tadi. Aku tak
tahan untuk tidak cemas kalau-kalau dia salah paham tentang hal lain lagi. Jika
memang begitu, aku harus segera meluruskannya.
Namun setelah
kuingat-ingat kembali, aku tidak melihat ada hal yang bisa memicu
kesalahpahaman baru. Yang kulakukan hanyalah meluruskan dugaannya yang
sebelumnya, jadi seharusnya tidak ada benih kesalahpahaman lain yang tersisa.
(Yah, selama itu bukan hal
yang aneh-aneh, tidak masalah.)
Saito bilang itu masalah
pribadinya, dan jika tidak melibatkanku, tidak ada gunanya dicemaskan. Menepis
kekhawatiranku, kulirik Saito yang tampak berpikir keras dengan ekspresi yang
sedikit serius. Tatapannya tertuju lurus ke bawah, tetapi kemudian ia mendadak
mendongak menatapku dengan matanya yang jernih dan indah itu.
"Um... Bolehkah aku
bertanya sesuatu—Tanaka-kun, apa kau tidak suka makanan manis?"
"Hah? Tidak, aku
suka. Kurasa aku lebih suka makanan manis dibanding rata-rata cowok pada
umumnya. Tapi, aku tidak terlalu kuat kalau makanannya kelewat manis. Kenapa
mendadak bertanya begitu?"
"Tidak ada alasan
khusus, aku cuma penasaran saja."
Setelah melontarkan
pertanyaan itu, Saito hanya mengatakan kalimat tersebut lalu mendadak
memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Eh? Apa ini ada
hubungannya dengan hal yang, katamu, harus kau perjuangkan sendiri tadi?"
"Um, iya... kurasa
begitu."
Saito mengangguk pelan,
tampak agak ragu-ragu, kedua pipinya dihiasi rona merah muda bunga sakura yang Imut.
Pertanyaannya yang mendadak dan sikapnya yang malu-malu sempat membuatku
bingung sejenak, tetapi alasannya segera menjadi sangat jelas di kepalaku.
(Ah, Hari Valentine.)
Ini awal bulan
Februari, yang artinya tinggal kurang dari dua minggu lagi. Itu adalah perayaan
yang sebelumnya tidak pernah terlalu kuperhatikan, tetapi hari itu jelas
merupakan hari di mana para gadis mengerahkan banyak usaha. Aku ingat anak-anak
cowok sempat heboh membicarakannya tahun lalu. Kemungkinan besar, dia sedang
mempertimbangkan untuk memberiku cokelat.
Dulu aku tidak pernah
paham kenapa orang-orang bisa begitu heboh menyambut Hari Valentine, tetapi
sekarang aku bisa sedikit merasakannya—hal ini benar-benar membuat debaran
jantung tak karuan.
"Apa ada makanan
manis yang tidak kau sukai?"
"Tidak, rasanya tidak
ada."
"Bagaimana dengan
selai buah atau buah-buahan kering? Kau tidak suka?"
"Sama sekali tidak
benci. Malahan, aku suka sekali makanan apa pun yang ada rasa buahnya."
"Begitu ya..."
Saito menopang dagunya
dengan tangan, ekspresinya tampak serius selagi ia berpikir dalam-dalam. Namun
kemudian, seolah baru saja menyadari sesuatu, ia lekas mendongak menatapku.
"Asal kau tahu ya,
ini benar-benar cuma pertanyaan biasa saja, paham? Sama sekali tidak ada maksud
tersembunyi di baliknya."
"...Iya, aku paham.
Kau cuma penasaran saja, kan?"
"Tepat sekali. Aku
cuma baru sadar kalau aku belum terlalu tahu banyak soal seleramu dan berpikir
untuk menanyakannya."
Untuk ukuran pertanyaan
"cuma penasaran", pertanyaannya tadi terasa terlalu spesifik dan
mendalam.
Meski begitu, kuputuskan
untuk menyimpan pikiran itu untuk diriku sendiri. Jika dia ingin
merahasiakannya, sebenarnya ada banyak cara yang lebih halus untuk
melakukannya. Saito memang canggung dalam hal-hal yang aneh.
Bahkan setelah itu, aku
berakhir menjawab segudang pertanyaan lainnya darinya.
***
Sekitar satu minggu telah
berlalu sejak gelagat aneh Saito hari itu, dan kini Hari Valentine tinggal
beberapa hari lagi.
Seiring kian dekatnya
hari tersebut, dekorasi dan etalase bertema Valentine bermunculan di berbagai
toko. Deretan kotak cokelat yang dihias cantik berjejer rapi di rak-rak
pajangan.
Dari gelagat Saito hari
itu, kemungkinan besar dia akan memberiku cokelat saat Valentine nanti. Aku tak
bisa menahan rasa antusias yang membuncah. Membayangkan bakal menerimanya saja
sudah membuatku kesulitan membendung rasa harap di dada.
Dengan ekspektasi yang
begitu tinggi untuk hari Valentine, hari ini aku menjalani giliran kerja di
tempat kerja paruh waktuku.
"Akhirnya suasana
mulai tenang."
"Iya. Jam ramainya
datang sedikit lebih awal dari biasanya, tapi syukurlah kita berhasil
melewatinya tanpa kendala."
Seiring meredanya arus
pelanggan, aku bertukar beberapa patah kata dengan Hiiragi-san.
Sudah hampir enam bulan
berlalu sejak aku mulai bekerja di sini, dan aku sudah sangat terbiasa.
Sekalipun banyak pelanggan yang datang bersamaan, aku bisa menanganinya tanpa
masalah, dan aku hampir tidak pernah membutuhkan arahan dari Hiiragi-san lagi.
Menyadari betapa banyak
waktu telah berlalu, aku merasakan sedikit nostalgia.
"Ngomong-ngomong,
Tanaka-san. Mungkin cuma perasaanku saja, tapi kau kelihatan sangat ceria hari
ini. Apa yang terjadi, sesuatu yang menyenangkan?"
"Eh? Oh... Yah, Hari
Valentine kan sebentar lagi tiba, kan? Sebenarnya, kurasa 'orang istimewa itu'
mungkin bakal memberiku cokelat, jadi aku sangat menantikannya."
Aku tidak menyadari kalau
rasa antusiasme-ku terlihat begitu gamblang sampai-sampai Hiiragi-san bisa
mengetahuinya. Padahal kukira aku sudah cukup berhasil menjaga ekspresi
tenangku.
"...Begitu ya. Jadi
karena itu. Tapi bagaimana kau bisa begitu yakin kalau kau bakal dapat
cokelat?"
"Belum lama ini, dia
mulai menanyakan berbagai macam pertanyaan padaku—seperti rasa apa yang kusukai
atau apa aku tidak tahan makanan manis. Mempertimbangkan waktunya yang pas, kupikir ini pasti
tentang Valentine."
"Begitu ya...
Jadi kau menyadarinya ya?"
Hiiragi-san menggumam
pelan, tatapannya terarah padaku dengan ekspresi yang agak rumit.
"Um, ada yang
salah?"
