4. Malam yang Terlalu Singkat untuk Disia-siakan
Pagi hari setelah aku diberitahu bahwa YOHILA
akan mengadakan konser dan mendengar alasan mengapa dia tidak pernah melakukan
konser selama ini.
Aku mengunjungi Akagi setelah latihan pagi
berakhir.
Sudah menjadi rutinitasku untuk mengambil
kotak bekal di pagi hari jika Junna tidak masuk sekolah, lalu mengembalikannya
sepulang sekolah.
Itu karena jika aku makan siang berdua dengan
Akagi, Junna akan cemburu.
"——Ini. Hari ini makanan Jepang. Nasi
takikomi kastanye dan jamur, ikan salmon musim gugur panggang dengan shio koji,
ayam panggang teriyaki rasa yuzu. Ada ohitashi bayam dan jamur shimeji, labu
rebus, kinpira akar teratai. Untuk hidangan penutup ada jeli buah pir buatan
sendiri... and more."
"......Setiap hari menunya mewah sekali,
bukan? Aku menerimanya dengan penuh rasa syukur."
Aku menerima kotak bekal yang dibungkus kain
biru itu dengan kedua tangan secara hormat, lalu menundukkan kepala.
Akagi, yang duduk di kursi dengan kaki
bersilang, menjawab dengan singkat, "Ya."
"Habiskan."
"Tentu saja. Setiap kali selesai makan,
aku selalu berpikir kalau aku sebenarnya ingin nambah."
"......Lain kali aku buatkan porsi yang
lebih banyak."
Dia bergumam pelan di balik maskernya. Dia
adalah wanita yang cantik dan keren, tapi sisi seperti ini sangat
menggemaskan—aku sempat berpikir begitu. Kalau Junna tahu, pasti dia akan
sangat cemburu. Pasti dia akan terlihat sangat lucu saat
cemburu.
"Kurimoto... kenapa kau berdiri melamun
sambil nyengir seperti itu? Cepat enyah sana. Nanti kau terlambat masuk HR
(Home Room)."
Akagi yang mengerutkan kening karena terganggu
mengibaskan tangannya mengusirku. Di dalam kepalaku, imajinasi Junna yang
menggembungkan pipinya (imajinasiku) meledak begitu saja.
Aku menenangkan wajahku yang sempat rileks,
meluruskan punggung, lalu,
"——Um, Sensei."
"Apa? Apa ada bahan makanan yang tidak
kau sukai?"
"Sepulang sekolah nanti, apa Sensei punya
waktu?"
Begitu aku bertanya, Akagi menatapku dengan
mata curiga.
"Sepulang sekolah? Yah, ada sih...
kenapa, apa ini ajakan kencan?"
"Bukan, bukan begitu."
Akagi menggoyangkan dadanya yang berisi di
balik rajutan merah itu dengan lembut, lalu memasang senyum yang memikat. Aku
menjawabnya dengan wajah datar.
Akagi berdecak lidah, "Cih," merasa
bosan, lalu menyilangkan kakinya yang jenjang dari balik rok mini ketatnya.
Aku tahu dia hanya sedang menjahiliku, tapi
karena aku pria, aku hampir saja benar-benar mengajak kencan—tapi kalau Junna
tahu aku memikirkan itu (dan seterusnya...)
"Aku ingin konsultasi."
Sambil merasa akhir-akhir ini aku terlalu
sering berkonsultasi dengan seseorang,
"Tentang Junna."
"...Ho."
Begitu mendengarnya, ekspresi Akagi
berubah. Dia menyipitkan matanya,
"Apa tidak bisa dibicarakan saat jam
istirahat?"
"Sepertinya waktunya tidak akan
cukup."
"Mengerti."
Dia langsung setuju. Dia benar-benar guru
yang sangat peduli.
"Meskipun begitu, festival budaya
tinggal satu minggu lagi. Sepulang sekolah pasti sibuk dengan persiapan.
Selesaikan itu, lalu datanglah ke UKS (sini) setelah jam pulang sekolah lewat.
