Chapter 2
Keseharian yang Berubah
"......Belakangan ini, bangun tidurku
terasa enak banget."
Akhir-akhir ini... Lebih tepatnya, sejak
aku mengenal Hinata-san, rasanya aku terbangun di pagi hari dengan sangat segar
dan dibarengi dengan tubuh yang terasa begitu ringan.
Mungkinkah ini berkat hari-hari kami yang
begitu merangsang dan penuh gairah bersama Hinata-san...?
Aku tidak tahu alasannya, tapi rasanya
pasti memang begitu.
"Hinata-san... Hinata-san...
Hinata...!"
Meskipun hanya terbatas saat sedang h-an,
memanggilnya tanpa gelar... masih belum terlalu terbiasa.
Tapi melihatnya mau mengatakan hal seperti
itu, artinya dia benar-benar telah membuka hatinya untukku... Senang banget
rasanya!
"......Eh?"
Tanpa jera terus memikirkan Hinata-san, aku
melihat punggung Kanata dan Rio yang sedang berjalan di depanku.
Kemesraan mereka yang tidak pernah berubah
membuatku merasa gemas, tapi melihat pemandangan seperti itu membuatku sadar
bahwa seakrab apa pun kita sebagai teman, ada batas di mana kita tidak bisa
sembarangan mendekat.
"Begini ya... Masalah yang rumit juga,
sih."
Ngomong-ngomong, Ibu pernah bilang... Kalau
sudah menikah dan berumah tangga, tidak aneh jika seakrab apa pun persahabatan
kalian, lambat laun kalian akan menjadi renggang.
"Tapi ya mau bagaimana lagi, ya..."
"Apaan yang mau bagaimana lagi?"
"Memangnya
apa yang mau bagaimana?"
"......Eh?"
Ini
murni kecerobohanku yang berjalan sambil menunduk dan memikirkan berbagai hal.
Karena
alasan itu pula, begitu aku mengangkat wajah, kepalaku langsung menghantam dagu
Kanata yang tahu-tahu sudah berdiri tepat di depanku.
"Gaphff!?"
"Kanata!?"
"Poin penuh! K.O.!"
Berbeda dengan aku yang panik
mengkhawatirkannya, Rio malah berekspresi antusias menirukan wasit padahal
pacarnya sendiri baru saja jatuh menduduki lantai.
"Maaf Kanata, kamu nggak apa-apa?"
"Y, ya."
"Meskipun begitu, serangan telak yang
bagus sekali, ya!"
Rio-san, tolong khawatirin pacar kamu dulu
sana.
Meskipun sudah kepergok oleh mereka berdua,
aku tadinya berharap mereka bisa jalan duluan dengan mesra, tapi pada akhirnya
kami malah memutuskan untuk berangkat sekolah bersama.
Sambil berjalan diapit oleh aku dan Rio dengan
Kanata di tengah, tentu saja topik tentang apa yang kupikirkan tadi kembali
diungkit, jadi kupikir ya sudahlah dan aku menceritakannya.
"Yaelah, ngapain dipusingin segala? Main
biasa aja kali."
"Iya benar. Kalau Kanata sibuk, nanti aku
saja yang temani main!"
"Justru
itu masalahnya, nggak usah!"
Begitulah,
meskipun diselingi sedikit celotehan protes, aku tetap merasa disemangati.
Jangan-jangan
mereka berdua ini... Kasihan padaku karena mengira aku tidak akan pernah punya
pacar atau menikah seumur hidup?
Mikirnya
kejauhan banget, batin-ku sambil menggelengkan kepala lalu mengalihkan topik ke
hal lain.
"Urusanku nggak usah dipikirin. Kanata
gimana? Performa sepak bolanya lancar?"
"Lancar jaya! Aku sudah
berhasil merebut kepercayaan para senior dan junior."
"Dari kelas satu juga sudah mantap
banget, kok. Kanata kan diandalkan sama semuanya!"
"Heheh! Lumayanlah!"
Mendengar pujian Rio, Kanata tampak senang,
tapi itu semua karena Kanata punya daya juang dan rasa percaya diri yang
mutlak.
Terkadang aku melihatnya saat jam pelajaran
olahraga, dan Kanata memang benar-benar jago main bola.
Apalagi karena Rio selalu mengawasinya selama
jam kegiatan klub, Kanata pasti bisa mengerahkan kemampuan melebihi biasanya.
"Kanata itu... keren ya."
"......Makasih."
Kanata mengusap hidungnya dengan ekspresi
malu-malu.
"Hmm... Untung saja Tsubaki-kun bukan
cewek... Kalau iya, dia pasti bakal jadi saingan berat."
"Apaan sih."
Setelah itu, dengan keributan kami yang tidak
pernah luntur, kami akhirnya sampai di sekolah.
Begitu tiba di area gedung sekolah, suasananya
memang mereda dan jadi lebih tenang, tapi di situlah aku melihat Hinata-san.
Hari ini sepertinya dia bersama Murakumo-senpai
lagi, dan dengan ekspresi dinginnya, Hinata-san menanggapi obrolan Murakumo-senpai.
"......Hari ini pun dia tetap cantik
banget ya, Hinata-san."
Tepat saat aku bergumam begitu, pandangan kami
berpapasan.
Hubunganku dan Hinata-san adalah rahasia
antara kita berdua... Jadi, kupikir reaksinya tidak akan terlalu mencolok di
tempat ramai seperti sebelumnya, tapi di luar dugaan, dia malah menunjukkan
reaksi membuang muka dengan cepat.
Apalagi aku sempat melihat pipinya sedikit
merona merah, kalau diberi reaksi seperti itu kan aku jadi ikut-ikutan merasa
malu.
"......Nih, Hinata? Kayak kemarin-kemarin
juga sih... Ada apa sebenarnya?"
"Bukan apa-apa."
"Tsubaki! Lagi ngapain di situ~!"
"Ayo cepat ke sini~!"
"O, ooh!"
Setelah berpisah sejenak dari Hinata-san,
begitu aku sampai di kelas, sebuah pesan langsung masuk.
『Istirahat siang nanti, di tempat biasa ya.』
Pesan itu sukses membuat dadaku berdebar
kencang, dan aku langsung membalasnya dengan mengatakan bahwa aku pasti datang.
▼▽
Jam istirahat siang.
Begitu selesai makan siang, aku langsung
bergegas menuju ruang kelas kosong di lantai tiga.
"Permisi...!"
"Selamat datang."
Hinata-san sudah duduk di dekat jendela
menungguku.
Senyum manis terkembang di wajahnya sambil
merentangkan kedua tangan, yang langsung kujadikan aba-aba untuk mendekat, dan
begitu jarak di antara kami lenyap, aku langsung didekap dengan erat.
"Makasih ya sudah datang."
"Karena dipanggil sama Hinata-san... Aku
sudah nunggu-nunggu banget dari tadi."
"nn...♪"
Aku didekap lebih erat dan sepenuh tenaga.
Seperti biasa, kehangatan dan kelembutan
yang menenangkan serta membuat hatiku bahagia kurasakan seutuhnya, dan
memanfaatkan fakta bahwa Hinata-san tidak bisa melihat ekspresiku, wajahku
langsung mengendur selebar-lebarnya.
Aku pun mengerahkan seluruh tenaga untuk
melingkarkan lengannya ke punggung Hinata-san dan memeluknya balik... Tepat pada saat itu.
"Huuun... Kukira cuma perasaanku saja
yang curiga, tapi ternyata begini ya rupanya."
Tiba-tiba, suara pihak ketiga yang sama sekali
bukan aku maupun Hinata-san menggema di ruangan itu.
"Eh...?"
"......Cih."
Berbeda dengan diriku yang langsung terkejut
setengah mati, Hinata-san justru melontarkan decakan lidah dengan ekspresi
sangat kesal yang membuatku ikut terperanjat, dan begitu aku menoleh pelan ke
belakang, kulihat sosok perempuan berambut pirang tersenyum usil berdiri di
sana.
"Keta-huan deh♪"
Yang masuk adalah sahabat Hinata-san, Murakumo-senpai.
Murakumo-senpai
masuk begitu saja dengan penuh percaya diri, tapi dia langsung menggembungkan
pipinya dan menyerang Hinata-san.
"Nggak
usah pakai decak lidah segala dong!"
"Berisik,
terus ada perlu apa?"
Hinata-san
bangkit berdiri dan menyembunyikanku di balik punggungnya.
Kurasa
bersembunyi sekarang pun sudah tidak ada artinya lagi, tapi sepertinya lebih
baik menuruti Hinata-san saja dengan patuh.
"Meskipun sembunyi sekarang juga
percuma..."
"Nggak, karena di sini nggak ada
siapa-siapa selain aku."
"Eh, padahal ada orang!"
"Nggak ada."
"Nggak mungkinlah, sudah jelas ada!"
"Udah dibilang nggak ada ya nggak
ada."
"Makanya dibilang nggak
mungkin!"
"Berisik banget, bitch sialan."
K-kejam banget!
Aku sempat takut melihat bagaimana reaksi Murakumo-senpai
atas sebutan bitch dari Hinata-san, tapi sepertinya dia baik-baik saja karena
dia menghentakkan kakinya ke lantai persis seperti contoh di buku… Atau lebih
tepatnya, melihatnya justru terasa sedikit menghibur.
Meskipun begitu, karena ini kesempatan langka,
aku ingin mengamati Murakumo-senpai sedikit.
Rambut pirangnya yang panjang dan indah
dibiarkan menjuntai sampai ke pinggang, dengan gaya berpakaian yang sama persis
seperti Hinata-san, yaitu membuka kancing bagian dadanya.
Rasanya sulit untuk tidak menganggapnya
sebagai gaya fesyen gal standar, tapi sekilas pandang... Dada Murakumo-senpai
bahkan tampak lebih besar daripada Hinata-san yang dadanya memang sudah besar.
"Hah...
Repot jadinya nih."
Yang
ngomong begitu adalah Hinata-san.
Tampaknya
dia sadar kalau sudah sejauh ini dia tidak bisa mengelak lagi, dan setelah
menghela napas pasrah, Hinata-san mengeluarkan suara yang suhunya terasa
membeku sampai ke tulang.
"Anak ini aku yang panggil. Biar
gampang kamu pahami, aku sangat menyukai anak ini... Makanya kalau kamu sampai
berbuat macam-macam, Arisa—sekalipun pelakunya kamu, aku gak bakal maafin."
Aku belum pernah mendengar suara
Hinata-san seperti itu.
Tanpa sadar, aku merasa ngeri dan mundur
selangkah, namun Murakumo-senpai yang menerima tatapan Hinata-san secara
langsung justru memasang ekspresi santai.
"Huuun... Yah, aku nggak mau dibenci
sama Hinata, jadi aku nggak bakal berbuat aneh-aneh kok."
"......Sungguh?."
"Wah, tingkat kepercayaannya rendah
banget ya... Tapi, Hinata yang begitu menyukai seseorang sampai segitunya kan
belum pernah ada sebelumnya, kan? Tadi sempat lihat kalian berpelukan sedikit,
tapi ekspresi Hinata yang meleleh sampai sebegitunya itu benar-benar langka
banget."
"......Berisik."
Hinata-san menunduk malu, dan memanfaatkan
celah itu, Murakumo-senpai mendekat.
"Sudah pernah lihat beberapa kali sih,
tapi salam kenal. Aku Murakumo Arisa, salam kenal ya junior-kun."
"A, iya... Tsubaki Mikasa. Salam
kenal."
"Nggak usah kenal-kenalan."
Tepat saat Hinata-san mengeluarkan suara kesal
dan mencengkeram kepalaku, Murakumo-senpai lenyap dari pandanganku… Eh, bukan,
rupanya aku malah ditarik dan didekap masuk ke dalam pelukan dada Hinata-san.
