-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Iede shite iru Bijin na Senpai wo Tometara Itsudemo Yareru Kankei ni Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Keseharian yang Berubah


"......Belakangan ini, bangun tidurku terasa enak banget."

Akhir-akhir ini... Lebih tepatnya, sejak aku mengenal Hinata-san, rasanya aku terbangun di pagi hari dengan sangat segar dan dibarengi dengan tubuh yang terasa begitu ringan.

Mungkinkah ini berkat hari-hari kami yang begitu merangsang dan penuh gairah bersama Hinata-san...?

Aku tidak tahu alasannya, tapi rasanya pasti memang begitu.

"Hinata-san... Hinata-san... Hinata...!"

Meskipun hanya terbatas saat sedang h-an, memanggilnya tanpa gelar... masih belum terlalu terbiasa.

Tapi melihatnya mau mengatakan hal seperti itu, artinya dia benar-benar telah membuka hatinya untukku... Senang banget rasanya!

"......Eh?"

Tanpa jera terus memikirkan Hinata-san, aku melihat punggung Kanata dan Rio yang sedang berjalan di depanku.

Kemesraan mereka yang tidak pernah berubah membuatku merasa gemas, tapi melihat pemandangan seperti itu membuatku sadar bahwa seakrab apa pun kita sebagai teman, ada batas di mana kita tidak bisa sembarangan mendekat.

"Begini ya... Masalah yang rumit juga, sih."

Ngomong-ngomong, Ibu pernah bilang... Kalau sudah menikah dan berumah tangga, tidak aneh jika seakrab apa pun persahabatan kalian, lambat laun kalian akan menjadi renggang.

"Tapi ya mau bagaimana lagi, ya..."

"Apaan yang mau bagaimana lagi?"

"Memangnya apa yang mau bagaimana?"

"......Eh?"

Ini murni kecerobohanku yang berjalan sambil menunduk dan memikirkan berbagai hal.

Karena alasan itu pula, begitu aku mengangkat wajah, kepalaku langsung menghantam dagu Kanata yang tahu-tahu sudah berdiri tepat di depanku.

"Gaphff!?"

"Kanata!?"

"Poin penuh! K.O.!"

Berbeda dengan aku yang panik mengkhawatirkannya, Rio malah berekspresi antusias menirukan wasit padahal pacarnya sendiri baru saja jatuh menduduki lantai.

"Maaf Kanata, kamu nggak apa-apa?"

"Y, ya."

"Meskipun begitu, serangan telak yang bagus sekali, ya!"

Rio-san, tolong khawatirin pacar kamu dulu sana.

Meskipun sudah kepergok oleh mereka berdua, aku tadinya berharap mereka bisa jalan duluan dengan mesra, tapi pada akhirnya kami malah memutuskan untuk berangkat sekolah bersama.

Sambil berjalan diapit oleh aku dan Rio dengan Kanata di tengah, tentu saja topik tentang apa yang kupikirkan tadi kembali diungkit, jadi kupikir ya sudahlah dan aku menceritakannya.

"Yaelah, ngapain dipusingin segala? Main biasa aja kali."

"Iya benar. Kalau Kanata sibuk, nanti aku saja yang temani main!"

"Justru itu masalahnya, nggak usah!"

Begitulah, meskipun diselingi sedikit celotehan protes, aku tetap merasa disemangati.

Jangan-jangan mereka berdua ini... Kasihan padaku karena mengira aku tidak akan pernah punya pacar atau menikah seumur hidup?

Mikirnya kejauhan banget, batin-ku sambil menggelengkan kepala lalu mengalihkan topik ke hal lain.

"Urusanku nggak usah dipikirin. Kanata gimana? Performa sepak bolanya lancar?"

"Lancar jaya! Aku sudah berhasil merebut kepercayaan para senior dan junior."

"Dari kelas satu juga sudah mantap banget, kok. Kanata kan diandalkan sama semuanya!"

"Heheh! Lumayanlah!"

Mendengar pujian Rio, Kanata tampak senang, tapi itu semua karena Kanata punya daya juang dan rasa percaya diri yang mutlak.

Terkadang aku melihatnya saat jam pelajaran olahraga, dan Kanata memang benar-benar jago main bola.

Apalagi karena Rio selalu mengawasinya selama jam kegiatan klub, Kanata pasti bisa mengerahkan kemampuan melebihi biasanya.

"Kanata itu... keren ya."

"......Makasih."

Kanata mengusap hidungnya dengan ekspresi malu-malu.

"Hmm... Untung saja Tsubaki-kun bukan cewek... Kalau iya, dia pasti bakal jadi saingan berat."

"Apaan sih."

Setelah itu, dengan keributan kami yang tidak pernah luntur, kami akhirnya sampai di sekolah.

Begitu tiba di area gedung sekolah, suasananya memang mereda dan jadi lebih tenang, tapi di situlah aku melihat Hinata-san.

Hari ini sepertinya dia bersama Murakumo-senpai lagi, dan dengan ekspresi dinginnya, Hinata-san menanggapi obrolan Murakumo-senpai.

"......Hari ini pun dia tetap cantik banget ya, Hinata-san."

Tepat saat aku bergumam begitu, pandangan kami berpapasan.

Hubunganku dan Hinata-san adalah rahasia antara kita berdua... Jadi, kupikir reaksinya tidak akan terlalu mencolok di tempat ramai seperti sebelumnya, tapi di luar dugaan, dia malah menunjukkan reaksi membuang muka dengan cepat.

Apalagi aku sempat melihat pipinya sedikit merona merah, kalau diberi reaksi seperti itu kan aku jadi ikut-ikutan merasa malu.

"......Nih, Hinata? Kayak kemarin-kemarin juga sih... Ada apa sebenarnya?"

"Bukan apa-apa."

