Prolog
Aku bermimpi.
Di dalamnya, diriku versi dewasa yang
mengenakan jas sedang berjalan menyusuri jalanan gelap—mimpi yang semacam itu.
“Lelahnya…”
Langkah kakiku gontai. Diriku yang dewasa
terasa berat seperti timah setelah seharian penuh bekerja keras dari pagi
hingga malam.
Setelah berjalan beberapa saat dalam kondisi
seperti itu, aku melihat sebuah rumah dengan lampu yang menyala.
…!
Bagaikan menemukan save point dalam sebuah
game, pendar hangat dari rumah itu memenuhiku dengan rasa lega, dan langkah
kakiku otomatis makin cepat.
Dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih
ringan dibanding sebelumnya, aku sampai di rumah tersebut.
“Aku pulang…”
Kuletakkan tanganku di
pintu depan lalu membukanya—
“Selamat datang kembali,
Sayang♪”
Seorang wanita yang luar
biasa cantik menyambutku.
“Eh, tunggu, apa-apaan…!?”
Aku mengenal wanita
ini—bukan, gadis ini—lebih baik daripada siapa pun.
Tapi dia terlihat lebih
dewasa dari biasanya—dan dia begitu menawan sampai-sampai sejenak aku tidak
mengenalinya dan panik setengah mati.
“Shuuji, reaksimu lucu
banget♪”
Dia terkikik sambil
menatapku.
“M-Miran…?”
Dari aura gyaru familier
yang memancar darinya, aku akhirnya menyadari bahwa wanita di depanku ini
adalah Hanatsuki Miran.
K-Kenapa Miran menyambutku
pulang!? Dan memanggilku ‘sayang’…!?
Pada titik itu, batas
antara mimpi dan kenyataan kabur, dan otakku tidak bisa mengejar apa yang
terjadi.
…
Meskipun begitu, di tengah
kebingunganku, jantungku berdebar kencang saat melihat Miran berdiri di sana.
Tentu saja, sebagian
karena betapa cantiknya dan memikatnya wujud Miran yang lebih dewasa ini. Tapi
lebih dari itu—semua karena pakaian yang dikenakannya.
Dia mengenakan celemek berenda, persis seperti bayangan ideal tentang sosok istri sempurna yang menyambutku pulang di rumah.
Entah mimpi atau bukan,
aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya.
“Selamat datang
kembali, Shuuji♪”
“A-aku pulang.”
Aku terbata-bata
membalasnya, jelas-jelas bersikap mencurigakan.
Miran mengambil tas
dari tanganku sambil tersenyum dan bertanya,
“Makan malam? Mandi? Atau
mungkin—”
Setelah jeda singkat,
pipinya merona dan dia menatapku dari balik bulu matanya.
“…Aku?”
Ekspresi dan kata-kata itu
menembak tepat ke jantungku seperti peluru.
Tentu saja, sebagai
seorang otaku aku tahu—itu adalah kalimat klasik yang biasa kau dengar di manga
atau anime.
Tapi mendengarnya secara
langsung di dunia nyata, dari seorang wanita cantik dan dewasa sepertinya,
efeknya luar biasa dahsyat.
“A-anug, anu, soalnya…!”
Begitu banyak hal yang
menghantamku sekaligus hingga aku mulai gemetaran, bertingkah jauh lebih
mencurigakan lagi.
Tentu saja, ketika diberi
pilihan semanis itu, jawabannya sudah sangat jelas…!
T-tapi apakah boleh kalau
aku mengatakannya secara gamblang…!?
Sebagai seorang laki-laki
otaku yang pemalu dan pemendam, kata-kata itu tertahan di tenggorokanku.
“Apa jawabanmu… Shuuji?”
Miran bertanya, bergeliat
malu-malu.
“T-tentu saja… aku
memilih—”
Dengan wajah yang memerah
dan gugup, aku memantapkan hati untuk menjawab—
—!?
Sinar matahari menembus
masuk lewat jendela.
Saat aku mendadak bangkit
duduk, apa yang ada di hadapanku adalah… kamarku yang sangat biasa dan
mencerminkan seorang pemendam.
“Jadi itu benar-benar cuma
mimpi…”
Aku menghela napas
dalam-dalam sebagai hal pertama yang kulakukan di pagi hari.
Aku tahu itu cuma mimpi,
tapi begitu terbangun, aku tidak bisa menahan rasa kecewa yang amat sangat.
“Kalau aku tidur lagi
sekarang, apa aku bisa melihat kelanjutannya…?”
Aku dengan cepat berbaring
kembali, tapi jantungku masih berdebar kencang gara-gara mimpi tadi—aku tidak
bisa tidur lagi.
Sembari menghela napas
panjang sekali lagi, aku menyerah dan turun dari tempat tidur.
Tanpa kusadari, selagi aku
terus memutar ulang mimpi itu di dalam kepalaku bagaikan seorang pemimpi yang
tak tertolong, sudah waktunya untuk berangkat ke sekolah. Dari lantai bawah,
suara ibuku memanggilku untuk sarapan.
“Miran tadi imut banget…”
Mengingat kembali sosok
Miran versi dewasa, aku berganti pakaian memakai seragam dan bersiap-siap ke
sekolah. Biasanya aku akan menyeret kakiku dengan malas, tapi hari ini, aku
malah merasa antusias untuk berangkat.
“Baiklah, aku sudah siap!”
Dia mungkin bukan versi
dewasa, tapi kalau aku pergi ke sekolah, aku akan bisa bertemu dengan Miran
yang sekarang.
Pemikiran itu saja sudah
membuat hati—dan tubuhku—terasa lebih ringan.
“Aku berangkat!”
Setelah sarapan
bersama orang tuaku, aku berangkat ke sekolah.
Musim sudah sepenuhnya
berganti menjadi musim gugur.
Sembari berjalan,
melirik daun-daun yang memerah dan keemasan, pikiranku tentu saja melayang ke—
“Selamat datang
kembali, Sayang♪”
Mimpi di mana Miran
menyambutku seperti sosok istri yang sempurna.
Jika ini adalah diriku
yang dulu, mimpi itu mungkin akan meninggalkanku dalam rasa hampa dan berat.
Jika itu adalah diriku
versi dulu yang merasa terintimidasi oleh Miran…
Jika itu terjadi saat aku
masih berpikir bahwa gyaru sepertinya hidup di dunia
yang sepenuhnya berbeda…
Tapi—sekarang mimpi itu
tidak terasa hampa. Itu terasa nyata.
Karena Hanatsuki Miran
adalah pacarku dan tunanganku.
Yang artinya, mimpi yang
kulihat hari ini bisa saja menjadi sekilas gambaran tentang masa depan—
“Jadi suatu hari nanti…
Miran bakal jadi istriku…”
Aku pikir aku sudah
memahami hal itu, tapi mengucapkannya keras-keras memberikan bobot yang
benar-benar baru pada gagasan tersebut.
“Istriku, ya…”
Sebagai murid SMA kelas
dua, kata “tunangan” atau “istri” masih terasa agak abstrak.
Tapi setelah mimpi itu,
aku tidak bisa menahan diri untuk mulai memikirkan tentang masa depan.
“Menikah dengan Miran…
tinggal bersama…”
Membayangkan hal itu
saja sudah membuat wajahku terasa membara.
“Rasanya aku bakal
benar-benar memerah saat bertemu Miran hari ini…”
Tentu saja, tidak mungkin
aku menceritakan tentang mimpi itu padanya!
Itu terlalu memalukan…!
Aku harus berhati-hati
dengan ekspresi wajahku supaya dia tidak curiga dan menanyakannya…!
…
Dengan wajah dan emosi
yang sudah kubenahi kembali, aku berjalan menuju sekolah sambil merasakan
hembusan angin musim gugur.
Merasa antusias untuk
bertemu tunangan gyaru-ku, langkah kakiku terasa
lebih ringan dari biasanya.
llustrasu | ToC | Next Chapter


Post a Comment