Prolog
Saat aku membuka
mata, di sana terhampar padang rumput.
Sejauh mata
memandang, hanya ada hijau. Dari langit biru cerah, sinar mentari yang pas
menyinari.
Meski begitu, aku
sama sekali tidak merasakan kenyamanan.
Bagiku, daratan
ini, langit luas ini, sungguh teramat tidak nyaman, sampai-sampai membuatku
ingin muntah.
Seperti ini.
Rasanya seperti menyantap hidangan lezat yang hanya dengan melihatnya saja air
liur tak tertahankan, tetapi begitu masuk ke mulut, aku merasa seperti makan
muntahan.
Sebuah
rasa ketidakcocokan yang sangat bertentangan dengan naluri.
Mual.
Yang
paling utama adalah suara, suaranya sangat tidak mengenakkan. Tidak, lebih
tepatnya, menyakitkan.
Entah
mengapa, yang mencapai telingaku bukanlah suara dedaunan yang ditiup angin,
melainkan jeritan.
Bukan
satu atau dua.
Jeritan
dalam jumlah tak terhitung, saking banyaknya, seolah menusuk gendang telinga.
Aku
menutup telinga dengan kedua tangan, tetapi suara itu bukannya mereda, bahkan
tidak berkurang.
Wajar
saja. Sumber suara ini berasal dari dalam diriku.
Sesuatu
yang gelap pekat bergejolak naik.
Sakit sekali.
Mengapa situasi
ini bisa terjadi, ingatanku tidak pasti. Aku yakin bukan amnesia, tetapi hanya
ingatan yang baru-baru ini terjadi saja yang samar, hilang seperti
dicabik-cabik oleh sesuatu.
"Aku adalah Maitel,
Kesatria dari Negara Teokrasi..."
Siapa pun pasti
tahu, aku terkenal sebagai Kesatria Pelindung Kegelapan, dan meskipun aku tidak
tertarik pada ketenaran, setiap kali mendengar nama itu, aku merasakan bahwa
semua usahaku benar-benar terbayar.
Namun, entah
kenapa, saat ini nama itu terasa menjengkelkan sekali.
Aku benci
sinar mentari ini.
Aku
membenci langit biru tak berujung ini.
Aku tidak
mau melihatnya.
◇
Setelah
itu, aku berjalan menuju kota terdekat.
Aku
menarik perhatian orang-orang di sekitar, tetapi itu bukan karena mereka tahu
aku adalah Kesatria Pelindung Kegelapan.
Mungkin
karena baju zirahku yang compang-camping. Selain itu, aku sadar betul bahwa aku sangat kurus
dan lesu dalam perjalanan hingga sampai di sini.
Tidak ada yang
akan menyadari bahwa kesatria kurus dan lusuh ini adalah Kesatria Pelindung
Kegelapan.
Kemudian, aku
menyewa sebuah kamar di penginapan dan mengurung diri selama sekitar satu
bulan.
Tirai tertutup,
dan kegelapan yang hampir tidak disinari cahaya matahari terasa sangat nyaman.
Ruangan yang
terputus dari dunia luar ini adalah tempatku.
Namun, kehidupan
seperti itu tidak berlangsung lama.
Beberapa Kesatria
Suci dikirim ke kota ini.
Tujuan mereka
adalah mencariku. Mereka malah melakukan hal yang tidak perlu.
Hanya tinggal
menunggu waktu sampai keberadaanku di penginapan ini terbongkar.
Tidak mungkin
mereka tidak mengingat wajah pelanggan yang sudah menyewa selama sebulan.
Meskipun
aku mengurung diri, bukan berarti aku bisa terus berada di dalam kamar. Aku sempat keluar beberapa kali, dan
mereka pasti pernah melihat wajahku.
Aku sudah membayar di muka. Masih ada sisa untuk belasan hari, tapi mau bagaimana lagi.
Aku diam-diam
menyelinap keluar dari penginapan dan melarikan diri dari kota ini.
Di mana pun di
dalam Negara Teokrasi, pasti sudah dipasang jaringan pencarian yang ketat.
Jadi, aku
berjalan menuju Kekaisaran.
Berpindah dari
satu kota ke kota lain, dan dalam beberapa tahun, aku tiba di Ibu Kota
Kekaisaran.
Sebenulnya, aku
tidak menargetkan Ibu Kota Kekaisaran. Namun, karena aku mulai merasa lelah
dengan perjalanan, aku memutuskan untuk menetap di sini sebentar.
Di sebuah gang
tersembunyi, aku memutuskan untuk membuka toko bunga, salah satu impianku sejak
kecil.
Kehidupan keduaku
telah dimulai.
Namun, segera
setelah aku mencoba membuka toko bunga, aku menyadari ada keanehan.
Entah kenapa,
sebagian besar tanaman yang menurutku lucu sekarang memiliki sifat berbahaya.
Bunga dan rumput
biasa juga lucu, tetapi aku justru sangat tertarik pada tanaman yang berbahaya.
Ini adalah
kecenderungan yang tidak kumiliki di masa lalu.
Dulu, aku
memiliki hati yang lebih tulus dalam menyayangi tanaman biasa, dan seleraku
seharusnya normal.
Namun, pada
akhirnya, begitu aku tertarik... aku tidak bisa menolaknya.
Bahkan, aku malah
berpikir ingin orang lain juga tahu betapa bagusnya tanaman-tanaman itu.
Jadi, aku mulai
menjual bunga dan rumput semacam itu, tetapi masalahnya banyak.
Jika ada anak
kecil yang tidak sengaja masuk ke toko dan menyentuhnya, nyawa mereka bisa
terancam, jadi mau tidak mau, aku memutuskan untuk menanamnya di bawah tanah.
Ada juga beberapa
hal yang tidak boleh sampai terlihat oleh mata Tentara Kekaisaran.
Kekurangannya
adalah aku tidak bisa membiarkan tanaman-tanaman itu mendapatkan sinar matahari
langsung, tetapi mereka harus puas dengan sumber cahaya pengganti.
Alhasil, meskipun
aku sudah membangun toko, tidak ada apa-apa di bagian bangunan atas, jadi aku
memutuskan untuk memanfaatkannya sebagai toko buku.
Sejak hari itu,
membaca menjadi salah satu hobiku. Aku memang sudah sering membaca buku sejak
dulu, tetapi itu hanya untuk keperluan pekerjaan, bukan sebagai hobi.
Namun sekarang,
aku sangat suka membaca sampai lupa waktu.
Toko buku adalah
impianku yang lain, yang muncul setelah hari itu.
Menggabungkan
toko bunga yang merupakan impianku sejak lama dan toko buku yang merupakan
impianku saat ini.
Penghasilannya
memang tidak terlalu bagus, tetapi aku menjalani hari-hari yang bahagia.
Bukan berarti aku
tidak merasa bersalah karena mengabaikan tanggung jawabku.
Rasa bersalah itu
ada.
Tetapi, jauh
lebih menyakitkan untuk berhadapan langsung dengan diriku yang dulu... yang
dikenal sebagai Kesatria Pelindung Kegelapan.
Jika aku
menghadapinya, jeritan menusuk telinga akan bergema, dan tanganku akan gemetar.
Aku sangat takut pada dirinya yang seharusnya adalah orang yang sama, dan yang
paling penting, dirinya sendiri.
Aku lebih
menyukai diriku yang sekarang.
Diriku
yang melindungi dan menyayangi bunga dan rumput, alih-alih orang banyak.
Diriku yang hidup
untuk "kesukaan"ku sendiri.
Ini sesuai dengan
kemampuanku.
Aku tidak perlu
berpura-pura menjadi seseorang yang hebat.
Aku tidak
perlu terluka demi orang lain.
Aku
menyukai diriku yang sekarang.
Karena itu, aku
akan terus membelakangi Kesatria Pelindung Kegelapan.
Aku tidak
akan menjadi dia lagi.
Tidak, aku tidak bisa menjadi dia.


Post a Comment