Aku akan mendengarkanmu sambil mengantarmu."
"Baiklah. Terima kasih banyak."
"Apakah tujuan akhirnya harus di
hotel?"
"Mana mungkin!"
Aku terlanjur menjawab dengan bahasa santai.
Akagi tertawa kecil, "Kuku,"
"Bercanda. Jangan terlalu bersemangat
begitu."
"............"
Aku ingin bilang 'Aku tidak bersemangat!',
tapi sayangnya aku juga seorang pria. Tanpa bisa membantah dengan tegas, aku
hanya membuang muka dan terdiam.
Sebagai gantinya, aku mengeluh.
"...Aku tidak suka sisi Sensei yang
seperti itu."
☂
"—'Tidak bisa melakukan konser',
ya."
Akagi bergumam setelah mendengar ceritaku.
Matahari sudah lama terbenam, cahaya lampu
kota dan hujan yang turun membasahi kaca depan mobil. Musik tidak diputar, dan keheningan menyelimuti kabin mobil yang
samar-samar beraroma mint.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Hanya perasaan saja."
"...Insting?"
"Ya. Meskipun terdengar tidak
berdasar kalau mengatakannya begitu."
Aku menjawab di kursi penumpang. Sambil
membayangkan tentang Junna—dan lagu-lagu YOHILA yang diciptakan JUN.
"Aku merasa masih ada luka yang tersisa
di dalam diri Junna. Luka yang tidak bisa disembuhkan olehku... lubang yang
tidak bisa kututupi."
Misalnya, pada hari badai itu, di dalam mobil
saat perjalanan pulang, Junna berkata. Bahwa dirinya saat ini bahagia dan
merasa cukup. Karena itu dia tidak bisa lagi menciptakan lagu yang melankolis,
tapi dengan membayangkan kehilangan itu lagi, dia bisa menciptakan lagu
kembali.
Faktanya, memang begitu.
Namun, aku merasa itu bukan hanya itu saja.
Misalnya, pada perjalanan pulang dari festival
musim panas, saat aku mencoba melangkah ke hubungan yang lebih jauh, Junna
berkata bahwa dia ingin menikmatinya lebih lama lagi.
Itu pun, memang kenyataannya begitu.
Tapi tetap saja, aku merasa bukan hanya itu.
Seperti bunga hydrangea yang menyembunyikan
kelopak aslinya—aku merasa ada sesuatu yang belum terungkap di dalam lubuk
hatinya. Semakin aku berinteraksi, semakin aku mendengarkannya, semakin aku
merasa begitu.
Lagu-lagu YOHILA bukanlah lagu yang bisa
diciptakan hanya dengan imajinasi oleh orang yang sudah merasa sepenuhnya puas.
Atau mungkin, Junna sendiri pun belum
menyadarinya.
『Tidak apa-apa kok.』
Kemarin, setelah selesai menceritakan alasan
mengapa dia tidak mau melakukan konser—saat aku bertanya 'Apa benar-benar tidak
apa-apa... apa kau sudah bisa melakukannya?', Junna berkata begitu.
『......Tidak apa-apa.』
Aku baru menyadari saat itu bahwa suaranya
yang mengulangi kata itu bergetar.
Karena itulah, aku berkonsultasi dengan Akagi.
—Konsultasi? Bukan.
"Kumohon, Sensei."
Aku memohon sambil menatap profil wajah Akagi.
"Bisakah Sensei menolong Junna?"
"...Menolong? Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu."
"......Kau ini—"
"Tapi aku yakin Sensei pasti
mengerti."
Aku menahan tatapan tajamnya yang melirik ke
samping,
"Sebagai sesama musisi, EIMEE-san."
Tekanan dalam tatapan Akagi menguat.
"—Itu sudah 'masa lalu'."
"............"
Namun aku tidak membuang muka. Aku juga tidak
mengoreksinya. Di ruang mobil yang terhenti dalam keheningan, kami saling tatap
dalam diam sambil diterangi lampu merah.
