-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Iede shite iru Bijin na Senpai wo Tometara Itsudemo Yareru Kankei ni Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Malam yang Tak Terlupakan Bersama Senpai


Selamat atas pengalaman pertamanya, ya.

Ah, iya...... soal itu...... terima kasih banyak!

Ahaha...... Aku nggak nyangka kamu bakal sampai berterima kasih segitunya."

Itu adalah percakapan dengan senpai yang terus berbekas di dalam ingatanku.

Hari hujan itu...... hari Jumat minggu lalu itu, bahkan sampai hari Senin ini pun masih bisa kuingat dengan begitu jelas.

Tidak, mana mungkin aku bisa melupakannya walau sekejap.

Meskipun harus diakui kalau aku terbawa oleh situasi, aku benar-benar menaiki tangga kedewasaan secara harfiah berkat tangan senpai.

"Ck......"

Kalau lengah sedikit saja, isi kepalaku langsung dipenuhi dengan adegan mesum bersama senpai.

Suara senpai, tubuh senpai, kelembutan senpai, kehangatan senpai...... Segala hal tentang senpai yang kurasakan saat itu.

Enak? Fufu, melihat ekspresimu itu rasanya nggak perlu ditanya lagi ya.

Punya kamu bakal masuk ke sini, lho?

Lumayan juga ya...... kita berdua ini, jangan-jangan kecocokan fisiknya luar biasa bagus?

Kalau begitu sekarang giliran kamu yang bergerak?

Ung...... iya begitu... Pintar, pintar sekali Ahh

Boleh ditambah lebih kuat lagi kok? Bikin aku merasakan kamu lebih dalam lagi

Kepalaku kini benar-benar sepenuhnya dipenuhi oleh sosok senpai.

Tapi mau bagaimana lagi, ini tidak bisa dihindari...... Karena sampai beberapa hari lalu aku adalah seorang perjaka yang sama sekali tidak tahu tubuh wanita... Tapi begitu ya... memang benar begitu――aku sudah lulus dari masa perjaka, ya.

"Oiiii Tsubaki?"

"Ada apa sih, melamun begitu?"

Meskipun tidak tahu apa-apa, senpai mengajariku banyak hal.

Meskipun ini pengalaman pertama, yang disentuh adalah tubuh senpai yang indah, jadi aku benar-benar memperhatikan dan merawatnya dengan sangat hati-hati.

Senpai memuji sikapku yang disebutnya baik atau perhatian, tapi benar-benar saat itu, sejujurnya semua kata-kata yang kudapat dari senpai terasa begitu membahagiakan.

Walaupun dari tengah-tengah pun kurasa aku mulai didorong oleh insting biologis sebagai makhluk hidup, bergerak tanpa henti karena ingin melihat senpai merasa senang.

"Tsubaki!"

"Tsubaki-kun!"

"nn!?"

Suara yang tiba-tiba terdengar tepat di sebelah telingaku membuatku langsung terperanjat dan mendongak.

"Kanata...... Rio......"

"Yo."

"Ya."

Dua orang yang berdiri tepat di hadapanku ini adalah sahabat terbaikku.

Bagaimana tidak, aku sudah bersama mereka terus sejak SMP, sampai-sampai dalam pembagian kelas pun kami tidak pernah sekalipun terpisah ke kelas yang berbeda.

Dan bahkan sekarang, saat kami sudah menjadi anak kelas dua SMA, kutukan itu sama sekali tidak pudar.

"Kelihatan melamun banget sih, jadi bikin khawatir tau."

"Yaa, ketawa lebar itu beneran Tsubaki kan?"

Orang yang nyengir lebar sambil ngomong begitu adalah Tomioka Kanata.

Kanata adalah cowok ganteng berwajah segar yang jago olahraga. Dia anggota klub sepak bola, bahkan dikabarkan sebagai kandidat kapten berikutnya.

"Ada apa? Mukanya merah banget gitu...... jangan-jangan kamu demam?"

Orang yang bertanya dengan nada cemas itu adalah Asakura Rio.

Mungkin bakal kena marah kalau dibilang berbadan mungil, tapi Rio punya senyum manis yang menggemaskan, dia adalah manajer klub sepak bola, dan lebih dari itu, dia adalah teman masa kecil Kanata.

"Aku nggak apa-apa kok, maaf sudah bikin khawatir ya."

"Yang bener saja."

"Kalau ada apa-apa cerita ya?"

"......Haah, aku hampir mau nangis liat persahabatan kalian berdua."

Saat aku pura-pura merengek sedih, mereka—yang sudah tahu persis kelakuanku—malah mengelus-elus kepalaku dengan lembut.

"Kelihatan baikan sih."

"Iya ya."

"Makanya kubilang apa, beneran nggak ada apa-apa kok."

......Tapi ya, alasan kenapa tingkahku jadi aneh ini sama sekali tidak boleh diceritakan.

Padahal mereka berdua sudah separah itu mengkhawatirkanku, tapi pelakunya sendiri malah asyik mengenang kembali hubungan panas bersama senpai.

Hal kayak gini kan sama sekali nggak mungkin bisa diceritakan! Jadi maafkan aku, ya, kalian berdua.

"Beneran deh...... kalian berdua ini akur banget dari dulu."

Meskipun aku bilang begitu, keakraban mereka berdua memang sudah sewajarnya.

Selain sebagai teman masa kecil, mereka berdua juga sepasang kekasih, jadi kemesraan mereka benar-benar bikin iri saking imutnya.

Percintaan antar teman masa kecil itu rasanya kayak di dalam manga, bener-bener bikin ngiler aseli.

"......Um?"

Saat itu, ponsel di dalam saku celanaku bergetar.

Begitu kuambil dan melihat layarnya, jantungku langsung berdegup kencang.

Istirahat siang nanti, datang ke ruang kelas kosong lantai tiga ya. Tempatnya tahu kan?

Itu tidak lain dan tidak bukan adalah pesan dari senpai.

Kami sempat bertukar ID aplikasi saat dia menginap di rumahku, tapi aku sama sekali tidak menyangka senpai bakal menghubungiku secepat ini...... atau lebih tepatnya, aku ini gampang banget jantungan cuma gara-gara hal sepele begini ya.

"Woi, muka lu merah lagi tuh?"

"Malah makin parah dari tadi lho......?"

"T-tenang saja, aku baik-baik saja!"

Gawat, gawat...... aku terlalu terobsesi dengan pesan dari senpai.

Karena aku sempat gagap parah, aku langsung diberondong pertanyaan habis-habisan oleh mereka berdua, tapi untungnya aku berhasil mengelak dan lolos dari bahaya.

"Baiklah, semuanya, selamat pagi, mari kita mulai wali kelas kita hari ini—"

Tak lama kemudian, guru wali kelas kami, Pak Yamamoto, datang dan apel pagi pun dimulai.

"............"

Hal-hal yang diucapkan oleh Pak Yamamoto tentu saja adalah urusan penting.

Tapi buatku, semua ucapan itu mengalir begitu saja dari telinga kiri ke telinga kanan...... Alasannya sederhana, karena dipastikan aku bakal bertemu dengan senpai saat istirahat siang nanti.

Kepalaku penuh dengan kenangan pengalaman pertama, sampai-sampai membuat Kanata dan mereka khawatir, tapi lihatlah diriku ini...... apakah aku ini manusia yang otaknya sudah begitu tercemar oleh pikiran mesum?

Pada akhirnya, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran sampai waktu istirahat siang yang dijanjikan tiba.

***

Begitu jam istirahat siang berbunyi, aku langsung menghabiskan makan sianku, pamit sebentar ke Kanata dan Rio, lalu bergegas naik ke lantai tiga menuju ruang kelas kosong yang telah ditentukan oleh senpai.

"Fuh...... p-permisi!"

"Selamat datang~"

Setibanya di tempat tujuan, senpai ternyata sudah menungguku.

Sama persis seperti saat kami bertemu hari Jumat lalu, senpai sedang memainkan ponselnya, lalu tersenyum kecil melihatku memasuki ruangan.

"nn......"

Senyuman itu lagi-lagi membuat jantungku berdegup kencang, dan aku buru-buru mengalihkan pandangan.

"Ih, ngalihin pandangan gitu, jahat banget nggak sih?"

"Itu...... aku lagi gugup tahu, ngertilah dikit."

"Meskipun diomongin begitu, buat aku rasanya kurang plong tau."

"Kalau soal itu...... maaf ya."

"Fufu, tapi ya sudahlah kalau gitu."

Senpai melambaikan tangan menyuruhku mendekat, dan aku perlahan melangkah menghampirinya.

Begitu berdiri tepat di sebelah senpai, aroma manis yang menguar lembut langsung menggelitik hidungku, dan aroma ini terasa begitu akrab bagi diriku yang sekarang.

Karena aroma manis inilah yang kuhirup sepuas-puasnya pada hari itu...... hari di mana aku menyatukan tubuhku dengan senpai.

"Meskipun telat ngomongnya, tapi makasih ya sudah kasih aku tumpangan waktu itu."

"......Ah, justru sayalah yang seharusnya berterima kasih banyak."

Ah...... karena aku jadi bingung mau ngomong apa, aku malah ikut-ikutan ngucapin terima kasih balik.

"Tsubaki ikutan bilang makasih juga?"

"Itu karena...... aku dikasih pengalaman waktu yang bahagia banget."

"Kamu ini jujur banget dan anak yang menarik ya. Pantes aja, orang yang tiba-tiba handstand entah dari mana memang beda."

"Tolong jangan panggil aku orang aneh..."

"Dipikir-pikir dari sudut mana pun itu tetap aksi orang aneh sih."

Ugh...... aku nggak bisa ngeles lagi!

Melihatku yang salah tingkah sampai nggak bisa berkata-kata sepertinya menjadi hiburan tersendiri bagi senpai, karena dia tertawa kecil sambil melanjutkan ucapannya dengan bahu yang bergetar.

"Tapi, kalau itu jadi pengalaman yang menyenangkan buat Tsubaki, aku ikut senang."

"Motomiya-senpai...... tadi itu benar-benar luar biasa."

"Kamu jujur banget ya. Tapi, aku kurang suka panggilan itu."

"Eh?"

"Kita kan sudah pernah saling menautkan tubuh, lho? Aku juga sudah mengizinkanmu memanggil namaku, dan waktu itu kamu juga memanggil namaku dengan benar, kan?"

Senpai dengan mulus mendekatkan tubuhnya.

Bukan hanya kelembutan kenyal yang menempel di tubuhku, tapi aroma manis senpai yang menguar lembut juga membuatku...... yah, aku suka aroma ini.

"Nah, coba panggil namaku."

"......Hinata-senpai."

"Waktu itu langsung disebut tanpa gelar lho...... ya sudahlah, untuk sekarang boleh deh."

Hinata-senpai yang memasang wajah cemberut itu terlihat imut...... ah, bukan waktunya mikirin itu, kenapa Hinata-senpai bisa sampai membuka hatinya sejauh ini padaku?

Memang benar melewatkan satu malam bersama adalah peristiwa yang teramat besar, tapi sampai bisa bersikap begini...... aku sangat senang sekali, tapi sikap Hinata-senpai yang terlalu baik ini malah membuatku sedikit kebingungan.

"Ngomong-ngomong...... hari itu beneran seru ya. Mulai dari Tsubaki yang mendadak handstand, sampai apa yang kamu bilang begitu sampai di rumah, kan?"

"Ah~..."

Mendengar ucapan Hinata-senpai, aku langsung teringat kejadian itu.

Senpai......!

Apaan?

Itu...... aku, baru pertama kali ngelakuin hal kayak gini. Aku nggak punya niat buat lepas kendali kayak monyet sih, tapi kalau seandainya nanti aku nggak sengaja mau nyentuh senpai, tolong pukul aku tanpa ampun... ah nggak deh, bunuh aja aku!

M-mana mungkin aku bunuh kamu!

Di satu sisi, akal sehatku mungkin memang sudah terbang melayang sejak saat itu.

Padahal aku sendiri yang memasang garis pertahanan, tapi pada akhirnya aku tetap saja melakukan hubungan mesum dengan Hinata-senpai dan semuanya jadi sia-sia.

"Aku percaya diri sama bentuk tubuhku, dan teknikku juga lumayan bagus. Makanya aku sempat mikir bakal terlalu merangsang buat Tsubaki yang baru pertama kali, tapi ternyata kita berdua...... kecocokan fisiknya luar biasa bagus, kan?"

"I-iya kah......?"

"Iya dong. Bukan cuma kecocokan fisik saja, tapi bentuk perhatian Tsubaki meskipun kamu masih amatir... ucapan dan sikap lembutmu bikin aku jadi percaya sama kamu, itu juga pengaruh besar sih. Makanya aku jadi ingin bermanja-manja, dan pengin ketemu lagi sama Tsubaki begini."

Sambil mempermainkan ujung rambutnya, Hinata-senpai mengucapkan kata-kata yang begitu membahagiakan itu.

Waktu itu aku sendiri sudah kepayahan, jadi rasanya aku bahkan tidak sempat merangkai kata-kata yang manis...... tapi mengetahui Hinata-senpai berpikiran seperti itu adalah hal yang paling membuatku bahagia.

(...Atau lebih tepatnya, Hinata-senpai ini benar-benar perempuan yang imut dan cantik ya.)

Selain parasnya yang memang imut, melihat tindik di kedua telinganya sukses membuatku merasa kalau dia benar-benar seorang gal.

Hinata-senpai benar-benar tipe orang yang belum pernah kujumpai sebelumnya.

"Um, Hinata-senpai. Sebenarnya ada hal yang bikin aku penasaran...... tapi aku nggak berani ngirim pesan karena takut mengganggu."

"Hal yang bikin penasaran?"

"......Bagaimana hubungan senpai dengan ibu senpai?"

"............"

Hinata-senpai sempat memasang ekspresi tertegun sejenak, lalu memberitahuku bahwa pertengkaran mereka masih terus berlanjut seperti biasa, tapi tidak perlu dikhawatirkan.

Hanya saja, dia sepertinya benar-benar benci pada Ibunya, sampai-sampai dia tidak mau membicarakan hal itu terlalu dalam meskipun itu masalah kecil, dan sisa waktu istirahat siang itu kami habiskan untuk menikmati obrolan tentang topik-topik lainnya.

Lalu menjelang waktu istirahat berakhir, di saat-saat perpisahan kami.

"Ngobrol begini bikin aku sadar lagi. Berada di sisi Tsubaki itu rasanya nyaman banget...... Kalau tidak keberatan, bolehkah suatu saat nanti aku mampir lagi ke rumahmu?"

Itu benar-benar sebuah tawaran yang dibalut dengan godaan.

Seiring dengan ucapan itu, kenangan bersama Hinata-senpai kembali berputar kuat di dalam kepalaku, membuatku sepertinya sudah begitu terobsesi sampai-sampai tidak bisa dikendalikan lagi oleh diriku sendiri.

"Kalau senpai berkenan, aku tentu saja sangat ingin senpai datang...... rasanya begitu."

"Makasih ya. Kalau begitu, dalam waktu dekat aku pasti bakal mampir ke sana ya? Kali ini, kita lakuin hubungan yang jauh lebih intim dan panas lagi, yuk."

"B-baiklah!"

Aku tidak pernah punya pengalaman diajak bicara seperti ini sebelumnya... Tapi, satu-satunya emosi yang kurasakan di dalam diriku saat ini hanyalah rasa bahagia.

Mungkin, aku sedang melayang kegirangan.

Meskipun masih banyak hal tentang Hinata-senpai yang belum kuketahui, aku tetap menaruh kepercayaan yang begitu besar padanya... Perasaan dicintai seperti ini membuatku begitu bahagia sampai-sampai rasanya ingin meledak, dan membayangkan bisa merasakan kembali waktu-waktu indah itu membuat debar di dadaku tidak mau berhenti.

"Oho~? Kelihatan senang banget kelihatannya."

Hinata-senpai yang menyadari perubahanku, menusuk-nusuk pipiku dengan ujung jarinya.

"Ya jelas senang lah... Atau lebih tepatnya, entah kenapa aku merasa sudah begitu hanyut dalam interaksi kita, sampai-sampai aku berpikir kalau ditipu pun oleh Hinata-senpai sepertinya aku bakal ikhlas-ikhlas saja."

"......Suatu hari nanti kamu bakal benar-benar ditipu, tahu?"

