Chapter 1
Malam yang Tak Terlupakan Bersama Senpai
『Selamat atas pengalaman pertamanya, ya.』
『Ah, iya...... soal itu...... terima kasih banyak!』
『Ahaha...... Aku
nggak nyangka kamu bakal sampai berterima kasih segitunya.』"
Itu adalah
percakapan dengan senpai yang terus berbekas di dalam ingatanku.
Hari hujan
itu...... hari Jumat minggu lalu itu, bahkan sampai hari Senin ini pun masih
bisa kuingat dengan begitu jelas.
Tidak, mana
mungkin aku bisa melupakannya walau sekejap.
Meskipun
harus diakui kalau aku terbawa oleh situasi, aku benar-benar menaiki tangga
kedewasaan secara harfiah berkat tangan senpai.
"Ck......"
Kalau lengah
sedikit saja, isi kepalaku langsung dipenuhi dengan adegan mesum bersama
senpai.
Suara senpai,
tubuh senpai, kelembutan senpai, kehangatan senpai...... Segala hal tentang
senpai yang kurasakan saat itu.
『Enak? Fufu, melihat
ekspresimu itu rasanya nggak perlu ditanya lagi ya.』
『Punya kamu bakal
masuk ke sini, lho?』
『Lumayan juga
ya...... kita berdua ini, jangan-jangan kecocokan fisiknya luar biasa bagus?』
『Kalau begitu
sekarang giliran kamu yang bergerak?』
『Ung...... iya
begitu... Pintar, pintar sekali ♡ Ahh ♡』
『Boleh ditambah lebih
kuat lagi kok? Bikin aku merasakan kamu lebih dalam lagi ♡』
Kepalaku
kini benar-benar sepenuhnya dipenuhi oleh sosok senpai.
Tapi mau
bagaimana lagi, ini tidak bisa dihindari...... Karena sampai beberapa hari lalu
aku adalah seorang perjaka yang sama sekali tidak tahu tubuh wanita... Tapi
begitu ya... memang benar begitu――aku sudah lulus dari masa perjaka, ya.
"Oiiii
Tsubaki?"
"Ada
apa sih, melamun begitu?"
Meskipun
tidak tahu apa-apa, senpai mengajariku banyak hal.
Meskipun ini
pengalaman pertama, yang disentuh adalah tubuh senpai yang indah, jadi aku
benar-benar memperhatikan dan merawatnya dengan sangat hati-hati.
Senpai
memuji sikapku yang disebutnya baik atau perhatian, tapi benar-benar saat itu,
sejujurnya semua kata-kata yang kudapat dari senpai terasa begitu
membahagiakan.
Walaupun
dari tengah-tengah pun kurasa aku mulai didorong oleh insting biologis sebagai
makhluk hidup, bergerak tanpa henti karena ingin melihat senpai merasa senang.
"Tsubaki!"
"Tsubaki-kun!"
"nn!?"
Suara yang
tiba-tiba terdengar tepat di sebelah telingaku membuatku langsung terperanjat
dan mendongak.
"Kanata......
Rio......"
"Yo."
"Ya."
Dua orang
yang berdiri tepat di hadapanku ini adalah sahabat terbaikku.
Bagaimana
tidak, aku sudah bersama mereka terus sejak SMP, sampai-sampai dalam pembagian
kelas pun kami tidak pernah sekalipun terpisah ke kelas yang berbeda.
Dan bahkan
sekarang, saat kami sudah menjadi anak kelas dua SMA, kutukan itu sama sekali
tidak pudar.
"Kelihatan
melamun banget sih, jadi bikin khawatir tau."
"Yaa,
ketawa lebar itu beneran Tsubaki kan?"
Orang
yang nyengir lebar sambil ngomong begitu adalah Tomioka Kanata.
Kanata
adalah cowok ganteng berwajah segar yang jago olahraga. Dia anggota klub sepak
bola, bahkan dikabarkan sebagai kandidat kapten berikutnya.
"Ada
apa? Mukanya merah banget gitu...... jangan-jangan kamu demam?"
Orang yang
bertanya dengan nada cemas itu adalah Asakura Rio.
Mungkin
bakal kena marah kalau dibilang berbadan mungil, tapi Rio punya senyum manis
yang menggemaskan, dia adalah manajer klub sepak bola, dan lebih dari itu, dia
adalah teman masa kecil Kanata.
"Aku
nggak apa-apa kok, maaf sudah bikin khawatir ya."
"Yang
bener saja."
"Kalau
ada apa-apa cerita ya?"
"......Haah,
aku hampir mau nangis liat persahabatan kalian berdua."
Saat aku
pura-pura merengek sedih, mereka—yang sudah tahu persis kelakuanku—malah
mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
"Kelihatan
baikan sih."
"Iya
ya."
"Makanya
kubilang apa, beneran nggak ada apa-apa kok."
......Tapi
ya, alasan kenapa tingkahku jadi aneh ini sama sekali tidak boleh diceritakan.
Padahal
mereka berdua sudah separah itu mengkhawatirkanku, tapi pelakunya sendiri malah
asyik mengenang kembali hubungan panas bersama senpai.
Hal kayak
gini kan sama sekali nggak mungkin bisa diceritakan! Jadi maafkan aku, ya, kalian berdua.
"Beneran
deh...... kalian berdua ini akur banget dari dulu."
Meskipun
aku bilang begitu, keakraban mereka berdua memang sudah sewajarnya.
Selain
sebagai teman masa kecil, mereka berdua juga sepasang kekasih, jadi kemesraan
mereka benar-benar bikin iri saking imutnya.
Percintaan
antar teman masa kecil itu rasanya kayak di dalam manga, bener-bener bikin
ngiler aseli.
"......Um?"
Saat
itu, ponsel di dalam saku celanaku bergetar.
Begitu
kuambil dan melihat layarnya, jantungku langsung berdegup kencang.
『Istirahat
siang nanti, datang ke ruang kelas kosong lantai tiga ya. Tempatnya tahu kan?』
Itu
tidak lain dan tidak bukan adalah pesan dari senpai.
Kami
sempat bertukar ID aplikasi saat dia menginap di rumahku, tapi aku sama sekali
tidak menyangka senpai bakal menghubungiku secepat ini...... atau lebih
tepatnya, aku ini gampang banget jantungan cuma gara-gara hal sepele begini ya.
"Woi,
muka lu merah lagi tuh?"
"Malah
makin parah dari tadi lho......?"
"T-tenang
saja, aku baik-baik saja!"
Gawat,
gawat...... aku terlalu terobsesi dengan pesan dari senpai.
Karena
aku sempat gagap parah, aku langsung diberondong pertanyaan habis-habisan oleh
mereka berdua, tapi untungnya aku berhasil mengelak dan lolos dari bahaya.
"Baiklah,
semuanya, selamat pagi, mari kita mulai wali kelas kita hari ini—"
Tak lama
kemudian, guru wali kelas kami, Pak Yamamoto, datang dan apel pagi pun dimulai.
"............"
Hal-hal yang
diucapkan oleh Pak Yamamoto tentu saja adalah urusan penting.
Tapi buatku,
semua ucapan itu mengalir begitu saja dari telinga kiri ke telinga kanan......
Alasannya sederhana, karena dipastikan aku bakal bertemu dengan senpai saat
istirahat siang nanti.
Kepalaku
penuh dengan kenangan pengalaman pertama, sampai-sampai membuat Kanata dan
mereka khawatir, tapi lihatlah diriku ini...... apakah aku ini manusia yang
otaknya sudah begitu tercemar oleh pikiran mesum?
Pada
akhirnya, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran sampai waktu
istirahat siang yang dijanjikan tiba.
***
Begitu jam
istirahat siang berbunyi, aku langsung menghabiskan makan sianku, pamit
sebentar ke Kanata dan Rio, lalu bergegas naik ke lantai tiga menuju ruang
kelas kosong yang telah ditentukan oleh senpai.
"Fuh......
p-permisi!"
"Selamat
datang~"
Setibanya di
tempat tujuan, senpai ternyata sudah menungguku.
Sama persis
seperti saat kami bertemu hari Jumat lalu, senpai sedang memainkan ponselnya,
lalu tersenyum kecil melihatku memasuki ruangan.
"nn......"
Senyuman itu
lagi-lagi membuat jantungku berdegup kencang, dan aku buru-buru mengalihkan
pandangan.
"Ih,
ngalihin pandangan gitu, jahat banget nggak sih?"
"Itu......
aku lagi gugup tahu, ngertilah dikit."
"Meskipun
diomongin begitu, buat aku rasanya kurang plong tau."
"Kalau
soal itu...... maaf ya."
"Fufu,
tapi ya sudahlah kalau gitu."
Senpai
melambaikan tangan menyuruhku mendekat, dan aku perlahan melangkah
menghampirinya.
Begitu
berdiri tepat di sebelah senpai, aroma manis yang menguar lembut langsung
menggelitik hidungku, dan aroma ini terasa begitu akrab bagi diriku yang
sekarang.
Karena aroma
manis inilah yang kuhirup sepuas-puasnya pada hari itu...... hari di mana aku
menyatukan tubuhku dengan senpai.
"Meskipun
telat ngomongnya, tapi makasih ya sudah kasih aku tumpangan waktu itu."
"......Ah,
justru sayalah yang seharusnya berterima kasih banyak."
Ah......
karena aku jadi bingung mau ngomong apa, aku malah ikut-ikutan ngucapin terima
kasih balik.
"Tsubaki
ikutan bilang makasih juga?"
"Itu
karena...... aku dikasih pengalaman waktu yang bahagia banget."
"Kamu
ini jujur banget dan anak yang menarik ya. Pantes aja, orang yang tiba-tiba handstand entah dari mana memang
beda."
"Tolong
jangan panggil aku orang aneh..."
"Dipikir-pikir
dari sudut mana pun itu tetap aksi orang aneh sih."
Ugh......
aku nggak bisa ngeles lagi!
Melihatku
yang salah tingkah sampai nggak bisa berkata-kata sepertinya menjadi hiburan
tersendiri bagi senpai, karena dia tertawa kecil sambil melanjutkan ucapannya
dengan bahu yang bergetar.
"Tapi,
kalau itu jadi pengalaman yang menyenangkan buat Tsubaki, aku ikut
senang."
"Motomiya-senpai......
tadi itu benar-benar luar biasa."
"Kamu
jujur banget ya. Tapi, aku kurang suka panggilan itu."
"Eh?"
"Kita
kan sudah pernah saling menautkan tubuh, lho? Aku juga sudah mengizinkanmu
memanggil namaku, dan waktu itu kamu juga memanggil namaku dengan benar,
kan?"
Senpai
dengan mulus mendekatkan tubuhnya.
Bukan hanya
kelembutan kenyal yang menempel di tubuhku, tapi aroma manis senpai yang
menguar lembut juga membuatku...... yah, aku suka aroma ini.
"Nah,
coba panggil namaku."
"......Hinata-senpai."
"Waktu
itu langsung disebut tanpa gelar lho...... ya sudahlah, untuk sekarang boleh deh."
Hinata-senpai
yang memasang wajah cemberut itu terlihat imut...... ah, bukan waktunya mikirin
itu, kenapa Hinata-senpai bisa sampai membuka hatinya sejauh ini padaku?
Memang
benar melewatkan satu malam bersama adalah peristiwa yang teramat besar, tapi
sampai bisa bersikap begini...... aku sangat senang sekali, tapi sikap
Hinata-senpai yang terlalu baik ini malah membuatku sedikit kebingungan.
"Ngomong-ngomong......
hari itu beneran seru ya. Mulai dari Tsubaki yang mendadak handstand, sampai apa yang kamu bilang begitu sampai
di rumah, kan?"
"Ah~..."
Mendengar
ucapan Hinata-senpai, aku langsung teringat kejadian itu.
『Senpai......!』
『Apaan?』
『Itu...... aku, baru
pertama kali ngelakuin hal kayak gini. Aku nggak punya niat buat lepas kendali
kayak monyet sih, tapi kalau seandainya nanti aku nggak sengaja mau nyentuh
senpai, tolong pukul aku tanpa ampun... ah nggak deh, bunuh aja aku!』
『M-mana mungkin aku
bunuh kamu!』
Di satu
sisi, akal sehatku mungkin memang sudah terbang melayang sejak saat itu.
Padahal aku
sendiri yang memasang garis pertahanan, tapi pada akhirnya aku tetap saja
melakukan hubungan mesum dengan Hinata-senpai dan semuanya jadi sia-sia.
"Aku
percaya diri sama bentuk tubuhku, dan teknikku juga lumayan bagus. Makanya aku
sempat mikir bakal terlalu merangsang buat Tsubaki yang baru pertama kali, tapi
ternyata kita berdua...... kecocokan fisiknya luar biasa bagus, kan?"
"I-iya
kah......?"
"Iya
dong. Bukan cuma kecocokan fisik saja, tapi bentuk perhatian Tsubaki meskipun
kamu masih amatir... ucapan dan sikap lembutmu bikin aku jadi percaya sama
kamu, itu juga pengaruh besar sih. Makanya aku jadi ingin bermanja-manja, dan
pengin ketemu lagi sama Tsubaki begini."
Sambil
mempermainkan ujung rambutnya, Hinata-senpai mengucapkan kata-kata yang begitu
membahagiakan itu.
Waktu itu
aku sendiri sudah kepayahan, jadi rasanya aku bahkan tidak sempat merangkai
kata-kata yang manis...... tapi mengetahui Hinata-senpai berpikiran seperti itu
adalah hal yang paling membuatku bahagia.
(...Atau
lebih tepatnya, Hinata-senpai ini benar-benar perempuan yang imut dan cantik
ya.)
Selain
parasnya yang memang imut, melihat tindik di kedua telinganya sukses membuatku
merasa kalau dia benar-benar seorang gal.
Hinata-senpai
benar-benar tipe orang yang belum pernah kujumpai sebelumnya.
"Um,
Hinata-senpai. Sebenarnya ada hal yang bikin aku penasaran...... tapi aku nggak
berani ngirim pesan karena takut mengganggu."
"Hal
yang bikin penasaran?"
"......Bagaimana
hubungan senpai dengan ibu senpai?"
"............"
Hinata-senpai
sempat memasang ekspresi tertegun sejenak, lalu memberitahuku bahwa
pertengkaran mereka masih terus berlanjut seperti biasa, tapi tidak perlu dikhawatirkan.
Hanya saja,
dia sepertinya benar-benar benci pada Ibunya, sampai-sampai dia tidak mau
membicarakan hal itu terlalu dalam meskipun itu masalah kecil, dan sisa waktu
istirahat siang itu kami habiskan untuk menikmati obrolan tentang topik-topik
lainnya.
Lalu
menjelang waktu istirahat berakhir, di saat-saat perpisahan kami.
"Ngobrol
begini bikin aku sadar lagi. Berada di sisi Tsubaki itu rasanya nyaman
banget...... Kalau tidak keberatan, bolehkah suatu saat nanti aku mampir lagi
ke rumahmu?"
Itu
benar-benar sebuah tawaran yang dibalut dengan godaan.
Seiring
dengan ucapan itu, kenangan bersama Hinata-senpai kembali berputar kuat di
dalam kepalaku, membuatku sepertinya sudah begitu terobsesi sampai-sampai tidak
bisa dikendalikan lagi oleh diriku sendiri.
"Kalau
senpai berkenan, aku tentu saja sangat ingin senpai datang...... rasanya
begitu."
"Makasih
ya. Kalau begitu, dalam waktu dekat aku pasti bakal mampir ke sana ya? Kali
ini, kita lakuin hubungan yang jauh lebih intim dan panas lagi, yuk."
"B-baiklah!"
Aku tidak pernah punya pengalaman diajak
bicara seperti ini sebelumnya... Tapi, satu-satunya emosi yang kurasakan di
dalam diriku saat ini hanyalah rasa bahagia.
Mungkin, aku sedang melayang kegirangan.
Meskipun masih banyak hal tentang
Hinata-senpai yang belum kuketahui, aku tetap menaruh kepercayaan yang begitu
besar padanya... Perasaan dicintai seperti ini membuatku begitu bahagia
sampai-sampai rasanya ingin meledak, dan membayangkan bisa merasakan kembali
waktu-waktu indah itu membuat debar di dadaku tidak mau berhenti.
"Oho~? Kelihatan senang banget
kelihatannya."
Hinata-senpai yang menyadari perubahanku,
menusuk-nusuk pipiku dengan ujung jarinya.
"Ya jelas senang lah... Atau lebih
tepatnya, entah kenapa aku merasa sudah begitu hanyut dalam interaksi kita,
sampai-sampai aku berpikir kalau ditipu pun oleh Hinata-senpai sepertinya aku
bakal ikhlas-ikhlas saja."
"......Suatu hari nanti kamu bakal
benar-benar ditipu, tahu?"