Akhirnya—
"...Sedikit saja."
Saat lampu berubah hijau, Akagi menghela napas
dan melonggarkan ketegangannya. Dia menurunkan maskernya,
"Akan kuceritakan kisah masa lalu."
Dia menginjak gas dan mulai bercerita.
Kisah saat dia masih menjadi EIMEE dari ENDY.
☁
Alasan mengapa aku memutuskan untuk mengubah
arah musik, bukan karena aku ingin menjadi populer.
—'Kebalikannya'.
"Apa... benar-benar tidak apa-apa,
Eimee?"
Setelah rapat dengan label besar, kami
berempat mengunjungi restoran Cina waralaba. Sambil bertanya, Yo sedang membuat
campuran cuka dan lada untuk pangsit, aku mengangguk.
Mengubah lirik bahasa Inggris ke bahasa
Jepang, menghilangkan scream, dan membuat melodinya menjadi lebih catchy dan
mudah didengar. Itulah permintaan mereka.
Alasannya adalah 'agar lebih mudah dijual'.
Aku pikir aku bisa menolaknya dan bilang itu
tidak penting.
Tidak peduli seberapa besar lawan bicaranya,
atau seberapa fantastis isi kontraknya, aku bisa menertawakannya dan terus
memainkan musik yang kami anggap bagus seperti sebelumnya.
—Tapi.
"Aku hanya ingin mencoba melihat apa yang
akan terjadi jika kita memainkan musik yang mereka sebut 'musik yang laku'...
musik yang disukai massa. Singkatnya, hanya rasa penasaran."
"Hmm... bagaimana menurut kalian
berdua?"
"Kalau Eimee bilang begitu, ya tidak
apa-apa, kan?"
Deru yang menjawab sambil menelan nasi goreng
tenshin yang memenuhi mulutnya.
"Yang memutuskan jalannya adalah Eimee. Aku cuma mau bermain musik dengan senang."
"Aku juga tidak apa-apa kalau
Eimee-chan bilang begitu. Aku tidak ingin berdebat sia-sia."
"Band ini isinya hanya orang-orang
yang penurut ya!"
Yo merasa lelah melihat NICO yang
tersenyum ceria sambil membagikan hoikoro (tumis daging babi).
"......Yah, aku juga tidak apa-apa kalau
Eimee setuju."
"Bukankah kau juga sama saja?"
Sambil tersenyum kecut menanggapi reaksi
anggota lainnya, di dalam hati aku berpikir begini.
—Tidak mungkin musik seperti ini bisa laku.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk
mencobanya.
Bahwa kami yang benar, dan kalian yang
salah. Dunia ini tidak terlalu lembek. Aku berniat memberi mereka pelajaran
dengan hasil kegagalan.
Begitulah, aku mengikuti arahan label yang
sampah itu, mendengarkan pendapat sampah dari produser besar yang katanya sudah
menangani banyak lagu hits, dan menciptakan lagu yang—dibandingkan dengan musik
yang selama ini kami buat—adalah musik sampah, dan memainkannya—
ENDY berubah dari band indie underground
yang hanya diketahui segelintir orang, menjadi band besar populer yang dikenal
semua orang dalam sekejap.
(..................Oh, apa ini.)
Berdiri di atas panggung di lokasi yang
dipilih hanya karena alasan tempatnya besar dan bisa menampung banyak orang
tanpa memikirkan akustik sama sekali, aku berpikir. Aku menertawakan diriku
sendiri.
(Yang salah adalah—)
Lima puluh ribu penonton menggoyangkan
tubuh mereka mengikuti nyanyianku dan suara yang dimainkan anggota band,
menggelengkan kepala, mengepalkan tinju dan menderu. Panas yang membuat pertengahan musim dingin terasa seperti musim panas.
Udara mendidih dan mendidih.
Tapi, hatiku benar-benar dingin.
Semakin penonton bersemangat di panggung kami,
semakin musik kami menggetarkan hati orang-orang, hatiku semakin membeku.