"Tidak, aku berniat untuk menilai orang dengan benar kok. Berdasarkan hal itu, aku percaya kalau Hinata-senpai adalah orang yang bisa diandalkan."

"............"

Untuk pertama kalinya hari ini, pipi Hinata-senpai sedikit merona kemerahan.

Lalu, tanpa mengatakan apa pun, dia mengelus kepalaku, yang sepertinya menandakan bahwa kata-kataku tadi benar-benar berhasil membuatnya senang.

"......Um, Hinata-senpai."

"Apa?"

"Sebenarnya minggu ini juga...... Ibu nggak ada di rumah pada hari Jumat malam. Jadi... maukah kamu datang menginap lagi?"

Mendengar usulanku itu, Hinata-senpai langsung mengangguk tanpa ragu.

"Oke. Kalau begitu aku numpang ya."

"......Baik!"

Begitulah, diputuskan lagi kalau Hinata-senpai akan menginap di rumahku.

Aku sempat berpikir... apa aku ini tidak terlalu hanyut tenggelam dalam nafsu satu malam saja? Tapi, memangnya kenapa kalau iya?

Aku ingin menghabiskan waktu bersama Hinata-senpai lagi.

Aku ingin menghabiskan waktu yang indah bersama orang ini lagi... Itulah yang kurasakan.

Kalau menantikan sesuatu yang menyenangkan, rasanya jalannya waktu terasa jauh lebih cepat.

Hari ini tahu-tahu sudah hari Jumat yang dijanjikan, tapi sebenarnya sejak pertemuan kami di hari Senin, kami sama sekali tidak pernah bertukar pesan.

...Apakah hari ini Hinata-senpai benar-benar akan datang?

"Terima kasih atas makanannya."

"Sama-sama."

Aku tadi sibuk memikirkan Hinata-senpai terus, tapi akhirnya aku selesai sarapan dan merapatkan kedua tanganku berdoa.

"Enak nggak?"

"Enak."

"Bagus deh kalau begitu."

Ibu tersenyum di hadapanku.

Sarapan yang dibuat tidak pernah terlalu rumit, tapi masakan apa pun yang dibuat oleh Ibu selalu terasa sangat enak, sampai-sampai rasanya seperti diberi sihir.

"Masakan Ibu selalu enak. Begitu juga dengan bento-nya... Aku beneran bangga banget."

"Tsubaki... Aah, kamu imut banget sih!"

Seolah dilanda perasaan emosional yang meluap-luap, Ibu melompat kecil dan memelukku.

Mungkin karena dorongan itu, kepalaku langsung terbenam di dadanya. Aku diselimuti oleh aroma Ibu yang tidak pernah berubah sejak aku masih kecil… Aroma yang sangat menenangkan.

"Tsubaki selalu mengucapkan kata-kata yang bikin Ibu senang! Ibu saking sayangnya sama Tsubaki, kadang sampai pengen jadikan kamu pacar, padahal kamu ini anak Ibu lho!"

"Itu cuma candaan, kan?"

"Tentu saja cuma candaan ya ♪"

Setelah itu, Ibu tidak mau melepaskanku agak lama, mungkin ini cara Ibu mengisi ulang energinya karena tidak akan ada di rumah mulai hari ini sampai besok malam.

"Belakangan ini Ibu sering mikir lho."

"Mikir apa?"

"Soalnya, Tsubaki kan nggak punya masa pemberontakan remaja, kan? Bukan berarti kemungkinan itu bakal muncul mulai sekarang nggak ada sih, tapi kadang Ibu mikir jangan-jangan kamu cuma bersikap sungkan dan menahan diri demi Ibu."

"Mana mungkin begitu."

Aku memotong ucapan Ibu.

"Sejak Ayah meninggal, Ibu membesarkanku sendirian. Sekarang aku memang sudah cukup mandiri, tapi dulu sesibuk apa pun Ibu, Ibu selalu ada di sisiku... Menjalani masa pemberontakan pada Ibu yang seperti itu, aku sendiri tidak akan pernah membiarkannya."

"Tsubaki..."

Bagi diriku yang sekarang, Ibu adalah satu-satunya keluarga sedarah.

Aku sangat menghormati Ibu yang membesarkanku seorang diri sejak Ayah meninggal di usia muda, dan aku menyimpan rasa terima kasih yang amat besar.

Membuat Ibu sedih atau kesulitan adalah hal yang paling tidak ingin kulakukan.

"Makanya, Ibu, tolong jangan memaksakan diri, ya?"

"Kalau soal itu kamu tenang saja. Ibu nggak mau bikin kamu khawatir, dan kalau ada permintaan yang tidak masuk akal, Ibu punya cukup keberanian buat menolaknya kok. Tapi ya, karena Ibu sendiri menjalani pekerjaan yang sangat Ibu sukai, jadi Ibu benar-benar nggak apa-apa."

"Bagus deh kalau begitu."

Ngomong-ngomong, Ibu bekerja sebagai seorang desainer.

Karena sering ditarik ke sana ke mari oleh berbagai pihak yang berkaitan, Ibu sering meninggalkan rumah di akhir pekan, tapi melihat betapa kerasnya dia berjuang karena itu adalah pekerjaan yang sangat dicintainya, hal itu juga menjadi sumber kekuatan bagiku.

"Meskipun begitu..."

"?"

Ibu yang akhirnya melepaskanku karena sudah puas, menatap seluruh tubuhku sambil berkata,

"Padahal kamu anak sebaik dan selembut ini, tapi kenapa ya sampai detik ini kamu belum pernah punya pacar satu pun?"

"............"

Maafkan aku, Ma... Bukan, sebenarnya nggak ada perlunya juga minta maaf, tapi sejujurnya aku... melompati tahap pacaran dan baru saja lulus dari masa perjaka beberapa hari yang lalu.

Tentu saja aku tidak mungkin menceritakan hal itu, apalagi bilang kalau aku mengundang Hinata-senpai masuk ke rumah saat Ibu tidak ada... Mana mungkin aku bisa ngomong begitu.

"Kalau begitu, aku berangkat ya!"

"Ya, hati-hati di jalan."

Setelah itu, diantar oleh Ibu, aku melangkah keluar rumah.

***

Lalu aku sampai di sekolah tanpa terseret masalah merepotkan apa pun, dan begitu aku mengganti sepatu di rak sepatu, aku langsung melihat Hinata-senpai.

"Hei Hinata! Hari ini yuk kita ke karaoke~!"

"Hari ini sepertinya agak susah."

"Eh? Kenapa~?"

"Ada urusan."

"Kenapa, kenapa~!"

"......Berisik banget nih anak."

Hinata-senpai memasang ekspresi sebal setengah mati... Ekspresi seperti itu juga terlihat bagus baginya.

Orang yang menempel manja pada Hinata-senpai sambil merajuk seperti anak kecil itu... seingatku namanya Murakumo-senpai.

Meskipun tipenya berbeda dari Hinata-senpai, perempuan itu juga sangat cantik dan punya bentuk tubuh yang luar biasa.

Dengan rambut dicat pirang dan seragam yang dipakai secara berantakan, dia adalah sosok gal sejati yang bahkan melebihi Hinata-senpai.

"......Ah."

Saat itulah, tatapanku berpapasan dengan Hinata-senpai.

"Ada apa?"

"......Nggak apa-apa."

Kupikir Hinata-senpai akan berjalan melewati begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa, tapi dia membisikkan sesuatu dengan suara pelan.

"Pulang sekolah nanti, aku hubungi lagi ya."

Bersamaan dengan ucapan itu, dia bahkan menepuk pundakku sekilas.

Cuma begitu saja tapi sukses membuat bahuku bergetar karena berdebar-debar, dan Hinata-senpai tertawa kecil melihat reaksimu itu.

"Apaan, kalian kenal?"

"Ya, kurang lebih begitu."

Pada akhirnya, interaksiku dengan Hinata-senpai hanya sebatas itu.

Tepat saat aku berdiri memandangi punggung Hinata-senpai sampai menghilang, Kanata dan Rio—yang baru saja datang ke sekolah—menyapa.

"Yo Tsubaki! Kenapa ngelamun gitu?"

"Pagi Tsubaki-kun... Mukanya merah lagi?"

"Nggak usah dipedulikan... Atau lebih tepatnya, daripada mengurusiku mending kalian berdua saja yang sok-sok mesra."

"Eh? Begitu... ya? Kalau begitu baiklah! Kanata~!"

"Uoh!? Jangan tiba-tiba meluk gitu dong!"

"Ehehehe~♪"

Beneran lagi pamer kemesraan nih anak-anak......

Menghela napas melihat mereka berdua yang selalu kelihatan manis dan membara kapan pun waktunya, aku berjalan mendahului mereka menuju ruang kelas.

Menghabiskan waktu yang terasa begitu lama menunggu jam pulang sekolah, akhirnya waktu sepulang sekolah yang kuhabiskan bersama Hinata-senpai pun tiba.

Aku tahu tempat rumahmu, jadi nanti aku susul ya.

Begitu wali kelas selesai memberikan pengumuman akhir, pesan dari Hinata-senpai langsung masuk.

Hinata-senpai pasti butuh waktu untuk bersiap-siap, jadi tidak akan langsung datang sekarang juga, tapi untuk menghindari situasi di mana dia harus menunggu di depan pintu masuk, aku langsung bergegas pulang.

Setelah sampai di rumah, aku merasa gelisah tak karuan dan akhirnya saat itu pun tiba!

Begitu bel interkom yang menandakan ada tamu berbunyi, aku langsung melangkah ke pintu depan... Tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu kubuka pintu tersebut untuk menyambut Hinata-senpai.

"Yappo, aku datang."

"Selamat datang... Hinata-senpai."

"Kaku banget sih? Lagi gugup ya?"

"Itu... ya, begitulah."

Jawabku sambil menggaruk kepala... eh, tunggu, Hinata-senpai masih pakai seragam sekolah?

"Masih pakai seragam, ya?"

"Ah, iya... Sebenarnya tadi begitu pulang aku langsung ketemu sama Ibu. Makanya aku buru-buru keluar rumah dan cuma sempat merapikan barang seadanya."

"Begitu ya..."

"Kamu separah itu pengin lihat aku pakai baju bebas?"

"Kalau dibilang tidak pengin... itu bohong."

Gawat... kalau berhadapan langsung dengan Hinata-senpai, kata-kata jujur meluncur begitu saja tanpa disaring.

"Kamu ini ya, jujur banget dan imut deh Tsubaki."

Hinata-senpai tersenyum kecil lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik.

"Aku bawa baju piyama kok, jadi maaf ya nggak pakai seragam lagi? Kalau dariku sih, sebenarnya aku nggak keberatan kalau pakai kemejamu kayak kemarin."

"............"

Memang benar, Hinata-senpai yang hanya mengenakan kemejaku saja terlihat sangat seksi.

Di satu sisi aku ingin melihat Hinata-senpai seperti itu lagi, tapi di sisi lain aku juga sangat penasaran ingin melihatnya mengenakan piyama yang dibawanya.

"......Ah, b-biar bagaimana pun, silakan masuk dulu."

"Makasih."

Urusan malam nanti dipikirkan nanti saja. Untuk sementara aku mempersilakan senpai masuk ke ruang keluarga.

Senpai meletakkan tasnya di atas sofa, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang keluarga seolah sedang menatap sesuatu yang menyilaukan mata sebelum bersuara.

"Seperti dugaanku waktu itu, rumah ini terasa hangat ya."

"Hangat... ya?"

"Iya... Tsubaki sayang banget ya sama Ibu?"

"Iya."

"Begitu ya."

Hinata-senpai... ah, urusan keluarga sebaiknya jangan terlalu dicampuri secara sembarangan.

Meskipun aku sendiri juga penasaran dan ingin tahu detailnya, hal semacam ini paling pas kalau didengar saat Hinata-senpai sendiri yang ingin menceritakannya.

"Mau ke kamar Tsubaki deh."

"Boleh kok, kalau begitu yuk kita ke sana."

Suasana sempat terasa sedikit sendu, tapi aku mengantar senpai masuk ke kamarku.

"Aku tuh ya, dari tadi nungguin hari ini lho."

"Begitu ya?"

"Iya, kan sudah kubilang waktu hari Senin kemarin? Kecocokan fisik kita pas banget, dan aku pengin ngelakuin hal mesum lagi sama Tsubaki."

"nn......"

Mendengar ucapannya sambil ditatap lurus-lurus membuatku tanpa sadar mengalihkan pandangan.

Sesaat kemudian, tubuhku didorong begitu mudahnya sampai aku terbaring tertelan oleh Hinata-senpai.

"Tsubaki."

"nn!?"

Hinata-senpai menindih tubuhku yang sudah terjatuh, merapatkan tubuh kami sepenuhnya.

Tekanan dari tubuh montoknya membuat suhu seluruh tubuhku meningkat drastis, bersamaan dengan itu, ingatan minggu lalu bersama Hinata-senpai bangkit kembali dengan kejernihan yang belum pernah ada sebelumnya.

"Badanku juga jadi ikut panas... Padahal baru seminggu berlalu, tapi yuk kita mulai sekarang."

Dia mulai mengusap bagian selangkanganku dari balik celana.

Bukan hanya dadaku saja yang membuncah penuh antisipasi, tapi secara harfiah bagian bawahku juga mengeras karena penuh antisipasi... Tunggu, apa sih yang sedang kupikirkan ini!

"Halo, senang berkenalan."

Ritsleting diturunkan, memperlihatkan "benda" penting itu.

Terus-menerus merindukan waktu manis bermandi madu bersama Hinata-senpai, benda itu bergetar seolah memohon untuk segera melampiaskan hasrat yang sudah kutahan-tahan dari tadi.

"Mau bagaimana? Mau merasa enak?"

"......Iya."

"Iya, baiklah. Kalau begitu aku pakai mulut ya."

Hinata-senpai membuka mulutnya "Aah", lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Kehangatan yang pas... Tidak, justru karena itu adalah area yang sensitif, rasanya terasa sangat panas, tapi sensasi dimasukkan ke dalam mulut senpai saja sudah membuat rasa bergairah mengalahkan segalanya.

Gerakannya yang sedikit merapikan rambut di samping dengan satu tangan itu terlihat begitu menggoda, ditambah tatapan matanya yang sedikit berair menatapku sungguh luar biasa... Pokoknya, diperlakukan seperti ini oleh Hinata-senpai adalah puncak kenikmatan yang tiada tara.

Suara basah juubo-juubo yang mengguncang gendang telinga itu pun semuanya, gara-gara Hinata-senpai, jadi kutelan mentah-mentah dan kutuki diri sendiri karena malah menyukainya… Apakah aku ini sudah jadi seorang hentai ya?

Aku sempat dilanda kecemasan yang kupikir sebentar lagi pasti bakal kulupakan, tapi tentu saja perasaan itu perlahan lenyap, dikalahkan oleh rasa nikmat yang diberikan oleh sentuhan Hinata-senpai.

Meskipun begitu, aku benci kalau hanya pasrah menerima tanpa melakukan apa pun, tapi Hinata-senpai bilang dia ingin aku memuaskan hasrat itu di tubuhnya nanti saat malam tiba... Ucapannya yang selalu bernada erotis di setiap kesempatan membuat hatiku tidak bisa tenang sedetik pun.

Dan... lalu, lalu, dan lalu!

"Bagaimana? Mau ditambah lebih kuat lagi?"

"T-tidak... Rasanya enak banget!"

Setelah sesi mesum ringan yang masih bisa dibilang sebagai pemanasan itu, kami berdua akhirnya memutuskan untuk mandi bersama.

Suara Hinata-senpai menggema di dalam kamar mandi, punggungku dengan lembut dibasuh menggunakan handuk berbusa... Minggu lalu kami mandi terpisah, tapi mendapat kesempatan mandi bersama perempuan seperti ini... Sungguh, ini adalah rangkaian kejutan dan pengalaman pertama yang tiada habisnya.

"......Fufu."

"Ada apa?"

"Nggak, aku cuma lagi ingat kejadian tadi. Padahal hal yang kita lakuin seharusnya adalah aktivitas orang dewasa, tapi Tsubaki tetap punya kelucuan yang bikin ketagihan."

"Itu... misalnya?"

"Mungkin bagian di mana kamu suka banget sama dada ya? Kamu menatapnya lekat-lekat, kelihatan senang banget waktu ditekan ke tubuhmu... Oh satu lagi, kamu juga suka membenamkan wajahmu ke sana, kan?"

"......Iya."

Untuk yang satu itu aku hanya bisa mengakuinya secara jujur.

Meskipun tidak terlalu disadari atau dipikirkan sebelumnya, rupanya aku memang menyukai dada yang besar.

Dada Hinata-senpai berukuran besar... Konon ukurannya adalah G-cup, jadi untuk ukuran anak SMA, itu sudah bisa dikategorikan sebagai kelas bakunyuu (dada super besar).

"Tsubaki si oppai-mania pasti suka juga kan sama yang kayak gini?"

"nn!?"

Kelembutan yang luar biasa dahsyat ditekan secara kenyal ke punggungku.

Bukan hanya sensasi licin akibat sabun mandi, tapi kelembutan dada Hinata-senpai langsung meresap dan membuat bagian bawah tubuhku sepertinya bakal kembali mengalami masalah besar.

{Namun, karena aku masih punya sedikit harga diri, aku mati-matian menahannya dan berhasil memukul mundur serangan mesum Hinata-senpai untuk sementara waktu.}

Setelah selesai membasuh tubuh, kami berendam bersama di dalam bathtub, tapi karena Hinata-senpai bersikeras ingin berendam sambil saling berhadapan, posisi kami jadi berpandangan langsung.(Dadanya mengapung, tuh...)

Dada Hinata-senpai mengapung di atas air hangat puka-puka.

Aku terhipnotis oleh pemandangan yang biasanya hanya bisa kulihat di anime atau manga, sampai-sampai aku terus memandanginya tanpa henti hingga Hinata-senpai menegurku.

"Terlalu lama melihatnya."

"M-maaf..."

"Nggak perlu minta maaf juga kali. Lagian mustahil juga kalau posisi kita hadap-hadapan begini dada besar ini nggak masuk ke dalam pandanganmu, dan wajar aja kan buat Tsubaki yang suka dada besar?"

Sambil tertawa kecil, Hinata-senpai menyendok air hangat dengan telapak tangannya.

Tepat saat aku memperhatikan apa yang akan dia lakukan, Hinata-senpai menyeringai usil lalu menyipratkan air itu ke arahku.

"Uwah!?"

"Tepat sasaran di wajah~♪"

"T-tunggu sebentar, tolong hentikan!"

"Reaksi Tsubaki seratus poin penuh, jadi aku nggak bakal berhenti~♪"

Cara dia menyipratkan air ternyata jauh lebih jago dari perkiraanku, membuat mulut dan hidungku menjadi target serangan terfokus.

Tapi... Yah, rupanya aku memang cowok yang gampang ditebak. Diserang seperti ini pun yang kurasakan hanyalah kesenangan, dan aku kembali berpikir berkali-kali betapa Hinata-senpai yang sedang tertawa itu terlihat sangat cantik.




"Hinata-senpai benar-benar senior yang cantik banget ya."

"Sering dibilang begitu."

"Wah, blak-blakan banget."

"Kan sudah kubilang, aku ini punya rasa percaya diri."

Hinata-senpai mengatakannya dengan mantap, tapi kurasa hebatnya adalah dia sama sekali tidak memberikan kesan menyebalkan.

"Tsubaki sendiri, apa ada hal... yang bikin kamu percaya diri?"

"Hal yang bikin percaya diri ya... Karena Ibu sering nggak ada di rumah, mungkin kemampuan buat ngerjain sebagian besar hal sendirian, ya."

"Heeh, keren juga."

"Terus... mungkin kedengarannya narsis sih, tapi masalah kebaikan... apakah aku punya itu, ya."

......Sedikit menyesal begitu mengatakannya.

Bilang diri sendiri baik itu kan narsis banget... Aku berniat langsung meralatnya, tapi Hinata-senpai malah mengangguk sambil berkata "Begitu ya."

"Kamu nggak mikir kalau ngomong begitu sendiri itu aneh?"

"Nggak kok? Soalnya itu kan kenyataan. Memang sih kalau koar-koar ngomong begitu di berbagai tempat bakal jadi masalah, tapi kan ini di depanku, jadi nggak apa-apa kan?"

"......Begitukah."

"Datang menemuiku di tengah hujan dan mengizinkanku menginap... Hanya dengan hal itu saja, Tsubaki sudah cukup baik kok."

"M-terima kasih banyak......"

Aku tidak sanggup menatap langsung wajah Hinata-senpai, jadi aku kembali menundukkan pandanganku.

Kalau begitu, mau tidak mau pemandangan yang tertangkap oleh mataku tentu saja adalah dada besar milik Hinata-senpai, dan tanpa jera aku malah berakhir kembali menatapnya lekat-lekat.

"Nanti pas mau lakuin ya? Terserah kamu mau berbuat apa."

"......Baik."

Aku mengangguk, dan sekarang berkonsentrasi penuh untuk menghangatkan tubuh.

Perkembangan yang merangsang ini terus berlanjut bahkan setelah keluar dari kamar mandi, di mana Hinata-senpai yang membalut tubuhnya dengan baju piyama merah muda yang imut, tetap membuka kancing bagian dadanya untuk memamerkan belahan dadanya sama seperti saat memakai seragam.

"Ini sudah jadi gaya andalanku. Buat Tsubaki juga ini pemandangan yang menyegarkan mata, kan?"

Sial... orang ini benar-benar paham semuanya!

Padahal baru saja selesai mandi dan auranya sudah sangat menggoda, dia masih memamerkan pesona kewanitaannya yang tak tertahankan tanpa ragu. Jadi, ini bukan lagi sekadar menyegarkan mata, tapi sudah menjadi racun.

"Rambutku, aku keringkan dulu ya."

"Iya."

Hinata-senpai sempat menghilang dari ruang keluarga, dan sementara itu aku mengeluarkan sushi yang kubeli untuk makan malam dari dalam kulkas lalu menatanya di atas meja.

Setelah itu, saat aku sedang menyiapkan sup miso sebagai pendamping, Hinata-senpai yang sudah selesai mengeringkan rambutnya kembali muncul.

"Maaf menunggu... Eh, sushi?"

"Iya, tadi aku sempat membelinya."

"Wao... Kelihatan enak banget!"

Oh, antusiasme Hinata-senpai sepertinya cukup bagus.

"Kalau begitu, mari kita makan."

"Un."

"Selamat makan."

"Selamat makan."

Begitulah, waktu makan malam bersama Hinata-senpai dimulai.

Meskipun bukan waktu yang diisi dengan hal-hal spesial, topik obrolan kami sama sekali tidak ada habisnya sambil sama-sama menyuapi sushi ke dalam mulut.

"Terus ya――"

Hal-hal yang diceritakan oleh Hinata-senpai sebagian besar adalah tentang teman-teman dan kehidupannya di sekolah... Soal keluarganya memang sedikit, tapi dia tetap menceritakan berbagai hal padaku.

Sebagai balasannya, aku juga menceritakan tentang teman-temanku, tentang Ibu, kebiasaanku sehari-hari, hingga bagaimana caraku menghabiskan waktu selama ini.

Karena aku begitu asyik mengobrol dengan Hinata-senpai dari awal sampai akhir, aku bahkan tidak menyadari kalau sushi di piringku sudah habis sejak tadi.

"Terima kasih atas makanannya."

"Terima kasih atas makanannya. Hwaa, rasanya enak banget...!"

Syukurlah, dia benar-benar puas.

Setelah itu kami menyelesaikan persiapan tidur seperti menggosok gigi dan kembali ke kamar, tapi momen sesungguhnya buat aku dan Hinata-senpai dimulai dari sini.

Hinata-senpai yang duduk di atas ranjang merentangkan kedua tangannya dan menyuruhku mendekat.

"Hinata-senpai."

"Tsubaki."

Aku langsung memeluk Hinata-senpai dan mendorongnya untuk berbaring.

"Ung...... Amukh."

Hanya dengan merayap tanganku di tubuh Hinata-senpai, suara manja langsung lolos dari bibirnya.

Bagiku ini baru kedua kalinya menyatukan tubuh dengan Hinata-senpai, tapi suara ini adalah tanda bahwa saklar kami sudah menyala.

"Hei... panggil nama... Panggil aku tanpa gelar ya"

"Hinata......!"

"Ahh"

Panggil tanpa gelar saat sedang melakukan hubungan mesum... Ini juga sama seperti sebelumnya.

Sambil memanggil nama Hinata-senpai, aku menyentuh tubuhnya dan juga berciuman... Bukan sekadar ciuman menempel biasa, melainkan ciuman dalam dan penuh gairah dengan lidah yang saling membelit seperti yang diajarkan oleh Hinata-senpai.

"Juru... Reroo... "Deep kiss bersama Hinata-senpai... Sensasi ini benar-benar membuatku terhanyut.

Ciuman sentuhan biasa memang tidak buruk juga, tapi ciuman dalam ini, meskipun menguras tenaga, membuatku ketagihan sampai tidak bisa berhenti.

Aku ingin Hinata-senpai lebih banyak lagi... Aku ingin Hinata-senpai merasakan diriku lebih dalam lagi.

Aku sudah menahannya selama seminggu penuh... Aku ingin melakukan ini bersama Hinata-senpai sejak dulu!

"Hei Tsubaki, sentuh tubuhku lebih banyak lagi? Nih di sini... sudah jadi begini karena ingin milik Tsubaki loh Buat aku merasakan Tsubaki lebih dan lebih lagi ya"

"B-baik... U-um, Hinata."

"Un"

Berbanding terbalik dengan sikapnya sehari-hari, ucapan dan gerak-gerik Hinata-senpai meleleh penuh kemanjaan.

Setiap kali melakukan hubungan mesum, Hinata-senpai selalu berubah menjadi sangat manis, berkembang menjadi obrolan intens seolah kami adalah sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan bertahun-tahun.

Yah, aku memang tidak punya pengalaman dengan hubungan semacam itu, tapi kurasa sensasi ini tidak salah lagi.

"Hinata-senpai――"

"Ihh! Jangan pakai gelar! Aku nggak mau kalau nggak dipanggil nama langsung"

Memanggilnya Hinata-senpai sudah seperti kebiasaan yang melekat.

Makanya, seberapa banyak pun dia meminta dipanggil tanpa gelar, begitu situasi mendadak, aku pasti keceplosan memanggilnya "senpai" lagi, dan setiap kali itu terjadi, Hinata-senpai akan menegurku dengan suara manja yang meleleh… Sumpah, ini imut banget sialan!

"Anu... Hinata."

"Ada apa?"

"Hinata imut banget sampai aku nggak tahan lagi... Aku pengin meluapkan seluruh isi minggu ini ke Hinata!"

Tentu saja aku masih belum berpengalaman dalam hal berhubungan intim.

Tapi meskipun begitu, aku tetap ingin melupakannya pada Hinata-senpai... Aku mungkin tidak bisa menahannya dan mungkin tidak bisa bersikap sabar, tapi aku tetap ingin segera bercinta dengan Hinata-senpai!

Mendengar kata-kataku yang jujur, Hinata-senpai mengangguk.

"Un Boleh, ayo sini... Cepat kemari"

Entah kenapa... rasanya setiap akhir kalimat Hinata-senpai selalu diimbuhi tanda cinta, telingaku dimanjakan oleh suara manis melelehnya ini.

Hinata-senpai sudah siap sedia sepenuhnya, dan aku juga ingin segera menyatu dengannya.

Tapi sebentar saja... Meskipun gerak tanganku mungkin masih canggung, aku ingin membuat senpai merasa senang... Aku ingin dia merasakan nikmat!

Bagian bawah tubuhku seolah berteriak minta segera dimulai, tapi aku berusaha menahan dorongan itu sejenak lalu kembali mencium Hinata-senpai.

"......Tsubaki-kun"

"......Kamu beneran imut banget ya."

Kapan orang ini akan berhenti menjadi imut... Tingkat keimutan Hinata-senpai tidak menunjukkan batas akhir sampai-sampai membuatku merasa ngeri dalam arti yang positif.

Sambil menikmati bagian dalam mulut Hinata-senpai, aku juga mengerahkan seluruh tenaga untuk memberikan belaian pada tubuhnya.

Bukan hanya meremas dadanya, tapi juga membelai bagian puncaknya... Kadang-kadang menjentiknya pelan.

Setiap kali kulakukan itu, tubuh Hinata-senpai bergetar dan meloloskan desahan penuh gairah.

Di setiap momen itu pula aku merasa senang karena menyadari bahwa aku berhasil membuat Hinata-senpai merasa nikmat… Aku ingin membalas Hinata-senpai lebih banyak lagi.

Aku ingin membuat orang ini berpikir bahwa melakukan hubungan mesum bersamaku itu menyenangkan, dan dia ingin terus melakukannya lagi di masa-masa mendatang!

"Amukh."

"A-hinh"

Aku mendekatkan wajahku ke dada Hinata-senpai dan melahapnya ke dalam mulut.

Menggulingkan ujung lidahku pada puting merah muda Hinata-senpai yang membengkak dan mengeras, melihatnya menggeliat senang seolah itu memberikan kenikmatan yang pas membuat Hinata-senpai terlihat begitu imut... Kosakata yang kupunya tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa imutnya Hinata-senpai selain kata imut itu sendiri.

"Kenapa Hinata bisa seimut ini...?"

"Imut? Aku, imut? Senang rasanya"

"......Gugoooh."

Orang ini imut banget sampai-sampai aku ingin mengerang tertahan!

Padahal kami belum melakukan tindakan senggama, tapi tingkat kepuasan ini adalah sensasi yang ingin terus kurasakan selamanya.

Selama beberapa menit berikutnya, aku terus menyentuh tubuh Hinata-senpai.

Lalu――.

"Aku masuk ya... Hinata!"

"Un... Masuklah—Aaaah"

Desahan penuh kenikmatan dari Hinata-senpai yang bernada sedikit lebih tinggi menggema ke seluruh ruangan.

Hangat... Aku berada di dalam kehangatan yang kurasakan saat itu, dan Hinata-senpai menatapku dengan lembut... Sensasi hari itu bangkit kembali sepenuhnya.

"Hei, kali ini coba gerakkan sesukamu, Tsubaki? Ayo, cepat bergerak cepat"

"nn......"

Cepat cepat... Mengikuti ucapan Hinata-senpai, bagian itu menjepitku dengan erat.

Yang ada di dalam diriku saat ini hanyalah keinginan untuk berhubungan intim dengan Hinata-senpai, dan memenuhi ekspektasi Hinata-senpai... Aku ingin meluapkan perasaan itu sepuas-puasnya!

"Tsubaki Tsubaki-kun Bagus... Rasanya enak Aaaaah"

Hinata-senpai juga melontarkan suara kebahagiaan mengikuti gerakanku.

Mendengar suara seperti itu membuatku merasa harus berusaha lebih keras lagi, dan yang terpenting, suara tinggi Hinata-senpai rasanya semakin mendorong punggungku dengan kuat.

"Hinata... Mukanya merah banget... Matanya sayu... Imut banget sumpah."

"Ihh Jangan dilihatin terusss Aku nggak bisa pasang muka sebagai senpai lhooo Kalau lagi h-an sama Tsubaki aku bisa rusak jadinyayaaa"

Suhu kenikmatan membakar akal sehatnya, membuat Hinata-senpai kehilangan sosok wibawanya yang biasa.

Sama sepertiku, dia tampaknya sudah menjadi tawanan dari kenikmatan yang dirasakannya.

"Hinata......!"

"Bareng ya? Keluarnya bareng aku ya! "

Tepat sebelum mencapai batas, Hinata-senpai menyilangkan kakinya dengan kuat untuk mengunciku agar tidak bisa lepas darinya.

Setelah itu, kami berdua bermandi keringat dengan napas tersengal-sengal... Tapi perasaan puas ini sudah melampaui batas maksimal.

"Ternyata tetap aja capek ya..."

"Ya iyalah seheboh itu tadi... Padahal harusnya melelahkan, tapi Tsubaki manggil namaku terus nggak mau berhenti."

"I-itu karena Hinata-senpai terlalu imut... Atau harus dibilang mempesona, ya."

"......Ya ampun, kamu ini beneran imut."

Dengan suara kecupan chu, pipiku dicium.

"Hei Tsubaki."

"Iya?"

"Mulai sekarang kalau pengin, kita lakuin kapan pun kita mau, gimana? Hubungan di mana kita nggak usah mikir hal rumit dan cuma saling menginginkan satu sama lain... Rasanya santai dan enak, kan?"

"............"

Mendengar tawaran itu, aku berpikir sejenak.

Aku juga ingin lebih banyak bersama Hinata-senpai... Keinginan untuk melanjutkan hubungan mesum ini sama persis, jadi aku setuju dengan tawaran itu.

Hubungan yang rusak untuk ukuran anak SMA... Bisa dibilang semacam hubungan sex friend ya, tapi aku juga ingin terus melanjutkan hubungan ini dengan senpai.

"Aku juga... ingin melakukannya."

"Un♪"

Hinata-senpai mengangguk puas mendengar jawabanku.

Setelah itu, aku menatap lekat-lekat Hinata-senpai. Gerakan dada besar senpai yang naik turun setiap kali dia bernapas terlihat begitu mempesona.

"............"

Bukan cuma sekali dua kali, tapi aku benar-benar memikirkannya berkali-kali—Hinata-senpai itu sangat cantik, sangat seksi, dan aku sangat bahagia karena dia mempercayaiku serta menunjukkan wujudnya yang terbuka padaku saat berada di sisiku.

"............"

"Kamu ngeliatinnya lama banget ya…?"

"Ah, maaf..."

Karena menatapnya terlalu lekat, Hinata-senpai memeluk tubuhnya sendiri dengan malu-malu.

Aku menatapnya sampai bengong, jadi pastinya dia merasa ditatap sampai seolah-olah tubuhnya mau berlubang... Tentu saja wajar kalau dia jadi malu begini, batinku sambil memiringkan kepala kebingungan.

"Hinata-senpai... Jangan-jangan kamu malu?"

"Ts~~~!"

Hinata-senpai langsung merona merah dalam sekejap dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal di sebelahnya.

Melihat Hinata-senpai yang tidak menutupi bagian dada atau area penting lainnya sama sekali dan hanya menutupi wajahnya saja, itu terasa begitu lucu sampai-sampai aku tertawa kecil.

Mendengar suara tawaku, dia melayangkan tendangan kecil padaku.

"Mentang-mentang junior berani banget ya."

"Ahaha... Maaf. Tapi Hinata-senpai imut banget sih."

"............"

Eh, bantalnya diremas kuat banget...

Kuku jarinya yang terawat rapi sampai menusuk bantal itu, tapi ya kurasa tidak sampai merusaknya.

Tapi... Ini agak di luar dugaan.

Hinata-senpai yang tadinya sama sekali tidak menunjukkan gerak-gerik malu saat berhubungan, malah bersemangat melucuti bajuku, kini justru merasa malu seperti ini.

"......Entahlah, aku sendiri nggak ngerti."

"Eh?"

Hinata-senpai menggeser posisi bantalnya, memperlihatkan area matanya saja lalu melanjutkan kata-katanya.

"Mungkin cuma hari ini saja... rasanya begitu. Padahal sebelumnya nggak pernah kayak gini sama sekali, tapi sekarang, ditatap lekat-lekat sama Tsubaki bikin aku merasa malu banget."

"B-begitu ya......"

Padahal seharusnya tidak ada yang berubah dari hari kemarin... Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya jadi malu begini. Hanya satu hal yang bisa kukatakan... mungkin karena ini adalah Tsubaki.

"Karena aku... ya?"

"Un..."

Lalu Hinata-senpai kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

...Orang ini kenapa ya, imut banget sih?!

Diriku yang sekarang, sepertinya tersenyum lebar sampai-sampai tidak boleh diperlihatkan pada siapa pun... Aku begitu bahagia karena berhasil membuat Hinata-senpai memasang ekspresi seperti itu.

Seperti kata Hinata-senpai, mungkin ini hanya terjadi hari ini saja.

Tapi, yang bisa melihat Hinata-senpai seperti ini cuma aku... Sekarang, aku yang ada di sini punya hak untuk melihat sisi imut Hinata-senpai.

"......Hm, Hinata-senpai?"

"Ada apa...?"

"Payudaranya... Boleh aku sentuh?"

Mungkin dia bakal mikir, apa-apaan nih anak tiba-tiba ngomong begitu, tapi aku benar-benar serius.

Bukannya aku jadi pengin h-an lagi, tapi pokoknya aku jadi ingin menyentuh Hinata-senpai lebih banyak lagi.

"......Boleh, terserah kamu saja."

Yes! Lampu hijau sudah diberikan.

Aku mengulurkan tangan ke arah Hinata-senpai yang wajahnya masih tersembunyi, dan begitu tanganku menempel di dadanya yang besar, tubuh Hinata-senpai langsung berjingkat kaget.

Begitu saja, jariku mulai menenggelamkan diri seolah menikmati kekenyalan benda itu.

Disentuh kapan pun, rasanya selalu empuk dan hangat, bongkahan pesona yang membuatku selalu ingin menyentuhnya terus-menerus.

"Payudara itu... Emang paling mantap ya."

"Kamu ini benar-benar suka banget ya."

"Apalagi karena ini punya Hinata-senpai, jadi rasanya berkali-kali lipat lebih spesial."

"......Ah, gila deh hari ini. Semua ucapan Tsubaki bikin aku malu sendiri."

Imut banget... Tapi, aku juga jadi pengin sedikit menjahilinya.

Aku menempelkan telunjukku pada puting Hinata-senpai yang menonjol dan mencoleknya pelan-pelan seolah sedang menekan sebuah tombol.

"Uhn... kh... "

"......Uwoooooooh!"

"Kyaff!?"

Aku sudah nggak tahan lagi... Wajahku kubenamkan sekuat tenaga ke dadanya.

Hinata-senpai sempat mengeluarkan suara terkejut, tapi dia sama sekali tidak berusaha mendorongku menjauh, melainkan melingkarkan tangannya ke punggungku dan memelukku erat-erat.

"Dasar anak manja."

"Hari ini aku mungkin agak sedikit aneh."

"Ngomong apa sih. Bukannya setiap kali ada payudara di depanmu, kamu selalu begini?"

"I-iya kah...!? T, tapi..."

"Tadi juga sudah kutanya, kan? Kamu suka, kan?"

"......Suka."

Begitu aku mengakuinya secara jujur, sekarang giliran aku yang jadi salah tingkah.

Karena merasa tak tahan, aku mencoba menjauhkan wajah dari dada Hinata-senpai, tapi Hinata-senpai sepertinya menyadari keadaanku dengan cepat dan mempererat pelukan tangannya supaya aku tidak bisa lepas.

Pada akhirnya, kami tetap berada dalam posisi itu selama beberapa menit berikutnya.

Begitu aku terbebas dari timbunan G-cup itu, kondisi Hinata-senpai sudah kembali normal dan rona malu di wajahnya sudah tidak terlihat lagi.

Meskipun merasa sedikit kecewa karena hal itu, aku melontarkan kalimat itu sambil merasakan kelegaan karena Hinata-senpai berada tepat di sisiku.

"Kalau dipikir-pikir lagi, keputusan waktu itu benar-benar langkah terbaikku."

"Apaan?"

"Waktu aku balik menemui Hinata-senpai dan mengajaknya ngobrol."

"Ah...!"

"Hahaha, wajah Hinata-senpai merah lagi tuh!"

"Berisik! Jangan mempermainkan orang yang lebih tua, bocah sialan!"

Melayangkan tatapan galak yang sama sekali tidak terlihat menyeramkan, Hinata-senpai mencubit pipiku.

Tapi berbanding terbalik dengan tampangnya yang sok imut galak, tenaga cubitannya cukup kuat sampai-sampai membuat air mataku sedikit mengambang.

"Shakit... Shakit keraf!"

"Hukuman karena sudah usil."

"............"

"Kalau mau dimaafkan, yaa..."

Menghembuskan napas sesaat, Hinata-senpai mengeluarkan usulan ini.

"Memanggil namaku tanpa gelar waktu kita h-an itu sudah pasti, tapi kan kita nggak mungkin manggil begitu di luar... Jadi, bagaimana kalau kamu panggil dengan sebutan yang lebih santai?"

"Hmm... Hinata-san, gitu?"

"Nah, itu dia. Bagus tuh."

Hinata-san... ya.

Dengan panggilan yang lebih santai di luar aktivitas ranjang seperti ini, rasanya jarak antara aku dan Hinata-senpai... Hinata-san, jadi terasa semakin dekat.

"Fuaah..."

"Ngantuk? Kamu kan sudah berjuang banyak tadi."

"Iya... anu, sebenarnya aku masih mau ngobrol banyak... tapi ngantuk."

Aku memang ngantuk, tapi aku masih ingin mengobrol lebih lama dengan Hinata-san.

Saat aku mati-matian menahan rasa kantuk itu, Hinata-san menarikku ke dalam pelukannya, menuntunku masuk ke dalam kehangatan dekapannya yang lembut dan penuh.

"Kata-katamu benar-benar kelewatan imutnya... Tenang saja, Tsubaki. Mulai sekarang kita bisa meluangkan waktu kapan pun kita mau... Ini bukan cuma hari ini saja, kok."

"......Baik."

Aduh gawat... Begitu aku menutup mata sambil berpikir kalau aku benar-benar sudah tidak sanggup menahan kantuk, kesadaranku perlahan tenggelam diiringi aroma manis milik Hinata-san.

 

 

"Beneran ya, ketiduran tanpa waspada gitu."

Hinata mengelus kepala Tsubaki yang sedang tidur nyenyak di dadanya.

Melihat Tsubaki yang memasang ekspresi geli tapi tidak mau melepaskan pelukannya, Hinata merasa anak laki-laki ini benar-benar imut dari lubuk hatinya, dan menyadari kalau Tsubaki adalah tipe cowok yang belum pernah ia temui sebelumnya.

"Meskipun hubungan kita nggak normal begini, tapi rasanya senang banget diperlakukan sampai segitunya. Padahal buat aku, dia tadinya cuma junior yang kebetulan menampungku di hari itu... Aku sama sekali nggak menyangka kalau kecocokan fisik kami bisa sebagus ini sampai-sampai aku mengizinkannya memanggil namaku tanpa gelar."

Bukan cuma kecocokan fisik, kecocokan secara personal dengan Tsubaki juga luar biasa.

Mungkin karena itulah setiap kali melakukan hubungan mesum, Hinata membuang jauh-jauh sifat aslinya dan malah mendesak Tsubaki untuk memberikan interaksi romantis layaknya pasangan suami istri yang sudah lama bersama.

Saat sedang h-an, kepalanya meleleh karena rasa nikmat dan kasih sayang, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau dirinya masuk ke mode manja yang penuh cinta tanpa perlu disadari.

"Ke toilet sebentar deh."

Supaya tidak membangunkan Tsubaki, ia melepaskan diri, keluar dari tempat tidur, dan berjalan menuju toilet.

Meskipun jaraknya dekat, Hinata kembali dibuat tersenyum masam menyadari betapa nyamannya rumah ini—atau lebih tepatnya, kehangatan yang terasa di setiap sudut rumah ini membuat tempat ini jauh lebih nyaman ditinggali ketimbang rumahnya sendiri.

"Kira-kira seperti apa ya orang tua Tsubaki?"

Berbeda dengan dirinya, Tsubaki benar-benar mencintai ibunya dari lubuk hatinya.

Mengingat betapa besar pujian Tsubaki pada ibunya, ibunya pasti orang yang sangat baik, dan Hinata sendiri sebenarnya penasaran ingin bertemu. Tapi setelah memikirkan bagaimana cara ia harus menjelaskan posisinya, ia menyimpulkan bahwa lebih baik tidak usah bertemu saja.

Begitu selesai dari toilet dan kembali ke kamar, Tsubaki sudah membuka mata dan mendudukkan tubuhnya.

"Eh, maaf bikin kamu kebangun?"

"Enggak... Aku memang sudah bangun secara normal."

"Begitu ya, kukira kamu bangun karena kesepian."

"......Maaf ya. Aku benar-benar bangun biasa kok."

"Kumohon, jangan minta maaf dengan serius begitu. Nanti aku yang tadi ngomong sok percaya diri malah jadi kelihatan menyedihkan."

Ekspresi yang ditunjukkan Hinata di depan umum biasanya bernuansa dingin.

Itulah sebabnya, dibandingkan dengan teman-temannya yang suka berisik dan rusuh di sekitarnya, Hinata dipandang oleh orang-orang sebagai sosok gal cantik bertipe dingin.

Hinata yang biasanya seperti itu, kini membuang muka dengan ekspresi salah tingkah, sebuah pemandangan yang sangat langka.(Aku... belum pernah pasang muka kayak gini di depan cowok mana pun.)

Pikiran itu melintas begitu saja, bahkan mungkin dia belum pernah memasang ekspresi seperti itu di depan teman-temannya.(Bahkan di depan mantan pun aku nggak pernah pasang muka begini... Ah, terserahlah, cowok model begitu mah nggak penting.)

Menyingkirkan bayangan mantan yang melintas di benaknya dengan mengibaskan kepala, Hinata memutuskan untuk bersikap pasrah karena toh tidak ada tempat lari lagi, lalu ia melompat ke atas ranjang... alias melakukan dive langsung ke arah Tsubaki.

"Nwaaaaaaah!?"

"Ba-nyak."

Berbanding terbalik dengan Tsubaki yang mengeluarkan suara sampai mengganggu tetangga, suara Hinata sama sekali tanpa intonasi.

Tubuh mereka kembali bertumpuk, dan Hinata membenamkan pipinya di dada junior yang telah memancing keluar ekspresi barunya itu.

"Berat, ya?"

"Enggak, daripada berat lebih ke arah empuk."

"Kukira kamu bakal ngomong gitu. Kamu tuh beneran maniak payudara ya."

Ucapan maniak payudara yang entah sudah diucapkannya berapa kali hari ini sepertinya masih jadi sebutan yang memalukan bagi Tsubaki.

Padahal saat tubuh mereka menyatu, ada sisi jantan yang terpancar, tetapi melihat Tsubaki memperlihatkan ekspresi khas anak di bawah usianya di momen seperti ini justru membuat Hinata merasa ingin memperlakukannya dengan baik sebagai seorang senpai.(Kita nggak pacaran... Cuma menghabiskan waktu bersama saat ingin bersama. Melakukannya saat ingin melakukannya... Hubungan santai kayak gini bikin kita nggak usah pusing mikirin banyak hal.)

Meski berpikir begitu, kenyataannya Hinata sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada Tsubaki.

Jam sepulang sekolah yang biasanya ia habiskan bersama teman-temannya, kali ini ia prioritaskan untuk menepati janjinya dengan Tsubaki, meskipun itu sudah direncanakan sebelumnya.

Bahkan seandainya ada urusan lain yang mendadak muncul, ia pasti akan menolaknya demi menantikan hari ini.

"Hup."

Bangkit dari atas tubuh Tsubaki, ia berbaring di sebelahnya.

Ranjangnya memang agak sedikit sempit untuk ditiduri berdua, tapi seberapa dekat pun jaraknya dengan Tsubaki, Hinata tidak merasa keberatan sama sekali.

Saat ia bersiap menunggu datangnya momen terlelap dalam suasana nyaman itu, suara kebingungan meluncur dari bibir Tsubaki.

"Anu... Hinata-san?"

"Apaan?"

"......Tanganmu menyentuhku."

"......Ah."

Rupanya tanpa ia sadari sendiri, tangannya sudah mendarat di area selangkangan Tsubaki.(Aku... kalau sudah bareng Tsubaki pasti jadi aneh.)

Meskipun ia menarik tangannya sambil membatin begitu, rasanya tetap saja bukan hal yang buruk.

Jujur saja... kalau boleh jujur, sebenarnya Hinata masih sanggup melanjutkannya lagi dengan Tsubaki sekarang juga, tapi ia menahannya karena tidak mau sampai harus mandi ulang dari awal.

"Sudah waktunya... tidur ya?"

"Iya... Kalau nggak dipaksa tidur, gawat kayaknya."

Tsubaki tidak menanyakan apa yang gawat, tapi dari wajahnya yang memerah, sepertinya anak itu sudah paham.

Tersenyum melihat ekspresi tersebut karena menganggapnya benar-benar imut, Hinata memejamkan mata sambil menikmati kehangatan dari juniornya yang selalu bisa memberinya ketenangan.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment