Interlude
Akhir Malam dan Jeritan Fajar
"Aduh, astaga! Benar-benar membuat
pusing, ya ampun!"
Sambil menyetem gitarnya, YO-san mengomel
dengan wajah yang tampak sangat santai.
"Padahal setiap hari aku sibuk
setengah mati! Tiba-tiba saja menelepon di malam hari dan bilang 'kosongkan
jadwal selama seminggu mulai lusa', itu sungguh mustahil... tapi akhirnya
kukosongkan juga! Fufu."
"Bahwa Eimee itu orang yang nekat,
bukankah sudah dari dulu? Itu perintah dari sang tiran, alias sang Ratu.
Kita sebagai bawahannya tidak punya pilihan selain patuh. Meskipun setengah
pekerjaan kita jadi berantakan, haha!"
"Kalian
berdua benar-benar harus bersusah payah, ya. Aku kan ibu rumah tangga, jadi
jadwalnya sangat longgar. Kalau tidak, mungkin aku sudah marah-marah? Pletak!
(tinju hukuman). Kuku-kuku..."
"............"
Di
depan mataku, para anggota ENDY—DERUHI-san, NICO-san, dan yang lainnya—sedang
bersiap-siap sambil berbincang dengan akrab. Aku hanya berdiri mematung.
—Apa
ini? Apa yang sedang terjadi...
"JUN."
Dipanggil,
aku menoleh ke arahnya.
"Pilih."
Akagi-sensei—EIMEE-san,
mengambil pick gitar yang sempat kujatuhkan dan mengulurkannya padaku.
"Main,
atau tidak main?"
"Main...
maksudnya aku? Bersama kalian, EIMEE-san?"
"Ya."
EIMEE-san mengangguk. Aku berkedip lalu
mengucek kelopak mataku dengan keras.
—Ini tidak hilang. Ini bukan ilusi atau mimpi.
"A—"
Sesuatu yang panas, berbeda dari air mata,
meluap di dadaku.
Perasaanku meluncur keluar dari mulutku.
"Aku akan main! Aku mohon, biarkan aku
main!"
"Dipahami."
Setelah mengembalikan pick ke tanganku,
EIMEE-san berbalik. Tujuannya bukanlah mikrofon di tengah panggung, melainkan
piano grand di sudut.
Karena dia mengenakan gaun pesta, dia terlihat
sangat memukau.
"Daftar lagunya sudah kudengar dari Yo.
Semuanya sudah kumasukkan dalam latihan, jadi mainkan dan bernyanyilah
sesukamu."
"...Apa Sensei bisa main piano?"
"Tentu saja. Menurutmu siapa yang
menciptakan lagu-lagu ENDY kami?"
Sambil duduk dengan gerakan yang elegan,
EIMEE-san menyunggingkan senyum di sudut bibir merahnya.
"Tidak ada komposer yang tidak bisa
bermain piano."
"EIMEE-san..."
"Aku sudah mengaransemen lagunya
menjadi twin guitar tanpa izin. Aku berniat memainkan backing-nya, tapi aku
juga bisa memainkan lead kalau perlu, jadi silakan sesukamu. Aku akan menyesuaikan."
"YO-san..."
"Maaf kalau bass-ku terlalu menonjol ya. Aku akan mati kalau tidak slap bass."
"Aku juga tidak sengaja memakai
double bass karena seleraku sendiri. Maaf ya kalau suaranya terlalu
berisik."
"DERUHI-san... NICO-san..."
Mataku yang tadi hampir kering, kembali
basah.
Tapi, itu bukan karena kesedihan.
Itu adalah kebahagiaan yang meluap.
Aku teringat konser yang kutonton hari itu.
Tidak kusangka hari di mana aku bisa berdiri
di panggung yang sama akan tiba—
"Kamu punya kenangan berharga, kan?
Perasaan penting yang tidak ingin kau timpa dengan apa pun."
EIMEE-san berkata. Seolah dia bisa melihat
menembus hatiku.
Atau seolah dia mendengarnya dari
seseorang yang sangat memahami perasaanku.
"Kalau begitu—"
EIMEE-san menyatakan.
"Aku yang akan membuatmu
melupakannya."
Dia menatap sekeliling panggung,
"Kami yang akan menggantinya dengan
yang baru."
—Dia tersenyum.
Dan aku pun—
"Apa kalian siap?"
"Ya!"
Aku menjawab dengan senyuman.
Cahaya yang selama ini kudambakan menghapus
kegelapan di hatiku, dan pagi yang menyilaukan pun datang di malam yang tak
kunjung berakhir.
Aku menyeka air mata yang jatuh, lalu memegang
gitarku kembali.
Aku menghadap ke depan dan meraung.
"—Ayo kita buat konser yang
terbaik!"
Tirai pun terangkat.


Post a Comment