Semakin membeku secara anorganik.
—Pishiri.
Jauh di lubuk hatiku, sebuah suara fatal
terdengar.
Hancur dan tercerai-berai. Sebelum itu
terjadi,
(Berhenti saja.)
Di akhir tur dome, setelah selesai memainkan
lagu encore, aku memutuskan hal itu saat sedang dihujani tepuk tangan dan
sorak-sorai badai.
☂
"...Aku lelah."
Angin malam yang lembap berhembus. Di depan
toko swalayan, sambil turun dari mobil dan meminum kopi kaleng hangat, aku
mendengarkan cerita Akagi.
Hujan sudah berhenti, menyisakan aroma aspal
yang basah.
"Dunia di mana musik yang kurasakan bagus
tidak bergema, dan hanya musik yang kurasakan biasa-biasa saja yang bergema...
Aku lelah, muak, marah, dan kecewa pada diriku sendiri yang terus membuat dan
memainkan musik semacam itu. Itulah sebabnya aku turun dari panggung."
Suara Akagi yang bercerita dengan datar
terdengar khidmat. Di tangannya ada kopi kaleng tanpa gula
yang sama denganku dan sebatang rokok kertas.
Katanya dia sudah berhenti merokok sejak
lama karena buruk bagi tenggorokan, tapi terkadang dia ingin merokok. Mereknya
adalah Marlboro Red.
"Aku tidak menyesal. Aku juga tidak
ingin kembali. Tapi terkadang, aku berpikir begini. Kalau hari itu, saat itu, kami menempuh jalan yang berbeda... kalau kami
terus memainkan musik yang kami percayai saja... akan jadi seperti apa kami
sekarang?"
Maskernya sudah diturunkan.
Wajahnya yang menatap langit malam seolah akan
turun hujan lagi tampak serius, dan matanya seolah memantulkan dunia yang
berbeda.
Sambil menghela napas bersama asap rokok, dia
menutup mata.
"......Ini hanyalah khayalan yang
sia-sia."
Sambil membuang rokok yang masih tersisa
lebih dari setengah ke asbak portabel.
"Yah, sejak suatu waktu, frekuensi
memikirkannya pun berkurang."
Dia menyimpannya di saku jaket kulit hitam
yang dia kenakan menggantikan jas lab, lalu bergumam.
"Itu adalah hari saat aku mendengarkan
musik YOHILA dan mendengar cerita JUN."
—Suara Akagi berubah. Menjadi resonansi yang
manis dan lembut, seperti kopi tanpa gula yang ditambahi gula dan susu.
"Lirik yang dia tulis dan suara yang dia
mainkan sangat kental dengan pengaruh kami, ENDY. Bukan cuma ENDY saat sudah
populer. Pengaruh masa indie—saat aku benar-benar mencintai dan memainkan musik
kami—terasa sangat kental... karena itu aku tertarik, dan melalui kenalan, aku
mengatur janji untuk bertemu."
Jika dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku
mendengar detail hubungan antara Akagi dan Junna.
JUN dari YOHILA menyembunyikan identitasnya,
jadi pastinya tidak mudah untuk menghubunginya, tapi kurasa Akagi memang
spesial bagi JUN.
"Ternyata awalnya dia hanya tahu dan
mendengarkan lagu-lagu kami saat sudah populer. Terinspirasi dari situ, dia
membentuk band bersama empat orang yang sama-sama mencintai ENDY... katanya.
Namun pada akhirnya band itu hancur, dan dia jadi tidak bisa lagi mendengarkan
lagu-lagu ceria yang dulu dia sukai. Kamu tahu sejarah itu, kan?"
"...Ya."
"Kabarnya ENDY pun tidak terkecuali, dia
sempat mencoba membuang semua koleksi lagu yang dimilikinya. Namun... saat itu,
satu lagu tiba-tiba terngiang di telinganya—rekaman ulang 'Red Hot Bomb'. Lagu
yang mewakili kami saat zaman indie, yang meskipun sempat kami selipkan di
album setelah debut populer... lagu itu sama sekali tidak menjadi bahan
pembicaraan maupun populer. Lagu itu—dia bilang itu adalah lagu favoritnya. Dan
dia bilang lagu zaman indie lebih menyentuh hati daripada zaman populer."
