Chapter 5
Belajar Ujian
Waktu istirahat siang.
Berkat kejadian di pagi hari tadi, aku yang
sudah menjadi pusat perhatian seluruh siswa—melampaui batas kelas seperti yang
sudah kuduga—langsung menarik berbagai macam tatapan dengan bermacam-macam
emosi di dalamnya.
Meskipun hal itu sudah sedikit kuprediksi,
tidak sedikit juga tatapan yang memancarkan emosi negatif seperti rasa cemburu
dan kebencian, seolah-olah mereka tidak menerima bahwa Saegusa-san telah
direbut.
Namun, di waktu yang sama—sesuatu yang di luar
prediksiku—ada banyak juga tatapan kagum, iri, hingga tatapan lega yang
sebagian besar datang dari para siswi.
Bahkan ada beberapa orang yang menghampiriku
saat Saegusa-san tidak ada, menanyakan bagaimana caranya aku bisa menjadi akrab
dengan Saegusa-san. Jujur saja, aku merasa cukup lega karena ternyata banyak
juga reaksi yang positif.
Ternyata tidak sedikit orang yang benar-benar
mengkhawatirkan apakah Saegusa-san—yang sebelumnya tidak punya teman dekat—bisa
beradaptasi dengan baik di kelas maupun di angkatan ini.
Sungguh dunia yang penuh kebaikan, ya.
Melihat kebaikan teman-teman sekelas seperti
itu, aku yakin Saegusa-san pasti akan segera mendapatkan banyak teman di sini.
Dan terakhir, ada satu lagi jenis tatapan yang
diarahkan kepadaku.
Yaitu tatapan yang dipenuhi binar penuh
semangat, seolah-olah akhirnya dia bisa melepaskan semua hal yang selama ini
ditahannya—sebuah tekanan tatapan penuh keceriaan dan rasa antusias—
Tentu saja tatapan itu hanya berasal dari satu
orang, yaitu si gadis di meja sebelah yang terus melemparkan pandangannya
setiap ada celah.
Dibandingkan dengan tatapan-tatapan lainnya,
tatapan yang satu ini benar-benar membuatku paling salah tingkah.
"Hei, bolehkah aku dan Shimizu-san ikut
makan bersama kalian?"
Memanfaatkan momen istirahat siang, Saegusa-san
menghampiri aku dan Takayuki yang hendak makan siang bersama seperti biasa,
lalu bertanya dengan senyuman terkembang di wajahnya.
‘Aku dan’ yang dimaksud pastilah Shimizu-san,
yang berdiri di samping Saegusa-san sambil mengangkat kotak bentonya dan
sedikit membungkuk sopan ke arah kami.
"Tentu saja boleh, silakan duduk. Iya
kan, Takuya?"
"Ya, ayo makan bersama."
Kami sedang diajak oleh dua gadis tercantik di
kelas.
Mana mungkin ada cowok di sekolah ini yang
sanggup menolak ajakan seperti itu, dan tentu saja aku pun tidak terkecuali.
Yah, mengesampingkan hal itu, toh kami adalah
anggota kelompok Karyawisata yang sama dan bahkan sudah tergabung dalam satu
grup Line, jadi pada dasarnya memang tidak ada alasan sama sekali untuk
menolak.
Begitu kami menyetujuinya tanpa berpikir
panjang, Shimizu-san duduk di kursi kosong tepat di depan Saegusa-san, dan kami
berempat mulai makan siang bersama dalam posisi saling berhadapan.
Bukan hanya Saegusa-san, kehadiran
Shimizu-san—gadis tercantik lainnya di kelas—serta Takayuki yang sangat populer
di kalangan cewek, membuat formasi makan siang berempat ini sukses menarik
perhatian orang-orang di sekitar, dan seisi kelas pun mulai bergemuruh
membicarakannya.
"Makan bersama seperti ini rasanya
seperti waktu Karyawisata kemarin, ya! Senang banget!"
Namun, Saegusa-san sama sekali tidak mempedulikan
tatapan-tatapan itu; dia membuka kotak bentonya sambil tersenyum lebar dengan
ekspresi yang tulus dan gembira.
Melihat Saegusa-san seperti itu, aku dan
Takayuki ikut tersenyum.
Selama Saegusa-san bisa menikmati waktu makan
bersama ini dengan begitu gembira, tatapan dari orang-orang di sekitar sekalian
saja diabaikan, toh itu sudah tidak penting lagi.
"Aku, ada satu hal yang dari dulu pengen
banget kulakukan lho!"
Sambil memakan bento mereka, Saegusa-san
tiba-tiba mendeklarasikan hal itu.
Hal apa yang ingin dilakukannya? Penasaran
dengan apa yang dimaksud, kami menunggu kalimat selanjutnya.
"Selepas pulang sekolah nanti, aku
pengen coba pergi makan burger bareng teman-teman!"
Sambil mendengus kecil lewat hidungnya dan
membiarkan matanya berbinar-binar penuh antusias, Saegusa-san melontarkan
deklarasi tersebut.
Kira-kira, apa hal besar yang akan dia
ucapkan, ternyata itu adalah sebuah impian kecil yang sangat menggemaskan.
Meskipun begitu, bagi Saegusa-san yang
sampai beberapa waktu lalu masih aktif sebagai seorang idol, hal semacam itu
mungkin adalah sebuah pengalaman yang sangat istimewa.
Memikirkan hal itu, kebetulan Takayuki
juga bilang klubnya libur hari ini, jadi kami sepakat untuk pergi bersama-sama
selepas pulang sekolah nanti.
Saegusa-san berkata, "Aku sering baca
di manga dan ngefans banget dari dulu," sambil membiarkan matanya
berbinar-binar ceria. Melihat ekspresinya saja sudah cukup membuat hati kami
ikut merasa bahagia.
Begitulah, kami akhirnya memutuskan untuk
pergi bersama ke sebuah restoran burger di depan stasiun sepulang sekolah
nanti.
***
Sepulang sekolah.
Sesuai janji saat istirahat siang tadi,
kami berempat berjalan bersama menuju restoran burger di depan stasiun demi
mewujudkan keinginan Saegusa-san.
Ngomong-ngomong, setibanya di luar gerbang
sekolah, Saegusa-san mengeluarkan sepasang kacamata fashion berbingkai biasa
agak kusam dari tasnya lalu mengenakannya.