"Tidak, bukan
apa-apa."
"Kau yakin? Pokoknya,
berkat pertanyaan-pertanyaan itu, kurasa dia pasti bakal memberiku cokelat.
...Meskipun bakal memalukan sekali kalau ternyata aku tidak dapat apa-apa
setelah semua harapan ini."
Jika aku tidak mendapatkan
apa-apa setelah begitu percaya diri, aku pasti bakal malu setengah mati. Namun
kurasa hal itu tidak akan terjadi.
"Kalau dipikir-pikir
lagi, waktu dia menanyakan hal-hal itu, rasanya agak mendadak, seolah memotong
alur pembicaraan kami. Kejanggalan itulah yang membuatku sadar kalau itu
mungkin soal Valentine. Tapi menurutmu kenapa dia bertanya begitu mendadak ya?"
"Yah... Mungkin dia
panik?"
"Panik?"
"Bisa saja dia
berpikir bakal ada orang lain yang mendahuluinya, jadi dia tidak bisa tenang
lagi."
Nada suara Hiiragi-san
terdengar lebih lembut dari biasanya, pandangannya sedikit tertunduk selagi ia
berbicara dengan ragu-ragu.
"Hmm. Tapi tidak ada
orang lain yang seperti itu, sih. Yah, sudahlah. Intinya, kurasa aku bakal
dapat cokelat darinya, dan itu membuatku sangat bahagia."
Reaksi Saito hari itu
memang masih menyisakan sedikit misteri, tetapi untuk sekarang, aku jauh lebih
antusias memikirkan cokelatnya. Mengetahui bahwa dia mencurahkan begitu banyak
usaha untuk membuatnya demi diriku saja sudah cukup untuk membuatku bahagia.
Saat aku membiarkan diriku
melamun senang, Hiiragi-san melirik ke arahku dengan ekspresi yang tampak
sedikit merasa bersalah.
"Um... Menurutku,
sebaiknya kau jangan terlalu berharap tinggi. Bagaimanapun juga, itu buatan
tangan seorang amatir. Tampilannya mungkin tidak secantik atau selezat cokelat
yang dijual di toko..."
Raut wajah cemas
Hiiragi-san terasa tidak biasa. Nada suaranya membawa sekelumit kekhawatiran
yang tulus.
"Tunggu... Apa
Hiiragi-san juga berencana memberikan cokelat pada seseorang?"
"Eh... I-iya."
Tebakanku tepat. Ia
mengangguk pelan, Tatapannya melirik canggung ke samping. Kemungkinan besar
untuk orang yang sempat ia ceritakan sebelumnya, seseorang yang tampak cukup
dekat dengannya. Aku bisa membayangkan betapa gugupnya dia, terlebih karena
jarang sekali melihatnya terlihat serapuh ini.
Sangat wajar merasa cemas
apakah orang yang menerimanya akan menyukainya atau justru merasa kecewa. Aku
pun merasakan hal yang persis sama waktu memberikan hadiah pada Saito tempo
hari.
Memberikan sesuatu
kepada orang lain memang tidak pernah mudah. Namun, justru karena sulit,
tindakan itu memiliki makna yang sangat besar. Usaha di baliknya saja sudah
cukup untuk menyampaikan betapa besarnya rasa pedulimu.
Jadi, kuputuskan untuk
meluruskan pemikiran Hiiragi-san tentang satu hal.
"Dengar ya,
Hiiragi-san. Fakta bahwa itu buatan tangan justru adalah hal yang membuatnya
istimewa."
"Eh?"
"Sekalipun bentuknya
tidak sempurna, itu sama sekali tidak masalah. Malahan, ketidaksempurnaannya
itulah yang membuatnya jauh lebih berharga. Mengetahui bahwa seseorang
meluangkan waktu dan tenaganya khusus untuk membuat sesuatu demi dirimu adalah
hal yang paling bermakna."
Aku berbicara dengan
sedikit terbawa suasana.
Tentu saja rasa dan
penampilan juga penting, tetapi jika hanya itu yang dicari, orang bisa dengan
mudah membelinya di toko. Memilih untuk membuatnya sendiri dengan tangan
menunjukkan keinginan tulus untuk menyampaikan perasaan. Ini tentang
mencurahkan usaha demi orang lain, dan itulah yang paling berharga.
"Jadi jangan khawatir, Hiiragi-san. Berikan saja padanya
dengan penuh percaya diri. Dia pasti akan sangat menghargainya."
"...Baiklah."
Saat kutatap matanya
dengan sungguh-sungguh, Hiiragi-san akhirnya mengangguk.
Namun tampaknya masih ada
sesuatu yang mengganjal di hatinya, ia mendongak menatapku ragu-ragu dengan
sedikit mengernyitkan alisnya.
"...Sebagai contoh,
Tanaka-san, apa kau bakal merasa senang kalau menerima cokelat dari orang
istimewa itu, sekalipun bentuknya tidak terlalu bagus?"
"Tentu saja. Kalau
itu dari dia, aku pasti bakal sangat senang tak peduli seperti apa pun
bentuknya. Aku pasti bakal luar biasa gembira."
Mungkin kata "luar
biasa gembira" agak berlebihan, tetapi jika aku benar-benar mendapatkan
cokelat dari Saito, aku jelas akan sangat bahagia. Membayangkannya saja sudah
membuatku tersenyum sendiri.
"...Begitu ya."
Mata Hiiragi-san sedikit
melebar mendengar jawabanku. Suaranya meluncur sedikit melengking saat
bergumam, lalu ia buru-buru menundukkan kepalanya. Dari kepalanya yang
tertunduk, terlihat jelas daun telinganya yang memerah padam.
"Jadi, kau berencana
membuat apa untuknya?"
"Yah, kupikir makanan
yang terlalu manis mungkin tidak cocok dengan seleranya, jadi aku berencana
membuat brownies cokelat pekat (bitter chocolate) dengan taburan
buah-buahan kering di atasnya. Satunya lagi adalah orangette."
"Orangette?"
"Itu manisan kulit
jeruk yang dilapisi cokelat. Rasanya menyegarkan dengan aroma jeruk, jadi
kupikir itu bakal disukai."
"Wah, kedengarannya
mewah sekali."
Aku belum pernah
mendengarnya sebelumnya, tetapi menilai dari penjelasannya, hidangan itu
terdengar sangat lezat. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes.
"Kurasa dia pasti
bakal menyukainya."
"Apa kau berpikir
begitu? Apa kau sendiri bakal senang kalau menerima hal semacam itu?"
"Tentu saja. Ini
pertama kalinya aku mendengar nama makanan itu, tapi kedengarannya sangat enak.
Aku yakin orang yang menerimanya pasti bakal sangat senang."
"Baiklah kalau
begitu."
Raut wajah Hiiragi-san sedikit melunak, seolah merasa lega dan tenang berkat kata-kataku.
***
Hari Valentine. Suasana di
sekolah terasa sangat riuh dan gelisah dari biasanya.