"Tidak, aku berniat untuk menilai
orang dengan benar kok. Berdasarkan hal itu, aku percaya kalau
Hinata-senpai adalah orang yang bisa diandalkan."
"............"
Untuk pertama kalinya hari ini, pipi
Hinata-senpai sedikit merona kemerahan.
Lalu, tanpa mengatakan apa pun, dia mengelus
kepalaku, yang sepertinya menandakan bahwa kata-kataku tadi benar-benar
berhasil membuatnya senang.
"......Um, Hinata-senpai."
"Apa?"
"Sebenarnya minggu ini juga...... Ibu
nggak ada di rumah pada hari Jumat malam. Jadi... maukah kamu datang menginap
lagi?"
Mendengar usulanku itu, Hinata-senpai langsung
mengangguk tanpa ragu.
"Oke. Kalau begitu aku numpang ya."
"......Baik!"
Begitulah, diputuskan lagi kalau Hinata-senpai
akan menginap di rumahku.
Aku sempat berpikir... apa aku ini tidak
terlalu hanyut tenggelam dalam nafsu satu malam saja? Tapi, memangnya kenapa
kalau iya?
Aku ingin menghabiskan waktu bersama
Hinata-senpai lagi.
Aku ingin menghabiskan waktu yang indah
bersama orang ini lagi... Itulah yang kurasakan.
▼▽
Kalau menantikan sesuatu yang
menyenangkan, rasanya jalannya waktu terasa jauh lebih cepat.
Hari ini tahu-tahu sudah hari Jumat yang
dijanjikan, tapi sebenarnya sejak pertemuan kami di hari Senin, kami sama
sekali tidak pernah bertukar pesan.
...Apakah hari ini Hinata-senpai benar-benar
akan datang?
"Terima kasih atas makanannya."
"Sama-sama."
Aku tadi sibuk memikirkan Hinata-senpai terus,
tapi akhirnya aku selesai sarapan dan merapatkan kedua tanganku berdoa.
"Enak nggak?"
"Enak."
"Bagus deh kalau begitu."
Ibu tersenyum di hadapanku.
Sarapan yang dibuat tidak pernah terlalu
rumit, tapi masakan apa pun yang dibuat oleh Ibu selalu terasa sangat enak,
sampai-sampai rasanya seperti diberi sihir.
"Masakan Ibu selalu enak. Begitu juga
dengan bento-nya... Aku beneran bangga banget."
"Tsubaki... Aah, kamu imut banget
sih!"
Seolah dilanda perasaan emosional yang
meluap-luap, Ibu melompat kecil dan memelukku.
Mungkin karena dorongan itu, kepalaku
langsung terbenam di dadanya. Aku diselimuti oleh aroma Ibu yang tidak pernah
berubah sejak aku masih kecil… Aroma yang sangat menenangkan.
"Tsubaki selalu mengucapkan kata-kata
yang bikin Ibu senang! Ibu saking sayangnya sama Tsubaki, kadang sampai pengen
jadikan kamu pacar, padahal kamu ini anak Ibu lho!"
"Itu cuma candaan, kan?"
"Tentu saja cuma candaan ya ♪"
Setelah itu, Ibu tidak mau melepaskanku agak
lama, mungkin ini cara Ibu mengisi ulang energinya karena tidak akan ada di
rumah mulai hari ini sampai besok malam.
"Belakangan ini Ibu sering mikir
lho."
"Mikir apa?"
"Soalnya, Tsubaki kan nggak punya masa
pemberontakan remaja, kan? Bukan berarti kemungkinan itu bakal muncul mulai
sekarang nggak ada sih, tapi kadang Ibu mikir jangan-jangan kamu cuma bersikap
sungkan dan menahan diri demi Ibu."
"Mana mungkin begitu."
Aku memotong ucapan Ibu.
"Sejak Ayah meninggal, Ibu membesarkanku
sendirian. Sekarang aku memang sudah cukup mandiri, tapi dulu sesibuk apa pun Ibu,
Ibu selalu ada di sisiku... Menjalani masa pemberontakan pada Ibu yang seperti
itu, aku sendiri tidak akan pernah membiarkannya."
"Tsubaki..."
Bagi diriku yang sekarang, Ibu adalah
satu-satunya keluarga sedarah.
Aku sangat menghormati Ibu yang membesarkanku
seorang diri sejak Ayah meninggal di usia muda, dan aku menyimpan rasa terima
kasih yang amat besar.
Membuat Ibu sedih atau kesulitan adalah hal
yang paling tidak ingin kulakukan.
"Makanya, Ibu, tolong jangan memaksakan
diri, ya?"
"Kalau soal itu kamu tenang saja. Ibu
nggak mau bikin kamu khawatir, dan kalau ada permintaan yang tidak masuk akal, Ibu
punya cukup keberanian buat menolaknya kok. Tapi ya, karena Ibu sendiri
menjalani pekerjaan yang sangat Ibu sukai, jadi Ibu benar-benar nggak
apa-apa."
"Bagus deh kalau begitu."
Ngomong-ngomong, Ibu bekerja sebagai seorang
desainer.
Karena sering ditarik ke sana ke mari oleh
berbagai pihak yang berkaitan, Ibu sering meninggalkan rumah di akhir pekan,
tapi melihat betapa kerasnya dia berjuang karena itu adalah pekerjaan yang
sangat dicintainya, hal itu juga menjadi sumber kekuatan bagiku.
"Meskipun begitu..."
"?"
Ibu yang akhirnya melepaskanku karena sudah
puas, menatap seluruh tubuhku sambil berkata,
"Padahal kamu anak sebaik dan selembut
ini, tapi kenapa ya sampai detik ini kamu belum pernah punya pacar satu
pun?"
"............"
Maafkan aku, Ma... Bukan, sebenarnya nggak ada
perlunya juga minta maaf, tapi sejujurnya aku... melompati tahap pacaran dan
baru saja lulus dari masa perjaka beberapa hari yang lalu.
Tentu saja aku tidak mungkin menceritakan hal
itu, apalagi bilang kalau aku mengundang Hinata-senpai masuk ke rumah saat Ibu
tidak ada... Mana mungkin aku bisa ngomong begitu.
"Kalau begitu, aku berangkat ya!"
"Ya, hati-hati di jalan."
Setelah itu, diantar oleh Ibu, aku melangkah
keluar rumah.
***
Lalu aku sampai di sekolah tanpa terseret
masalah merepotkan apa pun, dan begitu aku mengganti sepatu di rak sepatu, aku
langsung melihat Hinata-senpai.
"Hei Hinata! Hari ini yuk kita ke
karaoke~!"
"Hari ini sepertinya agak susah."
"Eh? Kenapa~?"
"Ada urusan."
"Kenapa, kenapa~!"
"......Berisik banget nih anak."
Hinata-senpai memasang ekspresi sebal setengah
mati... Ekspresi seperti itu juga terlihat bagus baginya.
Orang yang menempel manja pada Hinata-senpai
sambil merajuk seperti anak kecil itu... seingatku namanya Murakumo-senpai.
Meskipun tipenya berbeda dari Hinata-senpai,
perempuan itu juga sangat cantik dan punya bentuk tubuh yang luar biasa.
Dengan rambut dicat pirang dan seragam yang
dipakai secara berantakan, dia adalah sosok gal sejati yang bahkan melebihi
Hinata-senpai.
"......Ah."
Saat itulah, tatapanku berpapasan dengan
Hinata-senpai.
"Ada apa?"
"......Nggak apa-apa."
Kupikir Hinata-senpai akan berjalan melewati
begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa, tapi dia membisikkan sesuatu dengan
suara pelan.
"Pulang sekolah nanti, aku hubungi
lagi ya."
Bersamaan dengan ucapan itu, dia bahkan
menepuk pundakku sekilas.
Cuma begitu saja tapi sukses membuat bahuku
bergetar karena berdebar-debar, dan Hinata-senpai tertawa kecil melihat
reaksimu itu.
"Apaan, kalian kenal?"
"Ya, kurang lebih begitu."
Pada akhirnya, interaksiku dengan
Hinata-senpai hanya sebatas itu.
Tepat saat aku berdiri memandangi punggung
Hinata-senpai sampai menghilang, Kanata dan Rio—yang baru saja datang ke
sekolah—menyapa.
"Yo Tsubaki! Kenapa ngelamun gitu?"
"Pagi Tsubaki-kun... Mukanya merah
lagi?"
"Nggak usah dipedulikan... Atau lebih
tepatnya, daripada mengurusiku mending kalian berdua saja yang sok-sok
mesra."