Meskipun dia berniat menyamar, berjalan di
trotoar mengenakan seragam sekolah dengan paras secantik Saegusa-san sudah
lebih dari cukup untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Berbeda dari gaya berpakaian saat pergi ke
minimarket, penyamaran instan seperti ini jujur saja sama sekali tidak efektif.
"U-um! Apakah kamu Shiorin dari Angel
Girls ya?!"
"Bukaannnn!!"
Dan benar saja, Saegusa-san yang
penyamarannya ketahuan itu langsung ditegur oleh seorang siswi SMA dari sekolah
lain yang berlari menghampirinya.
Namun, Saegusa-san langsung menepisnya
dengan penolakan cepat dan tegas.
Penolakannya begitu telak dan, jujur saja,
karena penyamarannya sangat ketahuan, rasanya agak memaksakan, tapi Saegusa-san
menyangkalnya dengan penuh rasa percaya diri tanpa sedikit pun keraguan di
wajahnya.
Alhasil, siswi SMA yang tadi
menghampirinya langsung ciut nyalinya menghadapi tekanan penuh keyakinan dari Saegusa-san,
lalu mundur perlahan dengan rasa canggung.
Melihat Saegusa-san yang menepis situasi
itu dengan jurus brute-force alih-alih menggunakan kacamata penyamarannya,
bukan hanya aku, Takayuki dan Shimizu-san pun ikut tertawa lepas.
"A-aduuh! Jangan pada ketawa-ketawain aku
ya—!"
Saegusa-san merengek salah tingkah dengan
ekspresi malu yang menggemaskan; hari ini pun dia tetap terlihat sangat lucu.
Sambil sedikit cemberut, Saegusa-san
melontarkan candaan, ‘Gimana kalau aku jalan sambil pasang tulisan “Aku bukan
Shiorin” di punggungku aja ya?’.
Membayangkan pemandangan Saegusa-san melakukan
itu membuat kami semakin tidak bisa menahan tawa karena bayangannya terlalu
konyol.
Kami tiba di restoran burger di depan
stasiun.
Begitu pintu dibuka, aroma minyak goreng
yang familier langsung menyambut indra penciuman kami.
Menghadapi atmosfer khas yang hanya bisa
ditemukan di tempat semacam ini, Saegusa-san membiarkan matanya berbinar-binar
ceria bagaikan seorang anak kecil.
Setelah itu, kami mengantre satu per satu
untuk memesan, hingga akhirnya giliran Saegusa-san tiba.
Namun tentu saja, sebagai seseorang yang
baru pertama kali mendatangi restoran burger, Saegusa-san tidak punya
pengalaman memesan makanan.
Meskipun dia mencoba meniru cara kami
memesan sebelumnya, dia tetap tidak bisa melakukannya dengan benar, hingga
akhirnya melemparkan tatapan memohon pertolongan kepadaku dengan ekspresi
sangat bingung.
"Takkun, tolongin aku..."
Dan tentu saja, Saegusa-san meminta
pertolongan dengan ekspresi kebingungan yang tak berdaya.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
membantunya memesan makanan sambil berpikir, mau bagaimana lagi.
Setelah berhasil memesan, kami memilih tempat
duduk di area meja kotak (booth) yang kosong.
Area sekitarnya dipenuhi oleh siswa-siswi SMA
dari sekolah lain, dan Saegusa-san tampak sangat takjub dengan atmosfer yang
benar-benar terasa seperti "datang ke restoran burger sungguhan".
Hal-hal yang sudah biasa bagi kami, mungkin
terasa sangat istimewa bagi Saegusa-san.Inilah sensasi dunia hiburan ya,
pikirku sambil melihat Saegusa-san yang tampak begitu gembira bahkan untuk hal
sepele sekalipun, membuatku ikut merasa senang.
Saegusa-san mengambil ponselnya, memotret
hamburger pesanannya dengan gembira, lalu langsung mengirimkan foto tersebut
kepada seseorang lewat Line.
—Ping.
Seketika, ponsel kami semua berdering
secara bersamaan.
Saat kami memeriksa ponsel masing-masing,
itu adalah notifikasi Line dari Saegusa-san.
Dan yang muncul di layar ponsel adalah
foto hamburger hasil jepretan Saegusa-san barusan yang tampak sedikit buram
(out of focus).‘Selamat! Perayaan Hamburger Pertama!’
Dan menyusul kalimat tersebut, nuansa
surealis dari pesan itu membuat kami tertawa terbahak-bahak tanpa bisa
menahannya.
***
Malam harinya.
Aku sedang berbaring di atas tempat tidur
kamarmu—ralat, tempat tidur kamarku—sambil memainkan ponsel.
Karena semalam aku terlalu asyik bermain
game sampai kesiangan, aku bersumpah dalam hati untuk bermain secukupnya saja
hari ini.
—Ping.
Sambil berpikir begitu, tepat saat jariku
hampir menyentuh ikon game di layar, ponselku berdering.
Pesan yang muncul adalah notifikasi grup
Line yang sudah sangat familier: berisi Takayuki, Shimizu-san, dan Saegusa-san.
Ngomong-ngomong, foto ikon untuk grup ini
sekarang telah diubah menjadi foto hamburger yang sedikit buram buatan Saegusa-san
tadi siang.
Takayuki yang sempat tertawa
terbahak-bahak karena foto itu iseng menggantinya.
‘Terima kasih untuk hari ini ya! Seru banget!’
Pesan
itu dikirim oleh Saegusa-san.
Mengingat
kembali bagaimana bahagianya Saegusa-san selama kami makan burger tadi, aku
tersenyum sendiri di dalam kamar.
Bagaimana
ya, belakangan ini keberadaan Saegusa-san saja sudah cukup membuat segalanya
terasa menyenangkan.
Perasaan
itu sepertinya tidak hanya dirasakan olehku, tetapi juga oleh Takayuki dan
Shimizu-san.
Meskipun
dia adalah idol nasional yang sampai beberapa waktu lalu sering kami lihat di
televisi, Saegusa-san ternyata adalah sosok yang polos, bertingkah
mencurigakan, selalu ceria, dan kehadirannya di sekitar kami sukses mengubah
hal-hal biasa menjadi menyenangkan.