Wajahku terjepit di antara keempukan yang
kenyal itu, yang artinya wajahku sekarang ada di dalam belahan dada Hinata-san!
"Mugaf!"
"Makanya, jangan banyak gerak, geli
tahu."
Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau
aku tidak usah diginiin... Tentu saja aku tidak mungkin ngomong begitu.
Karena aku memang suka diginiin, dan
berada di posisi ini membuatku bisa merasakan aroma Hinata-san sepenuhnya, jadi
rasanya bahagia banget!
"Mikasa-kun ya... Hinata beneran naksir
berat rupanya."
"Kan sudah kubilang dari tadi.
Pokoknya, kami sudah sering melakukan berbagai macam hal juga."
"!? "
"Ooh, bahkan sudah sampai tahap itu
ya."
Tampaknya kemajuan hubungan kami di luar
dugaan Murakumo-senpai, membuat dia bertepuk tangan pelan.
"Puhaah!"
"Ah, maaf Tsubaki... Sesak ya?"
"Enggak... Memang sempat terasa sedikit
sesak sih, tapi aku suka diperlakukan begitu sama Hinata-san."
"T-Tsubaki! ♡"
"Mugagagaf!?"
Dan sekali lagi, aku terjepit di antara
payudara!
Tapi kali ini, mungkin karena dia sudah
memperhitungkan agar aku tidak sesak, Hinata-san membiarkannya merasakan bagian
dalam belahan dadanya yang terasa sangat nyaman.
"Sumpah bucin banget... Padahal
sebelumnya, kamu bahkan nggak pernah ngizinkan siapa pun manggil namamu tanpa
gelar kecuali mantan pacar masa kecilmu itu, lho."
"Jangan sebutkan kosakata yang bikin
jijik."
"Iya, iya, maaf."
Barulah di saat itu aku akhirnya dibebaskan
dari dalam pelukan dada Hinata-san.
Tentu saja ada rasa berat hati untuk
meleaskannya, tapi dengan menjauhnya aku dari Hinata-san, aku kembali
berhadapan langsung dengan Murakumo-senpai, yang lantas mengamati seluruh
tubuhku dari kepala sampai ujung kaki.
"Kelihatan kayak junior biasa aja sih,
tapi apa ada sesuatu yang bikin Hinata kesengsem ya?"
"Jangan diliatin terus."
"Tuh kan, reaksi kamu nunjukin banget
kalau junior-kun ini... Oh iya, aku juga boleh manggil kamu Tsubaki-kun
nggak?"
"A, iya...?"
"Sebagai gantinya, kamu juga boleh
manggil aku Arisa."
"Nggak usah dipanggil begitu."
Hinata-san menatap tajam ke arah Murakumo-senpai...
Ah, panggil Arisa-san saja kali ya.
Hinata-san melototi Arisa-san, dan percikan
bunga api tampak beterbangan di antara mereka berdua.
Aku... harus gimana nih?
Tentu saja aku tidak berniat kabur, jadi aku
terus mengamati mereka untuk sementara waktu.
Setelah Arisa-san akhirnya mengalah dan
menghela napas, dia melontarkan pertanyaan ini.
"Ngomong-ngomong,
kalian berdua ini pacaran?"
"Enggak."
"Kami
nggak pacaran kok."
"Heeh...
Dengan kata lain, kalian sex friend ya."
Aku dan Hinata-san mengangguk.
"Untuk ukuran sex friend, tingkat
kesukaan Hinata beneran luar biasa lho? Kalau begini jadinya, aku kan jadi agak
penasaran juga."
Sambil memancarkan tatapan memikat, Arisa-san
menjilat bibirnya.
Seperti yang kuduga, Arisa-san juga adalah
seorang wanita yang memancarkan aura erotis, dan dalam hal sifat itu, dia
bahkan mungkin melebihi Hinata-san.
Hanya saja... Aku tidak merasa begitu
berdebar dengan gestur Arisa-san.
Apakah ini mungkin karena ketahanan
tubuhku yang meningkat setelah menghabiskan waktu bersama Hinata-san…?
"Eh... Padahal cowok-cowok di kelas
biasanya langsung merah mukanya kalau diginiin lho?"
"......Memang sih Arisa-san itu
cantik dan punya bentuk tubuh yang bagus, tapi mungkin karena aku sering
berurusan sama Hinata-san, cowok kayak aku pun sepertinya sudah punya sedikit
ketahanan."
"Itu sama saja kayak kamu ngomong
secara tidak langsung kalau aku juga cantik, kan?"
"Iya, memang itu yang kumaksud."
Karena itu memang benar, aku mengangguk
dengan dada membusung.
Tiba-tiba, Hinata-san yang tadinya diam
saja langsung menggenggam tanganku, lalu menarikku begitu saja menuju pintu
keluar kelas.
"Hinata-san?"
"Kita ke gudang olahraga yuk."
"Eh?"
"Hinata?"
"Di sini kan nggak bisa h-an."
"Hah!?"
Aku tentu saja terkejut mendengar ucapan yang
tiba-tiba itu, tapi melihat pipi Hinata-san yang menggembung kesal, sepertinya
dia cemburu karena aku asyik mengobrol dengan Arisa-san tadi.
"T-tunggu, sebentar, kenapa tombolnya
malah aktif sekarang sih!?"
Giliran
Arisa-san yang mencengkeram pundak Hinata-san.
Kalau saja saat itu tidak dihentikan, aku
pasti sudah mengekor di belakang Hinata-san tanpa keraguan sedikit pun... Aku
benar-benar sudah parah rupanya.
"Terus Tsubaki mau gimana?"
"......Rasanya curang banget nanya
begitu di sini. Tapi kita kan anak sekolah, jadi ayo ikuti
pelajaran dengan benar ya? Bentar lagi juga jam istirahatnya selesai."
"......Kalau Tsubaki bilang begitu, ya
sudah."
"Wah... Hinata yang biasanya keras kepala
bisa sepakat dengan ini."
Aku sendiri masih belum begitu mengenal sosok
Hinata-san sehari-hari.
Kalau Arisa-san sampai ngomong begitu, berarti
masih ada banyak ekspresi Hinata-san yang belum kuketahui.
"......Sekali lagi kuperingatkan, jangan
pernah ngomong aneh-aneh ke Tsubaki, ya?"
"Aku tahu kok... Kalau sudah dibilang
begitu, ya aku nggak bakal berbuat macam-macam. Hinata kan tahu sendiri aku
nggak mungkin ngelakuin hal seburuk itu, kan?"
"......Itu benar juga sih. Kamu nggak
bakal pernah ngelakuin hal kayak gitu… Lagian, Tsubaki kan tipe cowok yang pas banget sama selera kamu."
"......Ehh!?"
A, apa... barusan ada kalimat yang nggak
boleh dilewatkan terdengar!?
Aku… tipe cowok yang jadi selera
Arisa-san…? Enggak, enggak, mana mungkin ada hal seperti itu――.
"A, apa sih yang kamu omongin! Mana
mungkin anak yang baru kenal aku ngomong begitu… Maksudku kayak, kalau bisa
pengin ngobrol lebih lama lagi kek, atau rasanya imut kayak adik sendiri kek,
sama sekali nggak ada pikiran kayak gitu ya!"
Dia lagi salah tingkah berat, kan!?
Dia menyangkalnya sambil merona merah dan
melambaikan tangan heboh, justru karena itulah dia kelihatan sangat polos dan
sepertinya bukan tipe orang yang bisa berbohong.
"Arisa kan punya adik tiri cowok satu
tingkat di bawahnya dan dia sangat menyayanginya, tapi akhir-akhir ini adiknya
itu lagi masuk masa pemberontakan, jadi hubungan mereka agak renggang."
"Begitu ya..."
"Dia itu tipe orang yang sangat
menyayangi adiknya sampai-sampai nggak tertahankan. Makanya, selain karena
melihatku memanjakan Tsubaki, Tsubaki sendiri juga punya tipe atmosfer yang
secara alami bisa memikat wanita yang lebih tua."
"Aku nggak begitu paham sih..."
Ngomong-ngomong, entah sejak kapan
Arisa-san sudah tidak ada di tempat.
Mungkin dia tidak tahan menahan rasa malu,
tapi mengingat waktu istirahat siang juga sudah hampir habis.
Aku harus berpisah dengan Hinata-san, tapi
Hinata-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskannya.
"Sampai nanti..."
"Iya."
"......Sampai nanti."
"Ah, iya… sampai nanti."
"......Sampai nanti!"
Dih, kapan lepasnya nih~?
Namun, kenyataan bahwa Hinata-san yang
bersikap begitu imut adalah hal yang tidak terbantahkan, dan pada akhirnya kami
berpelukan erat-erat sekali lagi sebelum berpisah.
***
Hari ini aku sudah tidak punya rencana untuk bertemu
dengan Hinata-san lagi.
Tapi, kalau aku mengirim pesan pada Hinata-san
untuk mengajak berkencan sepulang sekolah nanti... Rasanya dia bakal bilang
iya.
"Coba ajak jalan dalam waktu dekat
deh."
Sambil menyusun rencana itu, waktu berlalu
hingga jam kepulangan sekolah tiba.
Mengingat kembali obrolan saat istirahat siang
bersama Hinata-san, aku juga teringat pada pertemuan pertamaku dengan
Arisa-san.
Awalnya sempat kiran bakal jadi masalah besar,
tapi kesan yang kudapat adalah Arisa-san ternyata bukan orang jahat, melainkan
orang yang baik.
"Tapi
ngomong-ngomong soal adik cowok ya... Emangnya benar aku tipe yang bisa memikat
wanita yang lebih tua?"
Itu memang dibilang oleh Hinata-san, tapi aku
sama sekali tidak merasa punya daya tarik seperti itu.
Sebelumnya sama sekali tidak ada kejadian di
mana aku disukai oleh wanita yang lebih tua, dan meskipun rasa suka…nya belum
terlalu jelas, satu-satunya orang yang kupercaya benar-benar menyukaiku sampai
saat ini ya cuma Hinata-san.
"Yah sudahlah, tinggal beli manga yang
terbit hari ini terus…"
Di tengah suasana hati yang bagus, saat aku
sedang berjalan-jalan santai di jalanan kota.
"T, tunggu sebentar, Takuya――"
"Ah, sudahlah! Sudah kubilang jangan
cerewet, wanita sialan!"
Suara kasar yang tidak menyenangkan
menggetarkan gendang telingaku.
Berantem di tengah kota gini... Baru saja
aku memikirkan hal itu sekilas, tapi saat aku melirik ke sumber suara karena
merasa suara itu tidak asing, aku berseru kaget.
"......Arisa-san?"
Ternyata, orang yang berdiri di sana adalah
Arisa-san.
Di hadapan Arisa-san berdiri seorang cowok
sebayaku... Dan umpatan wanita sialan barusan sepertinya dilontarkan oleh cowok
itu.
"Itu… pacarnya?"
Bagi seorang wanita secantik Arisa-san, wajar
saja kalau punya satu atau dua pacar, tapi cowok yang diduga pacarnya itu
menepis kasar tangan Arisa-san yang terulur, lalu pergi begitu saja seolah-olah
hendak meludahi Arisa-san.
"......Eh?"
"......Ah."
Bertatapan dengan Arisa-san yang sedang
mengusap uluran tangannya dengan ekspresi sedih.
Baru saja siang tadi kami mengobrol dan
berpisah dengan sedikit kecanggungan, tapi aku benar-benar tidak menyangka akan
bertemu lagi dalam situasi seperti ini, membuatku sama sekali belum siap secara
mental.
Namun, dia memang pantas disebut sebagai
gal senpai yang mewakili para gyaru populer.
Arisa-san seketika mengubah ekspresinya,
lalu mendekat dengan senyuman cerah yang sangat cocok untuknya.
"Halo, Tsubaki-kun... Kayaknya kamu
sempat lihat bagian yang memalukan, ya."
"Enggak... Apa itu tadi pacarnya?"
"Bukan, bukan. Itu adikku."
"Ah begitu..."
Jadi begitu rupanya... Berarti yang barusan
itu adik yang dimaksud, ya.
"Adik tiri, ya? Hinata-san sudah sempat
cerita ke aku."
"Iya, kamu sudah dengar rupanya."
"......Tadi dia ngomong hal yang kejam
banget, ya."
"Bener banget tau! Dengerin ya,
Tsubaki-kun!"
Mendekatkan jarak kami lebih dekat lagi,
Arisa-san menggenggam tanganku erat-erat.
Aku langsung didudukkan di bangku taman
terdekat, dan dia mulai menceritakan tentang adiknya itu dengan nada bicara
yang penuh emosi.
"Dulu dia itu anak manis yang selalu
mengekor di belakangku sambil manggil 'Nee-chan, Nee-chan', bahkan sempat
bilang mau nikah sama aku, lho!"
"Manis banget, ya."
"Kan!?" Ya, walaupun nggak
mungkin kuanggap serius sih, aku tetap menyayanginya sebagai seorang
adik."
"Kamu menyayanginya seperti itu, tapi
sekarang dia malah masuk masa pemberontakan."
"Begitulah! Mulai masuk SMA, dia jadi
begitu, tapi mungkin penyebabnya gara-gara penampilanku yang kayak gini,
sih."
"Maksudnya karena kamu gyaru?"
"Iya, betul."
Aku rasa penampilannya saja tidak akan
membuatnya bersikap separah itu, tapi karena hanya sang adik yang tahu
alasannya, aku tidak bisa berkomentar banyak.
Mereka sudah bersama sejak lama, dan Arisa-san
sangat mempercayainya sampai-sampai adiknya bilang ingin menikahinya.
Di tengah situasi itu, tiba-tiba fase
pemberontakan datang… Dari cerita yang kudengar, sepertinya Arisa-san hanya
ingin memanjakannya, sementara di sisi lain sang adik menganggapnya menyebalkan
dan melontarkan kata-kata kasar, hingga akhirnya hubungan mereka bergeser ke
arah yang kurang baik.
"Walaupun kita nggak sedarah, dia
tetap adikku dan wajar kalau aku ingin menyayanginya… Jadi biarpun dia ngomong
kasar, aku anggap itu cuma rasa malu-malu kucingnya dan nggak terlalu
kupikirkan. Tapi kalau sampai bilang 'mati' atau 'enyah', rasanya agak menusuk
juga ya."
Arisa-san tersenyum lemah.
Memang benar, seberharga apa pun orang itu
bagimu, mendengar kata-kata "mati" atau "enyah" dari
anggota keluarga sendiri pasti terasa sangat menyakitkan... Aku memang tidak
punya pengalaman seperti itu, tapi membayangkan kekerasan verbal yang
merobek-robek hati pun sudah sangat mudah.
Lagi pula, kata "mati" adalah
salah satu ucapan yang paling tidak ingin kudengar maupun kuucapkan, bahkan
sebagai sebuah candaan sekalipun.
"Padahal aku nggak pernah berniat
bikin dia benci..."
Arisa-san merebahkan tubuhnya lemas di
bangku, dan aku yang tersenyum masam langsung berdiri untuk membeli minuman di
mesin penjual otomatis terdekat.
"Nih, buat kamu."
"Boleh?"
"Iya."
"Makasih♪"
Sepertinya dia benar-benar kehausan, karena
Arisa-san langsung meneguk minumannya tanpa jeda sedikit pun.
Baik aku maupun Arisa-san sama-sama
menghentikan percakapan sejenak, hingga minuman kami habis.
"Yah, masalah adikku itu biar waktu yang menyelesaikannya.
Urusan kata 'mati' atau 'enyah' sih biarin aja, lagian dibilang bitch sialan
aja aku sudah biasa."
"Emangnya boleh terbiasa sama hal kayak
gitu?"
"Ya gimana ya, penampilanku kan begini
dan omonganku sehari-hari juga begini. Lagian aku juga bukan perawan
lagi."
"Hah."
"Belakangan ini aku juga lagi sama sekali
nggak aktif."
Ehm, informasi itu rasanya tidak kubutuhkan
sama sekali.
"Emangnya Tsubaki-kun juga jijik sama
cewek kayak aku?"
"Eh? Enggak, kok, nggak sama
sekali."
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tapi ini
adalah isi hatiku yang sebenarnya.
Kalau dipikirkan beberapa waktu lalu, aku
mungkin bakal mengira orang-orang seperti Arisa-san hidup di dunia yang
berbeda, dan aku bisa memastikan nilai moral tentang kesucian kami juga
berbeda. Tapi sejak berurusan dengan Hinata-san, kurasa aku sudah punya
pemahaman yang cukup tentang hal semacam itu.
Atau lebih tepatnya, toh aku sendiri saat ini
sedang menikmati hubunganku dengan Hinata-san.
"Aku memang nggak begitu tahu soal
Arisa-san, dan kita juga nggak tinggal serumah seperti adikmu itu. Jadi wajar
saja kalau kita punya cara pandang yang berbeda."
"Itu benar juga, sih."
"Makanya, menurut sudut pandangku,
Arisa-san itu cantik, punya bentuk tubuh yang bagus, dan kalau melihat caramu
berinteraksi dengan Hinata-san, rasanya kamu itu seperti Nee-chan perempuan
yang baik."
Sepertinya aku sudah mulai bisa mengucapkan
kalimat-kalimat seperti ini, ya.
Aku sadar kalau kalimat yang diucapkan ini
kedengarannya memalukan, tapi interaksiku dengan Hinata-san-lah yang berhasil
memberiku kelonggaran mental sebesar ini.
"Nee-chan perempuan... ya."
"Iya. Seperti yang kubilang tadi,
setidaknya dari sudut pandangku... Kalau aku berada di posisi adikmu, aku yakin
hari-hari di mana Arisa-san ada di sisiku pasti nggak akan pernah terasa
kesepian."
"Aduh... Kamu jago banget bikin orang
senang, ya. Tapi, emangnya Tsubaki-kun sendiri pernah
merasa kesepian?"
"Ibuku kan sering meninggalkan rumah
karena urusan kerja."
"......Heeh."
Arisa-san melipat kedua tangannya seolah
sedang memikirkan sesuatu.
Gestur melipat tangan tepat di bawah dadanya
yang besar... Mengingat-ingat lagi, Hinata-san juga kadang-kadang melakukan
itu, apakah orang-orang berpayudara besar memang otomatis melipat tangan dengan
gaya seperti itu?
"Jangan-jangan kamu pengin dekat sama
Hinata karena kamu merasa kesepian?"
Mendengar pertanyaan itu, sekarang giliran
aku yang berpikir.
Waktu itu, aku memang penasaran pada
Hinata-san... Alasan terbesarnya adalah rasa khawatir karena tidak bisa
membiarkannya tinggal seorang diri di tengah hujan, ditambah sedikit niat
terselubung barangkali ada kesempatan.
Tapi... ya.
Alasan utamanya tetap karena aku merasa
khawatir.
"Itu... Di rumahku, Ayah sudah meninggal
sejak aku masih kecil, jadi Ibu yang membesarkanku seorang diri sampai
sekarang. Pasti ada banyak hal sulit yang dihadapinya, tapi Ibu nggak pernah
sekalipun berniat membuangku."
"......"
Membicarakan hal seperti ini terasa sangat
memalukan.
Tapi, penjelasan ini diperlukan untuk
menceritakan hubunganku dengan Hinata-san.
"Bukannya aku mau menyamakannya dengan
Ibu, tapi mungkin karena aku sudah menerima limpahan kebaikan seperti itu
secara utuh, aku jadi nggak bisa membiarkan orang yang sedang kesulitan. Yah,
aku nggak menolak kalau dibilang ada niat terselubung... Tapi aku benar-benar
nggak bisa membiarkan Hinata-san sendirian."
Arisa-san sama sekali tidak memotong
pembicaraanku.
Bahkan tanpa ada nada mengejek atau ekspresi
hendak menggoda sedikit pun, Arisa-san terus menatapku lurus-lurus.
"Makanya, itu... kembali ke topik awal!
Justru karena aku tahu rasanya tidak kesepian itu, aku cuma mau bilang kalau
seandainya punya Nee-chan perempuan seperti Arisa-san, pasti nggak akan merasa
kesepian. Kalau aku jadi adiknya, aku pasti mikir begitu!"
Maaf kalau susunan kata-kataku berantakan,
tapi Arisa-san malah tersenyum mendengarnya.
Ekspresi murungnya tadi sudah lenyap seolah
digantikan oleh perubahan suasana hati, dan Arisa-san kini memasang senyuman
manis yang begitu indah.
"Jangan-jangan aku sempat meremehkanmu
karena kamu adik kelas, ya."
"Eh?"
"Hei!"
Tiba-tiba saja Arisa-san mendekatkan tubuhnya
dengan gerakan cepat.
Gerakan itu membuat dadanya yang besar
berguncang lembut dan berhasil merampas pandanganku, namun kalimat berikutnya
yang meluncur dari bibir Arisa-san jauh lebih meresahkan.
"Sepertinya aku pengin jadi Nee-chan
perempuanmu, Tsubaki-kun!"
"......Ha?"
Wanita ini... lagi ngomong apa, sih?
"A, apa...?"
"Makanya, aku mau jadi Nee-chan
perempuanmu!"
Pendengaranku ternyata tidak salah... Nee-chan
perempuan!?
Aku
sempat khawatir apakah dia mendadak jadi agak aneh, tapi Arisa-san di depanku
ini memasang ekspresi serius sekaligus senyuman seolah bangga sudah
mendeklarasikannya... Eh?
"Maaf
ya tiba-tiba banget begini? Tapi aku serius, alias aku sudah kadung kepikiran
begitu!"
"A, anu...?"
"Meskipun kelihatannya begini, aku ini
tipe orang yang menepati apa yang kukatakan, lho. Jadi aku sudah memutuskan!
Aku akan jadi Nee-chan perempuanmu... Ehehe, salam kenal ya♪"
"......"
Pada akhirnya, aku tidak bisa membalas usulan
Arisa-san dengan kalimat lanjutan.
Atau lebih tepatnya, karena usulan itu datang
terlalu mendadak, aku sampai dibuat tertinggal jauh di belakang... Lagian, mana
mungkin ada orang yang bisa menduga hal semacam ini bakal terjadi?
Kenapa juga senpai yang baru kukenal hari ini
tiba-tiba minta jadi Nee-chan perempuanku... Ya memang sih, punya gal senpai
seksi begitu sebagai Nee-chan perempuan pasti menyenangkan, tapi bukan berarti
aku tidak akan kebingungan.
"......Yah,
anggap saja itu cuma ucapan asal."
Karena Arisa-san sudah pergi, maksud
sebenarnya di balik ucapan itu tetap menjadi misteri.
...Sebaiknya aku pulang juga deh.
Saat itu, aku sama sekali tidak menganggap
serius ucapan "Nee-chan perempuan" dari Arisa-san—aku tidak menyangka
kalau kata-kata itu sama sekali bukan sebuah kebohongan... apalagi bukan
sekadar diucapkan demi melampiaskan dorongan sesaat.
Terlebih, hal itu terbukti keesokan
harinya.
▼▽
"Gimana, tuh~!"
"Terus begini~!"
"Iya, iya, iya... Keren banget, ya."
Keesokan harinya setelah insiden ucapan "Nee-chan
perempuan" dari Arisa-san.
Tepat sebelum jam homeroom pagi saat aku
sedang mengobrol santai dengan pasangan bodoh Kanata dan Rio, tiba-tiba
seseorang dari seberang kelas memanggilku.
"Woi, Mikasa!"
"Ha? Apaan?"
"Ada senpai yang nyariin kamu tuh, dia
datang ke depan kelas!"
Senpai...? Siapa yang repot-repot datang
sampai ke depan kelas segala?
Kemungkinan terbesarnya adalah pemerasan
uang... Tapi karena aku sama sekali tidak merasa pernah membuat senpai mana pun
kesal, kurasa aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang mengancam untuk saat ini,
kan?
"Woi, kamu nggak apa-apa?"
"Ha? Siapa...?"
Mengesampingkan Kanata yang duduk di dekatku,
Rio tampak jelas bersiap waspada.
Padahal mereka tidak ada urusannya dan ini
masalahku seorang diri… Tapi sikap Rio yang mengkhawatirkanku ini memang sudah
biasa terjadi seperti biasanya.
"Bentar ya, aku ke sana dulu."
"Y, ya..."
"Kalau sampai diapa-apain, bilang
ya?"
"Iya."
Kupikir membiarkannya menunggu terlalu lama
tidak baik, jadi aku langsung melangkah keluar ke koridor.
"......Eh, Hinata-san!?"
"......Akhirnya keluar juga."
Ternyata orang yang sedang menungguku adalah
Hinata-san.
Meskipun Hinata-san sedang melipat kedua
tangannya dengan ekspresi cemberut, dan posisinya berada di koridor depan kelas
yang mengundang tatapan penasaran dari banyak orang, dia sama sekali tidak
peduli dan langsung mencengkeram tanganku untuk mulai berjalan.
Sesampainya kami di lantai tiga, perhatian
dari para senpai lain juga tertuju ke arah kami sehingga kami semakin menjadi
pusat perhatian… Tapi.
"Jangan diliatin terus."
"B, baik-baik!!"
"Maafkan kami!!"
Selama perjalanan menuju ruang kelas kosong,
para senpai yang menatap kami dengan rasa penasaran langsung ketakutan setengah
mati karena serangan tatapan tajam Hinata-san, lalu membuang muka dan bubar
kocar-kacir seperti sekumpulan laba-laba.
Beberapa tatapan yang tertuju pada kami bahkan
mengandung unsur kecemburuan, namun sebelum sempat memedulikan hal itu, kami
sudah tiba di dalam ruang kelas kosong.
"Hinata-san...?"
"......"
Begitu tiba di dalam kelas kosong, aku
langsung didesak mundur ke dekat dinding.
Sebuah wall-don tercipta dengan suara
benturan yang cukup keras, dan tekad kuat untuk tidak membiarkanku kabur
terpancar jelas dari mata Hinata-san.
Seketika itu juga, bibir kami bertaut
dalam ciuman, dan lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulutku dengan
ganas.
"nn!?"
"Uhn... Chu... Juru!"
Ciuman yang berlangsung selama puluhan
detik itu bahkan tidak memberiku kesempatan sekadar untuk mengambil napas.
Merespons ciuman tersebut sambil menarik napas
dalam-dalam, Hinata-san kembali menatapku dengan tatapan tajam.
Tatapan memicing separah itu pastinya punya
alasan tertentu... Dan saat itulah nama Arisa-san terlintas di kepalaku.
"Tadi, aku dengar dari Arisa."
"A, iya."
"Apa maksudnya dia bilang mau jadi Nee-chan
perempuanmu?"
B, benar kan, ini pasti gara-gara
Arisa-san!
Maksudku, wanita itu, baru sehari berlalu,
tapi dia sudah langsung ngomong!? Ah, bukan, yang lebih penting lagi, apakah
dia benar-benar berniat serius jadi Nee-chan perempuanku!? Hah!?
"Itu..."
"Apa?"
Alih-alih melonggarkan posisi wall-don,
dia bahkan tidak berkedip sama sekali, sungguh menyeramkan.
"Um... aku mohon izinkan aku
menjelaskan."
"Jelaskan."
"Baik, Bos!"
Saking takutnya, aku bahkan sempat
memberikan hormat militer sebelum menjelaskan situasinya dengan lancar dan
tegas.
"Begitu ya..."
"......Iya."
Begitu seluruh penjelasanku selesai,
Hinata-san akhirnya melembutkan ekspresinya.
"Seperti yang kubilang tadi, Arisa
memang sangat menyayangi adiknya, tapi karena dia berinteraksi dengan Tsubaki,
semua rasa sayang yang tadinya diarahkan ke adiknya itu mungkin jadi pindah
sepenuhnya ke kamu."
"Tapi itu kan cuma usulan mendadak,
mana mungkin ada orang yang mau serius jadi Nee-chan perempuan, kan? Itu pasti cuma keisengan sesaat dan nggak ada apa-apa, kan?"
"Entahlah ya... Waktu Arisa cerita tadi,
tingkat kegirangannya bukan main, jadi rasanya sulit dipercaya kalau itu nggak
ada apa-apa."
"............"
"Tsubaki."
"!? "
Tanpa kusadari, jarak antara aku dan
Hinata-san yang tadinya berdiri di depanku kini sudah mencair menjadi nol.
Menyadari mataku yang terbelalak kaget karena
ulahnya yang tiba-tiba, Hinata-san langsung mendaratkan ciuman mendalam yang
terasa jauh lebih beringas dari sebelumnya.
Itu adalah ciuman dengan sensasi seolah-olah
seluruh air liur di dalam rongga mulutku disedot habis, ciuman penuh penaklukan
yang membuatku merasa benar-benar dijajah.
"......Tsubaki itu milikku. Aku juga cuma
milik Tsubaki seorang."
Saat wajah kami menjauh, seutas jembatan air
liur yang berkilau keperakan tampak menghubungkan aku dan Hinata-san.
Dari tatapan Hinata-san yang mengarah
kepadaku, tersirat rasa ingin menguasai yang begitu mutlak dan luar biasa,
membuatku sempat merasa ngeri sesaat pada Hinata-san, namun ketakutan itu
langsung lenyap seketika begitu aku membayangkan sisi erotis dari Hinata-san.
"Nih, Tsubaki."
"Ya?"
"Bagaimana kalau homeroom, jam pelajaran
pertama, sama jam pelajaran kedua kita bolos saja?"
"......Eh!?"
Maksudnya itu...!?
Kalau aku tidak menolaknya sekarang, aku bisa
melakukan hubungan mesum dengan Hinata-san... Hati ini langsung melonjak
kegirangan mendengarnya, tapi tentu saja aku mati-matian mencoba membujuk
Hinata-san karena bolos sekolah itu perbuatan yang salah, tapi...
"Tubuhku
sudah panas banget, Tsubaki... Tolong, peluk aku ya?"
"Ugh..."
"Bagian
dadaku juga boleh kamu perlakukan sesukamu kok... Ya? Ayo kita sama-sama merasa nikmat, Tsubaki.♡"
"Gugh...!"
Apakah makhluk yang berdiri di depanku ini
adalah sesosok succubus!?
Ekspresi dan suara penuh harap itu hampir saja
membuatku mengangguk, tapi aku mati-matian berusaha menahannya... Namun tubuhku
ini ternyata terlalu jujur, tanganku secara refleks terulur ke arah Hinata-san
dan langsung meremas payudara besarnya dengan kuat.
"......Ah."
"Fufu, Tsubaki ternyata juga sudah siap,
ya♡"
Lembut banget... Eh, lepaskan! Kalau tidak
dilepaskan, aku tidak bakal bisa balik ke kelas nanti, tahu!?
Meskipun aku sudah meneriakkan peringatan itu
sekuat tenaga di dalam hati, tanganku sama sekali tidak mau mendengarkan
perintah dan terus-menerus meremas-remas dada jumbo milik Hinata-san.
"......Yah, bolos tadi itu sembilan puluh
persen cuma gombalan kok."
"Sembilan puluh persen itu rasanya bukan
dibilang cuma gombalan..."
"Ya, benar juga sih. Makanya, kali ini
cukup kukira-kira pakai ciuman saja... Tapi, aku mau kamu meremas dadaku sampai
mepet waktunya habis. Kalau diremas sama Tsubaki, rasanya begitu nikmat
sampai-samain aku serasa mau klimaks cuma dari bagian dada doang♡"
Bukan hanya merona merah di bagian pipi, dia
bahkan mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berkaca-kaca basah.
Kalau sudah dibujuk sampai separah ini,
sebagai seorang pria, aku tidak mungkin mengabaikan harapannya. Lagipula,
lagipula aku sendiri juga sudah tidak sanggup menahan diri lagi.
"Hinata-san... Aku, senang banget. Kamu
sampai sebegitu percayanya sama aku... Um, boleh aku jilat payudaranya?"
...Eh, dasar kau ini bodoh!
Apa-apaan yang baru saja kukatakan di situasi
begini!
Aku sempat mengerahkan rasionalitasku dengan
membatin bahwa aku menarik ucapanku dan tidak mungkin melakukan hal senonoh di
lingkungan sekolah, namun Hinata-san malah menarik kepalaku dengan kuat dan
langsung membawanya merapat ke dadanya.
"Boleh kok, diisap atau digigit juga
tidak apa-apa, ya♡"
Waktu yang tersisa sebelum upacara dimulai
sebenarnya tinggal sebentar lagi, tapi sela-sela waktu singkat itu terasa
begitu manis bagaikan berada di surga.
Setelah kejadian itu, aku berpisah dengan
Hinata-san yang sempat tersenyum masam karena celananya basah dan repot
karenanya, lalu aku kembali ke kelas. Tentu saja Kanata dan Rio sempat
mengkhawatirkanku, tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja
agar mereka tidak cemas.
(Hah... Hari-hari macam apa ini, penuh dengan
nuansa erotis.)
Tentu saja, pelajaran setelah itu sama sekali
tidak bisa masuk ke dalam kepalaku.
Semua itu gara-gara aku terus-menerus
membayangkan Hinata-san, sosok yang tiba-tiba menyusup ke dalam keseharianku
dan dalam sekejap mata berhasil merajai seluruh pikiranku.
"W-woi, Mikasa."
"......A, iya!?"
"Wajahmu merah banget tuh? Kamu lagi
demam, ya?"
"T, tidak apa-apa...!"
"Begitu ya... Kalau nanti badannya terasa
tidak enak, bilang saja ya?"
"......Terima kasih banyak."
Interaksi singkat di tengah jam pelajaran,
tapi guru ini terlalu berbaik hati padaku... Aku terus meminta maaf di dalam
hati karena sejak tadi hanya memikirkan angan-angan mesum melulu.
Waktu bergulir hingga jam kepulangan sekolah
tiba, dan di saat rasa berahi yang dipicu oleh interaksi bersama Hinata-san
masih menyisakan bara-bara kecil... Aku mendadak disergap oleh sosok yang tidak
terduga.
"Tebak siapa."
Saat sedang berjalan sendirian di perjalanan
pulang, aku tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di belakangku.
Langkahnya terhenti ketika matanya ditutup
dari belakang diiringi suara yang bernada imut, tapi aku langsung tahu siapa
pelaku di balik keisengan ini.
"Arisa-san...?"
"Tepat sekali♪ Ini aku♪"
Benar saja, saat aku menoleh ke belakang,
sosok yang berdiri di sana adalah Arisa-san.
Pada detik itu, aku mendapat firasat
kuat――bahwa kedatangan Arisa-san ini pasti akan mendatangkan gelombang
kekacauan yang besar.


Post a Comment