Sudut bibir Akagi mengembang. Ekspresinya
persis seperti saat aku memberi tahu Junna bahwa aku menyukai YOHILA.
"Pada saat itu, entah bagaimana... aku
merasa terselamatkan. Kalau kami tidak menjadi terkenal dan lagu kami tidak
sampai ke banyak orang, dia pasti tidak akan pernah tahu musik kami... dan hal
yang paling ingin kami sampaikan, mungkin tidak akan pernah tersampaikan.
Mungkin musik YOHILA yang luar biasa tidak akan pernah lahir. Begitu kupikir,
aku merasa bahwa jalan yang kupilih dulu ternyata tidak salah."
"Sensei..."
Begitu ya, aku mengerti. Itulah sebabnya
Akagi—
"Itulah sebabnya aku menyukai anak
itu... dan aku juga menyukaimu, Kurimoto?"
"Eh... aku?"
Saat aku terkejut dan menunjuk wajahku
sendiri, Akagi mengeluarkan suara "Kuku" dari tenggorokannya.
"Apa kau tidak paham dengan alurnya?
Bukankah kau menjawab saat aku meminta permintaan 'biarkan aku mendengarkan
nyanyianmu secara langsung'?"
Permintaan nyanyian langsung. Itu terjadi
di dalam mobil saat Akagi mengantarku ke stasiun setelah aku pulang lebih awal
karena demam. Waktu itu aku,
—'Red Hot Bomb', tolong. Karena itu lagu
favoritku!'
Jawabku.
"......Aku terkejut. Kukira itu
pengaruh Amamori, ternyata kamu memang sudah menyukainya sejak dulu. Kamu
bilang kamu menabung uang jajanmu untuk membeli lagu yang sudah tidak dicetak
lagi dengan harga premium karena ingin mendengarkan lagu zaman indie. Kalau saja aku lima tahun lebih muda, mungkin aku sudah jatuh cinta
padamu."
"Tidak, tidak. Terlalu chororo (mudah
jatuh cinta)."
"Lagi pula—aku bilang aku akan
membiarkanmu mendengarnya, tapi aku tidak menyangka akan dipaksa mengeluarkan
suara yang begitu liar... suara serak yang buas dan tidak tahu malu."
"Suara buas? Bukankah itu death voice
yang bertuliskan 'Kyou' (ganas)?"
"Tubuhku
panas, wajahku memerah, benar-benar keadaan yang Red Hot."
"Apa-apaan ekspresi 'Aku berhasil
mengatakannya dengan baik!' itu!"
"Karena itu."
Kepada aku yang merasa muak, dia menghabiskan
kopinya lalu berkata.
"—Kurimoto. Kalau kau, orang yang
kusukai, memintaku untuk menolong Amamori-anak itu, maka... baiklah. Aku akan
melakukannya."
Lebih lanjut—
"......Oh, kerja bagus. Tiba-tiba saja,
tapi kosongkan jadwalmu selama seminggu... Mustahil? Tidak peduli, kosongkan
saja. Kosongkan saja tanpa banyak bicara. Jangan membantah!"
Sambil mengeluarkan ponsel, dia mulai
menghubungi seseorang. Lawan bicaranya adalah Kotegawa. Suara Kotegawa yang
marah karena tuntutan Akagi yang tidak masuk akal terdengar samar-samar.
—Tapi.
"Setelah ini, aku juga akan menghubungi
Yohito."
Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Akagi,
semuanya berhenti.
Tetesan air hujan jatuh ke pipiku, lalu
mengalir. Hujan yang tadinya berhenti kembali turun.
Akagi menggerakkan lehernya dengan suara
'krek'.
"Kita akan melakukannya. Setelah sekian
lama."


Post a Comment