Itulah
pesona sejati yang dimiliki oleh Saegusa-san sebagai seorang manusia.
Dia
menjadi terkenal sebagai seorang idol bukan hanya karena wajahnya yang cantik
atau suaranya yang merdu.
Eksistensi
khusus bernama Saegusa Shion inilah yang membuat orang-orang tidak bisa
berpaling darinya.
Saat
melirik layar ponsel, kulihat Takayuki dan Shimizu-san sudah lebih dulu
membalas pesan itu dengan mengatakan bahwa mereka juga bersenang-senang.
Jadi,
malam ini aku juga mengirimkan balasan, mengatakan bahwa aku menikmatinya tanpa
tertidur di tengah jalan.
Sambil menambahkan satu kalimat: ‘Kalau Saegusa-san
mau, kapan-kapan kita pergi makan burger lagi ya’—
—Ping.
Beberapa saat setelah aku mengirimkan balasan
di grup, notifikasi Line kembali berbunyi.
Kira-kira apa lagi sekarang, pikirku sambil
membuka layar ponsel, dan ternyata itu adalah pesan pribadi (private chat) dari
Saegusa-san.Hanya aku? Ada apa ya? Sambil bertanya-tanya, aku langsung membuka
pesan tersebut.
‘Uhm, bolehkah kita sedikit mengobrol via
telepon sekarang?’
Eh? Telepon?! Meskipun merasa terkejut, toh
beberapa waktu lalu kami pernah menelepon, dan lagipula aku sedang senggang,
jadi aku membalasnya: ‘Boleh kok’.
Beberapa detik setelah pesanku terkirim,
panggilan telepon dari Saegusa-san masuk.
"H-halo?"
"Ah, Takkun! Maaf ya malam-malam begini
menelepon!"
Begitu aku mengangkat panggilan dengan panik,
suara Saegusa-san terdengar sedikit meninggi.
"Ah, nggak apa-apa kok. Ada apa
emangnya?"
"Umm... itu..."
Itu? Apaan?
"Nggak ada apa-apa sih... tapi boleh
kan?"
Nggak ada apa-apa?
Hm? Maksudnya bagaimana ini?
Apakah artinya, dia meneleponku padahal
sebenarnya tidak ada keperluan penting sama sekali?
Seorang Saegusa-san melakukan hal itu?
...Pikirku sejenak, namun aku segera sadar
bahwa hari ini pun aku dan Saegusa-san baru saja menghabiskan waktu bersama,
bahkan Sabtu lalu kami pergi menonton bioskop berdua. Hubungan kami sudah
berada di tahap di mana tidak ada lagi hal yang terasa canggung di antara kami.
Secara objektif, kami seharusnya sudah berada
di level di mana mengobrol santai tanpa topik khusus adalah hal yang wajar.
Meskipun jujur saja aku masih merasa tidak
percaya atau belum sepenuhnya meresapi kenyataan itu, fakta harus diterima apa
adanya, dan di lubuk hati yang paling dalam, aku memang ingin mengobrol lebih
banyak dengan Saegusa-san—.
"B-boleh kok! Cuma agak kaget aja,
hahaha."
"K-kaget?! Kenapa?!"
Mendengar aku beralasan untuk menyembunyikan
rasa malu, Saegusa-san justru terkejut mendengar kata "kaget" dariku.
"Ah, bukan apa-apa, cuman... ya ampun
Saegu—ralat, maksudku Shi-chan kan seorang Shiorin Angel Girls, dan lagipula
rasanya aku sama sekali nggak sepadan kalau disandingkan denganmu... Ah, maaf,
ngomong apa sih aku ini."
Gawat, aku sendiri bahkan tidak mengerti apa
yang sedang kubicarakan...
Panik setengah mati, aku tanpa sadar
melontarkan kalimat yang tidak jelas juntrungannya.
"..."
Merasa dia mungkin menganggapku aneh, Saegusa-san
terdiam, dan keheningan canggung sempat tercipta di antara kami—.
Merasa tidak tahan dengan keheningan itu, aku
kembali bersuara dengan nada ragu-ragu.
"—U-um?
Shi-chan?"
"Nggak
kok."
"Hah?
Nggak kok?"
Nggak
kok, maksudnya apa?
Sepertinya
dia sempat mengatakan sesuatu sebelum itu, tapi pendengaranku tidak
menangkapnya dengan jelas.
"Takkun dan aku itu sepadan kok, nggak
ada kata tidak sepadan sama sekali!!"
Ucapannya dilontarkan dengan tegas dan
lantang, seolah-olah dia mengerahkan seluruh tekadnya.
Dia menyangkal dengan mantap bahwa aku
tidak sepadan dengannya.
"B-begitukah?"
"Iya! Soalnya!!"
"Soal...nya?"
—Karena apa, ya?
Aku menunggu kalimat selanjutnya dengan
perasaan berdebar—.
"A-awawa! N-nggak jadi deh!! Selamat
tidur ya!!"
Namun, Saegusa-san mendadak panik,
lidahnya keseleo, dan dia langsung menutup telepon secara sepihak detik itu
juga.
Meskipun aku sempat bingung memikirkan apa
maksudnya, aku cukup peka untuk menyadari bahwa kalimat terakhir Saegusa-san
jelas-jelas adalah bentuk reaksi salah tingkah karena malu.
Lalu pertanyaannya, kenapa Saegusa-san bisa
sampai sebegitu malunya?
Jangan-jangan... ah, tidak, tidak, jangan
kegeeran dulu aku.
Satu pemikiran naif sempat melintas di
kepalaku, tapi langsung kutepis dengan cepat.
—Ping.
Di tengah kebingunganku yang dilanda rasa
penasaran, notifikasi Line kembali berbunyi.
"Hm? Gambar?"
Itu adalah sebuah file gambar yang dikirimkan
oleh Saegusa-san ke dalam grup Line.
Saat kubuka, gambar tersebut adalah foto kami
berempat saat makan burger tadi siang.
Karena Saegusa-san sudah terbiasa mengambil
swafoto sejak masa-masanya sebagai idol, dia mengambil foto itu menggunakan
ponsel di tangannya, sementara kami bertiga berpose konyol di
belakangnya—sebuah potret kenangan hari ini.
Kami semua tampak tersenyum sangat gembira di
dalam foto itu; hasil jepretannya benar-benar bagus.
Sambil mengenang kembali keseruan hari ini,
aku menikmati foto itu sejenak sebelum menyimpannya ke ponsel.
Senyuman cerah Saegusa-san di dalam foto itu
terlihat sangat imut, membuatku tanpa sadar terus menatapnya cukup lama.
Dan yang membuatku merasa sangat senang adalah
posisiku yang berada tepat di sebelah Saegusa-san di dalam foto tersebut.
—Ping.
Tak lama kemudian, notifikasi Line berbunyi
lagi.
Kali ini, pesan itu dikirim secara pribadi
(personal chat) dari Saegusa-san khusus untukku.
Begitu kubuka, file gambar yang dikirimkan
ternyata adalah foto yang sama persis dengan yang dikirim ke grup tadi.
Namun, foto tersebut sudah dicoret-coret
dengan edisi khusus: wajah Saegusa-san dan wajahku yang berdiri di sebelah
digambari kumis kucing manual, dan kedua wajah itu dilingkari dengan garis
berbentuk hati berwarna pink.
Di bagian bawahnya, tertulis tulisan tangan
yang imut: ‘Kita bersama♪’.
Pesan itu pastinya adalah bentuk balasan ala Saegusa-san
atas ucapanku sebelumnya.
Perasaan hangat membuncah di dalam dadaku.
Sambil merona merah karena rasa malu dan
bahagia yang bercampur aduk, aku memutuskan untuk menyimpan foto spesial itu
sebanyak tiga kali di ponselku.
***
Hari Jumat.
Keriuhan di kelas akibat panggilan akrab
Shi-chan dan Takkun antara aku dan Saegusa-san perlahan-lahan mulai mereda
seiring berjalannya hari Jumat, membuat suasana kembali tenang seperti
sediakala.
Hanya ada satu hal kecil yang berubah: para
siswi di kelas kini jauh lebih sering mengerubungi meja Saegusa-san
dibandingkan sebelumnya.
Mereka yang dulunya mengagumi Saegusa-san
namun merasa terintimidasi karena menganggapnya sebagai "bunga di puncak
gunung" sepertinya mulai sadar setelah melihat bagaimana santainya Saegusa-san
berinteraksi secara normal dengan kami.
Alhasil, para siswi kini sering mampir ke meja
Saegusa-san untuk mengobrol santai bersama.
Hal serupa juga terjadi pada Shimizu-san, yang
sebelumnya lebih sering menyendiri; kini mereka berdua perlahan-lahan mulai
berbaur dan akrab dengan anak-anak sekelas.
Melihat kedua gadis itu akhirnya bisa membaur
dengan baik membuatku dan Takayuki merasa sangat senang, bahkan kami sering
membicarakan hal itu saat sedang berdua.
Meskipun begitu, baik Saegusa-san maupun
Shimizu-san tetap memasang tembok pembatas yang cukup tegas terhadap para siswa
cowok, membuat anak-anak cowok di kelas yang bahkan kesulitan sekadar mengajak
mereka bicara tetap melayangkan tatapan penuh kecemburuan kepada kami berdua—
"Mulai hari ini, kegiatan klub akan
diliburkan untuk persiapan ujian semester. Dengar ya semuanya, jangan
mentang-mentang libur terus kalian malah main-main, belajar yang benar supaya
nggak ada yang remedi, ya!"
Wali kelas kami, Pak Suzuki, memberikan
peringatan tegas itu di pengujung homeroom sore.
Ya, tanpa terasa, musim ujian semester sudah
tiba.
Selama ini, aku selalu menyempatkan diri
belajar dengan giat karena aku berprinsip bahwa bekerja paruh waktu tidak boleh
menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan.
Dan inilah saatnya pembuktian dari hasil kerja
kerasku selama ini.
Menghadapi ujian semester pertamanya di SMA
ini, suara-suara keluhan mulai terdengar dari seisi kelas.
Namun, berbeda dari anak-anak lain, aku justru
menyalakan tekad membara di dalam hati untuk meraih peringkat atas.
Inilah saatnya menunjukkan harga diri anak
klub pulang cepat (kitakubu)!
Tiba-tiba aku merasakan tatapan dari sebelah,
dan saat aku menoleh, kulihat Saegusa-san sedang menatapku dengan ekspresi
penuh rencana sambil menyunggingkan senyuman aneh, "Uhehehe".
Meskipun jam pelajaran sudah selesai, tabiat mencurigakannya masih bocor ke mana-mana;
entah kenapa dia tampak sangat antusias hari ini.
—Kring-koring-kring-krong.
Bel tanda berakhirnya jam sekolah pun
berbunyi.
Seiring dengan suara itu, homeroom sore
resmi dibubarkan.
Baiklah, jadwal kerjaku sudah kukurangi.
Saatnya pulang dan fokus belajar mulai hari ini. Tekadku dalam hati, sebelum
tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Takkun!"
Orang yang memanggilku adalah gadis di
meja sebelah yang tadi sempat tersenyum aneh.
Tapi maaf ya, Saegusa-san, mulai hari ini
aku harus fokus belajar, jadi sepertinya aku tidak bisa menemanimu pergi makan
burger atau semacamnya untuk beberapa waktu ke depan.
Sambil merasa tidak enak, aku menoleh ke
arahnya, namun yang kulihat justru Saegusa-san sedang tersenyum ramah penuh
antisipasi.
Ah, membayangkan aku harus menolak ajakan
gadis bersemangat seperti ini membuatku merasa semakin bersalah.
"Mulai sekarang, ayo kita belajar
kelompok bareng-bareng ya!!"
"Maaf... eh? Belajar kelompok?"
Bukannya jalan-jalan, melainkan belajar
kelompok?
Mendengar kata-kata tak terduga itu, rencana
penolakan yang sudah kusiapkan buyar seketika, membuatku tertegun dan kebingungan.
"Iya! Mulai sekarang kita belajar bareng
buat persiapan ujian! Ini juga salah satu hal yang pengen banget
kulakukan!"
Rupanya, mengadakan sesi belajar kelompok
menjelang ujian adalah salah satu impian yang masuk ke dalam daftar "hal
yang ingin dicoba" versi Saegusa-san.
Memang benar, di manga-manga romantis belajar
kelompok adalah adegan yang sangat klasik, tapi dalam kenyataannya aku sendiri
belum pernah melakukannya sekali pun, apalagi belajar bersama seorang
gadis—rasanya tingkat kesulitannya terlalu tinggi, termasuk soal apakah aku
bisa berkonsentrasi atau tidak...
...Namun, melihat ekspresi Saegusa-san yang
begitu berbinar-binar penuh semangat, aku sama sekali tidak tega untuk
menolaknya.
"Yah, kalau sekadar belajar kelompok sih,
boleh saja."
"Beneran? Asyik!"
Mendengar persetujuanku, Saegusa-san
tersenyum dengan sangat gembira.
Menghadapi senyuman manis bagaikan seorang
malaikat itu, aku merasakan wajahku merona merah seketika.
Kurasa aku tidak akan pernah bisa terbiasa
dengan senyuman semacam itu sampai kapan pun, batinku menyadari kenyataan
tersebut.
***
Demi merealisasikan usulan Saegusa-san, kami
berempat pergi ke perpustakaan sekolah.
Karena kami juga mengajak Takayuki dan
Shimizu-san, formasi kelompok belajar ini lagi-lagi diisi oleh ‘The Usual Four’
(empat sekawan yang sudah sangat familier).
Begitu masuk ke perpustakaan, sudah ada
beberapa siswa lain yang datang untuk belajar, namun sepertinya kelompok yang
belajar bersama dalam formasi grup hanya kami berempat.
Agar tidak terlalu berisik, kami memilih meja
dengan empat kursi di sudut paling belakang perpustakaan, lalu mulai
membentangkan buku teks masing-masing untuk memulai sesi belajar.
Pertama-tama, kami sepakat untuk mengulang
materi pelajaran yang diinginkan masing-masing. Aku memutuskan untuk mulai
mengulang pelajaran matematika yang paling kubenci.
Melihatku, Saegusa-san yang duduk di sebelahku
dengan panik mengeluarkan buku teks Matematika dari tasnya, lalu mulai
mengulang materi yang sama sambil mendengus kecil lewat hidungnya dengan penuh
semangat.
Melihat antusiasme Saegusa-san yang luar biasa
itu, aku termotivasi dan berusaha mencurahkan seluruh konsentrasiku untuk
belajar.
Faktanya, dalam kuis-kuis kecil yang sering
diadakan sebelumnya, Saegusa-san selalu menunjukkan nilai yang sangat cemerlang
dan hampir selalu mendapatkan nilai sempurna.
Meskipun nilai-niliku sendiri sebenarnya tidak
jelek-jelek amat, melihat jurang perbedaan kemampuan akademik di antara kami
membuatku sempat berpikir: sebenarnya Saegusa-san ini sekolah di SMA biasa
seperti kami alasannya apa ya? Kemampuannya bahkan sudah melampaui level
sekolah ini.
Bahkan sekarang pun, Saegusa-san sedang
melahap soal-soal latihan dengan lancar di sampingku.
Apakah dia sedang menganggapku sebagai
saingannya? Dia sesekali melirik lembar jawabanku, lalu berlomba-lomba
menyelesaikan soal yang sama lebih dulu.
Sementara itu, Takayuki dan Shimizu-san yang
duduk di hadapan kami tampak berdiskusi pelan mempelajari materi bahasa Jepang
bersama-sama.
Melihat interaksi mereka, aku baru sadar—oh,
begitu ya, kalau ada bagian yang tidak dimengerti, kita tinggal bertanya pada
orang lain—dan di situlah aku baru memahami manfaat besar dari belajar
kelompok.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk bertanya
kepada Saegusa-san, yang sudah lebih dulu menyelesaikan soal yang sama di
sebelahku.
"Um,
Shi-chan, kalau soal yang bagian ini..."
"Yang, mana? Ah, yang ini ya! K-kalau
yang ini kita pakai rumus ini, lho!"
Mendengar pertanyaanku, Saegusa-san merespons
seolah-olah dia sudah menunggunya sejak tadi, lalu menjelaskan cara
penyelesaiannya dengan sigap.
Penjelasannya sangat akurat dan mudah
dipahami, membuatku merasa kagum secara jujur.
"Terima kasih! Penjelasannya gampang
banget dimengerti!"
"I-iya! S-syukurlah kalau
begitu!"
Saat aku mengucapkan terima kasih atas
bantuannya, Saegusa-san merona merah sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya
di depan wajah dengan salah tingkah.
Meskipun sempat terdengar bisikan kecil
"Yes!" disertai gestur guts-pose darinya yang terasa agak misterius,
penjelasannya sangat membantuku karena soal itu tergolong cukup sulit.
Setelah itu, kami menghabiskan waktu
selama dua jam penuh untuk saling menutupi kelemahan masing-masing lewat sesi
belajar yang sangat intensif.
Kehadiran Saegusa-san yang mengajariku
dengan sabar di setiap mata pelajaran benar-benar memberikan bantuan yang luar
biasa besar.
Takayuki dan Shimizu-san pun secara jujur
merasa kagum dengan kemampuan Saegusa-san yang jauh di atas rata-rata kami.
Dan Saegusa-san sendiri memasang senyuman
puas seolah-olah dia baru saja menyelesaikan sebuah misi besar.
Dalam perjalanan pulang, aku menyampaikan rasa
terima kasihku sekali lagi kepada Saegusa-san atas semua bimbingannya hari ini.
"Terima kasih banyak untuk hari ini ya. Untung banget ada Shi-chan."
"Eh?! I-iya, aku juga senang
kok!!"Hm? Aku juga senang? Pikirku bingung, namun melihat Saegusa-san
berjalan sambil tersenyum malu-malu dengan rona merah di pipinya, aku merasa ya
sudahlah, tidak apa-apa, dan senyuman pun mengembang di wajahku secara alami.
***
Hari Sabtu.
Lewat pukul satu siang, aku tiba di area depan
stasiun untuk tempat ketemuan kami.
"Sudah menunggu ya! Takkun!"
Seseorang memanggilku sambil melambaikan
tangan dan berlari mendekat—dia adalah Saegusa-san, teman sekelas sekaligus
gadis yang duduk di sebelahku.
Dia adalah mantan idol nasional, berotak
encer, terkadang bertingkah mencurigakan namun ceria dan menyenangkan; singkat
kata, dia adalah seorang gadis jelita yang luar biasa dalam banyak hal.
Ngomong-ngomong, hari ini kami berencana
melanjutkan sesi belajar kelompok seperti usulan Saegusa-san di grup Line
semalam.
Namun, karena Takayuki dan Shimizu-san
berhalangan hadir hari ini, sesi belajar kelompok yang tadinya berempat ini
terpaksa harus dilakukan berdua saja—yang mana hal itu sempat menjadi sedikit
salah perhitungan bagiku.
Yah, mengingat sabtu minggu lalu aku juga
menghabiskan waktu berdua saja dengan Saegusa-san, mungkin memikirkannya
sekarang sudah terasa basi, tapi tetap saja, menghabiskan waktu berdua saja
dalam jarak dekat dengan gadis secantik ini selalu sukses membuatku merasa
gugup setengah mati.
"Kalau begitu, ayo berangkat!"
Namun, Saegusa-san sendiri sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda kecanggungan berada dalam situasi berdua saja ini;
sebaliknya, dia memasang mood yang ceria seperti biasa—ralat, bahkan rasanya
mood-nya jauh lebih tinggi dari biasanya—melangkah riang gembira penuh semangat.
Memikirkan bahwa Saegusa-san menikmati hari
ini dengan begitu antusias, aku memutuskan untuk membuang rasa canggungku dan
fokus menikmati... ralat, fokus belajar dengan sungguh-sungguh hari ini.
Kami berjalan sedikit menjauh dari stasiun
menuju sebuah perpustakaan umum berukuran cukup besar.
Tempat ini dipilih karena ketersediaan buku
referensi yang lengkap serta suasana yang jauh lebih tenang dan kondusif untuk
belajar dibandingkan dengan kafe atau restoran keluarga.
Saat kami melangkah masuk, sebagian besar meja
sudah terisi oleh siswa-siswi yang kelihatannya berasal dari sekolah lain.
Sepertinya bukan hanya sekolah kami saja yang
sedang menghadapi musim ujian semester.
Karena hanya ada satu meja untuk dua orang
yang tersisa, kami memutuskan untuk menempati meja tersebut dan mulai belajar.
Begitu aku duduk, pandanganku tanpa sadar
beralih kepada Saegusa-san yang duduk di sebelahku.
Hari ini Saegusa-san mengenakan blus putih
dipadukan dengan celana high-waist berwarna hitam, menonjolkan bentuk kakinya
yang jenjang dan indah; proporsi tubuhnya yang sempurna itu menarik perhatian
setiap pasang mata di sekitarnya, terlepas dari apa pun jenis kelamin mereka.
Ya, tentu saja, gadis yang duduk tepat di
sebelahku saat ini adalah Shiorin dari grup idol nasional Angel Girls.
Mustahil jika kehadirannya tidak menarik
perhatian.
Dan Saegusa-san sendiri melirikku dengan
senyuman nakal, lalu berbisik tepat di dekat telingaku: "Kamu dari tadi
ngeliatin mulu, lho".
Mengenakan kacamata fashion berbingkai hitam
hari ini memberikan kesan feminin ala guru muda, membuat Saegusa-san terlihat
jauh lebih dewasa dari biasanya.
Dibisiki dengan jarak sedekat itu oleh pemilik
wajah sempurna tersebut membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain salah
tingkah.
Meskipun tidak bercermin, aku yakin wajahku
saat ini pasti sudah semerah buah tomat rebus.
Namun, aku yakin bukan hanya aku saja yang
akan bereaksi seperti ini jika berada di posisiku, jadi aku mencoba pasrah
menerima keadaan.
Melihatku yang salah tingkah, Saegusa-san
tersenyum puas, lalu membuka buku teksnya sambil berkata, "Yuk, kita mulai
belajarnya".Konsentrasi, diriku! Aku berusaha mengalihkan pikiranku
kembali pada buku pelajaran.
Setelah itu, berkat bimbingan intensif satu
lawan satu dari Saegusa-san, aku berhasil menjalani sesi belajar yang sangat
produktif untuk semua mata pelajaran.
Penjelasan Saegusa-san memang sangat luar
biasa, membuat materi-materi yang tadinya kubenci kini bisa kupahami dan
kuselesaikan sendiri dengan lancar.
"Hebat banget ya Shi-chan, kamu pasti
bakal juara satu angkatan."
"T-tidak juga kok."
Mendapat pujian tulus dariku, Saegusa-san
tersenyum malu-malu.
"Kamu sudah banyak membantuku hari ini, Sebagai
ucapan terima kasih, bagaimana kalau setelah ini kita mampir sebentar?"
"Eh? Ucapan terima kasih?! T-tidak usah,
aku juga senang kok."
"Nggak bisa begitu, nanti rasa bersalahku
nggak hilang, ya?"
"U-um... kalau begitu..."
Dia sempat menolak di awal, namun akhirnya Saegusa-san
mengalah atas desakanku.
Sambil merona merah dan memberikan persetujuan
dengan tatapan memohon dari bawah, Saegusa-san terlihat begitu imut hingga
rasanya ingin kusebut sebagai gadis paling imut di dunia.
***
Keluar dari perpustakaan, kami mampir ke
sebuah kafe yang terletak di sudut agak tersembunyi dekat stasiun.
Kafe ini terkenal dengan menu pancake-nya yang
lezat; mengingat Saegusa-san sangat menyukai makanan manis saat di minimarket
dulu, kupikir dia pasti akan menyukai tempat ini.
"Wah, tempatnya imut banget."
"Iya, kupikir Shi-chan pasti suka tempat
seperti ini."
Melihat Saegusa-san tersenyum gembira
sambil mengamati interior ruangan, senyuman pun ikut mengembang di bibirku.
Kami diantar ke meja untuk dua orang, lalu
langsung memesan dua porsi menu andalan mereka: pancake.
"Kelihatan enak banget!"
Saegusa-san menatap foto pancake di buku
menu dengan mata berbinar-binar bagaikan anak kecil.—Imut banget, sumpah.
Aku yakin aku bisa menatap ekspresi imut
gadis ini selama berjam-jam tanpa merasa bosan.
Tak lama kemudian, pesanan pancake kami pun
dihidangkan.
Saegusa-san mengambil beberapa foto dengan
penuh semangat sambil berujar bahwa ini adalah pertama kalinya dia makan
pancake, lalu mulai menyantapnya dengan lahap.
Setiap kali menyuapkan pancake ke dalam
mulutnya, Saegusa-san memasang ekspresi paling bahagia di dunia; pemandangan
itu membuatnya terlihat benar-benar bagaikan sesosok malaikat yang sedang
menikmati makanan.
"Takkun, terima kasih banyak sudah
membawaku ke tempat sekeren ini hari ini."
"Sama-sama, aku senang kalau kamu
suka."
Selesai makan, sambil meminum kopi milikku dan
royal milk tea milik Saegusa-san, kami memutuskan untuk bersantai sedikit lebih
lama di kafe tersebut.
Saegusa-san menatap wajahku sambil tersenyum
geli, "Nfufu♪".
Saat kutanya, "Ada apa?", dia
menjawab, "Nggak apa-apa kok♪" dengan riang; mood-nya hari ini
benar-benar sangat bagus.
Lalu, seolah mengenang pancake yang baru saja
disantapnya, Saegusa-san bergumam, "Aku pengen ke sini lagi suatu hari
nanti", yang langsung kujawab, "Kalau begitu, nanti kuantar ke sini
lagi ya", membuat Saegusa-san tersenyum lebar penuh bunga sambil
membungkuk hormat, "M-mohon bantuannya!".
Setelah itu, Saegusa-san menutupi wajahnya
dengan kedua tangan karena malu sambil meliuk-liuk gelisah—tingkah laku yang mencurigakannya
kembali kambuh dan sukses menarik perhatian pengunjung lain di sekitar.
Untungnya, karena wajahnya tertutup rapat oleh
kedua tangannya, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa dia adalah Shiorin.
Menjelang matahari terbenam, kami kembali ke
area depan stasiun tempat kami berkumpul tadi pagi.
"Terima kasih untuk hari ini ya!"
"Iya, sama-sama."
Kami sepakat untuk berpisah dan langsung
pulang dari stasiun ini.
"Hei, Takkun! Hari ini seru banget! Dan
terima kasih traktirannya!"
Saegusa-san yang sempat berlari kecil menuju
stasiun berbalik arah, lalu melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi sambil
berseru.
Gestur itu terlihat begitu menawan di mataku,
membuatku membalas melambaikan tangan sambil berseru keras agar suaranya sampai
kepada Saegusa-san:
"Aku juga seru banget hari ini! Nanti kita jalan-jalan lagi ya!"
Mendapat balasan itu, Saegusa-san mengangguk
mantap dengan senyuman paling lebar dan paling ceria di wajahnya, lalu kembali
berlari menuju stasiun.
Saegusa-san yang selalu menunjukkan berbagai
ekspresi memukau sampai detik terakhir hari ini—gadis yang begitu menarik dan
menggemaskan.
Aku terus menatap punggungnya hingga sosoknya
benar-benar menghilang dari pandangan, lalu berjalan pulang ke rumah dengan
perasaan yang dipenuhi oleh rasa puas yang luar biasa.
—Ping.
Saat aku sedang berjalan seorang diri
menyusuri jalan pulang, notifikasi Line berdering.
Begitu kulihat, notifikasi itu berasal
dari Saegusa-san, yang baru saja berpisah denganku beberapa menit lalu.
Sambil bertanya-tanya pesan apa yang
dikirimkannya, kubuka file gambar tersebut.
Isinya adalah foto pancake yang baru saja
kami makan, dengan penampakan diriku yang duduk di seberangnya ikut tertangkap
di latar belakang.
Rupanya Saegusa-san diam-diam mengambil
fotoku secara candid bersama pancake tersebut.
—Ping.
Tak lama kemudian, pesan teks menyusul
dari Saegusa-san.‘Hehehe! Berhasil candid!’
Bersamaan dengan kalimat itu, dia
mengirimkan stiker animasi idol Shiorin berwajah usil dengan gaya ilustrasi
chibi.
"Pft, stiker apa pula ini."
Saegusa-san tiba-tiba mengirimkan stiker
bergambar dirinya sendiri.
Kombinasi antara sifatnya yang mengirimkan
stiker wajahnya sendiri dengan situasi absurd di mana seorang mantan idol
diam-diam mengambil fotoku secara candid membuatku tertawa terbahak-bahak
seorang diri di tengah perjalanan pulang—.
***
Hari Minggu.
Meskipun saat ini sedang masa-masa ujian,
manajer memohon kepadaku dengan sangat agar aku mau masuk kerja hari ini, jadi
hari ini pun aku kembali bekerja paruh waktu menjaga kasir minimarket.
Aku berdiri melamun di balik meja kasir
minimarket yang sepi, teringat kembali pada kejadian kemarin.
Saegusa-san yang mengajariku belajar, Saegusa-san
yang melahap pancake dengan lahap—berbagai ekspresi Saegusa-san berkelebat
silih berganti di dalam kepalaku—.
Mengingatnya kembali, Saegusa-san adalah gadis
yang sangat kaya ekspresi, dan sudut mana pun yang kuingat semuanya terlihat
sangat imut, membuatku tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri meskipun sedang
bekerja.
Aku sempat membayangkan ‘Kalau seandainya dia
pacarku, mungkin rasanya bakal seperti ini ya’, namun langsung kutepis
cepat-cepat, ‘Lawan bicaramu itu Shiorin! Meskipun akrab, jangan pasang harapan yang aneh-aneh, diriku!’.
Menikmati waktunya boleh-boleh saja, tapi
terbawa suasana sampai berkhayal terlalu jauh itu tidak baik.
Namun, aku kan sudah menjadi anak SMA,
jadi sudah saatnya aku... setidaknya berusaha menjadi pria yang pantas diakui
oleh seorang gadis... kalau bisa, pria yang pantas diakui oleh Saegusa-san—dorongan
semangat hidup itu tiba-tiba muncul di dalam diriku.Kapan-kapan, coba minta
tolong Ken-chan untuk mencarikan setelan gaya musim panas di butiknya deh,
sambil melamun memikirkan rencana masa depan, melodi pintu minimarket terbuka
berkumandang.
—Pilorilorin.
Merespon melodi tersebut, aku mengucapkan
"Selamat datang~" seperti biasa sambil mengonfirmasi sosok pelanggan
yang masuk.
Di sana, berdiri Saegusa-san dengan gaya
"orang mencurigakan" andalannya seperti hari-hari biasa.
Saegusa-san yang kembali muncul secara
tiba-tiba hari ini langsung bertatapan mata denganku, lalu berjalan
tergesa-gesa dengan langkah susur-susur menuju sudut majalah karena merasa
malu.
Begitulah, di saat aku sedang memikirkan Saegusa-san,
hobi rahasia kesukaanku—‘Pengamatan Saegusa-san’—resmi dimulai hari ini.
Pertama-tama, Saegusa-san menyambar sebuah
majalah dari rak, lalu mulai membalik-balik halaman dan membaca isinya secara
serius seperti biasa.
Biasanya, dia selalu bersikap seolah-olah
dia tidak benar-benar membaca majalah itu, tapi Saegusa-san hari ini membaca
setiap halamannya dengan sangat teliti, membuatku merasa sedikit terkejut.
...Yah, merasa terkejut hanya karena
seseorang membaca majalah secara normal itu sebenarnya agak aneh sih.
Oleh karena itu, karena merasa penasaran
majalah apa yang sedang dibaca oleh Saegusa-san saat ini, aku mencoba menebak.
—Pasti majalah panduan lokal yang mengulas
berbagai tempat di sekitar sini.
Aku teringat bahwa edisi bulan ini dari
majalah tersebut membahas khusus tentang tema ‘Café’.
Ngomong-ngomong soal kafe, itu adalah
tempat yang baru saja kudatangi bersama Saegusa-san kemarin.Ooh begitu, karena
kemarin dia kelihatan senang banget, mungkin dia jadi penasaran ingin tahu
informasi kafe-kafe lain di sekitar sini ya, aku mengamati Saegusa-san yang
sedang membaca majalah itu dengan penuh konsentrasi menggunakan tatapan hangat.
Selesai membaca majalah tersebut secara
menyeluruh, Saegusa-san mengangguk puas, lalu—tanpa menunjukkan gestur panik
seperti biasanya—berputar mengelilingi toko dengan tenang untuk memasukkan
beberapa barang ke dalam keranjang belanja, sebelum akhirnya berjalan menuju
kasir.
Aku sempat merasa sedikit kecewa karena Saegusa-san
bertindak terlalu normal hari ini, namun aku segera menepisnya dengan pikiran
‘Yah, bersikap normal kan memang bagus’, lalu mulai memindai barang-barang di
dalam keranjangnya satu per satu.
—Waktu Santai Kafe di Rumah (Kopi Instan), 1
buah
—Penuh Krim Segar! Pancake ala Kafe, 1 buah
—Café au Lait, 1 buah
—Energy Drink Mengandung Kafein, 1 buah
......
Bukannya semuanya bertema kafe, ya ampun!
Semuanya benar-benar bertema kafe, lho!
Meskipun dia mungkin tidak menyadarinya
secara sadar, Saegusa-san masih sangat terpengaruh oleh suasana kafe hari
kemarin, membuatku melontarkan tsukkomi tingkat dewa di dalam hati.
Terlebih lagi, barang terakhir bahkan
sudah tidak ada hubungannya sama sekali dengan kafe.
Kupikir hari ini dia akan bertindak
normal, namun tebakanku meleset jauh di detik-detik terakhir.
Mulai dari aksi membaca majalah tadi, isi
kepala Saegusa-san rupanya sudah dipenuhi oleh dunia perkafean. Menghadapi
"pola kafe taktis" miliknya hari ini, aku berusaha setengah mati
menahan tawa sambil menyelesaikan proses transaksinya.
"S-semuanya jadi 772 ye—"
"Iya!"
Bahkan sebelum aku selesai menyebutkan
total harganya, Saegusa-san menyodorkan uang seribu yen dengan penuh
semangat.Sudah kuduga hari ini pun pakai uang seribu yen ya, batin-ku sambil
berusaha menahan ledakan tawa, menerima uang itu, menyelesaikan pembayaran,
lalu menyerahkan uang kembaliannya.
Lalu, seperti biasa, Saegusa-san menerima
uang kembalian itu menggunakan kedua tangannya dengan penuh rasa berharga,
namun gerakannya tiba-tiba terhenti kaku seketika.
Merasa ada yang aneh, aku mengamati wajah Saegusa-san;
dia menatap pergelangan tanganku yang menyodorkan kembalian dengan ekspresi
terpukul seolah-olah baru saja mengalami tragedi besar.Ah, benar juga. Hari ini
aku terburu-buru sampai lupa mengenakan gelang merchandise itu. Sadarku telat,
lalu menghela napas kecil dan menegur Saegusa-san yang tampak kecewa.
"Ah, hari ini aku lupa pakai gelang
itu soalnya buru-buru."
"B-begitukah..."
"Tapi kemarin aku baru tahu lho,
ternyata ada stiker Line Shiorin Angel Girls. Gambarnya imut banget, jadi
langsung kudownload, beneran selucu itu, jadi recommended banget buat pelanggan
sekalian."
Melihat Saegusa-san yang menunjukkan
kekecewaan secara terang-terangan, aku melemparkan senyuman ala pelayan toko
dan sengaja membahas topik stiker Line.
Sebenarnya kemarin, setelah dikirimi
stiker oleh Saegusa-san, aku merasa stiker itu cukup lucu dan sengaja
mendownloadnya dengan niat ingin menggunakannya untuk menjahili Saegusa-san
kapan-kapan.
Mendengar itu, ekspresi kecewa di wajah Saegusa-san
seketika sirna, digantikan oleh senyuman cerah merekah, "A-aku juga mau
download!", lalu melangkah pergi meninggalkan minimarket dengan langkah
kaki yang riang gembira.
Sambil mengantar punggung Saegusa-san yang
beranjak pergi, aku berpikir bahwa pola serangan "kafe" versi tak
terduga hari ini benar-benar luar biasa, membuatku kembali menyadari bahwa
potensi tingkah laku mencurigakan (kyodofushin) Saegusa-san benar-benar tidak
memiliki batas.—Sepertinya dia masih menyimpan banyak pola variasi lain yang
belum kutahu.
Gadis yang benar-benar berbahaya!


Post a Comment