"Eh? Begitu... ya? Kalau begitu baiklah!
Kanata~!"
"Uoh!? Jangan tiba-tiba meluk gitu
dong!"
"Ehehehe~♪"
Beneran lagi pamer kemesraan nih
anak-anak......
Menghela napas melihat mereka berdua yang
selalu kelihatan manis dan membara kapan pun waktunya, aku berjalan mendahului
mereka menuju ruang kelas.
Menghabiskan waktu yang terasa begitu lama
menunggu jam pulang sekolah, akhirnya waktu sepulang sekolah yang kuhabiskan
bersama Hinata-senpai pun tiba.
『Aku tahu tempat rumahmu, jadi nanti aku susul
ya.』
Begitu wali kelas selesai memberikan
pengumuman akhir, pesan dari Hinata-senpai langsung masuk.
Hinata-senpai pasti butuh waktu untuk bersiap-siap,
jadi tidak akan langsung datang sekarang juga, tapi untuk menghindari situasi
di mana dia harus menunggu di depan pintu masuk, aku langsung bergegas pulang.
▼▽
Setelah sampai di rumah, aku merasa gelisah
tak karuan dan akhirnya saat itu pun tiba!
Begitu bel interkom yang menandakan ada
tamu berbunyi, aku langsung melangkah ke pintu depan... Tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu kubuka pintu tersebut
untuk menyambut Hinata-senpai.
"Yappo, aku datang."
"Selamat datang... Hinata-senpai."
"Kaku banget sih? Lagi gugup ya?"
"Itu... ya, begitulah."
Jawabku sambil menggaruk kepala... eh, tunggu,
Hinata-senpai masih pakai seragam sekolah?
"Masih pakai seragam, ya?"
"Ah, iya... Sebenarnya tadi begitu pulang
aku langsung ketemu sama Ibu. Makanya aku buru-buru keluar rumah dan cuma
sempat merapikan barang seadanya."
"Begitu ya..."
"Kamu separah itu pengin lihat aku pakai
baju bebas?"
"Kalau dibilang tidak pengin... itu
bohong."
Gawat... kalau berhadapan langsung dengan
Hinata-senpai, kata-kata jujur meluncur begitu saja tanpa disaring.
"Kamu ini ya, jujur banget dan imut
deh Tsubaki."
Hinata-senpai tersenyum kecil lalu
mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik.
"Aku bawa baju piyama kok, jadi maaf
ya nggak pakai seragam lagi? Kalau dariku sih, sebenarnya aku nggak
keberatan kalau pakai kemejamu kayak kemarin."
"............"
Memang benar, Hinata-senpai yang hanya
mengenakan kemejaku saja terlihat sangat seksi.
Di satu sisi aku ingin melihat Hinata-senpai
seperti itu lagi, tapi di sisi lain aku juga sangat penasaran ingin melihatnya
mengenakan piyama yang dibawanya.
"......Ah, b-biar bagaimana pun, silakan
masuk dulu."
"Makasih."
Urusan malam nanti dipikirkan nanti saja. Untuk
sementara aku mempersilakan senpai masuk ke ruang keluarga.
Senpai meletakkan tasnya di atas sofa, lalu
mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang keluarga seolah sedang menatap
sesuatu yang menyilaukan mata sebelum bersuara.
"Seperti dugaanku waktu itu, rumah ini
terasa hangat ya."
"Hangat... ya?"
"Iya... Tsubaki sayang banget ya sama Ibu?"
"Iya."
"Begitu ya."
Hinata-senpai... ah, urusan keluarga sebaiknya
jangan terlalu dicampuri secara sembarangan.
Meskipun aku sendiri juga penasaran dan ingin
tahu detailnya, hal semacam ini paling pas kalau didengar saat Hinata-senpai
sendiri yang ingin menceritakannya.
"Mau ke kamar Tsubaki deh."
"Boleh kok, kalau begitu yuk kita ke
sana."
Suasana sempat terasa sedikit sendu, tapi aku
mengantar senpai masuk ke kamarku.
"Aku tuh ya, dari tadi nungguin hari ini
lho."
"Begitu ya?"
"Iya, kan sudah kubilang waktu hari Senin
kemarin? Kecocokan fisik kita pas banget, dan aku pengin ngelakuin hal mesum
lagi sama Tsubaki."
"nn......"
Mendengar ucapannya sambil ditatap lurus-lurus
membuatku tanpa sadar mengalihkan pandangan.
Sesaat kemudian, tubuhku didorong begitu
mudahnya sampai aku terbaring tertelan oleh Hinata-senpai.
"Tsubaki."
"nn!?"
Hinata-senpai menindih tubuhku yang sudah
terjatuh, merapatkan tubuh kami sepenuhnya.
Tekanan dari tubuh montoknya membuat suhu
seluruh tubuhku meningkat drastis, bersamaan dengan itu, ingatan minggu lalu
bersama Hinata-senpai bangkit kembali dengan kejernihan yang belum pernah ada
sebelumnya.
"Badanku juga jadi ikut panas... Padahal
baru seminggu berlalu, tapi yuk kita mulai sekarang."
Dia mulai mengusap bagian selangkanganku dari
balik celana.
Bukan hanya dadaku saja yang membuncah penuh
antisipasi, tapi secara harfiah bagian bawahku juga mengeras karena penuh
antisipasi... Tunggu, apa sih yang sedang kupikirkan ini!
"Halo, senang berkenalan."
Ritsleting diturunkan, memperlihatkan
"benda" penting itu.
Terus-menerus merindukan waktu manis bermandi
madu bersama Hinata-senpai, benda itu bergetar seolah memohon untuk segera
melampiaskan hasrat yang sudah kutahan-tahan dari tadi.
"Mau bagaimana? Mau merasa enak?"
"......Iya."
"Iya, baiklah. Kalau begitu aku pakai
mulut ya."
Hinata-senpai membuka mulutnya
"Aah", lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Kehangatan yang pas... Tidak, justru karena
itu adalah area yang sensitif, rasanya terasa sangat panas, tapi sensasi
dimasukkan ke dalam mulut senpai saja sudah membuat rasa bergairah mengalahkan
segalanya.
Gerakannya yang sedikit merapikan rambut di
samping dengan satu tangan itu terlihat begitu menggoda, ditambah tatapan
matanya yang sedikit berair menatapku sungguh luar biasa... Pokoknya,
diperlakukan seperti ini oleh Hinata-senpai adalah puncak kenikmatan yang tiada
tara.
Suara basah juubo-juubo yang mengguncang
gendang telinga itu pun semuanya, gara-gara Hinata-senpai, jadi kutelan
mentah-mentah dan kutuki diri sendiri karena malah menyukainya… Apakah aku ini
sudah jadi seorang hentai ya?
Aku sempat dilanda kecemasan yang kupikir
sebentar lagi pasti bakal kulupakan, tapi tentu saja perasaan itu perlahan
lenyap, dikalahkan oleh rasa nikmat yang diberikan oleh sentuhan Hinata-senpai.
Meskipun begitu, aku benci kalau hanya pasrah
menerima tanpa melakukan apa pun, tapi Hinata-senpai bilang dia ingin aku
memuaskan hasrat itu di tubuhnya nanti saat malam tiba... Ucapannya yang selalu
bernada erotis di setiap kesempatan membuat hatiku tidak bisa tenang sedetik
pun.
Dan... lalu, lalu, dan lalu!
"Bagaimana? Mau ditambah lebih kuat
lagi?"
"T-tidak... Rasanya enak
banget!"
Setelah sesi mesum ringan yang masih bisa
dibilang sebagai pemanasan itu, kami berdua akhirnya memutuskan untuk mandi
bersama.
Suara Hinata-senpai menggema di dalam
kamar mandi, punggungku dengan lembut dibasuh menggunakan handuk berbusa... Minggu lalu kami mandi terpisah, tapi mendapat kesempatan mandi bersama
perempuan seperti ini... Sungguh, ini adalah rangkaian kejutan dan pengalaman
pertama yang tiada habisnya.
"......Fufu."
"Ada apa?"
"Nggak, aku cuma lagi ingat kejadian
tadi. Padahal hal yang kita lakuin seharusnya adalah aktivitas orang dewasa,
tapi Tsubaki tetap punya kelucuan yang bikin ketagihan."
"Itu... misalnya?"
"Mungkin bagian di mana kamu suka banget
sama dada ya? Kamu menatapnya lekat-lekat, kelihatan senang banget waktu
ditekan ke tubuhmu... Oh satu lagi, kamu juga suka membenamkan wajahmu ke sana,
kan?"
"......Iya."
Untuk yang satu itu aku hanya bisa mengakuinya
secara jujur.
Meskipun tidak terlalu disadari atau
dipikirkan sebelumnya, rupanya aku memang menyukai dada yang besar.
Dada Hinata-senpai berukuran besar... Konon
ukurannya adalah G-cup, jadi untuk ukuran anak SMA, itu sudah bisa
dikategorikan sebagai kelas bakunyuu (dada super besar).
"Tsubaki si oppai-mania pasti suka juga
kan sama yang kayak gini?"
"nn!?"
Kelembutan yang luar biasa dahsyat ditekan
secara kenyal ke punggungku.
Bukan hanya sensasi licin akibat sabun mandi,
tapi kelembutan dada Hinata-senpai langsung meresap dan membuat bagian bawah
tubuhku sepertinya bakal kembali mengalami masalah besar.
{Namun, karena aku masih punya sedikit harga
diri, aku mati-matian menahannya dan berhasil memukul mundur serangan mesum
Hinata-senpai untuk sementara waktu.}
Setelah selesai membasuh tubuh, kami berendam
bersama di dalam bathtub, tapi karena Hinata-senpai bersikeras ingin berendam
sambil saling berhadapan, posisi kami jadi berpandangan langsung.(Dadanya
mengapung, tuh...)
Dada Hinata-senpai mengapung di atas air
hangat puka-puka.
Aku terhipnotis oleh pemandangan yang biasanya
hanya bisa kulihat di anime atau manga, sampai-sampai aku terus memandanginya
tanpa henti hingga Hinata-senpai menegurku.
"Terlalu lama melihatnya."
"M-maaf..."
"Nggak perlu minta maaf juga kali. Lagian
mustahil juga kalau posisi kita hadap-hadapan begini dada besar ini nggak masuk
ke dalam pandanganmu, dan wajar aja kan buat Tsubaki yang suka dada
besar?"
Sambil tertawa kecil, Hinata-senpai
menyendok air hangat dengan telapak tangannya.
Tepat saat aku memperhatikan apa yang akan dia
lakukan, Hinata-senpai menyeringai usil lalu menyipratkan air itu ke arahku.
"Uwah!?"
"Tepat sasaran di wajah~♪"
"T-tunggu sebentar, tolong
hentikan!"
"Reaksi Tsubaki seratus poin penuh, jadi
aku nggak bakal berhenti~♪"
Cara dia menyipratkan air ternyata jauh lebih
jago dari perkiraanku, membuat mulut dan hidungku menjadi target serangan
terfokus.
Tapi... Yah, rupanya aku memang cowok yang
gampang ditebak. Diserang seperti ini pun yang kurasakan hanyalah kesenangan,
dan aku kembali berpikir berkali-kali betapa Hinata-senpai yang sedang tertawa
itu terlihat sangat cantik.
"Hinata-senpai benar-benar senior yang
cantik banget ya."
"Sering dibilang begitu."
"Wah, blak-blakan banget."
"Kan sudah kubilang, aku ini punya rasa
percaya diri."
Hinata-senpai mengatakannya dengan mantap,
tapi kurasa hebatnya adalah dia sama sekali tidak memberikan kesan menyebalkan.
"Tsubaki sendiri, apa ada hal... yang
bikin kamu percaya diri?"
"Hal yang bikin percaya diri ya... Karena
Ibu sering nggak ada di rumah, mungkin kemampuan buat ngerjain sebagian besar
hal sendirian, ya."
"Heeh, keren juga."
"Terus... mungkin kedengarannya narsis
sih, tapi masalah kebaikan... apakah aku punya itu, ya."
......Sedikit menyesal begitu
mengatakannya.
Bilang diri sendiri baik itu kan narsis
banget... Aku berniat langsung meralatnya, tapi Hinata-senpai malah mengangguk
sambil berkata "Begitu ya."
"Kamu nggak mikir kalau ngomong
begitu sendiri itu aneh?"
"Nggak kok? Soalnya itu kan kenyataan.
Memang sih kalau koar-koar ngomong begitu di berbagai tempat bakal jadi
masalah, tapi kan ini di depanku, jadi nggak apa-apa kan?"
"......Begitukah."
"Datang menemuiku di tengah hujan dan
mengizinkanku menginap... Hanya dengan hal itu saja, Tsubaki sudah cukup baik
kok."
"M-terima kasih banyak......"
Aku tidak sanggup menatap langsung wajah
Hinata-senpai, jadi aku kembali menundukkan pandanganku.
Kalau begitu, mau tidak mau pemandangan yang
tertangkap oleh mataku tentu saja adalah dada besar milik Hinata-senpai, dan
tanpa jera aku malah berakhir kembali menatapnya lekat-lekat.
"Nanti pas mau lakuin ya? Terserah kamu
mau berbuat apa."
"......Baik."
Aku mengangguk, dan sekarang berkonsentrasi
penuh untuk menghangatkan tubuh.
Perkembangan yang merangsang ini terus
berlanjut bahkan setelah keluar dari kamar mandi, di mana Hinata-senpai yang
membalut tubuhnya dengan baju piyama merah muda yang imut, tetap membuka
kancing bagian dadanya untuk memamerkan belahan dadanya sama seperti saat
memakai seragam.
"Ini sudah jadi gaya andalanku. Buat
Tsubaki juga ini pemandangan yang menyegarkan mata, kan?"
Sial... orang ini benar-benar paham semuanya!
Padahal baru saja selesai mandi dan auranya
sudah sangat menggoda, dia masih memamerkan pesona kewanitaannya yang tak
tertahankan tanpa ragu. Jadi, ini bukan lagi sekadar menyegarkan mata, tapi
sudah menjadi racun.
"Rambutku, aku keringkan dulu
ya."
"Iya."
Hinata-senpai sempat menghilang dari ruang
keluarga, dan sementara itu aku mengeluarkan sushi yang kubeli untuk makan
malam dari dalam kulkas lalu menatanya di atas meja.
Setelah itu, saat aku sedang menyiapkan
sup miso sebagai pendamping, Hinata-senpai yang sudah selesai mengeringkan
rambutnya kembali muncul.
"Maaf menunggu... Eh, sushi?"
"Iya, tadi aku sempat
membelinya."
"Wao... Kelihatan enak banget!"
Oh, antusiasme Hinata-senpai sepertinya cukup
bagus.
"Kalau begitu, mari kita makan."
"Un."
"Selamat makan."
"Selamat makan."
Begitulah, waktu makan malam bersama
Hinata-senpai dimulai.
Meskipun bukan waktu yang diisi dengan hal-hal
spesial, topik obrolan kami sama sekali tidak ada habisnya sambil sama-sama menyuapi
sushi ke dalam mulut.
"Terus ya――"
Hal-hal yang diceritakan oleh Hinata-senpai
sebagian besar adalah tentang teman-teman dan kehidupannya di sekolah... Soal
keluarganya memang sedikit, tapi dia tetap menceritakan berbagai hal padaku.
Sebagai balasannya, aku juga menceritakan
tentang teman-temanku, tentang Ibu, kebiasaanku sehari-hari, hingga bagaimana
caraku menghabiskan waktu selama ini.
Karena aku begitu asyik mengobrol dengan
Hinata-senpai dari awal sampai akhir, aku bahkan tidak menyadari kalau sushi di
piringku sudah habis sejak tadi.
"Terima kasih atas makanannya."
"Terima kasih atas makanannya. Hwaa, rasanya enak banget...!"
Syukurlah, dia benar-benar puas.
Setelah itu kami menyelesaikan persiapan
tidur seperti menggosok gigi dan kembali ke kamar, tapi momen sesungguhnya buat
aku dan Hinata-senpai dimulai dari sini.
Hinata-senpai yang duduk di atas ranjang
merentangkan kedua tangannya dan menyuruhku mendekat.
"Hinata-senpai."
"Tsubaki."
Aku langsung memeluk Hinata-senpai dan
mendorongnya untuk berbaring.
"Ung...... Amukh."
Hanya dengan merayap tanganku di tubuh
Hinata-senpai, suara manja langsung lolos dari bibirnya.
Bagiku ini baru kedua kalinya menyatukan
tubuh dengan Hinata-senpai, tapi suara ini adalah tanda bahwa saklar kami sudah
menyala.
"Hei... panggil nama... Panggil aku
tanpa gelar ya♡"
"Hinata......!"
"Ahh♡"
Panggil tanpa gelar saat sedang melakukan
hubungan mesum... Ini juga sama seperti sebelumnya.
Sambil memanggil nama Hinata-senpai, aku
menyentuh tubuhnya dan juga berciuman... Bukan sekadar ciuman menempel biasa,
melainkan ciuman dalam dan penuh gairah dengan lidah yang saling membelit
seperti yang diajarkan oleh Hinata-senpai.
"Juru... Reroo... ♡"Deep kiss bersama Hinata-senpai...
Sensasi ini benar-benar membuatku terhanyut.
Ciuman sentuhan biasa memang tidak buruk juga,
tapi ciuman dalam ini, meskipun menguras tenaga, membuatku ketagihan sampai
tidak bisa berhenti.
Aku ingin Hinata-senpai lebih banyak lagi...
Aku ingin Hinata-senpai merasakan diriku lebih dalam lagi.
Aku sudah menahannya selama seminggu penuh...
Aku ingin melakukan ini bersama Hinata-senpai sejak dulu!
"Hei Tsubaki, sentuh tubuhku lebih banyak
lagi? Nih di sini... sudah jadi begini karena ingin milik Tsubaki loh♡ Buat aku
merasakan Tsubaki lebih dan lebih lagi ya♡"
"B-baik...
U-um, Hinata."
"Un♡"
Berbanding
terbalik dengan sikapnya sehari-hari, ucapan dan gerak-gerik Hinata-senpai
meleleh penuh kemanjaan.
Setiap
kali melakukan hubungan mesum, Hinata-senpai selalu berubah menjadi sangat
manis, berkembang menjadi obrolan intens seolah kami adalah sepasang kekasih
yang sudah lama menjalin hubungan bertahun-tahun.
Yah,
aku memang tidak punya pengalaman dengan hubungan semacam itu, tapi kurasa
sensasi ini tidak salah lagi.
"Hinata-senpai――"
"Ihh! Jangan pakai gelar! Aku nggak mau
kalau nggak dipanggil nama langsung♡"
Memanggilnya Hinata-senpai sudah seperti
kebiasaan yang melekat.
Makanya, seberapa banyak pun dia meminta
dipanggil tanpa gelar, begitu situasi mendadak, aku pasti keceplosan
memanggilnya "senpai" lagi, dan setiap kali itu terjadi,
Hinata-senpai akan menegurku dengan suara manja yang meleleh… Sumpah, ini imut
banget sialan!
"Anu... Hinata."
"Ada apa?"
"Hinata imut banget sampai aku nggak
tahan lagi... Aku pengin meluapkan seluruh isi minggu ini ke Hinata!"
Tentu saja aku masih belum berpengalaman dalam
hal berhubungan intim.
Tapi meskipun begitu, aku tetap ingin melupakannya
pada Hinata-senpai... Aku mungkin tidak bisa menahannya dan mungkin tidak bisa
bersikap sabar, tapi aku tetap ingin segera bercinta dengan Hinata-senpai!
Mendengar kata-kataku yang jujur,
Hinata-senpai mengangguk.
"Un♡ Boleh, ayo sini... Cepat kemari♡"
Entah kenapa... rasanya setiap akhir kalimat
Hinata-senpai selalu diimbuhi tanda cinta, telingaku dimanjakan oleh suara
manis melelehnya ini.
Hinata-senpai sudah siap sedia sepenuhnya, dan
aku juga ingin segera menyatu dengannya.
Tapi sebentar saja... Meskipun gerak tanganku
mungkin masih canggung, aku ingin membuat senpai merasa senang... Aku ingin dia
merasakan nikmat!
Bagian bawah tubuhku seolah berteriak minta
segera dimulai, tapi aku berusaha menahan dorongan itu sejenak lalu kembali
mencium Hinata-senpai.
"......Tsubaki-kun♡"
"......Kamu beneran imut banget
ya."
Kapan orang ini akan berhenti menjadi
imut... Tingkat keimutan Hinata-senpai tidak menunjukkan batas akhir
sampai-sampai membuatku merasa ngeri dalam arti yang positif.
Sambil menikmati bagian dalam mulut
Hinata-senpai, aku juga mengerahkan seluruh tenaga untuk memberikan belaian
pada tubuhnya.
Bukan hanya meremas dadanya, tapi juga
membelai bagian puncaknya... Kadang-kadang menjentiknya pelan.
Setiap kali kulakukan itu, tubuh
Hinata-senpai bergetar dan meloloskan desahan penuh gairah.
Di setiap momen itu pula aku merasa senang
karena menyadari bahwa aku berhasil membuat Hinata-senpai merasa nikmat… Aku
ingin membalas Hinata-senpai lebih banyak lagi.
Aku ingin membuat orang ini berpikir bahwa
melakukan hubungan mesum bersamaku itu menyenangkan, dan dia ingin terus
melakukannya lagi di masa-masa mendatang!
"Amukh."
"A-hinh♡"
Aku mendekatkan wajahku ke dada
Hinata-senpai dan melahapnya ke dalam mulut.
Menggulingkan ujung lidahku pada puting
merah muda Hinata-senpai yang membengkak dan mengeras, melihatnya menggeliat
senang seolah itu memberikan kenikmatan yang pas membuat Hinata-senpai terlihat
begitu imut... Kosakata yang kupunya tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa
imutnya Hinata-senpai selain kata imut itu sendiri.
"Kenapa Hinata bisa seimut ini...?"
"Imut? Aku, imut? Senang rasanya♡"
"......Gugoooh."
Orang ini imut banget sampai-sampai aku
ingin mengerang tertahan!
Padahal kami belum melakukan tindakan
senggama, tapi tingkat kepuasan ini adalah sensasi yang ingin terus kurasakan
selamanya.
Selama beberapa menit berikutnya, aku terus
menyentuh tubuh Hinata-senpai.
Lalu――.
"Aku masuk ya... Hinata!"
"Un... Masuklah—Aaaah♡"
Desahan penuh kenikmatan dari Hinata-senpai
yang bernada sedikit lebih tinggi menggema ke seluruh ruangan.
Hangat... Aku berada di dalam kehangatan yang
kurasakan saat itu, dan Hinata-senpai menatapku dengan lembut... Sensasi hari
itu bangkit kembali sepenuhnya.
"Hei, kali ini coba gerakkan sesukamu,
Tsubaki? Ayo,
cepat bergerak cepat♡"
"nn......"
Cepat cepat... Mengikuti ucapan Hinata-senpai,
bagian itu menjepitku dengan erat.
Yang ada di dalam diriku saat ini hanyalah
keinginan untuk berhubungan intim dengan Hinata-senpai, dan memenuhi ekspektasi
Hinata-senpai... Aku ingin meluapkan perasaan itu sepuas-puasnya!
"Tsubaki♡ Tsubaki-kun♡ Bagus... Rasanya enak♡ Aaaaah♡"
Hinata-senpai juga melontarkan suara
kebahagiaan mengikuti gerakanku.
Mendengar suara seperti itu membuatku merasa
harus berusaha lebih keras lagi, dan yang terpenting, suara tinggi
Hinata-senpai rasanya semakin mendorong punggungku dengan kuat.
"Hinata... Mukanya merah banget...
Matanya sayu... Imut banget sumpah."
"Ihh♡ Jangan dilihatin terusss♡ Aku nggak bisa pasang muka sebagai senpai
lhooo♡ Kalau lagi h-an sama Tsubaki aku bisa rusak jadinyayaaa♡"
Suhu kenikmatan membakar akal sehatnya,
membuat Hinata-senpai kehilangan sosok wibawanya yang biasa.
Sama sepertiku, dia tampaknya sudah menjadi
tawanan dari kenikmatan yang dirasakannya.
"Hinata......!"
"Bareng ya? Keluarnya bareng aku ya! ♡"
Tepat sebelum mencapai batas,
Hinata-senpai menyilangkan kakinya dengan kuat untuk mengunciku agar tidak bisa
lepas darinya.
Setelah itu, kami berdua bermandi keringat
dengan napas tersengal-sengal... Tapi perasaan puas ini sudah melampaui batas
maksimal.
"Ternyata tetap aja capek ya..."
"Ya iyalah seheboh itu tadi... Padahal
harusnya melelahkan, tapi Tsubaki manggil namaku terus nggak mau
berhenti."
"I-itu karena Hinata-senpai terlalu
imut... Atau harus dibilang mempesona, ya."
"......Ya ampun, kamu ini beneran
imut."
Dengan
suara kecupan chu, pipiku dicium.
"Hei Tsubaki."
"Iya?"
"Mulai sekarang kalau pengin, kita lakuin
kapan pun kita mau, gimana? Hubungan di mana kita nggak usah mikir hal rumit
dan cuma saling menginginkan satu sama lain... Rasanya santai dan enak, kan?"
"............"
Mendengar tawaran itu, aku berpikir
sejenak.
Aku juga ingin lebih banyak bersama
Hinata-senpai... Keinginan untuk melanjutkan hubungan mesum ini sama persis,
jadi aku setuju dengan tawaran itu.
Hubungan yang rusak untuk ukuran anak
SMA... Bisa dibilang semacam hubungan sex friend ya, tapi aku juga ingin terus
melanjutkan hubungan ini dengan senpai.
"Aku juga... ingin melakukannya."
"Un♪"
Hinata-senpai mengangguk puas mendengar
jawabanku.
Setelah itu, aku menatap lekat-lekat
Hinata-senpai. Gerakan dada besar senpai yang naik turun setiap kali dia
bernapas terlihat begitu mempesona.
"............"
Bukan cuma sekali dua kali, tapi aku
benar-benar memikirkannya berkali-kali—Hinata-senpai itu sangat cantik, sangat
seksi, dan aku sangat bahagia karena dia mempercayaiku serta menunjukkan
wujudnya yang terbuka padaku saat berada di sisiku.
"............"
"Kamu ngeliatinnya lama banget ya…?"
"Ah, maaf..."
Karena menatapnya terlalu lekat, Hinata-senpai
memeluk tubuhnya sendiri dengan malu-malu.
Aku menatapnya sampai bengong, jadi pastinya
dia merasa ditatap sampai seolah-olah tubuhnya mau berlubang... Tentu saja
wajar kalau dia jadi malu begini, batinku sambil memiringkan kepala
kebingungan.
"Hinata-senpai... Jangan-jangan kamu
malu?"
"Ts~~~!"
Hinata-senpai langsung merona merah dalam
sekejap dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal di sebelahnya.
Melihat Hinata-senpai yang tidak menutupi
bagian dada atau area penting lainnya sama sekali dan hanya menutupi wajahnya
saja, itu terasa begitu lucu sampai-sampai aku tertawa kecil.
Mendengar suara tawaku, dia melayangkan
tendangan kecil padaku.
"Mentang-mentang junior berani banget
ya."
"Ahaha... Maaf. Tapi Hinata-senpai imut
banget sih."
"............"
Eh, bantalnya diremas kuat banget...
Kuku jarinya yang terawat rapi sampai menusuk
bantal itu, tapi ya kurasa tidak sampai merusaknya.
Tapi... Ini agak di luar dugaan.
Hinata-senpai yang tadinya sama sekali tidak
menunjukkan gerak-gerik malu saat berhubungan, malah bersemangat melucuti
bajuku, kini justru merasa malu seperti ini.
"......Entahlah, aku sendiri nggak
ngerti."
"Eh?"
Hinata-senpai menggeser posisi bantalnya,
memperlihatkan area matanya saja lalu melanjutkan kata-katanya.
"Mungkin cuma hari ini saja... rasanya
begitu. Padahal sebelumnya nggak pernah kayak gini sama sekali, tapi sekarang,
ditatap lekat-lekat sama Tsubaki bikin aku merasa malu banget."
"B-begitu ya......"
Padahal seharusnya tidak ada yang berubah dari
hari kemarin... Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya jadi malu begini.
Hanya satu hal yang bisa kukatakan... mungkin karena ini adalah Tsubaki.
"Karena aku... ya?"
"Un..."
Lalu Hinata-senpai kembali menyembunyikan
wajahnya di balik bantal.
...Orang ini kenapa ya, imut banget sih?!
Diriku yang sekarang, sepertinya tersenyum
lebar sampai-sampai tidak boleh diperlihatkan pada siapa pun... Aku begitu
bahagia karena berhasil membuat Hinata-senpai memasang ekspresi seperti itu.
Seperti kata Hinata-senpai, mungkin ini hanya
terjadi hari ini saja.
Tapi, yang bisa melihat Hinata-senpai seperti
ini cuma aku... Sekarang, aku yang ada di sini punya hak untuk melihat sisi
imut Hinata-senpai.
"......Hm, Hinata-senpai?"
"Ada apa...?"
"Payudaranya... Boleh aku sentuh?"
Mungkin dia bakal mikir, apa-apaan nih anak
tiba-tiba ngomong begitu, tapi aku benar-benar serius.
Bukannya aku jadi pengin h-an lagi, tapi
pokoknya aku jadi ingin menyentuh Hinata-senpai lebih banyak lagi.
"......Boleh, terserah kamu saja."
Yes! Lampu hijau sudah diberikan.
Aku mengulurkan tangan ke arah Hinata-senpai
yang wajahnya masih tersembunyi, dan begitu tanganku menempel di dadanya yang
besar, tubuh Hinata-senpai langsung berjingkat kaget.
Begitu saja, jariku mulai menenggelamkan diri
seolah menikmati kekenyalan benda itu.
Disentuh kapan pun, rasanya selalu empuk dan
hangat, bongkahan pesona yang membuatku selalu ingin menyentuhnya
terus-menerus.
"Payudara itu... Emang paling mantap
ya."
"Kamu ini benar-benar suka banget
ya."
"Apalagi karena ini punya Hinata-senpai,
jadi rasanya berkali-kali lipat lebih spesial."
"......Ah, gila deh hari ini. Semua
ucapan Tsubaki bikin aku malu sendiri."
Imut banget... Tapi, aku juga jadi pengin
sedikit menjahilinya.
Aku menempelkan telunjukku pada puting
Hinata-senpai yang menonjol dan mencoleknya pelan-pelan seolah sedang menekan
sebuah tombol.
"Uhn... kh... ♡"
"......Uwoooooooh!"
"Kyaff!?"
Aku sudah nggak tahan lagi... Wajahku
kubenamkan sekuat tenaga ke dadanya.
Hinata-senpai sempat mengeluarkan suara
terkejut, tapi dia sama sekali tidak berusaha mendorongku menjauh, melainkan
melingkarkan tangannya ke punggungku dan memelukku erat-erat.
"Dasar anak manja."
"Hari ini aku mungkin agak sedikit
aneh."
"Ngomong apa sih. Bukannya setiap kali
ada payudara di depanmu, kamu selalu begini?"
"I-iya kah...!? T, tapi..."
"Tadi juga sudah kutanya, kan? Kamu suka,
kan?"
"......Suka."
Begitu aku mengakuinya secara jujur, sekarang
giliran aku yang jadi salah tingkah.
Karena merasa tak tahan, aku mencoba
menjauhkan wajah dari dada Hinata-senpai, tapi Hinata-senpai sepertinya
menyadari keadaanku dengan cepat dan mempererat pelukan tangannya supaya aku
tidak bisa lepas.
Pada akhirnya, kami tetap berada dalam posisi
itu selama beberapa menit berikutnya.
Begitu aku terbebas dari timbunan G-cup itu,
kondisi Hinata-senpai sudah kembali normal dan rona malu di wajahnya sudah
tidak terlihat lagi.
Meskipun merasa sedikit kecewa karena hal itu,
aku melontarkan kalimat itu sambil merasakan kelegaan karena Hinata-senpai
berada tepat di sisiku.
"Kalau dipikir-pikir lagi, keputusan
waktu itu benar-benar langkah terbaikku."
"Apaan?"
"Waktu aku balik menemui Hinata-senpai
dan mengajaknya ngobrol."
"Ah...!"
"Hahaha, wajah Hinata-senpai merah lagi
tuh!"
"Berisik! Jangan mempermainkan orang yang
lebih tua, bocah sialan!"
Melayangkan tatapan galak yang sama sekali
tidak terlihat menyeramkan, Hinata-senpai mencubit pipiku.
Tapi berbanding terbalik dengan tampangnya
yang sok imut galak, tenaga cubitannya cukup kuat sampai-sampai membuat air
mataku sedikit mengambang.
"Shakit... Shakit keraf!"
"Hukuman karena sudah usil."
"............"
"Kalau mau dimaafkan, yaa..."
Menghembuskan napas sesaat, Hinata-senpai
mengeluarkan usulan ini.
"Memanggil namaku tanpa gelar waktu kita
h-an itu sudah pasti, tapi kan kita nggak mungkin manggil begitu di luar...
Jadi, bagaimana kalau kamu panggil dengan sebutan yang lebih santai?"
"Hmm...
Hinata-san, gitu?"
"Nah,
itu dia. Bagus tuh."