"Tsubaki! Lagi ngapain di situ~!"

"Ayo cepat ke sini~!"

"O, ooh!"

Setelah berpisah sejenak dari Hinata-san, begitu aku sampai di kelas, sebuah pesan langsung masuk.

Istirahat siang nanti, di tempat biasa ya.

Pesan itu sukses membuat dadaku berdebar kencang, dan aku langsung membalasnya dengan mengatakan bahwa aku pasti datang.

 

 

Jam istirahat siang.

Begitu selesai makan siang, aku langsung bergegas menuju ruang kelas kosong di lantai tiga.

"Permisi...!"

"Selamat datang."

Hinata-san sudah duduk di dekat jendela menungguku.

Senyum manis terkembang di wajahnya sambil merentangkan kedua tangan, yang langsung kujadikan aba-aba untuk mendekat, dan begitu jarak di antara kami lenyap, aku langsung didekap dengan erat.

"Makasih ya sudah datang."

"Karena dipanggil sama Hinata-san... Aku sudah nunggu-nunggu banget dari tadi."

"nn...♪"

Aku didekap lebih erat dan sepenuh tenaga.

Seperti biasa, kehangatan dan kelembutan yang menenangkan serta membuat hatiku bahagia kurasakan seutuhnya, dan memanfaatkan fakta bahwa Hinata-san tidak bisa melihat ekspresiku, wajahku langsung mengendur selebar-lebarnya.

Aku pun mengerahkan seluruh tenaga untuk melingkarkan lengannya ke punggung Hinata-san dan memeluknya balik... Tepat pada saat itu.

"Huuun... Kukira cuma perasaanku saja yang curiga, tapi ternyata begini ya rupanya."

Tiba-tiba, suara pihak ketiga yang sama sekali bukan aku maupun Hinata-san menggema di ruangan itu.

"Eh...?"

"......Cih."

Berbeda dengan diriku yang langsung terkejut setengah mati, Hinata-san justru melontarkan decakan lidah dengan ekspresi sangat kesal yang membuatku ikut terperanjat, dan begitu aku menoleh pelan ke belakang, kulihat sosok perempuan berambut pirang tersenyum usil berdiri di sana.

"Keta-huan deh♪"




Yang masuk adalah sahabat Hinata-san, Murakumo-senpai.

Murakumo-senpai masuk begitu saja dengan penuh percaya diri, tapi dia langsung menggembungkan pipinya dan menyerang Hinata-san.

"Nggak usah pakai decak lidah segala dong!"

"Berisik, terus ada perlu apa?"

Hinata-san bangkit berdiri dan menyembunyikanku di balik punggungnya.

Kurasa bersembunyi sekarang pun sudah tidak ada artinya lagi, tapi sepertinya lebih baik menuruti Hinata-san saja dengan patuh.

"Meskipun sembunyi sekarang juga percuma..."

"Nggak, karena di sini nggak ada siapa-siapa selain aku."

"Eh, padahal ada orang!"

"Nggak ada."

"Nggak mungkinlah, sudah jelas ada!"

"Udah dibilang nggak ada ya nggak ada."

"Makanya dibilang nggak mungkin!"

"Berisik banget, bitch sialan."

K-kejam banget!

Aku sempat takut melihat bagaimana reaksi Murakumo-senpai atas sebutan bitch dari Hinata-san, tapi sepertinya dia baik-baik saja karena dia menghentakkan kakinya ke lantai persis seperti contoh di buku… Atau lebih tepatnya, melihatnya justru terasa sedikit menghibur.

Meskipun begitu, karena ini kesempatan langka, aku ingin mengamati Murakumo-senpai sedikit.

Rambut pirangnya yang panjang dan indah dibiarkan menjuntai sampai ke pinggang, dengan gaya berpakaian yang sama persis seperti Hinata-san, yaitu membuka kancing bagian dadanya.

Rasanya sulit untuk tidak menganggapnya sebagai gaya fesyen gal standar, tapi sekilas pandang... Dada Murakumo-senpai bahkan tampak lebih besar daripada Hinata-san yang dadanya memang sudah besar.

"Hah... Repot jadinya nih."

Yang ngomong begitu adalah Hinata-san.

Tampaknya dia sadar kalau sudah sejauh ini dia tidak bisa mengelak lagi, dan setelah menghela napas pasrah, Hinata-san mengeluarkan suara yang suhunya terasa membeku sampai ke tulang.

"Anak ini aku yang panggil. Biar gampang kamu pahami, aku sangat menyukai anak ini... Makanya kalau kamu sampai berbuat macam-macam, Arisa—sekalipun pelakunya kamu, aku gak bakal maafin."

Aku belum pernah mendengar suara Hinata-san seperti itu.

Tanpa sadar, aku merasa ngeri dan mundur selangkah, namun Murakumo-senpai yang menerima tatapan Hinata-san secara langsung justru memasang ekspresi santai.

"Huuun... Yah, aku nggak mau dibenci sama Hinata, jadi aku nggak bakal berbuat aneh-aneh kok."

"......Sungguh?."

"Wah, tingkat kepercayaannya rendah banget ya... Tapi, Hinata yang begitu menyukai seseorang sampai segitunya kan belum pernah ada sebelumnya, kan? Tadi sempat lihat kalian berpelukan sedikit, tapi ekspresi Hinata yang meleleh sampai sebegitunya itu benar-benar langka banget."

"......Berisik."

Hinata-san menunduk malu, dan memanfaatkan celah itu, Murakumo-senpai mendekat.

"Sudah pernah lihat beberapa kali sih, tapi salam kenal. Aku Murakumo Arisa, salam kenal ya junior-kun."

"A, iya... Tsubaki Mikasa. Salam kenal."

"Nggak usah kenal-kenalan."

Tepat saat Hinata-san mengeluarkan suara kesal dan mencengkeram kepalaku, Murakumo-senpai lenyap dari pandanganku… Eh, bukan, rupanya aku malah ditarik dan didekap masuk ke dalam pelukan dada Hinata-san.

Wajahku terjepit di antara keempukan yang kenyal itu, yang artinya wajahku sekarang ada di dalam belahan dada Hinata-san!

"Mugaf!"

"Makanya, jangan banyak gerak, geli tahu."

Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau aku tidak usah diginiin... Tentu saja aku tidak mungkin ngomong begitu.

Karena aku memang suka diginiin, dan berada di posisi ini membuatku bisa merasakan aroma Hinata-san sepenuhnya, jadi rasanya bahagia banget!

"Mikasa-kun ya... Hinata beneran naksir berat rupanya."

"Kan sudah kubilang dari tadi. Pokoknya, kami sudah sering melakukan berbagai macam hal juga."

"!? "

"Ooh, bahkan sudah sampai tahap itu ya."

Tampaknya kemajuan hubungan kami di luar dugaan Murakumo-senpai, membuat dia bertepuk tangan pelan.

"Puhaah!"

"Ah, maaf Tsubaki... Sesak ya?"

"Enggak... Memang sempat terasa sedikit sesak sih, tapi aku suka diperlakukan begitu sama Hinata-san."

"T-Tsubaki! "

"Mugagagaf!?"

Dan sekali lagi, aku terjepit di antara payudara!

Tapi kali ini, mungkin karena dia sudah memperhitungkan agar aku tidak sesak, Hinata-san membiarkannya merasakan bagian dalam belahan dadanya yang terasa sangat nyaman.

"Sumpah bucin banget... Padahal sebelumnya, kamu bahkan nggak pernah ngizinkan siapa pun manggil namamu tanpa gelar kecuali mantan pacar masa kecilmu itu, lho."

"Jangan sebutkan kosakata yang bikin jijik."

"Iya, iya, maaf."

Barulah di saat itu aku akhirnya dibebaskan dari dalam pelukan dada Hinata-san.

Tentu saja ada rasa berat hati untuk meleaskannya, tapi dengan menjauhnya aku dari Hinata-san, aku kembali berhadapan langsung dengan Murakumo-senpai, yang lantas mengamati seluruh tubuhku dari kepala sampai ujung kaki.

"Kelihatan kayak junior biasa aja sih, tapi apa ada sesuatu yang bikin Hinata kesengsem ya?"

"Jangan diliatin terus."

"Tuh kan, reaksi kamu nunjukin banget kalau junior-kun ini... Oh iya, aku juga boleh manggil kamu Tsubaki-kun nggak?"

"A, iya...?"

"Sebagai gantinya, kamu juga boleh manggil aku Arisa."

"Nggak usah dipanggil begitu."

Hinata-san menatap tajam ke arah Murakumo-senpai... Ah, panggil Arisa-san saja kali ya.

Hinata-san melototi Arisa-san, dan percikan bunga api tampak beterbangan di antara mereka berdua.

Aku... harus gimana nih?

Tentu saja aku tidak berniat kabur, jadi aku terus mengamati mereka untuk sementara waktu.

Setelah Arisa-san akhirnya mengalah dan menghela napas, dia melontarkan pertanyaan ini.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua ini pacaran?"

"Enggak."

"Kami nggak pacaran kok."

"Heeh... Dengan kata lain, kalian sex friend ya."

Aku dan Hinata-san mengangguk.

"Untuk ukuran sex friend, tingkat kesukaan Hinata beneran luar biasa lho? Kalau begini jadinya, aku kan jadi agak penasaran juga."

Sambil memancarkan tatapan memikat, Arisa-san menjilat bibirnya.

Seperti yang kuduga, Arisa-san juga adalah seorang wanita yang memancarkan aura erotis, dan dalam hal sifat itu, dia bahkan mungkin melebihi Hinata-san.

Hanya saja... Aku tidak merasa begitu berdebar dengan gestur Arisa-san.

Apakah ini mungkin karena ketahanan tubuhku yang meningkat setelah menghabiskan waktu bersama Hinata-san…?

"Eh... Padahal cowok-cowok di kelas biasanya langsung merah mukanya kalau diginiin lho?"

"......Memang sih Arisa-san itu cantik dan punya bentuk tubuh yang bagus, tapi mungkin karena aku sering berurusan sama Hinata-san, cowok kayak aku pun sepertinya sudah punya sedikit ketahanan."

"Itu sama saja kayak kamu ngomong secara tidak langsung kalau aku juga cantik, kan?"

"Iya, memang itu yang kumaksud."

Karena itu memang benar, aku mengangguk dengan dada membusung.

Tiba-tiba, Hinata-san yang tadinya diam saja langsung menggenggam tanganku, lalu menarikku begitu saja menuju pintu keluar kelas.

"Hinata-san?"

"Kita ke gudang olahraga yuk."

"Eh?"

"Hinata?"

"Di sini kan nggak bisa h-an."

"Hah!?"

Aku tentu saja terkejut mendengar ucapan yang tiba-tiba itu, tapi melihat pipi Hinata-san yang menggembung kesal, sepertinya dia cemburu karena aku asyik mengobrol dengan Arisa-san tadi.

"T-tunggu, sebentar, kenapa tombolnya malah aktif sekarang sih!?"

Giliran Arisa-san yang mencengkeram pundak Hinata-san.

Kalau saja saat itu tidak dihentikan, aku pasti sudah mengekor di belakang Hinata-san tanpa keraguan sedikit pun... Aku benar-benar sudah parah rupanya.

"Terus Tsubaki mau gimana?"

"......Rasanya curang banget nanya begitu di sini. Tapi kita kan anak sekolah, jadi ayo ikuti pelajaran dengan benar ya? Bentar lagi juga jam istirahatnya selesai."

"......Kalau Tsubaki bilang begitu, ya sudah."

"Wah... Hinata yang biasanya keras kepala bisa sepakat dengan ini."

Aku sendiri masih belum begitu mengenal sosok Hinata-san sehari-hari.

Kalau Arisa-san sampai ngomong begitu, berarti masih ada banyak ekspresi Hinata-san yang belum kuketahui.

"......Sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah ngomong aneh-aneh ke Tsubaki, ya?"

"Aku tahu kok... Kalau sudah dibilang begitu, ya aku nggak bakal berbuat macam-macam. Hinata kan tahu sendiri aku nggak mungkin ngelakuin hal seburuk itu, kan?"

"......Itu benar juga sih. Kamu nggak bakal pernah ngelakuin hal kayak gitu… Lagian, Tsubaki kan tipe cowok yang pas banget sama selera kamu."

"......Ehh!?"

A, apa... barusan ada kalimat yang nggak boleh dilewatkan terdengar!?

Aku… tipe cowok yang jadi selera Arisa-san…? Enggak, enggak, mana mungkin ada hal seperti itu――.

"A, apa sih yang kamu omongin! Mana mungkin anak yang baru kenal aku ngomong begitu… Maksudku kayak, kalau bisa pengin ngobrol lebih lama lagi kek, atau rasanya imut kayak adik sendiri kek, sama sekali nggak ada pikiran kayak gitu ya!"

Dia lagi salah tingkah berat, kan!?

Dia menyangkalnya sambil merona merah dan melambaikan tangan heboh, justru karena itulah dia kelihatan sangat polos dan sepertinya bukan tipe orang yang bisa berbohong.

"Arisa kan punya adik tiri cowok satu tingkat di bawahnya dan dia sangat menyayanginya, tapi akhir-akhir ini adiknya itu lagi masuk masa pemberontakan, jadi hubungan mereka agak renggang."

"Begitu ya..."

"Dia itu tipe orang yang sangat menyayangi adiknya sampai-sampai nggak tertahankan. Makanya, selain karena melihatku memanjakan Tsubaki, Tsubaki sendiri juga punya tipe atmosfer yang secara alami bisa memikat wanita yang lebih tua."

"Aku nggak begitu paham sih..."

Ngomong-ngomong, entah sejak kapan Arisa-san sudah tidak ada di tempat.

Mungkin dia tidak tahan menahan rasa malu, tapi mengingat waktu istirahat siang juga sudah hampir habis.

Aku harus berpisah dengan Hinata-san, tapi Hinata-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskannya.

"Sampai nanti..."

"Iya."

"......Sampai nanti."

"Ah, iya… sampai nanti."

"......Sampai nanti!"

Dih, kapan lepasnya nih~?

Namun, kenyataan bahwa Hinata-san yang bersikap begitu imut adalah hal yang tidak terbantahkan, dan pada akhirnya kami berpelukan erat-erat sekali lagi sebelum berpisah.

***

Hari ini aku sudah tidak punya rencana untuk bertemu dengan Hinata-san lagi.

Tapi, kalau aku mengirim pesan pada Hinata-san untuk mengajak berkencan sepulang sekolah nanti... Rasanya dia bakal bilang iya.

"Coba ajak jalan dalam waktu dekat deh."

Sambil menyusun rencana itu, waktu berlalu hingga jam kepulangan sekolah tiba.

Mengingat kembali obrolan saat istirahat siang bersama Hinata-san, aku juga teringat pada pertemuan pertamaku dengan Arisa-san.

Awalnya sempat kiran bakal jadi masalah besar, tapi kesan yang kudapat adalah Arisa-san ternyata bukan orang jahat, melainkan orang yang baik.

"Tapi ngomong-ngomong soal adik cowok ya... Emangnya benar aku tipe yang bisa memikat wanita yang lebih tua?"

Itu memang dibilang oleh Hinata-san, tapi aku sama sekali tidak merasa punya daya tarik seperti itu.

Sebelumnya sama sekali tidak ada kejadian di mana aku disukai oleh wanita yang lebih tua, dan meskipun rasa suka…nya belum terlalu jelas, satu-satunya orang yang kupercaya benar-benar menyukaiku sampai saat ini ya cuma Hinata-san.

"Yah sudahlah, tinggal beli manga yang terbit hari ini terus…"

Di tengah suasana hati yang bagus, saat aku sedang berjalan-jalan santai di jalanan kota.

"T, tunggu sebentar, Takuya――"

"Ah, sudahlah! Sudah kubilang jangan cerewet, wanita sialan!"

Suara kasar yang tidak menyenangkan menggetarkan gendang telingaku.

Berantem di tengah kota gini... Baru saja aku memikirkan hal itu sekilas, tapi saat aku melirik ke sumber suara karena merasa suara itu tidak asing, aku berseru kaget.

"......Arisa-san?"

Ternyata, orang yang berdiri di sana adalah Arisa-san.

Di hadapan Arisa-san berdiri seorang cowok sebayaku... Dan umpatan wanita sialan barusan sepertinya dilontarkan oleh cowok itu.

"Itu… pacarnya?"

Bagi seorang wanita secantik Arisa-san, wajar saja kalau punya satu atau dua pacar, tapi cowok yang diduga pacarnya itu menepis kasar tangan Arisa-san yang terulur, lalu pergi begitu saja seolah-olah hendak meludahi Arisa-san.

"......Eh?"

"......Ah."

Bertatapan dengan Arisa-san yang sedang mengusap uluran tangannya dengan ekspresi sedih.

Baru saja siang tadi kami mengobrol dan berpisah dengan sedikit kecanggungan, tapi aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini, membuatku sama sekali belum siap secara mental.

Namun, dia memang pantas disebut sebagai gal senpai yang mewakili para gyaru populer.

Arisa-san seketika mengubah ekspresinya, lalu mendekat dengan senyuman cerah yang sangat cocok untuknya.

"Halo, Tsubaki-kun... Kayaknya kamu sempat lihat bagian yang memalukan, ya."

"Enggak... Apa itu tadi pacarnya?"

"Bukan, bukan. Itu adikku."

"Ah begitu..."

Jadi begitu rupanya... Berarti yang barusan itu adik yang dimaksud, ya.

"Adik tiri, ya? Hinata-san sudah sempat cerita ke aku."

"Iya, kamu sudah dengar rupanya."

"......Tadi dia ngomong hal yang kejam banget, ya."

"Bener banget tau! Dengerin ya, Tsubaki-kun!"

Mendekatkan jarak kami lebih dekat lagi, Arisa-san menggenggam tanganku erat-erat.

Aku langsung didudukkan di bangku taman terdekat, dan dia mulai menceritakan tentang adiknya itu dengan nada bicara yang penuh emosi.

"Dulu dia itu anak manis yang selalu mengekor di belakangku sambil manggil 'Nee-chan, Nee-chan', bahkan sempat bilang mau nikah sama aku, lho!"

"Manis banget, ya."

"Kan!?" Ya, walaupun nggak mungkin kuanggap serius sih, aku tetap menyayanginya sebagai seorang adik."

"Kamu menyayanginya seperti itu, tapi sekarang dia malah masuk masa pemberontakan."

"Begitulah! Mulai masuk SMA, dia jadi begitu, tapi mungkin penyebabnya gara-gara penampilanku yang kayak gini, sih."

"Maksudnya karena kamu gyaru?"

"Iya, betul."

Aku rasa penampilannya saja tidak akan membuatnya bersikap separah itu, tapi karena hanya sang adik yang tahu alasannya, aku tidak bisa berkomentar banyak.

Mereka sudah bersama sejak lama, dan Arisa-san sangat mempercayainya sampai-sampai adiknya bilang ingin menikahinya.

Di tengah situasi itu, tiba-tiba fase pemberontakan datang… Dari cerita yang kudengar, sepertinya Arisa-san hanya ingin memanjakannya, sementara di sisi lain sang adik menganggapnya menyebalkan dan melontarkan kata-kata kasar, hingga akhirnya hubungan mereka bergeser ke arah yang kurang baik.

"Walaupun kita nggak sedarah, dia tetap adikku dan wajar kalau aku ingin menyayanginya… Jadi biarpun dia ngomong kasar, aku anggap itu cuma rasa malu-malu kucingnya dan nggak terlalu kupikirkan. Tapi kalau sampai bilang 'mati' atau 'enyah', rasanya agak menusuk juga ya."

Arisa-san tersenyum lemah.

Memang benar, seberharga apa pun orang itu bagimu, mendengar kata-kata "mati" atau "enyah" dari anggota keluarga sendiri pasti terasa sangat menyakitkan... Aku memang tidak punya pengalaman seperti itu, tapi membayangkan kekerasan verbal yang merobek-robek hati pun sudah sangat mudah.

Lagi pula, kata "mati" adalah salah satu ucapan yang paling tidak ingin kudengar maupun kuucapkan, bahkan sebagai sebuah candaan sekalipun.

"Padahal aku nggak pernah berniat bikin dia benci..."

Arisa-san merebahkan tubuhnya lemas di bangku, dan aku yang tersenyum masam langsung berdiri untuk membeli minuman di mesin penjual otomatis terdekat.

"Nih, buat kamu."

"Boleh?"

"Iya."

"Makasih♪"

Sepertinya dia benar-benar kehausan, karena Arisa-san langsung meneguk minumannya tanpa jeda sedikit pun.

Baik aku maupun Arisa-san sama-sama menghentikan percakapan sejenak, hingga minuman kami habis.

"Yah, masalah adikku itu biar waktu yang menyelesaikannya. Urusan kata 'mati' atau 'enyah' sih biarin aja, lagian dibilang bitch sialan aja aku sudah biasa."

"Emangnya boleh terbiasa sama hal kayak gitu?"

"Ya gimana ya, penampilanku kan begini dan omonganku sehari-hari juga begini. Lagian aku juga bukan perawan lagi."

"Hah."

"Belakangan ini aku juga lagi sama sekali nggak aktif."

Ehm, informasi itu rasanya tidak kubutuhkan sama sekali.

"Emangnya Tsubaki-kun juga jijik sama cewek kayak aku?"

"Eh? Enggak, kok, nggak sama sekali."

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tapi ini adalah isi hatiku yang sebenarnya.

Kalau dipikirkan beberapa waktu lalu, aku mungkin bakal mengira orang-orang seperti Arisa-san hidup di dunia yang berbeda, dan aku bisa memastikan nilai moral tentang kesucian kami juga berbeda. Tapi sejak berurusan dengan Hinata-san, kurasa aku sudah punya pemahaman yang cukup tentang hal semacam itu.

Atau lebih tepatnya, toh aku sendiri saat ini sedang menikmati hubunganku dengan Hinata-san.

"Aku memang nggak begitu tahu soal Arisa-san, dan kita juga nggak tinggal serumah seperti adikmu itu. Jadi wajar saja kalau kita punya cara pandang yang berbeda."

"Itu benar juga, sih."

"Makanya, menurut sudut pandangku, Arisa-san itu cantik, punya bentuk tubuh yang bagus, dan kalau melihat caramu berinteraksi dengan Hinata-san, rasanya kamu itu seperti Nee-chan perempuan yang baik."

Sepertinya aku sudah mulai bisa mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini, ya.

Aku sadar kalau kalimat yang diucapkan ini kedengarannya memalukan, tapi interaksiku dengan Hinata-san-lah yang berhasil memberiku kelonggaran mental sebesar ini.

"Nee-chan perempuan... ya."

"Iya. Seperti yang kubilang tadi, setidaknya dari sudut pandangku... Kalau aku berada di posisi adikmu, aku yakin hari-hari di mana Arisa-san ada di sisiku pasti nggak akan pernah terasa kesepian."

"Aduh... Kamu jago banget bikin orang senang, ya. Tapi, emangnya Tsubaki-kun sendiri pernah merasa kesepian?"

"Ibuku kan sering meninggalkan rumah karena urusan kerja."

"......Heeh."

Arisa-san melipat kedua tangannya seolah sedang memikirkan sesuatu.

Gestur melipat tangan tepat di bawah dadanya yang besar... Mengingat-ingat lagi, Hinata-san juga kadang-kadang melakukan itu, apakah orang-orang berpayudara besar memang otomatis melipat tangan dengan gaya seperti itu?

"Jangan-jangan kamu pengin dekat sama Hinata karena kamu merasa kesepian?"

Mendengar pertanyaan itu, sekarang giliran aku yang berpikir.

Waktu itu, aku memang penasaran pada Hinata-san... Alasan terbesarnya adalah rasa khawatir karena tidak bisa membiarkannya tinggal seorang diri di tengah hujan, ditambah sedikit niat terselubung barangkali ada kesempatan.

Tapi... ya.

Alasan utamanya tetap karena aku merasa khawatir.

"Itu... Di rumahku, Ayah sudah meninggal sejak aku masih kecil, jadi Ibu yang membesarkanku seorang diri sampai sekarang. Pasti ada banyak hal sulit yang dihadapinya, tapi Ibu nggak pernah sekalipun berniat membuangku."

"......"

Membicarakan hal seperti ini terasa sangat memalukan.

Tapi, penjelasan ini diperlukan untuk menceritakan hubunganku dengan Hinata-san.

"Bukannya aku mau menyamakannya dengan Ibu, tapi mungkin karena aku sudah menerima limpahan kebaikan seperti itu secara utuh, aku jadi nggak bisa membiarkan orang yang sedang kesulitan. Yah, aku nggak menolak kalau dibilang ada niat terselubung... Tapi aku benar-benar nggak bisa membiarkan Hinata-san sendirian."

Arisa-san sama sekali tidak memotong pembicaraanku.

Bahkan tanpa ada nada mengejek atau ekspresi hendak menggoda sedikit pun, Arisa-san terus menatapku lurus-lurus.

"Makanya, itu... kembali ke topik awal! Justru karena aku tahu rasanya tidak kesepian itu, aku cuma mau bilang kalau seandainya punya Nee-chan perempuan seperti Arisa-san, pasti nggak akan merasa kesepian. Kalau aku jadi adiknya, aku pasti mikir begitu!"

Maaf kalau susunan kata-kataku berantakan, tapi Arisa-san malah tersenyum mendengarnya.

Ekspresi murungnya tadi sudah lenyap seolah digantikan oleh perubahan suasana hati, dan Arisa-san kini memasang senyuman manis yang begitu indah.

"Jangan-jangan aku sempat meremehkanmu karena kamu adik kelas, ya."

"Eh?"

"Hei!"

Tiba-tiba saja Arisa-san mendekatkan tubuhnya dengan gerakan cepat.

Gerakan itu membuat dadanya yang besar berguncang lembut dan berhasil merampas pandanganku, namun kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Arisa-san jauh lebih meresahkan.

"Sepertinya aku pengin jadi Nee-chan perempuanmu, Tsubaki-kun!"

"......Ha?"

Wanita ini... lagi ngomong apa, sih?

"A, apa...?"

"Makanya, aku mau jadi Nee-chan perempuanmu!"

Pendengaranku ternyata tidak salah... Nee-chan perempuan!?

Aku sempat khawatir apakah dia mendadak jadi agak aneh, tapi Arisa-san di depanku ini memasang ekspresi serius sekaligus senyuman seolah bangga sudah mendeklarasikannya... Eh?

"Maaf ya tiba-tiba banget begini? Tapi aku serius, alias aku sudah kadung kepikiran begitu!"

"A, anu...?"

"Meskipun kelihatannya begini, aku ini tipe orang yang menepati apa yang kukatakan, lho. Jadi aku sudah memutuskan! Aku akan jadi Nee-chan perempuanmu... Ehehe, salam kenal ya♪"

"......"

Pada akhirnya, aku tidak bisa membalas usulan Arisa-san dengan kalimat lanjutan.

Atau lebih tepatnya, karena usulan itu datang terlalu mendadak, aku sampai dibuat tertinggal jauh di belakang... Lagian, mana mungkin ada orang yang bisa menduga hal semacam ini bakal terjadi?

Kenapa juga senpai yang baru kukenal hari ini tiba-tiba minta jadi Nee-chan perempuanku... Ya memang sih, punya gal senpai seksi begitu sebagai Nee-chan perempuan pasti menyenangkan, tapi bukan berarti aku tidak akan kebingungan.

"......Yah, anggap saja itu cuma ucapan asal."

Karena Arisa-san sudah pergi, maksud sebenarnya di balik ucapan itu tetap menjadi misteri.

...Sebaiknya aku pulang juga deh.

Saat itu, aku sama sekali tidak menganggap serius ucapan "Nee-chan perempuan" dari Arisa-san—aku tidak menyangka kalau kata-kata itu sama sekali bukan sebuah kebohongan... apalagi bukan sekadar diucapkan demi melampiaskan dorongan sesaat.

Terlebih, hal itu terbukti keesokan harinya.

 

 

"Gimana, tuh~!"

"Terus begini~!"

"Iya, iya, iya... Keren banget, ya."

Keesokan harinya setelah insiden ucapan "Nee-chan perempuan" dari Arisa-san.

Tepat sebelum jam homeroom pagi saat aku sedang mengobrol santai dengan pasangan bodoh Kanata dan Rio, tiba-tiba seseorang dari seberang kelas memanggilku.

"Woi, Mikasa!"

"Ha? Apaan?"

"Ada senpai yang nyariin kamu tuh, dia datang ke depan kelas!"

Senpai...? Siapa yang repot-repot datang sampai ke depan kelas segala?

Kemungkinan terbesarnya adalah pemerasan uang... Tapi karena aku sama sekali tidak merasa pernah membuat senpai mana pun kesal, kurasa aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang mengancam untuk saat ini, kan?

"Woi, kamu nggak apa-apa?"

"Ha? Siapa...?"

Mengesampingkan Kanata yang duduk di dekatku, Rio tampak jelas bersiap waspada.

Padahal mereka tidak ada urusannya dan ini masalahku seorang diri… Tapi sikap Rio yang mengkhawatirkanku ini memang sudah biasa terjadi seperti biasanya.

"Bentar ya, aku ke sana dulu."

"Y, ya..."

"Kalau sampai diapa-apain, bilang ya?"

"Iya."

Kupikir membiarkannya menunggu terlalu lama tidak baik, jadi aku langsung melangkah keluar ke koridor.

"......Eh, Hinata-san!?"

"......Akhirnya keluar juga."

Ternyata orang yang sedang menungguku adalah Hinata-san.

Meskipun Hinata-san sedang melipat kedua tangannya dengan ekspresi cemberut, dan posisinya berada di koridor depan kelas yang mengundang tatapan penasaran dari banyak orang, dia sama sekali tidak peduli dan langsung mencengkeram tanganku untuk mulai berjalan.

Sesampainya kami di lantai tiga, perhatian dari para senpai lain juga tertuju ke arah kami sehingga kami semakin menjadi pusat perhatian… Tapi.

"Jangan diliatin terus."

"B, baik-baik!!"

"Maafkan kami!!"

Selama perjalanan menuju ruang kelas kosong, para senpai yang menatap kami dengan rasa penasaran langsung ketakutan setengah mati karena serangan tatapan tajam Hinata-san, lalu membuang muka dan bubar kocar-kacir seperti sekumpulan laba-laba.

Beberapa tatapan yang tertuju pada kami bahkan mengandung unsur kecemburuan, namun sebelum sempat memedulikan hal itu, kami sudah tiba di dalam ruang kelas kosong.

"Hinata-san...?"

"......"

Begitu tiba di dalam kelas kosong, aku langsung didesak mundur ke dekat dinding.

Sebuah wall-don tercipta dengan suara benturan yang cukup keras, dan tekad kuat untuk tidak membiarkanku kabur terpancar jelas dari mata Hinata-san.

Seketika itu juga, bibir kami bertaut dalam ciuman, dan lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulutku dengan ganas.

"nn!?"

"Uhn... Chu... Juru!"

Ciuman yang berlangsung selama puluhan detik itu bahkan tidak memberiku kesempatan sekadar untuk mengambil napas.




Merespons ciuman tersebut sambil menarik napas dalam-dalam, Hinata-san kembali menatapku dengan tatapan tajam.

Tatapan memicing separah itu pastinya punya alasan tertentu... Dan saat itulah nama Arisa-san terlintas di kepalaku.

"Tadi, aku dengar dari Arisa."

"A, iya."

"Apa maksudnya dia bilang mau jadi Nee-chan perempuanmu?"

B, benar kan, ini pasti gara-gara Arisa-san!

Maksudku, wanita itu, baru sehari berlalu, tapi dia sudah langsung ngomong!? Ah, bukan, yang lebih penting lagi, apakah dia benar-benar berniat serius jadi Nee-chan perempuanku!? Hah!?

"Itu..."

"Apa?"

Alih-alih melonggarkan posisi wall-don, dia bahkan tidak berkedip sama sekali, sungguh menyeramkan.

"Um... aku mohon izinkan aku menjelaskan."

"Jelaskan."

"Baik, Bos!"

Saking takutnya, aku bahkan sempat memberikan hormat militer sebelum menjelaskan situasinya dengan lancar dan tegas.

"Begitu ya..."

"......Iya."

Begitu seluruh penjelasanku selesai, Hinata-san akhirnya melembutkan ekspresinya.

"Seperti yang kubilang tadi, Arisa memang sangat menyayangi adiknya, tapi karena dia berinteraksi dengan Tsubaki, semua rasa sayang yang tadinya diarahkan ke adiknya itu mungkin jadi pindah sepenuhnya ke kamu."

"Tapi itu kan cuma usulan mendadak, mana mungkin ada orang yang mau serius jadi Nee-chan perempuan, kan? Itu pasti cuma keisengan sesaat dan nggak ada apa-apa, kan?"

"Entahlah ya... Waktu Arisa cerita tadi, tingkat kegirangannya bukan main, jadi rasanya sulit dipercaya kalau itu nggak ada apa-apa."

"............"

"Tsubaki."

"!? "

Tanpa kusadari, jarak antara aku dan Hinata-san yang tadinya berdiri di depanku kini sudah mencair menjadi nol.

Menyadari mataku yang terbelalak kaget karena ulahnya yang tiba-tiba, Hinata-san langsung mendaratkan ciuman mendalam yang terasa jauh lebih beringas dari sebelumnya.

Itu adalah ciuman dengan sensasi seolah-olah seluruh air liur di dalam rongga mulutku disedot habis, ciuman penuh penaklukan yang membuatku merasa benar-benar dijajah.

"......Tsubaki itu milikku. Aku juga cuma milik Tsubaki seorang."

Saat wajah kami menjauh, seutas jembatan air liur yang berkilau keperakan tampak menghubungkan aku dan Hinata-san.

Dari tatapan Hinata-san yang mengarah kepadaku, tersirat rasa ingin menguasai yang begitu mutlak dan luar biasa, membuatku sempat merasa ngeri sesaat pada Hinata-san, namun ketakutan itu langsung lenyap seketika begitu aku membayangkan sisi erotis dari Hinata-san.

"Nih, Tsubaki."

"Ya?"

"Bagaimana kalau homeroom, jam pelajaran pertama, sama jam pelajaran kedua kita bolos saja?"

"......Eh!?"

Maksudnya itu...!?

Kalau aku tidak menolaknya sekarang, aku bisa melakukan hubungan mesum dengan Hinata-san... Hati ini langsung melonjak kegirangan mendengarnya, tapi tentu saja aku mati-matian mencoba membujuk Hinata-san karena bolos sekolah itu perbuatan yang salah, tapi...

"Tubuhku sudah panas banget, Tsubaki... Tolong, peluk aku ya?"

"Ugh..."

"Bagian dadaku juga boleh kamu perlakukan sesukamu kok... Ya? Ayo kita sama-sama merasa nikmat, Tsubaki."

"Gugh...!"

Apakah makhluk yang berdiri di depanku ini adalah sesosok succubus!?

Ekspresi dan suara penuh harap itu hampir saja membuatku mengangguk, tapi aku mati-matian berusaha menahannya... Namun tubuhku ini ternyata terlalu jujur, tanganku secara refleks terulur ke arah Hinata-san dan langsung meremas payudara besarnya dengan kuat.

"......Ah."

"Fufu, Tsubaki ternyata juga sudah siap, ya"

Lembut banget... Eh, lepaskan! Kalau tidak dilepaskan, aku tidak bakal bisa balik ke kelas nanti, tahu!?

Meskipun aku sudah meneriakkan peringatan itu sekuat tenaga di dalam hati, tanganku sama sekali tidak mau mendengarkan perintah dan terus-menerus meremas-remas dada jumbo milik Hinata-san.

"......Yah, bolos tadi itu sembilan puluh persen cuma gombalan kok."

"Sembilan puluh persen itu rasanya bukan dibilang cuma gombalan..."

"Ya, benar juga sih. Makanya, kali ini cukup kukira-kira pakai ciuman saja... Tapi, aku mau kamu meremas dadaku sampai mepet waktunya habis. Kalau diremas sama Tsubaki, rasanya begitu nikmat sampai-samain aku serasa mau klimaks cuma dari bagian dada doang"

Bukan hanya merona merah di bagian pipi, dia bahkan mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berkaca-kaca basah.

Kalau sudah dibujuk sampai separah ini, sebagai seorang pria, aku tidak mungkin mengabaikan harapannya. Lagipula, lagipula aku sendiri juga sudah tidak sanggup menahan diri lagi.

"Hinata-san... Aku, senang banget. Kamu sampai sebegitu percayanya sama aku... Um, boleh aku jilat payudaranya?"

...Eh, dasar kau ini bodoh!

Apa-apaan yang baru saja kukatakan di situasi begini!

Aku sempat mengerahkan rasionalitasku dengan membatin bahwa aku menarik ucapanku dan tidak mungkin melakukan hal senonoh di lingkungan sekolah, namun Hinata-san malah menarik kepalaku dengan kuat dan langsung membawanya merapat ke dadanya.

"Boleh kok, diisap atau digigit juga tidak apa-apa, ya"

Waktu yang tersisa sebelum upacara dimulai sebenarnya tinggal sebentar lagi, tapi sela-sela waktu singkat itu terasa begitu manis bagaikan berada di surga.

Setelah kejadian itu, aku berpisah dengan Hinata-san yang sempat tersenyum masam karena celananya basah dan repot karenanya, lalu aku kembali ke kelas. Tentu saja Kanata dan Rio sempat mengkhawatirkanku, tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja agar mereka tidak cemas.

(Hah... Hari-hari macam apa ini, penuh dengan nuansa erotis.)

Tentu saja, pelajaran setelah itu sama sekali tidak bisa masuk ke dalam kepalaku.

Semua itu gara-gara aku terus-menerus membayangkan Hinata-san, sosok yang tiba-tiba menyusup ke dalam keseharianku dan dalam sekejap mata berhasil merajai seluruh pikiranku.

"W-woi, Mikasa."

"......A, iya!?"

"Wajahmu merah banget tuh? Kamu lagi demam, ya?"

"T, tidak apa-apa...!"

"Begitu ya... Kalau nanti badannya terasa tidak enak, bilang saja ya?"

"......Terima kasih banyak."

Interaksi singkat di tengah jam pelajaran, tapi guru ini terlalu berbaik hati padaku... Aku terus meminta maaf di dalam hati karena sejak tadi hanya memikirkan angan-angan mesum melulu.

Waktu bergulir hingga jam kepulangan sekolah tiba, dan di saat rasa berahi yang dipicu oleh interaksi bersama Hinata-san masih menyisakan bara-bara kecil... Aku mendadak disergap oleh sosok yang tidak terduga.

"Tebak siapa."

Saat sedang berjalan sendirian di perjalanan pulang, aku tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di belakangku.

Langkahnya terhenti ketika matanya ditutup dari belakang diiringi suara yang bernada imut, tapi aku langsung tahu siapa pelaku di balik keisengan ini.

"Arisa-san...?"

"Tepat sekali♪ Ini aku♪"

Benar saja, saat aku menoleh ke belakang, sosok yang berdiri di sana adalah Arisa-san.

Pada detik itu, aku mendapat firasat kuat――bahwa kedatangan Arisa-san ini pasti akan mendatangkan gelombang kekacauan yang besar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment