Episode 5: Punya Fetish yang Sama dengan Diriku yang Lain dari Dunia
Paralel, Malah Bikin Fetish Baruku Terbuka
Warna merah matahari
terbenam mulai merembes ke langit biru yang tertutup awan tipis. Kota
Himurokigaoka yang terhampar di bawah bukit masih berada di bawah naungan
cahaya senja yang samar-samar.
Tsukino berdiri dengan
membelakangi langit dan pemandangan kota yang perlahan berubah warna menjadi
merah muda keunguan. Dia mengarahkan matanya yang tajam ke arah langit, lalu
menahan dengan tangan rambut hitamnya yang berkibar tertiup angin.
Rambut hitamnya melambai
bagaikan tinta yang diteteskan ke dalam senja. Seragam blazernya tampak kontras
dengan warna langit, terlihat begitu puitis dan memesona.
Di saat yang sama, sosok
cantiknya yang dingin—terperangkap di balik latar langit yang kian memerah
pekat sebelum akhirnya meredup gelap—entah kenapa memancarkan aura yang agak
berbau firasat buruk.
Mata yang menatap ke arah
kota tampak redup, dan bibir tipisnya yang berbentuk indah seolah-olah dihiasi
oleh warna darah. Mawar berwarna hitam dan perak yang menghiasi rambutnya,
serta aksesori perak yang melingkar kasual di pergelangan tangannya berkilau
diterpa cahaya senja.
Sesosok gadis yang
mengetahui awal dari sebuah tragedi. Dari titik inilah tirai bad ending
mulai tersingkap.
"Pertanda dari keputusasaan
dan ketakutan... pemandangan yang seperti itu, kan?"
Tsukino yang mendadak memalingkan
wajahnya ke arahku tersenyum menyeringai.
"Apa Asahi juga memikirkan
hal yang sama? Kalau aku sih tadi memberi kalimat 'Anak laki-laki itu tahu.
Bahwa kota ini sebentar lagi akan hancur', tahu."
"Aku memikirkannya. Ya, sebatas 'Menandakan awal
dari sebuah tragedi'. Tapi, tidak seperti Tsukino, aku tidak cocok berada
di dalam gambaran bad ending, kan."
Aku cuma seorang anak SMA
berbadan kurus yang tatapan matanya agak galak.
"Tidak juga
kok."
Tsukino mengarahkan
ponselnya padaku. Suara rana
dari aplikasi kamera pun berbunyi.
"Aku tidak jago kalau
difoto."
Aku balik untuk mengambil
foto Tsukino.
"Aku juga tidak
jago. Soalnya mataku terlihat galak, kan."
Dia menutupi separuh
wajahnya dengan ponsel untuk bertahan.
"Padahal menurutku kelihatan
keren lho."
"Aku juga memikirkan hal
yang sama. Keren dan kelihatan tajam."
Tsukino kembali melemparkan
pandangannya ke arah kota. Aku pun melakukan hal yang sama, menatap kota yang
sudah sangat kukenal dari ketinggian.
Jujur saja, ini cuma untuk
menutupi rasa malu dan kemungkinan besar Tsukino juga… pasti sedang merasa
malu.
Bagaimanapun juga, setelah keluar
dari ruang klub sastra, aku dan Tsukino pergi ke taman observasi yang terletak
di sebelah utara kota.
Itu adalah taman hijau yang
berada di titik tertinggi di sebelah utara Himurokigaoka. Tampaknya tempat ini
memanfaatkan kontur bukit yang dulunya ditumbuhi pepohonan rindang. Bersama
dengan Green Mall, tempat ini menjadi area rekreasi bagi warga Himurokigaoka.
Tempat aku dan Tsukino berada
saat ini adalah gardu pandang yang berada di titik paling atas. Tempat ini
tidak memiliki bangunan menara atau fasilitas besar, melainkan hanya konstruksi
sederhana berupa pagar pengaman, teropong koin, dan bangku-bangku yang dipasang
di area yang sedikit menjorok ke arah kota.
"Melihat pemandangan kota
dari sini, apakah ada perbedaannya dengan dunia milik Tsukino?"
"Entahlah ya..."
Dia menyempitkan matanya sambil
menatap kota yang disiram cahaya senja.
"Rasanya hampir
tidak ada yang berubah. Green
Mall dan SMA Himurokigaoka sama sekali tidak ada bedanya. Tapi kalau ditanya
apakah ada detail-detail kecil yang berbeda, rasanya mungkin saja ada."
"Bangunan penting yang
mencolok tidak bertambah ataupun menghilang, ya."
"Kalau sampai sejelas itu
perbedaannya, baru kita bisa bilang kalau itu mencurigakan."
Kami menuruni anak tangga yang
landai dan meninggalkan area gardu pandang.
Taman observasi yang kaya akan
penghijauan ini ramai dikunjungi orang bahkan di sore hari pada hari kerja.
Berbagai macam orang berlalu-lalang, mulai dari murid sekolah yang mampir
sepulang sekolah seperti kami, orang yang membawa hewan peliharaan, hingga
lansia yang sedang jalan-jalan sore sebagai rutinitas harian.
"Karena masih ada waktu,
bagaimana kalau kita pergi ke tempat berikutnya?"
"Boleh juga. Kalau memang
aku tersesat ke dunia sebelah sini, mungkin saja ada petunjuk di tempat-tempat
yang kubesuk kemarin. …Walau mungkin juga tidak ada sih."
"Karena kita tidak tahu
apa-apa selain fakta bahwa tempat ini mirip dunia paralel, mau tidak mau kita
harus mencari petunjuk."
Untuk itulah kami pertama-tama
datang ke taman observasi yang lokasinya paling jauh. Kemarin, Tsukino kabarnya
pergi dari sini menuju Green Mall di depan stasiun, lalu bertemu denganku di
bioskop yang berada di dalam bangunan itu.
"Tapi, Asahi. Apa kamu tidak
apa-apa kalau tidak bersiap-siap untuk Pertarungan Novel? Jadwal besok bukankah
terlalu padat?"
"Tidak kok, naskahku
sebenarnya sudah hampir selesai. Karena ada beberapa bagian yang mengganjal,
begitu kubenahi bagian itu, naskahnya bakal selesai."
Meskipun alurnya mendadak jadi
Pertarungan Novel, kalaupun tidak ada acara itu, naskah ini harusnya tetap
kuserahkan untuk sesi ulasan bersama yang rutin. Lagipula, pada dasarnya kami
memang sering beradu secara alami.
"Lagipula, hal yang harus
diprioritaskan tentu saja soal Tsukino, kan? Kalau alur waktu di duniamu dan
duniaku berjalan sama, bisa gawat."
"Soal itu... iya sih. Aku agak cemas."
Tsukino mengotak-atik ponselnya, tetapi tampaknya tetap tidak bisa terhubung
dengan dunianya. Padahal, berhubungan denganku bisa dilakukan.
Kami mulai melangkah untuk meninggalkan taman observasi. Langkah kaki
Tsukino yang berjalan di depan terasa lebih ringan. Atau lebih tepatnya,
napasku yang terengah-engah dan kakiku terasa berat.
"Ah, maaf ya. Harusnya tadi
kita istirahat dulu."
Tsukino yang sadar lalu berbalik
menghampiriku, tampak tidak kelelahan sama sekali.
Jujur saja, berjalan kaki
langsung ke tempat ini tepat setelah pulang sekolah itu rasanya lumayan
menyiksa.
Setelah melewati kawasan
perumahan di sekitar sekolah, jalan menuju taman observasi berupa tanjakan yang
lumayan terjal dan panjang. Selain orang yang tinggal di sekitar sini,
kebanyakan orang menggunakan mobil pribadi atau bus.
Hanya untuk menyamai langkah kaki
Tsukino yang di luar dugaan cepat saja sudah membuatku sangat lelah.
"Tsukino punya stamina yang
lumayan bagus ya. Jangan-jangan kita ini bukan sosok yang sama?"
"Kalau mau bilang begitu,
golongan darah dan jenis kelamin kita saja sudah berbeda lho."
Atas desakannya, aku duduk di
bangku terdekat. Tampaknya besok otot-ototku bakal pegal-pegal.
"Asahi, coba perhatikan
baik-baik."
Setelah meletakkan tasnya di
bangku, Tsukino berjalan menuju tempat yang sedikit agak jauh.
Kemudian dia berbalik
menghadapku. Di belakang tubuhnya terhampar pemandangan kota dan langit yang
disiram cahaya matahari terbenam.
Ketajaman matanya meningkat.
Postur tubuhnya berdiri dengan kaki beralaskan sepatu loafer yang agak
menghadap ke dalam.
Dia meninju kepalan tangan
kirinya ke depan, lalu menarik kepalan tangan kanannya ke dekat ketiak.
Tepat setelahnya, bersamaan
dengan hembusan napas yang tajam, tinjuan tangan kanannya dihempaskan. Di saat
yang sama, kakinya yang melangkah maju mengeluarkan suara yang berat.
Dia mengambil satu langkah lagi
ke depan, lalu kepalan tangan kirinya membelah udara. Suara pukulan tangan yang menghantam udara
benar-benar bergaung dengan jelas.
Tsukino tidak berhenti
sampai di situ.
Dia memutar setengah
tubuhnya dan mengarahkan bahunya ke arahku. Dalam sekejap saat kedua kakinya
bersilangan, sebuah tendangan dilepaskan dengan kecepatan yang tidak bisa
dikejar oleh mata.
Rok bermotif kotak-kotak
berkibar, memperlihatkan kakinya yang putih diayunkan ke atas. Gerakan yang
bagaikan bilah pedang yang menyayat udara. Kaki yang mendadak berhenti di udara
itu kemudian diturunkan secara perlahan.
Itu adalah kejadian yang
berlangsung dalam sekejap.
Sebuah tinjuan lurus dan
tendangan yang jelas-jelas tidak mungkin bisa kulakukan, serta tidak terlihat
seperti gerakan amatir bagaimanapun dilihat. Gerakannya yang begitu indah membuatku sampai
menahan napas.
"Sekian. Itu tadi
karate."
Mendadak, ekspresi wajah Tsukino
mencair. Matanya yang tajam melengkung manis.
"G-Gimana ceritanya?!"
"Berarti, Asahi tidak pernah
belajar karate ya."
"Seumur hidup aku tidak
pernah berpikir ingin mencobanya."
"Aku tahu kok."
Padahal baru saja memperlihatkan
gerakan yang luar biasa, dia malah terkekeh.
"Kalau aku tidak punya
pemicu, aku juga yakin tidak akan mencobanya."
Tsukino memperagakan pukulan siku
(hijiuuchi) dengan gerakan alami dan terkesan sangat terlatih.
"Dulu pernah ada masa di
mana terjadi berbagai macam hal. Saat itu, berbarengan dengan rasa putus asa,
aku asal belajar karate. Bagaimanakah bilangnya ya… rasanya seperti ingin
menyiksa diri sendiri begitu?"
"Cara melampiaskan
stresmu ekstrem banget!"
"Soal itu aku juga
berpikiran sama."
Sabetan pedang tangannya (shutou)
memotong sesuatu dengan ketajaman yang bakal berujung tidak selamat jika
terkena.
"Masa-masa aku menggelutinya
dengan liar itu cuma sebentar sih, tapi entah kenapa aku punya bakat yang aneh
di bidang ini. Guru silatku juga bilang begitu. Bahkan dari perasaanku sendiri,
aku merasa punya bakat tiga kali lipat lebih besar dibanding saat menulis
novel."
"Jangan-jangan aku juga
punya bakat tersembunyi seperti itu?"
"Kalau kita sosok yang sama,
harusnya sih begitu."
Mulai dari pukulan lurus hingga
tendangan, dia memperagakan serangkaian jurus itu secara mengalir tanpa adanya
gangguan pada keteraturan napasnya sedikit pun.
"Karena minatku tipis,
sekarang aku sudah mengembalikan temponya ke tingkat orang biasa sih. Maka dari
itu, stamina milikku lebih unggul, dan karateku lebih kuat."
"Postur berdirimu yang
terlihat sangat anggun itu juga gara-gara kamu berlatih dan punya otot inti
tubuh yang kuat, ya."
"Benarkah? Postur berdiriku kelihatan bagus,
ya?"
Dia kembali menegakkan
punggungnya. Tubuhnya yang ramping dengan tangan dan kaki yang panjang membuat
posturnya yang tegap makin menonjol.
Tanpa disadari, Tsukino sudah
menghapus senyumnya dan menatap ke arahku. Dia menatapku lekat-lekat sambil
memiringkan kepalanya sedikit. Gestur tubuh dengan sedikit kepolosan yang tidak
cocok dengan wajah dewasanya itu, sejujurnya, terlihat imut.
"Asahi, tadi kamu
memperhatikan karateku dengan lumayan serius ya."
"Ya, itu sih… aku
melihatnya."
"Jangan-jangan... kamu punya
fetish (keki) sama hal begini?"
"Guh," erangan tidak
sanggup membalas sepatah kata pun terlepas dari mulutku. Aku sempat berniat
mengelak, tetapi sosok yang sama denganku ini jelas-jelas merasa sangat yakin.
Fakta bahwa aku menatapnya dengan pandangan seperti itu sudah terbongkar.
Tidak, pandangan seperti apa maksudnya?!
"Fetish."
Aku memuntahkannya secara jujur
dan polos.
"Sosok anak perempuan yang
kelihatan keren itu adalah fetish-ku. Katana atau senjata api itu memang
sudah biasa, tapi bagaimanapun juga tipe pertarungan jarak dekat itu yang
paling mantap! Ah! Strike! Tepat sekali!"
"B-Begitu ya... Tapi kalau
dibilang secara blak-blakan begini, rasanya agak..."
Tsukino memalingkan wajahnya. Dia
sendiri yang memancing, dia sendiri yang merasa malu.
"...Lagipula, aku juga punya
fetish sama orang yang melakukan gerakan keren lho. Makanya aku pikir
Asahi juga bakalan begitu."
"Seperti yang diharapkan
dariku. Memang paling tahu ya."
"Di film Infinity Heaven
juga, adegan tokoh utamanya melancarkan tendangan melompat dengan jarak
jangkauan yang tidak wajar itu bagus banget kan. Aku juga suka adegan
kuncian bawah (ne-waza) yang intens itu."
"Kalau aku suka bagian pahlawan wanita yang mendapatkan kekuatan dunia
paralel lalu mulai bertarung pakai kapak dan katana."
"Padahal topik itu sudah kita bahas habis-habisan kemarin, tapi fetish
kita malah terbongkar ya."
"Jujur saja, aku sudah
merasa lumayan curiga sejak kemarin."
Untuk sementara, kami melakukan
adu kepalan tangan seperti biasanya. More Bad, More Hell.
"Ah, benar
juga."
Tsukino kembali
mengamatiku lekat-lekat. Dia menempelkan tangan di mulutnya sambil berpikir
keras. Rasanya seolah-olah ada sesuatu dariku yang sedang ditelanjangi olehnya.
Setelah berpikir sejenak,
dia membungkukkan tubuhnya ke arahku. Wajah Tsukino mampir sangat dekat dengan
wajahku yang sedang duduk di bangku. Atau lebih tepatnya, dekat sekali,
seukuran dengan jarak host milik Jun.
"Soal masa-masa
sulit yang kuceritakan tadi."
Dia menempelkan telunjuknya di
bibir.
"Sambil melampiaskan rasa
putus asa, aku sekalian mencabut gigi bungsu, lho."
Dia membuka mulutnya lebar-lebar.
Tulang belakangku
merinding hebat.
Jantungku berdegup
kencang, dan aku merasakan ilusi seolah-olah darah dari tubuhku bergejolak naik
ke kepala.
Warna sehat dari bibirnya
yang agak memerah membuatku baru menyadari untuk pertama kalinya bahwa dia
mengenakan pelembap bibir. Gigi-giginya putih dan tertata rapi, dengan gigi
taring yang sedikit agak panjang dan tajam.
Gigi gerahamnya di luar
dugaan berukuran cukup besar, berkilau licin diterpa sinar matahari terbenam.
Bagian dalam mulutnya berwarna merah muda lembut yang bergerak-gerak
memperlihatkan kilau bagaikan permata.
Setiap kali dia bernapas,
lidahnya yang ternyata lebih panjang dari dugaanku berdenyut bagaikan makhluk
hidup lain.
"Kelihatan tidak?"
Tsukino menjauhkan tubuhnya, dan
aku baru bisa kembali menguasai kesadaranku. Ujung jariku gemetaran akibat
sensasi kejut yang tersisa.
"A-Apaan yang dibahas
tadi?"
"Makanya, bekas cabutan gigi
bungsuku."
Begitu dibilang, rasanya di
bagian yang lebih dalam dari geraham kanan memang ada bekas seperti daging yang
melesak ke dalam. Tidak, hal itu bahkan membekas kuat di ingatan mataku.
"Kelihatan. Ah, kelihatan
kok."
Aku berniat bersikap sealami
mungkin, tetapi suaraku malah meninggi.
Saat aku menengadah, Tsukino
kembali menempelkan tangan di bibirnya dan memperlihatkan bagian dalam
mulutnya. Meskipun kali ini jaraknya lebih jauh dari yang tadi, mataku tetap
saja mengejarnya.
"Kupikir ini juga fetish-mu. Fufu. Ternyata benar-benar fetish-mu
ya."
"Bukan, aku tidak tahu! Aku tidak tahu kalau punya fetish
begini!"
"Masa sih? Padahal wajahmu merah padam begitu."
"Sampai separah itu?!"
Memang benar telingaku terasa panas, pandangan mataku di depan terasa
berkunang-kunang, dan jantungku berdegup seperti sehabis lari jarak jauh. Aku mencoba menempelkan tangan ke wajah,
tetapi aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
"Kenapa kamu bisa mikir
kalau ini fetish-ku?"
"Habisnya, aku... Di komik
atau anime kan sesekali ada adegan seperti ini kan?"
Dia memperagakan gestur menarik
bibirnya hingga lebar.
"Terus, pas adegan makan
yang di-zoom in, atau pas menggigit sesuatu, atau pas sikat gigi..."
Suaranya makin lama makin
mengecil.
"...Hal-hal seperti itu
lumayan jadi fetish-ku. Makanya kupikir Asahi—yang punya fetish
sama bad ending dan fetish karakter yang melakukan aksi sama
denganku—pasti bakal begitu juga. Tapi setelah dipikir-pikir lagi,
memperlihatkan bagian dalam mulut itu agak tidak sopan ya..."
Dia memalingkan wajahnya lalu
menutupi wajah dengan kedua tangan. Katanya, telingaku merah, tetapi telinga
Tsukino juga berubah warna dengan cukup parah. Ini jelas bukan cuma ulah dari
sinar matahari terbenam.
"Sampai detik ini aku tidak
punya fetish seperti itu. Tapi..."
Sosok Tsukino yang membuka
mulutnya lebar-lebar, gigi taringnya yang tajam, bekas gigi bungsu, dan
berbagai hal lainnya sama sekali tidak bisa hilang dari kepalaku. Sensasi
gairah yang mirip seperti saat menyadari kalau novel yang kubaca sedang
mengarah ke bad ending bergejolak naik dari dalam diri.
"Dunia fetish-ku baru
saja dibuka! Kamu mau bertanggung jawab bagaimana, hah?! Ini bakalan membekas
seumur hidup, tahu!"
"Aku malah disuruh bertanggung jawab dong."
Ini namanya dipancing. Padahal dia sendiri jelas-jelas merasa malu, tetapi
dia malah terkekeh sok tangguh.
Aku pun refleks berdiri.
"Kalau begitu, aku
juga bakal merangsang fetish-mu!"
"Ooh. Bagaimana
caranya?"
"Ajari aku karate
yang tadi! Kalau kita punya fetish
aksi yang sama, kamu pasti bakalan goyah kalau melihat karateku, kan!"
"Logikanya sih aku paham,
tapi dalam alur seperti ini kamu malah minta diajari sama aku? Yah, tidak
apa-apa sih."
Tsukino mendekatkan tubuhnya.
"Kalau begitu, mulai dari
tinjuan lurus. Kuda-kudanya begini—"
Saat aku mencoba meniru kuda-kuda
Tsukino tadi, dia memperbaiki gerakanku satu per satu: "Kuda-kudanya
begini", "Kakinya agak menghadap ke dalam", "Beri tenaga di
bagian sini".
Tangan Tsukino memegang tanganku,
menepuk paha, dan menekan pinggangku untuk merapikan kuda-kuda. Di tengah
proses itu, rambut hitamnya menyentuh pipiku, dan embusan napas samarnya
melewati telingaku. Di dalam matanya, wajahku yang bermata galak ini terpantul
dengan jelas.
"Segini oke.
Bagaimana?"
"Anehnya rasanya pas banget.
Apa gara-gara aku punya bakat?"
"Artinya aku memang
hebat, kan."
Sama seperti Tsukino
tadi, aku mengambil kuda-kuda dengan meninju kepalan tangan kiri ke depan dan
menarik kepalan tangan kanan ke dekat ketiak.
"Sambil menarik tangan kiri,
hempaskan tangan kanan."
Aku melancarkan tinjuan lurus
sesuai dengan yang diinstruksikan. Kepalan tanganku menghantam udara dengan
gerakan yang sangat halus hingga membuatku terkejut sendiri. Setelah sensasi
menyenangkan yang berlangsung sekejap, timbul rasa pegal linu akibat
menggunakan otot yang biasanya tidak dipakai.
"Begini sudah benar?"
Tsukino tidak menjawab. Seolah
otot inti tubuhnya yang kuat tadi hanyalah kebohongan, dia malah terhuyung ke
belakang.
"…Rasanya lemas sampai ke
pinggang."
"Sampai separah itu?!"
"Tunggu sebentar. Tunggu,
sekarang aku sedang tidak tenang."
Mengingat gerakan Tsukino tadi,
aku mencoba memperagakan pukulan pedang tangan (shutou). Karena ini
kedua kalinya, aku merasa yakin gerakanku terlihat sangat meyakinkan.
"...!"
Tsukino mendadak gemetar.
"Kenapa kamu malah
mengulanginya lagi sih! Jantungku juga punya batasan, tahu!"
"Aku tidak menyangka
bakal dimarahi lho."
Dia menatapku lekat-lekat lalu
mendekat.
"...Ya sudahlah. Aku mau
lihat sedikit lagi. Sekarang
aku bakal mengajarkan karate padamu, ya."
"Jangan seenaknya mengajari
dong. Minta persetujuan dulu!"
Tanpa bersuara, dia memegang
tanganku dan berniat membawaku kembali ke kuda-kuda tinjuan lurus.
Namun, di tengah-tengah proses
itu, gerakan Tsukino terhenti.
Dia tampak menatap lekat-lekat
tanganku yang dipegang dengan kedua tangannya, tetapi karena terhalang rambut
hitamnya, ekspresi dan arah matanya tidak terlihat dengan jelas.
"Tsukino?"
"Duniaku baru saja dibuka…,"
bisiknya pelan.
Saat dia menengadah, matanya
entah kenapa terlihat agak berkaca-kaca.
Jari Tsukino menyentuh tonjolan
pembuluh darah yang muncul di sekitar pangkal ibu jari pada kepalan tangan
kiriku yang masih terulur. Sentuhan kukunya terasa agak geli.
"...Sepertinya aku suka
pembuluh darah deh."
"Seriusan? Kalau itu sih
rasanya fetish kita sudah beda deh..."
Dia mendadak bungkam. Secara
sangat alami, mataku ikut tertarik ke suatu tempat.
Leher putihnya mengintip
dari balik rambut hitam yang berantakan. Tonjolan pengangkut nyawa yang berada
di celah antara kerah kemeja dan rambutnya. Mataku sama sekali tidak bisa lepas dari pembuluh
darah di lehernya.
Hal yang selama ini sama sekali
tidak pernah kusadari, mendadak jadi kusadari lewat terbukanya dunia baru oleh
Tsukino.
"Kalau aku, lebih suka
bagian leher sih."
"Ehh. Bukannya itu agak
terlalu tingkat lanjut? Beneran nih?"
Tsukino menarik kerah bajuku ke
bawah dengan lumayan kuat. Kemudian dia mendekatkan wajahnya untuk memastikan.
Mawar hitam dan perak berkedip di depan mataku, dan sosok Tsukino menyatu ke
dalam udara musim semi.
Tsukino terus menatap lekat-lekat
leherku dalam posisi seperti itu. Dalam kondisi kerah kemeja yang terbuka, aku
tidak bisa bergerak. Tidak bisa melawan. Tidak ada niat untuk melawan.
Setelah beberapa menit berlalu,
Tsukino perlahan-lahan menjauhkan tubuhnya.
"Aku paham," bisiknya
pelan.
"Siapa sangka kalau aku…
kalau kita punya potensi seperti ini. Ternyata masih ada tempat baru (frontier)
yang tersisa untuk kita."
"Padahal situasinya sudah
tidak bisa diperbaiki lagi, tapi kamu bisa-bisanya bilang begitu dengan keren
ya."
Bagian tubuh yang kusadari dari
sosok Tsukino jadi makin bertambah. Bagian tubuh, lho.
"Anu, Asahi. Mumpung sudah
basah begini..."
Dia menggesek-gesekkan jarinya
dengan gelisah. Saat tubuhnya bergeliat, roknya bergoyang pelan.
"Boleh aku lihat bagian
dalam mulutmu?"
"Kamu ngomong hal
yang dahsyat banget ya."
"Kan aku sudah
memperlihatkan bagian yang memalukan duluan?"
"Kamu ngomong hal
yang makin keterlaluan ya."
Meskipun begitu, kalau
cuma aku yang tidak memperlihatkannya, rasanya jadi tidak adil. Tapi aku agak
cemas apakah ada sisa makanan yang tertinggal atau tidak.
Aku menggunakan kamera
depan ponsel untuk memeriksa bagian dalam mulutku sendiri. Tampaknya tidak ada
kotoran yang mencolok.
"Kalau cuma sebentar
saja boleh deh."
Sama seperti yang
dilakukan Tsukino tadi, aku menarik bibirku dengan jari dan membuka mulut
selebar mungkin. Aku jadi merasa gugup.
"Permisi."
Ini pertama kalinya aku
mendengar salam saat ada orang yang mau mengintip mulut orang lain. Karena dia mendekatkan tubuhnya ke arahku,
aku jadi makin gugup.
"Aah. Gigi bungsumu masih
utuh, ya. Hati-hati,
nanti bisa berlubang lho."
Aku berniat membalas 'Jangan
ngomong hal yang tidak menyenangkan dong', tapi sayangnya mulutku sedang
terbuka lebar.
Ekspresi Tsukino yang
sedang mengintip ke dalam tidak bisa kulihat dari posisiku.
Setelah menggodaku, dia
tidak mengatakan apa-apa lagi, melainkan menahan napas dan bergeming.
Rasa geli yang tidak
diketahui asalnya merayap perlahan di sepanjang tulang belakangku.
Mendengar suara langkah
kaki dan suara orang yang makin mendekat ke arah kami, secara refleks kami
berdua saling menjauhkan diri.
Siswa dari tingkatan lain
SMA Himurokigaoka—sepasang laki-laki dan perempuan yang tampak seperti sepasang
kekasih—berjalan mendekat sambil berbincang dan tertawa. Mereka berdua sama
sekali tidak memedulikan keberadaanku dan Tsukino.
Namun, keberadaan mereka
sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan kesadaran kami.
"Aku sudah cukup
beristirahat kok."
"Kalau begitu, ayo kita
pergi ke tempat berikutnya."
Kepalaku masih terasa agak panas.
Padahal sore hari mulai menjelang dan seharusnya kulit terasa dingin, tetapi
tubuhku malah terasa hangat membara dari dalam.
Kami berdua berjalan menuruni
tanjakan.
Kata-kata yang keluar dari
mulutku maupun Tsukino jadi makin sedikit. Kami hanya bertukar percakapan
seperlunya saja sambil berjalan menuju tempat berikutnya.
Selain bad ending,
preferensi dan fetish milik Tsukino ternyata sangat mirip denganku.
Bahkan fetish yang sebelumnya tidak kesampaian pun ternyata sama.
Gara-gara fetish ini,
bukti bahwa kami adalah sosok yang sama rasanya jadi makin kuat. Namun, saat
ini aku jelas-jelas merasakan sesuatu yang berbeda darinya—sesuatu yang bukan
sekadar 'diriku sendiri'. Sejak awal aku memang menyukai penampilannya dan
menganggapnya cantik.
Lirikan mata yang kulemparkan
secara sekilas kembali berpapasan dengan pandangan mata Tsukino.


Post a Comment