Hinata-san...
ya.
Dengan
panggilan yang lebih santai di luar aktivitas ranjang seperti ini, rasanya
jarak antara aku dan Hinata-senpai... Hinata-san, jadi terasa semakin dekat.
"Fuaah..."
"Ngantuk?
Kamu kan sudah berjuang banyak tadi."
"Iya...
anu, sebenarnya aku masih mau ngobrol banyak... tapi ngantuk."
Aku
memang ngantuk, tapi aku masih ingin mengobrol lebih lama dengan Hinata-san.
Saat
aku mati-matian menahan rasa kantuk itu, Hinata-san menarikku ke dalam
pelukannya, menuntunku masuk ke dalam kehangatan dekapannya yang lembut dan
penuh.
"Kata-katamu benar-benar kelewatan
imutnya... Tenang saja, Tsubaki. Mulai sekarang kita bisa meluangkan waktu
kapan pun kita mau... Ini bukan cuma hari ini saja, kok."
"......Baik."
Aduh gawat... Begitu aku menutup mata sambil
berpikir kalau aku benar-benar sudah tidak sanggup menahan kantuk, kesadaranku
perlahan tenggelam diiringi aroma manis milik Hinata-san.
▼▽
"Beneran ya, ketiduran tanpa waspada
gitu."
Hinata mengelus kepala Tsubaki yang sedang
tidur nyenyak di dadanya.
Melihat Tsubaki yang memasang ekspresi geli
tapi tidak mau melepaskan pelukannya, Hinata merasa anak laki-laki ini
benar-benar imut dari lubuk hatinya, dan menyadari kalau Tsubaki adalah tipe
cowok yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Meskipun hubungan kita nggak normal
begini, tapi rasanya senang banget diperlakukan sampai segitunya. Padahal buat
aku, dia tadinya cuma junior yang kebetulan menampungku di hari itu... Aku sama
sekali nggak menyangka kalau kecocokan fisik kami bisa sebagus ini
sampai-sampai aku mengizinkannya memanggil namaku tanpa gelar."
Bukan cuma kecocokan fisik, kecocokan secara
personal dengan Tsubaki juga luar biasa.
Mungkin karena itulah setiap kali melakukan
hubungan mesum, Hinata membuang jauh-jauh sifat aslinya dan malah mendesak
Tsubaki untuk memberikan interaksi romantis layaknya pasangan suami istri yang
sudah lama bersama.
Saat sedang h-an, kepalanya meleleh karena
rasa nikmat dan kasih sayang, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau dirinya
masuk ke mode manja yang penuh cinta tanpa perlu disadari.
"Ke toilet sebentar deh."
Supaya tidak membangunkan Tsubaki, ia
melepaskan diri, keluar dari tempat tidur, dan berjalan menuju toilet.
Meskipun jaraknya dekat, Hinata kembali dibuat
tersenyum masam menyadari betapa nyamannya rumah ini—atau lebih tepatnya,
kehangatan yang terasa di setiap sudut rumah ini membuat tempat ini jauh lebih
nyaman ditinggali ketimbang rumahnya sendiri.
"Kira-kira seperti apa ya orang tua
Tsubaki?"
Berbeda dengan dirinya, Tsubaki benar-benar
mencintai ibunya dari lubuk hatinya.
Mengingat betapa besar pujian Tsubaki pada
ibunya, ibunya pasti orang yang sangat baik, dan Hinata sendiri sebenarnya
penasaran ingin bertemu. Tapi setelah memikirkan bagaimana cara ia harus
menjelaskan posisinya, ia menyimpulkan bahwa lebih baik tidak usah bertemu
saja.
Begitu selesai dari toilet dan kembali ke
kamar, Tsubaki sudah membuka mata dan mendudukkan tubuhnya.
"Eh, maaf bikin kamu kebangun?"
"Enggak... Aku memang sudah bangun secara
normal."
"Begitu ya, kukira kamu bangun karena
kesepian."
"......Maaf ya. Aku benar-benar bangun
biasa kok."
"Kumohon, jangan minta maaf dengan serius
begitu. Nanti aku yang tadi ngomong sok percaya diri malah jadi kelihatan
menyedihkan."
Ekspresi yang ditunjukkan Hinata di depan umum
biasanya bernuansa dingin.
Itulah sebabnya, dibandingkan dengan
teman-temannya yang suka berisik dan rusuh di sekitarnya, Hinata dipandang oleh
orang-orang sebagai sosok gal cantik bertipe dingin.
Hinata yang biasanya seperti itu, kini
membuang muka dengan ekspresi salah tingkah, sebuah pemandangan yang sangat
langka.(Aku... belum pernah pasang muka kayak gini di depan cowok mana pun.)
Pikiran itu melintas begitu saja, bahkan
mungkin dia belum pernah memasang ekspresi seperti itu di depan
teman-temannya.(Bahkan di depan mantan pun aku nggak pernah pasang muka
begini... Ah, terserahlah, cowok model begitu mah nggak penting.)
Menyingkirkan bayangan mantan yang melintas di
benaknya dengan mengibaskan kepala, Hinata memutuskan untuk bersikap pasrah
karena toh tidak ada tempat lari lagi, lalu ia melompat ke atas ranjang...
alias melakukan dive langsung ke arah Tsubaki.
"Nwaaaaaaah!?"
"Ba-nyak."
Berbanding terbalik dengan Tsubaki yang
mengeluarkan suara sampai mengganggu tetangga, suara Hinata sama sekali tanpa
intonasi.
Tubuh mereka kembali bertumpuk, dan Hinata
membenamkan pipinya di dada junior yang telah memancing keluar ekspresi barunya
itu.
"Berat, ya?"
"Enggak, daripada berat lebih ke arah
empuk."
"Kukira kamu bakal ngomong gitu. Kamu
tuh beneran maniak payudara ya."
Ucapan maniak payudara yang entah sudah
diucapkannya berapa kali hari ini sepertinya masih jadi sebutan yang memalukan
bagi Tsubaki.
Padahal saat tubuh mereka menyatu, ada
sisi jantan yang terpancar, tetapi melihat Tsubaki memperlihatkan ekspresi khas
anak di bawah usianya di momen seperti ini justru membuat Hinata merasa ingin
memperlakukannya dengan baik sebagai seorang senpai.(Kita nggak pacaran... Cuma menghabiskan waktu bersama saat ingin bersama. Melakukannya saat ingin
melakukannya... Hubungan santai kayak gini bikin kita nggak usah pusing mikirin
banyak hal.)
Meski berpikir begitu, kenyataannya Hinata
sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada Tsubaki.
Jam sepulang sekolah yang biasanya ia habiskan
bersama teman-temannya, kali ini ia prioritaskan untuk menepati janjinya dengan
Tsubaki, meskipun itu sudah direncanakan sebelumnya.
Bahkan seandainya ada urusan lain yang
mendadak muncul, ia pasti akan menolaknya demi menantikan hari ini.
"Hup."
Bangkit dari atas tubuh Tsubaki, ia berbaring
di sebelahnya.
Ranjangnya memang agak sedikit sempit untuk
ditiduri berdua, tapi seberapa dekat pun jaraknya dengan Tsubaki, Hinata tidak
merasa keberatan sama sekali.
Saat ia bersiap menunggu datangnya momen
terlelap dalam suasana nyaman itu, suara kebingungan meluncur dari bibir
Tsubaki.
"Anu... Hinata-san?"
"Apaan?"
"......Tanganmu menyentuhku."
"......Ah."
Rupanya tanpa ia sadari sendiri, tangannya
sudah mendarat di area selangkangan Tsubaki.(Aku... kalau sudah bareng Tsubaki
pasti jadi aneh.)
Meskipun ia menarik tangannya sambil membatin
begitu, rasanya tetap saja bukan hal yang buruk.
Jujur saja... kalau boleh jujur, sebenarnya
Hinata masih sanggup melanjutkannya lagi dengan Tsubaki sekarang juga, tapi ia
menahannya karena tidak mau sampai harus mandi ulang dari awal.
"Sudah waktunya... tidur ya?"
"Iya... Kalau nggak dipaksa tidur, gawat
kayaknya."
Tsubaki tidak menanyakan apa yang gawat, tapi
dari wajahnya yang memerah, sepertinya anak itu sudah paham.
Tersenyum melihat ekspresi tersebut karena
menganggapnya benar-benar imut, Hinata memejamkan mata sambil menikmati
kehangatan dari juniornya yang selalu bisa memberinya ketenangan.
Prolog | ToC | Next Chapter


Post a Comment