Waktu-waktu seperti ini
setiap tahunnya selalu menghadirkan atmosfer yang serupa. Murid-murid saling
mencuri pandang satu sama lain, berusaha membaca reaksi di sekitar mereka.
Sebagian membuka loker sepatu mereka dengan penuh harap dan jantung yang berdegup
kencang, sementara yang lain—sambil pura-pura tidak peduli—mengintip ke dalam
kolong meja mereka. Pemandangan semacam ini terjadi di berbagai sudut sekolah.
Hingga tahun lalu, aku
selalu berpikir, Apa cokelat benar-benar sepenting itu? Namun sekarang,
aku memahami perasaan itu. Cokelat Valentine memang membawa daya pikat
tersendiri yang unik. Kenyataannya, aku begitu menantikan cokelat dari Saito
sampai-sampai tidak sabar menunggu jam pulang sekolah tiba. Tentu saja, masih
ada sedikit rasa cemas kalau-kalau aku ternyata tidak menerima apa-apa sama
sekali.
Tenggelam dalam
pikiran-pikiran tersebut, aku berjalan menyusuri lorong saat pergantian jam
pelajaran dan menangkap sosok Saito. Ia sedang dikelilingi oleh sekelompok
siswi, terlibat dalam percakapan yang seru. Senyum sopannya yang terkendali
sempurna terlihat tanpa cela seperti biasa—begitu cantik hingga tampak nyaris
tidak nyata.
Aku bisa mendengar suara
lembut Saito berpadu dengan celotehan para siswi tersebut.
"Ngomong-ngomong,
hari ini Hari Valentine ya?"
"Beberapa anak cowok
di kelas kita tadi tampangnya kelihatan berharap banget dapat cokelat."
"Mana sudi aku kasih
ke mereka."
"Tapi kalau punya
pacar, kau pasti bakal kasih dia cokelat, kan?"
"Yah, itu sih sudah
pasti, kan?"
"Ooh, asyik banget!
Ngomong-ngomong, Rena, apa kau bakal kasih cokelat ke seseorang?"
"Kami penasaran
nih!"
Tampaknya percakapan
mereka berputar di topik Hari Valentine—persis seperti apa yang sedari tadi
mengusik kepalaku. Tanpa sengaja, aku mendapati diriku sedang menguping obrolan
mereka.
"...Tidak, aku tidak
berencana memberikan cokelat pada siapa pun."
"Yah, sayang banget!
Padahal anak-anak cowok di kelas kemarin pada heboh bilang, 'Siapa tahu kita
dapat cokelat dari Saito-san!' dan kelihatan antusias banget."
"Tidak, aku kan
tidak pandai berurusan dengan laki-laki..."
"Yah, itu benar
sih. Kau memang selalu menghindari mereka. Tapi tahu tidak, hal itu justru
membuat kami merasa lebih nyaman berteman denganmu."
"Iya, aku paham
maksudmu. Rena kan cantik banget, jadi kita bakal waswas kalau-kalau dia
merebut cowok yang kita sukai. Tapi karena sifatnya begitu, jadi sangat
melegakan jalan bareng dia. Ditambah lagi cowok-cowok selalu otomatis mendekat
ke arahnya, jadi dia tidak akan pernah kekurangan kesempatan buat ketemu
seseorang."
"Kalian ini
terlalu blak-blakan bicaranya!"
Tawa bernada tinggi
dan kata-kata menggoda mereka terdengar sangat mengusik telingaku. Aku melirik
ke arah Saito yang tetap mempertahankan senyumannya yang tenang tanpa goyah
sedikit pun.
(Sialan.)
Gelombang rasa kesal
bergejolak di dalam dadaku. Dari dulu aku sudah tahu kalau Saito mengalami
banyak kesulitan gara-gara penampilannya, dan secara logika aku memahaminya.
Namun mendengar komentar santai mereka yang memperlakukannya seperti itu hanya
membuat emosiku makin tersulut. Saat aku mengepalkan tanganku erat-erat,
seseorang menepuk pundakku dari belakang.
"Yo, Minato."
"Kazuki."
"Ada apa? Wajahmu
kelihatan seram sekali dari tadi."
"Bukan apa-apa. Cuma
sedang berpikir betapa populernya Saito seperti biasanya."
Tidak ada gunanya terus
menyaksikan pemandangan itu, jadi dengan enggan kualihkan pandanganku ke arah
lain.
"Ah, begitu rupanya.
Iya, popularitas Saito-san memang luar biasa. Bahkan anak-anak cowok di kelas
kita juga sedang membicarakannya."
"Membicarakan
apa?"
"Mereka bilang,
meskipun untunglah tidak ada satu pun dari mereka yang bakal dapat cokelat
darinya, kalau sampai ada yang dapat, mereka bakal luar biasa iri setengah
mati."
Hal semacam itu yang
mereka bicarakan? Yah, mengingat popularitas Saito, hal itu masuk akal. Namun
tetap saja menyebalkan melihat bagaimana orang-orang hanya menilai dari luarnya
saja.
"Terus? Bagaimana
denganmu sendiri? Kau pikir kau bakal dapat cokelat darinya?"
"Entahlah. Tadi aku
baru saja mendengar Saito bicara dengan teman-temannya dan bilang kalau dia
tidak berencana memberikan cokelat ke siapa pun."
Aku mengabaikan tatapan
menyelidik Kazuki, tetapi dia justru menghela napas panjang yang dibuat-buat.
"Tentu saja dia
bakal bilang begitu. Kalau orang-orang tahu dia punya seseorang untuk diberi
cokelat, sekolah ini pasti bakal gempar. Kau tahu hal itu kan?"
"Iya, aku
paham."
"Tapi sejujurnya,
kau kemungkinan besar bakal dapat, kan?"
"Kurasa begitu...
mungkin. Kecuali kalau aku yang kelewat percaya diri. Tapi tidak ada jaminan seratus persen. Tunggu, bagaimana
kau bisa tahu kalau dia mungkin memberiku cokelat?"
"Kelihatan dari
gelagatmu yang aneh—kau gelisah terus dari tadi. Kau bahkan tidak membaca buku
sama sekali waktu jam istirahat, hal yang luar biasa langka buatmu."
"...Masuk akal
juga."
Kazuki benar. Hari ini aku terlalu
teralihkan memikirkan cokelat sampai tidak bisa fokus membaca. Aku
terus-menerus mendongak menatap sekeliling kelas dari bukuku, dan tampaknya dia
menyadarinya.
"Kazuki... Kau
terlalu sering memperhatikanku. Kenapa, kau naksir aku atau bagaimana?"
"Mana mungkin! Siapa
saja pasti bakal sadar kalau orang sepertimu, yang kerjanya membaca melulu,
tiba-tiba mulai melamun sambil menatap sekeliling kelas saat istirahat. Bahkan
teman-temanku yang lain saja menyadarinya."
Sangkalan panik Kazuki
memberiku sedikit rasa tenang. Setidaknya khayalan aneh Saito tentang diriku
dan cowok ini jelas-jelas meleset jauh.
"Baiklah kalau
begitu. Walaupun kalau dipikir-pikir lagi, Hiiragi-san di tempat kerja kemarin
juga mengatakan hal yang serupa. Mungkin aku memang lebih mudah dibaca dari
yang kukira."
"Oh? Dia bilang
apa?"
Kazuki menyeringai licik
dan mencondongkan tubuhnya penuh rasa ingin tahu. Dia selalu terlihat sangat
bersemangat setiap kali topik tentang Hiiragi-san diungkit.
"Dia bertanya, 'Kau
kelihatan senang hari ini. Terjadi sesuatu yang baik?' Jadi kuceritakan padanya
kalau aku sedang menantikan Hari Valentine."
"Begitu ya, begitu
ya."
"Dia juga bilang
kalau dia berencana memberikan cokelat kepada seseorang yang sangat berjasa
padanya. Dia kelihatan cemas apakah cokelat buatannya bakal berhasil atau
tidak, jadi kuberi dia sedikit semangat tentang keistimewaan hadiah buatan
tangan."
"Wah, kau
benar-benar mengerahkan segalanya ya! Yah, kurasa itu bagus. He-eh, he-eh."
Kazuki terkekeh terkejut,
lalu tersenyum penuh arti sembari mengangguk-angguk sendiri. Aku tidak tahu apa
yang menurutnya begitu menggelikan, tetapi dia tampaknya sangat menikmati momen
menjahiliku ini.
"Hentikan senyum
licikmu itu. Menyukai hadiah buatan tangan bukan hal yang aneh."
"Tentu saja, tentu
saja. Pokoknya tenang saja. Kau pasti bakal dapat cokelat dari Saito-san."
Aku tidak tahu bagaimana
dia bisa seyakin itu. Meskipun aku merasa kemungkinan besar dia akan memberiku,
hal itu belum pasti. Melihat Kazuki terus tersenyum percaya diri, aku menyerah
untuk mendebatnya lebih jauh dan hanya menghela napas.
***
Sore hari akhirnya tiba,
dan bersamaan dengan itu datanglah momen yang telah kutunggu-tunggu sepanjang
hari. Namun sekarang setelah waktunya tiba di depan mata, aku tak bisa
mengenyahkan rasa gugup apakah aku benar-benar akan menerima cokelat darinya.
Bagaimanapun juga, Saito tadi sempat bilang kalau ia tidak berencana memberikan
cokelat pada siapa pun.
Sekalipun dia
mengatakannya hanya demi mengalihkan perhatian seperti yang ditebak Kazuki,
masih ada kemungkinan aku memang tidak akan mendapatkannya. Semakin kupikirkan,
keraguanku kian mendalam. Diselimuti perasaan bimbang, aku mengunjungi rumah
Saito sepulang sekolah seperti biasa, tetapi sengaja datang sedikit lebih
lambat dari jam janjian kami yang biasa.
Meskipun sudah terbiasa,
menekan bel pintunya terasa sangat mendebarkan hari ini. Menarik napas perlahan
untuk menenangkan diri, kutekan tombol bel tersebut.
"Iya, sebentar."
"Permisi, maaf
mengganggu."
Pintu terbuka dengan bunyi
klik, dan sosok Saito muncul, masih mengenakan seragam sekolahnya. Rambut
hitamnya terayun lembut saat ia membimbingku masuk ke dalam.
(Seperti biasa...)
Tampaknya tidak ada
hal yang aneh. Dia sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda menyadari kalau hari ini adalah Hari Valentine dan
terlihat sangat tenang seperti biasa. Mempertahankan sikap tenangnya yang
biasa, Saito duduk di tempatnya yang biasa di sofa. Ia mengambil buku yang
sedang dibacanya dari atas meja lalu langsung menenggelamkan diri ke dalamnya.
Semuanya terasa sangat
biasa—terlalu biasa. Rutinitas yang sama sekali tidak berubah ini membuat
semangatku sedikit merosot saat aku duduk di sampingnya.
Mengeluarkan buku yang
sedang kubaca dari dalam tas ranselku, kucuri pandang ke arah garis wajahnya
dari samping. Bulu matanya yang lentik membingkai matanya yang jernih dan indah
yang sedang menyusuri halaman bukunya, pandangannya bergerak teratur dari atas
ke bawah. Dia sudah sepenuhnya larut ke dalam dunia ceritanya.
(...Yah, kurasa memang
begitulah kenyataannya.)
Aku menghela napas pelan
dan mengalihkan perhatianku kembali ke bukuku sendiri.
Tampaknya hanya aku
seorang yang terlalu banyak berpikir di sini. Bagi sebagian besar orang, Hari
Valentine bukanlah masalah yang luar biasa besar. Mengingat kembali tahun lalu,
aku pun tidak terlalu memedulikannya, jadi sikap tenang Saito adalah hal yang
sangat wajar. Tetap saja, perbedaan cara pandang kami terhadap hari ini
membuatku merasa sedikit kesepian. Menyadari betapa egoisnya pemikiran itu, aku
menggelengkan kepala untuk mengusirnya. Saito yang menyadarinya memiringkan
kepalanya bingung.
"Ada apa?"
"Eh? Oh, bukan
apa-apa."
"Benarkah?"
Aku mengabaikan
pertanyaannya, tetapi Saito terus menatapku dengan ekspresi heran. Mencari
bahan untuk mengganti topik, aku mendadak teringat pemandangan di sekolah tadi
siang.
"Ngomong-ngomong,
tadi siang aku melihatmu."
"Oh? Kapan?"
"Waktu istirahat
setelah pelajaran jam ketiga, kurasa. Kau sedang mengobrol dengan teman-temanmu di
lorong."
"Ah, waktu itu
ya."
Ia menggumam pelan,
tampaknya memahami apa yang kumaksud.
"Apa suasananya
selalu seperti itu?"
"Seperti apa
maksudmu?"
"Yah... bukannya aku
bermaksud tidak sopan, tapi teman-temanmu kelihatannya agak... kurang sopan.
Terutama soal bagaimana cara mereka membicarakan penampilanmu."
Aku sempat ragu-ragu,
memilih kata-kataku dengan sangat hati-hati. Aku tidak terlalu mengenal teman-temannya dan tidak
ingin terdengar terlalu kasar. Tanganku secara refleks menggaruk pipi saat aku
menunduk.
Saito menyunggingkan
senyum kecut yang tipis lalu bergumam, "...Itu memang benar." Ia
tampak bingung harus merespons apa, dan selagi aku bersusah payah mencari topik
lain, ia menghembuskan napas perlahan.
"Terima kasih sudah
mencemaskanku. Tapi aku tidak apa-apa, kok."
"Kau yakin?"
"Iya. Mereka bukan
orang jahat, dan bagi anak perempuan, menjadi bagian dari sebuah kelompok bisa
menghindari banyak masalah yang tidak perlu. Aku sudah belajar cara
memilah-milah perasaan."
"Kalau kau bilang
begitu, baiklah."
Jika Saito bilang dia
baik-baik saja, maka aku tidak akan memaksanya. Namun, bayangan senyum sopannya
yang terkesan menjaga jarak tadi siang masih membekas di benakku, dan aku tak
tahan untuk tidak khawatir. Hanya karena dia sudah terbiasa menghadapinya,
bukan berarti hal itu tidak menyakitkan baginya.
Aku ingin mengatakan
sesuatu untuk menghiburnya, tetapi tidak ada kata-kata yang terlintas di
kepalaku. Saat aku menatapnya, ia memberiku senyuman lembut yang menenangkan,
seolah ingin mengusir semua kekhawatiranku.
"Sungguh tidak
apa-apa, Tanaka-kun. Karena kau selalu melihatku apa adanya, diriku yang
sebenarnya, hal-hal seperti itu tidak menggangguku lagi."
Suaranya yang jernih
dan lembut terngiang merdu di telingaku. Caranya menyipitkan mata dengan penuh kehangatan membuat
senyumannya tampak begitu menyilaukan.
Rasa percaya dan
ketulusan. Itulah yang kurasakan darinya. Merasa salah tingkah karena
intensitas momen tersebut, aku hanya bisa terbata-bata, "Oh, b-begitu
ya."
(Ya ampun...)
Aku menghela napas dalam
diam untuk mendinginkan pipiku yang merona hangat. Menarik napas dalam-dalam,
aku menguasai diriku kembali.
Momen-momen seperti ini
selalu saja sukses membuatku lengah. Mana mungkin ada orang yang tidak salah
tingkah setelah melihat senyuman seindah itu? Aku memalingkan pandanganku dari
Saito, berusaha mendapatkan kembali ketenanganku, lalu kembali menatap buku di
tanganku.
Saat aku mulai membaca,
Saito pun kembali memusatkan fokusnya pada bukunya. Meliriknya dari samping,
kulihat ekspresi netralnya yang biasa telah kembali, seolah senyuman Imut tadi
hanyalah ilusi yang cepat berlalu.
Dia memang masih tampak
tidak peduli pada Hari Valentine, tetapi rasa sepi yang kurasakan tadi perlahan
memudar, dan aku bisa kembali berkonsentrasi pada bacaanku.
Begitu tenggelam dalam
bacaan, waktu berlalu begitu cepat. Detak jarum jam dinding, gemerisik halaman
yang sesekali dibalik, dan tekstur kertas di ujung jemariku menciptakan latar
belakang yang damai. Iramanya begitu menenangkan dan hening.
Ketika mencapai titik jeda
yang pas di dalam cerita, aku menghembuskan napas pelan, meregangkan tubuh
untuk melemaskan pundakku yang kaku. Mendengar suara gemeretak di punggungku, aku melirik
ke samping dan mata kami saling bertemu.
Namun, ia buru-buru
memalingkan pandangannya ke arah lain.
(Ada apa dengannya?)
Aku memiringkan kepalaku
sedikit karena bingung. Rasanya tadi dia memang sedang memperhatikanku.
Kenapa? Saito bukanlah tipe orang yang suka memperhatikan orang lain jika sudah
fokus membaca. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Saat memperhatikannya
beberapa saat, bertanya-tanya apakah dia ingin mengatakan sesuatu, ia kembali
melirik ke arahku. Namun begitu mata kami bertemu lagi, ia lekas mengembalikan
fokusnya ke bukunya.
Kalau hal ini terjadi
dua kali berturut-turut, pasti ada sesuatu yang sedang mengganjal di kepalanya.
"Ada apa?"
"Eh?!"
Reaksi Saito terlihat
jelas sangat kelabakan, Suaranya sedikit bergetar. Ia menggumamkan,
"Um..." selagi kedua pipinya berubah menjadi warna merah muda bunga
sakura yang Imut, dan matanya bergetar bimbang. Kulihat pegangannya pada buku
kian mengerat.
(Ah, jadi itu alasannya!)
Reaksinya yang salah
tingkah membuat niatnya terbaca sangat jelas. Mengingat pentingnya hari ini,
dia pasti sedang mencari momen yang tepat untuk memberiku cokelat. Setidaknya,
itulah yang ingin kupercayai.
Aku merasa sangat bahagia
mengetahui bahwa bukan hanya diriku saja yang menganggap Hari Valentine ini
spesial. Ekspresi malu-malu Saito, pipinya yang merona merah jelas, terlihat
begitu menggemaskan sampai-sampai aku hampir tersenyum lebar seperti orang bodoh.
Aku buru-buru mengendalikan ekspresi wajahku, nyaris saja mempermalukan diri
sendiri dengan tersenyum idiot.
Kapan dia akan
memberikannya padaku? Rasanya tidak sopan kalau aku mendesaknya, jadi
kuputuskan untuk menunggu dengan sabar, siap kapan pun dia memutuskan untuk
menyerahkannya. Aku terus membaca bukuku, sesekali mencuri pandang ke arah
Saito. Kulihat dia juga sesekali mencuri pandang ke arahku, Matanya melirik ke
arahku dari waktu ke waktu.
(...Kurasa aku harus
segera pulang sebentar lagi.)
Setelah beberapa lama,
kututup bukuku dengan ketukan pelan.
Pipi Saito yang sedikit
memerah dan caranya sesekali memperhatikanku memang tak terbantahkan sangat
menggemaskan, dan aku ingin berlama-lama di sini lebih lama lagi. Namun saat
kulihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan malam. Aku tidak
bisa bertamu di rumahnya lebih lama dari ini. Aku masih harus memasak makan
malam di rumah. Aku memasukkan bukuku ke dalam ransel.
"...Sudah lewat jam
delapan, jadi aku harus pamit pulang."
"Eh? Sudah semalam
ini?!"
Saito, yang tampaknya
tidak menyadari waktu, buru-buru melirik ke arah jam dinding. Melihat
reaksinya, kusampirkan ranselku di pundak lalu bangkit berdiri.
"Kalau begitu—"
"Ah, tunggu!
Kuantar sampai depan."
Dengan tergesa-gesa, Saito
mengikutiku melangkah menuju pintu depan. Setelah mengenakan sepatuku, aku
berbalik menghadap ke arahnya.
"Jadi, um..."
Aku membuka mulutku hendak
menanyakan soal cokelat itu, tetapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku.
Bagaimana kalau semua ini hanya ada di dalam kepalaku saja? Bagaimana kalau
Saito sebenarnya sama sekali tidak berniat memberiku apa pun? Membayangkan
kesalahpahaman itu dan betapa memalukannya hal tersebut membuat nyaliku menciut
untuk bertanya.
"Ada apa?"
"...Tidak ada
apa-apa. Sampai jumpa besok."
"...Iya, sampai
besok."
Langkah kakiku terasa
sangat berat dan enggan saat melangkah keluar dari rumah Saito. Bahkan saat
berjalan menjauh, kurasakan dorongan kuat untuk menoleh ke belakang tetapi
kutahan sekuat tenaga. Suara pintu yang tertutup di belakangku bergema di
telingaku.
(Hah...)
Menuruni tangga dari
apartemen Saito di lantai dua menuju pintu keluar gedung, aku melangkah keluar
ke jalanan. Angin dingin menyengat kulitku, terasa tajam dan menusuk. Hembusan
napasku keluar berupa kepulan putih saat aku menghela napas.
Tampaknya suhunya telah
anjlok drastis. Selagi berjalan, sesuatu menyentuh ujung hidungku. Mendongak ke
atas, kulihat butiran salju melayang turun dari langit malam yang gelap,
berkibar layaknya kelopak bunga yang rapuh.
(Tidak ada cokelat buatku,
ya.)
***
Jalanan perlahan mulai
terselimuti warna putih tipis selagi aku melangkah gontai, menghembuskan helaan
napas panjang lainnya.
Seharusnya tadi aku
bertanya saja langsung padanya. Kalau kulakukan itu, aku tidak akan merasa
segelisah ini sekarang. Atau seharusnya aku bersikap lebih terus terang tentang
betapa aku menginginkan cokelat darinya.
Di setiap langkah kaki,
rasa sesal kian menumpuk. Biasanya aku tidak akan merasa seputus asa ini,
tetapi ekspektasiku yang kelewat tinggi membuat rasa kecewanya terasa
berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Apa tadi aku terlalu
percaya diri? Mengira dia pasti
bakal memberiku cokelat? Tapi kalau begitu... bagaimana dengan sikapnya yang
tersipu malu dan salah tingkah tadi?
Semakin kupikirkan, aku
merasa semakin menyedihkan karena tidak punya keberanian untuk bertanya.
(Hah... padahal aku
benar-benar ingin dapat cokelat darinya.)
"Tanaka-kun!"
"Eh?"
Sebuah suara memanggil
dari belakang, dan aku sontak berbalik kaget. Di sana berdiri sosok Saito, masih mengenakan seragam
sekolahnya, tanpa memakai mantel luar sama sekali.
"S-Saito?"
Pemandangan tak terduga
itu membuat pikiranku seketika kosong. Apa ini nyata?
Selagi aku berdiri
mematung terperangah, Saito mengulurkan sebuah kantong kertas kecil dengan
kedua tangannya, gerak-geriknya terlihat begitu malu-malu dan ragu.
"B-bisakah kau
menerima ini?"
Suaranya bergetar pelan,
dan matanya yang gelap, berkilau diwarnai keraguan, mendongak menatapku.
Alisnya sedikit bertaut, dan bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus,
memperjelas rasa gugupnya.
Inilah momen yang sedari
tadi kunantikan sepanjang hari, namun sekarang saat momen itu terjadi tepat di
depan mata, tubuhku mendadak kaku karena gugup. Semuanya terjadi begitu
tiba-tiba. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan?
Entah bagaimana caranya,
aku berhasil memaksakan suara, "I-iya," lalu menerima kantong kertas
tersebut dari tangannya.
Saat aku menerimanya,
Saito menghela napas lega secara perlahan, raut wajahnya sedikit melunak. Namun
wajahnya lekas berubah menjadi merah padam pekat, dan ia menundukkan
pandangannya, dengan gugup merapikan rambutnya dengan tangan sembari berbicara
dengan nada suara yang terburu-buru dan panik.
"Yah... tampilannya
mungkin tidak terlalu bagus, dan aku tidak bisa menjamin rasanya enak, tapi aku
memilih potongan terbaik yang berhasil kubuat... J-jadi, um... sampai
jumpa!"
"Tunggu, Saito—"
Sebelum aku sempat
mengatakan apa pun, ia sudah berbalik dan bergegas lari menjauh. Aku berdiri
terpaku di sana, memandangi punggungnya yang menjauh selagi ujung rok
seragamnya berkibar hingga akhirnya sosoknya menghilang dari pandangan.
Semuanya terjadi begitu
cepat, persis seperti mimpi. Namun kantong kertas di tanganku ini nyata adanya
tanpa keraguan.
Kantong itu terlihat
elegan, berwarna hitam pekat dengan aksen emas yang mewah. Saat kugerakkan
sedikit, terdengar suara gemerisik halus dari dalamnya. Bobotnya tidak berat,
tapi juga tidak terlalu ringan. Beratnya terasa pas. Tak salah lagi—ada sesuatu
di dalamnya.
(Ini adalah...)
Hal yang sedari tadi
kuharapkan sepanjang hari. Hal yang telah lama kunantikan.
Aku sudah membayangkan
momen ini tak terhitung kali di kepalaku. Kapan dia akan memberikannya,
bagaimana caranya menghampiriku, hadiah seperti apa yang akan kuterima.
Pikiran-pikiran itu sempat membuatku bahagia sekaligus cemas dalam porsi yang
sama. Dan sekarang,
bingkisan itu nyata berada di dalam genggaman tanganku. Menelan ludah dengan
gugup, kubuka kantong kertas itu secara perlahan dan hati-hati.
Ah, persis seperti
dugaanku. Di dalamnya terdapat sebuah bungkusan kecil dan sebuah kotak mungil. Bahkan tanpa melihat
isinya sekalipun, sudah sangat jelas apa itu.
(Cokelat.)
Di atas kotak kecil itu,
terdapat secarik surat yang terlipat rapi. Kuambil surat itu dan membukanya,
mendapati tulisan tangan Saito yang rapi dan anggun:
"Untuk Tanaka-kun...
Aku menyiapkan sesuatu
yang kupikir cocok dengan seleramu, Tanaka-kun, tapi aku belum terlalu
berpengalaman membuatnya, jadi aku minta maaf jika hasilnya tidak sesuai dengan
ekspektasimu. Aku akan sangat senang jika kau menyukainya, meski hanya sedikit."
Membaca surat yang
diberikan tadi, aku tak bisa menahan senyum kecut yang terukir di bibirku.
Surat itu ditulis dengan perasaan yang persis sama dengan kata-kata yang
diucapkan Saito saat menyerahkannya tadi. Ketulusan perasaannya terpampang
begitu nyata. Mengingat kembali sikapnya yang sedikit cemas namun begitu
bersungguh-sungguh saat menyerahkannya tadi, rasa hangat yang Imut sekaligus
perih meremas dadaku.
Kututup kantong itu dan
mempercepat langkah kakiku menuju rumah. Semakin dekat ke rumah, kenyataan
bahwa aku benar-benar menerima cokelat darinya kian meresap ke dalam batinku.
Suasana muram yang kurasakan tadi seketika lenyap tak berbekas, berganti dengan
luapan sukacita yang membuat langkah kakiku makin terburu-buru.
B***
"Aku pulang."
Dengan napas yang sedikit
terengah-engah, aku melangkah masuk ke dalam kamarku dan meletakkan bingkisan
tadi di atas meja belajar. Dengan sangat hati-hati, kubuka kembali untuk
memperlihatkan dua bingkisan yang terbungkus rapi dan sebuah surat di dalamnya.
Salah satu paket kecil
disegel menggunakan stiker, sementara kotak di sebelahnya diikat cantik dengan
pita. Kuambil surat yang tadi kubaca lalu meletakkannya di atas meja sebelum
mengambil kantong plastik transparan. Karena plastiknya bening, aku bisa langsung melihat
isinya dengan jelas.
