Interlude
Yang Dia Butuhkan Hanya Dirinya
"Aku... sangat membenci
kebohongan..."
Padahal ramalan cuaca mengatakan akan
turun hujan sejak sore, namun hingga hampir tengah malam ini, tidak ada satu
tetes pun air yang jatuh. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menempelkan
ponsel ke telingaku.
Dengan suara dingin dan kering, aku
berkata.
"Pembohong."
『...!!!』
Ada suara lawan bicaraku yang menelan
napas. Begitu perasaan itu diucapkan dan dimuntahkan dalam kata-kata, emosi
yang selama ini kupendam mulai merembes keluar, membuat nada suaraku menjadi
panas dan lembap.
"Bukankah kamu bilang tidak mengincar
Shigure secara romantis... tidak mengincarnya? Tapi, selama aku sibuk bekerja, kamu—Harukaze 'Pengganggu' Yamada, kamu
malah!"
『Namanya Yamada, bukan Pengganggu!』
"Apa kamu merasa punya posisi untuk
memprotes?"
『.... Tidak.
Maaf, aku memang pengganggu. Wanita sampah yang mengganggu hubungan Jun-chan
dan Kurimoto-kun. Iya.』
"Tolong jangan memanggilku dengan
sebutan akrab, Nona Pengganggu Sampah."
『Fu, fueee... kamu kejam sekali. Hatiku terasa
hancur berkeping-keping... fueeeen!』
Wanita sampah itu menangis sungguhan, tapi
karena dia tetaplah wanita sampah, aku mengabaikannya total.
『Guaaa! Ooooon! Uooooooooon!』
—Awalnya aku berniat mengabaikannya, tapi
karena isakannya berubah menjadi tangisan pilu dan mulai terisak-isak, aku jadi
tidak tega. Sejujurnya, alih-alih merasa kasihan, aku justru merasa takut.
Rasanya seperti berbicara dengan seorang pengebom bunuh diri.
"T,
tolong tenanglah. Yamada-san."
『Ha, hih! Hih, hiuuu!』
"Hiperventilasi!?
H, Harukaze-san—"
Saat
aku kembali memanggilnya dengan nama aslinya, dia pun tenang. Aku menarik napas dalam-dalam dan kembali fokus.
"...Aku tahu. Kamu mengganggu Shigure
bukan karena kamu menyukainya, tapi karena kamu ingin aku membuatkan lagu, kan?
Lagu YOHILA yang berat, gelap, dan membuat
depresi."
Aku bertanya. Harukaze-san
mengendus hidungnya, "Srub,"
『U, um... karena lagu "Yuu & Ai" itu bagus banget...
Aku pikir, kalau Jun-chan benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga, bukan
cuma imajinasi, pasti bakal lahir lagu yang luar biasa hebat... pas kepikiran
gitu, aku jadi... fuhihi.』
"Jangan tertawa. Menjijikkan."
『Maafkan aku.』
Harukaze-san mulai menangis. Aku ingin bilang
kalau akulah yang harusnya menangis, tapi aku menahannya.
"...Dengar ya."
Sebagai gantinya, aku menghela napas panjang
dan memberitahunya.
"Kalau Shigure tidak ada, aku akan mati,
tahu?"
『Eh!? Eeh...
itu bercanda, kan?』
"—Aku serius."
Aku menjawab dengan suara yang
sungguh-sungguh. Itu sama sekali bukan candaan.
Aku sempat meminta padanya, 'Buatlah aku jadi
lebih rusak lagi. Jadikan aku anak yang tidak bisa hidup tanpamu,' dan mungkin
saja, saat ini aku sudah mulai menjadi seperti itu.
Hatiku terbuat dari musik, tapi saat ini, dia
berada di pusat musik itu—jadi, saat aku kehilangan dirinya, kurasa alunan
nadaku akan terdistorsi sedemikian rupa hingga hancur berantakan.
Bentuk musikku runtuh dan berakhir menjadi
sekadar kebisingan (noise).
Dan, saat aku kehilangan musikku—
Aku pasti akan musnah.
『................................』
Mungkin perasaanku tersampaikan. Setelah
Harukaze-san terdiam cukup lama,
『Begitu
ya...』
Dia bergumam lemah. Seperti monster yang
sedang meregang nyawa.
『Ya sudah,
tidak bisa kalau begitu. Aku kan sayang banget sama Jun-chan!』
Suara Harukaze-san terdengar ceria dan tanpa
beban saat dia mengatakannya tanpa malu-malu. Harukaze-san yang kukenal,
seperti biasanya.
"............Hah."
Aku akhirnya merasa lega dan mengendurkan
otot-ototku, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dengan suara
"Bofun".
『Soal Kurimoto-kun juga—Eh!? Tentu saja,
sebagai teman! Sebagai teman, tahu!』
"...Kurimoto Youjiro-san?"
『Aku benci sekali padanya.』
"............"
—Apakah itu perasaan yang sebenarnya?
『Dia tiba-tiba mengajak kencan... meskipun tadi
langsung kutolak sih... tapi akhir-akhir ini dia sering sekali menggangguku!
...Apa sih, sok-sokan banget sekarang... ah sudahlah, menyebalkan! Benar-benar
menyebalkan! Ngaaaaaa!』
"Harukaze-san."
Aku berkata pada Harukaze-san yang mulai
mengamuk lagi.
"Kebalikan dari suka bukanlah benci,
melainkan ketidakpedulian. Benci adalah bentuk lain dari suka."
Dengan perasaan seolah menancapkan pasak ke
jantung monster yang sudah berhasil kulumpuhkan.
"—Kamu suka, kan? Sama
Kuzujiro-san."


Post a Comment