(Apa ini?)
Di dalamnya terdapat
stik panjang berwarna jingga kecokelatan yang tembus pandang dan dilapisi oleh
cokelat. Kelihatannya seperti manisan kulit jeruk, ditaburi sedikit gula dan
bercak bubuk putih. Kontras antara warna jingga dan hitam terlihat sangat
mencolok dan luar biasa modis.
Aku langsung
membukanya dan menggigit satu suapan. Bentuknya yang ramping membuatnya sangat
mudah dipegang dan dimakan. Ledakan aroma segar jeruk dan rasa manis alami
seketika memenuhi rongga mulutku, disusul oleh rasa pahit lembut khas kakao
dari cokelatnya. Persis seperti penampilannya, rasanya tidak terlalu manis, dan
cita rasa buah alaminya terjaga dengan sangat sempurna. Rasanya begitu lezat
hingga aku langsung meraih stik yang kedua.
Setelah menikmati isi
kantong tersebut, kuarahkan perhatianku ke kotak yang satunya lagi. Membuka
ikatan pitanya dan membuka tutupnya, tampaklah sebuah kue brownies
cokelat.
Namun ini bukan
sekadar brownies biasa. Bagian atasnya dihiasi taburan aneka buah
kering, kacang-kacangan, dan pistasio, tersusun indah layaknya mosaik permata
yang berkilau. Tampilannya luar biasa cantik dan memukau.
Untuk sesaat aku
mematung, terpesona oleh keindahannya. Menguasai diriku kembali, aku hendak
memotong brownies itu—tetapi ternyata kuenya sudah dipotong rapi menjadi
ukuran satu suapan, memperlihatkan betapa telitinya perhatian Saito terhadap
hal-hal kecil. Kumasukkan satu potong ke dalam mulutku. Rasa kakao yang sedikit
pahit berpadu sempurna dengan manisnya buah kering dan tekstur renyah
kacang-kacangan, menciptakan keseimbangan rasa yang begitu luar biasa hingga
membuatku tersenyum bahagia.
Saito tadi sempat
cemas soal rasa dan penampilannya, tetapi ini benar-benar sempurna. Tampilannya
memukau, dan rasanya luar biasa lezat. Yang paling penting, semuanya cocok
persis dengan seleraku, memperlihatkan betapa banyak pertimbangan yang telah ia
curahkan demi diriku.
(Sungguh, aku selalu
saja menjadi pihak yang menerima begitu banyak darinya.)
Usahanya yang begitu tulus
membuat pipiku terasa menghangat. Aku menghembuskan napas perlahan untuk
menenangkan diri.
Merasa puas menikmati
cokelatnya, aku mulai memasukkannya kembali ke dalam kantong kertas saat
menyadari ada secarik surat lainnya di dalam sana, tersembunyi di bawah dasar
kotak.
Mengambilnya, kudapati
sebuah pesan singkat yang ditulis dengan tulisan tangan Saito yang teliti.
"Dan terima kasih
karena selalu melihatku apa adanya diriku yang sebenarnya. Dari Saito
Rena."
Surat ini, yang
kemungkinan besar awalnya diletakkan di atas kotak, pasti tak sengaja terselip
ke bagian paling bawah. Kata-kata terima kasih yang tak terduga itu
menghangatkan seluruh rongga dadaku dan menerbitkan senyuman tulus di wajahku.
(Tapi sungguh,
cokelat-cokelat ini luar biasa enak.)
Kubaca ulang surat itu
berkali-kali, mengunyah sepotong cokelat lagi saat aroma sitrus yang
menyegarkan kembali memenuhi mulutku, membuatku tersenyum lebar.
Bahkan bagi orang
sepertiku yang tidak terlalu suka makanan manis, cokelat ini terasa luar biasa
lezat.
Aku mengunyahnya perlahan, menikmati cita
rasanya sekaligus kebahagiaan karena telah menerimanya.
Begitu cokelatnya meleleh
habis, pandanganku kembali tertuju pada surat tersebut. Bagi Saito, ini mungkin
hanya sekadar ungkapan terima kasih biasa, tetapi ini membuatku merasa luar
biasa bahagia di luar dugaan.
Mungkin karena kontras
dengan rasa kecewa yang sempat kurasakan tadi. Apa pun alasannya, aku
benar-benar merasa sangat gembira—bahkan sampai memotret cokelat-cokelat itu
dengan ponselku tanpa berpikir panjang.
Ketelitian Saito terpancar
begitu nyata dalam desain dan usaha yang ia tuangkan ke dalam cokelat ini.
Fakta bahwa ia bersusah payah menyiapkan sesuatu yang khusus untukku membuatnya
terasa berkali-kali lipat lebih istimewa.
(Gawat ini... aku
tidak bisa berhenti tersenyum.)
Semakin banyak waktu
berlalu, kenyataannya kian meresap ke dalam hatiku, dan aku tak bisa menahan
sudut bibirku yang terus tertarik membentuk senyuman lebar. Biasanya aku akan
menganggap hal semacam ini sepele, tetapi mengetahui betapa berbedanya diriku saat
ini justru membuat senyumanku makin mengembang.
(Benar juga, aku harus
mengucapkan terima kasih padanya.)
Mengingat momen saat
menerimanya tadi, kuraih ponselku. Kejutan tadi membuatku terlalu salah tingkah
untuk mengungkapkan rasa terima kasihku secara langsung, dan Saito lekas
bergegas pulang sehingga tidak menyisakan kesempatan. Aku memang selalu bisa
berterima kasih saat kami bertemu lagi nanti, tetapi aku ingin melakukannya
sekarang, meski hanya lewat pesan singkat.
"Terima kasih untuk
cokelatnya. Aku benar-benar sangat bahagia menerimanya, dan rasanya luar biasa
lezat."
Pesannya terasa agak kaku
dan singkat, tetapi jika aku mencoba menulis lebih mendalam, perasaanku yang
meluap saat ini bisa-bisa tumpah keluar semuanya. Aku tidak ingin membocorkan
betapa besar rasa bahagia yang kurasakan—itu bisa terkesan terlalu berlebihan.
Menekan tombol kirim,
kulihat tanda terbaca (read) muncul hampir seketika.
"Syukurlah kalau
cocok dengan seleramu. Makanan itu tidak tahan lama, jadi tolong habiskan
secepatnya."
Balasannya begitu ringkas
dan lugas—sangat khas Saito. Nada bicaranya yang tenang, bahkan lewat layar
sekalipun, membuatku terkekeh kecut. Cokelatnya memang benar-benar lezat,
tetapi aku tidak yakin apakah ketulusan perasaanku berhasil tersampaikan padanya.
Untuk sekarang, kubiarkan saja seperti ini dulu. Aku bisa membagikan perasaanku
yang sebenarnya saat kami bertemu lagi nanti.
Memandangi foto-foto
cokelat yang tadi kuambil, kuraih sepotong lagi. Aku benar-benar
menyukainya—tampilannya secantik batu permata. Mengamati manisanan kulit jeruk
berlapis cokelat di tanganku, sebuah pertanyaan melintas di kepala. Kucari kata
kunci "cokelat jeruk" di internet.
Ah, sudah kuduga. Dari
hasil pencarian yang kutemukan, kudapan cokelat elegan ini disebut orangette.
Mengingat penjelasan Hiiragi-san tempo hari, semuanya seketika terasa pas.
Hadiah yang begitu modis dan berkelas ini sangat masuk akal.
Jarang sekali Saito dan
Hiiragi-san memilih jenis cokelat yang persis sama. Mungkinkah ini memang
sedang tren?
Selagi aku merenungkannya,
sebuah pemikiran aneh mendadak menyergap benakku. ...Tunggu, sebentar.
Memutar ulang percakapanku
dengan Hiiragi-san di kepalaku, aku ingat dia sempat bilang bakal memberikan orangette
dan brownies cokelat kepada orang yang disukainya. Mataku seketika
beralih ke atas meja, tertuju pada bingkisan lain yang kuterima dari Saito—brownies
dengan taburan buah-buahan kering di atasnya.
(Apa?)
Makanan yang direncanakan
Hiiragi-san dan apa yang diberikan Saito padaku... identik. Mungkinkah kedua
hal ini bisa tumpang tindih secara kebetulan seperti ini?
Bisa saja ini hanya
kebetulan murni. Malahan, tidak ada penjelasan logis lainnya. Itu hal yang
mustahil—namun rasa janggal yang mengusik tak mau pergi dari kepalaku. Apa ada
sesuatu yang terlewat olehku?
Apa yang sebenarnya sedang
terjadi? Kumenumpukan jemariku di dagu sembari berpikir keras. Jika ini bukan
sekadar kebetulan, maka... mungkinkah Saito dan Hiiragi-san saling mengenal dan
sempat berdiskusi tentang apa yang harus diberikan padaku? Atau mungkin, seperti
yang kupikirkan tadi, kedua hadiah ini memang tren populer tahun ini? Meskipun
begitu, aku belum pernah mendengar makanan ini sebegitu populernya. Jika ada kemungkinan
lain...
Pikiranku terhenti saat
mataku tertuju pada surat yang kuterima dari Saito. Hiiragi-san memang tidak
menyinggung soal menyertakan surat, jadi aku tidak bisa memastikan apakah
mereka sama dalam hal itu. Namun jika dia menyertakannya, aku yakin siapa pun yang
menerimanya pasti bakal sangat bahagia. Toh, aku sendiri merasa sebahagia ini
menerima suratku. Kubaca ulang surat itu dari awal, hingga ke tanda tangan di
bagian paling bawah.
(Saito Rena, ya? Tunggu,
Rena?)
Aku hampir tidak pernah
memanggilnya dengan nama depannya, jadi aku tidak pernah terlalu
memperhatikannya. Tentu saja aku tahu nama depannya adalah Rena, tetapi karena
tidak pernah punya alasan untuk menggunakannya, hal itu sempat luput dari
ingatanku. Memanggil seorang gadis dengan nama depannya terasa seperti
rintangan yang mustahil kulewati. Dalam situasi seperti apa aku bakal
melakukannya?
Bukan, bukan itu masalah
utamanya sekarang.
(Kalau dipikir-pikir lagi,
bukankah nama depan Hiiragi-san juga Rena?)
Di tempat kerja, kami
biasanya saling memanggil dengan nama keluarga kami, dan papan nama kami hanya
menampilkan nama keluarga saja. Karena itulah aku tidak tahu banyak nama depan
rekan kerjaku. Ada pengecualian, seperti Mai-san, yang memiliki nama keluarga
yang sama dengan orang lain di kedai, jadi dia dipanggil dengan nama depannya.
Namun untuk sebagian besar staf, kami hanya menggunakan nama keluarga.
Namun Hiiragi-san adalah
pembimbing pertamaku waktu aku baru mulai bekerja paruh waktu di sana. Dan yang
lebih penting, saat perkenalan diri pertamanya dulu, aku samar-samar ingat
pernah berpikir bahwa namanya sama dengan nama Saito. Itu memang bukan nama
yang langka, tetapi karena cocok dengan orang yang kukenal, hal itu
meninggalkan kesan tersendiri di ingatanku.
Saito dan Hiiragi-san
memiliki nama depan yang sama. Dan sekarang, keduanya memberiku jenis hadiah
yang persis sama. Mungkinkah semua ini benar-benar hanya sekadar kebetulan
belaka?
Mempertimbangkan situasi
keluarga Saito yang rumit, bukan hal yang mustahil jika mereka memiliki nama
keluarga yang berbeda.
Potongan-potongan memori
di kepalaku mulai saling terhubung satu sama lain. Mengingat kembali, ada
momen-momen di mana Hiiragi-san terlihat sangat salah tingkah setiap kali aku
menceritakan tentang Saito. Dulu kukira itu hanya karena dia tipe orang yang gampang
malu mendengar kisah cinta orang lain. Namun mungkinkah...
Dan saat aku menceritakan
tentang Hiiragi-san kepada Saito, gadis itu mendengarkannya dengan sangat
antusias. Bahkan Kazuki sempat bersikap sangat geli dan heran setiap kali aku
bercerita tentang berkonsultasi pada Hiiragi-san.
"Tidak mungkin.
Serius...?"
Semakin banyak kuingat,
segalanya kian mengerucut pada satu kesimpulan mutlak. Aku tidak ingin
memercayainya. Jika ini benar, maka selama ini aku praktis telah membeberkan
dan membualkan seluruh perasaanku secara gamblang tepat di depan orang yang
bersangkutan.
Bercerita betapa aku
menyukai senyumannya, betapa sikap dinginnya terlihat sangat menggemaskan, dan
segalanya—aku telah mengatakan semua hal memalukan itu langsung ke hadapannya.
Fakta bahwa semua isi
hatiku yang paling jujur yang selama ini kusembunyikan di depan Saito ternyata
telah terbongkar seutuhnya terasa luar biasa memalukan. Mengatakan bahwa dia Imut
dan aku menyukainya… kubiarkan diriku berbicara sebebas itu karena mengira dia
tidak akan pernah tahu.
Namun, jika selama ini dia
tahu, itu praktis sama saja dengan menyatakan cinta secara terang-terangan
berulang kali. Ini tidak mungkin nyata. Aku bisa mati karena menanggung malu
sekarang juga.
Aku belum bisa menerima
kenyataan ini. Belum sekarang. Aku harus memastikannya besok. Meski begitu,
dengan begitu banyaknya bukti yang ada, sulit membayangkan kalau dugaanku ini
keliru.
"Tidak mungkin. Ini
pasti cuma bercanda..."
Kubenamkan wajahku ke
dalam kedua telapak tanganku.
――――Tampaknya selama
ini tanpa kusadari, aku telah merayu gadis paling cantik di seluruh sekolah
secara terang-terangan tepat di depan wajahnya langsung.


Post a Comment